BAB II
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
2.1Lokasi penelitian
2.1.1 Lokasi secara Administrasi
Secara administrasi, Desa Batang Pane-I, merupakan sebuah desa yang
berada di kecamatan padang bolak, kabupaten padang lawas utara, provinsi
sumatera utara. Luas wilayah desa Batang Pane-I adalah 3000 hektar atau 30 Km².
berjarak kurang lebih ± 45 km arah utara dari kantor Camat Padang Bolak.
Adapun batas administratif desa Batang Pane-I adalah sebagai berikut
- Sebelah utara berbatasan dengan desa PTTN/ Perbaungan.
- Sebelah timur berbatasan dengan desa ulok tano.
- Sebelah selatan berbatasan dengan desa Sionggotan.
- Sebelah barat berbatasan dengan Siopuk Baru
Desa Batang Pane-I visi “IMAN MAKMUR”. Yang memiliki makna
desa yang indah, aman,maju dan subur. Untuk mencapai visi tersebut, desa Batang
Pane-I mempunyai misi sebagai berikut
Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa Menanam penghijauan di halaman masing-masing Menjaga lingkungan dengan cara Siskamling Giat bekerja
Dengan demikian, diharapkan Desa Batang Pane-I menjadi Desa yang
Indah,aman,maju dan subur.
Dibawah ini merupakan bagan susunan perangkat desa
Bagan 1. Struktur Perangkat Desa
(sumber : dokumen desa)
Pusat pemerintahan desa Batang pane-I terletak di RT V, tepat berada
ditengah-tengah desa. Disini terdapat satu buah balai desa yang menjadi tempat Sekretaris desa
Beja
Nip. 196802052009061001
KAUR PEMERINTAHAN
MAKIMOTO
LKMD
GULAM SYAMI SIR
KETUA KARANG TARUNA
WARSIMIN, S.Pd KETUA BPD
R.NABABAN KAUR KESRA
SEMDAN
KAUR PEMBANGUNAN
H.SUKIMIN
KAUR KEUANGAN
PAHMININGSIH
KETUA BKPM POLMAS
WIJIANTO
KETUA PKK
MARSINI Plt. Kepala Desa
warga desa mengurus hal-hal yang berkaitan dengan birokrasi, seperti mengurus
KTP, kartu keluarga dan lain sebagainya. Balai desa juga sering dijadikan tempat
untuk berdiskusi atau rapat yang dihadiri oleh aparatur desa serta tokoh-tokoh
desa. Tps sebagai tempat untuk memilih calon anggota legislative juga didirikan
disini.
Gambar. 1. Kantor kepala desa/ balai desa
(sumber:dokumen pribadi)
Desa ini terletak disebuah padang ilalang dengan kandungan tanah Liat
campur dengan batu gunung dan berkontur dataran rendah. Tetapi sekarang sudah
tidak tampak lagi bekas padang ilalang tersebut dan sudah berubah menjadi
karet. Mengingat wilayah desa ini merupakan tanah liat merah ,sangat sulit
mendapatkan air ketika musim kemarau datang. Satu-satunya harapan masyarakat
untuk mendapatkan air ketika musim kemarau adalah air dari sungai napanas yang
berada di sebelah barat desa yang airnya berasal aliran-aliran kecil yang
bergambung menjadi satu. Sungai napanas ini bertipe semi permanen, ketika
musim hujan air sungai ini sangat melimpah ruah bahkan sampai kejalan karena
sungai Napanas ini berada dipinggir jalan utama menuju desa Batang Pane-I.
Sedangkan ketika musim kemarau, air sungai ini ada tetapi sedikit sampai dapat
terlihat dasar sungainya.
Dengan demikian jelaslah bahwa desa Batang Pane-I terletak di daerah
dataran rendah dengan kondisi tanah liat bercampur batu gunung yang
mengandung asam tingg.Untuk mengatasi hal itu, pada masa pembukaan desa
dilakukan pengkapuran oleh ahli tanah dari ITB. Hasilnya kandungan asam di
tanah ini menjadi berkurang dan menjadi mudah ditanami tanaman. Pada awal
pembukaan, pemerintah memberikan intruksi untuk warga menanam tanaman
seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Tetapi, seiring berjalannya waktu warga
lebih memilih menanam pohon sawit dan karet karena alasan lebih mudah
merawatnya dan hasilnya lebih bernilai ekonomi tinggi.
Sebagian besar lahan yang ada di desa ini dimanfaatkan oleh penduduk
untuk kegiatan pertanian dan permukiman. Berikut rincian pemanfaatan lahan
Tabel I. Luas lahan menurut Peruntukan di Desa Batang Pane-I Tahun 2011
No Peruntukan Lahan Luas Presentase
1 Persawahan 0 Ha 0,00%
2 Perkebunan 2848 Ha 94,93%
3 Perumahan/permukiman 125 Ha 4,17%
4 Kolam/perikanan 0 Ha 0,00%
5 Perladangan 0 Ha 0,00%
6 Perkantoran/ sarana sosial 16 Ha 0,53%
a. Kantor/ Balai Desa 1 Ha 0,03%
b. Puskesmas 0,25 Ha 0,07%
c. Satu unit Mesjid 1 Ha 0,03%
d. Tujuh Unit Mushola 2 Ha 0,07%
e. Lapangan Bola 1 Ha 0,03%
f. Jalan Umum 5 Km 0,17%
g. Saluran Irigasi 0 Km 0,00%
h. Hutan Masyarakat 0 Ha 0,00%
i. Lahan Kosong 0 Ha 0,00%
j. Jalan Setapak 0,75 Ha 0,03%
Total 3.000 Ha 100,00%
(Sumber : dokumen desa)
Selain itu, ditengah-tengah desa tepat berada di depan balai desa terdapat
sebuah lapangan olah raga terbuka seluas satu hektar. Dilapangan inilah selalu
diadakan peringatan hari besar. Baik hari besar nasional ataupun hari besar
keagamaan. Seperti peringatan hari kemerdekaan republik Indonesia. Kegiatan
oleh kepala desa serta diikuti oleh pelajar-pelajar mulai dari tingkat SD.
Antusiasme masyarakat desa Batang Pane-I dari tahun ke tahun juga semakin
tinggi. Menurut informan yang juga merupakan Kepala esa, jumlah warga yang
mengikuti upacara peringatan kemerdekaan Indonesia tidak kurang dari 500 jiwa.
Memang masih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah penduduk desa batang
pane-I yang mencapai kurang lebih 2176 Jiwa.
Gambar 2. Lapangan bola yang berada ditengah-tengah desa
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Pada peringantan hari besar nasional itu, tidak pernah terlewatkan
acara-acara kesenian khas suku jawa seperti jarang kepang, pertunjukan wayang. Selain
hiburan yang bertemakan kesukuan, panitia peringatan yang terdiri atas kaum
mudi-mudi setempat juga mengadakan perlombaan dan pertandingan untuk
masyarakat. Pertandingan dan atau perlombaan itu meliputi, panjat pinang, tarik
diatasnya terdapat kelereng, tari-tarian daerah, lomba lari untuk tingkat anak SD
dan SMP. Sementara untuk tingkat dewasa, diadakan pertandingan bola volley
yang diikutin oleh peserta perwakilan dari setiap lorong atau RW.
2.1.2 Lokasi secara kultural
Secara kultural tanah atau wilayah yang dihuni oleh warga transmigran
Batang Pane-I berbatasan dengan wilayah budaya penduduk asli yaitu suku Batak
Anggola. Desa ini dikelilingi oleh desa-desa yang mayoritas suku batak. Seperti
desa ulok tano yang berada disebelah timur desa Batang Pane-I, terdapat
kelompok masyarakat yang terdiri atas suku batak tapanuli selatan. Disebelah
selatan juga berbatasan dengan sebuah desa bernama pembangunan yang
merupakan kelompok masyarakat bersuku bangsa batak. Sedangkan untuk desa
Batang Pane-I, mayoritas penduduknya adalah suku jawa. Menurut informan,
suku jawa yang menghuni desa tersebut merupakan transmigran yang didatangkan
dari pulau jawa pada pemerintahan orde baru (masa Presiden Soeharto).
Walaupun suku jawa yang didatangkan dari pulau jawa berasal dari daerah yang
berbeda-beda tetapi tetap memiliki budaya yang sama. Adapun daerah asal
mereka seperti boyolali , magetan, Madiun, banyuwangi, klaten, bandung dan
lain-lain.
Sementara, desa-desa yang mengelilingi desa Batang Pane-I merupakan
suku asli Batak Anggola. Terdapat banyak perbedaan yang mencolok antara kedua
kelompok masyarakat ini. Seperti bahasa. Bahasa yang digunakan oleh kelompok
masyarakat desa Batang Pane-I adalah bahasa Jawa Sumatera sedangkan bahasa
desa Batang Pane-I adalah bahasa Batak Anggola. Tetapi, dalam hal agama kedua
kelompok masyarakat tersebut memeluk agama islam dengan tradisi
masing-masing dari nenek moyang mereka. Walaupun ada beberapa warga yang
beragama Kristen atau menganut sebuah keperacayaan tetapi jumlahnya tidak
banyak.
Perbedaan lainnya terlihat dari bentuk-bentuk bangunan atau rumah antara
kedua kelompok masyarakat ini. Bangunan rumah suku Batak banyak yang
bermodel panggung sedangkan untuk rumah-rumah suku Jawa bermodel semi
permanen bahkan sudah banyak yang bermodel permanen.Menurut informan,
rumah bermodel tidak panggung yang dimiliki oleh warga suku Jawa merupakan
bawaan dari tradisi pemberian jatah oleh pemerintah. Sehingga menjadi kebiasaan
apabila warga suku Jawa yang bermukim di Desa Batang Pane-I ini membangun
rumah bermodelkan tidak panggung. Selain itu, bila kita berjalan-jalan ke
kampung yang dihuni oleh orang Batak banyak dijumpai sebuah kedai kopi yang
pada malam dan sore hari ramai dikunjungi oleh bapak-bapak sekedar untuk
bercerita atau bermain kartu dan catur. Sementara, di kampung jawa, tidak
banyak kedai kopi yang bisa kita jumpai. Ketika penulis mengadakan penelitian,
hanya ada satu kedai kopi di desa ini. Terletak dipersimpangan dekat lapangan
bola.Itupun pengunjungnya tidak seramai kedai kopi yang berada di kampung
suku batak.
Dalam hal pernikahan, kedua suku bangsa tersebut juga sangat berbeda.
Apabila di suku jawa tidak mengenal istilah membeli penganti wanita dengan nilai
yang ditentukan oleh pihak pengantin perempuan, tetapi cukup memiliki mahar
mempelai perempuan, anaknya dilamar dan dinikahi oleh seorang pria hanya
bermahar sebesar dua juta.
Hal diatas sangat berbeda pada suku batak. Sudah menjadi kewajiban
mempelai pria menyiapkan uang yang dimaksudkan untuk membeli atau menganti
mempelai perempuan. Harganya pun berbeda-beda sesuai dengan jenjang
pendidikan yang sudah diraih oleh mempelai perempuan tersebut. Sebagai contoh,
seorang perempuan dengan gelar sarjana dihargai sebesar ±30-an juta rupiah.
Dari keterangan diatas dapat kita lihat terdapat perbedaan yang mencolok
mengenai kebudayaan antara suku Jawa dan suku Batak yang hidup
berdampingan ini.
2.1.3 Lokasi secara Geografis
Desa Batang Pane-I terletak di sebuah dataran rendah dengan iklim tropis.
Daerah ini mempunyai suhu 230-320 celsius dan berada diketinggian 450 M dari
permukaan laut. Menjadikan daerah ini panas pada siang hari dan dingin pada
malam hari. Seperti kebanyakan wilayah di Indonesia, Desa Batang Pane-I
mempunyai dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan
biasanya terjadi pada bulan September sampai februari dan musim kemarau
terjadi pada bulan februari sampai bulan desember.
2.2Penduduk
2.2.1 Gambaran Umum penduduk
Desa Batang Pane-I merupakan sebuah desa transmigran yang dibuka oleh
pemerataan penduduk (transmigrasi). Suku mayoritas penduduknya adalah suku
Jawa yang hampir 80 %, Sunda 15% dan sisanya merupakan suku Batak, Padang
dan Makasar. Dengan demikian bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa
Jawa. Jenis bahasa Jawa yang digunakan, menurut informan adalah bahasa Jawa
Sumatera. Bahasa Jawa Sumatera, sekilas sangat mirip dengan bahasa Jawa yang
digunakan oleh penduduk Jawa di Pulau Jawa. Tetapi terdapat beberapa kata yang
berbeda, seperti kata ‘saya’. Dalam bahasa Jawa Sumatera, saya adalah aku,
sedangkan dalam bahasa Jawa yang digunakan oleh suku Jawa di Pulau Jawa,
saya adalah kulo.
Mayoritas penduduk desa Batang Pane-I adalah bermata pencaharian
dibidang pertanian. Adapun tanaman utama mereka adalah sawit dan karet. Tetapi
ada juga yang menanan sayur-sayuran walaupun jumlahnya sedikit. Selain bertani,
ada juga beberapa profesi yang digeluti oleh masyarakat desa batang pane-I ini,
diantaranya adalah Guru, Pegawai pemerintahan (aparatur kantor kepala desa),
pedagang,bidan, tukang pangkas dan buruh tani.
Ketika pagi hari, bila kita berkeliling menyusuri jalanan di desa ini, akan
tampak pintu-pintu rumah warga tertutup rapat. Hanya ada beberapa rumah saja
yang pintunya terbuka. Mereka pada pagi hari banyak yang pergi bekerja di kebun
sawit ataupun kebun karet sampai siang hari menjelang waktu dzuhur. Mengingat
mata pencaharian warga di desa ini adalah bertani, maka kegiatan mencari nafkah
banyak yang dihabiskan di ladang ataupun perkebunan sawit. Bagi warga yang
mempunyai kebun karet, setiap pagi wajib pergi ke ladang untuk menyadap getah
Menurut data RPJMdes (Rencana Penmbangunan Jangka Menengah
Desa), dari 625 kepala keluarga yang ada di desa ini, ± 595 KK adalah petani.
selebihnya sekitar 17 KK ada yang bekerja sebagai PNS, Wiraswasta, Tenaga
Honorer/swasta dan lain-lain. Menurut data RPJMdes, dilihat dari tingkat
penghasialan rata-rata masyarakat Desa Batang Pane-I tergolong kedalam tiga
kategori (Miskin,menengah, dan kaya). Dari luas desa sebesar 3000 Ha dimiliki
oleh :
- 316 Ha dimiliki oleh 26 KK dan masuk dalam kategori kaya
- 2474 Ha dimiliki oleh 522 KK dan masuk dalam kategori menengah
- 77 Ha dimiliki oleh 77 KK dan masuk dalam kategori miskin
Kemampuan produksi perkebunan sawit di desa Batang Pane-I minimal
adalah 400 Kg/Ha per 1x panen/ 2 minggu jika dalam satu bulan 2x panen, maka
produksi sawit menjadi 0,8 ton/Ha/bulan. Kalau harga sawit berkisar Rp 1.100,-
maka per hektar bisa menghasilkan Rp. 880.000,-.Karena satu KK petani miskin
hanya memiliki satu Ha, maka penghasilan rata-rata petani KK miskin di desa
Batang Pane-I hanya Rp. 10. 560.000/ tahun atau Rp. 880.000/bulan/ Kepala
Keluarga. Sementara untuk warga yang masuk dalam kategori sedang,
menghasilkan sekitar 4000 kg per bulan. Untuk keluarga yang masuk kategori
kaya, perbulan bisa mendapatkan hasil sebesar 10000 kg sawit perbulan. Dengan
demikian untuk keluarga sedang menghasilkan 52800000 pertahun. Dan untuk
Bangunan rumah di desa ini berjumlah sekitar 625 unit yang terbagi atas
tiga tipe rumah. Selain rumah juga terdapat beberapa bangunan yang tersedia di
desa ini. Berikut adalah rincian bangunan yang ada di desa Batang Pane-I
Table 2. Jumlah dan jenis bangunan
No. Jenis Bangunan Jumlah keterangan
1 Rumah Batu (Permanen) 108 unit
2 Rumah setengah batu (Semi permanen) 415 unit
3 Rumah papan ( darurat) 102 unit
4 Sekolah dasar 2 unit
5 Sekolah menengah pertama 1 unit
6 Mesjid 1 unit
7 Mushola 7 unit
8 Pasar desa 1 unit
9 Kantor balai desa 1 unit
10 Perkuburan 1 unit Seluas 2 Ha
11 Gereja 1 unit
12 Selokan 1 unit Sepanjang 2 Km
13 Paud 1 unit
14 KUD 1 unit Terbengkalai
15 Madrasayah 1 unit
16 Pesantren 1 unit
17 Posyandu/ Puskesmas 1 unit Kurang Aktif
Jumlah 646 unit
2.2.2 Jumlah dan komposisi penduduk
Penduduk desa Batang Pane- I berjumlah 2176 jiwa. Yang terdiri atas
1188 jiwa laki-laki dan 988 jiwa perempuan. Dihitung berdasarkan jumlah kepala
keluarga (KK), Desa Batang Pane-I dihuni oleh 625 Kepala Keluarga. Dari angkat
tersebut dapat dihitung kepadatan penduduk sebagai berikut :
2176
30 �
1 ����
��² = 72,5333 ����/��
2(0,00073 ���� /�²)
Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dan agama dapat terlihat
pada tebel dibawah ini :
Tabel 3. Jumlah penduduk dan agama
NO Nama Desa
Jumlah Penduduk Agama
Lk Pr Total Islam Protestan Katolik Hindu Budha
1 Batang Pane -I 1188 988 2176 2131 0 45 0 0
Jumlah 1181 988 2176 2131 0 45 0 0
(sumber : dokumen desa)
2.3Sarana dan Prasarana 2.3.1 Kondisi Jalan
Simpang beragas adalah pintu utama ketika kita akan menuju desa batang
pane –I ini, jarak desa dari simpang beragas ini ± 13 Km. sekitar ±9 Km berupa
tanah dengan dilapisi bebatuan besar dan kerikil yang sering mengakibatkan
mobil pengangkut sawit terpedam dan tergelincir karena kondisi jalan yang licin
dan lembek serta lengket. Bila sudah terjadi hal seperti ini, dibutuhkan mobil atau
traktor untuk menarik mobil pengangkut sawit tersebut. Kondisi atau kejadian
seperti ini terjadi pada musim hujan. Dimana jalanan berubah menjadi kubangan
air.
Sementara itu, pengaspalan jalan menuju desa batang pane-I yang hanya
sepanjang ±9 Km baru dibangun pada tahun 2013 kemarin yang dibangun oleh
pemerintah kabupaten Padang Lawas Utara bekerja sama dengan PT. ANJ.
Menurut informan, telah terjadi kesepakatan bahwa pengerasan jalan menjadi
tanggung jawab PT. ANJ dan untuk pengaspalan menjadi tanggung jawab
pemerintah kabupaten. Jalan yang beraspal ini terbentang dari mulai simpang
beragas sampai gerbang atau gapura desa batang Pane-I.
Table 4. Prasarana Perhubungan
No Jenis Prasarana Kuantitas/ panjang Keterangan
1 Jalan Kabupaten 45 Km Kondisi rusak kecil
2 Jalan Desa 10 Km Kondisi rusak
3 Jalan - Kondisi rusak
4 Jembatan 6 unit Kondisi rusak
(sumber : Dokumen desa)
Keadaan jalan desa secara umum sudah terlihat baik. Walaupun pada
berupa tanah dengan dilapisi batu-batu besar dan kerikil. Tetapi pada musim hujan
tiba jalanan-jalanan dibeberapa tempat mengalami kerusakan. Jalan menjadi
lengket dan banyak genangan air. Hal ini menjadikan para pemakai jalan harus
berhati-hati ketika melintasi jalanan yang rusak ini. Banyak sekali para
pengendara yang jatuh ketika melintasi jalanan yang rusak ini. Ketika penulis
melakukan penelitian, terlihat ada beberapa anak-anak yang berusia ± 11 tahun
jatuh ketika melintasi titik jalan yang rusak tersebut.
Untuk mengatasi jalanan desa yang rusak tersebut, pemerintahan desa
mengintruksikan kepada kepala RT untuk mengajak warganya bergotong royong
memperbaikinya. Seperti jalan masuk menuju RT 9. Terlihat sudah mulai
diperbaiki dengan cara membangun jalan berupa beton dengan lebar 3( tiga
meter). Tetapi bagian tengah jalan beton ini kosong. Karena jalan ini dibuat sesuai
dengan ukuran rentang panjang roda mobil dari satu titik ke titik yang lain. Hal ini
dibuat untuk menghemat pengeluaran pembangunan jalan desa.
Jalanan desa dibangun dengan dana iuran yang dikutip dari warga. Setiap
RT bertanggung jawab untuk memperbaiki dan merawat jalannya masing-masing.
Setiap kepala keluarga dikenakan iuran wajib per dua minggu sebesar Rp.
5000-10000. Tetapi banyak juga anggota warga yang menyumbangkan dana lebih
ataupun menyumbangkan material yang dibutuhkan untuk membangun jalan
seperti batu, semen ataupun pasir. Hasilnya, menurut informan, telah terjadi
perubahan jalan yang lumayan cepat. Dahulu, jalan-jalan desa sangat parah ketika
musim hujan datang. Banyak mobil penganggkut sawit yang terpendam didalam
tersebut. Walapun perbaikan hanya dengan cara menyebar batu berpasir (sertu)
sudah terlihat jalanan tidak banyak yang berlubang ataupun lembek lagi.
Gambar 3. Jalan desa yang digenanggi air ketika musim hujan datang.
(Sumber: dokumen pribadi)
Hasilnya, menurut informan, telah terjadi perubahan jalan yang lumayan
cepat. Dahulu, jalan-jalan desa sangat parah ketika musim hujan datang. Banyak
mobil penganggkut sawit yang terpendam didalam kubangan air. Belum lagi sifat
tanah di desa ini yang lengket dan licin. Menjadikan pengendara sepeda motor
kesulitan melintasi jalan yang rusak tersebut. Walapun perbaikan hanya dengan
cara menyebar batu berpasir (sertu) sudah terlihat jalanan tidak banyak yang
berlubang ataupun lembek lagi.
Secara perlahan, penulis melihat kondisi jalan di desa ini telah banyak
dengan cara menyebar batu berpasir, sudah mengurangi kelengketan tanah di
sepeda motor khususnya bagian ban dan mengurangi jatuhnya pengendara sepeda
motor ketika melintasi titik jalan yang rusak akibat dari licinnya jalan.
2.3.2 Alat Transportasi
Ketika tulisan ini dibuat, belum ada angkutan umum (bus,mikrolet,atau
sejenisnya) yang merambah desa batang pane-I ini. Memang ada angkutan umum,
tetapi tidak sampai masuk ke dalam desa. Hanya sampai di simpang tebu.
Simpang tebu merupakan sebuah simpang yang menjadi pintu masuk ke desa
Batang Pane-I dan jarak antara simpang ini ke desa ± 3Km. Di simpang ini
terdapat sebuah gapuran dan sebuah warung kopi. Ketika waktu-waktu tertentu,
tampak sebuah bus mini seukuran bus KUPJ ngetem di persimpanngan ini untuk
menunggu penumpang. Walapun menurut informan yang mempunyai warung
kopi di persimpangan tersebut, sangat jarang menumpang yang naik dari desa
Batang Pane-I. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh warga tidak
mengunakan angkutan umum untuk berpergian ke kota.Alasan utama mereka
karena angkutan umum tidak masuk kedalam desa.Sehingga menjadi ‘ tanggung’,
karena harus berjalan menuju simpang tebu untuk menunggu angkutan umum
yang datangnya tidak dapat diprediksi. Belum lagi waktu tempuh yang lama
dibandingkan dengan mengunakan sepeda motor untuk mencapai kota. Karena
alasan-alasan seperti itulah masyarakat lebih memilih mengunakan sepeda motor
sebagai kendaraan untuk berpergian ke kota atapun ke pasar yang berada di
Selain untuk berpergian ke kota, Warga desa juga mengunakan sepeda
motor untuk menunjang kegiatan sehari-hari mereka. Mulai dari pergi ke ladang,
sekolah, belanja ke warung, mengangkat pupuk, mengembala sapi dan lain
sebagainya. Di desa ini anak-anak yang masih duduk dibangku kelas 6 SD sudah
dapat dan diperbolehkan oleh orang tua mereka untuk mengendarai sepeda motor.
Sudah menjadi pemandangan biasa jika di sore hari anak-anak usia ± 12 tahun
berkeliling menyusuri jalanan desa dengan sepeda motor hanya untuk sekedar
jalan-jalan sore bersama adik atau kawan-kawan mereka.
Terlihat juga jika pagi hari, anak-anak yang masih bersekolah tingkat
menengah atas (SMA) mengunakan sepeda motor untuk menuju sekolah mereka
yang berjarak ± 12 Km dari desa. Sepeda motor yang digunakan warga desa ini
tergolong baru. Rata-rata tahun perakitan sepeda motor yang digunakan diatas
tahun 2005. Hal itu tidak aneh mengingat mudahnya untuk memiliki kereta
dengan cara kredit. Menurut informan, dengan membawa uang sebesar Rp.
500000 dan membawa foto copy KTP serta Kartu Keluarga ke dialer sepeda
motor, sudah bisa membawa pulang satu unit sepeda motor. Bahkan banyak ada
juga beberapa showroom sepeda motor yang menjajakan dagangannya dengan
cara masuk ke desa membawa sepeda motor mengunakan mobil pick-up. Dalam
bahasa jawa disebut diiderkan. Ini juga menambah kemudahan untuk
mendapatkan sepeda motor.
Sistem kredit sepeda motor disini berjangka tahunan, mulai dari satu tahun
hingga empat tahun. Cara pembayarannya perbulan. Misalkan satu buah sepeda
Sudah menjadi hal biasa bila satu keluarga memiliki 3-5 sepeda motor.
Tergantung berapa jumlah amggota keluarganya. Sebagai contoh, satu keluarga
yang berjumlah 3 orang anak maka mereka memiliki 3 sepeda motor.
“… Jumlah kereta yang dimiliki oleh satu keluarga biasanya sama dengan jumlah anggota keluarga yang bisa mengunakan kereta. Sebagai contoh : satu keluarga ada 4 anggota keluarga. Maka mereka juga akan memiliki 4 kereta. (Beja, 44 tahun)
Kejadian seperti itu untuk keluarga kelas menengah yang mengandalkan
sepeda motor untuk mendukung kegiatan mereka sehari-hari. Dari mulai pergi ke
ladang, ke warung, sekolah, wirid mingguan, mengangkat pupuk dan lain
sebagainya.
Untuk keluarga yang masuk kategori kaya, selain mengandalkan sepeda
motor untuk menunjang kegiatan mereka sehari-hari, mereka juga memiliki satu
unit mobil untuk memenuhi kebutuhan transportasi mereka. Mobil-mobil yang
dimiliki oleh keluarga kaya desa Batang Pane-I minimal sekelas mobil avanza
dengan tahun perakitan 2011. Ada juga yang sudah dapat membeli mobil mewah
seperi Pajero Sport dan Fortuner. Selain sebagai barang simpanan mewah, mobil
juga mereka gunakan untuk berpegian ke luar desa, seperti pergi ke kota untuk
sekedar jalan-jalan, belanja dan mengurus keperluan birokrasi.
Mobil juga menjadi alat transportasi jarak jauh seperti ke Kota Medan dan
kota-kota besar lainnya di provinsi Sumatera Utara untuk mengantar atau
menjemput anak mereka ketika datang musim libur atau musim tahun ajaran
baru.Pada umumnya setelah tamat dari sekolah dasar, mereka langsung
menyekolahkan anak mereka ke luar desa. Kota tujuan untuk menyekolahkan
anak-anak mereka merupakan kota-kota besar seperti, Padang Sidempuan, Rantau
Prapat dan Medan. Disana anak-anak mereka di kostkan atau diasramakan.
Mobil juga menjadi alat transportasi untuk mengantar orang yang sakit
untuk berobat ke kota-kota besar yang memiliki rumah sakit betaraf nasional.
Menginggat di desa ini belum memiliki rumah sakit. Dalam hal ini, tidak hanya
keluarga kaya saja yang mengandalkan mobil. Keluarga menengah dan kurang
mampupun mengandalkan mobil untuk keperluan mengantar anggota keluarga
yang sakit. Untuk keluarga yang tidak memiliki mobil, biasanya mereka
meminjam mobil lengakap dengan sopirnya untuk mengantarkan anggota
keluarga yang sakit berobat di rumah sakit yang berada di kota-kota besar di
provinsi sumatera utara. Sistem pemimjamannya sangat mudah. Pemiminjam
tidak perlu membayar uang sewa mobil. Hanya membayar uang untuk membeli
bahan bakar minyak dan membayar supir. Kadangkala juga ada beberapa pemilik
mobil yang mengendarai sendiri mobilnya ketika dipinjam oleh warga yang
membutuhkan mobil untuk mengantarkan anggota keluarga yang sakit. Sehingga
tidak perlu membayar uang sopir dan hanya membayar uang untuk membeli
2.3.3 Energi Listrik
Jaringan listrik dari perusahaan listrik Negara atau PLN sudah merambah
dan tersedia di desa ini. Hampir setiap rumah tangga mengandalkan sumber listrik
dari PLN untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti menanak nasi,
mencuci pakaian, memasak air, menyedot air, meyalakan televise dan kebutuhan
lainnya. Keperluan penerangan warga desa juga mengandalkan sumber listrik dari
PLN.
Pemerataan PLN terjadi pada tahun 2005, pada tahun ini banyak sekali
warga yang memasang sumber listrik dari PLN. Sehingga saat ini hampir semua
rumah tangga sudah memiliki sumber listrik dari PLN. Tetapi yang menjadi
masalah adalah sering kali terjadi pemadaman listrik yang tidak terjadwal. Seperti
dikatakan oleh informan :
“…Listrik neng Batang Pane kene sering mati. Mati e sak wayah-wayah. Kadang isuk pas sholat subuhKadang yo awan. Mbengi yo sering juga. (M. Zaenuddin, 54 tahun)
Padamnya listrik dan tidak terjadwal sangat menganggu kegiatan mereka
sehari-hari, terutama yang membutuhkan sumber listrik. Menginggat saat ini
warga desa Batang Pane-I untuk keperluan rumah tangga sudah mengunakan
teknologi yang membutuhkan energi listrik. Seperti memasak nasi dan air.
Masyarakat mengunakan rice cooker untuk memasak nasi dan mengunakan
dispenser untuk memanaskan air. Waktu mereka untuk memasak pada umumnya
adalah ketika pagi hari setelah sholat subuh sebelum mereka pergi ke ladang.Nasi
ladang. Ketika terjadi pemadaman listrik disaat-saat seperti itu sangat mengangu
aktifitas mereka. Nasi menjadi tidak matang, tidak bisa memanaskan air dan
alhasil, waktu mereka untuk pergi ke ladang menjadi molor.
Ketika terjadi pemadaman disiang hari juga sangat mengusik kenyamanan
mereka beraktifitas. Biasanya ketika pulang dari ladang ibu-ibu di desa Batang
Pane-I menyuci pakaian dengan mengunakan mesin cuci yang membutuhkan
sumber listrik. Hal ini mengakibatkan tertundanya pekerjaan untuk mencuci
pakaian yang biasanya dilakukan oleh kaum ibu-ibu.
Tidak hanya itu, ketika pemadaman terjadi disiang hari, aktifitas istirahat
mereka juga terganggu.Siang hari adalah waktu dimana warga banyak yang
menghabiskan waktu untuk beristirahat dirumah sambil menonton televisi dan
duduk dengan kipas angin nyala. Kipas angin juga menjadi barang elektronik
wajib yang dimiliki oleh masyarakat desa Batang Pane-I karena bila siang hari
desa ini sangat panas. Wajar saja jika terjadi pemadaman listrik disiang hari
banyak warga yang mengeluh dan mengumpat.
Alunan musik dangdut yang menjadi musik kesenangan warga desa
Batang Pane-I juga terdengar disiang hari. Suara musik dangdut tersebut tidak
tanggung-tanggung. Sangat keras sehingga dapat terdengar hampir satu RT yang
berjumlah sekitar 29 kepala keluarga. Suara sekuat itu dikeluarkan oleh speaker
sound bervolume tinggi yang sangat membutuhkan energy listrik dari PLN. Untuk
itu jika terjadi pemadaman listrik disiang hari, desa akan terasa sepi terutama
Ketika malam hari kebutuhan listrik untuk penerangan sangat diperlukan.
Karena pada malam hari adalah waktu untuk anak-anak desa Batang Pane-I yang
bersekolah menghabiskan waktu untuk belajar mengulas pelajaran yang diberikan
guru disekolah serta mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan guru
mereka disekolah. Pemadaman juga sering terjadi ketika malam hari. Untuk itu
warga banyak yang memiliki mesin generator set (genset) untuk menjadi sumber
cadangan listrik dimalam hari. Genset yang digunakan bermacam-macam. Ada
beberapa jenis secara umum dibedakan atas daya yang dihasilkan oleh mesin
genset tersebut. Ada yang berkapasitas 900 watt, 1000 watt dan 1500 watt. Dalam
dua jam, genset tersebut dapat menghabiskan sekitar dua liter bensin murni. Bila
dibandingkan dengan sumber listrik dari PLN, pemakaian genset ini lebih boros.
Harga satu liter bensin di desa ini sekitar Rp. 7500,00.
Pada dasarnya listrik sudah masuk dan tersedia di desa Batang Pane-I,
tetapi inkonsisten menyalanya listrik membuat warga banyak yang mengeluh dan
sebagai solusi mereka membeli genset yang pada umumnya hanya digunakan
ketika malam hari untuk penerangan saja.
2.3.4 Sumber Air Bersih
Desa Batang Pane-I merupakan sebuah desa yang terletak di dataran
rendah dengan kandungan tanah liat bercampur batu gunung, berkontur landai dan
sedikit berbukit. Walaupun di dataran rendah, desa ini tidak terletak dipesisir
pantai dan walapun tanah desa ini mengandung batu gunung, desa ini juga tidak
terletak di sekitar pengunungan. Sehingga sumber air bersih utama masyarakat
umumnya memiliki kedalaman sekitar 6- 15 meter. Tergantung di kedalaman
berapa meter sumur tersebut mendapatkan mata air. Contohnya : Ketika menggali
sumur, pada kedalaman 10 sudah mendapatkan mata air. Maka tidak akan
dilanjutkan penggalian tersebut dan hanya mencapai 10 m saja.
Sumur-sumur yang menjadi sumber air utama masyarakat Batang Pane-I
walaupun memiliki mata air, tetapi volume banyaknya air dipengaruhi oleh musim
hujan dan musim kemarau. Ketika musim hujan, air akan melimpah ruah di
sumur-sumur warga. Bahkan ada yang sampai hampir penuh. Tetapi ketika musim
hujan datang, kualitas air di sumur-sumur warga menjadi berkurang, warnanya
berubah dari yang biasanya berwarna bening berubah menjadi warna kekuningan
sesuai dengan kondisi tanah yang ada di desa tersebut. Tetapi karena sudah
terbiasa dengan keadaan tersebut, masyarakat menganggapnya sebagai hal yang
biasa. Sumur-sumur tersebut berada diluar rumah dan untuk memindahkan air
tersebut ke dalam bak penampungan yang berada dikamar mandi dalam rumah
mereka mengunakan mesin air (sanyo) untuk menyedot air sumur tersebut.
Keadaan berubah total ketika musim kemarau datang. Sumur-sumur
menjadi kering dan hanya menyisakan beberapa jengkal air saja. Tanah-tanah pun
terlihat sangat kering, bahkan ada yang sampai pecah-pecah. Bila musim kemarau
datang, banyak warga yang kebingungan mencari air untuk keperluan rumah
tangga. Ketika kejadian seperti itu terjadi, banyak warga yang mengandalkan air
yang berasal dari rawa ataupun kolam-kolam yang ada di desa tersebut. Walapun
kualitasnya tidak baik, warga terpaksa mengambil dan mengunakan air yang
berasal dari rawa atau kolam tersebut untuk mencuci baju dan mandi. Akan
mandi. Ada juga warga yang hilir mudik mengunakan sepeda motor yang
dibelakangnya terdapat satu keranjang yang terbuat dari anyaman rotan lengkap
dengan tiga buah derigen berkapasitas masing-masing derigen sebesar 25 liter.
Masing-masing derigen diletakan disamping kiri, kanan dan atas. Tidak hanya
sekali dalam satu hari mereka mengankut air dari rawa, tetapi ada yang sampai
tiga kali bolak-balik. Tergantung kapasitas penampungan air yang ada dirumah
mereka. Masyarakat desa Batang Pane-I banyak yang membangun bak air
berukuran besar untuk mengantisipasi datangnya musim kemarau datang. Bak-bak
tersebut digunakan untuk menampung air yang mereka angkut dari rawa atau
sumber air lainnya seperti kolam-kolam ikan. Selain bak, hampir semua warga
memiliki drum berkapasitas 100 L yang juga berfungsi sebagai wadah untuk
menyimpang air yang mereka dapatkan dari rawa.
Sebenarnya didekat desa ada sebuah sungai yang airnya cukup lumayan
dalam hal kuantitas. Tapi tidak untuk kualitasnya. Air sungai yang bernama
sungai napanas tersebut sudah tercemar oleh limbah pabrik sawit. Sehingga airnya
tidak lagi jernih. Warna airnya tidak lagi bening, tapi berubah menjadi
kehitam-hitaman. Air dari sungai ini digunakan oleh masyarakat desa Batang Pane-I dan
desa disekitar sungai ini hanya untuk keperluan mencuci mobil dan mencuci
sepeda motor. Tidak untuk keperluan mencuci baju,mandi dan keperluan
memasak.
Penjual air bersih dadakanpun muncul ketika musiam kemarau. Para
penjual air bersih mematok harga satu derigen dengan volume 25 liter sebesar Rp.
harus memesannya terlebih dahulu. Tidak “bayar langsung dapat”. Biasanya
waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan air bersih sekitar satu mingguan. Hal
ini dikarenakan banyaknya warga yang membeli air bersih dan di desa Batang
Pane-I hanya ada satu penjual air bersih ketika musim kemarau. Air yang
dijualpun tidak seperti air yang berasal dari rawa atau kolam-kolam. Tetapi
menurut informan yang juga penjual air bersih, dia mengambil air tersebut dari
sumber mata air yang berada di dekat pengunungan. Sehingga airnya bening dan
dingin serta bersih.
Untuk keperluan air minum dan memasak, warga desa Batang Pane-I
mengunakan air minum isi ulang dalam kemasan. Ada satu depot isi ulang air
minum di desa Batang Pane-I ini. Harga satu galon air minum bervolume 13 liter
sebesar Rp. 6000,00. Untuk air minum isi ulang ini tidak harus memesannya
terlebih dahulu. Pelangan tinggal datang ke depot isi ulang air minum. Bila jumlah
galon yang dipesan pelanggan lebih dari tiga buah, maka penjual air minum isi
ulang dalam kemasan tersebut akan mengantarkan sampai ke rumah pembeli
tanpa menambah uang lagi.
2.3.5 Layanan Kesehatan
Layanan kesehatan di desa Batang Pane-I ini tergolong sudah memadai.
Pantauan penulis sudah terdapat satu buah bangunan puskesmas yang digunakan
untuk kegiatan seperti imunisasi, pemeriksaan ibu hamil dan hal-hal lain yang
berkaitan dengan kesehatan ibu hamil dan anak. Keberadaan balita kurang gizi
juga sudah mulai berkurang, selaras dengan semakin membaiknya perekonomian
Di desa Batang Pane-I selain terdapat bidan yang berstatus sebagai
pegawai negeri sipil, juga terdapat bidan-bidan yang membuka praktek sendiri.
Tercatat terdapat enam bidan yang membuka praktek sendiri. Pada musim-musim
tertentu, banyak sekali masyarakat desa Batang Pane-I yang mengalami gangguan
kesehatan, terutama flu,demam dan batuk-batuk. Untuk penyakit musiman seperti
ini, masyarakat desa mengandalkan bidan-bidan yang ada di desa tersebut untuk
mengobati sakit yang datangnya musiman tersebut.
Untuk penanganan ibu melahirkan, dukun dan bidan desa bekerja sama
membantu proses persalinan. Hal ini dilakukan karena budaya mereka yang masih
mengangap dukun beranak sangat dibutuhkan dalam proses persalinan. Sementara
bidan desa juga mempunyai kewajiban untuk membantu proses persalinan. Untuk
mewujudkan program ibu dan anak yang sehat dan cerdas. Tetapi ada juga warga
yang melahirkan anak mereka dirumah sakit. Biasanya ini terjadi jika ibu tidak
dapat melakukan proses persalinan secara normal. Sehingga proses persalinan
harus dilakukan dengan cara operasi sesar. Di desa Batang Pane-I belum terdapat
rumah sakit yang mempunayi peralatan untuk operasi. Untuk itu ibu hamil yang
tidak dapat melahirkan secara normal akan dibawa ke rumah sakit terdekat yang
berada di kota. Penuturan informan, rumah sakit rujukan bidan desa adalah
Rumah Sakit Nuraini yang berada di pinang berjarak ± 65 km dari desa dan
membutuhkan waktu tempuh ± satu setengah jam.
Demikian juga untuk penanganan sakit-sakit keras yang membutuhkan
rawat inap seperi demam berdarah, tifus stroke dan lain-lain. Bidan desa juga
2.4Kelembagaan atau Organisasi Desa
Lembaga-lembaga yang berdiri di desa Batang Pane-I sudah termasuk
banyak dan bervariasi. Mulai dari lembaga atau organisasi muda-mudi, kelompok
tani, organisasi perempuan, lembaga simpan pinjam dan lainnya. Untuk
lengkapnya dapat dilihat pada bagan dibawah ini :
Bagan 2. Daftar Kelembagaan desa
(sumber: Dokumen desa)
Dari sekian banyak lembaga atau organisasi yang ada di desa Batang Pane-I ini,
banyak sekali masalah yang mendera lembaga-lembaga tersebut. Untuk lebih
jelasnya dapat terlihat pada tabel dibawah ini : Masy.
RW
LKMD
Dewan BPD Simpan Pinjam Kel. Tani
RT BKM
KUD Puskesmas
Pemdes
PKK
Tabel. 5 Daftar Lembaga dan permasalahannya.
No Lembaga Masalah
1 PEMDES
a. Peralatan kantor yang modern belum tersedia.sehinggan menghambat
kinerja pelayanan administrasi masyarakat
2 BPD
a. Kantor BPD belum tersedia. Mengakibatkan kurang efektifnya
rapat-rapat yang dijadwalkan oleh BPD.
3
Kelompok
Tani
a. Tidak adanya bimbingan pemerintah. Menyebabkan kurangnya ilmu
pengetahuan anggota kelompok tani tersebut untuk mengembangkan
produktifitas pertanian kebut sawit mereka.
4
Simpan
Pinjam a. Tidak ada yang berbadan hukum. Dan hanya berjalan di perwiritan
5 KUD
a. Ada gudang dan pengurus KUD. Tetapi tidak berjalan dengan
semestinya. Dapat dikatakan KUD ini hidup segan mati tak mau.
Penyebabnya karena warga tidak percaya dengan pengurus KUD tersebut
6 PKK a. Kurang adanya bimbingan dari pemerintah.
7
Karang
Taruna
a. Kegiatan hanya terfokus pada lorong (RW) masing-masing. Tidak ada
koordinasi karang taruna antar lorong.
(Sumber:dokumen desa)
Ada juga organisasi kepemudaan yang dahulu pernah “hidup” di desa
Batang Pane-I ini. Organisasi tersebut adalah Pemuda Pancasila. Tetapi saat ini,
organisasi tersebut tidak aktif seperti dulu lagi.. Penuturan informan, dahulu
ketika Pemuda Pancasila masih hidup, sering sekali Pemuda Pancasila
mendatangkan hiburan-hiburan rakyat. Seperti pertunjukan Group Band, Sirkus,
Organisasi Pemuda Pancasila ini. Dimungkinkan banyak masalah yang mendera
Organisasi kepemudaan tersebut.
2.5Sejarah Desa
Desa Batang Pane-I pada awal sebelum menjadi lokasi transmigrasi
merupakan wilayah administrtif dari Desa Siancimun. Pembukaan lahan
dilakukan sekitar tahun 1980-1981 dan baru dihuni oleh masyarakat yang
merupakan transmigran dari berbagai wilayah di pulau jawa pada tahun
1981-1982. Selain berasal dari pulau jawa, juga terdapat transmigran lokal yang
mencakup 10% dari total kepala keluarga yang datang ke desa ini. Transmigran
local pada umumnya datang dari wilayah sekitar desa Batang Pane-I ini, selain
juga berasal dari kota yang ada di provinsi Sumatera Utara, seperti Kota Kisaran.
Pemerintah mendatangkan para transmigran tidak langsung sekaligus,
tetapi dibagi menjadi tiga gelombang. Gelombang pertama tahun 1981 akhir,
gelombang kedua awal tahun 1982 dan gelombang ketiga pada akhir tahun 1982.
Untuk bentuk program transmigrasinya adalah gratis. Semua biaya ditanggung
oleh pemerintah pada masa Soeharto.
Lahan seluas 3000 hektar yang disediakan oleh pemerintah diperuntukan
untuk 450 Kepala Keluarga yang masing-masing Kepala Keluarga mendapatkan
jatah dari pemerintah yang terbagi lahan garapan (ladang) dan lahan pekarangan.
Lahan ladang yang diberi pemerintah seluas 1 (satu) Ha untuk lahan utama, lahan
kedua sebesar ¾ Ha dan untuk pekarangan seluas ¼ Ha. Selain mendapatkan jatah
Gambar 4. Rumah jatah yang dibangun oleh pemerintah ketika awal
pembukaan desa.
(Sumber : dokumen pribadi)
Selain itu, juga mendapatkan jatah berupa alat pertanian lengkap. Seperti
cangkul,kampak,bibit tanaman,pupuk,sabit,parang, alat semprot dan lain
sebagainya. Pemerintah juga memberikan jaminan hidup berupa jatah beras
sebesar ±25 kg setiap kepala keluarga selama ± 1 tahun. Jatah lainnya selain
beras, juga mendapatkan jatah seperti minyak lampu,minyak goreng dan ikan asin.
Karena pada saat itu masyarakat belum bisa memenuhi kebetuhan hidupnya, maka
pemerintah menambah jatah jaminan hidup selama ± 1 tahun.
. Pemerintah juga memberikan bantuan berupa ternak kecil dan ternak
besar. Ternak kecil berupa hewan unggas seperti ayam,bebek dan itik. Sementara
untuk ternak besar berupa kambing dan sapi. Untuk jatah ternak kecil diberikan
kepada warga yang sudah menetap selama 1-3 tahun dan untuk ternak besar
Pemerintah juga menyediakan pendamping atau penyuluh kepada
masyarakat kala itu diberbagai bidang. Mulai dari penyuluh pertanian, penyuluh
peternakan, dan lain-lain. Dalam hal keamanan,pada masa itu pemerintah
menempatkan satu orang tentara dan satu orang polisi di desa Batang Pane-I.
Pemerintah juga mengadakan penataran dan kursus yang diikuti oleh masyarakat
yang pada waktu itu ditunjuk oleh koordinator desa. Seperti penataran tentang
multikultural agama, kursus menjahit dan lain-lain.
Pada masa itu, program pertanian yang diberikan kepada masyarakat desa
Batang Pane-I adalah program ketahanan pangan. Sehingga warga diwajibkan
untuk menanam tanaman pangan seperti padi, sayur-mayur, umbi-umbian dan
buah-buahan. Tetapi karena tanah di desa tersebut tidak cocok dan banyaknya
hama yang merusak tannaman mereka seperti babi dan lain-lain, akhirnya warga
mengusulkan untuk menanam tanaman keras seperti kelapa sawit dan karet.
Warga yang mengusulkan mengganti tanaman pangan tersebut ke tanaman keras
adalah transmigran yang berasal dari kota kisaran.
Selama kurang lebih 32 tahun desa Batang Pane-I berdiri, suda h terjadi
beberapa pergantian penanggung jawa atau kepala pemerintahan desa. Mulai
masih berupa KSPT (Kepala satuan penanggung jawab transmigrasi), KUPT
(kepala unit penanggung jawab transmigrasi) sampai saat ini bernama kepala desa.
Berikut nama-nama pemegang tampuk kepemimpinan di desa Batang Pane-I
mulai dari awal desa dibuka.
1. Sutarno (KSPT) = Tahun 1980-1982
3. Gianto (KUPT) = Tahun 1984-1986
4. Opong srg(KUPT) = Tahun 1986-1987
5. Marpaung(KUPT) = Tahun 1987-1989
6. Gianto (Kades) = Tahun 1989-1994
7. Prapto Wiyono(Kades ) = Tahun 1994-1999
8. Tuginot(Kades) = Tahun 1999-2009
9. Shofiyatun (Kades) = Tahun 2009-2014