Pendaftaran Indikasi Geografis Atas Barang-Barang Hasil Pertanian Perkebunan di Aceh
Teks penuh
Dokumen terkait
Gambar 2 Nilam.. Gambar
Selain UU ITE, cybersquatting juga diatur dalam Pasal 83 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis menyebutkan bahwa pemilik merek terdaftar
Pendekatan yang digunakan untuk meneliti bagaimana perlindungan hukum indikasi geografis terhadap produk pertanian di Sumatera Utara, yang ada pada ketentuan pasal 56-60
Undang-undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek mengatur indikasi geografis pada pasal 56 sampai dengan 58 sebagai bagian substansinya indikasi geografis (IG)
Dalam Pasal 56 ayat (8) dalam Undang-undang Merek, telah diatur tentang pemakaian tanda IG, bahwa apabila sebelum atau pada saat dimohonkan pendaftaran
IG adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang, yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua
Hal ini menjadi masalah karena tidak jelas diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2007 tentang Indikasi Geografis mengenai bagaimanakah proses pendaftaran
Jika di Indonesia dengan menggunakan ketentuan pasal 100 ayat 2 Undang-Undang Merek dan Indikasi Geografis yang mengatur bahwa : “Setiap Orang yang dengan tanpa hak menggunakan Merek