MAKALAH
ALAT DAN MESIN PASCA PANEN PENGERINGAN DENGAN LANTAI JEMUR
ANTON LESMANA (05121402013)
HAJRAH NANDA PUTRI (05121402013)
HALIMANTO (05031381320018)
RIDHO ZILKA (05121402015)
SITI FATIMAH (05031381320019)
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2015
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penanganan pasca panen tanaman pangan dewasa ini belum optimal, ini dapat dilihat pada masih besarnya susut bobot maupun susut mutu gabah dalam tahapan proses. Menurut Jindal (1999) di Negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, susut pasca panen masih mencapai 15%. Terjadinya susut mutu terjadi pada semua tahapan proses pasca panen.
Tahapan proses pasca panen terutama pengeringan adalah salah satu tahap penanganan pasca panen terpening pada sebagian besar hasil komoditas pertanian negara-negara asia tenggara seperti Indonesia.
Pengeringan merupakan cara untuk menghilangkan sebagian besar air dari suatu bahan dengan bantuan panas dari sumber alami (sinar matahari) atau buatan (mesin dan peralatan pengering). Cara pengeringan berpengaruh terhadap mutu hasil panen, benih dan daya simpannya. Komoditas pertanian Indonesia seperti padi, kopi, teh, jagung serta beberapa tanaman yang memiliki kadar air tinggi sangat memelukan perlakuan pengeringan yang tepat.
Tahapan pengeringan sangat menentukan hasil akhir produk beras. Apabila pengeringan tidak sempurna akan meningkatkan terjadinya beras pecah pada waktu penggilingan. Selain itu pengeringan tidak sempurna akan mempermudah jamur dan m i k r o b i a l a i n n y a t u m b u h s e h i n g g a m u t u b e r a s m e n j a d i j e l e k b a h k a n t i d a k d a p a t dikonsumsi (suharto, 1991). Demi mendapatkan hasil yang optimal, kajian mengenai metode pengeringan dengan lantai jemur sangat diperlukan agar metode ini tetap efektif digunakan demi menjaga mutu dan kualitas serta mengurangi kehilangan dan kerusakan pasca panen hasil produksi pertanian. hasil pengeringan ini akan menjadikan gabah siap digiling atau disimpan untuk waktu yang lama.
1.2 Tujuan
Menganalisis karakteristik dan efisiensi pengeringan dengan lantai jemur meliputi kapasitas lapang efektif pengeringan, penurunan kadar air optimal, durasi lama pengeringan serta analisis biaya pengeringan .
BAB 2
Pengeringan adalah upaya untuk menurunkan kadar air komoditas agar aman disimpan atau baik untuk tahap pasca panen selanjutnya. Kadar air biji yang aman untuk disimpan berkisar antara12-14%. Pada saat komoditas dikeringkan terjadi proses penguapan air karena adanya panas dari media pengering, sehingga uap air akan lepas dari permukaan kulit komoditas ke ruangan di sekeliling tempat pengering (brooker et al . 1974) Pada budidaya tanaman padi, untuk melakukan pengeringan gabah petani biasanya langsung menjemur gabah dipanas matahari, dimana waktu pengeringan dengan cara seperti itu akan memakan waktu yang relatif lama biasanya 2 hari, apabila cuaca terik sepanjang hari. Jumlah kandungan air pada gabah disebut kadar air dan dinyatakan dengan persen (%). Karena tingginya kandungan air gabah maka perlulah dilakukan pengeringan, dimana pada umumnya kadar air gabah mencapai 20 % - 26 % ini bergantung cuaca pada saat pemanenan tentunya.
Pengeringan gabah adalah suatu perlakuan yang bertujuan menurunkan kadar air sehingga gabah dapat disimpan lama, daya kecambah dapat dipertahankan, mutu gabah dapat dijaga agar tetap baik (tidak kuning, tidak berkecambah dan tidak berjamur), memudahkan proses penggilingan dan untuk meningkatkan rendemen serta menghasilkan beras gilingan yang baik (Damardjati, 1978) .
Pengeringan merupakan salah satu kegiatan pascapanen yang penting, dengan tujuan agar kadar air gabah aman dari kemungkinan berkembangbiaknya serangga dan mikroorganisme seperti jamur dan bakteri. Pengeringan harus sesegera mungkin dimulai sejak saat dipanen. Apabila pengeringan tidak dapat dilangsungkan, maka usahakan agar gabah yang masih basah tidak ditumpuk tetapi ditebarkan untuk menghindarkan dari kemungkinan terjadinya proses fermentasi. Pengeringan akan semakin cepat apabila ada pemanasan, perluasan permukaan gabah padi dan aliran udara.
tinggi. Pengeringan yang kurang merata, akan menyebabkan timbulnya retak-retak pada gabah dan sebaliknya gabah yang terlalu kering akan mudah pecah saat digiling. Sedangkan dalam kondisi yang masih terlalu basah disamping sulit untuk digiling juga kurang baik ditinjau dari segi penyimpanannya karena akan gampang terserang hama gudang, cendawan dan jamur (Strumillo and Kudra, 1986).
Pengeringan merupakan proses penurunan kadar air gabah sampai mencapai nilai tertentu sehingga siap untuk diolah/digiling atau aman untuk disimpan dalam waktu yang lama. Kehilangan hasil akibat ketidaktepatan dalam melakukan proses pengeringan dapat mencapai 2,13 %. Pada saat ini cara pengeringan padi telah berkembang dari cara penjemuran menjadi pengering buatan.
2.1. Metode Pengeringan a. Pengeringan Alami
Menurut Widiastuti (1980), Metode pengeringan terbagi atas : 1. Pengeringan di atas lantai
2. Pengeringan di atas rak
3. Pengeringan dengan ikatan-ikatan ditumpuk
Penjemuran gabah pada lantai jemur (lamporan) adalah cara pengeringan gabah secara alami yang praktis, murah, sederhana dan umum digunakan oleh para petani. Energi untuk penguapan diperoleh dari angin dan sinar matahari. Lamporan harus bersih agar gabah padi yang dikeringkan tidak kotor. Lamporan haruslah memenuhi syarat antara lain tidak menimbulkan panas yang terlalu tinggi, mudah dibersihkan dan dikeringkan, tidak basah sewaktu digunakan, dan tidak berlubang-lubang. Lamporan pada umumnya dibuat dari semen, permukaannya agak miring dan bergelombang dengan maksud agar air tidak menggenang, mudah dikeringkan dan permukaannya menjadi lebih luas.
b. Pengeringan Buatan
hujan dan lain-lain. Pengeringan buatan memerlukan biaya yang lebih mahal dibandingkan dengna pengeringan alami. Oleh karena itu, petani harus menyesuaikan kebutuhan dengan kapasitas hasil panen serta biaya produksi apabila hendak melakuakan pengeringan buatan. Pengeringan buatan bemacam-macam, ada yang menggunakan listrik, matahari, bahan bakar sekam dan lain-lain (Setijahartini, 1980). Faktor-faktor yang mempengaruhi lama pengeringan dengan lantai jemur sebagai berikut :
a. Kelembaban Udara
Kelembaban udara mempengaruhi kemampuan udara untuk memindahkan uap air. Secara umum, kelembaban udara adalah ukuran kandungan air di udara. Kelembaban udara dapat dinyatakan dalam dua pengertian yang berbeda yaitu kelembaban relatif dan kelembaban mutlak. Kelembaban mutlak adalah massa uap air dalam tiap satuan massa udara kering. Kelembaban udara relatif adalah perbandingan kelembaban udara tertentu dengan kelembaban udara jenuh pada kondisi dan tekanan yang sama. Perbandingan ini dinyatakan dalam persentase kejenuhan dengan 100 % untuk udara jenuh dan 0 % untuk udara yang benar-benar kering (Taib dan Wiraatmadja,1988).
b. Radiasi Surya
Tenaga matahari berjumlah besar dan bersifat kontiniu. Tenaga matahari dapat dikonversi langsung menjadi tenaga lainnya dengan tiga proses terpisah yaitu : 1. Proses heliochemical : tenaga matahari dapat merubah atau menstimulir proses
kimia dari suatu bahan
2. Proses helioelectrical : tenaga matahari dapat dirubah menjadi tenaga listrik melalui fotosel sebagai pengumpul dan perubah tenaga matahari
3. Proses heliothermal : tenaga radiasi matahari dapat dirubah menjadi tenaga panas dengan suatu alat pengumpul panas (kolektor keping datar) yang selanjutnya dapat digunakan untuk pengeringan atau untuk keperluan lain (Rizaldi, 2006).
oksigen, aerosol, uap air dan debu dan partikel-partikel lain. Penghamburan radiasi ini menyebabkan langit tampak berwarna biru pada hari cerah. Beberapa radiasi yang sudah mengalami penghamburan ini mencapai permukaan bumi dikenal dengan radiasi difusi. Radiasi difusi biasanya juga disebut radiasi langit. Apabila radiasi surya tidak mengalami penghamburan oleh atmosfer, maka radiasi sampai ke permukaan sebagian radiasi langsung (beam radiation) (Arismunandar, 1995).
2.2 Metode Penjemuran Gabah
a. Cara penjemuran dengan lantai jemur :
Jemur gabah di atas lantai jemur dengan ketebalan 5 cm – 7 cm untuk musim
kemarau dan 1 cm – 5 cm untuk musim penghujan.
Lakukan pembalikan setiap 1 – 2 jam atau 4 – 6 kali dalam sehari dengan
menggunakan garuk dari kayu.
Waktu penjemuran : pagi jam 08.00 – jam 11.00, siang jam 14.00 – 17.00 dan
tempering time jam 11.00 – jam 14.00.
Lakukan pengumpulan dengan garuk, sekop dan sapu.
Gambar 1. Pengeringan padi dengan lantai jemur
b. Cara penjemuran dengan alas terpal/plastik
Alas terpal/plastik dapat juga dipakai untuk alas penjemuran. Beberapa keuntungan pengguna-an alas terpal/plastik adalah :
2. Memudahkan penyelamatan gabah bila pada waktu penjemuran hujan turun secara tiba-tiba.
3. Dapat mengurangi tenaga kerja buruh di lapangan. Berikut cara penjemuran dengan alas terpal/plastik :
Jemur gabah di atas alas terpal/plastik dengan ke-tebalan 5 – 7 cm untuk musim
kemarau atau 1 – 5 cm untuk musim peng-hujan.
Lakukan pembalikan secara teratur setiap 1 – 2 jam sekali atau 4 – 6 kali dalam
sehari. Pembalikan di-anjurkan tanpa mengguna-kan garuk karena dapat mengakibatkan alas sobek.
Waktu penjemuran : pagi jam 08.00 – jam 11.00, siang jam 14.00 – 17.00, dan
tempering time jam 11.00 – jam 14.00.
Lakukan pengumpulan dengan cara langsung digulung.
2.3. Analisa Teknis
Kapasitas lapang termasuk salah satu komponen dari kinerja suatu alat. Menurut Daywin et al (1992) ada dua jenis kapasitas lapang yang biasa digunakan dalam pertanian, yaitu kapasitas lapang teoritis dan kapasitas lapang efektif. Kedua jenis kapasitas ini dinyatakan dalam satuan ha/jam. Kapasitas lapang teoritis adalah kemampuan kerja suatu alat di dalam suatu bidang tanah, Perhitungan kapasitas lapang teoritis menggunakan lebar kerja mesin dan kecepatan teoritis. Kapasitas lapang efektif merupakan rata-rata dari kemampuan kerja mesin di lapang untuk menyelesaikan suatu bidang tanah atau jumlah dari produktivitas yang benar-benar terjadi saat bekerja. Kehilangan kapasitas merupakan perhatian sangat penting bagi operator mesin, karena dapat mempengaruhi pendapatan dan sumber daya. Kehilangan kapasitas dipengaruhi oleh waktu hilang, waktu tidak beroperasi, dan mengoperasikan mesin kurang dari lebar kerja maksimum (Field & Solie, 2007).
perlu disesuaikan dengan keperluan untuk memperhitungkan hasil pengolahan pasca panen sehingga lebih efektif dan efisien.
Pengeringan dengan menggunakan lantai jemur dilakukan dengan penumpukan padi setebal 3 – 5 cm pada musim hujan atau 5 – 7 cm pada musim kering. Gabah yang ditumpuk tidak dalam bentuk padat melainkan sebagian volumenya juga akan berisi udara dan tidak rapat berkisar 20-25% (Firmansyah, 2006). Berdasarkan ketebalan penumpukannya dapat dihitung kapasitas penjemuran per meter persegi (1m x 1m ) lantai jemur, yaitu :
Volume total = P x L x T
Dengan demikian, Setiap satu meter per segi lantai jemur, gabah yang bisa dikeringkan adalah sebanyak ± 32 – 45 kg pada musim kering. Dengan metode penghitungan yang sama didapatkan juga perkiraan kapasitas pengeringan pada musim hujan yaitu ± 19 – 32 kg gabah. Kapasitas penjemuran pada lantai jemur beton maupun lantai jemur dengan plastik terpal adalah sama. Hal ini dikarenakan kapasitas penjemuran tidak ditentukan berdasarkan jenis media penjemuran melaikan ditentukan oleh luas permukaan media jemur dan beberapa faktor lain seperti cuaca. Perhitungan ini tidak dapat mutlak dipastikan karena pengeringan dengan media lantai jemur (tanpa mesin) ini sangat memungkinkan terjadinya human error misalnya pada penumpukan gabah yang tidak merata.
2.4. Analisa Finansial
Menurut Daywin et al (1992) analisis biaya alat dan mesin pertanian terdapat dua komponen biaya yakni biaya tetap (fixed cost atau owning cost) dan biaya tidak tetap (variable cost atau operating cost). Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tetap pada suatu perioda dan tidak tergantung pada jumlah produk/jam kerja mesin. Biaya tetap terdiri dari biaya penyusutan, bunga modal dan asuransi, biaya pajak, biaya gudang/garasi, biaya beban listrik, dan lain-lain. Biaya penyusutan bervariasi menurut umur design dan perkiraan umur pemakaian dari alat atau mesin. Penyusutan didefinisikan sebagai penurunan dari nilai suatu alat akibat pertambahan umurnya.
Biaya tidak tetap atau biaya operasi ini bervariasi menurut pemakaian. Biaya ini sangat dipengaruhi oleh jam pemakaian. Biaya tidak tetap meliputi biaya bahan bakar, biaya pemeliharaan preventif,biaya perbaikan, dan biaya operator. Pengeringan dengan lantai jemur tidak menggunakan mesin. Jadi biaya yang perlu diperhatikan hanyalah biaya tetap awal pembuatan dan biayab operasional tiap kali pengeringan.
Adapun analisis finansial pengeringan dengan latai jemur menggunakan media beton menggunakan analisis biaya awal bangunan(sipil) dengan asumsi luas 178.5 m2yaitu :
Tabel 1. Anggaran Pembangunan Lantai Jemur Sebagai Media Pengeringan
(sumber : anggaran biaya pembangunan lantai jemur kabupaten dana APBD II / dak tahun anggaran 2012 desa pule kecamatan tikung - kabupaten lamongan)
Gambar 2. Lantai Jemur Beton
Dengan menggunakan asumsi luas yang sama kita dapat menghitung juga biaya awal yang harus dikeluarkan pada pemebelian plastic terpal sebagai media penjemuran, yaitu :
Tabel 2. Anggaran PLastik Terpal sebagai Media Pengeringan
No Uraian pekerjaan Volume Satuan Harga
Satuan (Rp)
Jumlah Harga
(Rp)
1 Plastik terpal 6m x 8m 3.72 pieces 320.000 1.190.400
TOTAL ANGGARAN 1.190.400
BAB 3
PELAKSANAAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di lahan padi sawah milik PT. Bumi Waras di Desa
Pule Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan
,
Provinsi Jawa Timur. Waktupelaksanaan penelitian yaitu pada bulan April 2011 - Juni 2011.
3.2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan melakukan analitik pencatatan hasil penjemuran gabah yang telah diukur ketebalan penumpukannya dan durasi lamanya penjemuran serta mencatat keterangan kondisi cuaca pada saat penjemuran.
BAB 4
4.1 Hasil
Kapasitas gabah yang dapat dikeringkan tiap satu meter per segi lantai jemur adalah ± 32 – 45 kg pada musim kering. Dengan metode penghitungan yang sama didapatkan juga perkiraan kapasitas pengeringan pada musim hujan yaitu ± 19 – 32 kg gabah. Selama rata-rata 2 hari penjemuran pada musim kering dimana suhu berkisar 32-36 oC.
Anggaran pembangunan lantai jemur sebagai media jemur berdimensi 178.5 m2 adalah Rp.8.781.200 (delapan juta tujuh ratus delapan puluh satu ribu dua ratus
rupiah) untuk umur pakai 20 tahun. Sedangkan, anggaran pembelian plastik terpal sebagai media jemur berdimensi 178.5 m2 adalah Rp.1.190.400 untuk umur pakai
maksimum 2 tahun.
Kapasitas gabah yang dapat dikeringkan tiap meter persegi adalah 32 – 45 kg. Dengan demikian, pada lantai jemur berdimensi 178.5 m2 gabah yang dapat
lebih untuk penjemuran harus menggunakan metode lain seperti metode pengeringan buatan dengan menggunakan box dryer dan lain-lain untuk menjaga kualitas hasil panen mereka.
Petani dengan kapasitas hasil panen kurang dari 10 ton masih memungkinkan dan cukup dianjurkan untuk memggunakan metode ini. Hal ini tersebut dikarenaka metode ini cukup efektif untuk petani dengan hasil panen skala kecil. Biaya awal pembangunan lantai jemur yang cukup mahal dinilai setimbang apabila diukur dari umur pakainya yang cukup lama. Penggunaan terpal sebenarnya cukup praktis, akan tapi apabila dilihat dari umur pakainya yang hanya 2 tahun, media ini akan merugikan bagi petani skala besar. Petani akan lebih baik jika petani menggunakan lantai jemur beton permanen apabila hendak menggunakan metode pengeringan dengan lantai jemur. Selain itu, pembelian mesin pengering buatan oleh petani padi harus dipertimbangkan karena biaya operasional dan biaya perawatannya yang mahal, terutama petani padi skala kecil akan memerlukan biaya awal besar serta kemungkinan tidak tepat guna atau tidak digunakan optimal.
Anonim. 2012. Sekam Padi Kulit Gabah. http://www.artikelbagus.com . Diakses pada 2 Maret 2015
Daywin, J.F., Sitompul, G., & Hidayat, I. 1992. Mesin-mesin Budidaya Pertanian. Bogor (ID): IPB Pr.
Desrosier, N.W. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. Diterjemahkan oleh M.Muljohardjo. UI-Press, Jakarta
Fernandy, G. 2012. Pengaruh Suhu Udara Pengering dan Komposisi Zeolit 3A Terhadap Lama Waktu Pengeringan Gabah pada Fluidized Bed Dryer. http://kreatifmahasiswa.com . Diakses pada 2 Maret 2015
Firmansyah, I.U., S. Saenong, B. Abidin, Suarni, dan Y. Sinuseng. 2006. Pedoman Penanganan Pasca Panen Padi. Laporan Hasil Penelitian, Balai Penelitian Tanaman. Maros. P 1-5
Irawan, A. 2011. Modul Laboratorium Pengeringan. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Jindal, 1998. Food Process Engineering I , Agricutural and Food Engineering Program. Asian Instute of Technology, Bangkok, Thailand.
Kusumawati, W.D., Susrusa, B.K., Wulandira, A. 2012. Studi Perbandingan Kinerja Penggilingan Padi (Rice Milling Unit) dengan dan Tanpa Pengering Buatan. Tabanan. E-Journal Agribisnis dan Agrowisata.
Sutrisno, Wahyudi. 2001. The Technical and Economical Performance of The “ABC” Type Paddy Dryer. Indonesian Journal of Agricultural Science. Vol.2, No.2, Oktober 2001.Agency for Agricultural Research and Development.