• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESTORATIVE JUSTICE UNTUK PERADILAN DI INDONESIA (Perspektif Yuridis Filosofis dalam Penegakan Hukum In Concreto)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "RESTORATIVE JUSTICE UNTUK PERADILAN DI INDONESIA (Perspektif Yuridis Filosofis dalam Penegakan Hukum In Concreto)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

REST ORAT IVE JUST ICE UNTUK PERADILAN DI INDONESIA

(Perspektif Yuridis Filosofis dalam Penegakan Hukum In Concret o)

Kuat Puji Prayitno

Fakult as Hukum Universit as Jenderal Soedirman E-mail: kuat unsoed@yahoo. com

Abst ract

Rest or at ive j ust i ce i s a phi losophy, a pr ocess, an i dea, a t heor y and an i nt er vent ion, t hat emphasi zes r epai r i ng t he har m caused or r evealed by cr imi nal behaviour . Thi s pr ocess i s in st ar k cont r ast t o t he est abl i shed way of addr essi ng cr i me whi ch ar e seen as of f ences commit t ed agai nst t he St at e. Rest or at ive j ust i ce f i nds i t s f oot i ng i n t he basi c phi l osophy of t he f our pr ecept s of Pancasi l a, namel y pr i or it i zi ng del i ber at ion in deci si on maki ng. Pur pose of t he set t l ement wit h t he Vi ct im Of f ender Medi at i on i s t o "humani ze" t he j ust ice syst em, t hat f air ness is abl e t o answer what t he act ual needs of vi ct ims, of f ender s and communit ies.

Key wor ds: Rest or at ive j ust i ce, vi ct im of f ender medi at i on, r epair i ng t he har m

Abst rak

Rest or at ive j ust i ce merupakan f ilsaf at , proses, ide, t eori dan int ervensi, yang menekankan dalam memperbaiki kerugian yang disebabkan at au diungkapkan oleh perilaku kriminal. Proses ini sangat kont ras dengan cara st andar menangani kej ahat an yang dipandang sebagai pelanggaran yang dilakukan t erhadap Negara. Rest or at i ve Just i ce menemukan pij akan dalam f ilosof i dasar dari sila keempat Pancasila, yait u musyawarah priorit as dalam pengambilan keput usan. Tuj uan penyelesaian dengan Mediasi Korban pelanggar adalah unt uk "memanusiakan" sist em peradilan, keadilan yang mampu menj awab apa kebut uhan yang sebenarnya dari korban, pelaku dan masyarakat .

Kat a kunci: Rest orat ive j ust ice, mediasi korban pelanggar, memperbaiki kesalahan.

Pendahuluan

Ket ika berbicara t ent ang kej ahat an, ma-ka seringnya yang pert ama muncul dalam be-nak kit a adalah pelaku kej ahat an. Kit a biasa menyebut mereka penj ahat , kriminal, at au le-bih buruk lagi, sampah masyarakat , dan masih banyak lagi. Masyarakat sudah t erbiasa, at au dibiasakan, memandang pelaku sebagai sat u-sat unya f akt or dalam kej ahat an. Tidak menghe-rankan bila upaya penanganan kej ahat an masih t erf okus hanya pada t indakan penghukuman t erhadap pelaku. Memberikan hukuman kepada pelaku masih dianggap sebagai “ obat manj ur” unt uk “ menyembuhkan” baik luka at au derit a korban maupun kelainan perilaku yang “ diidap”

Art ikel ini merupakan art ikel hasil penei t i an yang di bi a-yai ol eh DIPA UNDIP No. 0160. 0/ 023-04. 2/ XIII/ 2009 t anggal 18 Maret 2009, dan Sur at Perj anj i an Pel aksana-an Hi bah Penel it iaksana-an Program Dokt or No/ 124B/ H7. 2/ KP/ 2009, t anggal 18 Maret 2009.

pelaku kej ahat an.

Fakt anya, banyak dit emukan kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan yang menye-babkan vikt imisasi t erhadap para t erpidana. Konsep Lembaga Pemasyarakat an pada level empirisnya, sesungguhnya, t ak ada bedanya de-ngan penj ara. Bahkan ada t udide-ngan bahwa Lembaga Pemasyarakat an adalah “ sekolah ke-j ahat an” . Sebab orang ke-j ust ru menke-j adi lebih ke-j a-hat set elah menj alani pidana penj ara di Lem-baga Pemasyarakat an. Ini menj adi salah sat u f akt or dominan munculnya seorang bekas na-rapidana melakukan kej ahat an lagi, yang biasa disebut dengan r esi divi s.

(2)

sulit t erkont rol bahkan cacat (cr imi nal j ust i ce appr oach i s f undament al l y f l awed), dibilang “does not wor k i n t er ms of i t s own decl ar ed ai ms” at au t idak bekerj a unt uk t uj uan yang dia nyat akan sendiri.

Menurut John Delaney, pengint egrasian kembali narapidana ke dalam masyarakat harus dilakukan lewat t ahapan sel f r eal i sat i on pr o-cess, yait u sat u proses yang memperhat ikan dengan seksama pengalaman, nilai-nilai, peng-harapan dan cit a-cit a narapidana, t ermasuk di dalamnya lat ar belakang budayanya, kelemba-gaannya dan kondisi masyarakat dari mana ia berasal,1 sedangkan David Rot hman mengat a-kan bahwa rehabilit asi adalah kebohongan yang diagung-agungkan. Pernyat aan Rot hman ini muncul set elah ia melihat kenyat aan yang se-benarnya bahwa penj ara mengasingkan penj a-hat dari cara hidup yang waj ar sehingga la t i-dak siap unt uk hidup di j alan yang benar se-t elah ia dibebaskan dari penj ara.

Ironisnya, hampir seluruh t indak kej aha-t an yang diaha-t angani oleh Sisaha-t em Peradilan Pida-na Indonesia selalu berakhir di penj ara. Pada-hal penj ara bukan solusi t erbaik dalam menye-lesaikan masalah-masalah kej ahat an, khusus-nya t indak kej ahat an di mana "kerusakan" yang dit imbulkan kepada korban dan masyarakat ma-sih bisa di rest orasi sehingga kondisi yang t elah "rusak" dapat dikembalikan ke keadaan semula, sekaligus penghilangan dampak buruk penj ara. Dalam menyikapi t indak kej ahat an yang diang-gap dapat di rest orasi kembali, dikenal suat u paradigma penghukuman yang disebut sebagai

r est or at ive j ust i ce, di mana pelaku di dorong unt uk memperbaiki kerugian yang t elah dit im-bulkannya kepada korban, keluarganya dan j u-ga masyat akat . Unt uk it u program ut amanya adalah “ a meet i ng pl ace f or peopl e” guna me-nemukan solusi perbaikan hubungan dan keru-sakan akibat kej ahat an (peace).

Keadilan yang dilandasi perdamaian (pea-ce) ant ara pelaku, korban dan masyarakat it

1 Muhammad Must of a dan Adr ianus Mel ial a, 2008, Lokakar ya Menghukum Tanpa Memenj ar akan: Mengakt ual i -sasi kan Gagasan "Rest or at i ve Just i ce" di Indonesi a, di Depok, Kami s (26/ 2-2008). Di skusi yang di sel enggara-kan Depart emen Kr i minol ogi UI dan Aust r al i a Agency f or Int er nat i onal Devel opment .

lah yang menj adi moral et ik rest orat ive j ust ice, oleh karena it u keadilannya dikat akan sebagai "Just Peace Pr i nci pl e". Prinsip ini mengingat kan kit a bahwa keadilan dan perdamaian pada da-sarnya t idak dapat dipisahkan. Perdamaian t an-pa keadilan adalah penindasan, keadilan t anan-pa perdamaian adalah bent uk baru penganiayaan/ t ekanan. Dikat akan sebagai Just Peace Pr inci p-l e at au Just Peace Et hi cs karena pendekat an t erhadap kej ahat an dalam Rest or at i ve Just i ce

bert uj uan unt uk pemulihan kerusakan akibat kej ahat an (it i s an at t empt t o r ecover y j ust i -ce), upaya ini dilakukan dengan mempert emu-kan korban, pelaku dan masyarakat .

Persoalannya adalah selama ini peradilan sudah t erpola dengan r et r i but ive j ust i ce yang memandang kej ahat an sebagai pelanggaran yang dilakukan t erhadap negara. Pendekat an ini berf okus pada masa lalu dan t uj uannya ada-lah unt uk menent ukan siapa yang harus disaada-lah- disalah-kan dan pidana apa yang adisalah-kan dij at uhdisalah-kan. Lain halnya dengan r est or at i ve j ust i ce, sehingga mungkinkah secara yuridis ilmiah peradilan res-t orares-t if ini dapares-t dires-t erapkan dalam penegakan hukum i n concr et o.

Permasalahan

Permasalahan yang akan dibahas pada ar-t ikel ini adalah sebagai berikuar-t . Per t ama, ba-gaimanakah karakt erist ik peradilan rest orat if kait annya dengan rambu-rambu penegakan hu-kum nasional?, kedua, mungkinkah peradilan rest orat if ini diaplika-sikan dalam peradilan di Indonesia?

Met ode Penelitian

(3)

rambu-rambu kebij akan hukum nasional (nat i onal l e-gal f r amewor k).

Dat a ut ama yang dipergunakan dalam pe-nelit ian ini adalah dat a sekunder dan sebagai penambah digunakan dat a primer. Dat a primer diperoleh langsung dari sumbernya, sedangkan dat a sekunder diperoleh dari sumber kepust a-kaan ant ara lain dokumen, buku lit erat ur, lapo-ran penelit ian, dan j urnal. Teknik pengumpulan dat a dengan melakukan kaj ian kepust akaan mendalam t erhadap perat uran perundang-un-dangan, put usan-put usan hakim, dan st udi t er-hadap hasil penelit ian, buku-buku, dan j urnal yang berkait an dengan permasalahan penelit i-an. Analisis dilakukan dengan cara mendeskrip-t if kan hasil kaj ian unmendeskrip-t uk membangun konsep peradilan rest orat if dalam sist em peradilan pidana Indonesia.

Pembahasan

Pengert ian Rest orat ive Just ice

Rest or at ive j ust i ce dilihat banyak orang

as a phi l osophy, a pr ocess, an i dea, a t heor y and an i nt er vent ion.2 Rest or at ive j ust i ce ada-lah peradilan yang menekankan perbaikan at as kerugian yang disebabkan at au t erkait dengan t indak pidana. Rest or at iv j ust i ce dilakukan me-lalui proses kooperat if yang melibat kan semua pihak (st akehol der s).

Rest or at ive j ust i ce i s a t heor y of j ust i ce t hat emphasi zes r epair ing t he har m cau-sed or r eveal ed by cr imi nal beha-vi our . It i s best accompl i shed t hr ough cooper at ive pr ocesses t hat i ncl ude al l st akehol der s.3

Def inisi yang dikemukakan oleh Dignan sebagai berikut :

Rest or at ive j ust i ce i s a val ued-based ap-pr oach t o r esponding t o wr ongdoing and conf l i ct , wi t h a bal anced f ocus on t he

2

Mereka yang ber pendapat seper t i ini ant ar a l ain Br ait h-wait e, Umbrei t and Car y, Ri char dson, Umbreit and Coat es, Gr aef , dan Du Pont . Lihat dal am Darr el l Fox, “ Soci al Wel f are and Rest orat ive Just ice”, Journal Kr i -mi nol ogi j a Soci j al na Int egr aci j a Year 2009 Vol 17 Issue 1 Pagesr ecor d No. 55-68, 2009, London Met ropol it an Uni versit y Depart ment of Appl ied Soci al Sciences, hl m. 56

3

l ihat dal am ht t p: / / 152. 118. 58. 226 - Powered by Mambo Open Source Gener at ed: 7 November, 2008, 18: 00

per son har med, t he per son causi ng t he har m, and t he af f ect ed communit y.4

Rest or at ive j ust i ce merupakan alt ernat if at au cara lain peradilan kriminal dengan me-ngedepankan pendekat an i nt egr asi pelaku di sat u sisi dan korban/ masyarakat di lain sisi se-bagai sat u kesat uan unt uk mencari solusi sert a kembali pada pola hubungan baik dalam ma-syarakat .

Kat a kunci dari rest orat ive j ust ice ada-lah “ empower ment ” , bahkan empower ment ini adalah j ant ungnya rest orat if (t he hear t of t he r est or at ive i deol ogy), oleh karena it u r est or a-t i ve j usa-t i ce keberhasilannya dit ent ukan oleh pemberdayaan ini.5 Dalam konsep t radisional, korban diharapkan unt uk t et ap diam, menerima dan t idak ikut campur dalam proses pidana. Se-cara f undament al ide rest orat ive j ust ice hen-dak mengat ur kembali peran korban yang de-mikian it u, dari semula yang pasif menunggu dan melihat bagaimana sist em peradilan pidana menangani kej ahat an “ mereka” , diberdayakan sehingga korban mempunyai hak pribadi unt uk berpart isipasi dalam proses pidana. Dalam lit e-rat ur t ent ang rest oe-rat ive j ust ice, dikat akan bahwa “empower ment” berkait an dengan pi-hak-pihak dalam perkara pidana (korban, pela-ku dan masyarakat ).6 Para sarj ana memak-nainya sebagai berikut :

has descr i bed empower ment as t he ac-t i on of meeac-t i ng, di scussi ng and r esol ving cr i minal j ust i ce mat t er s i n or der t o meet mat er i al and emot i onal needs. To hi m, empower ment i s t he power f or peopl e t o choose bet ween t he di f f er ent al t er -nat ives t hat ar e avai l abl e t o r esol ve one’ s own mat t er . The opt ion t o make such deci si ons shoul d be pr esent dur ing t he whol e pr ocess.7

4

Ibi d 5

C. Bart on, Empower ment and Ret ri but ion i ni Cr iminal Just i ce. In: H. St rang, J. Brai t wait e (eds), “ Rest orat i-ve Just ice: Phil osophy t o Pract i ce” . Jour nal TEMIDA

Mart 2011. Al d er shot : Ashgat e/ Dar t mout h, hl m. 55- 76.

6 Ket iga pi hak t er sebut ol eh Mc Col d dikat akan sebagai st akehol der perkar a pidana.

7 Lihat berbagai def inisi l ai nnya dal am Ivo Aer t sen, et . al ,

(4)

Kongkrit nya, empower ment at au pember-dayaan dalam kont eks r est or at ive j ust i ce ada-lah proses pert emuan dalam hal ini ant ara pe-laku dengan korban at au masyarakat unt uk membahas dan secara akt if berpart isipasi da-lam penyelesaian masalah pidana (r esol ut i on of t he cr i mi nal mat t er ). Hal ini merupakan alt nat if at au pilihan lain dari pengaruh respon t er-hadap kej ahat an.

Respon t erhadap kej ahat an yang semula dilakukan dengan menggelar peradilan pidana oleh negara unt uk mencari kesalahan pelaku, kemudian diikut i dengan pengenaan sanksi guna mencela dan mengenakan penderit aan at au nest apa kepadanya yang pada prinsipnya adalah pengasingan/ disint egrasi. Rest orat ive j ust ice j ust ru sebaliknya mengusung f alsaf ah int ergrasi yang solut if , masing-masing pihak berperan akt if unt uk menyelesaikan masalah. Oleh kare-na it u konsep rest orat ive j ust ice bisa dibilang mengint egrasikan prinsip musya-warah dalam penyelesaian perkara pidana.

Konsep t eori r est or at ive j ust i ce mena-warkan j awaban at as isu-isu pent ing dalam pe-nyelesaian perkara pidana, yait u: per t ama, kri-t ik kri-t erhadap siskri-t em peradilan pidana yang kri-t idak memberikan kesempat an khususnya bagi korban

(cr i mi nal j ust i ce syst em t hat di sempower s i ndi -vi du); kedua, menghilangkan konf lik khususnya ant ara pelaku dengan korban dan masyarakat

(t aki ng away t he conf l i ct f r om t hem); ket i ga,

f akt a bahwa perasaan ket idakberdayaan yang dialami sebagai akibat dari t indak pidana harus diat asi unt uk mencapai perbaikan (i n or der t o achi eve r epar at ion).8

Program yang t erkandung dalam r est o-r at ive j ust i ce dalam upaya mengat asi persoalan kej ahat an, adalah sebagai berikut . Per t ama, r est or at ive j ust i ce adalah perluasan konsep pe-mikiran seiring perkembangan sosial yang ber-geser unt uk melembagakan pendekat an dengan cara-cara damai (t o inst i t ut i onal i ze peacef ul appr oaches) t erhadap kerugian akibat t indak pidana, pemecahan masalah, dan pelanggaran hukum dan HAM; kedua, r est or at i ve j ust i ce

mencari/ membangun hubungan kemit raan

8

Ibi d.

eks t o bui l d par t ner shi ps) unt uk mengokohkan kembali pert anggungj awaban yang saling meng-unt ungkan (mut ual r esponsi bi l i t y) unt uk meres-pon secara konst rukt if at as t indak pidana yang t erj adi dalam masyarakat ; ket i ga, r est or at ive Just i ce mencari pendekat an yang seimbang

(seek a bal anced appr oach) t erhadap kebut uh-an korbuh-an, pelaku duh-an masyarakat melalui pro-ses yang memelihara keamanan dan mart abat bagi semua pihak (t hat pr eser ve t he saf et y and di gni t y of al l ).

Prakt ik dan program r est or at i ve j ust i ce

t ercermin pada t uj uannya yang menyikapi t in-dak pidana dengan:9 per t ama, i dent i f ying and t aki ng st eps t o r epair har m ( mengident if ikasi dan mengambil langkah-langkah unt uk mem-perbaiki kerugian/ kerusakan); kedua, i nvolvi ng al l st akehol der s (melibat kan semua pihak yang berkepent ingan) dan; ket i ga, t r ansf or mi ng t he t r adit ional r el at ionshi p bet ween communi t ies and t heir gover nment s in r espondi ng t o cr ime.

Tr ansf or mi ng t he t r adit ional r el at i onshi p yait u t ransf ormasi dari pola dimana masyarakat dan negara menghadapi pelaku dengan pengenaan sanksi pidana menj adi pola hubungan koopera-t if ankoopera-t ara pelaku di sakoopera-t u sisi dengan masyara-kat / korban dalam menyelesaikan masalah aki-bat kej ahat an.

Peradilan rest orat if dalam hal ini merubah paradigma dari pola berhadap-hadapan ant ara pelaku dengan korban dan negara menj adi pola kooperat if at au int egrasi, persoalan kej ahat an sebagai t indakan oleh pelaku t erhadap individu at au masyarakat bukan t erhadap negara.

Rest or at ive Just i ce i s commonl y known as a t heor y of cr imi nal j ust i ce t hat f o-cuses on cr i me as an act by an of f ender agai nst anot her i ndivi dual or commu-ni t y r at her t han t he st at e.10

9

McCol d and Wacht el , “Rest or at i ve pr act i ces, The Int er -nat i onal Inst i t ut e f or Rest or at i ve Pr act i ces (IIRP)” ,

New York: Criminal Just ice Press & Amst erdam: Kugl er Publ icat ions Journal, Vol. 85-101, 2003, hl m. 7

(5)

Ada beberapa prinsip dasar yang menon-j ol dari r est or at ive j ust i ce t erkait hubungan ant ara kej ahat an, pelaku, korban, masyarakat dan negara. Per t ama, kej ahat an dit empat kan sebagai gej ala yang menj adi bagian t indakan sosial dan bukan sekedar pelanggaran hukum pidana; kedua, r est or at ive Just i ce adalah t eori pera-dilan pidana yang f okusnya pada pandang-an ypandang-ang melihat bahwa kej ahat pandang-an adalah seba-gai t indakan oleh pelaku t erhadap orang lain at au masyarakat daripada t erhadap negara. Ja-di lebih menekankan bagaimana hubungan/ t anggungj awab pelaku (individu) dalam menye-lesaikan masalahnya dengan korban dan at au masyarakat ; ket iga, kej ahat an dipandang seba-gai t indakan yang merugikan orang dan meru-sak hubungan sosial. "Ini j elas berbeda dengan hukum pidana yang t elah menarik kej ahat an sebagai masalah negara, hanya negara yang berhak menghukum” ; keempat , munculnya ide

r est or at ive j ust i ce sebagai krit ik at as penerap-an sist em peradilpenerap-an pidpenerap-ana dengpenerap-an pemenj ara-an yara-ang diara-anggap t idak ef ekt if menyelesaikara-an konf lik sosial.

Ident if ikasi beberapa ciri/ t ipikal dari program-program at au hasil (out comes) r est o-r at ive j ust i ce ant ara lain meliput i: vi ct im of -f ender medi at ion (memediasi ant ara pelaku dan korban); conf er enci ng (mempert emukan para pihak); ci r cl es (saling menunj ang); Vi ct i m assi st ance (membant u korban); ex-of f ender as-si st ance (membant u orang yang pernah melaku-kan kej ahat an); r est i t ut i on (memberi gant i rugi/ menyembuhkan); communit y ser vi ce (pe-layanan masyara-kat ).

Prinsip Dasar Rest orat ive Just ice

Ada t iga prinsip dasar unt uk memben-t uk

r est or at ive j ust i ce, yait u t her e be a r est or at i -on t o t hose who have been inj ur ed, t he of f en-der has an oppor t uni t y t o be i nvol ved i n t he r est or at ion i f t hey desi r e and t he cour t sys-t em’ s r ole i s sys-t o pr eser ve sys-t he publ i c or der and t he communi t y’ s r ol e is t o pr eser ve a j ust peace.11 Dengan demikian kat a kunci ket iga

11 From Wiki pedi a, t he f ree encycl opedia ht t p: / / en.

wiki-pedia. org/ wiki / Rest orat ive_j ust ice

prinsip dasar rest orat ive j ust ice t ersebut ada-lah: t erj adi pemulihan kepada mereka yang menderit a kerugian akibat kej ahat an; pelaku memiliki kesempat an unt uk t erlibat dalam pe-mulihan keadaan (rest orasi); dan pengadilan berperan unt uk menj aga ket ert iban umum dan masyarakat berperan unt uk melest arikan per-damaian yang adil.

Keadilan dalam r est or at ive j ust i ce meng-haruskan unt uk adanya upaya memulihkan/ me-ngembalikan kerugian at au akibat yang dit im-bulkan oleh t indak pidana, dan pelaku dalam hal ini diberi kesempat an unt uk dilibat kan lam upaya pemulihan t ersebut , semua it u da-lam rangka memelihara ket ert iban masyarakat dan memelihara perdamaian yang adil. Dengan kat a lain ket iga prinsip t ersebut mengandung unsur-unsur sebagai berikut . Per t ama, j ust i ce r equir es t hat we wor k t o r est or e t hose who ha-ve been i nj ur ed; kedua, t hose most dir ect l y i n-vol ved and af f ect t t ed by cr i me shoul d have t he oppor t unit y t o par t i ci pat e f ul l y i n t he r esponse i f t hey wi sh; dan ket iga, gover nment ’ s r ol e i s t o pr eser ve a j ust publ i c or der , and t he com-muni t y’ si s t o bui l d and maint ain a j ust peace.

Just i ce Peace dalam rest orat ive j ust ice dit empuh dengan “r est or at i ve conf er enci ng”

yait u mempert emukan ant ara pelaku-korban dan masyarakat unt uk mencari at au memut us-kan cara yang t erbaik mengat asi dampak at au akibat dari kej ahat an (deci de how best t o r e-pai r t he har m). Selain it u pert emuan (conf e-r enci ng) j uga dimaksudkan unt uk: memberi ke-sempat an kepada korban unt uk menghadapi pe-laku guna mengungkapkan perasaannya, me-nanyakan sesuat u dan menyampaikan keingi-nannya; pelaku dapat mendengar langsung ba-gaimana perilakunya at au perbuat annya t elah menimbulkan dampak/ kerugian pada orang lain; pelaku kemudian dapat memint a maaf dengan memperbaiki kerusakan at au kerugian dari akibat perbuat annya, memperbaiki kesa-lahan dan menyet uj ui gant i rugi keuangan at au melakukan pekerj aan pelaya-nan.12

12 Bandingkan dengan O'Connel l , 1998 & Morris and

Max-wel l , 2001, Rest or at i ve or Communi t y Conf er enci ng,

(6)

Memahami r est or at ive j ust i ce past inya akan menemukan semangat lebih pada penye-lesaian masalah ant ara para pihak dalam hu-bungan sosial dari pada mengedepankan nerapan at uran/ hukum yang menghadapkan pe-laku dengan aparat pemerint ah. Adapun se-mangat yang t erkandung di dalamnya meliput i:

sear ch sol ut ions (mencari solusi); r epai r (mem-perbaiki); r econci l i at ion (perdamaian); dan t he r ebui l di ng of r el at i onshi ps (membangun kem-bali hubungan).

Semangat r est or at i ve j ust i ce it u kemudi-an memunculkkemudi-an st kemudi-andar program sebagai beri-kut .13 Per t ama, encount er, yait u mencipt akan peluang bagi korban, pelaku dan anggot a ma-syarakat yang ingin melakukannya unt uk bert e-mu membicarakan t indak pidana dan bagaima-na sesudahnya; kedua amends, yait u mengha-rapkan pelaku unt uk mengambil langkah-lang-kah guna memperbaiki kerugian yang t elah di-sebabkannya t ermasuk pemberian gant i rugi;

ket i ga, r ei nt egr at ion, yait u baik korban mau pun pelaku sama-sama dipulihkan/ disembuh-kan/ diperbaiki, sert a berkont ribusi sebagai anggot a masyarakat ; keempat , incl usi on, yait u memberi kesempat an kepada para pihak yang t erkait dengan t indak pidana (al l st akehol der s)

dapat berpart isipasi dalam mencari pemecah-an masalah.

Dibanding dengan pengadilan r et r i bu-t ive

yang bersif at menghukum, r est or at ive j ust i ce

mempunyai perbedaan dalam pert anyaan dasar sebagai berikut . Ret r i but ive Just i ce (our cur -r ent j ust i ce syst em) asks: What l aws have been br oken? (Hukum apa yang t elah dilanggar); Who di d i t ? (Siapa yang melakukannya); What do t hey deser ve? (Apa yang pant as/ selayaknya mereka t erima). Rest or at i ve j ust i ce r equi r es t hat we (communi t y) ask: Who has been hur t? (Siapa yang t elah disakit i/ t erluka/ dirugikan);

What do t hey need? (Apa yang mereka but

13 Lihat pul a ht t p: / / en. wiki pedia. org/ wiki / Rest orat i ve

_j ust i ce. Creat e opport unit i es f or vict i ms, of f ender s and communit y member s who want t o do so t o meet t o di scuss t he cri me and it s af t er mat h; Expect of f ender s t o t ake st eps t o repair t he harm t hey have caused incl udi ng rest it ut ion; t hat bot h vict ims and of f ender s are rest ored t o whol e, cont ri but i ng members of societ y; Provide opporsociet unisociet i es f or parsociet ies/ societ hasociet al l ssociet akehol -ders in a cri me can part i ci pat e i n it s resol ut ion.

kan); Who has t he obl i gat ion and r esponsi bi l it y t o addr ess t his hur t and meet t hese needs? (Siapa yang memiliki kewaj iban dan t anggung-j awab t erhadap pemulihan kerugian dan pe-menuhan kebut uhan t ersebut ); What can we as a communit y do t o make sur e t hi s does not happen agai n? (Apa yang dapat kit a lakukan se-bagai anggot a masyarakat unt uk meyakinkan bahwa hal t ersebut t idak t erj adi lagi).

Brait hwait e mengemukakan konsep Sha-mi ng and Reint egr at ion at au ‘r ei nt egr at ive shami ng’ adalah aspek int i dari t eori r est or a-t i ve j usa-t i ce yait u kait an dengan pelaku unt uk membant u korban dan anggot a masyarakat lain dalam pert anggungj awaban mereka at as perila-ku yang t idak bisa dit erima. Rei nt egr at ive sha-mi ng dimana pelaku menerima t anggung j awab at as t indakan mereka (malu) dan berusaha un-t uk menebus kesalahan (reinun-t egrasi) kepada korban dan t erkadang masyarakat . 14

Cara yang dit empuh dalam peradilan res-t orares-t if j elas konres-t ras dengan penanganan res-t indak pidana yang selama ini dilakukan, sebagai dikemukakan oleh Morris sebagai berikut :

Thi s pr ocess i s in st ar k cont r ast t o t he est abl i shed way of addr essi ng cr i me whi ch ar e seen as of f ences commit t ed agai nst t he St at e, r at her t han on t he ac-t ual vi cac-t im and communi ac-t y wher e iac-t oc-cur r ed. 15

Rest or at ive j ust i ce lebih memposisikan para pihak secara bersama-sama daripada me-nempat kan mereka t erpisah, lebih menj alin kembali hubungan/ harmoni daripada memecah belah, lebih berupaya mencipt akan keut uhan daripada t erpecah belah. Pendekat an pemeca-han masalahnya bert uj uan unt uk menyat ukan dan menggabungkan pandangan dari semua in-dividu at au kelompok yang memiliki kepen-t ingan dalam kepen-t indak pidana ikepen-t u, apakah ini me-rupakan masalah kesej aht eraan at au masalah kriminal. Kebaj ikan dan prinsip panduan yang mengikut i dalam r est or at ive j ust i ce harus

14 Brait hw ait e dal am Darrel l Fox, “ Social Wel f are And

Rest or at i ve Just i ce” , Jour nal Kr i mi nol ogi j a i Soci j al na

Int egr aci j a Year 2009 Vol 17 Issue 1 Pagesr ecord No.

55-68, London Met ropol it an Universit y Depart ment of Appl ied Social Sciences, London, hl m. 57

15

(7)

H sebagai kesat uan dari bagian yang saling berhu-bungan. hanya mengedepankan penerapan at uran mem-bukt ikan kesalahan pelaku dan lalu menghu-kumnya t idak akan bisa menerima konsep ini. Baginya peradilan adalah hak negara unt uk me-ngenakan sanksi kepada warganya yang t elah melanggar at uran. Penj eraan dan at au rehabili-t asi menj adi f akrehabili-t or yang sangarehabili-t populis di da-lamnya, perhat ian peradilan didominasi oleh kepent ingan pelaku, masyarakat dan negara.

Rest or at ive j ust i ce lebih pada penyele-grasi pelaku di sat u sisi dan korban, masyarakat di lain sisi sebagai sat u kesat uan unt uk mencari solusi sert a kembali pada pola hubungan baik dalam masyarakat .

Perubahan paradigma berpikir ini perlu di dukung dengan kebij akan legislasi nasional ser-t a pemahaman perkembangan keilmuan di du-nia peradilan. Di Brasil model penyelesaian de-ngan rest orat ive ini dibangun melalui pendidi-kan sosial (sosial-pedagogis).16 Art inya bahwa adakan pembaharuan kebij akan peradilan pida-nanya dengan pengembangan st rat egi kompre-hensif , mengurangi penggunaan sanksi penj ara, dan meningkat kan penggunaan alt ernat if lain selain penj ara t ermasuk program r est or at ive j ust i ce.

(8)

PBB cukup menj adi salah sat u aspirasi unt uk membangun at au mengupdat e/ r ef or m kebij ak-an peradilak-an ke arah model r est or at i ve j ust i ce. Dalam kebij akan nasional ada Pancasila yang merupakan cor e phi l osopy bangsa. Sebagai cor e phi l osopy Pancasila dengan begit u merupakan sumber nilai bagi adanya sist em hukum di Indo-nesia.17 Dalam sila ke-4 Pancasila: “ Kerakyat an Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebij aksanaan da-lam Permusyawarat an/ Perwakilan” t erkandung f alsaf ah permusyawarat an at au musyawarah, makna yang t erkandung adalah: mengut amakan musyawarah dalam mengambil keput usan unt uk kepent ingan bersama, dan menghormat i set iap keput usan musyawarah, keput usan yang diam-bil harus dapat dipert anggungj awabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menj un-j ung t inggi harkat dan mart abat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengut amakan persat uan dan kesat uan demi kepent ingan ber-sama.

Sila 4 Pancasila ini mengaj arkan ke-pada kit a unt uk menent ukan sebuah pilihan melalui cara musyawarah. Mengut amakan mu-syawarah dalam mengambil keput usan unt uk kepent ingan bersama. Musyawarah unt uk men-capai muf akat diliput i semangat kekeluargaan, sehingga kalau di br eakdown f alsaf ah “ musya-warah” mengandung 5 (lima) prinsip sebagai berikut . Per t ama, conf er encing (bert emu unt uk saling mendengar dan mengungkapkan keingin-an); kedua, sear ch sol ut ions (mencari solusi at au t it ik t emu at as masalah yang sedang diha-dapi); ket i ga, r econci l i at i on (berdamai dengan t anggungj awab masing-masing); keempat , r e-pai r (memperbaiki at as semua akibat yang t im-bul); dan kel i ma, cir cl es (saling menunj ang).

Prinsip-prinsip ini persis sepert i yang di but uhkan dan menj adi kat a kunci dalam r est o-r at ive j ust i ce, sehingga secara ket at anegaraan

r est or at ive j ust i ce menemukan dasar pij akan-nya dalam f alsaf ah sila ke-4 Pancasila.18 Dasar

17 Prayit no, Kuat Puj i, 2007, Pancasi l a Sebagai Bi nt ang Pemandu (Lei t st er n) dal am Pembi naan Lembaga dan Pr anat a Hukum di Indonesi a, Jurnal Medi a Hukum, Akredit asi : No. 26/ DIKTI/ Kep/ 2005 Vo. 14 No. 3, Yogya-kart a, hl m. 152

18

Sil a ker akyat an yang bermakna pr insip demokrasi ini kal au dii mpement asikan dal am pol a penyel esaian

pij akan it u kalau diimplement asikan dalam pola penyelesaian perkara pidana mengandung prin-sip yang disebut dengan ist ilah VOC (Vi ct im Of -f ender Con-f er enci ng). Target dalam pert emuan VOC (Vi ct im Of f ender Conf er encing) adalah mediasi at au VOM (Vi ct i m-Of f ender Medi at i on),

yait u kesempat an unt uk berdamai dan saling menyepakat i perbaikan. Tuj uannya adalah un-t uk menangani kej ahaun-t an sebagai konf lik yang harus diselesaikan ant ara orang t erkena dam-pak langsung bukan sebagai konf lik ant ara ne-gara dan t erdakwa.

Umbreit dan Coat es menyat akan bahwa t uj uan penyelesaian perkara dengan VOM ada-lah t o "humani ze" t he j ust i ce syst em.19 Pende-kat an diPende-kat akan lebih humanis karena berusaha mengeliminir beberapa masalah. Per t ama, t i-dak lagi mengasingkan hubungan dengan korban pasca proses peradilan ke t empat sekunder se-hingga konsekuensi kej ahat an yang dialaminya seolah t idak diperhat ikan. Di sisi lain masuknya para pihak dalam menyelesaikan masalah ada-lah si gnif i cant par t dan menj adi ciri khas mo-del rest orat if . Kedua, secara ef ekt if bert angg-ung j awab kepada korban at as pemulihan ke-rugian mat erial dan moral dan menyediakan berbagai kesempat an unt uk dialog, negosiasi, dan resolusi masalah. Ket i ga, memberi rasa hormat t erhadap mart abat manusia (t he r es-pect f or human di gnit y), karena peradilan res-t orares-t if res-t idak res-t erpisah dari model perlindungan hak asasi manusia bahkan mereka berdua men-cari kebaikan bersama (t hey bot h seek a com-mon good).

Ada perubahan paradigma mendasar at au

r edif i ni si yang harus dilakukan, yait u cara kit a memandang kej ahat an hakikat nya sebagai

perkara dengan r est or at i ve j ust i ce bi sa disamakan dengan i st il ah Pi nt o sebagai “Par t i ci pat i ve democr acy

in Rest orat ive Just ice” di mana korban, pel aku, dan masyarakat berperan pent i ng dal am proses pengam-bil an keput usan, . Lihat Pi nt o, 2005, “ Is Rest orat i ve Just i ce Possi bl e in Brazil ?” Dal am Daniel Achut t i, 2011, “ The St r angers in Cri mi nal Procedure: Rest orat ive Jus-t ice as a Possi bil iJus-t y Jus-t o Overcome Jus-t he Si mpl iciJus-t y of Jus-t he Modern Par adigm of Cr iminal Just ice” , Journal: Oñat i Soci o-Legal Ser i es, Vol . 1, No. 2, Brazil , hl m. 12

19 Umbrei t , Mark and Robert Coat es dal am Mar a F. Schif f ,

(9)

salah kemanusiaan sehingga t idak melakukan pendekat an f ormalit as yang berlebihan (exces-si ve f or mal it y) dan hanya mencari kesalahan seseorang, akan t et api berpikir unt uk meme-cahkan sit uasi/ masalah, dan harus menyent uh sampai pada kont eksnya, dengan begit u res-pons kej ahat an mest inya mencari solusi proble-ma hubungan keproble-manusiaan t adi (car e f or r eal peopl e and r el at ionshi ps). Paradigma ini meng-geser anggapan selama ini dari kej ahat an seba-gai masalah negara menj adi kej ahat an sebaseba-gai masalah perorangan, oleh karena it u keadilan yang diperj uangkan adalah yang mampu menj a-wab apa yang senyat anya dibut uhkan korban, pelaku dan masyarakat (exper ienced wi t hi n a cont ext ). Keadilan yang demikian dikat akan sebagai “ exper ienci ng j ust i ce” .

Kaidah musyawarah (sila ke-4 Pancasila) dengan prinsip musyawarah unt uk muf akat yang diliput i semangat kekeluargaan mengandung esensi exper i enci ng j ust i ce. Hal ini sej alan de-ngan pemikiran yang dikemukakan oleh Jarem Sawat sky pengkaj i r est or at i ve j ust i ce yang be-kerj a di t he Inst i t ut e f or Just i ce and Peace bui l di ng at East er n Mennonit e Univer si t y i n Vi r gi ni a sebagai berikut :

Needs of vi ct i ms, of f ender s and commu-ni t ies ar e cent r al f or Rest or at i ve Just i ce. Just i ce is about par t i ci pat ion. Thi s has a huge i mpl i cat i on f or j ust i ce. If needs ar e cent r al t hen j ust i ce i s al ways ad hoc. Just i ce must r espond and be exper i enced wi t hi n a cont ext . That means j ust i ce wi l l l ook di f f er ent and be ar r i ved at dif f er en-t l y dependenen-t on en-t he needs, en-t he cul en-t ur e, t he hi st or y, t he f ut ur e, and t he peopl e i nvol ved.20

Menurut Jaccould redif inisi kej ahat an ka-it annya dengan r est or at ive j ust i ce t idak dilihat sesuat u yang general/ umum at au st andar akan t et api bagaimana dampak kej ahat an it u dan dialog yang t erj adi sesudahnya (Cr i me i s no l onger conceived as a viol at ion agai nst t he st a-t e or as a a-t r ansgr ession againsa-t a legal sa-t an-dar d, but as an event t hat causes har m and

20 Jarem Sawat sky, “ Rest orat ive val ue: Where Means And

Ends Converge” , Rest or at i ve Just i ce Onl i ne Jour nal, Vol . IX, 2010, ht t p: / / www. rest orat i vej ust i ce. org/ art i -cl esdb/ art i-cl es/ 3681, Mani t oba, Canada, hl m. 12

consequences. Focusi ng on t he possi ble sol ut i on of ut he pr obl em ut hr ough a di alogue beut -ween t he par t i es.21

Pola ini lant as t ergambar dalam skema:

= + +

Redif inisi kej ahat an unt uk r est or at i f j us-t i ce menj adi pent ing mengingat dalam KUHP dan KUHAP orient asi kej ahat an dirumus-kan se-bagai perbuat an t erlarang yang diat ur dalam UU dan diancam pidana bagi mereka yang me-langgar larangan t ersebut (Pasal 1 ayat (1) KU-HP). Proses penyidikan dirumuskan sebagai rangkaian t indakan penyidik dalam hal dan me-nurut cara yang diat ur dalam undang-undang unt uk mencari sert a mengumpulkan bukt i yang dengan bukt i it u membuat t erang t ent ang t in-dak pidana yang t erj adi dan guna menemukan t ersangkanya (Pasal 1 angka (2) KUHAP). Put us-an pengadilus-an sebagai pernyat aus-an hakim yus-ang diucapkan dalam sidang pengadilan dapat beru-pa pemidanaan, bebas at au leberu-pas dari segala t unt ut an hukum (Pasal 1 angka (11) KUHAP).

Morris menyat akan bahwa t anggapan t er-hadap kej ahat an yang demikian dianggap se-bagai peradilan dengan sist em konvensional yang memandang keadilan t erut ama secara eksklusif sebagai pelanggaran t erhadap kepen-t ingan negara (st at e l aw), dan t anggapan t er-hadap pelanggaran t ersebut dirumuskan oleh para prof esional yang mewakili negara.22

Perbedaan mendasar r est or at ive j ust i ce

dengan peradilan menurut hukum acara KUHAP ant ara lain:

Peradilan KUHAP Peradilan Restorative

1. Mendasarkan pada kej ahat an yang dilakukan;

1. Menunj uk pada keke-liruan (eror) yang di-sebabkan karena pe-langgaran

21

Daniel Achut t i, op. ci t, hl m. 12

22

Ibi d Rest

ora-t ive

j ust ice Pelaku

Dampak

Perbuat an Korban

Just Peace

Pri nci pl e Conf er enci ng &

(10)

2. Menempat kan kor-ban dalam kedudu-kan yang sent ral; 3. Tuj uannya berpusat

pada gagasan bagai-mana menghukum yang bersalah dengan adil;

4. Ret r i but ive Just i ce 5. Resul t i n pri son f or

t he accused;

6. Dit ent ukan oleh prof esional hukum

2. Menempat kan korban pada posisi yang se-kunder

3. Dasar t uj uannya memberi kepuasan yang dialami para pi-hak yang t erlibat da-lam pelanggaran

4. Rest or at i ve Just i ce 5. Di al ogue, negot iat i-on, and r esol ut i on

6. Dit ent ukan oleh para pihak dalam Conf e-r encing

Kongres PBB ke XI di Bangkok, 18-25 April 2005 on Cr i me Pr event ion and Cr i mi nal Just i ce

mengambil t ema pokok upaya “ responsif dan sinergis” dengan st rat egi yang kombinat if da-lam cara-cara pencegahan kej ahat an dan per-adilan pidana (t he mai n t heme of t he El event h Congr ess woul d be “ Syner gies and r esponses: st r at egi c al l i ances i n cr i me pr event ion and cr i minal j ust i ce” ).23 Sej alan dengan it u pula perlu kiranya kebij akan peradilan pidana Indo-nesia mengambil langkah-langkah responsif , si-nergis dan kombinat if yait u selain cara-cara pe-radilan berdasar KUHAP, dit empuh pula pera-dilan r est or at ive j ust i ce.

Ket ent uan dalam rambu-rambu kebij akan hukum nasional yang dapat dij adikan sebagai sandaran peradilan rest orat if ant ara lain seba-gai berikut . Per t ama, UU No 2 Tahun 2002 t en-t ang Kepolisian RI merumuskan bahwa en-t ugas po-kok Kepolisian Negara Republik Indonesia ant a-ra lain memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat (Pasal 13 huruf c). Dalam rangka menyelenggarakan t u-gasnya it u kepolisian berwenang melaksanakan kewenangan lain yang t ermasuk dalam lingkup t ugasnya (Pasal 15 ayat (2) huruf k). Berwenang unt uk mengadakan t indakan lain menurut hu-kum yang bert anggung j awab (Pasal 16 ayat (1) huruf l). Kedua, dalam melaksanakan t ugas dan wewenangnya, j aksa senant iasa bert indak berdasarkan hukum dengan mengindahkan nor-ma-norma keagamaan, kesopanan, kesusilaan,

23 Report of t he El event h Unit ed Nat ions Congress on

Crime Prevent ion and Cri minal Just ice Bangkok, 18-25 Apr il 2005: The mai n t heme of t he El event h Congr ess woul d be “ Syner gi es and r esponses: st r at egi c al l i ances i n cr i me pr event i on and cr i mi nal j ust i ce” .

sert a waj ib menggali dan menj unj ung t inggi ni-lai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam masya-rakat , sert a senant iasa menj aga kehormat an dan mart abat prof esinya (Pasal 8 ayat (4) UU No. 16 t ahun 2004).

Ket i ga, Kekuasaan Kehakiman adalah ke-kuasaan negara yang merdeka unt uk menye-lenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, demi t erselenggaranya Negara Hukum Re-publik Indonesia (Pasal 1 angka (1) UU 48 t ahun 2009). Keempat , Pasal 50 ayat (1) UU 48/ 2009): segala put usan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar put usan t ersebut , memuat pu-la pasal t ert ent u dari perat uran perundang-un-dangan yang bersangkut an at au sumber hukum t ak t ert ulis yang dij adikan dasar unt uk meng-adili. Kel i ma, Pasal 5 ayat (1) UU 48 Tahun 2009, Hakim waj ib menggali, mengikut i, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat .

Di Indonesia ada LPSK (Lembaga Perlindu-ngan Saksi dan Korban). LPSK adalah lembaga yang bert ugas dan berwenang unt uk memberi-kan perlindungan dan hak-hak lain kepada Saksi dan/ at au korban sebagaimana diat ur dalam UU No. 13 Tahun 2006 Tent ang Perlindungan Saksi dan Korban. Ket ent uan Pasal 7 UU No. 13 Ta-hun 2006 menyat akan bahwa Korban melalui LPSK berhak mengaj ukan ke pengadilan berupa hak at as rest it usi at au gant i kerugian yang menj adi t anggung j awab pelaku t indak pidana. Keput usan mengenai kompensasi dan rest it usi diberikan oleh pengadilan.

Rest it usi adalah gant i kerugian yang dibe-rikan kepada korban at au keluarganya oleh pe-laku at au pihak ket iga, dapat berupa pengem-balian hart a milik, pembayaran gant i kerugian unt uk kehilangan at au penderit aan, at au peng-gant ian biaya unt uk t indakan t ert ent u (Pasal 1 angka 5 PP No. 44 t ahun 2008 t ent ang Pemberi-an Kompensasi, Rest it usi, dPemberi-an BPemberi-ant uPemberi-an Kepada Saksi dan Korban), akan t et api proses rest it usi at au gant i kerugian sebagaimana dimaksud da-lam UU No. 13 Tahun 2006 maupun PP No. 44 Tahun 2008 masih dalam kont eks pengadilan

(11)

Berdasarkan ket ent uan-ket ent uan dalam kebij akan legislasi nasional yang ada, r est or a-t i ve j usa-t i ce dalam penegakan hukum pidana i n concr et o dapat dilakukan dengan berdasar pe-mikiran sebagai berikut . Per t ama, melalui ke-wenangan lembaga LPSK, at au Jaksa dan Hakim di pengadilan berdasar ket ent uan UU No. 13 Tahun 2006 maupun PP No. 44 Tahun 2008, akan t et api sej ak semula pendekat an yang di-gunakan adalah proses r est or at i ve j ust i ce; ke-dua, menggunakan kaidah secondar y r ul es yang memberi kewenangan kepada aparat hukum (polisi, j aksa dan hakim) melakukan cr eat i on, ext inct ion, and al t er at ion of pr imar y r ul es.

Cr eat ion, ext i nct i on, at au al t er at ion it u de-ngan proses r est or at ive j ust i ce.

Menurut H. L. A. Hart , subsat ansi hukum pidana digolongkan menj adi “ pr i mar y r ules of obl i gat ion” dan “ secondar y r ul es of obl i gat i -on” . Pr i mar y r ul es sebagai r ul es of conduct dan

secondar y r ul es sebagai r ul es about r ul es at au sebagai of f i ci al machi ner y.24 Pr i mar y r ul es ar e r ul es of conduct ; t hey t el l you what your ar e l egal l y obl i gat ed t o do (or r ef r ai n f r om) and what consequences at t ach t o obedi ence or di -sobedience. The r ules of cr i mi nal l aw seem t o def i ne st andar ds of conduct ; t hey ar e about what you can and cannot do, or mor e pr eci sel y, r ul es t hat f or bi d cer t ai n conduct and t hen at -t ach puni shmen-t s f or di sobedience. Secondar y r ul es ar e l egal r ul es t hat al l ow f or t he cr eat e-on, ext i nct ie-on, and al t er at i on of pr imar y r ul es; Secondar y r ul es ar e “ r ul es about r ules” ; t hey r egul at e how ot her r ul es ar e made, changed, appl i ed and enf or ced; They est abl i sh of f i ci al machi ner y f or t he r ecognit ion and enf or cement of pr i mar y r ul es.

Kebij akan legislasi nasional dalam bat as-bat as t ert ent u memberi peluang bagi penegak hukum unt uk cr eat ion, ext inct ion, at au al t er a-t i on dalam menegakkan hukum pidana. Lihat saj a sepert i Ps. 16 ayat (1) huruf l UU 2 t ahun 2002 (dalam penyidikan), Pasal 1 (1) dan Pasal 5 ayat (1) UU 48 Tahun 2009 (dalam pemerik-saan). Disebut nya it u merupakan kewenangan diskresi dalam secondar y r ul es of obl i gat i on.

24

H. L. A. Hart , 1997, The Concept of Law, New York: Oxf ord Uni versit y Press

Rambu-rambu kebij akan hukum nasional (nat i o-nal l egal f r amewor k) nampaknya t elah meng-ant isipasi perkembangan masyarakat , ilmu pe-nget ahuan dan peradaban dunia dengan ket en-t uan-keen-t enen-t uannya yang bersif aen-t responsif da-lam penegakan hukum pidana. Selanj ut nya t er-gant ung kemampuan dan keberanian aparat it u sendiri dalam menggunakannya. Hart meng-ingat kan ket ika penegakan hukum pidana t anpa mengembangkan kaidah secondar y r ul es seba-gai primit if . Har t i l l ust r at es t he need f or se-condar y r ul es i n a compl ex legal syst em by i magi ni ng a soci et y r un only wi t h pr imar y r u-l es. He cau-l u-l s t hese ‘ pr i mit i ve u-legau-l syst ems’ and t hi nks t hey const it ut e a bor der l i ne l egal syst em.

Sebagai perbandingan di Hungaria sej ak awal t ahun 2007 mat eri peradilan dengan pen-dekat an r est or at i ve j ust i ce sudah ef ekt if . Res-t or aRes-t i ve j usRes-t i ce dengan mediasi t ersedia unt uk pelanggar baik dewasa dan remaj a j ika kej a-hat annya adalah kej aa-hat an t erhadap orang, pe-langgaran lalu lint as at au kej ahat an t erhadap propert i yang ancamannya t idak lebih dari lima t ahun penj ara. Syarat lainnya adalah ada per-mint aan dari para pihak; t indak pidana it u ada korbannya; pelaku t elah mengaku bersalah; pe-laku bukan pepe-laku yang biasa mepe-lakukan kej a-hat an yang sama unt uk kedua kalinya at au resi-divis; t idak ada acara pidana yang t ert unda t er-hadap pelaku pada saat kej ahat an t ersebut di-lakukan; bukan t indak pidana yang menimbul-kan kemat ian.25

Apabila dij umpai keadaan yang demikian it u maka j aksa dan j uga hakim punya kelelua-saan (diskresi) unt uk menent ukan kasus disele-saikan dengan mediasi/ rest orasi. Apabila hen-dak menggunakan diskresinya, mereka membu-t uhkan permembu-t imbangan f akmembu-t or-f akmembu-t or berikumembu-t .

Per t ama, pelaku mengaku selama penyelidikan;

kedua, pelaku t elah set uj u dan dapat memberi gant i rugi kepada korban unt uk kerusakan yang diakibat kan dari t indak pidana it u at au membe-rikan bent uk lain dari rest it usi; ket i ga, pelaku dan korban set uj u unt uk berpart isipasi dalam

25 Borbál a Fel l egi, “ Buil ding And Toning: An Anal ysi s Of

(12)

proses mediasi; keempat , mengingat sif at kej a-hat an, cara perbuat an t ersebut dilakukan dan keadaan pribadi pelaku sehingga proses peng-adilan t idak diperlukan, at au ada alasan subs-t ansial yang dipercaya bahwa pengadilan akan mempert imbangkan penyesalan pelaku sebagai keadaan yg meringankan.

Di Indonesia dengan kewenangan sepert i t ert uang dalam Pasal 5 ayat (1) UU No. 48 Ta-hun 2009 sesungguhnya menempat kan penegak hukum sebagai seorang “j udex medi at or” art i-nya ia harus dapat menj adi penghubung ant ara pihak yang bert ikai. Selanj ut nya, dia j uga harus dapat menj adi j embat an ant ara pihak-pihak t ersebut dengan masyarakat , sert a dapat me-nimbang beragam kepent ingan, norma, dan nilai yang ada di dalam masyarakat it u. 26

Akses Publik dalam Peradilan Pidana

Perubahan dari paradigma menyalahkan dan memidana (par adi gm of bl ame and puni sh-ment ) ke paradigma dialog dan konsensus (pa-r adi gm of di al ogue and consensus), hakikat nya mengandung akses publik dalam peradilan, se-bab dialog dan konsensus ant ara pelaku dan korban sebagai t he power t o par t i ci pat e i n t he case and t o make decisi ons. Tidak hanya pemerint ah, t et api korban, pelaku dan masya-rakat sej ak awal harus secara akt if t erlibat da-lam proses peradilan pidana semaksimal mung-kin. Tidak sepert i bent uk peradilan r et r i but i f yang pendekat annya t erf okus pada masa lalu dan t uj uannya adalah unt uk menent ukan siapa yang harus disalahkan, dan cenderung meng-asingkan pelanggar, sert a akibat nya sat u cede-ra sosial digant ikan oleh yang lain.27

Pelanggaran dalam pandangan r est or at i -ve j ust i ce adalah masalah bersama yang harus diselesaikan bersama. Boswort h menyat akan:

26

Kuat Puj i Prayi t no, 2011, Rekonst r uksi pemi ki r an Hu-kum Pi dana yang Int egr al (St udi t ent ang Penegakan Hukum Pi dana i n concr et o ol eh Haki m dal am Kont eks Si st i m Hukum Nasi onal ), Di sert asi , Undi p, Semar ang, hl m. 395

27 M Reyneke, “ The Right t o Digni t y and Rest orat i ve

Just i ce in School s” , Pot chef st r oom El ect r oni c Law Jour nal (P. E. R: Pot chef st r oomse El ekt r oni ese Regsbl ad Jour nal ), Vol . 14 No 6, 2011, Sout hern Af ri can: Legal Inf ormat ion Int it ut e, hl m. 134

In r est or at i ve j ust i ce model s, vi ct i m needs ar e cent r al , of f ender s ar e hel d account abl e, and t he gover nment i s a secondar y pl ayer i n t he pr ocess of r est or ing vi ct ims, of f ender s and communi t ies t o a st at e of whol eness.28

Ket erwakilan masyarakat oleh negara mest inya meliput i kepent ingan t ersangka/ pe-laku, korban maupun masyarakat . Logika umum mengat akan pihak yang mewakili past i akan menyerap aspirasi, keinginan dan akan mat i-mat ian memperj uangkan kepent ingan pihak yang diwakilinya. Adapun kepent ingan pelaku adalah rehabilit asi, kepent ingan masyarakat adalah perlindungan akan t at a nilai (order), se-dangkan kepent ingan korban adalah perbaikan/ pemulihan penderit aan sebagai akibat dari t in-dak pidana yang t erj adi.

Selama ini negara dalam mewakili ke-pent ingan publik diwuj udkan dengan menghu-kum pelaku (ef ek j era) dan lalu merehabilit a-sinya, namun sama sekali belum menyent uh ke-pent ingan korban, negara sepert inya cuci t a-ngan t erhadap kebut uhan korban. Pelaku yang t erbukt i bersalah j ust ru dipenj ara at as biaya negara sement ara korban set elah kasus selesai t idak lagi j adi perhat ian. Unt uk it ulah akses masyarakat dalam sist em peradilan pidana In-donesia harus dit ingkat kan, khususnya aparat penegak hukum harus menyadari kesenj angan ini.

Salah sat u bent uk akses masyarakat t er-sebut adalah dalam bent uk pernyat aan pende-rit aan korban kepada maj elis hakim (vi ct im i m-pact st at ement ). Melalui pernyat aan ini, kor-ban dapat menyampaikan apa yang sebenarnya diinginkan dari proses persidangan yang dit uj u-kan unt uk mencari keadilan it u. Dalam Pasal 5 ayat (1) UU 48/ 2009 t ent ang Kekuasaan Kehaki-man dirumuskan bahwa “ Hakim waj ib mengga-li, mengikut i, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masya-rakat ” . Ket ent uan ini memberi peluang pada penegak hukum unt uk menent ukan sendiri apa yang sebaiknya menj adi hukum yang adil unt uk menyelesaikan pelanggaran hukum. Hal ini j uga memberi ruang publik at au akses publik dalam

28

(13)

menent ukan bent uk keadilan yang bisa mereka t erima.

Ket ika masyarakat memaknai keadilan dengan Conf er enci ng and Medi at i on dengan

r est or at ive j ust i ce, maka sesungguhnya it u adalah sesuat u yang sah dan legal menurut hu-kum Indonesia. Selanj ut nya pemerint ah ber-t anggung j awab unber-t uk melesber-t arikan keber-t erber-t iban dan masyarakat sangat bert anggung j awab un-t uk membangun perdamaian. Pasal 4 ayaun-t (1) UU 48 Tahun 2009 j uga merumuskan bahwa pengadilan mengadili menurut hukum dengan t i -dak membeda-be-dakan orang. Fakt a bahwa perhat ian dalam peradilan pidana selama ini yang hanya f okus pada pelaku adalah bent uk pembedaan orang sebagai pelaku dan orang se-bagai korban t indak pidana. Akan lain masalah-nya apabila pihak-pihak dalam perkara pidana (pelaku-korban-masyarakat ) masing-masing di-beri akses melalui media r est or at i ve j ust i ce.

Rumusan khusus perat uran yang menga-t ur r est or at ive j ust i ce memang belum ada, na-mun bukan berart i penerapan r est or at ive j us-t i ce t idak ada dasar hukumnya. Terlebih dalam t eori penemuan hukum yang menj adi t ugas pe-negak hukum meliput i j uga menemukan hukum dari put usan hakim t erdahulu, dan menemukan hukum yang hidup dalam masyarakat .29 Kalau misalnya hukum yang ada (r et r i but ive j ust i ce)

it u t ernyat a t idak mampu menyelesaiakan ma-salah yang dialami korban, maka menurut kaj i-an sociol egal st udi es aparat bukan berart i diam (melakukan pembiaran), t api berupaya bagai-mana hukum it u dirubah, diinovasi agar mampu mencipt akan keadilan.30

Berdasarkan kaidah secondar y r ul es yang memungkinkan aparat melakukan cr eat ion, ex-t i ncex-t i on, and al ex-t er aex-t ion of pr imar y r ul es. Ram-bu-rambu kebij akan hukum nasional sepert i UU 48 Tahun 2009 dapat dikat egorikan kaidah se-condar y r ul es sebagai mot or yang menggera-kan aparat menempuh langkah r est or at ive j

29 Lihat Bagir Manan, “ Haki m Sebagai Pembaharu

Hu-kum” , Jur nal Var i a Pear di l an No. 254 Januari 2007, IKAHI, Jakart a, hal . 10

30 Lihat Adj i Samekt o, “ Kaj i an Hukum: Ant ar a St udi

Normat if dan Keil muan” , Jurnal Hukum Progresi f Vol . 2 No. 2/ Okt ober 2006, hl m. 66

t i ce. Terlepas dari it u semua ke depan model peradilan rest orat if ini memang perlu dihadir-kan dalam ket ent uan-ket ent uan legislasi secara lebih spesif ik.

Penut up Simpulan

Karakt erist ik peradilan r est or at i f adalah

“ Just Peace Pr i nci pl e" at au keadilan yang dilan-dasi perdamaian (peace) ant ara pelaku, korban dan masyarakat , sehingga peradilan ini melihat bahwa kej ahat an adalah sebagai t indakan oleh pelaku t erhadap orang lain at au masyarakat da-ripada t erhadap negara. Kait annya dengan ram-bu-rambu penegakan hukum nasional dij umpai bahwa secara ket at anegaraan r est or at ive j ust i -ce menemukan dasar pij akannya dalam f alsaf ah sila ke-4 Pancasila yait u prinsip musyawarah unt uk menyelesaikan masalah.

Rest or at ive j ust i ce dapat dilakukan da-lam penegakan hukum pidana i n concr et o de-ngan program-program ant ara lain sebagai beri-kut . Per t ama, melalui kewenangan lembaga LP-SK, at au Jaksa dan Hakim di pengadilan berda-sar ket ent uan UU No. 13 Tahun 2006 maupun PP No. 44 t ahun 2008, akan t et api sej ak semula pendekat an yang digunakan adalah proses r es-t or aes-t i ve j uses-t i ce; kedua, menggunakan kaidah

secondar y r ul es yang memberi kewenangan ke-pada aparat hukum (polisi, j aksa dan hakim) melakukan cr eat ion, ext i nct ion, and al t er at ion of pr i mar y r ul es. Cr eat ion, ext inct ion, at au

al t er at ion it u dengan proses r est or at ive j us-t i ce.

Daft ar Pust aka

Achut t i, Daniel. “ The St rangers in Criminal Pro-cedure: Rest orat ive Just ice as a Possibi-lit y t o Overcome t he Simplicit y of t he Modern Paradigm of Criminal Just ice” .

Jour nal : Oñat i Socio-Legal Ser ies. Vol. 1, No. 2. Year. 2011. Brazil;

Aert sen, Ivo e. al. “ Rest orat ive Just ice and t he Act ive Vict im: Exploring t he Concept of Empowerment ” . Jour nal TEMIDA. March 2011;

(14)

Paper present ed at Expert Seminar ‘ Conf erencing: A Way Forward f or Rest orat ive Just ice in Europe’ . Leuven: European Forum f or Rest orat ive Just ice; Darrell Fox. “ Social Welf are and Rest orat ive

Just ice” . Jour nal Kr i minol ogi j a i Soci j al -na Int egr aci j a. Vol. 17 Issue 1 Year 2009. London: Met ropolit an Universit y Depart -ment of Applied Social Sciences;

Fellegi, Borbála. “ Building and Toning: An Ana-lysis of t he Inst it ut ionalisat ion of Media-t ion in Penal MaMedia-t Media-t ers in Hungary” . Jour -nal TEMIDA. Mart 2011;

Manan, Bagir. “ Hakim Sebagai Pembaharu Hukum” . Jur nal Var i a Pear di l an. No. 254 Januari 2007. Jakart a: IKAHI;

Mara F. Schif f . 1998. “ Rest orat ive Just ice Int er-vent ions f or Juvenile Of f enders: A Re-search Agenda f or t he Next Decade” . On-l i ne Jour naOn-l . Avai On-l abOn-l e: ht t p: / / wcr . so-noma.edu/ v1n1/ schi f f . ht ml ;

Must of a, Muhammad dan Adrianus Meliala. 2008. Lokakar ya Menghukum Tanpa Me-menj ar akan: Mengakt ual i sasi kan Gagasan "Rest or at i ve Just i ce" di Indonesi a. Depok: Makalah pada Diskusi yang diselenggara-kan Depart emen Kriminologi UI dan Aus-t r al i a Agency f or InAus-t er naAus-t i onal Devel op-ment Kamis, 26 Februari 2008);

Prayit no, Kuat Puj i. “ Pancasila Sebagai Bint ang Pemandu (Leit st ern) dalam Pembinaan Lembaga dan Pranat a Hukum di Indo-nesia” . Jur nal Medi a Hukum. Vol. 14 No. 3 Tahun 2007. Yogyakart a: FH Universit as Muhammadiyah Yogyakart a;

---. 2011. Rekonst r uksi pemi kir an Hukum Pi -dana yang Int egr al (St udi t ent ang Pene-gakan Hukum Pi dana i n concr et o oleh Ha-ki m dal am Kont eks Sist im Hukum Nasio-nal ). Disert asi. Semarang: FH Undip;

Report of t he Elevent h Unit ed Nat ions Congress on Crime Prevent ion and Criminal Just ice Bangkok, 18-25 April 2005;

Reyneke, M. “ The Right t o Dignit y and Rest ora-t ive Jusora-t ice in Schools” . Pot chef st r oom El ect r oni c Law Jour nal (P. E. R: Pot chef -st r oomse El ekt r oniese Regsbl ad Jour nal. Vol. 14 No. 6 Tahun 2011. Sout hern Af -rican: Legal Inf ormat ion Int it ut e;

Samekt o, Adj i. “ Kaj ian Hukum: Ant ara St udi Normat if dan Keilmuan” . Jur nal Hukum Pr ogr esif. Vol. 2 No. 2 Okt ober 2006. Se-marang: FH UNDIP;

Sawat sky, Jarem. “ Rest orat ive Value: Where Means And Ends Converge” . Rest or at ive Just i ce Onl ine Jour nal , ht t p: / / www. r es-t or aes-t i vej uses-t i ce. or g/ ar es-t i clesdb/ ar es-t i cl es/ 3681. Vol. IX. Year 2010. Manit oba, Ca-nada: Lect urer at Menno Simons College and Canadian Mennonit e Universit y; St rang, H. dan J. Brait hwhit e (eds). 2001.

Res-t or aRes-t i ve JusRes-t i ce: Phi losophy Res-t o Pr acRes-t i ce. Aldershot : Ashgat e/ Dart mout h;

Referensi

Dokumen terkait