• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM UPACARA KEAGAMAAN MENURUT AGAMA SIKH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM UPACARA KEAGAMAAN MENURUT AGAMA SIKH"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM UPACARA

KEAGAMAAN MENURUT AGAMA SIKH

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Oleh:

Muhamad Firmanullah NIM: 1113032100060

PROGRAM STUDI AGAMA-AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

i

LEMBAR PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Muhammad Firmanullah Fakultas : Ushuluddin

Jurasan/Prodi : Studi Agama-agama

Judul Skripsi : Kedudukan Perempuan dalam Upacara Keagamaan Menurut Agama Sikh

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain maka, saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 8 Juli 2020

(3)

ii

LEMBAR PERSETUJUAN

KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM UPACARA KEAGAMAAN MENURUT AGAMA SIKH

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag) Oleh

Muhammad Firmanullah NIM: 1113032100060

Dosen Pembimbing

Dra. Halimah, SM, M.Ag NIP: 19590413 199603 1 001

PRODI STUDI AGAMA-AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(4)

PENGESAHAN PENGUJI

Skripsi berjudul Kedudukan Perempuan Dalam Upacara Keagamaan Menurut Agama Sikhsudah diujikan dalam sidang munaqosyah Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 17 Juli 2020. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Agama (S. Ag) pada program Studi Agama-Agama.

Jakarta, 17 Juli 2020 Sidang Munaqosyah

Ketua Merangkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota,

Syaiful Azmi, MA Lisfa Sentosa Aisyah, MA NIP. 19710310199703 1 005 NIP. 1975050506 200501 2 003

Anggota,

Penguji I, Penguji II,

Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si Siti Nadroh, M.Ag NIP. 196511291994031002 NIP. 9920112687

Pembimbing,

Dra. Halimah SM., MA NIP. 19590413 199603 2 001

(5)

iv ABSTRAK

Feminisme menggabungkan posisi bahwa prioritas sudut pandang laki-laki dan perempuan diperlakukan secara tidak adil. Dalam agama Sikh, tidak ada pembedaan ruang lingkup kasta antara laki-laki dalam perempuan. Dimana seorang perempuan berhak untuk memimpin serangkaian upacara peribadatan dalam agama Sikh. Hal ini yang membuat penulis tertarik untuk meneliti kedudukan perempuan dalam agama Sikh. Dalam hal ini penulis kemudian menjadikan objek penelitian kepada para perempuan yang ada di agama Sikh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kedudukan dan peran konsep feminisme dalam agama Sikh terutama pada upacara keagamaannya.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan menggunakan pendekatan historis dan pendekatan feminisme. Dalam metode penyajian dan pembahasan data, penulis menggunakan objek penelitian dan kajian yang relevan. Teknik pengumpulan data menggunakan metode Library Research (Penilitian Kepustakaan) dan Observasi.

Dalam observasi penelitian, didapatkan hasil bahwa kedudukan antara perempuan dan laki-laki adalah setara. Dimana agama Sikh adalah suatu agama yang egaliter yang juga mendukung suatu adanya kedudukan setara bagi perempuan dan laki-laki, hal tersebut terlihat dari peran seorang perempuan dalam menjalankan upacara peribadatan. Seorang perempuan dalam agama Sikh memiliki kesempatan untuk memimpin serangkaian sebuah upacara peribadatan tersebut tanpa harus memandang sebuh gender.

(6)

v

KATA PENGANTAR

Bismillahirah maanirahiim

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih yang telah melimpahkan hidayahnya ehingga penuliss dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam senantiasa tecurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan hingga zaman yang terang benderang seperti sekarang ini.

Segala upaya penulis lakukan dalam penyelesaian skripsi ini, hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kedudukan Perempuan Dalam Agama Sikh” sebagai tugas akhir akademis pada Jurusan Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidyatullah Jakarta.

Semua ini berkat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karenanya perkenankanlah penulis untuk menyampaikan ucapan terimakasih serta penghargaan yang mendalam khususnya kepada:

1. Dra. Halimah, SM, M.Ag., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan, saran serta perhatiannya kepada penulis dan dengan sangat penulis hingga terselesaikannya skripsi ini.

2. Kedua orang tuaku tercinta, Ayahanda Suparjo dan Ibu Pudji Lestari, S.Pd, atas segala kasih sayang, perhatian dan dorongannya serta munajat doanya di setiap waktu telah memberikan kekuatan lahir batin dalam mengarungi semangat perjuangan hidup. Semoga selalu dalam lindungan-Nya.

3. Kakak-adik penulis, Gadis Ria Ambar Tari, SE, Lanang Prakoso, S.Th.i, Dara Anggunian, Fauzi Abdullah Ramadhani, keponakan terlucu Nazla, Shanum, Aca, Mesha dan Samudra yang selalu memberikan motivasi dan keceriaan disaat kejenuhan menghampiri

4. Keluarga Prof. Dr. H. M. Ikhsan Tanggok, M.Si dan Dian Israliena SE. Terimakasih atas pertolongan, arahan dan semangat. Yang telah sabar memberikan segala nasihat baiknya. Semoga Allah membalas semua kebaikannya.

(7)

vi

5. Heni Aulia, S.Ag tersayang yang baru dipertemukan kembali setelah sekian lama berpisah. Tak pernah menyerah memberikan semangat bersaing dan motivasi penuh sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Semoga apa yang kita niatkan bersama dapat tertunaikan. Semoga kita berjodoh di dunia dan akhirat. Aamiin.

6. Bapak Syaiful Azmi, MA selaku ketua Jurusan Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin dan Ibu Lisfa Sentosa Aisyah, MA selaku sekretaris Jurusan Studi Agama-agama. Serta seluruh dosen dan staff akademik Fakultas Ushuluddin, khususnya Jurusan Studi Agama-agama yang telah membagikan waktu, tenaga dan ilmu pengetahuan juga pengalaman berharga kepada penulis.

7. Teman-teman mahasiwa Jurusan PA angkatan 2013 khususnya HIMTI (Himpunan Mahasiswa Tholol Indonesia), Imam Wahyudi, M Najibbudin, M Abudzar, Irfan Santoso, Wahid Muhammad, Ahmad Tedi Anwar, Nur Fitri Barliana dan Qaffa Tahqiq. Dan temanku yang masih berjuang dalam menyelesaikan tugas akhir. Love you guys!

8. Keluarga besar Puskesmas Tigaraksa terimakasih banyak atas segala arahan, dukungan dan motivasi, sehingga penulis lebih bersemangat lagi dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Keluarga Agency Of Escorting (Relawan Kemanusiaan), yang tidak pernah bosan memberi semangat, keceriaan disetiap waktu. Tetap pada moto kita guys! YOUR LIFE IS OUR MISSION.

10. Yunita, Ambar, Sherly, Jessica dan Heris terimakasih atas canda-tawa dan semua waktu yang diberikan untuk setiap keluh kesah penulis selama mengerjakan skripsi ini.

11. Muchamad Edy Irawan dan M Rifqi Ari kawan DoTaku like a my family. The next level play. Duude !

12. Abdul Karim Habibullah dan Deby Aslamia. Thanks for everythings ma bestiest!

13. Keluarga Ayah angkat R. Daraquthny terimakasih atas semangatnya. Makasih abah !

(8)

vii

Akhirnya penulis hanya bisa berdoa semoga dukungan, bimbingan, perhatian dan motivasi dari semua pihak kepada penulis selama perkuliahan sampai selesainya skripsi ini menjadi amal ibadah dan bisa memberikan manfaat pada penulis khususnya dan para pembaca karya ini pada umumnya. Aamiin.

Jakarta, Juli 2020

(9)

viii DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Tinjauan Pustaka ... 4

E. Metode Penelitian ... 5

F. Sistematika Penulisan ... 9

BAB II. SEJARAH AGAMA SIKH ... 10

A. Pengertian Agama Sikh ... 10

B. Sejarah Berdirinya Agama Sikh ... 10

C. Konsep Agama Sikh ... 12

BAB III SKETSA SOSIOHISTORIS POSISI WANITA DALAM SIKH 16 A. Kondisi Sosio Historis Perempuan Pra- Sikh ... 16

B. Perempuan Dalam Teks Suci Sikh (Grand Sahib dan Para Guru Sikh) ... 19

C. Cita Perempuan dalam Tradisi Sikh dan Isu-Isu Gender dalam Komunitas Sikh ... 21

(10)

ix

BAB IV. Kedudukan Perempuan dalam Upacara Keagamaan Sikh ... 24

A. Upacara Keagamaan dalam Agama Sikh ... 24

B. Kedudukan dan Peran Perempuan Dalam Ritual Keagamaan dan Kehidupan Sosial Keagamaan ... 27

C. Analisa Kesetaraan dan Interpretasi Baru Sikh untuk Kesetaraan Gender. ... 31

BAB V. PENUTUP ... 35

A. Kesimpulan ... 35

B. Saran ... 36

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada periode-periode tertentu dalam sejarah, perempuan tersembunyi dari publik dan terpingit dalam rumah yang khusus diperuntukkan untuk keluarga dan merupakan tempat terlarang bagi pria dewasa kecuali tuan rumah atau kerabat dekat. Status seorang perempuan dalam sebuah masyarakat menunjukan skenario sosial, budaya, agama, dan politik. Posisi wanita melewati banyak fase, terbukti setelah mempelajari ajaran dasar dari tradisi spiritual yang berbeda bahwa agama memberikan status tinggi kepada kaum perempuan.

Dalam Islam mengungkapkan kesetaraan gender, amal perbuatan laki-laki dan perempuan diberi pahala sama, dan kewajiban agama laki-laki-laki-laki dan perempuan tidak berbeda karena keduanya merupakan bagian dari satu kesatuan. Perbedaan satu-satunya adalah bahwa perempuan sekarang mempunyai kesadaran lebih besar akan hak-haknya dan pengetahuan yang lebih banyak. Perempuan akan memperoleh kesetaraan mutlak melalui usahanya sendiri untuk dapat menghormati dan menghargai serta tidak menolak hak-haknya dalam masyarakat.1

Allah menciptakan manusia, perempuan dan laki-laki dari unsur yang sama tidak ada perbedaan kedudukan atau status antara perempuan dan laki-laki. Di dalam Surat An-Nisa ayat 1 Allah berfirman yang artinya:

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”

Hawa dan Prakriti perempuan dimungkinkan untuk bermain setara dan peran yang lebih bersemangat dalam bidang sosio-religius, politik dan ekonomi karena pesan egaliter dan humanistik Sikh Gurus telah

1 Mai Yamani, Feminisme & Islam (Bandung: Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, 2000), h. 72.

(12)

memungkinkan terjadinya bias gender dan pemikiran sempit yang terkait dengan masyarakat didominasi oleh laki-laki.2

Seperti agama-agama besar lainnya yang memiliki cara pandang untuk mendeskripsikan sosok perempuan dalam berbagai aspek yang berbeda-beda. Begitupun agama Sikh juga memiliki cara pandang yang berbeda pula dengan agama lain. Hal itu seperti yang dipaparkan oleh Ghoul Rajj, agama Sikh itu ada untuk menyederhanakan agama-agama yang sudah ada, maksud disini adalah karena pada saat itu agama Islam dan agama Hindu sering bertikai dengan mengatasnamakan agama, hal itulah yang mendorong Guru Nanak untuk membuat sebuah ajaran baru sebagai antitesa dari kedua agama tersebut, perkataan yang kemudian menjadi dasar ajaran agama Sikh adalah “tidak ada Islam maupun tidak ada Hindu ” karena kita semua sama dihadapan Tuhan hanya cara penyebutan dan cara mengabdikan diri saja yang berbeda. Atas dasar itulah agama Sikh dikenal dengan agama universal, agama yang boleh dikenal semua seluk beluknya oleh siapa pun dan dari kalangan manapun.

Sebagaimana pentingnya pendekatan empatik terhadap suatu agama yang didasarkan pada pengetahuan yang benar. Demikian pula, agama Sikh sangat mementingkan konsep keperempuanan untuk menyadari perbedaan pengalaman perempuan secara lintas agama, budaya dan waktu.

Di masa lalu, perhatian di tujukan kepada beberapa agama patrialkhal yang sangat mempengaruhi perempuan dan memberikan pandangan satu dimensi tentang hubungan agama dan perempuan sebagai yang di tindas. Oleh karena stereotip itu juga memiliki kadar kebenaran tertentu yang mungkin memotret satu aspek paling ekstrim dari suatu agama ketika mempelajari wanita perhatian kepada stereotip itu mungkin menjadi katalisator penting untuk melakukan reformasi.3

Agama Sikh menekankan perempuan harus berani melihat permasalahan secara konseptual. Apabila konsep perempuan diterapkan dengan

2 Sudarshan Singh, Sikh Religion Democratic Ideals and Institutions (London: Encyclopaedia Britanica, 2009),Vol.VIII h. 126-127.

3 Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-Agama Dunia (Yogyakarta: Suka-Press, 1987), h. 4.

(13)

menggunakan teori yang tidak relevan bagi generasi mendatang, maka tidak akan banyak membantu untuk kemajuan perempuan itu sendiri. Konsep kesetaraan dalam agama Sikh sendiri menyadarkan bahwa bukan hanya laki-laki yang dapat memimpin sembahyang ataupun upacara keagamaan di Gurdwara, sebagai contoh perempuan menjadi pemandu pembacaan Granth Sahib atau bisa dikatakan sebagai imam. Bukan hanya itu dalam setiap upacara-upacaran sakral lainnya, perempuan tidak jarang diikut sertakan untuk menjadi pemandu pembacaan kitab suci. Berbeda dengan agama Islam yang memperbolehkan perempuan sebagai imam namun hanya dalam kondisi semua jamaah atau makmumnya perempuan dan tak ada satupun laki-laki ditempat tersebut4.

Penganut Sikh mengacu pada pedoman yang terdapat dalam kitab mereka

Sri Guru Granth Sahib lebih tepatnya pada potongan ayat (Guru Nanak

Dev,Var Asa,473) di jelaskan, tidak ada pembedaan posisi antara laki-laki ataupun perempuan hanya saja perempuan disini lebih di hargai dan di hormati sebab mereka berasumsi melalui perempuan peradaban berlanjut dan melalui perempuan juga hukum dijaga.5

Berdasarkan latar belakang diatas, maka judul skripsi yang diangkut oleh penulis yaitu : “Kedudukan Perempuan Dalam Upacara Keagamaan Menurut Agama Sikh”.

Teknik penulisan skripsi ini penulis mengacu pada standar penulisan skripsi yang didasarkan apada buku Pedoman Akademik yang diterbitkan oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan mengacu pada buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah tahun 2013 yang diterbitkan oleh penerbit CeQda (Center for Quality Development and Assurance) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, penulis merumuskan permasalahan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

4

Soenarjati Djajarnegara, Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), h. 15.

5 Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia (Yogyakarta: Suka-Press, 1987), h. 11-13.

(14)

1. Bagaimana kedudukan perempuan dalam agama Sikh ?

2. Bagaimana peran perempuan dalam upacara keagamaan menurut agama Sikh?

C. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah di atas, dapat diketahui tujuan dari pada penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui kedudukan perempuan dalam agama Sikh

2. Untuk mengetahui peran perempuan dalam upacara keagamaan menurut agama Sikh

Adapun manfaat dari penelitian ini dapat dilihat dari dua aspek sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini memberikan sumbangan pemikiran atau memperkaya konsep-konsep mengenai pandangan tentang kedudukan perempuan dalam agama Sikh.

2. Manfaat Akademik

Sebagai salah satu persyaratan akhir perkuliahan guna mendapatkan gelar Sarjana Agama (S.Ag) pada prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta.

D. Tinjauan Pustaka

Pembahasan mengenai Kedudukan Perempuan Dalam Upacara Keagamaan Menurut Agama Sikh belum ada ditemukan dalam buku, skripsi maupun karya ilmiah yang lainnya. Untuk membuktikan orisinalitas penelitian dan menguraikan penelitian sebelumnya yang memiliki objek penelitian dan kajian yang relevan dengan penelitian ini. Dari hasil penelusuran penulis, Penulis hanya menemukan satu karya ilmiah dalam bentuk skripsi yang mengangkat objek kajian agama sikh. Skripsi itu berjudul “Ajaran Ketuhanan dalam Agama Sikh”. Skripsi ini ditulis oleh Thari Mayaratu dari UIN Syarif Hidayatullah tahun 2011. Dalam penelitian tersebut dibahas tentang konsep kedudukan Tuhan di dalam agama Sikh dengan menggunakan pendekatan teologis.

(15)

Perbedaan antara skripsi tersebut dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah penulis hanya akan melakukan penelitian tentang kedudukan perempuan dalam agama Sikh.

Persamaan dalam penelitian yang akan dilakukan oleh penulis dengan skripsi tersebut adalah sama-sama membahas agama Sikh secara garis besar, akan tetapi disini penulis lebih menonjolkan tentang bagaimana agama Sikh memandang dan memuliakan perempuan maupun kedudukan perempuan dalam upacara keagamaannya sebagaimana judul yang penulis angkat.

Sejauh ini penulis belum menemukan judul yang sama ataupun yang mendekati sebagaimana yang penulis angkat.

E. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis terapkan yaitu penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan yang bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dan lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.6Untuk memperoleh data dalam membangun dan memperkaya tulisan ilmiah ini, penulis menggunakan studi kepustakaan (library

research), yaitu suatu penelitian untuk memperoleh data, baik untuk data

primer dan data sekunder, yang bersumber dari buku, majalah, artikel, jurnal, dan lain-lain, berdasarkan hasil bacaan, catatan, dan bahan-bahan lainnya yang diolah untuk dikumpulkan.7

Penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung di medan terjadinya gejala melalui pengamatan/observasi maupun wawancara mendalam.8 Penelitian ini menggunakan informasi yang diperoleh dari para responden melalui wawancara, abstraksi, atau lainnya. Penelitian ini dilakukan Gurdwara Pasar Baru Jakarta dan melakukan pengamatan lapangan serta

6 Lexy J. Meolong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), h. 4.

7

Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), cet. I, h. 3.

8 Nusa Putra, Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi (Jakarta: PT. Indeks, 2012) ,cet. II, h. 43.

(16)

wawancara, apa saja yang dilakukan oleh jemaat Sikh maupun yang bukan jemaat Sikh dalam memandang kedudukan perempuan.

2. Sumber

Ada dua bentuk sumber data dalam penelitian ini yang akan penulis jadikan sebagai pusat informasi bagi data yang dibutuhkan dalam hal penelitian. Sumber data tersebut terbagi atas dua kelompok, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.

a. Sumber Primer

Sumber primer adalah buku, artikel, jurnal, ceramah, arsip, dokumen, majalah, dan surat kabar yang terkait langsung dengan topik penelitian ini. Dalam hal ini, peneliti memperoleh data yang diperlukan dengan melakukan wawancara terhadap mereka yang bersangkutan, dengan penelitian ini diantaranya; Ghoul Rajj (Merupakan salah satu pengurus Gurdwara Pasar Baru Jakarta) Selain itu didukung oleh buku/dokumen yang ditulis langsung oleh kalangan kaum sikh, diantaranya; Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama

Sikh (Jakarta: Yayasan Gurdwara Mission, 1988), Hakim Choor

Singh, Agama Sikh, (Jakarta: Yayasan Sikh Gurdwara Mission: 2001), Khustwant Singh, A History Of The Sikh, (Oxford University Press, 2004), Eleanor Nesbitt, A Guide to Sikhism, (Oxford University Press, 2005), Trilochan Singh, The Sacred Writing Of The Sikhs,(Ruskin House, 1960), Kristina Myrvold, Inside The Guru’s Gate (Lund: Lund University, 2008).

b. Sumber data Sekunder

Sumber data sekunder ialah yang biasanya tersusun dalam bentuk dokumen. Jenis data ini adalah jenis data yang dapat dijadikan sebagai pendukung data primer atau dapat diartikan sumber ini dapat memberikan informasi atau data tambahan yang dapat memperkuat data primer. Data sekunder dapat penulis peroleh dari dokumentasi atau buku-buku yang berhubungan dengan penelitian, misalnya seperti buku-buku yang terkait langsung dengan Kedudukan Perempuan maupun agama Sikh. Sumber data sekunder sebagai berikut; Joesoef

(17)

Sou‟yb, Asal Mula Agama Besar di Dunia, (Jakarta: Penerbit Pustaka Alhusna, 1996), Siti Nadroh, Agama-Agama Minor, (Ciputat: UIN JAKARTAPRESS: 2013), Mukti Ali, Ed.Romdhon dkk,

Agama-Agama Di Dunia, (Yogyakarta: IAIN SUNAN KALIJAGA PRESS,

1988), Agus Hakim, Perbandingan Agama: Pandangan Islam

Mengenai Kepercayaan Majusi, Shabiah, Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha, Sikh, (Bandung: CV. Diponegoro, 1993).

3. Teknik Pengumpulan Data

a. Teknik Mengolah dan Menganalisis Data 1. Studi kepustakaan (library research)

Suatu penelitian untuk memperoleh data, baik untuk data primer dan data sekunder, yang bersumber dari buku, majalah, artikel, jurnal, dan lain-lain, berdasarkan hasil bacaan, catatan, dan bahan-bahan lainnya yang diolah untuk dikumpulkan. 9

Penulis menggunakan buku-buku pustaka yang terkait dengan permasalahan yang dibahas. Buku-buku tersebut merupakan buku-buku yang mayoritas ditulis langsung oleh kaum Sikh sebagai sumber primer, dan juga buku-buku yang dapat membantu dalam penyelesaian permasalahan yang dibahas,adapun sebagai sumber penulis mengumpulkan data baik dari Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta maupun dari perpustakaan yang lain.

2. Observasi

Observasi adalah salah satu metode utama yang terpenting dalam penelitian sosial keagamaan terutama pada penelitian kualitatif. Observasi merupakan metode pengumpulan data yang paling alamiah dan paling banyak digunakan tidak hanya dalam dunia keilmuan tetapi juga didalam berbagai aktifitas kehidupan.

Observasi bermakna umum yaitu pengamatan atau penglihatan sedangkan secara khusus, dalam dunia penelitian ilmiah, observasi adalah mengamati dan mendengar dalam rangka memahami,

9 Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), cet. I, h. 3.

(18)

mencari jawaban, mencari bukti terhadap fenomena sosial keagamaan baik itu berupa kejadian-kejadian, benda maupun simbol-simbol tertentu selama beberapa waktu tanpa mempengaruhi fenomena yang diobservasi, dengan melakukan kegiatan pencatatan, perekaman pemotretan sebagai hasil temuan data analisis.10

4. Pendekatan Penelitian

Pada penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan historis dan pendekatan feminisme. Pendeketan Historis adalah pendekatan yang paling tua dan dipakai pertama kalinya untuk mempelajari, menyelidiki, dan meneliti agama-agama baik sebelum agama menjadi disiplin yang berdiri sendiri (otonom) atau sesudahnya.11 Sebelum penulis menguraikan tentang kedudukan perempuan dalam agama Sikh, penulis menguraikan terlebih dahulu kedudukan perempuan dari sudut pandang historis.

Pendekatan feminsime adalah pendekatan tentang pola fikir dan perilaku yang dipelajari secara sosial yang membedakan antara maskulinitas dan feminitas.12 Dalam pendekatan ini penulis menyelidiki posisi perempuan baik dalam agama maupun ruang lingkup sosial. 5. Analisis data

Setelah data penelitian terkumpul, maka langakah selanjutnya penulis melakukan analisis data.13Analisis data yang penulis gunakan adalah metode desktiptif analitik, yaitu metode yang dilakukan dengan cara menguraikan sekaligus menganalisis data-data yang menjadi hasil pengkajian dan pendalaman atas bahan-bahan penelitian. Metode deskriptif lebih banyak berkaitan dengan kata-kata, di mana semua data-data hasil penelitian diterjemahkan ke dalam bentuk bahasa, baik lisan

10

Imam Suprayogo, Metodologi Penelitian Sosial Agama (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), h. 162.

11 Media Zainul Bahri, Wajah Studi Agama-agama (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), h. 15.

12 Abdul Karim, Feminisme: Sebuah Model Penelitian Kualitatif (Kudus: SAWWA, 2014), h. 88.

13 Analisis data adalah proses penyusunan data agar data tersebut dapat ditafsirkan.

Lihat H. Dadang Kahmad, Metode Penelitian Agama (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000), h. 102.

(19)

maupun tulisan. Kemudian, data-data yang berbentuk bahasa ini dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian sehingga menghasilkan kesimpulan.14

Dengan mendeskripsikan dan menganalisa, penulis berharap dapat memberikan gambaran secara maksimal atas objek penelitian yang dikaji dan di dalami dalam penelitian ini. Hasil kajian dan penelitian dalam skripsi ini disajikan dalam bentuk narasi.

6. Teknik Penulisan

Penulis dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada prinsip-prinsip yang diatur dan dibukukan dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah(Skripsi, Tesis, dan Disertasi), yang diterbitkan oleh Biro Akademik dan Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2013/2014.

F. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pemahaman isi dari skripsi ini, maka penulis membagi dalam lima bab yang disusun secara sistematis secara berikut: Bab Pertama, mendeskripsikan tentang Pendahuluan, Latar Belakang

Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kajian Pustaka, Metode Penelitian, Sumber, Sistematika Penulisan. Bab Kedua, mendeskripsikan tentang pengertian agama Sikh, sejarah

berdirinya agama Sikh di Indonesia dan sejarah berdirinya agama Sikh di Gurdwara Pasar Baru Jakarta Pusat.

Bab Ketiga, mendeskripsikan tentang kedudukan perempuan dalam upacara keagamaan menurut agama Sikh

Bab Keempat, tentang analisis Kedudukan sosiohistoris posisi wanita dalam Sikh

Bab Kelima, sebagain bab terakhir atau bab penutup yang berisikan tentang kesimpulan dari pokok permasalahan dalam kajian skripsi ini, dan saran-saran yang sifatnya membangun dari penulis.

14Nyoman Kutha Ratna, Metodologi Penelitian: Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora

(20)

10 BAB II

SEJARAH AGAMA SIKH

A. Pengertian Agama Sikh

Kata Sikhisme berasal dari kata Sikh, yang berarti ”murid” atau “pelajar” dan Sikha berarti ”pengikut Sikh”. Ada juga yang mengartikan Sikh sebagai “suatu masyarakat agama di India dan Pakistan” atau suatu sekte keagamaan yang berasal dari penyelewengan terhadap “Bramanis-Hinduisme”. Agama Sikh juga dikatakan sebagai agama sinkretis, karena ia didirikan dengan maksud “memperdamaikan antara Islam dan Hinduisme”.

Agama Sikh itu bermakna agama para Murid, yang dimaksudkan tersebut ialah para Murid dari pembangunan agama Sikh itu. Oleh karena sang Guru itu pada masa belakangan dikultuskan sebagai penjelmaan Tuhan di bumi maka pengertian para Murid itu dimaknakan dengan Murid Tuhan.15

B. Sejarah Berdirinya Agama Sikh

Sikhisme adalah salah satu agama terbesar di dunia. Agama ini berkembang terutamanya pada abad ke-16 dan 17 di India. Agama Sikh didirikan oleh Guru Nanak. Guru Nanak dilahirkan di Punjab, India, pada tahun 1469 M, begitu pula dengan ajarannya Sikhisme berasal dari daerah Punjab India, walaupun mayoritas kaum Sikh lebih dominan di India, namun kini pengikutnya juga dapat ditemukan di berbagai penjuru dunia yang mempunyai komunitas India. Di Asia Tenggara, umat Sikh banyak ditemukan di Malaysia dan Singapura. Umat Sikh dapat dikenali melalui namanya yang banyak di akhiri Singh untuk pria dan Kaur untuk wanita. Sikhisme dipengaruhi pergerakan perubahan dalam agama Hindu (misalnya Bhakti,

Monisme, metafisika Weda, Guru Ideal, dan Bhajan) serta Islam sufi. Agama

ini berangkat dari adat-adat sosial dan struktur dalam agama Hindu dan Islam (contohnya sistem kasta dan Purdah). Filsafat dalam Sikhisme bercirikan

Logika, keseluruhan (bersifat komprehensif), dan pendekatan yang sederhana

terhadap masalah-masalah spiritual maupun material. Teologinya penuh

(21)

kesederhanaan. Dalam etika Sikh, tidak ada konflik antara tugas pribadi terhadap diri sendiri dengan masyarakat.16

Orang-orang Sikh adalah suatu ras yang luar biasa. Jumlah seluruhnya di dunia ini kurang lebih ada 10 juta orang. Segala sesuatu tentang mereka ini pun luar biasa, pakaian mereka, sejarah mereka, dan terutama sekali adalah kelahiran mereka. Sebelum diadakan pemisahan India, kebanyakan orang Sikh hidup di daerah Punjab (daerah yang mempunyai lima sungai), suatu propinsi yang luas, terletak di bagian utara India. Sejak pemisahan India di tahun 1974, lebih dari dua juta orang Sikh harus meninggalkan rumah, kampung halaman dan kekayaan mereka di daerah yang diserahkan kepada Pakistan. Mayoritas orang Sikh sekarang berada di Punjab Timur yang menjadi milik India.17

Agama Sikh bermula di Sultanpur, berhampiran Amritsar di wilayah Punjab, India. Selepas Guru Nanak (1469-1539) meninggal dunia pengganti beliau pun diberi pangkat Guru. Sebanyak sepuluh Guru telah mengambil alih tempat beliau dan secara perlahan-lahan. Rangkaian ini berakhir pada tahun 1708 selepas kematian Gobind Singh yang tidak meninggalkan pengganti manusia tetapi meninggalkan satu himpunan skrip suci yang dipanggil Adi Granth. Skrip ini kemudian diberi nama Guru Granth Sahib. Gobind Singh juga telah menumbuhkan sebuah persatuan “persaudaraan Khalsa Sikh” dan memulakan pemakaian seragam untuk lelaki Sikh yang taat kepada agamanya yang diberi gelaran “Lima K” yaitu: Kesh (rambut dipotong; mana semua Gurus disimpan), Kangha (sikat; untuk menjaga rambut yang bersih), Kada (gelang logam atau keluli; untuk kekuatan dan selfrestrain), Kirpan (senjata; untuk pertahan diri), Kacca(lutut panjang khas luar dalam untuk ketangkasan), setiap Sikh sepatutnya untuk menjaga Lima „K yang juga bertindak sebagai identitinya.

Agama Sikh lahir dan mulai berkembang bersamaan waktunya dengan kelahiran agama Protestan di Eropa, yaitu di akhir abad ke- 19 M.

16

I Dewa Putu Sedana, Sikhisme Bukan Perpaduan Agama Hindu dan Islam (Denpasar: Universitas Udayana Press, 2013), h.68.

17 Siti Nadroh dan Syaiful Azmi, Agama-Agama Minor (Tangerang selatan: UIN Jakarta Press, 2015), h. 201.

(22)

Guru Nanak sendiri hanya 14 tahun lebih tua daripada Martin Luther, pendiri agama Protestan itu. Motivasi kelahirannya juga senada dengan kelahiran protestan. Kalau Protestan lahir sebagai reaksi terhadap eksistensi dan kekuasaan Gereja Katolik Roma di daratan Eropa, maka agama Sikh lahir sebagai reaksi terhadap agama Brahma atau Hinduisme.18

Agama Sikh semenjak kelahirannya sekitar lima abad yang lalu, lalu sampai sekarang masih tetap menarik perhatian para peminat penelitian agama. Hal ini bukan saja karena keunikan tokoh pendirinya, perjalanan sejarah perkembangannya, dan seluk-beluk hubungannya dengan agama lain, tetapi juga karena pertistiwa-peristiwa sejarah, baik yang bersifat keagamaan maupun politik, yang langsung diperankannya.19

C. Ajaran Agama Sikh

Dalam konsep keagamaan penganut Sikh terdapat berbagai konsep yang mereka dikuti dan berpegang pada konsep tersebut. Agama Sikh adalah agama yang tidak terhad kepada bangsa Punjabi saja tetapi terbuka luas kepada bangsa-bangsa lain atau kaum-kaum yang lain. Jika seseorang itu ingin memeluk agama Sikh, harus melalui satu upacara yang disebut upacara masuk agama yaitu Amrit Sanskar. Selain itu, mereka perlu meminum air „Amrit‟. Air „Amrit‟ ini adalah dianggap sebagai tanda sebelum seseorang itu memeluk masuk agama Sikh. Agama Sikh menyamakan Tuhan dengan „kebenaran‟ atau „sach‟ dan berpegang kuat kepada kitab suci yaitu „Granth Sahib‟ yang juga dikenali sebagai „Bani‟. Kepercayaan asas Sikhisme adalah yang terdapat didalam „Japji‟ atau dikenal sebagai „mool mantra‟. Agama Sikh menerima teori „Karma‟ sama seperti agama-agama yang mempercayai teori tersebut. Teori karma adalah satu kepercayaan dimana apabila sesorang itu membuat salah atau benar maka akan dibalas mengikut perbuatan yang dilakukan. Penganut agama Sikh ini menafikan pemujaan sungai dan dewa. Hal ini kerana penganut Punjabi ini mempercayai pada kitab-kitab mereka. „Gurdawara‟ merupakan sebagai simbol suci Sikh. Upacara beribadat untuk

18 Joesoef Sou‟yb, Agama-Agama Besar Di Dunia( Jakarta: Al-Husna, 1966), h. 171. 19 Romdhon dkk, “Agama Sikh” dalam Mukti Ali, Ed., Agama-Agama Di Dunia (Yogyakarta: IAIN SUNAN KALIJAGA PRESS, 1988), h.183-185.

(23)

kaum sikh ini dilakukan pada setiap hari Ahad yaitu sekitar pukul 6.30 pagi dan 6.00 petang hingga 7.00 petang di Temple yang berdekatan dan wajib dilakukan oleh semua penganut Sikh.20

Agama Sikh menanamkan kepercayaan terhadap kesatuan dan kemahakuasaan Tuhan serta menyamakan Tuhan dengan kebenaran. Para Guru Sikh berkeyakinan bahwa manusia dapat memperoleh kebahagiaan kekal tanpa harus mengabaikan tugas-tugas hariannya. Ajaran-ajaran para Guru Sikh dilestarikan dalam buku suci Granth Sahib sesuai dengan aslinya. Dalam himne-himne para Guru ini, Nirvan, atau kekhusyukan terhadap Tuhan dijadikan tujuan tertinggi dari hasil aktivitas manusia dan orang-orang yang diberkati mendapatkannya di firdaus yang disebut Sach Kand. Di firdaus itu saling mengenal dan menikmati kebahagiaan kekal. Penyatuan kembali dengan yang absolut merupakan tujuan tertinggi dari seluruh ketaatan dan cita-cita kaum Sikh.21

Guru Nanak menyatakan bahwa tanpa selalu mengingat nama Tuhan (Simiran), maka semua amal, penebusan dosa, ziarah, dan upacara keagamaan lainnya akan sia-sia. Melalui semadi dan ibadah kepada Tuhan Doa Guru yang tulus akan terkabul. Manusia yang sungguh-sungguh patuh kepada kehendak Tuhan akan memperoleh kuasa Illahi dan rahmat Tuhan. Tujuan hidup manusia adalah mengabdi kepada Tuhan dan penyatuan kembali dengan Tuhan merupakan ajaran pokok keyakinan kaum Sikh. Penyatuan kembali dengan Tuhan itu sekaligus juga merupakan tujuan tertinggi ketaatan kaum Sikh.

Adapun demikian yang termasuk kedalam konsep-konsep dari agama Sikh, yaitu :

a. Konsep Ketuhanan

Berkaitan dengan konsep ketuhanan, definisi terbaik yang dapat diberikan oleh orang-orang Sikh adalah konsep „mool mantra‟. Konsep ini menjadi landasan fundamental agama Sikh yang termuat di dalam bagian permulaan kitab Sri Guru Granth Shahib yang berbunyi “hanya

20 Eleanor Nesbitt, A Guide to Sikhism (Oxford University Press, 2005), h. 23-25.

21 Tan Sri Dato seri darshan singh gill, Sikh community in Malaysia (Malaysia: Geraksikh, 2009), h. 76-78.

(24)

ada Tuhan Yang Esa”. Dalam agama Sikh Tuhan itu disebut Dadru, „Sang Pencipta‟ atau „Dia yang terbebas dari rasa takut dan rasa kebencian‟, „Dia yang kekal‟ dan „Dia yang tidak dilahirkan‟. Agama Sikh secara tegas menyatakan diri sebagai agama monotheisme dan Tuhan Yang Maha Kuasa yang tidak tampak wujudnya itu disebut ‟EkOmkara‟, sedangkan Tuhan yang tampak wujudnya disebut „Omkara‟.22

Dalam kitab Granth Shahib terdapat banyak nama untuk menjelaskan sifat Tuhan misalnya „EkOmkara‟ ataru disebut „Kartar‟ (sang pencipta), „Akal‟ (yang abadi), „Satyanama‟ (yang maha suci), „Shahib‟ (Tuhan), „Parvardigar‟ (sang pemelihara), „Rahim‟ (sang pengasih), „karim‟ (yang mulia). Tuhan Yang Maha Esa disebut dengan „Wahe Guru‟ yang berarti satu Tuhan. Agama Sikh menentang konsep „Avtarvada‟, yaitu konsep titisan (Inkarnasi) Tuhan, Tuhan tidak bisa mengambil wujud seperti manusia, seperti bagaimana orang Kristen menyebut Yesus sebagai titisan Allah (berkinosis). Mereka tidak percaya bahwa Tuhan berkinosis dan melarang penyembahan berhala. Seperti yang dipaparkan oleh Baldev Singh, „Setiap orang akan ingat kepada Tuhannya tatkala ia dalam lilian masalah, tetapi lupa mengingatnya dalam keadaan senang dan bahagia. Seseorang yang selalu mengingat Tuhan tatkala berada dalam keadaan senang dan bahagia, bagaimana mungkin ia akan jatuh keadalam masalah‟.23

b. Konsep Kemanusiaan

Bagi kaum laki-laki Sikh, diharamkan merokok, dan kebanyakan memakai sorban. Umat Sikh paling pantang makan makanan yang bernyawa, mereka hanya memakan sayur dan buah-buahan (vegetarian). Guru Nanak mengajarkan bahwa seluruh umat manusia adalah satu serta meletakan dasar bagi pengangkatan martabat manusia di kalangan masyarakat Hindu bukan atas dasar kasta, akan tetapi atas dasar kodrat

22

Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh (Jakarta: Yayasan Gurdwara Mission, 1988), h. 51-53

23 Wawancara Pribadi dengan Bapak Baldev Singh, Pada tanggal, 2 Maret 2018, di Gurdwara, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

(25)

dan kecenderungan manusia itu sendiri. Derajat seseorang ditentukan oleh amal kebajikannya. Manusia harus hidup dengan mengutamakan kesempurnaan moral, karena nilai manusia terletak pada tinggi rendahnya moral. Di agama Sikh dalam pernikahan tidak diperbolehkan untuk bercerai dan tidak diperbolehkan poligami.

Agama Sikh mengajarkan kepada umatnya untuk menjauhkan dirinya dari lima hal yang bisa disebut juga dengan setan bagi mereka, namun sesunggguhnya mereka tidak mempercayai akan adanya makhluk ghaib. Lima hal yang harus mereka jauhi ialah:

1. Krad (murka) 2. Lob (serakah) 3. Kam (nafsu) 4. Moh (bodoh)

5. Ahawar (ego yang berlebihan)24

c. Konsep Eskatologi (kehidupan setelah mati)

Kepercayaan agama Sikh akan kehidupan setelah mati hampir sama dengan agama Islam. Adapun perbedaan yang mendasar di dalam ajaran agama Sikh dengan agama Islam adalah tidak adanya kepercayaan di tentang konsep surga-neraka dan hari akhir, akan tetapi mereka masih mempercayai nirwana atau bersatunya dengan Tuhan yang diajarkan oleh agama Hindu Brahmana.25

24

Nuhrison M Nuh dkk, “Eksistensi Agama Sikh di Jabodetabek” dalam Kustini, Ed.,Baha’i, Sikh dan Tao: Penguatan Identitas dan Perjuangan Hak-hak Sipil (Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kementrian Agama RI, 2015), h. 215.

(26)

16 BAB III

KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM AGAMA SIKH

A. Kondisi Sosio Historis Perempuan Pra- Sikh

Agama Hindu dan Islam lahir jauh sebelum adanya agama Sikh. Pada abad ke-15 kondisi perempuan pada saat itu sangat memprihatinkan, tertindas dan tidak mendapatkan keadilan. Harkat dan martabat kaum perempuan sama sekali tidak dihargai. Perempuan memegang posisi istri, ibu, petani, artisan, dan biarawati, serta beberapa peran kepemimpinan penting seperti abbes atau wali ratu.

Perempuan dalam pandangan agama Hindu memiliki peranan yang tidak terpisahkan dengan kaum pria dalam kehidupan masyarakat. Sejak awal peradaban agama Hindu yaitu pada zaman Veda perempuan memegang peranan penting dalam kehidupan. Ditinjau dari konsepsi ajaran agama Hindu dalam SiwaTattwa yang mengatakan adanya kehidupan makhluk terutama manusia karena perpaduan antara unsure suklanita dan swanita. Tanpa

swanita tak mungkin ada dunia yang harmonis.

Namun dibalik itu semua agama Hindu memiliki pandangan buruk tentang perempuan, dimana perempuan dianggap sebagai orang yang hilang kehormatan, perempuan juga selalu dianggap memikirkan syahwat, suka marah, bersikap palsu dan tidak jujur. Oleh karena itu, dalam agama Hindu perempuan harus dijauhi. Ketika perempuan menjadi seorang istri kemudian suaminya meninggal maka harus dibakar hidup-hidup. Hal tersebut karena dianggap tabiat perempuan adalah selalu menggoda laki-laki. Seorang perempuan Hindu diizinkan berbuat serong, kumpul kebo, kalau suaminya merantau lebih dari enam bulan. Bahkan jika suaminya tidak mampu memberi keturunan, seorang istri boleh bersatu badan dengan laki-laki lain yang dapat memberi keturunan.

Saat seorang istri yang baru melahirkan menyediakan makanan maka tidak boleh dimakan oleh suaminya karena dianggap najis. Di India, pada waktu penduduk negeri itu berjumlah kurang lebih 70.000 jiwa, sedikitnya 3000 bayi perempuan yang baru lahir dibenamkan dalam tanah.

(27)

Fakta sejarah menunjukan bahwa secara umum kondisi perempuan pada pra-Sikh adalah suram. Pada masa itu perempuan yang mempunyai jasa melahirkan manusia di dunia ini dihina, diperlakukan kasar dan direndahkan martabatnya. Kadang kala mereka dipaksa untuk mengabdi kepada suaminya dan diperlakukan seenaknya, bahkan sering kali keberadaan mereka tidak diakui sebagaimana mestinya, sehingga mereka tidak mempunyai hak dan kedudukan apapun dalam masyarakat.

Perempuan pada masa itu tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan kepribadian dan menggunakan kemampuannya secara penuh bagi kemaslahatan manusia. Bahkan hak kewarisan dan kepemilikan yang dimiliki perempuanpun tidak diakui adanya. Kondisi tersebut juga terjadi di Jazirah Arab sebelum agama Islam datang.26

Sejak akhir abad ke -18 hingga milenium ketiga ini, feminisme terus digelorakan untuk memperjuangkan kesetaraan dan keadilan hak kaum perempuan dengan laki-laki. Tidak salah memang, karena faktanya diskriminasi terhadap perempuan masih terjadi dalam berbagai bidang. Ideologi patriarki kerap dianggap sebagai kambing hitamnya, meskipun permpuan memang memiliki kekhasan yang secara kodrati tidak mungkin dipersamakan dengan laki-laki. Sebatas untuk melawan ketidakadilan dan diskriminasi atas perempuan yang membuat perempuan marjinal dan teraniaya, feminisme dapat diterima. Di luar itu, feminisme ala Barat perlu disaring kembali karena tidak seluruhnya sejalan dengan pemikiran, pandangan hidup, dan budaya masyarakat Timur.27

Terlebih diluar sana banyak yang beranggapan bahwa perempuan dipandang rendah derajat kemanusiaannya dibandingkan laki-laki. Namun para Guru menepis semua persepsi yang terkait tentang pemaknaan perempuan bahwa derajat kemanusiaannya lebih rendah dari laki-laki, sebab seorang perempuan mempunyai tanggung jawab yang sama dengan laki-laki

26

Ulia Kencana, Wanita Dalam Pandangan Agama Dan Bangsa, An nisa‟a Vol 7 No.2: 2012 http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/annisa/article/download/844/717 artikel diakses pada Tanggal 22 Juli 2020.

(28)

dalam kedudukannya sebagai Hamba, yakni sama sama mempunyai kewajiban untuk mengabdikan diri kepada Tuhan.

Dalam Sikh, baik sebagai nama ataupun pemikiran feminisme sesungguhnya bukan hal yang baru. Teks suci Sikh telah memaparkan pemikiran tentang kemuliaan perempuan dan kesetaraannya dengan laki-laki. Seperti yang dipaparkan Ghoul Rajj, “laki-laki dan perempuan sama karena kewajibanpun sama, jadi siapa kita untuk membedakan satu sama lain”. Dari apa yang dipaparkan Ghoul Rajj tersebut kita sudah sedikit mengerti bahwa Sikh meniadakan kasta dalam konsep gender.28

Agama Sikh telah menegaskan bahwa perempuan memiliki derajat yang sama dengan laki-laki hanya saja cara memuliakannnya yang berbeda. Sikh memiliki asumsi bahwasanya perempuan akan berposisi lemah dalam budaya patriarki, ketika dia tidak memiliki keunggulan yang bisa menaikan daya tawar dirinya dalam berbagai ranah sosial. Atas dasar itulah feminisme Sikh dapat dimaknai sebagai gerakan pemberdayaan perempuan sehingga memiliki keunggulan diri yang dapat memosisikan dirinya sejajar dengan laki-laki. 29

Konsep penciptaan perempuan merupakan hal yang sangat mendasar untuk dibahas. Berangkat dari hal ini, maka dapat ditarik benang merah konsep kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Granth Shahib tidak menyebutkan secara rinci tentang asal-usul penciptaan perempuan tetapi Granth Shahib menolak berbagai persepsi yang membeda-bedakan diantara keduanya.

Prinsip pokok dalam ajaran agama Sikh tentang hakikat penciptaan perempuan adalah persamaan antar manusia. Perbedaan yang patut digarisbawahi dan yang kemudian meninggikan atau merendahkan seseorang di mata Tuhannya hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ajaran agama Sikh tidak membataskan perempuan untuk bebas bergerak dalam menjadi bagian dari sebuah masyarakat. Sebab kaum perempuanpun

28

Nyoman S Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh (Jakarta: Yayasan Sikh Gurdwara Mission: 1988), h. 76-81.

29 Agus Hakim, Perbandingan Agama: Pandangan Islam Mengenai Kepercayaan Majusi,

(29)

memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan serta kondisi sosialnya. Posisi tersebut menuntut peranan seorang perempuan, tidak hanya dalam privat tetapi juga kehidupan politik. Hal tersebut saling mengakomodasi dalam menjalankan tanggung jawab. Selain perempuan harus cakap dalam mengambil langkah-langkah praktis yang dibutuhkan dalam menghadapi perubahan di tengah-tengah masyarakat, perempuan juga dibutuhkan dalam kiprahnya untuk berdakwah di tengah masyarakat. 30

B. Perempuan Dalam Teks Suci Sikh (Grand Sahib dan Para Guru Sikh) Pada dasarnya Guru Nanak menekankan bahwa seluruh umat manusia adalah satu dan ia sangat menentang ajaran tentang kasta. Sebab, manusia harus hidup dengan mengutamakan kesempurnaan moral karena nilai manusia terletak pada tinggi rendahnya moral itu. Guru Nanak mengajarkan bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, dan tidak abadi. Yang kekal abadi hanya Tuhan, karena Tuhan adalah realitas mutlak. Dengan kodrat dan iradat Tuhan seluruh alam ini terjadi, dan melalui hukum Tuhan alam ini menjalani kehidupannya. Tidak ada sesuatu yang bisa berjalan di luar kehendak dari hukum Tuhan.

Dalam ajaran Sikh perempuan sangat dimuliakan dan dijaga kehormatannya. Sikh mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan agar keduanya dapat menjalani kehidupan yang harmonis. Sikh memandang bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi antara satu dengan yang lain bukan untuk dibandingkan dari keduanya mana yang lebih utama. Karena yang lebih utama adalah yang lebih bertaqwa dari keduanya. Hal ini menunjukan adanya prinsip keadilan antara laki-laki dan perempuan.31

Guru Nanak mengajarkan perempuan untuk lebih di hargai dan di muliakan, bukan karena derajat perempuan lebih tinggi dari laki-laki, tetapi keistimewaan yang dimiliki perempuanlah harus lebih dimuliakan. Sebab, perempuan diberi tanggung jawab sedikit lebih dari laki-laki, sebagai contoh Tuhan menciptakan dengan bentuk tubuh yang berbeda, pastinya beda pula

30 Khustwant Singh, A History Of The Sikh (Oxford University Press, 2004), h. 86-90. 31 Wawancara Pribadi dengan Bapak Ghoul Raj pada tanggal 23 Mei 2018, di Gurdwara, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

(30)

peran dan tugas dari keduanya dalam menjalani kehidupan. Maka, akan menjadi ketidak adilan jika peran dan tugas yang mereka emban adalah sama. Misalnya, Sikh membebankan memberi nafkah kepada laki-laki bukan perempuan. Akan tetapi sebaliknya, Sikh membebankan pengasuhan anak, mengurus rumah tangga dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya adalah kewajiban perempuan bukan laki-laki. Inilah aturan yang mengatur dua jenis manusia dengan kadar masing-masing. Hal tersebutlah yang menunjukan bahwa perempuan harus lebih dimuliakan karena tanggung jawab perempuan tidak bisa dianggap remeh atau sebelah mata, karena tugas ini sangat penting dalam menentukan bentuk kepribadian yang baik. Kepribaian yang luhur itu ditentukan oleh generasi dan kehidupan keluarga. Beginilah, Sikh memuliakan perempuan dengan tugas pokoknya.32

ayat dalam Granth Sahib yang bertutur tentang perempuan telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris. Di antara ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

“Of Woman are we born, of woman conceived. To Woman engaged, to woman married. Woman we be a friend, by woman is the civilization continued. When woman dies, woman is sought for: It is by woman that order is maintained. Then why call her evil. From whom great men are born, from woman is woman born. And without woman none would exist. The enternal lord is the only one, o Nanak Who Depeds not on woman.” (Guru anak Dev, Var Asa, pg. 473).

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

“Dari perempuan kita dilahirkan, dalam perempuan kita dikandung; Dengan perempuan kita terikat, dengannya kita menikah; Perempuan menjadi sahabat kita, melalui perempuan peradaban berlanjut; Ketika perempuan meninggal, dia dirindukan: Melalui perempuan hukum dijaga. Lalu mengapa kita menyebutnya si jahat? Dari padanya orang-orang besar dilahirkan; dari perempuan, perempuan lahir. Dan tanpa perempuan, tak seorangpun ada. Tuhan yang abadi hanya satu, Ya Nanak Yang tidak tergantung perempuan.”

Prinsip penghormatan terhadap perempuan juga diwujudkan Sikh ketika merespon tradisi-tradisi lokal yang sangat mendiskreditkan perempuan. Tradisi yang berlaku di India pada masa itu yang mengharuskan seorang istri membakar dirinya manakala suaminya meninggal. Sikh sangat mengutuk tradisi yang kejam ini.

Disebutkan dalam sebuah ayat: “They cannot be called satis, who burn the selves with their dead husbands. They can onlt be called satis, if they bear the shock of separation. They may also be known as satis, who live character and contentment and always show veneration to their husbands by remembering them.”

“Mereka tidak dapat disebut satis, yang membakar diri mereka bersama dengan suami-suami mereka yang sudah mati. Mereka hanya dapat disebut

(31)

satis, jika mereka menanggung beban perpisahan. Mereka juga boleh dianggap satis, yang tinggal dengan katakter dan rasa cukup dan selalu memperlihatkan rasa hormat kepada suami-suami mereka dengan mengenang mereka.” (Guru Amar Das, Var Suhi, pg. 787).

C. Cita Perempuan Dalam Tradisi Sikh dan Isu-Isu Gender dalam Komunitas Sikh

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Feninisme adalah gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki, sedangkan Feminis berarti orang yang menganut paham feminisme.33

Istilah konsep feminisme diketengahkan oleh para ilmuwan sosial untuk menjelaskan perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan dan merupakan sebuah tuntunan budaya yang dikontruksikan, dipelajari dan disosialisasikan.

Pembedaan itu sangat penting, karena selama ini sering kali mencampur-adukan ciri manusia yang bersifat kodrati dan tidak berubah dengan ciri-ciri manusia yang bersifat non kodrat (Gender) yang sebenarnya bisa berubah-ubah atau diubah.

Pembedaan peran gender ini membantu untuk memikirkan kembali tentang pembagian peran yang selama ini dianggap telah melekat pada perempuan dan laki-laki. Perbedaan gender dikenal sebagai sesuatu yang tidak tetap, tidak permanen, memudahkan kita untuk membangun gambaran tentang realitas relasi perempuan dan laki-laki yang dinamis yang lebih tepat dan cocok dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat.34

Di lain pihak, alat analisis sosial yang telah ada seperti analisis kelas, analisis diskursus (discourse analysis) dan analisis kebudayaan yang selama ini digunakan untuk memahami realitas sosial tidak dapat menangkap realitas adanya relasi kekuasaan yang didasarkan pada relasi gender dan sangat berpotensi menumbuhkan penindasan. Dengan begitu analisis gender sebenarnya menggenapi sekaligus mengoreksi alat analis sosial yang ada dan

33

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/feminis artikel diakses pada Tanggal 25 Juli 2020.

34 Sushil Mittal And Gene Thursby, Religions of South Asia, (New York: First Published, 2006), h. 91-92.

(32)

yang dapat digunakan untuk meneropong realitas relasi sosial laki-laki dan perempuan serta akibat-akibat yang ditimbulkannya.

Perbedaan konsep gender secara sosial telah melahirkan perbedaan peran perempuan dan laki- laki dalam masyarakat. Secara umum adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi dan bahkan ruang tempat dimana manusia beraktifitas. Sedemikian rupanya perbedaan gender itu melekat pada cara pandang masyarakat, sehingga masyarakat sering lupa seakan-akan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadi sebagaimana permanen dan abadinya ciri-ciri biologis yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki.

Seperti yang dijelaskan dalam Granth sahib bahwa laki-laki dan perempuan itu sama tidak ada bedanya hanya saja perempuan harus lebih dimuliakan karena perempuan memiliki tanggung jawab sedikit lebih berat dibanding laki-laki. Bapak Ghoul Rajj pun memantapkan konsep feminis dalam ajaran Sikh, pada pembukaan ayat Granth Sahib dijelaskan “mulai dari

Allah, Cahaya di upaya. Kodrat dan manusia Dia yang ciptakan. Kita tidak punya hak untuk menghakimi (membanding-bandingkan) satu sama lain”.

Maksud dari kutipan ayat tersebut ialah, sesama ciptaan Tuhan alangkah baiknya kita saling menghargai, menghormati dan menjaga hubungan baik. Granth Sahib menekankan dari apa yang Tuhan berikan apapun wujudnya kita harus tetap mensyukuri dan menganggap itu sebagai nikmat dari-Nya.35

Dalam Sikh, hal pertama yang harus disadari kaum Sikh adalah eksistensinya dan siapa dirinya. Dan untuk mengenal diri serta dari mana asalnya, maka Sikh berinteraksi dengan melalui keyakinan dan ketetapannya. Ketetapan Sikh tidak lain hanya akan diperoleh dalam Guru Granth Sahib. Dengan demikian, manusia akan lebih mengenal eksistensinya di balik semua ilmu, moral dan amal yang dilakukan. Sedikit banyaknya Granth Sahib sendiri membahas masalah laki-laki dan perempuan. Dari hubungan antara satu dengan yang lain, keserasian serta perbedaan mendasar antara keduanya, baik dalam hal yang berkaitan dengan hak maupun kewajiban masing-masing.

35 I Dewa Putu Sedana, Sikhisme Bukan Perpaduan Agama Hindu dan Islam (Denpasar: Universitas Udayana Press, 2013), h.73-75.

(33)

Guru Granth Sahib sebagai kitab suci yang merupakan petunjuk bagi kaum Sikh, senantiasa menempatkan manusia sesuai dengan porsinya. Manusia sebagai makhluk yang sama dihadapan Tuhan, namun berbeda beberapa hal, yang mana perbedaan tersebut merupakan bukti keserasian antara keduanya. Hal ini bisa dilihat dari kutipan ayat diatas yang menjelaskan posisi kesetaraan khususnya dihadapan Tuhan. Namun kesetaraan tersebut bukan sebagai bukti mereka adalah makhluk yang sama dalam segala hal, seperti yang banyak disuarakan para feminis. Contoh kesetaraan dalam Sikh yang di paparkan oleh bapak Ghoul Rajj adalah bagaimana antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang lebih diutamakan antara keduanya, dalam kebebasan, kewajiban dan hak. Hanya saja, Sikh lebih memuliakan perempuan dikarenakan tanggung jawabnya yang lebih sedikit lebih berat dari laki-laki.

Granth Sahib juga menegaskan bahwa, sistem relasi antara laki-laki dan perempuan dimasyarakat sesuai dengan norma ajaran agama Sikh. Ketimpangan gender yang sering dianggap sebagai permasalahan sebenarnya telah selesai. Maka dari itu Sikhlah yang mengangkat kaum perempuan sesuai dengan fungsi serta perannya.36

(34)

24 BAB IV

Kedudukan Perempuan dalam Upacara Keagamaan Sikh

A. Upacara Keagamaan dalam Agama Sikh

Apa yang membedakan suatu praksis historis kesetaraan yang sekuler dengan yang relijius adalah, bahwa yang terakhir berlandaskan pada teks-teks suci, wahyu, yang diimani; sementara praksis kesetaraan sekuler didasarkan pada sumber selain wahyu; pada poin ini, pembedaan bahwa watak praksis historis kesetaraan itu rasional sementara yang relijius irasional perlu dikoreksi, wahyu dapat dikatakan memiliki sumber ilham yang non-rasional, tetapi dalam praktiknya, ia memiliki logika yang tidak kurang rasional dan historis. Dalam kasus Sikh, pendapat ini secara positif dapat diafirmasi. Gagasan kesetaraan Sikh berdasarkan pada suatu teks sakral (Guru Granth Sahib) dan dalam praktiknya berwatak historis karena menjawab suatu permasalahan sosial konkret yang terjadi di masyarakat, yaitu sistem kasta secara khusus.

Maka, untuk mengawali suatu gambaran sekaligus analisis sosial dari Sikh, alangkah baiknya merujuk kepada teks-teks sakral dan bukti historis yang dapat mengafirmasi prinsip ini. Guru Nanak menyampaikan:

"Kita terlahir dari wanita, kita tumbuh dalam rahim wanita. kita ditunangkan dan dinikahkan dengan wanita. Kita berteman dengan wanita dan garis keturunani ini berlanjut karena wanita. Ketika seorang wanita meninggal, kita menikahi wanita lainnya, faktanya kita terikat dengan dunia melalui wanita. Mengapa kita harus meremehkannya, ia yang melahirkan raja-raja? Wanita lahir dari wanita; tidak ada apa-apa tanpanya. Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang ada tanpa wanita."37 Bai Ghurdas, sang penyair dari periode awal Sikh, berkata:

"Seorang wanita, di rumahnya begitu dicintai oleh ayah dan ibunya. Di rumah mertuanya, ia adalah tiang dari keluarga, penjamin keberuntungannya... sama-sama memiliki kebijaksanaan dan pencerahan spiritual, serta sifat-sifat mulianya, sang wanita, belahan jiwa sang pria, mengantarkannya menuju pintu kebebasan."38

37 Jaspreet Kaur. Position of Women In Sikhism. KAAV International Journal of Arts, Humanities & Social Science, Jan-Mar 2017, Vol. 4. h. 46

(35)

Keduanya menyatakan posisi mereka berhadapan dengan situasi abad pertengahan di India, di mana sistem kasta benar-benar menempatkan wanita pada posisi yang rendah. Prinsip kesetaraan Sikh tidak hanya berlaku bagi lelaki, tetapi juga bagi wanita. Perkembangan dari suatu masyarakat dapat dilihat dari bagaimana posisi wanita dilihat secara sosio-relijius di dalamnya; artinya, suatu agama yang meyakini kesetaraan mengharuskan suatu penempatan posisi yang jelas dan tegas, bahwa wanita tidak berada di bawah laki-laki, keduanya sama-sama merupakan manusia yang memiliki hak dan kewajiban yang saling melengkapi di masyarakat. Dalam perkara dunia maupun perkara akhirat, wanita dan laki-laki memiliki posisi yang sama-sama penting. Meskipun begitu, tidak selalu suatu teks suci dari suatu agama yang mendukung kesetaraan secara relijius, terlaksana dalam praktiknya.39 Dengan memahami hal ini, kita dapat melihat betapa Sikh merupakan suatu agama yang mendukung kesetaraan. Maka pertama-tama, mari kita melihat lebih lanjut bagaimana Sikh secara relijius menempatkan posisi wanita, setelah itu, fakta historis umum mengenai prinsip ini diteliti.

Dalam kutipan pertama, Guru Nanak menyampaikan suatu fakta yang umum diketahui oleh kita. Peran wanita sebagai ibu, istri, sebagai “pencipta kehidupan”, dan hanya Tuhan-lah yang tidak memerlukan wanita untuk ada. Pada poin bahwa wanita adalah ibu dan istri, tidak ada yang dapat menolak, ini merupakan fakta biologis, tapi dengan menyatakan kalimat selanjutnya, bahwa hanya Tuhan yang tidak bergantung kepada wanita, Guru Nanak telah menyematkan posisi relijio-filosofis yang begitu penting. Wanita adalah sumber dari eksistensi; pernyataan ini secara implisit memiliki suatu konsekuensi sosial: salah besar jika eksistensi wanita, keberadaannya, dinomorduakan dalam masyarakat; sebagaimana terjadi, bahkan hingga hari ini. Posisinya secara sosial harus pula diturunkan dari posisi relijio-filosofisnya. Dalam kutipan kedua, wanita dalam Sikh dipandang memiliki signifikansi relijius yang sama sebagaimana laki-laki. Hal ini harus dilihat dari fakta historis kasus kerahiban, misalnya, di mana wanita dipandang sebagai penghalang jalan spiritual laki-laki mencapai kebenaran ilahiah. Sikh

39 Dharmjit Singh, Status of Woman in the Medieval Sikh Society and Guru Nanak. International Journal of Research in Social Sciences. Vol. 8 Issue 6, Juni 2018. h. 726

(36)

menganggap bahwa wanita bukanlah penghalang menuju kebenaran spiritual, ia sama-sama merupakan hamba Tuhan yang juga dikaruniai kesucian dan pencerahan spiritual. Para guru tidak membedakan antara jenis kelamin dalam perkara sangat, sewa, pangat dan yang paling penting, proses inisiasi Sikh.40

Argumen yang paling sering diajukan di masyarakat adalah bahwa wanita ada di kelas yang lebih rendah; mereka dianggap kurang cerdas, plin-plan, kurang kreatif, berbadan lemah, dan cenderung emosional.41 Posisi ini dilanggengkan dari berabad-abad lalu, mulai dari Sokrates hingga agama-agama besar seperti Hindu, Islam, Kristen, Yahudi. Sikh membedakan diri dalam hal ini, dalam keyakinan bahwa wanita bukanlah godaan menuju jalan spiritual; kita dapat melihat bagaimana para biksu, para pastur, dan para zahid melihat bahwa wanita adalah godaan duniawi, yang menghalangi mereka menuju kebenaran. Ini merupakan praktik historis dari institusi agama-agama tersebut, dari sanalah kita dapat melihat apakah suatu agama benar-benar mendukung kesetaraan secara penuh atau hanya sebagian saja.

Sikh menolak anggapan bahwa wanita itu lemah dan rendah, bahkan, para Guru memberi nama “singhni” bagi para wanita yang secara fisik dan mental lemah, kata ini bermakna “ke-singa-an”.42 Artinya, untuk menilai posisi seorang wanita, tolok ukurnya bukan hanya badan dan mentalnya semata. Untuk memperkuat poin ini, kita dapat merujuk kepada fakta bahwa Guru Nanak dan Guru Arjun Dev menulis suatu tulisan bernama "Baramaha" yang di dalamnya mereka menggambarkan rasa sakit dan penderitaan dari hati ketika menjadi seorang wanita,43 hal ini menunjukkan bahwa secara psikologis-spiritual, beban yang ditanggung oleh seorang wanita begitu besar, sehingga, konsekuensinya, wanita adalah makhluk yang begitu kuat.

Untuk merangkum pendapat dalam bagian ini, kita dapat menegaskan bahwa Sikh meyakini prinsip kesetaraan semua manusia, baik laki-laki dan wanita dalam prinsip teologis-spiritual mereka; pertama, Sikh menempatkan

40 Jaspreet Kau, Position of Women In Sikhism. KAAV International Journal of Arts, Humanities & Social Science, Jan-Mar 2017, Vol. 4. h. 46

41 Dharmjit Singh, Status of Woman in the Medieval Sikh Society and Guru Nanak. International Journal of Research in Social Sciences. Vol. 8 Issue 6, Juni 2018. h. 727

42 Jaspreet Kau, Position of Women In Sikhism. KAAV International Journal of Arts, Humanities & Social Science, Jan-Mar 2017, Vol. 4.h. 47

(37)

secara filosofis-spiritual bahwa hanya Tuhan yang tidak membutuhkan wanita, ini artinya signifikansi dari keberadaan wanita begitu penting; kedua, secara spiritual, wanita tidak dinomorduakan, tidak seperti praktik institusi agama secara umum yang menganggap wanita sebagai godaan menuju jalan spiritual, Sikh menganggap bahwa wanita dan laki-laki sama-sama merupakan agen spiritual yang setara; hal ini akan terbukti jelas ketika kita merujuk praktik-praktik yang menomorduakan wanita dalam institusi agama, seperti anjuran untuk menjadi petapa dan berselibat, penggunaan cadar, dan konsepsi patriarkal lain atas wanita; ketiga, Sikh mendefinisikan kekuatan dan kelemahan tidak dalam konsepsi umumnya, yang biasanya berujung pada pandangan bahwa perempuan lebih lemah dan rendah dibandingkan dengan laki-laki. Poin-poin filosofis-spiritual ini akan lebih jelas jika kita melihat bagaimana Sikh secara sosio-historis menempatkan wanita dalam praksisnya. B. Kedudukan dan Peran Perempuan Dalam Ritual Keagamaan dan

Kehidupan Sosial Keagamaan

Sebelum berbicara mengenai penerapan prinsip kesetaraan sosial bagi wanita dalam Sikh, sekilas kita akan membahas mengenai posisi Sikh secara umum perihal kesetaraan. Sikh memiliki tiga tujuan sosial utama: untuk membangun suatu masyarakat setara, untuk menjadikan masyarakat yang setara ini sebagai dasar perlawanan atas penindasan relijius dan politis, dan merengkuh kekuasaan politis melalui Khalsa. Ketiganya merupakan bagian utama dari prinsip Sikh bahwa ketidakadilan, ketidaksetaraan dan hirarki dalam bentuk apapun harus dilawan.44 Pembahasan mengenai kasta merupakan bagian penting yang harus dijelaskan, sebab ini merupakan salah satu bentuk ketidaksetaraan yang laing jelas dan paling kuat, dan yang secara historis dilawan oleh para Guru.

Kasta merupakan suatu peringkat sosial yang dibenarkan melalui pemaknaan relijius dan ritual. Berbeda dengan pembedaan atau ketidaksetaraan lain seperti perbedaan kelas ekonomis yang lebih lentur, kasta merupakan suatu peringkat yang begitu kukuh mengakar dalam masyarakat.

44 Jagjit Sing, The Sikh Revolution: A Perspective View. New Delhi: Bahri Publications, 1998. h. 115.

(38)

Dan politik relijius kasta, secara singkat dapat dilihat sebagai pengukuhan kelas Brahman di atas semua kelas dalam masyarakat. Dalam politik kasta, tidak terdapat kesetaraan, yang ada ialah bahwa satu kasta lebih unggul dari yang lain, dan ini merupakan hal yang mutlak.Guru Nanak menyerang ideologi kasta dan menyebutnya sebagai penyimpangan. Hindu menyebut kasta yang rendah tidak dapat menyucikan diri, dan ibadah mereka tidaklah diterima. Guru Nanak menyanggahnya, dengan mempraktikkan kesetaraan, ia bergabung dengan kelompok dari kasta terendah. Bai Ghurdas menyebut bahwa Guru Nanak telah "menyempurnakan Dharma dengan meleburkan empat kasta menjadi satu. Menganggap raja dan orang miskin sederajat, dan ketika bertemu saling memegang kaki (menganggap dirinya lebih rendah dibandingkan yang lain), dan menjadikannya budi pekerti.”45

Pembahasan mengenai kasta secara merinci tidak dimungkinkan di sini, kami hanya akan membahas satu anasir dari sistem kasta yang masih bertahan dalam masyarakat non-kasta, yang dengannya kesetaraan antara laki-laki dan wanita menjadi hampir mustahil, yaitu gagasan pencemaran. Menurut Nikky-Guninder Kaur Singh, Para sarjanawan secara umum begitu banyak mengutip Guru Granth perihal penolakan atas kasta dan kelas, namun hampir lupa perihal penolakannya atas seksisme.46 Ia menyiratkan bahwa para sarjanawan lupa bahwa kesetaraan antar manusia dengan hilangnya kasta juga tidak boleh melupakan kesetaraan antara wanita dan laki-laki. Ketika berbicara mengenai ketidaksetaraan dalam sistem kasta, akan merujuk kepada suatu praktik pengucilan dan perendahan derajat spiritual bagi „golongan rendah‟, yang secara umum ditandai dengan istilah “tidak suci”.

Gagasan mengenai pencemaran, mengenai pembatasan kebersamaan adalah ungkapan yang paling tersebar luas, yang menggambarkan watak ketertutupan dan elitis dari sistem kasta. "Seorang yang kastanya di bawah Brahmin, ketika melihat makanan dari sang Brahmin, ia secara ritual

45 Jagjit Singh, The Sikh Revolution: A Perspective View. New Delhi: Bahri Publications, 1998. h. 118.

46 Nikki-Guninder Kaur Singh, A Feminist Interpretation of Sikh Scripture dalam The

Oxford Handbook of Sikh Studies. Pashaura Singh, Louis E. Fenech (ed.). (Oxford: Oxford

Referensi

Dokumen terkait