• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

 Jumlah angkatan kerja di Jawa Tengah Agustus 2014 yang sebesar 17,55 juta orang, bertambah sekitar 23 ribu orang dibanding angkatan kerja Agustus 2013 yang sebesar 17,52 juta orang dan berkurang 169 ribu juta orang jika dibanding Februari 2014 mencapai 17,72 juta orang.

 Jumlah penduduk yang bekerja di Jawa Tengah pada Agustus 2014 sebesar 16,55 juta orang, bertambah sekitar 81 ribu orang dibanding keadaan pada Agustus 2013 sebesar 16,47 juta orang dan berkurang sekitar 200 ribu orang dibandingkan Februari 2014 mencapai 16,75 juta orang.

 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Tengah pada Agustus 2014 mencapai 5,68 persen, mengalami penurunan sebesar 0,33 persen dibanding TPT Agustus 2013 dengan nilai TPT sebesar 6,01 persen dan jika dibandingkan dengan Februari 2014 mengalami peningkatan sebesar 0,23 persen dengan nilai TPT Februari 2014 sebesar 5,45 persen.

 Setahun terakhir (Agustus 2013 ― Agustus 2014), sektor Pertanian, Perdagangan, Industri dan Sektor Jasa secara berurutan menjadi penampung terbesar tenaga kerja sebesar 86,13 persen pada bulan Agustus 2014. Dari ke empat sektor penyumbang terbesar tersebut, sektor yang mengalami peningkatan jumlah pekerja, adalah Sektor Industri mengalami peningkatan jumlah pekerja sebesar 69 ribu orang (2,22 persen), Sektor Perdagangan jumlah pekerjanya bertambah sebesar 21 ribu orang (0,57 persen), dan Sektor Pertanian jumlah pekerjanya bertambah sebesar 1 ribu orang (0,02 persen).

 Pada Agustus 2014, jumlah penduduk yang bekerja sebagai buruh/karyawan sebesar 5,25 juta orang (31,72 persen), berusaha dibantu buruh tidak tetap sebesar 3,19 juta orang (19,27 persen) dan berusaha sendiri sejumlah 2,89 juta orang (17,26 persen).

 Berdasarkan jumlah jam kerja pada Agustus 2014, sebanyak 11,65 juta orang (70,40 persen) bekerja di atas 35 jam per minggu, sedangkan penduduk yang bekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari 15 jam per minggu mencapai 1,00 juta orang (6,07 persen).

 Jenjang pendidikan SD ke bawah pada Agustus 2014 masih tetap mendominasi penduduk yang bekerja di Jawa Tengah yaitu sekitar 8,98 juta orang (54,28 persen) dan jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sekitar 3,30 juta orang (19,91 persen).

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

AGUSTUS 2014: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA SEBESAR 5,68 PERSEN

(2)

1. Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja, dan Pengangguran

Keadaan ketenagakerjaan di Jawa Tengah pada Agustus 2014 menunjukkan adanya perubahan yang digambarkan dengan adanya peningkatan kelompok penduduk yang bekerja, dan penurunan tingkat pengangguran. Jumlah angkatan kerja mencapai 17,55 juta orang berkurang sebesar 169 ribu orang dibanding keadaan Februari 2014 dan bertambah sebesar 23 ribu orang dibanding keadaan Agustus 2013. Penduduk yang bekerja pada Agustus 2014 turun sebesar 200 ribu orang dibanding keadaan Februari 2014, dan bertambah 81 ribu orang dibanding keadaan setahun yang lalu (Agustus 2013). Sementara jumlah penganggur pada Agustus 2014 mengalami kenaikan sebesar 31 ribu orang jika dibanding keadaan Februari 2014 dan turun sebesar 58 ribu orang jika dibanding keadaan Agustus 2014.

Tabel 1

Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan Utama, Tahun 2013–2014

(Juta orang)

Jenis Kegiatan Utama Satuan

2013*) 2014**)

Februari Agustus Februari Agustus

[1] [2] [3] [4] [5] [6]

1. Angkatan Kerja Juta orang 17,40 17,52 17,72 17,55

Bekerja Juta orang 16,44 16,47 16,75 16,55

Pengangguran Juta orang 0,96 1,05 0,97 1,00

2. Bukan Angkatan Kerja Juta orang 7,27 7,36 7,26 7,64

3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja % 70,54 70,43 70,93 69,68

4. Tingkat Pengangguran Terbuka % 5,53 6,01 5,45 5,68

5. Pekerja Tidak Penuh Juta orang 4,69 5,21 4,85 4,90

Setengah Penganggur Juta orang 1,89 1,49 1,28 1,19

Paruh waktu Juta orang 2,80 3,72 3,57 3,71

Sumber : Data diolah dari Sakernas Februari dan Agustus 2013-2014

*)

Februari -Agustus 2013 merupakan hasil backcasting dari penimbang Proyeksi Penduduk yang digunakan pada Februari 2014

**)

Estimasi ketenagakerjaan Februari dan Agustus 2014 menggunakan penimbang hasil Proyeksi Penduduk

2. Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama

Struktur lapangan pekerjaan hingga Agustus 2014 tidak mengalami perubahan, dimana sektor Pertanian, Perdagangan, Industri dan Sektor Jasa Kemasyarakatan secara berurutan masih menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja di Jawa Tengah. Jika dibandingkan dengan keadaan Agustus 2013, jumlah pekerja yang mengalami peningkatan pada Agustus 2014yaituSektor Industri naik sebesar 69 ribu orang (2,21 persen); Sektor Perdagangan naik sebesar 21 ribu orang (0,58 persen); Sektor Pertanian naik sebesar 1 ribu orang (0,01 persen), dan Sektor Lainnya (Sektor Pertambangan dan Penggalian; Sektor Listrik, Gas dan Air Minum; Konstruksi; Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi;

(3)

Tabel 2

Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, 2013–2014

(juta orang)

Lapangan Pekerjaan Utama

2013*) 2014**)

Februari Agustus Februari Agustus

[1] [2] [3] [4] [5]

Pertanian 5,05 5,17 5,19 5,17

Industri 3,31 3,11 3,31 3,17

Perdagangan 3,75 3,69 3,72 3,72

Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan 2,14 2,51 2,15 2,19

Lainnya ***) 2,19 1,99 2,38 2,30

J u m l a h 16,44 16,47 16,75 16,55

Sumber : Data diolah dari Sakernas Februari dan Agustus 2013-2014

*)

Februari -Agustus 2013 merupakan hasil backcasting dari penimbang Proyeksi Penduduk yang digunakan pada Februari 2014

**)

Estimasi ketenagakerjaan Februari dan Agustus 2014 menggunakan penimbang hasil Proyeksi Penduduk

***)

Lapangan pekerjaan utama lainnya terdiri dari sektor Pertambangan, Listrik, Gas dan Air, Konstruksi, Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi, Lembaga Keuangan, Real Estate, Ush Persewaan & Js Perusahaan

3. Penduduk yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama

Secara sederhana, kegiatan formal dan informal dari penduduk yang bekerja dapat diidentifikasi berdasarkan status pekerjaan. Dari tujuh kategori status pekerjaan utama, pendekatan pekerja formal mencakup kategori berusaha dengan dibantu buruh tetap dan kategori buruh/karyawan, sisanya termasuk pekerja informal. Berdasarkan identifikasi ini, maka pada Agustus 2014 sebesar 5,89 juta orang (35,58 persen) bekerja pada kegiatan formal dan 10,66 juta orang (64,42 persen) bekerja pada kegiatan informal.

Tabel 3

Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama, 2013 – 2014

(juta orang)

Status Pekerjaan Utama

2013*) 2014**)

Februari Agustus Februari Agustus

[1] [2] [3] [4] [5]

Berusaha sendiri 2,79 2,66 2,82 2,86

Berusaha dibantu buruh tidak tetap 2,89 3,34 2,93 3,19

Berusaha dibantu buruh tetap 0,57 0,54 0,62 0,64

Buruh/Karyawan/Pegawai 5,44 5,15 5,74 5,25

Pekerja bebas 2,48 2,02 2,28 2,18

Pekerja keluarga/tak dibayar 2,27 2,76 2,36 2,43

J u m l a h 16,44 16,47 16,75 16,55

Sumber : Data diolah dari Sakernas Februari dan Agustus 2013-2014

*)

Februari -Agustus 2013 merupakan hasil backcasting dari penimbang Proyeksi Penduduk yang digunakan pada Februari 2014

**)

(4)

Dalam setahun terakhir (Agustus 2013 - Agustus 2014), penduduk bekerja dengan status buruh/karyawan/pegawai bertambah sebanyak 96 ribu orang (1,86 persen), dan penduduk bekerja dengan status berusaha dibantu buruh tetap bertambah sebanyak 98 ribu orang ( 18,15 persen). Peningkatan ini menyebabkan jumlah pekerja formal bertambah sekitar 194 ribu orang dan persentase pekerja formal naik dari 34,58 persen pada Agustus 2013 menjadi 35,58 persen pada Agustus 2014.

Komponen pekerja informal terdiri dari penduduk bekerja dengan status berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, pekerja bebas dan pekerja keluarga/tak dibayar. Dalam setahun terakhir (Agustus 2013 - Agustus 2014) pekerja informal turun sebanyak 113 ribu orang dan persentase pekerja informal berkurang dari 65,42 persen pada Agustus 2013 menjadi 64,42 persen pada Agustus 2014.

4. Penduduk yang Bekerja Menurut Jumlah Jam Kerja

Secara umum, komposisi jumlah penduduk yang bekerja menurut jam kerja perminggu tidak mengalami perubahan berarti dari waktu ke waktu. Penduduk yang dianggap sebagai pekerja penuh waktu

(full time worker), yaitu penduduk yang bekerja pada kelompok 35 jam ke atas per minggu dimana pada

Agustus 2014 jumlahnya mencapai 11,65 juta orang (70,40 persen) termasuk yang sementara tidak bekerja. Sedangkan pada Agustus 2014, penduduk yang bekerja kurang dari 15 jam per minggu masih terdapat sejumlah 1,00 orang (6,07 persen).

Tabel 4

Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Jumlah Jam Kerja Perminggu, 2013–2014

(juta orang) Jumlah Jam Kerja Perminggu

2013*) 2014**)

Februari Agustus Februari Agustus

[1] [2] [3] [4] [5] 1–7 0,25 0,36 0,26 0,23 8–14 0,73 1,02 0,80 0,77 15–24 1,64 2,13 1,77 1,83 25–34 2,07 1,70 2,02 2,07 1–34 4,69 5,21 4,85 4,90 35+ ***) 11,75 11,26 11,90 11,65 J u m l a h 16,44 16,47 16,75 16,55

Sumber : Data diolah dari Sakernas Februari dan Agustus 2013-2014

*)

Februari -Agustus 2013 merupakan hasil backcasting dari penimbang Proyeksi Penduduk yang digunakan pada Februari 2014

**)

Estimasi ketenagakerjaan Februari dan Agustus 2014 menggunakan penimbang hasil Proyeksi Penduduk ***)

Termasuk sementara tidak bekerja

(5)

Pertama sebesar 3,12 juta orang (18,84 persen). Penduduk bekerja dengan pendidikan tinggi hanya sekitar 1,15 juta orang mencakup 0,32 juta orang (1,97 persen) berpendidikan diploma dan 0,83 juta orang (5,00 persen) berpendidikan universitas.

Perbaikan kualitas tenaga kerja ditunjukkan oleh penurunan tenaga kerja berpendidikan rendah yaitu mereka yang hanya tamat sekolah dasar (SD) atau lebih rendah. Sementara tenaga kerja berpendidikan SMP atau SMA cenderung terus meningkat. Kecendrungan ini merupakan dampak dari kebijakan pemerintah di bidang pendidikan dasar dalam bentuk pembebasan biaya untuk tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Dalam periode setahun terakhir (Agustus 2013 ― Agustus 2014), penduduk bekerja dengan pendidikan rendah secara persentase mengalami penurunan dari 74,20 persen pada Agustus 2013 menjadi 73,12 persen pada Agustus 2014. Sementara penduduk bekerja berpendidikan tinggi juga mengalami peningkatan dari 6,74 persen pada Agustus 2013 menjadi 6,95 persen pada Agustus 2014.

Tabel 5

Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja

Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2013 – 2014 (juta orang)

Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

2013*) 2014**)

Februari Agustus Februari Agustus

[1] [2] [3] [4] [5]

SD ke Bawah 9,23 9,00 9,13 8,98

Sekolah Menengah Pertama 2,92 3,22 3,16 3,12

Sekolah Menengah Atas 3,14 3,14 3,37 3,30

Diploma I/II/III dan Universitas 1,15 1,11 1,09 1,15

J u m l a h 16,44 16,47 16,75 16,55

Sumber : Data diolah dari Sakernas Februari dan Agustus 2013-2014

*)

Februari -Agustus 2013 merupakan hasil backcasting dari penimbang Proyeksi Penduduk yang digunakan pada Februari 2014

**)

(6)

Tabel 6.

TPT dan TPAK Jawa Tengah menurut Kabupaten/Kota Agustus 2013 – 2014, Kabupaten/Kota TPT TPAK 2013 2014 2013 2014 (1) (2) (3) (4) (5) 01 Kab. Cilacap 6,68 5,65 66,31 63,24 02 Kab. Banyumas 5,45 5,37 63,95 64,27 03 Kab. Purbalingga 5,63 5,13 73,53 70,95 04 Kab. Banjarnegara 4,16 4,06 73,44 75,20 05 Kab. Kebumen 3,52 3,25 71,48 74,57 06 Kab. Purworejo 5,15 5,10 70,87 68,44 07 Kab. Wonosobo 5,82 5,34 69,31 73,90 08 Kab. Magelang 6,13 7,45 70,23 71,76 09 Kab. Boyolali 5,44 4,95 75,85 74,82 10 Kab. Klaten 5,34 4,75 72,68 70,46 11 Kab. Sukoharjo 5,98 4,60 67,89 69,38 12 Kab. Wonogiri 3,61 3,45 71,98 71,52 13 Kab. Karanganyar 3,84 3,54 71,04 69,58 14 Kab. Sragen 5,63 6,04 73,68 71,44 15 Kab. Grobogan 6,10 4,25 73,13 74,65 16 Kab. Blora 6,23 4,30 75,10 68,50 17 Kab. Rembang 5,97 5,23 72,94 68,13 18 Kab. P a t i 7,29 6,37 70,77 68,91 19 Kab. Kudus 8,07 5,03 73,06 71,92 20 Kab. Jepara 6,34 5,09 70,19 68,12 21 Kab. Demak 7,08 5,17 68,11 67,86 22 Kab. Semarang 3,90 4,38 74,14 75,34 23 Kab. Temanggung 4,87 3,19 76,70 76,73 24 Kab. Kendal 6,43 6,15 71,86 71,22 25 Kab. Batang 7,02 7,42 70,97 71,67 26 Kab. Pekalongan 4,78 6,03 69,37 69,52 27 Kab. Pemalang 6,48 7,44 66,62 69,15 28 Kab. Tegal 6,89 8,47 62,56 63,65 29 Kab. Brebes 9,61 9,53 73,03 65,18 71 Kota Magelang 6,75 7,38 68,37 68,49 72 Kota Surakarta 7,22 6,16 72,10 68,48 73 Kota Salatiga 6,21 4,46 67,96 65,27 74 Kota Semarang 6,02 7,76 67,10 68,43 75 Kota Pekalongan 5,28 5,42 66,22 69,32 76 Kota Tegal 9,32 9,20 70,97 65,09 Jawa Tengah 6,01 5,68 70,43 69,68

(7)

Konsep Definisi

Penduduk usia kerja

Penduduk usia kerja adalah penduduk berumur 15 tahun ke atas.

Bekerja

Kegiatan bekerja didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi dengan menghasilkan

barang atau jasa yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau

membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit satu jam (tidak

terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk pula kegiatan

pekerja tak dibayar yang membantu dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi.

Pengangguran

Pengangguran meliputi penduduk yang sedang mencari pekerjaan, atau

mempersiapkan suatu usaha, atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan,

atau sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.

Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK)

Tingkat partisipasi angkatan kerja adalah ukuran yang menggambarkan

perbandingan jumlah angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja dan dihitung

dari jumlah angkatan kerja dibagi jumlah penduduk berumur 15 tahun ke atas dikali

100.

Tingkat pengangguran terbuka (TPT)

TPT adalah angka yang menunjukkan banyaknya pengangguran, terhadap 100

penduduk yang masuk kategori angkatan kerja

.

Pekerja Tak Penuh

Penduduk yang bekerja di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu)

.

Setengah Penganggur

adalah mereka yang bekerja di bawah jam kerja

normal (kurang dari 35 jam seminggu), dan masih mencari pekerjaan atau

masih bersedia menerima pekerjaan

Pekerja Paruh Waktu

adalah mereka yang bekerja di bawah jam kerja

normal ( kurang dari 35 jam seminggu), tetapi tidak mencari pekerjaan atau

tidak bersedia menerima pekerjaan lain (sebagian pihak menyebutkan

Referensi

Dokumen terkait

Hiposa dalam penelitian ini yaitu ada hubungan yang signifikan antara umur, tingkat pendidikan, status kesehatan, ststus gizi, kejadian anemia dengan produktivitas kerja

belajar IPA pokok bahasan peristiwa alam yang terjadi di Indonesia dan dampaknya bagi makhluk hidup dan lingkungan dengan menggunakan pendekatan konvensional siswa

Saat ini belum ada kebijakan Pemerintah Kabupaten Pesawaran yang diarahkan untuk mewajibkan masyarakat di lingkungan pemukiman rumah tangga/individu untuk melakukan pengelolaan

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Modal, Tenaga Kerja

TAUN AKADEMI !"#$%!"#& TAUN AKADEMI !"#$%!"#&.. atau guna*an s)eet pile+. atau guna*an

Lamanya waktu pencetakan sertifikat, hal tersebut dikarenakan pencetakan sertifikat dilakukan 1 (satu) minggu setelah kegiatan seminar dilakukan. Lamanya waktu

Menjadikan One Stop Beauty Care sebagai tempat elite society dengan memberikan fasilitas klinik kecantikan, fashion store, VIP dan VVIP lounge sebagai fasilitas utama,

Pada variabel Attitude terdapat nilai sebesar 2,504 dan nilai signifikansi sebesar 0,016 <0,05. Maka dalam penelitian ini dapat dikatakan bahwa secara parsial Attitude