STRATEGI POLITIK INCUMBENT
DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH LANGSUNG DI KABUPATEN KONAWE SELATANTAHUN 2010
S K R I P S I
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Ilmu Politik pada Jurusan Ilmu Politik Pemerintahan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Oleh :
VERAYANTI SUMULE E111 06 026 ILMU POLITIK
JURUSAN POLITIK PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
HALAMAN PENGESAHAN
STRATEGI POLITIK INCUMBENT
DALAM PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DI KABUPATEN KONAWE SELATAN TAHUN 2010
Nama : VERAYANTI SUMULE
Nomor Pokok : E 111 06 026
Jurusan : Politik Pemerintahan Program Studi : Ilmu Politik
Skripsi ini dibuat Sebagai Salah Satu Syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Politik pada Program Studi Ilmu Politik, Jurusan Politik-Pemerintahan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin
Makassar, 08 Agustus 2012
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Muhammad Saad, MA Dr. Gustiana A. Kambo, M.Si NIP. 19550128 198502 1 001 NIP. 19730813 199803 2 001
Mengetahui :
Ketua Jurusan Ilmu Politik – Pemerintahan Ketua Program Studi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Ilmu Politik
Universitas Hasanuddin
HALAMAN PENERIMAAN
STRATEGI POLITIK INCUMBENT
DALAM PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DI KABUPATEN KONAWE SELATAN TAHUN 2010
Nama : VERAYANTI SUMULE
Nomor Pokok : E 111 06 026
Jurusan : Politik Pemerintahan Program Studi : Ilmu Politik
Telah diterima dan disetujui oleh Panitia Ujian Sarjana
Ilmu Politik pada Program Studi Ilmu Politik Jurusan Politik Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Hasanuddin
Makassar, 13 Agustus2012
Panitia Ujian Sarjana
Ketua : Dr. Muhammad Saad, MA (………...)
Sekretaris: Sakinah Nadir, S.Ip, M.Si (………...)
Anggota :Dr. Gustiana A. Kambo, M.Si (………...)
Prof. Dr. Kausar Bailusy, M.A. (………...)
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat limpahan kasih-Nya sehingga penulis dapat merampungkan skripsi ini.
Semoga kasih-Nya itu senantiasa menyertai langkah kehidupan kita.
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.
Demokrasi langsung yang dianut di Indonesia dewasa ini berdampak pada
maraknya terjadi rangkap jabatan politik yang dilakukan oleh kepala daerah.
Melihat fenomena ini, maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Strategi Politik Incumbent dalam Pemilihan Kepala Daerah Langsung di Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2010”.
Skripsi ini merupakan persembahan sederhana dari penulis untuk
kedua orang tua penulis yang terkasih. Bapak Andarias Sumule, SE dan
Ibu Norpa Daud Panggalo, terima kasih atas kasih sayang, kepercayaan, kesabaran dan dukungan yang tiada hentinya. Do’a yang kalian panjatkan
senantiasa memberi kekuatan bagi penulis, semoga Tuhan senantiasa
melimpahkan berkat dan kasih-Nya kepada bapak dan ibu serta memberikan
penulis kesempatan untuk membahagiakan dan membalas segenap cinta
kasihmu. Untuk adikku terkasih Tyan, terima kasih atas dukungannya, rasa rindumumemberikusemangat,don’t stop to be a student. Segenap keluarga
besarku di Kendari, Kakek&Nenek, Para Tante& Para Om, Para
selama ini diberikan, Keluarga di Makassar, Oma&Opabesertaanak&cucu,
terimakasihsudahmenjadi orang tuakuselama di Makassar,
jugabuatnasehat-nasehatnya, sesuatu yang tidakakanpenulisdapatkanjikaberada di tempat
lain. Taklupabuatsobatku di Kendari yang selalumendukungkudarijauh, Nova,
we have a big dream so let’s make it happen. Last but not Least, buat“sesuatu” yang sampaisaatinibelumpenulisdapatkannama yang cocokuntukmenyebutmu, terimakasihbuatsetiapdukungan, semangat,
bantuan, danhal lain yang
begitubanyaksudahkaulakukanuntukkusehinggatidakdapatdisebutkansatuper
satu, semogajalaninisampaipadatujuannya, jugakeluargamu yang memberikubanyaknasehat, I have a new family yang menganggapkubukan
orang baru, thank you so much for it.
Skripsi ini tidak akan dapat penulis rampungkan tanpa bantuan dari
berbagai pihak. Sadar akan hal ini maka pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada :
1. Bapak Dr. Muhammad Saad, MA selaku pembimbing I dan
Penasehat Akademik selama penulis menjalani aktivitas
perkuliahan, terima kasih atas waktu, arahan dan perhatian
yang selama ini telah diberikan.
2. Ibu Dr. Gustiana A. Kambo, M.Si selaku pembimbing II dan
Ketua Program Studi Ilmu Politik, terima kasih atas arahan,
bimbingan, perhatian, bantuan dan motivasi yang penuh
bersahajanya sangat penulis
hargai.Terimakasihbusudahmenjaditemanterbaikkudipenghujun
gperjuanganku. Semogapertemananinisenantiasaterjalin.
3. Seluruh dosen pengajar baik di lingkungan Program Studi Ilmu
Politik maupun di lingkungan FISIP UNHAS yang telah
membagi pengetahuan kepada penulis selama mengikuti
perkuliahan.
4. Staf pegawai di Jurusan Politik pemerintahan (Bu’ Hasnah, Bu’
Irma, Bu’ Nanna) dan FISIP UNHAS (K’Ija, Bu’ Aisyah, Bu’ Ida,
Pak Mur) yang telah memberikan banyak bantuan kepada
penulis.
5. Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Fisip Unhas
(HIMAPOL FISIP UNHAS) terutama saudara-saudaraku
IDEOLOGI 2006,PMKO FISIP UNHAS terima kasih sudah menjadi tempat untuk mendewasakan imanku.My Best Friend “Lumuters”,
ternyatasahabatitubukanhanyaadadisaatkitamembutuhkan,
namunsaattidakdibutuhkan pun diatetapada. Keluarga besar KKN Gelombang 77 UNHAS tahun 2010 Kec. Camba
terkhusus bagi posko Desa Cenrana dan juga segenap warga
Desa Cenrana I have many wonderful moment with you’re all. 6. Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Konawe Selatan (Drs. H.
Imran, M.Si dan Drs. Sutoardjo Pondiu, M.Si)serta staf Kantor
Bupati Kabupaten Konawe Selatan, Ketua KPUD Konawe
Kabupaten Konawe Selatan, Kepala Kesbang Kabupaten
Konawe Selatan. Terima kasih atas bantuan yang diberikan. Serta semua pihak yang telah membantu penulis.
Semoga Tuhan Sang PemilikKehidupanini membalas semua
kebaikan Bapak/Ibu/Saudara (i). Semoga segala yang telah
dilakukan bernilai ibadah di sisiNya. Amin
Salam Kasih,
Makassar, 13 Agustus 2012
Verayanti Sumule
ABSTRAKSI
Verayanti Sumule, Nomor Pokok E 111 06 026, dengan judul “Strategi Politik Incumbent dalam Pemilihan Kepala Daerah Langsung di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010” : di bawah bimbingan Dr. Muhammad Saad, MA sebagai pembimbing I dan Dr. Gustiana A. Kambo, M.Si sebagai pembimbing II.
melakukan rangkap jabatan politik. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis memfokuskan penelitian tentang: strategi politik incumbent dalam pemilihan kepala daerah langsung di Kabupaten Konawe Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai bentuk strategi politik yang dijalankan oleh incumbent dalam pemilihan kepala daerah langsung di Kabupaten Konawe Selatan. Ada duakonsepteoriyang digunakan dalam penelitian ini yaitu konsepstrategi defensive dankonsepstrategiofensif.
Penelitian ini didasarkan pada penelitian kualitatif, dengan tipe penelitian deskriptif analisis. Data primer dikumpulkan melalui wawancara yang dilakukan dengan informan. Data sekunder dikumpulkan melalui literatur-literatur dan artikel yang relevan dengan penelitian ini.Penelitianinidilakukan di KabupatenKonawe Selatan yang merupakan salah satu daerah pemekaran di Propinsi Sulawesi Tenggara. Ketika menjadi daerah pemekaran menjadi Kabupaten Konawe Selatan, tentu akan dipimpin oleh seorang Bupati. Pemilihan kepala daerah yakni Bupati ini merupakan satu contoh dari berjalannya sistem desentralisasi, dimana daerah telah memiliki otonomi untuk mengatur daerahnya sendiri. Selain itu, mempercepat berjalannya good governance karena rakyat terlibat langsung dalam memilih kepala daerahnya.Namun, the regional election yang telah berlangsung hingga saat ini masih belum sepenuhnya sesuai harapan. Pilkada masih semata-mata hanya sebagai sarana untuk memperoleh kekuasaan, karenanya warna dominan dari pilkada adalah praktek money politics dan pelanggaran etika politik lainnya yang dilakukan oleh para kandidat. Setidaknya ada empat fenomena yang cenderung negatif dari pelaksanaan pilkada yakni angka golput tinggi, incumbent/birokrat cenderung menang pilkada, konflik, dan koalisi partai.Untuk itu, pada pilkada Konawe Selatan ini kita akan menganalisis strategi calon incumbent yang akan kembali maju pada pemilihan bupati Konawe Selatan bulan Mei tahun 2010 yakni H. Imran, M.Si yang merupakan elit politik dari Partai Demokrat.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PENERIMAAN ………. iii
ABSTRAKSI ... viii
C. Pemilihan Umum Kepala Daerah ………... 20
D. Kerangka pemikiran ………..……... 24
B. Kondisi Politik dan Pemerintahan Kabupaten Konawe Selatan ... 39
C. Data Jumlah Daftar Pemilih Tetap ………..………... 41
D. Gambaran Umum Objek Penelitian ………...……….…... 42
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Strategi Koalisi Partai Politik ……… 49
B. Strategi Kampanye Politik ...……… 55
B. Saran ………..……….. 64
DAFTAR PUSTAKA ……… 66
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH
Penyelenggaraan pemerintahan dan politik di tingkat lokal mengalami
pergeseran, bahkan perubahan yang luar biasa sejak Juni 2005. Kepala
daerah yang sebelumnya dipilih secara tidak langsung oleh anggota
parlemen daerah, dipilih secara langsung oleh rakyat melalui proses
Pemilihan umum kepala daerah atau yang biasa disebut dengan
Pemilukada ini, merupakan salah satu wujud dari sistem demokrasi yang
dianut oleh Negara Indonesia. Dalam proses ini diadakan pemilihan umum
kepala daerah secara langsung oleh rakyat, yang mana sebelumnya hanya
menjadi penonton tetapi berubah menjadi pelaku dan penentu.
Perubahan yang signifikan ini tentu membawa dampak yang luar
biasa, baik di tingkat elit partai dan para pemilih itu sendiri yakni rakyat. Elit
politik yang kemudian akan menjadi bagian dalam sebuah proses pemilihan
umum, akan bersaing untuk memperoleh kedudukan sebagai seorang
pemimpin khususnya dalam sebuah daerah. Mereka akan berkompetisi
untuk memperoleh dukungan atau suara terbanyak dari rakyat sehingga
dalam perebutan kekuasaan ini, para aktor atau elit politik tersebut
menggunakan berbagai macam cara atau strategi. Begitupun dengan rakyat
sebagai kelompok orang yang akan dipimpin, tentu memiliki peran penting
dalam sebuah pemilihan umum, sehingga terjadi interaksi antar kedua unsur
penting ini agar sistem demokrasi yang dianut dapat benar-benar terwujud
dalam sebuah pemilihan umum kepala daerah dan dimaksudkan untuk
meminimalisasi terjadinya pembajakan otoritas dari rakyat oleh para wakil di
lembaga-lembaga perwakilan. Hal ini terjadi karena di dalam pemilihan
umum secara langsung, rakyat dapat menentukan pemimpin-pemimpin yang
mereka kehendaki secara lebih otonom. Meskipun dalam menetapkan
pilihannya, rakyat tidak sepenuhnya otonom. Hal-hal lain seperti ideologi,
berperan untuk memberikan pengaruh terhadap pilihan rakyat. Tetapi
adanya prosedur bahwa dapat menentukan pilihannya di bilik-bilik
pemungutan suara secara jujur dan adil, akan lebih memungkinkan para
pemilih lebih otonom.
Selain itu, pemilihan umum secara langsung juga dimaksudkan agar
para pemimpin yang terpilih itu memiliki akuntabilitas yang lebih besar
kepada rakyat yang memilihnya. Para pemimipin itu, paling tidak, akan
mengingat bahwa yang mendudukkan diri mereka sebagai pemimpin itu
bukanlah sekelompok kecil orang, melainkan para pemilih. Konsekuensinya,
secara teoritis, pemilihan secara langsung akan menjaring
pemimpin-pemimpin yang memiliki program lebih baik, serta akan berusaha
mengimplementasikan program-program itu ketika benar-benar terpilih. Jika
tidak maka sulit bagi pemimpin tersebut untuk dapat kembali memperoleh
kekuasaan jika mengikuti lagi kompetisi dalam pemilihan umum di daerah.
Seperti halnya di Kabupaten Konawe Selatan, sebagai salah satu
daerah atau wilayah pemekaran dari Kabupaten Konawe di Propinsi
Sulawesi Tenggara, tentu menyelenggarakan pemilihan umum kepala
daerah sebagai wujud demokrasi di tingkat daerah dan berada dalam satu
gerbong dengan UU tentang Pemerintahan Daerah, baik secara administratif
maupun politik, yaitu di dalam UU No. 32 tahun 2004. Sehingga dalam
pemilukada ini, masyarakat di Konawe Selatan memilih Bupati dan Wakil
Terdapat empat pasangan calon bersaing untuk mendapatkan
kedudukan sebagai pemimpin di Kabupaten Konawe Selatan. Pasangan
calon ini tentunya memiliki visi dan misi yang berbeda guna kemajuan
masyarakat di Konawe Selatan. Untuk itu, para calon ini mempersiapkan
cara atau strategi politiknya untuk meraup dukungan sebanyak-banyaknya
dari masyarakat. Di antara para pasangan calon yang bersaing dalam
pemilukada di Konawe Selatan tahun 2010, terdapat satu incumbent, yakni
H. Imran, M.Si yang telah menjabat menjadi Bupati Konawe Selatan pada
periode sebelumnya dan kembali bersaing dengan tiga pasangan calon
lainnya agar dapat terpilih kembali untuk periode 2010-2015. Selama
menjabat sebagai bupati pertama di Konawe Selatan, Imran telah
memperlihatkan kinerjanya sehingga hal ini dapat menjadi sebuah modal
baginya untuk kembali bersaing dalam pemilukada di Konawe Selatan tahun
2010.
Untuk itu, dalam pemilukada kali ini Imran menempatkan strategi
yang dapat membuatnya kembali memenangkan posisi sebagai Bupati
Konawe Selatan, antara lain kampanye politik dan koalisi partai. Kedua
strategi ini diharapkan mampu mewujudkan cita-cita politik incumbent,
karena itu harus ada pemilihan kampanye politik dan koalisi partai yang
tepat sebagai bentuk strategi untuk memenangkan pemilukada bupati di
Konawe Selatan.
Strategi kampanye politik yang digunakan harus benar-benar sesuai
melakukan pemasaran program agar membuat rakyat memilih dirinya
sebagai pemimpin di daerah. Dalam pemasaran program ini terdapat
tahapan-tahapan yang disusun terlebih dahulu melalui tim sukses yang
dibentuk oleh incumbent. Hal ini dimaksudkan agar sasaran dan tujuan yang
ingin dicapai dapat terlaksana.
Selain itu, strategi yang digunakan oleh incumbent adalah melalui
kendaraan politiknya yakni partai politik. Imran saat ini tercatat sebagai
ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Tenggara, yang kita ketahui bahwa
jumlah suara partai ini meningkat pada pemilu tahun 2009. Selain itu, partai
lain yang menjadi kendaraan politik Imran adalah PAN yang diketahui juga
berhasil memenangkan pemilukada untuk pemilihan Gubernur dan Wakil
Gubernur Propinsi Sulawesi Tenggara. Kedua partai ini kemudian tergabung
dalam sebuah koalisi terkait keiukutsertaan incumbent dalam pemilukada
bupati Konawe Selatan. Koalisi ini dianggap tepat mengingat perolehan
suara kedua partai ini unggul dalam beberapa pemilukada di Propinsi
Sulawesi Tenggara.
Secara kualitatif, Imran memang memiliki kans yang lebih besar
dibanding calon lainnya karena ia sudah tentu popular dibanding pasangan
calon lainnya. Imran juga memiliki investasi sosial politik yang cukup besar
yang diperlihatkannya selama ia menjabat sebagai Bupati Konawe Selatan
periode sebelumnya. Hal-hal inilah yang menjadi faktor pendukung
kemenangan Imran untuk kembali menjabat sebagai Bupati Konawe
Namun kemenangan Imran tidak begitu saja diterima oleh ketiga
pasangan calon Bupati yang lainnya. Mereka menganggap incumbent ini
menggunakan cara-cara yang menyimpang dari aturan, dimana incumbent
menggunakan kekuasaannya sebagai Bupati Konawe Selatan untuk
melakukan pendekatan-pendekatan secara tidak benar, seperti melakukan
pemecatan kepada tujuh kepala Desa di Kecamatan Mowila. Hal ini
mengundang reaksi dari para kepala desa yang dipecat karena mereka
merasa selama menjabat tidak melakukan kesalahan dan menuding bahwa
pemecatan ini dilakukan secara sepihak. Dan disinggung mengenai
pencalonan incumbent, mereka mengaku memang tidak mendukung
incumbent tersebut untuk kembali maju dalam pemilihan Bupati Konawe
Selatan untuk periode berikutnya.
Namun, hal tersebut tidak menghambat langkah incumbent untuk
tetap maju dalam pemilihan dan hasilnya incumbent kembali memperoleh
kemenangan dengan perolehan suara sebesar 43,56%. Tetapi hal ini tidak
begitu saja diterima oleh masyarakat, sehingga mereka menggugat hasil
pemilukada yang dikeluarkan melalui rapat pleno KPU Konawe Selatan
pada 17-18 Mei 2010.1 Gugatan ini disertai bukti-bukti pelanggaran strategi
politik yang dilakukan oleh incumbent tesebut, sehingga pemilukada ini
diulang pelaksanannya dan menetapkan kembali H. Imran, M.Si sebagai
peraih suara terbanyak sebesar 52,15%. Ini merupakan kemenangan kedua
kalinya bagi Imran sehingga menarik untuk diteliti mengenai strategi yang
digunakan dalam pemilukada ini. Selain itu, perolehan suara yang diperoleh
oleh incumbent mengalami peningkatan sekitar 9% dan membuat catatan
baru yakni memperoleh suara terbanyak atau kemenangan di semua
kecamatan yang ada di Konawe Selatan. Hal ini dikarenakan strategi politik
yang digunakan oleh pasangan incumbent ini, yang mana mayoritas
masyarakat Konawe Selatan secara kompetensi, puas dengan kinerja
Imran-Sutoardjo dalam memimpin Konawe Selatan pada periode pertama.
Kemudian secara personality, figur Imran lebih dikenal dibanding para calon
lainnya.
Untuk kembali memperoleh kekuasaan semula, tidaklah mudah
karena banyak hal yang harus dilakukan untuk dapat mempertahankan dan
memperoleh dukungan yang pernah didapatkan. Kepercayaan yang
diberikan rakyat di Konawe Selatan pada pemilihan sebelumnya
membutuhkan pembuktian sebagai perwujudan janji semasa kampanye
dulu. Hal ini dimaksudkan agar dukungan dari masyarakat tetap ada agar
kekuasaan yang akan kembali diperebutkan dapat diperoleh.
Hal ini yang kemudian yang menjadi tantangan bagi seorang
incumbent. Mempertahankan dukungan dan kepercayaan dari masyarakat
tidaklah mudah karena membutuhkan cara-cara yang tepat untuk dapat
mengkomunikasikan program-program kerja yang disusun demi kemajuan
hidup masyarakat. Incumbent membutuhkan strategi yang tepat agar dapat
memenangkan pemilihan, selain itu strategi politik yang digunakan harus
mampu menampilkan perbedaan yang positif bagi incumbent agar kualitas
pesaing-pesaingnya. Incumbent harus dapat menampilkan suatu hal yang dapat
menjadi keuntungan-keuntungan bagi masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari pemaparan di atas, dapat dirumuskan beberapa rumusan
masalah yakni sebagai berikut :
1. Bagaimana strategi pemanfaatan koalisi partai politik memberikan
pengaruh terhadap kemenangan incumbent dalam pemilukada di
Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010?
2. Bagaimana strategi kampanye politik dapat membuat incumbent
memperoleh kemenangan dalam pemilukada di Kabupaten Konawe
Selatan tahun 2010?
C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan
untuk:
1. Untuk mendeskripsikan strategi politik yang digunakan incumbent
dalam pemilihan umum Bupati dan Wakil Bupati Konawe Selatan
2. Untuk menjelaskan bagaimana strategi politik memberi pengaruh
terhadap kemenangan incumbent dalam pemilukada di Kabupaten
Konawe Selatan tahun 2010.
D. KEGUNAAN PENELITIAN
1. Manfaat akademik
a. Sebagai tambahan literatur atau bahan kajian dalam studi ilmu
politik.
b. Sebagai bahan informasi ilmiah bagi peneliti-peneliti yang ingin
mengetahui strategi politik incumbent dalam pemilukada
Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010. 2. Manfaat praktis
a. Sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam memilih
dan menentukan kepala daerah guna terciptanya interaksi
politik yang memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat
selanjutnya.
b. Memberikan pendidikan politik kepada masyarakat sehingga
kehidupan berpolitik masyarakat lebih baik kedepannya,
terutama dalam membentuk sikap dan tingkah laku politik
mereka.
c. Sebagai masukan bagi para kompetitor pemilukada di
Kabupaten Konawe Selatan pada periode berikutnya agar
menjalankan amanah konstitusi dan menjunjung nilai-nilai
demokrasi serta merealisasikan visi misi yang disosialisaikan
kepada masyarakat agar terciptanya sebuah keseimbangan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bagian ini akan membahas tentang konsep-konsep yang sesuai
dengan topik, judul, fokus penelitian. Dari konsep inilah yang akan menjadi
kerangka berfikir dari perumusan pelaksanaan studi, kajian, dan penelitian
yang akan di bahas.
A. KONSEP STRATEGI POLITIK
Strategi berasal dari bahasa Yunani klasik, yaitu “stratos” yang artinya tentara dan kata “agein” yang berarti memimpin. Dengan demikian, strategi
dimaksudkan adalah memimpin tentara. Lalu muncul kata strategos yang artinya pemimpin tentara pada tingkat atas. Jadi, strategi adalah konsep
militer yang bisa diartikan sebagai seni perang para jenderal, atau suatu
rancangan yang terbaik untuk memenangkan peperangan.
Seperti yang dikemukakan oleh Karl Von Clausewitz yang
merumuskan strategi sebagai suatu seni yang menggunakan sarana
pertempuran untuk mencapai tujuan perang, sementara Martin – Anderson
merumuskan strategi sebagai seni yang melibatkan kemampuan
inteligensi/pikiran untuk membawa semua sumber daya yang tersedia untuk
mencapai tujuan dengan memperoleh keuntungan yang maksimal dan
efisien.2 Strategi kemudian dikembangkan oleh para praktisi yang
menghasilkan gagasan dan konsepsi yang didasari oleh keilmuwan
masing-masing.
Seperti halnya para praktisi ilmu politik mencoba mendefinisikan
strategi di dalam pertempuran politik. Strategi politik seperti pada semua
pertempuran-pertempuran yang kompleks, setiap orang berlaku sesuai
dengan rencana yang dipahami lebih dahulu, kurang lebih rencana yang
sudah terolah dimana setiap orang membuat antisipasi bukan saja dalam
serangan-serangannya, akan tetapi juga tentang jawaban-jawaban
lawannya dan alat-alat untuk menyelesaikannya. Rencana perjuangan ini
merupakan strategi; unsur-unsur yang berbeda yang ada di dalamnya,
tindakan melawan musuh dan jawaban terhadap reaksinya merupakan
taktik.
Strategi politik itu sendiri memiliki tujuan yakni untuk mewujudkan
segala rencana yang telah disusun. Ini kemudian menjadi satu fokus utama
dalam sebuah pemilihan yakni perolehan suara terbanyak sebagai bentuk
kemenangan untuk memperoleh kekuasaan. Kekuasaan inilah yang menjadi
tujuan dari sebuah strategi karena merupakan kemenangan politik yang
dapat digunakan dalam sebuah sistem politik.
Strategi politik itu sendiri adalah sebuah cara yang telah dipahami
dan disusun terlebih dahulu untuk merealisasikan cita-cita politik yang
digunakan untuk perubahan jangka panjang. Misalnya strategi politik yang
Konawe Selatan, dimana hasil yang diperoleh kemudian akan menentukan
bagaimana kinerja pemerintahan di daerah tersebut berlangsung untuk lima
tahun ke depan.
Perencanaan strategi politik merupakan suatu analisa yang jelas dari
keadaan kekuasaan, gambaran yang jelas mengenai tujuan akhir yang akan
dicapai dan pemusatan segala kekuatan untuk mencapai tujuan yang
dimaksud.
Dalam pendeskripsian strategi politik, maka penulis merasa perlu
untuk membatasi pada strategi politik yang digunakan untuk pemenangan
pemilukada dalam hal ini yakni strategi ofensif dan strategi defensif. Hal ini
mengingat bahwa pemaknaan terhadap strategi politik tidak hanya pada
pemenangan pemilukada saja tetapi juga tentang sebuah perencanaan
untuk kinerja sistem dalam struktur politik yang akan terbentuk. Kedua
strategi inilah yang akan digunakan sebagai unit analisa dalam hal pemilihan
strategi politik.
a. Strategi Ofensif
Strategi ini dibutuhkan apabila partai politik ingin meningkatkan
jumlah pemilihnya, harus ada pandangan positif terhadap hal tersebut
sehingga cara yang dapat digunakan adalah melalui kampanye politik.
Strategi kampanye adalah suatu proses yang dirancang secara
tentu dengan tujuan mempengaruhi khalayak sasaran yang telah
ditetapkan.3
Setiap kampanye politik adalah suatu usaha hubungan masyarakat.
Tugasnya adalah membujuk sejumlah pemberi suara yang sudah terdaftar
untuk mendukung calon. Kampanye yang berorientasi pada hubungan
masyarakat, berusaha merangsang perhatian orang kepada sang calon. Ia
mencoba meningkatkan identifikasi dan citra sang calon di antara kelompok
pemberi suara, menyebarluaskan pandangan sang calon tentang berbagai
masalah penting, dan mendorong para pemberi suara menuju ke tempat
pemilihan untuk memberikan suara kepada sang calon.
Pada dasarnya strategi kampanye politik bertujuan untuk membentuk
serangkaian makna politis tertentu di dalam pikiran para pemilih.
Serangkaian makna politis yang terbentuk dalam pikiran para pemilih
tersebut dimaksudkan untuk memilih kontestan tertentu. Makna politis inilah
yang menjadi output penting dari strategi kampanye politik.
Dalam strategi kampanye politik yang digunakan untuk
mempengaruhi pemilih, yang harus dijual atau ditampilkan adalah
perbedaan terhadap keadaan yang berlaku saat itu serta
keuntungan-keuntungan yang dapat diharapkan daripadanya sehingga dapat terbentuk
kelompok pemilih baru di samping para pemilih yang telah ada. Oleh karena
itu, harus ada penawaran baru atau penawaran yang lebih baik bagi para
pemilih yang selama ini memilih partai pesaing.
Oleh karena itu, dalam strategi seperti ini perlu dipersiapkan sebuah
kampanye pengantar untuk menjelaskan kepada publik tentang penawaran
mana saja yang lebih baik, dibandingkan dengan penawaran partai-partai
lainnya dan memanfaatkan situasi dan kondisi yang terjadi dalam
masyarakat. Misalnya hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam
mensejahterakan hidupnya, dapat menjadi kunci untuk merumuskan strategi
ini. Partai politik harus lihai dalam melihat celah yang dapat membawa
keuntungan bagi incumbent.
Selain itu, terdapat produk baru yang ditawarkan yaitu politik baru
atau lebih tepatnya keuntungan yang dihasilkan politik baru tersebut perlu
diiklankan atau disebarluaskan kepada masyarakat, misalnya melalui media
massa. Produk politik yang dimaksud membutuhkan sesuatu yang baru atau
deskripsi baru dari keuntungan yang ditawarkan sehingga dapat diperoleh
hasil yang lebih baik dalam mencapai sebuah target, sebagai contoh dalam
pemilihan pertama incumbent memperoleh suara sekitar 43,56%, namun
karena terdapat pelanggaran sehingga pemilihan ini diulang dan kembali
menghasilkan incumbent sebagai peraih suara terbanyak yaitu sekitar
52,15% atau mengalami peningkatan suara sekitar 9%.4 Hal ini menyangkut
adanya produk baru yakni program-program yang ditawarkan oleh
incumbent melalui pemasaran program yang dimiliki secara lebih baik dan
peningkatan intensitas keselarasan antara program dan individu, seperti
halnya memperbesar tekanan terhadap kelompok-kelompok target.
b. Strategi Defensif
Strategi defensif digunakan apabila partai pemerintah atau sebuah
koalisi pemerintahan yang terdiri atas beberapa partai ingin
mempertahankan mayoritasnya atau apabila perolehan suara yang dicapai
sebelumnya ingin dipertahankan. Strategi ini memanfaatkan koalisi yang
dibangun oleh incumbent sebagai salah satu cara untuk memelihara
dukungan suara.
Membangun koalisi partai harus memiliki perhitungan yang rasional,
misalnya seberapa besar kekuatan yang telah dimiliki oleh partai dan partai
apa yang akan diajak berkoalisi, bagaimana ideologi, kekuatan, dan
kelemahan partai dalam hal massa, serta apa tantangan dan keuntungan
yang dapat diperoleh dengan cara koalisi. Dalam kondisi seperti ini biasanya
muncul broker partai yang bisa menghubungkan kepentingan
masing-masing partai. Koalisi juga menghadirkan tawar menawar antarpribadi elite
politik untuk mendapatkan posisi dalam pemerintahan.
Hal inilah yang kemudian menempatkan strategi ini sebagai strategi
yang khas untuk mempertahankan mayoritas pemerintah yang kemudian
akan membuat partai politik untuk memelihara pemilih tetap mereka dan
memperkuat pemahaman para pemilih sebelumnya terhadap situasi yang
akan berusaha mengaburkan perbedaan yang ada dan membuat perbedaan
tersebut tidak dapat dikenali lagi. Untuk itu, mereka menggunakan berbagai
rincian strategi yang berbeda.5
Pada pemilihan sebelumnya yang hasilnya memberikan kemenangan
bagi incumbent, tentunya ada daerah-daerah yang merupakan lumbung
suara bagi incumbent yakni daerah-daerah yang memberikan suara
terbanyak atau kemenangan mutlak bagi incumbent. Hal ini yang kemudian
menjadi salah satu tolak ukur bagi incumbent dalam menggunakan strategi
mempertahankan pasar. Artinya para pemilih yang ada di daerah
pemenangan tersebut tetap dikontrol oleh incumbent agar dapat
memberikan kemenangan yang sama pada incumbent.
B. KONSEP INCUMBENT
Menurut Kamus Oxford, incumbent bermakna person holding an official position. Dalam konteks politik, Wikipedia mengartikan incumbent sebagai the holder of a political office. Istilah ini, menurut kamus online
tersebut, digunakan dalam pemilu untuk membedakan pertarungan antara
pemegang jabatan dan bukan pemegang jabatan.6
Dalam konteks pencalonan incumbent dalam sebuah pilkada, tentu
membutuhkan beberapa modal yang kemudian dapat menjadi satu
kekuatan dalam meraup dukungan atau suara masyarakat. Modal-modal
tersebut yakni modal sosial dan modal politik.
Modal sosial merupakan modal yang didapatkan oleh incumbent
selama menduduki suatu jabatan. Dalam artian, bagaimana selama masa
jabatannya dia membangun interaksi yang baik dengan masyarakat, baik itu
masalah pembangunan, pendidikan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan
kesejahteraan masyarakat.
Modal sosial ini dikumpulkan guna mendapat kepercayaan dari
masyarakat dengan harapan dalam pilkada mendatang incumbent dapat
kembali terpilih. Hubungan-hubungan yang diawali pada masa kampanye
dengan program-program kerja sebagai komitmen awal, tentu akan menjadi
gerbang dalam mengumpulkan modal sosial untuk pilkada selanjutnya.
Kedua adalah modal politik, salah satunya yaitu penggunaan
kendaraan politik yakni partai politik dalam proses pencalonan. Partai politik
dianggap mampu berperan sebagai tempat pengkaderan regenerasi
kepemimpinan dalam sebuah sistem politik, yang mana dianggap mampu
memberikan pendidikan politik yang dapat menjadi modal bagi para calon
kepala daerah.
Dalam catatan yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI),
dari para incumbent yang ikut dalam pilkada, 60% terpilih kembali. Ini berarti
Incumbent kepala daerah adalah calon yang menduduki jabatan serupa
sebelumnya.
Selain itu, dalam literature ekonomi politik, posisi incumbent di dalam
kontestasi pemilu, termasuk di dalamnya adalah pilkada secara langsung,
sangat menguntungkan. Calon yang bermaksud mempertahankan posisinya
itu disebut sebagai “opportunitic” atau “office-motivated”.
Melalui posisinya, para incumbent itu akan berusaha membuat
kebijakan-kebijakan yang diarahkan untuk memberi kesan kepada para
pemilih bahwa nereka menaruh perhatian yang besar kepada rakyat.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Anthony Downs, pemerintah akan
berusaha memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya, khususnya kekuasaan
di dalam mengalokasikan dan mendistribusikan kekuasaan, untuk
memperoleh simpati dari para pemilih. Di samping itu dimaksudkan sebagai
langkah untuk memenuhi janji-janji yang pernah diucapkan sebelum
menjabat, orientasi kebijakan seperti itu dimaksudkan sebagai bukti kepada
para pemilih bahwa para incumbent itu memang layak untuk dipilih.
Dalam kasus para pemilih telah memiliki informasi yang cukup
mengenai apa yang pernah dijanjikan oleh para Kepala Daerah sebelum
menjabat kali pertama, berikut apa yang telah dikerjakan selama menjadi
Kepala Daerah, prestasi yang telah dilakukan oleh para Kepala Daerah itu
akan menjadi catatan tersendiri dari para pemilih. Para pemilih demikian
tergolong rasional di dalam menentukan pilihan-pilihannya. Kepala Daerah
mandate dan preferensi-preferensi yang terus berkembang di dalam
masyarakat, akan diberikan hadiah yaitu bisa terpilih kembali.
Secara politik, kegagalan incumbent terpilih sebagai Kepala Daerah
kembali merupakan pertanda bahwa mereka tidak mampu membangun
akuntabilitas kepada masyarakat. Kegagalan ini biasanya berkaitan dengan
persepsi masyarakat bahwa Kepala Daerah tersebut dipandang memiliki
kekurangan-kekurangan di masa kepemimpinannya dan adanya
praktek-praktek penyalahgunaan kekuasaan. Implikasinya, kepercayaan masyarakat
kepada Kepala Daerah itu berkurang. Realitas demikian berimplikasi pada
ketidakmampuan untuk melakukan akumulasi modal sosial.
Sementara itu, Jose Maria Maravall menjelaskan keberuntungan para
incumbent dalam konteks teori principal-agent dan kepolitikan Machiavellian.
Dalam pandangannya, secara teoritis, para incumbent itu bisa terpilih
kembali manakala mereka bisa memainkan perannya sebagai agent, yakni
berusaha membuat kebijakan-kebijakan sesuai dengan preferensi para
pemilih. Relasi seperti ini merupakan salah satu ciri di dalam kehidupan
demokrasi.7
C. PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH (PEMILUKADA)
Salah satu pilar penting dari demokrasi adalah partisipasi. Jika
demokrasi diartikan secara sederhana sebagai suatu pemerintahan yang
berasal dari, dan untuk rakyat, maka partisipasi merupakan sarana yang
mana rakyat dapat menentukan siapa yang memimpin (melalui pemilihan
umum) dan apa yang harus dikerjakan oleh pemimpin (pemerintah) melalui
keterlibatan dalam proses pembuatan keputusan politik yang mengikat
rakyat banyak.
Dalam hubungannya dengan pengembangan demokrasi, partisipasi
masyarakat sebenarnya tidak hanya sebatas dalam proses menentukan
pemimpin dan apa yang harus dilakukan oleh pemimpin, tetapi juga
menentukan proses demokrasi itu sendiri. Dalam proses transisi dan
konsolidasi demokrasi misalnya, masyarakat mempunyai peran sangat
signifikan dalam menentukan percepatan proses transisi dan konsolidasi
demokrasi melalui berbagai bentuk partisipasi dan gerakan sosial lainnya.
Salah satu bentuk partisipasi politik yang sangat penting dilakukan
oleh warga negara adalah keikutsertaan dalam pemilihan umum. Yang
dimaksud pemilihan umum di sini adalah pemilihan legislatif, pemilihan
presiden, termasuk pemilihan kepala daerah. Oleh karena itu, pemilihan
kepala daerah yang di Indonesia baru dimulai pada bulan Juni 2005, harus
dimaknai sebagai bentuk partisipasi publik yang paling hakiki dan esensial.
Dibanding pemilu legislatif dan presiden, pemilihan kepala daerah
sebenarnya jauh lebih penting bagi masyarakat lokal. Sebab, melalui proses
pemilihan di daerah ini, masyarakat lokal dapat menentukan nasibnya
pemilihan kepala daerah ini selalu dipahami dalam konteks otonomi daerah,
sebagai upaya masyarakat lokal untuk memperjuangkan aspirasi dan
kepentingannya melalui partisipasi dalam menentukan pemimpin.
Dalam suatu sistem politik yang demokratis, para pemimpin dipilih
langsung oleh rakyat. Para politisi atau pejabat publik sebagai wakil rakyat
akan berbuat maksimal sesuai dengan aspirasi masyarakat. Sebab, dalam
kacamata “mandat”, pilkada yang dilakukan secara regular dapat dijadikan
sebagai sarana untuk menyeleksi kebijakan-kebijakan politik yang baik
sesuai dengan keinginan masyarakat luas. Selama kampanye pilkada dan
pemilu misalnya, para calon bupati menawarkan berbagai isu dan program
untuk mensejahterakan masyarakat, sehingga hal ini menjadi daya tarik bagi
pemilih untuk memilihnya. Kemudian dalam kacamata akuntabilitas, pilkada
merupakan sarana bagi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan
berbagai keputusan dan tindakannya di masa lalu. Konsekuensinya,
pemerintah dan politisi akan selalu memperhitungkan penilaian masyarakat,
sehingga akan memilih kebijakan atau program yang berdampak pada
penilaian positif pemilih terhadap dirinya, agar terpilih kembali pada pilkada
berikutnya.
Pemilihan kepala daerah merupakan proses demokratisasi di daerah
yang mulai memperoleh perhatian yang lebih serius. Menurut Brian C.
berangkat dari suatu keyakinan bahwa adanya demokrasi di daerah
merupakan prasyarat bagi munculnya demokrasi di tingkat nasional.8
Lebih jauh, berdasarkan studi-studi yang pernah dilakukan di
sejumlah negara di berbagai belahan dunia, Smith mengemukakan empat
alasan menguatnya perbincangan demokratisasi di tingkat daerah di
kalangan akademisi. Pertama, demokrasi pemerintahan di daerah
merupakan suatu ajang pendidikan politik yang relevan bagi warga negara
di dalam suatu masyarakat yang demokratis (free societies). Pemerintah daerah merupakan bagian dari pemerintah yang langsung berinteraksi
dengan masyarakat ketika proses demokratisasi itu berlangsung. Kedua, pemerintah daerah dipandang sebagai pengontrol bagi perilaku pemerintah
pusat yang berlebihan dan memiliki kecenderungan anti demokratis di dalam
suatu pemerintahan yang sentralistis. Ketiga, demokrasi di daerah dianggap mampu menyuguhkan kualitas partisipasi yang lebih baik. Partisipasi politik
di daerah lebih memungkinkan adanya deliberative democracy, yakni adanya komunikasi yang lebih langsung di antara anggota komunitas dalam
berdemokrasi.
Kebijakan sistem pemilihan kepala daerah secara langsung termasuk
cepat dilaksanakan. Meskipun UU No 32 tahun 2004 baru disahkan pada 15
Oktober 2004, pilkada secara langsung sudah dimulai pada 1 Juni 2005.
Suatu rentang waktu yang cukup cepat. Percepatan demikian tidak lepas
dari fakta adanya kepala daerah yang telah habis masa jabatannya pada
awal 2005. Pada kasus seperti ini, kepala daerah tidak lagi dipilih DPRD.
D. KERANGKA PEMIKIRAN
Imran-Sutoardjo adalah Bupati dan Wakil Bupati terpilih untuk masa
jabatan 2010-2015. Pasangan ini merupakan incumbent dalam pemilukada
di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010. Dalam bersaing untuk
memperoleh kembali kekuasaan tertinggi di Konawe Selatan, incumbent
tentu akan memasang strategi politik yang menjadi kebutuhan utama untuk
bersaing dalam pemilukada di Kabupaten Konawe Selatan. Di dalam politik,
strategi ini digunakan guna memenangkan persaingan sehingga dapat
memperoleh kekuasaan dan dukungan dari masyarakat. Karena itu, dalam
menyusun strategi dibutuhkan rencana yang matang sehingga tujuan yang
telah ditetapkan sejak awal dapat tercapai.
Dalam penyusunan strategi untuk sebuah persaingan dalam
pemilukada, terdapat hal-hal yang harus diperhatikan. Mulai dari
perencanan, tindakan, hingga evaluasi menjadi penting untuk diperhatikan
terlebih dahulu.
Dengan menyusun konsep strategi terlebih dahulu, tentu akan
memudahkan incumbent. Hal ini dapat menjadi mudah bagi incumbent
karena telah memiliki kendaraan politik yang dapat digunakan untuk
membantu perencanaan strategi, seperti partai politik.
Ketika pasangan incumbent ini merencanakan tindakan untuk
pemilukada, incumbent tentu ingin memenangkan persaingan untuk
memperoleh kekuasaan. Karena itu mereka menyusun strategi
pemenangan.
Strategi pemenangan dapat dilakukan melalui kampanye politik dan
koalisi partai yang merupakan hal penting dalam menjalankan strategi
politik. Kampanye politik bertujuan untuk memberikan makna politis kepada
masyarakat atau pemilih. Makna politis ini menjadi satu output penting
karena dapat menciptakan identitas baru yang khas bagi incumbent dalam
pemilukada.
Untuk itu, dalam kampanye politik dibutuhkan pendekatan dan
komunikasi politik. Pendekatan yang dimaksud adalah bagaimana
incumbent dapat memberi pengaruh (influence) kepada masyarakat, sehingga masyarakat bersedia untuk menjatuhkan pilihannya kembali pada
pasangan incumbent tersebut. Sedangkan komunikasi politik menjadi
penting dalam sebuah perencanaan strategi pemenangan dikarenakan
adanya pemilukada ini tentu menjadi salah satu proses pembelajaran politik
bagi masyarakat, sehingga perlu adanya komunikasi politik yang dapat
membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai politik
khususnya yang berhubungan dengan pemilukada sehingga dapat
menimbulkan kharisma tersendiri di mata masyarakat bagi incumbent.
Selain itu, koalisi partai pun memegang peranan penting dalam
strategi politik untuk pemenangan incumbent. Koalisi partai yang digunakan
perolehan suara partai politik yang berkoalisi cukup meyakinkan. Karena itu
banyak hal yang dipertimbangkan dalam berkoalisi seperti tawar menawar
antar elite politik untuk posisi atau jabatan di pemerintahan. Karena itu, dari
koalisi ini diharapkan keuntungan yang dapat membawa incumbent
memperoleh dukungan dari masyarakat dan mayoritasnya dalam
pemerintahan tetap utuh.
Hal-hal inilah yang dibutuhkan oleh incumbent untuk dapat kembali
memenangkan hasil pemilukada. Incumbent yang dapat diartikan sebagai
seorang yang memegang posisi strategis dalam pemerintahan atau
pemegang kekuasaan dalam sistem politik, tentu membutuhkan strategi
yang dapat membuatnya kembali memperoleh kekuasaan di daerah.
Sebelumnya telah dikatakan bahwa pemilukada merupakan salah
satu proses pembelajaran politik bagi masyarakat dalam sistem demokrasi.
Untuk itu, incumbent membutuhkan kendaraan politik seperti partai politik
dalam memenangkan pemilukada. Partai politik dapat membantu incumbent
untuk memperoleh dukungan dari masyarakat. Apalagi incumbent dalam
pemilukada Konawe Selatan ini, memiliki basis atau massa yang banyak,
dan juga dalam pemilu presiden yang lalu memiliki suara terbanyak. Hal
inilah yang menjadi kekuatan tersendiri bagi incumbent yang memiliki partai
politik sebagai salah satu kekuatannya untuk memperoleh dukungan.
Pemilukada sebagai tempat atau proses bagi incumbent untuk
memperoleh kekuasaan kembali, merupakan satu tolak ukur kehidupan
kampanye politik
strategi
ofensif
koalisi partai politik
strategi
yang keberhasilan sistem demokrasinya diukur dari kesuksesan jalannya
sebuah pemilihan umum termasuk pemilukada. Dikarenakan dalam
pemilukada, setiap masyarakat yang telah wajib memilih mempunyai hak
atau kesempatan untuk memilih pemimpin mereka secara langsung. Ini
yang kemudian dapat dijadikan tolak ukur untuk sebuah kehidupan
demokrasi dan juga desentralisasi kekuasaan yang diterapkan di Indonesia.
Selain itu, pemilukada juga dapat menjadi proses pembelajaran atau
pendidikan politik bagi masyarakat sehingga pengetahuan mereka dapat
bertambah agar dapat memilih pemimpin yang benar-benar bertanggung
jawab dalam membangun kehidupan masyarakat.
E. SKEMA KERANGKA PEMIKIRAN
35
BAB III
METODE PENELITIAN
Dalam pembahasan ini akan menjelaskan beberapa aspek yakni :
lokasi penelitian, tipe dan dasar penelitian, jenis data, teknik pengumpulan
data, dan teknik analisis data.
A. Unit Analisis
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Andoolo, Kabupaten Konawe
Selatan, propinsi Sulawesi Tenggara. Hal yang menjadi pertimbangan untuk
memilih Kecamatan Andoolo sebagai locus penelitian adalah bahwa
yang dilakukan sebanyak dua kali, terkait adanya pelanggaran yang
dilakukan incumbent mengenai strategi politik yang digunakannya.
B. Tipe Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan tipe
penelitian deskriptif analitik. Deskripsi analitik adalah penelitian yang
diarahkan untuk menggambarkan fakta dengan argument yang tepat.
Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan gambaran
mengenai strategi politik yang dilakukan oleh pasangan incumbent,
Imran-Sutoardjo.
C. Jenis Data Penelitian
a. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung
dari sumbernya yakni informan yang langsung berhubungan
dengan fokus penelitian. Pada penelitian ini data primer
diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara mendalam
yang dilakukan dengan informan yang berkaitan dengan
masalah rangkap jabatan yang diangkat. Mereka yang dijadikan
informan adalah Bupati dan Wakil Bupati terpilih (incumbent)
Kabupaten Konawe Selatan, Imran-Sutoardjo, tim pemenangan
incumbent, KPUD Konawe Selatan dan masyarakat di
Kecamatan Andoolo. b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang relevan yang berasal dari
buku-buku, dan bahan referensi lainnya yang berkaitan dengan
merupakan data yang sudah dioleh dalam bentuk naskah
tertulis atau dokumen. Data sekunder dalam penelitian ini
berasal dari strategi politik yang digunakan incumbent untuk
memperoleh kemenangan kembali.
D. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
a. Wawancara mendalam (deep interview)
Wawancara adalah percakapan yang dengan maksud tertentu,
yang dilakukan oleh pewawancara yang mengajukan
pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan
jawaban.9
Salah satu varian dari teknik wawancara adalah wawancara
mendalam (deep interview) yang merupakan proses
memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara
tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan
informan, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara.
Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian
ini, peneliti melakukan wawancara dengan informan yang terkait
dengan masalah yang diangkat. Mereka yang dijadikan
informan adalah:
1. Imran-Sutoardjo
Imran-Sutoardjo dipilih untuk menjadi informan karena
pasangan ini merupakan incumbent dalam pemilukada
Konawe Selatan periode 2010-2015. 2. Tim Pemenangan Incumbent
Tim pemenangan incumbent yang dijadikan informan
adalah mereka yang berasal dari Partai Demokrat dan
Partai Amanat Nasional. 3. KPUD Konawe Selatan
Komisi Pemilihan Umum Daerah Konawe Selatan
menjadi informan terkait fungsinya sebagai pelaksana
sekaligus pengawas atau pengontrol proses pemilukada
di daerah.
4. Masyarakat Kecamatan Andoolo
Masyarakat kecamatan Andoolo menjadi informan
berikutnya yang akan diwawancarai berkaitan dengan
tanggapannya mengenai hasil pemilukada tahun 2010
yang dimenangkan oleh incumbent.
b. Dokumentasi
Dokumentasi dapat diasumsikan sebagai sumber data tertulis
yang terbagi dalam dua ketegori yaitu sumber resmi dan
sumber tidak resmi. Sumber resmi merupakan dokumen yang
dibuat/dikeluarkan oleh lembaga/perorangan atas nama
lembaga. Sumber tidak resmi adalah dokumen yang
Dokumen yang akan dijadikan sebagai sumber referensi adalah
hasil rapat.
E. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis
data kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor metode penelitian kualitatif adalah
suatu metode penelitian untuk menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.10 Teknik
analisis data kualitatif digunakan untuk mendapatkan penjelasan mengenai
strategi politik yang digunakan oleh incumbent dalam memenangkan
pemilukada tahun 2010. Data dari hasil wawancara yang diperoleh kemudian
dicatat dan dikumpulkan sehingga menjadi sebuah catatan lapangan.
Analisis data adalah proses penyederhanaan data dalam bentuk yang
lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Analisa data dalam penelitian
kualitatif dilakukan mulai sejak awal sampai sepanjang proses penelitian
berlangsung.
Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara bersamaan dengan
proses pengumpulan data, proses analisis yang dilakukan merupakan suatu
proses yang cukup panjang dan melibatkan beberapa komponen yaitu,
reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
1. Reduksi data
Yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian serta
penyederhanaan, pengabstrakkan dan transformasi data kasar yang
muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data dilakukan
peneliti dengan cara menajamkan, menggolongkan, mengarahkan,
membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data dengan cara
sedemikian rupa sehingga kesimpulan-kesimpulan akhirnya dapat ditarik
dan diverifikasi oleh peneliti. Dalam tahapan ini peneliti melalukan pemilihan
beberapa data didasarkan kepentingan penulisan sehingga didapatkan
pemisahan data yang penting dengan yang kurang penting. Proses reduksi
data adalah proses yang dilakukan secara terus-menerus sampai pada
proses penulisan laporan akhir selesai dilakukan.
2. Sajian data
Dalam penyajian data peneliti mengumpulkan informasi yang
tersusun yang memberikan dasar pijakan kepada peneliti untuk
melakukan suatu pembahasan dan pengambilan kesimpulan. Penyajian
ini, kemudian untuk menggabungkan informasi yang tersusun dalam
suatu bentuk yang terpadu sehingga mudah diamati apa yang sedang
terjadi kemudian menentukan penarikan kesimpulan secara benar. Penyajian
data tidak terpisahkan dari analisis justru penyajian data akan menentukan
suatu analisa.
Pada tahap penyajian data peneliti mengelompokan data berdasarkan
kelompok informan, sehingga diketahui beberapa informasi dari informan
berdasarkan pokok masalah dan sumber (informan).
Sajian data yang dilakukan bertujuan untuk memahami berbagai hal
kemudian dirancang untuk menyampaikan informasi secara lebih sistematis
mengenai strategi politik incumbent dalam pemilukada di Kabupaten Konawe
Selatan.
3. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan adalah suatu kegiatan dari konfigurasi yang
utuh. Berbagai hal yang ditemui dalam proses pengumpulan data mengenai
strategi politik incumbent peneliti catat dan verifikasi. Hal yang harus
dilakukan pada penarikan kesimpulan akhir adalah mendiskusikan cara untuk
BAB IV
GAMBARAN UMUM PENELITIAN
Dalam bab ini peneliti akan memaparkan empat aspek yakni pertama,
kondisi wilayah Kabupaten Konawe Selatan, kedua, kondisi politik dan
pemerintahan Kabupaten Konawe Selatan, ketiga data jumlah Daftar Pemilih Tetap Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Konawe Selatan, dan keempat
daftar calon kepala daerah dalam pemilihan kepala daerah langsung di
Kabupaten Konawe Selatan.
A. Kondisi Wilayah Kabupaten Konawe Selatan
Kabupaten Konawe Selatan adalah salah satu Daerah Tingkat II di
Propinsi Sulawesi Tenggara yang merupakan hasil pemekaran dari
Kabupaten Kendari yang disahkan dengan UU Nomor 4 tahun 2003 pada
tanggal 25 Februari tahun 2003. Luas wilayah Kabupaten Konawe Selatan
adalah sekitar 4.514,20 km2 atau sebesar 11,83% dari luas propinsi Sulawesi
Tenggara. Wilayah ini terbagi menjadi 22 kecamatan atau secara
keseluruhan terbagi lagi ke dalam satuan wilayah yang lebih kecil yaitu terdiri
Jumlah penduduk Kabupaten Konawe Selatan pada tahun 2010
adalah sebanyak 264.197 jiwa yang terdiri dari 135.949 penduduk laki-laki
dan 128.248 penduduk perempuan dengan rasio jenis kelamin yakni sebesar
106. Rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Konawe Selatan
mencapai 58,53 jiwa/km2.
Penyebaran penduduk Kabupaten Konawe Selatan menunjukkan
bahwa penduduk Kabupaten Konawe Selatan terkonsentrasi di wilayah
Kecamatan Tinanggea yakni sebanyak 21.320 jiwa, disusul Kecamatan
Laeya 19.006 jiwa, Kecamatan Konda 18.129 jiwa, Kecamatan Ranomeeto
16.240 jiwa, Kecamatan Andoolo 15.845 jiwa, Kecamatan Lalembuu 15.615
jiwa, Kecamatan Angata 14.911 jiwa, Kecamatan Kolono 13.688 jiwa,
Kecamatan Buke 13.237 jiwa, Kecamatan Moramo 13.035 jiwa, Kecamatan
Palangga 12.286 jiwa, Kecamatan Landono 11.461 jiwa, Kecamatan Mowila
11.131 jiwa, Kecamatan Benua 9.733 jiwa, Kecamatan Laonti 9.442 jiwa,
Kecamatan Lainea 8.871 jiwa, Kecamatan Basala 8.147 jiwa, Kecamatan
Baito 7.564 jiwa, Kecamatan Moramo Utara 7.164, Kecamatan Wolasi 4.732
jiwa, Kecamatan Ranomeeto Barat 6.515 jiwa, dan Kecamatan Palangga
Selatan 6.125 jiwa.
Tabel I. Jumlah Penduduk Kabupaten Konawe Selatan Per Tahun 2010
No Kecamatan Penduduk Sex Ratio PendudukDistribusi
1 Tinanggea 21.320 106 8,07
3 Konda 18.129 104 6,86
4 Ranomeeto 16.240 105 6,15
5 Andoolo 15.845 107 6,00
No Kecamatan Penduduk Sex Ratio Distribusi
Penduduk
6 Lalembuu 15.615 106 5,91
7 Angata 14.911 105 5,64
8 Kolono 13.688 105 5,18
9 Buke 13.237 108 5,01
10 Moramo 13.035 107 4,93
11 Palangga 12.286 105 4,65
12 Landono 11.461 106 4,34
13 Mowila 11.131 114 4,21
14 Benua 9.733 110 3,68
15 Laonti 9.442 105 3,57
16 Lainea 8.871 104 3,36
17 Basala 8.147 108 3,08
18 Baito 7.564 107 2,86
19 Moramo Utara 7.164 105 2,71
20 Wolasi 4.732 104 1,79
21 Ranomeeto Barat 6.515 103 2,47
22 Palangga Selatan 6.125 105 2,32
Penduduk Kabupaten Konawe Selatan dalam hal keagamaan dapat
dikatakan heterogen, dimana pada masing-masing kecamatan tidak hanya
terdapat satu agama dan rumah-rumah ibadah dari masing-masing agama
tersebar di setiap wilayah/kecamatan.
B. Kondisi Politik dan Pemerintahan Kabupaten Konawe Selatan
Pusat pemerintahan Kabupaten Konawe Selatan dipusatkan di
Kecamatan Andoolo yang merupakan ibukota kabupaten. Di Kecamatan
Andoolo yang beribukota di Andoolo terdapat Kantor Bupati dan Kantor
DPRD Kabupaten Konawe Selatan. DPRD Kabupaten Konawe Selatan
periode 2009-2014 adalah sebanyak 30 orang yang berasal dari 11 partai
politik yakni Partai Hanura sebanyak 2 orang, Partai PKB 2 orang, Partai PBB
1 orang, Partai PPI 1 orang, Partai Demokrat 7 orang, Partai PAN 4 orang,
Partai Golkar 5 orang, Partai PKS 4 orang, Partai PPP 2 orang, Partai PDIP 1
orang, dan Partai PNBK 1 orang. Sesuai dengan peraturan
perundang-undangan maka DPRD yang diisi oleh 30 anggota legislatif terbagi ke dalam
3 komisi yakni Komisi I yang membidangi Hukum dan Pemerintahan, Komisi
II yang membidangi Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan dan Komisi III
yang membidangi Sosial Budaya.
Selain itu, terdapat pula 6 kantor Dinas, Badan Pusat Statistik,
Inspektorat daerah serta lembaga-lembaga lainnya yang keberadaannya
efektif dan efisien khususnya dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat.
Pada awal pembentukan kabupaten ini yakni di tahun 2004,
diselenggarakan pemilihan umum kepala daerah untuk pertama kalinya.
Pesta demokrasi yang diselenggarakan ini disambut baik oleh masyarakat
sehingga hasilnya membawa Drs. H. Imran, M.Si dan Drs. Sutoardjo Pondiu,
M.Si terpilih menjadi pasangan kepala daerah yang pertama di Kabupaten
Konawe Selatan.
Di bawah kepemimpinan Drs. H. Imran, M.Si segala program guna
memajukan pembangunan di wilayah pemekaran ini pun dilaksanakan.
Sehingga banyak kemajuan yang di alami oleh daerah ini selama kurang
lebih 5 (lima) tahun. Kemajuan dalam bidang pendidikan, kesehatan, fasilitas
umum, dan sebagainya dirasakan oleh masyarakat Konawe Selatan. Hal ini
menjadi satu motivasi yang sangat penting guna mengembangkan sumber
C. Data Jumlah Daftar Pemilih Tetap Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010
Sesuai dengan ketentuan yang mengatur jalannya pemilihan umum,
maka persyaratan bagi masyarakat yang telah berhak menggunakan hak
suaranya dalam pemilihan yakni masyarakat yang telah berusia 17 tahun
atau sudah menikah. Berikut tabel daftar pemilih tetap saat pemilihan kepala
daerah di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010.
Tabel II. DPT Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010.
No Kecamatan DPT
1 Tinanggea 14.059
2 Laeya 12.371
3 Konda 11.520
4 Ranomeeto 9.974
5 Andoolo 11.264
6 Lalembuu 12.050
7 Angata 10.432
8 Kolono 9.320
9 Buke 9.397
10 Moramo 8.966
11 Palangga 8.267
12 Landono 7.877
No Kecamatan DPT
14 Benua 7.283
15 Laonti 6.236
16 Lainea 6.021
17 Basala 5.707
18 Baito 5.000
19 Moramo Utara 4.707
20 Wolasi 3.138
21 Ranomeeto Barat 4.319
22 Palangga Selatan 3.789
Sumber : Pokja DPT KPUD Kab.Konawe Selatan, 2010
D. Data Calon Kepala Daerah dalam Pemilihan Kepala Daerah Langsung di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010
Kehadiran Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah yang dalam salah satu pasalnya menyatakan bahwa pemilihan
kepala daerah dan wakil kapala daerah dilaksanakan secara demokratis
berdasarkan asas langsung, jujur, bebas, dan adil11. Pasangan calon kepala
daerah dan wakilnya ditentukan oleh partai politik atau gabungan dari partai
politik. Kehadiran undang-undang ini memberikan peluang kepada para elit
politik untuk menjadi leader di daerah.
Salah satu wilayah di Propinsi Sulawesi Tenggara yang melaksanakan
Pemilihan Kepala Daerah secara langsung di tahun 2010 adalah Kabupaten
Konawe Selatan. Kabupaten yang terdiri dari 22 kecamatan ini,
melaksanakan pemilihan umum kepala daerah secara langsung pada tanggal
8 Mei 2010.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para aktor politik untuk
mendapat predikat orang nomor satu di kabupaten baru ini, sehingga pada
pemilihan kepala daerah ini, terdapat empat pasangan calon bupati dan wakil
bupati yang akan bersaing dalam pemilihan umum kepala daerah langsung di
Kabupaten Konawe Selatan tahun 2010. Keempat pasangan calon tersebut
bergerilya untuk dapat memenangkan pemilihan kepala daerah ini.
Masing-masing calon bupati dan wakil bupati didukung oleh partai politik, namun
salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati merupakan calon
independen. Berikut daftar nama calon bupati dan wakil bupati beserta partai
politik pendukung.
1. Drs. H. A. Rustam Tamburaka, M.Si Bambang Setiyobudi, SE, M.Si
Partai politik pendukung : HANURA, PKB, PPI (versi Agusran
Saelang), PBB.
2. Drs. H. Imran, M.Si
Drs. Sutoardjo Pondiu, M.Si
Partai politik pendukung : Demokrat, PAN.
3. H. Surunuddin Dangga, MBS Drs. H. Muchtar Silondae, SH, M.Si
Partai politik pendukung : GOLKAR, PKS, PPP, PDIP, PNBK, PPRN,
PKPB, PKP, BURUH, PKNU, PATRIOT, PKPI, PNIM, REPUBLIKAN,
PBR, GERINDRA, PNUI, PELOPOR, PDK, PPI (versi Hasrul), PIS,
4. Drs. Ashar, MM Yan Sulaiman
Calon Perseorangan
Dalam memenangkan kompetisi ini, semua pasangan calon
membutuhkan strategi yang dapat mewujudkan keinginannya menjadi
pasangan bupati dan wakil bupati terpilih pada periode kedua. Strategi yang
dibutuhkan oleh pasangan calon ini adalah strategi yang benar-benar matang
sehingga dalam pelaksanaannya dapat membawa dampak positif serta hasil
yang diharapkan. Termasuk pasangan incumbent yakni Drs. H. Imran, M.Si
dan Drs. Sutoardjo Pondiu membutuhkan strategi politik yang tepat, karena
itu salah satu strategi yang dipilih oleh incumbent adalah melalui kendaraan
politiknya yakni partai politik. Pemilihan kendaran politik dianggap dapat
menjadi strategi yang efektif dan efisien jika menempatkan cara-cara yang
tepat selama masa kampanye.
Oleh karena itu, pasangan incumbent ini memanfaatkan partai politik
yang menaungi mereka apalagi jabatan dalam partai politik ini adalah
masing-masing sebagai ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Tenggara dan
Ketua DPC Partai Demokrat Konawe Selatan. Jabatan dalam partai politik
inilah yang dianggap dapat membawa keuntungan bagi hasil pemilihan
kepala daerah nantinya. Demokrat yang dipandang sebagai partai yang
memiliki peluang besar, yang mana dalam beberapa pemilihan umum di
Propinsi Sulawesi Tenggara, hasilnya dimenangkan oleh para calon dari
partai ini, termasuk dalam pemilihan legislatif tahun 2009 Partai Demokrat
Inilah yang menjadi modal awal bagi pasangan incumbent. Karena itu,
untuk semakin memperkuat kendaraan politik yang digunakannya, maka
pasangan incumbent mencari koalisi atau gabungan dari partai lain dan
hasilnya PAN menjadi partner Demokrat dalam koalisi pada pemilihan kepala
daerah tahun 2010. Koalisi dengan PAN dianggap cocok karena dalam
beberapa pemilihan juga di Sulawesi Tenggara para calon dari partai ini yang
berhasil memenangkan pemilihan umum. Contohnya, pada pemilihan
Gubernur Sulawesi Tenggara, hasilnya dimenangkan oleh calon yang
diusung dari partai ini. Selanjutnya, kedua partai besar ini bersama-sama
menyusun strategi pemenangan melalui tim pemenangan yang telah
dibentuk.
BAB V
STRATEGI KOALISI PARTAI POLITIK DAN
Dalam kajian ilmu politik, strategi politik menjadi pembahasan yang
menarik sejak dulu. Pembahasan ini terkait adanya keinginan aktor atau elit
politik untuk menjadi seorang pemimpin dalam struktur pemerintahan.
Keinginan ini mendorong para aktor atau elit politik untuk menggunakan
strategi politik dalam mencapai cita-cita politiknya, tidak terkecuali dengan
incumbent.
Strategi politik merupakan sebuah cara yang digunakan dalam dunia
politik termasuk dalam menghadapi pemilihan kepala daerah. Strategi yang
digunakan diharapkan mampu memberikan hasil yang optimal bagi
kompetitor yang salah satunya adalah incumbent. Strategi pemenangan yang
dibutuhkan oleh incumbent membutuhkan kematangan perencanaan guna
memasarkan program-program politiknya.
Incumbent yang bersaing dengan para kompetitor lainnya wajib
mengikuti aturan yang berlaku dalam menjalankan strategi politiknya.
Sebagaimana pada pemilihan umum kepala daerah yang diatur dalam
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang
menyatakan bahwa pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam
satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan
asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.12 Pasangan calon
kepala daerah dan wakilnya ditentukan oleh partai politik atau gabungan
partai politik bukan lagi oleh DPRD.
Pelaksanaan pemilihan kepala daerah langsung memberikan
kesempatan kepada setiap orang untuk masuk ke dalam bursa pemilihan