• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Sosial dan Budaya Petani Sawit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perubahan Sosial dan Budaya Petani Sawit"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

2.1Lokasi penelitian

2.1.1 Lokasi secara Administrasi

Secara administrasi, Desa Batang Pane-I, merupakan sebuah desa yang

berada di kecamatan padang bolak, kabupaten padang lawas utara, provinsi

sumatera utara. Luas wilayah desa Batang Pane-I adalah 3000 hektar atau 30 Km².

berjarak kurang lebih ± 45 km arah utara dari kantor Camat Padang Bolak.

Adapun batas administratif desa Batang Pane-I adalah sebagai berikut

- Sebelah utara berbatasan dengan desa PTTN/ Perbaungan.

- Sebelah timur berbatasan dengan desa ulok tano.

- Sebelah selatan berbatasan dengan desa Sionggotan.

- Sebelah barat berbatasan dengan Siopuk Baru

Desa Batang Pane-I visi “IMAN MAKMUR”. Yang memiliki makna

desa yang indah, aman,maju dan subur. Untuk mencapai visi tersebut, desa Batang

Pane-I mempunyai misi sebagai berikut

 Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa  Menanam penghijauan di halaman masing-masing  Menjaga lingkungan dengan cara Siskamling  Giat bekerja

(2)

Dengan demikian, diharapkan Desa Batang Pane-I menjadi Desa yang

Indah,aman,maju dan subur.

Dibawah ini merupakan bagan susunan perangkat desa

Bagan 1. Struktur Perangkat Desa

(sumber : dokumen desa)

Pusat pemerintahan desa Batang pane-I terletak di RT V, tepat berada

ditengah-tengah desa. Disini terdapat satu buah balai desa yang menjadi tempat Sekretaris desa

Beja

Nip. 196802052009061001

KAUR PEMERINTAHAN

MAKIMOTO

LKMD

GULAM SYAMI SIR

KETUA KARANG TARUNA

WARSIMIN, S.Pd KETUA BPD

R.NABABAN KAUR KESRA

SEMDAN

KAUR PEMBANGUNAN

H.SUKIMIN

KAUR KEUANGAN

PAHMININGSIH

KETUA BKPM POLMAS

WIJIANTO

KETUA PKK

MARSINI Plt. Kepala Desa

(3)

warga desa mengurus hal-hal yang berkaitan dengan birokrasi, seperti mengurus

KTP, kartu keluarga dan lain sebagainya. Balai desa juga sering dijadikan tempat

untuk berdiskusi atau rapat yang dihadiri oleh aparatur desa serta tokoh-tokoh

desa. Tps sebagai tempat untuk memilih calon anggota legislative juga didirikan

disini.

Gambar. 1. Kantor kepala desa/ balai desa

(sumber:dokumen pribadi)

Desa ini terletak disebuah padang ilalang dengan kandungan tanah Liat

campur dengan batu gunung dan berkontur dataran rendah. Tetapi sekarang sudah

tidak tampak lagi bekas padang ilalang tersebut dan sudah berubah menjadi

(4)

karet. Mengingat wilayah desa ini merupakan tanah liat merah ,sangat sulit

mendapatkan air ketika musim kemarau datang. Satu-satunya harapan masyarakat

untuk mendapatkan air ketika musim kemarau adalah air dari sungai napanas yang

berada di sebelah barat desa yang airnya berasal aliran-aliran kecil yang

bergambung menjadi satu. Sungai napanas ini bertipe semi permanen, ketika

musim hujan air sungai ini sangat melimpah ruah bahkan sampai kejalan karena

sungai Napanas ini berada dipinggir jalan utama menuju desa Batang Pane-I.

Sedangkan ketika musim kemarau, air sungai ini ada tetapi sedikit sampai dapat

terlihat dasar sungainya.

Dengan demikian jelaslah bahwa desa Batang Pane-I terletak di daerah

dataran rendah dengan kondisi tanah liat bercampur batu gunung yang

mengandung asam tingg.Untuk mengatasi hal itu, pada masa pembukaan desa

dilakukan pengkapuran oleh ahli tanah dari ITB. Hasilnya kandungan asam di

tanah ini menjadi berkurang dan menjadi mudah ditanami tanaman. Pada awal

pembukaan, pemerintah memberikan intruksi untuk warga menanam tanaman

seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Tetapi, seiring berjalannya waktu warga

lebih memilih menanam pohon sawit dan karet karena alasan lebih mudah

merawatnya dan hasilnya lebih bernilai ekonomi tinggi.

Sebagian besar lahan yang ada di desa ini dimanfaatkan oleh penduduk

untuk kegiatan pertanian dan permukiman. Berikut rincian pemanfaatan lahan

(5)

Tabel I. Luas lahan menurut Peruntukan di Desa Batang Pane-I Tahun 2011

No Peruntukan Lahan Luas Presentase

1 Persawahan 0 Ha 0,00%

2 Perkebunan 2848 Ha 94,93%

3 Perumahan/permukiman 125 Ha 4,17%

4 Kolam/perikanan 0 Ha 0,00%

5 Perladangan 0 Ha 0,00%

6 Perkantoran/ sarana sosial 16 Ha 0,53%

a. Kantor/ Balai Desa 1 Ha 0,03%

b. Puskesmas 0,25 Ha 0,07%

c. Satu unit Mesjid 1 Ha 0,03%

d. Tujuh Unit Mushola 2 Ha 0,07%

e. Lapangan Bola 1 Ha 0,03%

f. Jalan Umum 5 Km 0,17%

g. Saluran Irigasi 0 Km 0,00%

h. Hutan Masyarakat 0 Ha 0,00%

i. Lahan Kosong 0 Ha 0,00%

j. Jalan Setapak 0,75 Ha 0,03%

Total 3.000 Ha 100,00%

(Sumber : dokumen desa)

Selain itu, ditengah-tengah desa tepat berada di depan balai desa terdapat

sebuah lapangan olah raga terbuka seluas satu hektar. Dilapangan inilah selalu

diadakan peringatan hari besar. Baik hari besar nasional ataupun hari besar

keagamaan. Seperti peringatan hari kemerdekaan republik Indonesia. Kegiatan

(6)

oleh kepala desa serta diikuti oleh pelajar-pelajar mulai dari tingkat SD.

Antusiasme masyarakat desa Batang Pane-I dari tahun ke tahun juga semakin

tinggi. Menurut informan yang juga merupakan Kepala esa, jumlah warga yang

mengikuti upacara peringatan kemerdekaan Indonesia tidak kurang dari 500 jiwa.

Memang masih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah penduduk desa batang

pane-I yang mencapai kurang lebih 2176 Jiwa.

Gambar 2. Lapangan bola yang berada ditengah-tengah desa

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Pada peringantan hari besar nasional itu, tidak pernah terlewatkan

acara-acara kesenian khas suku jawa seperti jarang kepang, pertunjukan wayang. Selain

hiburan yang bertemakan kesukuan, panitia peringatan yang terdiri atas kaum

mudi-mudi setempat juga mengadakan perlombaan dan pertandingan untuk

masyarakat. Pertandingan dan atau perlombaan itu meliputi, panjat pinang, tarik

(7)

diatasnya terdapat kelereng, tari-tarian daerah, lomba lari untuk tingkat anak SD

dan SMP. Sementara untuk tingkat dewasa, diadakan pertandingan bola volley

yang diikutin oleh peserta perwakilan dari setiap lorong atau RW.

2.1.2 Lokasi secara kultural

Secara kultural tanah atau wilayah yang dihuni oleh warga transmigran

Batang Pane-I berbatasan dengan wilayah budaya penduduk asli yaitu suku Batak

Anggola. Desa ini dikelilingi oleh desa-desa yang mayoritas suku batak. Seperti

desa ulok tano yang berada disebelah timur desa Batang Pane-I, terdapat

kelompok masyarakat yang terdiri atas suku batak tapanuli selatan. Disebelah

selatan juga berbatasan dengan sebuah desa bernama pembangunan yang

merupakan kelompok masyarakat bersuku bangsa batak. Sedangkan untuk desa

Batang Pane-I, mayoritas penduduknya adalah suku jawa. Menurut informan,

suku jawa yang menghuni desa tersebut merupakan transmigran yang didatangkan

dari pulau jawa pada pemerintahan orde baru (masa Presiden Soeharto).

Walaupun suku jawa yang didatangkan dari pulau jawa berasal dari daerah yang

berbeda-beda tetapi tetap memiliki budaya yang sama. Adapun daerah asal

mereka seperti boyolali , magetan, Madiun, banyuwangi, klaten, bandung dan

lain-lain.

Sementara, desa-desa yang mengelilingi desa Batang Pane-I merupakan

suku asli Batak Anggola. Terdapat banyak perbedaan yang mencolok antara kedua

kelompok masyarakat ini. Seperti bahasa. Bahasa yang digunakan oleh kelompok

masyarakat desa Batang Pane-I adalah bahasa Jawa Sumatera sedangkan bahasa

(8)

desa Batang Pane-I adalah bahasa Batak Anggola. Tetapi, dalam hal agama kedua

kelompok masyarakat tersebut memeluk agama islam dengan tradisi

masing-masing dari nenek moyang mereka. Walaupun ada beberapa warga yang

beragama Kristen atau menganut sebuah keperacayaan tetapi jumlahnya tidak

banyak.

Perbedaan lainnya terlihat dari bentuk-bentuk bangunan atau rumah antara

kedua kelompok masyarakat ini. Bangunan rumah suku Batak banyak yang

bermodel panggung sedangkan untuk rumah-rumah suku Jawa bermodel semi

permanen bahkan sudah banyak yang bermodel permanen.Menurut informan,

rumah bermodel tidak panggung yang dimiliki oleh warga suku Jawa merupakan

bawaan dari tradisi pemberian jatah oleh pemerintah. Sehingga menjadi kebiasaan

apabila warga suku Jawa yang bermukim di Desa Batang Pane-I ini membangun

rumah bermodelkan tidak panggung. Selain itu, bila kita berjalan-jalan ke

kampung yang dihuni oleh orang Batak banyak dijumpai sebuah kedai kopi yang

pada malam dan sore hari ramai dikunjungi oleh bapak-bapak sekedar untuk

bercerita atau bermain kartu dan catur. Sementara, di kampung jawa, tidak

banyak kedai kopi yang bisa kita jumpai. Ketika penulis mengadakan penelitian,

hanya ada satu kedai kopi di desa ini. Terletak dipersimpangan dekat lapangan

bola.Itupun pengunjungnya tidak seramai kedai kopi yang berada di kampung

suku batak.

Dalam hal pernikahan, kedua suku bangsa tersebut juga sangat berbeda.

Apabila di suku jawa tidak mengenal istilah membeli penganti wanita dengan nilai

yang ditentukan oleh pihak pengantin perempuan, tetapi cukup memiliki mahar

(9)

mempelai perempuan, anaknya dilamar dan dinikahi oleh seorang pria hanya

bermahar sebesar dua juta.

Hal diatas sangat berbeda pada suku batak. Sudah menjadi kewajiban

mempelai pria menyiapkan uang yang dimaksudkan untuk membeli atau menganti

mempelai perempuan. Harganya pun berbeda-beda sesuai dengan jenjang

pendidikan yang sudah diraih oleh mempelai perempuan tersebut. Sebagai contoh,

seorang perempuan dengan gelar sarjana dihargai sebesar ±30-an juta rupiah.

Dari keterangan diatas dapat kita lihat terdapat perbedaan yang mencolok

mengenai kebudayaan antara suku Jawa dan suku Batak yang hidup

berdampingan ini.

2.1.3 Lokasi secara Geografis

Desa Batang Pane-I terletak di sebuah dataran rendah dengan iklim tropis.

Daerah ini mempunyai suhu 230-320 celsius dan berada diketinggian 450 M dari

permukaan laut. Menjadikan daerah ini panas pada siang hari dan dingin pada

malam hari. Seperti kebanyakan wilayah di Indonesia, Desa Batang Pane-I

mempunyai dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan

biasanya terjadi pada bulan September sampai februari dan musim kemarau

terjadi pada bulan februari sampai bulan desember.

2.2Penduduk

2.2.1 Gambaran Umum penduduk

Desa Batang Pane-I merupakan sebuah desa transmigran yang dibuka oleh

(10)

pemerataan penduduk (transmigrasi). Suku mayoritas penduduknya adalah suku

Jawa yang hampir 80 %, Sunda 15% dan sisanya merupakan suku Batak, Padang

dan Makasar. Dengan demikian bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa

Jawa. Jenis bahasa Jawa yang digunakan, menurut informan adalah bahasa Jawa

Sumatera. Bahasa Jawa Sumatera, sekilas sangat mirip dengan bahasa Jawa yang

digunakan oleh penduduk Jawa di Pulau Jawa. Tetapi terdapat beberapa kata yang

berbeda, seperti kata ‘saya’. Dalam bahasa Jawa Sumatera, saya adalah aku,

sedangkan dalam bahasa Jawa yang digunakan oleh suku Jawa di Pulau Jawa,

saya adalah kulo.

Mayoritas penduduk desa Batang Pane-I adalah bermata pencaharian

dibidang pertanian. Adapun tanaman utama mereka adalah sawit dan karet. Tetapi

ada juga yang menanan sayur-sayuran walaupun jumlahnya sedikit. Selain bertani,

ada juga beberapa profesi yang digeluti oleh masyarakat desa batang pane-I ini,

diantaranya adalah Guru, Pegawai pemerintahan (aparatur kantor kepala desa),

pedagang,bidan, tukang pangkas dan buruh tani.

Ketika pagi hari, bila kita berkeliling menyusuri jalanan di desa ini, akan

tampak pintu-pintu rumah warga tertutup rapat. Hanya ada beberapa rumah saja

yang pintunya terbuka. Mereka pada pagi hari banyak yang pergi bekerja di kebun

sawit ataupun kebun karet sampai siang hari menjelang waktu dzuhur. Mengingat

mata pencaharian warga di desa ini adalah bertani, maka kegiatan mencari nafkah

banyak yang dihabiskan di ladang ataupun perkebunan sawit. Bagi warga yang

mempunyai kebun karet, setiap pagi wajib pergi ke ladang untuk menyadap getah

(11)

Menurut data RPJMdes (Rencana Penmbangunan Jangka Menengah

Desa), dari 625 kepala keluarga yang ada di desa ini, ± 595 KK adalah petani.

selebihnya sekitar 17 KK ada yang bekerja sebagai PNS, Wiraswasta, Tenaga

Honorer/swasta dan lain-lain. Menurut data RPJMdes, dilihat dari tingkat

penghasialan rata-rata masyarakat Desa Batang Pane-I tergolong kedalam tiga

kategori (Miskin,menengah, dan kaya). Dari luas desa sebesar 3000 Ha dimiliki

oleh :

- 316 Ha dimiliki oleh 26 KK dan masuk dalam kategori kaya

- 2474 Ha dimiliki oleh 522 KK dan masuk dalam kategori menengah

- 77 Ha dimiliki oleh 77 KK dan masuk dalam kategori miskin

Kemampuan produksi perkebunan sawit di desa Batang Pane-I minimal

adalah 400 Kg/Ha per 1x panen/ 2 minggu jika dalam satu bulan 2x panen, maka

produksi sawit menjadi 0,8 ton/Ha/bulan. Kalau harga sawit berkisar Rp 1.100,-

maka per hektar bisa menghasilkan Rp. 880.000,-.Karena satu KK petani miskin

hanya memiliki satu Ha, maka penghasilan rata-rata petani KK miskin di desa

Batang Pane-I hanya Rp. 10. 560.000/ tahun atau Rp. 880.000/bulan/ Kepala

Keluarga. Sementara untuk warga yang masuk dalam kategori sedang,

menghasilkan sekitar 4000 kg per bulan. Untuk keluarga yang masuk kategori

kaya, perbulan bisa mendapatkan hasil sebesar 10000 kg sawit perbulan. Dengan

demikian untuk keluarga sedang menghasilkan 52800000 pertahun. Dan untuk

(12)

Bangunan rumah di desa ini berjumlah sekitar 625 unit yang terbagi atas

tiga tipe rumah. Selain rumah juga terdapat beberapa bangunan yang tersedia di

desa ini. Berikut adalah rincian bangunan yang ada di desa Batang Pane-I

Table 2. Jumlah dan jenis bangunan

No. Jenis Bangunan Jumlah keterangan

1 Rumah Batu (Permanen) 108 unit

2 Rumah setengah batu (Semi permanen) 415 unit

3 Rumah papan ( darurat) 102 unit

4 Sekolah dasar 2 unit

5 Sekolah menengah pertama 1 unit

6 Mesjid 1 unit

7 Mushola 7 unit

8 Pasar desa 1 unit

9 Kantor balai desa 1 unit

10 Perkuburan 1 unit Seluas 2 Ha

11 Gereja 1 unit

12 Selokan 1 unit Sepanjang 2 Km

13 Paud 1 unit

14 KUD 1 unit Terbengkalai

15 Madrasayah 1 unit

16 Pesantren 1 unit

17 Posyandu/ Puskesmas 1 unit Kurang Aktif

Jumlah 646 unit

(13)

2.2.2 Jumlah dan komposisi penduduk

Penduduk desa Batang Pane- I berjumlah 2176 jiwa. Yang terdiri atas

1188 jiwa laki-laki dan 988 jiwa perempuan. Dihitung berdasarkan jumlah kepala

keluarga (KK), Desa Batang Pane-I dihuni oleh 625 Kepala Keluarga. Dari angkat

tersebut dapat dihitung kepadatan penduduk sebagai berikut :

2176

30 �

1 ����

��² = 72,5333 ����/��

2(0,00073 ���� /�²)

Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dan agama dapat terlihat

pada tebel dibawah ini :

Tabel 3. Jumlah penduduk dan agama

NO Nama Desa

Jumlah Penduduk Agama

Lk Pr Total Islam Protestan Katolik Hindu Budha

1 Batang Pane -I 1188 988 2176 2131 0 45 0 0

Jumlah 1181 988 2176 2131 0 45 0 0

(sumber : dokumen desa)

2.3Sarana dan Prasarana 2.3.1 Kondisi Jalan

Simpang beragas adalah pintu utama ketika kita akan menuju desa batang

pane –I ini, jarak desa dari simpang beragas ini ± 13 Km. sekitar ±9 Km berupa

(14)

tanah dengan dilapisi bebatuan besar dan kerikil yang sering mengakibatkan

mobil pengangkut sawit terpedam dan tergelincir karena kondisi jalan yang licin

dan lembek serta lengket. Bila sudah terjadi hal seperti ini, dibutuhkan mobil atau

traktor untuk menarik mobil pengangkut sawit tersebut. Kondisi atau kejadian

seperti ini terjadi pada musim hujan. Dimana jalanan berubah menjadi kubangan

air.

Sementara itu, pengaspalan jalan menuju desa batang pane-I yang hanya

sepanjang ±9 Km baru dibangun pada tahun 2013 kemarin yang dibangun oleh

pemerintah kabupaten Padang Lawas Utara bekerja sama dengan PT. ANJ.

Menurut informan, telah terjadi kesepakatan bahwa pengerasan jalan menjadi

tanggung jawab PT. ANJ dan untuk pengaspalan menjadi tanggung jawab

pemerintah kabupaten. Jalan yang beraspal ini terbentang dari mulai simpang

beragas sampai gerbang atau gapura desa batang Pane-I.

Table 4. Prasarana Perhubungan

No Jenis Prasarana Kuantitas/ panjang Keterangan

1 Jalan Kabupaten 45 Km Kondisi rusak kecil

2 Jalan Desa 10 Km Kondisi rusak

3 Jalan - Kondisi rusak

4 Jembatan 6 unit Kondisi rusak

(sumber : Dokumen desa)

Keadaan jalan desa secara umum sudah terlihat baik. Walaupun pada

(15)

berupa tanah dengan dilapisi batu-batu besar dan kerikil. Tetapi pada musim hujan

tiba jalanan-jalanan dibeberapa tempat mengalami kerusakan. Jalan menjadi

lengket dan banyak genangan air. Hal ini menjadikan para pemakai jalan harus

berhati-hati ketika melintasi jalanan yang rusak ini. Banyak sekali para

pengendara yang jatuh ketika melintasi jalanan yang rusak ini. Ketika penulis

melakukan penelitian, terlihat ada beberapa anak-anak yang berusia ± 11 tahun

jatuh ketika melintasi titik jalan yang rusak tersebut.

Untuk mengatasi jalanan desa yang rusak tersebut, pemerintahan desa

mengintruksikan kepada kepala RT untuk mengajak warganya bergotong royong

memperbaikinya. Seperti jalan masuk menuju RT 9. Terlihat sudah mulai

diperbaiki dengan cara membangun jalan berupa beton dengan lebar 3( tiga

meter). Tetapi bagian tengah jalan beton ini kosong. Karena jalan ini dibuat sesuai

dengan ukuran rentang panjang roda mobil dari satu titik ke titik yang lain. Hal ini

dibuat untuk menghemat pengeluaran pembangunan jalan desa.

Jalanan desa dibangun dengan dana iuran yang dikutip dari warga. Setiap

RT bertanggung jawab untuk memperbaiki dan merawat jalannya masing-masing.

Setiap kepala keluarga dikenakan iuran wajib per dua minggu sebesar Rp.

5000-10000. Tetapi banyak juga anggota warga yang menyumbangkan dana lebih

ataupun menyumbangkan material yang dibutuhkan untuk membangun jalan

seperti batu, semen ataupun pasir. Hasilnya, menurut informan, telah terjadi

perubahan jalan yang lumayan cepat. Dahulu, jalan-jalan desa sangat parah ketika

musim hujan datang. Banyak mobil penganggkut sawit yang terpendam didalam

(16)

tersebut. Walapun perbaikan hanya dengan cara menyebar batu berpasir (sertu)

sudah terlihat jalanan tidak banyak yang berlubang ataupun lembek lagi.

Gambar 3. Jalan desa yang digenanggi air ketika musim hujan datang.

(Sumber: dokumen pribadi)

Hasilnya, menurut informan, telah terjadi perubahan jalan yang lumayan

cepat. Dahulu, jalan-jalan desa sangat parah ketika musim hujan datang. Banyak

mobil penganggkut sawit yang terpendam didalam kubangan air. Belum lagi sifat

tanah di desa ini yang lengket dan licin. Menjadikan pengendara sepeda motor

kesulitan melintasi jalan yang rusak tersebut. Walapun perbaikan hanya dengan

cara menyebar batu berpasir (sertu) sudah terlihat jalanan tidak banyak yang

berlubang ataupun lembek lagi.

Secara perlahan, penulis melihat kondisi jalan di desa ini telah banyak

(17)

dengan cara menyebar batu berpasir, sudah mengurangi kelengketan tanah di

sepeda motor khususnya bagian ban dan mengurangi jatuhnya pengendara sepeda

motor ketika melintasi titik jalan yang rusak akibat dari licinnya jalan.

2.3.2 Alat Transportasi

Ketika tulisan ini dibuat, belum ada angkutan umum (bus,mikrolet,atau

sejenisnya) yang merambah desa batang pane-I ini. Memang ada angkutan umum,

tetapi tidak sampai masuk ke dalam desa. Hanya sampai di simpang tebu.

Simpang tebu merupakan sebuah simpang yang menjadi pintu masuk ke desa

Batang Pane-I dan jarak antara simpang ini ke desa ± 3Km. Di simpang ini

terdapat sebuah gapuran dan sebuah warung kopi. Ketika waktu-waktu tertentu,

tampak sebuah bus mini seukuran bus KUPJ ngetem di persimpanngan ini untuk

menunggu penumpang. Walapun menurut informan yang mempunyai warung

kopi di persimpangan tersebut, sangat jarang menumpang yang naik dari desa

Batang Pane-I. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh warga tidak

mengunakan angkutan umum untuk berpergian ke kota.Alasan utama mereka

karena angkutan umum tidak masuk kedalam desa.Sehingga menjadi ‘ tanggung’,

karena harus berjalan menuju simpang tebu untuk menunggu angkutan umum

yang datangnya tidak dapat diprediksi. Belum lagi waktu tempuh yang lama

dibandingkan dengan mengunakan sepeda motor untuk mencapai kota. Karena

alasan-alasan seperti itulah masyarakat lebih memilih mengunakan sepeda motor

sebagai kendaraan untuk berpergian ke kota atapun ke pasar yang berada di

(18)

Selain untuk berpergian ke kota, Warga desa juga mengunakan sepeda

motor untuk menunjang kegiatan sehari-hari mereka. Mulai dari pergi ke ladang,

sekolah, belanja ke warung, mengangkat pupuk, mengembala sapi dan lain

sebagainya. Di desa ini anak-anak yang masih duduk dibangku kelas 6 SD sudah

dapat dan diperbolehkan oleh orang tua mereka untuk mengendarai sepeda motor.

Sudah menjadi pemandangan biasa jika di sore hari anak-anak usia ± 12 tahun

berkeliling menyusuri jalanan desa dengan sepeda motor hanya untuk sekedar

jalan-jalan sore bersama adik atau kawan-kawan mereka.

Terlihat juga jika pagi hari, anak-anak yang masih bersekolah tingkat

menengah atas (SMA) mengunakan sepeda motor untuk menuju sekolah mereka

yang berjarak ± 12 Km dari desa. Sepeda motor yang digunakan warga desa ini

tergolong baru. Rata-rata tahun perakitan sepeda motor yang digunakan diatas

tahun 2005. Hal itu tidak aneh mengingat mudahnya untuk memiliki kereta

dengan cara kredit. Menurut informan, dengan membawa uang sebesar Rp.

500000 dan membawa foto copy KTP serta Kartu Keluarga ke dialer sepeda

motor, sudah bisa membawa pulang satu unit sepeda motor. Bahkan banyak ada

juga beberapa showroom sepeda motor yang menjajakan dagangannya dengan

cara masuk ke desa membawa sepeda motor mengunakan mobil pick-up. Dalam

bahasa jawa disebut diiderkan. Ini juga menambah kemudahan untuk

mendapatkan sepeda motor.

Sistem kredit sepeda motor disini berjangka tahunan, mulai dari satu tahun

hingga empat tahun. Cara pembayarannya perbulan. Misalkan satu buah sepeda

(19)

Sudah menjadi hal biasa bila satu keluarga memiliki 3-5 sepeda motor.

Tergantung berapa jumlah amggota keluarganya. Sebagai contoh, satu keluarga

yang berjumlah 3 orang anak maka mereka memiliki 3 sepeda motor.

“… Jumlah kereta yang dimiliki oleh satu keluarga biasanya sama dengan jumlah anggota keluarga yang bisa mengunakan kereta. Sebagai contoh : satu keluarga ada 4 anggota keluarga. Maka mereka juga akan memiliki 4 kereta. (Beja, 44 tahun)

Kejadian seperti itu untuk keluarga kelas menengah yang mengandalkan

sepeda motor untuk mendukung kegiatan mereka sehari-hari. Dari mulai pergi ke

ladang, ke warung, sekolah, wirid mingguan, mengangkat pupuk dan lain

sebagainya.

Untuk keluarga yang masuk kategori kaya, selain mengandalkan sepeda

motor untuk menunjang kegiatan mereka sehari-hari, mereka juga memiliki satu

unit mobil untuk memenuhi kebutuhan transportasi mereka. Mobil-mobil yang

dimiliki oleh keluarga kaya desa Batang Pane-I minimal sekelas mobil avanza

dengan tahun perakitan 2011. Ada juga yang sudah dapat membeli mobil mewah

seperi Pajero Sport dan Fortuner. Selain sebagai barang simpanan mewah, mobil

juga mereka gunakan untuk berpegian ke luar desa, seperti pergi ke kota untuk

sekedar jalan-jalan, belanja dan mengurus keperluan birokrasi.

(20)

Mobil juga menjadi alat transportasi jarak jauh seperti ke Kota Medan dan

kota-kota besar lainnya di provinsi Sumatera Utara untuk mengantar atau

menjemput anak mereka ketika datang musim libur atau musim tahun ajaran

baru.Pada umumnya setelah tamat dari sekolah dasar, mereka langsung

menyekolahkan anak mereka ke luar desa. Kota tujuan untuk menyekolahkan

anak-anak mereka merupakan kota-kota besar seperti, Padang Sidempuan, Rantau

Prapat dan Medan. Disana anak-anak mereka di kostkan atau diasramakan.

Mobil juga menjadi alat transportasi untuk mengantar orang yang sakit

untuk berobat ke kota-kota besar yang memiliki rumah sakit betaraf nasional.

Menginggat di desa ini belum memiliki rumah sakit. Dalam hal ini, tidak hanya

keluarga kaya saja yang mengandalkan mobil. Keluarga menengah dan kurang

mampupun mengandalkan mobil untuk keperluan mengantar anggota keluarga

yang sakit. Untuk keluarga yang tidak memiliki mobil, biasanya mereka

meminjam mobil lengakap dengan sopirnya untuk mengantarkan anggota

keluarga yang sakit berobat di rumah sakit yang berada di kota-kota besar di

provinsi sumatera utara. Sistem pemimjamannya sangat mudah. Pemiminjam

tidak perlu membayar uang sewa mobil. Hanya membayar uang untuk membeli

bahan bakar minyak dan membayar supir. Kadangkala juga ada beberapa pemilik

mobil yang mengendarai sendiri mobilnya ketika dipinjam oleh warga yang

membutuhkan mobil untuk mengantarkan anggota keluarga yang sakit. Sehingga

tidak perlu membayar uang sopir dan hanya membayar uang untuk membeli

(21)

2.3.3 Energi Listrik

Jaringan listrik dari perusahaan listrik Negara atau PLN sudah merambah

dan tersedia di desa ini. Hampir setiap rumah tangga mengandalkan sumber listrik

dari PLN untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti menanak nasi,

mencuci pakaian, memasak air, menyedot air, meyalakan televise dan kebutuhan

lainnya. Keperluan penerangan warga desa juga mengandalkan sumber listrik dari

PLN.

Pemerataan PLN terjadi pada tahun 2005, pada tahun ini banyak sekali

warga yang memasang sumber listrik dari PLN. Sehingga saat ini hampir semua

rumah tangga sudah memiliki sumber listrik dari PLN. Tetapi yang menjadi

masalah adalah sering kali terjadi pemadaman listrik yang tidak terjadwal. Seperti

dikatakan oleh informan :

“…Listrik neng Batang Pane kene sering mati. Mati e sak wayah-wayah. Kadang isuk pas sholat subuhKadang yo awan. Mbengi yo sering juga. (M. Zaenuddin, 54 tahun)

Padamnya listrik dan tidak terjadwal sangat menganggu kegiatan mereka

sehari-hari, terutama yang membutuhkan sumber listrik. Menginggat saat ini

warga desa Batang Pane-I untuk keperluan rumah tangga sudah mengunakan

teknologi yang membutuhkan energi listrik. Seperti memasak nasi dan air.

Masyarakat mengunakan rice cooker untuk memasak nasi dan mengunakan

dispenser untuk memanaskan air. Waktu mereka untuk memasak pada umumnya

adalah ketika pagi hari setelah sholat subuh sebelum mereka pergi ke ladang.Nasi

(22)

ladang. Ketika terjadi pemadaman listrik disaat-saat seperti itu sangat mengangu

aktifitas mereka. Nasi menjadi tidak matang, tidak bisa memanaskan air dan

alhasil, waktu mereka untuk pergi ke ladang menjadi molor.

Ketika terjadi pemadaman disiang hari juga sangat mengusik kenyamanan

mereka beraktifitas. Biasanya ketika pulang dari ladang ibu-ibu di desa Batang

Pane-I menyuci pakaian dengan mengunakan mesin cuci yang membutuhkan

sumber listrik. Hal ini mengakibatkan tertundanya pekerjaan untuk mencuci

pakaian yang biasanya dilakukan oleh kaum ibu-ibu.

Tidak hanya itu, ketika pemadaman terjadi disiang hari, aktifitas istirahat

mereka juga terganggu.Siang hari adalah waktu dimana warga banyak yang

menghabiskan waktu untuk beristirahat dirumah sambil menonton televisi dan

duduk dengan kipas angin nyala. Kipas angin juga menjadi barang elektronik

wajib yang dimiliki oleh masyarakat desa Batang Pane-I karena bila siang hari

desa ini sangat panas. Wajar saja jika terjadi pemadaman listrik disiang hari

banyak warga yang mengeluh dan mengumpat.

Alunan musik dangdut yang menjadi musik kesenangan warga desa

Batang Pane-I juga terdengar disiang hari. Suara musik dangdut tersebut tidak

tanggung-tanggung. Sangat keras sehingga dapat terdengar hampir satu RT yang

berjumlah sekitar 29 kepala keluarga. Suara sekuat itu dikeluarkan oleh speaker

sound bervolume tinggi yang sangat membutuhkan energy listrik dari PLN. Untuk

itu jika terjadi pemadaman listrik disiang hari, desa akan terasa sepi terutama

(23)

Ketika malam hari kebutuhan listrik untuk penerangan sangat diperlukan.

Karena pada malam hari adalah waktu untuk anak-anak desa Batang Pane-I yang

bersekolah menghabiskan waktu untuk belajar mengulas pelajaran yang diberikan

guru disekolah serta mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan guru

mereka disekolah. Pemadaman juga sering terjadi ketika malam hari. Untuk itu

warga banyak yang memiliki mesin generator set (genset) untuk menjadi sumber

cadangan listrik dimalam hari. Genset yang digunakan bermacam-macam. Ada

beberapa jenis secara umum dibedakan atas daya yang dihasilkan oleh mesin

genset tersebut. Ada yang berkapasitas 900 watt, 1000 watt dan 1500 watt. Dalam

dua jam, genset tersebut dapat menghabiskan sekitar dua liter bensin murni. Bila

dibandingkan dengan sumber listrik dari PLN, pemakaian genset ini lebih boros.

Harga satu liter bensin di desa ini sekitar Rp. 7500,00.

Pada dasarnya listrik sudah masuk dan tersedia di desa Batang Pane-I,

tetapi inkonsisten menyalanya listrik membuat warga banyak yang mengeluh dan

sebagai solusi mereka membeli genset yang pada umumnya hanya digunakan

ketika malam hari untuk penerangan saja.

2.3.4 Sumber Air Bersih

Desa Batang Pane-I merupakan sebuah desa yang terletak di dataran

rendah dengan kandungan tanah liat bercampur batu gunung, berkontur landai dan

sedikit berbukit. Walaupun di dataran rendah, desa ini tidak terletak dipesisir

pantai dan walapun tanah desa ini mengandung batu gunung, desa ini juga tidak

terletak di sekitar pengunungan. Sehingga sumber air bersih utama masyarakat

(24)

umumnya memiliki kedalaman sekitar 6- 15 meter. Tergantung di kedalaman

berapa meter sumur tersebut mendapatkan mata air. Contohnya : Ketika menggali

sumur, pada kedalaman 10 sudah mendapatkan mata air. Maka tidak akan

dilanjutkan penggalian tersebut dan hanya mencapai 10 m saja.

Sumur-sumur yang menjadi sumber air utama masyarakat Batang Pane-I

walaupun memiliki mata air, tetapi volume banyaknya air dipengaruhi oleh musim

hujan dan musim kemarau. Ketika musim hujan, air akan melimpah ruah di

sumur-sumur warga. Bahkan ada yang sampai hampir penuh. Tetapi ketika musim

hujan datang, kualitas air di sumur-sumur warga menjadi berkurang, warnanya

berubah dari yang biasanya berwarna bening berubah menjadi warna kekuningan

sesuai dengan kondisi tanah yang ada di desa tersebut. Tetapi karena sudah

terbiasa dengan keadaan tersebut, masyarakat menganggapnya sebagai hal yang

biasa. Sumur-sumur tersebut berada diluar rumah dan untuk memindahkan air

tersebut ke dalam bak penampungan yang berada dikamar mandi dalam rumah

mereka mengunakan mesin air (sanyo) untuk menyedot air sumur tersebut.

Keadaan berubah total ketika musim kemarau datang. Sumur-sumur

menjadi kering dan hanya menyisakan beberapa jengkal air saja. Tanah-tanah pun

terlihat sangat kering, bahkan ada yang sampai pecah-pecah. Bila musim kemarau

datang, banyak warga yang kebingungan mencari air untuk keperluan rumah

tangga. Ketika kejadian seperti itu terjadi, banyak warga yang mengandalkan air

yang berasal dari rawa ataupun kolam-kolam yang ada di desa tersebut. Walapun

kualitasnya tidak baik, warga terpaksa mengambil dan mengunakan air yang

berasal dari rawa atau kolam tersebut untuk mencuci baju dan mandi. Akan

(25)

mandi. Ada juga warga yang hilir mudik mengunakan sepeda motor yang

dibelakangnya terdapat satu keranjang yang terbuat dari anyaman rotan lengkap

dengan tiga buah derigen berkapasitas masing-masing derigen sebesar 25 liter.

Masing-masing derigen diletakan disamping kiri, kanan dan atas. Tidak hanya

sekali dalam satu hari mereka mengankut air dari rawa, tetapi ada yang sampai

tiga kali bolak-balik. Tergantung kapasitas penampungan air yang ada dirumah

mereka. Masyarakat desa Batang Pane-I banyak yang membangun bak air

berukuran besar untuk mengantisipasi datangnya musim kemarau datang. Bak-bak

tersebut digunakan untuk menampung air yang mereka angkut dari rawa atau

sumber air lainnya seperti kolam-kolam ikan. Selain bak, hampir semua warga

memiliki drum berkapasitas 100 L yang juga berfungsi sebagai wadah untuk

menyimpang air yang mereka dapatkan dari rawa.

Sebenarnya didekat desa ada sebuah sungai yang airnya cukup lumayan

dalam hal kuantitas. Tapi tidak untuk kualitasnya. Air sungai yang bernama

sungai napanas tersebut sudah tercemar oleh limbah pabrik sawit. Sehingga airnya

tidak lagi jernih. Warna airnya tidak lagi bening, tapi berubah menjadi

kehitam-hitaman. Air dari sungai ini digunakan oleh masyarakat desa Batang Pane-I dan

desa disekitar sungai ini hanya untuk keperluan mencuci mobil dan mencuci

sepeda motor. Tidak untuk keperluan mencuci baju,mandi dan keperluan

memasak.

Penjual air bersih dadakanpun muncul ketika musiam kemarau. Para

penjual air bersih mematok harga satu derigen dengan volume 25 liter sebesar Rp.

(26)

harus memesannya terlebih dahulu. Tidak “bayar langsung dapat”. Biasanya

waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan air bersih sekitar satu mingguan. Hal

ini dikarenakan banyaknya warga yang membeli air bersih dan di desa Batang

Pane-I hanya ada satu penjual air bersih ketika musim kemarau. Air yang

dijualpun tidak seperti air yang berasal dari rawa atau kolam-kolam. Tetapi

menurut informan yang juga penjual air bersih, dia mengambil air tersebut dari

sumber mata air yang berada di dekat pengunungan. Sehingga airnya bening dan

dingin serta bersih.

Untuk keperluan air minum dan memasak, warga desa Batang Pane-I

mengunakan air minum isi ulang dalam kemasan. Ada satu depot isi ulang air

minum di desa Batang Pane-I ini. Harga satu galon air minum bervolume 13 liter

sebesar Rp. 6000,00. Untuk air minum isi ulang ini tidak harus memesannya

terlebih dahulu. Pelangan tinggal datang ke depot isi ulang air minum. Bila jumlah

galon yang dipesan pelanggan lebih dari tiga buah, maka penjual air minum isi

ulang dalam kemasan tersebut akan mengantarkan sampai ke rumah pembeli

tanpa menambah uang lagi.

2.3.5 Layanan Kesehatan

Layanan kesehatan di desa Batang Pane-I ini tergolong sudah memadai.

Pantauan penulis sudah terdapat satu buah bangunan puskesmas yang digunakan

untuk kegiatan seperti imunisasi, pemeriksaan ibu hamil dan hal-hal lain yang

berkaitan dengan kesehatan ibu hamil dan anak. Keberadaan balita kurang gizi

juga sudah mulai berkurang, selaras dengan semakin membaiknya perekonomian

(27)

Di desa Batang Pane-I selain terdapat bidan yang berstatus sebagai

pegawai negeri sipil, juga terdapat bidan-bidan yang membuka praktek sendiri.

Tercatat terdapat enam bidan yang membuka praktek sendiri. Pada musim-musim

tertentu, banyak sekali masyarakat desa Batang Pane-I yang mengalami gangguan

kesehatan, terutama flu,demam dan batuk-batuk. Untuk penyakit musiman seperti

ini, masyarakat desa mengandalkan bidan-bidan yang ada di desa tersebut untuk

mengobati sakit yang datangnya musiman tersebut.

Untuk penanganan ibu melahirkan, dukun dan bidan desa bekerja sama

membantu proses persalinan. Hal ini dilakukan karena budaya mereka yang masih

mengangap dukun beranak sangat dibutuhkan dalam proses persalinan. Sementara

bidan desa juga mempunyai kewajiban untuk membantu proses persalinan. Untuk

mewujudkan program ibu dan anak yang sehat dan cerdas. Tetapi ada juga warga

yang melahirkan anak mereka dirumah sakit. Biasanya ini terjadi jika ibu tidak

dapat melakukan proses persalinan secara normal. Sehingga proses persalinan

harus dilakukan dengan cara operasi sesar. Di desa Batang Pane-I belum terdapat

rumah sakit yang mempunayi peralatan untuk operasi. Untuk itu ibu hamil yang

tidak dapat melahirkan secara normal akan dibawa ke rumah sakit terdekat yang

berada di kota. Penuturan informan, rumah sakit rujukan bidan desa adalah

Rumah Sakit Nuraini yang berada di pinang berjarak ± 65 km dari desa dan

membutuhkan waktu tempuh ± satu setengah jam.

Demikian juga untuk penanganan sakit-sakit keras yang membutuhkan

rawat inap seperi demam berdarah, tifus stroke dan lain-lain. Bidan desa juga

(28)

2.4Kelembagaan atau Organisasi Desa

Lembaga-lembaga yang berdiri di desa Batang Pane-I sudah termasuk

banyak dan bervariasi. Mulai dari lembaga atau organisasi muda-mudi, kelompok

tani, organisasi perempuan, lembaga simpan pinjam dan lainnya. Untuk

lengkapnya dapat dilihat pada bagan dibawah ini :

Bagan 2. Daftar Kelembagaan desa

(sumber: Dokumen desa)

Dari sekian banyak lembaga atau organisasi yang ada di desa Batang Pane-I ini,

banyak sekali masalah yang mendera lembaga-lembaga tersebut. Untuk lebih

jelasnya dapat terlihat pada tabel dibawah ini : Masy.

RW

LKMD

Dewan BPD Simpan Pinjam Kel. Tani

RT BKM

KUD Puskesmas

Pemdes

PKK

(29)

Tabel. 5 Daftar Lembaga dan permasalahannya.

No Lembaga Masalah

1 PEMDES

a. Peralatan kantor yang modern belum tersedia.sehinggan menghambat

kinerja pelayanan administrasi masyarakat

2 BPD

a. Kantor BPD belum tersedia. Mengakibatkan kurang efektifnya

rapat-rapat yang dijadwalkan oleh BPD.

3

Kelompok

Tani

a. Tidak adanya bimbingan pemerintah. Menyebabkan kurangnya ilmu

pengetahuan anggota kelompok tani tersebut untuk mengembangkan

produktifitas pertanian kebut sawit mereka.

4

Simpan

Pinjam a. Tidak ada yang berbadan hukum. Dan hanya berjalan di perwiritan

5 KUD

a. Ada gudang dan pengurus KUD. Tetapi tidak berjalan dengan

semestinya. Dapat dikatakan KUD ini hidup segan mati tak mau.

Penyebabnya karena warga tidak percaya dengan pengurus KUD tersebut

6 PKK a. Kurang adanya bimbingan dari pemerintah.

7

Karang

Taruna

a. Kegiatan hanya terfokus pada lorong (RW) masing-masing. Tidak ada

koordinasi karang taruna antar lorong.

(Sumber:dokumen desa)

Ada juga organisasi kepemudaan yang dahulu pernah “hidup” di desa

Batang Pane-I ini. Organisasi tersebut adalah Pemuda Pancasila. Tetapi saat ini,

organisasi tersebut tidak aktif seperti dulu lagi.. Penuturan informan, dahulu

ketika Pemuda Pancasila masih hidup, sering sekali Pemuda Pancasila

mendatangkan hiburan-hiburan rakyat. Seperti pertunjukan Group Band, Sirkus,

(30)

Organisasi Pemuda Pancasila ini. Dimungkinkan banyak masalah yang mendera

Organisasi kepemudaan tersebut.

2.5Sejarah Desa

Desa Batang Pane-I pada awal sebelum menjadi lokasi transmigrasi

merupakan wilayah administrtif dari Desa Siancimun. Pembukaan lahan

dilakukan sekitar tahun 1980-1981 dan baru dihuni oleh masyarakat yang

merupakan transmigran dari berbagai wilayah di pulau jawa pada tahun

1981-1982. Selain berasal dari pulau jawa, juga terdapat transmigran lokal yang

mencakup 10% dari total kepala keluarga yang datang ke desa ini. Transmigran

local pada umumnya datang dari wilayah sekitar desa Batang Pane-I ini, selain

juga berasal dari kota yang ada di provinsi Sumatera Utara, seperti Kota Kisaran.

Pemerintah mendatangkan para transmigran tidak langsung sekaligus,

tetapi dibagi menjadi tiga gelombang. Gelombang pertama tahun 1981 akhir,

gelombang kedua awal tahun 1982 dan gelombang ketiga pada akhir tahun 1982.

Untuk bentuk program transmigrasinya adalah gratis. Semua biaya ditanggung

oleh pemerintah pada masa Soeharto.

Lahan seluas 3000 hektar yang disediakan oleh pemerintah diperuntukan

untuk 450 Kepala Keluarga yang masing-masing Kepala Keluarga mendapatkan

jatah dari pemerintah yang terbagi lahan garapan (ladang) dan lahan pekarangan.

Lahan ladang yang diberi pemerintah seluas 1 (satu) Ha untuk lahan utama, lahan

kedua sebesar ¾ Ha dan untuk pekarangan seluas ¼ Ha. Selain mendapatkan jatah

(31)

Gambar 4. Rumah jatah yang dibangun oleh pemerintah ketika awal

pembukaan desa.

(Sumber : dokumen pribadi)

Selain itu, juga mendapatkan jatah berupa alat pertanian lengkap. Seperti

cangkul,kampak,bibit tanaman,pupuk,sabit,parang, alat semprot dan lain

sebagainya. Pemerintah juga memberikan jaminan hidup berupa jatah beras

sebesar ±25 kg setiap kepala keluarga selama ± 1 tahun. Jatah lainnya selain

beras, juga mendapatkan jatah seperti minyak lampu,minyak goreng dan ikan asin.

Karena pada saat itu masyarakat belum bisa memenuhi kebetuhan hidupnya, maka

pemerintah menambah jatah jaminan hidup selama ± 1 tahun.

. Pemerintah juga memberikan bantuan berupa ternak kecil dan ternak

besar. Ternak kecil berupa hewan unggas seperti ayam,bebek dan itik. Sementara

untuk ternak besar berupa kambing dan sapi. Untuk jatah ternak kecil diberikan

kepada warga yang sudah menetap selama 1-3 tahun dan untuk ternak besar

(32)

Pemerintah juga menyediakan pendamping atau penyuluh kepada

masyarakat kala itu diberbagai bidang. Mulai dari penyuluh pertanian, penyuluh

peternakan, dan lain-lain. Dalam hal keamanan,pada masa itu pemerintah

menempatkan satu orang tentara dan satu orang polisi di desa Batang Pane-I.

Pemerintah juga mengadakan penataran dan kursus yang diikuti oleh masyarakat

yang pada waktu itu ditunjuk oleh koordinator desa. Seperti penataran tentang

multikultural agama, kursus menjahit dan lain-lain.

Pada masa itu, program pertanian yang diberikan kepada masyarakat desa

Batang Pane-I adalah program ketahanan pangan. Sehingga warga diwajibkan

untuk menanam tanaman pangan seperti padi, sayur-mayur, umbi-umbian dan

buah-buahan. Tetapi karena tanah di desa tersebut tidak cocok dan banyaknya

hama yang merusak tannaman mereka seperti babi dan lain-lain, akhirnya warga

mengusulkan untuk menanam tanaman keras seperti kelapa sawit dan karet.

Warga yang mengusulkan mengganti tanaman pangan tersebut ke tanaman keras

adalah transmigran yang berasal dari kota kisaran.

Selama kurang lebih 32 tahun desa Batang Pane-I berdiri, suda h terjadi

beberapa pergantian penanggung jawa atau kepala pemerintahan desa. Mulai

masih berupa KSPT (Kepala satuan penanggung jawab transmigrasi), KUPT

(kepala unit penanggung jawab transmigrasi) sampai saat ini bernama kepala desa.

Berikut nama-nama pemegang tampuk kepemimpinan di desa Batang Pane-I

mulai dari awal desa dibuka.

1. Sutarno (KSPT) = Tahun 1980-1982

(33)

3. Gianto (KUPT) = Tahun 1984-1986

4. Opong srg(KUPT) = Tahun 1986-1987

5. Marpaung(KUPT) = Tahun 1987-1989

6. Gianto (Kades) = Tahun 1989-1994

7. Prapto Wiyono(Kades ) = Tahun 1994-1999

8. Tuginot(Kades) = Tahun 1999-2009

9. Shofiyatun (Kades) = Tahun 2009-2014

Gambar

Gambar. 1. Kantor kepala desa/ balai desa
Tabel I. Luas lahan menurut Peruntukan di Desa Batang Pane-I Tahun 2011
Gambar 2. Lapangan bola yang berada ditengah-tengah desa
Table 2. Jumlah dan jenis bangunan
+5

Referensi

Dokumen terkait

Hambatan koneksi matematis siswa kelompok atas dalam materi operasi hitung ekspresi aljabar terkait hambatan konseptual adalah siswa salah dalam mengurangkan bilangan

Pada perencanaan penerapan model Role Playing dengan media konkret peneliti melakukan izin kepada SD, diskusi dengan guru kelas, menganalisis silabus pembelajaran,

Judul : Pelatihan Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna (Better Teacher and Learning) bagi guru mata pelajaran IPS SMP dan MTs Swasta di kecamatan Genuk Kota

Penambahan laktosa sebanyak 0,3 dan 0,6 g per 100 ml pengencer Tris mampu memperpanjang daya hidup spermatozoa epididimis sapi Bali yang diperservasi pada suhu 3–5 o C dan

Pembagian kerjanya yaitu komite bertanggung jawab untuk tindak lanjut setelah dilakukan pemicuan, kemudian untuk perkembangan pelaksanaan STBM komite mencatat

Kas dan setara kas ( cash equivalents) adalah aktiva yang paling likuid. Lalu diikuti piutang usaha kemudian persediaan. Persediaan digunakan dalam kegiatan produksi suatu

Selanjutnya perlakuan dengan pemberian vermikompos pada P1 diperoleh kelimpahan zooplankton yang lebih tinggi dari pada perlakuan lainnya hal ini disebabkan karena

tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak game online terhadap perilaku remaja dalam pelaksanaan ibadah sholat lima waktu, untuk.. mengetahui