Hukum Keuangan Negara Sebagai Produk Politik
a. Hukum pada awalnya dipahami identik dengan Peraturan Perundang-undangan persepsi itu keliru. Peraturan Perundang-Perundang-undangan lebih luas dari undang-undang, UU hanya Produk DPR (legislatif bersama Presiden) sementara Peraturan Perundang-undangan adalah semua produk Badan pembuat UU dan produk badan atau pejabat Tata Usaha Negara yang mengikat dan berlaku umum.
Peraturan Perundang-undangan tersusun secara bertingkat/berjenjang, tidak boleh dibalik urutannya sebagaimana diatur dalam UU No. 10 tahun 2004 tentang Peraturan Perundang-undangan, yaitu:
1. UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945
2. Undang-undang /Peraturan Pemerintah Pengganti UU. 3. Peraturan Pemerintah
4. Peraturan Presiden
5. Peraturan Daerah, terdiri dari :
• Perda Propinsi
Sebelumnya Urutan Peraturan Perundang-undangan diatur Dalam Ketetapan MRPS No. XX/MPRS/1966 dan kemudian Diganti dengan Ketetapan MPR No.III/MPR/2000. Urutannya sebagai berikut:
1. UUD 1945 2. Ketetapan MPR 3. UU
4. Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perpu) 5. Peraturan Pemerintah
6. Keputusan Presiden 7. Peraturan Daerah
Terdapat perbedaan, antara ketetapan MPR No. III/MPR/2000 dengan UU No. 10 tahun 2004. UU No. 10 tidak mengenal lagi ketetapan MPR karena MPR setelah amandemen UUD tidak berwenang lagi mengeluarkan Ketetapan MPR, kewenangan MPR hanya (1) Mengubah dan menetapakan UUD dan (2) Melantik Presiden dan wakil Presiden. UU dan Perpu dibedakan tingkatannya, istilah Keputusan Presiden diganti dengan Peraturan Presiden.
b. Peristilahan Politik Hukum.
Istilah Politik hukum tediri dari 2 kata yaitu “ Politik” dan “Hukum”. Antara kata politik dan hukum oleh kebanyakan ahli hukum memandangnya sebagai dua kata yang paradok. Hukum adalah suatu hal yang sudah pasti dan jelas, sementara politik suatu hal yang selalu mengandung ketidak pastian selalu berubah-ubah menurut pelaku politik.
Istilah politik hukum terjemahan dari bahasa Belanda yaitu rechtspolitiek, terbentuk dari dua kata yaitu rechts dan politiek. Istilah itu pernah digunakan oleh Bellefroid “
”Politiek” dalam bahasa Belanda mengandung arti beleid dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan ”kebijakan”. Kebijakan berarti adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan , kepemimpinan dan cara bertindak. Misalnya kebijakan penanganan korupsi, kebijakan peradilan satu atap, kebijakan perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu dan lain-lain.
Politik Hukum dalam bahasa Inggris disebut Legal Policy, istilah yang terdiri dari dua variable “Politik” dan “Hukum”. Dalam konteks ini Politik Hukum dipahami sebagai bagaimana politik mempengaruhi hukum atau sebaliknya hukum mempengaruhi politik yang kemudian mengkristal di dalam politik hukum yang digariskan oleh suatu negara.
diibaratkan daging atau istilah yang digunakan Muchtar Koesoemaatmadja maupun Sri Soemantri hukum ibarat Rel, sementara politik merupakan lokomotifnya. Pertanyaan apakah rangka yang mengikuti daging atau daging yang mengikuti rangka, ataukah lokomotif yang mengikuti rel atau rel yang mengikuti lokomotif. Mana yang aman dari pertanyaan di atas.
c. Pengertian/Definisi Politik Hukum
Ketika kita berbicara pengertian/definisi kita ingat ungkapan Immanuel Kant, sulit mendapatkan satu kesatuan pengertian/definisi tentang hukum. Hal yang sama juga untuk mendapatkan pengertian Politik Hukum. Para ahli mengemukakan definisi menurut latar belakang, cara pandang masing-masing tentang Politik Hukum. Terdapat perbedaan, namun ada persamaan. Selain itu pengertian politik hukum dapat dilihat dari segi tata bahasa.
i. Dari segi Tata Bahasa (asal usul kata)
menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan dan cara bertindak. Dengan kata lain Politik Hukum adalah Rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak dalam bidang Hukum.
Kata kebijakan (wisdom, wijsheid) dan kebijaksanaan ( policy, beleid) menurut Girindro Pringgodigdo dua hal yang berbeda. Kebijaksanaan adalah serangkaian tindakan atau kegiatan yang direncanakan dibidang hukum untuk mencapai tujuan atau sasaran yang dikehendaki. Orientasinya pada pembentukan dan penegakan hukum masa kini, masa depan. Adapun kebijakan adalah tindakan atau kegiatan seketika (instand desicion) melihat urgensi/situasi yang dihadapi berupa pengambilan keputusan di bidang hukum yang bersifat pengaturan dan keputusan tertulis/lisan yang berdasarkan kewenangan diskresi (kewenangan bebas bertindak jika hukumnya tidak jelas/belum ada).
Sekalipun kedua istilah itu secara konseptual berbeda, namun dalam praktek sehari-hari sering penggunaanya dalam pengertian yang sama yakni rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan dan cara bertindak.
• Padmo Wahyono dalam tulisannya “Menyelisik proses terbentuknya Perundang-undangan, Forum Keadilan mengatakan Politik Hukum adalah Kebijakan penyelenggaraan negara, tentang apa yang dijadikan kriteria untuk menghukumkan sesuatu. Kebijakan itu dapat berkaitan dengan membentuk hukum, penerapan hukum dan penegakkan hukum
• Teuku M Radhie, “Pembaharuan dan Politik Hukum dalam Rangka Pembangunan Hukum”. Politik hukum sebagai suatu pernyataan kehendak penguasa negara mengenai hukum yang berlaku diwilayahnya, dan mengenai arah perkembangan hukum yang dibangun.
• Sodarto, Politik Hukum adalah kebijakan dari negara melalui badan-badan negara yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki, yang diperkirakan akan digunakan untuk mengekpresikan yang terkandung dalam masyarakat dan dalam mencapai apa yang dicita-citakan. (hukum dan Hukum Pidana).
• Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Politik hukum sebagai aktivitas memilih dan cara yang hendak dipakai untuk mencapai suatu tujuan sosial dan hukum tertentu dalam masyarakat.
Dari definisi yang dikemukakan di atas, sebetulnya dapat ditarik unsur-unsur dari Politik Hukum yakni:
a. Kehendak penguasa negara mengenai hukum
b. Kehendak tersebut telah dituangkan/digariskan dalam dokumen kenegaraan
c. Hal itu dijadikan pedoman/arah untuk dijalankan secara nasional d. Ini menyangkut pembentukan dan penegakan hukum.
Kesimpulan, Politik Hukum adalah kebijakan dasar penyelenggaraan negara dalam bidang hukum yang akan, sedang dan telah berlaku, bersumber dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat untuk mencapai tujuan negara yang dicita-citakan.
d. Pengertian Hukum Keuangan
Menurut UU Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang dimaksud dengan Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis, transparan, dan efisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi, dengan mempertimbangkan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah, serta besaran pendanaan penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan.
secara ekspisit tertuang dalam Pasal 18A ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengamanatkan agar hubungan keuangan, pelayanan umum, serta pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan Undang-Undang. Dengan demikian, Pasal ini merupakan landasan filosofis dan landasan konstitusional pembentukan Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
Lebih lanjut Pendanaan dalam perimbangan keuangan pusat dan daerah tersebut menganut prinsip money follows function, yang mengandung makna bahwa pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan. Dalam UU No 33 tahun 2004 beberapa istilah yang penting adalah
Daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan/ atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.
Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.
Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.
Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.
Dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah.
• Hukum Keuangan Negara
Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang (baik uang maupun barang) yang dapat menjadi kekayaan negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
• Menurut UU 17 Tahun 1965
• Seluruh kekayaan negara termasuk didalamnya segala bagian – bagian harta milik kekayaan dan segala hak serta kewajiban yang timbul karenanya, baik kekayaan itu berada dalam penguasaan pejabat – pejabat atau lembaga – lembaga yang termasuk pemerintah maupun berada dalam penguasaan dan pengurusan bank – bank pemerintah dengan status hukum publik/perdata.
• Unsur Keuangan Negara
1. Hak – hak negara
2. Kewajiban – kewajiban negara
3. Ruang lingkup keuangan negara
4. Aspek sosial ekonomi dari keuangan negara
• Hak negara dalam hal ini menyangkut masalah keuangan negara dimana pemerintah untuk mengisi kas negara dalam rangka membiayai kepentingan – kepentingan aparatur negara (rutin) dan masyarakat
(pembangunan), negara diberi hak untuk :
1. Hak monopoli mencetak uang
2. Hak untuk memungut pajak, bea, cukai dan retribusi
3. Hak untuk memproduksi barang dan jasa yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat
4. Hak untuk melakukan pinjaman baik dalam maupun luar negeri
• Kewajiban – kewajiban Negara
• Timbulnya kewajiban negara merupakan konskwensi timbal balik yang saling berkaitan erat yang tidak dapat dipisahkan dari keduanya.
• Kewajiban tersebut merupakan realisasi dari tujuan negara yang termaktub dalam aline ke-IV Pembukaan UUD 1945.
• tujuan negara tersebut :
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
2. Memajukan kesejahteraan umum
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
• Terdapat pula kewajiban untuk melakukan pembayaran kepada pihak ketiga atas pelaksanaan sebagian tugas dari negara atas persetujuan atau penunjukan pemerintah.
• Ruang Lingkup Keuangan Negara
• Keuangan negara yang langsung diurus Pemerintah
dapat berupa uang atau barang. Berupa uang berwujud dalam APBN yang setiap tahun disusun dan ditetapkan dengan UU dan secara teknis operasional diatur dalam berbagai peraturan perundangan. Berupa barang (milik negara) dapat berwujud benda bergerak/tidak bergerak yang digunakan untuk menunjang berjalannya tugas negara dan sebagai sumber penerimaan negara pula.
• Keuangan negara yang dipisahkan pengurusannya
adalah kekayaan negara yang pengelolaannya dipisahkan dari keuangan negara dan berbentuk usaha negara seperti perusahaan umum negara.
• Aspek Sosial Ekonomi Negara
• Mencakup distribusi pendapatan, kekayaan dan kestabilan kegiatan – kegiatan ekonomi.
Harapan publik terhadap stabilitas politik nasional agaknya amat dominan dalam menentukan keputusan-keputusan ekonominya. Investasi yang rendah hingga saat ini menunjukkan suatu ekspektasi yang masih lemah oleh para pelaku ekonomi terhadap stabilitas politik dan ekonomi dalam negeri untuk jangka panjang. Maka apapun agendanya, upaya ke arah perbaikan sistem politik hendaknya terus diarahkan pada pengembalian kepercayaan publik atas kejelasan arah politik dalam negeri yang kondusif dan berpihak bagi bekerjanya kembali berbagai mekanisme perekonomian melalui aktivitas-aktivitas yang produktif. Oleh karenanya situasi politik yang stabil dan kondusif merupakan prasyarat utama dan tiket menuju pemulihan ekonomi secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Untuk diwaspadai sekaligus diantisipasi dan terus dikawal adalah seputar demokratisasi, fragmentasi (polarisasi) politik serta desentralisasi kekuasaan sebagai wujud dari semangat otonomisasi. Ketiga persoalan domestik ini hadir sebagai sebuah konsekwensi yang tak terpisahkan atas suatu kesepakatan kolektif yang terbangun oleh arus reformasi total yang menuntut perubahan menyeluruh terhadap sistem dan pranata kehidupan berbangsa dan bernegara.
2004 namun meminjam istilah dalam sebuah permainan kuis, kita baru sampai pada ”titik aman pertama”, tahap- tahap selanjutnya akan semakin berat dengan konfigurasi tantangan yang semakin kompleks, di mana ketika prestasi ini tidak mampu dipertahankan maka bukan tidak mungkin kita akan kembali lagi ke titik start, bahkan lebih dari itu tanpa sebuah blue-print yang jelas menyangkut agenda pembenahan terhadap arah dan sistem politik ke depan kita akan terjebak pada suatu titik krusial, dan sulit untuk kembali (point of no return).
”Lompatan” dalam sistem politik yang dialami Indonesia dari otokrasi ke demokrasi telah menciptakan Iklim politik baru yang cukup riskan, yakni tumbuhnya beragam kekuatan politik yang terpolarisasi berdasarkan identitas etnik, agama, aliran politik maupun kepentingan-kepentingan sesaat. Di satu sisi hal ini sangat rentan bagi terpicunya konflik vertikal maupun horizontal serta potensi disintegrasi yang semakin melemahkan perekonomian. Konflik Ambon, Sampit, Poso dan tempat- tempat lainnya menunjukkan mudahnya kekerasan terjadi melalui polarisasi etnis, agama, ataupun kelas. Pada saat yang bersamaan fragmentasi politik juga dapat melemahkan konsentrasi dan konsistensi pemerintah dalam melaksanakan agenda-agenda perubahan.
untuk mengelola dan memanfaatkan berbagai potensi dan sumberdaya ekonomi yang dimiliki untuk kesejahteraannya. Konsekwensi yang di harapkan adalah terciptanya persaingan di antara pemerintah-pemerintah daerah untuk menyediakan prasarana dan pelayanan umum yang terbaik guna menarik para pelaku ekonomi (pemilik modal) ke daerahnya
Namun desentralisasi bisa menjadi ”bola panas” ketika daerah belum benar-benar siap ditambah kerelaan pemerintah pusat yang dalam banyak hal terkesan masih setengah hati menyebabkan implementasi menjadi tidak optimal, terjadinya segregasi dan kerawanan sosial, berpindahnya kebobrokan sistem politik ekonomi dari pusat ke daerah, dan pada akhirnya peningkatan kualitas pelayanan publik menuju kesejahteraan ekonomi masyarakat di daerah menjadi jauh dari harapan. Untuk itu Pemerintah pusat harus mempunyai political will yang kuat dalam menjalankan program desentralisasi ini secara sungguh-sungguh disertai pola pembinaan yang konstruktif. Upaya beberapa departemen dan instansi terkait di pusat untuk tetap memegang kendali anggaran sektor-sektor yang wewenangnya telah dialihkan ke daerah, hendaknya ditinggalkan guna meminimalkan praktik rente yang sering terjadi melalui kewenangan mengendalikan anggaran.
akan sumberdaya, tentunya disertai upaya-upaya yang mendorong kemampuan daerah miskin untuk bisa mandiri dalam jangka panjang, dan di lain pihak tidak mematikan insentif bagi daerah kaya untuk tetap memacu pertumbuhan ekonominya. Paling tidak perumusan dalam menentukan pemberian dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK) perlu disesuaikan agar benar-benar bisa berfungsi sebagai penyeimbang dalam anggaran pemerintah daerah, terutama bagi daerah-daerah yang termarginalkan oleh sistem bagi hasil. Sehingga pada gilirannya dapat memperkecil kesenjangan pembangunan antar daerah dan mejembatani jurang ketimpangan.
Selanjutnya, proses pemulihan ekonomi dapat berjalan optimal melalui pengelolaan pemerintahan yang efektif, jujur dan bertanggung jawab serta memiliki kompetensi yang memadai untuk mengeluarkan bangsa ini dari jeratan krisis. Tanpa adanya pembenahan internal dalam sistem dan tata kelola pemerintahan yang dalam perkembangan terkini dikenal dengan istilah-istilah good governance, dan good corporate governance, maka bisa dipastikan proses pemulihan ekonomi akan berjalan di tempat. Maka langkah pemberantasannya pun mesti dilakukan secar tuntas dan komprehensif, termasuk menyeret para penguasa masa lalu yang kini cuci tangan serta para konglomerat nakal perampok uang negara yang yang hingga saat ini masih berkeliaran.
Di samping itu agenda good governance tentunya berdimensi sangat luas, bukan hanya terbatas pada pemberantasan korupsi, namun menyangkut keseluruhan upaya pengembalian kepercayaan publik terhadap kompetensi pemerintah dalam mengelola pemerintahan, pencapaian stabilitas keamanan, penegakan supremasi hukum, efisiensi birokrasi dan moral hazard, serta pengelolaan sumber daya ekonomi secara efektif, transparan dan akuntabel. Ketika pemerintah mampu mengembalikan kredibilitasnya di mata masyarakat maupun dunia internasional termasuk para pelaku ekonomi diharapkan dapat berimbas pada terciptanya iklim yang kondusif bagi investasi-investasi produktif dan pertumbuhan ekonomi.
1)Participation, yakni partisipasi para pelaku pembangunan, sebagai subyek dan obyek pembangunan yang mandiri, dalam proses pengambilan keputusan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan dan pemetikan hasil pembangunan; 2)Common Vision, berupa visi bersama tentang posisi yang hendak dicapai di masa depan, yang dibentuk dengan partisipasi seluas mungkin para mitra pembangunan; 3)Rersponsiveness, yakni tanggap terhadap kebutuhan nyata mitra pembangunan; 4)Prdictability: dapat diprediksi karena didasarkan pada aturan yang jelas dan adil, serta kapasitas yang dimiliki; 5)Equity and Sustainability: keadilan antar mitra pembangunan sekarang dan antara generasi sekarang dengan generasi yang akan datang; 6)Transparency: keterbukaan dalam informasi, proses pengambilan keputusan serta pelaksanaan pembangunan; 7)Rule of Law: supremasi hukum yang berlaku sama untuk semua pihak; dan 8)Accountability, yakni pertanggung-jawaban tentang efektivitas, efisiensi dan keberlanjutan pembangunan, berdasarkan hukum yang berlaku.
karena bagaimanapun keadaan ekonomi dipengaruhi oleh keadaan dan kondisi masyarakatnya.
Ekonomi dan politik merupakan konsep yang tidak terpisahkan. Sebaliknya merupakan kedua konsep tersebut saling mempengaruhi dan melengkapi. Ekonomi berperan dalam menyejahterakan rakyat dengan cara mengelola sumber daya alam yang terkandung di dalam bumi juga bertujuan untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran. Politik berperan menciptakan iklim yang mendukung terciptanya kesejahteraan rakyat banyak. Sistem dan keadaan politik di suatu negara selalu mempengaruhi semua prosedur ekonomi karena bagaimanapun keadaan ekonomi dipengaruhi oleh aspek-aspek politiknya. Pada perkembangan selanjutnya ekonomi menjadi salah satu faktor penentu posisi perpolitikan negara secara struktural karena perekonomian menjadi unsur yang tidak bisa lepas dari atribut power suatu negara.
Indonesia di masa datang; (5) ideologi sistem politik Indonesia yang mempengaruhi arah pembangunan ekonomi secara keseluruhan.
Indonesia adalah negara kesatuan berbentuk republik, dengan memakai sistem demokrasi, di mana kedaulatan berada di tangan rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensil, di mana Presiden berkedudukan sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawatan Rakyat (MPR) yang terdiri dari dua badan yaitu DPR yang anggota-anggotanya terdiri dari wakil-wakil Partai Politik dan DPD yang anggota-anggotanya mewakili provinsi yang ada di Indonesia. Setiap daerah diwakili oleh 4 orang yang dipilih langsung oleh rakyat di daerahnya masing-masing. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) adalah lembaga tertinggi negara (Anonim, 2009).
Dalam UUD 1945 pada pasal 33 disebutkan bahwa “pemerintah harus melakukan intervensi terhadap kondisi perekonomian yang dijalankan melalui mekanisme pasar”.
masyarakat (Jamkesmas) dan beras untuk rakyat miskin merupakan bentuk kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat (Anonim, 2010 dalam http://matanews.com/2009/07/13/baru-separo-jalan-defisit-apbn-rp57-t/ ).
Selain itu pemerintah juga disibukan dengan kenaikan harga bahan bahan kebutuhan pokok masyarakat. Parahnya lagi, pemerintah disibukan juga dengan masalah politik Bank Century yang tak kunjung selesai. Pemerintah hanya disibukan dengan penyelesaian masalah masalah rutin sehingga terkesan kurang memperdulikan implementasi perencanaan ekonomi tahunan dan pembangunan.
Untuk menyukseskan implementasi perencanaan ekonomi seta pembangunan, diperlukan adanya dukungan politik yang kuat dari DPR. Namun sayangnya, hal tersebut tidak mudah untuk diwujudkan dalam masa demokrasi terbuka ini. Membentuk koalisi juga tidaklah mudah. Kedudukan politik di Indonesia sangat bersifat “melayani kepentingan kelompok”. Adanya koalisi bersama yang dipimipin oleh Abu Rizal Bakrie yang mana juga seorang pengusaha pemimpin group Bakrie terbesar di Indonesia. Bentuk adanya koalisi ini kemungkinan terjadi di masa mendatang apabila terdapat ketidakpastian dalam jajaran eksekutif pemerintah. Kesempatan mengembangkan perekonomian menjadi sirna karena masing-masing komponen bangsa lebih mementingkan perebutan kekuasaan politik daripada menyelesaikan masalah ekonomi.
pemerintah secara bulat. Kemungkinan yang terjadi adalah pembangunan ekonomi yang timpang di sektor-sektor tertentu makin marak misalnya pergerakan ekonomi di bidang jasa dan perbankan. Begitupula dengan orientasi partai-partai di Indonesia bukan lagi menjadi pengejawantahan suara rakyat melainkan perwakilan sejumlah kepentigan korporat besar.
Analisis dampak kebijakan publik merupakan fokus pembicaraan yang menarik untuk dicermati. Daya tarik ini minimal didasarkan pada tiga hal penting. Pertama, konteks desentralisasi pemerintahan yang mewarnai wacana penyelenggaraan pemerintah di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Kedua, studi tentang dampak kebijakan yang senantiasa dikritisi oleh berbagai pihak (kalangan akademisi dan praktiksi). Ketiga, esensi dan urgensi evaluasi kebijakan publik karena kemanfaatan kebijakan yang dievaluasi terlihat melalui dampaknya terhadap sasaran (target) yang dituju (Tarigan, 2010).
Sayangnya permodalan di daerah ini akan semakin banyak didominasi oleh investor asing daripada investor dalam negeri sehingga ketergantungan kebijakan akan sangat memihak pemilik modal tersebut daripada benar-benar melayani publik masyarakat yang ada. Kehadiran investor ini mayoritas adalah korporat multinasional besar yang beroperasi transnasional. Tren politik yang terjadi di daerah saat ini adalah semakin banyaknya elite politik daerah yang tidak tahu menahu dampak jangka panjang investasi ini pada keberlangsungan pembangunan ekonomi daerah.
Ideologi adalah intisari pemikiran mendasar dari suatu konsep (hidup) (Bacon, 2007). Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa ideologi adalah pemikiran yang mencakup konsepsi mendasar tentang kehidupan dan memiliki metode untuk merasionalisasikan pemikiran tersebut berupa fakta, metode menjaga pemikiran tersebut agar tidak menjadi absurd dari pemikiran-pemikiran yang lain dan metode untuk menyebarkannya. Tujuan utama dari ideologi sendiri adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif.
monarkisme, nasionalisme, nazisme, liberalisme, libertarianisme, sosialisme, dan demokrat sosial. Indonesia merupakan sebuah negara kesatuan yang berbasis republik. Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensil, di mana presiden berkedudukan sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Berbeda dengan ideologi politik, ideologi ekonomi secara mendasar terdiri dari 3 macam yaitu:
1. Sistem ekonomi liberal (pasar), sistem ini memberi kebebasan sepenuhnya kepada masyarakat yang punya modal untuk menguasai perekonomian. biasanya negara-negara yang menganut sistem ini adalah negara-negara yang mempunyai banyak modal (negara maju) sehingga negara-negara seperti ini sering disebut negara kapitalis/penguasa modal. Sistem permodalan Indonesia dijalankan menggunakan mekanisme liberalisasi ekonomi. Nilai mata uang Rupiah Indonesia dibiarkan berfluktuasi sedemikian rupa sesuai dengan permintaan dan penawaran di pasar modal (Helleiner, 2002).
ini adalah negar-negara komunis. Beberapa cabang penting penerimaan negara seperti minyak dan pertambangan dikuasai oleh negara.
3. Sistem perekonomian campuran, sistem ini merupakan perpaduan antara sistem ekonomi terpusat dengan sistem perekonomian liberal, sehingga sumber daya sebagian dikelola pemerintah dan sebagian dikelola swasta/masyarakat yang punya modal. negara-negara yang menganut sistem perekonomian seperti ini adalah negara yang masih dalam taraf mensejahterakan masyarakatnya.
Sedangkan ideologi sistem ekonomi yang dianut oleh Indonesia merupakan ideologi campuran, hal ini terbukti melalui UUD 45 pasal 33 dimana sebagian sumber daya dikuasai oleh negara (melalui BUMN) namun berjalannya waktu dan tingkat inflasi, sekaran beberapa aset BUMN dan sahamnya dijual kepada swasta sehingga sekrang sumber daya Indonesia sebagian besar dikuasai oleh swasta (kaum kapitalis/penguasa modal). Bisa disimpulkan sistem perekonomian Indonesia adalah campuran yang akan mengarah pada liberal.
sumber daya alam akan selalu berorientasi untuk mensejahterakan rakyat. Fakta yang banyak terjadi adalah pemerintah Indonesia selalu gagal mendapatkan porsi pengusahaan saham negara yang mendatangkan keuntungan lebih besar. Indonesia selalu kalah dengan pemain korporat multinasioal. Peristiwa Blok Cepu, Freeport, dan Petrochina adalah salah satu contohnya. Bagi hasil pengelolaan sumber daya alam selalu memarginalkan Indonesia. Tren ini akan terus menerus terjadi di masa mendatang seiring dengan korporat multinasional itu akan semakin tumbuh menjadi lebih besar.
Melihat pada ideologi politik yang dianut oleh Indonesia yaitu ideologi demokrasi, masih memiliki banyak kekurangan disana sini. Terutama pada kekuasaan parlemennya. Kekuasaan parlemen dan eksekutif yang sangat rawan mementingkan diri sendiri melalui tindak korupsi di sana sini akan semakin memundurkan potensi ekonomi Indonesia yang saat ini semestinya lebih diberdayakan karena peluang itu akan terus menerus mengalir.