• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURAT PENCATATAN CIPTAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SURAT PENCATATAN CIPTAAN"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

SURAT PENCATATAN

CIPTAAN

Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:

Nomor dan tanggal permohonan : EC00201931176, 27 Februari 2019 Pencipta

Nama : Maria Matildis Banda

Alamat : Lingkungan Karang Suwung Jalan Kori Agung 20 Sading. Megwi

Badung, Badung, Bali,

-Kewarganegaraan : Indonesia

Pemegang Hak Cipta

Nama : Maria Matildis Banda

Alamat : Lingkungan Karang Suwung Jalan Kori Agung 20 Sading. Megwi

Badung, Badung, Bali,

-Kewarganegaraan : Indonesia

Jenis Ciptaan : Novel

Judul Ciptaan : Suara Samudra Catatan Dari Lamalera

Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertama kali di wilayah Indonesia atau di luar wilayah Indonesia

: 1 Januari 2017, di Yogyakarta

Jangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuh puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya.

Nomor pencatatan : 000136096

adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.

Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

a.n. MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUAL

Dr. Freddy Harris, S.H., LL.M., ACCS. NIP. 196611181994031001

(2)
(3)

Novel Suara Samudra Catatan dari Lamalera

1017003070

© 2017 - PT Kanisius

Penerbit PT Kanisius (Anggota IKAPI)

Jl. Cempaka 9, Deresan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281, INDONESIA Kotak Pos 1125/Yk, Yogyakarta 55011, INDONESIA Telepon (0274) 588783, 565996; Fax (0274) 563349 E-mail : [email protected] Website : www.kanisiusmedia.com Cetakan ke- 3 2 1 Tahun 19 18 17 Editor : Lucia Desain isi : Oktavianus Desain sampul : Joko Sutrisno

ISBN 978-979-21-5289-0

Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun, termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis dari Penerbit.

(4)

untuk ananda

(5)
(6)

v

Sekapur Sirih

Lamalera! Negeri tepi samudra di wilayah selatan Lembata yang unik dan menarik. Desa nela yan yang ‘terpencil’ ini mendunia karena tradisi penang kapan ikan paus yang telah berlangsung ratusan tahun.

Lamalera! Tradisi lisan masyarakat pesisir dan kekayaan laut yang inspiratif adalah ruang, tempat, dan waktu imajiner bagi karya sastra dari desa di wilayah selatan Lembata menuju Indonesia dan dunia.

Lamalera! “Piring Matahari” dengan segenap ke-arifan di dalamnya. Dia telah memberi suara sastra laut, sastra pariwisata, sastra antropologi, sastra etnografi dan etnografi sastra, sastra psikologi, sastra sosiologi,

(7)

vi

sastra humanitas...dan lainnya sastra bumi yang men-jadikan novel ini hadir.

Demi kehadiran novel ini, saya ucapkan terima kasih kepada yang terkasih Drg. Dominikus M. Mere M.Kes., untuk dukungan sepanjang waktu. Carol W. P. Advent Mere, S.Ked., dan Joseph Mario Alexandro Kerong, S.P. dalam perjalanan pertama ke Lamalera Juni 2007. Yosef Freinademez Sinu dan Arnolda Yanseno Gala inspirasi tanpa batas. Keluarga nelayan Lamalera, bapa ibu, kakak adik, dan saudara-saudari yang langsung dan tak langsung ikut ambil bagian dalam memberi dukungan moril maupun materil.

Terima kasih untuk para sahabat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Denpasar Bali. Astungkara (semoga terjadi atas kehendak-Nya) bagi setiap kata memberi yang boleh kuterima. Semoga selalu ada perjalanan literasi berikutnya yang dipersembahkan bagi almamater.

Lamalera! Kampung nelayan yang sangat kecil itu adalah salah satu jalan untuk melihat dunia. Untuk menjawab pertanyaan. Apa yang dilakukan di darat akan mendapat jawabannya di laut; dan apa yang ditemukan di laut akan mendapatkan tautannya di darat.

(8)

vii

Daftar Isi

Sekapur Sirih ... v

Daftar Isi ... vii

Bagian Pertama MAWAR PUTIH DI KAKI PELEDANG 1 Surat dari Lamalera ... 3

2 Biarkan Aku Pergi, Ibu ... 15

3 Selembar Kenangan ... 29

4 Namamu Tertulis di Hatiku... 35

(9)

viii

BAGIAN KEDUA

KLERA LOLO DI ATAS TENA LAJA

6 Akan Selalu Menunggu ... 55

7 Ada Cinta Di Sana ... 71

8 Kuantar Engkau ke Wulan Doni ... 89

9 Mata Cinta dan Dendam ... 105 BAGIAN KETIGA SEIKAT LILY DI PANTAI LAMALERA 10 Baleo ... 127 11 Langit yang Membuka Rahasia ... 149 12 Apakah Hatimu Melihat ... 162

13 Air Susu Ibu ... 178

BAGIAN KEEMPAT KEMBANG JAGUNG DI SUDUT PANTAI 14 Blettu ... 197 15 Di Bao Futung Aku Menanti ... 211 16 Buri Di Malam Sunyi ... 224 17 Gurita Malam ... 234 18 Jagung Titi di Bawah Pukat ... 247 19 Tale Leo ... 260 20 Kudengar Seribu Meter di Bawah Air ... 271

(10)

ix

BAGIAN KELIMA PUCUK BAMBU DI ILE MANDIRI 21 Tali Pertemuan ... 289 22 Sesuatu yang Tetap Utuh ... 297 23 Pada Haluanmu Kuletakkan Rindu ... 303 24 Bayang-Bayang Telapakmu ... 315

25 Di manakah Engkau Bapa ... 327

26 Langkah-Langkah di Atas Air ... 337 BAGIAN KEENAM RANGKAIAN JEPUN DI ANTARA LANGIT DAN BUMI 27 Izinkan Aku Bersandar Padamu ... 349 28 Yang Dicatat Waebalun ... 356 29 Sebuah Senja di Larantuka ... 371 30 Lamafa, dalam Relung Masa Lalu ... 384 BAGIAN KETUJUH AIR MATA IBU, DI SUDUT NAJE 31 Pulang ke Lamalera ... 397

32 Dalam Pelukan Inerie ... 410

33 Di Hadapan Mata Saksi ... 420

34 Kudekap Tanganmu, Bapa... 428

(11)

x

36 Gripe ... 449

37 Katakan Apa Salahku ... 462

38 Yang Datang dari Gerbang ... 474

(12)

Bagian Pertama

MAWAR PUTIH

DI KAKI PELEDANG

(13)
(14)

3

1

Surat dari

Lamalera

Apakah ini saat yang tepat? Saat yang tepat untuk

mendengar langsung suara-suara yang datang dari

samudra tempatku berasal? Di mana langit, matahari,

bulan, bintang-bintang, laut, dan cakrawala mengirim

pesannya untukku? Pada angin yang berhembus

kukirimkan rinduku ini mengarungi samudra raya,

pulau-pulau, selat, tanjung, dan teluk, sampai ke teluk

dan tanjung yang paling jauh entah di mana suara

rinduku ini menemukan jawabnya.

(15)

4

Lamalera!

Sekarang ada di sini. Di hadapan matanya. Dalam sebuah berita yang tidak pernah terbayangkan akan terjadi. “Empat hari diseret ikan paus, tujuh belas orang nelayan Lamalera diselamatkan sebuah kapal pesiar. Tujuh orang belum ditemukan!” Lyra tersentak membaca berita itu. Tubuhnya tiba-tiba menggigil, napasnya memburu menelusuri kata demi kata, detail berita dalam sebuah koran bekas bungkusan tenunan Lamalera kiriman dari Larantuka. “Ya, Tuhan! Koran baru beberapa hari yang lalu.” Lyra membaca satu per satu nama-nama para korban yang sudah ditemukan ataupun yang hilang. Rofinus, Frans Ola, Philipus Beda, Benediktus, Emanuel, Lukas Beding, Paulus, Sidu, Alex, Kia, Pito, Ama Bisu, dan...,” Lyra terhenyak menemukan nama itu. “Sudah ditemukan atau belum ditemukan dia!” “Hilang atau selamatkah dia!” Lyra segera bangkit, memakai sepatu, menyambar tas, dan lari meninggalkan kamar. Surat yang diselipkan dalam lipatan tenunan Lamalera terjatuh di lantai tidak diperhatikannya. Ia keluarkan mobil dan tancap gas dengan kecepatan tinggi.

”Ira! Ira!” Mariana ibunya berteriak.

Ia melempar tas ke lantai dan berteriak lebih keras. ”Lyraaaaa...” Ada apa dengan anak ini? Apa yang terjadi?

(16)

5

Akan ke mana perginya? Mariana gemetar dan terduduk lemas. Mengapa bertanya ada apa, jika engkau sendiri tahu apa jawabannya? Beberapa hari terakhir ini Lyra lebih murung, bukan? Dia tidak banyak bicara. Dia lebih banyak diam, menghabiskan waktu di dalam kamar di rumah belakang.

Perlahan Mariana melangkah dengan gemetar, masuk ke kamar Lyra yang tidak terkunci. ”Apa yang sudah kulakukan kepadamu, anakku?” Mariana tertun-duk, sepucuk surat yang tergeletak di lantai diambilnya.

”Untuk Yang Tercinta Aurelia Lamberta Lyra....” ***

Mariana, perempuan setengah baya itu, terpaku di teras lantai atas rumahnya. Matanya sembab dan wajahnya tampak kusut. Tidak biasanya dia khawatir dengan kepergian Lyra ke mana saja sebab Lyra adalah anak yang bertanggung jawab. Mariana tahu, Lyra tidak akan berbuat hal-hal yang aneh. Namun, hari ini dia merasakan sesuatu yang lain. Lyra pergi tergesa-gesa, tanpa pamit dan kelihatan panik. ”Ada apa dengan dia? Oh, Tuhan! Mengapa bertanya ada apa?”

”Ira! Ira!” Mariana memegang kepalanya yang sakit. Apakah Lyra tidak mendengar suaranya memanggil? Kurang keraskah atau terlalu pelankah suara yang keluar untuk menghentikannya? Suara ibunya tidak

(17)

6

didengarnya lagi. Mengapa? Apakah suara ibunya tidak lagi memanggil dan ada suara lain yang lebih menyen-tuhnya?

Ya, benar! Ada suara lain yang lebih menyentuhnya, bukan? Sejak dulu, bertahun-tahun yang lalu Mariana tahu dirinya telah membiarkan suara itu dilenyapkan. Namun, dirinya juga tahu bahwa suara itu sangat nyata bagi kehidupannya sekarang. Anak-anaknya adalah ta-ruhannya! Mariana ikut terlibat untuk menghidupkan atau mematikan suara itu. Benar! Lyra meninggalkannya tanpa peduli.

***

Lyra pergi. Sepanjang jalan jantungnya berdebar dengan diliputi harapan dan doa semoga suara kece-masannya didengar. Semoga suaranya dapat sam pai ke tujuan dan masuk dalam relung-relung hati kekasih yang jauh. Kekasih yang kini nasibnya tak pasti antara hidup atau mati. Dalam diam suaranya menggaung keras.

”Tuhan, berilah saya kesempatan untuk bertemu dengan dia,” Lyra tertunduk sesaat dan segera meng-angkat kepalanya memperhatikan laju kendaraan dengan teliti. Lehernya terasa sakit, lukanya masih ba-sah, tetapi dengan tetap tegak dia menatap ke depan.

Tidak ada berita di televisi. Lyra tidak membaca koran beberapa hari terakhir ini atau tepatnya sejak

(18)

7

dirinya mengalami peristiwa itu. Disentuhnya leher nya yang terluka. Rasanya sakit sekali, tetapi jauh lebih sakit rasa hatinya menghadapi pengkhianatan oleh orang-orang yang dicintainya dengan sepenuh hati.

Apakah koran itu sengaja dikirimkan untuknya? Apakah itu caranya memberi tahu agar dirinya tidak me- nun da lagi? Dihapusnya keringat di dahinya. Mobil ber-Ac tidak dapat mengurangi kegeli sahan hatinya.

”Biarkan saya pergi menemuinya, Ibu!”

”Untuk apa? Apa perlunya?” suara Mariana ibunya meninggi. ”Tidak penting untukmu,” suara itu menusuk hati Lyra. Mobilnya melaju melewati jalan raya Puputan, melewati Renon, dan mengambil jalan lurus menuju pantai Sanur. Di pantai itulah dia berhenti, memarkir mobil dan berjalan perlahan. Seba gaimana biasanya Sanur tampak buram di kala senja. Air pasang, ombak memecah di tepi pantai. Ujung air menyentuh kakinya sebelum kembali ke laut dan datang kembali berkali-kali. Langit kelabu dengan awan ataupun tanpa diselimuti awan.

Garis cakrawala jelas memberi tanda tentang batas dan keyakinan bahwa dirinya pasti sampai di batas itu, untuk memandang lebih jauh lagi pada setiap batas cakrawala yang dapat dipandang dari pantai mana pun di dunia ini. Termasuk pantai Lamalera.

(19)

8

”Sunset di Kuta, Ra, bukan Sanur,” kata Alit te man-nya yang merasa aneh dengan kebiasaan Lyra. ”Suram banget, hatimu. Kenapa sih? Apa yang kamu cari, Ra?”

”Pantai tanpa matahari, hanya cakrawala yang kelabu, menjadikan rindu lebih sampai,” jawaban Lyra yang membuat Alit menertawakannya.

***

Apakah ada kesempatan baginya untuk menatap cakrawala dari pantai Lamalera? Pantai yang diapit tanjung Sarabia dan tanjung Bao Futung. Pantai yang sesungguhnya terlalu sempit sebagai labuhan terakhir

koteklema1 sebelum dibagi-bagi ke segenap warga

Lamalera.

”Tunggu, saya akan datang,” Lyra menengadahkan kepalanya.

”Jika kamu berani ke sana, jangan coba-coba kem-bali ke rumah ini lagi,” suara laki-laki yang dipanggil ayah. Lyra menutup telinganya, menajamkan matanya. Angin pantai berhembus perlahan membelai wajahnya

1 Koteklema: ikan paus berjenis sperm (physeter macrocephalus) yang biasa dan boleh ditangkap nelayan Lamalera. Koteklema, bahasa Lamalera untuk menyebut ikan paus, termasuk ikan paus jenis seguni (killer whale), juga boleh ditangkap. Koteklema yang tidak boleh ditangkap disebut kelaru, karena dianggap sebagai penolong, pemandu.

(20)

9

yang sedang menengadah merasakan aroma laut dan mendengar suara-suara yang datang dari sana.

”Baleo2, baleo, baleo!” Laki-laki yang gagah perkasa,

berdiri tegak di atas hamma lolo3 pada bagian haluan

peledang4. Gelombang, gemuruh air, dan gelora laut

meneguhkan hatinya untuk tetap tegak, dan menatap dengan saksama. Ikan paus yang sedang menari gemulai kian lama kian dekat. Mata menatap tajam, tangan menggenggam kuat galah, dan tempuling di ujungnya. Dengan yakin dia menghentakkan kaki, meloncat, menikam, dan terjun ditelan samudra raya.

”Masihkah segagah dan setegar dulu?Apakah aku tahu, apakah aku mengenalnya? Ya, Tuhan, izinkan aku bertemu dengannya.”

***

2 Baleo: ba = pikul atau bawa. Leo = tali leo. Baleo artinya pikul

tali leo. Baleo: ungkapan yang menjelaskan bahwa ada ikan paus

di laut. Ajakan kepada nelayan untuk segera turun ke pantai Lamalera dan segera bersiap-siap melaut. Ada ikan paus yang datang. Mendengar kata Baleo yang diserukan berkali-kali, sambung menyambung, nelayan yang terdiri dari matros (pendayung),

lama uri (juru mudi), lamafa (tukang tikam ikan paus) breung alep (pendamping lamafa) dan semua pihak yang terlibat dengan peledang akan segera siap.

3 Hamma lolo: bagian haluan peledang yang dibuat menonjol ke depan, tempat lamafa (tukang tikam) berdiri, mengambil ancang-ancang untuk menikam ikan paus.

(21)

10

”Ini Ira!” suara Lyra. ”Aku baru dari Pantai Sanur. Biasa, rindu cakrawala.”

”Ira, wenten napi5 tiba-tiba nelepon. Wartel Sanur

ya? Tumben. Biasanya kamu langsung nyelonong ke rumahku. Kamu ke mana saja, Ra? Sudah seminggu ini

ndak muncul di Kampus. Ke mana saja? Wenten napi?

Sakit atau ada apa, Ra?” suara Alit dari seberang.

”Tiang6 baik-baik saja, Lit,” Lyra menyentuh

leher-nya yang terluka.

”Kamu lulus ke Leiden! Kamu bertiga dengan Jelantik dan Dayu Sruthi.”

”Oh, ya?”

”Ira... kamu diterima langsung dengan dua bulan intensif bahasa Inggris. Jelantik dan Dayu Sruthi mesti intensif Bahasa Inggris tujuh bulan. Masak kamu tidak tahu sih?”

”Oh, tahu!”

”Ke Jimbaran. Surat, berkas-berkas, dan apa saja yang mesti kamu siapkan bisa ditanya langsung di sana. Hubungi Pak Agung Rai, ya. Dia pasti membantumu. Segera-segera.”

”Oh.”

”Kamu ini oh, oh, oh, saja. Kamu harus berangkat ke Jakarta untuk urus berkas, juga bahasa Inggris.

5 Wenten napi: ada apa (bahasa Bali). 6 Tiang: saya (Bahasa Bali halus).

(22)

11

Tahu! Setelah itu langsung Leiden, Ra” teriak Alit dari seberang. ”Datang ke rumahku ya, aku tunggu sekarang. Sudah, ya.”

”Hei, nanti dulu, jangan tutup teleponnya, Lit. Tolonglah.”

”Ada apa? Penting sajan,7 ya?”

”Aku perlu nomor telepon Anthony juga alamat rumahnya.”

”Rumah dan telepon di mana? Leiden, Jakarta, Kupang, atau Larantuka?” ”Lamalera?” ”Lamalera belum ada telepon!” ”Anthony ada di mana sekarang?” ”Larantuka!” ”Kasih nomor telepon di Larantuka.” ”Enak saja!” ”Tolonglah, Lit!”

”Dulu jual mahal. Kenapa tiba-tiba ingin nomor teleponnya. Mau menyerahkan dirimu padanya ya?” Alit terbahak-bahak. ”Awas Anthony makan kamu hidup-hidup. Waktu seminar dulu, di mana ada Lyra di situ ada Anthony. Matanya selalu melirik mencuri pandang. Kalau dia lihat kamu, lupa berkedip. Sepertinya dia mau makan kamu, Ra. Lebih dari makanan biasa,” kata Alit sambil tertawa.

(23)

12

”Aku perlu penting dengan dia!”

”Oh aku tahu. Mau kirim kabar buat Anthony

ten-tang Leiden ya? Oh, Astungkara8, Ra. Kalau tidak salah, ibunya Anthony antropolog di Leiden University. Udah, rangkap dua-duanya, Ra. Sambil menyelam, minum air, dan tangkap ikan paus!” ”Aku serius, Lit!” ”Aku dua rius! Peluk Anthony, muluskan jalanmu ke Leiden.” ”Imajinasimu liar banget, Lit!” Lyra tertawa bersama Alit di seberang sana.

”Apa kamu sudah lupa guyon, Ra?” Alit tertawa. ”Anthony ada di Kupang, baru berangkat tadi pagi,” jawab Alit. ”Beberapa hari lalu Anthony ada di sini. Kamu bertemu dengan dia, kan? Katanya bawa titipan untukmu.”

”Anthony di Kupang? Ngapain?”

”Sebelum berangkat dia telepon aku, Ra. Dia akan dampingi nelayan Lamalera yang katanya dilarikan ikan paus sampai sekian hari di lepas samudra. Untung ada kapal penolong yang membawa nelayan ke Kupang. Mungkin Anthony akan ke Lamalera untuk antar nelayan pulang kampung.”

”Serius sekali, ya?”

(24)

13

”Anthony itu identik dengan Lamalera. Katanya penelitiannya belum selesai, masih perlu waktu satu atau dua tahun lagi,” kata Alit. ”Eh, dengar-dengar dia juga pengen punya istri orang Lamalera. Endak mungkin sama kamu, ya? Dasar bule, maunya dapat luar dalam.”

”Jangan ngomong yang endak-endak, Lit. Ingat Anthony itu temanmu! Jaga nama baik teman Lit...”

”Yaaaa, ini telepon di Larantuka?” Lyra mencatat jawaban Alit.

”Tidak ada kesempatan kedua untuk Leiden. Ingat itu!”

”Bantu aku, ya? Urus segala yang diperlukan untuk Leiden. Aku benar-benar mohon pertolonganmu.”

”Ra, ada apa? Bukankah Leiden yang kamu cari selama ini. Kamu dapat, Ra! Mestinya senang, mestinya bangga. Kenapa suaramu dingin dan sesak begitu?” tanya Alit.

”Aku akan segera pulang ke Lamalera, Lit,” Lyra tidak yakin dengan kata-katanya sendiri.

”Hei, balik dari sana kita atur waktu untuk ke Pulau Serangan. Ingat lho, Ra, janji adalah utang! Kamu janji mau temani aku wawancara nelayan di sana, kan? Sebelum kamu ke Leiden, bantu aku dulu.”

(25)

14

”Oh, tentang penyu Pulau Serangan? Oke, aku janji. Pokoknya segala hal tentang nelayan dan laut, aku janji

untuk terlibat di dalamnya. Matur suksma9.”

”Suksma mawali10.”

9 Matur suksma: terima kasih (Bahasa Bali).

(26)

15

2

Biarkan Aku Pergi,

Ibu

Kamar Luh Komang adalah kamarnya juga. Bersih

dan terasa dingin. Pada sisi-sisi kamar itu, kecuali

bagian pintu, ada gambar-gambar laut, perahu, nelayan,

matahari terbit, matahari terbenam, juga laut di waktu

malam. Pada setiap sudut gambar, Lyra menempelkan

gambar daun dan bunga yang difotonya dari taman

belakang rumahnya. Bayang-bayang nelayan yang

terseret ikan paus memenuhi kepalanya. Seperti apa,

yang mana, mengapa? Dia mencari-cari di antara bunga

dan daun-daun di sekeliling kamar tidur itu pada tujuh

buah gambar pantai, perahu, dan nelayan.

(27)

462

37

Katakan Apa

Salahku

Dia berharap dengan duduk di tebing Fung dia dapat

bertemu kembali dengan seorang laki-laki yang

ditemuinya kemarin. Siapa namanya? Paulus? Lelarat

atau siapa? Orang tua yang beberapa kali mengatakan

“Carilah kebenaran itu! Hadapi dengan berani karena

Ina benar!” Di mana rumahnya? Apakah ada yang dapat

menunjukkan padanya tempat tinggal orang tua itu.

Kepada siapakah dirinya harus bertanya?

“Olahraga kah Ina?” tanya seorang ibu yang akan turun dari Teti Levo.

(28)

463

“Ya, Mama!” jawab Lyra sambil berdiri. Lyra meng-ulurkan tangan dan menyebut, “Lyra!” “Lera?” tanya ibu itu terheran-heran. “Bukan Mama,” potong Lyra dengan cepat. “Nama saya Lyra,” Lyra mengeja namanya. Dia baru sadar kem-bali bahwa namanya membingungkan banyak orang.

“Oh, dengarnya seperti Lera. Saya Mama Martina, masih keluarga dengan Pater Moses Beding. Saya mau ke rumah Pater Moses sekarang. Mau bantu masak karena ada banyak tamu.”

“Terima kasih Mama,”kata Lyra. “Saya salah satu tamu di rumah itu.” “Tunangan dengan Anthony?” “Ya!” Lyra tertawa. “Anthony tunangan saya. Kami akan segera menikah!” “Kapan?” “Pulang dari Lamalera.”

“Oh, pantas. Ina tidak mau tidur di rumah Arakian sebab Anthony tinggal di sana. Tidak apa-apa. Arakian juga masih keluarga kami. Yosefina istri Arakian itu saya punya adik,” kata Martina lagi dan jantung Lyra pun berdebar lagi. “Anthony itu baik sekali. Sudah kami anggap keluarga sendiri.”

“Anthony sudah sering ke sini?”

“Sudah sering sekali,” jawab Martina. “Pertama kali dia datang dengan frater yang tugas di Paroki

(29)

464

Wulandoni. Sudah kami anggap keluarga sendiri juga. Frater Lama namanya. Sekarang Frater sudah jadi Pater Lama, sudah ditahbiskan jadi Pastor, dan bertugas di Negeri Luar dekat Anthony punya kampung. Jauh sekali. Waktu mau berangkat dulu, Frater eh Pater Lama datang ke sini. Dia datang pamit pada umat di sini dan keluarga Arakian.” “Pater Lama?” “Kalo tidak salah ingat, namanya eh siapa ya? Pater Lambertus Lama.” “Pater Lambertus?” “Bukan! Pater Lama. Orang sini suka kasih pendek nama biar ingat gampang kah. Pater Lambertus dipang-gil Pater Lama,” kata Mama Martina sambil menang kap sesuatu di wajah Lyra tanpa disadari kedua nya.

“Ooh, namanya Lama,” Martina berseru. “Bukankah Ina bernama Lera? Ooh, Lama dan Lyra? Lamalera? Oooh kebetulan sekali,” suara Martina membuat Lyra terkejut sendiri. “Bagus sekali. Bagus sekali. Keluarga kami bertambah satu lagi Ina Lera. Aduuuuh Tuhan baik sekali e. Lama dan Lera....”

“Saya Lyra, Mama!”

“Bukan. Lebih baik nama Ina itu Lera. Ya, Tuhan memang baik sekali!”

“Terima kasih, Mama.” “Sama-sama.”

(30)

465

“Gripe itu seperti tempat pertemuan ya Mama?” “Ya, bertemu orang turun dan orang naik setiap hari di Gripe,” sahut Mama Martina. “Kalau ada yang turun, yang mau naik tunggu dulu. Kalau ada yang naik, yang mau turun tunggu dulu. Tidak bisa ramai-ramai, harus satu satu,” kata Mama Martina. “Tetapi Ina,” Mama Martina berhenti sejenak. “Saya pernah kenal

Ina,” Mama Martina mengkerutkan kening dan

mem-perhatikan wajah Lyra lekat-lekat. “Kapan? Di mana? Sudah lama sekali.”

“Mama kenal di mana? Saya baru pertama kali ke Lamalera.”

“Oh ya saya juga belum pernah keluar dari Lamalera. Tetapi mungkin Ina mirip dengan orang-orang yang pernah datang ke Lamalera. Orang-orang-orang luar, juga turis yang putih-putih seperti Ina. Ah, tetapi saya memang pernah lihat Ina di mana? Ha ha ha mama sudah tua, gigi tinggal dua, dan umur hampir 70 tahun.”

“Ada banyak yang mirip-mirip, Mama,” Lyra pura-pura tertawa. Mama Martina menatapnya lekat-lekat.

“Saya Aurelia Lamberta Lyra. Umur dua puluh tujuh hampir dua puluh delapan tahun. Bagaimana mungkin mama pernah bertemu saya?”

“Maklum orang tua. Makin tua biasanya… oooh siapa nama Ina tadi?”

(31)

466

“Ooh sama dengan Pater Lama. Namanya Aurelius Lambertus Dika? Oh, kamu dua kaka ade kah? Ber-saudara kah? Ooh tentu saya tahu sekarang. Engkau mirip Pater Lama atau Pater Lama yang mirip Ina? Oh, tidak! Ina mirip siapa? Siapa? Ooh Mariana! Ina punya mama namanya Mariana kah?” tanya Mama Martina dan Lyra tersentak kaget.

“Bukan! Bukan! Nama ibu saya Alit Laksmiwati. Nama Bapak saya, Jelantik,” kata Lyra dengan sangat gugup.

“Ooh, ya. Maklum orang tua. Jangan marah e Ina saya terlalu kira-kira tadi. Oh, tetapi Pater Lama dan

Ina Lera ini adalah… Oh, maaf,” Mama Martina berjalan

lebih dulu meninggalkan Lyra. ***

“Ya, Tuhan....” Lyra terduduk. Ia gemetar takut. “Pater Lama sudah pernah datang ke sini? Lambertus! Lama! Dika! Apakah Dika sudah tahu? Apakah Anthony tahu kisah hidup kami? Ya, Tuhan....” Lyra benar-benar gemetar mencari-cari kacamata hitam yang ternyata ditinggalkan di penginapan.

“Tuhan, ibuku memang pernah datang dan tinggal di sini. Semua mata akan menangkapku hidup-hidup. Semua mata akan menuding, Semua akan membenci. Keluarga Bapa Arakian akan terluka lagi karena saya.

(32)

467

Bapa Kia dan Bapa Pito sangat membenci kehadiran saya. Lamafa salah tikam... lamafa penuh masalah... Karena aku, apakah karena keberadaanku?” Lyra mengangkat wajahnya. Masih dilihatnya Mama Martina berdiri di sisi Martiva Pukan, dan menatapnya sekali lagi, sebelum menghilang di balik peledang. Lyra merasa seluruh persendiannya lemas. Dia tidak dapat bangun lagi.

***

“Mbok Maaaang, Pak Made, tolong saya. Alit, Antari, Dayu Sruthi, Jelantik, Aliiiit…” Lyra berlari meninggalkan Tety Levo Lamalera A dan segera menuruni tangga-tangga Gripe. Kakinya gemetar saat turun dan tiba di tangga terakhir. Hampir saja dia bertabrakan dengan Agustin jika gadis itu tidak cepat menghindar. Dia ingin terus berlari namun Agustin menghentikannya hingga nyaris tersungkur.

“Untuk apa kau ke sini! Untuk apa datang ke Lamalera!” tanya Agustin dengan mata melotot. Lyra tersentak kaget. “Kamu…,” Lyra tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. “Kamu pacaran sama Boli ya? Berani-beraninya!”

“Apa urusanmu denganku?” tanya Lyra.

“Saya tunangannya Boli. Tahu kamu! Kamu mau merusak Lamalera? Kamu mau kasih hancur kami

(33)

468

punya keluarga? Dulu Mariana ibumu! Sekarang kamu

kah? Berani sekali kau,” suara Agustin membuat Lyra

terpojok.

“Apa yang kalian inginkan dari keluarga kami? Pembawa bencana! Dasar! Perempuan sial!” teriak Agustin dengan penuh emosi. Lyra tidak dapat men-jawab sepatah kata pun. “Di Pelabuhan Bolok Kupang, sudah saya peringatkan dengan jelas, tetapi kamu tidak mengerti. Perasaanmu sungguh tebal. Berani sekali sampai di Lamalera!”

“Apa kamu tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu sampai di sini? Mama Yosefina, istri Bapa Arakian, apakah dia tidak sakit hati lihat kamu berani datang? Kakak adik dan keluarga apakah tidak sakit hati melihatmu? Kami punya keluarga besar sudah dibuat hancur gara-gara engko punya mama! Kami malu dan dipermalukan dari dulu sampai sekarang….”

“Engko busuk berlindung di balik Anthony. Busuk yang merusak Lamalera. Kapan kalian berhenti merusak keluarga kami? Kapan? Dasar turunan penjajah! Pantas saja jika Boli tunanganku membencimu. Semoga saja keluargamu di sana hancur. Biar hancur! Jangan pernah kemari lagi. Segera pergi sebelum seluruh orang kampung mengusirmu!”

“Kau perusak! Kau tidak punya perasaan, kau egois!” Agustin menekan setiap kata-katanya. “Engko

(34)

469

tidak tahu kah? Semua mata melihat, semua telinga mendengar, semua pikiran, dan semua perasaan tahu bencana laut dimulai dari Martiva Pukan. Tahukah

engko, lamafa Bapa Arakian? Siapa dia? Dia sudah

hancurkan keluarga karena ulah ibumu. Pergi dari sini, kehadiranmu membuka aib keluarga kami. Pergi!” suara Agustin penuh ancaman.

***

Lyra berjalan tergesa sementara Agustin mengikuti dengan matanya dari belakang. “Boli! Saya sudah jalankan semua tugas saya,” kata Agustin dalam hatinya. Ada rasa sedih yang tertinggal saat menyadari asal-usul darah yang sama yang mengalir dalam tubuh Boli dan tubuh Lyra yang telah disakiti. Akan tetapi perasaan itu dibuang jauh-jauh. “Maafkan, saya harus mengatakan ini padamu, demi banyak hal lain di sini yang harus kujaga.”

Mama Martina memperhatikan dari sudut rumah. Lyra berjalan cepat tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan lagi. Arakian dapat melihat dengan jelas, Lyra berlari meninggalkan Agustin di tepi pantai.

***

Arakian tersekat. Matanya basah. Dirinya tidak dapat berbuat apa-apa untuk anak perempuannya. Kia

(35)

470

dan Pito memintanya mengalah sebentar saja. Meng-hargai gejolak desa kecil, Lamalera, yang sedang terluka dengan banyak kehilangan di laut. Ratap tangis dari rumah nelayan yang hilang masih terdengar. Seruan pilu kehilangan Ama Bisu masih disuarakan istri dan anak-anaknya.

“Engko Lamafa,” kata Kia. “Kita, Martiva Pukan mesti turut bertanggung jawab untuk terlibat dengan kedukaan ini.”

“Jangan sekali-sekali mendekat pada anakmu. Jangan sekali-sekali membiarkan anak itu datang ke rumah kita. Untuk hal ini, jangan biarkan Anthony meng-atur hidup kita. Semua mata dan kata-kata menuju pada kita. Tolonglah, Arakian. Sekali ini saja. Masa berkabung masih berlangsung, kita menjadi bagian dari masa itu, sejak adanya lahan, adanya bibit, tunas, berakar, ber-tumbuh, berbunga, dan berbuah di sini. Bahkan, sampai pada adanya bibit dan tunas baru. Kita tetap ada di sini, selamanya. Masih ada waktu…pada saatnya nanti....”

***

Dari ketinggian rumahnya dia dapat mengamati Lyra sejak pagi-pagi benar. Ketika gadis itu melangkah menuju pantai, berdiri di sisi Martiva Pukan, berjalan menaiki tangga demi tangga Gripe, turun naik tangga-tangga beberapa kali. Dia juga melihat Martina bicara

(36)

471

dengan Lyra, dia melihat Agustin menghadang Lyra, dia juga melihat dan merasakan kegelisahan Lyra, se-bagaimana dia melihat dan merasakan kege li sa-hannya sendiri. Dia tidak tahu bahwa Yosefina berdiri tidak jauh di belakangnya dan memperhatikan apa yang di-perhatikannya.

***

“Hai,” Anthony tiba-tiba muncul dari arah tebing pantai. Dia melompat dari batu ke batu dan memasuki pantai. “Ina? Kenapa? Ada apa?”

“Tolong bawa saya pergi dari sini,” Lyra memohon. Diulurkannya tangannya dan Anthony menerimanya dengan cepat ke dalam pelukannya. “Tolong saya Anthony!”

“Sudah kubilang, aku yang akan mengantarmu ke Gripe. Kenapa jalan sendiri?”

“Aku mau bicara denganmu!”

“Kita ke Wulan Doni? Ada banyak kejutan di sana.” “Aku mau bicara denganmu. Anthony tolong aku!” “Ya Ina... Kita akan ke pemakaman jam sepuluh nanti.”

“Siapa Pater Lama?”

“Kita bisa bicara setelah pulang dari pemakaman.” “Anthony!” Lyra menatap tajam. “Ternyata kamu tahu semuanya! Kamu tahu Dika itu Pater Lama. Kamu

(37)

472

tahu siapa saya dan bapa Arakian! Kamu tahu aku anaknya bapa Arakian. Kamu tahu Bapa Arakian bapaku. Kenapa Anthony? Pater Dika juga tahu. Kenapa tidak kamu katakan sejak kita bertemu? Apa yang mau kamu dapatkan? Kamu manfaatkan aku untuk penelitianmu. Karena itulah kamu mulai dari lamafa. Kamu sungguh-sungguh tidak punya hati...”

***

“Ayolah... naiklah!” kata Anthony tanpa menatap wajah Lyra yang merah karena marah. Lyra diliputi berbagai pertanyaan dan jawaban dan kegelisahan yang dimengerti dengan baik oleh Anthony. Kia dan Pito memintanya membawa Lyra segera keluar dari Lamalera dengan berbagai alasan yang dimengertinya. Akan tetapi tidak ada sepatah kata pun dari Arakian tentang hal yang sama.

Anthony menemukan kekuatan dan keyakinan itu pada diri lamafa. Dia menemukan hakikat lamafa yang sebenarnya. Bukan hanya keberanian melom-pat dengan flake di tangan dan kaffe numung di ujungnya; lamafa berada di antara langit dan bumi,

koteklema di permukaan samudra, serta peledang

dan penumpangnya --matros, breung alep, dan lama

uri-- yang terpanah dengan harapan dan impian;

(38)

473

menjunjung tinggi keberadaannya bersama peledang,

flake, kaffe numung, dan tale leo, di antara langit dan

bumi, lautan dan daratan, sejarah asal-usul, suara-suara leluhur, perjanjian, masa lalu dan masa depan, harga diri, kehormatan, kerinduan, tawa ria, dan air mata Lamalera.

Pada diri Arakian ditemukan pula lamafa yang ingin pulang pada hakikat ola nua. Apa yang engkau lakukan di darat akan mendapat jawabannya di laut. Apa pula yang engkau lakukan di laut akan menemukan tautannya di darat. Karena itulah pertemuan dengan anak perempuannya adalah rindu yang menggenggam segenap kesadarannya untuk pertobatan, untuk buka hati, sebelum menuju ola nua kembali.

“Benarkah segala tujuan, pencapaian tujuan, dan bertemu di puncak tujuan itu memerlukan waktu? Benarkah pertemuan seorang anak dan bapak yang melahirkannya juga memerlukan waktu? Hari ini atau besok, kemarin atau hari ini, dalam minggu, bulan, atau tahun-tahun yang akan datang, ceritanya akan sama. Anak yang dilahirkan adalah tanda mata pikiran, perasaan, dan hati nurani sepanjang waktu… bersama kesetiaan, kejujuran, dan martabat diri lamafa yang ingin kembali menjadi lamafa sejati….”

(39)

474

38

Yang Datang dari

Gerbang

Arakian sedang berdiri di depan rumahnya ketika

Anthony dan Lyra melaju. Anthony melambaikan

tangan sambil berteriak, “Lewoleba!” Sekilas Lyra

melihat Arakian melambai dan Yosefina istrinya

mematung di belakangnya. Semua mata menatapnya

dengan penuh selidik, di setiap rumah, di tepi jalan baik

kiri maupun kanan, pada jalan kecil dan lorong-lorong

yang membelah Lamalera B, jalan yang memisahkan

pantai dengan tebing, dan pada setiap langkah yang

menapak di Lamalera A.

(40)

475

Lyra maupun Anthony merasakannya, bahwa ke-beradaan Lyra mengundang tanya dan jawabannya sekaligus. Berita merebak dengan sendirinya, gadis itu saudara kembar Pater Lambertus Aurelius Dika yang dikenal dengan nama Pater Lama. Ternyata isu itu benar-benar nyata. Agustin –atas perintah Boli kekasihnya– ber bisik-bisik dan merasa perlu bisikannya menjadi gong yang berbunyi paling keras di seantero Lamalera, kam-pung sekitarnya, bahkan lebih jauh lagi, sampai kemana pun gaung bisikannya berbuah dan berbunga.

***

Jalan berbatu-batu, berlubang-lubang, begitu buruk dan rusak. Jalan yang baru pertama kali ditemukan Lyra sepanjang hidupnya. “Inilah jalan darat menuju kampung leluhurku,” kata Lyra dengan perasaan sedih. Ia pun ingin mengatakan dengan sungguh-sungguh bahwa seberapa rusak dan hancurnya jalan menuju rumah bapanya, akan dihadapinya karena tujuan! Akan tetapi, kini dirinya tidak sedang menuju. Ia sedang berlari, menjauh dari tujuannya semula. Gemetar di belakang punggung Anthony, laki-laki yang tahu sega-lanya, tetapi diam demi tujuan dan kepentingannya sendiri.

(41)

476

Mereka terus mendaki. Beberapa kali Lyra turun dari atas motor, mengikuti Anthony yang mendorong motor keluar dari lubang di tengah jalan, kemudian naik lagi melanjutkan perjalanan. Lyra diam. Anthony juga diam. Motor tril itu mencapai Puor salah satu desa terdekat sekitar delapan kilometer dari Lamalera.

“Kita berhenti di sini,” kata Anthony. “Rantai mo-tor terlepas. Tidak apa-apa, saya hanya tinggal me -nyam bungnya saja dan kita akan jalan lagi,” kata Anthony melihat kekhawatiran di wajah Lyra. Lyra tidak menjawab apa-apa. Dia diam memunggungi laki-laki itu. Tatapannya menyapu ke sekeliling. Puor diliputi pe-pohonan rindang, hijau, dan subur. Jauh berbeda dengan Lamalera yang sudah ditinggalkannya.

***

Terdengar suara motor dari kejauhan, kian lama kian dekat. “Anthony, Anthony,” motor berhenti. Endy penjaga rumah kontrakkan Anthony di Larantuka meloncat dari boncengan motor. “Syukur puji Tua Ma

Tua Ana176 e, ketemu di sini. Ada telepon dari Ibu Alit

Laksmiwati. Sebentar,” Endy mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. “Ini!”

“Dua hari lagi Lyra harus ada di Denpasar. Harus ada di Denpasar. Urusan beasiswa ke Leiden University.

(42)

477

Jelantik dan Dayu Sruthi sudah di Jakarta. Ira, Ira, Ira. Segera pulang ke Denpasar pada hari ini juga. Segera!”

“Siapa yang tulis ini?” tanya Anthony.

“Saya,” jawab Endy. “Saya catat le kata-kata Ibu Alit. Ibu Alit yang suruh kah. Ibu Alit bilang semua ongkos akan kembali. Tadi pagi naik kapal motor dari Larantuka

ke Lewoleba. Mo nae bero177 langsung ke Lamalera nanti

siang, kita khawatir terlambat kah,” kata Endy lagi. “Bawa pesan dari Ibu Alit,” Endy menganggukkan kepalanya pada Lyra. “Saya tulis semua kah,” kata Endy. Lyra diam, dibiarkan saja Anthony membaca kelan-jutannya. “Pulang pada kesempatan pertama, hari ini juga. Dipanggil Rektor, dipanggil Dekan! Segera pulang,” Anthony menyerahkan pada Lyra, namun Lyra tidak bereaksi. Anthony membaca lanjutan surat itu dengan diam. “Segera pulang Lyra. Beri dukungan untuk ayahmu di sini. Boli juga sudah ditahan. Koran ramai. Ibumu sedih dan sekarang dirawat di rumah sakit. Pulang hari ini juga ya. Segera.”

“Ibu Oa tidak baca kah?” Endy mengangguk mem-beri hormat. “Saya tulis seperti yang Ibu Alit be ritahu di telepon.”

“Terima kasih,” Anthony menepuk bahu Endy dan berterima kasih juga pada laki-laki yang membonceng Endy.

(43)

478

“Kami jalan terus178,” kata Endy. “Sore su179 langsung

bale180.”

“Oh, saya dari Larantuka dengan Tua Lama.” “Pater Lama?” tanya Anthony.

“Ya. Tengah hari nanti tua naik bero langsung dari Lewoleba ke Lamalera.”

“Oh,” Anthony menatap Lyra sekilas. Motor yang mem bawa Endy meraung meninggalkan Anthony dan Lyra. Lyra berdiri dan mengamati kepergian Endy hingga menghilang di tikungan menuju Lamalera.

***

“Telepon dari Alit Laksmiwati,” kata Anthony. Lyra diam saja dengan marah. Benar-benar Anthony tahu semuanya. Adiknya, Pater Dika juga tahu semuanya. “Mengapa tega lakukan ini pada saya?” Pertanyaan itu tidak keluar dari bibir Lyra. Dia tetap diam me-munggungi laki-laki itu. Dia tetap diam saat Anthony mengajaknya untuk duduk di belakangnya, dan siap berangkat lagi.

“Maaf,” kata Anthony. “Bukan maksud saya untuk menyakitimu. Saya hanya ingin semuanya berjalan

178 Jalan terus: ungkapan lokal yang berarti melanjutkan perjalanan. 179 Su: sudah (dialek Melayu Larantuka dan Flores pada umumnya) 180 Bale: balik, pulang (dialek Melayu Larantuka).

(44)

479

dengan lancar, apa adanya, tanpa dibuat-buat. Maaf, ya,

Ina,” kata Anthony lagi.

“Sebagaimana Ina ingin mulai dari Gripe, saya juga sesungguhnya selalu mulai dari sana. Kakek saya salah satu bagian dari tangga-tangga Gripe. Kakek pernah menetap di sini, seperti yang sudah kuceritakan padamu. Lamalera adalah salah satu tempat imajiner bagi kakek tentang kehidupan dan perjuangan hidup sebenarnya,” kata Anthony dengan tenang. Lyra diam saja.

“Bapa saya terjatuh di sana pada saat datang ke Lamalera bersama Mama untuk penelitian tradisi penang kapan ikan paus di Lamalera. Dia mengalami gegar otak. Bapa meninggal beberapa bulan setelah buku Lamalera edisi baru tulisan kakek, terbit. Maaf, tujuan kita jauh berbeda mengenai Gripe. Saya menggali keunikan Gripe untuk menemukan jejak kakek dan pada bagian mana yang menyebabkan bapaku terjatuh. Saya berusaha mengerti pada bagian mana Gripe menarik perhatianmu. Saya tidak dapat mendapatkannya selain Ina sendiri yang berusaha untuk mengerti,” Anthony membiarkan Lyra membelakanginya.

“Mungkin kita sama dalam hal Gripe. Sebuah tempat pertemuan dan perpisahan. Sebuah tempat harapan dan tujuan. Sebuah jembatan sesungguhnya yang menghubungkan satu sama lain, sebuah jem-batan berupa tangga-tangga telepati yang sanggup

(45)

480

mengikat sekaligus melepaskan. Maafkan aku, Ina! Bila mengecewakanmu…”

“Sekitar sepuluh sampai dua puluh kilometer ke depan, jalan lumayan bagus. Naiklah! Mari kita pergi,” ajak Anthony. Akan tetapi, Lyra berjalan sendirian. Dia tidak mau berada di belakang laki-laki itu lagi.

“Ina, maafkan saya,” Anthony mengikuti Lyra sambil terus memohon maaf.

***

Lyra memasuki jalanan sepi, benar-benar sepi. Rindang pohon sepanjang kiri kanan jalan, nyanyian burung dan desiran angin lebih menggugah kesunyian pagi dalam perjalanan menuju Lewoleba. Tiba-tiba Lelarat datang dari arah jalan setapak di tengah rim-bun pohon jagung. Anthony terkejut. Ia segera turun dari motor dan menatap Lelarat dengan berbagai pertanyaan.

“Jangan pergi, Ina,” kata Lelarat di hadapan Lyra. “Ada apa Bapa Lelarat. Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Anthony.

“Bapa…,” Lyra tersenyum sekilas, menerima uluran tangan Lelarat dan dengan ikhlas menyentuh tangan dalam genggaman itu dengan dahinya.

“Mau ke mana?” “Pulang Pak.”

(46)

481

“Jangan pulang sebelum sampai,” Lelarat berdiri di hadapan Lyra.

“Bapa Lelarat mau apa?” tanya Anthony.

“Jangan pulang sebelum sampai,” kata Lelarat lagi. “Saya takut, saya sedih…sedih sekali, Bapa,” kata Lyra dengan sejujurnya.

“Gembiralah, bahagialah,” Lelarat tersenyum. “Kem bali pulang! Karena engkau datang untuk mene-mukan kebenaran dalam hidupmu. Carilah dan temukan kebenaran itu sampai dapat. Biar seluruh dunia tahu, Ina ada di sini karena memang harus ada, harus diterima, dan harus duduk, dan merayakan pesta pertobatan bersama-sama.”

“Ya, Bapa,” sahut Lyra dengan suara hampir tidak terdengar.

“Bapa Lelarat…” Anthony terpana keheranan. “Gerbang Lamalera adalah laut dan pantai Lamalera. Ina Lera… engkau sudah berani datang dari gerbang, pulanglah juga dari gerbang. Jangan pulang lewat pintu belakang. Jika terpaksa Ina harus pulang dari pintu belakang, itu terjadi karena pintu gerbang juga tahu kepulanganmu, Ina. Jika memang Ina harus pulang melalui pintu belakang, pulanglah demi kebenaran ini.”

“Terima kasih, Bapa…,” Lyra berbalik dan melang-kah pasti untuk kembali ke Lamalera. Dia tidak lagi bicara sepatah kata pun. Anthony mengikuti dengan

(47)

482

gembira yang yakin akan temuannya. Anthony meng-ikuti dengan segenap hatinya.

Hari masih pagi, mentari memastikan dirinya me-nembus rindang pohon sepanjang jalan menurun dari Puor menuju Lamalera. Angin berhembus perlahan. Ada lembaran daun dari daun-daun yang luruh ke bumi hinggap di bahu Ina Lera. Anthony menjangkaunya dengan mata dan hatinya. Lamalera, Lembata, Juni, 2007; April - Mei 2016 Jakarta, 12 Juni 2016 Sading Denpasar, 09 September 2016 Kupang, 29 Januari 2017

(48)

---483

Tentang Penulis

Maria Matildis Banda tercatat sebagai dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Denpasar. Menyelesaikan pendidikan Doktor Bidang Kajian Budaya di Universitas Udayana, 2015. Menikah dengan Drg. Dominikus Minggu, Mere, M.Kes. Memiliki tiga orang anak: Carol Wojtila P. Advent Mere, Arnolda Yanseno Gala, dan Yosef Freinademez Sinu.

Meraih penghargaan dalam penulisan karya sastra: “Pulang” (Cerpen); “Potret Gadisku” (Drama Modern); “Dalam Bening Mata Mama” (Cerpen); “Perempuan Kecintaanku” (Cerpen); dan “Rebung Gading” (Cerpen). Penghargaan untuk cerbung Majalah Femina Jakarta yaitu Pada Taman Bahagia (Juara III), Liontin Sakura Patah (Juara III), dan Doben (Juara I).

(49)

484

Ia juga menulis cerpen yang belum diterbitkan sebagai buku. Beberapa di antaranya: Kereta Api

Terakhir; Aer Nona; Kamboja di Atas Kuburan; Mahligai; Laki-Laki Kecintaanku; Nubuat; Tiga Ekor Domba; Surat Kecil di Dalam Saku; Tanda Mata dari Sutan; Doa di Dalam Lemari; Lolita; Sarlota Rumbekwan; Sesuatu yang Hilang; Surat Hitam; Karcis; dan Tabut Perjanjian.

Menerbitkan novel: Pada Taman Bahagia (Grasindo Jakarta, 2001); Liontin Sakura Patah (Grasindo Jakarta, 2001); Bugenvil di Tengah Karang (Grasindo Jakarta, (2001); Rabies (Care Internasional, 2002/2003); dan

Surat-Surat Dari Dili (Nusa Indah Ende 2005); Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor Tiga (Kanisius 2015); Doben

(Penerbit Lamalera, 2016).

Maria Matildis Banda pernah menjadi dosen tamu pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Maumere (2003 – 2010) dan menjadi Pengurus Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan KWI Jakarta (2011-2013). Penulis kolom Parodi Situasi H.U. Pos Kupang (2001 sampai sekarang). Menulis sekitar 800 judul parodi (2000-an halaman) tentang isu pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, dan isu sosial budaya lainnya yang akan diterbitkan 2017 - 2018.

Menulis buku Lota Aksara Ende (Yayasan Naskah Nusantara dan Penerbit Djambatan Jakarta, 2005). Aktif sebagai pemakalah dan peserta seminar dan lokakarya

(50)

485

tentang bahasa, sastra, dan kebudayaan. Peserta Sandwich like Program di KTLV dan Universitas Leiden di Leiden Belanda Oktober – Desember 2011. Pemateri “Lota Script in Ende Flores” dalam Internasional Workshop on Endangered Scripts of Island Southeast Asia pada Februari - Maret 2014 Tokyo University di Tokyo Jepang.

Pemateri “Potensi Budaya dalam Upaya Pengem-bangan Pariwisata di Dili Timor Leste” dalam Seminar dan kerja sama Universitas Udayana Denpasar dengan Negara Democratic Timor Leste (NDTL) di Dili Timor Leste September 2016. Menjadi anggota aktif dalam Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) dan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Indonesia.

(51)

Referensi

Dokumen terkait

Akan tetapi jika pada penelitian sebelumnya variabel yang digunakan dihubungkan per karakteristik dengan pemilihan moda, untuk variabel pada penelitian ini beberapa variabel tidak

Nama lengkap beliau adalah Abdusshomad Buchori, beliau lahir di Mojokerto pada tanggal 3 april 1943. Ayah beliau bernama Buchori yang berasal dari Penele, Surabaya. Beliau

Sebagai refrensi dan pendorong dalam pembuatan kebijaksanaan perusahaan untuk lebih meningkatkan tanggung jawab dan kepeduliannya pada lingkungan sosial. Hasil

Dalam perancangan sistem ini dihitung dengan menggunakan perhitungan analisis biaya dan manfaat yang didapati bahwa sistem ini layak untuk digunakan dari pada sistem

Small Area Estimation (SAE) merupakan metode estimasi tidak langsung ( indirect estimation ) yang mengkombinasikan antara data survei dengan data pendukung lain misalnya dari

Data dianalisis berdasarkan jenis artikula sebagai determinator dalam frasa nomina yang diikuti oleh postmodifikator. Artikula dalam bahasa Inggris terbagi menjadi tiga:

Dengan melihat proses pengembangan modal sosial di dalam klaster cor logam Ceper mulai dari awal pertumbuhan/embrio, tumbuh dan dewasa serta penurunan dan transformasi ada

Dalam hal terdapat perbedaan data antara DIPA Petikan dengan database RKA-K/L-DIPA Kementerian Keuangan maka yang berlaku adalah data yang terdapat di dalam database