MAKALAH
ZAKAT PERBANKAN SEBAGAI BADAN HUKUM (Konsep Dasar Badan Hukum)
Makalah ini disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah: Fiqih Kontemporer Perbankan Dosen Pengampu: Imam Mustofa, S.H.I., M.SI.
Disusun oleh:
Elga Andriana Muhamadin 141261610
KELAS A
PROGRAM STUDI S1 PERBANKAN SYARIAH JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JURAI SIWO METRO
ii
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya. Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ZAKAT PERBANKAN SEBAGAI BADAN HUKUM (konsep dasar badan hukum).
Terimakasih kepada kedua orang tua dan keluarga kami yang selalu memberikan dukungan dan do’a restu kepada kami. Serta kepada teman-teman kami yang selalu memberikan motivasi.
Dengan dibuatnya makalah ini, kami berharap hal ini dapat membantu menambah pemahaman kita tentang zakat badan hukum. Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran bagi para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi penulis dan pembaca.
Metro, 8 Maret 2017
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 2
C. Tujuan Masalah ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
A. Definisi Badan Hukum ... 3
B. Jenis-jenis Badan Hukum ... 5
C. Syarat-syarat Badan Hukum ... 6
D. Badan hukum sebagai subjek hukum ... 7
E. Lembaga Keuangan Syariah Sebagai Badan Hukum ... 8
BAB III KESIMPULAN ... 14
3
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi badan hukum
Badan hukum adalah merupakan terjemahan dari suatu istilah hukumBelanda rechtspersoon, atau persona moralis (Latin), atau legal
persons(Inggris). Persona adalah terjemahan dari bahasa Yunani
prosopon.Istilahprosopon digunakan oleh Epictetus dan kaum Stoa yang
mengacu padamanusia individual dalam kapasitasnya menjalankan peran khusus dalammemaknai kehidupan sebagaimana ditentukan oleh akal universal.Daripenggunaan kaum Stoa tersebut, istilah persona atau pribadi masuk dalamhukum Romawi sebagai persona ficta untuk menunjukan pelaku kewajibandan pemegang hak secara hukum. Berdasarkan latar belakang tersebut,munculah istilah-istilah seperti artificial person, juridical person,
juristicperson dan body corporate yang diakui memiliki nama dan hak-hak
dankewajiban,perlindungan, dan penghargaan layaknya manusia.1
Para akhli hukum (de heersende leer) di Indonesia memberikanbeberapa definisi tentang badan hukum sebagai berikut :2
1. R. Subekti
Badan Hukum pada pokoknya adalah suatu badan atau perkumpulan yangdapat memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan seperti seorang manusia,serta memiliki kekayaan sendiri, dapat di gugat atau menggugat di depanhakim.
2. Rochmat Soemitro
Badanhukum (rechtspersoon) ialah suatu badan yang dapat mempunyai harta, hakserta kewajiban seperti orang pribadi.
3. Sri Soedewi MaschunSofwan
Manusia adalah badan pribadi (manusia tunggal).Selain manusia,dapat juga oleh hukum diberikan kedudukan sebagai badan pribadikepadawujud
1
Johnny Ibrahim, “Eksistensi Badan Hukum di Indonesia Sebagai Wadah dalam Menunjang Kehidupan Manusia”, Law Review Volume XI No. 1 - Juli 2011, h.7.
4
lain, disebut badan hukum yaitu perkumpulan dari orang-orangbersama-sama mendirikan suatu badan (perhimpunan) dan kumpulan hartakekayaan, yang disisihkan untuk tujuan tertentu (Yayasan) kedua-duanyamerupakan badan hukum.
Istilah badan hukum (syakhshiah i’tibariyah hukmiyah) tidak disebutkan secara khusus dalam pandangan fiqh.badan hukum sebagai subjek hukum
karena terdiri ndari kumpulan orang-orang yang melakukan perbuatan hukum
(tasharruf). Badan hukum merupakan analogi dari keberadaan manusia
dakam subjek hukum. Ketentuan menjadikan badan hukum sebagai subjek hukum tidak boleh bertentangan dengan rinsip-prinsip akad yang terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah.3
Sebuah badan hukum sebagai subyek hukum adalah setidaktidaknyamemiliki beberapa unsur pokok :
1. Perkumpulan orang (organisasi)
2. Dapat melakukan perbuatan hukum (rechtshandeling), dalamhubungan- hubungan hukum (rechtsbetrekking)
3. Mempunyai harta kekayaan sendiri 4. Mempunyai pengurus
5. Mempunyai hak dan kewajiban
6. Dapat di gugat atau menggugat di depan Pengadilan.
Badan hukum adalah suatu perkumpulan orang-orang yang melakukan kerja sama dan atas dasar ini merupakan suatu kesatuan yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh hukum. Badan hukum merupakan pendukung hak yang tidak berjiwa (bukan manusia) dan merupakan gejala
sosial yaitu suatu gejala riil, sesuatu yang dapat dicatatdalam pergaulan hukum, biarpun tidak berwujud manusia atau benda yang dibuat dari
besi,batu dan sebagainhya, tetapi yang terpenting bagi pergaulan hukum adalah karena badan hukum itu mempunyai kekayaan yang sama sekali terpisah dari kekayaan.
5
Badan hukum dapat terjadi karena undang-undang menyatakan dengan tegas sebagaimana halnya pasal 1 angka 1 UUPT, tetapi dapat diakui jadi badan hukum karena ada ciri-ciri tertentu.4
B. Jenis-jenis Badan Hukum
Ada beberapa jenis dan bentuk badan hukum yaitu5:
1. Badan Hukum Publik
Yaitu dibagi menjadi 3 diantaranya: a. Badan Hukum Publik yang otonom
Adalah intuisi yang memiliki hak dan kewajiban konstitusi serta memiliki otoritas pengawasan dan regulasi secara penuh.
b. Badan hukum publik semiotonom
Instuisi independen yang mempunyai hak dan kewajiban konstitusional untuk menyelenggarakan progran-program negara. c. Badan hukum wali amanat
Badan independen yang dipercaya UU untuk menyelenggarakan sistem jaminan sosial dan kelola dana amanah milik peserta.
2. Badan hukum privat
Yaitu dibagi menjadi 4 diantaranya: a. Perseroan terbatas
Badan usaha yang dibentuk dengan kumpulan modal baik milik pemerintah maupun orang per orang
b. Koperasi
Kumpulan anggota yang dibentuk untuk usaha bersama yang dibiayai
dari iuran anggota. c. Yayasan
Kumpulan orang perorang yang dibentuk untuk misi sosial dan kemanusiaan.
4Herlin Budiono, “Arah Pengaturan Pandangan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
Tentang Perseroan Terbatas dalam Menghadapi Era Global”, volume 1 nomor 2 – agustus 2012, h.189.
6
d. Perorangan
Seseorang yang menawarkan jasa karena kompetensinya.
C. Syarat-syarat Badan Hukum
Untuk keikut sertaannya dalam pergaulan hukum maka suatu badan hukum harus mempunyai syarat-syarat yang telah ditentukan oleh badan
hukum, yaitu6:
1. Memiliki kekayaan yang terpisah dari anggota-anggotanya.
2. Hak dan kewajiban badan hukum terpisah darihak dan kewajiban para anggota-anggotanya.
Berangkat dari pemaparan di atas, maka zakat badan hukum dapat didefinisikansebagi zakat harta yang wajib dikeluarkan oleh badan hukum atau lembagayang dimiliki oleh muslim untuk diberikan kepada yang berhak menerimanyaatau mustahiq sesuai dengan syariat Islam dan hukum serta regulasiyang berlaku di suatu negara. Pada penelitian ini, badan hukum yang dimaksudadalah badan hukum yang profitable, bertujuan untuk mengembangkan hartadan mencari laba atau keuntungan, yaitu lembaga keuangan Syariah, sepertiBaitul Mâl wa Tamwîl (BMT),koperasi syariah dan bank syariah.
Menurut Riduan Syahrani7 ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh suatu badan hukum /perkumpulan/badan usaha agar dapat dikatakan sebagai badan hukum (rechtpersoon). Menurut doktrin syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:
1. Adanya kekayaan yang terpisah.
2. Mempunyai tujuan tertentu. 3. Mempunyai kepentingan sendiri.
4. Ada organisasi yang teratur.
6Ibid., h.42.
7
D. Badan Hukum Sebagai Subjek Hukum
Pengertian subjek hukum berarti perbuatan manusia yang dituntut oleh Allahberdasarkan ketentuan hukum syara.Perbuatan yang dibebani hukum dalamushul fiqh dikenal dengan istilah mukalaf.Subjek hukum terdiri dari duamacam yaitu manusia sebagai subjek hukum dan badan hukum, dalam rukunakad, kedua subjek hukum tersebut berkedudukan sebagai
aqidain.Namunagar aqidain dapat mengadakan bisnis secara sah, maka harus
memenuhi syaratkecakapan (ahliyah) dan kewenangan (wilayah) bertindak di hadapan hukum.8
Menurut teori tradisional, subyek hukum adalah orang yang merupakansubyek dari suatu kewajiban hukum atau suatu hak. Jika ”hak”
(Berechtigung)dipahami bukan semata sebagai hak refleks, melainkan
wewenang hukum untukmendesak (melalui gugatan hukum) dipenuhinya gugatan hukum, yakniwewenang hukum untuk berpartisipasi dalam penciptaan keputusan pengadilanyang membentuk sebuah norma individual yang memerintahkan eksekusisanksi sebagai reaksi terhadap tidak dipatuhinyasuatu kewajiban; dan jikaseseorang mempertimbangkan bahwa subyek dari wewenang hukum untukmenciptakan atau menerapkan norma hukum sama sekali tidak selalu disebutsebagai hukum, maka akan lebih mudah untuk membatasi konsep ”subyek hukum”pada subyek kewajiban hukum dan untuk membedakan antara konsep”subyek kewajiban hukum”dari konsep” subyek wewenang hukum”.
Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah pasal 1 ayat (2) menyebutkan bahwa:“Subyek hukum adalah orang perseorangan, persekutuan, atau badan
usaha yang berbadanhukum atau tidak berbadan hukum yang memiliki
kecakapan hukum untuk mendukunghak dan kewajiban.”
Secara garis besar, ada dua macam subyek hukum, pertama, Natuurlijk
person,adalah mens person yang disebut orang atau manusia.Kedua, recht
person,adalah yang berbentuk badan hukum yang dapat dibagi dalam:(1)
8
8
PubliekRecht-person, yang sifatnya ada unsur kepentingan umum, seperti negara; (2)Privat Recht-person/ Badan hukum privat, yang mempunyai sifat/adanya usnurkepentingan individual.
E. Lembaga Keuangan Syariah sebagai Badan Hukum 1. Definisi lembaga keuangan
Lembaga keuangan (financial Institution) adalah suatu perusahaan yangusahanya bergerak dibidang jasa keuangan. Artinya kegiatan yang dilakukanoleh lembaga ini akan selalu berkaitan dengan bidang keuangan, apakahpenghimpunan dana, menyalurkan dan/jasa-jasa keuangan lainnya. Dalamdunia bisnis,lembaga keuangan memiliki fungsi sangat penting, terutama sebagailembaga intermediasi (financial intermediary) diantara para pemilik modaldengan pihak lain yang membutuhkannya. Hubungan antara semua pihakyang terkait dengan lembagakeuangan, harus dibentuk atas dasar kontrakperjanjianatau perikatan.9
Bank memberikan kepercayaan kepada masyarakat, sehingga disebut bank sebagai lembaga kepercayaan, yaitu nasabah memiliki hubungan kepercayaan (fiduciary relationship) dengan bank dalam hal pengelolaan uang nasabah.Nasabah percaya bahwa bank dapat mengelola
uangnya dengan baik dan mampu menghadirkan uang yang disimpan tersebut apabila sewaktu-waktu nasabah menarik uangnya. Jika
kepercayaan tersebut terganggu, dapat terjadi fenomena run and panic bank10yang pada akhirnya dapat menyeret seluruh sistem perbankan ke dalam kondisi financial crisis.11
Bank sebagai lembaga kepercayaan, tentunya tidak sembarangan dalam menghadirkan jasanya.Bank perlu penopang keamanan yang kuat, dan hal tersebut dapat ditemukan dalam bentuk badan hukum.Mengapa
9Ibid.,h.182.
10
Run and panic bank merupakan dampak ketika para nasabah menarik deposit atau simpanan mereka secara bersamaan karena mereka percaya bahwa bank tertentu sudah tidak sehat (Runs) dan ketika keadaan Runs ini dialami oleh banyak bank maka akan terjadi Panic bank.
9
badan hukum?Karena dengan bentuk badan hukum, bank memiliki kepastian hukum yang salah satunya adalah jaminan perlindungan hukum oleh negara, dalam hal ini melindungi aset-aset perseroan dari pemilik perseroan sebagai kreditor.Selain itu, dengan berbentuk badan hukum, bank mampu bertindak selayaknya subyek hukum, sehingga tidak ada keterbatasan dalam hal bank melakukan kegiatan usahanya.Dengan status
badan hukum dapat memperkuat posisi tawar menawar perseroan ketika berhadapan dengan pihak luar.12
2. Fungsi Lembaga Keuangan13
a. Ditinjau dari sisi jasa penyedia keuangan, terdiri dari:
1) Fungsi tabungan, menyediakan instrument tabungan bagi masyarakat yang mempunyai kelebihan dana setelah memenuhi kebutuhan dasarnya.
2) Fungsi penyimpan kekayaan, instrument keuangan yang
diperjualbelikan dalam pasar uang dan pasar modal yaitu dengan cara menahan nilai asset yang dimiliki disamping menerima
pendapatan dalam jumlah tertentu, contoh obligasi, saham dan lain-lain.
3) Fungsi transmutasi kekayaan dimana lembaga keuangan memilki asset dalam bentuk janji memberikan imbalan kepada pemilik dana. Contohnya deposito.
4) Fungsi likuiditas, berkaitan dengan kemampuan memperoleh uang tunai pada saat dibutuhkan.
5) Fungsi pembiayaan/kredit, menyediakan kredit untuk membiayai kebutuhan konsumsi maupun investasi dalam ekonomi. Contoh kredit mobil.
12Ridwan Khairandy, “Hukum Perseroan Terbatas”, (Yogyakarta: FH UII Press, 2014) , h. 13.
13Shinta Dewianty, “Sistem Lembaga Keuangan Syariah”,
10
6) Fungsi pembayaran, menyediakan mekanisme pembayaran atas transaksi barang atau jasa, contoh cek, dan giro.
7) Fungsi diversifikasi resiko, menyediakan proteksi terhadap jiwa, kesehatan dan lain-lain.
8) Fungsi manajemen portofolio, menyediakan jasa keuangan yang dapat memberikan kenyamanan, proteksi terhadap kecurangan,
kualitas pilihan investasi, biaya transaksi yang rendah, dan pajak pendapatan.
9) Fungsi kebijakan, pasar uang menjadi instrument pokok yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk melakukan kebijakan guna menstabilkan ekonomi dan mempengaruhi inflasi melalui kebijakan moneter.
b. Ditinjau dari sisi kedudukan lembaga keuangan dalam sistem perbankan berfungsi sebagai bagian dari unit-unit yang diberi kuasa dalam mengeluarkan uang giral dan deposito.
c. Ditinjau dari sisi kedudukan lembaga keuangan dalam sistem moneter berfungsi menciptakan uang yaitu menjaga stabilitas dari mata uang sehingga pertumbuhan ekonomi dapat tercapai.
d. Ditinjau dari sisi kedudukan lembaga keuangan dalam sistem financial berfungsi sebagai bagian dari jaringan yang terintegrasi dari seluruh lembaga keuangan yang ada dalam sistem ekonomi.
3. Prinsip operasional lembaga keuangan shari’ah:14
a. Bebas dari maghrib
1) Maysir (spekulasi), secara bahasa maknanya judi, secara umum
mengundi nasib dan setiap kegiatan yang sifatnya untung-untungan. Perjudian merupakan bentuk investasi yang tidak produktif karena tidak terkait dengan sector riil dan tidak
11
memberikan dampak peningkatan penawaran agregat barang dan jasa.
2) Gharar, secara bahasa berarti menipu, memperdaya,
ketidakpastian. Gharar berarti menjalankan suatu usaha secara buta tanpa memiliki pengetahuan yang cukup atau suatu transaksi yang resikonya berlebihan tanpa mengetahui dengan pasti akibat dari
resiko tersebut tanpa memikirkan konsekuensinya.
3) Haram, penegasan terhadap larangan. Larangan bisa saja berasal dari Tuhan maupun dari akal. Dalam aktifitas ekonomi diharapkan semua umat muslim menjauhi dari transaksi yang diharamkan. 4) Riba, secara bahasa tumbuh, berkembang. Riba adalah pendapatan
penambahan secara tidak sah baik secara kualitas, kuantitas, waktu penyerahan dan lain-lain. Secara ekonomi riba dilarang karena membuat arus investasi pada sector produktif terhambat.
5) Batil secara bahasa batal atau tidak sah, secara ekonomi pelarangan
batil akan semakin mendorong berkurangnya moral hazard dalam berekonomi.
b. Menjalankan bisnis dan aktifitas perdagangan yang berbasis memperoleh keuntungan yang sah menurut syari’ah.
c. Menyalurkan zakat, infak dan shadaqah.
4. Bentuk-bentuk Lembaga Keuangan Syariah
Lembaga keuangan syariah mempunyai berbagai bentuk, yaitu:15
a. Bank syariah
Menurut (pasal 1 angka 2) Undang-undang perbankan syariah No.21tahun 2008, yang dimaksud bank adalah badan usaha yang
menghimpundana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannyakepada masyarakat dalam bentuk kredit/bentuk lainnya dalam rangkameningkatkan tarif hidup rakyat. Sedangkan
15
12
bank yang menjalankankegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah disebut bank syariah (pasal 1 angka 7). Prinsip syariah adalah prinsip hukum islam dalam kegiatanperbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yangmemiliki kewenangan dalam menetapkan fatwa dibidang syariah (pasal 1angka 12).16
b. Asuransi Syariah (takaful)
Menurut fatwa tentang pedoman umum asurasi syariah No. 21/DSNMUI/X/2001, pengertian Asuransi Syariah (ta’min,takful,tadhamun)adalah usaha saling melindungi dan tolong -menolong diantara sejumlahorang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan tabarru’ yangmemberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melaluiakad(perikatan) yang sesuai dengan syariah.17
c. Pasar modal syariah
Menurut Undang-Undang pasar modal No.8 Tahun 1995, pengertianpasar modal ialah ”kegiatan yang berkaitan dengan penawaran umumdan perdagangan efek yang diterbitkannya,serta lembaga dan profesi yangberkaitan dengan efek” (pasal 1 angka 13). Pasar modal adalah tempatbertemunya antara penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi dalamrangka mendapatkan modal.Lembaga pasar modal yang menjalankankegiatan usaha berdasarkan prinsip-prinsip syariah dapat disebut sebagaipasar modal syariah.18
d. Pegadaian Syariah
Dalam fiqh muamalah, perjanjian gadai disebut rahn. Istilah rahn secara bahasa berarti ”menahan”. Maksudnya adalah menahan sesuatu
13
Menjadikan suatu barang yang mempunyai nilai harta dalam
pandangansyara’ sebagai jaminan utang, yang memungkinkan
untuk mengambil seluruhatau sebagian utang dari barang
tersebut.
e. Lembaga pembiayaan
Lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan
kegiatanpembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal dengantidak menarik dana atau barang modal dengan tidak menarik barang secaralangsung dari masyarakat. Menurut peraturan menteri keuangan No.84/PMK.012/2006, badan usaha diluar bank dan lembaga keuangan bukanbank yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan yang termasuklembaga pembiayaan disebut perusahaan pembiayaan.20
f. Dana pensiun
Dana pensiun adalah sekumpulan aset yang dikelola dan dijalankanoleh suatu lembaga untuk menghasilkan manfaat pensiun, yaitu suatupembayaran berkala yang dibayarkan kepada peserta dengan caraditetapkan dalam ketentuan yang menjadi dasar penyelenggaraan programpensiun .pembayaran tersebut dikaitkan dengan pencapaian usia tertentu.Menurut undang-undang No. 11 tahun 1992, pengertian dana pensiunadalah badan hukum yang menjanjikan manfaat pensiun.21
20
Ibid., h. 185
21
14
BAB III KESIMPULAN
Badan hukum adalah suatu perkumpulan orang-orang yang melakukan kerja sama dan atas dasar ini merupakan suatu kesatuan yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh hukum. Badan hukum dapat terjadi karena
undang-undang menyatakan dengan tegas sebagaimana halnya pasal 1 angka 1 UUPT, tetapi dapat diakui jadi badan hukum karena ada ciri-ciri tertentu. Jenis badan hukum dibagi menjadi 2 yaitu badan hukum publik dan privat.
15
DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim,Johnny. “Eksistensi Badan Hukum di Indonesia Sebagai Wadah dalam Menunjang Kehidupan Manusia”, Law Review Volume XI No. 1 - Juli 2011.
Ali, Chidir. “Badan Hukum”. Bandung:Alumni, 1999.
Mustofa,Imam. “ijtihad Kontemporer Menuju Fiqh Kontekstual (jawaban Hukum Islam atas Berbagai problem Kontekstual Umat)”.Jakarta: Rajawali Pers, 2013.
Budiono,Herlin.“Arah Pengaturan Pandangan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas dalam Menghadapi Era Global”.
volume 1 nomor 2 –agustus 2012.
Syahrani, Riduan. “Seluk Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata”.Bandung: Alumni,1985.
Mustofa, Imam. “Zakat Lembaga Keuangan Syariah Sebagai Badan Hukum”.
Millah Vol. XIV, No. 1 Agustus 2014.
Akbar Prabankara,M. Alif.“Orientasi Dasar Bank Umum Sebagai Badan Hukum”.BUSINESS LAW REVIEW: VOLUME ONE.
Dewianty,Shinta. “Sistem Lembaga Keuangan Syariah”.Economic: Jurnal
Ekonomi dan Hukum Islam, Vol. 2, No. 1, 2012.
Khairandy,Ridwan. “Hukum Perseroan Terbatas”. Yogyakarta: FH UII Press, 2014