• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penguatan Civil Society di Era Otonomi Daerah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penguatan Civil Society di Era Otonomi Daerah"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Penguatan Civil Society

di Era Otonomi Daerah

Teguh Kurniawan, S.Sos, M.Sc

Lektor pada Departemen Ilmu

Administrasi FISIP UI

Email:

[email protected]

(2)

Kenapa Civil Society

Harus Diperkuat?

(3)

Pergeseran Paradigma

Administrasi Publik

z

Administrasi Publik Tradisional

z

New Public Management (NPM)

z

Citizen-centered governance / new public

service (NPS) / governance

Masyarakat merupakan aktor/pemain

penting dalam governance

(4)
(5)

Paradigma New Governance

Classical Public

Administration

z

Program/agency

z

Hierarchy

z

Public vs. Private

z

Command and Control

z

Management skills

New Governance

z

Tool

z

Network

z

Public + Private

z

Negotiation and

persuasion

z

Enablement skills

Salamon, 2002, 9

(6)

Government vs Governance

Low autonomy of state re society (self-organizing)/diffuse domination of state Diffuse capture of state by societal interests Balance or symbiosis between actors

Distribution of Power

High autonomy of state re society (steered organizing)/state dominant

No capture of state by societal interests No balance or symbiosis between actors

Horizontal consultation, intermobility

Consensus on technocratic norms/co-operative relations

Externally informal contacts Openness

Conventions of Interaction

Hierarchic authority, interlocking leadership Adversial interactions/conflictual relations Informal contacts

Secrecy

Extremely open boundaries Functionally defined boundaries Voluntary membership

Structure

Closed boundaries

Territorially defined boundaries Involuntary membership

More consultation

Possible co-operation in policy formation/implementation Narrow policy issues

Function

Few consultation

No co-operation in policy formation/implementation Policy Issues broad

High number of participants Public and private actors

Actors

Very limited number of participants Mainly state agencies

Governance Dimension

Government

(7)
(8)

Good Governance dalam Konteks

Desentralisasi

Æ Otonomi Daerah

z

Desentralisasi akan menjadi struktur direktif (pengarah)

dalam penciptaan local good governance yaitu

Pemerintahan Daerah yang berbasis pada

transparansi, akuntabilitas, participatory democracy

dan rule of law (Prasojo, 2003)

z

Implementasi elemen-elemen dari good governance

tersebut dapat dilakukan dengan efektif jika unit-unit

Desentralisasi menjadi motor dan katalisator

pembangunan dan perubahan di Daerah

Æ

desentralisasi politik dan dukungan Administrasi Publik

lokal menjadi salah satu instrumen penting dalam

(9)

Prasyarat menuju Good

Governance

z

Desentralisasi politik dapat dipahami

sebagai instrumen demokrasi lokal dan

partisipasi masyarakat dan tidak hanya

sekedar sebagai instrumen

maksimalisasi efisiensi pelayanan

publik

z

Tidak bisa dilepaskan dari usaha

(10)
(11)

Menurut Thoha (2004)

z

Masyarakat sipil identik dengan masyarakat madani

dan dapat diartikan sebagai suatu lembaga yang

ingin mendudukkan supremasi sipil dalam tata

kenegaraan.

z

Dalam pengertian ini, masyarakat sipil merupakan

suatu masyarakat yang citranya dapat digambarkan

sebagai praktik demokrasi yang nyata, dimana

rakyat benar-benar hidup dalam masyarakat

demokratis dalam suasana dan iklim yang

demokratis dan taat hukum

(12)

Menurut O’Connell (1999)

z

Istilah masyarakat sipil lebih luas daripada hanya

sekedar sektor independen atau sukarela maupun

beradab (civility)

z

Istilah masyarakat sipil merepresentasikan

keseimbangan antara hak yang diberikan kepada

seorang individu dalam masyarakat yang bebas

dengan kewajibannya sebagai warga masyarakat

untuk menjaga hak-hak tersebut.

z

Masyarakat sipil terdiri atas sejumlah komponen,

yakni: individu; komunitas; pemerintah; kelompok

bisnis; dan organisasi sukarela

(13)

Bagaimana Memperkuat

Civil Society di Era

(14)

Apa yang harus dilakukan?

z

Upaya-upaya yang terencana dan sistematis dalam

mempersiapkan masyarakat sipil yang mampu

mendorong terwujudnya good governance di

Indonesia

z

Reformasi aturan-aturan yang terkait dengan

penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang harus

disertai dengan operasionalisasi-nya serta penerapan

sanksi tegas bagi Pemerintahan Daerah atau

pihak-pihak lainnya yang melanggar.

(15)

Memberdayakan Civil Society

z

Untuk dapat melaksanakan hak dan kewajibannya

secara memadai, masyarakat harus diyakinkan akan

kebutuhan untuk melaksanakan hak dan

kewajibannya secara seimbang (O’Connel, 1999) Æ

Dalam konteks ini yang harus dilakukan adalah

membangunkan kesadaran masyarakat mengenai

hal-hal yang dapat dilakukannya untuk kebaikan bersama.

z

Dalam bahasa yang lain, diperlukannya peletakan

masyarakat madani pada posisi baik secara

konsepsual maupun operasional bisa berperan untuk

memberdayakan masyarakat (Thoha, 2004).

z

Diperlukannya rasa saling percaya antara

administrator publik dengan warga masyarakat guna

meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam

(16)

Dimensi Kepercayaan

z

Kepercayaan warga masyarakat kepada

sesama warga masyarakat;

z

Kepercayaan masyarakat terhadap elit;

z

Kepercayaan elit politik terhadap

sesama elit; serta

z

Kepercayaan elit politik terhadap warga

masyarakat (Offe, 1999 dalam Yang,

2005)

(17)

Hal Lainnya

z

Diperlukannya visi bersama dan sejumlah atribut

lainnya guna terwujudnya kemitraan yang efektif

antara pemerintah dan masyarakat (Mitchell, 2005).

z

Atribut tersebut adalah:

z

kompatibilitas antar peserta berdasarkan kepercayaan

dan penghargaan yang saling menguntungkan;

z

keuntungan bagi semua mitra;

z

kesetaraan kekuatan dengan mitra;

z

saluran komunikasi;

z

kemampuan beradaptasi; serta

z

keberadaan integritas, kesabaran dan kemauan

(18)

CLEAR approach

(19)

UU 32/2004

z Memberikan peluang yang lebih besar dalam upaya mewujudkan

good governance dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah

di Indonesia. Lebih banyak isi pada konsideran, pasal dan

penjelasan yang ada yang dapat mengakomodir bagi penerapan prinsip-prinsip good governance

z Namun demikian, pengaturan tersebut dalam banyak hal masih belum beranjak dari apa yang disebut oleh Thoha (2004) sebagai Sarwa Negara. Artinya etos yang digunakan dalam banyak hal masih berpijak kepada etos dari administrative state

sebagaimana diungkapkan Kirlin (1996) yang menempatkan

administrator publik sebagai pusat pembuatan dan pelaksanakan kebijakan dalam operasi birokrasi pemerintah, serta memberikan administrator peran pengawasan yang tidak demokratis (Kathi dan Cooper, 2005).

(20)

Administrative State

z

Masyarakat sebagai pemilih, konstituen atau klien

z

Masyarakat sebagai kepentingan pribadi

z

Masyarakat tidak dapat menentukan kepentingan

publik

z

Partisipasi masyarakat mengganggu jalannya

administrasi

z

Kepentingan masyarakat direfleksikan melalui pemilu,

perwakilan politik dan hukum

z

Akuntabilitas administrator kepada politisi

z

Legitimasi administrasi melalui konsultasi

(21)

Contoh

z Hubungan antara eksekutif dan legislatif di daerah masih

diwarnai oleh dominannya eksekutif dalam penyusunan APBD

z Hubungan antara Pemerintah Daerah dan masyarakat dicerminkan oleh dominasi pemerintah dalam proses

perencanaan pembangunan dan penganggaran. Masyarakat hanya dilibatkan pada tahapan paling awal dari proses

perencanaan program, dan selalu sulit untuk memantau status aspirasi mereka di tingkat berikutnya, termasuk ketika telah menjadi dokumen anggaran

z Dalam hubungannya dengan akses warganegara untuk memperoleh informasi, masih sedikit Perda yang mengatur tentang jaminan hukum bagi masyarakat untuk memperoleh akses informasi terhadap dokumen-dokumen atau data-data penyelenggaraan pemerintahan

(22)

Contoh

z Proses penyelenggaraan pemerintahan masih dipandang

sebagai eksklusif domain pemerintah dan DPRD yang harus dirahasiakan atau ditutupi keberadaannya dari akses publik

z Kalangan eksekutif di daerah-daerah masih mengasumsikan bahwa DPRD adalah satu-satunya representasi rakyat untuk semua hal

z Gagasan bahwa pemerintah daerah akuntabel kepada warga

(konstituen)-nya tidak dikenal dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Pemerintah Daerah hanya akuntabel terhadap pemerintah yang berada di atasnya serta kepada DPRD

z Tidak ada Pemerintah Daerah yang menerapkan prinsip untuk

melakukan konsultasi serta meminta persetujuan sebelumnya dari kelompok-kelompok masyarakat, yang secara langsung akan terkena dampak dari proyek-proyek pembangunan

(23)

Referensi

z Denhardt, Robert B and Janet Vinzant Denhardt, 2000, “The New Public Service: Serving

Rather than Steering”, Public Administration Review, Vol. 60, No. 6

z Kathi, Pradeep Chandra and Terry L. Cooper, 2005, “Democratizing the Administrative

State: Connecting Neighborhood Councils and City Agencies”, Public Administration

Review, Vol. 65, No. 5

z Kurniawan, Teguh, 2007, “Mewujudkan Good Governance di Era Otonomi Daerah:

Perspektif UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 32 Tahun 2004”, Makalah, dipresentasikan

dalam 1stAccounting Seminar Conference Departemen Ilmu Akuntansi FE UI, Depok, 7-9

November 2007

z Mitchell, Bruce, 2005, “Participatory Partnerships: Engaging and Empowering to Enhance

Environmental Management and Quality of Life?”, Social Indicators Research, Vol. 71

z O’Connell, Brian, 1999, Civil Society: The Underpinnings of American Democracy, London:

Tuffs University

z Prasojo, Eko, 2003, “Agenda Politik dan Pemerintahan di Indonesia: Desentralisasi Politik,

Reformasi Birokrasi dan Good Governance”, Bisnis & Birokrasi, Vol. XI, No.1, Januari

z Salamon, Lester M (ed), 2002, The Tools of Government: A Guide to the New Governance,

Oxford: Oxford University Press

z Schwab, B and D Kubler, 2001, “Metropolitan Governance and the ‘democratic deficit’:

Theoretical Issues and Empirical Findings”, Paper in Conference Area-based initiatives in contemporary urban policy, Copenhagen, May 2001

z Stoker, Gerry, 2004, “New Localism, Participation and Networked Community Governance”

z Thoha, Miftah, 2004, Birokrasi dan Politik di Indonesia, Jakarta: RajaGrafindo Persada

z Yang, Kaifeng, 2005, “Public Administrators’ Trust in Citizens: A Missing Link in Citizen

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan dengan pelaksanaa Kegiatan Pengadaan dan Pem Perhubungan Kabupaten Ende Pengadaan Nomor : 02/PAN-PB klausul 28.6 Tentang Pengumum kepada saudara-saudara

Dari hasil klasifikasi data yang akan digunakan dalam topik modeling, untuk mengetahui topik yang ada pada data tersebut, peneliti menggunakan metode penghitungan

2015 menyatakan Pemilihan Langsung Kegiatan Mengendalikan Banjir pada Daerah Tangkapan Air dan Badan-badan Sungai Pekerjaan Paket 1 - Pemb. Kolam Retensi

Hasil pengujian kepekaan antiserum poliklonal CMV untuk deteksi CMV pada tanaman anthurium yang terinfeksi dengan uji ELISA tidak langsung menunjukkan bahwa konsentrasi antiserum

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik

Pertemuan 6: Menjelaskan tentang konsep model data hirarki dan jaringan Pertemuan 7: Memberikan latihan yang berhubungan dengan teori sebelumnya Pertemuan 8: menjelaskan teori

Zat gizi yang berhubungan determinan dengan kejadian anemia adalah asupan protein, folat, vitamin B12, vitamin C, besi, kalsium dan tanin (p = 0,001). Kesimpulan : Faktor

Berdasarkan uraian diatas sebagai fisioterapi penting untuk mengatasi keluhan-keluhan tersebut agar tidak membahayakan kehamilan, mengingat pentingnya manfaat senam