BAB 15. serta gerakan perpin-dahan penduduk dari daerah pedusunan kekota kota (urbanisasi). Hal jang terachir inilah terutama jang menjebabkan keadaan perumahan dikota-kota hampir-hampir melampaui batas kemanusiaan. Didaerah pedusunan keadaan perumahan pada umumnja djuga amat menjedihkan. Hal ini ketjuali disebabkan oleh karena kemis-kinan, djuga oleh karena adanja kebiasaan tjara-tjara membuat rumah jang tradisionil jang djauh dari pada memenuhi sjarat-sjarat elementer dari kesehatan.
Keadaan lni mengandung konsekwensi-konsekwensi jang luas dalam lapangan sosial, antara lain: keadan kesehatan jang buruk sekali, berbagai matjam kriminalitet, bahaja kebakaran jang tak kundjung padam, ketegangan-ketegangan sosial, dsb. Disamping konsekwensi-konsekwensi sosial, hal ini mengandung akibat-akibat pula dalam lapangan ekonomi: keadaan perumahan jang buruk mempengaruhi kegiatan serta kegembiraan bekerdja dan dengan demikian mempengaruhi tinggi-rendahnja produksi.
Mengingat hal-hal tersebut maka adalah kewadjiban Pemerintah untuk mengambil tindakan-tindakan positip untuk mengurangi aki-bat-akibat jang tidak diharapkan itu dan dikemudian hari mengusahakan dihindarkannja keadaan-keadaan jang kini merupakan kenjataan-kenjataan itu. Akan tetapi mengingat batas-batas ke-uangan jang dapat disediakan dalam djangka waktu lima tahun jang akan datang. maka titik berat Rentjana Pembangunan jang
sosial (termasuk pula perumahan) dapat diperbesar. Oleh karena sebab-sebab diatas maka dalam Rentjana Pembangunan jang Pertama ini peranan Pemerintah me-nggenai soal perumahan amat terbatas, sebagaimana diuraikan
di-Bawah.
Selama djangka waktu lima tahun anggaran belandja jang ter-sedia berdjumlah Rp. 95 djuta. Djumlah ini antara lain meliputi pengeluaran-pengeluaran untuk penjelidikan tehnik pembuatan rumah serta untuk usaha-usaha penjuluhan.
B. Peranan Pemerintah.
Dalam Rentjana Pembangunan jang Pertama ini peranan Pemerintah mengenai soal perumahan amat terbatas, dan terutama me-liputi hal-hal sbb: a. Penjelidikan-penjelidikan mengenai tehnik
pembuatan rumah.
b. Penjuluhan kepada rakjat mengenai hasil-hasil penjelidikanpenjelidikan tersebut.
c. Penjederhanaan prosedur-prosedur administratip serta pem-berian fasilitet-fasilitet mengenai pembuatan rumah.
d. Dorongan untuk memperbesar produksi bahan bangunan.
e. Pengumpulan bahan-bahan keterangan mengenai hal perumahan.
a. Penjelidikan tehnik pembuatan rumah.
Penjelidikan-penjelidikan ini ditudjukan untuk memperoleh tjaratjara jang tepat mengenai
4. Rumah jang tjukup indah walaupun sederhana 5. Rumah jang murah biaja pembuatannja.
Dalam hubungan ini penting sekali arti penjelidikan-penjelidikan mengenai kemungkinan normalisasi serta standardisasi bahan-bahan bangunan.
mengenai pemakaian bahan-bahan bangunan jang terdapat di Indonesia tetapi jang hingga kini belum dipergunakan, mengenai tjampuran-tjam-puran baru dari bahan-bahan bangunan jang sudah biasa dipergunakan; pembuatan bahan-bahan bangunan jang hingga kini diimpor dari luar negeri, dsb. Demikian pula halnja dengan penjelidikan-penjelidikan mengenai alat-alat bangunan.
Dalam penjelidikan-penjelidikan ini prioritet diberikan kepada djenis-djenis rumah jang biaja pembuatannja dapat dipikul oleh
golongan penduduk jang pendapatannja paling rendah. Pada waktu ini penjelidikan-penjelidikan tehnik pembuatan rumah sedang dilaksanakan oleh Lembaga Penjelidikan Masalah Bangunan di Bandung.
b. Penjuluhan mengenai hasil-hasil penjelidikan. Penjelidikan-penjelidikan tersebut diatas hanja mempunjai arti apabila hasil-hasil jang diperoleh dapat dilaksanakan dengan njata oleh penduduk. Oleh karena itu hasil-hasil penjelidikan-penjelidikan tersebut harus disampaikan kepada umum dengan djalan mengusahakan penjuluhan dengan segala matjam tjara-tjara, antara lain
dengan mendirikan tjontoh-tjontoh rumah.
Penjuluhan ini dalam garis besarnja dapat ditudjukan kepada dua golongan. Pertama, kepada orang-orang atau badan-badan
jang langsung berhugungan dengan pembuatan rumah-rumah, baik oleh karena keahliannja maupun oleh karena hal lain. Golongan ini meliputi ahli-ahli teknik bangunan, tukang-tukang, badan-badan pembuat bangunan-bangunan, industri jang membuat bahan-bahan serta alat-alat bangunan, dsb. Golongan jang kedua ialah rakjat pada umumnja. Penjuluhan kepada rakjat ini sungguh penting sekali, mengingat bahwa untuk sebagian besar, terutama didaerahdaerah pedusunan, rakjat membuat rumahnja tidak dengan bantuan ahli-ahli atau tukang-tukang, melainkan mengerdjakannja sendiri dengan bantuan keluarga serta tetangga.
Kiranja tidak perlu diterangkan bahwa tjara memberi penjuluhan kepada golongan jang kedua harus dilaksanakan dengan tjara-tjara jang sesederhana mungkin sehingga mudah dimengerti
dan harus
Pembangunan Masjarakat Desa). Penjuluhan kepada
badan-badan koperasi serta
lain-lain bentuk organisasi-organisasi rakjat adalah berguna sekali, Djuga Pamong-pradja memegang peranan jang penting dalam penjuluhan ini.
c.Penjederhanaan prosedur-prosedur administratip serta pem-berian fasilitet-fasilitet mengenai pembuatan rumah.
Suatu peranan Pemerintah jang penting pula ialah penjederha-naan prosedur-prosedur administratip mengenai pembuatan serta penjewaan rumah, jang pada waktu ini seringkali merupakan
ham-batan terhadap hasrat untuk membuat rumah terutama dikota-kota, Ketjuali itu penting pula adanja tasilitet-fasilitet bagi mereka jang hendak membuat rumah antara lain menyenai harga tanah, dsb. Terutama didaerah kota-kota perlu ditjegah spekulasi tanah untuk perumahan, jang merupakan salah satu sebab tingginja biaja pembuatan rumah. Peraturan-peraturan pembangunan rumah dan ge-dung-gedung jang sudah ketinggalan zaman, perlu diperbarui dan disesuaikan dengan kemungkinan-kemungkinan jang ada.
d. Dorongan untuk memperbesar produksi bahan bangunan.
Untuk memenuhi kebutuhan badan-badan bangunan diandjurkan berdirinja pabrik-pabrik bahan bangunan. Perusahaan-perusahaan ini diandjurkan untuk memelihara hubungan jang erat dengan in-stansi-instansi pemerintah jang mengadakan penjelikikan mengenai bahan bangunan (lihat sub a). Untuk mempertinggi mutu batu-bata, genteng, dsb., teristimewa dari perusahaan-perusahaan jang ketjil, serta untuk keperluan-keperluan lain jang memberikan keuntungan-keuntungan kepada perusahaan-perusahaan jang bersangkutan, Pemerintah mendirikan induk-induk perusahaan dan perusahaan-perusahaan pelopor (pilot plants) dibeberapa daerah. Disamping itu Pemerintah mendirikan paberik semen, pabrik wall-board dan paberik lantaian pipa asbes-semen.
tiap daerah, perintjian tentang matjam serta sifat rumah, perintjian mengenai djumlah penghuni dari berbagai matjam rumah, dsb. Suatu dokumentasi serta statistik jang tjukup baik mengenai hal-hal ini, dihubungkan dengan bahan-bahan keterangan
mengenai
djum-lah penduduk serta tingkat pertambahan tiap tahun dalam masingmasing daerah, akan memberi gambaran jang njata tentang kebu-tuhan perumahan serta djumlah rumah jang tiap tahun harus dibangun.
A. Pembiajaan pembuatan rumah.
Berdasarkan keterangan dalam fasal A djelas kiranja bahwa biaja pembuatan rumah-rumah tidak mungkin dibebankan kepada Pemerintah, melainkan harus langsung merupakan tanggungan masjara-kat seluruhnja. Tingmasjara-kat pendapatan sebagian besar rakjat Indonesia pada waktu ini adalah sedemikian rendahnja. sehingga biaja pem-buatan rumah merupakan beban jang berat sekali. Oleh karena itu djalan jang harus ditempuh untuk mengatasi soal biaja ialah adanja usaha-usaha bersama untuk membangun rumah dalam bentuk ko-perasi perumahan, jajasan-jajasan atau bentuk-bentuk lain.