• Tidak ada hasil yang ditemukan

antropologi dampak modernisasi terhadap perubahan sosial pertanian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "antropologi dampak modernisasi terhadap perubahan sosial pertanian"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1. PERTANIAN 1. PERTANIAN

DAMPAK MODERNISASI TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT TANI DAMPAK MODERNISASI TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT TANI ABSTRAK

ABSTRAK Penelitian ini

Penelitian ini bertujuan untuk bertujuan untuk menganalisis bagaimana modernisamenganalisis bagaimana modernisasi berdampak terhadap perbuahansi berdampak terhadap perbuahan sosial budaya masyarakat tani. Dampak modernisasi terhadap perubahan sosial budaya masyarakat sosial budaya masyarakat tani. Dampak modernisasi terhadap perubahan sosial budaya masyarakat tani adalah meningkatnya produktivitas pertanian Indonesia karena modernisasi terjadi dominan tani adalah meningkatnya produktivitas pertanian Indonesia karena modernisasi terjadi dominan pada bidang teknologi yang mampu meningkatkan hasil pertanian

pada bidang teknologi yang mampu meningkatkan hasil pertanian secara kuantitatif. Namun secarasecara kuantitatif. Namun secara kualitatif peningkatan teknologi ini juga

kualitatif peningkatan teknologi ini juga berdampak pada ketergantungaberdampak pada ketergantungan Indonesia terhadapn Indonesia terhadap perusahaan asing dalam pengadaan teknologi tersebut. Sebagian besar petani di

perusahaan asing dalam pengadaan teknologi tersebut. Sebagian besar petani di Indonesia masihIndonesia masih belum siap menghadapi modernisasi yang terjadi, sehingga kemampuan sumber daya petani belum siap menghadapi modernisasi yang terjadi, sehingga kemampuan sumber daya petani perluperlu untuk ditingkatkan. Selain itu, peningkatan teknologi pertanian yang terjadi belum sama besar untuk ditingkatkan. Selain itu, peningkatan teknologi pertanian yang terjadi belum sama besar dengan penigkatan sumber daya petani. Modernisasi yang terjadi pun sulit untuk

dengan penigkatan sumber daya petani. Modernisasi yang terjadi pun sulit untuk dibendung dandibendung dan memang harus terjadi. Oleh sebab itu, untuk membangun pertanian pemerintah Indonesia perlu memang harus terjadi. Oleh sebab itu, untuk membangun pertanian pemerintah Indonesia perlu lebih terfokus pada pengembangan sumber daya petani dalam hal pemahaman perkembangan lebih terfokus pada pengembangan sumber daya petani dalam hal pemahaman perkembangan teknologi pertanian. Metode yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode teknologi pertanian. Metode yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode kuantitatif. Makalah ini dibuat

kuantitatif. Makalah ini dibuat dengan menggunakadengan menggunakan data sekunder n data sekunder yang merupakan data yangyang merupakan data yang diperoleh dari dokumen tertulis baik yang berupa

diperoleh dari dokumen tertulis baik yang berupa tulisan ilmiah maupun buku.tulisan ilmiah maupun buku. PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Modernisasi adalah proses transformasi suatu masyarakat dari

Modernisasi adalah proses transformasi suatu masyarakat dari masyarakamasyarakat yang t yang tradisional menjaditradisional menjadi masyarakat modern. Karena dengan modernisasi suatu masyarakat dapat

masyarakat modern. Karena dengan modernisasi suatu masyarakat dapat meningkatkan efektifitasmeningkatkan efektifitas pekerjannya. Modernisasi juga perlu diterapkan diberbagai aspek

pekerjannya. Modernisasi juga perlu diterapkan diberbagai aspek kehidpuan, salah satunyakehidpuan, salah satunya pertanian. Karena peran pertanian sangat penting

pertanian. Karena peran pertanian sangat penting dalam kehidupan kita sebagai sumber kebutuhandalam kehidupan kita sebagai sumber kebutuhan pokok sehari-hari. Dengan adanya modernisasi di

pokok sehari-hari. Dengan adanya modernisasi di bidang pertanian ini dapat bidang pertanian ini dapat menjadikan masyaramenjadikan masyarakatkat tani yang lebih

tani yang lebih modern dalam menjalankan sektor sektor pertanian. Pada kondisi masyarakat tanimodern dalam menjalankan sektor sektor pertanian. Pada kondisi masyarakat tani sekarang produksi dan produktivitas petani

sekarang produksi dan produktivitas petani masih rendah karena hanya menggunakan peralatanmasih rendah karena hanya menggunakan peralatan yang sangat sederhana. Apalagi rata-rata kepemilikan lahan petani Indonesia adalah dibawah 0,25 yang sangat sederhana. Apalagi rata-rata kepemilikan lahan petani Indonesia adalah dibawah 0,25 ha. Dengan lahan yang

ha. Dengan lahan yang sedikit perlu sedikit perlu adanya pengolahaadanya pengolahan pertanian yang n pertanian yang modern apalagi modernisasimodern apalagi modernisasi cenderung dalam hal peningkatan teknolgi.

cenderung dalam hal peningkatan teknolgi. Pada kondisi masyarakat tani di

Pada kondisi masyarakat tani di Indonesia saat ini Indonesia saat ini petani Indonesia belum mempunyai mutupetani Indonesia belum mempunyai mutu pendidikan yang baik.

pendidikan yang baik. Soetrisno (2002) mengataSoetrisno (2002) mengatakan “Sebagian besar petani di kan “Sebagian besar petani di Indonesi yakni;Indonesi yakni; 40,73%, berpendidikan sekolah dasar; 4,62% berpendidikan SLTA; dan

40,73%, berpendidikan sekolah dasar; 4,62% berpendidikan SLTA; dan hanya 0,39% yanghanya 0,39% yang berpendidikan

berpendidikan akademi/unakademi/universiiversitas”. Kondisi rendahnya mutu pendidikan masyarakat tani ditas”. Kondisi rendahnya mutu pendidikan masyarakat tani di Indonesia ini membuat modernisasi pertanian yang terjadi mempunyai banyak resiko.

Indonesia ini membuat modernisasi pertanian yang terjadi mempunyai banyak resiko. Selain itu,Selain itu, para masyarakat tani pun banyak

para masyarakat tani pun banyak yang baru mengenal teknologi sehinnga inovasi dalam modernisasiyang baru mengenal teknologi sehinnga inovasi dalam modernisasi pertanian semakin sulit samapai pada petani.

pertanian semakin sulit samapai pada petani. Modernisasi pertanian ini juga menyebabkanModernisasi pertanian ini juga menyebabkan perubahan perubahan sosial dan budaya masyarakat tani seperti

perubahan perubahan sosial dan budaya masyarakat tani seperti paradigma petani dalamparadigma petani dalam

melakukan kegiatan pertanian; Perubahan struktur organisasi masyarakat; dan inovasi serta difusi melakukan kegiatan pertanian; Perubahan struktur organisasi masyarakat; dan inovasi serta difusi yang terjadi

yang terjadi

Namun jika masyarakat tani salah menyikapi modernisasi pertanian yang terjadi

Namun jika masyarakat tani salah menyikapi modernisasi pertanian yang terjadi bisa merugikanbisa merugikan masyarakat tani itu sendiri.

(2)
(3)

teknologi. Tingkat pendidikan petani yang masih rendah dalam hal ini bisa membuat masyarakat tani “dimanfaatkan” teknologi bukan memanfaatkanya. Dalam makalah ini akan dibahas Bagaimana dampak modernisasi terhadap perubahan sosial budaya masyarakat tani. Dengan demikian dapat Menganalisis bagaimana perbuahan sosial budaya masyarakat tani akibat dari modernisasi.

MODERNISASI PERTANIAN DAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA Modernisasi Pertanian

Modernisasi adalah suatu proses transformasi masyarakat yang menuntut terjadinya perubagan masyarakata dalam berbagai aspek Schrool (1980). Menurut (Sunito dan Sunito 2003 dalam

Koentjaraningrat 1975) Modernisasi sebagai proses mengembangkan sikap mental berorientasi ke masa depan, berhasrat mengeksploitasi lingkungan, menilai tinggi hasil karya manusia, dan sikap lain yang sejenis. Namun Modernisasi juga dapat diartikan sebagai perubahan-perubahan masyarakat yang bergerak dari keadaan yang tradisional atau dari masyarakat pra modern menuju kepada suatu masyarakat yang modern. Masyarakat modern adalah masyarakat yang sebagian besar warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam peradaban masa kini. Pada umumnya masyarakat modern tinggal di daerah perkotaan, sehingga disebut masyarakat kota.

Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa sebuah modernisasi memiliki syarat-syarat tertentu, yaitu sebagai berikut :

• Cara berpikir yang ilmiah yang berlembaga dalam kelas penguasa ataupun masyarakat. • Sistem administrasi negara yang baik, yang benar-benar mewujudkan birokrasi.

• Adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur yang terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu.

• Penciptaan iklim yang menyenangkan dan masyarakat terhadap modernisasi dengan cara penggunaan alat-alat komunikasi massa.

• Tingkat organisasi yang tinggi yang di satu pihak berarti disiplin, sedangkan di lain pihak berarti pengurangan

Schrool (1980) menguraikan proses modernisasi secara lebih rinci sebagai berikut:

1. Perubahan yang ada sebagai proses transformasi masyarakat dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern

2. Sebagai tumbuhnya industrialisasi seperti yang terjadi di Barat 3. Sebagai tumbuhnya ilmu pengetahuan

4. Sebagai usaha mengejar ketertinggalan dari negara industri maju

5. Secara politis merupakan proses bertambahnya pengaruh dan tugas birokrasi negara, dan bertambahnya ciri rasionalisme organisasi

(4)
(5)

6. Secara sosiologis dan antropologis sebagai proses diferensiasi sosial dan pembesaran skala Modernisasi pertanian adalah suatu bentuk perubahan-perubahan masyarakat tani yang bergerak dari suatu keadaan yang pertanian yang masih tradisional atau dari masyarakat pra modern menuju kepada suatu pertanian yang modern. Untuk mewujudkan pertanian yang modern menurut Salikin (2003) dibutuhkan kualitas sumberdaya petani dan nelayan yang menguasai ilmu dan teknologi pertanian, memiliki jiwa entrepreneurship , dan siap menghadapai kompetisi bisnis yang lokal maupun internasional. Perubahan-perubahan sosial petani akibat dari modernisasi adalah dengan diperkenalkannya mesin-mesin, seperti mesin penuai dan traktor tangan telah menghilangkan mata pencaharian penduduk yang selama ini mendapatkan upah dari menuai.

Perubahan Sosial Budaya

Menurut (Sunito dan Sunito 2003 dalam Selo Soemarjan 1981) perubahan sosial adalah gejala perubahan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya perubahan-perubahan dalam nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perikelakuan di antara kelompok-kelompok di dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial yang

terjadi cenderung terjadi dari tahap sederhana ke tahap yang lebih kompleks, dari tahap masyarakat sederhana (homogen) ke masyarakat yang lebih terdiferensiasi (heterogen). Perubahan sosial juga sangat berhubungan dengan pembangunan yang terjadi. Pembangunan adalah proses perubahan sosial masyarakat menuju yang lebih modern atau lebih sejahtera.

Dibawah ini akan dibahas empat faktor sumber perubahan yaitu lingkungan alam, kependudukan, inovasi dan difusi (Sunito dan Sunito 2003 dalam Calhoun, et al., 1994)

Lingkungan alam memberi peluang bagi perubahan sosial sekaligus menjadi pembatas bagi usaha manusia dalam mengusahakan perubahan. Lingkungan alam membentuk dan mempengaruhi perubahan sosial melalui berbagai jalan.

Jumlah, kepadatan, pertumbuhan dan komposisi penduduk mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan sosial dan organisasi sosial suatu masyarakat. Struktur penduduk merupakan salah satu aspek yang paling penting dan mendasar dari struktur sosial. Struktur penduduk mencangkup tidak saja jumlah dari suatu kelompok (dibanding kelompok lain) dalam populasi tetapi juga bagaimana sebaran geografis dan kategori sosialnya. Struktur penduduk berubah karena tindakan sosial dan perubahan pola budaya. Perubahan kependudukan ini berintegrasi fungsional dengan berbagai aspek kehidupan sosial lainya.

Inovasi didefinisikan sebagai pengembangan (sosial) dan pelembagaan dari ide-ide baru, produk baru, proses dan struktur baru. Difusi didefinisikan sebagai penyebaran inovasi-inovasi baru dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sangsakestra yaitu budhayah, yang merupakan bentuk  jamak dari buddhi (budi atau akal), diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal

manusia. Dalam bahasa Inggris, budaya dfisebut dengan culture yang berasal dari kata latin colere, yang bermakna mengolah atau mengerjakan. Kata culture terkadang juga diartikan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia. Menurut (Sunito dan Sunito 2003 dalam Soemardjan dan Soemardi 1964) Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarkat. Menurut Raharjo (1999)

(6)
(7)

Perubahan kultural (kebudayaan) adalah perubahan kebudayaan masyarakat desa dari pola tradisional menjadi bersifat modern.

DAMPAK MODERNISASI TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT TANI

Setiap negara akan lebih mudah mengalami modernisasi pada era globalisasi ini. Modernisasi yang terjadi pun terjadi di berbagai bidang. Salah satunya terjadi pada bidang pertanian. Modernisasi yang terjadi di bidang pertanian biasa disebut Modernisasi Pertanian. Modernisasi pertanian terjadi ditandai dengan perubahan pola-pola kegiatan pertanian dari yang tradisional menjadi yang lebih modern. Modernisasi pertanian dominan terjadi dalam hal peningkatan teknologi, seperti

penggunaan bibit unggul, pupuk organik, mesin-mesin pengolah pertaanian dan yang lainya. Namun Modernisasi pertanian tidak hanya terjadi pada kemajuan teknologi saja, Pola-pola kelembagaan yang membantu produktivitas pertanian juga banyak terjadi diantaranya; Organisasi organisasi pertanian seperti Kelompok tani dan yang lainya. Selain itu banyak juga kebijakan kebijakan pemerintah yang mendorong terjadinya modernisasi pertanian. Namun modernisasi pertanian ini menimbulkan paradigma pembangunan pertanian yang baru yaitu Paradigma Modernisasi Pertanian “Paradigma modernisasi pertanian yang bertujuan untuk mengubah sektor pertanian tradisional menjadi sektor pertanian modern yang mampu meningkatkan produksi sektor pertanian, merupakan paradigma yang menjadi rujukan bagi semua pemerintahan di negara-negara yang sedang

berkembang dalam membangun sektor pertanian mereka . Paradigma modernisasi pertanian tersebut dikenal dengan revolusi hijau ” (Soetrisno 1999)

Paradigma Modernisasi Pertanian tentu bertujuan untuk meningkatkan produktivitas segala bentuk kegiatan pertanian. Perkembangan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menunjukan

produktivitas pertanian yang lebih produktif. Dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Produktivitas Petani Padi Provinsi Jawa-Bali dan Indonesia No

Provinsi Tahun (Ku/Ha : Qu/Ha ) Pertumbuhan/ Growth 2012 over 2011 (%) 2008 2009 2010 2011 2012* 1 DKI Jakarta 50,93 55,79 55,40 55,23 58,22 5,41 2 Jawa Barat 56,06 58,06 57,60 59,22 58,74 -0,81 3 Banten 50,14 50,50 50,39 49,11 51,45 4,76 4 Jawa Tengah 55,06 55,65 56,13 54,47 57,70 5,93 5 D.I Yogyakarta 56,95 57,62 56,02 55,89 61,88 10,72 6 Jawa Timur 59,02 59,11 59,29 54,89 61,74 12,48 7 Bali 58,37 58,47 57,11 56,25 58,09 3,27 Indonesia 48,94 49,99 50,15 49,80 51,36 3,13 Sumber : Departemen Pertanian RI 2013

Dari Tabel 1. Kita dapat melihat produktivitas Petani Padi di Provinsi Jawa-Bali meningkat meskipun pada tahun 2011 sempat menurun. Dampak Modernisasi pertanian salah satunya dapat

meningkatkan produktivitas kegiatan pertanian. Dalam lima tahun produktivitas petani padi di Indonesia meningkat dari 48,94% pada tahun 2008 hingga 51,36% di tahun 2012

(8)
(9)

pertanian juga berdampak terhadap pola pikir masyrakat tani. Modernisasi pertanian yang dominan terjadi dalam bidang teknologi menimbulkan sedikit masalah bagi masyarakat tani. Tingkat

pendidikan petani yang masih rendah membuat petani sulit untuk menerima teknologi yang ada akibatnya petani menjadi sangat bergantung terhadap inovasi teknologi yang diberikan. Jika tidak adanya inovasi teknologi maka petani tidak bisa menyelsaikan permasalahannya.

Modernisasi pertanian dalam arti pemakaian teknologi seperti penggunaan mesin dan pupuk kimiawi menyebabkan ongkos produksi pertanian meningkat menjadi mahal sedangkan harga

produk yang dijual dari petani masih rendah. Hal ini dapat menimbulkan ketimpangan sosial diantara masyarakat tani. Para petani yang mempunyai teknologi dapat mempunyai kesejahteraan yang jauh lebih baik dari petani yang masih belum mempunyai teknologi. Petani yang tidak mempunyai

teknologi kelangsungan kehidupannya bergantung pada petani yang mempunyai berbagai teknologi karena memiliki kekuatan ekonomi yang lebih baik. Masalah yang diakibatkan dari pengembangan teknologi pertanian di Indonesia tidak hanya demikian. Lingkungan pertanian lain yang berubah juga munculnya perusahaan yang memegang monopoli teknologi pertanian. Negara-negara yang

mengembangkan dan memegang kendali dalam bidang teknologi pertanian justru bukan dari negara Indonesia melainkan dari negara asing seperti Amerika, Jepang dan yang lainya. Menurut Soetrisno (1999) “semua perubahan tersebut akan dapat mengancam perkembangan sektor pertanian di negara-negara yang sedang berkembang, apabila pemerintah negara-negara tersebut tidak mampu menciptakan paradigma baru dalam pembangunan pertanian”

Perusahaan-perusahaan yang memegang kendali atas teknologi pertanian pun perusahaan asing. Pada produksi benih saja yang merupakan awal dari produksi pertanian pun dikuasai oleh

perusahaan asing hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2.

No Nama Perusahaan Asal Negara Penjualan Pada Tahun 2007 Presentase dalam Keterlibatan Pasar Benih Dunia

1 Monsanto Amerika Serikat $4,964m 23% 2 DuPont Amerika Serikat $3,300m 15% 3 Syngenta Swiss $2,018m 9%

4 Groupe Limagrain Perancis $1,226m 6% 5 Land O’ Lakes Amerika Serikat $917m 4% 6 KWS AG Jerman $702m 3%

7 Bayer Crop Science Jerman $524m 2% 8 .Sakata Jepang $396m <2%

9 DLF-Trifolium Denmark $391m <2% 10 Takii Jepang $347m <2%

Tabel 2 Daftar Perusahaan Benih Terbesar di Dunia Sumber : GMWatch Organization

Benih merupakan hal yang sangat penting dalam produksi pertanian dan produksi benih tersebut  juga harus didukung oleh adanya teknologi pertanian yang mapan. Dalam hal ini Indonesia mungkin

masih sangat tertinggal. Hal ini hanya sebagai contoh kecil ketertinggalan Indonesia terhadap teknologi pertanian, maka dari itu Indonesia perlu meningkatkan kualita teknologi pertaniannya. PENUTUP

(10)
(11)

Kesimpulan

Modernisasi adalah proses perubahan sosial masyarakat dari suatu keadaan yang pra modern menjadi suatu keadaan yang modern. Modernisasi pertanian memiliki arti sebagai bentuk sebuah pembangunan pertanian yang menjadikan suatu pertanian yang tradisional menjadi pertanian yang modern. Modernisasi pertanian yang terjadi pun didominasi oleh pengembangan teknologi.

Modernisai pertanian ini menjadi suatu paradigma baru untuk membangun sektor pertanian. Hal ini berdampak terhadap kondisi perubahan sosial masyarakat tani. Secara umum dapat dinyatakan bahwa petani (padi) di Indonesia semakin produktif karena adanya modernisasi pertanian ini. Dalam  jangka waktu lima tahun terakhir produktivitas petani padi di Indonesia meningkat dari 48,94% pada

tahun 2008 hingga 51,36% di tahun 2012. Namun hal ini tidak selalu berdampak manis bagi

masyarakat tani. Kondisi pendidikan masyarakat tani yang masih rendah menjadikan teknologi yang masuk sulit diterima dan digunakan bagi petani. Selain itu, Terjadi ketimpangan sosial antara petani “kaya” yang mempunyai sumberdaya tekonologi yang lebih baik dibandingkan dengan petani

“miskin” yang tidak mempunyai teknologi yang cukup baik. Secara global modernisasi pertanian ini berdampak kurang menguntungkan bagi Indonesia karena perusahaan pengembang teknologi pertanian justru didominasi oleh perusahaan asing akibatnya Indonesia masih bergantung terhadap pihak luar dalam pengembangan teknologi pertanian.

Saran

Modernisasi pertanian yang terutama dalam pengembangan teknologi ini memang cukup baik, hal itu terbukti dengan meningkatnya produktivitas petani Indonesia. Tetapi seharusnya hal ini

diimbangi dengan meningkatnya pengembangan sumberdaya petani. Pemerintah seharusnya

sebagai pihak yang paling berwenang menciptakan sebuah paradigma pembangunan pertanian yang lebih terfokus pada pengembangan teknologi pertanian. Sehingga kedepannya Indonesia tidak sepenuhnya bergantung terhadap pihak asing dalam hal memproduksi komoditi pertanian. DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pertanian RI. 2013. Produktivitas Petani Padi Menurut Provinsi. [Internet]. [diunduh 22 Mei 2013]. Format/Ukuran: PDF/16,5 KB. Dapat diunduh dari

: http://www.deptan.go.id/infoeksekutif/tan/TP-asem2012/prodtv%20padi.pdf 

GMWatch. [tidak ada tahun]. The World's Top 10 Seed Companies. [Internet]. [diunduh 6 Juni 2013]. Dapat diunduh dari:

http://www.gmwatch.org/gm-firms/10558-the-worlds-top-ten-seed-companies-who-owns-nature

Rahardjo. 2004. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Yogyakarta [ID]. Gadjah Mada University Press. 238 hal.

Salikin KA. 2003. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Yogyakarta [ID]. Kanisius. 126 hal.

Schrool JW. 1980. Modernisasi : Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Sedang

Berkembang. (Alih bahasa dari bahasa Belanda oleh Soekardijo RG.) Jakarta [ID] PT Gramedia. [Judul Asli : Sociologi Der Modernisering Een Intelding In De Sociologie Der Niet-Westere Volken]. 322 hal. Soetrisno L. 2002. Paradigma Baru Pembangunan Pertanian Sebuah Tinjauan Sosiologis. Yogyakarta [ID]. Kanisius. 77 hal.

(12)

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan sosial budaya adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur sosial dan unsur-unsur budaya dalam kehidupan

Teori modernisasi dapat dipakai untuk menjelaskan pemikir- an dan gerakan modernisasi (tajdid) yang terjadi di dunia Islam. Modernisasi Islam di Indonesia secara historis tidak

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji; (1) dinamika sejarah modernisasi pertanian, (2) proses perubahan teknis dan ekonomi dalam pengelolaan usahatani padi sawah

4) Guru memberi motivasi kepada peserta didik. 5) Guru menanyakan tentang materi pembelajaran berkaitan denganpengaruh positif modernisasi bagi perubahan sosial untuk

Sebab permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan mehramya penyaldt tersebtrt, pada hakekatnya tidak terlepas dari perubahan perilaku sosial -budaya masyarakat yang terjadi

Definisi dampak sosial budaya dalam artikel ini merujuk kepada Ahimsa-Putra &amp; Raharjana (2001) yaitu berbagai macam perubahan yang terjadi pada suatu sistem

Alih fungsi lahan pertanian menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto menimbulkan perubahan ekonomi, sosial dan budaya

Faktor Perubahan Sosial Budaya Kontak dengan Budaya Lain Saat ini kegiatan apapun bisa dengan mudah dinikmati oleh semua orang tanpa adanya batasan wilayah dan negara.. Sehingga hal