Disampaikan Pada:
Musyawarah Perencanaan Pembangunan Provinsi Tahun 2015 Provinsi Kalimantan Tengah
KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH DAN
TRANSFER KE DAERAH SERTA DANA DESA
OUTLINE
Hubungan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Daerah
Hubungan Keuangan Antara Pusat dan Daerah
Profil Keuangan, Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat
Perkembangan Kebijakan Dana Transfer Ke Daerah dan Dana Desa
Arah Kebijakan Transfer Ke daerah ke Depan
HUBUNGAN PERENCANAAN
DASAR HUKUM PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN
Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional;
Undang-undang Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional;
Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah;
Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan
Daerah;
POKOK-POKOK PENGATURAN PENYUSUNAN RENCANA
PEMBANGUNAN
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu
kesatuan
tata cara
perencanaan
pembangunan
untuk
menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka
panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan
oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat
Pusat dan Daerah.
Sistem perencanaan pembangunan nasional bertujuan untuk
menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan.
Perencanaan pembangunan daerah harus mengacu kepada
rencana pembangunan nasional.
RPJM Daerah RPJP Daerah RKP RPJM Nasional RPJP Nasional Renstra KL Renja -KL Renstra SKPD Renja -SKPD RAPBN RAPBD RKA-KL RKA -SKPD APBN Keppres Rincian APBN APBD Kep KDH tentang Rincian APBD Diacu Pedoma n Dijabarkan Pedoman Pedoman Pedoman Pedoman Pedoman Diperhatikan Dijabarkan Pedoman Pedoman Pedoman Pedoman Diacu Diacu
Diselaraskan melalui Musrenbang
Pe m e rinta h Pus a t Pe m e rinta h Da e rah RKP Daerah Musren-bangda Musren-bangnas KUA
HUBUNGAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL DAN
DAERAH DAN PENGANGGARAN NASIONAL DAN DAERAH
M1. Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim, dan mencerminkan
kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan. M2. Mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan
dan demokratis berlandaskan Negara Hukum. M3. Mewujudkan politik luar negeri bebas aktif dan
memperkuat jati diri sebagai negara maritim M4. Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia
yang tinggi, maju dan sejahtera
M5. Mewujudkan Indonesia yang berdaya saing M6. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim
yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional
M7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan
RPJMN 2015-2019
C
C1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara
C2. Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya
C3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan
C4. Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi,
bermartabat dan terpercaya
C5. Meningkatkan kualitas hidup manusia indonesia
C6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional
C7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik
C8. Melakukan revolusi karakter bangsa
C9. Memperteguh ke-bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial indonesia
1. Membangun dari pinggir dimaksudkan bahwa pembangunan
dimulai dari daerah, utamanya daerah perbatasan;
Relevansi Kebijakan HKPD Dengan
Program Kabinet Kerja Jokowi (Nawacita Jokowi-JK)
2. Meningkatkan “kesempatan” bagi daerah untuk
menumbuhkembangkan inovasi dan potensi lokal, sesuai
dengan culture dan kebutuhan riil masyarakatnya;
3. Inovasi dan diskresi yang diberikan kepada Daerah harus
didukung dengan pendanaan dari Pusat dan kewenangan
daerah untuk mengelolanya.
Sinergi Kebijakan Fiskal Nasional dan Daerah
Kebijakan Moneter Kebijakan Neraca Pembayaran Kebijakan Sektor Riil Kebijakan Fiskal• Kebijakan fiskal daerah harus sejalan dan
mendukung dengan
keempat kebijakan makro nasional.
• Seluruh kebijakan makro, terutama Kebijakan Fiskal mempengaruhi Kebijakan Transfer ke Daerah
HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN
DAERAH
• Hubungan keuangan pusat dan daerah timbul sebagai
konsekuensi dari adanya hubungan fungsi/urusan.
• Fungsi/Urusan dibagi antara pemerintah pusat dan
daerah (6 urusan absolut yang menjadi kewenangan
pemerintah pusat dan sebagian besar menjadi urusan
daerah dan sebagian lainnya menjadi urusan konkuren),
namun tanggungjawab akhir tetap pada pemerintah
pusat – UU No.23/2014 tentang Pemerintahan Daerah.
• Penyelenggaraan urusan pemerintahan di daerah oleh
pemerintah daerah dilakukan dengan asas
desentralisasi (urusan yang menjadi tanggungjawab
daerah) dan tugas pembantuan (pelaksanaan urusan
yang menjadi tanggung jawab pusat)
KONSEPSI HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH DI INDONESIA
MENGIKUTI PRINSIP MONEY FOLLOWS FUNCTION
• Pemberian kewenangan perpajakan kepada
daerah (local taxing power) dan kewenangan
dalam melakukan pinjaman;
• Kebijakan transfer (revenue assignment);
• Keleluasaan untuk Belanja (expenditure
assignment).
UU No.5 Tahun 1974 UU Darurat No.11 &12
Tahun 1957 UU No.18 Tahun 1997 UU No.34 Tahun 2000 UU No.28 Tahun 2009
• Pajak (40 Jenis) dan Retribusi (150 Jenis) • Pelimpahan Pajak Pusat PKB/BBNKB • Open list • Pengendalian oleh pusat/provinsi
• Krisis Ekonomi tidak banyak berdampak terhadap
peningkatan PAD • Membatasi Jenis
Pajak dan Retribusi • Closed list
• Pajak baru yang potensial PBBKB • Open list • Pengendalian pungutan daerah yang bermasalah sulit dilakukan • Closed list • Ada Pajak baru
yaitu, PBB-P2, BPHTB, dan Pajak Rokok
PROFIL KEUANGAN, EKONOMI DAN
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
STRUKTUR APBD PROVINSI/KAB/KOTA SE-INDONESIA DAN SE-PROV. KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2010 - 2015
• Dalam kurun waktu tahun
2010-2015, terjadi kenaikan
pendapatan dan belanja daerah. • Dalam kurun waktu tahun
2010-2013 terdapat surplus anggaran daerah (realisasi APBD), defisit anggaran terjadi dalam APBD secara Nasional tahun 2014-2015.
STRUKTUR PENDAPATAN PROVINSI/KAB/KOTA INDONESIA DAN
SE-KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2010 - 2015
Struktur pendapatan daerah secara nasional masih didominasi oleh dana perimbangan (transfer ke daerah).
Secara nasional, rata-rata proporsi dana perimbangan terhadap total pendapatan mencapai 61,8%, sedangkan rata-rata proporsi pada daerah se-Prov. Kalteng mencapai 77,8%. Secara nasional, rata-rata
proporsi PAD terhadap total pendapatan mencapai 21,3%, sedangkan rata-rata proporsi pada daerah se-Prov. Kalteng mencapai 11,5%.
PERANANAN PAD TERHADAP PENDAPATAN DAERAH PROVINSI/KAB/KOTA
SE-INDONESIA TAHUN 2010 – 2015
Secara Nasional, peranan PAD dalam
pendapatan daerah relatif masih
rendah meskipun terus meningkat, dari 18,1% tahun 2010 menjadi 25% pada tahun 2015.
Peranan PAD terhadap pendapatan
daerah juga meningkat di
provinsi/kab/kota se-Kalimantan
Tengah, dari 8,9% pada tahun 2010 menjadi 12,2% pada tahun 2015.
Hal ini diantaranya disebabkan adanya
kebijakan penguatan Local Taxing
Power, pendaerahan PBB dan BPHTB serta pengenaan pajak rokok).
Implikasinya inefisiensi dan kurang
akuntabelnya daerah dalam
TAX RATIO DAN ELASTISITAS PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH
Nasional Provinsi Kab Kota Nasional Provinsi Kab Kota Nasional Provinsi Kab Kota Tax Ratio (%) 1,45 1,07 0,39 0,70 1,56 1,12 0,43 0,79 1,66 1,17 0,50 0,87 Tax Elasticity 2,52 2,11 2,96 5,57 1,69 1,51 2,28 2,11 1,63 1,39 2,56 1,76
Elastis Elastis Elastis Elastis Elastis Elastis Elastis Elastis Elastis Elastis Elastis Elastis
2011 2012 2013
Secara Nasional, rasio penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap PDRB (tax ratio) masih sangat rendah meskipun terus mengalami peningkatan selama periode 2011 – 2013 dari sebesar 1,45% pada tahun 2011 menjadi 1,66% pada tahun 2013.
Adapun tingkat elastisitas PDRD terhadap PDRB secara Nasional dapat dikatakan cukup baik meskipun hanya sebesar 1,63 pada tahun 2013. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemungutan PDRD relatif lebih baik.
Se-Prov Kalteng
Prov Kab Kota Se-Prov Kalteng
Prov Kab Kota Se-Prov Kalteng
Prov Kab Kota
Tax Ratio 1,84 1,45 0,39 0,77 1,92 1,51 0,41 0,94 1,94 1,54 0,38 0,99 Tax Elasticity 3,52 4,03 1,85 2,98 1,35 1,31 1,29 2,80 1,09 1,19 0,53 1,40
PERANAN DANA PERIMBANGAN TERHADAP PENDAPATAN DAERAH YANG
SEMAKIN MENURUN
Secara Nasional, peranan dana
perimbangan terhadap
pendapatan daerah terus
mengalami penurunan dari
68,3% tahun 2010 menjadi
55,3% pada tahun 2015.
Peranan dana perimbangan
terhadap pendapatan daerah di
provinsi/kab/kota juga
mengalami penurunan dari
82,2% pada tahun 2010 menjadi 73,8% pada tahun 2015.
STRUKTUR BELANJA PROVINSI/KAB/KOTA SE-INDONESIA TAHUN 2010 - 2015
Belanja pegawai masih
mendominasi struktur
belanja di daerah.
Secara nasional, rata-rata
proporsi belanja pegawai
terhadap total belanja
adalah sebesar 41,4%,
sedangkan belanja modal
sebesar 22,6%.
Sedangkan rata-rata proporsi
belanja pegawai di
provinsi/kab/kota se-Kalteng sebesar 38,5%, sedangkan
belanja modal sebesar
BELANJA PEGAWAI PROVINSI/KAB/KOTA SE-INDONESIA DAN SE-KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2010 - 2015
Secara Nasional, terdapat
penurunan porsi belanja pegawai terhadap total belanja daerah dari semula sebesar 45,7% pada tahun 2010 menjadi 38% pada tahun 2015.
Daerah-daerah di provinsi/kab/ kota se-Kalimantan Tengah juga
mengalami penurunan porsi
belanja pegawai terhadap total belanjanya, dari semula sebesar 40,3% pada tahun 2010 menjadi 36,7% pada tahun 2015.
BELANJA MODAL PROVINSI/KAB/KOTA SE-INDONESIA DAN SE-KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2010 - 2015
Secara Nasional, terdapat
peningkatan porsi belanja modal terhadap total belanja daerah dari semula sebesar 21,4% pada tahun 2010 menjadi 24,5% pada tahun 2015.
Daerah-daerah di provinsi/kab/ kota se-Kalimantan Tengah juga
mengalami penurunan porsi
belanja modal terhadap total belanjanya, dari semula sebesar 31,6% pada tahun 2010 menjadi 27,6% pada tahun 2015.
PENERIMAAN PEMBIAYAAN PROVINSI/KAB/KOTA SE-INDONESIA DAN
KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2010 - 2015
Secara nasional, jumlah
SiLPA secara meningkat
semula sebesar Rp52,1
triliun pada tahun 2010
menjadi Rp77,2 triliun pada tahun 2015.
Jumlah SiLPA di
provinsi/kab/kota
se-Kalimantan Tengah juga
meningkat dari Rp. 0,9 triliun pada tahun 2010 menjadi Rp 1,4 triliun pada tahun 2015. Hal ini menunjukkan tingkat
penyerapan anggaran yang relatif rendah.
LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI
• Laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah terus mengalami peningkatan selama periode 2010 – 2013, semula 6,50% menjadi 7,37%. Selama periode tersebut, laju pertumbuhan selalu berada di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional.
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
Indeks Pembangunan Manusia terus mengalami peningkatan selama periode 2009 - 2013. Dari semula 71,76% pada tahun 2009 menjadi 73,81% pada tahun 2013.
PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di
Kalimantan Tengah menurun dari semula 4,14% pada tahun 2010 menjadi 3,09% pada tahun 2013.
Persentase penduduk miskin di Kalimantan Tengah terus mengalami penurunan selama periode 2010 - 2013. Dari semula 6,77% pada tahun 2009 menjadi 6,07% pada tahun 2013.
Jenis Belanja Daerah
(dalam miliar rupiah) 2011 2012 2013 2014 2015
Belanja Pegawai 3.955,2 4.451,6 4.940,9 5.736,5 6.584,9
Belanja Barang dan Jasa 1.796,5 2.041,5 2.346,2 3.725,4 3.986,2
Belanja Modal 2.812,1 3.287,2 4.368,4 4.355,7 4.644,9
Belanja Lain-Lain 879,8 1.538,7 1.958,7 1.846,6 2.358,3
Total 9.443,6 11.319,0 13.614,2 15.664,2 17.574,3
Proporsi terbesar belanja
daerah adalah belanja pegawai, dengan proporsi
diatas 36% namun kecenderungannya menurun.
Proporsi belanja modal
relatif cukup besar,
dimana berada pada tingkat kedua terbesar pada
struktur belanja, meskipun proporsinya mengalami penurunan pada tahun 2014 dan 2015.
• APBD seharusnya ditetapkan paling lambat 31 Desember sebelum TA berjalan;
• Per tanggal 24 Maret2015 terdapat 528 daerah telah
menyampaikan APBD-nya kepada Kemenkeu. Dari 482 daerah
tersebut, yang menetapkan
APBD-nya tepat waktu (sebelum
31 Desember) sebanyak 458
daerah (87%) naik dari tahun 2014 yg mencapai 354 daerah (67%). 25 50 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 325 350 375 400 425 450 475 2011 2012 2013 2014 2015 211 274 327 354 458 176 139 116 92 58 62 60 43 47 10
GRAFIK PENETAPAN APBD TA 2011-2015 PROV., KAB., DAN KOTA DI INDONESIA
per Tanggal 24 Maret 2015
Des Thn Sblm Jan Peb Mar 75 100 125 150 175 200 225 56 75 55 72 181 211 274 270 355 156 161 87 91 67
GRAFIK PENYAMPAIAN APBD TA 2011-2015 PROV., KAB., DAN KOTA DI INDONESIA
per Tanggal 24 Maret 2015
Des Thn Sblm Januari Februari Maret
• Hingga bulan Januari 2015, terdapat 12 daerah di Provinsi Kalimantan Tengah telah menyampaikan APBDnya dan terdapat 3 daerah menyampaikan pada bulan Februari 2015. Sementara itu terdapat 13 daerah telah menetapkan APBD tepat waktu dan 2 daerah yang menetapkan pada Januari 2015.
Perhitungan estimasi penyerapan belanja Agregat Provinsi/Kab/Kota Kalimantan Tengah didasarkan pada data-data sekunder untuk dapat membuat proxy penyerapan belanja daerah secara bulanan per provinsi. Pendekatan ini merupakan proxy dengan menggunakan data dana pemerintah daerah di perbankan per bulan dari Bank Indonesia, data realisasi transfer per bulan dan proxy realisasi PAD.
Realisasi penyerapan belanja secara persentase menunjukkan perbandingan antara besaran realisasi penyerapan dengan anggaran belanja (konsolidasi).
Realisasi belanja daerah s.d. Desember Tahun 2014 Agregat Provinsi/Kab/Kota Kalimantan Tengah diperkirakan
• SiLPA cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan bahkan diperkirakan hampir mencapai dua kali lipat, SiLPA dari tahun 2009-2013 sebesar Rp52,2 triliun menjadi Rp100,58 triliun.
• SiLPA se-Provinsi Kalimantan Tengah juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun, SiLPA dari tahun 2009-2013 sebesar Rp987,9 milyar menjadi Rp2,6 triliun.
• Semakin besar SiLPA tahun berkenaan memberikan indikasi perencanaan anggaran dan pelaksanaan yang kurang baik yang pada gilirannya berdampak terhadap kurang optimalnya pelayanan kepada masyarakat.
• SiLPA tahun berkenaan masing-masing Pemerintah Daerah di Kalimantan Tengah mempunyai pergerakan yang meningkat dan cukup beragam. Besaran SiLPA tahun 2013 rata-rata mencapai dua sampai tiga kali lipat SiLPA tahun 2009 pada masing-masing Pemerintah Daerah yang terdapat di Provinsi Kalimantan Tengah.
Dana simpanan daerah terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Dana dalam bentuk simpanan berjangka
mengalami kenaikan secara signifikan.
Besarnya simpanan daerah menunjukkan perencanaan belanja yang kurang baik atau adanya kecenderungan daerah melakukan investasi jangka pendek dalam bentuk simpanan berjangka.
Masih banyak daerah yang mendapatkan opini disclaimer dan tidak wajar atas LKPD mereka.
Untuk LKPD tahun 2013, dari 456 daerah yang telah diaudit oleh BPK, 98 daerah mendapatkan opini WTP, 56 daerah mendapatkan opini WTP Dengan
Akuntabilitas Provinsi Kalimantan Tengah masih kurang. Hal ini dibuktikan dengan hasil opini BPK dimana pada 4 tahun berturut-turut dari tahun 2010 hingga tahun 2013 Pemerintah Daerah di Provinsi Kalimantan Tengah didominasi opini WDP, TW, dan TMP. Namun kecenderungan saat ini tingkat akuntabilitas di Provinsi Kalimantan Tengah dengan ditandai bertambahnya daerah yang
PERKEMBANGAN KEBIJAKAN TRANSFER KE DAERAH
DAN DANA DESA
1. Meningkatkan kapasitas fiskal daerah dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah;
2. Mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara Pusat dan
Daerah dan mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antardaerah;
3. Meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan publik di daerah dan
mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah;
4. Memprioritaskan penyediaan pelayanan dasar di daerah tertinggal, terluar,
terpencil, terdepan, dan pasca bencana;
5. Mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur
dasar;
6. Mendorong peningkatan kualitas pengelolaan keuangan daerah yang lebih
efisien, efektif, transparan, dan akuntabel;
7. Meningkatkan kualitas pengalokasian Transfer ke Daerah dengan tetap
memperhatikan akuntabilitas dan transparansi;
8. Meningkatkan kualitas pemantauan dan evaluasi Dana Transfer ke Daerah.
Kebijakan Umum Transfer ke Daerah
Dana Perimbangan
Dana Otsus & Penyesuaian
Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Dana Otsus PAPUA Dana Otsus ACEH Dana Infras Otsus Papua
Tamb Penghasilan Guru Dana Otsus Dana Penyesuaian DBH PBB DBH PPh Kehutanan Pertum Perikanan Migas DBH CHT DBH Pajak DBH SDA
Dana Otsus PAPUA BRT
Panas Bumi
Dana Insentif Daerah
TRANSFER KE DAERAH
Tunjangan Profesi Guru Bantuan Op Sekolah Dana Infras Otsus PaBarat
Dana P2D2
Dana Keistimewaan DIY
Dana Transfer
ke Daerah
Dana Desa
Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Dana Otsus PAPUA
Dana Otsus ACEH
Tamb Penghasilan Guru Dana Otsus
Dana Transfer Lainnya
Dana Otsus PAPUA BRT
Dana Insentif Daerah
DANA TRANSFER KE DAERAH DAN
DESA
Tunjangan Profesi Guru Bantuan Op Sekolah Dana P2D2 Dana Keistimewaan DI Yogyakarta Dana Perimbangan
Postur Transfer ke Daerah TA 2014 Postur Transfer ke Daerah dan Dana Desa TA 2015
Dana Inf. Otsus Papua Dana Inf. Otsus PaBarat
DBH PBB DBH PPh Kehutanan Pertum Perikanan Migas DBH CHT DBH Pajak DBH SDA Panas Bumi
POSTUR
2014 2015 PERUBAHAN
APBNP APBN APBN-P* APBNP 2015 – APBN 2015 Nominal % 1. Transfer ke Daerah 596.504 637.975,1 643.834,5 5.859,40 0,9%
1.1. Dana Perimbangan 491.882 516.401,0 521.760,5 5.359,50 1,0% 1.1.1. Dana Bagi Hasil (DBH) 117.663 127.692,5 110.052,0 -17.640,50 -13,8% 1.1.1.1. DBH Pajak 46.116 50.568,7 54.216,6 3.647,90 7,2% 1.1.1.2. DBH Sumber Daya Alam 71.547 77.123,8 55.835,4 -21.288,40 -27,6% 1.1.2. Dana Alokasi Umum 341.219 352.887,8 352.887,8 0,00 0,0% 1.1.3. Dana Alokasi Khusus 33.000 35.820,7 58.820,7 23.000,00 64,2% 1.2. Dana Otonomi Khusus 16.148 16.615,5 17.115,5 500,00 3,0% 1.3. Dana Keistimewaan D.I. Yogyakarta 523 547,5 547,5 0,00 0,0% 1.4. Dana Transfer Lainnya 87.948 104.411,1 104.411,1 0,00 0,0%
2. Dana Desa - 9.066,2 20.766,2 11.700,00 129,1%
1. Menetapkan perkiraan alokasi DBH secara tepat waktu sesuai
dengan rencana penerimaan berdasarkan potensi daerah
penghasil sebagai dasar penyaluran.
2. Menyalurkan alokasi DBH berdasarkan rencana penerimaan
untuk menjamin kepastian jumlah dan waktu.
3. Menyempurnakan sistem penganggaran dan pelaksanaan atas
PNBP yang dibagihasilkan ke daerah.
4. Melakukan perhitungan kurang bayar/lebih bayar DBH dengan
memperhitungkan penyaluran tersebut berdasarkan realisasi
penerimaan.
5. Mempercepat penyelesaian penghitungan PNBP SDA yang
belum dibagihasilkan.
KEBIJAKAN DAU 2015
1. Menerapkan formula DAU secara konsisten dengan penerapan prinsip Non
Hold Harmless, melalui pembobotan dalam Formula DAU yaitu pada:
o
Alokasi Dasar;
o
Komponen Kebutuhan Fiskal;
o
Komponen Kapasitas Fiskal.
2. Meningkatkan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah (sebagai
equalization grant) yang ditunjukkan oleh Indeks Williamson yang paling
optimal, melalui pembatasan porsi alokasi dasar dan mengevaluasi bobot
variabel kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal, dengan arah mengurangi
ketimpangan fiskal antar daerah, serta memperhatikan jumlah daerah yang
mengalami penurunan DAU dan total penurunannya relatif kecil.
3. Menetapkan besaran DAU yang bersifat final (tidak mengalami perubahan),
dalam hal terjadi perubahan APBN yang menyebabkan PDN Neto
Bobot Penghitungan Kapasitas Fiskal Dinaikkan Untuk Mengalokasikan DAU yang Lebih Besar Bagi Daerah yang Kapasitasnya Rendah
BOBOT VARIABEL
2014
2015
PROVINSI
KAB/KOTA
PROVINSI
KAB/KOTA
ALOKASI DASAR
40%
49%
40%
49%
CELAH FISKAL
60%
51%
60%
51%
VARIABEL KEBUTUHAN FISKAL
- INDEKS JUMLAH PENDUDUK
30%
30%
30%
30%
- INDEKS LUAS WILAYAH
14%
13%
14%
13%
(LUAS LAUT)
35%
40%
35%
40%
- INDEKS IKK
27%
28%
27%
28%
- INDEKS IPM
15%
15%
17%
17%
- INDEKS PDRB /cap
14%
14%
12%
12%
VARIABEL KAPASITAS FISKAL
- PAD
58%
60%
70%
65%
- DBH PAJAK
55%
57%
100%
80%
KEBIJAKAN DAK DALAM APBN 2015
1. Mendukung pencapaian prioritas nasional dalam RKP, serta melakukan restrukturisasi bidang DAK sehingga lebih fokus dan berdampak signifikan;
2. Membantu daerah-daerah yang memiliki kemampuan keuangan relatif rendah dalam membiayai pelayanan publik untuk mendorong pencapaian standar pelayanan minimal (SPM), melalui penyediaan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat;
3. Memprioritaskan daerah tertinggal, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah pesisir dan kepulauan sebagai kriteria khusus dalam pengalokasian DAK;
4. Melanjutkan kebijakan affirmatif DAK yang diprioritaskan pada bidang infrastruktur dasar untuk daerah tertinggal dan perbatasan yang memiliki kemampuan keuangan relatif rendah.
5. Perubahan jumlah bidang DAK dari 19 bidang pada APBN 2014 menjadi 14 bidang pada APBN 2015
6. Perubahan kriteria kewilayahan dari 6 kriteria (ketahanan pangan, rawan bencana, pariwisata, daerah tertinggal, perbatasan, dan pesisir
Kebijakan Afirmasi DAK dalam APBN 2015
Affirmative policy kepada 196 daerah tertinggal dan/atau daerah perbatasan yang
berkemampuan keuangan relatif rendah, melalui:
1. Pemberian alokasi DAK Tambahan bagi daerah tertinggal dan perbatasan yang berkemampuan keuangan relatif rendah, yang diperuntukan bagi DAK Bidang Infrastruktur Dasar, yaitu:
Infrastruktur Transportasi (sub bidang jalan dan sub bidang transportasi perdesaan);
Infrastruktur Sanitasi dan Air Minum; dan Infrastruktur Irigasi.
2. Dana Pendamping untuk DAK Tambahan diatur berdasarkan kemampuan keuangan daerah, yaitu:
Kemampuan Keuangan Daerah Rendah Sekali, diwajibkan menyediakan dana pendamping paling sedikit 0% (nol persen);
Kemampuan Keuangan Daerah Rendah, diwajibkan menyediakan dana pendamping paling sedikit 1% (satu persen); dan
Kemampuan Keuangan Daerah Sedang, diwajibkan menyediakan dana pendamping paling sedikit 2% (dua persen).
KEBIJAKAN DAK DALAM APBN-P 2015
Dalam rangka mendukung pendanaan atas berbagai urusan pemerintahan dan
penyelenggaran layanan publik yang telah diserahkan kepada daerah, maka salah satu mekanisme pendanaan yang tepat untuk mendukung program prioritas nasional adalah melalui DAK.
Untuk itu dalam APBN-P 2015, dialokasikan DAK Tambahan:
Untuk mengakomodasi berbagai program/kegiatan yang mendukung prioritas Kabinet
Kerja (Kedaulatan Pangan, Revitalisasi Pasar Tradisional, Peningkatan Layanan Kesehatan, dan Peningkatan Konektivitas antar Wilayah), dialokasikan DAK Tambahan Pendukung Program Prioritas Kabinet Kerja (P3K2) pada TA 2015;
Untuk mengakomodasi berbagai usulan daerah yang disampaikan melalui DPR-RI dan
disetujui oleh DPR-RI.
DAK Tambahan dialokasikan pada bidang:
1) Bidang Infrastruktur Irigasi 2) Bidang Pertanian
3) Bidang Sarana Perdagangan 4) Bidang Kesehatan, dan
Dana Tambahan Infrastruktur:
dalam 25 tahun seluruh kota-kota provinsi,
kabupaten/kota, distrik atau pusat-pusat penduduk lainnya terhubungkan dengan transportasi darat, laut,
atau udara yang berkualitas
ditetapkan antara Pemerintah dan DPR berdasarkan usulan Provinsi pada setiap tahun anggaran, yang terutama ditujukan untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur Pasal 34 ayat (3)
huruf f UU 21/2001
DASAR HUKUM DAN KEBIJAKAN
DANA TAMBAHAN INFRASTRUKTUR
PROVINSI PAPUA DAN PAPUA BARAT
Penggunaan Dana Tambahan Infrastruktur Prov Papua dan Papua Barat tidak diatur secara detai dalam UU, namun diarahkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur seperti: jalan, jembatan, dermaga, sarana transprtasi darat, sungai maupun laut dalam rangka mengatasi keterisolasian dan kesenjangan penyediaan infrastruktur antara Papua dan Papua Barat dengan daerah lainnya.
Dana yang berasal dari APBN dalam rangka pelaksanaan kewenangan Keistimewaan DIY yang diperuntukkan bagi dan dikelola oleh Pemerintah Provinsi DIY yang
pengalokasian dan penyalurannya melalui mekanisme transfer ke daerah sesuai kebutuhan DIY dan kemampuan keuangan negara.
DANA KEISTIMEWAAN DIY
Wewenang tambahan tertentu yang dimiliki oleh DIY selain wewenang yang ditentukan dalam UU Pemerintahan Daerah, yaitu:
1. tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas, dan wewenang Gubernur dan Wakil Gubernur;
2. Kelembagaan ; 3. Kebudayaan; 4. Pertanahan;
KEWENANGAN KEISTIMEWAAN DIY
Dana Keistimewaan DIY
(UU Nomor 13 Tahun 2012)
Perkembangan Alokasi dan Pagu Alokasi Dana
Keistimewaan DI Yogyakarta 2015
No.
Bidang Kewenangan
Alokasi (miliar Rupiah)
2014
2015
1.
Tata Cara Pengisian Jabatan
Gubernur & Wakil Gubernur
0,4
-2.
Kebudayaan
375,2
420,83.
Pertanahan
23,0
10,64.
Kelembagaan pemerintah
1,7
1,75.
Tata ruang
123,6
114,4Jumlah
523,9
547,5
Tunjangan Guru PNSD
Tunjangan Guru PNSD melalui
Transfer ke Daerah
Tunjangan Profesi Guru (TPG) PNSD
1. Tunjangan Profesi diberikan kepada Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) yang telah memiliki sertifikat pendidik dan memenuhi
persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Tunjangan Profesi Guru PNSD diberikan sebesar 1 (satu) kali gaji pokok PNS yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, tidak termasuk untuk bulan ke-13.
Tambahan Penghasilan Guru (Tamsil) PNSD
1. Dana Tambahan Penghasilan Bagi Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) diberikan kepada guru yang belum mendapatkan tunjangan profesi guru sesuai dengan ketentuan peraturan
Kebijakan
Bantuan Operasional Sekolah TA 2015
1.Dana BOS dialokasikan dalam APBN untuk meringankan beban
masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dasar yang lebih
bermutu.
2.Dana BOS dialokasikan untuk SD/SDLB dan SMP/SMPLB serta
digunakan untuk:
Biaya non personalia bagi satuan pendidikan dasar, dan
Mendanai beberapa kegiatan lain sesuai petunjuk teknis
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
3. Dana BOS merupakan pelengkap dari kewajiban daerah untuk
menyediakan anggaran pendidikan dan bukan merupakan
pengganti BOS Daerah (BOSDA).
4. Perhitungan Kebutuhan Alokasi Dana BOS diusulkan oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
5. Dana BOS disalurkan dari rekening kas negara ke rekening kas
umum daerah provinsi untuk selanjutnya diteruskan ke sekolah
dengan mekanisme hibah.
Dana Insentif Daerah (DID)
Dana Insentif Daerah dialokasikan kepada Provinsi, Kabupaten dan Kota untuk melaksanakan fungsi pendidikan dengan mempertimbangkan kriteria kinerja tertentu, yang terdiri dari kriteria kinerja utama, kriteria kinerja keuangan, kriteria kinerja pendidikan, kriteria kinerja ekonomi dan kesejahteraan, dan batas minimum kelulusan kinerja.
No Kriteria Bobot Tahun 2014 Usulan Bobot
Tahun 2015
Kriteria Kinerja Keuangan 50% 50%
1. Opini BPK atas LKPD 35% 35%
2. Penetapan Perda APBD tepat waktu 35% 35%
3. Effort peningkatan PAD 15% 15%
4. Penyampaian LKPD Tepat Waktu 15% 15%
Total Bobot Kriteria Kinerja Keuangan Daerah 100% 100%
Kriteria Kinerja Pendidikan 25% 25%
1. Partisipasi Sekolah (APK) 50% 50%
2. Reduction Shortfall IPM 50% 50%
Total Bobot Kriteria Kinerja Pendidikan 100% 100%
Kriteria Kinerja Ekonomi dan Kesejahteraan 25% 25%
1. Pertumbuhan Ekonomi 30% 35%
Peta Sebaran Desa Per Provinsi
Aceh 6474 Sumut 5389 Sumbar 880 Bengkulu 1341 Kepri 275 Jambi 1398 Riau 1592 Babel 309 Sumsel 2817 Lampung 2435 Kalbar 1908 Kalteng 1434 Kalsel 1864 Kaltim 833 Kaltara 447 Gorontalo 657 Sulut 1490 Sulteng 1839 Sulbar 576 Sulsel 2253 Sultra 1820 Malut 1063 Maluku 1191 Papua 5118 PaBar 1628 Jumlah Desa1.
Menetapkan alokasi Dana Desa yang bersumber dari Belanja Pusat dengan
mengefektifkan program yang berbasis desa (sesuai dengan amanat UU
No.6 Tahun 2014 tentang Desa);
2.
Mengalokasikan Dana Desa kepada kabupaten/kota berdasarkan jumlah
desa dengan memperhatikan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas
wilayah, dan tingkat kesulitan geografis;
3.
Menyalurkan Dana Desa kepada kabupaten/kota melalui mekanisme
transfer;
4.
Dana Desa digunakan untuk mendanai keseluruhan kewenangan Desa
dengan prioritas untuk mendukung program pembangunan Desa dan
pemberdayaan masyarakat Desa.
PENGALOKASIAN DANA DESA DALAM APBN 2015
(BERDASARKAN PP 60/2014)
Keterangan:
PENGALOKASIAN DANA DESA DALAM APBNP 2015
(BERDASARKAN REVISI PP 60/2014)
Transfer ke Daerah Dana Desa APBNDANA DESA PER KAB/KOTA
DANA DESA PER DESA 10 % Formula 90% Alokasi Dasar 25% x Jumlah Penduduk Desa 35% x Jumlah Penduduk Miskin Desa
10% x Luas Wilayah Desa
30% x IKK
MENTERI KEUANGAN BUPATI/WALIKOTA
25% x Jumlah Penduduk Desa
35% x Jumlah Penduduk Miskin Desa
10% x Luas Wilayah Desa 30% x IKG 90% Alokasi Dasar 10 % Formula
Berdasarkan pagu APBN 2015 sebesar Rp9,066 Triliun, alokasi Dana Desa yang dihitung murni berdasarkan Formula Base diperoleh hasil:
o rata-rata Dana Desa setiap desa Rp124,29 juta : o alokasi terendah Rp41,26 juta,
o alokasi tertinggi Rp287,46 juta., o rasionya 1 : 6,9
Perbedaan Hasil Perhitungan Dana Desa APBN 2015
dan RAPBNP 2015
Berdasarkan pagu RAPBNP 2016 sebesar Rp20.766,2 Triliun, alokasi dana desa yang dihitung dengan menggunakan:
1. Murni Formula Base diperoleh hasil:
o rata-rata Dana Desa setiap desa Rp280,27 juta : o alokasi terendah Rp96,50 juta,
o alokasi tertinggi Rp693,31 juta., o rasionya 1 : 7,2
2. Alokasi Dasar dan Formula Base diperoleh hasil:
90% pagu dana dibagi secara merata,
10 % pagu dana dibagi berdasarkan jumlah penduduk (bobot 25%), angka
kemiskinan (bobot 35%), luas wilayah (bobot 10%), dan tingkat kesulitan geografis (bobot 30%)
Diperoleh hasil:
o rata-rata Dana Desa setiap desa sebesar Rp280,51 juta:
1. Sejalan dengan visi Pemerintah untuk Membangun Indonesia dari Pinggiran dalam kerangka NKRI, perlu dialokasikan dana yang lebih besar untuk memperkuat pembangunan daerah dan desa.
2. Dalam rangka memenuhi ketentuan UU 6/2014, yakni anggaran Dana Desa dari APBN sebesar 10% dari dan diluar dana transfer ke daerah secara bertahap, Pemerintah sedang menyiapkan Road Map Dana Desa.
3. Sesuai roadmap Dana Desa, dalam APBNP tahun 2015 diusulkan tambahan anggaran dana desa sebesar Rp11.700,0 miliar, sehingga total dana desa dalam APBNP 2015 sebesar Rp20.766,2 miliar.
4. Anggaran Dana Desa tersebut akan dialokasikan melalui mekanisme sebagai berikut: a. Alokasi dari Pusat ke kab/kota (ditetapkan dalam Perpres Rincian APBN)
b. Alokasi dari kab/kota ke desa (ditetapkan dalam Peraturan Kepala Daerah)
5. Untuk menghindari ketimpangan alokasi Dana Desa untuk setiap kab/kota dan setiap desa, penghitungan alokasi dana desa akan dilakukan berdasarkan:
a. alokasi yang dibagi secara merata; dan
b. alokasi yang dibagi berdasarkan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat kesulitan geografis.
KEBIJAKAN DANA DESA DALAM APBN-P 2015
PENYALURAN DANA DESA
PEMERINTAH PUSAT
(Mekanisme Transfer APBN)
PEMERINTAH KAB/KOTA
(Mekanisme Transfer APBD)
KPA DJPK Menerbitkan SPM 1 KPPN Jakarta II selaku Kuasa BUN Menerbitkan SP2D 2 Bank Operasional Melaksanakan Transfer DD ke Kab/Kota
(dari RKUN ke RKUD)
3
Pemerintah Kab/Kota
Melaksanakan Transfer DD ke Desa
(dari RKUD ke RKUDes)
4
REKENING
KAS DESA
Menteri Keuangan selaku BUN akan menyalurkan Dana Desa dari Rekening Kas Umum Negara (RKUN) ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) untuk alokasi per Kab/Kota;
Mekanisme penyaluran dari RKUN ke RKUD sesuai mekanisme APBN untuk Transfer ke
Daerah;
MEKANISME DAN
JADWAL PENYALURAN DANA DESA
URAIAN TAHAPAN PENYALURAN DD KETERANGAN/
PERSYARATAN
TAHAP I TAHAP 2 TAHAP 3
Proporsi 40% 40% 20% Dasar: Perpres Alokasi Dana Desa
Penyaluran Dana Desa dari
PUSAT KE KAB./KOTA
Minggu II Bulan April Bulan AgustusMinggu II Bulan OktoberMinggu II
Persyaratan: Perda APBD thn berjalan; Perkada ttg tata cara pembagian dan penetapan Dana Desa setiap desa ; dan
Laporan realisasi thn sebelumnya. Penyaluran Dana
Desa dari KAB / KOTA KE DESA
7 hari kerja setelah diterima di Kas
Daerah
7 hari kerja setelah diterima di Kas Daerah
7 hari kerja setelah diterima di Kas Daerah
Persyaratan:
• Tahap I: Penyampaian APB Desa; •Tahap II: Laporan penggunaan semester sebelumnya.
Roadmap Dana Desa
APBN-P
2015
2016
2017
2018
2019
Dana Desa (DD): Rp20.766,2 MRata-rata DD per Desa: Rp 280,3 juta ADD: Rp34.236,6 M Bagi Hasil PDRD: Rp4.109,3 M TOTAL= Rp59.112,1 M Rata2 perdesa: Rp797,8 juta Dana Desa (DD): Rp47.684,7 M
Rata-rata DD per Desa: Rp643,6 juta ADD: Rp37.564,4 M Bagi Hasil PDRD: Rp4.270,3 M TOTAL= Rp89.519,4M Rata2 perdesa: Rp1.208,2 juta Dana Desa (DD): Rp81.184,3M
Rata-rata DD per Desa: Rp1.095,7 juta ADD: Rp42.285,9M Bagi Hasil PDRD: Rp4.975,9 M TOTAL= Rp128.446,3M Rata2 perdesa: Rp1.733,6 juta Penggunaan:
- Sesuai kewenangan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa - Open menu dg prioritas utk
mendukung program pembangunan & pemberdayaan masyarakat desa melalui pembangunan infrastruktur dasar desa
- Tdk dapat digunakan utk penghasilan tetap Kades dan Perangkat Desa
Perencanaan:
- APBDes - RKP Des
Penggunaan:
- Sesuai kewenangan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa
- Open menu dg prioritas utk mendukung program pembangunan &
pemberdayaan masyarakat desa melalui pembangunan infrastruktur dasar desa - melalui pembangunan
infrastruktur dasar Desa - Tdk dapat digunakan utk
penghasilan tetap Kades dan Perangkat Desa
Penggunaan:
- Sesuai kewenangan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa - Open menu dg prioritas utk
mendukung program pembangunan & pemberdayaan
masyarakat desa melalui pembangunan infrastruktur dasar desa
- Tdk dapat digunakan utk penghasilan tetap Kades dan Perangkat Desa
Perencanaan:
- APBDes
Penggunaan:
- Sesuai kewenangan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa - Open menu dg prioritas utk
mendukung program pembangunan &
pemberdayaan masyarakat desa melalui pembangunan infrastruktur dasar desa - Tdk dapat digunakan utk
penghasilan tetap Kades dan Perangkat Desa
Perencanaan: - APBDes - RKP Des - RPJM Des Pedoman Pelaksanaan; Pendampingan; Pengembangan Database: Penggunaan:
- Sesuai kewenangan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa
- Open menu dg prioritas utk mendukung program
pembangunan & pemberdayaan masyarakat desa melalui pembangunan infrastruktur dasar desa
- Tdk dapat digunakan utk penghasilan tetap Kades dan Perangkat Desa Perencanaan: - APBDes - RKP Des - RPJM Des Pedoman Pelaksanaan; Pendampingan; Pengembangan Database: Target Keberhasilan Dana Desa (DD): Rp103.791,1M
Rata-rata DD per Desa: Rp 1.400,8 juta ADD: Rp55.939,8M Bagi Hasil PDRD: Rp5.680,1M TOTAL= Rp165.411,1M Rata2 perdesa: Rp2.232,5 juta Dana Desa (DD): Rp111.840,2 M
Rata-rata DD per Desa: Rp 1.509,5 juta ADD: Rp60.278,0 M Bagi Hasil PDRD: Rp6.384,6M TOTAL= Rp178.502,8 M Rata2 perdesa: Rp2.409,2 juta
Dasar Penyusunan Kebijakan Transfer TA.2016
• Kebijakan keberpihakan (affirmative policy) kepada daerah-daerah yang saat ini masih tertinggal,
terutama (a) kawasan perbatasan dan pulau-pulau terluar; (b) daerah tertinggal dan terpencil; (c) desa tertinggal; (d) daerah-daerah yang kapasitas
pemerintahannya belum cukup memadai dalam memberikan pelayanan publik.
RPJM
2015-2019
• Disusun dengan mengacu pada RPJM dengan target-target yang lebih spesifik
• Melanjutkan kebijakan transfer dalam APBN-P TA.2015
RKP
2016
•Terkait dengan kebijakan transfer ke daerah dan desa disusun dengan mempertimbangkan :
•Penerimaan Dalam Negeri sebagai Dasar Perhitungan Transfer ke Daerah dan Dana Desa yang diperkirakan tidak banyak mengalami perubahan; dan
•Jumlah daerah yang akan memperoleh alokasi dana transfer meningkat
RAPBN
2016
Kebijakan Strategis Transfer ke Daerah dan Dana Desa TA.2016
Arahan Presiden agar alokasi Transfer ke Daerah bagi
pembangunan infrastruktur daerah (Kab/Kota) terus
ditingkatkan;
Melanjutkan affirmative policy terkait alokasi DAK;
Pengalokasian DAU dengan tetap mempertimbangkan
agar semua daerah
memiliki kemampuan keuangan
daerah yang sama untuk membiayai urusan yang
menjadi tanggungjawabnya.
Mengalokasikan dana desa dengan arah segera
mencapai jumlah yang telah diamanatkan UU Nomor 6
Tahun 2014.
LANGKAH-LANGKAH YANG TELAH DILAKUKAN TERKAIT KEBIJAKAN
TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA
1. Percepatan penyampaian informasi alokasi transfer ke daerah dan
dana desa melalui pengunggahan dalam website DJPK segera setelah
pengambilan keputusan dalam rapat kerja banggar DPR RI bersama
pemerintah untuk mempermudah Daerah dalam menyusun APBD;
2. Percepatan penyampaian informasi penetapan rincian transfer ke
daerah dan dana desa dalam Peraturan Presiden melalui website DJPK.
Kebijakan ini dilakukan juga dalam rangka mempermudah Daerah
dalam menyusun APBD;
3. Pedoman penyusunan APBD harus dikoordinasikan terlebih dahulu
kepada Kemenkeu dan Bappenas sebelum ditetapkan Kemendagri.
Kebijakan
ini
dilakukan
untuk
memastikan
sinkronisasi
pe-rencanaan
dan
penganggaran
antara
Pusat
dengan
Daerah.
ARAH KEBIJAKAN HKPD KE DEPAN
(DRAFT REVISI UU 28/2009)
Peningkatan Kemandirian Daerah Dalam Pembiayaan Untuk
Meningkatkan Efisiensi dan Akuntabilitas
Memperluas basis pajak daerah melalui pendaerahan PBB P3.
Memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengenakan opsen atas
pajak pusat (PPh Orang Pribadi).
ARAH KEBIJAKAN HKPD KE DEPAN … (1)
(DRAFT REVISI UU 33/2004)
1. Reformulasi Sumber Pendanaan APBD
a. Reformulasi DBH:
Memperkuat konsepsi by origin DBH (menghapus DBH yang tidak punya
dampak signifikan terhadap penerimaan daerah namun menyalahi prinsip by
origin), yaitu menghapus DBH Perikanan.
Penyaluran DBH menggunakan mekanisme prognosa pada akhir tahun, yang
selanjutnya selisihnya dengan realisasi akan diperhitungkan pada tahun
berikutnya.
b. Reformulasi DAU:
Menghapus alokasi dasar (belanja pegawai daerah), sehingga formula DAU
hanya didasarkan pada Fiscal Gap, guna mengurangi dorongan inefisiensi
belanja pegawai.
Penetapan bobot daerah berdimensi jangka menengah (3 tahun)
Kebutuhan fiskal diukur dengan ukuran kebutuhan riil (transisi penerapan 5
tahun)
c. Reformulasi DAK:
DAK Prioritas Nasional: DAK harus benar-2 tepat sasaran dan mendukung target prioritas program kerja pemerintah(i) prioritas bersifat fleksibel sesuai RKP; (ii) penentuan daerah berbasis pada kriteria prioritas pencapaian output; (iii) jumlah bidang per tahun relatif
terbatas namun mempunyai dampak yg signifikan.
DAK untuk pencapaian SPM/SPN sektor layanan dasar (sektor kesehatan, pendidikan dan infrastruktur dasar (jalan, jembatan, air minum dan irigasi).
DAK untuk pencapaian prioritas nasional (dapat ditentukan setiap tahun sesuai prioritas pemerintah) berbasis prioritas kewilayahan dan/atau sektoral.
Konsep output based untuk mengurangi rigiditas petunjuk penggunaan dari Pusat (K/L terkait), namun digantikan dengan target output yang harus dicapai oleh daerah.
Penerapan kerangka pendanaan jangka menengah pada DAK.
Besaran DAK harus ditingkatkan secara signifikan agar arah pembangunan nasional dapat lebih terkendali
Tidak ada dana pendamping DAK
d. Mengintegrasikan dana transfer lainnya (yang penggunaannya telah ditentukan, seperti TPG, BOS, dll) ke dalam DAK yang dapat digunakan untuk kegiatan fisik dan non-fisik.
ARAH KEBIJAKAN HKPD KE DEPAN … (2)
2. Penegasan mekanisme pendanaan sesuai urusan pemerintahan
a. Urusan daerah didanai dari APBD, dan APBD dilarang mendanai urusan Pusat
diserta dengan penerapan sanksi berupa pembatalan Perda APBD oleh Gubernur
untuk APBD Kab/Kota dan Mendagri untuk APBD Provinsi apabila Daerah
melanggar.
b. Urusan Pusat didanai dari APBN, dan K/L dilarang mendanai urusan Daerah
c. Pelanggaran dikenakan sanksi pemotongan anggaran tahun berikutnya.
3. Pengendalian pemekaran daerah
Pengalokasian Dana Perimbangan kepada daerah otonom baru tidak secara otomatis
setelah penetapan, namun baru dilakukan pada tahun kedua.
4. Pengendalian belanja daerah dan perbaikan pengelolaan keuangan:
a. kontrol terhadap dana idle daerah, bila Pemda mempunyai deposito jangka > 2
bulan sebesar >1/12 belanja APBD, maka transfer dapat digantikan dengan SUN.
Hal ini dimaksudkan agar daerah lebih fokus pada belanja untuk peningkatan
kuantitas dan kualitas public service delivery, dan mengurangi fokus daerah pada
investasi financial;
ARAH KEBIJAKAN HKPD KE DEPAN … (3)
b.
Pengendalian batas maksimal kumulatif defisit APBD;
c.
Pengaturan mengenai belanja, utamanya batas minimal untuk belanja
infrastruktur yang langsung terkait dengan peningkatan kuantitas layanan
publik dalam APBD.
5. Pengaturan mengenai Pinjaman Daerah
a. Ruang yang lebih leluasa bagi daerah dalam melakukan pinjaman daerah
aturan tetap prudent namun tidak mempersulit daerah;
b. Pengembangan Lembaga pembiayaan daerah semacam RIDF.
6. Surveillance serta reward and punishment
Surveillance dilakukan secara berkala, sebagai salah satu alat untuk memberikan
reward and punishment kepada daerah yang didasarkan pada kinerja
keuangannya.
ARAH KEBIJAKAN HKPD KE DEPAN … (4)
Terima Kasih
Kementerian Keuangan Jl. DR Wahidin No. 1, Gd. Radius Prawiro
Jakarta Pusat, Indonesia, 10710 Telp. +6221-3509442 Fax. +6221-3509443 Website : http://www. djpk.depkeu.go.id