BAB V
PENGELOLAAN KEBUN RAYA TOLEDO
5.1. Sejarah Umum
Kebun Raya Toledo didirikan sejak tahun 1964 dengan luas 20 acres (8,1 ha). Taman ini disumbangkan oleh George P. Crosby dengan tujuan untuk mewujudkan suatu taman publik, sebagai pusat pertamanan dan kesenian. Tujuan ini dirumuskan oleh Elmer Hinkleman. Pada tahun 1967, KRT melalui George P. Crosby membentuk dewan pengurus taman agar dapat mengawasi kegiatan pemeliharaan dan dapat menyebarluaskan program-program yang sedang dan akan dilaksanakan.
Pada tahun 1970, Departemen Perencanaan Kota membuat Master Plan pertama KRT dengan mengikutsertakan dewan pengurus dan staf. Pelaksanaan Master Plan tersebut selama tiga tahun dengan luas 20 acres (8,1 Ha). Hal ini terealisasikan berkat adanya donatur dan dana bantuan/hibah. Dengan cara ini, pihak KRT dapat menghemat $200,000,- USD dari seluruh biaya total pembangunan. Enam tahun kemudian, dewan pengurus KRT melakukan kerja sama dengan Sekolah Publik Toledo untuk mengimplementasikan program pendidikan ilmu hortikultura selama dua tahun dengan tujuan untuk memantau tingkat kreativitas dalam mendesain taman dan mengembangkan pengetahuan akan pentingnya lingkungan yang meliputi dua program, yaitu: program pengetahuan tanaman dan program pendidikan hortikultura.
Pada tahun 1974, luas KRT menjadi 60 acres (24,3 ha). Pada tahun 1981, Dewan Penasehat dan Pengurus KRT memulai untuk mencari dana agar seluruh kegiatan di KRT tetap berlangsung. Pada tahun 1984. Dewan Pengurus KRT bersama dengan Pemerintah Kota Toledo tertarik untuk memperbaharui Master Plan yang telah ada dengan tujuan untuk menciptakan suasana baru. Berdasarkan Master Plan tersebut, KRT memiliki beberapa taman, yaitu: Shade Garden, Rose Garden, Perennial Garden, Pioneer Garden, Vegetable Garden, dan lainnya. Pada tahun 1987, kegiatan tersebut pun terealisasikan dengan kucuran dana $2.1 USD. Setelah itu, para pengunjung KRT meningkat drastis mencapai 100,000 pengunjung per tahun.
Pada tahun 1990-an, KRT merenovasi Rose Garden dan merencanakan untuk membangun pusat pengunjung (visitor center) dan tempat parkir (parking lot). Setelah itu, tepatnya tahun 1995, KRT membangun Grande Allee yang terletak di sebelah Selatan Danau. Dua tahun kemudian, KRT juga membangun rumah kaca. Pembangunan ini terlaksana melalui kerjasama antara KRT dengan USDA dan Ohio State University-OARDC (Ohio State’s Agricultural Business Enhancement Center). Setalah membangun greenhouses, KRT membentuk suatu yayasan atau grup dengan nama Toledo GROWS (Gardens Revitalize Our World). Yayasan ini bergerak pada pembibitan dan pemeliharaan tana man buah dan sayuran. Yayasan ini beroperasi pada salah satu rumah kaca KRT.
Memasuki abad ke-20, Dewan Pengurus KRT ingin memperbaharui Master Plan tahun 1986 dan merencanakan program kerja KRT jangka pendek selama lima tahun, dari tahun 2000-2005. Secara umum, program kerja tersebut bertujuan untuk memperkaya kehidupan melalui berkebun, seni, dan alam, yang seiring perkembangan waktu hal-hal tersebut menjadi prioritas utama. Sejak tahun 2000, Dewan Pengurus bertanggung jawab untuk menutupi 85% dari seluruh dana operasional KRT yang dianggarkan mencapai $1.3 USD. Selain itu, mereka juga merencanakan dan membuat Master Plan dan konservasi tanaman. Pada tahun 2005, KRT mendapatkan dana bantuan/hibah dari Departemen Pengembangan Perumahan dan Perkotaan Amerika Serikat untuk konstruksi jalan Bancroft sebagai salah satu pintu masuk (entryway) KRT. Pada tahun yang sama, KRT menambah sebuah greenhouse untuk mengakomodasi hubungan kerja sama antara KRT dengan USDA’s Agricultural Research Service. Pada tahun 2006, KRT tergabung dalam Metroparks of Toledo Area.
5.2. Kondisi Umum Kebun Raya Toledo
Kebun Raya Toledo merupakan suatu tempat publik yang menyajikan integrasi antara keindahan taman dengan seni yang menyatu dengan alam. Kebun raya ini terletak di Kota Toledo, Ohio, dengan luas 60 acres (24,3 ha). Jika ditinjau dari aspek topografi, kawasan KRT terletak pada ketinggian 618-634 kaki (188-193 m) di atas permukaan laut (dpl). Hal ini menunjukkan bahwa topografi
wilayah KRT cenderung datar. Kebun Raya Toledo memiliki batas administrasi sebagai berikut (Lampiran 4).
Barat : Hawkins Elemntary School Timur : Pemukiman
Utara : Elmer Drive
Selatan : West Bancroft Street
KRT sendiri memiliki beberapa taman utama, seperti: Shade Garden, Perennial Garden, Herb Garden, Rose Garden, Village Garden, dan Pioneer Garden. Selain itu, KRT juga memiliki beberapa fasilitas lainnya, seperti: bangunan Conference Center, kolam (pond), rumah kaca (greenhouse), dan lainnya. Fasilitas- fasilitas tersebut disajikan secara terperinci pada Tabel 2.
Tabel 2. Komponen-komponen KRT saat ini
Komponen KRT Luas (m2) Luas (%)
Shade Garden 9506,7 5.4 Perennial Garden 4879,7 2.8 Village Garden 1035,5 0.6 Herb Garden 313 0.2 Rose Garden 469,7 0.3 Turf/Lawn 100299,4 57.2 Trees/Arbor 30571,6 17.4 Pioneer Garden 1389,4 0.8 Pond/Ditch 11631 6.6 Conference Center 1838,6 1.0 Bancroft Entry 12502 7.1 Greenhouse 1002,3 0.6 Total 175442,5 100.0
Sumber: Master Plan KRT (2005)
Pada dasarnya, KRT memiliki Master Plan dengan luas KRT 65 acres (26,325 ha). Master Plan tersebut belum diimplementasikan secara keseluruhan. Terdapat sedikit perbedaan antara spesifikasi fasilitas KRT pada saat ini dengan spesifikasi fasilitas KRT berdasarkan Master Plan. Berikut disajikan Tabel 3 komponen-komponen yang terdapat pada KRT berdasarkan Master Plan.
Tabel 3. Komponen-komponen KRT berdasarkan Master Plan Komponen KRT Luas (m2) Children’s Garden 20061,5 Learning Village 7694,6 Picnic Area 2342 Event Village 19089,4 East Lake 13184,5 Axis Garden 6334,3 Staff Village 24802 Entry Landscape 10452,2 Perennial Garden 7772,2 Hillside, Westlake 11424 Artist Village 18755,8 Shade Garden 15601,6 Conference Center 72956 Maintenance Building 4827,6 Floral Promenade 3835,4 Turf/Lawn 37200 Total 210672,6
Sumber: Master Plan KRT (2005)
Tabel 3 mengindikasikan bahwa terjadi perubahan yang sangat signifikan terhadap kondisi KRT sekarang. Perubahan luas KRT juga menjadi salah satu indikasi bahwa kondisi KRT pada saat ini belum mencapai kondisi yang sempurna, yang sesuai dengan Master Plan. Jika dibandingkan antara kedua Tabel 2 dan Tabel 3, dapat dilihat bahwa perubahan terbesar terdapat pada luas rumput dari 100299,4 m2 menjadi 37200 m2. Master Plan tersebut didesain ulang oleh Konsultan MESA Group pada tahun 2005 (Lampiran 5). Untuk saat ini, pihak KRT hanya dapat merealisasikan 70% dari keseluruhan Master Plan tersebut (Lampiran 6). Pihak KRT sendiri sedang berupaya mencari dana dan sponsor untuk membangun Children’s Garden.
5.3. Kondisi Lanskap Kebun Raya Toledo
Kebun Raya Toledo merupakan kebun raya yang menjadi pusat kegiatan pertamanan dan kesenian. KRT terdiri dari taman-taman kecil yang saling terintegrasi membentuk kawasan KRT. Di dalam beberapa taman tersebut, terdapat taman yang memiliki tanaman-tanaman koleksi yang menjadi bahan interprertasi untuk bidang pendidikan.
5.3.1. Pola Pembagian Ruang Kebun Raya Toledo
Berdasarkan kondisi KRT saat ini, terdapat sepuluh ruang yang saling terintegrasi. Kesepuluh ruang tersebut ialah Entrance Area, Woodland Area, Transition Area, Garden, Bird Watching Area, Parking Area, Compost Area, Greenhouse, Service Area, dan Festival Lawn (Lampiran 7). Berikut dijelaskan pola pembagian ruang KRT.
1. Entrance Area
Kebun Raya Toledo memiliki empat entrance area, tiga gerbang terletak di sebelah Utara yang dapat diakses melalui Elmer Drive dan satu gerbang terletak di sebelah Selatan yang diakses melalui West Bancroft Street. 2. Woodland Area
Area ini terletak di dua bagian, yaitu di sebelah Barat dan Timur KRT. Pada area ini terdapat tegakan pohon-pohon dan kumpulan semak. Di sebelah Barat, area ini berfungsi sebagai penyangga terhadap Hawkins Elementary School yang terletak di sebalah Barat KRT dan di sebelah Timur yang juga berfungsi sebagai area pembatas dan penyangga terhadap pemukiman penduduk.
3. Transition Area
Area ini merupakan area transisi yang menghubungkan antara daerah di luar KRT dan di dalam KRT. Area ini didesain secara simetris dengan adanya pohon-pohon di kedua sisi jalan masuk KRT.
4. Gardens Area
Area ini merupakan kumpulan taman-taman yang terdapat di dalam KRT. Terdapat enam taman utama, yaitu: Shade Garden, Perennial Garden, Pioneer Garden, Vegetable Garden, Rose Garden, dan Herb Garden.
5. Bird Watching Area
Area ini terletak di sekitar danau. Pada danau tersebut terdapat beberapa satwa yang dapat menarik minat pengunjung, seperti: bebek, ikan, angsa, dan canadian geese. Pada area ini, disediakan bangku-bangku taman untuk menikmati aktivitas angsa, bebek, ikan, dan canadian geese di area danau.
6. Parking Area
Terdapat empat tempat parkir yang terbagi di bagian Selatan dan Utara. Oleh karena itu, area ini dapat diakses dengan mudah, baik dari gerbang di sebelah Selatan maupun gerbang di sebelah Utara.
7. Compost Area
Area ini digunakan untuk mengomposkan segala limbah yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan pemeliharaan. Area ini terbagi dua bagian, yaitu: area kompos hijau dan area kompos berkayu.
8. Greenhouse
Pada area ini terdapat greenhouse yang digunakan untuk menyimpan dan memperbanyak tanaman. Selain itu, area ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan pupuk dan media tanam.
9. Service Area
Area ini merupakan area pelayanan yang berupa area perkantoran. Terdapat lima jenis bangunan perkantoran, yaitu: maintenance building, administrative office, fun house, horticulture office, dan conference center. 10. Festival Area (Festival Lawn)
Area ini terletak di sebelah Selatan Shade Garden. Area ini merupakan area tempat berlangsungnya seluruh kegiatan yang disele nggarakan oleh pihak Kebun Raya Toledo.
5.3.2 Pola Sirkulasi
Sirkulasi merupakan faktor utama yang dapat membantu pengunjung untuk menjelajahi seluruh elemen lanskap. Sirkulasi juga menjadi faktor penentu untuk mengklasifikasikan antara sirkulasi pengunjung (manusia) dan kendaraan.
Secara umum, Kebun Raya Toledo mengintegrasikan dua jenis pola sirkulasi, yaitu: pola sirkulasi axis dan pola sirkulasi loup. Akan tetapi, pola sirkulasi loup sangat mendominasi dari seluruh jalur sirkulasi yang terdapat di KRT. Berdasarkan pengggunanya, KRT mengklasifikasikan jalur sirkulasi menjadi dua kategori, yaitu: jalur sirkulasi manusia/jalur sirkulasi kendaraan dan jalur sirkulasi khusus kendaraan yang digunakan untuk kegiatan pemeliharaan (Lampiran 8).
1. Jalur sirkulasi pengunjung dan kendaraan pemeliharaan
Jalur sirkulasi mengakomodasi jalan untuk para pengunjung yang juga tergabung dengan jalur kendaraan pemeliharaan. Jalur ini mengadopsi pola sirkulasi loup. Hal ini dilakukan agar para pengunjung dapat menjelajahi seluruh bagian yang terdapat pada KRT.
2. Jalur sirkulasi kendaraan/sepeda pengunjung
Jalur ini membatasi pergerakan kendaraan/sepeda yang dibawa oleh pengunjung. Jalur ini akan mengarahkan para pengunjung untuk memarkir kendaraan mereka di tempat parkir yang tersedia. Khusus para pengunjung yang menggunakan sepeda, mereka juga harus memarkir sepeda mereka di tempat parkir yang telah disediakan. Pihak KRT tidak mengijinkan para pengunjung yang menggunakan sepeda di kawasan KRT. Hal ini disebabkan untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan antara sepeda dengan kendaraan pemeliharaan yang sedang beroperasi.
5.3.3 Tanaman Koleksi di Kebun Raya Toledo
Kebun Raya merupakan kebun botani yang memiliki tanaman koleksi untuk kebutuhan wisata dan pendidikan. Layaknya seb uah kebun raya, Kebun Raya Toledo juga memiliki beberapa kumpulan tanaman koleksi, di antaranya: Rose Garden, Dahlia Bed, Daylily Walk, Green Garden, Grass Garden, Herb Garden, dan Hosta Collection (Lampiran 9). Tanaman-tanaman koleksi tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Green garden, merupakan taman yang memiliki koleksi tanaman evergreen. Taman ini terletak di Perennial Garden.
2. Grass garden, merupakan taman yang mengoleksi rumput-rumput ornamental dengan 20 spesies yang berbeda. Taman ini juga terletak di Perennial Garden.
3. Herb garden, merupakan taman memiliki kumpulan tanaman herbal (bumbu masak dan obat) yang terdiri dari 50 spesies tanaman yang berbeda.
4. Hosta collection, merupakan taman yang mengakomodasi seluruh tanaman hosta dengan jumlah spesies mencapai 400 spesies tanaman hosta yang
berbeda. Taman yang terletak pada kawasan Shade Garden ini, mendapatkan penghargaan dari AHS (All Hosta Selection).
5. Daylily walk, merupakan taman kecil yang terletak di Perennial Garden dengan jumlah 300 spesies tanaman daylily yang berbeda. Taman ini juga mendapatkan penghargaan dari AHS (All Hemerocalis Selection)
6. Rose garden, merupakan taman yang memiliki koleksi bunga mawar dengan jumlah 30 spesies berbeda.
7. Dahlia bed, merupakan taman yang mengoleksi 50 jenis tanaman dahlia yang berbeda.
5.3.4 Taman-taman di Kebun Raya Toledo
Berdasarkan kondisi KRT saat ini, berikut dijelaskan beberapa komponen taman-taman yang terdapat pada lingkup KRT (Lampiran 10).
5.3.4.1. Shade Garden
Shade garden merupakan salah satu taman utama yang dimiliki oleh Kebun Raya Toledo. Taman ini memiliki luas 9506,7 m2 yang mencakup 5,4% dari total keseluruhan KRT. Taman ini dinamakan ‘shade garden’ karena didominasi oleh pohon-pohon besar sehingga taman ini selalu terkesan sejuk dan nyaman. Secara umum, taman ini dibagi dalam tiga taman pendukung yang terletak di dalam area Shade Garden, yaitu:
1. Herb Garden
Taman ini terletak di sebelah Timur Shade Graden Main Entrance. Taman ini dikelola oleh kelompok Maumee Valley Herb Society (MVHS) yang melakukan kegiatan pemeliharaan setiap hari Selasa pada pukul 09.00-12.00. Sesuai dengan namanya, taman ini didomisasi oleh tanaman-tanaman herbal yang berfungsi sebagai obat tradisional dan juga bumbu masakan (Gambar 3). Taman ini memiliki beberapa fasilitas, seperti: bangku taman, pot, irigasi, pergola, topiari, dan lainnya. Taman ini ter golong taman yang dipelihara secara intensif. Adapun kegiatan pemeliharaan yang dilakukan pada taman ini adalah penyiraman, pemangkasan, perangkaian tanaman yang merambat pada rangka pergola, penanaman, mencabut gulma, pemotongan cabang tanaman yang telah mati, dan deadheading.
Gambar 3. Kondisi lanskap Shade Garden; Shade Garden Main Entrance (kiri) dan Herb Garden (kanan)
2. Hosta Collection
Taman ini terletak di sebelah Barat dari Shade Garden Main Entrance. Taman ini dikelola oleh kelompok Black Swamp Hosta Society (BSHS) yang melaksanakan tindakan pemeliharaan setiap hari Rabu pada pukul 09.00-12.00. Taman ini merupakan pusat dari berbagai jenis tanaman hosta. Tercatat lebih dari 400 spesies tanaman hosta yang terdapat di area taman ini. Area ini tidak membutuhkan tingkat pemeliharaan secara intensif. Tindakan pemeliharaan yang dilakukan pada taman ini berupa: mencabut gulma, deadheading, penanaman spesies baru, dan penyiraman.
3. Aquatic Garden
Taman ini terletak di tengah-tengah Shade Garden. Taman ini merupakan taman yang dapat menarik perhatian para pengunjung. Hal ini disebabkan oleh kondisi taman terlihat sangat indah dan sempurna dengan perpaduan antara garis organik yang membentuk kolam dan garis geometrik yang terdapat pada gazebo dan deck. Selain itu, taman ini memiliki air mancur (fountain) membuat seolah-olah taman tersebut hidup dan alami. Keistimewaan ini membuat gazebo di Shade Garden menjadi salah satu landmark KRT. Sejalan dengan hal tersebut, banyak acara/pesta perkawinan yang dilakukan di tempat ini, khususnya pada hari Sabtu dan Minggu selama musim panas. Hal ini merupakan salah satu cara untuk mendapatkan dana sehingga kegiatan pemeliharaan KRT tetap berlangsung. Pemeliharaan di area ini tergolong tidak intensif. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menjaga suasana taman ini terkesan alami, bukannya artificial. Adapun kegiatan pemeliharaan yang dilakukan pada taman ini berupa :
a. Membersihkan area gazebo dan deck dengan menggunakan blower (alat peniup). Biasanya, kegiatan ini dilakukan pada hari Jum’at untuk menjaga kebersihan pada hari Sabtu dan Minggu (weekend), terutama untuk mempersiapkan acara pesta perkawinan yang berlangsung pada hari Sabtu dan Minggu selama musim panas.
b. Membersihkan kolam dengan menggunakan rake terhadap daun-daun kering, baik yang berada di dasar kolam maupun di permukaan air. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan pakaian tahan air (water proof) dan rake yang dapat mengangkat daun-daun kering dari dasar kolam. Selanjutnya, daun-daun kering tersebut dikumpulkan dalam area kompos (compost area). Kegiatan ini dilakukan sekali dalam setahun, tapatnya di akhir musim semi atau di awal musim panas.
Secara umum, Shade Garden memiliki fasilitas yang sangat memadai. Jenis fasilitas tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Jenis fasilitas pada Shade Garden Jenis Fasilitas Jumlah
(Unit)
Jenis Fasilitas Jumlah (Unit)
Conference Center 1 Toilet 1
Water fountain 2 Handicap building 1
Gazebo 2 Bangku taman 6
Kolam 1 Tempat sampah 2
Jembatan 1 Quick coupler 2
Deck 2 House unit (keran
air)
2
Bee Nest (sculpture) 1
Sumber: Pengamatan lapang
Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa Shade Garden memiliki jenis fasilitas yang sangat sesuai dengan jumlah yang mencukupi, yaitu:
a. Conference Center merupakan bangunan yang digunakan untuk keperluan rapat antara staf di KRT. Selain itu, bangunan ini juga disewakan untuk menyelenggarakan berbagai acara yang berlangsung di KRT.
b. Handicap Building ialah jenis bangunan yang khusus d iperuntukkan untuk pengunjung yang memiliki keterbatasan fisik (pengunjung yang cacat).
Bangunan ini memiliki fasilitas yang lengkap yang sesuai dengan kebutuhan pengunjung, terutama kebutuhan akan kursi roda.
c. Quick Coupler merupakan salah satu alat yang dapat menyerap air tanah. Alat ini dibutuhkan untuk melakukan kegiatan penyiraman.
5.3.4.2. Perennial Garden
Perennial Garden adalah salah satu taman yang dimiliki oleh KRT. Taman ini mempunyai luas 4879,6 m2 atau mewakili 2,8% luas KRT secara keseluruhan. Taman ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan Shade Garden. Hal ini disebabkan oleh tanaman-tanaman yang mendominasi area ini berupa annual dan perennial serta terdapat beberapa semak dan pohon peneduh. Selain itu, taman ini terkesan sangat artificial dengan gaya desain yang didominasi oleh garis-garis geometrik. Taman ini dibentuk dari beberapa gabungan taman kecil yang saling terhubung, yaitu: Color Garden, English Border Garden, Cottage Garden, Green Garden, dan Grass Garden.
1) Color Garden
Taman ini merupakan satu-satunya taman yang tidak memiliki perkerasan (path) di antara taman-taman pembentuk Perennial Garden. Selain itu, taman ini juga didesain dengan garis organik. Secara umum, taman ini terdiri dari lima flower beds, yaitu: Daylily Walk, Red Bed, Pink Bed, White Bed, dan Blue Bed.
a. Dailyly Walk merupakan salah satu taman kecil yang secara keseluruhan adalah kumpulan tanaman dailili. Tercatat 400 spesies dailili yang ditanam di KRT. Spesies-spesies tersebut dikategorikan dalam sembilan kelompok yang sesuai dengan breeder yang menyilangkan tanaman tersebut (Tabel 5).
b. Red Bed ialah suatu taman kecil yang seluruh tanaman memiliki bunga berwarna merah.
c. Pink Bed merupakan suatu taman kecil yang didominasi oleh tanaman-tanaman dengan bunga berwarna merah muda (pink).
d. White bed yaitu taman pembentuk color garden yang merupakan kumpulan tanaman-tanaman dengan bunga berwarna putih.
e. Blue Bed adalah salah satu taman pembentuk dengan keseluruhan tanaman memiliki bunga berwarna biru.
Tabel 5. Klasifikasi Tanaman Daylili Kelompok Tahun Karakteristik Stout Silver
Medal 1950
Merupakan penghargaan tertinggi di antara semua kelompok. Eugene S. Foster Award 1991 late-blooming cultivar Lennington All-American Award 1970
All American Hemerocallis
Selection Regions L. Ernest Plant
Award 1979
Tanaman yang manghasilkan aroma wangi (aromatik) pada saat dormansi
Harris Olson
Spider Award 1989
Tanaman dengan bentuk fisiologinya menyerupai laba-laba
Ida Munson
Award 1975
Tanaman yang dikenal dengan istilah double flowers
Don C. Stevens
Award 1985
Tanaman yang memiliki banded flower
Annie T. Giles
Award 1964
Tanaman dengan diameter bunga berkisar antara 7.5-11.5 cm
Donn Fischer
Memorial Cup 1952
Tanaman dengan diameter bunga kurang dari 7.5 cm
Sumber: Pengamatan Lapang (2009)
Taman ini juga memiliki beberapa tanaman yang sangat berpotensial untuk menarik minat pengunjung, yaitu: katsura tree (Cercidiphyllum japonicum), blue false indigo (Baptista australis), globe thistle (Echinops ritro), dan hibiscus plants (Hibiscus moscheutos). Tanaman-tanaman tersebut dapat dilihat pada Gambar 4 sebagai berikut.
Gambar 4. Tanaman yang terdapat pada Color Garden; katsura tree (Cercidiphyllum japonicum) (kiri), globe thistle (Echinops ritro) (tengah), dan hibiscus plants (Hibiscus moscheutos) (kanan).
2) English Border Garden
Taman ini merupakan taman yang satu-satunya didesain secara simetrik. Taman ini merepresentasikan taman dengan gaya barat (western garden). Taman ini dideskripsikan dengan terdapatnya dua tanaman pagar (hedges) di kedua sisi taman yang dipisahkan oleh bentangan rumput dan diakhiri oleh sebuah patung Josephine (Ratu Yunani) yang dikelilingi oleh empat hedges berbentuk segi empat dengan proporsi lebar dan tinggi yang sama. Taman ini terkesan sangat formal dengan kegiatan pemeliharaan yang intensif pula (Gambar 5).
Gambar 5. Kondisi Lanskap English Border; Lawn pada English Border (kiri) dan Patung Josephine (kanan).
Pada taman ini juga terdapat beberapa bunga yang dapat menarik minat pengunjung, di antaranya: lamb’s ears (Stachys bizantina), Russian sage (Perovskia atriplicifolia), dan potentilla ‘Gibson Scarlet’ (Potentilla astrosanguinea) (Gambar 6). Secara umum, seluruh tanaman pada area ini akan berbunga pada akhir musim semi dan keseluruhan musim panas.
Gambar 6. Tanaman yang terdapat pada English Border; lamb’s ears (Stachys bizantina) (kiri), Russian sage (Perovskia atriplicifolia) (tengah), dan potentilla ‘Gibson Scarlet’ (Potentilla astrosanguinea) (kanan).
3) Cottage Garden
Taman ini merupakan taman yang didesain secara informal. Cottage Garden merupakan sebuah nama yang merepresentasikan taman ini yang memiliki sebuah cottage atau pergola/shelter yang dirambati dengan tanaman akebia. Uniknya, pada taman ini terdapat taman-taman kecil di antara paving block sebagai material perkerasan. Selain itu, taman ini memiliki lawn yang di sebelah Barat pergola.
Pada taman ini terdapat beberapa tanaman yang berbunga (Rudbekia fulgida), joe-pye weed (Eupatorium maculatum ‘Gateway’), shasta daysies (Leucanthemum x superbum), lavender (Lavandula sp.), dailili (Hemerocallis), speedwell (Veronica), phlox (Phlox maculata dan Phlox maniculata), dan mawar (Rosa sp.) (Gambar 7).
Gambar 7. Tanaman-tanaman yang terdapat pada Cottage Garden: joe-pye weed (Eupatorium maculatum ‘Gateway’) (kiri atas), shasta daysies
(Leucanthemum x superbum) (tengah atas), lavender (Lavandula sp.) (kanan atas), phlox (Phlox maniculata) (kiri bawah), speedwell (Veronica) (tengah bawah), dan dailili (Hemerocallis) (kanan bawah).
4) Green Garden
Taman ini terletak di sebelah Barat Cottage Garden dan didesain dengan menggunakan garis geometrik sehingga terkesan sangat artificial. Selain itu, taman ini juga dikenal dengan sebutan taman rahasia ( secret garden) karena letaknya yang sedikit tersembunyi. Hal ini dilakukan agar taman tersebut terlihat sebagai private area. Hal ini disebabkan karena taman ini didesain dengan hedge dan tembok. Tembok tersebut berfungsi sebagai pembatas antara Cottage Garden dan Green Garden. Taman ini juga memiliki pergola yang terhubung dengan tembok (Gambar 8).
Gambar 8. Kondisi lanskap Green Garden; Tembok pembatas antara Cottage Garden dan Green Garden (kiri) dan Koleksi tanaman evergreen pada Green Garden
Jika ditinjau dari segi pemeliharaan, taman ini tergolong jenis pemeliharaan yang semi- intensif. Taman ini tentunya didominasi oleh tanaman-tanaman evergreen, seperti: pinus, dan lainnya. Adapun kegiatan pemeliharaan yang dilakukan ialah pemotongon rumput dengan menggunakan push mower, hedging, pencabutan gulma, dan penanaman.
5) Grass Garden
Taman ini terletak disebelah Selatan dari Cottage Garden. Sepintas, Taman ini menyerupai Color Garden karena secara keseluruhan didesain dengan garis organik. Hal utama yang membedakan antara kedua taman ini ialah pada koleksi tanaman. Pada Color Garden didominasi oleh
tanaman-tanaman dengan spesifikasi warna bunga tertentu, sedangkan pada Grass Garden didominasi oleh koleksi rumput ornamental (Gambar 9). Hal ini membuat taman ini sangat aneh tetapi unik.
Gambar 9. Koleksi rumput yang terdapat pada Grass Garden: ravennae grass (Erianthus ravennae) (kiri) dan elijah’s blue fescue (Festuca glauca) (kanan).
Secara umum, kegiatan pemeliharaan di taman ini tergolong intensif. Adapun kegiatan pemeliharaan yang dilakukan berupa:
1. Edging, ialah kegiatan pemeliharaan yang dilakukan untuk menjaga bentuk dari flower bed dengan menggunakan edger atau spade.
2. Hedging, ialah tindakan pemeliharaan yang dilakukan untuk mempertahankan bentuk tanaman pagar dan topiari . Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan gunting tanaman (shears) dan gas power hedger.
3. Deadhead, merupakan kegiatan pemotongan tanaman yang telah berbunga kemudian memiliki biji/ benih. Kegiatan ini dilakukan untuk mencegah tanaman melakukan pembenihan (seeding).
4. Cutting back, merupakan kegiatan pemotongan tanaman yang telah berbunga dengan ketinggian tanaman 10-20 cm dari permukaan tanah. Tindakan ini biasanya dilakukan pada musim semi dan musim panas. 5. Weeding, adalah kegiatan pencabutan gulma.
6. Penanaman dan pemindahan tanaman (transplanting).
7. Pemotongan rumput dengan menggunakan push mower secara berkala (seminggu sekali).
Secara umum, Perennial Garden memiliki fasilitas yang sangat memadai. Berikut disajikan tabel jenis fasilitas beserta dengan jumlah (Tabel 6).
Tabel 6. Jenis Fasilitas pada Perennial Garden
Jenis Fasilitas Jumlah
(Unit) Jenis Fasilitas
Jumlah (Unit)
Gerbang 1 Sculpture 10
Bangku taman 9 Sistem irigasi 1
Pergola 2 Ornamental pot 2
Sumber: Pengamatan lapang (2009)
5.3.4.3. Pioneer Garden
Pioneer Garden merupakan taman kecil dengan luas 1389,4 m2 yang dedikasikan untuk Peter Naverre. Beliau adalah orang pertama yang mendiami wilayah Ohio bagian Baratlaut yang selanjutnya dikenal sebagai orang pertama yang mendiami Kota Toledo. Taman ini dideskripsikan sebagai suatu area kecil yang memiliki sebuah kabin (rumah kecil) dengan kebun disekitar kabin (Gambar 10). Tanaman yang dikembangkan di kebun tersebut berupa tanaman buah-buahan dan sayur-sayuran. Di dalam kabin, dapat dilihat peralatan-peralatan kuno yang digunakan untuk berladang dan berburu. Adapun peralatan-peralatan yang dapat dijumpai di dalam bangunan ini berupa: kapak, cangkul, dan lainnya. Tentunya, fisolofi tersebut sangat sesuai dengan sebutan Pioneer Garden yang merupakan pioneer (awal terbentuknya taman/kebun/ladang).
Gambar 10. Kabin (rumah kecil) pada area Pioneer Garden
Sesuai dengan filosofi tersebut, taman ini tidak mengintroduksi bahan kimia untuk membangun tanaman ini. Seperti halnya hama dan penyakit tanaman, taman ini tidak menggunakan bahan kimia untuk mencegah masalah tersebut, melainkan menggunakan pestisida alami untuk mengontrol hama dan penyakit. Begitu pula
dengan pupuk, penanaman pada area ini tidak menggunakan bahan pupuk kimia, tetapi pupuk organik, seperti kompos dan hijauan.
Jika ditinjau dari segi jenis tanaman yang ditanam, pihak KRT setiap tahunnya merotasi tanaman yang ditanam. Untuk tahun 2009, tanaman yang terdapat pada area ini ialah kentang, squash, tembakau, beans, dan lainnya. Adapun kegiatan pemeliharaan yang dilakukan pada taman ini berupa penyiraman dengan menggunakan quickcoupler dan sprinkler serta pencabutan gulma.
5.3.4.4. Rose Garden
Area ini terletak di bagian Timur Kantor Administrasi KRT, berbentuk segi empat yang dikelilingi oleh tanaman pagar (hedges) dengan tinggi 50 cm (Gambar 11). Taman ini memiliki luas 470,487 m2 atau mencakup 0,3 % luas KRT secara keseluruhan. Pada taman ini, terdapat lebih dari 30 jenis varietas bunga mawar. Taman ini biasanya akan berbunga dua kali setahun, yaitu pada akhir musim semi atau bulan Juni dan pada awal musim gugur (akhir September atau awal Oktober). Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan pada taman ini berupa penyemprotan pestisida, pemupukan, dan pemangkasan. Untuk kegiatan penyemprotan pestisida, hanya dapat dilakukan oleh petugas yang memiliki lisensi.
Gambar 11. Kantor administrasi KRT (kiri) dan lanskap Rose Garden (kanan)
5.3.4.5. Village Garden
Taman ini terletak di bagian Utara Kantor Administrasi KRT dengan luas 1035,5 m2 yang mencakup 0,6% dari total luas KRT. Secara umum, taman ini terbagi dalam dua taman kecil, yaitu: Village Green dan Artist Gardens. Kedua taman ini sepenuhnya dikelola oleh para sukarelawan yang salah satu dari mereka ialah anggota dari Dewan Pengurus KRT. Taman ini terlihat lebih indah dengan
tambahan beberapa pot yang dihasilkan dari kegiatan flower arrangement (Gambar 12). Kegiatan ini mengkombinasikan lebih dari tiga tanaman dalam satu pot. Adapun kegiatan pemeliharaan pada taman ini berupa pencabuta n gulma, penyiraman, dan pemotongan rumput.
Gambar 12. Flower arrangement di dalam pot
5.3.4.6. Greenhouse
Greenhouse atau yang lebih dikenal dengan sebutan rumah kaca ialah suatu bangunan dengan struktur primer yang terbuat dari gelas sehingga temperatur dan kelembapan ruangan dapat dikontrol untuk penggunaan penanaman dan perlindungan terhadap tanaman. Pembangunan rumah kaca ini terlaksana melalui kerjasama antara KRT dengan USDA dan The Ohio State University-OARDC (Ohio State’s Agricultural Business Enhancement Center). Bangunan ini memiliki luas 1002,2 m2 yang terletak di bagian Selatan KRT. Selain itu, rumah kaca ini juga dilengkapi dengan dua Polyhouses.
Kebun Raya Toledo sebagai area hijau yang terbuka untuk publik tentunya sangat membutuhkan keberadaan rumah kaca. Selain melakukan penanaman dan perlindungan terhadap tanaman, rumah kaca juga dapat dioperasikan untuk memperbanyak tanaman sehingga kegiatan pergantian tanaman di lingkungan KRT dapat terus berjalan. Dengan adanya rumah kaca ini juga p ihak KRT masih dapat tetap menyelenggarakan acara Spring Sale dengan menjual tanaman untuk mendapatkan dana (Gambar 13).
Gambar 13. Kondisi greenhouse KRT: Tanaman-tanaman yang siap untuk dijual pada acara Spring Sale (kiri) dan Bangunan greenhouse (kanan)
Rumah kaca ini hanya beraktivitas secara penuh pada musim dingin dan musim semi. Pada kedua musim tersebut, Pihak KRT mempersiapkan acara penjualan tanaman pada musim semi. Khususnya pada musim dingin, hampir seluruh staf hortikultura bekerja di dalam rumah kaca. Kegiatan yang dilakukan pada area ini berupa pengakaran tanaman, penanaman tanaman dalam pot, pencucian pot, dan pemetikan bunga dari tanama n. Untuk kegiatan terakhir, hal ini dibutuhkan agar tanaman dapat menyimpan energi untuk pertumbuhan.
5.4. Kegiatan-kegiatan Pe meliharaan di KRT
Suatu lanskap terbangun tentunya harus dijaga agar tetap dapat dinikmati dan berkelanjutan. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan suatu proses pengelolaan lanskap. Pengelolaan lanskap sendiri diartikan sebagai suatu rangkaian proses berkelanjutan yang dimulai dari kegiatan desain, konstruksi, dan pemeliharaan dari sebuah proyek lanskap. Kegiatan ini mencakupi pada seluruh aspek lanskap, seperti: taman publik maupun taman privat, preservasi kehidupa n liar, dan area hutan lindung.
Pada dasarnya, kegiatan pengelolaan lanskap diklasifikasikan ke dalam dua kegiatan utama, yaitu: kegiatan pemeliharaan ideal dan kegiatan pemeliharaan fisik. Pemeliharaan ideal didefinisikan sebagai suatu kegiatan pemantauan agar kegiatan pemeliharaan sesuai dengan desain awal, sedangkan pemeliharaan fisik diartikan sebagai aktivitas pemeliharaan langsung terhadap suatu lanskap, seperti: pemangkasan, penanaman, penyapuan, penyikatan, dan lain sebagainya.
Kebun Raya Toledo merupakan suatu jenis lanskap publik yang tentunya membutuhkan kegiatan pengelolaan lanskap. Jika ditinjau dari jenis pemeliharaan
ideal, KRT dikelola agar fungsinya sebagai kebun raya dengan fungsi utama pendidikan dan rekreasi tidak berubah. Di lain pihak, jenis pemeliharaan fisik juga memiliki peran penting untuk menciptakan suasana KRT tetap indah dan nyaman. Adapun kegiatan pemeliharaan fisik yang dilakukan di KRT dibedakan menjadi tiga kegiatan utama, yaitu: kegiatan pemeliharaan pada musim semi, kegiatan pemeliharaan pada musim panas, dan kegiatan pemeliharaan ya ng rutin dilakukan. Berikut diuraikan lebih spesifik mengenai ketiga kegiatan utama pemeliharaan fisik di KRT.
5.4.1. Kegiatan Pemeliharaan pada Musim Se mi.
Tindakan pemeliharaan yang dilakukan pada mus im semi didominasi oleh raking. Selain itu, dilakukan juga planting/transplanting dan pemberian mulsa (mulching).
5.4.1.1. Raking
Raking merupakan kegiatan membersihkan/menyapu area taman dari daun-daun kering yang dihasilkan pada musim gugur dan musim dingin. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan ‘rake’ (Gambar 14). Kegiatan ini hanya dilakukan pada area Shade Garden mengingat area ini didominasi oleh pohon-pohon besar. Tentunya, pohon-pohon tersebut akan menggugurkan daun dalam jumlah yang sangat besar.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihak Kebun Raya Toledo menyelenggarakan kegiatan raking bersama yang melibatkan sejumlah sukarelawan. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 15 April 2009 yang diikuti oleh seluruh staf hortikultura KRT dan sukarelawan yang keseluruhan berjumlah sekitar 30 orang. Uniknya, sukarelawan yang membantu kegiatan ini didominasi oleh orang tua dan remaja. Hal ini mengindikasikan bahwa tingginya tingkat kepedulian warga Toledo terhapap lingkungan. Selanjutnya, daun-daun kering tersebut dihancurkan/dihaluskan dengan menggunakan mesin TRAC VAC. Kemudian, daun-daun yang telah dihaluskan tersebut dikumpulkan pada area kompos.
Kegiatan ini tidak dapat mereduksi seluruh jumlah daun kering yang terdapat pada Shade Garden. Hal ini menyebabkan kegiatan raking menjadi
kegiatan pemeliharaan yang utama dilakukan selama 1-2 bulan pertama selama musim semi. Selain itu, pada musim semi juga dilakukan pembersihan kolam yang terdapat pada area Shade Garden terhadap daun-daun kering. Kegiatan ini juga menggunakan rake dengan waiter (pakaian anti air). Kegiatan ini dilakukan dengan cara masuk ke dalam area kolam dengan menggunakan waiter, lalu mengangkat daun-daun kering dengan menggunakan rake. Selanjutnya, daun-daun kering tersebut dikumpulkan dan kemudian dibuang pada kompos area. Kegiatan ini dilakukan pada akhir musim semi atau menjelang musim panas.
Gambar 14. Jenis-jenis ‘rake’; hard rake (kiri atas), leaf rake (kanan atas), hand-leaf rake (kiri bawah), dan hand-hard rake (kanan bawah)
5.4.1.2. Planting dan Transplanting
Planting merupakan kegiatan penanaman tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada musim semi dengan tujuan tanaman tersebut akan berbunga pada musim panas. Selain itu, kegiatan penanaman ini juga dilakukan untuk mengganti tanaman setiap musimnya. Sebagai contoh, seluruh tanaman tulip akan berbunga pada musim semi, kemudian pada akhir musim semi atau awal musim panas, seluruh tanaman tersebut akan digantikan dengan tanaman berbunga lainnya. Hal ini dilakukan karena tanaman tulip akan mati setelah berbunga dan umbi tanaman tulip tersebut
diangkat dan akan ditanam kembali pada musim gugur. Selain itu, hal ini dilakukan dengan tujuan tanaman tulip tersebut akan tumbuh dan berbunga pada musim dingin dan musim semi. Kegiatan transplanting sendiri diartikan sebagai tindakan pemindahan tanaman dari suatu tempat ke tempat yang lain. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan keindahan dan keseragaman.
5.4.1.3. Mulching
Mulching merupakan tindakan pemberian mulsa pada permukaan tanah di sekitar tanaman. Hamdani (2009) berpendapat bahwa pemberian mulsa menimbulkan berbagai keuntungan, baik dari aspek fisik maupun kimia tanah. Secara fisik mulsa mampu menjaga temperatur tanah lebih stabil, mempertahankan kelembapan di sekitar perakaran tanaman, dan mencegah radiasi matahari. Selain itu, mulsa juga diberikan pada tanah lingkar pohon/tree ring (Gambar 15). Selain itu, Dahiya et al (2007) mengungkapkan bahwa pemberian mulsa juga dapat mengurangi hilangnya air tanah. Ingels (2004) menyatakan bahwa kegiatan ini memiliki dua fungsi, yaitu:
a. Untuk meningkatkan kualitas penampilan tanaman yang terkesan dirawat dengan baik sehingga dapat meningkatkan keindahan taman. b. Untuk melindungi menjaga kelembapan tanah, terutama pada musim
panas.
Kegiatan ini dilakukan pada akhir musim semi. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan perubahan flutuasi temperature dari musim semi ke musim panas, sehingga dapat kelembapan tanah terjaga.
5.4.2. Kegiatan Pemeliharaan pada Musim Panas
Tindakan-tindakan pemeliharaan yang dilakukan pada musim panas berupa pemangkasan, membuat pola flower bed (edging), pemupukan, feeding plants, pengendalian hama, dan deadheading.
5.4.2.1 Pemangkasan
Pemangkasan (pruning) merupakan suatu kegiatan yang memotong/membuang bagian dari tanaman dengan tujuan menjaga kesehatan tanaman, meningkatkan kualitas lanskap, dan juga meningkatkan nilai dari tanaman tersebut. Tujuan khusus dari kegiatan pemangkasan, yaitu:
1. Menjaga arsitektur tajuk atau bentuk tanaman (Gambar 16).
2. Menjaga ukuran tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh sesuai dengan yang diinginkan.
3. Mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan sehingga mengurangi nilai keindahan dari tanaman tersebut.
Gambar 16. Pemangkasan cabang pohon: Pohon sebelum pemangkasan (kiri) dan Pohon setelah pemangkasan (kanan)
4. Membuang bagian tanaman yang mati, baik yang diakibatkan oleh penyakit/virus maupun yang diakibatkan oleh serangga.
5. Menjaga bentuk tanaman, khususnya tanaman dengan bentukan yang khusus, seperti: topiary, espalier, dan tanaman pagar.
7. Menciptakan pertumbuhan cabang yang baru, khususnya pada semak-semak yang telah tua.
8. Meningkatkan pertumbuhan pembungaan/pembuahan dengan cara memotong bunga/buah yang tua.
9. Membuat tanaman tua menjadi tampak lebih muda.
10. Meningkatkan kenyamanan dan keamanaan bagi manusia, terutama kegiatan pemangkasan terhadap cabang-cabang pohon yang telah rapuh.
Kegiatan pemangkasan juga dapat dilakukan kapan saja. Waktu tersebut tergantung pada tingkat pencapaian hasil dari pemangkasan. Waktu kegiatan pemangkasan berdasarkan musim, yaitu:
a. Pemangkasan dilakukan pada akhir musim dingin pada saat tanaman dormansi sehingga tanaman tersebut akan berbunga kembali pada musim semi.
b. Kegiatan pemangkasan yang dilakukan pada awal musim panas dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman yang lambat, khususnya pada semak, yang mengurangi pertumbuhan daun. Hal ini dilakukan untuk menyimpan energi tanaman pada tahun selanjutnya.
c. Untuk tanaman yang luka yang disebabkan oleh badai atau tindakan vandalisme, sebaiknya dilakukan tindakan pemangkasan segera mungkin.
Pelaksanaan kegiatan pemangkasan, yaitu:
a. Kegiatan pemangkasan dilakukan pada cabang-cabang yang mati, patah, terjangkit penyakit/virus, atau diserang oleh serangga. Pemangkasan dilakukan secara perlahan dan hati- hati.
b. Kegiatan pemangkasan dilakukan pada cabang-cabang yang merusak/menggangu bentuk tajuk tanaman. Cabang-cacang tersebut tumbuh hingga ke bagian batang (mendekati batang) dan cabang-cabang tersebut juga saling menyilang.
c. Kegiatan pemangkasan dilakukan pada usia tanaman masih muda sehingga pertumbuhan tanaman sesuai dengan yang diinginkan. d. Memulai kegiatan pemangkasan dengan memperhatikan bentuk tajuk
tanaman dari atas kemudian memotong cabang terendah terlebih dahulu.
e. Mengidentifikasi cabang-cabang yang menjadi acuan sebelum melakukan pemangkasan.
f. Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan alat yang tajam sehingga tidak terjadi luka pada tanaman.
Untuk pemangkasan cabang pohon yang besar/berat, perlakuan pemangkasan memiliki perbedaan dengan pemangkasan pada umumnya. Pemangkasan yang dilakukan pada kasus ini dilakukan dengan mengaplikasikan ‘3 cuts theory’ atau teori tiga kali memotong (Gambar 17).
Gambar 17. 3 Cuts Theory pada pemangkasan dahan.
Gambar 17 menjelaskan skema proses pemotongan cabang pohon. Untuk potongan 1, dilakukan 5-10 cm dari bahu cabang pohon yang ingin dipotong, dengan ketebalan potongan setengah dari ketebalan cabang. Kemudian dilakukan pemotongan 2 yang berjarak 2-4 cm dari potongan 1. Pemotongan ini dilakukan dengan memotong habis ketebalan cabang pohon. Hal ini dilakukan untuk mencegah terbentuknya luka pada permukaan cabang yang disebabkan oleh cabang pohon yang terlalu berat. Selanjutnya, setelah pemotongan 2 dilakukan, cabang poho n menjadi ringan sehingga pemotongan 3 dapat dilakukan. Pemotongan 3 dilakukan dengan memotong
habis cabang pohon yang tersisa tepat pada bahu cabang pohon. Berikut akan disajikan gambar ilustrasi 3 Cuts Theory (Gambar 18).
Gambar 18. Cabang pohon hasil pemotongan 2
Pada kenyataannya, terdapat kesalahan pada saat melakukan pemotongan 3 yang dilakukan terlalu dekat dengan bahu batang pohon. Hal ini menyebabkan luka pada batang pohon itu sendiri (Gambar 19).
Gambar 19. Luka pohon akibat kesalahan pemotongan 3
Selain itu, terdapat juga pemangkasan yang dilakukan pada tanaman pagar (hedging). Secara umum, tanaman pagar dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu: tanaman pagar rendah dan tanaman pagar tinggi. Pada kasus ini, aplikasi pemangkasan yang dilakukan pun sedikit berbeda. Untuk memulai kegiatan pemangkasan, terlebih dahulu dilakukan pengamatan terhadap tanaman yang akan dipangkas. Pengamatan tersebut dilakukan untuk mengamati cabang-cabang tanaman yang akan dipangkas untuk mengetahui kedalaman sebagai indikator pemangkasan yang akan dilakukan. Hal tersebut dapat diketahui melalui pertumbuhan cabang tanaman (Gambar 20).
Gambar 20. Perbedaan cabang tanaman lama dan baru
Tanda panah pada Gambar 20 menunjukkan perbedaan antara cabang lama dan cabang baru. Pada titik tersebutlah dilakukan pemangkasan (hedging) yang selanjutnya menjadi indikator kedalaman pemangkasan tanaman pagar. Di dalam melakukan kegiatan ini, dibutuhkan ketelitian dalam menjaga ketinggian dan kelurusan pemangkasan. Setelah melakukan pemangkasan beberapa meter (1-3 meter), kemudian diamati apakah hasil pemangkasan cukup lurus dan memiliki ketinggian yang sama atau tidak. Oleh sebab itu, kegiatan ini terkesan membuang waktu, tetapi harus dilakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Kemudian potongan-potongan daun dan cabang yang dihasilkan, dikumpulkan dengan menggunakan leaf-rake, untuk selanjutnya dikomposkan.
Untuk tanaman pagar rendah, alat pemangkasan yang d ibutuhkan hanyalah hand-shears, baik untuk pemangkasan bagian atas tanaman maupun pemangkasan bagian sisi tanaman. Sedangkan untuk tanaman pagar tinggi, dibutuhkan beberapa alat untuk melakukan kegiatan pemangkasan, yaitu: tangga, lopper, dan hand-shears. Ketinggian tangga yang dibutuhkan tentunya tergantung dari ketinggian tanaman yang ingin dipangkas, sedangkan lopper dibutuhkan untuk memotong cabang yang keras dan tebal, yang tidak dapat dipotong oleh hand-shears. Kebutuhan ini hanya diperlukan untuk memangkas bagian atas tanaman. Di lain pihak, untuk memangkas bagian sisi tanaman, digunakan mesin gas power hedger yang bekerja jauh lebih cepat dibandingkan pemangkasan menggunakan hand-shears. Sebagaimana peraturan yang berlaku, untuk menggunakan mesin ini
juga harus disertai dengan peralatan pelindung, seperti: kacamata, headset, dan ear-plug.
Kegiatan pemangkasan membutuhkan peralatan yang khusus. Klasifikasi kebutuhan peralatan berdasarkan spesfikasi pemangkasan cabang/batang yang dilakukan sebagai berikut (Gambar 21):
1. Pohon besar menggunakan power equipment (chain saw or saw tree) 2. Cabang besar menggunakan gergaji (pruning saw)
3. Cabang sedang menggunakan lopper (lopping shears) 4. Cabang kecil menggunakan hand pruner
5. Cabang tinggi menggunkan tangga dan pole pruner 6. Tanaman pagar (hedge) menggunakan hand-shears.
Gambar 21. Jenis-jenis alat pemangkasan; gergaji tangan (kiri atas), hand-shear (kanan atas), lopper (kiri bawah), dan hand pruner (kanan bawah)
Pemangkasan tanaman pagar harus dilakukan secara hati- hati untuk menjaga bentuk dari tanaman pagar. Selain itu, kegiatan ini juga harus menjaga tinggi dan lebar dari seluruh tanaman agar tetap sama, sehingga memiliki bentuk yang jelas (Gambar 22).
Gambar 22. Pemangkasan tanaman pagar: Tanaman pagar sebelum pemangkasan (kiri) dan Tanaman pagar setelah pemangkasan (kanan).
5.4.2.2. Edging
Edging merupakan suatu kegiatan membuat batasan (border) dan pola (pattern) taman kecil (seperti: flower bed) agar dapat meningkatkan kualitas lanskap dan menambah nilai estetika suatu lanskap. Hal ini senada dengan pendapat Ingels (2004) yang mendefinisikan edging sebagai suatu kegiatan yang membuat garis (pola) yang tegas untuk memisahkan bentangan taman (flower bed) dengan bentangan rumput (lawn). Hal ini dilakukan dengan cara menggali tanah dengan kedalaman 6-8 inci (15-20 cm). Kemudian tanah yang digali tersebut disebarkan pada area flower bed yang sedang dilakukan edging, tentunya tanah tersebut telah dicabuti rumput atau gulma terlebih dahulu. Setelah tanah disebarkan, kemudian tanah diratakan sehingga terkesan indah dan menarik. Untuk mempertegas batasan edging dilakukan pengaturan kemiringan (slope) tanah di sekitar garis batasan atau edging. Adapun peralatan yang digunakan yang untuk membuat edging ialah edger, mesin edger, dan sekop spade. Berikut disajikan gambar flower bed sebelum dan sesudah dilakukan edging (Gambar 23).
Gambar 23. Edging area flower bed: Flower bed sebelum dilakukan edging (kiri) dan Flower bed setelah dilakukan edging (kanan).
5.4.2.3. Fertilizing
Fertilizing merupakan kegiatan pemupukan pada tanaman. Terdapat dua alasan utama mengapa kegiatan pemupukan dilakukan, yaitu tanaman tidak tumbuh secara normal dan gejala fisiologis yang ditunjukkan oleh tanaman tersebut, seperti: daun layu, warna daun menguning, dan sebagainya. Pupuk yang digunakan ialah butiran pupuk NPK. Selain itu, khusus untuk tanaman rhododendron dan azalea, diberikan pupuk organik. Aplikasi pemupukan sendiri dilakukan dengan cara menaburkan pupuk di atas permukaan tanah yang melingkar mengikuti bentuk tajuk tanaman yang diberi pupuk. Kemudian, pupuk tersebut dicampurkan dan diratakan dengan tanah. Hal ini dilakukan dengan menggunakan hard-hand rake. Perlakuan ini dilakukan agar pupuk dapat bereaksi dengan tanah. Selain itu, pada saat terjadi hujan, pupuk tersebut tidak hilang akibat aliran permukaan (run-off).
5.4.2.4. Feeding plants
Feeding plants merupakan kegiatan memberikan nutrisi terhadap tanaman sehingga secara fisiologis tanaman terlihat lebih segar dan menarik. Alasan utama dilakukan kegiatan ini ialah pertumbuhan tanaman yang tidak sesuai dengan yang diharapkan berdasarkan pertumbuhan dan ukuran normal tanaman tersebut. Selain itu, kegiatan ini juga dilakukan pada tanaman yang terlihat layu. Adapun nutrisi yang diberikan kepada tanaman ialah komposisi dari zat kimia yang berupa zat besi ( iron) dan pupuk yang dicampur dengan air. Komposisi nutrisi ini terdiri dari 5 sendok teh pupuk yang dikombinasikan dengan 1 sendok teh zat besi. Kemudian, komposisi nutrisi tersebut dicampurkan dengan 5 galon (19 liter) air. Hal ini dilakukan tidak jauh berbeda dengan melakukan penyiraman. Pada saat melakukan kegiatan ini, dibutuhkan filter yang menyaring dan menyampurkan bahan feeding plants (bahan kimia dan air) dan air dengan perband ingan 30% bahan feeding plants dan 70% air.
5.4.2.5. Pengendalian Hama
Untuk kegiatan ini, terutama pengendalian hama pada pohon-pohon, pihak KRT mengontrak perusahaan swasta yang bergerak pada pengendalian hama. Perusaahaan ini melakukan penyemprotan terhadap pohon-pohon secara insidentil berdasarkan laporan dari pihak KRT. Selain itu, kegiatan penyemprotan juga dilakukan pada saat sebelum beberapa acara besar (Plant Sale, Crosby Festival, dan lainnya) dilaksanakan.
Untuk tindakan pengendalian hama pada taman, dilakukan beberapa tindakan, yaitu: pengendalian gulma, pengendalian hama Japanese beetles, dan pengendalian tanaman dari serangan kelinci. Tindakan-tindakan tersebut dijelaskan secara terperinci sebagai berikut.
a. Pengendalian gulma
Kegiatan pengendalian gulma dilakukan khususnya pada gulma yang yang tumbuh di antara paving block. Kegiatan ini dilakukan dengan bahan kimia Round Up dengan komposisi 100 gram air dicampur dengan 1 galon (1,89 liter) air. Pengendalian ini juga harus memperhatikan kecepatan angin sehingga bahan kimia yang disemprotkan tidak mengenai tanaman.
b. Pengendalian hama Japanese Beetles
Kegiatan ini dilakukan secara manual, yaitu dengan mengambil hama Japanese Beetles pada tanaman, kemudian hama tersebut dicelupkan ke dalam bahan kimia. Hama ini biasanya menghinggapi tanaman Hibiscus dan Roses. Pada dasarnya, hama ini menyerang bagian bunga dari tanaman (Gambar 24).
c. Pengendalian tanaman dari serangan kelinci
Pengendalian ini dilakukan khususnya pada taman-taman yang baru dibangun. Hal ini dilakukan agar tanaman-tanaman yang baru ditanam tidak dirusak dan dimakan oleh kelinci. Tindakan ini dilakukan dengan cara menyemprotkan bahan kimia (Gambar 25) yang memiliki aroma bawang putih di setiap tanaman yang baru ditanam. Selain itu, diletakkan juga pagar disekitar flower bed yang akan diserang oleh kelinci (Gambar 26). Biasanya, kelinci sering menyerang tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan, serta tidak terkecuali pada tanaman-tanaman lainnya, seperti: dahlia, mawar, dan lainnya.
Gambar 25. Zat kimia pencegah serangan kelinci
5.4.2.6. Deadheading and Cuttingback
Deadheading merupakan kegiatan pemotongan bunga yang telah mati. Tindakan pemotongan dilakukan batang yang telah memiliki cabang baru, sehingga setelah bunga mati tersebut dipotong, daun baru akan terbentuk dan kembali berbunga. Sedangkan Cuttingback merupakan tindakan pemotongan seluruh tanaman dengan ketinggian 15-20 cm dari atas permukaan tanah. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan agar tanaman dapat menyimpan energi dan mendapat lebih banyak nutrisi, sehingga dapat berbunga kembali pada musim dingin atau musim semi selanjutnya. Tindakan diaplikasikan pada jenis tanaman tertentu, seperti: da ilili dan davidels. Kedua kegiatan ini tentunya dilakukan dengan menggunakan hand-pruner.
5.4.3. Kegiatan Pemeliharaan yang Rutin Dilakukan
Terdapat beberapa tindakan pemeliharaan yang secara rutin dapat dilakukan, di antaranya: weeding, mowing, watering, blowing, dan sweeping.
5.4.3.1. Weeding
Weeding merupakan kegiatan pencabutan gulma-gulma yang mengganggu. Kegiatan ini perlu dilakukan karena pertumbuhan gulma dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Selain itu, pertumbuhan gulma sangat cepat sehingga jumlahnya dapat mendominasi pada flower bed. Tidak hanya, dengan bantuan angin, gulma dapat menyebarkan benih sehingga menjadi gulma baru. Oleh karena itu, kegiatan pencabutan gulma merupakan kegiatan yang rutin dilakukan. Untuk melakukan kegiatan ini, dibutuhkan beberapa peralatan, seperti: weiter, kneeler, dan sarung tangan
5.4.3.2. Mowing
Mowing merupakan kegiatan pemotongan rumput dan bentangan rumput. Setiap bentangan rumput yang terdapat di KRT dilakukan pemotongan rumput seminggu sekali dengan jadwal setiap bentangan rumput yang tidak tetap. Hal ini senada dengan pendapat Emmons (2000) bahwa kegiatan pemotongan rumput (mowing) tidak dapat ditentukan
jadwalnya karena pertumbuhan rumput tergantung pada tiga faktor, yaitu: kondisi lingkungan, tingkat pemeliharaan, dan jenis rumput yang ditanam.
Pada dasarnya, kegiatan ini menggunakan alat dengan spesifikasi tertentu. Hal ini tergantung oleh luas bentangan rumput dan ketinggian rumput yang dibutuhkan. Pihak KRT sendiri memiliki lima jenis alat pemotongan rumput yang berbeda, yaitu: mesin pemotongan rumput manual (hand-machine mower), push mower, scag mower, kubota mower, dan grasshopper mower. Tentunya, semua alat ini memiliki spesifikasi kepentingan yang berbeda. Untuk menggunakan alat-alat tersebut, dibutuhkan beberapa perlengkapan pelindung, seperti: kacamata pelindung (goggle) dan pelindung telinga yang berupa ear plug dan headset.
5.4.3.3. Blowing dan Sweeping
Blowing merupakan kegiatan membersihkan area jalur jalan yang panjang dan luas (paving dan aspal) dengan menggunakan blower, sedangkan sweeping merupakan kegiatan penyapuan area kecil dengan menggunakan sapu. Kegiatan blowing tentunya akan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan dengan menyapu. Pada dasarnya, kedua kegiatan ini saling melengkapi. Hal ini disebabkan karena kegiatan blowing hanya mengumpulkan sampah organik yang berupa daun kering dan ranting kecil menjadi beberapa tumpukan besar. Kemudian tumpukan-tumpukan tersebut disapu dan dimasukkan ke dalam ember dengan menggunakan sekop. Selanjutnya, sampah organik tersebut dikomposkan. Seperti halnya kegiatan mowing, kegiatan blowing juga harus dilengkapai dengan peralatan pelindung yang sama dengan kegiatan mowing, yaitu: kacamata pelindung, headset, dan ear plug.
5.4.3.4. Watering
Watering merupakan kegiatan penyiraman tanaman. Kegiatan ini diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Watering by Irrigation System
Kegiatan penyiraman ini dilakukan oleh sistem irigasi yang terdapat di KRT. Sistem ini tidak mencakup seluruh tanaman di KRT. Terdapat beberapa taman kecil, khususnya yang baru dibangun, tidak dapat dijangkau oleh sistem irigasi. Sistem ini beroperasi mulai pukul 12 malam sampai dengan pukul 8 pagi. Waktu ini ditetapkan sebagai waktu penyiraman karena dianggap sepi dan tidak mengganggu aktivitas pengunjung yang biasanya mulai mengunjungi KRT pukul 9 pagi. Setiap sprinkler akan menyemprotkan air selama 20 menit. Sistem ini merotasi jadwal penyiraman setiap sprinkler sehingga setiap tempat/taman di KRT memiliki jadwal penyiraman yang berbeda. Secara normal, sistem ini akan berjalan setiap hari. Akan tetapi, pada saat Kota Toledo mendapat curah hujan yang tinggi, sistem ini akan berjalan 2-4 kali dalam seminggu. Hal ini tergantung dari tingkat curah hujan yang diprediksi.
2. Watering by Manual/Hand (Using Watering Can)
Kegiatan penyiraman ini dilakukan pada taman-taman dan pot-pot yang tidak dapat dijangkau oleh sistem irigasi. Untuk penyiraman pot dilakukan dengan menggunakan gembor (watering can). Terdapat tiga kelompok pot berdasarkan ukurannya, yaitu: kecil (5 kg tanah), sedang (10 kg tanah), dan besar (20 kg tanah), yang masing- masing pot tersebut disiram dengan kuantitas air yang berbeda, yaitu: 2 liter air, 4 liter air, dan 8 liter air. Untuk taman-taman kecil, kegiatan penyiraman yang dilakukan dengan menggunakan pipa (hose) yang disambungkan dengan sprinkler. Untuk sumber airnya, terdapat dua sumber air yang dapat digunakan. Pertama ialah dengan menyambungkan pipa dengan keran terdekat. Kedua ialah dengan memanfaatkan keberadaan air tanah. Hal ini dilakukan dengan cara mengkoneksikan pipa dengan quickcopler yang dapat menyerap air tanah. Kegiatan ini tentunya dilakukan hampir setiap hari, khususnya selama musim panas. Akan tetapi, sebelum melakukan penyiraman,
terlebih dahulu dilakukan pengecekan tingkat kelembapan tanah untuk memutuskan apakah taman/tanah ini perlu penyiraman atau tidak.
3. Watering by Tree Alligator Bag
Kegiatan penyiraman ini dilakukan terhadap pohon-pohon yang baru ditanam dan juga tidak dapat dijangkau oleh sistem irigasi. Tree alligator bag sendiri merupakan alat penyiraman yang bekerja secara otomatis. Alat ini digunakan dengan cara mengisi air (maksimal 32 liter), kemudian diletakkan melingkari batang pohon. Selanjutnya, air akan menetes secara perlahan ke tanah. Untuk jumlah air 32 liter dibutuhkan waktu 4 jam untuk meneteskan seluruh air tersebut ke dalam tanah (Gambar 27).
Gambar 27. Tree alligator bag pada lingkar pohon .
5.4.3.5. Composting
Composting merupakan kegiatan pengomposan area taman. Hal ini dilakukan untuk memberikan nutrisi kepada tanaman. Selain itu, hal ini juga dapat berfungsi untuk meningkatkan kualitas nilai lanskap taman. Sebelum melakukan composting, terlebih dahulu dilakukan kegiatan weeding untuk membersihkan taman dari pertumbuhan gulma. Selanjutnya, dilakukan edging agar taman tersebut memiliki bentuk dan pola yang jelas. Kegiatan pengomposan ini sendiri dilakukan dengan cara menyebarkan secara merata kompos pada permukaan tanah dengan ketebalan rata-rata 2-3 cm. Hal ini dilakukan dengan menggunakan sekop kemudian diratakan dengan menggunakan tangan.
Semua kegiatan pemeliharaan di atas memiliki sampah organik (limbah) yang dihasilkan dari kegiatan pemeliharaan. Sampah-sampah organik tersebut dapat berupa gulma, potongan daun hasil pemangkasan, potongan cabang, daun kering, dan sebagainya. Semua sampah tersebut dikumpulkan pada area kompos. Area kompos sendiri terletak di sebelah Baratdaya dari KRT. Area ini terbagi dalam dua bagian, yaitu: bagian sampah hijau (gulma, potongan rumput, dan daun kering) dan sampah berkayu (cabang atau ranting pohon) (Gambar 28). Untuk sampah hijau dikomposkan untuk menjadi kompos yang dibutuhkan untuk menyuburkan tanah, sedangkan untuk sampah berkayu dikomposkan untuk menghasilkan mulsa dengan menggunakan mesin VERMEER.
Gambar 28. Area kompos: Area kompos berkayu (kiri) dan Area kompos hijau (kanan)
5.5. Pembangunan Taman
Di dalam mengelola sebuah lanskap, tentunya dibutuhkan suatu ide yang membuat lanskap tersebut tidak monoton. Oleh karena itu, dibutuhkan hal- hal yang baru dalam suatu lanskap. Hal ini bisa ditempuh dengan cara pembangunan taman-taman baru atau meredesain taman yang telah ada.
Di KRT sendiri, terdapat beberapa pembangunan taman (kecil) baru yang dilakukan untuk menciptakan suasana baru. Selain itu, hal ini juga dapat menarik minat pengunjung yang sangat antusias, khususnya terhadap perubahan suatu taman. Selama periode April sampai Oktober 2009, pihak KRT membangun beberapa taman kecil baru, di antaranya: Dahlia Bed, Circle Bed, Embroedery Bed, dan Netherland Bed (Gambar 29). Keempat taman tersebut tentunya mempunyai daya tarik tersendiri. Semua taman tersebut dibangun dengan menempuh serangkaian proses yang sama. Skema proses konstruksi atau pembangunan taman dapat dilihat pada Gambar 30.
Gambar 29. Taman-taman baru di KRT periode April 2009-Oktober 2009: Embroedery Bed (kiri atas), Dahlia Bed (kanan atas), Netherland Bed (kiri bawah), dan Circle Bed (kanan bawah)
Gambar 30. Proses Pembangunan Taman
Gambar 30 menunjukkan bahwa kegiatan pembangunan taman diawali oleh pencabutan gulma yang dilanjutkan oleh pembuatan batasan taman (edging). Setelah itu, dilakukan pembajakan dengan menggunakan mesin pembajak (tiller). Untuk taman kecil, kegiatan pembajakan dapat dilakukan secara manual. Pembajakan sendiri dilakukan untuk menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah sehingga tanah menjadi gembur. Pada tahap selanjutnya dilakukan penyebaran
Pencabutan gulma Membuat batasan taman (edging)
Pembajakan (tilling) Menyebarkan
kompos
Mencampurkan dan meratakan kompos dengan tanah
Membajak tanah dan kompos yang telah dicampur
Menginstalasi saluran irigasi
Taman telah siap untuk ditanami
kompos secara merata dengan ketebalan 2-3 cm yang dilakukan dengan menggunakan hard-rake. Penambahan unsur kompos ini dilakukan untuk meningkatkan kesuburan tanah sehingga tanaman mendapat nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan. Kemudian, tanah dan kompos tersebut dibajak kembali agar kedua unsur tersebut saling menyatu. Setelah itu, area tersebut dilengkapi dengan saluran irigasi, baik berupa sprinkler maupun berupa pipa air yang menetes. Pada akhirnya, taman tersebut pun siap untuk ditanami (Gambar 31).
Gambar 31. Proses pembangunan taman: Tanah yang telah dibajak (kiri), Tanah dan kompos yang telah dibajak serta diratakan (tengah), dan Taman yang telah ditanami (kanan).
5.6. Acara-acara yang Diselenggarakan oleh KRT
Kebun Raya Toledo sebagai area publik merupakan suatu tempat yang ramai dikunjungi. Hal ini didukung dengan tidak dibutuhkannya biaya untuk mengunjungi KRT atau gratis (free admission). Hal ini terdengar sangat sulit dipercaya mengingat KRT membutuhkan biaya untuk melangsungkan kegiatan pemeliharaan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihak KRT bersama Dewan Pengurus KRT menyusun beberapa rencana yang bertujuan untuk mendapatkan dana, sehingga seluruh kegiatan internal di KRT, baik kegiatan pemeliharaan maupun kegiatan administrasi, akan tetap berjalan. Rencana-rencana tersebut berupa penyelenggaraan acara-acara tertentu (Lampiran 11) dan penyewaan fasilitas KRT untuk masyarakat umum. Berikut dijelaskan jenis-jenis acara yang diselenggarakan oleh KRT dan jenis kegiatan penyewaan fasilitas KRT.
5.6.1. Spring Plant Sale
Spring Plant Sale merupakan suatu acara yang diselenggarakan oleh pihak KRT untuk menjual tanaman-tanaman yang dimiliki. Selain itu, tanaman-tanaman yang dijual juga didatangkan dari perusahaan-perusahaan yang lainnya yang bergerak di bidang pembibitan dan tanaman hias. Acara ini diselenggarakan pada
pertengahan musim semi, selama tiga hari berturut-turut yang dimulai pada hari Kamis 7 Mei 2009 hingga Minggu 10 Mei 2009. Khusus pada hari Kamis, acara ini hanya dibuka untuk para pengunjung yang merupakan Anggota Dewan Pengurus KRT (TBG members) yang dimulai sejak pukul 16.00-20.00. Untuk hari- hari selanjutnya, acara ini dimulai sejak pukul 10.00-17.00.
Acara ini sendiri tetap dibuka untuk publik dengan tujuan agar acara ini banyak dikunjungi sehingga tanaman-tanamannya pun terjual. Pada dasarnya, acara ini bertujuan secara khusus untuk mendapatkan dana pemeliharaan rumah kaca yang dimiliki oleh KRT agar tetap beroperasi. Keberadaan rumah kaca sendiri dinilai sangat penting bagi pihak KRT karena dengan adanya rumah kaca, pihak KRT bisa membibitkan dan memperbanyak tanaman yang telah dimiliki, sehingga kegiatan pergantian tanaman pun dapat terus dilakukan.
Tanaman-tanaman yang dijual pada acara ini ialah hosta, rumput ornamental, groundcover, annual, perennial, flower arrangement, dan dailili. Semua tanaman tersebut merupakan hasil pembibitan dan perbanyakan rumah kaca di KRT. Selain itu, acara ini juga menjual pohon yang masih di dalam pot, bibit dan benih, dan hanging basket, yang seluruh tanaman tersebut didatangkan dari perusahaan-perusahaan yang berbeda. Acara ini sendiri diselenggarakan di area festival lawn yang terletak di sebelah Selatan dari tempat parkir utama sehingga mudah diakses oleh para pengunjung.
5.6.2. Crosby Festival of The Arts
Crosby Festival of The Arts merupakan suatu pertunjukan berbagai karya seni berbeda yang dihasilkan oleh para seniman. Acara ini merupakan acara terbesar dan terpenting yang diselenggarakan oleh KRT. Hal ini disebabkan karena dana pemasukan yang dihasilkan dari acara ini mencakup 70% dana total yang dibutuhkan pihak KRT per tahun. Oleh karena itu, acara ini direncanakan dan dipersiapkan dengan sangat matang. Acara Crosby Festival of The Arts ini sendiri merupakan acara ke-44 di tahun 2009, sehingga acara ini telah menjadi maskot dari seluruh acara yang diselenggarakan oleh pihak KRT. Acara ini j uga diselenggarakan di seluruh festival lawn yang tersedia di KRT.