A.
Sejarah dan Perkembangan Seni Ukir Jepara
Jepara, sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang terkenal dengan kerajinan ukirnya, tak dapat dilepaskan dari peranan Ratu Kalinyamat. Pada masa pemerintahannya ia memiliki seorang patih yang bernama “Sungging Badarduwung” yang berasal dari Negeri Campa Patih ini ternyata seorang ahli pahat yang dengan sukarela mengajarkan keterampilannya kepada masyarakat disekitarnya Satu bukti yang masih dapat dilihat dari seni ukir masa pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah adanya ornament ukir batu di Masjid Mantingan.
Kemudian pada masa RA Kartini, para tukang kayu dan pengukir Jepara terangkat ke dunia internasional. Melalui lembaga Oost en West, Kartini memamerkan dan memasarkan produk-produk Jepara, termasuk ukir-ukiran dan patung, di Belanda. Kartini bahkan berupaya melindungi produk-produk Jepara dengan mengkritik orang-orang yang meremehkan karya ukir Jepara. ”...saya sakit hati kalau barang-barang yang sangat indah itu menjadi milik orang-orang yang acuh tak acuh, yang tidak dapat atau sekurang-kurangnya tidak cukup menghargai barang-barang itu...” (Kartini, Pembaharu Peradaban, 2010).
Setelah banyak pesanan yang datang, hasil produksi para pengrajin Jepara bertambah jenis kursi pengantin, alat panahan angin, tempat tidur pengantin dan penyekat ruangan serta berbagai jenis kursi tamu dan kursi makan. Raden Ajeng Kartini juga mulai memperkenalkan seni ukir Jepara keluar negeri. Caranya, Raden Ajeng kartini memberikan souvenir kepada sahabatnya di luar negeri. Akibatnya ukir terus berkembang dan pesanan terus berdatangan. Seluruh penjualan barang, setelah dikurangi dengan biaya produksi dan ongkos kirim, uangnya diserahkan secara utuh kepada para pengrajin. Untuk menunjang perkembangan ukir Jepara yang telah dirintis oleh Raden Ajeng Kartini, pada tahun 1929 timbul gagasan dari beberapa orang pribumi untuk mendirikan sekolah kejuruan. Tepat pada tanggal 1 Juli 1929, sekolah pertukangan dengan jurusan meubel dan ukir dibuka dengan nama “Openbare Ambachtsschool” yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Teknik Negeri dan Kemudian menjadi Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri.
Jepara . Tokoh-tokoh yang berjasa di dalam pengembangan motif lewat lembaga pendidikan ini adalah Raden Ngabehi Projo Sukemi yang mengembangkan motif majapahit dan Pajajaran serta Raden Ngabehi Wignjopangukir mengembangkan motif Pajajaran dan Bali.
Semakin bertambahnya motif ukir yang dikuasai oleh para pengrajin Jepara, meubel dan ukiran Jepara semakin diminati. Para pedagang pun mulai memanfaatkan kesempatan ini, untuk mendapatkan barang-barang baru guna memenuhi permintaan konsumen, baik yang berada di dalam di luar negeri.
Menurut Center For International Fouretry Research (CIFOR), industri furniture telah menjadi sumber pendapatan di Jepara selama bertahun-tahun. Tetapi, berdasarkan survey tahun 2010 jumlah unit usaha mebel di Jepara terus mengalami penurunan sebesar 20 persen dari tahun 2005 yakni menjadi 11.597 unit.
B.Struktur Industri Kayu Ukir di Jepara
Sebanyak 11.981 (Sumber: Pemerintah Jepara 2010) unit perusahaan dalam industri kayu ukir di Jepara dimana setidaknya terdapat 10.801 unit kecil (92 %), 871 unit menengah (6%), dan 309 unit besar (2 %). Usaha dalam industri kayu ukir ini rata-rata berdiri dari tahun 1980-2005. Terdapat 176.469 pekerja yang bekerja di bidang industri ini, dimana 63.462 pekerja merupakan pekerja tidak tetap dan 113.007 merupakan pekerja tetap.
Jenis usaha Jumlah Mayoritas
Usaha tunggal
Penjualan kayu di TPK (log park) 726 Laki-laki
Penggergajian (sawmill) 101 Laki-laki
Penjualan kayu dan penggergajian 137 Laki-laki
Brak dan ruang pamer 78 Perempuan
Brak dan pengeringan 71 Laki-laki
Brak dan penjualan kayu 37 Laki-laki
Brak dan gudang 15 Perempuan
Bisnis terpadu 46 Seimbang
Jumlah usaha campuran 384
Jumlah total 11.981
Brak adalah tempat proses produksi mebel yang umumnya berskala kecil. Pada tahun 2010, terdapat 1.337 brak, dimana setiap unit mengkonsumsi 104,15 m3 per tahun. Brak berskala kecil dan mikro mengkonsumsi 99,27 m3 per tahun, sedangkan skala menengah dan besar masing -masing sebesar 282 m3 dan 1.115 m3 per tahun. Dengan demikian, total perkiraan konsumsi kayu yang diserap oleh industri mebel dan kerajinan kayu Jepara adalah sebesar 863.147 m3 per tahun. Sejumlah 82% brak menjual produknya khusus untuk pasar domestik dan 9% untuk pasar ekspor, sedangkan sisanya menjual untuk pasar ekspor dan pasar domestik.
Dari 82% penjualan untuk pasar domestik, juga terdapat kemungkinan dilakukan penjualan lebih lanjut untuk pasar ekspor oleh mata rantai pemasaran yang lain. Sekitar 22% brak yang masih beroperasi sekarang didirikan pada rentang tahun 1998–2000, di masa ketika terjadi boom
Industri kayu ukir jepara ditekuni oleh hampir 75% masyarakat Jepara, setiap desa yang ada di Jepara mayoritas mempunyai usaha dibidang furniture dan mebel Jepara. Industri ini menggunakan bahan baku kayu jati sebagai bahan baku utama, 80% desain mebel merupakan hasil pekerjaan tangan pengrajin (hand made), dan sekitar 20% pengerjaan komponen mempergunakan mesin yang meliputi : pekerjaan pemotongan dan pembelahan, pekerjaan penghalusan permukaan (sanders), dan pekerjaan finishing. Sebagian besar perusahaan membuat satu produk akhir, yang menunjukkan adanya tingkat spesialisasi yang tinggi pada perusahaan di Jepara. Hampir semua (95,5%) merupakan perusahaan keluarga yang dijalankan oleh saudara sendiri. Sedikit perusahaan melibatkan dua (4,3%) atau tiga (0,2%) keluarga atau garis keturunan. Hampir semua perusahaan mempunyai satu atau lebih perusahaan mitra. Singkatnya, perusahaan di Jepara sangat terkait satu sama lain, namun umumnya tidak melalui kepemilikan atau usaha patungan, melainkan dengan cara lain seperti ikatan bisnis murni.
C.
Bentuk & Motif Ukiran Jepara
Seni ukir Jepara telah mampu mengangkat Jepara menjadi dikenal baik di tingkat nasional maupun internasional. Hasil seni ukir Jepara yang berupa kerajinan perabot rumah tangga, dan hiasan bangunan rumah model ukirannya berbentuk ukiran cembung, ukiran cekung, ukiran susun, ukiran garis, ukiran patokan, dan ukiran tembus. Budaya seni ukir Jepara dapat diketahui berdasarkan ragam hias yang digunakan dari dahulu sampai sekarang. Seni ukir Jepara mempunyai beberapa motif dasar yang lazim digunakan. Kelima motif dasar tersebut masing-masing mempunyai variasi tersendiri, motifnya yaitu : motif geometris, motif binatang, motif pigural, motif tumbuhan, dan motif lain-lain.
Ukiran Jepara mempunyai ciri khas yang menunjukkan bahwa ukiran itu asli dari Jepara atau tidak. Salah satu ciri khas yang terkandung didalamnya adalah bentuk corak dan motif. Untuk motif sendiri bisa kita lihat dari : Daun Trubusan yang terdiri dari dua macam yaitu dilihat dari yang keluar dari tangkai relung dan yang keluar dari cabang atau ruasnya.
Ukiran asli Jepara juga terlihat dari motif Jumbai atau ujung relung dimana daunnya seperti kipas yang sedang terbuka yang pada ujung daun tersebut meruncing.Dan juga ada buah tiga atau empat biji keluar dari pangkal daun.Selain itu,tangkai relungnya memutar dengan gaya memenjang dan menjalar membentuk cabang-cabang kecil yang mengisi ruang atau memperindah. Ada beberapa bentuk motif dari ukiran jepara :
Daun pokok (Jumbai). Daun pokok motif ini mempunyai corak tersendiri, yaitu
merelung-relung dan melingkar. Pada penghabisan relung tersebut terdapat daun yang menggerombol.
Bunga dan buah. Bunga dan buah pada motif jepara ini berbentuk cembung (bulatan)
seperti buah anggur atau buah wuni yang disusun berderet atau bergerombol. Bunga ini sering terdapat pada sudut pertemuan relung daun pokok atau terdapat pada ujung relung yang dikelilingi daun-daunnya,sedangkan bunganya mengikuti bentuk daunnya.
Pecahan. Pada pecahan ukiran daun motif ini terdapat 3 pecahan garis yang mengikuti
Ciri-ciri khas diatas sudah cukup mewakili sebagai identitas ukiran Jepara. Bentuk motif ukiran tersebut oleh para ahli pahat disisipkan di berbagai alat rumah tangga seperti contoh di kursi atau meja yang diberikan ukiran khas Jepara, juga yang lain misal figura foto yang diberi khas Jepara dengan ukiran.
D. Unsur Ekonomi dan Nilai Tambah Industri Ukiran Jepara
Data Ekspor Kabupaten Jepara 2011 No Jenis Komoditi Eksportir Negara
Tujuan Volume (USD) (Rp.000,-)
1. Furniture Jepara 268 101 34.000.761,46 111.653.351,51 980.234.395,22
2. Kapok 7 11 333.082,07 244.756,46 2.148.781,46
3. Barang Dari Plastik 1 12 2.067.574,00 4.439.870,90 38.978.804,56
4.
Kerajinan Batu, Semen,
Marmer, dll 3 3 59.573,00 52.061,00 457.057,33
5. Keramik / Terakota 5 6 216.640,00 238.726,15 2.095.840,21
6 Komoditas Lainnya 78 81 10.814.873 21.413.272 187.992.794
Jumlah 276 105 48.862.603,60 138.042.037,78 1.211.907.673,04
Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, identik dengan mebel dan ukirannya. Perekonomian dan citra daerah di Semenanjung Muria ini benar-benar bertopang pada kayu dan seni mengolah kayu. Sumbangan industri pengolahan terhadap PDRB Jepara juga merupakan yang terbesar, yaitu 26,8 persen pada 2009 dan 27,51 persen pada 2010. Dari sisi penyerapan tenaga kerja serta penyerapan devisa, sekitar 30% produk ekspor dan 60% dari volume perdagangan domestik mebel Jawa Tengah berasal dari Jepara. Dapat dikatakan bahwa Industri mebel ini merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat Jepara, sehingga jika industri ini kolaps maka akan berdampak besar pada perekonomian masyarakat Jepara. Ekspor Industri ini juga menyumbang sekitar 80% dari seluruh ekspor Kabupaten Jepara tahun 2011, hal ini dapat dilihat pada tabel.
Produk-produk mebel dan ukiran Jepara tidak hanya diminati pasar lokal dan nasional, tetapi juga pasar internasional. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jepara mencatat, pada 2012, Jepara mengekspor mebel ukiran Jepara ke 105 negara senilai US $ 102 juta, dan kerajinan kayu dan handicraft senilai US$ 1 juta, menurun dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya yang diakibatkan meningkatnya pangsa pasar China dalam industri ini.
Perdagangan mebel dunia pada tahun 2010 mencapai 135 miliar dolar AS atau sekitar 1% dari total perdagangan dunia di bidang manufaktur. Sebesar 54% dari ekspor mebel berasal dari negara sedang berkembang termasuk Indonesia, Malaysia, Meksiko, Polandia, dan Cina. Cina dengan pangsa pasar 13,69%, mendominasi perdagangan mebel dunia dengan laju pertumbuhan yang sangat tinggi. Pasar mebel dunia adalah pasar terbuka,di mana rasio impor dengan konsumsi melebihi 31%. Pangsa pasar mebel di dunia masih dipegang oleh negara pengekspor mebel terkemuka, antara lain: Italia yang menguasai pangsa pasar sebesar 14,18 %, disusul China (13,69%), Jerman (8,43%), Polandia (6,38%), dan Kanada (5,77%). Sedangkan pangsa pasar meubel Indonesia saat ini hanya mencapai 2,9%. Indonesia telah memertahankan pangsa pasarnya lebih-kurang tetap selama lebih dari tiga tahun terakhir pada angka 2,5%, sekalipun terjadi lonjakan tajam pangsa pasar yang direbut oleh China.
Data ekspor hasil industri ukiran kayu di Kabupaten Jepara
N
Kerajinan kayu dan Handicraft 233.258 1.019.144 195.987
Total 37,442,590 35,019,905 30,018,145
4 Nilai Ekspor (US $)
Furniture 111,498,084.22 111,653,351.51 102,777,259.42
Kerajinan kayu dan Handicraft 653,066.35 1,618,779.31 1,011,159.76
Total 112,151,150.57 113,272,130.82 103,788,419.18
Pemerintah telah mengupayakan untuk mengembangkan industri meubel dan menetapkan sektor ini sebagai salah satu dari 10 komoditas unggulan ekspor Tanah Air dimana Jepara menguasai 10% pangsa ekspor nasional. Terdapat beberapa pasar utama diluar negeri, yaitu pasar
Asia, serta pasar Eropa dan Amerika Serikat. Kontribusi industri mebel terhadap perekonomian kabupaten ini mencapai 27% dengan nilai ekspor 110 juta dolar AS atau lebih dari satu triliun rupiah. Mebel tidak hanya merupakan bagian sangat penting dari ekonomi Jepara, tetapi juga merupakan denyut nadi dan budaya masyarakat Jepara. Mereka meyakini bahwa keahlian dan keterampilan membuat mebel merupakan warisan sejarah yang harus dijaga kelestariannya. Mereka mempunyai tugas mulia untuk tetap menghidupkan mebel Jepara di tengah persaingan dunia. Mebel Jepara dikembangkan dalam sejarah penciptaan Para leluhur
mereka mewariskan ketrampilan itu secara turun-temurun dalam suatu sistem pewarisan keterampilan dan proses pembelajaran yang unik. Tak dapat dipungkiri bila industri perabot serta perlengkapan rumah tangga dari kayu ini menjadi jantung kegiatan ekonomi sekunder. Nilai yang dihasilkan pun nyaris separuh (48,45 %) dari nilai total produksi kegiatan industri di Jepara.
penelitian yang dilakukan oleh CIFOR (Center for International Forestry Research), desa-desa di kota Jepara umumnya mendapat nilai tambah sekitar 100 milliar hingga 1 triliun per tahun, dimana akumulasi aliran tunai Jepara adalah Rp 11.971 - 12.255 miliar/tahun), atau sekitar Euro 1 miliar/tahun. Pada tingkat kabupaten, rata-rata aliran tunai relatif adalah Rp 74 juta per pekerja, namun tingkat dispersinya tinggi. Di beberapa desa, nilai tambah per pekerja adalah kurang dari Rp 1 juta/tahun, sedangkan ada yang menghasilkan lebih dari Rp 600 juta/tahun/pekerja. Tidak ada alasan yang jelas untuk perbedaan ini, karena tidak ada hubungan dengan konsentrasi industri atau konsentrasi spasial yang terlihat jelas. Pola ini barangkali mencerminkan adanya usaha terspesialisasi yang tersebar di wilayah.
Usaha mebel Jepara memberikan kontribusi sekitar 27 persen perekonomian daerah yang terkenal dengan seni ukir ini. Parahnya distribusi nilai tambah yang didapat para pelaku industri mebel dikuasai oleh pemain asing yang menikmati sekitar 61 persen permeter kubik bahan baku, sedangkan pemain lokal seperti petani hutan, penjual kayu, pengrajin mebel dan eksportir
didalam negeri hanya memperoleh sekitar 38.9 persen.
Sementara pengrajin kecil sendiri hanya memperoleh sekitar 3,6 persen dari distribusi nilai tambah tersebut. Walaupun lebih banyak pelaku industri mebel di tingkat pengrajin (UKM)
tetapi distribusi nilai tambahnya tidak banyak dirasakan oleh pengrajin tapi lebih kepada perusahaan besar yang menampung produk hasil pengrajin kecil. Investasi di bidang UMKM mebel dan patung ukir itu Rp 164 miliar dan rata-rata nilai produksi per tahun mencapai Rp 1,24 triliun.
E. Potensi Pengembangan Ukiran Jepara Melalui Koperasi
Menurut pemerintah Kabupaten Jepara, jumlah usaha kecil pada industri ukiran jepara mencapai 11.981 usaha atau sekitar 92% dari total usaha pada industri ukiran jepara di Kabupaten Jepara. Usaha kecil ini adalah usaha yang modalnya sangat terbatas sehingga tidak mampu bersaing dengan perusahaan besar yang sejenis, untuk itu perlu penguatan agar usaha kecil tersebut bisa bersaing dan diharapkan lebih bisa berkembang, salah satu penguatan yang dapat dilakukan adalah melalui koperasi.
No Kecamatan Jumlah Koperasi NonPertanian Simpanan UangAnggota (Rp) Kekayaan / Aset(Rp)
1 Kedung 28 1.029.167.661 2.118.921.653 mencapai Rp. 33.637.023.328, jumlah yang cukup besar apabila uang simpanan tersebut dapat
dikelola dengan baik untuk membantu mengembangkan usaha kecil ukiran di Jepara. Jumlah yang besar tersebut juga masih dapat ditingkatkan apabila masyarakat khususnya pengrajin ukiran Jepara sadar akan pentingnya koperasi. Masih banyak pengrajin yang mengandalkan permodalan usaha mereka melalui pinjaman kepada rentenir yang memiliki bunga yang tinggi. Seharusnya hal ini dapat diatasi dengan meminta permodalan kepada koperasi, walaupun memang dana yang terdapat pada koperasi masih jauh dari cukup apabila dibandingkan dengan jumlah usaha kecil yang mencapai 11.981 unit usaha itu.
Namun setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh koperasi untuk mengembangkan usaha kecil ukiran jepara. Misalnya, seperti yang telah dijelaskan diatas yaitu kegiatan simpan pinjam. Dengan perkiraan kasar, apabila seluruh dana simpanan terserap penuh untuk pembiayaan maka setiap satu unit usaha kecil akan mendapat pinjaman sebesar Rp. 2.807.350, dengan asumsi bahwa seluruh unit usaha akan meminjam kepada koperasi. Memang jumlah yang tidak terlalu besar, tetapi apabila koperasinya ikut dikembangkan, bukan tidak mungkin dana simpanan akan melonjak beberapa kali lipat dan pembiayaan yang cukup kepada usaha kecil ukiran jepara dapat dilakukan. Dan dengan masuk menjadi anggota koperasi, para pengusaha kecil dapat berharap kelancaran usaha dapat relatif terjamin karena di dalam kumpulan akan terjadi komunikasi informasi antara anggota yang berkaitan dengan usaha yang dijalankan.
Lalu, kegiatan lain yang dapat dilakukan koperasi selain simpan pinjam adalah kegiatan usaha bersama. Misalnya seperti kegiatan dalam bentuk pengadaan bahan baku secara bersama-sama. Pembelian bahan baku secara bersama akan lebih murah jika dibandingkan dengan membeli barang secara individual. Dengan demikian, biaya transportasi atau ongkos kirim ditanggung bersama, bukan sendiri-sendiri.
F. Permasalahan & Isu Utama
Terdapat beberapa permasalahan dan isu utama yang menjadikan industri ini belum berjalan secara maksimal, diantaranya :
2. Munculnya kompetitor baru: bermunculan kompetitor baik di pasar lokal maupun global (China, Vietnam, Filipina dll)
3.
Sertifikasi dan HaKI: ketentuan sertifikasi terkait dengan bahan baku yang ramah lingkungan dari lembaga sertifikasi internasional dan kurangnya perlindungan HaKI dipasar global mengakibatkan beberapa item produk furniture ditolak di beberapa negara. Berbagai macam sertifikasi yang diterapkan oleh beberapa negara tujuan ekspor mebel Jepara terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa, bisa merupakan sarana peningkatan nilai tambah bagi produk mebel tetapi juga bisa sebagai penghambat laju perkembangan nilai ekspor mebel Jepara dan seluruh Indonesia. Pada tahun 2008, hanya ada 2 orang pengusaha di Jepara yang memiliki VLO atau sertifikasi furniture dunia.4. Sumber Daya Manusia (SDM): regenerasi Sumber Daya Manusia, Peningkatan Kualitas Sumber Daya manusia terampil masih sangat kurang.
5.
Ketersediaan bahan baku: tingkat ketergantungan bahan baku dari luar daerah cukup tinggi, sehingga dalam kondisi tertentu proses produksi terganggu dan kendali harga bahan baku lemah sehingga dapat menurunkan daya saing produk, serta tidak adanya aturan pasar yang jelas tentang harga.6. Permodalan: terbatasnya akses permodalan dari perbankan.
7. Pemasaran: akses pemasaran baik melalui pameran produk maupun melalui media online masih sangat kurang. Pengrajin kecil tidak pernah mengalokasikan anggaran promosi untuk mengembangkan usahanya, sehingga yang dibutuhkan adalah bantuan pemerintah untuk sarana promosi gratis bagi mereka.
G. Peluang Usaha Ukiran Jepara
Ukiran Jepara terkenal mulai dari tingkat nasional hingga internasional. Hal ini tentu saja memberikan kemudahan untuk pengenalan produk dan ada keuntungan titik awal karena sudah mulai dikenal oleh kalangan luas. Industri ini dapat memperoleh peluang perdagangan yang strategis dengan adanya perdagangan bebas antar Negara ASEAN atau Asean China Free Trade Area ( ACFTA ).
Ukiran Jepara bisa lebih banyak dikenal di mata dunia dengan mengembangkan usaha ukiran melalui peluang diatas. Tapi perlu diingat juga bahwa hal tersebut bisa juga menjadi tantangan karena berlakunya kemitraaan dagang strategis melalui Trade Related Intellectual Property Rights ( TRIPP ) karena dengan adanya pasar bebas dan hukum dagang international, teknologi tradisional karya Jepara seperti ukiran perlu dilindungi hak patennya.
industri ukirannya dalam hal ini memiliki potensi akan hal tersebut. Memanfaatkan wisatawan yang datang ke Jepara sebagai target pasar produk ukir, akan didapat beberapa keuntungan:
1. Keuntungan pengrajin
Tidak memerlukan biaya memindahkan barang untuk mengikuti pameran di daerah
yang menjadi tujuan pemasaran mebel Jepara.
Proses jual-beli langsung kepada pembeli, tanpa harus melalui tengkulak menjadikan harga mebel relatif murah yang menjadikan daya beli masyarakat tinggi.
Adanya proses kerja yang efektif, pengrajin bekerja sesuai pesanan. Tidak
menghasilkan produk gagal jual. 2. Keuntungan pembeli
Pembeli dapat menentukan produk yang akan dibeli sesuai dengan kebutuhan.
Pembeli dapat bernegosiasi harga, kualitas, dan model yang diinginkan, sehingga akan
mendapatkan hasil yang memuaskan.
Mendapatkan objek wisata tambahan, ketika pembeli datang ke sentra ukir.
H. Peran Pemerintah Jepara dalam Mengatasi Permasalahan &
Mengembangkan Potensi Industri Ukir Jepara
1. Penyediaan bahan baku, antara lain melalui:
Pembudidayaan jenis kayu cepat tumbuh seperti Jati Unggul Nusantara (JUN)
Gerakan penanaman pohon seperti Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat
(PHBM), Gerakan Rehabilitasi Hutan (GERHAN), Gerakan Penanaman Satu Milyar Pohon, one man one tree, dsb;
Suplementasi penggunaan bahan baku kayu jati dengan kayu jenis lain/diversifikasi
bahan baku dengan kayu mindi, mahoni, dsb.
Mendorong pengolahan limbah kayu secara efisien melalui pelatihan pemanfaatan
limbah kayu.
2. Memfasilitasi permodalan, melalui bantuan modal Koperasi, hibah, maupun bantuan sarana produksi/peralatan kerja.
Branding, seperti “JEPARA The World Carving Center” untuk membentuk brand image Jepara sebagai sentra ukir di dunia.
Memfasilitasi hak patent katalog desain mebel.
Memfasilitasi pameran baik tingkat regional, nasional maupun internasional serta
pameran produk unggulan Jepara di kota-kota besar di Indonesia.
4. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia, melalui kegiatan-kegiatan pelatihan pada Dinas/Instansi terkait, seperti: pelatihan pengembangan desain furniture, pelatihan kewirausahaan, pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja, pelatihan manajemen, pelatihan ekspor, dsb.
5. Penguatan infrastruktur. Melalui:
Penguatan dan pelebaran jaringan jalan dan jembatan untuk akses container
Pembentukan dan penguatan sentra industri