• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vol.IX No.3 September 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Vol.IX No.3 September 2017"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas WIralodra Indramayu 6

Vol.IX No.3 –September 2017

NILAI MORAL PADA KUMPULAN CERPEN BIDADARI YANG MENGEMBARA KARYA A. S. LAKSANA SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN AJAR SASTRA

DI SMA DAN MODEL PEMBELAJARANNYA oleh Eli Herlina

[email protected]

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana unsur-unsur instrinsik kumpulan cerpenBidadari yang Mengembarakarya A. S. Laksana?; (2) Nilai moral apa sajakah yang terdapat dalam kumpulan cerpenBidadari yang Mengembarakarya A. S. Laksana?; (3) Apakah kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembaradapat dijadikan bahan ajar sastradi SMA?; (4) Model pembelajaran apakah yang sesuai dalam menganalisis kumpulan cerpen Bidadari yang mengembara karya A. S. Laksana? Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah tema, latar, alur, penokohan, sudut pandang, amanat dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan novelRanah 3 Warna karya Ahmad Fuadi. Sumber data primer diperoleh dari novel Laskar Pelangi dan novel Ranah 3 Warna. Sumber data sekunder berupa buku-buku teori yang mendukung penelitian ini. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu teknik pustaka, baca, dan catat. Teknik analisis data penelitian ini adalah metode pembacaan model semiotik yakni berupa pembacaan heuristik dan hermeneutik.

Hasil penelitian adalah: (1) Struktur intrinsik pada kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara yaitu bertemakan perjuangan, kehilangan, halusinasi, dan ketakutan.Latar dalam kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara berlatar dinding kamar, tembok-tembok kota, di pasar, muara, dan tempat kos, di meja makan, di ruang tengah dan di ruang tempat

psikiater, di tepi sungai, di rumah, di gubug, dan di pekarangan belakang rumah.Tokoh pada kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembaramemiliki sifat tangguh dan kuat, perduli, sabar, dan berambisi, tidak mudah menyerah kasih sayang, sabar, perhatian dan bertanggung jawab pendiam, sederhana, lugu, dan apa adanya. Amanat dalam kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara (“Menggambar Ayah”, “Bidadari yang Mengembara”, “Seekor Ular di dalam Kepala”, dan “Cerita tentang Ibu yang Dikerat”) memiliki amanat tidak boleh pantang menyerah; (2) Nilai moral dalam kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara (“Menggambar Ayah”, “Bidadari yang Mengembara”, “Seekor Ular di dalam Kepala”, dan “Cerita tentang Ibu yang Dikerat”) yaitu kejujuran, disiplin, religius, mandiri dan tanggung jawab; (3) Cerpen-cerpen dalam Bidadari yang Mengembara karya A. S. Laksana layak untuk dijadikan sebagai bahan pembelajaran sastra di SMA. Hal ini dapat dilihat dari tema, alur, latar, penokohan, amanat dan nilai moral yang baik diteladani oleh siswa sehingga dapat membentuk karakter yang dibanggakan; (4) Salah satu model pengajaran yang tepat digunakan untuk menganalisis cerpen-cerpen dalam Bidadari yang Mengembara karya A. S. Laksana ini adalah model pengajaran Investigasi Kelompok. Model pengajaran ini dapat membuat siswa lebih aktif dan lebih leluasa untuk berinteraksi dengan temannya karena model pengajaran ini menggunakan metode diskusi kelompok.

Kata Kunci : cerpen, nilai moral, bahan ajar.

(2)

WACANA DIDAKTIKA

PENDAHULUAN

Karya sastra merupakan hasil cipta manusia selain memberikan hiburan juga sarat dengan nilai, baik nilai keindahan maupun nilai ajaran hidup. Orang dapat mengetahui nilai-nilai hidup, susunan adat istiadat, suatu keyakinan, dan pandangan hidup orang lain atau masyarakat melalui karya sastra. Sastra merupakan bagian dari hasil pola pikir manusia. Karya sastra tercipta akibat pemikiran manusia yang mengarah pada sesuatu yang memiliki nilai keindahan di dalamnya. Wellek dan Warren (1990: 3) mengatakan bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. Kreativitas adalah salah satu unsur penting dalam terciptanya suatu karya sastra. Menciptakan suatu karya sastra yang kreatif, seorang penulis harus dapat menyatukan berbagai unsur agar tercipta suatu hasil maha karya yang berkualitas. Walaupun demikian, bukan menjadi suatu ukuran bagi keberhasilan seorang sastrawan. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, seperti dampak yang akan diperoleh pada pemikiran ataupun kehidupan para pembaca.

Pembelajaran apresiasi sastra guru harus dapat memilih pembelajaran sastra dengan tepat. Rahmanto (1988: 15) menjelaskan bahwa jika pembelajaran sastra dilakukan dengan cara yang tepat, maka pembelajaran sastra dapat memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan di dalam masyarakat. Jadi, apabila pembelajaran sastra dilaksanakan tanpa ada ketepatan antara bahan dan kondisi siswa, jadi pembelajaran akan mengalami kegagalan.

Guru bahasa dan sastra Indonesia harus meningkatkan minat membaca terhadap karya sastra. Guru hendaknya menyadari bahwa karya sastra besar manfaatnya bagi siswa. Karya sastra dapat mempertajam penghayatan siswa terutama dalam pengajaran apresiasi sastra di SMA. Oleh karena itu, guru harus memiliki wawasan tentang sastra, guru harus berupaya

memilih bahan pembelajaran apresiasi sastra yang sesuai dengan kondisi siswa.

Bahan-bahan pembelajaran sastra sudah termuat dalam kurikulum bahasa Indonesia. Di dalam kurikulum tersebut, dijelaskan bahwa pembelajaran sastra diberikan dengan tujuan agar para siswa dapat mengapresiasikan sastra, dapat meningkatkan daya pikir, perasaan, penalaran, dan daya imajinasi yang tinggi terhadap kepekaan, masyarakat, budaya, dan lingkungan kehidupannya.

Kumpulan cerpen dalam buku Bidadari yang Mengembara karya A. S. Laksana dipilih untuk dikaji karena memiliki beberapa kelebihan baik dari segi isi maupun bahasanya. Dari segi isi cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen-cerpen dalam buku Bidadari yang Mengembara karya A. S. Laksana cenderung banyak menghadirkan hal yang non-real, yang tidak nyata dalam bingkai kehidupan. Yang real dan non-real mewujud bukan sebagai sesuatu yang saling bertentangan, bukan “dua dunia” yang tidak saling bersentuhan ini, tetapi justru saling melengkapi, jalin-menjalin, dan pengaruh-mempengaruhi. Skripsi ini akan membahas nilai moral pada cerpen-cerpen karya A. S. Laksana dalam kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara. Hal-hal yang akan dikaji dalam cerpen tersebut adalah struktur nilai moral serta model pembelajarannya.

KAJIAN TEORI Nilai moral

Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukan kualitas, yang berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Menilai berarti menimbang suatu kegiatan manusia untuk menghubungkan dengan sesuatu yang lain kemudian selanjutnya diambil keputusan. Keputusan itu merupakan keputusan nilai yang dapat menyatakan berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik atau tidak baik, indah atau tidak indah. Kata

(3)

Universitas WIralodra Indramayu 8

Vol.IX No.3 –September 2017

moral berasal dari bahasa Latin mores, mores sendiri berarti adat kebiasaan atau suatu cara hidup. Gunarasa (1986: 68) menyatakan bahwa moral pada dasarnya adalah suatu rangkaian nilai dari berbagai macam perilaku yang wajib dipatuhi.

Moral berasal dari kata mores yang artinya aturan kesusilaan yang meliputi semua norma untuk kelakuan, perbuatan, dan tingkah laku yang baik. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 754) dinyatakan bahwa moral merupakan suatu ajaran tentang aturan baik dan buruk yang diterima oleh masyarakat umum mengenai perbuatan manusia. Jadi kata moral selalu mengacu pada baik atau buruknya sifat manusia baik dari sifat perbuatan, kelakuan dan ahlak yang terdapat dalam diri manusia.

Moral merupakan salah satu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah manusia harus mempunyai moral jika masih ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai keabsolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral sendiri dalam kegidupan masyarakat setempat.

Pengertian Cerpen

Sejak pertumbuhannya di Indonesia tahun 1930-an dan perkembangannya pada tahun 1950-an, sudah banyak yang membuat pengertian dan batasan terhadap cerita pendek (cerpen). Setiap orang melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Ada yang memandang dari fisiknya, ada yang melihat dari sifatnya, dan ada pula yang meninjaunya dari sudut tema atau isinya sehingga untuk menentukan batasan sebuah cerpen orang bisa berdebat.

Sumardjo (1980: 15) menyatakan bahwa cerpen adalah cerita atau narasi yang fiktif artinya bukan berupa analisis argumentasi dan peristiwanya tidak benar-benar telah terjadi secara faktual. Batasan cerpen tersebut dilihat dari sifat dan isi cerpen, sehingga menurutnya cerpen hanya berupa karya fiksi, yang berarti cerita dalam cerpen merupakan karya ciptaan atau

rekaan saja, serta dalam pencitraan cerpen menurut hanya menceritakan satu kejadian saja.

Selain pendapat tersebut, ada beberapa ahli yang memberikan batasan cerpen dilihat dari aspek panjang pendeknya sebuah cerita, Yasin (1961: 69) mengemukakan bahwa cerita pendek dilihat dari fisiknya adalah cerita yang pendek. Lain halnya dengan Poe (Noviyanto, 2013: 10) menyatakan bahwa sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam, suatu hal kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel. Oleh karena itu, Penjang cerpen bervariasi Ada cerpen yang pendek (short shortstory) bahkan mungkin pendek sekali berkisar 500-an kata; ada cerpen yang panjangnya cukupan (midle short story), serta ada cerpen yang panjangnya (long short) yang terdiri dari puluhan (atau beberapa puluh) ribu kata.

Sumarjo (1980: 15) juga menyatakan bahwa pendeknya sebuah cerita bisa berarti cerita yang habis dibaca sekitar 10 sampai tiga puluh menit atau cerita yang terdiri dari sampai 5000 kata.

Model Pembelajaran

Model pembelajaranyang digunakan guru dalam pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai. Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Guru perlu menguasai dan dapat menawarkan berbagai strategi pembelajaran yang meliputi pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Wujud nyata pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan ada pada penerapan model pembelajaran yang dipilih dan diterapkan guru dalam pembelajaran.

Komaruddin(Sagala, 2013: 175) menyatakan bahwa model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang

(4)

WACANA DIDAKTIKA

melukiskan prosedur sistematis dalam

mengorganisasikan dalam pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Chatib (2012: 128) menyatakan bahwa model pembelajaran adalah sebuah sistem proses pembelajaran yang utuh, mulai dari awal hingga akhir. Model pembelajaran melingkupi pendekatan pembelajaran, satrategi pembelajaran, metode pembelajaran dan teknik pembelajaran. Seperti halnya Chatib, Dahlan (Isjoni, 2011: 49) mengartikan bahwa model pembelajaran sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas. Dengan demikian melalui model pembelajaran dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, keterampilan, dan cara berfikir dengan baik.

Pemilihan model pembelajaran untuk diterapkan guru di dalam kelas memertimbangkan beberapa hal antara lain: a. Tujuan pembelajaran.

b. Sifat meteri pelajaran. c. Ketersediaannya fasilitas.

d. Kondisi peserta didik dan alokasi waktu yang tersedia.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode deskripsi kualitatif. Sutopo (2002: 18) menyatakan bahwa pengkajian jenis ini bertujuan untuk mengungkapkan untuk mengungkapkan data sebagai media informasi kualitatif dengan pendeskripsian yang teliti dan penuh nuansa untuk menggambarkan secara cermat sifat-sifat suatu hal-hal dan tidak terbatas pada pengumpulan data meliputi analisis interprestasi. Aminudin (Fadillah, 2011: 24) menyatakan bahwa “metode deskriptif kualitatif artinya yang dianalisis berbentuk deskriptif, hasil penelitian berisikan kutipan-kutipan dari kumpulan data untuk memberikan ilustrasi”.

Pelaksanaan metode deskriptif ini akan terbatas pada pengumpulan data dan dokumentasi. Sesuai dengan ciri-ciri yang harus dilakukan dalam metode deskriptif, penelitian akan dipusatkan pada empat cerita pendek yaitu cerpen Menggambar Ayah, Bidadari yang Mengembara, Seekor Ular di dalam Kepala, dan Cerita tentang Ibu yang Dikerat dalam kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara karya A. S. Laksana.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Nilai moral merupakan konsep abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan buruk, indah atau tidaknya sebuah perbuatan. Suatu nilai religius yang berfungsi sebagai pedoman hidup manusia dalam menjalani kehidupannya. Moral yang baik dapat dilihat dari perilakunya, bahwa benar dan salahnya sebuah tindakan dapat dilihat dari sikap dan kepribadiannya. Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan, dan kelakuan (akhlak). Dalam hal ini nilai-nilai moral yang terdapat dalam cerpen Bidadari yang Mengembara karya A. S. Laksana sebagai berikut.

1. Kejujuran

a. Kejujuran dalam cerpen Menggambar Ayah

Cerpen Menggambar Ayah adanya kejujuran yaitu ketika si tokoh Aku rindu dan ingin mengetahui sosok seorang ayah namun tidak dikasih tahu oleh ibunya untuk itu tokoh aku membuat sendiri bapak ku.

b. Kejujuran dalam cerpen Bidadari yang Mengembara

Cerpen Bidadari yang Mengembara adanya kejujuran yaitu ketika si tokoh tukang urutmengungkapkan perasaannya kepada tokoh Alit karna telah memberikan sebuah nama baru yang sangat indah.

c. Kejujuran dalam cerpen Seekor Ular di dalam Kepala

Cerpen Seekor Ular di dalam Kepala adanya kejujuran si tokoh Lin mengungkapkan perasaannya. Peristiwa iu

(5)

Universitas WIralodra Indramayu 10

Vol.IX No.3 –September 2017

dimulai saat Rob mendengar rumor yang berkembang bahwa Lin berpacaran dengan psikiater. Rob sempat tidak percaya tentang apa yang ia dengar namun Lin membenarkan atas apa yang Rob ketahui

d. Kejujuran dalam cerpen Cerita tentang Ibu yang Dikerat

Cerpen Cerita tentang Ibu yang Dikerat adanya kejujuran si tokoh Aku saat memberikan kesaksian bahwa bukan dirinya yang menggerat leher sang ibu. 2. Disiplin

a. Disiplin dalam cerpen Menggambar Ayah

Disiplin adalah tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Ketika teman-temannya membangun benteng untuk melindungi ku dari racun-racun yang membidik nyawa ku.

b. Disiplin dalam cerpen Bidadari yang Mengembara yaitu ketika tukang urut setiap hari menemui Alit di kamar kostnya dan mendengar khayalan-khayalan dari perempuan itu.

c. Disiplin dalam cerpen Seekor Ular di dalam Kepala Hal ini, tercermindari kebiasaan Lin yang setiap pagi mencium suaminya dan itu dilakukan setiap hari.

d. Disiplin dalam cerpen Cerita tentang Ibu yang Dikerat yaitu kebiasaan kegiatan bermain bola yang dilakukan tokoh aku sehari-hari tanpa menghiraukan cuaca panas ataupun hujan.

3. Religius

a. Religius dalam cerpen Menggambar Ayah ketika teman-temannya yang putih mulai kebiru-biruan karena sudah tidak kuat lagi. Mereka mulai pasrah disebabkan obat-obatan yang terus menerus menggodam tubuhku. b. Religius dalam cerpen Bidadari yang

Mengembara hal ini, ketika tokoh Alit yakin bahwa tuhan pasti telah mematahkan sedikit tulang rusuknya. sebab wanita di ciptakan dari tulang

rusuk laki-laki, oleh karena itu tokoh Alit yakin dia akan menemukan tulang rusuknya dan memasang ke dadanya.

c. Religius dalam cerpen Seekor Ular di dalam Kepala saat keputusan Rob mengenai perceraian yang akan ia lakukan terhadap istrinya banyak pertimbangan yang menghampirinya karna ia tau bahwa perceraian bukanlah solusi yang terbaik bagi yang beragama atau yang tidak beragama.

d. Religius dalam cerpen Cerita tentang Ibu yang Dikerat percakapan yang berlangsung antara Alit dan ibunya perihal anak yang dikutuk berubah menjadi sebutir jambu monyet yang bergelantungan. Ibunya menjelaskan bahwa tobat yang terlambat akan merugikan pribadi seseorang.

4. Kesabaran

Kesabaran dalam ke empat cerpen dalam kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara karya A. S. Laksana adalah sebuah keutamaan yang menghiasi diri seseorang mukmin, ketika seseorang mampu mengatasi berbagai kesusahan dan tetap berada dalam ketaatan Allah swt meskipun dan cobaan itu begitu dahsyat. 5. Mandiri

Mandiri dalam ke empat cerpen dalam kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara karya A. S. Laksana adalah berarti keadaan dapat berdiri sendiri tidak bergantung pada orang lain.

6. Tanggung Jawab

Tanggung Jawabdalam ke empat cerpen dalam kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara karya A. S. Laksana adalah Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas kewajiban yang seharusnya dilakukan terhadap diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar yang berada disekelilingnya serta Tuhan yang Maha Esa.

(6)

WACANA DIDAKTIKA

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan kajian terhadap kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara karya A. S. Laksana, penulis dapat menarik beberapa simpulan sebagai berikut.

1. Struktur intrinsik pada kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara antara lain.

a) Cerpen “Menggambar Ayah” bertemakan perjuangan seorang anak yang ingin mengetahui sosok ayahnya. Dorongan itu diekspresikan dalam bentuk gambar seorang ayah di dinding. Ia juga merindukan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tidak didapatkannya. Cerpen “Bidadari yang Mengembara” menceritakan tokoh Alit yang kehilangan kekasihnya sampai-sampai Alit kehilangan orientasinya kemudian bertemu dengan tukang urut yang merasa bahwa Alit adalah takdir pasangannya. Cerpen “Seekor Ular di dalam Kepala” menceritakan Lin yang berhalusinasi seakan-akan seekor ular bersemayam di dalam kepalanya kemudian Rob suami Lin menyarankan untuk pergi ke psikiater. Itulah awal mula terjadinya perselingkuan antara Lin dan psikiater. Cerpen “Cerita tentang Ibu yang Dikerat” mengisahkan tentang seorang anak laki-laki yang trauma dan ketakutan karena menyaksikan keganasan seseorang yang membunuh ibunya di dalam kamar, yang diakibatkan oleh sikap kakak Alit yang tidak mau menerima keadaan apa adanya, sikapnya yang selalu ingin hidup mewah, dipuja puja bak Raja, dihargai banyak orang, yang selalu mengharapkan wanita cantik dan membiarkan orang tuanya kerja keras siang malam. b) Cerpen “Menggambar Ayah”

berlatar dinding kamar, tembok-tembok kota. Cerpen ini juga berlatar sosial orang-orang pekerja malam.

Cerpen “Bidadari yang Mengembara” berlatar di pasar, muara, dan tempat kos. Cerpen “Seekor Ular di dalam Kepala” berlatarkan situasi di dalam rumah atau dalam ruangan, di meja makan, di ruang tengah dan di ruang tempat psikiater. Sedangkan latar sosialnya adalah masyarakat yang gemar sekali memamerkan barang-barang dan selalu ingin mengetahui kehidupan orang lain. Cerpen “Cerita tentang Ibu yang Dikerat” berlatar tempat di tepi sungai, di rumah, di gubug, dan di pekarangan belakang rumah. c) Tokoh pada cerpen“Menggambar

Ayah” adalah seorang laki-laki yang memiliki sifat tangguh dan kuat, perduli, sabar, dan berambisi. Tokoh ibu memiliki sifat pemarah, suka berganti-ganti pasangan dan kasar. Selanjutnya, pada cerpen “Bidadari yang Mengembara” antara lain tokoh Alit dan tukang urut. Alit tipe orang yang rapuh sedangkan tukang urut tipe orang yang tidak mudah menyerah. Cerpen “Seekor Ular di dalam Kepala” adalah tokoh Lin dan Rob. Lin mempunyai sifat iri hati dan tidak setia kepada pasangannya. Sedangkan Rob mempunyai sifat yang, penuh kasih sayang, sabar, perhatian dan bertanggung jawab. Cerpen “Cerita tentang Ibu yang Dikerat” adalah tokoh Alit yang mempunyai sifat pendiam, sederhana, lugu, dan apa adanya. d) Amanat dalam kumpulan cerpen

Bidadari yang Mengembara (“Menggambar Ayah”, “Bidadari yang Mengembara”, “Seekor Ular di dalam Kepala”, dan “Cerita tentang Ibu yang Dikerat”) memiliki nilai pendidikan moral terutama berkaitan dengan sifat pantang menyerah, sabar, menghargai, baik hati dan pemberani, serta penuh perjuangan. 2. Nilai moral dalam kumpulan cerpen

(7)

Universitas WIralodra Indramayu 12

Vol.IX No.3 –September 2017

(“Menggambar Ayah”, “Bidadari yang Mengembara”, “Seekor Ular di dalam Kepala”, dan “Cerita tentang Ibu yang Dikerat”) yaitu kejujuran, disiplin, religius, mandiri dan tanggung jawab. 3. Cerpen-cerpen dalam Bidadari yang

Mengembara karya A. S. Laksana layak untuk dijadikan sebagai bahan pembelajaran sastra di SMA. Hal ini dapat dilihat dari tema, alur, latar, penokohan, amanat dan nilai moral yang baik diteladani oleh siswa sehingga dapat membentuk karakter yang dibanggakan.

1) Salah satu model pengajaran yang tepat digunakan untuk menganalisis cerpen-cerpen dalam Bidadari yang Mengembara karya A. S. Laksana ini adalah model pengajaran Investigasi Kelompok. Model pengajaran ini dapat membuat siswa lebih aktif dan lebih leluasa untuk berinteraksi dengan temannya karena model pengajaran ini menggunakan metode diskusi kelompok. Keterlibatan dengan orang lain akan membuka kesempatan bagi siswa untuk memperbaiki pemahaman terhadap materi yang telah disampaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Aziez, dan Abdul Hasim. 2010. Menganalisis Fiksi. Bogor: Ghalia Indonesia.

Bombang, Andi. 2012. Dzikir Ilalang. Yogjakarta: DIVA Press.

DEPDIKNAS. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia. Hakim. 2011. Analisis Nilai Moral dalam

Novel [Online]. Tersedia: http://kajiansastra.blogspot.com/2011 /08/analisis-nilai-moral-dalam-novel.html.

Heriawan, Adang, dkk. 2012. Metodologi Pembelajaran: Kajian Teoritis Praktis. Serang-Banten: LP3G (Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru).

Joyce, Bruce., dkk. 2011. Models Of TeachingModel-Model Pengajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kosasih, E. 2008. Dasar-dasar Keterampilan. Bandung: Yrama Widya.

Majid, Abdul. 2007. Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM (Gadjah Mada University Press). Rahmanto, B. 1996. Metode Pengajaran

Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Semi, M. Atar. 2012. Metode Penelitian Sastra. Bandung: CV Angkasa. Setiadi, Elly. 2009. Ilmu Sosial dan Budaya

Dasar. Jakarta: Kencana.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan: pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sumardjo, dan Saini K.M. 1988. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia. Toyidin, 2013. Sastra Indonesia: Puisi dan

Drama. Subang: CV. Pustaka Bintang.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis memilih judul Onomatope pada Kumpulan Cerpen Diary Dodol Seorang Istri Karya Beby Haryanti Dewi: Kajian Semantik dengan pertimbangan

Dunia Baru, Takut Mati, dan Ini Bukan Mimpi karya Fira Basuki. Berikut ini adalah tabel acuan analisis struktur dalam kumpulan cerpen. Alamak! karya Fira Basuki. Tabel

Berdasarkan uraian di atas penulis memilih judul Analisis Nilai Moral dalam Kumpulan Cerpen “Keluargaku Tak Semurah Rupiah Karya R Ayi Hendrawan Supriadi dan

Simpulan yang dapat diambil dari penelitian sebagai berikut: (1) Keterlibat- an siswa di teaching factory dan pelayan- an bimbingan karier berkontribusi secara simultan

Kedua, rasionalitas yang muncul pada tiga belas tokoh utama dalam buku kumpulan cerpen Atraksi Lumba- Lumba karya Pratiwi Juliani meliputi

Abstract: Penelitian terdahulu maupun Penelitian yang relevan sangat berguna terhadap suatu penelitian maupun kajian pustak suatu karya ilmiah baik mengkaji tentang

JIP-The Indonesian Journal of the Social Sciences {349 1 Establish vocational training centers at the major mining companies that will enable providing an industry based learning

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan yang telah dibahas dan dianalisis dalam penelitian ini sebagai berikut