• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAGIAN I DESKRIPSI KASUS (CASE DESCRIPTION)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAGIAN I DESKRIPSI KASUS (CASE DESCRIPTION)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAGIAN I

DESKRIPSI KASUS (CASE DESCRIPTION)

1.1 NIKE

Tahun 2003 merupakan sebuah tahun “serba pertama” bagi Nike. Perusahaan memperoleh pendapatan tertinggi dalam sejarahnya dan juga menghasilkan lebih banyak pendapatan di luar Amerika Serikat pertama kalinya. Namun perusahaan terus menghadapi kontroversi dalam hal etika produksi, tuntutan hukum, dan kritik terhadap bayaran tinggi untuk para atlet.

Nike menjual sepatu atletik, aksesoris, peralatan olahraga dan pakaian untuk pria, wanita dan anak-anak. Karena nama dan logo Nike memperoleh keasadaran konsumen yang sangat tinggi, maka perusahaan tidak lagi meyertakan merek pada produk – produknya. Produk Nike dijual pada pusat perbelanjaan, toko sepatu, dan toko produk olahraga di AS. Nike juga menjual produknya melalui distributor mandiri, lisensi, dan cabang di 200 Negara di seluruh dunia. Sekitar 30.000 outlet ritel internasional menjual produk Nike. Nike mengoperasikan pusat distribusi di beberapa pasar Internasional berbeda, yaitu : Asia, Kanada, Amerika Latin, Eropa dan Australia, serta mengelola 161 toko ritel di AS, termasuk 754 factory outlet, 4 toko Nike, 65 toko Cole Haan, 4 toko khusus karyawan dan 13 toko NikeTown.

Total pendapatan Nike pada tahun 2003 sebanyak lebih dari 50%, berasal dari penjualan internasional. Negara yang mempunyai bisnis Nike terbesar meliputi : Inggris, Jepang, Prancis, Italia, Spanyol, Jerman, dan Kanada.

1.2 VISI DAN MISI NIKE

 Visi : membawa inspirasi dan inovasi bagi semua atlet di dunia.

 Misi : “Menjadi penjual terbesar sepatu dan pakaian atletik di dunia. Kinerja dan keandalan sepatu, pakaian, dan perlengkapan, pengembangan produk baru, harga, identitas produk melalui pemasaran dan promosi, serta dukungan dan pelayanan konsumen adalah aspek penting persaingan dalam industry sepatu, pakaian dan perlengkapan atletik. Kami yakin kami kompetitif dalam semua bidang itu“. Perusahaan bertujuan “memimpin kewarganegaraan perusahaan melalui program proaktif yang mencerminkan kepedulian terhadap keluarga Nike di seluruh dunia, rekan tim, konsumen dan mereka yang memberikan pelayanan kepada Nike”.

1.3 SEJARAH NIKE

Bermula dari Philip Knight, seorang pelari jarak jauh yang berdedikasi berencana membuat sepatu lari berharga murah di Jepang dan menjualnya di AS sebagai bagian dari tugasnya untuk meraih gelar MBA di Stanford University. Kemudian setelah lulus, Knight bekerja sama dengan Bill Bowerman (pelatih lari Knight di University of Oregon), untuk mewujudkan rencananya dengan mendirikan Blue Ribbon Sports pada tahun 1964. Sepatu Blue Ribbon Sports memperoleh sambutan baik di antara para pelari professional

(2)

karena Knight mendistribusikan sepatu, yang disebut Tigers, di pertandingan lari. Pada tahun 1971, Blue Ribbon Sports menerima sebuah merek dagang pada logo “Swoosh” dan merek Nike juga diperkenalkan. Blue Ribbon Sports secara resmi mengubah namanya menjadi Nike pada tahun 1978. Selama akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an, para peneliti Nike menggunakan keahlian teknologi mereka untuk mengembangkan beberapa tipe sepatu atletik yang merevolusi industri. Perusahaan ini menjadi kian sukses setiap tahun dengan laba yang terus meningkat selama masa tersebut.

Pada tahun 1988, Nike membeli Cole Haan yang berbasis di New Hampshire, dengan harga sebesar $64 juta. Cabang tersebut saat ini memiliki beberapa merek dagang, seperti CH, Gseries oleh Cole Haan, Bragano, dan Cole Haan. Bisnis sepatu kasual Nike tumbuh sebesar 16% pada tahun berikutnya. Nike juga membeli Cole-Haan Accessories Company pada tahun 1990, sebuah distributor ikat pinggang, penjepit, dan produk kulit kecil berkualitas tinggi premium. Pada tahun yang sama, Nike membuka toko ritel pertamanya, NikeTown, di Portland, Oregon. Nike membeli sebuah perusahaan pembuat topi bernama Sports Specialties (kini disebut Nike Team Sports, Inc.) pada tahun 1993, dan pada tahun 1994, divisi Outdoor menambah sebuah sepatu baru yang dinamakan “Air Mada” dan sandal olahraga Nike menduduki penjualan teratas di pasaran. Pada tahun 1995, Nike membeli Canstar Sports, Inc. (produsen peralatan hoki terbesar di dunia) senilai $409 juta. Canstar kini bernama Bauer Nike Hockey, Inc., memproduksi sepatu luncur, sepatu luncur es dan bermata pisau (blades), perlengkapan pelindung, stik hoki dan kaos hoki. Koleksi pakaian basket Michael Jordan diluncurkan pada tahun 1998. Pakaian yang didesain untuk pria muda yang ingin “tampil modern” ditambahkan ke koleksi Michael Jordan, dan bintang olahraga Randy Moss dan Derek Jeter disewa untuk mempromosikan merek Jordan pada tahun 1999. Merek baru yang disebut ACG (All Conditions Gear) yang menjual perlengkapan untuk berseluncur es, berselancar, menyelam dan bersepeda gunung diluncurkan pada tahun 1999.

1.4 KONDISI SAAT INI

Dalam beberapa tahun terakhir, Nike membuat beberapa perubahan sebagai upaya memperoleh pangsa pasar serta menawarkan beragam produk sepatu dan pakaian olahraga seperti :

 Dua toko Nike Goddess, yang menjual pakaian dan sepatu wanita, dibuka di Los Angeles pada tahun 2001.

 Nike membeli Impact Golf Technologies pada tahun 2002 sehingga perusahaan dapat memproduksi stik golf.

 Nike menjual tiga merek pakaian pada musim semi tahun 2002 guna menyediakan merek berbeda untuk jenis konsumen yang berbeda : Nike Performance (untuk atlet), Nike Active (perlengkapan “gymnasium dan jalan”), dan Nike Fusion (pakaian gaya yang dibuat dari kain berkualitas tinggi)  Pada bulan September 2003, Nike membeli Converse seharga $305 juta untuk meningkatkan

penawarannya dalam pasar sepatu Retro popular dan klasik saat itu.

Pada tahun yang sama, Foot Locker mengumumkan akan membeli sekitar separuh produk Nike di Masa Mendatang, karena keputusan perusahaan yang menetapkan bahwa Foot Locker akan menjual sepatu yang lebih murah dan tidak semahal sepatu Nike. Hal tersebut merupakan sebuah persoalan besar karena 10,9%

(3)

pendapatan Nike berasal dari Foot Locker, pada tahun 2002. Foot Locker membatalkan jutaan dolar pesanan kepada Nike untuk memprotes tingginya harga grosir, dan Nike membalas dengan menghentikan pengiriman sepatunya yang paling popular ke toko-toko Foot Locker. Perselisihan tersebut menjadi sebuah persoalan besar bagi Nike dalam jangka pendek.

1.5 FAKTOR EKSTERNAL NIKE

Faktor-faktor yang berasal dari luar perusahaan Nike, terdiri dari faktor persaingan, kondisi ekonomi, faktor sosial dan persoalan hokum/peraturan sebagai berikut :

1) Persaingan

Pesaing utama dalam industri sepatu atletik adalah Nike dan Reebok, yang masing-masing menguasai 39% dan 11% pangsa pasar. Beberapa dari dua lusin pesaing lainnya dalam industry ini meliputi Adidas-Salomon AG, New Balance, K-Swiss, Fila, Asics, dan Keds. Merek desainer seperti Tommy Hilfinger dan Nautica memasuki pasar sepatu atletik dengan menyediakan sepatu untuk anak muda yang berorientasi pada fesyen. Merek sepatu fesyen seperti Vans dan Skechers, yang ditujukan untuk remaja dan dewasa muda, mencuri sejumlah pangsa pasar dari pesaing utama. Vans, sebuah perusahaan California yang berspesialisasi dalam sepatu selancar, memperoleh $15,5 juta pada tahun 2001, tetapi mengalami kerugian sebesar $2,6 juta di tahun 2002. Penjualan Skechers hampir mencapai sebesar $1 miliar di tahun 2002 dan laba bersih $47 juta. Persaingan yang paling ketat masih berlangsung di antara para pemimpin industri Nike, Reebok, dan Adidas.

2) Kondisi Ekonomi

Total penjualan sepatu atletik AS pada tahun 2002 menjadi $15,69 miliar, mewakili kenaikan 2,5% dibanding tahun 2000. Sejak musim gugur 2000, kepercayaan konsumen mulai menurun dan perlambatan pertumbuhan ekonomi secara umum berlanjut hingga 2003. Setelah serangan teroris 11 September 2001, ekonomi AS terus terhuyung dan terjadi penurunan tajam dalam permintaan sepatu atletik. Produsen sepatu atletik juga mengalami krisis ekonomi di sejumlah pasar internasional. Pengaruh fluktuasi mata uang asing dan perubahan tingkat bunga berpotensi menimbulkan persoalan keuangan untuk produsen sepatu atletik.

Sebagian besar perusahaan sepatu atletik melakukan kontrak dengan perusahaan produsen di Timur Jauh untuk memproduksi sepatu mereka. Beberapa Negara yang memproduksi sepatu untuk Nike, Reebok, dan perusahaan lain adalah Korea Selatan, Taiwan, Cina, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Perusahaan sepatu atletik membuat spesifikasi desain dan teknologi baru untuk sepatu di AS dan kemudian mengirimnya ke pabrik untuk diproduksi. Keuntungan utama dari kontrak produksi asing adalah bahwa tidak ada investasi modal yang diperlukan dan perusahaan sepatu atletik dapat beroperasi dengan sangat sedikit utang jangka panjang. Ada pula beberapa kerugian untuk kontrak produksi. Sejumlah Negara, seperti Korea, yang memproduksi sepatu atletik dalam jumlah besar di masa lalu telah membangun keahlian dan hubungan untuk memulai memproduksi produk elektronik yang lebih canggih dan tidak memiliki kapasitas tersedia untuk terus memproduksi sepatu atletik. Beberapa kerugian lain produksi di luar negeri meliputi kerusuhan buruh, ketidaktentraman politik, keterlambatan karena pengiriman, dan ketidakpastian sistem kuota (embargo).

(4)

3) Faktor Sosial

Perusahaan sepatu atletik mulai menghadapi kesulitan menjual produk mereka ke pasar orang muda pada tahun 1997, terkait pergeseran permintaan kaum muda ke sepatu bot untuk panjat tebing dan sepatu kulit kasual. Usia konsumen potensial menimbulkan sejumlah tantangan unik bagi perusahaan sepatu/pakaian atletik. Populasi generasi Y (lahir antara 1979 dan 1994) lebih menyukai pakaian olahraga berorientasi fesyen dibanding pakaian merek atletik. Mereka merespons kebenaran dalam iklan dan lebih sinis dan praktis dibanding generasi lain. Saat ini, popularitas olahraga sebagai pengisi waktu bagi baby boomer tidak lagi sebesar awal 1990-an, tetapi permintaan akan sepatu/pakaian untuk kegiatan santai terus meningkat untuk kelompok ini. Selain itu, saat ini lebih banyak wanita muda yang tertarik dan menggemari olahraga dibanding generasi wanita sebelumnya.

4) Persoalan Hukum/Peraturan

Pasar global memiliki banyak pembatasan hukum yang produsen sepatu atletik harus pertimbangkan seperti NAFTA maupun GATT yang memberikan akses yang lebih baik ke perdagangan dunia. Pada tahun 1995, atas permintaan produsen sepatu di Eropa, UE menetapkan bea masuk antidumping untuk sepatu atletik yang diimpor ke UE dari Cina dan Indonesia. Pada tahun itu juga AS memulihkan hubungan diplomatik dengan Vietnam, produsen potensial sepatu atletik dalam volume tinggi. Pada Mei 2003, Presiden Bush memperbarui Hubungan Perdagangan Normal dengan Vietnam, menyediakan kesempatan penambahan produksi bagi perusahaan sepatu atletik. Perubahan hukum tersebut akan memberi banyak kesempatan dan sejumlah ancaman bagi operasi bisnis internasional.

1.6 FAKTOR INTERNAL NIKE

Faktor-faktor yang berasal dari dalam perusahaan Nike yakni terdiri : 1) Penelitian dan Pengembangan Nike

Nike mampu mengikuti kemajuan teknologi karena penelitian dan pengembangan sepatu atletik merupakan inovasi desain dan tidak membutuhkan investasi besar dalam peralatan. Pada tahun 1980, perusahaan membentuk Laboratorium Penelitian Olahraga Nike-LPON yang menggunakan kamera video dan peralatan penguji daya tarik serta meneliti beberapa jenis persoalan seperti morfologi kaki anak-anak. Selain pekerjaan laboratorium mereka, para desainer Nike juga mengunjungi para atlet untuk mempelajari lebih banyak mengenai teknologi sepatu. Nike terus bergantung pada pengembangan teknologi superior untuk mendiferensiasi produknya dari pesaing.

2) Pemasaran

Berdasarkan pernyataan misi, Nike merupakan perusahaan yang menciptakan dan memasarkan produknya bukan perusahaan yang memproduksi produknya. Nike memposisikan produknya sebagai sepatu berkinerja tinggi dengan teknologi yang canggih. Sasaran pasar dari Nike merupakan pria dan wanita dengan kisaran umur dari 18-34 tahun. Namun saat ini Nike menargetkan pasar wanita dengan mendirikan Nike Goddess. Diketahui bahwa pasar wanita menyumbang 20% dari total pendapatan Nike.

(5)

Pengeluaran biaya iklan Nike meningkat dari tahun 2002 hingga 2003. Nike menyiarkan iklan di program olahraga professional dan mahasiswa, juga di program tayangan utama dengan segementasi penonton dewasa dan program tayangan tengah malam dengan segmentasi penonton dewasa muda.

Nike juga menginklankan produknya pada media cetak yaitu majalah-majalah olahraga seperti Sport Illustrated. Nike menjadi sponsor utama Tour de France 2003 untuk tim sepeda Lance Amstrong. Nike juga menjadi sponsor di tim sepak bola nasional Turki, Meksiko dan Korea. Untuk mempromosikan produknya, Nike “menyewa” atlit-atlit professional untuk menjadi bintang iklan seperti Michael Jordan, Kobe Bryant, Tiger Woods dan lainnya.

Dalam pemasaran internasional, Nike mempunyai operasi di 200 negara dan 6 benua, menjadi pasar nomor satu di negara Spanyol, Belanda, Perancis, Belgia, Luxemberg, Ilatia dan Inggris. Nike saat ini mengincar pasar di negara Chile, Meksiko, Peru, Bolivia, India, Afrika Selatan dan beberapa negara Eropa Timur, Wieden dan Kennedy. Iklan Nike sebagian besar dikerjakan oleh agensi iklan yang berkantor di London, Tokyo dan Amsterdam sehingga iklan dapat dibuat oleh orang local agar sesuai dengan kultur mereka.

3) Distribusi

Nike mengoperasikan sebuah program pemesanan bernama “Futures” yang memungkinkan peritel memesan hingga enam bulan ke depan dan dijamin menerima pesanannya dalam periode waktu dengan harga tertentu. Tetapi, para peritel Futures dapat menerima pemesanan pakaian berikutnya jika mereka melakukan pemesanan pada pukul 7 malam sehari sebelumnya. Sistem penambahan otomatis Nike memungkinkan pengiriman otomatis kepada produsen volume tinggi untuk memastikan pasokan yang konstan bagi peritel. Nike telah membeli operasi distribusi di seluruh dunia untuk memantau pemasaran internasional secara teliti agar Nike tidak kehilangan citranya sebagai sepatu olahraga yang unggul secara teknis.

4) Tanggung Jawab Sosial

Nike mengalami skandal tentang beredarnya kabar praktik pekerjaan di tempat produksi internasionalnya. Pada tahun 2001, adanya berita tentang manajer pabrik di Indonesia yang dituduh melakukan pelecahan seksual, penyiksaan fisik dan verbal, pembatasan layanan kesehatan, dan pemaksaan lembur dengan pembayaran upah yang kecil. Atas berita ini, Nike berjanji akan menyelidiki dan memperbaiki kapan pun kondisi yang tidak pantas terjadi.

Nike pada tahun 1996 membentuk departemen buruh dan tahun 1998 membentuk posisi Wakil Direktur Tanggung Jawab Sosial. Nike juga tergabung menjadi anggota FLA (Fair Labor Association) dan GWAC (Global Alliance for Workforce Communities). Nike mengembangkan suatu proses untuk memastikan bahwa pabriknya mematuhi kode etik prusahaan. Untuk mengembangkan kode etik perusahaan, Nike mencari kontraktor yang memiliki kesamaan komitmen dalam hal praktik terbaik dan peningkatan berkelanjutan mengenai :

 Praktik manajemen yang menghormati hak semua karyawan, termasuk hak untuk bebas berkumpul dan persetujuan kolektif

(6)

 Meminimalkan dampak terhadap lingkungan  Menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat

 Mengutamakan kesehatan dan kesejahteraan semua karyawan

Nike juga membuat program yang menunjukkan perhatian terhadap persoalan tanggung jawab sosial dan perusahaan memberikan kontribusi kepada beberapa organiasi amal dan nirlaba dengan memberikan 3% dari laba sebelum pajak untuk kegiatan amal. Nike membentuk NEAT ( Nike Environmental Action Team) yang bertujuan untuk mengejar insiatif lingkungan yang terkait dengan mendaur ulang sepatu atletik tua dan menggunakannya dalam produk baru.

5) Gaya/Budaya Manajemen

Phil Knight telah menciptakan budaya yang kuat di Nike berdasarkan loyalitas perusahaan dan kebersamaan di ruang loker. Kebanyakan karyawan perusahaan adalah orang muda yang sadar kesehatan dan Phil Knight mempercayai karyawan tersebut untuk “Lakukan Saja” (“Just Do It”). Filosofinya adalah “Main sesuai aturan, tetapi jadilah garang…. Tidak mengapa menjadi Goliat, tetapi selalulah bertindak seperti Daud” (“Play by the rules, but be ferocious…. It’s allright to be Goliath, but always act like David”). Kampus perusahaan Nike yang seluas 74 aker (acre) memberikan perasaan berbudaya: memiliki daerah hutan, jalur lari, sebuah danau, dan sebuah pusat kebugaran. Knight percaya bahwa orang harus menemukan suatu “perasaan damai di tempat kerja”. Selama tahun 1998 dan 1999, Nike merekstrukturisasi perusahaan untuk memperoleh penghematan biaya dan meningkatkan efisiensi operasi.

Bagan Organisasi Nike

Pengurangan karyawan dari seluruh wilayah Nike, termasuk pekerja internasional dan domestik pun dilakukan. Phil Knight mengadakan sebuah pertemuan semua karyawan kantor pusat perusahaan pada tahun 1998 dan meminta maaf karena tidak member perhatian lebih selama perusahaan berada pada masa sangat laku dan karena tidak bersiap untuk masa sulit yang tidak terduga. Mark Parker dan Charlie Denson mengambil alih operasi harian sebagai Presiden Bersama Nike pada tahun 2002. Parker berpengalaman dalam penelitian dan pengembangan produk Nike dan Denson sebelumnya bekerja di berbagai posisi manajemen penjualan dalam perusahaan tersebut. Pada tahun 2003, Knight mengakui bahwa Nike “menjadi sebuah perusahaan $9 miliar dengan manajemen senilai $5 miliar”.

(7)

Selama masa pertumbuhan pesatnya, para manajer Nike diberi kebebasan pengeluaran untuk mengembangkan dan memasarkan produk perusahaan. Setelah pemberhentian pemangkasan biaya dan pencarian efisisensi yang dimulai pada tahun 1998, para wakil direktur mulai menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyadarkan karyawan mengenai perlunya akuntabilitas keuangan. Pada tahun 1998, setiap manajer bagian geografis memberikan laporan laba rugi, dan kini sebagian kompensasi bergantung pada kinerja.

1.7 TINJAUAN MASA DEPAN

Bahkan, dengan keterbatasan pertumbuhan AS dan ketatnya persaingan global dalam pasar sepatu/pakaian atletik, para manajer Nike memperkirakan bahwa perusahaan akan berkinerja baik di masa mendatang. Nike berusaha keras agar tingkat penjualan produk wanitanya saat ini dapat naik menjadi dua kali lipat pada tahun 2005 ($1,5 miliar). Banyak toko Nike Goddes direncanakan pada tahun 2004 dan seterusnya. Pada tahun 2007, Nike berharap pendapatan sepakbola global mencapai $1 miliar. Perusahaan yakin bahwa produk Hurley dan gaya retro Converse akan memungkinkan Nike untuk menarik kalangan muda.

BAGIAN II

PERMASALAHAN KASUS (CASE PROBLEM) 2.1 Latar Belakang Masalah

Mayoritas aktivitas bisnis sekarang ini berada dalam ruang lingkup pengaruh global. Teknologi, riset, investasi modal, produksi, pemasaran, distribusi, dan jaringan komunikasi memiliki dimensi-dimensi global didalamnya. Setiap bisnis harus siap untuk bersaing dalam ekonomi global dan lingkungan fisik yang semakin saling ketergantungan, dan semua pelaku bisnis harus sadar akan pengaruh tren-tren tersebut ketika mengelola sebuah perusahaan ekspor domestik atau sebuah konglomerat multinasional. Karena dihadapkan pada semakin meningkatnya kompetisi global terhadap perluasan pasar, perusahaan multinasional mulai mengganti strategi pemasaran dan mengubah struktur organisasi mereka. Tujuan mereka adalah meningkatkan daya saing dan menjamin pengambilan posisi yang tepat dalam usaha memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan di pasar global.

Globalisasi bisnis secara alamiah mendorong perusahaan – perusahaan tradisional yang semula berorientasi lokal untuk mulai berorientasi global. Perusahaan harus siap untuk bersaing dalam ekonomi global ketika lingkungan bisnis makro semakin menyempit dimana perusahaan – perusahaan yang telah mapan dalam persaingan lokal mau tidak mau harus bersiap untuk berhadap - hadapan dengan perusahaan global. Nike, semenjak berdiri pada tahun 1962 – yang waktu itu masih bernama Blue Ribbon Sports - telah melihat fenomena tersebut, dan menggunakan strategi ekspor produk untuk memasarkan produk mereka ke Jepang. Perkembangan bisnis Blue Ribbon Sport melonjak karena strategi ini, dan ketika perusahaan memutuskan berganti nama menjadi Nike pada tahun 1978, perusahaan dapat dengan segera menguasai pasar dan go public dua tahun kemudian. Nike bergerak kearah perusahaan multinasional dan mulai meredefinisi strategi pemasaran serta mengubah struktur organisasi mereka ketika perusahaan dihadapkan

(8)

pada semakin meningkatnya kompetisi global serta meluasnya pasar. Tujuan akhir perusahaan adalah meningkatkan daya saing dan memastikan pengambilan posisi yang tepat dalam usaha memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan di pasar global. .

Mencanangkan perspektif global adalah hal yang mudah, namun pelaksanaannya membutuhkan perencanaan, pengorganisasian, dan kemauan untuk melakukan pendekatan baru. Nike sebagai perusahaan yang telah memutuskan untuk go-global tetap harus memperhatikan ketatnya persaingan global dalam pasar sepatu/pakaian atletik, agar perusahaan dapat berkinerja baik di masa mendatang.

2.2 Rumusan Masalah

Dari uraian diatas maka perlu di dipertimbangkan pertanyaan yang terkait dengan masa depan Nike, sebagai berikut :

1. Apakah Nike berusaha memasok produk untuk jenis olahraga yang terlalu banyak? Haruskah Nike mempersempit lini produknya dalam sepatu atletik?

2. Apa jenis akuisisi yang akan Anda sarankan kepada Philip Knight untuk Nike? 3. Haruskah Nike mulai memproduksi sejumlah produknya sendiri?

4. Apakah Nike melakukan pendekatan yang tepat dalam memasarkan sepatunya secara internasional? 5. Perubahan apa dalam produk dan iklan yang sebaiknya perusahaan lakukan untuk menarik kelompok

baby boomers? Bagaimana dengan Generasi Y?

6. Bagaimana Nike dapat memepertahankan keunggulan kompetitif terhadap Reebok?

7. Apakah Nike merespons mengenai perlakuan karyawan di fasilitas produksi internasional secara tepat?

8. Seberapa besar tekanan yang sebaiknya Nike berikan untuk meningkatkan penjualan internasional? 9. Apakah Nike memilih sasaran yang tepat sebagai upaya pemasaran baru? Mampukah perusahaan

meraih kesuksesan dalam memperoleh pangsa pasar wanita?

BAGIAN III

KAJIAN PUSTAKA

3.1 Visi dan Misi

Menurut Wibisono (2006, p.43), visi merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita atau impian sebuah organisasi atau perusahaan yang ingin dicapai di masa depan. Atau dapat dikatakan bahwa visi merupakan pernyataan want to be dari organisasi atau perusahaan. Visi juga merupakan hal yang sangat krusial bagi perusahaan untuk menjamin kelestarian dan kesuksesan jangka panjang.

Dalam visi suatu organisasi terdapat juga nilai-nilai, aspirasi serta kebutuhan organisasi di masa depan seperti yang diungkapkan oleh Kotler yang dikutip oleh Nawawi (2000:122), visi adalah pernyataan tentang tujuan organisasi yang diekspresikan dalam produk dan pelayanan yang ditawarkan, kebutuhan yang

(9)

dapat ditanggulangi, kelompok masyarakat yang dilayani, nilai-nilai yang diperoleh serta aspirasi dan cita-cita di masa depan.

Visi yang efektif antara lain harus memiliki karakteristik seperti : 1. Imagible (dapat dibayangkan).

2. Desirable (menarik)

3. Feasible (realistis dan dapat dicapai) 4. Focused (jelas)

5. Flexible (aspiratif dan responsive terhadap perubahan lingkungan) 6. Communicable (mudah dipahami)

Perumusan visi dipandang penting agar setiap organisasi memiliki kejelasan mengenai cita-cita atau mimpi kolektif yang berusaha diwujudkan di masa depan.

Menurut Drucker (2000:87), Pada dasarnya misi merupakan alasan mendasar eksistensi suatu organisasi. Pernyataan misi organisasi, terutama di tingkat unit bisnis menentukan batas dan maksud aktivitas bisnis perusahaan. Jadi perumusan misi merupakan realisasi yang akan menjadikan suatu organisasi mampu menghasilkan produk dan jasa berkualitas yang memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggannya (Prasetyo dan Benedicta, 2004:8)

Menurut Wheelen sebagaimana dikutip oleh Wibisono (2006, p.46-47) Misi merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan tujuan atau alasan eksistensi organisasi yang memuat apa yang disediakan oleh perusahaan kepada masyarakat, baik berupa produk ataupun jasa.

Pada umumnya, ada sembilan ciri atau komponen dari suatu pernyataan yang harus di jawab oleh pernyataan misi, yaitu :

1. Pelanggan : Siapa pelanggan perusahaan ?

2. Produk dan Jasa : Apa produk atau jasa utama dari perusahaan ? 3. Pasar : Secara geografis, dimana perusahaan bersaing ?

4. Teknologi : Apakah teknologi yang dipergunakan perusahaan mutakhir ?

5. Perhatian untuk bertahan hidup, bertumbuh, dan mendatangkan laba: Apakah perusahaan bertekad untuk bertumbuh dan mempunyai keuangan yang mantap ?

6. Falsafah : Apa dasar keyakinan, nilai, inspirasi, dan prioritas etis dari perusahaan ?

7. Konsep diri : Apa kompetensi perusahaan yang membedakan atau keunggulan bersaing yang utama? 8. Perhatian untuk citra public : Apakah perusahaan cepat tanggap terhadap masalah sosial, masyarakat,

dan lingkungan?

(10)

3.2 Teori Analisis Lingkungan Eksternal

Analisis lingkungan eksternal mencakup pemahaman berbagai faktor di luar perusahaan yang mengarah pada munculnya kesempatan bisnis / bahkan ancaman bagi perusahaan. Di dalam analisis lingkungan eksternal berupaya memilah permasalahan global yang dihadapi perusahaan dalam bentuk, fungsi dan keterkaitan antar bagian.

Lingkungan eksternal sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian besar lagi yakni lingkungan yang sifatnya umum dan lingkungan industri. Berikut uraian mengenai kedua hal tersebut:

1. Lingkungan umum adalah suatu lingkungan dalam lingkungan eksternal organisasi yang menyusun faktor-faktor yang memiliki ruang lingkup luas dan faktor-faktor tersebut pada dasarnya berada di luar dan terlepas dari operasi perusahaan. Faktor-faktor lingkungan umum dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a) Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi ini meliputi pertumbuhan ekonomi suatu Negara dan hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi secara makro seperti : inflasi, kebijakan pemerintah, dan lain-lain. Namun pada kenyataannya factor ini akan berkembang dan berimbas kepada ekonomi mikro yang lebih spesifik, seperti :

• Para pesaing perusahaan sejenis atau sering disebut perusahaan Kompetitor • Langganan (Costumers)

• Pasar tenaga kerja, organisasi memerlukan karyawan dengan bermacam-macam keterampilan • Lembaga Keuangan

• Supplies (Pemasok bahan baku)

• Perwakilan pemerintah, hubungan organisasi dengan perwakilan pemerintah dengan kompleks b) Faktor Sosial dan Politik

Perkembangan strata sosial kemasyarakatan di suatu daerah akan mempengaruhi organisasi perusahaan. Perkembangan politik Negara yang secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan ekonomi dan merupakan faktor yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Organisasi perusahaan akan cenderung mengikuti perkembangan sosial politik yang terjadi guna antisipasi terhadap berlangsungnya stabilitas dan kebijakan di dalam organisasi perusahaan

c) Faktor Peraturan dan Undang-undang (Faktor Hukum)

Kepastian hukum di dalam suatu Negara merupakan moment yang sangat mempengaruhi pelaku pasar. Kebijakan Negara yang dituangkan dalam Peraturan Perundang-Undangan secara tidak langsung akan menentukan arah strategi perusahaan. Kepastian hukum merupakan faktor yang tidak bisa ditawar dan pasti akan sangat mempengaruhi sebuah perusahaan.

d) Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga akan memberikan perubahan terhadap kebijakan perusahaan. Efisiensi pada saat melakukan produksi dan distribusi juga sangat dipengaruhi

Referensi

Dokumen terkait

Keempat penelitian terdahulu tersebut memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yakni terletak pada produk yang dihasilkan. Pada penelitian ini,

‘ Ashabiyah memiliki persamaan dengan nasionalisme karena keduanya merupakan alat pemersatu untuk mempertahankan Negara, sebagai solusi untuk mengatasi semua

Hasil penerapan media visual alat peraga pada pelajaran Matematika penelitian ini dapat dimanfaatkan siswa untuk meningkatkan kemampuan siswa khususnya berpikir

Elevasi kontur Suwaru timur yang digunakan berada pada elevasi 314.7 mdpl, elevasi tersebut merupakan elevasi yang kurang lebih berada ditengah lahan lokasi tangki

Dari hasil studi di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; hasil analisis Rietveld dari data pola difraksi sinar-X memperlihatkan bahwa struktur kristal zirkonium murni

Aplikasi ini akan digunakan pada bagian Receptionist atau Front Officer untuk memberikan informasi yang akurat mengenai kamar yang tersedia, serta melakukan pengolahan data

Rekapitulasi penghitungan suara di tingkat KPU Dogiyai oleh Termohon sebagaimana termuat dalam bukti T-24 berupa Berita Acara Nomor 08/BA/KPU-DGY/IV/2012, tanggal 8 April 2012

Ninja Sarung tidak memiliki Kompetitor lokal, namun bisa dibanding kan dengan serial animasi komedi aksi yang ada di luar negeri, jepang atau amerika pada umum nya. Dan