JINAYAH JINAYAH
ii. Pengertian. Pengertian Jinayah Jinayah
Dalam buku-buku ilmu fiqh, persoalan pidana dibahas dalam bagian Jinayat, kata jinayat: Dalam buku-buku ilmu fiqh, persoalan pidana dibahas dalam bagian Jinayat, kata jinayat: ت
تااييااننججلل meupakan bentuk jama` (prularis) dari kata jinayah: meupakan bentuk jama` (prularis) dari kata jinayah: ةةييااننججلل, yang berarti perbuatan, yang berarti perbuatan dosa, perbuatan salah atau kejahatan. Kata jinayah adalah merupakan kata asal dan kata dosa, perbuatan salah atau kejahatan. Kata jinayah adalah merupakan kata asal dan kata kerjanya adalah Jana
kerjanya adalah Jana ىىنن : yang berarti berbuat dosa / berbuat jahat. : yang berarti berbuat dosa / berbuat jahat. Orang yang melakukan kejahatan disebut
Orang yang melakukan kejahatan disebut ااججلل : Jani, apabila si pelaku adalah laki-laki, : Jani, apabila si pelaku adalah laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut
sedangkan untuk perempuan disebut ةةااججلل : Janiyah. : Janiyah. Dalam kitab al-Tasyri` al-Jinaiy al-Islamy disebutkan: Dalam kitab al-Tasyri` al-Jinaiy al-Islamy disebutkan: ههببسسكك اامموو ررّّشش مم ءءررلل ههننججيي االل : :ةةغغلل ةةييااننججلل..
Secara bahasa, Jinayah berarti sebutan untuk suatu perbuatan buruk/kejahatan yang Secara bahasa, Jinayah berarti sebutan untuk suatu perbuatan buruk/kejahatan yang dilakukan seseorang dan apa yang diusahakan.
dilakukan seseorang dan apa yang diusahakan. Sedangkan menurut istilah fiqh disebutkan: Sedangkan menurut istilah fiqh disebutkan:
للذذ رر ووأأ اامم ووأأ فف ىىعع ففلل ققوو ءء ااععررشش ررّّححمم ففلل ةةييااننججللاا ففلل ططصص ااممأأ.. Sedangkan ditinjau secara istilah, jinayah adalah sebutan untuk perbuatan yang Sedangkan ditinjau secara istilah, jinayah adalah sebutan untuk perbuatan yang
diharamkan menurut hukum syara`, baik perbuatan tersebut mengenai jiwa, harta, atau diharamkan menurut hukum syara`, baik perbuatan tersebut mengenai jiwa, harta, atau lainnya.
lainnya.
Dalam konteks ini pengertian jinayah sama dengan jarimah. Sebagaimana dikemukakan Dalam konteks ini pengertian jinayah sama dengan jarimah. Sebagaimana dikemukakan oleh Imam al-Mawardi dan dikutip oleh Drs. H. Ahmad Wardi Muslich sebagai berikut: oleh Imam al-Mawardi dan dikutip oleh Drs. H. Ahmad Wardi Muslich sebagai berikut: ررييزز ووأأ ددّّحح ااننعع ىىللاا رر ةةععررشش تتظظححمم ئئررججلل..
Jarimah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara` yang diancam oleh Allah Jarimah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara` yang diancam oleh Allah dengan hukuman had atau ta`zir.
dengan hukuman had atau ta`zir.
Jarimah Jarimah
Menurut bahasa, jarimah berasal dari kata (
Menurut bahasa, jarimah berasal dari kata (رر), merupakan sinonim dari kata (), merupakan sinonim dari kata (ططقق وو سسكك)) artinya berusaha dan bekerja. Hanya saja pengertian usaha disini khusus untuk usaha artinya berusaha dan bekerja. Hanya saja pengertian usaha disini khusus untuk usaha yang tidak baik atau usaha yang dibenci.
yang tidak baik atau usaha yang dibenci. Oleh karena itu jarimah dapat dikatakan: Oleh karena itu jarimah dapat dikatakan:
سسلل ييررططللوو ددللوو ححلل للااخخمم اامم ّّ كك اا..
Melakukan segala pebuatan yang betentangan dengan kebenaran, keadilan, dan jalan Melakukan segala pebuatan yang betentangan dengan kebenaran, keadilan, dan jalan yang lurus (ajaran agama).
yang lurus (ajaran agama).
Sedangkan menurut istilah telah dikemukakan diatas, Sebagaimana diungkapkan oleh Sedangkan menurut istilah telah dikemukakan diatas, Sebagaimana diungkapkan oleh Imam al-Mawardi dan dikutip oleh Drs. H. Ahmad Wardi Muslich sebagai berikut: Imam al-Mawardi dan dikutip oleh Drs. H. Ahmad Wardi Muslich sebagai berikut: ررييزز ووأأ ددّّحح ااننعع ىىللاا رر ةةععررشش تتظظححمم ئئررججلل..
Jarimah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara` yang diancam oleh Allah Jarimah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara` yang diancam oleh Allah dengan hukuman had atau ta`zir.
dengan hukuman had atau ta`zir. Perbuatan yang dilarang (
Perbuatan yang dilarang (تتظظححمم) yang dimaksud ialah baik berupa mengerjakan) yang dimaksud ialah baik berupa mengerjakan perbuatan yang dilarang, maupun meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. perbuatan yang dilarang, maupun meninggalkan perbuatan yang diperintahkan.
Sedangkan kata (
Sedangkan kata (ةةععررشش) yang dimaksud yaitu apabila perbuatan tersebut dilarang oleh) yang dimaksud yaitu apabila perbuatan tersebut dilarang oleh hukum syara` dan ada hukuman bagi yang melanggar, maka perbuatan tersebut baru hukum syara` dan ada hukuman bagi yang melanggar, maka perbuatan tersebut baru dikatakan jarimah. Tetapi apabila perbuatan tersebut tidak dilarang oleh syara`, maka dikatakan jarimah. Tetapi apabila perbuatan tersebut tidak dilarang oleh syara`, maka perbuatan tersebut hukumnya mubah, sesuai dengan kaidah:
هيرح ىع لدل ّدي ى ةا ءاش ص.
Pada dasarnya segala sesuatu hukumnya boleh, sampai ada dalil yang menunjukkan akan keharamannya.
Apabila kedua kata tersebut digabungkan, maka pengertian fiqih jinayah adalah ilmu tentang hukum syara` yang berkaitan dengan masalah perbuatan yang dilarang (jarimah) dan hukumanya yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci.
Para fuqaha menyatakan bahwa jinayah sama artinya dengan jarimah, akan tetapi pada kenyataannya kata jinayah oleh para fuqaha hanya digunakan untuk pengertian tindak pidana yang mengenai jiwa atau anggota badan saja, seperti pembunuhan dan
penganiayaan.
Kata jinayah juga digunakan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Mesir, tetapi pengetiannya berbeda dengan yang dikemukakan oleh para fuqaha tersebut. Dalam KUH
Pidana Mesir, tindak pidana dibagi kedalam 3(tiga) bagian, yaitu: jinayah, janhah, dan mukhalafah.
Adapun pengertian dari ketiga tindak pidana tersebut adalah sebagai berikut: a. Jinayah
Dalam pasal 10 KUHP Mesir disebutkan bahwa jinayah adalah suatu tindak pidana yang diancam hukuman mati, kerja berat seumur hidup, kerja berat sementara, atau penjara. b. Janhah
Dalam pasal 11 KUHP Mesir disebutkan bahwa janhah adalah suatu tindak pidana yang diancam hukuman kurungan lebih dari satu minggu atau denda lebih dari seratus piaster (qirsy).
c. Mukhalafah
Dalam pasal 12 KUHP Mesir disebutkan bahwa jinayah adalah suatu tindak pidana yang diancam hukuman kurungan tidak lebih dari satu minggu atau denda tidak lebih dari seratus piaster (qirsy).
Dalam hukum pidana Islam, ketiga macam tindak pidana menurut KUHP Mesir tersebut dinamakan jinayah atau jarimah, karena sebagaimana telah dikatakan diatas bahwa jinayah adalah setiap perbuatan yang dilarang oleh Syara` tanpa memandang berat dan
ringannya hukuman yang diancamkan bagi pelakunya.
Hukum pidana menurut hukum Syari`at Islam ialah ketentuan-ketentuan hukum Syari`at Islam yang melarang orang untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu dan terhadap
pelanggaran ketentuan hukum tersebut. Peristiwa pidana haruslah mengandung 3(tiga) macam unsur, yaitu:
1. Sifat melawan hukum
2. Pelakunya dapat dipersalahkan atau disesalkan atas perbuatannya
3. Perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan yang oleh hukum dinyatakan sebagai perbuatan yang dapat dihukum.
ii. Ruang Lingkup
Mengenai ruang lingkup fiqih jinayah, dilihat dari beberapa pengertian diatas, secara garis besar dapat diambil kesimpulan bahwa pembahasan fiqih jinayah adalah hukum-hukum syara` yang menyangkut masalah tindak pidana dan hukum-hukumannya. Dengan kata lain, masalah yang dibahas dalam fiqih jinayah dan juga hukum pidana pada umumnya adalah tindak pidana dan hukumannya.
iii. Macam-macam
Para fuqaha membagi jinayah (tindak pidana) terhadap manusia menjadi 3(tiga) bagian, yaitu:
1. Tindak pidana atas jiwa secara mutlak. Masuk dalam bagian ini adalah tindak pidana yang merusak jiwa, yaitu pembunuhan dengan berbagai macamnya.
2. Tindak pidana atas selain jiwa secara mutlak. Masuk dalam bagian ini adalah tindak pidana yang menyentuh anggota tubuh manusia, tetapi tidak sampai menghilangkan
nyawanya, yaitu pemukulan dan pelukaan (penganiayaan).
3. Tindak pidana atas jiwa disatu sisi dan bukan jiwa disisi lain, yakni tindak pidana atas janin. Disatu sisi janin dianggap jiwa (bernyawa), tetapi disisi lain ia tidak dianggap
sebagai jiwa. Dianggap jiwa karena ia adalah anak manusia dan tidak dianggap jiwa karena janin belum berpisah dari ibunya. Dalam hukum konvensional, tindakan ini disebut sebagai aborsi.
Jarimah mempunyai banyak macam dan ragamnya. Akan tetapi secara garis besar dapat dibagi dengan melihatnya dari beberapa segi.
1. Ditinjau dari Segi Berat Ringannya Hukuman
Dari segi berat ringannya hukuman, jarimah dapat dibagi kepada tiga bagian, yaitu: a. Jarimah hudud
Jarimah hudud adalah jarimah yang diancam dengan hukuman had. Had adalah hukuman yang telah ditentukan oleh Syara` dan menjadi hak Allah (hak masyarakat).
Jarimah hudud ada 7(tujuh) macam, yaitu: 1. Zina 2. Qadzaf 3. Syurbul Khamr 4. Pencurian 5. Hirabah 6. Riddah 7. al-Bagyu (pemberontakan) b. Jarimah qishah dan diyat
Jarimah qishas dan diyat adalah jarimah yang diancam dengan hukuman qishas atau diyat.
Jarimah qishas dan diyat ada 2(dua) macam, yaitu pembunuhan dan penganiayaan, namun apabila diperluas, maka ada 5(lima) macam, yaitu:
1. Pembunuhan sengaja
2. Pembunuhan menyerupai sengaja
3. Pembunuhan tidak sengaja (karena kesalahan) 4. Penganiayaan sengaja
5. Penganiayaan tidak sengaja c. Jarimah ta`zir
Jarimah ta`zir adalah jarimah yang diancam dengan hukuman ta`zir. Ta`zir secara bahasa adalah ta`dib, memberi pelajaran, sedang menurut istilah seperti dikemukakan oleh Imam al-Mawardi dan dikutip oleh Ahmad Wardi Muslich adalah hukuman pendidikan atas dosa (tindak pidana) yang belum ditentukan oleh syara`
Pentingnya pembagian jarimah kepada tiga macam tersebut terlihat dari sisi: a. segi pengampunan
b. segi kompetensi hakim
c. segi keadaan yang meringankan d. segi alat-alat pembuktian
2. Ditinjau dari Segi Niat
Dari segi niat, jarimah dapat dibagi kedalam dua bagian, yaitu: a. Jarimah sengaja
Jarimah sengaja adalah suatu jarimah yang dilakukan oleh seseorang dengan kesengajaan dan atas kehendaknya serta ia mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilarang dan
diancam dengan hukuman.
Tiga unsur jarimah sengaja adalah # Kesengajaan
# Kehendak yang bebas dalam melakukannya # Pengetahuan tentang dilarangnya perbuatan
Apabila salah satu dari tiga unsur tersebut tidak ada, maka perbuatan tersebut termasuk kedalam jarimah tidak sengaja.
b. Jarimah tidak sengaja
Jarimah tidak sengaja adalah jarimah dimana pelaku tidak sengaja (berniat) untuk, melakukan perbuatan yang dilarang dan perbuatan tersebut terjadi sebagai akibat kelalaiannya.
Pentingnya pembagian ini dapat dilihat dari dua segi.
• Dalam jarimah sengaja jelas menunjukkan adanya kesengajaan berbuat jarimah,
sedangkan dalam jarimah tidak sengaja, kecenderunganh untuk berbuat salah tidak ada. Oleh karena itu hukuman untuk jarimah sengaja lebih berat daripada jarimah tidak sengaja.
• Dalam jarimah sengaja, hukuman tidak bisa dijatuhkan apabila unsur kesengajaan tidak terbukti, sedangkan hukuman jarimah tidak sengaja dijatuhkan karena kelalaian pelaku atau ketidakhati-hatiannya semata-mata.
3. Ditinjau dari Segi Waktu Tertangkapnya
Dari segi waktu tertangkapnya, jarimah dapat dibagi kedalam dua bagian, yaitu: a. Jarimah tertangkap basah
Jarimah tertangkap basah adalah suatu jarimah dimana pelakunya tertangkap ketika sedang melakukan perbuatan tersebut atau sesudahnya tetapi dalam waktu dekat. b. Jarimah tidak tertangkap basah
Jarimah tidak tertangkap basah adalah suatu jarimah dimana pelakunya tidak tertangkap ketika sedang melakukan perbuatan tersebut melainkan sesudahnya dengan lewatnya waktu yang tidak sedikit.
Pentingnya pembagian ini dapat dilihat dari dua segi. • Dari segi pembuktian.
• Dari segi amar ma`ruf nahi munkar. 4. Ditinjau dari Segi Cara Melakukannya
Dari segi cara melakukannya, jarimah dapat dibagi kedalam dua bagian, yaitu: a. Jarimah positif
Seperti pembunuhan, pencurian, dsb. b. Jarimah negatif
Jarimah negatif adalah jarimah yang terjadi karena meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. Seperti meninggalkan salat, puasa, dsb.
Jarimah negatif terbagi dua, yaitu:
• Jarimah negatif semata. Jarimah ini tidak menimbulkan jarimah yang lain. Seperti contoh diatas yaitu enggan melakukan salat. Dalam hukum positif disebut dengan delik ommissionis.
• Jarimah negatif yang menimbulkan jarimah positif. Atau dengan kata lain jarimah positif dengan jalan negatif. Dalam hukum positif disebut delik commissionis per
ommissionem commissa. Seperti orang yang mengurung orang lain sehingga orang yang dikurung tersebut mati.
5. Ditinjau dari Segi Objeknya
Dari segi objeknya, jarimah dapat dibagi kedalam dua bagian, yaitu: a. Jarimah perseorangan
Jarimah perseorangan adalah jarimah dimana hukuman terhadap pelakunya dijatuhkan untuk melindungi hak perseorangan.
b. Jarimah masyarakat
Jarimah masyarakat adalah jarimah dimana hukuman terhadap pelakunya dijatuhkan untuk melindungi hak masyarakat.
6. Ditinjau dari Segi Tabiatnya
Dari segi tabiatnya, jarimah dapat dibagi kedalam dua bagian, yaitu: a. Jarimah biasa
Jarimah biasa adalah jarimah yang dilakukan oleh seseorang tanpa mengaitkannya dengan tujuan politik.
b. Jarimah politik
Jarimah politik adalah jarimah yang faktor pembangkitnya adalah suatu ide atau pandangan, walaupun ide atau pandangan tersebut menyimpang.
Mengenai pengertian jarimah politik seperti dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahrah dan dikutip oleh Ahmad Wardi Muslich adalah sebagai berikut:
اما ّ ك ص ا ّحل اخشأ ىع وأ حل اظ ىع ءدعإ ه ي ل ئرجل و ةاسل ئرجل ة ّاسل ئ اسل رفل اق ىع وأ.
Jarimah politik adalah jarimah yang merupakan pelanggaran terhadap pemerintah atau pejabat-peejabat pemerintah atau terhadap garis-garis politik yang telah ditentukan oleh pemerintah.
Unsur-unsur umum untuk jarimah ada tiga macam.
1. Unsur formal (عرل كرل ) yaitu Adanya nash yang melarang perbuatan dan menetapkan hukuman bagi pelakunya.
2. Unsur material (ال كرل ) yaitu Adanya perbuatan yang membentuk jarimah pada diri pelaku, baik berupa perbuatan yang nyata (positif) maupun sikap tidak berbuat (negatif).
3. Unsur moral ( كرل ) yaitu bahwa pelaku adalah orang yang mukallaf, yaitu dapat dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang ia perbuat.
3. Kesimpulan/Penutup
Dari pembahasan diatas, kiranya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Jinayah adalah sebutan untuk perbuatan yang diharamkan menurut hukum syara`, baik
perbuatan tersebut mengenai jiwa, harta, atau lainnya.
Para fuqaha menyatakan bahwa jinayah sama artinya dengan jarimah, walaupun pada
kenyataannya kata jinayah oleh para fuqaha hanya digunakan untuk pengertian tindak pidana yang mengenai jiwa atau anggota badan saja, seperti pembunuhan dan
penganiayaan.
Ruang lingkup fiqih jinayah, secara garis besar adalah hukum-hukum syara` yang
menyangkut masalah tindak pidana dan hukumannya.
Para fuqaha membagi jinayah (tindak pidana) terhadap manusia menjadi 3(tiga) bagian, yaitu:
• Tindak pidana atas jiwa secara mutlak.
• Tindak pidana atas selain jiwa secara mutlak.
• Tindak pidana atas jiwa disatu sisi dan bukan jiwa disisi lain.
Jarimah secara garis besar dapat dibagi kedalam enam segi.
1. Ditinjau dari Segi Berat Ringannya Hukuman a. Jarimah hudud 1. Zina 2. Qadzaf 3. Syurbul Khamr 4. Pencurian 5. Hirabah 6. Riddah 7. al-Bagyu (pemberontakan) b. Jarimah qishah dan diyat
1. Pembunuhan sengaja
2. Pembunuhan menyerupai sengaja
3. Pembunuhan tidak sengaja (karena kesalahan) 4. Penganiayaan sengaja
5. Penganiayaan tidak sengaja c. Jarimah ta`zir
2. Ditinjau dari Segi Niat a. Jarimah sengaja
b. Jarimah tidak sengaja
3. Ditinjau dari Segi Waktu Tertangkapnya a. Jarimah tertangkap basah
b. Jarimah tidak tertangkap basah
4. Ditinjau dari Segi Cara Melakukannya a. Jarimah positif
b. Jarimah negatif
Jarimah negatif terbagi dua, yaitu:
• Jarimah negatif yang menimbulkan jarimah positif. (delik commissionis per ommissionem commissa).
5. Ditinjau dari Segi Objeknya a. Jarimah perseorangan
b. Jarimah masyarakat
6. Ditinjau dari Segi Tabiatnya a. Jarimah biasa
b. Jarimah politik
Unsur-unsur umum untuk jarimah ada tiga macam.
1. Unsur formal (عرل كرل ) 2. Unsur material (ال كرل ) 3. Unsur moral ( كرل )
Demikianlah pembahasan mengenai Jinayah dan Jarimah, mancakup pengertian, ruang lingkup dan macam-macamnya, kami selaku penyusun mengucapkan terima kasih kepada Dosen pengampu mata kuliah Fiqh jinayah ini, yaitu Prof. Dr. KH. Muhammad Abduh Malik, MA. dan Ibu Masyrofah, S.Ag. M.Si. juga kepada teman-teman mahasiswa sekalian atas kritik dan sarannya terhadap makalah ini, dan akhirnya kepada Allah-lah tempat berserah diri.