BAB I BAB I
PENDAHULUAN PENDAHULUAN
A.
A. Latar BelakangLatar Belakang
Wanita merupakan makhluk yang memiliki sistem reproduksi cukup unik. Wanita merupakan makhluk yang memiliki sistem reproduksi cukup unik. Salah satunya adalah mereka mengalami haid setiap bulannya yang tidak dialami Salah satunya adalah mereka mengalami haid setiap bulannya yang tidak dialami oleh pria. Seringkali mereka mengeluhkan sakit atau ketidaknyamanan ketika oleh pria. Seringkali mereka mengeluhkan sakit atau ketidaknyamanan ketika mengalami haid. Haid adalah perdarahan periodik normal uterus dan merupakan mengalami haid. Haid adalah perdarahan periodik normal uterus dan merupakan fungsi fisiologis yang hanya terjadi pada wanita. Pada dasarnya haid merupakan fungsi fisiologis yang hanya terjadi pada wanita. Pada dasarnya haid merupakan proses
proses katabolisme katabolisme dan dan terjadi terjadi di di bawah bawah pengaruh pengaruh hormon hormon hipofisis hipofisis dan dan ovariumovarium (Benson, 2009).
(Benson, 2009).
Wanita yang mengalami haid biasanya mengeluhkan gejala-gejala dalam Wanita yang mengalami haid biasanya mengeluhkan gejala-gejala dalam dua hari pertama. Gejala tersebut antara lain ketidakstabilan emosi, sakit kepala, dua hari pertama. Gejala tersebut antara lain ketidakstabilan emosi, sakit kepala, tidak bergairah, dan nafsu makan menurun. Gejala fisik yang paling umum adalah tidak bergairah, dan nafsu makan menurun. Gejala fisik yang paling umum adalah ketidaknyamanan, nyeri dan kembung di daerah perut, rasa tertekan pada daerah ketidaknyamanan, nyeri dan kembung di daerah perut, rasa tertekan pada daerah kemaluannya dan
kemaluannya dan dismenoredismenore (Benson, 2009). (Benson, 2009).
Gangguan fisik yang sangat menonjol pada wanita haid adalah
Gangguan fisik yang sangat menonjol pada wanita haid adalah dismenoredismenore.. Dismenore
Dismenore dibedakan menjadi dua yaitu dibedakan menjadi dua yaitu dismenoredismenore primer dan primer dan dismenoredismenore sekunder.
sekunder. Dismenore Dismenore primer biasanya terjadi dari mulai pertama haid kurang lebih primer biasanya terjadi dari mulai pertama haid kurang lebih usia 10-15 tahun (menarke) sampai usia 25 tahun. Nyeri pada
usia 10-15 tahun (menarke) sampai usia 25 tahun. Nyeri pada dismenoredismenore primer primer lebih dikarenakan kontraksi uterus. Sedangkan
lebih dikarenakan kontraksi uterus. Sedangkan dismenoredismenore sekunder disebabkan sekunder disebabkan oleh kelainan yang didapat di dalam rongga uterus (Hendrik, 2006).
Dismenore
Dismenore primer dialami oleh 60-75 % wanita muda. Dari tiga perempat primer dialami oleh 60-75 % wanita muda. Dari tiga perempat jumlah
jumlah wanita wanita tersebut tersebut mengalamimengalami dismenoredismenore dengan intensitas ringan atau dengan intensitas ringan atau sedang. Sedangkan seperempat bagiannya mengalami
sedang. Sedangkan seperempat bagiannya mengalami dismenoredismenore intensitas berat intensitas berat dan terkadang membuat penderitanya tidak dapat menahan rasa nyeri yang dan terkadang membuat penderitanya tidak dapat menahan rasa nyeri yang dialami. Hasil angket yang diberikan kepada peserta pelatihan di salah satu pusat dialami. Hasil angket yang diberikan kepada peserta pelatihan di salah satu pusat industri di Indonesia dapat menunjukkan keluhan buruh wanita (jumlah responden industri di Indonesia dapat menunjukkan keluhan buruh wanita (jumlah responden 55 orang), antara lain nyeri haid 58,18%, nyeri perut bagian bawah 16,36%, haid 55 orang), antara lain nyeri haid 58,18%, nyeri perut bagian bawah 16,36%, haid yang tidak teratur 41,82% dan nyeri pinggang 34,55%. Gambaran tersebut sangat yang tidak teratur 41,82% dan nyeri pinggang 34,55%. Gambaran tersebut sangat jelas
jelas menunjukkan menunjukkan adanya adanya buruh buruh yang yang mengalami mengalami beberapa beberapa gejala gejala yang yang terkaitterkait dengan kesehatan reproduksi. Keluhan itu dialami oleh buruh wanita usia dengan kesehatan reproduksi. Keluhan itu dialami oleh buruh wanita usia produksi
produksi sehingga sehingga kondisi kondisi itu itu pun pun dikhawatirkan dikhawatirkan akan akan mengganggu mengganggu produktivitasproduktivitas mereka (Hendrik, 2006).
mereka (Hendrik, 2006).
Penelitian menunjukan bahwa
Penelitian menunjukan bahwa dismenoredismenore mempengaruhi aktivitas siswi mempengaruhi aktivitas siswi SMK Batik 1 Surakarta. Dari 85 siswi yang menjadi responden penelitian 61,7% SMK Batik 1 Surakarta. Dari 85 siswi yang menjadi responden penelitian 61,7% di antaranya mengalami penurunan aktivitas sedangkan sisanya sebanyak 38,3% di antaranya mengalami penurunan aktivitas sedangkan sisanya sebanyak 38,3% tidak mengalami penurunan aktivitas (Kurniawati, 2008).
tidak mengalami penurunan aktivitas (Kurniawati, 2008). Nyeri
Nyeri dismenoredismenore jika tidak segera diatasi akan mempengaruhi fungsi jika tidak segera diatasi akan mempengaruhi fungsi mental dan fisik individu sehingga mendesak untuk segera mengambil mental dan fisik individu sehingga mendesak untuk segera mengambil tindakan/terapi secara farmakologis atau non farmakologis. Terapi secara tindakan/terapi secara farmakologis atau non farmakologis. Terapi secara farmakologis salah satunya dengan pemberian obat-obat analgesik. Obat golongan farmakologis salah satunya dengan pemberian obat-obat analgesik. Obat golongan NSAID
NSAID (( Nonsteroidal Antiinflammatory Drugs Nonsteroidal Antiinflammatory Drugs ) ) dapat meredakan nyeri ini dengandapat meredakan nyeri ini dengan cara memblok
menggunakan NSAID memiliki efek samping yang berbahaya terhadap sistem menggunakan NSAID memiliki efek samping yang berbahaya terhadap sistem tubuh lainnya (nyeri lambung dan resiko kerusakan ginjal) (Wibowo, 2004).
tubuh lainnya (nyeri lambung dan resiko kerusakan ginjal) (Wibowo, 2004).
Terapi non farmakologis antara lain pengaturan posisi, teknik relaksasi, Terapi non farmakologis antara lain pengaturan posisi, teknik relaksasi, manajemen sentuhan, manajemen lingkungan, distraksi, dukungan perilaku, manajemen sentuhan, manajemen lingkungan, distraksi, dukungan perilaku, imajinasi, kompres dan pemberian ramuan herbal. Terapi ramuan herbal dapat imajinasi, kompres dan pemberian ramuan herbal. Terapi ramuan herbal dapat dilakukan dengan cara menggunakan obat tradisional yang berasal dari dilakukan dengan cara menggunakan obat tradisional yang berasal dari bahan- bahan
bahan tanaman. tanaman. Beberapa Beberapa bahan bahan tanaman tanaman dipercaya dipercaya dapat dapat mengurangi mengurangi rasa rasa nyeri.nyeri. Salah satu tanaman tersebut adalah jahe (
Salah satu tanaman tersebut adalah jahe ( Zingibers Zingibers Officinale RoOfficinale Rosc.sc.) yang bagian) yang bagian rimpangnya berfungsi sebagai analgesik, antipiretik, dan anti inflamasi (Pramono, rimpangnya berfungsi sebagai analgesik, antipiretik, dan anti inflamasi (Pramono, 2002).
2002).
Jahe juga dapat digunakan untuk kompres pada nyeri rematik dan sakit Jahe juga dapat digunakan untuk kompres pada nyeri rematik dan sakit kepala yaitu dengan cara mengompreskan air rebusan daun jahe. Jahe dapat kepala yaitu dengan cara mengompreskan air rebusan daun jahe. Jahe dapat digunakan dengan cara dipanaskan diatas bara api ditumbuk dan digunakan untuk digunakan dengan cara dipanaskan diatas bara api ditumbuk dan digunakan untuk bagian
bagian tubuh tubuh yang yang nyeri nyeri (Kurniawati, (Kurniawati, 2010). 2010). Penelitian Penelitian menunjukan menunjukan bahwabahwa ekstrak jahe yang diberikan kepada tikus percobaan mampu mengurangi lesi di ekstrak jahe yang diberikan kepada tikus percobaan mampu mengurangi lesi di rongga pencernaan. Selain itu jahe juga dapat menekan sekresi asam lambung. rongga pencernaan. Selain itu jahe juga dapat menekan sekresi asam lambung. (Yahya, 1989). Jahe
(Yahya, 1989). Jahe dapat digunakan bersama asam dapat digunakan bersama asam jawa untuk meredakan jawa untuk meredakan nyerinyeri haid. Asam jawa mengandung asam sitrat, asam sitrat inilah yang membantu haid. Asam jawa mengandung asam sitrat, asam sitrat inilah yang membantu meringankan nyeri (Suharmiati, 2006). Menurut penelitian Omar dan Ayman meringankan nyeri (Suharmiati, 2006). Menurut penelitian Omar dan Ayman (2008) asam sitrat memiliki kemampuan untuk mengurangi respon nyeri viseral (2008) asam sitrat memiliki kemampuan untuk mengurangi respon nyeri viseral pada
pada tikus tikus percobaan. percobaan. NyeriNyeri dismenoredismenore adalah salah satu contoh nyeri viseral. adalah salah satu contoh nyeri viseral. Asam jawa juga diyakini memiliki komponen kimia yang bersifat antioksidan. Asam jawa juga diyakini memiliki komponen kimia yang bersifat antioksidan.
Asam jawa akan lebih dapat ditingkatkan aktivitas antioksidannya apabila di Asam jawa akan lebih dapat ditingkatkan aktivitas antioksidannya apabila di padukan dengan rempa
padukan dengan rempah lain (Astawan, 2009).h lain (Astawan, 2009).
Sebelumnya pernah dilakukan penelitian tentang pengaruh minuman Sebelumnya pernah dilakukan penelitian tentang pengaruh minuman kunyit (kunyit asam) dalam mengurangi nyeri
kunyit (kunyit asam) dalam mengurangi nyeri dismenoredismenore primer pada remaja primer pada remaja putri. Hasil penelitian
putri. Hasil penelitian menunjukan bahwa menunjukan bahwa penurunan tingkat penurunan tingkat nyeri terjadi rata-ratanyeri terjadi rata-rata setelah 15 menit perlakuan (Marlina, 2012).
setelah 15 menit perlakuan (Marlina, 2012).
Produk herbal saat ini memang sedang menjadi alternatif utama bagi para Produk herbal saat ini memang sedang menjadi alternatif utama bagi para remaja putri yang ingin mengurangi rasa nyeri pada
remaja putri yang ingin mengurangi rasa nyeri pada dismenoredismenore tanpa mendapattanpa mendapat efek samping (Limananti & Triratnawati, 2003). Produk herbal ini bisa didapat efek samping (Limananti & Triratnawati, 2003). Produk herbal ini bisa didapat dengan mengolah tanaman rempah sebagai salah satu penatalaksanaan nyeri dengan mengolah tanaman rempah sebagai salah satu penatalaksanaan nyeri dismenore
dismenore. Tanaman rempah-rempah yang telah disebutkan memiliki efek. Tanaman rempah-rempah yang telah disebutkan memiliki efek analgesik sehingga dapat mengurangi rasa nyeri pada
analgesik sehingga dapat mengurangi rasa nyeri pada dismenoredismenore primer. primer. TelahTelah disebutkan sebelumnya bahwa
disebutkan sebelumnya bahwa dismenoredismenore primer dialami oleh wanita usia 10-15 primer dialami oleh wanita usia 10-15 tahun (menarke) sampai usia 25 tahun. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah tahun (menarke) sampai usia 25 tahun. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan dari 180 mahasiswi angkatan 2010- 2012, 100 diantaranya mengalami dilakukan dari 180 mahasiswi angkatan 2010- 2012, 100 diantaranya mengalami dismenore
dismenore primer setiap bulannya. Oleh karena itu penulis ingin meneliti lebih primer setiap bulannya. Oleh karena itu penulis ingin meneliti lebih lanjut tentang efektivitas minuman ramuan rempah jahe dan asam dalam lanjut tentang efektivitas minuman ramuan rempah jahe dan asam dalam mengurangi rasa nyeri
mengurangi rasa nyeri dismenoredismenore primer pada mahasiswi Keperawatan primer pada mahasiswi Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Angkatan 2010-2012.
B. Perumusan Masalah
Dismenore adalah gejala fisik yang dialami wanita pada saat haid. Gejala fisik ini menimbulkan ketidaknyamanan sehingga seringkali mengganggu aktifitas sehari-hari. Obat golongan NSAID misalnya, terbukti efektif dalam mengurangi ketidaknyamanan pada saat haid. Namun obat ini dapat menimbulkan efek samping yang merugikan terhadap sistem tubuh lain apabila digunakan dalam jangka waktu lama. Ada beberapa alternatif pengobatan dismenore salah satunya
terapi herbal ramuan rempah jahe asam.
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana pengaruh minuman ramuan rempah (jahe dan asam) dalam mengurangi nyeri dismenore pada mahasiswi Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Angkatan 2010-2012?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum:
Mengetahui pengaruh minuman rempah jahe asam dalam mengurangi nyeri dismenore.
2. Tujuan Khusus:
a. Mengetahui karakteristik usia responden penderita dismenore primer.
b. Mengetahui skala nyeri sebelum dan sesudah diberi minuman rempah jahe asam.
c. Menganalisa pengaruh mengurangi rempah jahe asam terhadap penurunan skala nyeri dismenore.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi bagi penelitian selanjutnya tentang terapi lain untuk mengurangi nyeri haid menggunakan olahan rempah jahe merah dan asam kawak.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Universitas
Sebagai masukan dan informasi dalam rangka pengembangan program seperti misalnya penyuluhan kepada masyarakat mengenai tanaman obat yang bermanfaat.
b. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi mengenai manfaat yang terkandung di dalam tanaman obat-obatan sebagai pereda rasa nyeri. Memberikan pengetahuan tentang bagaimana mengolah ramuan rempah yang aman dan tanpa bahan pengawet untuk meringankan nyeri dismenore.
c. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman tentang kegunaan tanaman obat sebagai terapi herbal khususnya jahe dan asam yang dapat digunakan sebagai ramuan rempah untuk mengurangi nyeri dismenore. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya terkait terapi herbal dalam mengurangi nyeri dismenore.
E. Keaslian Penelitian
Pelitian terkait dengan terapi mengatasi nyeri dismenore, penatalaksanaan nyeri menggunakan ramuan rempah, dan penelitian mengenai rempah itu sendiri pernah dilakukan oleh peneliti lain. Namun penelitian mengenai ramuan rempah jahe dan asam belum pernah diteliti. Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian
yang dilakukan oleh peneliti lain:
Puji, I. (2009) pernah meneliti mengenai keefektifan senam dismenore dalam mengurangi nyeri dismenore. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – April 2009. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dalam satu kelompok. Variabel bebasnya adalah senam dismenore. Sedangkan variabel terikatnya adalah nyeri dismenore. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dimana purposive sampling didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, dengan ciri dan syarat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Peneliti mengumpulkan data dan menyajikannya dalam tabel uji Paired Sample t-Test . Uji Paired Sample t-Test didapatkan nilai signifikansi yaitu 0,000 yang nilainya lebih kecil dari taraf kesalahan (α) 0,05 atau dengan signifikansi 95 % dan nilai mean 3,733, standart deviasi 3,195, standart error mean 0,825. Nilai t tabel adalah 1,761, maka daerah penerimaan Ho antara -1,761 sampai dengan 1,761. Pada penelitian ini, nilai t hitung 4,525, maka nilai di luar daerah penerimaan Ho, artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat diputuskan bahwa hipotesis efektivitas senam dismenore dalam mengurangi nyeri haid atau dismenore pada remaja diterima.
Rahayu (2010) melakukan penelitian tentang Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Dismenore Primer pada Mahasiswi Semester VIII S1 Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Semarang. Penelitiannya menggunakan penelitian pra eksperimen dengan rancangan one group pretest-postest dimana pada penelitian ini sampel di observasi terlebih dahulu sebelum (pretest) diberi perlakuan kemudian setelah (postest) diberikan perlakuan sampel tersebut di observasi kembali. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi semester VIII S1 Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Semarang yang berjumlah 48 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan cara total sampling yaitu cara pengambilan sampel dengan pengambilan semua anggota populasi menjadi sampel. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 sampai 29 juli 2010. Uji statistik menggunakan uji T dependent diketahui ada pengaruh
kompres hangat terhadap tingkat dismenore primer (p-value 0,05).
Astuti (2011) telah melakukan penelitian mengenai Efektivitas Pemberian Ekstrak Jahe Merah ( Zingiber Officinale Roscoe Varr Rubrum) Dalam Mengurangi Nyeri Otot Pada Atlet Sepak Takraw. Metode penelitiannya menggunakan studi eksperimental dengan rancangan Pre And Post tes Design pada 18 atlet sepak takraw usia 14-20 tahun di Pusat Pendidikan Latihan Pelajar
Jawa Tengah bulan Mei-Juni 2011. Tingkat nyeri diukur menggunakan skala nyeri bourbonnais. Kelompok perlakuan diberikan ekstrak jahe merah sebanyak 3x2 kapsul sehari selama sepuluh hari. Analisis data bivariat menggunakan uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukan tingkat nyeri pada kedua kelompok setelah intervensi sama-sama menurun. Penurunan lebih besar terjadi pada kelompok
perlakuan. Pengujian perbedaan tingkat nyeri dengan menggunakan skala nyeri bourbonnais pada kelompok perlakuan sebelum dan sesudah intervensi menunjukkan perbedaan bermakna (p=0,008). Sebaliknya, pengujian yang sama pada kelompok kontrol menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna (p=0,012). Terdapat penurunan nyeri otot pada atlet sepak takraw yang diberikan ekstrak jahe merah sebanyak 3x2 kapsul sehari selama sepuluh hari. Tingkat nyeri otot atlet sepak takraw berada dalam kategori tingkat nyeri ringan.
Anindita (2010) telah melakukan penelitian tentang Pengaruh Kebiasaan Mengkonsumsi Minuman Kunyit Asam Terhadap Keluhan Dismenore Primer Pada Remaja Putri di Kotamadya Surakarta. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional . Pengambilan sampel untuk penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil simpulan bahwa terdapat pengaruh kebiasaan mengkonsumsi minuman kunyit asam terhadap keluhan dismenore primer pada remaja putri di Kotamadya Surakarta. Pengaruh kebiasaan tersebut terhadap keluhan dismenore primer adalah dalam hal mengurangi keluhan dismenore primer pada remaja putri. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan positif antar variabel yang ditunjukkan oleh hasil penghitungan Odds Ratio.
Zhang Wy dan Li Wan Po A (1998) melakukan penelitian berjudul Minor Analgesics Are Effective For Primary Dysmenorrhoea. Penelitian ini menunjukan bahwa naproxen dan ibuprofen dapat mengurangi nyeri dismenore secara efektif.
Akin, et al (2001) melakukan penelitian berjudul Continuous Topical Heat Was As Effective As Ibuprofen For Dysmenorrhea. Penelitian menggunakan consecutive sampling dalam pengambilan samplenya. Hasil penelitian menunjukan bahwa kompres hangat sama efektifnya dengan penurunan tingkat nyeri menggunakan ibuprofen.
Ozgoli, Goli, dan Moattar (2009) melakukan penelitian berjudul Comparison of Effects of Ginger, Mefenamic Acid, and Ibuprofen on Pain in Women with Primary Dysmenorrhea. Hasil akhir dari penelitian ini tidak menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara jahe, asam mefenamat, dan ibuprofen dalam mengurangi nyeri dismenore. Ketiganya memiliki efektivitas yang sama.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pengertian Haid
Haid atau haid adalah proses alami yang datang secara berulang setiap bulan pada wanita normal sejak masa pubertas hingga menjelang menopause yang disertai perdarahan. kedatangan haid ini secara berulang disebut siklus haid. Normalnya siklus haid adalah 28 hari. Namun untuk sebagian wanita siklus ini tidak teratur dan bervariasi berkisar antara 22-25 hari (Gunawan, 2010).
Haid pada dasarnya merupakan proses katabolisme dan terjadi dibawah pengaruh kelenjar hipofisis dan ovarium. Durasi rata-rata perdarahan haid adalah 3-7 hari. Tetapi setiap orang dapat memiliki durasi perdarahan yang berbeda-beda (Benson, 2009).
2. Pengertian Dismenore
Wanita yang mengalami haid bisa jadi mengalami gangguan pada saat haid. Salah satu gangguan yang terjadi pada saat haid adalah dismenore. Dismenore merupakan perasaan nyeri pada waktu haid dapat berupa kram
ringan pada bagian kemaluan sampai terjadi gangguan dalam tugas sehari-hari. Gangguan ini ada 2 jenis yaitu dismenore primer dan sekunder. Dismenore primer yaitu dismenore yang terjadi tanpa adanya kelainan anatomis genitalis. Sedangkan dismenore sekunder adalah dismenore yang
tejadi akibat kelainan anatomis genitalis seperti misalnya haid disertai infeksi, endometriosis, mioma uteri, polip serviks, dan lain-lain (Manuaba, 2009).
Nyeri haid atau dismenore merupakan nyeri kejang otot (spasmodik) di perut bagian bawah dan menyebar ke sisi dalam paha atau bagian bawah pinggang yang menjelang haid atau selama haid akibat kontraksi otot rahim. Keluhan nyeri haid bisa ringan sampai berat dan berubah keluhan ke seluruh tubuh antara lain muntah, mual, lelah, sakit daerah bawah pinggang, cemas, tegang, pusing dan bingung (Harmanto, 2006).
Menurut Baziad (2003) dismenore dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:
a. Dismenore Ringan
Rasa nyeri yang berlangsung beberapa saat, hanya diperlukan istirahat sejenak (duduk, berbaring) sehingga dapat dilakuan kerja atau aktivitas sehari-hari.
b. Dismenore Sedang
Diperlukan obat untuk menghilangkan rasa nyeri tanpa perlu meninggalkan aktivitas sehari-hari.
c. Dismenore Berat
Untuk menghilangkan keluhan istirahat beberapa hari, dengan akibat meninggalkan aktivitas sehari-hari.
Nyeri dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan berdasarkan pada sifat, tempat, berat ringannya dan waktu lamanya serangan. Menurut klasifikasi ini, nyeri dismenore termasuk ke dalam jenis deep pain (nyeri
dalam) karena terjadi pada organ tubuh viseral yaitu pada saluran reproduksi (Asmadi, 2008).
Nyeri merupakan suatu kondisi yang lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu. Nyeri bersifat subjektif dan sangat bersifat individual. Stimulus nyeri dapat berupa stimulus yang bersifat fisik dan mental. Nyeri dapat diukur dengan beberapa metode sebagai berikut (Potter & Perry, 2006):
a. Visual Analog Scale (VAS)
VAS merupakan suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus-menerus dan mewakili alat pendeskripsi verbal pad setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS merupakan pengukur keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik daripada memilih satu kata atau angka.
Gambar 2.1 Skala Penilaian Nyeri VAS b. Verbal Descriptive Scale (VDS)
VDS adalah alat pengukuran nyeri yang lebih objektif. Skala berupa garis lurus yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Penggolongan nyeri dimulai dari tidak nyeri sampai nyeri tak tertahankan.
c. Numeric Rating Scale (NRS)
Skala penilaian ini digunakan untuk menggantikan penilaian dengan deskripsi kata. Klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala yang paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan sesudah intervensi terapeutik. Menurut Strong, et al (2002) dalam Datak (2008), NRS merupakan skala nyeri yang paling sering dan lebih banyak digunakan di klinik, khususnya pada kondisi akut, NRS digunakan untuk mengukur intensitas nyeri sebelum dan sesudah intervensi teraupetik. NRS mudah digunakan dan didokumentasikan.
Gambar 2.2 Skala Penilaian Nyeri NRS 3. Etiologi Dismenore Primer
Dismenore primer terjadi akibat endometrium mengalami peningkatan prostaglandin dalam jumlah tinggi. Di bawah pengaruh progesteron selama fase luteal haid, endometrium yang mengandung prostaglandin meningkat mencapai tingkat maksimum pada awitan haid. Prostaglandin menyebabkan kontraksi myometrium yang kuat dan mampu menyempitkan pembuluh darah mengakibatkan iskemia, disintegrasi endometrium dan nyeri (Morgan & Hamilton, 2009).
Prostaglandin F2 alfa adalah suatu perangsang kuat kontraksi otot polos myometrium dan konstriksi pembuluh darah uterus. Hal ini
memperparah hipoksia uterus yang secara normal terjadi pada haid sehingga timbul nyeri berat (Corwin, 2008). Selain itu, kejadian dismenore primer juga dapat dipicu oleh faktor psikogenik yaitu stress emosional dan ketegangan, kurang vitamin, atau rendahnya kadar gula (Dianawati, 2003).
4. Karakteristik dan Faktor yang Berkaitan dengan Dismenore Primer (Morgan & Hamilton, 2009):
a. Dismenore primer umumnya dimulai 1-3 tahun setelah haid.
b. Kasus ini bertambah berat setelah beberapa tahun sampai usia 23-27 tahun, lalu mulai mereda.
c. Umumnya terjadi pada wanita nulipara.
d. Dismenore primer lebih sering terjadi pada wanita obesitas. e. Kejadian ini berkaitan dengan aliran haid yang lama.
f. Jarang terjadi pada atlet.
g. Jarang terjadi pada wanita yang memiliki status haid tidak teratur. 5. Deskripsi Perjalanan Penyakit
Dismenore primer muncul berupa serangan ringan, kram pada bagian tengah, bersifat spasmodik yang dapat menyebar ke punggung atau paha bagian dalam. Umumnya ketidaknyamanan muncul 1-2 hari sebelum haid. Namun nyeri paling hebat muncul pada hari pertama haid. Dismenore kerap
disertai efek seperti muntah, diare, sakit kepala, nyeri kaki, dan sinkop (Morgan & Hamilton, 2009).
6. Penatalaksanaan Nyeri Dismenore
Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen dan asam mefenamat). Obat ini akan efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum haid sampai hari ke 1-2 pada saat haid. Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual tetapi mual dan muntah biasanya hilang setelah kram teratasi. Selain dengan obat-obatan rasa nyeri juga dapat dikurangi dengan istirahat yang cukup, olahraga teratur (terutama berjalan), yoga, orgasme pada aktivitas seksual, kompres hangat daerah perut. Jika masih nyeri dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberikan pil KB dosis rendah yang mengandung estrogen dan progesteron, hal ini untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan mengurangi pembentukan prostaglandin yang selanjutnya dapat mengurangi serangan dismenore (Indriasari, 2009). Selain itu nyeri juga dapat diatasi dengan teknik distraksi (mengalihkan perhatian klien), massage/pijatan, maupun teknik relaksasi (Asmadi, 2008).
Pengobatan nyeri haid primer secara modern dilakukan dengan memberi anti nyeri yang bekerja menekan prostaglandin. Nyeri haid bisa juga diatasi dengan ramuan rempah. Ramuan rempah untuk mengatasi nyeri haid yang digunakan biasanya menggunakan bahan-bahan yang memiliki khasiat sebagai anti radang, anti nyeri dan antispasmodik (kejang otot). Ada beberapa cara meminum yang dianjurkan antara lain pada saat haid atau 3-5 hari sebelum haid (Suharmiati & Handayani, 2006).
7. Ramuan Rempah yang Digunakan untuk Mengurangi Nyeri Dismenore
Jahe termasuk tanaman herbal semusim dengan batang semu hijau, tegak, tingginya 40-50 cm beralur dan membentuk rimpang. Rimpang jahe mengandung 2-3 % minyak atsiri yang terdiri dari zingiberin, kemferia, limonene, borneol, sineol, zingiberal, linalool, geraniol, kavikol, zingiberol, gingerol dan shogaol. Rimpang jahe juga mengandung minyak damar yang terdiri dari zingeron, pati, damar, asam organik, asam oksalat, asam malat, dan gingerin. Rimpang jahe bersifat anti peradangan/anti inflamasi (Suharmiati & Handayani, 2006).
Jahe adalah bumbu dapur yang memiliki stimulant pemulih tenaga (tonikum) dan pereda rasa nyeri (analgesik). Senyawa gingerol sebagai kandungan utama adalah suatu antioksidan kuat yang efektif mengatasi radang. Dewasa ini, jahe merupakan bahan ramuan lebih dari 50% obat tradisional yang mampu mengatasi kondisi seperti mual, kram perut, demam, infeksi, dan lain-lain. Jahe memiliki kandungan kalsium dan zat besi yang cukup tinggi, bahkan studi menunjukan bahwa jahe mampu menghentikan mual dan muntah di pagi hari pada wanita hamil, pasien pasca bedah, mencegah penyakit pembuluh darah, mengatasi gangguan pencernaan, infeksi usus, rematik, dan migren (Tim Redaksi Vitahealth, 2004). Rimpang jahe mengandung unsur gizi penting seperti kalsium, magnesium, zat besi, beta karoten dan vitamin C. Zat besi yang terkandung dalam jahe dapat digunakan untuk mencegah anemia pada saat haid. Sedangkan kalsium dan vitamin C dalam jahe berguna untuk menenangkan saraf dan mengurangi rasa nyeri
(Alam & Hadibroto, 2007). Senyawa shogaol dan gingerol juga berfungsi sebagai anti mual. Kedua senyawa ini memiliki sifat antioksidan yang lebih tinggi daripada vitamin E (Khomsan & Anwar, 2006).
Peradangan tubuh yang terjadi akibat sistem autoimun dalam mengeluarkan zat yang bernama prostaglandin yang menyebabkan rasa sakit di daerah peradangan. Obat golongan NSAID dapat meredakan nyeri ini dengan cara memblok prostaglandin yang menyebabkan nyeri. Pengobatan dengan menggunakan NSAID memiliki efek samping yang berbahaya terhadap sistem tubuh lainnya (nyeri lambung dan resiko kerusakan ginjal). Jahe mengandung gingerol yang mampu memblokir prostaglandin (Wibowo, 2004). Penelitian menunjukan bahwa jahe memiliki efektivitas yang sama dengan asam mefenamat dan ibuprofen dalam mengurangi rasa nyeri pada dismenore primer. Selain itu tidak ditemukan efek samping yang parah dari jahe (Ozgoli, Goli, & Moattar 2009). Penelitian lain juga menunjukan bahwa jahe memiliki efek sebagai anti ulseratif di dalam lambung sehingga aman
untuk lambung (Yahya, et al, 1989).
Seperti halnya rempah-rempah lain (misalnya jahe), asam jawa juga diyakini mengandung komponen bioaktif yang bersifat antioksidan yaitu pencegah radikal bebas yang dapat merusak sel tubuh. Komponen bioaktif
asam jawa juga dapat berinteraksi dengan reaksi-reaksi fisiologis, sehingga mempunyai kapasitas antimikroba, anti pertumbuhan sel kanker dan sebagainya. Jenis asam yang terkandung dalam buah asam jawa adalah asam tartrat, asam malat, asam sitrat, asam suksinat, asam asetat, asam askorbat dan
asam laktat. Kandungan asam tersebut antara lain berfungsi untuk memudahkan buang air besar, melancarkan peredaran darah, dan mendinginkan suhu tubuh. Total kadar asamnya mencapai 12,3%-23,8% sebagian besar berupa asam tartrat. Selain itu daging buah asam juga mengandung 30-40% gula. Kandungan energinya cukup tinggi yaitu 239 kkal per 100 gr buah. Oleh karena itu kombinasinya dengan gula merah akan menghasilkan kesegaran terutama akibat dari energi yang dihasilkan. Kombinasi penggunaan rempah lain dengan asam jawa dapat meningkatan aktivitas antioksidannya (Astawan, 2009). Kandungan asam sitrat di dalam asam jawa bermanfaat mengurangi ekskresi kalsium dan membantu mencegah terbentuknya batu ginjal. Sedangkan asam tartrat merupakan antioksidan yang baik (Saparinto & Hidayati, 2006).
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa jahe memiliki efektivitas yang sama dengan ibuprofen dalam mengurangi nyeri. Secara umum ibuprofen dikenal sangat cepat dan efektif diserap setelah pemberian peroral. Puncak konsentrasi di dalam plasma sangat singkat yaitu antara 15 menit-1 jam. Kerja dari ibuprofen pun sama dengan jahe yaitu dengan menghambat sintesis prostaglandin. Obat-obat/herbal yang sejenis dengan ibuprofen sangat mudah diabsorbsi oleh sistem gastrointestinal. Waktu paruh obat adalah waktu yang diperlukan obat untuk dimetabolisme. Waktu paruh ibuprofen relatif singkat (Kee & Hayes, 1996). Penelitian Marlina (2012) menunjukan bahwa dari 17 siswi SMA yang mengalami nyeri dismenore berat mengalami penurunan nyeri menjadi nyeri sedang, 11 siswi yang mengalami nyeri sedang
mengalami penurunan menjadi nyeri dengan intensitas ringan. Penurunan nyeri ini dialami 15 menit setelah para siswi meminum minuman kunyit asam. Curcumin yang terkandung dalam kunyit mampu menghambat sintesis prostaglandin sama halnya seperti gingerol dalam jahe (Marlina, 2012).
8. Jenis Ramuan dan Pengolahan
Ramuan atau jamu nyeri haid terdiri dari bahan yang mempunyai khasiat sebagai pengurang nyeri, pereda kejang, dan peluruh haid. Bahan- bahan yang diperlukan untuk membuat ramuan nyeri dismenore adalah
sebagai berikut (Suharmiati & Handayani,2006): a. Jahe merah (pengurang nyeri) 10 gram.
b. Buah asam kawak (peluruh haid dan pereda kejang) 10 gram. c. Gula merah atau aren (pemanis) 10 gram.
d. Air 400 ml.
Cara pembuatan dan konsumsi ramuan adalah sebagai berikut:
jahe dikupas, dicuci, kemudian dipotong-potong. Seluruh bahan direbus sampai tersisa 200 ml. Air rebusan tersebut diminum 1 kali sehari sampai nyeri hilang.
Penatalaksanaan nyeri haid secara non farmakologis: 1. Istirahat.
2. Olahraga. 3. Yoga. 4. Orgasme.
5. Kompres hangat. 6. Ditraksi, massage dan
relaksasi.
7. Ramuan rempah (jahe & asam) mengandung gingerol, shogaol dan antioksidan dapat memblok prostaglandin sehingga menurunkan nyeri.
B. Kerangka Teori
Berdasarkan penjabaran teori dari Hamilton (2009), Harmanto (2006), Wibowo (2004), Tim redaksi vitahealth (2004), Astawan (2009), Suharmiati handayani (2006) yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat ditarik kerangka teori sebagai berikut:
Gambar 2.3 Kerangka Teori Endometrium mengalami peningkatan prostaglandin. Ini menyebabkan kontraksi myometrium meningkat, penyempitan pembuluh dara, sehingga terjadi iskemi dan n eri. Nyeri haid atau dismenore
adalah kejang otot (spasmodik) di perut bagian bawah, menyebar ke sisi dalam paha atau bawah pinggang menjelang haid atau
selama haid.
Manifestasi dismenore: Muntah, mual, capek, sakit daerah bawah pinggang, lemas, pusing. Penatalaksaan nyeri haid secara farmakologis: 1. Obat anti peradangan non steroid (misalnya ibuprofen dan asam mefenamat. 2. Pil KB dosis rendah.
C. Kerangka Konsep
Keterangan:
= diteliti
Gambar 2.4 Kerangka Konsep
D. Hipotesis
Hipotesis penelitian adalah prediksi dari suatu penelitian. Hipotesis penelitian harus dinyatakan secara jelas, tepat, d an dapat diukur (Saryono, 2011).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh minuman rempah dalam mengurangi skala nyeri pada penderita dismenore primer sebelum dan sesudah mengkonsumsi minuman. Jahe dan asam yang digunakan untuk membuat ramuan memiliki efek yang diharapkan dapat mengurangi skala nyeri. Dari penjelasan tersebut, maka dapat ditarik hipotesis kerja (Ha) sebagai berikut:
Ha: Ramuan rempah (jahe merah dan asam kawak) memiliki pengaruh dalam mengurangi skala nyeri dismenore primer pada mahasiswi jurusan keperawatan angkatan 2010-2012 Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
VARIABEL BEBAS:
Ramuan rempah dari jahe dan asam kawak.
VARIABEL TERIKAT: Nyeri dismenore primer pada
mahasiswi angkatan 2010-2012 keperawatan Universitas
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
1. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental dengan desain studi pre eksperimen one group pre and post tes design yaitu dengan menggunakan satu kelompok responden di mana kelompok tersebut diberikan perlakuan. Pengukuran dilakukan sebelum dan setelah perlakuan. Adanya perbedaan hasil pengukuran dianggap sebagai efek dari perlakuan (Saryono, 2011). Kelompok yang diteliti sebelumnya diukur skala nyerinya lalu diberi perlakuan yaitu dengan meminum ramuan rempah jahe asam. Setelah diberikan perlakuan, kelompok ini diukur kembali skala nyerinya 15 menit kemudian. 15 menit ini didapat dari penelitian sebelumnya tentang pengaruh minuman kunyit asam yang menunjukan penurunan tingkat nyeri terjadi rata-rata setelah 15 menit perlakuan (Marlina, 2002).
O1 X O2
Gambar 3.1 Desain Penelitian Keterangan:
O1 = pengukuran skala nyeri menggunakan NRS sebelum diberi ramuan rempah.
O2 = pengukuran skala nyeri menggunakan NRS setelah diberi ramuan rempah 15 menit kemudian.
2. Cara Pendekatan
a. Ramuan yang telah siap dikonsumsi dan lembar skala nyeri diberikan pada responden.
b. Responden meminum ramuan tersebut.
c. Skala nyeri diukur sebelum responden meminum ramuan dan 15 menit setelah meminum ramuan.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kampus jurusan keperawatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
B. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah mahasiswi jurusan keperawatan Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2010-2012 sebanyak 180 orang.
1. Teknik pengambilan sampel
Berdasarkan peluang kesempatan, maka teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive sampling disebut juga judgement sampling yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel di antara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti (tujuan/masalah dalam penelitian), sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2008).
2. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inklusi:
a. Mahasiswi yang mengalami dismenore primer.
b. Mahasiswi yang siklus haidnya teratur (1 bulan sekali mengalami haid). c. Mahasiswi yang terbiasa, suka, dan tidak memiliki alergi terhadap bahan
rempah maupun jamu tradisional. d. Bersedia menjadi responden.
Kriteria eksklusi:
a. Mahasiswi yang mengalami kelainan sistem reproduksi. b. Mahasiswi yang sudah menikah.
c. Mahasiswi yang terbiasa menggunakan terapi untuk mengurangi nyeri haid (contoh: analgesik atau kiranti).
C. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang bervariasi. Hampir seluruh aspek pada manusia memiliki variasi. Beberapa jenis variabel adalah sebagai berikut (Saryono, 2011):
1. Variabel bebas (independent variable): Variabel yang merangsang variabel target. 2. Variabel terikat (dependent variable):
Pada penelitian ini variabelnya adalah sebagai berikut:
1. Variabel bebas (independent variable) : ramuan rempah jahe asam.
2. Variabel terikat (dependent variable) : nyeri dismenore primer mahasiswi keperawatan angkatan 2010-2012 Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
D. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No Variabel Definisi Variabel Cara Ukur Hasil Ukur Skala Data 1. Ramuan
rempah.
Ramuan yang terdiri dari jahe merah 10 gram, asam 10 gram, gula merah 10 gram, dan air 400 ml. Jahe dikupas, dicuci dan diiris. Semua bahan dimasukan ke dalam air dan direbus hingga air tersisa 200 ml. Minuman ramuan rempah ini diminum 1 kali dan langsung habis ketika merasa nyeri dismenore yaitu 2 hari pertama haid.
Air yang digunakan untuk merebus ramuan rempah diukur menggunakan gelas ukur. Bahan yang digunakan ditimbang dengan menggunakan timbangan. Air yang digunakan sebanyak 400 ml untuk perebusan. Ramuan rempah yang telah matang melalui proses perebusan sebanyak 200 ml. -2. Nyeri dismenore primer.
Nyeri yang terjadi saat haid diukur sebelum meminum ramuan rempah dan 15 menit setelah meminum ramuan rempah jahe asam. Pengukuran
Alat ukur nyeri menggunakan lembar penilaian nyeri NRS. Nilai nyeri digambarkan dengan menggunakan angka 0-10 dimana angka 0 menggambarkan Rasio
dilakukan dengan cara melingkari angka pada lembar penilaian nyeri.
keadaan tidak nyeri dan angka 10 menggambarkan keadaan nyeri hebat (tidak dapat beraktivitas). E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik sehingga mudah diolah (Saryono, 2011). Instrumen dalam penelitian ini adalah angket tertutup yaitu berupa lembar penilaian skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS) dan lembar petunjuk pembuatan ramuan rempah serta penggunaannya.
F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Validitas merupakan suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar- benar mengukur apa yang diukur. Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Bila sudah ada instrumen pengumpul data yang standar, maka bisa digunakan oleh peneliti (Saryono, 2011). Peneliti tidak melakukan uji validitas dan realibilitas alat ukur atau instrumen. Alat ukur yang digunakan adalah skala nyeri NRS. Skala nyeri NRS sudah terbukti secara klinis validitas dan realibilitasnya.
G. Jalannya Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
1. Jalannya Penelitian
Prosedur penelitian yang telah dilakukan dibagi dalam tiga tahapan yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, pengumpulan data.
a. Tahap persiapan terdiri dari konsultasi pembimbing, studi pustaka, menyusun proposal penelitian, dan melaksanakan ujian seminar proposal. b. Tahap pelaksanaan terdiri dari mengurus perijinan serta menyiapkan
instrumen dan ramuan rempah. Instrumen penelitian berupa lembar penilaian skala nyeri NRS. Pembuatan ramuan rempah dilakukan 3 hari sekali dikarenakan masa kadaluarsa ramuan adalah 3 hari setelah proses pembuatan.
c. Tahap pengumpulan data terdiri dari memilih sampel penelitian sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi, mengumpulkan sampel dan menjelaskan tentang proses penelitian, membagikan instrumen berupa lembar penilaian skala nyeri dan ramuan rempah, dan mengumpulkan data yang telah dilengkapi oleh responden. Setelah data terkumpul kemudian diproses dan dianalisis. Data yang dianalisis disusun menjadi laporan akhir dibawah bimbingan dosen pembimbing.
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah observasi, khususnya observasi eksperimental. Observasi eksperimental adalah observasi yang dilakukan pada hasil perlakuan. Instrumen observasi berupa blanko atau format pengamatan (Saryono, 2011). Peneliti membagikan blanko atau lembaran
berupa lembar penilaian skala nyeri NRS yang diisi oleh responden sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan. Peneliti juga membagikan ramuan siap
konsumsi kepada responden. Ramuan diminum ketika nyeri dismenore mulai dirasakan. Sebelum responden meminum ramuan tersebut, responden diminta melingkari angka yang terdapat di dalam lembar penilaian skala nyeri NRS. Pengukuran kembali dilakukan 15 menit setelah responden meminum ramuan tersebut.
H. Analisis Data
Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut (Saryono, 2011): 1. Editing, yaitu kegiatan penyusunan data yang telah terkumpul dan melakukan
pengecekan kelengkapan data untuk mengoreksi kesalahan. Tujuannya adalah mengurangi kesalahan.
2. Coding, yaitu kegiatan pengklasifikasian hasil dari para responden sehingga mempermudah dalam pengujian hipotesis.
3. Encoding dan scoring , yaitu kegiatan penilaian terhadap hasil yang perlu dinilai/skor.
4. Tabulating , yaitu menyajikan data-data yang telah diproses sebelumnya ke dalam suatu tabel.
Metode analisis data dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat. Pada analisis univariat, data yang diperoleh dari hasil pengumpulan dapat disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Analisis bivariat merupakan analisis untuk mengetahui interaksi dua variabel (Saryono, 2011).
Analisis univariat dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui karakteristik responden yaitu usia responden sedangkan analisis bivariat digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh minuman jahe asam dalam mengurangi skala nyeri dismenore. Data yang telah diperoleh kemudian diuji normalitasnya dengan menggunakan uji kolmogorov smirnov karena sampel penelitian lebih dari 50 orang (Dahlan, 2008). Hasil dari uji normalitas menunjukkan bahwa data skala nyeri dismenore sebelum dan sesudah diberi perlakuan distribusinya tidak normal, maka dari itu peneliti menggunakan uji
alternatif dari t test berpasangan yaitu uji wilcoxon.
I. Etika Penelitian
Dalam penelitian yang melibatkan manusia atau hewan, peneliti harus memperhatikan isu etik. Beberapa yang harus diperhatikan dalam penelitian ini antara lain (Saryono, 2011):
1. Mencantumkan nama dan sumber apabila mengutip karya orang lain.
2. Informed consent. Tujuan informed consent adalah supaya responden mengerti maksud dan tujuan penelitian serta mengetahui dampaknya. Responden dapat menentukan bersedia ataupun menolak menjadi sampel penelitian.
3. Anonymity yaitu tidak mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode.
4. Kerahasiaan (confidentiality) yang merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian pengaruh minuman rempah jahe asam dalam mengurangi skala nyeri pada dismenore primer mahasiswi keperawatan angkatan 2010-2012 Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto telah dilaksanakan selama 55 hari dari tanggal 1 Maret 2013 sampai dengan 24 April 2013. Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling di mana responden penelitian diambil berdasarkan pertimbangan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Responden pada penelitian ini berjumlah 70 orang. Responden diberi minuman rempah sebanyak satu kali dalam 1 bulan pada saat dismenore. Penilaian skala nyeri dismenore dilakukan sebelum (pre-test) meminum ramuan rempah dan 15 menit setelah (post -test) meminum ramuan rempah menggunakan skala nyeri NRS. Analisis data yg didapat dalam penelitian ini menggunakan uji statistik Wilcoxon karena distribusi data tidak normal sehingga tidak dapat dilakukan analisis menggunakan t test berpasangan.
1. Karakteristik Usia Responden
Karakteristik usia responden mahasiswi keperawatan angkatan 2010-2012 Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.1 Karakteristik Usia Responden
Mean Median Minimum Maximum
usia 19,5 19,5 18 21
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa rata-rata usia responden adalah 19,5 tahun dengan minimum usia 18 tahun dan maximum 21 tahun. 2. Hasil pengukuran skala nyeri pre dan post
a. Skala nyeri pre
Berdasarkan data penelitian yang diperoleh pada responden yang telah mengkonsumsi minuman rempah jahe dapat dilihat terdapat perubahan skala nyeri dismenore. Distribusi frekuensi skala nyeri dismenore sebelum diberikan intervensi (pre) dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini:
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan skala nyeri dismenore sebelum meminum ramuan rempah
No Skala Nyeri Sebelum Frekuensi (n) Persentase (%) 1 2 8 11,4 2 3 20 28,6 3 4 22 31,4 4 5 13 18,6 5 6 6 8,6 6 7 1 1,4 Total 70 100
Skala nyeri sebelum diberi perlakuan yang paling banyak dialami oleh responden terdapat di angka 4 atau skala nyeri sedang dengan frekuensi 22 atau persentase 31,4 %.
b. Skala nyeri post
Hasil pengukuran skala nyeri dismenore setelah diberikan intervensi (post) dapat dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini:
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan skala nyeri dismenore 15 menit setelah meminum ramuan rempah
No Skala Nyeri Sesudah Frekuensi (n) Persentase (%) 1 0 22 31,4 2 1 27 38,6 3 2 9 12,9 4 3 7 10 5 4 4 5,7 6 5 1 1,4 Total 70 100
Skala nyeri setelah perlakuan yang paling banyak ditemui pada responden terdapat di angka 1 atau skala nyeri ringan dengan frekuensi 27 atau 38,6 %.
3. Menganalisa pengaruh konsumsi minuman ramuan rempah jahe asam terhadap penurunan skala nyeri dismenore primer
Untuk menilai adanya pengaruh pada penelitian ini, peneliti menggunakan uji statistik. Salah satu syarat dalam t test berpasangan adalah data wajib terdistribusi normal. Peneliti telah melakukan uji normalitas Kolmogorov Smirnov dan menunjukan hasil data tidak terdistribusi normal, oleh karena itu analisis hasil penelitian dapat dilanjutkan dengan menggunakan uji alternatif Wilcoxon. Hasil analisis dengan menggunakan uji Wilcoxon dapat dilihat dalam tabel 4.4 di bawah ini:
Tabel 4.4 Nilai rata-rata skala nyeri dismenore sebelum (pre) dan sesudah (post) meminum ramuan rempah jahe asam
Variabel Minimum Maximum Median SD p value
Skala nyeri pre 2 7 4 1,19
0,000
Skala nyeri terendah yang ditemui sebelum perlakuan terdapat di angka 2 dan tertinggi di angka 7. Skala nyeri terendah sesudah perlakuan terdapat di angka 0 dan tertinggi di angka 5. Nilai tengah dari skala nyeri pre didapatkan angka 4 sedangkan dari skala nyeri post didapatkan angka 1.
Hasil uji analisis statistik parametrik dengan menggunakan uji Wilcoxon menunjukan bahwa nilai p= 0,00 dengan taraf signifikansi 5 % (0,05). Dapat ditarik kesimpulan bahwa Ha diterima. P= 0,00 < 0,05 menunjukan bahwa minuman ramuan rempah jahe asam memiliki pengaruh dalam mengurangi skala nyeri dismenore primer pada mahasiswi.
B. Pembahasan
1. Karakteristik usia responden
Berdasarkan pada hasil pengambilan data yang telah didapatkan rata-rata usia responden adalah 19,5 tahun dengan usia minimum 18 tahun dan maximum 21 tahun. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Novia dan Puspitasari (2008) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dismenore primer. Penelitian menunjukan bahwa dismenore primer lebih banyak ditemukan pada rentang usia 15-25 tahun dengan persentase 87% pada jumlah responden 100 orang. Penelitian lainnya oleh Ortiz (2010) menunjukan bahwa rata-rata usia responden yang mengalami dismenore adalah 17-35 tahun.
Dismenore primer umumnya dimulai pada 1-3 tahun setelah haid pertama (menarche). Kasus ini bertambah berat beberapa tahun hingga usia 23-27 tahun (Morgan & Hamilton, 2009).
2. Skala nyeri dismenore pre dan post
Sebagian besar responden mengalami penurunan skala nyeri pre yaitu berada di skala 4 atau nyeri sedang dengan persentase 31,4%, sedangkan pada pengukuran post sebagian responden mengalami nyeri di skala 1 atau nyeri
ringan dengan persentase 38,6%. Hasil penelitian tersebut didukung oleh Marlina (2012) tentang pengaruh minuman kunyit asam terhadap nyeri dismenore primer yang menunjukan bahwa ada penurunan skala nyeri berat menjadi sedang dan skala nyeri sedang menjadi ringan. Ramuan yang diberikan mampu mengurangi nyeri responden sehingga mereka dapat melanjutkan aktivitas sehari-hari.
3. Pengaruh minuman rempah jahe asam untuk mengurangi skala nyeri dismenore primer pada mahasiswi keperawatan
Berdasarkan uji statistik Wilcoxon didapat nilai p sebesar 0,000. Dengan demikian nilai p lebih kecil dari nilai (5%) atau 0,05 sehingga Ha diterima yang berarti ada pengaruh yang signifikan dari minuman ramuan rempah jahe asam dalam mengurangi skala nyeri dismenore primer mahasiswi keperawatan universitas jenderal soedirman angkatan 2010-2012.
Minuman jahe asam dikonsumsi saat nyeri dismenore dirasakan. Pengukuran skala nyeri dilakukan sebelum meminum ramuan rempah dan 15 menit setelah meminum ramuan rempah. Hasil penelitian ini didukung oleh
penelitian lain tentang efek klinis jahe dalam mengobati dismenore primer sebanyak 209 responden yang terbagi menjadi kelompok perlakuan 105 orang dan kontrol 104 orang. Pengukuran skala nyeri dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan dimana ditemukan hasil p= 0,01 yang artinya p<0,05 berarti ada pengaruh dari ekstrak jahe dalam mengobati dismenore primer (Xin Hua, Li
Hong, Jian Jun, Ji Jun, & Yan Fen, 2003). Selain itu penelitian lain yang dilakukan oleh Xiao Yan dan Jing (2006) tentang efek dari jahe moksibusi dalam mengobati dismenore primer menunjukan bahwa dari 100 reponden terdapat hasil 43 % di antaranya sangat efektif, 46 % efektif dan 11 % tidak efektif. Peneliti juga menambahkan bahwa terapi menggunakan jahe adalah terapi yang aman dan efektif dalam mengurangi nyeri dismenore primer.
Penelitian lain tentang tentang kunyit asam oleh Marlina (2012) menunjukan ada penurunan skala nyeri pada responden setelah meminum ramuan tersebut. Nilai p yang diperoleh adalah 0,000 yang berarti p<0,05 atau terdapat pengaruh minuman kunyit asam terhadap penurunan skala nyeri pada dismenore primer.
Jahe terbukti memiliki keefektifan yang sama dengan asam mefenamat dan ibuprofen dalam mengurangi nyeri dismenore primer. Hal ini dibuktikan oleh Ozgoli, Goli dan Moattar (2009) dalam penelitiannya yang berjudul ”Comparison of effect s of ginger, mefenamic acid, and ibuprofen on pain in women with primary dysmenorrhea”. Khasiat jahe juga dibenarkan oleh Terry, Pozadski, Watson dan Ernst (2011) dalam penelitiannya disebutkan bahwa jahe terbukti dapat mengurangi nyeri akibat osteoarthritis dan nyeri dismenore.
Nyeri pada dismenore terjadi akibat pelepasan prostaglandin tertentu. Prostaglandin F2 alfa yang berasal dari sel-sel endometrium uterus. Prostaglandin F2 alfa adalah salah satu perangsang kuat kontraksi otot polos myometrium dan kontriksi pembuluh darah uterus. Obat-obatan anti inflamasi (contohnya obat non steroid NSAID) dapat memperlambat pembentukan prostaglandin (Corwin, 2008). Telah disebutkan bahwa penelitian sebelumnya membuktikan jahe memiliki efektifitas yang sama dengan asam mefenamat dan ibuprofen dalam mengurangi nyeri dismenore karena jahe mengandung zat yang dinamakan senyawa gingerol yang memiliki sifat anti inflamasi dan dapat menghambat terbentuknya prostaglandin sehingga mengurangi rasa nyeri. Asam aspartic dalam jahe dapat mengurangi keletihan atau rasa lemas. Selain itu jahe juga dapat mengurangi rasa mual dan muntah (Tim Lentera, 2002). Jahe mampu memblok prostaglandin seperti obat non steroid tanpa mengganggu lambung dan ginjal karena kandungan gingerol nya (Wibowo, 2004). Jahe yang dipadukan dengan rempah lain dapat mengalami peningkatan efek farmakologis (Tim Lentera, 2002). Dalam farmakologi jahe memiliki efektivitas yang sama dengan ibuprofen dan asam mefenamat sebagai analgesik alami.
Jahe dapat dipadukan dengan lemon sebagai obat batuk dan dengan asam sebagai penghilang rasa nyeri pada dismenore. Asam adalah buah yang memiliki kadar antioksidan tinggi dan akan bertambah kadar antioksidannya apabila dipadukan dengan rempah lain. Penelitian menunjukan bahwa pada pemberian minuman kunyit yang dicampur dengan asam dapat mengurangi
skala nyeri dismenore selama rata-rata 15 menit setelah perlakuan diberikan (Marlina, 2012). Kandungan kimia yang terdapat dalam buah asam antara lain asam sitrat, asam tartrat, asam suksinat, asam apel, dan lain-lain. Zat-zat ini bersifat antibiotik, anti edema, penurun panas, dan juga anti inflamasi atau anti radang. Buah asam juga dapat mengatasi sakit perut atau nyeri akibat haid (Redaksi AgroMedia, 2008). Kandungan energi dalam buah asam juga sangat tinggi yaitu 239 kkal per 100 gram daging buah. Kombinasinya dengan gula merah dapat memberikan kesegaran pada tubuh sehingga mengurangi perasaan letih dan lemas karena gula mengandung karbohidrat dan kalori yang tinggi. Buah asam juga mengandung komponen bioaktif yang bersifat antioksidan tinggi sehingga memiliki beberapa manfaat seperti anti kanker dan antimikroba. Sifat anti oksidan buah asam dapat ditingkatkan apabila dipadukan dengan bahan rempah lainnya seperti salah satunya jahe. Asam berfungsi untuk melancarkan peredaran darah sehingga dapat mencegah
terjadinya kontriksi pembuluh darah ketika dismenore (Astawan, 2009).
Berdasarkan data penelitian yang telah diperoleh, minuman rempah yang berasal dari perpaduan jahe dan asam memang terlihat memiliki pengaruh dalam mengurangi skala nyeri dismenore namun terdapat 1 responden yang mengalami peningkatan skala nyeri pada siklus I, yaitu dari skala 2 menjadi skala 8. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa faktor resiko antara lain kegemukan, riwayat merokok, atau riwayat dismenore dalam keluarga (Suharmiati & Handayani, 2005). Selain itu cemas, stress, maupun keletihan
juga dapat mempengaruhi persepsi nyeri seseorang sehingga memungkinkan untuk memperburuk kondisi nyeri seseorang (Muttaqin, 2008).
Dari penjelasan yang telah peneliti uraikan, dapat ditarik asumsi bahwa minuman rempah yang dibuat dari jahe dan asam dapat mengurangi skala nyeri dismenore secara signifikan karena mengandung senyawa kimia yang dapat memblok prostaglandin. Jahe dan asam sama-sama memiliki sifat anti radang dan dapat memperlancar peredaran darah dengan cara mengatasi vasokontriksi pembuluh darah menjadi vasodilatasi yang terjadi pada saat dismenore sehingga nyeri dapat berkurang. Skala nyeri juga dipengaruhi oleh beberapa faktor resiko yang dapat mengakibatkan nyeri bertambah seperti kelelahan, kecemasan, stress, aktifitas, kegemukan, dan riwayat nyeri sebelumnya. Persepsi tiap orang terhadap nyeri juga sangat bersifat subjektif sehingga dapat mempengaruhi respon nyeri yang bervariasi.
C. Keterbatasan penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan antara lain:
1. Variabel-variabel yang mempengaruhi nyeri seperti stress, letih, riwayat nyeri, kegemukan dan aktifitas belum diamati oleh peneliti. Hal tersebut bisa menjadi faktor lain yang mempengaruhi penurunan nyeri dalam penelitian ini.
2. Homogenitas sampel dalam penelitian ini sesuai dengan kriteria penelitian, namun faktor-faktor pengganggu dalam penelitian ini tidak bisa dikendalikan karena minimnya variasi karakteristik (faktor aktifitas, stress, riwayat nyeri, dan lain-lain).
3. Tidak ada standarisasi suhu minuman yang siap dikonsumsi sehingga peneliti tidak dapat mengamati kemungkinan adanya perbedaan pegaruh antara suhu minuman hangat dan dingin terhadap nyeri.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata usia responden 19,5 tahun. Usia minimum 18 tahun dan maximum 21 tahun.
2. Hasil pengukuran skala nyeri adalah sebagai berikut:
a. Skala nyeri sebelum perlakuan (pre) yang paling banyak ditemui pada angka 4 atau nyeri sedang dengan persentase 31,4%. Skala nyeri sesudah perlakuan (post) yang paling banyak ditemui pada angka 1 atau nyeri ringan
dengan persentase 38,6%.
b. Analisis statistik dengan menggunakan uji Wilcoxon menunjukan nilai p=0,000 < 0,05, hal ini menunjukan ada pengaruh minuman jahe asam
dalam mengurangi skala nyeri dismenore primer pada mahasiswi keperawatan angkatan 2010-2012 universitas jenderal soedirman purwokerto.