• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SKRIPSI"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI POLITIK INCUMBENT

DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH LANGSUNG DI KABUPATEN KONAWE SELATANTAHUN 2010

S K R I P S I

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Ilmu Politik pada Jurusan Ilmu Politik Pemerintahan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Oleh :

VERAYANTI SUMULE E111 06 026 ILMU POLITIK

JURUSAN POLITIK PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

STRATEGI POLITIK INCUMBENT

DALAM PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DI KABUPATEN KONAWE SELATAN TAHUN 2010

Nama : VERAYANTI SUMULE

Nomor Pokok : E 111 06 026

Jurusan : Politik Pemerintahan Program Studi : Ilmu Politik

Skripsi ini dibuat Sebagai Salah Satu Syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Politik pada Program Studi Ilmu Politik, Jurusan Politik-Pemerintahan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin

Makassar, 08 Agustus 2012

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Muhammad Saad, MA Dr. Gustiana A. Kambo, M.Si NIP. 19550128 198502 1 001 NIP. 19730813 199803 2 001

Mengetahui :

Ketua Jurusan Ilmu Politik – Pemerintahan Ketua Program Studi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Ilmu Politik

Universitas Hasanuddin

(3)

HALAMAN PENERIMAAN

STRATEGI POLITIK INCUMBENT

DALAM PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DI KABUPATEN KONAWE SELATAN TAHUN 2010

Nama : VERAYANTI SUMULE

Nomor Pokok : E 111 06 026

Jurusan : Politik Pemerintahan Program Studi : Ilmu Politik

Telah diterima dan disetujui oleh Panitia Ujian Sarjana

Ilmu Politik pada Program Studi Ilmu Politik Jurusan Politik Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Hasanuddin

Makassar, 13 Agustus2012

Panitia Ujian Sarjana

Ketua : Dr. Muhammad Saad, MA (………...)

Sekretaris: Sakinah Nadir, S.Ip, M.Si (………...)

Anggota :Dr. Gustiana A. Kambo, M.Si (………...)

Prof. Dr. Kausar Bailusy, M.A. (………...)

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena

berkat limpahan kasih-Nya sehingga penulis dapat merampungkan skripsi ini.

Semoga kasih-Nya itu senantiasa menyertai langkah kehidupan kita.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.

Demokrasi langsung yang dianut di Indonesia dewasa ini berdampak pada

maraknya terjadi rangkap jabatan politik yang dilakukan oleh kepala daerah.

Melihat fenomena ini, maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Strategi Politik Incumbent dalam Pemilihan Kepala Daerah Langsung di Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2010”.

Skripsi ini merupakan persembahan sederhana dari penulis untuk

kedua orang tua penulis yang terkasih. Bapak Andarias Sumule, SE dan

Ibu Norpa Daud Panggalo, terima kasih atas kasih sayang, kepercayaan, kesabaran dan dukungan yang tiada hentinya. Do’a yang kalian panjatkan

senantiasa memberi kekuatan bagi penulis, semoga Tuhan senantiasa

melimpahkan berkat dan kasih-Nya kepada bapak dan ibu serta memberikan

penulis kesempatan untuk membahagiakan dan membalas segenap cinta

kasihmu. Untuk adikku terkasih Tyan, terima kasih atas dukungannya, rasa rindumumemberikusemangat,don’t stop to be a student. Segenap keluarga

besarku di Kendari, Kakek&Nenek, Para Tante& Para Om, Para

(5)

selama ini diberikan, Keluarga di Makassar, Oma&Opabesertaanak&cucu,

terimakasihsudahmenjadi orang tuakuselama di Makassar,

jugabuatnasehat-nasehatnya, sesuatu yang tidakakanpenulisdapatkanjikaberada di tempat

lain. Taklupabuatsobatku di Kendari yang selalumendukungkudarijauh, Nova,

we have a big dream so let’s make it happen. Last but not Least, buat“sesuatu” yang sampaisaatinibelumpenulisdapatkannama yang cocokuntukmenyebutmu, terimakasihbuatsetiapdukungan, semangat,

bantuan, danhal lain yang

begitubanyaksudahkaulakukanuntukkusehinggatidakdapatdisebutkansatuper

satu, semogajalaninisampaipadatujuannya, jugakeluargamu yang memberikubanyaknasehat, I have a new family yang menganggapkubukan

orang baru, thank you so much for it.

Skripsi ini tidak akan dapat penulis rampungkan tanpa bantuan dari

berbagai pihak. Sadar akan hal ini maka pada kesempatan ini penulis ingin

menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya

kepada :

1. Bapak Dr. Muhammad Saad, MA selaku pembimbing I dan

Penasehat Akademik selama penulis menjalani aktivitas

perkuliahan, terima kasih atas waktu, arahan dan perhatian

yang selama ini telah diberikan.

2. Ibu Dr. Gustiana A. Kambo, M.Si selaku pembimbing II dan

Ketua Program Studi Ilmu Politik, terima kasih atas arahan,

bimbingan, perhatian, bantuan dan motivasi yang penuh

(6)

bersahajanya sangat penulis

hargai.Terimakasihbusudahmenjaditemanterbaikkudipenghujun

gperjuanganku. Semogapertemananinisenantiasaterjalin.

3. Seluruh dosen pengajar baik di lingkungan Program Studi Ilmu

Politik maupun di lingkungan FISIP UNHAS yang telah

membagi pengetahuan kepada penulis selama mengikuti

perkuliahan.

4. Staf pegawai di Jurusan Politik pemerintahan (Bu’ Hasnah, Bu’

Irma, Bu’ Nanna) dan FISIP UNHAS (K’Ija, Bu’ Aisyah, Bu’ Ida,

Pak Mur) yang telah memberikan banyak bantuan kepada

penulis.

5. Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Fisip Unhas

(HIMAPOL FISIP UNHAS) terutama saudara-saudaraku

IDEOLOGI 2006,PMKO FISIP UNHAS terima kasih sudah menjadi tempat untuk mendewasakan imanku.My Best Friend “Lumuters”,

ternyatasahabatitubukanhanyaadadisaatkitamembutuhkan,

namunsaattidakdibutuhkan pun diatetapada. Keluarga besar KKN Gelombang 77 UNHAS tahun 2010 Kec. Camba

terkhusus bagi posko Desa Cenrana dan juga segenap warga

Desa Cenrana I have many wonderful moment with you’re all. 6. Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Konawe Selatan (Drs. H.

Imran, M.Si dan Drs. Sutoardjo Pondiu, M.Si)serta staf Kantor

Bupati Kabupaten Konawe Selatan, Ketua KPUD Konawe

(7)

Kabupaten Konawe Selatan, Kepala Kesbang Kabupaten

Konawe Selatan. Terima kasih atas bantuan yang diberikan. Serta semua pihak yang telah membantu penulis.

Semoga Tuhan Sang PemilikKehidupanini membalas semua

kebaikan Bapak/Ibu/Saudara (i). Semoga segala yang telah

dilakukan bernilai ibadah di sisiNya. Amin

Salam Kasih,

Makassar, 13 Agustus 2012

Verayanti Sumule

ABSTRAKSI

Verayanti Sumule, Nomor Pokok E 111 06 026, dengan judul “Strategi Politik Incumbent dalam Pemilihan Kepala Daerah Langsung di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010” : di bawah bimbingan Dr. Muhammad Saad, MA sebagai pembimbing I dan Dr. Gustiana A. Kambo, M.Si sebagai pembimbing II.

(8)

melakukan rangkap jabatan politik. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis memfokuskan penelitian tentang: strategi politik incumbent dalam pemilihan kepala daerah langsung di Kabupaten Konawe Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai bentuk strategi politik yang dijalankan oleh incumbent dalam pemilihan kepala daerah langsung di Kabupaten Konawe Selatan. Ada duakonsepteoriyang digunakan dalam penelitian ini yaitu konsepstrategi defensive dankonsepstrategiofensif.

Penelitian ini didasarkan pada penelitian kualitatif, dengan tipe penelitian deskriptif analisis. Data primer dikumpulkan melalui wawancara yang dilakukan dengan informan. Data sekunder dikumpulkan melalui literatur-literatur dan artikel yang relevan dengan penelitian ini.Penelitianinidilakukan di KabupatenKonawe Selatan yang merupakan salah satu daerah pemekaran di Propinsi Sulawesi Tenggara. Ketika menjadi daerah pemekaran menjadi Kabupaten Konawe Selatan, tentu akan dipimpin oleh seorang Bupati. Pemilihan kepala daerah yakni Bupati ini merupakan satu contoh dari berjalannya sistem desentralisasi, dimana daerah telah memiliki otonomi untuk mengatur daerahnya sendiri. Selain itu, mempercepat berjalannya good governance karena rakyat terlibat langsung dalam memilih kepala daerahnya.Namun, the regional election yang telah berlangsung hingga saat ini masih belum sepenuhnya sesuai harapan. Pilkada masih semata-mata hanya sebagai sarana untuk memperoleh kekuasaan, karenanya warna dominan dari pilkada adalah praktek money politics dan pelanggaran etika politik lainnya yang dilakukan oleh para kandidat. Setidaknya ada empat fenomena yang cenderung negatif dari pelaksanaan pilkada yakni angka golput tinggi, incumbent/birokrat cenderung menang pilkada, konflik, dan koalisi partai.Untuk itu, pada pilkada Konawe Selatan ini kita akan menganalisis strategi calon incumbent yang akan kembali maju pada pemilihan bupati Konawe Selatan bulan Mei tahun 2010 yakni H. Imran, M.Si yang merupakan elit politik dari Partai Demokrat.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PENERIMAAN ………. iii

(9)

ABSTRAKSI ... viii

C. Pemilihan Umum Kepala Daerah ………... 20

D. Kerangka pemikiran ………..……... 24

B. Kondisi Politik dan Pemerintahan Kabupaten Konawe Selatan ... 39

C. Data Jumlah Daftar Pemilih Tetap ………..………... 41

D. Gambaran Umum Objek Penelitian ………...……….…... 42

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Strategi Koalisi Partai Politik ……… 49

B. Strategi Kampanye Politik ...……… 55

(10)

B. Saran ………..……….. 64

DAFTAR PUSTAKA ……… 66

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

Penyelenggaraan pemerintahan dan politik di tingkat lokal mengalami

pergeseran, bahkan perubahan yang luar biasa sejak Juni 2005. Kepala

daerah yang sebelumnya dipilih secara tidak langsung oleh anggota

parlemen daerah, dipilih secara langsung oleh rakyat melalui proses

(11)

Pemilihan umum kepala daerah atau yang biasa disebut dengan

Pemilukada ini, merupakan salah satu wujud dari sistem demokrasi yang

dianut oleh Negara Indonesia. Dalam proses ini diadakan pemilihan umum

kepala daerah secara langsung oleh rakyat, yang mana sebelumnya hanya

menjadi penonton tetapi berubah menjadi pelaku dan penentu.

Perubahan yang signifikan ini tentu membawa dampak yang luar

biasa, baik di tingkat elit partai dan para pemilih itu sendiri yakni rakyat. Elit

politik yang kemudian akan menjadi bagian dalam sebuah proses pemilihan

umum, akan bersaing untuk memperoleh kedudukan sebagai seorang

pemimpin khususnya dalam sebuah daerah. Mereka akan berkompetisi

untuk memperoleh dukungan atau suara terbanyak dari rakyat sehingga

dalam perebutan kekuasaan ini, para aktor atau elit politik tersebut

menggunakan berbagai macam cara atau strategi. Begitupun dengan rakyat

sebagai kelompok orang yang akan dipimpin, tentu memiliki peran penting

dalam sebuah pemilihan umum, sehingga terjadi interaksi antar kedua unsur

penting ini agar sistem demokrasi yang dianut dapat benar-benar terwujud

dalam sebuah pemilihan umum kepala daerah dan dimaksudkan untuk

meminimalisasi terjadinya pembajakan otoritas dari rakyat oleh para wakil di

lembaga-lembaga perwakilan. Hal ini terjadi karena di dalam pemilihan

umum secara langsung, rakyat dapat menentukan pemimpin-pemimpin yang

mereka kehendaki secara lebih otonom. Meskipun dalam menetapkan

pilihannya, rakyat tidak sepenuhnya otonom. Hal-hal lain seperti ideologi,

(12)

berperan untuk memberikan pengaruh terhadap pilihan rakyat. Tetapi

adanya prosedur bahwa dapat menentukan pilihannya di bilik-bilik

pemungutan suara secara jujur dan adil, akan lebih memungkinkan para

pemilih lebih otonom.

Selain itu, pemilihan umum secara langsung juga dimaksudkan agar

para pemimpin yang terpilih itu memiliki akuntabilitas yang lebih besar

kepada rakyat yang memilihnya. Para pemimipin itu, paling tidak, akan

mengingat bahwa yang mendudukkan diri mereka sebagai pemimpin itu

bukanlah sekelompok kecil orang, melainkan para pemilih. Konsekuensinya,

secara teoritis, pemilihan secara langsung akan menjaring

pemimpin-pemimpin yang memiliki program lebih baik, serta akan berusaha

mengimplementasikan program-program itu ketika benar-benar terpilih. Jika

tidak maka sulit bagi pemimpin tersebut untuk dapat kembali memperoleh

kekuasaan jika mengikuti lagi kompetisi dalam pemilihan umum di daerah.

Seperti halnya di Kabupaten Konawe Selatan, sebagai salah satu

daerah atau wilayah pemekaran dari Kabupaten Konawe di Propinsi

Sulawesi Tenggara, tentu menyelenggarakan pemilihan umum kepala

daerah sebagai wujud demokrasi di tingkat daerah dan berada dalam satu

gerbong dengan UU tentang Pemerintahan Daerah, baik secara administratif

maupun politik, yaitu di dalam UU No. 32 tahun 2004. Sehingga dalam

pemilukada ini, masyarakat di Konawe Selatan memilih Bupati dan Wakil

(13)

Terdapat empat pasangan calon bersaing untuk mendapatkan

kedudukan sebagai pemimpin di Kabupaten Konawe Selatan. Pasangan

calon ini tentunya memiliki visi dan misi yang berbeda guna kemajuan

masyarakat di Konawe Selatan. Untuk itu, para calon ini mempersiapkan

cara atau strategi politiknya untuk meraup dukungan sebanyak-banyaknya

dari masyarakat. Di antara para pasangan calon yang bersaing dalam

pemilukada di Konawe Selatan tahun 2010, terdapat satu incumbent, yakni

H. Imran, M.Si yang telah menjabat menjadi Bupati Konawe Selatan pada

periode sebelumnya dan kembali bersaing dengan tiga pasangan calon

lainnya agar dapat terpilih kembali untuk periode 2010-2015. Selama

menjabat sebagai bupati pertama di Konawe Selatan, Imran telah

memperlihatkan kinerjanya sehingga hal ini dapat menjadi sebuah modal

baginya untuk kembali bersaing dalam pemilukada di Konawe Selatan tahun

2010.

Untuk itu, dalam pemilukada kali ini Imran menempatkan strategi

yang dapat membuatnya kembali memenangkan posisi sebagai Bupati

Konawe Selatan, antara lain kampanye politik dan koalisi partai. Kedua

strategi ini diharapkan mampu mewujudkan cita-cita politik incumbent,

karena itu harus ada pemilihan kampanye politik dan koalisi partai yang

tepat sebagai bentuk strategi untuk memenangkan pemilukada bupati di

Konawe Selatan.

Strategi kampanye politik yang digunakan harus benar-benar sesuai

(14)

melakukan pemasaran program agar membuat rakyat memilih dirinya

sebagai pemimpin di daerah. Dalam pemasaran program ini terdapat

tahapan-tahapan yang disusun terlebih dahulu melalui tim sukses yang

dibentuk oleh incumbent. Hal ini dimaksudkan agar sasaran dan tujuan yang

ingin dicapai dapat terlaksana.

Selain itu, strategi yang digunakan oleh incumbent adalah melalui

kendaraan politiknya yakni partai politik. Imran saat ini tercatat sebagai

ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Tenggara, yang kita ketahui bahwa

jumlah suara partai ini meningkat pada pemilu tahun 2009. Selain itu, partai

lain yang menjadi kendaraan politik Imran adalah PAN yang diketahui juga

berhasil memenangkan pemilukada untuk pemilihan Gubernur dan Wakil

Gubernur Propinsi Sulawesi Tenggara. Kedua partai ini kemudian tergabung

dalam sebuah koalisi terkait keiukutsertaan incumbent dalam pemilukada

bupati Konawe Selatan. Koalisi ini dianggap tepat mengingat perolehan

suara kedua partai ini unggul dalam beberapa pemilukada di Propinsi

Sulawesi Tenggara.

Secara kualitatif, Imran memang memiliki kans yang lebih besar

dibanding calon lainnya karena ia sudah tentu popular dibanding pasangan

calon lainnya. Imran juga memiliki investasi sosial politik yang cukup besar

yang diperlihatkannya selama ia menjabat sebagai Bupati Konawe Selatan

periode sebelumnya. Hal-hal inilah yang menjadi faktor pendukung

kemenangan Imran untuk kembali menjabat sebagai Bupati Konawe

(15)

Namun kemenangan Imran tidak begitu saja diterima oleh ketiga

pasangan calon Bupati yang lainnya. Mereka menganggap incumbent ini

menggunakan cara-cara yang menyimpang dari aturan, dimana incumbent

menggunakan kekuasaannya sebagai Bupati Konawe Selatan untuk

melakukan pendekatan-pendekatan secara tidak benar, seperti melakukan

pemecatan kepada tujuh kepala Desa di Kecamatan Mowila. Hal ini

mengundang reaksi dari para kepala desa yang dipecat karena mereka

merasa selama menjabat tidak melakukan kesalahan dan menuding bahwa

pemecatan ini dilakukan secara sepihak. Dan disinggung mengenai

pencalonan incumbent, mereka mengaku memang tidak mendukung

incumbent tersebut untuk kembali maju dalam pemilihan Bupati Konawe

Selatan untuk periode berikutnya.

Namun, hal tersebut tidak menghambat langkah incumbent untuk

tetap maju dalam pemilihan dan hasilnya incumbent kembali memperoleh

kemenangan dengan perolehan suara sebesar 43,56%. Tetapi hal ini tidak

begitu saja diterima oleh masyarakat, sehingga mereka menggugat hasil

pemilukada yang dikeluarkan melalui rapat pleno KPU Konawe Selatan

pada 17-18 Mei 2010.1 Gugatan ini disertai bukti-bukti pelanggaran strategi

politik yang dilakukan oleh incumbent tesebut, sehingga pemilukada ini

diulang pelaksanannya dan menetapkan kembali H. Imran, M.Si sebagai

peraih suara terbanyak sebesar 52,15%. Ini merupakan kemenangan kedua

kalinya bagi Imran sehingga menarik untuk diteliti mengenai strategi yang

digunakan dalam pemilukada ini. Selain itu, perolehan suara yang diperoleh

(16)

oleh incumbent mengalami peningkatan sekitar 9% dan membuat catatan

baru yakni memperoleh suara terbanyak atau kemenangan di semua

kecamatan yang ada di Konawe Selatan. Hal ini dikarenakan strategi politik

yang digunakan oleh pasangan incumbent ini, yang mana mayoritas

masyarakat Konawe Selatan secara kompetensi, puas dengan kinerja

Imran-Sutoardjo dalam memimpin Konawe Selatan pada periode pertama.

Kemudian secara personality, figur Imran lebih dikenal dibanding para calon

lainnya.

Untuk kembali memperoleh kekuasaan semula, tidaklah mudah

karena banyak hal yang harus dilakukan untuk dapat mempertahankan dan

memperoleh dukungan yang pernah didapatkan. Kepercayaan yang

diberikan rakyat di Konawe Selatan pada pemilihan sebelumnya

membutuhkan pembuktian sebagai perwujudan janji semasa kampanye

dulu. Hal ini dimaksudkan agar dukungan dari masyarakat tetap ada agar

kekuasaan yang akan kembali diperebutkan dapat diperoleh.

Hal ini yang kemudian yang menjadi tantangan bagi seorang

incumbent. Mempertahankan dukungan dan kepercayaan dari masyarakat

tidaklah mudah karena membutuhkan cara-cara yang tepat untuk dapat

mengkomunikasikan program-program kerja yang disusun demi kemajuan

hidup masyarakat. Incumbent membutuhkan strategi yang tepat agar dapat

memenangkan pemilihan, selain itu strategi politik yang digunakan harus

mampu menampilkan perbedaan yang positif bagi incumbent agar kualitas

(17)

pesaing-pesaingnya. Incumbent harus dapat menampilkan suatu hal yang dapat

menjadi keuntungan-keuntungan bagi masyarakat.

B. RUMUSAN MASALAH

Dari pemaparan di atas, dapat dirumuskan beberapa rumusan

masalah yakni sebagai berikut :

1. Bagaimana strategi pemanfaatan koalisi partai politik memberikan

pengaruh terhadap kemenangan incumbent dalam pemilukada di

Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010?

2. Bagaimana strategi kampanye politik dapat membuat incumbent

memperoleh kemenangan dalam pemilukada di Kabupaten Konawe

Selatan tahun 2010?

C. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan

untuk:

1. Untuk mendeskripsikan strategi politik yang digunakan incumbent

dalam pemilihan umum Bupati dan Wakil Bupati Konawe Selatan

(18)

2. Untuk menjelaskan bagaimana strategi politik memberi pengaruh

terhadap kemenangan incumbent dalam pemilukada di Kabupaten

Konawe Selatan tahun 2010.

D. KEGUNAAN PENELITIAN

1. Manfaat akademik

a. Sebagai tambahan literatur atau bahan kajian dalam studi ilmu

politik.

b. Sebagai bahan informasi ilmiah bagi peneliti-peneliti yang ingin

mengetahui strategi politik incumbent dalam pemilukada

Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010. 2. Manfaat praktis

a. Sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam memilih

dan menentukan kepala daerah guna terciptanya interaksi

politik yang memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat

selanjutnya.

b. Memberikan pendidikan politik kepada masyarakat sehingga

kehidupan berpolitik masyarakat lebih baik kedepannya,

terutama dalam membentuk sikap dan tingkah laku politik

mereka.

c. Sebagai masukan bagi para kompetitor pemilukada di

Kabupaten Konawe Selatan pada periode berikutnya agar

menjalankan amanah konstitusi dan menjunjung nilai-nilai

demokrasi serta merealisasikan visi misi yang disosialisaikan

kepada masyarakat agar terciptanya sebuah keseimbangan

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bagian ini akan membahas tentang konsep-konsep yang sesuai

dengan topik, judul, fokus penelitian. Dari konsep inilah yang akan menjadi

kerangka berfikir dari perumusan pelaksanaan studi, kajian, dan penelitian

yang akan di bahas.

A. KONSEP STRATEGI POLITIK

Strategi berasal dari bahasa Yunani klasik, yaitu “stratos” yang artinya tentara dan kata “agein” yang berarti memimpin. Dengan demikian, strategi

dimaksudkan adalah memimpin tentara. Lalu muncul kata strategos yang artinya pemimpin tentara pada tingkat atas. Jadi, strategi adalah konsep

militer yang bisa diartikan sebagai seni perang para jenderal, atau suatu

rancangan yang terbaik untuk memenangkan peperangan.

Seperti yang dikemukakan oleh Karl Von Clausewitz yang

merumuskan strategi sebagai suatu seni yang menggunakan sarana

pertempuran untuk mencapai tujuan perang, sementara Martin – Anderson

merumuskan strategi sebagai seni yang melibatkan kemampuan

inteligensi/pikiran untuk membawa semua sumber daya yang tersedia untuk

mencapai tujuan dengan memperoleh keuntungan yang maksimal dan

efisien.2 Strategi kemudian dikembangkan oleh para praktisi yang

(20)

menghasilkan gagasan dan konsepsi yang didasari oleh keilmuwan

masing-masing.

Seperti halnya para praktisi ilmu politik mencoba mendefinisikan

strategi di dalam pertempuran politik. Strategi politik seperti pada semua

pertempuran-pertempuran yang kompleks, setiap orang berlaku sesuai

dengan rencana yang dipahami lebih dahulu, kurang lebih rencana yang

sudah terolah dimana setiap orang membuat antisipasi bukan saja dalam

serangan-serangannya, akan tetapi juga tentang jawaban-jawaban

lawannya dan alat-alat untuk menyelesaikannya. Rencana perjuangan ini

merupakan strategi; unsur-unsur yang berbeda yang ada di dalamnya,

tindakan melawan musuh dan jawaban terhadap reaksinya merupakan

taktik.

Strategi politik itu sendiri memiliki tujuan yakni untuk mewujudkan

segala rencana yang telah disusun. Ini kemudian menjadi satu fokus utama

dalam sebuah pemilihan yakni perolehan suara terbanyak sebagai bentuk

kemenangan untuk memperoleh kekuasaan. Kekuasaan inilah yang menjadi

tujuan dari sebuah strategi karena merupakan kemenangan politik yang

dapat digunakan dalam sebuah sistem politik.

Strategi politik itu sendiri adalah sebuah cara yang telah dipahami

dan disusun terlebih dahulu untuk merealisasikan cita-cita politik yang

digunakan untuk perubahan jangka panjang. Misalnya strategi politik yang

(21)

Konawe Selatan, dimana hasil yang diperoleh kemudian akan menentukan

bagaimana kinerja pemerintahan di daerah tersebut berlangsung untuk lima

tahun ke depan.

Perencanaan strategi politik merupakan suatu analisa yang jelas dari

keadaan kekuasaan, gambaran yang jelas mengenai tujuan akhir yang akan

dicapai dan pemusatan segala kekuatan untuk mencapai tujuan yang

dimaksud.

Dalam pendeskripsian strategi politik, maka penulis merasa perlu

untuk membatasi pada strategi politik yang digunakan untuk pemenangan

pemilukada dalam hal ini yakni strategi ofensif dan strategi defensif. Hal ini

mengingat bahwa pemaknaan terhadap strategi politik tidak hanya pada

pemenangan pemilukada saja tetapi juga tentang sebuah perencanaan

untuk kinerja sistem dalam struktur politik yang akan terbentuk. Kedua

strategi inilah yang akan digunakan sebagai unit analisa dalam hal pemilihan

strategi politik.

a. Strategi Ofensif

Strategi ini dibutuhkan apabila partai politik ingin meningkatkan

jumlah pemilihnya, harus ada pandangan positif terhadap hal tersebut

sehingga cara yang dapat digunakan adalah melalui kampanye politik.

Strategi kampanye adalah suatu proses yang dirancang secara

(22)

tentu dengan tujuan mempengaruhi khalayak sasaran yang telah

ditetapkan.3

Setiap kampanye politik adalah suatu usaha hubungan masyarakat.

Tugasnya adalah membujuk sejumlah pemberi suara yang sudah terdaftar

untuk mendukung calon. Kampanye yang berorientasi pada hubungan

masyarakat, berusaha merangsang perhatian orang kepada sang calon. Ia

mencoba meningkatkan identifikasi dan citra sang calon di antara kelompok

pemberi suara, menyebarluaskan pandangan sang calon tentang berbagai

masalah penting, dan mendorong para pemberi suara menuju ke tempat

pemilihan untuk memberikan suara kepada sang calon.

Pada dasarnya strategi kampanye politik bertujuan untuk membentuk

serangkaian makna politis tertentu di dalam pikiran para pemilih.

Serangkaian makna politis yang terbentuk dalam pikiran para pemilih

tersebut dimaksudkan untuk memilih kontestan tertentu. Makna politis inilah

yang menjadi output penting dari strategi kampanye politik.

Dalam strategi kampanye politik yang digunakan untuk

mempengaruhi pemilih, yang harus dijual atau ditampilkan adalah

perbedaan terhadap keadaan yang berlaku saat itu serta

keuntungan-keuntungan yang dapat diharapkan daripadanya sehingga dapat terbentuk

kelompok pemilih baru di samping para pemilih yang telah ada. Oleh karena

(23)

itu, harus ada penawaran baru atau penawaran yang lebih baik bagi para

pemilih yang selama ini memilih partai pesaing.

Oleh karena itu, dalam strategi seperti ini perlu dipersiapkan sebuah

kampanye pengantar untuk menjelaskan kepada publik tentang penawaran

mana saja yang lebih baik, dibandingkan dengan penawaran partai-partai

lainnya dan memanfaatkan situasi dan kondisi yang terjadi dalam

masyarakat. Misalnya hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam

mensejahterakan hidupnya, dapat menjadi kunci untuk merumuskan strategi

ini. Partai politik harus lihai dalam melihat celah yang dapat membawa

keuntungan bagi incumbent.

Selain itu, terdapat produk baru yang ditawarkan yaitu politik baru

atau lebih tepatnya keuntungan yang dihasilkan politik baru tersebut perlu

diiklankan atau disebarluaskan kepada masyarakat, misalnya melalui media

massa. Produk politik yang dimaksud membutuhkan sesuatu yang baru atau

deskripsi baru dari keuntungan yang ditawarkan sehingga dapat diperoleh

hasil yang lebih baik dalam mencapai sebuah target, sebagai contoh dalam

pemilihan pertama incumbent memperoleh suara sekitar 43,56%, namun

karena terdapat pelanggaran sehingga pemilihan ini diulang dan kembali

menghasilkan incumbent sebagai peraih suara terbanyak yaitu sekitar

52,15% atau mengalami peningkatan suara sekitar 9%.4 Hal ini menyangkut

adanya produk baru yakni program-program yang ditawarkan oleh

incumbent melalui pemasaran program yang dimiliki secara lebih baik dan

(24)

peningkatan intensitas keselarasan antara program dan individu, seperti

halnya memperbesar tekanan terhadap kelompok-kelompok target.

b. Strategi Defensif

Strategi defensif digunakan apabila partai pemerintah atau sebuah

koalisi pemerintahan yang terdiri atas beberapa partai ingin

mempertahankan mayoritasnya atau apabila perolehan suara yang dicapai

sebelumnya ingin dipertahankan. Strategi ini memanfaatkan koalisi yang

dibangun oleh incumbent sebagai salah satu cara untuk memelihara

dukungan suara.

Membangun koalisi partai harus memiliki perhitungan yang rasional,

misalnya seberapa besar kekuatan yang telah dimiliki oleh partai dan partai

apa yang akan diajak berkoalisi, bagaimana ideologi, kekuatan, dan

kelemahan partai dalam hal massa, serta apa tantangan dan keuntungan

yang dapat diperoleh dengan cara koalisi. Dalam kondisi seperti ini biasanya

muncul broker partai yang bisa menghubungkan kepentingan

masing-masing partai. Koalisi juga menghadirkan tawar menawar antarpribadi elite

politik untuk mendapatkan posisi dalam pemerintahan.

Hal inilah yang kemudian menempatkan strategi ini sebagai strategi

yang khas untuk mempertahankan mayoritas pemerintah yang kemudian

akan membuat partai politik untuk memelihara pemilih tetap mereka dan

memperkuat pemahaman para pemilih sebelumnya terhadap situasi yang

(25)

akan berusaha mengaburkan perbedaan yang ada dan membuat perbedaan

tersebut tidak dapat dikenali lagi. Untuk itu, mereka menggunakan berbagai

rincian strategi yang berbeda.5

Pada pemilihan sebelumnya yang hasilnya memberikan kemenangan

bagi incumbent, tentunya ada daerah-daerah yang merupakan lumbung

suara bagi incumbent yakni daerah-daerah yang memberikan suara

terbanyak atau kemenangan mutlak bagi incumbent. Hal ini yang kemudian

menjadi salah satu tolak ukur bagi incumbent dalam menggunakan strategi

mempertahankan pasar. Artinya para pemilih yang ada di daerah

pemenangan tersebut tetap dikontrol oleh incumbent agar dapat

memberikan kemenangan yang sama pada incumbent.

B. KONSEP INCUMBENT

Menurut Kamus Oxford, incumbent bermakna person holding an official position. Dalam konteks politik, Wikipedia mengartikan incumbent sebagai the holder of a political office. Istilah ini, menurut kamus online

tersebut, digunakan dalam pemilu untuk membedakan pertarungan antara

pemegang jabatan dan bukan pemegang jabatan.6

(26)

Dalam konteks pencalonan incumbent dalam sebuah pilkada, tentu

membutuhkan beberapa modal yang kemudian dapat menjadi satu

kekuatan dalam meraup dukungan atau suara masyarakat. Modal-modal

tersebut yakni modal sosial dan modal politik.

Modal sosial merupakan modal yang didapatkan oleh incumbent

selama menduduki suatu jabatan. Dalam artian, bagaimana selama masa

jabatannya dia membangun interaksi yang baik dengan masyarakat, baik itu

masalah pembangunan, pendidikan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan

kesejahteraan masyarakat.

Modal sosial ini dikumpulkan guna mendapat kepercayaan dari

masyarakat dengan harapan dalam pilkada mendatang incumbent dapat

kembali terpilih. Hubungan-hubungan yang diawali pada masa kampanye

dengan program-program kerja sebagai komitmen awal, tentu akan menjadi

gerbang dalam mengumpulkan modal sosial untuk pilkada selanjutnya.

Kedua adalah modal politik, salah satunya yaitu penggunaan

kendaraan politik yakni partai politik dalam proses pencalonan. Partai politik

dianggap mampu berperan sebagai tempat pengkaderan regenerasi

kepemimpinan dalam sebuah sistem politik, yang mana dianggap mampu

memberikan pendidikan politik yang dapat menjadi modal bagi para calon

kepala daerah.

Dalam catatan yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI),

dari para incumbent yang ikut dalam pilkada, 60% terpilih kembali. Ini berarti

(27)

Incumbent kepala daerah adalah calon yang menduduki jabatan serupa

sebelumnya.

Selain itu, dalam literature ekonomi politik, posisi incumbent di dalam

kontestasi pemilu, termasuk di dalamnya adalah pilkada secara langsung,

sangat menguntungkan. Calon yang bermaksud mempertahankan posisinya

itu disebut sebagai “opportunitic” atau “office-motivated”.

Melalui posisinya, para incumbent itu akan berusaha membuat

kebijakan-kebijakan yang diarahkan untuk memberi kesan kepada para

pemilih bahwa nereka menaruh perhatian yang besar kepada rakyat.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Anthony Downs, pemerintah akan

berusaha memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya, khususnya kekuasaan

di dalam mengalokasikan dan mendistribusikan kekuasaan, untuk

memperoleh simpati dari para pemilih. Di samping itu dimaksudkan sebagai

langkah untuk memenuhi janji-janji yang pernah diucapkan sebelum

menjabat, orientasi kebijakan seperti itu dimaksudkan sebagai bukti kepada

para pemilih bahwa para incumbent itu memang layak untuk dipilih.

Dalam kasus para pemilih telah memiliki informasi yang cukup

mengenai apa yang pernah dijanjikan oleh para Kepala Daerah sebelum

menjabat kali pertama, berikut apa yang telah dikerjakan selama menjadi

Kepala Daerah, prestasi yang telah dilakukan oleh para Kepala Daerah itu

akan menjadi catatan tersendiri dari para pemilih. Para pemilih demikian

tergolong rasional di dalam menentukan pilihan-pilihannya. Kepala Daerah

(28)

mandate dan preferensi-preferensi yang terus berkembang di dalam

masyarakat, akan diberikan hadiah yaitu bisa terpilih kembali.

Secara politik, kegagalan incumbent terpilih sebagai Kepala Daerah

kembali merupakan pertanda bahwa mereka tidak mampu membangun

akuntabilitas kepada masyarakat. Kegagalan ini biasanya berkaitan dengan

persepsi masyarakat bahwa Kepala Daerah tersebut dipandang memiliki

kekurangan-kekurangan di masa kepemimpinannya dan adanya

praktek-praktek penyalahgunaan kekuasaan. Implikasinya, kepercayaan masyarakat

kepada Kepala Daerah itu berkurang. Realitas demikian berimplikasi pada

ketidakmampuan untuk melakukan akumulasi modal sosial.

Sementara itu, Jose Maria Maravall menjelaskan keberuntungan para

incumbent dalam konteks teori principal-agent dan kepolitikan Machiavellian.

Dalam pandangannya, secara teoritis, para incumbent itu bisa terpilih

kembali manakala mereka bisa memainkan perannya sebagai agent, yakni

berusaha membuat kebijakan-kebijakan sesuai dengan preferensi para

pemilih. Relasi seperti ini merupakan salah satu ciri di dalam kehidupan

demokrasi.7

C. PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH (PEMILUKADA)

Salah satu pilar penting dari demokrasi adalah partisipasi. Jika

demokrasi diartikan secara sederhana sebagai suatu pemerintahan yang

(29)

berasal dari, dan untuk rakyat, maka partisipasi merupakan sarana yang

mana rakyat dapat menentukan siapa yang memimpin (melalui pemilihan

umum) dan apa yang harus dikerjakan oleh pemimpin (pemerintah) melalui

keterlibatan dalam proses pembuatan keputusan politik yang mengikat

rakyat banyak.

Dalam hubungannya dengan pengembangan demokrasi, partisipasi

masyarakat sebenarnya tidak hanya sebatas dalam proses menentukan

pemimpin dan apa yang harus dilakukan oleh pemimpin, tetapi juga

menentukan proses demokrasi itu sendiri. Dalam proses transisi dan

konsolidasi demokrasi misalnya, masyarakat mempunyai peran sangat

signifikan dalam menentukan percepatan proses transisi dan konsolidasi

demokrasi melalui berbagai bentuk partisipasi dan gerakan sosial lainnya.

Salah satu bentuk partisipasi politik yang sangat penting dilakukan

oleh warga negara adalah keikutsertaan dalam pemilihan umum. Yang

dimaksud pemilihan umum di sini adalah pemilihan legislatif, pemilihan

presiden, termasuk pemilihan kepala daerah. Oleh karena itu, pemilihan

kepala daerah yang di Indonesia baru dimulai pada bulan Juni 2005, harus

dimaknai sebagai bentuk partisipasi publik yang paling hakiki dan esensial.

Dibanding pemilu legislatif dan presiden, pemilihan kepala daerah

sebenarnya jauh lebih penting bagi masyarakat lokal. Sebab, melalui proses

pemilihan di daerah ini, masyarakat lokal dapat menentukan nasibnya

(30)

pemilihan kepala daerah ini selalu dipahami dalam konteks otonomi daerah,

sebagai upaya masyarakat lokal untuk memperjuangkan aspirasi dan

kepentingannya melalui partisipasi dalam menentukan pemimpin.

Dalam suatu sistem politik yang demokratis, para pemimpin dipilih

langsung oleh rakyat. Para politisi atau pejabat publik sebagai wakil rakyat

akan berbuat maksimal sesuai dengan aspirasi masyarakat. Sebab, dalam

kacamata “mandat”, pilkada yang dilakukan secara regular dapat dijadikan

sebagai sarana untuk menyeleksi kebijakan-kebijakan politik yang baik

sesuai dengan keinginan masyarakat luas. Selama kampanye pilkada dan

pemilu misalnya, para calon bupati menawarkan berbagai isu dan program

untuk mensejahterakan masyarakat, sehingga hal ini menjadi daya tarik bagi

pemilih untuk memilihnya. Kemudian dalam kacamata akuntabilitas, pilkada

merupakan sarana bagi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan

berbagai keputusan dan tindakannya di masa lalu. Konsekuensinya,

pemerintah dan politisi akan selalu memperhitungkan penilaian masyarakat,

sehingga akan memilih kebijakan atau program yang berdampak pada

penilaian positif pemilih terhadap dirinya, agar terpilih kembali pada pilkada

berikutnya.

Pemilihan kepala daerah merupakan proses demokratisasi di daerah

yang mulai memperoleh perhatian yang lebih serius. Menurut Brian C.

(31)

berangkat dari suatu keyakinan bahwa adanya demokrasi di daerah

merupakan prasyarat bagi munculnya demokrasi di tingkat nasional.8

Lebih jauh, berdasarkan studi-studi yang pernah dilakukan di

sejumlah negara di berbagai belahan dunia, Smith mengemukakan empat

alasan menguatnya perbincangan demokratisasi di tingkat daerah di

kalangan akademisi. Pertama, demokrasi pemerintahan di daerah

merupakan suatu ajang pendidikan politik yang relevan bagi warga negara

di dalam suatu masyarakat yang demokratis (free societies). Pemerintah daerah merupakan bagian dari pemerintah yang langsung berinteraksi

dengan masyarakat ketika proses demokratisasi itu berlangsung. Kedua, pemerintah daerah dipandang sebagai pengontrol bagi perilaku pemerintah

pusat yang berlebihan dan memiliki kecenderungan anti demokratis di dalam

suatu pemerintahan yang sentralistis. Ketiga, demokrasi di daerah dianggap mampu menyuguhkan kualitas partisipasi yang lebih baik. Partisipasi politik

di daerah lebih memungkinkan adanya deliberative democracy, yakni adanya komunikasi yang lebih langsung di antara anggota komunitas dalam

berdemokrasi.

Kebijakan sistem pemilihan kepala daerah secara langsung termasuk

cepat dilaksanakan. Meskipun UU No 32 tahun 2004 baru disahkan pada 15

Oktober 2004, pilkada secara langsung sudah dimulai pada 1 Juni 2005.

Suatu rentang waktu yang cukup cepat. Percepatan demikian tidak lepas

(32)

dari fakta adanya kepala daerah yang telah habis masa jabatannya pada

awal 2005. Pada kasus seperti ini, kepala daerah tidak lagi dipilih DPRD.

D. KERANGKA PEMIKIRAN

Imran-Sutoardjo adalah Bupati dan Wakil Bupati terpilih untuk masa

jabatan 2010-2015. Pasangan ini merupakan incumbent dalam pemilukada

di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010. Dalam bersaing untuk

memperoleh kembali kekuasaan tertinggi di Konawe Selatan, incumbent

tentu akan memasang strategi politik yang menjadi kebutuhan utama untuk

bersaing dalam pemilukada di Kabupaten Konawe Selatan. Di dalam politik,

strategi ini digunakan guna memenangkan persaingan sehingga dapat

memperoleh kekuasaan dan dukungan dari masyarakat. Karena itu, dalam

menyusun strategi dibutuhkan rencana yang matang sehingga tujuan yang

telah ditetapkan sejak awal dapat tercapai.

Dalam penyusunan strategi untuk sebuah persaingan dalam

pemilukada, terdapat hal-hal yang harus diperhatikan. Mulai dari

perencanan, tindakan, hingga evaluasi menjadi penting untuk diperhatikan

terlebih dahulu.

Dengan menyusun konsep strategi terlebih dahulu, tentu akan

memudahkan incumbent. Hal ini dapat menjadi mudah bagi incumbent

karena telah memiliki kendaraan politik yang dapat digunakan untuk

membantu perencanaan strategi, seperti partai politik.

Ketika pasangan incumbent ini merencanakan tindakan untuk

(33)

pemilukada, incumbent tentu ingin memenangkan persaingan untuk

memperoleh kekuasaan. Karena itu mereka menyusun strategi

pemenangan.

Strategi pemenangan dapat dilakukan melalui kampanye politik dan

koalisi partai yang merupakan hal penting dalam menjalankan strategi

politik. Kampanye politik bertujuan untuk memberikan makna politis kepada

masyarakat atau pemilih. Makna politis ini menjadi satu output penting

karena dapat menciptakan identitas baru yang khas bagi incumbent dalam

pemilukada.

Untuk itu, dalam kampanye politik dibutuhkan pendekatan dan

komunikasi politik. Pendekatan yang dimaksud adalah bagaimana

incumbent dapat memberi pengaruh (influence) kepada masyarakat, sehingga masyarakat bersedia untuk menjatuhkan pilihannya kembali pada

pasangan incumbent tersebut. Sedangkan komunikasi politik menjadi

penting dalam sebuah perencanaan strategi pemenangan dikarenakan

adanya pemilukada ini tentu menjadi salah satu proses pembelajaran politik

bagi masyarakat, sehingga perlu adanya komunikasi politik yang dapat

membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai politik

khususnya yang berhubungan dengan pemilukada sehingga dapat

menimbulkan kharisma tersendiri di mata masyarakat bagi incumbent.

Selain itu, koalisi partai pun memegang peranan penting dalam

strategi politik untuk pemenangan incumbent. Koalisi partai yang digunakan

(34)

perolehan suara partai politik yang berkoalisi cukup meyakinkan. Karena itu

banyak hal yang dipertimbangkan dalam berkoalisi seperti tawar menawar

antar elite politik untuk posisi atau jabatan di pemerintahan. Karena itu, dari

koalisi ini diharapkan keuntungan yang dapat membawa incumbent

memperoleh dukungan dari masyarakat dan mayoritasnya dalam

pemerintahan tetap utuh.

Hal-hal inilah yang dibutuhkan oleh incumbent untuk dapat kembali

memenangkan hasil pemilukada. Incumbent yang dapat diartikan sebagai

seorang yang memegang posisi strategis dalam pemerintahan atau

pemegang kekuasaan dalam sistem politik, tentu membutuhkan strategi

yang dapat membuatnya kembali memperoleh kekuasaan di daerah.

Sebelumnya telah dikatakan bahwa pemilukada merupakan salah

satu proses pembelajaran politik bagi masyarakat dalam sistem demokrasi.

Untuk itu, incumbent membutuhkan kendaraan politik seperti partai politik

dalam memenangkan pemilukada. Partai politik dapat membantu incumbent

untuk memperoleh dukungan dari masyarakat. Apalagi incumbent dalam

pemilukada Konawe Selatan ini, memiliki basis atau massa yang banyak,

dan juga dalam pemilu presiden yang lalu memiliki suara terbanyak. Hal

inilah yang menjadi kekuatan tersendiri bagi incumbent yang memiliki partai

politik sebagai salah satu kekuatannya untuk memperoleh dukungan.

Pemilukada sebagai tempat atau proses bagi incumbent untuk

memperoleh kekuasaan kembali, merupakan satu tolak ukur kehidupan

(35)

kampanye politik

strategi

ofensif

koalisi partai politik

strategi

yang keberhasilan sistem demokrasinya diukur dari kesuksesan jalannya

sebuah pemilihan umum termasuk pemilukada. Dikarenakan dalam

pemilukada, setiap masyarakat yang telah wajib memilih mempunyai hak

atau kesempatan untuk memilih pemimpin mereka secara langsung. Ini

yang kemudian dapat dijadikan tolak ukur untuk sebuah kehidupan

demokrasi dan juga desentralisasi kekuasaan yang diterapkan di Indonesia.

Selain itu, pemilukada juga dapat menjadi proses pembelajaran atau

pendidikan politik bagi masyarakat sehingga pengetahuan mereka dapat

bertambah agar dapat memilih pemimpin yang benar-benar bertanggung

jawab dalam membangun kehidupan masyarakat.

E. SKEMA KERANGKA PEMIKIRAN

35

(36)

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam pembahasan ini akan menjelaskan beberapa aspek yakni :

lokasi penelitian, tipe dan dasar penelitian, jenis data, teknik pengumpulan

data, dan teknik analisis data.

A. Unit Analisis

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Andoolo, Kabupaten Konawe

Selatan, propinsi Sulawesi Tenggara. Hal yang menjadi pertimbangan untuk

memilih Kecamatan Andoolo sebagai locus penelitian adalah bahwa

(37)

yang dilakukan sebanyak dua kali, terkait adanya pelanggaran yang

dilakukan incumbent mengenai strategi politik yang digunakannya.

B. Tipe Penelitian

Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan tipe

penelitian deskriptif analitik. Deskripsi analitik adalah penelitian yang

diarahkan untuk menggambarkan fakta dengan argument yang tepat.

Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan gambaran

mengenai strategi politik yang dilakukan oleh pasangan incumbent,

Imran-Sutoardjo.

C. Jenis Data Penelitian

a. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung

dari sumbernya yakni informan yang langsung berhubungan

dengan fokus penelitian. Pada penelitian ini data primer

diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara mendalam

yang dilakukan dengan informan yang berkaitan dengan

masalah rangkap jabatan yang diangkat. Mereka yang dijadikan

informan adalah Bupati dan Wakil Bupati terpilih (incumbent)

Kabupaten Konawe Selatan, Imran-Sutoardjo, tim pemenangan

incumbent, KPUD Konawe Selatan dan masyarakat di

Kecamatan Andoolo. b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang relevan yang berasal dari

buku-buku, dan bahan referensi lainnya yang berkaitan dengan

(38)

merupakan data yang sudah dioleh dalam bentuk naskah

tertulis atau dokumen. Data sekunder dalam penelitian ini

berasal dari strategi politik yang digunakan incumbent untuk

memperoleh kemenangan kembali.

D. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

a. Wawancara mendalam (deep interview)

Wawancara adalah percakapan yang dengan maksud tertentu,

yang dilakukan oleh pewawancara yang mengajukan

pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan

jawaban.9

Salah satu varian dari teknik wawancara adalah wawancara

mendalam (deep interview) yang merupakan proses

memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara

tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan

informan, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara.

Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian

ini, peneliti melakukan wawancara dengan informan yang terkait

dengan masalah yang diangkat. Mereka yang dijadikan

informan adalah:

(39)

1. Imran-Sutoardjo

Imran-Sutoardjo dipilih untuk menjadi informan karena

pasangan ini merupakan incumbent dalam pemilukada

Konawe Selatan periode 2010-2015. 2. Tim Pemenangan Incumbent

Tim pemenangan incumbent yang dijadikan informan

adalah mereka yang berasal dari Partai Demokrat dan

Partai Amanat Nasional. 3. KPUD Konawe Selatan

Komisi Pemilihan Umum Daerah Konawe Selatan

menjadi informan terkait fungsinya sebagai pelaksana

sekaligus pengawas atau pengontrol proses pemilukada

di daerah.

4. Masyarakat Kecamatan Andoolo

Masyarakat kecamatan Andoolo menjadi informan

berikutnya yang akan diwawancarai berkaitan dengan

tanggapannya mengenai hasil pemilukada tahun 2010

yang dimenangkan oleh incumbent.

b. Dokumentasi

Dokumentasi dapat diasumsikan sebagai sumber data tertulis

yang terbagi dalam dua ketegori yaitu sumber resmi dan

sumber tidak resmi. Sumber resmi merupakan dokumen yang

dibuat/dikeluarkan oleh lembaga/perorangan atas nama

lembaga. Sumber tidak resmi adalah dokumen yang

(40)

Dokumen yang akan dijadikan sebagai sumber referensi adalah

hasil rapat.

E. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis

data kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor metode penelitian kualitatif adalah

suatu metode penelitian untuk menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata

tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.10 Teknik

analisis data kualitatif digunakan untuk mendapatkan penjelasan mengenai

strategi politik yang digunakan oleh incumbent dalam memenangkan

pemilukada tahun 2010. Data dari hasil wawancara yang diperoleh kemudian

dicatat dan dikumpulkan sehingga menjadi sebuah catatan lapangan.

Analisis data adalah proses penyederhanaan data dalam bentuk yang

lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Analisa data dalam penelitian

kualitatif dilakukan mulai sejak awal sampai sepanjang proses penelitian

berlangsung.

Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara bersamaan dengan

proses pengumpulan data, proses analisis yang dilakukan merupakan suatu

proses yang cukup panjang dan melibatkan beberapa komponen yaitu,

reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

1. Reduksi data

Yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian serta

penyederhanaan, pengabstrakkan dan transformasi data kasar yang

(41)

muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data dilakukan

peneliti dengan cara menajamkan, menggolongkan, mengarahkan,

membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data dengan cara

sedemikian rupa sehingga kesimpulan-kesimpulan akhirnya dapat ditarik

dan diverifikasi oleh peneliti. Dalam tahapan ini peneliti melalukan pemilihan

beberapa data didasarkan kepentingan penulisan sehingga didapatkan

pemisahan data yang penting dengan yang kurang penting. Proses reduksi

data adalah proses yang dilakukan secara terus-menerus sampai pada

proses penulisan laporan akhir selesai dilakukan.

2. Sajian data

Dalam penyajian data peneliti mengumpulkan informasi yang

tersusun yang memberikan dasar pijakan kepada peneliti untuk

melakukan suatu pembahasan dan pengambilan kesimpulan. Penyajian

ini, kemudian untuk menggabungkan informasi yang tersusun dalam

suatu bentuk yang terpadu sehingga mudah diamati apa yang sedang

terjadi kemudian menentukan penarikan kesimpulan secara benar. Penyajian

data tidak terpisahkan dari analisis justru penyajian data akan menentukan

suatu analisa.

Pada tahap penyajian data peneliti mengelompokan data berdasarkan

kelompok informan, sehingga diketahui beberapa informasi dari informan

berdasarkan pokok masalah dan sumber (informan).

Sajian data yang dilakukan bertujuan untuk memahami berbagai hal

(42)

kemudian dirancang untuk menyampaikan informasi secara lebih sistematis

mengenai strategi politik incumbent dalam pemilukada di Kabupaten Konawe

Selatan.

3. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan adalah suatu kegiatan dari konfigurasi yang

utuh. Berbagai hal yang ditemui dalam proses pengumpulan data mengenai

strategi politik incumbent peneliti catat dan verifikasi. Hal yang harus

dilakukan pada penarikan kesimpulan akhir adalah mendiskusikan cara untuk

(43)

BAB IV

GAMBARAN UMUM PENELITIAN

Dalam bab ini peneliti akan memaparkan empat aspek yakni pertama,

kondisi wilayah Kabupaten Konawe Selatan, kedua, kondisi politik dan

pemerintahan Kabupaten Konawe Selatan, ketiga data jumlah Daftar Pemilih Tetap Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Konawe Selatan, dan keempat

daftar calon kepala daerah dalam pemilihan kepala daerah langsung di

Kabupaten Konawe Selatan.

A. Kondisi Wilayah Kabupaten Konawe Selatan

Kabupaten Konawe Selatan adalah salah satu Daerah Tingkat II di

Propinsi Sulawesi Tenggara yang merupakan hasil pemekaran dari

Kabupaten Kendari yang disahkan dengan UU Nomor 4 tahun 2003 pada

tanggal 25 Februari tahun 2003. Luas wilayah Kabupaten Konawe Selatan

adalah sekitar 4.514,20 km2 atau sebesar 11,83% dari luas propinsi Sulawesi

Tenggara. Wilayah ini terbagi menjadi 22 kecamatan atau secara

keseluruhan terbagi lagi ke dalam satuan wilayah yang lebih kecil yaitu terdiri

(44)

Jumlah penduduk Kabupaten Konawe Selatan pada tahun 2010

adalah sebanyak 264.197 jiwa yang terdiri dari 135.949 penduduk laki-laki

dan 128.248 penduduk perempuan dengan rasio jenis kelamin yakni sebesar

106. Rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Konawe Selatan

mencapai 58,53 jiwa/km2.

Penyebaran penduduk Kabupaten Konawe Selatan menunjukkan

bahwa penduduk Kabupaten Konawe Selatan terkonsentrasi di wilayah

Kecamatan Tinanggea yakni sebanyak 21.320 jiwa, disusul Kecamatan

Laeya 19.006 jiwa, Kecamatan Konda 18.129 jiwa, Kecamatan Ranomeeto

16.240 jiwa, Kecamatan Andoolo 15.845 jiwa, Kecamatan Lalembuu 15.615

jiwa, Kecamatan Angata 14.911 jiwa, Kecamatan Kolono 13.688 jiwa,

Kecamatan Buke 13.237 jiwa, Kecamatan Moramo 13.035 jiwa, Kecamatan

Palangga 12.286 jiwa, Kecamatan Landono 11.461 jiwa, Kecamatan Mowila

11.131 jiwa, Kecamatan Benua 9.733 jiwa, Kecamatan Laonti 9.442 jiwa,

Kecamatan Lainea 8.871 jiwa, Kecamatan Basala 8.147 jiwa, Kecamatan

Baito 7.564 jiwa, Kecamatan Moramo Utara 7.164, Kecamatan Wolasi 4.732

jiwa, Kecamatan Ranomeeto Barat 6.515 jiwa, dan Kecamatan Palangga

Selatan 6.125 jiwa.

Tabel I. Jumlah Penduduk Kabupaten Konawe Selatan Per Tahun 2010

No Kecamatan Penduduk Sex Ratio PendudukDistribusi

1 Tinanggea 21.320 106 8,07

(45)

3 Konda 18.129 104 6,86

4 Ranomeeto 16.240 105 6,15

5 Andoolo 15.845 107 6,00

No Kecamatan Penduduk Sex Ratio Distribusi

Penduduk

6 Lalembuu 15.615 106 5,91

7 Angata 14.911 105 5,64

8 Kolono 13.688 105 5,18

9 Buke 13.237 108 5,01

10 Moramo 13.035 107 4,93

11 Palangga 12.286 105 4,65

12 Landono 11.461 106 4,34

13 Mowila 11.131 114 4,21

14 Benua 9.733 110 3,68

15 Laonti 9.442 105 3,57

16 Lainea 8.871 104 3,36

17 Basala 8.147 108 3,08

18 Baito 7.564 107 2,86

19 Moramo Utara 7.164 105 2,71

20 Wolasi 4.732 104 1,79

21 Ranomeeto Barat 6.515 103 2,47

22 Palangga Selatan 6.125 105 2,32

(46)

Penduduk Kabupaten Konawe Selatan dalam hal keagamaan dapat

dikatakan heterogen, dimana pada masing-masing kecamatan tidak hanya

terdapat satu agama dan rumah-rumah ibadah dari masing-masing agama

tersebar di setiap wilayah/kecamatan.

B. Kondisi Politik dan Pemerintahan Kabupaten Konawe Selatan

Pusat pemerintahan Kabupaten Konawe Selatan dipusatkan di

Kecamatan Andoolo yang merupakan ibukota kabupaten. Di Kecamatan

Andoolo yang beribukota di Andoolo terdapat Kantor Bupati dan Kantor

DPRD Kabupaten Konawe Selatan. DPRD Kabupaten Konawe Selatan

periode 2009-2014 adalah sebanyak 30 orang yang berasal dari 11 partai

politik yakni Partai Hanura sebanyak 2 orang, Partai PKB 2 orang, Partai PBB

1 orang, Partai PPI 1 orang, Partai Demokrat 7 orang, Partai PAN 4 orang,

Partai Golkar 5 orang, Partai PKS 4 orang, Partai PPP 2 orang, Partai PDIP 1

orang, dan Partai PNBK 1 orang. Sesuai dengan peraturan

perundang-undangan maka DPRD yang diisi oleh 30 anggota legislatif terbagi ke dalam

3 komisi yakni Komisi I yang membidangi Hukum dan Pemerintahan, Komisi

II yang membidangi Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan dan Komisi III

yang membidangi Sosial Budaya.

Selain itu, terdapat pula 6 kantor Dinas, Badan Pusat Statistik,

Inspektorat daerah serta lembaga-lembaga lainnya yang keberadaannya

(47)

efektif dan efisien khususnya dalam memberikan pelayanan kepada

masyarakat.

Pada awal pembentukan kabupaten ini yakni di tahun 2004,

diselenggarakan pemilihan umum kepala daerah untuk pertama kalinya.

Pesta demokrasi yang diselenggarakan ini disambut baik oleh masyarakat

sehingga hasilnya membawa Drs. H. Imran, M.Si dan Drs. Sutoardjo Pondiu,

M.Si terpilih menjadi pasangan kepala daerah yang pertama di Kabupaten

Konawe Selatan.

Di bawah kepemimpinan Drs. H. Imran, M.Si segala program guna

memajukan pembangunan di wilayah pemekaran ini pun dilaksanakan.

Sehingga banyak kemajuan yang di alami oleh daerah ini selama kurang

lebih 5 (lima) tahun. Kemajuan dalam bidang pendidikan, kesehatan, fasilitas

umum, dan sebagainya dirasakan oleh masyarakat Konawe Selatan. Hal ini

menjadi satu motivasi yang sangat penting guna mengembangkan sumber

(48)

C. Data Jumlah Daftar Pemilih Tetap Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010

Sesuai dengan ketentuan yang mengatur jalannya pemilihan umum,

maka persyaratan bagi masyarakat yang telah berhak menggunakan hak

suaranya dalam pemilihan yakni masyarakat yang telah berusia 17 tahun

atau sudah menikah. Berikut tabel daftar pemilih tetap saat pemilihan kepala

daerah di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010.

Tabel II. DPT Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010.

No Kecamatan DPT

1 Tinanggea 14.059

2 Laeya 12.371

3 Konda 11.520

4 Ranomeeto 9.974

5 Andoolo 11.264

6 Lalembuu 12.050

7 Angata 10.432

8 Kolono 9.320

9 Buke 9.397

10 Moramo 8.966

11 Palangga 8.267

12 Landono 7.877

No Kecamatan DPT

(49)

14 Benua 7.283

15 Laonti 6.236

16 Lainea 6.021

17 Basala 5.707

18 Baito 5.000

19 Moramo Utara 4.707

20 Wolasi 3.138

21 Ranomeeto Barat 4.319

22 Palangga Selatan 3.789

Sumber : Pokja DPT KPUD Kab.Konawe Selatan, 2010

D. Data Calon Kepala Daerah dalam Pemilihan Kepala Daerah Langsung di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010

Kehadiran Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah yang dalam salah satu pasalnya menyatakan bahwa pemilihan

kepala daerah dan wakil kapala daerah dilaksanakan secara demokratis

berdasarkan asas langsung, jujur, bebas, dan adil11. Pasangan calon kepala

daerah dan wakilnya ditentukan oleh partai politik atau gabungan dari partai

politik. Kehadiran undang-undang ini memberikan peluang kepada para elit

politik untuk menjadi leader di daerah.

Salah satu wilayah di Propinsi Sulawesi Tenggara yang melaksanakan

Pemilihan Kepala Daerah secara langsung di tahun 2010 adalah Kabupaten

(50)

Konawe Selatan. Kabupaten yang terdiri dari 22 kecamatan ini,

melaksanakan pemilihan umum kepala daerah secara langsung pada tanggal

8 Mei 2010.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para aktor politik untuk

mendapat predikat orang nomor satu di kabupaten baru ini, sehingga pada

pemilihan kepala daerah ini, terdapat empat pasangan calon bupati dan wakil

bupati yang akan bersaing dalam pemilihan umum kepala daerah langsung di

Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010. Keempat pasangan calon tersebut

bergerilya untuk dapat memenangkan pemilihan kepala daerah ini.

Masing-masing calon bupati dan wakil bupati didukung oleh partai politik, namun

salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati merupakan calon

independen. Berikut daftar nama calon bupati dan wakil bupati beserta partai

politik pendukung.

1. Drs. H. A. Rustam Tamburaka, M.Si Bambang Setiyobudi, SE, M.Si

 Partai politik pendukung : HANURA, PKB, PPI (versi Agusran

Saelang), PBB.

2. Drs. H. Imran, M.Si

Drs. Sutoardjo Pondiu, M.Si

 Partai politik pendukung : Demokrat, PAN.

3. H. Surunuddin Dangga, MBS Drs. H. Muchtar Silondae, SH, M.Si

 Partai politik pendukung : GOLKAR, PKS, PPP, PDIP, PNBK, PPRN,

PKPB, PKP, BURUH, PKNU, PATRIOT, PKPI, PNIM, REPUBLIKAN,

PBR, GERINDRA, PNUI, PELOPOR, PDK, PPI (versi Hasrul), PIS,

(51)

4. Drs. Ashar, MM Yan Sulaiman

 Calon Perseorangan

Dalam memenangkan kompetisi ini, semua pasangan calon

membutuhkan strategi yang dapat mewujudkan keinginannya menjadi

pasangan bupati dan wakil bupati terpilih pada periode kedua. Strategi yang

dibutuhkan oleh pasangan calon ini adalah strategi yang benar-benar matang

sehingga dalam pelaksanaannya dapat membawa dampak positif serta hasil

yang diharapkan. Termasuk pasangan incumbent yakni Drs. H. Imran, M.Si

dan Drs. Sutoardjo Pondiu membutuhkan strategi politik yang tepat, karena

itu salah satu strategi yang dipilih oleh incumbent adalah melalui kendaraan

politiknya yakni partai politik. Pemilihan kendaran politik dianggap dapat

menjadi strategi yang efektif dan efisien jika menempatkan cara-cara yang

tepat selama masa kampanye.

Oleh karena itu, pasangan incumbent ini memanfaatkan partai politik

yang menaungi mereka apalagi jabatan dalam partai politik ini adalah

masing-masing sebagai ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Tenggara dan

Ketua DPC Partai Demokrat Konawe Selatan. Jabatan dalam partai politik

inilah yang dianggap dapat membawa keuntungan bagi hasil pemilihan

kepala daerah nantinya. Demokrat yang dipandang sebagai partai yang

memiliki peluang besar, yang mana dalam beberapa pemilihan umum di

Propinsi Sulawesi Tenggara, hasilnya dimenangkan oleh para calon dari

partai ini, termasuk dalam pemilihan legislatif tahun 2009 Partai Demokrat

(52)

Inilah yang menjadi modal awal bagi pasangan incumbent. Karena itu,

untuk semakin memperkuat kendaraan politik yang digunakannya, maka

pasangan incumbent mencari koalisi atau gabungan dari partai lain dan

hasilnya PAN menjadi partner Demokrat dalam koalisi pada pemilihan kepala

daerah tahun 2010. Koalisi dengan PAN dianggap cocok karena dalam

beberapa pemilihan juga di Sulawesi Tenggara para calon dari partai ini yang

berhasil memenangkan pemilihan umum. Contohnya, pada pemilihan

Gubernur Sulawesi Tenggara, hasilnya dimenangkan oleh calon yang

diusung dari partai ini. Selanjutnya, kedua partai besar ini bersama-sama

menyusun strategi pemenangan melalui tim pemenangan yang telah

dibentuk.

BAB V

STRATEGI KOALISI PARTAI POLITIK DAN

(53)

Dalam kajian ilmu politik, strategi politik menjadi pembahasan yang

menarik sejak dulu. Pembahasan ini terkait adanya keinginan aktor atau elit

politik untuk menjadi seorang pemimpin dalam struktur pemerintahan.

Keinginan ini mendorong para aktor atau elit politik untuk menggunakan

strategi politik dalam mencapai cita-cita politiknya, tidak terkecuali dengan

incumbent.

Strategi politik merupakan sebuah cara yang digunakan dalam dunia

politik termasuk dalam menghadapi pemilihan kepala daerah. Strategi yang

digunakan diharapkan mampu memberikan hasil yang optimal bagi

kompetitor yang salah satunya adalah incumbent. Strategi pemenangan yang

dibutuhkan oleh incumbent membutuhkan kematangan perencanaan guna

memasarkan program-program politiknya.

Incumbent yang bersaing dengan para kompetitor lainnya wajib

mengikuti aturan yang berlaku dalam menjalankan strategi politiknya.

Sebagaimana pada pemilihan umum kepala daerah yang diatur dalam

Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang

menyatakan bahwa pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam

satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan

asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.12 Pasangan calon

kepala daerah dan wakilnya ditentukan oleh partai politik atau gabungan

partai politik bukan lagi oleh DPRD.

Pelaksanaan pemilihan kepala daerah langsung memberikan

kesempatan kepada setiap orang untuk masuk ke dalam bursa pemilihan

Gambar

Tabel I. Jumlah Penduduk Kabupaten Konawe Selatan
Tabel II. DPT Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Konawe

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan yang hendak dicapai adalah mengetahui strategi format politik partai dalam pemenangan pemilihan kepala daerah dan mengetahui perspektif siyasah

Sesuai dengan judul skripsi mengenai Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Minahasa Selatan Tahun 2010, maka definisi Partisipasi politik

Berbeda dengan keadaan politik local pada masa reformasi, pada reformasi inilah terjadi pemilihan kepala daerah dengan dimunculkannya berbagai masalah mengenai

Nilai tersebut signifikan pada alpha (α) 10% sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor politik (POL) yang memisahkan kategori kepala daerah incumbent dan non

Nilai tersebut signifikan pada alpha (α) 10% sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor politik (POL) yang memisahkan kategori kepala daerah incumbent dan non

Nilai tersebut signifikan pada alpha (α) 10% sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor politik (POL) yang memisahkan kategori kepala daerah incumbent dan non

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa strategi komunikasi politik yang dilakukan saat pemilihan kepala daerah sudah dilakukan jauh sebelum memasuki tahun politik

Sesuai dengan judul skripsi mengenai Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Minahasa Selatan Tahun 2010, maka definisi Partisipasi politik