BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan teknologi komputer sekarang sangat pesat, ini ditandai dengan hampir semua pengolahan data dan informasi telah dilakukan dengan komputer karena semakin beraneka ragam permasalahan informasi yang harus ditangani. Sebelum adanya komputer, kertas sangat memegang peran penting dalam bidang komunikasi dan informasi. Tetapi setelah komputer ditemukan dan dengan perkembangan teknologi komputer, maka alat penyampaian informasi beralih menggunakan komputer.
Pertanian merupakan sektor terbesar dalam hampir setiap ekonomi negara berkembang. Sektor ini menyediakan pangan bagi sebagian besar penduduknya, memberi lapangan pekerjaan bagi hampir seluruh angkatan kerja yang ada, menghasilkan bahan mentah bahan baku atau penolong bagi industri dan menjadi sumber terbesar bagi penerimaan devisa negara. (Sapuan dan Silitonga, 1994)
Sebagian masyarakat Indonesia berprofesi sebagai petani yang memiliki peranan penting untuk terjamin tersedianya bahan pokok yaitu beras yang berasal dari padi. Dalam prakteknya sering kali petani kesulitan dalam menghadapi hama salah satunya hama wereng coklat, banyaknya tanaman padi yang ditanam tidak sebanding dengan banyaknya beras yang dihasilkan, karena adanya padi yang terserang hama, tetapi sebagian petani sering mengabaikan hal ini karena ketidaktahuannya dan
menganggap gejala tersebut sudah biasa terjadi pada masa tanam, sampai suatu saat timbul gejala yang sangat parah dan meluas, sehingga sudah terlambat untuk dikendalikan. Ahli pertanian dalam hal ini mempunyai kemampuan untuk menganalisa gejala-gejala dan hama penyakit tanaman tersebut.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang ada, maka penulis dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Bagaimana mengimplementasikan metode Backward Chaining terhadap Sistem Pakar Diagnosa Hama dan Penyakit Tanaman Padi ?.
2. Bagaimana membangun dan merancang aplikasi untuk mendiagnosa hama dan penyakit tanaman padi dengan menggunakan metode Backward Chaining ?.
1.3. Batasan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang ada, maka penulis membatasi masalah dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Hama dan penyakit yang menyerang padi mulai dari malai, daun, batang sampai akar padi.
2. Jenis hama dan penyakit, gejala dan tata cara pengendaliannya disesuaikan dengan keterangan pakar.
3. program yang dibangun berbasis mobile dengan bahasa pemrograman yang digunakan adalah bahasa pemrograman Hypertext Preprocessor (PHP) Versi 5.3.0.
1.4. Tujuan Penelitian
yang dapat berguna bagi petani untuk memberikan informasi mengenai hama dan penyakit tanaman padi berdasarkan gejala-gejala serangan beserta cara pengendaliannya yang nantinya dapat digunakan untuk mengurangi dan memperkecil resiko dalam berproduksi tanaman padi.
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat Akademis
a. Penulis dapat menerapkan ilmu pengetahuan di bidang informatika pada penerapan praktis.
b. Dapat dijadikan bahan referensi bagi penelitian-penelitian berikutnya yang memiliki topik yang sama dengan penelitian ini.
2. Manfaat Praktis
a. Menghasilkan sebuah aplikasi yang dapat membantu para petani dalam mendiagnosa hama dan penyakit tanaman padi, serta memberikan solusi tata cara teknik pengendaliannya dan mendapatkan solusinya tanpa harus mencari atau menunggu pakar hama dan penyakit tanaman padi.
b. Dapat dijadikan sebagai acuan penelitian.
1.6. Sistematika Penulisan
BAB I: PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat, dan sistematika penulisan.
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
Bab ini menjelaskan tentang perbandingan antara penelitian ini dengan penelitian lain yang pernah ada sebelumnya serta teori-teori yang digunakan dalam menyusun proposal ini.
BAB III: METODE PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian, tahapan penelitian, dan hipotesis yang dibuat berdasarkan teori dasar serta rumusan masalah yang ada.
BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang hasil dari penelitian dan perancangan yang telah dilakukan selama beberapa bulan.
BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan yang diambil berdasarkan analisa yang telah dilakukan serta saran-saran yang bermanfaat bagi penelitian-penelitian yang akan dilakukan di kemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA
Pada daftar pustaka ini terdapat nama-nama penilis buku berseta tahun, tempat dan penerbit buku tersebut.
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1. Tinjauan Pustaka
Penelitian yang sebelumnya pernah dilakukan sehubungan dengan sistem pakar adalah sebagai berikut:
1. Deny Wiria Nugraha (2012), dalam penelitiannya Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Kerusakan Perangkat Televisi Menggunakan Metode Backward Chaining . Tujuan penelitian ini adalah merancang dan membangun sistem pakar yang dapat mendiagnosa kerusakan pada perangkat televisi berdasarkan ciri kerusakan yang ada dengan menggunakan metode backward chaining. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang sedang dilakukan penulis yaitu menggunakan algoritma Backward Chaining untuk metode kepakaran yang dipakai. Perbedaannya yaitu pada penelitian ini mendiagnosa kerusakan televisi dan menggunakan program Delphi XE3 sedangkan penelitian yang sedang dilakukan penulis menggunakan bahasa pemrograman PHP.
2. Gitayanti Tangaguling (2013), dalam penelitiannya Pembangunan Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Hama Penyakit Pada Tanaman Padi Berbasis Web. Tujuan penelitian ini adalah Membangun sebuah sistem pakar untuk membantu pengamat hama penyakit (PHP) dan petani mendiagnosis hama atau penyakit pada tanaman padi dengan menerapkan metode Bayes dan Menentukan jenis dan solusi cara penanganan hama atau penyakit pada tanaman padi untuk
mengurangi gagal panen. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang sedang dilakukan penulis yaitu menghasilkan sistem pakar untuk mendiagnosa hama dan penyakit tanaman padi. Perbedaannya yaitu pada penelitian ini program yang dihasilkan berbasis web sedangkan penelitian yang sedang dilakukan penulis program yang dihasilkan berbasis mobile.
3. Siska Iriani (2014), dalam penelitiannya Penerapan Metode Backward Chaining pada Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Tulang Manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk Membuat sistem pakar untuk membantu mengetahui jenis-jenis penyakit yang dapat menyerang tulang manusia, melalui penelusuran gejala-gejala dari penyakit tulang itu sendiri serta membantu dokter maupun petugas kesehatan dalam menangani penyakit pada tulang manusia dan kemudian memberikan solusi yang tepat berupa pengobatan dan saran pencegahan.. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang sedang dilakukan penulis yaitu menggunakan metode Backward Chaining sebagai metode kepakaran untuk keperluan diagnosa. Perbedaannya yaitu pada penelitian ini program yang dihasilkan berbasis dekstop sedangkan penelitian yang sedang dilakukan penulis program yang dihasilkan berbasis mobile.
2.2. Landasan Teori 2.2.1. Sistem
Sistem adalah jaringan kerja prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu sasaran tertentu (Jogiyanto,1999). Suatu sistem bisa dikatakan merupakan kombinasi atas beberapa komponen yang bekerja secara bersama-sama untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu.
Menurut Jogiyanto (1999), suatu sistem memiliki karakteristik atau sifat-sifat tertentu yaitu memiliki komponen, batas sistem, lingkungan luar sistem, penghubung, masukan, keluaran, dan tujuan. Adapun pengertian dari masing-masing karakteristik Sistem adalah sebagai berikut:
1. Komponen Sistem (Components)
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan.
Batas sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lainya atau dengan lingkungan luarnya sehingga menunjukan ruang lingkup (scope) dari sistem tersebut.
3. Lingkungan Luar Sistem (Environments)
Lingkungan luar dari suatu sistem adalah apapun diluar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem yang dapat bersifat menguntungkan dan dapat juga bersifat merugikan suatu sistem tersebut.
4. Penghubung Sistem
Penghubung sistem merupakan media penghubung antara satu sub-sistem dengan subsistem lainya yang memungkinkan sumber-sumber daya mengalir dari satu subsistem ke yang lainya.
5. Masukan (input) Sistem
Masukan sistem adalah energi yang dimasukan ke dalam sistem. Masukan dapat berupa masukan perawatan (maintenance input) dan masukan sinyal (signal input). Maintenance input adalah energi yang dimasukan supaya sistem tersebut dapat beroperasi.
Keluaran sistem adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan. Keluaran dapat merupakan masukan atau subsistem yang lain atau kepada supersistem.
7. Pengolah Sistem
Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolahan yang akan merubah masukan menjadi keluaran.
8. Sasaran dan Tujuan Sistem
Sasaran dari sistem sangat menentukan sekali masukan yang dibutuhkan sistem dan keluaran yang dihasilkan sistem. Suatu sistem pasti mempunyai tujuan dan sasaran, kalau tidak mempunyai sasaran maka operasi sistem tidak ada gunanya.
2.2.2. Sistem Pakar
Menurut Nita Merlina dan Rahmat Hidayat dalam bukunya Perancangan Sistem Pakar (2012:1), beberapa definisi sistem pakar menurut beberapa ahli yaitu sebagai berikut.
2. Menurut Ignizo : Sistem pakar adalah suatu model dan prosedur yang berkaitan, dalam suatu domain tertentu, yang mana tingkat keahliannya dapat dibandingkan dengan keahlian seorang pakar.
3. Menurut Giarratano dan Riley : Sistem pakar adalah suatu sistem komputer yang bisa menyamai atau meniru kemampuan seorang pakar.
2.2.2.1. Konsep Dasar Sistem Pakar
Menurut Turban (1995) konsep dasar sistem pakar mengandung keahlian (expertise), pakar (expert), pengalihan keahlian (transfering expertise), inferensi (inferencing), aturan (rules) dan kemampuan menjelaskan (explanation capability). Keahlian (expertise) adalah suatu kelebihan penguasaan pengetahuan di
bidang tertentu yang diperoleh dari pelatihan, membaca atau pengalaman.
Pengetahuan tersebut memungkinkan para ahli untuk dapat mengambil keputusan lebih cepat dan lebih baik daripada seseorang yang bukan ahli.
Pakar (Expert) adalah seseorang yang mampu menjelaskan suatu tanggapan, mempelajari hal-hal baru seputar topik permasalahan (domain), menyusun kembali pengetahuan jika dipandang perlu, memecahkan aturan- aturan jika dibutuhkan, dan menentukan relevan tidaknya keahlian mereka.
1. Tambahan pengetahuan (dari para ahli atau sumber-sumber lainnya) 2. Representasi pengetahuan (ke komputer)
3. Inferensi pengetahuan
4. Dan pengalihan pengetahuan ke user.
Pengetahuan yang disimpan di komputer disebut dengan nama basis pengetahuan. Ada dua tipe pengetahuan, yaitu fakta dan prosedur (biasanya berupa aturan).
Salah satu fitur yang harus dimiliki oleh sistem pakar adalah kemampuan untuk menalar. Jika keahlian-keahlian sudah tersimpan sebagai basis pengetahuan dan sudah tersedia program yang mampu mengakses basis data, maka komputer harus dapat diprogram untuk membuat nferensi. Proses inferensi ini dikemas dalam bentukmesin inferensi (inference engine).
Sebagian besar sistem pakar komersial dibuat dalam bentuk rule based system, yang mana pengetahuan disimpan dalam bentuk aturan-aturan. Aturan tersebut biasanya berbentuk IF-THEN.
Fitur lainnya dari sistem pakar adalah kemampuan untuk memberikan nasehat atau merekomendasikan. Kemampuan inilah yang membedakan sistem pakar dengan sistem konvensional.
Menurut Turban (1995), sistem pakar terdiri dari dua bagian pokok, yaitu: lingkungan pengembangan (development environment) dan lingkungan konsultasi (consultation environment). Lingkungan pengembangan digunakan sebagai pembangun sistem pakar baik dari segi pembangun komponen maupun basis pengetahuan. Lingkungan konsultasi digunakan oleh seseorang yang bukan ahli untuk berkonsultasi. Komponen-komponen yang ada pada sistem pakar seperti pada gambar 2.2 berikut:
Gambar 2.2. Arsitektur Sistem Pakar (Arhami, 2004)
1. Subsistem penambah pengetahuan (Akuisisi Pengetahuan).
diperoleh dari pakar, dilengkapi dengan buku, basis data, laporan penelitian dan pengalaman pemakai.
2. Basis Pengetahuan (Knowledge Base).
Berisi pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan untuk memahami, memformulasikan dan menyelesaikan masalah. Basis pengetahuan merupakan bagian yang sangat penting dalam proses inferensi, yang di dalamnya menyimapan informasi dan aturan-aturan penyelesaian suatu pokok bahasan masalah beserta atributnya. Pada prinsipnya, basis pengetahuan mempunyai dua (2) komponen yaitu fakta-fakta dan aturan- aturan.
3. Mesin Inferensi (Inference Engine).
Program yang berisi metodologi yang digunakan untuk melakukan penalaran terhadap informasi-informasi dalam basis pengetahuan dan blackboard, serta digunakan untuk memformulasikan konklusi.
4. Workplace / Blackboard.
Merupakan area dari sekumpulan memori kinerja (working memory). Workplace digunakan untuk merekam kejadian yang sedang berlangsung termasuk keputusan sementara.
5. Antarmuka (user interface)
6. Subsistem penjelasan (Explanation Facility)
Explanation Facility memungkinkan pengguna untuk mendapatkan penjelasan dari hasil konsultasi. Fasilitas penjelasan diberikan untuk menjelaskan bagaimana proses penarikan kesimpulan. Biasanya dengan cara memperlihatkan rule yang digunakan.
7. Perbaikan Pengetahuan (Knowledge Refinement)
Sistem ini digunakan untuk mengevaluasi kinerja sistem pakar itu sendiri untuk melihat apakah pengetahuan-pengetahuan yang ada masih cocok untuk digunakan di masa mendatang.
2.2.2.2.1. Basis Pengetahuan (Knowledge Base )
Basis pengetahuan mengandung pengetahuan untuk pemahaman, formulasi, dan penyelesaian masalah. Komponen sistem pakar ini disusun atas dua elemen dasar yaitu fakta dan aturan. Fakta merupakan informasi tentang obyek dalam area permasalahan tertentu, sedangkan aturan merupakan informasi tentang cara bagaimana memperoleh fakta baru dari fakta yang telah diketahui.
2.2.2.2.2. Mesin Inferensi (Inference Engine)
adalah program komputer yang memberikan metodologi untuk penalaran tentang informasi yang ada dalam basis pengetahuan dan dalam workplace, dan untuk memformulasikan kesimpulan (Turban, 1995).
Mesin inferensi memulai pelacakannya dengan mencocokan kaidah-kaidah dalam basis pengetahuan dengan fakta-fakta yang ada dalam basisi data.
Terdapat dua pendekatan untuk mengontrol inferensi dalam sistem pakar, yaitu salah satunya metode pelacakan ke belakang (Backward Chaining) yang melalui penalarannya dari sekumpulan hipotesa menuju fakta yang mendukung hipotesa-hipotesa tersebu dan 2 dan pelacakan ke depan (Forward Chaining) yang merupakan kebalikan dari pelacakan ke belakang, yaitu memulai dari sekumpulan fakta menuju kesimpulan.
2.2.2.2.3. Metode Penelusuran Sistem Pakar
Metode inferensi Backward Chaining dan Forward Chaining tersebut dipengaruhi oleh tiga macam penelusuran, yaitu Depth-first search, Breadth-first search dan Best-first search.
Gambar 2.2 Depth-first Search (sumber : Merlina, 2012)
2. Breadth-first search, bergerak dari simpul akar, simpul yang ada pada setiap tingkat diuji sebelum pindah ke tingkat selanjutnya Gambar 2.3 menunjukan proses penelusuran Breath-first search.
Gambar 2.3 Breadth-first search
(sumber : Merlina, 2012)
akan berhenti apabila solusi sudah mendekati yang terbaik. Ini merupakan model yang menyerupai cara manusia mengambil solusi yang dihasilkan merupakan solusi yang mutlak benar. Berikut adalah gambar 2.4 best first search.
Gambar 2.4 Best-first search (sumber : Merlina, 2012)
Untuk sebuah sistem pakar yang besar dengan jumlah rule yang relatif banyak, metode pelacakan ke depan akan dirasakan sangat lamban dalam pengambilan kesimpulan, sehingga untuk sistem-sistem yang besar digunakan metode pelacakan ke belakang.
2.2.3. Konsep Dasar Metode Backward Chaining
kemudian dari kaidah-kaidah yang diperoleh, masing-masing kesimpulan dirunut balik jalur yang mengarah ke kesimpulan tersebut.
Jika informasi-informasi atau nilai dari atribut-atribut yang mengarah ke kesimpulan tersebut sesuai dengan data yang diberikan maka kesimpulan tersebut merupakan solusi yang dicari, jika tidak sesuai maka kesimpulan tersebut bukan merupakan solusi yang dicari. Runut balik memulai proses pencarian dengan suatu tujuan sehingga strategi ini disebut juga goal-driven. (Brandon, 2003).
Gambar 2.5. Proses Backward Chaining (sumber : kusrini, 2009)
maupun hardware (sistem komputer) disajikan dalam bentuk tipe struktur data yang diimplementasikan menggunakan program seperti Borland Delphi, PHP, Java, C ++ atau Development Tool Visual Basic.
Sistem pakar berbasis aturan (rule based expert system) adalah sistem pakar yang menggunakan kaidah atau aturan (rule) untuk mempresentasikan pengetahuan di dalam basis npengetahuannya. Suatu Rule terdiri atas 2 bagian, yaitu : 1. Antecedent, yaitu bagian yang mengekspresikan situasi atau premise (Pernyataan berawalan IF).
2. Qonsequen, yaitu bagian yang menyatakan suatu tindakan tertentu atau konklusi yang diterapkan jika situasi atau premise bernilai benar (Pernyataan berawalan THEN). Misalnya : IF hari mendung THEN akan turun hujan. Konsekuensi atau konklusi pada bagian THEN akan dinyatkan benar jika bagian IF pada sisitem tersebut juga benar.
Contoh forward dan backward chaining: R1 : IF suku bunga turun THEN harga obligasi naik R2 : IF suku bunga naik THEN harga obligasi turun
R3 : IF suku bunga tidak berubah THEN harga obligasi tidak berubah R4 : IF dolar naik THEN suku bunga turun
Apabila diketahui bahwa dolar turun, maka untuk memutuskan apakah akan membeli obligasi atau tidak dapat ditunjukkan sebagai berikut :
Forward Chaining :
a. Dari fakta dolar turun, berdasarkan Rule 5, diperoleh konklusi suku bunga naik. Dari Rule 2
b. suku bunga naik menyebabkan harga obligasi turun. Dengan Rule 6, jika harga obligasi turun,
c. maka kesimpulan yang diambil adalah membeli obligasi.
\
a. Dari solusi yaitu membeli obligasi, dengan menggunakan Rule 6 diperoleh anteseden harga
b. obligasi turun. Dari Rule 2 dibuktikan harga obligasi turun bernilai benar jika suku bunga naik
c. bernilai benar . Dari Rule 5 suku bunga naik bernilai memang bernilai benar karena diketahui fakta dolar turun.
2.2.4. Hama Dan Penyakit Tanaman Padi
Dalam budidaya tanaman padi, maka kita tidak akan terlepas dari ancaman hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman padi kita. Dalam mengatasi organisme pengganggu ini kita pelu melakukan penanggulangan agar tujuan budidaya kita bisa tercapai. Di bawah ini kita akan membahas tentang hama dan penyakit pada tanaman padi, gejala dan cara pengendaliannya.
1. Hama Pada Tanaman Padi
a. Hama Putih (Nympula depunctalis)
Gejala: menyerang daun bibit, kerusakannya berupa titik-titik yang memanjang sejajar dengan tulang daun, ulat menggulung daun padi.
b. Padi Thrips (Thrips oryzae)
Gejala: Daun menggulung dan berwarna kuning sampai kemerahan, pertumbuhan bibit terhambat, pada tanaman dewasa gabah tidak berisi.
wereng padi berpunggung putih (Sogatella furcivera) dan Wereng Penyerang Daun Padi: Wereng padi hijau (Nephotettix apicalis dan N. impicticep). Merusak dengan cara menghisap cairan batang padi dan dapat menularkan virus.
Gejala: Tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tanaman seperti terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil.
d. Walang sangit (Leptocoriza acuta). Menyerang buah padi yang masak susu.
Gejala: buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada daun terdapat bercak bekas isapan dan bulir padi berbintik-bintik hitam.
e. Kepik hijau (Nezara viridula). Menyerang batang dan buah padi.
Gejala: pada batang tanaman terdapat bekas tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan pertumbuhan tanaman terganggu.
f. Penggerek batang padi
Gejala: pucuk tanaman layu, kering berwarna kemerahan dan mudah dicabut, daun mengering dan seluruh batang kering. Kerusakan pada tanaman muda disebut hama “sundep” dan pada tanaman bunting (pengisian biji) disebut “beluk”.
g. Hama tikus (Rattus argentiventer)
Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah. Gejala: adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.
Menyerang menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan.\
2. Penyakit pada Tanaman Padi
a. Penyakit Bercak daun coklat. Penyebab: jamur Helmintosporium oryzae.
Gejala: menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati.
b. Penyakit Blast. Penyebab: jamur Pyricularia oryzae.
Gejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa.
c. Busuk pelepah daun. Penyebab: jamur Rhizoctonia sp.
Gejala: menyerang daun dan pelepah daun pada tanaman yang telah membentuk anakan. Menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun.
d. Penyakit Fusarium. Penyebab: jamur Fusarium moniliforme.
Gejala: menyerang malai dan biji muda menjadi kecoklatan, daun terkulai, akar membusuk.
e. Penyakit kresek/hawar daun. Penyebab: bakteri (Xanthomonas campestris pv oryzae)
f. Penyakit kerdil. Penyebab: virus ditularkan oleh wereng coklat Nilaparvata lugens.
Gejala: menyerang semua bagian tanaman, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau kekuning-kuningan, batang pendek, buku-buku pendek, anakan banyak tetapi kecil.
g. Penyakit tungro.
Penyebab: virus yang ditularkan oleh wereng hijau Nephotettix impicticeps.
Gejala: menyerang semua bagian tanaman, pertumbuhan tanaman kurang sempurna, daun kuning hingga kecoklatan, jumlah tunas berkurang, pembungaan tertunda, malai kecil dan tidak berisi.
2.2.5. PHP
Menurut Nugroho (2004), PHP atau singkatan dari Personal Home Page adalah bahasa script yang tertanam dalam HTML untuk dieksekusi bersifat server side. PHPtermasuk dalam open source product, sehingga source codePHP dapat diubah dan didistribusikan secara bebas.
PHP akan diesksekusi diserver kemudian hasilnya akan dikirimkan ke browser dengan format HTML.
PHP disebut bahasa pemrograman server side karena PHP diproses pada komputer server. Hal ini berbeda dibandingkan dengan bahasa pemrograman client-side seperti JavaScript yang diproses pada web browser (client).
2.2.6. JQuery
JQuery merupakan suatu framework (library) Javascript yang menekankan bagaimana interaksi antara Javascript dan HTML. JQuery pertama kali dirilis pada tahun 2006 oleh John Resig. Fitur utama dari JQuery diantaranya :
a. Dapat mengakses elemen dalam dokumen
Javascript khusus, untuk mengakses suatu bagian tertentu dari halaman, harus mengikuti aturan Document Object Model dan pengaksesan harus secara spesifik menyesuaikan dengan struktur HTML.
b. Mengubah tampilan halaman website
CSS (Cascading Style Sheet) menawarkan metode yang cukup handal dalam mengatur dan mempercantik halaman web.
c. Mengubah isi dari dokumen
Javascript sendiri memiliki beberapa event-handling seperti onclick untuk menangani event saat terjadi click.
e. Animasi pada dokumen
Animasi seringkali disertakan dalam suatu halaman web untuk menambah kecantikannya.
f. Mengambil informasi dari server tanpa harus me-refresh halaman
Mengambil informasi dari server tanpa refresh halaman merupakan salah satu konsep dasar yang dikenal dengan nama AJAX (Asynchronous Javascript and XML).
g. Menyederhanakan penulisan sintaks Javascript
Semboyan JQuery adalah “Write less,do more” atau dengan kata lain kesederhanaan dalam penulisan code, tetapi menghasilnya tampilan yang lebih.
2.2.7. Aplikasi Mobile
Maka aplikasi mobile dapat di artikan sebuah program aplikasi yang dapat dijalankan atau digunakan walaupun pengguna berpindah – pindah dari satu tempat ke tempat yang lain serta mempunyai ukuran yang kecil. Aplikasi mobile ini dapat di akses melalui perangkat nirkabel, pager, PDA, telepon seluler, smartphone, dan perangkat sejenisnya.
2.2.8. Basis Data
Menurut Everest (2015), basis data (database) ialah koleksi atau kumpulan data yang mekanis, terbagi(shared), terdefinisi secara formal dan juga dikontrol terpusat pada suatu organisasi.
Menurut Date (2015), basis data (database) dapat dianggap ialah sebagai tempat sekumpulan berkas dan juga terkomputerisasi yang mempunyai tujuan utamanya ialah untuk melakukan pemeliharaan terhadap informasi dan juga membuat informasi tersebut tersedia saat dibutuhkan.
Basis data merupakan aspek yang sangat penting dalam sistem informasi karena berfungsi sebagai gudang penyimpanan data yang akan diolah lebih lanjut. Basis data menjadi penting karena dapat mengorganisasi data, menghidari duplikasi data, menghindari hubungan antar data yang tidak jelas dan juga update yang rumit.
yang memungkinkan pengguna basis data (database user) untuk memelihara, mengontrol dan mengakses data secara praktis dan efisien. Dengan kata lain, semua akses ke basis data akan ditangani oleh DBMS. DBMS ini menjadi lapisan yang menghubungkan basis data dengan program aplikasi untuk memastikan bahwa basis data tetap terorganisasi secara konsisten dan dapat diakses dengan mudah.
2.2.9. MySQL
Menurut Arief (2011), MySQL adalah salah satu jenis database server yang sa ngat terkenal dan banyak digunakan untuk membangun aplikasi web yang menggunakan database sebagai sumber dan pengolahan datanya.
Tahun 2013, MySQL merupakan basis data kedua yang paling banyak digunakan di dunia dan yang pertama untuk basis data sumber terbuka. Dilihat dari sejarahnya, MySQL dibuat tahun 1995 dan disponsori oleh perusahaan Swedia, MySQL AB. Pengembang platform MySQL adalah Michael Widenius, David Axmark dan Allan Larsson. MySQL dibuat untuk menyediakan opsi pengelolaan data yang efisien, terpercaya dan handal. Pada tahun 2000, platform MySQL berubah menjadi sumber terbuka dan mengikuti ketentuan GPL (General Public License).
sebagai bahasa skrip. Apabila Anda membangun blog atau website menggunakan CMS seperti Joomla, Wordpress, Drupal atau Magento, Anda sedang menggunakan MySQL sebagai solusi basis datanya. MySQL juga banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar dunia seperti Facebook, Google, Adobe, Alcatel Lucent dan juga Zappos.
Pada Januari 2008, MySQL diakuisisi oleh Sun Microsystems. Pada April 2009, terjadi pencapaian kesepakatan antara Sun Microsystems dan Oracle Corporation terkait pembelian Sun Microsystems beserta hak cipta (copyright) dan merek dagang (trademark) MySQL oleh Oracle. Namun baru pada Januari 2010, MySQL secara resmi diakuisisi oleh Oracle. Di bawah naungan Oracle Corporation, MySQL tersedia melalui skema lisensi ganda. Anda dapat menggunakan opsi lisensi sumber terbuka (GPL) dan anda juga dapat membeli lisensi komersial untuk aplikasi bukan GPL.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Bahan dan Alat Penelitian
3.1.1. Bahan Penelitian
Dalam penelitian ini, bahan penelitian yang akan digunakan adalah : 1. Data gejala-gejala gangguan pada tanaman padi
2. Hama dan penyakit pada tanaman padi
3. Teknik pengendalian hama dan penyakit tanaman padi
Bahan penelitian yang digunakan jurnal, textbook, dan dokumentasi lainnya yang didapat dari hasil studi literatur dan wawancara.
3.1.2. Alat Penelitian
Pada penelitian ini digunakan alat penelitian berupa perangkat lunak dan perangkat keras sebagai berikut:
a. Perangkat lunak (Software) 1. Sublime Text 3
2. PHP versi sebagai bahasa pemrograman 3. JQuery Mobile versi
4. MySql versi sebagai basis data b. Perangkat Keras (Hardware) Laptop dengan spesifikasi :
1. Sistem operasi Windows 10 2. Procesor intel core i5 3. RAM 2 GB DDR 3
4. Hard disk drive (HDD) 500 GB 5. GPU Intel HD graphics 4000
Mobile Dengan Spesifikasi :
1. Processor ARM Cortex-A53 2,6 GHz 2. RAM 3 GB
3. Android Version 6.0
4. Konektivitas 2G, 3G , 4G LTE.
3.2. Desain Penelitian 3.2.1. Jenis Penelitian
Dalam pembuatan penelitian ini, penelitian menggunakan jenis metode penelitian Survei. Penelitian ini digunakan untuk pengumpulan data yang luas dan banyak. Penelitian ini dilakukan pada populasi besar maupun kecil. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran umum karakteristik dari populasi.
3.2.2. Tipe Penelitian
Peneliti dalam penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misal nya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain (Moleong, 2007).
3.3. Objek, Waktu, dan Lokasi Penelitian
Perikanan serta di Kantor Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Adapun waktu yang ditargetkan oleh peneliti adalah 4 (empat) bulan dari pengajuan proposal penelitian ini dimulai pada bulan Novemver 2017 sampai Maret 2018.
3.4. Jenis, dan Sumber Data
Adapun jenis dan sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder.
a. Data Primer
Data primer yaitu data yang dibuat oleh peneliti untuk maksud khusus menyelesaikan permasalahan yang sedang ditanganinya. Data dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat obyek penelitian dilakukan. Adapun yang menjadi sumber data primer pada penelitian ini adalah hasil wawancara kepada kepala Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan dokumen-dokumen tentang hama dan penyakit tanaman padi, serta cara penanggulanganya dan arsip yang ada di dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan dan kantor BPTP kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah.
b. Data Sekunder
dalam atau luar organisasi, semua yang dapat berguna bagi peneliti. Adapun yang data sekunder pada penelitian ini didapatkan melalui jurnal, internet, buku-buku, majalah dan lain-lain.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi literatur.
a. Teknik Observasi
Teknik ini merupakan pengumpulan data yang dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap dokumen-dokumen/arsip yang berhubungan dengan kepakaran tentang hama dan penyakit tanaman padi, serta cara penanggulanginya untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam pembuatan sistem.
b. Teknik Wawancara
Teknik ini dilakukan dengan wawancara secara langsung melalui tatap muka dan tanya jawab dengan pihak yang terkait. Wawancara dilakukan terhadap kepala PPL dan kepala BPTP kabupaten Sigi untuk mendapatkan informasi untuk keperluan penelitian ini.
c. Teknik Studi Literatur
secara teoritis. Sumber-sumber yang dimaksud adalah buku, artikel, jurnal melalui internet.
3.6. Metode Analisa Data
Dalam penggalian data dan informasi, peneliti menggunakan metode Unified Modelling Language (UML) yaitu suatu metode yang dapat digunakan untuk memahami serta mendokumentasikan sistem perangkat lunak secara visual. Adapun jenis UML yang digunakan yaitu Use Case, Class Diagram dan Activity Diagram. Selain jenis UML tersebut, penulis juga menggunakan Entity Relationship Diagram (ERD). Selain jenis UML tersebut, penulis juga menggunakan Context Diagram dan Data Flow Diagram (DFD). Pada diagram konteks ini terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Diagram konteks merupakan level tertinggi dari DFD yang menggambarkan seluruh input ke sistem atau output dari sistem. Ia akan memberi gambaran tentang keseluruan sistem.
3.7. Metode Pengembangan Sistem
Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah model waterfall. Menurut Sommerville (2011), waterfall model adalah sebuah contoh dari proses perencanaan, dimana semua proses kegiatan harus terlebih dahulu direncanakan dan dijadwalkan sebelum dikerjakan. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
Pada tahap ini, penulis mengumpulkan kebutuhan secara lengkap kemudian dianalisis dan didefinisikan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh software yang akan dibangun.
2. System and Software Design
Pada tahap ini, penulis melakukan pencarian kebutuhan software untuk mengetahui sifat program yang akan dibuat. Misalnya fungsi yang dibutuhkan, user interface, dan sebagainya.
3. Implementation and Unit Testing
Pada tahap ini, Desain program atau software design diterjemahkan ke dalam kode-kode dengan menggunakan bahasa pemrograman yang telah ditentukan. Program yang dibangun langsung diuji baik secara unit.
4. Integration and System Testing
Pada tahap ini, untuk dapat dimengerti oleh mesin, dalam hal ini adalah komputer, maka desain diubah bentuknya menjadi dapat dimengerti oleh mesin, yaitu ke dalam bahasa pemrogram melalui proses coding. Tahap ini merupakan tahap implementasi dari tahap desain. Penyatuan unit-unit program kemudian diuji secara keseluruhan (system testing).
5. Operation and Maintenance
Gambar 3.1. Waterfall Model (Sumber: Sommerville, 2011)
3.8. Tahapan dan Diagram Alur Penelitian Adapun tahapan penelitian ini adalah: 1. Studi Literatur
Studi literatur adalah mencari referensi teori yang relevan dengan metode yang digunakan yang bersumber dari teks-teks tertulis baik cetak maupun secara online. 2. Pengumpulan data
Pengumpulan data primer yang menjadi sumber data primer pada penelitian ini adalah hasil wawancara kepada kepala Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan kepala BPTP kabupaten Sigi provinsi Sulawesi Tengah serta dokumen-dokumen tentang hama dan penyakit tanaman padi, serta cara penanggulanganya.
Pada tahap ini, tahapan rancang bangun sistem pakar diagnosa hama dan penyakit tanaman padi berbasis mobile menggunakan metode backward chaining
Gambar 3.2. Flowchart Sistem Pakar menggunakan metode Backward Chaining 4. Pembuatan Program
Pembuatan program antara lain melakukan persiapan software yang akan digunakan, membuat desain dan coding.
4.1. Perancangan Tabel Basis Data/Database 4.1.1. Tabel Gejala
Tabel ini berisi gejala-gejala yang dialami tanaman padi
1. Kode_Gejala Varchar 10 Kode Gejala
2. Nama_Gejala Varchar 20 Nama Gejala
4.1.2. Tabel Aturan/Rule
Tabel ini berisi aturan-atutan dalam proses diagnosa
No Nama Field Tipe Ukuran Keterangan
1. Kode_Rule Varchar 11 Nomor Rule
2. Kode_Gejala Varchar 10 Nama Gejala
3. Kode_HP Varchar 20 Nama Penyakit
4. Kode_Solusi Varchar 20
4.1.3. Tabel Hama dan Penyakit
Tabel ini berisi data jenis penyakit.
No Nama Field Tipe Ukuran Keterangan
1. Kode_HP Varchar 11
2. Jenis_HP Varchar 10 3. Keterangan Varchar 50
Tabel ini berisi solusi/cara pengendalian hama dan penyakit tanaman padi.
No Nama Field Tipe Ukuran Keterangan
1. Kode_Solusi Varchar 11 Kode Solusi
2. Solusi Varchar 10 Solusi
4.1.5. Tabel Pengguna
Tabel ini berisi data admin selaku pengelola sistem.
No Nama Field Tipe Ukuran Keterangan
1. Id_Pengguna Varchar 11
2. Username Varchar 10
3. Password Varchar 30
4. Nama Varchar 30
4.2. Perancangan Antarmuka (Interface)
Antarmuka (interface) merupakan bagian dari sistem pakar yang digunakan sebagai alat komunikasi antar sistem dan user. Perancangan antarmuka dalam sistem pakar untuk mendiagnosa hama dan penyakit tanaman padi dibedakan atas dua bagian, yaitu :
Antarmuka untuk admin dirancang agar admin dapat melakukan proses pengolahan sistem.
2. Perancangan antarmuka untuk pengguna (User)
Antarmuka untuk user dirancang agar user dapat mencari informasi dama dan penyakit tanaman padi dengan melakukan proses diagnosa.
4.2.1. Rancangan Form Login
Form Login ini digunakan oleh user yang berperan sebagai admin. Pada form ini admin akan menginput username dan password. Sistem akan mencocokan data yang diinput dengan data yang ada pada tabel pengguna.
Menu utama merupakan form utama pada saat user maupun admin mengakses sistem pakar ini. Form ini akan digunakan oleh user secara umum, untuk memilih apakah sebagai user atau admin.
Gambar 3.4. Form Menu Utama
4.2.3. Rancangan Form Diagnosa
Gambar 3.5. Form Diagnosa
4.2.4. Rancangan Form Artikel
Menu artikel merupakan form yang berfungsi untuk menampilkan seluruh jenis hama dan penyakit tanaman padi disertai dengan gambar, deskripsi dari hama dan penyakit sesuai dengan tampilan gambar dan disertai cara/solusi penanganan nya.
Gambar 3.6. Form Artikel Hama dan Penyakit Tanaman Padi
Menu data diagnosa merupakan form yang berfungsi untuk menampilkan hasil diagnosa yang telah dilakukan. Dimenu ini akan ditampilkan beberapa data-data diagnosa hama dan penyakit yang pernah user lakukan dan ditampilkan dalam poin-poin sehingga dapat ditelusuri lebih lanjut yang kemudian akan menampilkan perincian dari suatu data diagnosa yang dipilih.
Gambar 3.7. Form Data Diagnosa
4.2.6. Rancangan Form Tentang
Gambar 3.8. Form Tentang
4.2.7. Rancangan Form Bantuan
Menu bantuan merupakan menu yang dirancang untuk panduan user yang ingin melakukan proses (konsultasi) dengan sistem.
Gambar 3.9. Form Bantuan
5. Penginputan Data
Melakukan penginputan data ke database yang digunakan sebagai bahan pengolahan sistem.
6. Menjalankan Program
menjalankan program untuk mengetahui program yang dibuat dapat melakukan perbaikan pada program.
7. Kesimpulan dan Saran
Menuliskan kesimpulan melalui analisa akhir sistem yang diperoleh serta memberikan saran-saran yang diperlukan untuk pengembangan sistem.
3.9. Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang penulis buat pada penelitian ini adalah bahwa sistem pakar diagnosa hama dan penyakit tanaman padi berbasis mobile menggunakan metode backward chaining dapat mecapai hasil yang maksimal. Metode backward chaining berhasil mendiagnosa hama dan penyakit tanaman padi sesuai dengan data dan fakta yang ada, yang dimulai dari kesimpulan menuju ke data dan fakta-fakta.
3.10. Rencana Jadwal Penelitian
Rencana jadwal penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juni 2017 dan berakhir pada bulan September 2017 dengan jadwal sebagai berikut:
4 Pembuatan perangkat lunak
5 Penginputan
data
6 Menjalankan
perangkat lunak
7 Analisa hasil
penelitian dan Pengujian
perangkat lunak
8 Seminar Hasil