• Tidak ada hasil yang ditemukan

pantai dengan tebing, dan pada setiap langkah yang menapak di Lamalera A

Dalam dokumen SURAT PENCATATAN CIPTAAN (Halaman 39-48)

475

Lyra maupun Anthony merasakannya, bahwa ke-beradaan Lyra mengundang tanya dan jawabannya sekaligus. Berita merebak dengan sendirinya, gadis itu saudara kembar Pater Lambertus Aurelius Dika yang dikenal dengan nama Pater Lama. Ternyata isu itu benar-benar nyata. Agustin –atas perintah Boli kekasihnya– ber bisik-bisik dan merasa perlu bisikannya menjadi gong yang berbunyi paling keras di seantero Lamalera, kam-pung sekitarnya, bahkan lebih jauh lagi, sampai kemana pun gaung bisikannya berbuah dan berbunga.

***

Jalan berbatu-batu, berlubang-lubang, begitu buruk dan rusak. Jalan yang baru pertama kali ditemukan Lyra sepanjang hidupnya. “Inilah jalan darat menuju kampung leluhurku,” kata Lyra dengan perasaan sedih. Ia pun ingin mengatakan dengan sungguh-sungguh bahwa seberapa rusak dan hancurnya jalan menuju rumah bapanya, akan dihadapinya karena tujuan! Akan tetapi, kini dirinya tidak sedang menuju. Ia sedang berlari, menjauh dari tujuannya semula. Gemetar di belakang punggung Anthony, laki-laki yang tahu sega-lanya, tetapi diam demi tujuan dan kepentingannya sendiri.

476

Mereka terus mendaki. Beberapa kali Lyra turun dari atas motor, mengikuti Anthony yang mendorong motor keluar dari lubang di tengah jalan, kemudian naik lagi melanjutkan perjalanan. Lyra diam. Anthony juga diam. Motor tril itu mencapai Puor salah satu desa terdekat sekitar delapan kilometer dari Lamalera.

“Kita berhenti di sini,” kata Anthony. “Rantai mo-tor terlepas. Tidak apa-apa, saya hanya tinggal me -nyam bungnya saja dan kita akan jalan lagi,” kata Anthony melihat kekhawatiran di wajah Lyra. Lyra tidak menjawab apa-apa. Dia diam memunggungi laki-laki itu. Tatapannya menyapu ke sekeliling. Puor diliputi pe-pohonan rindang, hijau, dan subur. Jauh berbeda dengan Lamalera yang sudah ditinggalkannya.

***

Terdengar suara motor dari kejauhan, kian lama kian dekat. “Anthony, Anthony,” motor berhenti. Endy penjaga rumah kontrakkan Anthony di Larantuka meloncat dari boncengan motor. “Syukur puji Tua Ma

Tua Ana176 e, ketemu di sini. Ada telepon dari Ibu Alit Laksmiwati. Sebentar,” Endy mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. “Ini!”

“Dua hari lagi Lyra harus ada di Denpasar. Harus ada di Denpasar. Urusan beasiswa ke Leiden University.

477

Jelantik dan Dayu Sruthi sudah di Jakarta. Ira, Ira, Ira. Segera pulang ke Denpasar pada hari ini juga. Segera!”

“Siapa yang tulis ini?” tanya Anthony.

“Saya,” jawab Endy. “Saya catat le kata-kata Ibu Alit. Ibu Alit yang suruh kah. Ibu Alit bilang semua ongkos akan kembali. Tadi pagi naik kapal motor dari Larantuka ke Lewoleba. Mo nae bero177 langsung ke Lamalera nanti siang, kita khawatir terlambat kah,” kata Endy lagi.

“Bawa pesan dari Ibu Alit,” Endy menganggukkan kepalanya pada Lyra. “Saya tulis semua kah,” kata Endy. Lyra diam, dibiarkan saja Anthony membaca kelan-jutannya. “Pulang pada kesempatan pertama, hari ini juga. Dipanggil Rektor, dipanggil Dekan! Segera pulang,” Anthony menyerahkan pada Lyra, namun Lyra tidak bereaksi. Anthony membaca lanjutan surat itu dengan diam. “Segera pulang Lyra. Beri dukungan untuk ayahmu di sini. Boli juga sudah ditahan. Koran ramai. Ibumu sedih dan sekarang dirawat di rumah sakit. Pulang hari ini juga ya. Segera.”

“Ibu Oa tidak baca kah?” Endy mengangguk mem-beri hormat. “Saya tulis seperti yang Ibu Alit be ritahu di telepon.”

“Terima kasih,” Anthony menepuk bahu Endy dan berterima kasih juga pada laki-laki yang membonceng Endy.

478

“Kami jalan terus178,” kata Endy. “Sore su179 langsung

bale180.”

“Oh, saya dari Larantuka dengan Tua Lama.” “Pater Lama?” tanya Anthony.

“Ya. Tengah hari nanti tua naik bero langsung dari Lewoleba ke Lamalera.”

“Oh,” Anthony menatap Lyra sekilas. Motor yang mem bawa Endy meraung meninggalkan Anthony dan Lyra. Lyra berdiri dan mengamati kepergian Endy hingga menghilang di tikungan menuju Lamalera.

***

“Telepon dari Alit Laksmiwati,” kata Anthony. Lyra diam saja dengan marah. Benar-benar Anthony tahu semuanya. Adiknya, Pater Dika juga tahu semuanya. “Mengapa tega lakukan ini pada saya?” Pertanyaan itu tidak keluar dari bibir Lyra. Dia tetap diam me-munggungi laki-laki itu. Dia tetap diam saat Anthony mengajaknya untuk duduk di belakangnya, dan siap berangkat lagi.

“Maaf,” kata Anthony. “Bukan maksud saya untuk menyakitimu. Saya hanya ingin semuanya berjalan

178 Jalan terus: ungkapan lokal yang berarti melanjutkan perjalanan.

179 Su: sudah (dialek Melayu Larantuka dan Flores pada umumnya)

479

dengan lancar, apa adanya, tanpa dibuat-buat. Maaf, ya,

Ina,” kata Anthony lagi.

“Sebagaimana Ina ingin mulai dari Gripe, saya juga sesungguhnya selalu mulai dari sana. Kakek saya salah satu bagian dari tangga-tangga Gripe. Kakek pernah menetap di sini, seperti yang sudah kuceritakan padamu. Lamalera adalah salah satu tempat imajiner bagi kakek tentang kehidupan dan perjuangan hidup sebenarnya,” kata Anthony dengan tenang. Lyra diam saja.

“Bapa saya terjatuh di sana pada saat datang ke Lamalera bersama Mama untuk penelitian tradisi penang kapan ikan paus di Lamalera. Dia mengalami gegar otak. Bapa meninggal beberapa bulan setelah buku Lamalera edisi baru tulisan kakek, terbit. Maaf, tujuan kita jauh berbeda mengenai Gripe. Saya menggali keunikan Gripe untuk menemukan jejak kakek dan pada bagian mana yang menyebabkan bapaku terjatuh. Saya berusaha mengerti pada bagian mana Gripe menarik perhatianmu. Saya tidak dapat mendapatkannya selain Ina sendiri yang berusaha untuk mengerti,” Anthony membiarkan Lyra membelakanginya.

“Mungkin kita sama dalam hal Gripe. Sebuah tempat pertemuan dan perpisahan. Sebuah tempat harapan dan tujuan. Sebuah jembatan sesungguhnya yang menghubungkan satu sama lain, sebuah jem-batan berupa tangga-tangga telepati yang sanggup

480

mengikat sekaligus melepaskan. Maafkan aku, Ina! Bila mengecewakanmu…”

“Sekitar sepuluh sampai dua puluh kilometer ke depan, jalan lumayan bagus. Naiklah! Mari kita pergi,” ajak Anthony. Akan tetapi, Lyra berjalan sendirian. Dia tidak mau berada di belakang laki-laki itu lagi.

“Ina, maafkan saya,” Anthony mengikuti Lyra sambil terus memohon maaf.

***

Lyra memasuki jalanan sepi, benar-benar sepi. Rindang pohon sepanjang kiri kanan jalan, nyanyian burung dan desiran angin lebih menggugah kesunyian pagi dalam perjalanan menuju Lewoleba. Tiba-tiba Lelarat datang dari arah jalan setapak di tengah rim-bun pohon jagung. Anthony terkejut. Ia segera turun dari motor dan menatap Lelarat dengan berbagai pertanyaan.

“Jangan pergi, Ina,” kata Lelarat di hadapan Lyra. “Ada apa Bapa Lelarat. Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Anthony.

“Bapa…,” Lyra tersenyum sekilas, menerima uluran tangan Lelarat dan dengan ikhlas menyentuh tangan dalam genggaman itu dengan dahinya.

“Mau ke mana?” “Pulang Pak.”

481

“Jangan pulang sebelum sampai,” Lelarat berdiri di hadapan Lyra.

“Bapa Lelarat mau apa?” tanya Anthony.

“Jangan pulang sebelum sampai,” kata Lelarat lagi. “Saya takut, saya sedih…sedih sekali, Bapa,” kata Lyra dengan sejujurnya.

“Gembiralah, bahagialah,” Lelarat tersenyum. “Kem bali pulang! Karena engkau datang untuk mene-mukan kebenaran dalam hidupmu. Carilah dan temukan kebenaran itu sampai dapat. Biar seluruh dunia tahu, Ina ada di sini karena memang harus ada, harus diterima, dan harus duduk, dan merayakan pesta pertobatan bersama-sama.”

“Ya, Bapa,” sahut Lyra dengan suara hampir tidak terdengar.

“Bapa Lelarat…” Anthony terpana keheranan. “Gerbang Lamalera adalah laut dan pantai Lamalera. Ina Lera… engkau sudah berani datang dari gerbang, pulanglah juga dari gerbang. Jangan pulang lewat pintu belakang. Jika terpaksa Ina harus pulang dari pintu belakang, itu terjadi karena pintu gerbang juga tahu kepulanganmu, Ina. Jika memang Ina harus pulang melalui pintu belakang, pulanglah demi kebenaran ini.”

“Terima kasih, Bapa…,” Lyra berbalik dan melang-kah pasti untuk kembali ke Lamalera. Dia tidak lagi bicara sepatah kata pun. Anthony mengikuti dengan

482

gembira yang yakin akan temuannya. Anthony meng-ikuti dengan segenap hatinya.

Hari masih pagi, mentari memastikan dirinya me-nembus rindang pohon sepanjang jalan menurun dari Puor menuju Lamalera. Angin berhembus perlahan. Ada lembaran daun dari daun-daun yang luruh ke bumi hinggap di bahu Ina Lera. Anthony menjangkaunya dengan mata dan hatinya. Lamalera, Lembata, Juni, 2007; April - Mei 2016 Jakarta, 12 Juni 2016 Sading Denpasar, 09 September 2016 Kupang, 29 Januari 2017

---483

Dalam dokumen SURAT PENCATATAN CIPTAAN (Halaman 39-48)

Dokumen terkait