PENGARUH EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium Guajava
L.) TERHADAP KONSETRASI HAMBAT MINIMUM
Staphylococcus Aureus
WAHYUDI NIM. 10542 0649 15
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh
Gelar Sarjana Kedokteran
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019
i
PERNYATAAN PERSETUJUAN PEMBIMBING
PENGARUH EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium Guajava
L.) TERHADAP KONSETRASI HAMBAT MINIMUM
Staphylococcus Aureus
Wahyudi
10542 0649 15
Usulan penelitian ini telah diperiksa, disetujui dan siap untuk dipertahankan dihadapan tim penguji skripsi penelitian Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Makassar
Makassar, 25Februari 2019 Menyetujui Pembimbing,
ii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PENGUJI
PENGARUH EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium Guajava
L.) TERHADAP KONSETRASI HAMBAT MINIMUM
Staphylococcus Aureus
WAHYUDI 10542 0649 15
Usulan penelitian ini telah diperiksa, disetujui dan dipertahankandi hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar pada:
Hari/Tanggal : Senin/ 25 Februari 2019 Waktu : 09.00 - selesai
Tempat : Ruang Rapat Lt. 2 Fak. Kedokteran Unismuh
Makassar, 25 Februari 2019 Menyetujui Ketua Tim Penguji,
Juliani Ibrahim, M.Sc., Ph.D
Anggota Tim Penguji
Anggota I Anggota II
iii
PERNYATAAN PENGESAHAN UNTUK MENGIKUTI UJIAN SKRIPSI PENELITIAN
DATA MAHASISWA:
NamaLengkap : Wahyudi
TanggalLahir : Palopo,03 Juli 1997
Tahun Masuk : 2015
Peminatan : Kedokteran Eksperimental Nama PembimbingAkademik :dr. Andi Karlina Syahrir Nama Pembimbing Skripsi :dr. Dito Anurogo, M.Sc
JUDUL PENELITIAN:
PENGARUH EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium Guajava L.) TERHADAP KONSETRASI HAMBAT MINIMUM Staphylococcus Aureus
Menyatakan bahwayang bersangkutan telah memenuhi persyaratan akademik danadministrasi untuk mengikuti ujian penelitianskripsi FakultasKedokteran universitas Muhammadiyah Makassar
Makassar, 25 Februari 2019 Mengesahkan,
Juliani Ibrahim, Ph.D Koordinator Skripsi
iv
PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT Yang bertanda tangan dibawah ini, saya
NamaLengkap : Wahyudi
TanggalLahir : Palopo,03 Juli 1997
Tahun Masuk : 2015
Peminatan : Kedokteran Eksperimental Nama PembimbingAkademik :dr. Andi Karlina Syahrir Nama Pembimbing Skripsi :dr. Dito Anurogo, M.Sc
Menyatakan bahwa saya tidak melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan skripsi saya yang berjudul :
"PENGARUH EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium Guajava L.) TERHADAP KONSENTRASI HAMBAT MINIMUM Staphylococcus Aureus
”
Apabila suatu saat nanti terbukti saya melakukan tindakan plagiat, maka saya akan menerima sansksi yang telah ditetapkan.
Demikian surat pernyataan ini saya buat sebenar-benarnya.
Makassar, 25 Februari 2019
Wahyudi NIM. 10542 0649 15
v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium Guajava L) Terhadap Konsentarsi Hambat Minimum Staphylococcus Aureus”. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Sarjana Kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik moril maupun materil. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Rasulullah SAW. Yang telahmenunjukkanjalankebenaranbagiumat Islam dantakpernahberhentimemikirkanummatnyahingga di akhirhidupnya 2. Kepada kedua orang tuasaya, ibu saya Jariah dan ayah saya Ir. Rosdi yang
telah memberikan doa, dukungan dan semangatnya sehingga penulis dapat meyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu.
3. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperoleh ilmu pengetahuan di Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan sarana dan prasarana sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini dengan baik.
vi
5. Seluruh dosen dan staf di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.
6. Dr. Andi Karlina Syahrirselakupembimbingakademik penulis yang telahmemberikansemangatdanmotivasi agar penulis dapatmenyelesaikanskripsiinitepatwaktu.
7. Dr. Dito Anurogo, M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing penyusunan skripsi ini.
8. Dr. Dara Ugi, M.Kesdan DR.H. Darwis Muhdina, M.Ag yang telah berkenan meluangkan waktu untuk menjadi penguji sidang ujian skripsi dan atas bimbingan serta masukan demi skripsi ini.
9. KepadaKerukunanKeluargaMahasiswa (KKM) FK Unismuhkhusunya kepada teman-teman Sinoatrial (2015) yang telahbanyakmembukapandangandanpemikiransayadalammembuatskripsiin i.
10. Kepada teman-teman kelompok skripsi saya amelia astrid dan rasdiana matong yang telah setia menemani dan membantu saya selama pembuatan skripsi saya.
11. Kepada semua pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah memberikan semangat dan dukungan.
vii
Penulis menyadari Skripsi ini masih jauh dari sempurna. Namun penulis berharap semoga tetap dapat memberikan manfaat pada dunia pengetahuan, masyarakat dan penulis lain. Akhir kata, saya berharap Allah SWT membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu.
Makassar, 25 Februari 2019
Wahyudi NIM. 10542 0649 15
viii
DAFTAR ISI Halaman Sampul
Pernyataan Persetujuan Pembimbing ... i
Pernyataan Pengesahan ... ii
Pernyataan Tidak Plagiat ... iv
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi ... viii
Daftar Tabel ... x Daftar Gambar ... xi Abstrak Biodata Penulis BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Perumusan Masalah ... 4 C. Tujuan Penelitian ... 4 1. Tujuan Umum ... 4 2. Tujuan Khusus ... 4 D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 6
A. Morfologi Dan Klasifikasi Daun Jambu Biji (Psidium Guajava L ... 6
B. Sistematika Tumbuhan Daun Jambu Biji (Psidium Guajava L) ... 7
C.Manfaat Tanaman Daun Jambu Biji ... 8
D. Kandungan Tanaman Daun Jambu Biji ... 8
E. Ekstrak ... 9
1. Defenisi Ekstrak ... 9
2. Pelarut ... 11
F. Mekanisme Kerja Anti Bakteri ... 14
G. Morfologi Dan Klasifikasi Staphylococcus Aureus ... 15
H. Metode Pengujian Antibakteri ... 16
I. Tinjauan Keislaman ... 19
J. Kerangka Teori ... 21
BAB III KERANGKA KONSEP ... 22
A. Konsep Pemikiran ... 22
B. Definisi Oprasional ... 22
ix
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ... 24
A. Desain Penelitian ... 24
B. Lokasi Dan Waktu Penelitian ... 24
C. Sampel Penelitian ... 24
1. Kriteria Inklusi ... 24
2. Kriterian Eksklusi ... 24
D. Alat Dan Bahan ... 25
1. Alat ... 25 2. Bahan ... 25 E. Alur Penelitian ... 26 F. Prosedur Kerja ... 27 1. Pengambilan Sampel ... 27 2. Pengolahan Sampel ... 27
3. Ekstraksi Sampel Penelitian ... 27
4. Sterilisasi Alat ... 27
5. Pembuatan Medium ... 27
6. Penyiapan Mikroba Uji ... 28
BAB V HASIL ... 29
A. Deskripsi Dan Lokasi Penelitian ... 29
B. Deskripsi Dan Penyiapan Sampel ... 29
C. Esktraksi ... 29
D. Uji Sensitivitas ... 30
BAB VI PEMBAHASAN ... 33
A. Pembahasan ... 33
B. Keterbatasan Penelitian ... 35
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ... 36
A. Kesimpulan ... 36
B. Saran ... 36
Daftar Pustaka ... 37
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Klasifikasi respon Penghambatan Pertumbuhan
Bakteri ... 17 Tabel 5.1 Hasil Diameter Zona Hambat ... 30
DAFTARGAMBAR
Gambar 2.1 Morfologi Daun Jambu Biji (Psidium Guajava L) ... 7
Gambar 2.2 Kerangka Teori ... 20
Gambar 3.1 Konsep Pemikiran ... 21
MEDICAL FACULTY UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Undergraduate Thesis, 27thFebruary 2016 WAHYUDI, NIM 10542 064915
SENSITIVITY TEST OF GUAVA LEAF (Psidium Guajava L.)
EXTRACTTOWARDS MINIMUM CONCENTRATION OF Staphylococcus
aureus
(vi+44 pages, 2 tables, 4 pictures, 8 appendices) ABSTRACT
Background: According to the World Health Organization (WHO), diarrhea is
responsible for the deaths of 525,000 children each year in the world. Until now diarrhea is still the first child killer in Indonesia. The incidence of diarrhea in Makassar includes ten diseases with the highest prevalence and incidence of diarrhea in seventh position. Staphyococcus aureus is one of the bacteria that can cause diarrhea. To treat diarrhea, people in Kalimantan, in fact the Dayaks often use guava leaves as an anti-diarrhea drug. Guava leaves are known to contain tannin compounds, flavoniod, essential oils and fatty oils that have properties as antidiare, thrush, stop bleeding and gastroenteritis.
Objectives: This study generally aims to determine the antibacterial activity and
the effect of guava leaf extract (Psidium guajava L.) on the growth of in vitro Staphylococus Aureus bacteria.
Method: This research is a true experimental study with the treatment of guava
leaf extract (Psidium Guajava L) on Staphylococcus aureus bacteria to see the minimum concentration.
Results: The sensitivity test of guava leaf extract (Psidium Guajava L) to
Staphylococcus aureus bacteria obtained was the extract inhibition zone average of 1% concentration is 5.5 mm, 3% is 13, 5% is 15,4 mm, 7% is 12,8 mm, positive control using tetracycline is 32.00 mm and the negative control using DMSO is 0 mm. So that the minimum concentration of guava leaf extract cannot be determined. Because at the lowest concentration it still takes effect.
Conclusion: Guava leaf extract (Psidium Guajava L) has antimicrobial substances
or is sensitive to Staphylococcus aureus bacteria.
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Skripsi, 27Februari 2019 WAHYUDI, NIM 10542 064915
PENGARUH EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.)TERHADAP KONSENTRASI HAMBAT MINIMUM Staphylococcus aureus
(vi+44 halaman, 2 tabel, 4gambar, 8lampiran) ABSTRAK
Latar Belakang:Menurut World Health Organization (WHO), diare bertanggung jawab atas kematian 525.000 anak tiap tahun di dunia.Hingga saat ini diare masih menjadi child killer (pembunuh anak-anak) peringkat pertama di Indonesia. Angka kejadian diare di Makassar termasuk sepuluh penyakit dengan prevalensi tertinggi dan kejadian diare menempati posisi ke tujuh. Staphyococcus aureus merupakan salahsatu bakteri yang dapat menyebabkan diare. Untuk mengobati diare, masyarakat di kalimantan tepatanya suku dayak sering menggunakan daun jambu biji sebagai obat anti diare.Daun jambu biji diketahui mengandung senyawa tannin, flavoniod, minyak atsiri dan minyak lemak yang mempunyai khasiat sebagai antidiare, sariawan, menghentikan perdarahan dan gastroenteritis. Tujuan Penelitian: Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri dan pengaruh ekstrak daun jambu biji (Psidium
Guajava L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococus Aureus in-vitro.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan perlakuan pemberian ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L)
terhadap bakteri Staphylococcus Aureus untuk melihat melihat daya hambat minimum.
Hasil: Uji sensifitas ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L) terhadap bakteri Staphylococcus aureus yang didapatkan adalah rata-rata zona hambat ekstrak dari konsentrasi 1% yakni 5,5 mm, 3% yakni 13, 5% yakni 15,4 mm, 7% yakni 12,8 mm,kontrol positif yang menggunakan tetracycline yakni 32,00 mm dan kontrol negatif DMSO yakni 0 mm. Sehingga daya hambat minimum dari ekstrak daun jambu biji belum dapat ditentukan. Karena pada konsstrasi terendah masih memberikan efek.
Kesimpulan: Ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L) mempunyai zat antimikroba atau sensitif terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Kata Kunci: Uji Sensitivitas Ekstrak, Psidium Guajava L, Staphylococcus aureus.
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Nama : Wahyudi
Ayah : Rosdi
Ibu : Jariah
Tempat, Tanggal Lahir : Palopo, 03 Juli 1997
Agama : Islam
Alamat : Villa Samata Sejahtera Blok A No.3 Nomor Telepon/Hp : 085395427682
Email : [email protected]
RIWAYAT PENDIDIKAN
SDN Inpres Salokayu 1 (2003-2009)
SMP Unismuh Makassar (2009-2012)
1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah
Manusia dalam kehidupan sehari-hari tidak lepas dari kontak fisik baik itu dengan lingkungan maupun dengan orang lain, bertambahnya usia bumi mengakibatkan semakin banyak polusi dan penyakit yang menyerang seperti infeksi. Salah satu contoh penyakit infeksi yang masih sering terjadi di masyarakat yaitu diare.
Diare merupakan kondisi buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari dengan konsistensi cair atau lunak.1 Berdasarkan penyebabnya, diare di kelompokkan menjadi dua, diare karena infeksi mikroorganisme seperti virus,bakteri dan parasit serta diare non infeksi karena faktor psikologis (ketakutan dan cemas).2
Menurut World Health Organization (WHO), diare adalah berak cair lebih dari tiga kali dalam 24 jam, yang lebih menitikberatkan pada konsistensi feses daripada frekuensi defekasi. Penyakit diare merupakan masalah kesehatan dunia termasuk Indonesia. Kasus diare bertanggung jawab atas kematian 525.000 anak tiap tahun di dunia.3Hingga saat ini diare masih menjadi child killer (pembunuh anak-anak) peringkat pertama di Indonesia. Angka kejadian diare di Makassar termasuk sepuluh penyakit dengan prevalensi tertinggi dan kejadian diare menempati posisi ke tujuh. Kasus diare yang ditemukan dan ditangani yang se Kota Makassar sampai dengan desember 2015 yaitu sebanyak 28.257 kasus dengan Angka Kesakitan (Incidence Rate/IR) yaitu 20,07 per 1.000 penduduk meningkat dari tahun 2014 yaitu sebanyak 26.485 kasus.4
2 Beberapa bakteri berikut ini yang menyebbabkan diare yaitu : e.coli, s.aureus,
b.cereus, v.cholerae, c.perferinens, shigella sp, salmonella sp. E.coli dan S.aureus
merupakan bakteri normal yang berada dalam tubuh, tetapi dapat menjadi pathogen bila dalam keadaan berlebih.5
Bakteri Staphyococcus aureus dijadikan sebagai objek penelitian karena merupakan salahsatu bakteri yang dapat menyebabkan diare walaupun tidak bersifat inflammatory. Bakteri ini dapat menginfeksi ketika imunitas seseorang sedang menurun.6
Daun jambu biji merupakan bagian dari tanaman jambu biji yang paling sering digunakan sebagai obat. Sejak dulu masyarakat di kalimantan tepatanya suku dayak sudah menggunakan daun jambu biji sebagai obat anti diare.7
Jambu biji (Psidium Guajava L.), sirsak (Annona Muricata L.) merupakan tanaman yang bersal dari brazilia, amerika tengah, karibia.8
Seiring perkembangan zaman, khasiat dari tanaman Psidium Guajava L. mulai terungkap. Berdasarkan beberapa penelitian mengatakan bahwa tanaman psidium guajava dapat dijadikan sebagai obat. Bagian yang paling sering digunakan sebagai obat pada tanaman psidium guajava yaitu pada bagian daunnya walaupun pada bagian buah dan batangnya juga dapat dijadikan sebagai obat.
Daun jambu biji di ketahui mengandung senyawa tannin, flavoniod, minyak atsiri dan minyak lemak. Daun jambu biji mempunyai khasiat sebagai antidiare, sariawan, menghentikan perdarahan dan gastroenteritis.9
Dalam ilmu pengetahuan modern disebutkan bahwa Al-qur‟an memiliki beberapa tumbuhan yang dapat mencegah sampai menyembuhkan penyakit.Allah memerintahkan
3
manusia supaya memperhatikan keragaman dan keindahan disertai seruan agar
merenungkan ciptaannya yang menakjubkan.10
Rasulullahsaw. bersabda :
ٍبْهَو ُهْبا اَىَثَّدَح اوُناَق ىَسيِع ُهْب ُدَمْحَأَو ِسِهاَّطنا وُبَأَو ٍفوُسْعَم ُهْب ُنوُزاَه اَىَثَّدَح
ْهَع ِسْيَبُّصنا يِبَأ ْهَع ٍديِعَس ِهْب ِهِّبَز ِدْبَع ْهَع ِثِزاَحْنا ُهْبا َوُهَو وٌسْمَع يِوَسَبْخَأ
ُءاَوَد َبيِصُأ اَذِإَف ٌءاَوَد ٍءاَد ِّمُكِن َلاَق ُهَّوَأ َمَّهَسَو ِهْيَهَع ُ َّاللَّ ىَّهَص ِ َّاللَّ ِلوُسَز ْهَعٍسِباَج
َ َو َّصَع ِ َّاللَّ ِنْذِإِب َأَسَب ِءاَّدنا
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma'ruf dan Abu Ath Thahir serta Ahmad bin 'Isa mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku 'Amru yaitu Ibnu Al Harits dari 'Abdu Rabbih bin Sa'id dari Abu Az Zubair dari Jabir dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, maka akan sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah 'azza wajalla." (H.R. Muslim).10
Dari hadits diatas Rasulullah telah menegaskan bahwa setiap penyakit pastilah
ada obatnya dan jika obat tersebut tepat, maka dengan izin Allah akan sembuhlah kita.
Tidak dikatakan secara jelas apakah obat tersebut harus berasal dari sintetis atau bisa saja
bahan alamiah hal ini membuat penulis tertarik melakukan penelitian mengenai obat yang
bersifat alamiah.
Setiap yang diciptakan oleh-Nya diperuntukkan kepada manusia untuk
dimanfaatkan sebaik-baiknya dan setiap penyakit pasti ada obatnya yang menjadi penawarnya agar penyakit itu dapat sembuh.10
4
Semua penyakit memiliki obatnya, manusialah yang perlu berusaha untuk
mencari dan menggunakan obat-obat tersebut bagi penyembuhan penyakitnya yang tidak
dapat diobati hanyalah kematian dan ketuaan. Kematian dan ketuaan merupakan hal yang
tidak bisa ditolak, dimajukan, dan dimundurkan, tetapi berjalan sesuaiketetapan yang
telah ditentukan oleh Allah swt.10
Meskipun manusia berusaha untuk melakukan hal-hal yang dapat mencegah dari
kematian, seperti berobat pada saat sakit, tetapi bila Allah swt telah menetapkan
kematiannya maka ia akan meninggal saat itu pula. Demikian pula halnya dengan
ketuaan, seberapa besar pun upaya yang dilakukan oleh manusia untuk menghindarinya,
tetapi usia manusia akan terus bertambah, tidak dapat berkurang atau kembali, dan seiring
itu pula fungsi-fungsi organ dari tubuhnya akan berkurang.10
Dari beberapa hal diatas, penulis tertarik untuk mengambil judul ini sebagai objek
penelitian.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh antibakteri dari ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava
L.) terhadap bakteri Staphylococus Aureus secara in-vitro.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri dan pengaruh ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococus Aureus in-vitro.
5
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh ekstrak daun jambu biji terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococus Aureusdengan konsentrasi tertentu.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a. Mengimplementasikan ilmu yang selama ini telah didapat
b. Menambah wawasan tentang tanaman tradisional
2. Bagi Universitas
a. Menambah referensi di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Makassar terhadap tanaman herbal
b. Menambah pengetahuan mengenai mikrobiologi
3. Bagi Sosial
a. Menambah pengetahuan masyarakat bahwa daun jambu biji mengandung antibakteri dan dapat di jadikan sebagai obat.
b. Sebagai alternatif terutama dalam kasus infeksi sehingga menurunkan resistensi pasien terhadap antibiotik.
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Morfologi Daun dan Klasifikasi Jambu Biji (Psidium Guajava L.)
Jambu biji (psidium guajava L.) merupakan tanaman yang berasal dari daerah tropis amerika dan dapat tumbuh di tanah liat maupun gembur. Pada saat ini tanaman ini sudah banyak tersebar di seluruh dunia khususnya di daerah tropis. Diperkirakan ada sekitar 150 spesies dari tanaman ini yang tersebar di daerah tropis dan berhawa sejuk. Tanaman yang dapat di temukan di 1-1200 m di bawah permukaan laut ini termasuk ke dalam jenis perdu atau pohonn kecil dengan tingginya kira-kira 2-10 m, percabangan banyak. Batangnya berkayu dan keras, kulit batang licin, mengelupas, berwarna cokelat kehijauan.11
Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan, daun yang muda berambut halus, dan permukaan atas daun tua licin. Tanaman ini sangat adaptif dan dapat tumbuh tanpa perawatan. Daun jambu biji termasuk daun tidak lengkap, karena daunnya hanya terdiri dari tangkai (petioles) dan helaian (lamina) saja yang disebut daun bertangkai. Bagian terlebar daun jambu biji terletak ditengah-tengah dan memiliki bagian jorong. Daun jambu biji mempunyai tulang daun yang menyirip, artinya daun ini memiliiki tulang yang membentang dari pangkal sampai keujung daun, sehingga susunannya menyerupai sirip ikan.12
7 Ujung daun jambu biji tumpul, dan biasanya warna daun bagian atas tampak lebih hijau dibandingkan dengan sisi bagian bawah daun. Tungkai daun berbentuk silindris dan tidak menebal pada bagian tangkainya.
Gambar 2.1 Morfologi Daun Jambu Biji (Psidium Guajva L) Sumber : Tribun Jambi 2018
B. Sistematika Tumbuhan Jambu Biji (Psidium Guajava L.)
Dari sistem sistematika (taksonomi), tumbuhan jambu biji dapat di klasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dycotyledonaeae Ordo : Myrtales Family : Myrtaceae
8
Genius : Psidium
Spesies : Psidium Guajava L.13
C. Manfaat Tanaman Jambu Biji (Psidium Guajava L.)
Daun jambu biji memiliki khasiat tersendiri bagi tubuh manusia, baik untuk kesehatan maupun untuk pengobatan tertentu. Manfaat daun jambu biji diantranya yaitu sebagai antiinflamasi, anti mutagenik, anti mikroba,dan analgesik.9
Pada umumnya daun jambu biji di gunakan utuk ppengobatan seperti diare akut dan kronis, perut kembung pada bayi dan anak, kadar kolesterol yang tinggi, luka, sariawan, sakit gigi, dan demam berdarah.9
D. Kandungan Tanaman Jambu Biji (Psidium Guajava L.)
Daun jambu biji memiliki kandungan flovanoid yang sangat tinggi, terutama
quercetin. Senyawa tersebut bermanfaat sebagai antibakteri, kandungan daun jambu biji
lainyya yaitu saponin, minyak atrsiri, tanin, antimutagenik, dan alkaloid.9
Flovanid adalah senyawa yang terdiri dari 15 atom karbon yang umumnya
tersebar didunia tumbuhan. Quercetin adalah zat sejenis flovanoit yang di temukan dalam buah-buahan, sayuran, daun dan biji-bijian. Hal ini juga dapat di jadikan sebagai suplemen dalam makanan dan minuman. Saponin adalah jenis glokisida yang banyak di temukan dalam tumbuhan, saponin memiliki karakteristik berupa buih sehingga ketika di reaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang akan bertahan lama. Minyak atsiri adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada
9 suhu ruangan numun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan bahan utama dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Tanin merupakan substansi besar yang tersebar luas dalam tanaman dan di gunakan sebagai energi dalam proses metabolisme dalam bentuk oksidasi, tanin juga sebagai sumber asam pada buah. Alkaloid adalah sebuah golongan senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan heterosiklik dan terdapat di dunia tumbuhan.
E. Ekstrak
1. Definisi Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari
simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai, diluar pengaruh cahaya
matahari langsung.14
Parameter yang mempengaruhi kualitas dari ekstrak adalah bagian dari
tumbuhan yang digunakan, pelarut yang digunakan untuk ekstrak, dan prosedur
ekstraksi.14
Ekstraksi adalah pemisahan bagian aktif sebagai obat dari jaringan tumbuhan
ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur yang telah
ditetapkan. Selama proses ekstraksi, pelarut akan berdifusi sampai ke material padat
dari tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang sesuai dengan
pelarutnya.14
Beberapa metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut dibagi menjadi dua
cara, yaitu cara panas dan cara dingin. Ekstraksi cara dingin dapat dibedakan sebagai
berikut.
10
Maserasi adalah proses penyarian simplisia menggunakan pelarut dengan
beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur kamar. Keuntungan
ekstraksi dengan cara maserasi adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan
sederhana, sedangkan kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama, membutuhkan
pelarut yang banyak dan penyarian kurang sempurna. Dalam maserasi (untuk ekstrak
cairan), serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan pelarut
disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan pengadukan yang sering,
sampai zat tertentu dapat terlarut. Metode ini cocok digunakan untuk senyawa yang
termolabil.14
b. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi
penyarian 1sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar. Proses perkolasi
terdiri dari tahap pengembangan bahan, tahap perendaman, tahap perkolasi antara, tahap
perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak) secara terus menerus sampai diperoleh
ekstrak (perkolat). Untuk menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan
pemeriksaan zat secara kualitatif pada perkolat akhir. Ini adalah prosedur yang paling
sering digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan tincture dan ekstrak
cairan.14
Ekstraksi cara panas dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi mengunakan pelarut yang selalu baru, dengan
menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut relatif
11
b. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada temperatur titik
didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan
adanya pendingin balik.15
c. Infusa
Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 15 menit.
Infusa adalah ekstraksi menggunakan pelarut air pada temperatur penangas air dimana
bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur yang digunakan
(96-980C) selama waktu tertentu (15- 20 menit). Cara ini menghasilkan larutan encer dari
komponen yang mudah larut dari simplisia.14
d. Dekok
Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 90oC selama 30 menit.
Metode ini digunakan untuk ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan konstituen
yang stabil terhadap panas.14
e. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari temperatur suhu
kamar, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40- 50oC.Digesti adalah maserasi
dengan pengadukan kontinyu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang
(umumnya 25-30oC). Ini adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang digunakan
selama proses ekstraksi.14
2. Pelarut
Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain. Sifat
12
menguap pada suhu yang rendah, dapat mengekstraksi komponen senyawa dengan cepat,
dapat mengawetkan dan tidak menyebabkan ekstrak terdisosiasi.14
Pemilihan pelarut juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut adalah jumlah senyawa yang akan
diekstraksi, laju ekstraksi, keragaman senyawa yang akan diekstraksi, kemudahan dalam
penanganan ekstrak untuk perlakuan berikutnya, toksisitas pelarut dalam proses bioassay,
potensial bahaya kesehatan dari pelarut.14
Berbagai pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi antara lain:
a. Air
Air adalah pelarut universal, biasanya digunakan untuk mengekstraksi produk
tumbuhan dengan aktivitas antimikroba. Meskipun pengobatan secara tradisional
menggunakan air sebagai pelarut, tetapi ekstrak tumbuhan dari pelarut organik telah
ditemukan untuk memberikan aktivitas antimikroba lebih konsisten dibandingkan dengan
ekstrak air. Air juga melarutkan senyawa fenolik yang memiliki aktivitas penting sebagai
antioksidan.14
b. Aseton
Aseton melarutkan beberapa komponen senyawa hidrofilik dan lipofilik dari
tumbuhan. keuntungan pelarut aseton yaitu dapat bercampur dengan air, mudah menguap
dan memiliki toksisitas rendah. Aseton digunakan terutama untuk studi antimikroba
dimana banyak senyawa fenolik yang terekstraksi dengan aseton.14
c. Alkohol
Aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dari ekstrak etanol dibandingkan dengan
13
etanol dibandingkan dengan ekstrak air. Konsentrasi yang lebih tinggi dari senyawa
flavonoid terdeteksi dengan etanol 70% karena polaritas yang lebih tinggi daripada etanol
murni.15
Etanol lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak bahan
intraseluler dari bahan tumbuhan. Metanol lebih polardibanding etanol namun karena
sifat yang toksik, sehingga tidak cocokdigunakan untuk ekstraksi.15
d. Kloroform
Terpenoid lakton telah diperoleh dengan ekstraksi berturut-turut menggunakan
heksan, kloroform dan metanol dengan konsentrasi aktivitas tertinggi terdapat dalam
fraksi kloroform. Kadang-kadang tanin dan terpenoid ditemukan dalam fase air, tetapi
lebih sering diperoleh dengan pelarut semipolar.14
e. Eter
Eter umumnya digunakan secara selektif untuk ekstraksi kumarindan asam
lemak.14
f. n-Heksan
n-Heksan mempunyai karakteristik sangat tidak polar, volatil, mempunyai bau
khas yang dapat menyebabkan pingsan. Berat molekul heksana adalah 86,2 gram/mol
dengan titik leleh -94,3 sampai -95,3°C. Titik didih heksana pada tekanan 760 mmHg
adalah 66 sampai 71°C. n-Heksan biasanya digunakan sebagai pelarut untuk ekstraksi
minyak nabati.14
14
Etil asetat merupakan pelarut dengan karekateristik semipolar. Etilasetat secara
selektif akan menarik senyawa yang bersifat semipolar seperti fenol dan terpenoid.14
h. Dimethyl Sufoxide (DMSO)
DMSO merupakan suatu senyawa organosulfur, cairan tidak berwarna ini adalah
pelarut aprotik polar penting yang larut baik dalam senyawa polar maupun nonpolar serta
larut pula dalam berbagai pelarut organik seperti air. Senyawa ini memilliki titik leleh
yang relatif tinggi.
F. Mekanisme Kerja Anti Bakteri
Antibakteri adalah suatu senyawa yang dapat membunuh atau menghentikan pertumbuhan bakteri. Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibakteri dibagi menjadi lima, yaitu :
1. Menghambat Sintesis Dinding Sel
Bakteri memiliki dinding sel dengan tekanan osmotik yang tinggi di dalam sel dan berfungsi untuk mempertahankan bentuk dan ukuran sel. Kerusakan dinding sel bakteri akan menyebabkan terjadinya lisis. Dinding sel bakteri mengandung peptidoglikan. Lapisan peptidoglikan pada dinding sel bakteri gram positif lebih tebal daripada bakteri gram negatif. Senyawa yang menghambat sintesis dinding sel bakteri meliputi penisilin, sefalosforin, basitrasin, vankomisin dan sikloserin.15
2. Menghambat Metabolisme Sel
Bakteri membutuhkan asam folat untuk kelangsungan hidupnya. Asam folat tersebut harus disintesis sendiri oleh bakteri dari asam amino benzoat (PABA). Antibakteri seperti
15 sulfonamide, trimetroprim, asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon menghambat proses pembentukan asam folat tersebut.15
3. Mengganggu Keutuhan Membran Sel
Membran sitoplasma berfungsi dalam perpindahan molekul aktif dan menjaga keseimbangan zat di dalam sel. Kerusakan membran sitoplasma akan menyebabkan keluarnya makromolekul seperti protein, asam nukleat, dan ion-ion penting sehingga sel menjadi rusak. Antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah polimiksin.15
4. Menghambat Sintesis Protein
Sintesis protein bakteri berlangsung di dalam ribosom. Bakteri memiliki 2 subunit ribososm yaitu ribosom 30S dan 50S. Kedua komponen ini akan bersatu menjadi kribosom 70S. Penghambatan pada komponen ribosom-ribosom tersebut akan menyebabkan gangguan protein sel. Antibiotik yang dapat menghambat sintesis protein antara lain aminoglikosida, makrolid, linkomisin, tetrasiklin, dan kloramfenikol.15
5. Menghambat Sintesis Asam Nukleat
Antibiotik dapat menghambat sintesis asam nukleat bakteri yaitu kuinolon, rifampisin, sulfonamide, dan trimetropim. Rifampisin berikatan dengan enzin polymerase-RNA sehingga menghambat sintesis RNA dan DNA oleh enzim tersebut. Golongan kuinolon menghambat enzim DNA girase pada bakteri.15
G. Morfologi dan Klasifikasi Bakteri Staphylococus Aureus
Staphylococcus aureusmerupakan bakteri komensal yang dapat bersifat patogen,
bertindak sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Berdasrkan taksonominya klasifikasi Staphylococcus aureus yaitu:
16 Filum : Firmicutes Kelas : Bacilli Ordo : Bacillales Familia : Staphylococcaceae Genus : Staphylococcus
Spesies : Staphylococcus Aureus16
S.aureus merupakan bakateri gram positif dengan diameter 0,5-1,5 µm yang
berbentu bulat yang tersusun seperti anggur, tidak membentuk spora, merupakan fakultatif anaerob yang dapat bernafas secara aerobik atau pada fermentasi akan menghasilkan asam laktat. Pada media yang akan nutrien S.aureus akan membentuk koloni yang berwarna kuning keemasan. S.aureus juga bersifat hemolitik pada blood
agar.16,20
H. Metode Pengujian Anti Bakteri
Antibakteri merupakan bahan atau senyawa yang khusus digunakan untuk kelompok
bakteri. Antibakteri dapat dibedakan berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu antibakteri
yang menghambat pertumbuhan dinding sel, antibakteri yang mengakibatkan perubahan
permeabilitas membran sel atau menghambat pengangkutan aktif melalui membran sel,
antibakteri yang menghambat sintesis protein, dan antibakteri yang menghambat sintesis
asam nukleat sel. Aktivitas antibakteri dibagi menjadi 2 macam yaitu aktivitas
bakteriostatik (menghambat pertumbuhan tetapi tidak membunuh patogen) dan aktivitas
bakterisidal (dapat membunuh patogen dalam kisaran luas).Uji aktivitas antibakteri dapat
17
1. Metode Difusi
Metode difusi merupakan salah satu metode yang sering digunakan. Metode difusi
dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu metode parit, metode lubang/sumuran dan metode
cakram kertas.
a. Metode Cakram Kertas (Cara Kirby Bauer)
Pada metode cakram kertas (Cara Kirby Bauer) digunakan suatu kertas cakram saring
(paper disc) yang befungsi sebagai tempat menampung zat antimikroba. Kertas saring
yang mengandung zat antimikroba tersebut diletakkan pada lempeng agar yang telah
diinokulasi dengan mikroba uji, kemudian diinkubasi pada waktu dan suhu tertentu,
sesuai dengan kondisi optimum dari mikroba uji yaitu pada suhu 370 C selama 18-24 jam.
Pada metode difusi, penentuan aktivitas didasarkan pada kemampuan difusi dari zat
antimikroba dalam lempeng agar yang telah diinokulasi dengan mikroba uji.18
Ada dua macam zona hambat yang terbentuk dari cara Kirby Bauer :
1) Zona radikal yaitu suatu daerah di sekitar disk dimana sama sekali tidak ditemukan
adanya pertumbuhan bakteri. Potensi antibakteri diukur dengan mengukur diameter dari
zona radikal.18
2) Zona irradikal yaitu suatu daerah di sekitar disk dimana pertumbuhan bakteri dihambat
oleh antibakteri tetapi tidak dimatikan.18
Disc diffusion test atau uji difusi disk dilakukan dengan mengukur diameter clear zone (zona bening yang tidak memperlihatkan adanya pertumbuhan bakteri yang
terbentuk di sekeliling zat antimikroba pada masa inkubasi bakteri) yang merupakan
petunjuk adanya respon penghambatan pertumbuhan bakteri oleh suatu senyawa
18
besar pula kemampuan aktivitas zat antimikroba. Syarat jumlah bakteri untuk uji
kepekaan/ sensitivitas yaitu 105-108 CFU/mL.20,21,22 Efektifitas aktifitas antibakteri
didasarkan pada klasifikasi respon penghambatan pertumbuhan bakteri menurut
Greenwood ditunjukkan pada tabel II.1.18
Tabel Klasifikasi Daya Hambat Pertumbuhan Bakteri Diameter Zona Terang
Daya Hambat Pertumbuhan.
Tabel 2.1 Klasifikasi respon penghambatan pertumbuhan bakteri menurut Greenwood.18
> 20 mm Kuat
16-20 mm Sedang
10-15 mm Lemah
< 10 mm Tidakada
b. Metode Sumuran
Pada lempeng agar yang telah diinokulasi dengan bakteri uji dibuat suatu sumur yang selanjutnya diisi dengan zat antimikroba uji. Cara ini dapat diganti dengan meletakkan cawan porselin kecil yang biasa disebut fish spines di atas medium agar.
19 Kemudian cawan-cawan tersebut diisi dengan zat uji. Setelah inkubasi pada suhu 370 C selama 18-24 jam dilakukan pengamatan dengan melihat ada atau tidaknya zona hambatan disekeliling lubang atau cawan.19
c. Metode Parit
Suatu lempeng agar yang telah diinokulasi dengan bakteri uji dibuat sebidang
parit. Parit tersebut diisi dengan zat antimikroba, kemudian diinkubasi pada waktu dan
suhu optimum yang sesuai dengan mikroba uji. Hasil pengamatan yang akan diperoleh
adalah ada atau tidaknya zona hambatan di sekitar parit, interpretasi sama dengan cara
Kirby Bauer.19
2. Metode Dilusi (Dilusi Cair atau Dilusi Padat)
Metode ini biasanya digunakan untuk menentukan konsentrasi hambat minimal
dan konsentrasi bunuh minimal dari suatu bahan uji atau obat terhadap kuman percobaan.
Pada prinsipnya bahan antibakteri uji diencerkan sampai diperoleh beberapa konsentrasi.
Pada dilusi cair, masing-masing konsentrasi obat ditambah suspensi kuman dalam media.
Sedangkan pada dilusi padat tiap konsentrasi obat dicampur dengan media agar, lalu
ditanami bakteri.19
I. Tinjauan Keislaman
Beberapa penelitian telah difokuskan pada kandungan fitokimia dari daun jambu biji. Beberapa kandungan fitokimia dalam tumbuhan jambu biji tersebut menunjukkan bahwa daun jambu biji dapat dimanfaatkan untuk pengobatan. Allah SWT berfiman dalam surah (Asy-Syu‟araa‟ (26) : 7) yaitu :
20
Terjemahnya :
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh tumbuhan yang baik?”15
Kata (جوز) berarti pasangan. Pasangan yang dimaksud ayat ini adalah pasangan tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan dalam konteks ayat ini disandarkan pada kata (م س ) yang artinya mulia. Dengan demikian ayat tersebut mengisyaratkan bahwa Allah telah menciptakan tumbuh-tumbuhan yang baik serta mulia serta memiliki manfaat di dalamnya. Hal tersebu tergantung dari kemauan manusia sebagai makhluk yang berakal untuk mencari manfaat dari berbagai macam tumbuhan yang telah ditumbuhkan Allah SWT.10
Dalam (QS. An-Nahl (16) : 11) Allah SWT berfirman :
Terjemahnya :
"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan".
Menurut penulis kedua ayat ini merupakan sebuah penegasan bahwa Allah SWT. menumbuhkan tumbuhan tidak lain adalah bermanfaat. Hanya bagaimana saja manusia memanfaatkannya dengan baik. Salah satu manfaat tanaman adalah dapat dijadikan
21 sebagai obat. Hal ini secara nyata sudah sejalan antara apa yang telah Allah SWT. tegaskan dalam Al-Quran dengan apa yang saat ini telah diteliti para ilmuwan mengenai kandungan dalam tanaman dan manfaatnya.
Dalam sebuah hadits juga Rasulullah SAW. bersabda :
َهْب وَسْمَع َعِمَس ٍسْيَمُع ِهْب ِكِهَمْنا ِدْبَع ْهَع َةَىْيَيُع ُهْب ُناَيْفُس اَوَأَبْوَأ ِحاَّبَّصنا ُهْب ُدَّمَحُم اَىَثَّدَح
ِهْيَهَع ُ َّاللَّ ىَّهَص ِّيِبَّىنا ْهَع ُثِّدَحُ مْيَفُو ِهْب وِسْمَع ِهْب ِدْ َش َهْب َديِعَس ُتْعِمَس ُلوُقَ ٍثْ َسُح
ٍ ِهْيَعْنا ُءاَفِ اَهُااَمَو َميِااَسْسِ يِىَب ىَهَع ُ َّاللَّ َلَصْوَأ ِرَّنا ِّهَمْنا ْهِم َ َأْمَكْنا َّنَأ َمَّهَسَو
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabah telah memberitakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Abdul Malik bin 'Umair bahwa dia mendengar 'Amru bin Huraits berkata; saya mendengar Sa'id bin Zaid bin 'Amru bin Nufail menceritakan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Al Kam`ah (sejenis tanaman) adalah dari surga, (makanan) yang Allah turunkan kepada bani Israil, airnya sebagai obat untuk penyakit lain." (H.R. Ibnu Majah)
Dalam hadits diatas dijelaskan bahwa Allah SWT. menurunkan sebuah tanaman yang ternyata dapat dijadikan obat dari sebuah penyakit. Hal ini kembali mempertegas dalil sebelumnya bahwa tanaman diciptakan Allah SWT. memiliki manfaat yang banyak salah satunya adalah sebagai obat.
J. Kerangka Teori
Gambar 2.2 Kerangka Teori
Eksrak Daun Jambu Biji minyak atrsiri, tanin, flovanoid,saponin,
22 BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Konsep Pemikiran
Variabel Independen (X) Variabel Dependent (Y)
Pertumbuhan bakteri terhambat dan bakteri
mati
Melisiskan Sel Bakteri Denaturasi Protein
Ekstrak daun jambu biji Psidium Guajava
L.
Sensitifitas Bakteri
23 Gambar 3.1 Konsep Pemikiran
B. Definisi Oprasional
1. Ekstrak daun jambu biji Psidium Guajava L. dengan konsentrasi 1%,3%, 5%, 7% yang diperoleh dari hasil ekstraksi metode maserasi yang dilarutkan dengan DMSO Instrumen : Timbangan,gelas ukur
Cara ukur : Pengenceran
Hasil ukur : Konsentrasi Larutan 1%,3%, 5%, 7% Skala ukur : Rasio
2. Bakteri Staphylococcus Aureusyang ditumbuhkan pada medium nutrient agar yang diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam kemudian diukur sensifitasnya setelah bakteri masukkan ke dalam sumuran ekstrak daun jambu biji pada konsentrasi tertentu.
Cara ukur : Diukur berdasarkan daya hambat minimum dalam milimeter Alat ukur : Jangka sorong
Hasil ukur : Nilai dalam milimeter C. Hipotesis
1. Hipotesis Null (H0)
Ekstrak daun jambu biji tidak memerikan efek sensitif terhadap bakteri
Staphylococcus Aureus. 2. Hipotesis Alternatif (Ha) Resitent Sensitif Konsentrasi 1%, 3%, 5%, 7%
24 Ekstrak daun jambu biji memerikan efek sensitif terhadap bakteri Staphylococcus
Aureus.
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan perlakuan pemberian ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L) terhadap bakteri Staphylococcus Aureusuntuk melihat melihat daya hambat minimum dengan metode sumuran pada konsentrasi tertentu.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Balai Besar Laboratorium Kesehehatan Makassar pada bulan
25 C. Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel dari bahan tanaman yaitu
daun jambu biji Psidium Guajava L dan bakteri Staphylococcus Aureusyang di isolasi pada
Medium Mueller Hinton Agar (MHA) yang diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam.
1. Kriteria inklusi
a. Alat dan bahan dalam keadaan steril.
b. Bakteri yang digunakan adalah bakteri Staphylococcus aureus
c. Ekstrak yang digunakan adalah ekstrak daun jambu biji Psidium Guajava L 2. Kriteria eksklusi
a. Sediaan bakteri terkontaminasi dengan bakteri lain. b. Sediaan bakteri rusak.
D. Alat dan Bahan
1. Alat
Erlenmeyer, gelas ukur, gelas kimia, tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet tetes, penangas air, blender, timbangan analitik, labu ekstraksi, batang pengaduk, stirer, cawan petri, rotary evaporator (oven), jarum ose, pinset, inkubator, laminair air flow, termometer, autoklaf, mikropipet, mistar berskala dan alat fotografi.
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun jambu biji (Psidium
Guajava L), bakteri uji (Staphylococcus Aureus) yang diperoleh dari Balai Besar
Laboratorium Kesehatan Makassar, aquades steril, tablet Tetracycline 500 mg, Medium Mueller Hinton Agar (MHA), kertas label dan aluminium foil.
26 E. AlurPenelitian Persiapan Sampel Komponen Daun Proses Ekstraksi Sampel Pembuatan Larutan Kontrol Positif dan Negatif
Pengujian Sensitifitas Mikroba Pembuatan Medium Pembuatan Variabel Konsentrasi Penyiapan Mikroba Uji Penyiapan Medium Pembuatan Stok Bakteri Lab. Mikrobiologi FMIPA UNM dan Lab. Teknik Kimia PNUP Makassar
27 F. Prosedur Kerja
1. Pengambilan sampel
Sampel diambil dari daun jambu biji Psidium Guajava L di Jalan Poros Gowa-Takalar.
2. PengolahanSampel
Sampel yang digunakan ialah daun ke 3-5 dari pucuk, lalu daun jambu biji
Psidium Guajava L dibersihkan dan dicuci dengan air bersih yang mengalir. Kemudian
ditimbang, dipotong kecil, dan dikeringkan dengan cara didinginkan selama ±4-7 hari. Lalu dihaluskan dengan blender kemudian ditimbang kembali dan didapatkan.
3. Ekstraksisampelpenelitian
Ekstrak simplisia daun jambu biji Psidium Guajava L dimasukkan ke dalam erlenmeyer, kemudian direndam dengan pelarut etanol 96% ditutup dengan aluminium foil dan dibiarkan selama 3 hari sambil sesekali diaduk. Lalu dievaporasi menggunakan rotary evaporator, sehingga diperoleh ekstrak kental daun jambu biji.
28 4. Sterilisasi Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian aktivitas antibakteri ini disterilkan terlebih dahulu. Alat-alat gelas disterilkan dalam oven pada suhu 170oC selama ± 2 jam, jarum ose dan pinset dibakar dengan pembakaran diatas api langsung dan media disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit.
5. Pembuatan medium
a. Media Dasar dan Media Pembenihan
Media dasar dibuat dengan cara ditimbang Mueller Hinton Agar (MHA), lalu dilarutkan dalam aquades menggunakan erlenmeyer. Setelah itu bakteri dimasukkan kedalam tabung erlenmeyer. Setelah itu, masing-masing media dihomogenkan dengan stirer diatas penangas air sampai mendidih. Media-media yang sudah homogen ini disterilkan dalam outoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit, kemudian didinginkan sampai suhu ± 45-50oC. Media dasar dan media pembenihan digunakan dalam pembuatan media pengujian sebagai lapisan dasar dan lapisan kedua.
6. Penyiapan MikrobaUji
a. Inokulasi Bakteri pada Media Agar Miring
Bakteri uji diambil dengan jarum ose steril, lalu ditanamkan pada media agar miring dengan cara menggores. Selanjutnya diinkubasi dalam inkubator pada suhu 37oC selama 24 jam.
b. Uji Aktivitas Antibakteri secara In-vitro
Pengujian dilakukan pada media MAH. Media MHA dibuat dalam cawan petri sebanyak ±15 ml kemudian dipipetkan S.aureus100 µl lalu dihomogenkan. Selanjutnya pada permukaan MAH diletakkan sumuran tembaga yang telah
29 disuspensikan ekstrak Psidium Guajava L.yang telah diencerkan dan tetracycline sebagai kontrol positif dan DMSO sebagai kontrol negatif. Selanjutnya diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC.
Pengamatan dilakukan dengan mengukur zona hambat zat yang diujikan dengan menggunakan jangka sorong/mistar.
BAB V HASIL
A. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di tiga temppat, yang pertama untuk persiapan ekstrak (hingga
maserasi) dilakukan di Laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam (MIPA). Yang kedua, proses evaporasi dilakukan di Laboratorium Teknik Kimia
Politeknik Negri Ujung Pandang (PNUP). Dan ketiga dari persiapan bakteri hingga uji coba
ekstraksi dilakukan di Balai Besar Laboratorium Kesehahtan Makassar pada tanggal 01
Januari sampai 02 Januari 2019 di Jl. Perintis Kemerdekaan KM.11, Tamalanrea, Kota
Makassar.
B. Deskripsi Penyiapan Sampel
Pemilihan daun jambu bijin (Psidium Guajava L), Sampel diambil di jalan Poros Gowa-Takalar pada pukul 10:15 WITA.
30
Sampel selanjutnya bersihkan dengan air mengalir, selanjutnya dipotong-potong kecil
kemudian di masukkan kedalam alumunium foil lalu di oven selama 3 hari dengan suhu
60ºC untuk dilakukan proses pengeringan. Tujuannya untuk mengeringkan daun sehingga
tidak ada air yang terkandung di dalam daun. Waktu yang digunakan untuk pengeringan
adalah 3 hari. Kemudian simplisia ditimbang sebanyak 140 gr yang selanjutnya akan
diekstraksi.
C. Ekstraksi
Setelah proses penyiapan simplisia dilanjutkan dengan proses ekstraksi simplisia
dauniler. Simplisia yang sudah disiapkan sebanyak 140 gr diekstraksi dengan metode
maserasi dengan menggunakan etanol 96%. Pemilihan metode ekstraksi dengan cara
maserasi dikarenakan metode ini memiliki keuntungan pada prosedur dan peralatan yang
digunakan lebih sedehana.
Pelarut yang di gunakan adalah Etanol karena etanol 96% memiliki kadar air yang
lebih sedikit dan dapat mengurangi pertumbuhan mikroba didalam ekstrak, karena air
merupakan salah satu media yang dapat mempercepat pertumbuhan mikroba asing.
Proses maserasi yaitu simplisia direndam dengan etanol 96% kemudian di aduk
selama 30 menit lalu di diamkan selama 24 jam dengan ditutup alumunium foil. Setelah itu
larutan tersebut disaring.Hasil saringannya dipindahkan ke wadah lain lalu didiamkan
selama 1 hari untuk menguapkan etanol sehingga tidak ada lagi etanol yang terkandung
dalam simplisia daun tersebut.Kemudian ampas simplisia di rendam lagi dengan etanol 96%
lalu di aduk lagi 30 menit dan di diamkan 24 jam. Proses ini dilakukan sebanyak 6 kali
31 D. Uji Sensitivitas
Hasil pengamatan dari uji sensifitas dengan menggunakan metode diks diffusion atau
cakram kertas dengan konsentrasi 1%, 3%, 5%, dan 7%dan menggunakan tetracycline
sebagai kontrol positif karena antibiotik ini merupakan antibiotik spektrum luas, serta DMSO
sebagai control negatif. Berikut Hasil diameter zona hambat ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L) terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut:
Tabel 5.1, Hasil Diameter zona hambat daun ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L)
terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Sampel Penelitian Hasil Pengujian I II 1% 12,00 mm 11,00 mm 11,00 mm 0,00 mm 0,00mm 0,00 mm Rata-rata 11,3 mm 0,0 mm 3% 13,0 mm 13,0 mm 13,5 mm 14,00 mm 14,00 mm 14,00 mm Rata-rata 13,2 mm 14,00 mm 5% 15,0 mm 15,0 mm 16,00 mm 16,00 mm
32 14,5 mm 16,00mm Rata-rata 14,8 mm 16,00 mm 7% 13,00 mm 13,00 mm 12,00 mm 13,00 mm 13,00 mm 13,00 mm Rata-rata 12,67 mm 13,00 mm Kontrol Negatif 0,0 mm 0,0 mm 0,0 mm 0,0 mm 0,0 mm 0,0 mm Rata-rata 0,0 mm 0,0 mm Kontrol Positif 20,00 mm 20,00 mm 20,00 mm 22,00 mm 22,00 mm 22,00 mm Rata-rata 20,0 mm 22,00 mm
Tabel 5.1 Hasil Diameter Zona Hambat Keterangan :
Diameter Pencadang : 8mm
Kontrol Positif : Tetracycline 500 mg
33 BAB VI
PEMBAHASAN
A. Pembahasan
Metode yang digunakan dalam menguji sensitivitas adalah metode difusi sumuran (well
diffusion method) yang membutuhkan perantara pencadang dengan medium MHA (Mueller Hilton Agar) untuk melihat konsentrasi hambat minimum pada bakteri Staphylococcus aureus.
Setelah membentuk zona hambat, maka selanjutnya dilakukan pengukuran diameter menggunakan jangka sorong di tiga sudut pandang.
Dari hasil penelitian ini mulai dari proses ekstraksi pada daun jambu biji (Psidium
Guajava L), dengan metode maserasi dengan pelarut alkohol 96% lalu diuapkan pelarutnya
dengan dievaporasi selama 1 hari. Kemudian akan di buat 4 konstrasi untuk menguji sensitifitas
bakteri :
34
1% 0,005 µg +495µƖ
3% 0,015µg +485µƖ
5% 0.025µg +475µƖ
7% 0,035 µg +465µƖ
Metode yang digunakan untuk uji sensifitas adalah metode sumuran dengan medium
Mueller Hinton Agar (MHA) yang mana metode ini untuk melihat besarnya zona hambatan
yang terbentuk pada bakteri S.aureuspada ekstrak yang berdifusi membentuk zona hambat yang
kemudian diukur menggunakan jangka sorong.
Dari uji sensifitas ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L) terhadap bakteri
Staphylococcus aureuspada tabel 5.1 didapatkan rata-rata zona hambat ekstrak dari konsentrasi
1% yakni 5,5 mm, 3% yakni 13,6 mm, 5% yakni 15,4mm, 7% yakni 12,8 mm dan dalam 4
replikasi sementara untuk kontrol positif yang menggunakan tetracycline didapatkan yakni 32,00
mm dan kontrol negatif DMSO yakni 0 mm dan dari hasil tersebut pula didapatkan bahwa
konsentrasi ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L) yang paling baik atau besar daya hambatnya yakni pada konsentrasi 5% yakni 15,4 mm, sedangkan yang paling rendah pada
konsentrasi 1% yakni 5,5 mm, sehingga didapatkan pada percobaan ini daya hambat minimum
dari ekstrak daun jambu biji belum dapat ditentukan. Hal ini disebabkan karena kadar aktif
antimikroba pada konsentrasi 1% masih aktif.
Sifat antibakteri Daun Jambu Biji berasal dari tanin, saponin, alkaloid, dan
flavonoid. Kandungan tertinggi pada komponen daun yang telah diketahui adalah saponin
35
Saponin dan tannin yang terdapat daun Buah Makassar mempunyai potensi sebagai
agen antibakteri. Saponin mempunyai sifat inhibitor terhadap bakteri. Saponin dapat mengganggu stabilitas membran sel bakteri sehingga terjadi kerusakan membran sel bakteri yang menyebabkan keluarnya komponen penting dari dalam sel bakteri.21Tannin
mempunyai sifat mencegah koagulasi plasma pada bakteri.22
Beralih ke kontrol negatif, DMSO tidak memiliki aktivitas antibakteri (dibuktikan dengan tidak terbentuknya zona bening pada sekitar pencadangan dengan replikasi duplet) sehingga dapat dipastikan zona hambat yang dihasilkan murni berasal dari ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L) dan tidak dipengaruhi oleh pelarut. 23
Telah banyak penelitian mengenai pengaruh ekstrak daun jambu biji terhadap bakteri
Staphylococcus aureus, akan tetapi pada penelitian-penelitian sebelumnya konsentrasi
terendah yang diujikan yaitu 5%,10%,15%,20%,25%,40%,60% dan mempunyai hasil yang positif. 24 Hal inilah yang membuat penulis ingin mencoba untuk menguji pengaruh ekstrak daun jambi biji (Psidium Guajava L) terhadapa bakteri Staphylococcus aureus dengan konsentrasi di bawah 5% yang bertujuan untuk mencaritahu konsetrasi hambat minimun dari ekstrak daun jambu biji.
B. Keterbatasan Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian terkendala tempat penelitian yang sangat sulit karena
36 BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L) mempunyai zat antimikroba atau sensitif terhadap bakteri Staphylococcus aureus..
2. Ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L) dari konsentrasi 1%, 3%, 5% dan 7% terhadap bakteri Staphylococcus aureus memiliki zona hambat sebesar 5,5 mm, 13,6
37
3. Zat aktif antimikroba dapat efektif pada konsentrasi tertentu namun dapat berubah
menjadi resisten jika konsentrasinya diubah.
B. Saran
1. Adanya penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan zat aktif yang menjadi
antimikroba bakteri tersebut.
2. Pada penelitian lebih lanjut lebih baik jika di uji pada bakteri lainnya.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan konsentrasi yang lain (1%, 0,75%, 0,5%,
0,25%) untuk mengetahui konsentrasi hambat minimum sebagai antimikroba.
DAFTAR PUSTAKA
1. Handono Fakhtur Rahman,dkk, “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare di Desa Solor Kecamatan Cernee Bondowoso”, Nurseline Journal, Vol.1 No.1 (Purbolinggo : Mei 2016) h.25
2. Risha Fillah Fitrhia, Akroman Rohmat Di‟fain, “Rasionalisasi Terapi Antibiotik pada Pasien Diare Akut Anak Usia 1-4 Tahun di Rumah Sakit Banyumnaik”, Journal
Pharmacy, Vol.12 No.02 (Semarang:Desember 2015) h.197
38 4. Pemerintah Kabupaten Kota Makassar. Profil Dinas Kesehatan Tahun 2015. Makassar:
Dinas Kesehatan Kota Makassar; 2015.
5. Sigit Purwanto, “Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Aktif Ekstrak Daun Sanggani (Melastoma Malabathricum L) Terhadap Escherecia Coli”, Jurnal Keperawatan Sriwijaya, Vol.2 No.2 (Sriwijaya: Juli 2015) h.85
6. Nadhilla Farisa Nyimas, “The Activity Of Antibacterial Agent Of Honey Against
Staphylococcus Aureus”, Artkel Review, Vol.3 No.7 (Desember 2014)
7. Wyndi Tri Yuana, Dicky Andiarsa, Yuniarti Suryatina, Juhairiyah, “Pemanfaatan Tanaman Obat Tradisional Anti Diare Pada Suku Dayak Dusun Deyah Di Kecamatan Mauara Uya Kabupaten Tabalong”, JHECDs, 2(1) 2016, Hal 7-13
8. Luxita Dewi Mutiara, “Pengaruh Lama Fermentasi Dan Konsentrasi Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium Guajava) Terhadap Aktivitas Antioksidan Kombucha”, Surakarta; 2014 9. W Christijanti, A Marianti, “Aktivitas Spermatoprtective Ekstrak Daun Jambu Biji Pada
Jumlah Spermatozoa Tikus Putih Terinduksi Kadmium”. Jurnal MIPA, Vol.36, No.2 (2013)
10. Al-Juziyah, Ibnu Qayyim, Praktek Kedokteran Nabi SAW: Penyambuhan di bawah bimbingan Wahyu, HIKAM PUSTAKA, Terj. At-Thibbun Nabawi ( Dar Kutub Al-„Ilmiyah, Beirut, Cet. III), Jogjakarta; 2010
11. Septia Anggraini, Optimasi Formula Fast Disintegrating Tablet Ekstrak Daun Jambu
Biji (Psidium Guajava L.) Dengan Bahan Penghancur Sodium Starch Glycolate Dan Bahan Pengisi Manitol, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, 2010.
12. Renata Ayuni, Khasiat Selangit Daun-Daun Ajaib Tumpas Beragam Penyakit, Alaska,Yogyakarta, 2012. hlm. 130.
39 13. Yulinar Rochmasari, Studi Isolasi Dan Penentuan Struktur Molekul Senyawa Kimia
Dalam Fraksi Netral Daun Jambu Biji Australia (Psidium Guajava L.), Universitas
Indonesia,Depok, 2011, hlm. 3.
14. Tiwari, Kumar, Kaur Mandeep, Kaur Gurpreet & Kaur Harleem. Phytochemical
Screening and Extraction: A Review. Internationale Pharmaceutica Sciencia vol. 1: issue
1;2011
15. James Hamuel Doughari. Phytochemicals :Extraction Methods, Basic Structres and
Mode of Action as Potential Chemotherapeutic Agents. Nigeria;2012
16. Todar K. Pathogenic E.coli. http://textbookofbacteriology.net/e.coli.html,29 Maret 2012. 17. Brooks GF, Butel JS, Carroll KC, Morse SA. Jawetz, Melnick, & Adelberg's Kirby
WMM, Sherris JC, Turck M. Antibiotic susceptibility testing Medical Microbiology. 24th
Ed. USA :McGraw Hill. 2011; 224-7.
18. Kusmayati dan Agustini, N. W. R. Uji Aktivitas Antibakteri dari Mikroalga
(Porphyridiumcruentum). Biodiversitas. 2010. 8(1) : 48 Senyawa -53.
19. Bauer AW,by a standardized single disc method. AM J ClinPathol. 1966 ;45 : 493. 20. Todar K. Vibrio Cholerae and Asiatic Cholerae.
http://textbookofbacteriology.net/cholera.html.26 juli 2012
21. Rosyada, Putri Sofiana. Pengaruh Lama Pemaparan Sinar Gamma Terhadap Jumlah Koloni dan Kadar Protein Bakteri Shigella flexneri. Skripsi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang;2017
22. Tomiyama, Kiyoshi. et all.„Antibacterial Action of a Condensed Tannin Extracted from Astringent Persimmon as a Component of Food Addictive Pancil PS-M on Oral
40 Polymicrobial Biofilms.‟ Hindawi Publishing CorporationBioMed Research
International;2016
23. James Hamuel Doughari. Phytochemicals :Extraction Methods, Basic Structres and
Mode of Action as Potential Chemotherapeutic Agents. Nigeria;2012
24. Siti Nuryani, R.Fx. Saptono Putro, Darwani,”Pemanfaatan Ekstrak Daun Jambu Biji
(Psidium Guajava L) Sebagai Antibakteri Dan Antifungi”. Junal Teknologi
Laboratorium. Vol.6, No.2, September;2017
LAMPIRAN
41 Dokumentasi Daun Jambu Biji
Psidium Guajava L
Proses Pengolahan Sampel
Daun jambu biji yang telah di gunting kecil-kecil di masukkan ke dalam aluminium foil
42 Endapan Hasil Saring
43 Proses pemisahan pelarut dan zat terlarut menggunakan rotatory evaporator
Persiapan Kontrol Positif
44 Persiapan Kontrol Negatif
Kontrol negatif menggunakan DMSO (Dimethyl Sulfoxide) Persiapan Medium
45 Medium uji coba sensitivitas menggunakan Mueller Hinton Agar (MHA)
Persiapan Variabel Konsentrasi Ekstrak
46 Variabel konsentrasi ekstrak setelah dilarutkan menggunakan DMSO
Proses Uji Sensitivitas Metode Difusi Sumur (Diffuse Well Method)
Proses inokulasi bakteri
Proses pengukuran, kultur bakteri ke medium MHA
47 Proses penanaman pencadang dalam
medium MHA
Proses pengambilan variabel konsentrasi ekstrak dari tabung
Proses pemasukan variabel konsentrasi ekstrak ke pencadang
48 Proses pengukuran menggunakan jangka sorong
49 Hasil Penelitian