• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan akhir ilmu penyakit tumbuhan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "laporan akhir ilmu penyakit tumbuhan"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ILMU PENYAKIT TUMBUHAN

OLEH :

KELOMPOK : III (TIGA)

KELAS : C

NAMA ANGGOTA : 1. SURYANUR KURNIAWAN (1610252038) 2. METRIA SYAHFITRI (1610252015)

3. FADHILA RAHMI (1610253011)

4. TIARA EDELWINA (1610252037)

5. EFRADA (1610251013)

ASISTEN : 1. DESI AFRIDA PUTRI (1610211070)

DOSEN PENJAB : 1. Ir. Martinius, MS 2. Dr. Ir. Eri Sulyanti, MSc

LABORATORIUM

PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN FAKULTAS ANDALAS

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sama- sama kita ketahui bahwa pada tanaman juga terdapat penyakit-penyakit yang dapat mempengaruhi dan mengurangi hasil produksi. Ilmu Penyakit Tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari kerusakan yang disebabkan oleh organisme yang tergolong ke dalam dunia tumbuhan seperti Tumbuhan Tingkat tinggi, Ganggang, Jamur, bakteri, Mikoplasma dan Virus. Kerusakan ini dapat terjadi baik di lapangan maupun setelah panen. Penyakit tumbuhan dapat ditinjau dari dua sudut yaitu sudut biologi dan sudut ekonomi, demikian juga penyakit tanamannya. Di samping itu untuk mempelajari Ilmu Penyakit Tumbuhan perlu diketahui beberapa istilah dan definisi yang penting.

(3)

penyakit tumbuhan adalah : 1. Dari segi biologi yaitu proses fisiologi yang tidak normal, seperti gangguan pertumbuhan, reproduksi dan sebagainya 2. Dari segi ekonomi yaitu ketidakmampuan dari tanaman yang diusahakan untuk memberikan hasil yang cukup baik kualitas maupun kuantitas.

(4)

identifikasi penyakit adalah tahapan logika pertama yang dilakukan untuk mengambil tindakan dalam pengendalian penyakit dan proses ini merupakan suatu rencana efisien dari strategi manajemen penyakit, 3. Simptomatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala penyakit. Gejala penyakit ini sangatlah penting artinya apabila akan digunakan untuk mengidentifikasi organisme penyebab penyakit. Kenampakan dari gejala mungkin dapat pula dipakai sebagai pertimbangan dan kenampakan ini sangat bervariasi tergantung dari ketahanan dari inang, latar belakang nutrisi yang diperoleh dari tanaman., tahap tumbuh tanaman, dan juga pengaruh lingkungan terhadap perkembangan penyakit tersebut.

Berdasarkan penyebabnya penyakit tumbuhan dikelompokkan dalam: penyakit yang disebabkan oleh penyebab non hidup (abiotik), penyakit demikian bersifat tidak menular (noninfectious), dan penyakit tumbuhan yang disebabkan oleh jasad hidup (biotik), yang bersifat menular. Penyebab penyakit abiotik antara lain adalah kekurang unsur hara, suhu yang sangat rendah ataupun sangat tinggi, pencemaran (polusi). Penyekait tumbuhan biotik antara lain adalah jamur (fungi), bakteri, fitoplasma, virus, viroid, nematoda dan tumbuhan parasitik.

Gejala dapat bersifat sistemik yaitu gejala yang terjadi melalui suatu jaringan baik floem dan xylem dan gejala dapat pula bersifat local yaitu gejala yang tampak tempat masuknya pathogen kedalam tubih inang

B. Tujuan

(5)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit tanaman merupakan adanya penurunan dari keadaan normal dari tanaman yang menyela atau memodifikasi fungsi-fungsi vitalnya. Penyakit tanaman sebagian besar disebabkan oleh jamur, bakteri, dan virus. Penyakit tanaman lebih sering diklasifikasikan oleh gejala mereka daripada oleh agen penyakit, karena penemuan agen mikroskopis seperti bakteri tanggal hanya dari 19 persen ( Jackson, 2009).

Penyakit akan terjadi apabila ada patogen yang ganas menyerang tanaman yang rentan, di dukung lingkungan yang mendukung patogen untuk menyerang tanaman yang rentan (Tjahjadi, 1989).

Penyakit bisa muncul karena disuatu tempat ada tanaman, pathogen sertalingkungan. Ini yang disebut segitiga penyakit dimana munculnya penyakit karena tiga faktor itu. Salah satu faktor tidak ada atau tidak memenuhi syarat maka penyakit tidak akan muncul. Syarat yang harus dipenuhi oleh ketiga faktor agar muncul penyakit adalah tanaman harus peka, penyebab penyakit harus virulen (fitdan ganas), dan lingkungan mendukung (Nasution, 2008).

Tanaman yang sakit adalah tanaman yang tidak dapat melakukan aktifitasfisiologis secara sempurna, yang akan mengakibatkan tidak sempurnanya produksi baik secara kualitas maupun kuantitas. Secara umum penyakit tanamandiakibatkan oleh faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik adalah penyakit tanamanyang disebabkan oleh mikroorganisme (mahluk hidup) yang antara lain berupa jamur, bakteri, virus, nematoda, MLO dan lain-lain. Sedangkan faktor abiotik antara lain pengaruh dari suhu, kelembaban, defisiensi unsur hara atau keracunanunsur hara (Mynature-faiq, 2010).

(6)
(7)

Penyakit tanaman dapat didefinisikan sebagai penyimpangan sifat normal yang menyebabkan tanaman tidak dapat melakukan kegiatan fisiologis seperti biasanya (Martoredjo, 1989).

Penyakit tanaman adalah gangguan pada tanaman yang disebabkan oleh mikroorganisme. Mikroorganisme itu dapat berupa virus, bakteri, dan jamur.Penyebaran penyakit tanaman dapat melalui angin, air, atau serangga. Penyakit tanaman dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu penyakit sistematik dan penyakit lokal. Penyakit sistematik adalah penyakit yang menyebar ke seluruh tubuh tanaman, sehingga seluruh tanaman akan sakit. Penyakit lokal adalah penyakit yang hanya tedapat disuatu tempat atau bagian tertentu, misalnya pada buah, bunga, daun, cabang, batang atau akar (Sunaryono, 1981).

Penyakit tanaman merupakan penyimpangan dari sifat normal yang menyebabkan tanaman tidak dapat melakukan kegiatan fisiologis seperti biasanya.Ada tiga faktor yang mendukung timbulnya penyakit yaitu tanaman inang, penyebab penyakit, dan faktor lingkungan.Tanaman inang adalah tanaman yang diserang oleh patogen.Patogen ada dua yaitu fisiopath yang bukan organisme dan parasit yang meruapakan organisme seperti jamur, bakteri, dan virus (Motoredjo, 1989).Fisiopath merupakan faktor lingkungan yang tidak tepat bagi tanaman, misalnya suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi, adanya gas beracun yang berasal dari pencemaran ataupun hasil samping metabolisme tanaman itu sendiri dan kurangnya unsur hara pada tanah (Pyenson, 1979).

(8)
(9)

BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

1. Isolasi Penyebab Penyakit Antraknosa Pada Cabai (Capsicum annum L.) Isolasi dan identifikasi jamur Colletotrichum spp. secara makroskopik dan mikroskopik dilakukan di Laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang tahun 2017.

Pelaksanaan pada praktikum mengenai isolasi penyebab penyakit antraknosa pada buah cabai ini memiliki langkah-langkah atau cara kerja yang harus dilakukan antara lain Isolasi Jamur Colletotrichum spp. Buah cabai besar yang menunjukkan gejala penyakit antraknosa dibersihkan dengan air mengalir, dilanjutkan dengan air steril kemudian dipotong dengan ukuran 1 x 1 cm pada bagian buah dengan gejala ½ penyakit dan ½ bagian sehat. Rendam dalam aquades selama 30 detik kemudian ke dalam alcohol 30 detik dan terakhir kedalam aquades kembali selama 30 detik. Dalam melakukan perendaman jangan lupa cabai tadi dibolak-balik. Kemudian ditaruh 5 sampel pada media PDA pada cawan Petri. Jamur yang tumbuh kemudian diisolasi dan dimurnikan serta diidentifikasi secara morfologi dengan mengamati bentuk spora dan hifanya. Untuk memastikan bahwa jamur yang diisolasi dan dimurnikan tersebut penyebab penyakit antraknosa pada buah cabai besar maka dilakukan uji Postulat Koch. Isolat jamur kemudian dipelihara pada media PDA. Untuk masing-masing kelompok lakukan isolasi untuk 4 buah cawan petri. Pengamatan dilakukan tiap satu kali dalam seminggu, amati tiap perubahan dan perkembangan yang ada pada isolate yang telah ditumbuhkan.

Adapun langkah-langkah dalam mengidentifikasi pathogen yaituambil contoh patogen yang akan diamati dari tanaman cabai yang sakit. Selanjutnya letakkan patogen yang akan diamati pada kaca preparat. Terahir lakukan pencarian atau pengamatan objek menggunakan mikroskop.

2. Uji patogenisitas jamur (Colletotrichum capsici)

(10)

Cendawan patogen yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari buah cabai merah yang menunjukkan adanya gejala antraknosa. Cabai merah bergejala antraknosa disterilisasi permukaan. Uji patogenisitas jamur colletotrichum sp. Dilakukan dengan cara sebagai berikut yang pertama yaitu jamur yang sebelumnya sudah ditumbuhkan dalam media PDA diambil seperti bulatan kecil saja. Kemudian ditumbuhkan atau diletakkan pada media asli yaitu cabai yang masih sehat. Lakukan atau letakkan pada 5 buah sampel cabai. Letakkan dalam wadah bening, yang sebelumnya telah di alas dengan tissue yang telah dilembabkan. Letakkan sedotan di atas tissue lembab tersebut agar cabai tidak langsung terkena tissue yang lembab tersebut. Letakkan dengan sedemikian rupa dengan rapi dan tidak terkena satu sama lain. Setelah beberapa hari lihat perubahan yang terjadi pada cabai sehat yang telah ditumbuhkan jamur sebelumnya. Setiap perubahan akan menampakkan gejala yang sama dengan jamur yang telah di isolasi.

3. Isolasi penyebab penyakit busuk lunak pada buah cabai (Capsicum annum L.)

Isolasi penyebab penyakit busuk lunak pada buah cabai (Capsicum annum L.) secara makroskopik dan mikroskopik dilakukan di Laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang tahun 2017.

Pelaksanaan mengenai isolasi penyebab penyakit busuk lunak pada buah cabai (Capsicum annum L.) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut yang pertama yaitu disiapkan 5 buah cabai sehat yang akan di isolasi dan jarum inokulum. Sebelumnya isolasi jamur colletotrichum capsici dan diletakkan pada tabung reaksi. Untuk mengisolasi penyakitnya yaitu suntikkan penyebab penyakit dengan menggunakan jarum sebanyak 5 ml kedalam buah cabai yang sehat. Lakukan untuk kelima buah sampel tersebut. amati perubahan yang terjadi.

4. Uji Potogenesis Bakteri Erwindia carotovora pada buah cabai

Ilmu Penyakit Tumbuhan mengenai UJI PATOGENESITAS BAKTERI

(11)

9 oktober tanggal 2017 bertempat di Laboratorium Fitopatologi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas,Padang.

Pada pelaksanaan pratikum ini alat yang digunakan yaitu kotak mika, tisu atau kertas saring, jarum suntik, sedotan. Kemudian bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu buah cabai merah, biakan bakteri Erwindia coratovora , Larutan natrium hipoklorit 1%, dan akuades sterilkan. Cabai direndam dalam natrium hipoklorit 1% selama dua menit kemudian tiriskan atau keringkan diatasi kertas saring. Isi kotak mika dengan tiga lembar tisu atau kertas saring yang sudah dilembangkan akuades, letakkan potongan sedotan diatas kertas saring atau tisu. Kemudian suntikkan bakteri yang sudah diencerkan dengan akuades pada cabai. 5. Pengenalan gejala dan penyebab penyakit tanaman

Ilmu Penyakit Tumbuhan mengenai Pengenalan gejala dan penyebab penyakit tanaman dilakukan pada pukul 07.30 WIB hari Senin 17 Oktober tanggal 2017 bertempat di Laboratorium Fitopatologi, Fakultas Pertaian, Universitas Andalas,Padang.

(12)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

Berikut tabel hasil pengamatan selama pratikum :

No Gambar Hasil Nama penyakit Penyebab penyakit

1. Antraknos / patek Jamur

Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gleoeosproioides

2. Penyakit busuk lunak

pada buah cabai

(13)

3. Embun tepung atau Powdery Mildew

Erisiphe sp.

4. Virus kompleks cabai

Virus Chili Veinal Mottle Virus dan Cucumber Mozaic Virus.

5. Bercak ungu pada

daun bawang

Jamur Alternaria porri

6. Bercak mata pada

tebu atau eye spot

Jamur

Helminthosporiu m

sacchari.Sinonim: Drechslera

sacchari ,

(14)

7. Hawar daun pada padi

Bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae

8. Bercak atau karat

coklat/ merah pada kayu manis

Algae Cephaleuros virescens

9. Penyakit bercak

coklat pada padi

Jamur

Helminthosporiu m Oryzae

10. Penyakit blast pada padi

(15)

B. Pembahasan

1. Penyakit antraknos pada buah cabai a. Nama dan Penyebab Penyakit

Penyebab dari penyakit Antraknosa atau patek ini adalah jamur Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gleoeosproioides, Klasifikasi jamur Colletotrichum capsici menurut Singh (1998) adalah: Divisio : Ascomycotina Sub-divisio : Eumycota Kelas : Pyrenomycetes Ordo : Sphaeriales Famili : Polystigmataceae Genus : Colletotrichum Spesies : Colletotrichum capsici Miselium terdiri dari beberapa septa, inter dan intraseluler hifa. Aservulus dan stroma pada batang berbentuk hemispirakel dan ukuran 70-120 μm. Seta menyebar, berwarna coklat gelap sampai coklat muda, seta terdiri dari beberapa septa dan ukuran +150μm. Konidiofor tidak bercabang, massa konidia nampak berwarna kemerah-merahan. Konidia berada pada ujung konidiofor. Konidia berbentuk hialin, uniseluler, ukuran 17-18 x 3-4 μm. Konidia dapat berkecambah pada permukaan buah yang hijau atau merah tua. Tabung kecambah akan segera membentuk apresorium b. Gejala

(16)

dan gugur. Kadang kala pada batas antara bagian jaringan sakit dan sehat keluar blendok.

c. Daur Penyakit

Pertumbuhan awal jamur Colletotrichum membentuk koloni misselium yang berwarna putih dengan misselium yang timbul di permukan. Kemudian perlahan-lahan berubah menjadi hitam dan akhirnya berbentuk aservulus. Aservulus ditutupi oleh warna merah muda sampai cokelat muda yang sebelumnya adalah massa koloni .Tahap awal dari infeksi Colletotrichum umumnya terdiri dari konidia dan germinasi pada permukaan tanaman, menghasilkan tabung kecambah. Setelah penetrasi maka akan terbentuk jaringan hifa. Hifa intra dan interseluler menyebar melalui jaringan tanaman. Spora Colletotrichum dapat disebarkan oleh air hujan dan pada inang yang cocok akan berkembang dengan cepat. Infeksi terjadi setelah apresoria dihasilkan. Karena penurunan dinding secara ekstensif, hifa mempenetrasi kutikula dan ditandai dengan tumbuh dibawah dinding kutikula dan dinding periklinal dari sel epidermis. Kemudian, hifa tumbuh dan menghancurkan dinding sel utama. Ini berhubungan dengan matinya sel yang berdampingan secara ekstensif. Ketika jeringan membusuk, hifa masuk ke pembuluh sklerenkium (sclerenchynatous) dengan langsung tumbuh menembus dindingnya

d. Cara Pengendalian Penyakit Antrakosa

(17)

amistartop, Nordox, Dithane, Cozeb dan lainnya, Perbanyak pemberian unsur Kalsium, untuk meningkatkan pengerasan kulit pada buah cabai, Buang dan eradikasi buah cabai yang terinfeksi.

2. Penyakit busuk lunak pada buah cabai a. Nama dan Penyebab penyakit

Nama penyakit ini adalah penyakit busuk lunak pada cabai yang disebabkan oleh Bakteri Erwinia carotova

b. Gejala

Gejala serangan bakteri Erwinia carotova biasanya mulai menyerang tangkai dan kelopak buah. Akan tetapi buah infeksi dapat terjadi dibagian buah mana saja yang terkena luka. Bakteri ini menyerang bagian dalam buah dan merusak jaringan daging buah hingga lunak dan berair . buah yang terinfeksi akan tetap menggantung seperti kantung yang berisi air lama kelamaan cairan keruh didalam buah tersebut akan menetes perlahan lahan hingga habis . setelah habis kulit akan mengering dan berwarna transparan dan akan tetap menggantung.

c. Cara pengendalian

Sanitasi, mengatur jarak tananam, membakar tanaman yang terserang, rotasi tanaman , pemakaian fungisida.

3. Penyakit embun tepung pada mentimun a. Nama penyakit dan penyebaB

Penyakit ini disebabkan oleh Erisiphe sp. Gejalanya hampir sama dengan gejala downy mildew tetapi terdapat serbuk putih seperti tepung yang muncul di balik daun.

(18)

Serangan penyakit ini menimbulkan gejala awal berupa bercak kuning yang berbentuk kotak mengikuti alur tulang daun. Serangannya dimulai dari daun yang sudah tua. Semakin lama, bercak kuning semakin lebar dan daun mengering, serbuk putih seperti tepung yang muncul di balik daun.

c. Pengendalian

Pencegahannya dengan cara (a) hindari menaman berdekatan dengan tanaman mentimun yang umurnya lebih tua, (b) perbaiki saluran drainase, terutama pada musim hujan dan, (c) lakukan sanitasi lahan secara rutin.

Pemberantasannya melalui (a) ketika gejala awal muncul, segera semprot dengan fungisida yang tepat. Arahkan mata spray lebih dominan ke permukaan daun bagian bawah. (b)fungisida yang bisa digunakan di antaranya Afugan 300 EC, Score 250 EC, dan Morestan 25 WP. Gunakan dosis sesuai dengan anjuran yang tertera di label kemasan

4. Virus kompleks pada cabai a. Nama penyakit dan penyebabnya

Kemungkinan penyebab Chili Veinal Mottle Virus dan Cucumber Mozaic Virus.

b. Gejala

Untuk gejala dari CMV ini dimulai dari bercak kuning pada daun. Lalu, lembaran daun akan menyempit (shoe string). Buah yang terinfeksi virus CMV akan berbentuk tidak rata, abnormal dan kadang muncul bercak cokelat seperti cincin atau huruf C. Anda bisa mengidentifikasi tanaman yang terjangkiti virus ini dengan tes ELISA (Enzim-Linked Immunosorbent Assay) di Laboratorium. Virus ini bersifat terbawa benih.

c. Pengendalian

(19)

segera tanaman yang terinfeksi. Biasakan cucilah tangan sesudah memegang atau menyentuh tanaman yang sakit. Untuk pengendalian hama pembawa CMV, anda bisa gunakan insektisida berbahan aktif seperti Abamektin, Deltametrin, dan Alfa Sipermetrin. Penggunaan varietas tanaman yang sudah tahan dengan virus CMV bisa anda lakukan. Pencucian dengan Tri Sodium Phosphat (Na 3 PO4) 10% (100 gr/liter air) selama setengah atau satu jam bisa sebagai perlakuan pencegahan awal pada benih sebelum disemai.

5. Penyakit busuk buah pir

a. Nama penyakit dan penyebab penyakit

Penyakit busuk hitan pada buah pir disebabkan oleh jamur alternaria alternata. b. Gejala

Conidiophore

Coklat pucat sampai coklat zaitun ,25-60 x 3-3,5 μm ,Lurus atau lurus, Conidiophores individu muncul langsung dari substrat yang membentuk kepala lebat yang terdiri dari 4-8 rantai konidia catenate besar ,Konidiophores sekunder pada umumnya pendek dan 1-celled

c. Pengendalian

Menanam bibit yang resisten terhadap jamur, penyemprotan fungisida, sanitasi, rotasi tanaman, pengaturan jarak tanaman.

6. Penyakit bercak ungu pada bawang daun a. Nama penyakit dan penyebab

Yang di sebabkan oleh Alternaria porri. Bercak ungu (purple blotch) tersebar luas di seluruh dunia. Jamur Alternaria porri (Ell.) Cif. Jamur ini dulunya sering disebut Macrosporium porri Ell. Miselium, konidiofor, dan konidium jamur ini tidak dapat di bedakan dengan Alternaria solani penyebab bercak kering pada kentang. Oleh karena itu Neergaard (dalam Semangun 2007) beranggapan bahwa A. solani hanyalah salah satu varietas dari A. porri, meskipun jamur dari bawang tidak dapat menginfeksi kentang, dan sebaliknya.

(20)

Gejala pertama terjadi bercak kecil, melekuk, berwarna putih hingga kelabu. Jika membesar bercak tampak bercincin-cincin danwarnanya agak keunguan. Tepinya agak kemerahan atau keunguan dan dikelilingi oleh zone berwarna kuning, yang dapat meluas agak jauh di atas atau di bawah bercak. Pada cuaca lembah bercak tertutupi oleh konidiofurdan konidium jamur yang berwarna coklat sampai hitam. Ujung daun yang sakit mongering. Bercak lebih banyak terdapat pada daun yang sudah tua.

Infeksi pada umbi lapis biasanya terjadi saat panen atau sesudanya. Umbi yang membusuk agak berair. Pembusukan mulai dari leher, dan ini mudah dikenal dari warna yang kuning sampai merah kecoklatan. Jika benang-benang jamur yang berwarna gelap itu berkembang. Jaringan yang sakit akan mongering, berwarna gelap dan berstrutur seperti kertas.

c. Pengendalian

Becak ungu dikendalikan dengan menanam bawang di lahan yang mempunyai drainasi baik dan dengan mengadakan pergiliran tananman(rotasi) , Pada bawang daun pemberian pupuk organik yang terdiri atas casting(kotoran cacing) dan mulsa jerami, secara terpisah maupun kombinasinya,dapat mengurangi bercak ungu, disamping juga mengurangi kutu daun .Pemberian pupuk kandang.pupuk hayati Azolla, dan urea juga terbukti dapat menekan intensitas penyakit pada bawang daun , Jika diperlukan,penyakit dapat dikendalikan dengan penyemprotan fungisida. Untuk keperluan ini dapat dipakai fungisida tembaga, ferban, zineb, dan nabam yang di tambah sulfat seng. Fungisida perlu di tambah perata agar dapat membasahi daun bawang yang berlilin itu.

7. Penyakit bercak mata pada tebu a. Nama penyakit dan penyebabnya

Nama penyakit Eye spot penyebab penyakitnya yaitu Helminthosporium sacchari atau sinonim Derchsclera sacchari , Bipolaris sacchari.

(21)

Gejala pada permukaan atas daun berupa titik halus berwarna merah atau cokelat kemerahan. Titik ini perkembang menjadi bercak lonjong memanjang berwarna cokelat dikelilingi halo berwarna kuning. Bercak berekor ke arah ujung daun.

c. Pengendalian

Sanitasi, pengaturan jarak tanam, pengaturan irigasi air.

8. Penyakit blast pada padi a. Nama penyakit dan penyebab

Penyakit Blas ini disebabkan oleh serangan jamur Pyricularia oryzae. b. Gejala

Jamur ini menyerang tanaman padi pada masa vegetatif yang menimbulkan gejala blas daun (leaf blast) dengan ditandai adanya bintik-bintik kecil pada daun yang berwarna ungu kekuningan. Semakin lama bercak tersebut menjadi besar, bintik tersebut berbentuk seperti belah ketupat dengan bagian tengahnya berupa titik berwarna putih atau kelabu dengan bagian tepi kecoklatan.

c. Pengendalian

(22)

dengan kondisi struktur populasi ras yang ada. Pergiliran varietas dengan varietas unggul lokal yang umumnya tahan terhadap penyakit blas sangat dianjurkan. Penyakit blas merupakan penyakit yang terbawa benih (seed borne pathogen), maka untuk mencegah penyakit blas dianjurkan tidak menggunakan benih yang berasal dari daerah endemis penyakit blas

9. Hawar Daun / kresek

a. Nama penyakit dan penyebabnya

Bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae b. Gejala

Gejala hawar daun atau krsesek sangat mirip dengan gejala sundep yang timbul akibat serangan penggerek batang pada fase tanaman vegetatif. Pada tanaman dewasa hawar daun menimbulkan gejala hawar (blight), gejala dimulai dari tepi daun berwarna keabu abuan dan lama kelamaan menjadi kering.

c. Pengendalian

(23)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit tumbuhan dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar terhadap masyarakat. Kerusakan ini selain disebabkan oleh karena hilangnya hasil ternyata juga dapat melalui cara lain yaitu menimbulkan gangguan terhadap konsumen dengan adanya racun yang dihasilkan oleh jamur dalam hasil pertanian tersebut. Namun tidak semua tanaman yang diserang oleh penyakit mengalami kerusakan, pada tanaman, bunga atau buah tertentu penyakit dapat menguntungkan secara ekonomi, karena dapat memperindah tampilan dari tanaman tersebut.

Untuk itu mempelajari ilmu penyakit dan penyebab penyakit tanaman menjadi penting bagi mahasiswa fakultas pertanian, karena dengan mempelajari penyakit tanaman dapat menjadi modal penting untuk terjun ke masyarakat yang sebagian besar bermata pencaharian petani.

B. Saran

Gambar

Gambar Hasil

Referensi

Dokumen terkait