• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

S

ensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun sekali sejak 1963. Pelaksanaan ST2013 merupakan amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 Tentang Statistik dan mengacu pada sejumlah rekomendasi dari FAO yang menetapkan “The World Programme for the 2010 Around Agricultural Censuses Covering Periode 2006-2015”.

Pelaksanaan ST2013 dilakukan secara bertahap, yaitu pencacahan lengkap usaha pertanian pada bulan Mei 2013, dilanjutkan dengan pendataan rinci melalui Survei Pendapatan Rumah Tangga Usaha Pertanian pada bulan November 2013 dan Survei Struktur Ongkos Komoditas Pertanian Strategis dalam setiap subsektor pertanian pada bulan Juni–Juli 2014. Diseminasi hasil ST2013 dilakukan secara bertahap dimulai dengan diseminasi angka sementara, angka tetap dan populasi menurut subsektor.

Buku ini memuat potret usaha pertanian di Indonesia hasil ST2013 menurut subsektor yang terdiri dari Subsektor Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, Peternakan, Perikanan serta Kehutanan. Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada website http://st2013.bps.go.id.

Publikasi ini merupakan persembahan ketiga dari berbagai publikasi yang akan diterbitkan BPS terkait dengan pelaksanaan ST2013. Kami mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya atas bantuan semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah ikut berpartispiasi dalam menyukseskan Sensus Pertanian 2013.

Surabaya, Juli 2014

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur

M. SAIRI HASBULLAH

Seuntai

Kata

(4)
(5)

Daftar Isi

5

- Gambaran Umum

- Subsektor Tanaman Pangan

- Subsektor Hortikultura

- Subsektor Perkebunan

- Subsektor Peternakan

- Subsektor Perikanan

- Subsektor Kehutanan

- Hasil Survei Pendapatan Usaha

Rumah Tangga Pertanian 2013

17

43

53

67

85

95

115

125

(6)

Publikasi ini

merupakan

persembahan

ketiga dari seri

publikasi yang

diterbitkan BPS

terkait dengan

pelaksanaan

(7)

Rangkaian

Kegiatan

ST2013

Workshop Internal BPS dan

Rapat Interkementerian/Lembaga

Pembahasan Konsep dan Definisi ST2013

Keterangan: • ST2013-P adalah daftar pemutakhiran rumah tangga pertanian • ST2013-L adalah daftar pencacahan lengkap usaha pertanian

Pelatihan Instruktur Nasional (INNAS)

Pelatihan Instruktur Daerah (INDA)

Pelatihan Petugas Pencacah Lengkap (PCL)

Pengolahan ST2013-P di Kabupaten/Kota

Diseminasi Angka Sementara ST2013

Pengolahan ST2013-L di Provinsi

Diseminasi Angka Tetap ST2013

Pelaksanaan Sensus Pertanian 1-31 Mei 2013

Pemutakhiran

ST2013-P

Pencacahan

ST2013-L

1. Pelatihan Petugas Pengolah 2. Monitoring Kualitas 3. Evaluasi Pasca Survey 4. Editing/Coding (Coaching)

7

(8)
(9)
(10)

1

2

3

Sejarah

SenSuS Per

Di inDone

tanian

Sia

1983

• Sensus pertanian yang ketiga.

• Cakupan: semua kegiatan di sektor pertanian (kecuali kehutanan dan perburuan) di seluruh Indonesia, termasuk Irian Jaya dan Timor Timur, baik di daerah perdesaan maupun perkotaan.

• Satuan wilayah sensus terkecil adalah blok sensus.

• Data yang dikumpulkan: sama dengan Sensus Pertanian 1973. • Konsep pertanian 1983 rumah tangga pertanian mencakup:

- Rumah tangga pertanian pengguna lahan:

Tanaman padi/palawija, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan, budidaya ikan/biota lain di kolam air tawar/sawah, dan budidaya ikan/biota lain di tambak air payau.

- Rumah tangga pertanian yang tidak menggunakan lahan:

Budidaya ikan/biota lain di laut, budidaya ikan/biota lain di perairan umum, penangkapan ikan/biota lain di laut, dan penangkapan ikan/biota lain di perairan umum.

• Pengumpulan data pokok di sektor pertanian, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan, dilakukan melalui pendaftaran rumah tangga pertanian pada blok sensus terpilih.

• Pengumpulan data dilakukan melalui dua cara, yaitu pencacahan lengkap untuk perusahaan pertanian, KUD, Podes dan pencacahan sampel untuk rumah tangga pertanian.

1973

• Sensus Pertanian yang kedua.

• Cakupan wilayah: daerah perdesaan dan perkotaan di seluruh Indonesia, kecuali Irian Jaya.

• Satuan wilayah sensus terkecil adalah blok sensus. • Pengumpulan data pada pertanian rakyat, perkebunan

rakyat dan perkebunan besar, perikanan laut dan perikanan tambak dilakukan secara terpisah dan dalam waktu yang berbeda.

• Pencacahan perkebunan besar dilakukan secara lengkap, sedangkan untuk perikanan laut dan tambak hanya dilakukan pada blok sensus terpilih di Sumatera, Jawa, dan Bali.

• Data yang dikumpulkan: (a) struktur pertanian rakyat yang meliputi data penguasaan dan penggunaan lahan pertanian; struktur tanaman musiman dan tahunan; peternakan; perikanan laut dan darat; peralatan pertanian; pengairan; pemupukan; dsb. (b) Potensi pertanian masing-masing desa yang meliputi luas dan penggunaan lahan; keadaan pengairan dan potensi pengairan; fasilitas pengolahan; pemasaran; pengangkutan dan penggudangan; mekanisme pertanian; perikanan; koperasi; dsb. (c) Data perkebunan besar seperti struktur perkebunan; jenis tanaman; luas dan produksi; pengolahan hasil perkebunan dan pemasarannya; dsb. (d) Data perikanan laut yang meliputi rumah tangga perikanan; alat-alat penangkap ikan; perahu/kapal perikanan; penanaman modal; dan jumlah nelayan.

1963

• Sensus pertanian yang pertama.

• Cakupan wilayah: daerah perdesaan di seluruh Indonesia, kecuali Irian Jaya (Papua).

• Satuan wilayah sensus terkecil adalah lingkungan.

• Tujuan utama: mendapatkan data statistik di sektor pertanian yang dapat menggambarkan struktur pertanian di Indonesia. • Data yang dikumpulkan: penggunaan lahan, irigasi,

penggunaan pupuk, ternak, rumah tangga pertanian, tenaga kerja pertanian, fasilitas transportasi untuk menjual hasil pertanian, alat-alat pertanian.

• Hasil sensus belum sempurna, disebabkan antara lain presisi

sampling design rendah, response rate belum optimal, dan

adanya Landreform yang dilancarkan pemerintah dengan Undang-Undang No.5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria yang berpengaruh terhadap jawaban responden.

(11)

4 5

6

2013

• Sensus Pertanian yang keenam.

• Pelaksanaan di seluruh wilayah Indonesia pada Mei 2013. • Satuan wilayah sensus terkecil adalah blok sensus.

• Dalam pelaksanaan pencacahan lengkap, dilakukan dua kali kunjungan yaitu pertama melakukan pemutakhiran rumah tangga dan identifikasi rumah tangga pertanian. Kunjungan kedua melakukan pencacahan lengkap usaha pertanian.

• Dalam pelaksanaan pemutakhiran wilayah administrasi dikelompokkan berdasarkan konsentrasi pertaniannya. Untuk daerah

konsentrasi usaha pertanian, dilakukan secara door to door, dan untuk daerah nonkonsentrasi secara snowball.

• Cakupan: usaha pertanian rumah tangga, perusahaan pertanian berbadan hukum, dan usaha pertanian lainnya yang dikelola oleh selain rumah tangga dan perusahaan berbadan hukum.

• Konsep rumah tangga pertanian adalah rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah tangganya melakukan dan bertanggungjawab dalam kegiatan pembudidayaan, pemeliharaan, pengembangbiakan, pembesaran/penggemukan komoditas pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual, baik usaha pertanian milik sendiri, secara bagi hasil, atau milik orang lain dengan menerima upah, dan termasuk jasa pertanian.

• Pengolahan data dilakukan dengan scanner.

1993

• Sensus pertanian yang keempat.

• Pendaftaran bangunan dan rumah tangga dilakukan di seluruh Indonesia, baik di daerah perdesaan maupun perkotaan.

• Pencacahan sampel untuk rumah tangga pertanian hanya dilakukan di wilayah kabupaten daerah perdesaan.

• Satuan wilayah sensus terkecil adalah wilayah pencacahan (wilcah).

• Sebagai persiapan pencacahan, setahun sebelumnya dilakukan pemutakhiran wilcah.

• Konsep rumah tangga pertanian mengalami perluasan dibanding Sensus Pertanian 1983, yaitu untuk konsep rumah tangga pertanian pengguna lahan ditambah dengan usaha budidaya kayu-kayuan kehutanan, dan setiap komoditas yang diusahakan harus memenuhi Batas Minimal Usaha (BMU) sedangkan untuk rumah tangga pertanian tidak menggunakan lahan ditambah dengan usaha pemungutan hasil hutan dan atau penangkapan satwa liar serta usaha di bidang jasa pertanian.

2003

• Sensus pertanian yang kelima.

• Pendaftaran bangunan dan rumah tangga, baik di daerah perdesaan dan perkotaan, dilakukan di seluruh Indonesia pada Agustus 2003, kecuali di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang dilaksanakan pada Mei 2004.

• Pendaftaran bangunan dan rumah tangga dilakukan secara lengkap di daerah perdesaan dan perkotaaan kecuali daerah perkotaan bukan pantai dan nonkonsentrasi pertanian dilakukan secara sampel.

• Pendaftaran bangunan dan rumah tangga dilakukan di seluruh Indonesia pada Agustus 2003, kecuali Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dilaksanakan pada Mei 2004.

• Satuan wilayah sensus terkecil adalah blok sensus.

• Setahun sebelumnya dilakukan pemutakhiran blok sensus sebagai persiapan pencacahan.

• Beberapa perubahan mendasar dibanding Sensus Pertanian 1993: (a) perusahaan pertanian dan KUD tidak dicacah yang dilakukan

dalam Sensus Pertanian hanya updating direktori perusahaan

pertanian, (b) kegiatan listing dilakukan secara lengkap di daerah perdesaan dan sampel di daerah perkotaan, (c) penarikan sampel untuk subsektor palawija, hortikultura, perkebunan, peternakan dilakukan per komoditas sedangkan perikanan menurut jenis budidaya atau sarana penangkapan, (d) jumlah komoditas yang dicakup diperluas.

• Konsep rumah tangga pertanian sama dengan 1993.

• Pengolahan data dilakukan dengan scanner.

(12)

12

Konsep dan Definisi

Sensus Pertanian 2013

Sensus Pertanian

adalah pencacahan secara lengkap terhadap seluruh usaha pertanian yang berada di wilayah Indonesia. Sensus Pertanian dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali pada tahun yang berakhiran angka 3. Pada bulan Mei 2013 dilaksanakan sensus pertanian yang keenam, yang pertama dilakukan tahun 1963. Dalam sensus pertanian dikumpulkan data dari enam subsektor pertanian, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan termasuk jasa pertanian. Cakupan unit usaha pertanian dalam Sensus Pertanian 2013 adalah rumah tangga usaha pertanian, perusahaan pertanian berbadan hukum, dan usaha pertanian lainnya. Dalam pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2013 dilakukan pemutakhiran data jumlah sapi dan kerbau yang berada di seluruh wilayah Indonesia.

Pada kegiatan ST2013, pencacahan rumah tangga usaha pertanian dilakukan dengan pendekatan rumah tangga dan status pengelola usaha pertanian. Rumah tangga yang dicakup sebagai rumah tangga usaha pertanian dalam ST2013 adalah rumah tangga usaha pertanian yang berstatus sebagai mengelola usaha pertanian milik sendiri, mengelola usaha pertanian dengan bagi hasil dan mengelola usaha pertanian dengan menerima upah. Disamping itu pada kegiatan ST2013 ini tidak mensyaratkan Batas Minimal Usaha dari setiap komoditi pertanian yang diusahakan oleh rumah tangga, namun untuk syarat komoditi pertanian yang dijual masih tetap berlaku dalam ST2013. Konsep dan definisi dari usaha pertanian dijelaskan di bawah ini.

Usaha Pertanian

adalah kegiatan yang menghasilkan produk pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasil produksi dijual/ ditukar atas risiko usaha (bukan buruh tani atau pekerja keluarga). Usaha pertanian meliputi usaha tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan, termasuk jasa pertanian. Khusus tanaman pangan (padi dan palawija) meskipun tidak untuk dijual (dikonsumsi sendiri) tetap dicakup sebagai usaha.

Rumah Tangga Usaha Pertanian

adalah rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah tangganya mengelola usaha pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual, baik usaha pertanian milik sendiri, secara bagi hasil, atau milik orang lain dengan menerima upah, dalam hal ini termasuk jasa pertanian.

Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum

adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan jenis usaha di sektor pertanian yang bersifat tetap, terus menerus yang didirikan dengan tujuan memperoleh laba yang pendirian perusahaan dilindungi hukum atau izin dari instansi yang berwenang minimal pada tingkat kabupaten/kota, untuk setiap tahapan kegiatan budidaya pertanian seperti penanaman, pemupukan, pemeliharaan, dan pemanenan. Contoh bentuk badan hukum: PT, CV, Koperasi, Yayasan, SIP Pemda.

(13)

13

Usaha pertanian lainnya

adalah usaha pertanian yang dikelola oleh bukan rumah tangga dan bukan oleh perusahaan pertanian berbadan hukum, seperti: pesantren, seminari, kelompok usaha bersama, tangsi militer, lembaga pemasyarakatan, lembaga pendidikan, dan lain-lain yang mengusahakan pertanian.

Rumah Tangga Petani Gurem

adalah rumah tangga pertanian pengguna lahan yang menguasai lahan kurang dari 0,5 hektar. Penghitungan jumlah rumah tangga petani gurem berdasarkan jumlah luas lahan yang dikuasai oleh rumah tangga baik lahan pertanian dan lahan bukan pertanian. Rumah tangga pertanian yang hanya melakukan kegiatan budidaya ikan di laut, budidaya ikan di perairan umum, penangkapan ikan di laut, penangkapan ikan di perairan umum, pemungutan hasil hutan/penangkapan satwa liar, dan jasa pertanian dikategorikan rumah tangga pertanian bukan pengguna lahan.

Petani Utama

adalah petani yang mempunyai penghasilan terbesar dari seluruh petani yang ada di rumah tangga usaha pertanian.

Lahan yang Dikuasai

adalah lahan milik sendiri ditambah lahan yang berasal dari pihak lain, dikurangi lahan yang berada di pihak lain. Lahan tersebut dapat berupa lahan sawah dan/atau lahan bukan sawah (lahan pertanian) dan lahan bukan pertanian.

Rumah Tangga Usaha Pertanian Pengguna Lahan

adalah rumah tangga usaha pertanian yang melakukan satu atau lebih kegiatan usaha tanaman padi, palawija, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan, budidaya ikan/biota lain di kolam air tawar/tambak air payau, dan penangkaran satwa liar.

Rumah Tangga Usaha Jasa Pertanian

adalah rumah tangga yang melakukan kegiatan usaha atas dasar balas jasa atau kontrak/secara borongan, seperti melayani usaha di bidang pertanian.

Jumlah Sapi dan Kerbau

adalah jumlah sapi dan kerbau yang dipelihara oleh rumah tangga, perusahaan, dan lainnya pada tanggal 1 Mei 2013 baik untuk usaha (pengembangbiakan/penggemukan/pembibitan/pemacekan) maupun bukan untuk usaha (konsumsi/ hobi/angkutan/perdagangan/ lainnya).

(14)

14

Perbedaan ST2003-ST2013

Rincian ST2003 ST2013

(1) (2) (3)

1. Cakupan Kotamadya perkotaan bukan pantai non

konsentrasi dengan sampel Desa non konsentrasi pertanian di daerah urban dalam kabupaten dan blok sensus non konsentrasi pertanian di kota dicacah dengan snowballing/getok tular, wilayah desa dan blok sensus lain dicacah lengkap.

2. Unit Pencacahan Seluruh rumah tangga yang ada kegiatan pertanian (padi, palawija, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan).

Hanya mencakup rumah tangga biasa

Hanya rumah tangga yang melakukan kegiatan pertanian dengan tujuan untuk usaha (dijual/ditukar).

Mencakup rumah tangga biasa, perusahaan, dan lainnya (yayasan, pesantren, dan sebagainya) 3. Petugas Pencacahan tidak menggunakan tim Pencacahan dilakukan secara tim 4. Konsep Rumah

Tangga Pertanian Rumah tangga yang melakukan kegiatan pertanian dengan tujuan untuk dijual dan memenuhi Batas Minimal Usaha (BMU) yang telah ditetapkan

Rumah tangga pertanian tidak menggunakan Batas Minimal Usaha 5. Populasi Komoditi

Pertanian Seluruh populasi dari rumah tangga pertanian baik diusahakan maupun tidak Hanya mencakup populasi rumah tangga usaha pertanian (sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual/ditukar)

6. Daftar Preprinted Tidak ada informasi awal keberadaan rumah tangga untuk melakukan pencacahan

Digunakan Daftar Preprinted yang memuat informasi daftar rumah tangga hasil Sensus Penduduk 2010

(15)

15

Catatan:

1. Dalam publikasi hasil Sensus Pertanian 2003 yang diterbitkan BPS, metode pencacahannya adalah sebagai berikut: Kegiatan pencacahan Sensus Pertanian 2003 dilakukan dengan pendekatan rumah tangga dimana setiap rumah

tangga usaha pertanian dilakukan pencacahan di lokasi tempat tinggal rumah tangga tersebut berada. Kegiatan usaha pertanian yang dilakukan oleh rumah tangga tangga usaha pertanian yang berada di luar wilayah (Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi) tempat tinggal rumah tangga tetap dicatat sebagai kegiatan usaha pertanian di tempat tinggal dimana rumah tangga tersebut. Penentuan suatu rumah tangga sebagai rumah tangga usaha pertanian mengacu pada syarat Batas Minimal Usaha (BMU) dan dijualnya suatu komoditi pertanian. Penentuan syarat rumah tangga usaha pertanian ini tidak berlaku untuk kegiatan usaha di subsektor tanaman pangan.

2. Dalam tabel-tabel di buku ini, data rumah tangga pertanian 2003 dihitung dengan menggunakan konsep ST2013 dan master wilayah ST2013.

(16)
(17)

17

Gambaran Umum

17

H

asil ST2013 menunjukkan bahwa usaha pertanian di Jawa Timur didominasi oleh jenis usaha rumah

tangga. Hal ini tercermin dari jumlah rumah tangga usaha pertanian yang lebih besar jika dibandingkan dengan perusahaan pertanian berbadan hukum atau usaha pertanian lainnya, yaitu selain rumah tangga dan perusahaan pertanian berbadan hukum. Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Jawa Timur hasil ST2013 tercatat sebanyak 4,98 juta rumah tangga, menurun sebesar 21,16 persen dari hasil Sensus Pertanian 2003 (ST2003) yang tercatat sebanyak 6,31 juta rumah tangga. Sedangkan jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum hasil ST2013 tercatat sebanyak 410 perusahaan turun 243 perusahaan dibandingkan dengan hasil Sensus Pertanian 2003 dan usaha pertanian lainnya sebanyak 1.051 unit.

B

erdasarkan hasil ST2013, Kabupaten Malang tercatat sebagai kabupaten dengan jumlah rumah tangga usaha pertanian terbanyak, yaitu sebanyak 328,37 ribu rumah tangga. Sedangkan Kabupaten Situbondo tercatat sebagai kabupaten dengan jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum terbanyak dan Kabupaten Mojokerto tercatat sebagai kabupaten dengan jumlah usaha pertanian lainnya terbanyak. Penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian terbesar terjadi di Kabupaten Jember, dengan penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak 139,42 ribu atau sebesar 29,98 persen

Gambar 1

Jumlah Rumah Tangga Pertanian dan Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum di Jawa Timur, ST2003 dan ST2013

(18)

18

18

Tabel 1

Jumlah Usaha Pertanian Menurut Provinsi dan Jenis Usaha, ST2003 dan ST2013

No Provinsi

Rumah Tangga Usaha Pertanian (Rumah Tangga)

Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum (Perusahaan) Usaha Pertanian Lainnya ST2013 (Unit) ST2003 ST2013 AbsolutPerubahan% ST2003 ST2013 AbsolutPerubahan%

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 1 Pacitan 138.014 132.114 -5.900 -4,27 2 1 -1 -50,00 8 2 Ponorogo 202.676 178.958 -23.718 -11,70 3 8 5 166,67 11 3 Trenggalek 160.126 146.844 -13.282 -8,29 6 4 -2 -33,33 7 4 Tulungagung 200.745 147.663 -53.082 -26,44 21 15 -6 -28,57 15 5 Blitar 252.244 209.032 -43.212 -17,13 30 21 -9 -30,00 6 6 Kediri 271.688 198.711 -72.977 -26,86 13 16 3 23,08 15 7 Malang 387.578 328.369 -59.209 -15,28 62 23 -39 -62,90 7 8 Lumajang 200.148 168.729 -31.419 -15,70 26 8 -18 -69,23 3 9 Jember 465.055 325.633 -139.422 -29,98 42 44 2 4,76 17 10 Banyuwangi 286.534 219.428 -67.106 -23,42 131 47 -84 -64,12 31 11 Bondowoso 180.152 148.639 -31.513 -17,49 8 6 -2 -25,00 29 12 Situbondo 160.449 130.287 -30.162 -18,80 92 63 -29 -31,52 32 13 Probolinggo 239.186 189.834 -49.352 -20,63 69 23 -46 -66,67 7 14 Pasuruan 236.009 183.162 -52.847 -22,39 25 18 -7 -28,00 38 15 Sidoarjo 114.175 41.327 -72.848 -63,80 9 5 -4 -44,44 37 16 Mojokerto 159.768 93.874 -65.894 -41,24 13 11 -2 -15,38 183 17 Jombang 205.653 124.553 -81.100 -39,44 19 10 -9 -47,37 52 18 Nganjuk 220.244 165.886 -54.358 -24,68 6 7 1 16,67 2 19 Madiun 147.153 111.347 -35.806 -24,33 3 7 4 133,33 60 20 Magetan 140.963 102.850 -38.113 -27,04 2 2 0 0,00 168 21 Ngawi 213.793 168.319 -45.474 -21,27 6 5 -1 -16,67 75 22 Bojonegoro 274.831 239.734 -35.097 -12,77 3 5 2 66,67 12 23 Tuban 233.611 200.099 -33.512 -14,35 17 7 -10 -58,82 36 24 Lamongan 235.095 189.343 -45.752 -19,46 6 9 3 50,00 106 25 Gresik 133.887 102.394 -31.493 -23,52 5 1 -4 -80,00 3 26 Bangkalan 163.175 140.741 -22.434 -13,75 - 2 - - 16 27 Sampang 177.699 161.215 -16.484 -9,28 - - - - 8 28 Pamekasan 150.636 143.101 -7.535 -5,00 - - - - 11 29 Sumenep 261.268 227.700 -33.568 -12,85 1 - - - 18 30 Kota Kediri 8.448 4.488 -3.960 -46,88 3 2 -1 -33,33 5 31 Kota Blitar 9.749 4.938 -4.811 -49,35 3 3 0 0,00 8 32 Kota Malang 16.997 6.059 -10.938 -64,35 4 2 -2 -50,00 3 33 Kota Probolinggo 13.479 9.968 -3.511 -26,05 1 5 4 400,00 2 34 Kota Pasuruan 6.072 3.810 -2.262 -37,25 1 - - - 4 35 Kota Mojokerto 3.594 1.490 -2.104 -58,54 1 - - - 1 36 Kota Madiun 9.532 2.355 -7.177 -75,29 5 3 -2 -40,00 1 37 Kota Surabaya 14.597 7.992 -6.605 -45,25 11 19 8 72,73 5 38 Kota Batu 19.347 17.372 -1.975 -10,21 4 8 4 100,00 9 Jawa Timur 6.314.370 4978358 -1.336.012 -21,16 653 410 -243 -37,21 1.051

(19)

19

19

Gambar 2

Peta Sebaran Rumah Tangga Usaha Pertanian, ST2013

Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian

(20)

20

20

Subsektor Tanaman Pangan terlihat mendominasi rumahtangga usaha pertanian di Jawa Timur. ST2013 mencatat bahwa jumlah rumah tangga usaha pertanian terbanyak di Jawa Timur adalah di Subsektor Tanaman Pangan dan Subsektor Peternakan. Jumlah rumah tangga usaha pertanian Subsektor Tanaman Pangan adalah sebanyak 3,67 juta rumah tangga dan jumlah rumah tangga usaha pertanian Subsektor Peternakan adalah sebanyak 3,34 juta rumah tangga.

Subsektor Perikanan memiliki jumlah rumah tangga usaha paling sedikit diantara subsektor lainnya di Sektor Pertanian. Subsektor Perikanan terdiri dari kegiatan Budidaya Ikan dan Penangkapan Ikan. Hasil ST2013 menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga usaha Budidaya Ikan sebanyak 116,63 ribu rumah tangga, sedangkan untuk usaha Penangkapan Ikan sebanyak 76,65 ribu rumah tangga.

Penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian terbesar hasil ST2013 dibandingkan ST2003 terjadi di Subsektor Hortikultura, yang mencapai 41,91 persen (1,60 juta rumah tangga). Pada periode yang sama, Subsektor Kehutanan juga mengalami penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian, yaitu tercatat sebesar 12,13 persen (200,57 ribu rumah tangga).

Gambar 3

Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian di Jawa Timur Menurut Subsektor, ST2003 dan ST2013

*) Satu rumah tangga usaha pertanian dapat mengusahakan lebih dari 1 subsektor usaha pertanian, sehingga jumlah rumah tangga usaha pertanian di Sektor Pertanian bukan merupakan penjumlahan rumah tangga usaha pertanian dari masing-masing subsektor

0 1 000 2 000 3 000 4 000 5 000 6 000 7 000 Pertanian*) tanaman

Pangan hortikultura Perkebunan Peternakan Budidaya ikan Penangkapanikan Kehutanan jasa Pertanian

Jum la h R um ah Ta ngga (r ibu ) St2003 St2013

(21)

21

21

21

Banyaknya perusahaan pertanian berbadan hukum hasil ST2013, terlihat didominasi oleh perusahaan di Subsektor Perkebunan dan Perikanan. Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum Subsektor Perkebunan hasil ST2013 adalah sebanyak 141 perusahaan, sedangkan jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum Subsektor Perikanan adalah sebanyak 100 perusahaan.

Subsektor Tanaman Pangan ternyata merupakan subsektor yang memilki jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum paling sedikit, diikuti oleh Subsektor Hortikultura. Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum Subsektor Tanaman Pangan hasil ST2013 tercatat sebanyak 28 perusahaan, sedangkan jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum Subsektor Hortikultura tercatat sebanyak 36 perusahaan.

Perusahaan pertanian berbadan hukum hasil ST2013 dibandingkan hasil ST2003 mengalami penurunan sebesar 37,21 persen. Hanya perusahaan pertanian berbadan hukum Subsektor Kehutanan yang mengalami pertumbuhan, sebesar 19,44 persen (7 perusahaan) sedangkan subsektor yang lainnya mengalami penurunan. Penurunan jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum tertinggi terjadi di Subsektor Perikanan, sebesar 55,75 persen (126 perusahaan).

Gambar 4

Jumlah Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum di Jawa Timur Menurut Subsektor, ST2003 dan ST2013 0 100 200 300 400 500 600 700 Pertanian Tanaman

Pangan Hortikultura Perkebunan Peternakan Budidaya IkanPenangkapanIkan Kehutanan

Ju m la h Pe ru sah aan ST2003 ST2013

(22)

22

22

Tabel 2

Jumlah Usaha Pertanian Menurut Subsektor dan Jenis Usaha, ST2003 dan ST2013

No. Sektor/Subsektor

Rumah Tangga Usaha Pertanian

(Rumah Tangga) Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum (Perusahaan) Usaha Perta-nian Lainnya ST2013 (Unit) ST2003 ST2013 Perubahan ST2003 ST2013 Perubahan

Absolut % Abso-lut %

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) SektoR PeRtanian*) 6.314.370 4.978.358 -1.336.012 -21,16 653 410 -243 -37,21 1.051 SUBSeKToR 1. Tanaman Pangan 3.785.083 3.673.364 -111.719 -2,95 33 28 -5 -15,15 67 Padi 2.665.898 2.898.256 232.358 8,72 29 28 -1 -3,45 59 Palawija 2.979.381 2.529.602 -449.779 -15,10 4 0 -4 -100,00 39 2. Hortikultura 3.826.739 2.222.937 -1.603.802 -41,91 56 36 -20 -35,71 247 3. Perkebunan 2.103.921 1.575.382 -528.539 -25,12 197 141 -56 -28,43 64 4. Peternakan 4.567.408 3.339.411 -1.227.997 -26,89 105 62 -43 -40,95 460 5. Perikanan 284.335 189.777 -94.558 -33,26 226 100 -126 -55,75 64 Budidaya Ikan 104.629 116.629 12.000 11,47 217 95 -122 -56,22 64 Penangkapan Ikan 185.168 76.655 -108.513 -58,60 9 5 -4 -44,44 1 6. Kehutanan 1.653.713 1.453.142 -200.571 -12,13 36 43 7 19,44 252 7 Jasa Pertanian 318.773 213.655 -105.118 -32,98 0 0 0 0 129

Dari hasil ST2013, Subsektor Tanaman Pangan memiliki jumlah usaha pertanian lainnya terbanyak, yaitu sebanyak 460 unit usaha, diikuti oleh Subsektor Kehutanan yang tercatat memiliki jumlah usaha pertanian sebanyak 252 unit usaha. Sedangkan Subsektor Perkebunan dan Perikanan pada ST2013 merupakan subsektor dengan jumlah usaha pertanian lainnya paling sedikit (masing-masing 64 unit usaha).

*) Satu rumah tangga usaha pertanian dapat mengusahakan lebih dari 1 subsektor usaha pertanian, sehingga jumlah rumah tangga usaha pertanian di Sektor Pertanian bukan merupakan penjumlahan rumah tangga usaha pertanian dari masing-masing subsektor

(23)

23

23

Apabila diklasifikasikan menurut golongan luas lahan, hasil ST2003 menunjukkan jumlah rumah tangga usaha pertanian yang menguasai lahan kurang dari 0,50 hektar (5.000 m2) mendominasi jumlah rumah tangga usaha pertanian di Provinsi Jawa Timur. Kondisi yang hampir serupa terjadi pada hasil ST2013, dimana jumlah rumah tangga usaha pertanian dengan luas lahan yang dikuasai kurang dari 0,10 hektar (1.000 m2) sebanyak 1,13 juta rumah tangga, mengalami penurunan sebesar 52,41 persen dibandingkan hasil ST2003, yang tercatat sebanyak 2,38 juta rumah tangga. Rumah tangga usaha pertanian dengan luas lahan yang dikuasai antara 0,10–0,19 hektar (1.000–1.999 m2) pada ST2013 adalah sebanyak 940,83 ribu rumah tangga, meningkat sebesar 3,92 persen (35,48 ribu rumah tangga) bila dibandingkan dengan ST2003 yang tercatat sebanyak 905,35 ribu rumah tangga.

Golongan luas lahan 0,20–0,49 hektar (2.000–4.999 m2) tercatat mempunyai jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak 1,73 juta rumah tangga pada ST2013, menurun sebanyak 993 rumah tangga jika dibandingkan ST2003. Sedangkan untuk golongan luas lahan yang dikuasai lebih dari 0,50 hektar (5.000 m2), jumlah usaha rumah tangga pertanian hasil ST2013 sedikit menurun dibandingkan dengan hasil ST2003.

Gambar 5

Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Menurut Golongan Luas Lahan yang Dikuasai, ST2003 dan ST2013 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 <1 000 1 000–1 999 2 000–4 999 5 000–9 999 10 000–19 99920 000–29 999 ≥30 000 Ju m la h R um ah T an gg a (r ib u) ST2003 ST2013

(24)

24

Tabel 3

Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Menurut Golongan Luas Lahan yang Dikuasai, ST2003 dan ST2013

No. Golongan Luas Lahan (m2) ST2003 ST2013 Perubahan

Absolut % (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 <1 000 2.384.327 1.134.610 -1.249.717 -52,41 2 1 000–1 999 905.346 940.827 35.481 3,92 3 2 000–4 999 1.728.125 1.727.132 -993 -0,06 4 5 000–9 999 893.082 802.704 -90.378 -10,12 5 10 000–19 999 311.870 282.774 -29.096 -9,33 6 20 000–29 999 56.016 52.212 -3.804 -6,79 7 ≥30 000 35.604 38.099 2.495 7,01 JUMLAH 6.314.370 4.978.358 -1.336.012 -21,16

Hasil ST2013 pada tabel 3 menunjukkan bahwa rumah tangga usaha pertanian paling banyak menguasai lahan dengan luas antara 0,20–0,49 hektar, yaitu sebanyak 1,73 juta rumah tangga. Berbeda dengan yang terjadi pada ST2003 jumlah rumah tangga usaha pertanian terbanyak menguasai lahan dengan luas kurang dari 0,10 hektar, yaitu sebanyak 2,38 juta rumah tangga.

Untuk rumah tangga usaha pertanian dengan luas lahan lebih dari 0,50 hektar hasil ST2003 adalah sebanyak 1,30 juta rumah tangga. Angka ini mengalami penurunan (9,32 persen) pada ST2013, yaitu menjadi sebanyak 1,18 juta rumah tangga.

(25)

25

Gambar 6

Perbandingan Rumah Tangga Pertanian Pengguna Lahan dan Petani Gurem, ST2013

Rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan ternyata mendominasi rumah tangga usaha pertanian di Jawa Timur. Dari sebanyak 4,98 juta rumah tangga usaha pertanian di Jawa Timur, sebesar 99,06 persen merupakan rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan (4,93 juta rumah tangga). Sedangkan rumah tangga usaha pertanian bukan pengguna lahan hanya sebesar 0,04 persen, atau sebanyak 46,85 ribu rumah tangga.

Rumah tangga pertanian pengguna lahan dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu rumah tangga petani gurem (rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan yang menguasai lahan kurang dari 0,50 hektar) dan rumah tangga bukan petani gurem (rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan yang menguasai lahan 0,50 hektar atau lebih). Hasil ST2013 menunjukkan bahwa dari sebesar 99,06 persen rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan, sebesar 76,16 persennya (3,76 juta rumah tangga) merupakan rumah tangga petani gurem, sedangkan rumah tangga bukan petani gurem sebesar 23,84 persen (1,18 juta rumah tangga).

(26)

26

26

Tabel 4

Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Pengguna Lahan dan Rumah Tangga Petani Gurem Menurut Kabupaten/Kota, ST2003 dan ST2013

No. Kabupaten/Kota

Rumah Tangga Usaha Pertanian

Pengguna Lahan Rumah Tangga Petani Gurem ST2003 ST2013 AbsolutPerubahan% ST2003 ST2013 AbsolutPerubahan% (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 1 Pacitan 137.825 132.020 -5.805 -4,21 79.179 86.748 7.569 9,56 2 Ponorogo 202.180 178.919 -23.261 -11,51 165.558 149.523 -16.035 -9,69 3 Trenggalek 158.554 146.472 -12.082 -7,62 124.993 122.215 -2.778 -2,22 4 Tulungagung 199.324 146.856 -52.468 -26,32 172.648 120.481 -52.167 -30,22 5 Blitar 250.904 208.639 -42.265 -16,85 197.736 164.755 -32.981 -16,68 6 Kediri 268.856 198.299 -70.557 -26,24 229.239 163.429 -65.81 -28,71 7 Malang 382.765 327.769 -54.996 -14,37 284.976 234.946 -50.03 -17,56 8 Lumajang 197.985 168.536 -29.449 -14,87 155.247 126.419 -28.828 -18,57 9 Jember 454.747 323.709 -131.038 -28,82 387.522 257.248 -130.274 -33,62 10 Banyuwangi 274.574 215.079 -59.495 -21,67 216.369 160.708 -55.661 -25,73 11 Bondowoso 178.543 148.479 -30.064 -16,84 143.665 116.509 -27.156 -18,90 12 Situbondo 153.190 128.580 -24.610 -16,07 124.073 100.589 -23.484 -18,93 13 Probolinggo 235.335 188.084 -47.251 -20,08 189.903 145.882 -44.021 -23,18 14 Pasuruan 228.055 178.611 -49.444 -21,68 182.951 141.029 -41.922 -22,91 15 Sidoarjo 111.687 40.382 -71.305 -63,84 99.006 30.980 -68.026 -68,71 16 Mojokerto 159.106 93.561 -65.545 -41,20 133.699 73.656 -60.043 -44,91 17 Jombang 204.003 124.298 -79.705 -39,07 174.164 96.743 -77.421 -44,45 18 Nganjuk 219.096 165.573 -53.523 -24,43 187.896 134.937 -52.959 -28,19 19 Madiun 146.326 111.207 -35.119 -24,00 125.209 87.104 -38.105 -30,43 20 Magetan 140.788 102.778 -38.010 -27,00 118.599 83.430 -35.169 -29,65 21 Ngawi 212.577 168.168 -44.409 -20,89 175.286 129.474 -45.812 -26,14 22 Bojonegoro 273.650 239.582 -34.068 -12,45 203.919 168.354 -35.565 -17,44 23 Tuban 224.436 196.956 -27.480 -12,24 147.024 115.043 -31.981 -21,75 24 Lamongan 222.476 186.624 -35.852 -16,11 153.218 116.568 -36.65 -23,92 25 Gresik 127.353 98.164 -29.189 -22,92 94.794 65.652 -29.142 -30,74 26 Bangkalan 160.256 138.473 -21.783 -13,59 122.857 114.750 -8.107 -6,60 27 Sampang 172.101 158.903 -13.198 -7,67 129.648 134.069 4.421 3,41 28 Pamekasan 146.850 141.602 -5.248 -3,57 105.046 108.186 3.14 2,99 29 Sumenep 248.910 219.699 -29.211 -11,74 180.754 160.362 -20.392 -11,28 30 Kota Kediri 8.406 4.418 -3.988 -47,44 7.647 3.594 -4.053 -53,00 31 Kota Blitar 9.656 4.917 -4.739 -49,08 9.056 4.329 -4.727 -52,20 32 Kota Malang 16.417 6.038 -10.379 -63,22 14.520 4.933 -9.587 -66,03 33 Kota Probolinggo 12.815 9.687 -3.128 -24,41 11.887 8.820 -3.067 -25,80 34 Kota Pasuruan 4.796 3.306 -1.490 -31,07 4.249 2.581 -1.668 -39,26 35 Kota Mojokerto 3.566 1.482 -2.084 -58,44 3.362 1.211 -2.151 -63,98 36 Kota Madiun 9.421 2.350 -7.071 -75,06 8.918 1.929 -6,989 -78,37 37 Kota Surabaya 12.973 5.949 -7.024 -54,14 12.184 4.177 -8,007 -65,72 38 Kota Batu 18.979 17.337 -1.642 -8,65 16.625 14.474 -2,151 -12,94 Jawa Timur 6.189.481 4.931.506 -1.257.975 -20,32 4.893.626 3.755.837 -1.137.789 -23,25

(27)

27

27

Gambar 7

(28)

28

28

Hasil ST2013 menunjukkan bahwa dari sebanyak 6,18 juta orang petani di Jawa Timur, petani masih didominasi oleh petani laki-laki, yaitu sebanyak 4,62 juta orang (74,77 persen). Sedangkan jumlah petani perempuan hanya sebanyak 1,56 juta orang atau sebesar 25,23 persen. Dominasi petani laki-laki di Sektor Pertanian juga terjadi di seluruh Subsektor Pertanian. Persentase jumlah petani laki-laki terbesar berada di Subsektor Perikanan kegiatan Penangkapan Ikan yang mencapai 95,43 persen sementara persentase petani laki-laki paling sedikit berada di Subsektor Peternakan yang mencapai 74,71 persen.

Gambar 8

Jumlah Petani Menurut Jenis Kelamin, ST2013

74,77% 25,23%

Laki-Laki

(29)

29

29

29

29

29

Tabel 5

Jumlah Petani Menurut Subsektor dan Jenis Kelamin, ST2013

No. Subsektor Laki-laki Perempuan Jumlah

Absolut % Absolut % Absolut %

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) SeKToR PeRTANIAN *) 4.617.472 74,77 1.558.321 25,23 6.175.793 100,00 SUBSeKToR 1. Tanaman Pangan 3.371.831 77,38 985.465 22,62 4.357.296 100,00 2. Hortikultura 1.944.072 76,23 606.158 23,77 2.550.230 100,00 3. Perkebunan 1.442.564 81,89 319.066 18,11 1.761.630 100,00 4. Peternakan 2.924.049 74,71 990.014 25,29 3.914.063 100,00 5. Perikanan Budidaya Ikan 113.263 86,93 17.028 13,07 130.291 100,00 Penangkapan Ikan 76.862 95,43 3.681 4,57 80.543 100,00 6. Kehutanan 1.322.791 84,20 248.174 15,80 1.570.965 100,00

*) Satu orang petani dapat mengusahakan lebih dari 1 subsektor usaha pertanian, sehingga jumlah petani secara keseluruhan di Sektor Pertanian bukan merupakan penjumlahan petani dari masing-masing subsektor.

(30)

30

Tabel 6

Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Petani Utama, ST2013

No. Kelompok Umur Petani Utama(tahun) Laki-laki Perempuan Jumlah

Absolut % Absolut % Absolut %

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1 <15 553 83,66 108 16,34 661 100,00 2 15–24 15.006 88,41 1.968 11,59 16.974 100,00 3 25–34 347.517 93,81 22.931 6,19 370.448 100,00 4 35–44 1.068.824 92,55 86.015 7,45 1.154.839 100,00 5 45–54 1.352.132 89,49 158.828 10,51 1.510.960 100,00 6 55–64 987.748 84,77 177.442 15,23 1.165.190 100,00 7 ≥65 583.251 76,82 176.035 23,18 759.286 100,00 JUMLAH 4.355.031 87,48 623.327 12,52 4.978.358 100,00

Dari sebanyak 4,98 juta rumah tangga usaha pertanian hasil ST2013, sebanyak 4,36 juta rumah tangga usaha pertanian memiliki petani utama berjenis kelamin laki-laki (87,48 persen), dan 623,33 ribu rumah tangga memiliki petani utama berjenis kelamin perempuan (12,52 persen). Kecenderungan bahwa petani utama laki-laki lebih tinggi jumlahnya jika dibandingkan dengan petani utama perempuan, terjadi hampir serupa di masing-masing kelompok umur. Jumlah rumah tangga usaha pertanian kelompok umur kurang dari 15 tahun dengan petani utama laki-laki tercatat sebesar 553 rumah tangga, lebih tinggi daripada petani utama perempuan yang tercatat sebesar 108 rumah tangga.

Sama halnya bila dirinci menurut kelompok umur petani utama, kelompok usia produktif (15–64 tahun) terlihat mendominasi jumlah rumah tangga usaha pertanian. Tercatat sebanyak 4,25 juta rumah tangga usaha pertanian yang kelompok umur petani utamanya antara 15–64 tahun. Jumlah rumah tangga usaha pertanian dengan kelompok umur petani utama kurang dari 15 tahun, yaitu sebanyak 816 rumah tangga, sedangkan jumlah rumah tangga usaha pertanian dengan kelompok umur petani utama di atas 64 tahun adalah sebanyak 730,69 ribu rumah tangga.

(31)

31

Jumlah sapi dan kerbau pada 1 Mei 2013 tercatat sebanyak 3,84 juta ekor, terdiri dari 3,59 juta ekor sapi potong, 222,91 ribu ekor sapi perah, dan 28,07 ribu ekor kerbau. Jumlah sapi dan kerbau betina lebih tinggi bila dibandingkan dengan jumlah sapi dan kerbau jantan. Hasil ST2013 menunjukkan bahwa jumlah sapi dan kerbau betina adalah sebanyak 2,69 juta ekor (70,22 persen) dan jumlah sapi dan kerbau jantan sebanyak 1,14 juta ekor (29,78 persen).

Kabupaten dengan jumlah sapi dan kerbau terbanyak adalah Kabupaten Sumenep, yaitu sebanyak 333,78 ribu ekor. Sedangkan Kota Mojokerto adalah kota dengan jumlah sapi dan kerbau paling sedikit (151 ekor). Jumlah sapi potong terbanyak terdapat di Kabupaten Sumenep, yaitu sebanyak 328,76 ribu ekor, dan jumlah sapi perah terbanyak berada di Kabupaten Pasuruan, dengan jumlah sapi perah sebanyak 76,56 ribu ekor.

Gambar 9

Jumlah Sapi dan Kerbau Pada 1 Mei 2013 Menurut Jenis Kelamin

0 500 1 000 1 500 2 000 2 500 3 000

Sapi Potong Sapi Perah Kerbau

Ju m la h S ap i/K er ba u ( rib u) Jantan Betina

(32)

32

Tabel 7

Jumlah Sapi dan Kerbau Pada 1 Mei 2013 Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin

No. Kabupaten/Kota Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Jumlah Sapi dan Kerbau Jantan Betina Jumlah Jantan Betina Jumlah Jantan Betina Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Pacitan 18.947 51.976 70.923 34 85 119 45 62 107 71.149 2 Ponorogo 25.462 46.310 71.772 77 1.899 1.976 79 139 218 73.966 3 Trenggalek 7.494 20.157 27.651 134 4.086 4.220 79 149 228 32.099 4 Tulungagung 20.663 62.611 83.274 498 20.022 20.520 109 209 318 104.112 5 Blitar 33.694 89.222 122.916 1.178 11.549 12.727 844 1.462 2.306 137.949 6 Kediri 39.801 129.379 169.180 713 7.596 8.309 149 232 381 177.870 7 Malang 70.556 103.104 173.660 4.869 59.512 64.381 643 1.473 2.116 240.157 8 Lumajang 51.317 103.366 154.683 227 3.734 3.961 1.461 3.199 4.660 163.304 9 Jember 48.272 153.870 202.142 179 1.236 1.415 122 201 323 203.880 10 Banyuwangi 20.559 63.938 84.497 122 968 1.090 1.206 2.177 3.383 88.970 11 Bondowoso 30.961 119.119 150.080 9 35 44 9 10 19 150.143 12 Situbondo 25.314 122.662 147.976 17 51 68 58 214 272 148.316 13 Probolinggo 95.901 127.886 223.787 1.352 5.519 6.871 36 68 104 230.762 14 Pasuruan 27.032 61.044 88.076 10.422 66.136 76.558 116 268 384 165.018 15 Sidoarjo 5.271 2.606 7.877 491 1.961 2.452 197 374 571 10.900 16 Mojokerto 17.262 43.619 60.881 140 1.496 1.636 93 307 400 62.917 17 Jombang 11.952 47.147 59.099 136 3.137 3.273 72 206 278 62.650 18 Nganjuk 19.706 100.498 120.204 42 88 130 161 563 724 121.058 19 Madiun 13.584 29.226 42.810 48 215 263 151 230 381 43.454 20 Magetan 55.777 37.263 93.040 36 115 151 102 110 212 93.403 21 Ngawi 25.689 54.501 80.190 99 309 408 411 1.131 1.542 82.140 22 Bojonegoro 48.385 95.696 144.081 73 63 136 208 598 806 145.023 23 Tuban 69.230 182.036 251.266 512 1.792 2.304 414 1.246 1.660 255.230 24 Lamongan 36.461 47.648 84.109 10 21 31 104 209 313 84.453 25 Gresik 22.912 18.022 40.934 106 314 420 69 129 198 41.552 26 Bangkalan 71.801 110.605 182.406 9 30 39 114 791 905 183.350 27 Sampang 71.485 109.364 180.849 0 0 0 0 0 0 180.849 28 Pamekasan 41.710 74.197 115.907 8 14 22 0 0 0 115.929 29 Sumenep 68.712 260.046 328.758 0 0 0 2.052 2.967 5.019 333.777 30 Kota Kediri 892 2.419 3.311 30 90 120 22 49 71 3.502 31 Kota Blitar 852 1.477 2.329 64 238 302 0 0 0 2.631 32 Kota Malang 2.644 1.334 3.978 16 247 263 42 59 101 4.342 33 Kota Probolinggo 4.984 2.893 7.877 42 148 190 0 0 0 8.067 34 Kota Pasuruan 298 149 447 4 9 13 2 2 4 464 35 Kota Mojokerto 42 98 140 1 2 3 1 7 8 151 36 Kota Madiun 225 54 279 10 31 41 1 10 11 331 37 Kota Surabaya 895 210 1.105 119 498 617 11 22 33 1.755 38 Kota Batu 3.525 736 4.261 1.503 6.333 7.836 11 3 14 12.111 Jawa Timur 1.110.267 2.476.488 3.586.755 23.330 199.579 222.909 9.194 18.876 28.070 3.837.734

(33)

33

Gambar 10

(34)

34

Lahan pertanian merupakan salah satu modal dalam usaha di bidang pertanian. Berdasarkan hasil ST2013, rata-rata luas lahan pertanian yang dikuasai oleh rumah tangga usaha pertanian mengalami peningkatan yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan hasil ST2003. Rata-rata luas lahan pertanian yang dikuasai oleh rumah tangga usaha pertanian hasil ST2013 adalah sebesar 3,94 ribu m2, naik sebesar 80,87 persen dibandingkan hasil ST2003 yang tercatat sebesar 2,18 ribu m2.

Untuk klasifikasi kabupaten dan kota, rata-rata luas lahan sawah yang dikuasai rumah tangga usaha pertanian di kabupaten sebesar 1,92 ribu m2 , sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan penguasaan lahan bukan sawah yang sebesar 1,80 ribu m2. Hal yang sama untuk di kota, rata-rata luas lahan sawah yang dikuasai oleh rumah tangga usaha pertanian di kota sebesar 1,75 ribu m2 , sedikit lebih tinggi bila dibandingkan dengan penguasaan lahan bukan sawah yang tercatat sebesar 1,46 ribu m2.

Gambar 11

Rata-Rata Luas Lahan yang Dikuasai Rumah Tangga Usaha Pertanian (m2) Menurut Wilayah dan Jenis Lahan, ST2003 dan ST2013

0 10 000 20 000 30 000 40 000 50 000 60 000

Lahan Sawah Lahan Bukan

Sawah Lahan BukanPertanian Lahan Sawah Lahan BukanSawah Lahan BukanPertanian

Kabupaten Kota Ra ta -R at a Lu as L ah an (m 2) 2003 2013

(35)

35

Tabel 8

Rata-Rata Luas Lahan yang Dikuasai per Rumah Tangga Usaha Pertanian (m2) Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Lahan, ST2003 dan ST2013

No. Kabupaten/Kota

Jenis Lahan

Lahan Yang Dikuasai Lahan Bukan

Pertanian

Lahan Pertanian

Lahan Sawah Lahan Bukan Sawah Jumlah

ST2003 ST2013 ST2003 ST2013 ST2003 ST2013 ST2003 ST2013 ST2003 ST2013 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Pacitan 453,89 197,71 794,95 876,73 4.054,18 3.879,80 4.849,13 4.756,52 5.303,02 4.954,23 2 Ponorogo 411,23 308,98 1.046,30 1.425,90 1.216,73 1.385,97 2.263,02 2.811,87 2.674,25 3.120,85 3 Trenggalek 375,39 220,19 573,02 705,54 1.966,24 2.120,90 2.539,26 2.826,45 2.914,66 3.046,63 4 Tulungagung 380,11 413,98 651,49 1.205,65 933,56 1.720,35 1.585,05 2.925,99 1.965,16 3.339,98 5 Blitar 407,24 357,71 737,10 1.086,21 1.618,44 2.064,99 2.355,54 3.151,20 2.762,77 3.508,91 6 Kediri 509,45 471,81 878,83 1.664,57 672,51 1.344,80 1.551,33 3.009,37 2.060,78 3.481,17 7 Malang 253,43 217,76 534,14 898,43 1.689,32 3.348,47 2.223,46 4.246,90 2.476,89 4.464,66 8 Lumajang 345,99 232,89 956,35 1.429,56 1.390,14 2.460,23 2.346,48 3.889,79 2.692,47 4.122,68 9 Jember 253,65 255,52 1.024,42 2.073,27 569,95 1.236,65 1.594,38 3.309,92 1.848,02 3.565,44 10 Banyuwangi 272,27 290,08 996,10 2.337,97 815,61 1.452,10 1.811,71 3.790,07 2.083,98 4.080,16 11 Bondowoso 245,14 139,65 1.218,23 1.928,59 1.183,38 1.780,98 2.401,62 3.709,57 2.646,75 3.849,22 12 Situbondo 297,70 183,66 1.205,95 1.940,76 1.025,99 1.486,94 2.231,94 3.427,70 2.529,64 3.611,36 13 Probolinggo 240,25 162,80 1.142,98 1.711,04 1.266,28 1.969,37 2.409,26 3.680,41 2.649,51 3.843,21 14 Pasuruan 225,35 153,59 770,73 1.527,39 1.053,86 1.924,98 1.824,59 3.452,37 2.049,94 3.605,96 15 Sidoarjo 192,52 285,00 338,01 3.042,35 250,86 3.089,45 588,86 6.131,80 781,38 6.416,80 16 Mojokerto 285,93 274,01 1.073,27 2.573,32 476,26 1.226,76 1.549,52 3.800,09 1.835,46 4.074,10 17 Jombang 245,44 279,83 1.167,59 2.926,16 440,13 995,94 1.607,72 3.922,11 1.853,15 4.201,93 18 Nganjuk 306,74 337,68 1.361,40 2.288,66 454,84 693,98 1.816,25 2.982,65 2.122,99 3.320,33 19 Madiun 408,00 338,06 1.190,91 2.164,07 480,77 1.073,01 1.671,68 3.237,08 2.079,68 3.575,14 20 Magetan 383,04 361,00 1.129,87 1.781,88 835,13 1.219,83 1.964,99 3.001,72 2.348,04 3.362,71 21 Ngawi 368,14 334,38 1.520,11 2.428,20 708,84 1.111,91 2.228,96 3.540,11 2.597,10 3.874,50 22 Bojonegoro 453,88 317,58 2.127,86 2.980,39 730,31 1.022,14 2.858,17 4.002,53 3.312,04 4.320,11 23 Tuban 384,71 280,23 1.585,44 2.386,02 1.862,92 2.922,87 3.448,36 5.308,89 3.833,08 5.589,12 24 Lamongan 333,65 243,21 2.009,70 3.815,61 1.240,38 1.219,50 3.250,08 5.035,12 3.583,73 5.278,33 25 Gresik 261,60 229,59 943,82 2.758,08 1.165,78 2.477,66 2.109,60 5.235,75 2.371,20 5.465,34 26 Bangkalan 643,50 436,13 1.036,23 1.524,75 1.143,08 1.104,69 2.179,31 2.629,44 2.822,81 3.065,58 27 Sampang 388,13 289,10 1.064,08 1.415,06 1.838,14 1.564,17 2.902,22 2.979,23 3.290,35 3.268,33 28 Pamekasan 428,23 258,90 1.301,57 1.533,97 1.661,80 1.847,20 2.963,37 3.381,17 3.391,60 3.640,07 29 Sumenep 359,43 184,54 902,05 1.261,24 2.198,25 2.507,60 3.100,30 3.768,84 3.459,73 3.953,38 30 Kota Kediri 204,00 325,27 205,50 2.233,46 27,43 1.504,36 232,93 3.737,81 436,93 4.063,08 31 Kota Blitar 253,89 325,67 193,57 1.461,76 127,42 503,40 320,99 1.965,16 574,88 2.290,83 32 Kota Malang 115,55 213,66 49,72 1.475,04 69,12 2.449,00 118,85 3.924,04 234,40 4.137,70 33 Kota Probolinggo 177,78 154,84 286,74 1.268,95 45,47 466,92 332,21 1.735,87 509,99 1.890,71 34 Kota Pasuruan 124,17 128,24 182,15 2.231,00 97,47 1.147,93 279,62 3.378,93 403,79 3.507,16 35 Kota Mojokerto 162,19 202,40 101,51 2.625,26 13,20 1.210,99 114,71 3.836,26 276,89 4.038,65 36 Kota Madiun 201,23 254,83 163,72 2.274,57 34,86 387,44 198,57 2.662,00 399,80 2.916,83 37 Kota Surabaya 81,00 122,82 8,20 1.182,39 16,31 3.735,80 24,51 4.918,20 105,51 5.041,02 38 Kota Batu 185,10 146,49 347,95 991,82 590,21 1.742,47 938,16 2.734,29 1.123,26 2.880,79 Jawa Timur 301,16 273,96 907,77 1.858,60 971,08 1.810,50 1.878,85 3.669,10 2.180,01 3.943,06

(36)

36

Gambar 12

Jumlah Rumah Tangga Jasa Pertanian Menurut Subsektor, ST2013

Subsektor Tanaman Pangan merupakan subsektor yang memiliki jumlah rumah tangga jasa pertanian terbanyak. Hasil ST2013 mencatat bahwa jumlah rumah tangga jasa pertanian Subsektor Tanaman Pangan adalah sebesar 137,37 ribu rumah tangga. Sedangkan jumlah rumah tangga jasa pertanian paling sedikit tercatat pada Subsektor Perikanan, yaitu sebanyak 9,30 ribu rumah tangga. Subsektor Hortikultura tercatat memiliki jumlah rumah tangga jasa pertanian sebanyak 31,01 ribu rumah tangga, sedangkan Subsektor Perkebunan, Peternakan, dan Kehutanan memiliki jumlah rumah tangga jasa pertanian masing-masing sebanyak 43,32 ribu, 14,40 ribu, dan 10,17 ribu rumah tangga. Apabila dikaji menurut kabupaten/kota, terlihat bahwa Kabupaten Bojonegoro merupakan kabupaten dengan jumlah rumah tangga jasa pertanian terbanyak (17,22 ribu rumah tangga), sedangkan Kota Madiun merupakan kota dengan jumlah rumah tangga jasa pertanian paling sedikit (34 rumah tangga).

0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000 160000 Tanaman

Pangan Hortikultura Perkebunan Peternakan Perikanan Kehutanan

Ju m la h R um ah T an gg a

(37)

37

Tabel 9

Jumlah Rumah Tangga Jasa Pertanian Menurut Kabupaten/Kota dan Subsektor, ST2013

No. Kabupaten/Kota Jumlah Rumah Tangga Jasa Pertanian

Subsektor Tanaman

Pangan Hortikultura Perkebunan Peternakan Perikanan Kehutanan

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1 Pacitan 2.603 1.304 477 650 69 19 387 2 Ponorogo 8.055 6.185 605 1.181 174 46 402 3 Trenggalek 3.440 1.929 520 915 214 61 236 4 Tulungagung 4.745 3.056 607 826 572 50 236 5 Blitar 6.492 4.003 984 1.593 575 52 299 6 Kediri 6.379 4.410 1.426 1.270 81 73 325 7 Malang 8.228 3.997 1.535 3.099 13 29 563 8 Lumajang 5.972 2.847 1.320 1.107 1.179 552 691 9 Jember 16.197 9.181 2.904 4.406 2.051 640 766 10 Banyuwangi 12.632 7.366 1.601 3.491 1.050 329 306 11 Bondowoso 6.397 3.297 803 1.204 336 21 1.708 12 Situbondo 3.787 2.172 488 1.034 246 194 153 13 Probolinggo 3.421 2.068 716 873 200 62 246 14 Pasuruan 7.099 3.721 1.758 1.332 754 357 416 15 Sidoarjo 1.813 1.330 182 113 102 117 65 16 Mojokerto 4.315 3.162 351 321 361 231 101 17 Jombang 5.763 4.145 779 1.261 308 44 0 18 Nganjuk 8.088 6.163 1.819 749 509 48 157 19 Madiun 6.611 5.831 519 322 332 55 81 20 Magetan 4.530 3.754 343 493 169 58 135 21 Ngawi 13.119 10.641 1.155 1.767 797 378 678 22 Bojonegoro 17.221 13.557 2.023 2.523 375 82 1.052 23 Tuban 13.429 7.365 2.260 2.798 1.309 2.673 348 24 Lamongan 9.472 7.619 1.131 1.163 271 332 173 25 Gresik 4.770 3.543 583 287 419 485 82 26 Bangkalan 8.641 7.123 819 627 766 73 294 27 Sampang 5.760 2.401 1.045 2.850 136 30 37 28 Pamekasan 4.542 1.626 880 2.305 177 12 46 29 Sumenep 8.710 2.914 1.209 2.659 600 1.858 179 30 Kota Kediri 185 52 7 52 92 1 0 31 Kota Blitar 162 105 28 4 23 8 10 32 Kota Malang 112 69 16 8 19 8 1 33 Kota Probolinggo 307 182 20 17 35 66 0 34 Kota Pasuruan 122 71 10 8 20 20 0 35 Kota Mojokerto 37 30 0 2 3 3 0 36 Kota Madiun 34 30 1 0 2 1 0 37 Kota Surabaya 350 64 48 0 37 233 0 38 Kota Batu 115 58 39 8 21 0 0 Jawa Timur 213.655 137.371 31.011 43.318 14.397 9.301 10.173

(38)

38

Gambar 13

(39)

39

Gambar 14

Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian yang Melakukan Pengolahan Hasil Pertanian Menurut Subsektor, ST2013

Subsektor Tanaman Pangan merupakan subsektor yang memiliki jumlah rumah tangga usaha pertanian yang melakukan pengolahan hasil pertanian terbanyak. Jumlah rumah tangga usaha pertanian yang melakukan pengolahan hasil pertanian pada Subsektor Tanaman Pangan tercatat sebesar 173,16 ribu rumah tangga. Sedangkan jumlah rumah tangga usaha pertanian yang melakukan pengolahan hasil pertanian paling sedikit tercatat pada Subsektor Perikanan, yaitu sebanyak 4,87 ribu rumah tangga. Subsektor Perkebunan tercatat memiliki jumlah rumah tangga usaha pertanian yang melakukan pengolahan hasil pertanian sebanyak 133,61 ribu rumah tangga, sedangkan Subsektor Kehutanan, Hortikultura, dan Peternakan memiliki jumlah rumah tangga usaha pertanian yang melakukan pengolahan hasil pertanian masing-masing sebanyak 74,57 ribu, 20,94 ribu, dan 20,43 ribu rumah tangga.

0 20 000 40 000 60 000 80 000 100 000 120 000 140 000 160 000 180 000 200 000 Tanaman

Pangan Hortikultura Perkebunan Peternakan Perikanan Kehutanan

Ju m la h R um ah T an gg a

(40)

40

Tabel 10

Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian yang Melakukan Pengolahan Hasil Pertanian Menurut Kabupaten/Kota dan Subsektor, ST2013

No. Kabupaten/Kota Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian yang Melakukan Pengolahan Hasil Pertanian

Subsektor Tanaman

Pangan Hortikultura - Perkebu-nan Peternakan Perikanan Kehutanan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1 Pacitan 28.327 14.519 920 9.338 369 54 6.379 2 Ponorogo 14.021 7.460 796 2.188 767 23 3.905 3 Trenggalek 29.531 23.189 773 3.499 589 43 3.705 4 Tulungagung 6.757 3.462 333 1.149 623 101 1.288 5 Blitar 10.742 4.026 695 3.556 591 100 2.284 6 Kediri 7.025 3.061 563 1.001 550 59 1.995 7 Malang 16.237 6.233 1.427 3.292 969 55 5.587 8 Lumajang 9.117 2.161 536 3.172 588 25 3.350 9 Jember 18.543 11.021 985 3.280 1.402 134 2.779 10 Banyuwangi 11.662 5.405 978 1.809 886 344 3.069 11 Bondowoso 16.605 4.989 309 8.067 508 11 4.438 12 Situbondo 8.680 1.470 374 5.258 415 111 1.592 13 Probolinggo 26.807 3.382 630 21.147 517 57 1.772 14 Pasuruan 6.835 3.892 813 639 751 448 1.221 15 Sidoarjo 709 320 62 8 187 86 57 16 Mojokerto 2.761 1.202 200 190 254 19 962 17 Jombang 9.327 3.712 344 3.631 328 40 1.955 18 Nganjuk 7.850 5.206 466 644 419 33 1.349 19 Madiun 3.696 1.038 300 200 535 21 1.723 20 Magetan 4.030 1.498 206 362 349 8 1.719 21 Ngawi 11.236 4.145 655 4.128 608 75 2.106 22 Bojonegoro 15.907 6.149 1.497 3.156 1.679 51 4.757 23 Tuban 9.057 3.847 934 584 1.310 287 2.956 24 Lamongan 18.108 3.315 841 11.853 702 412 1.931 25 Gresik 3.632 1.331 270 1.127 296 437 436 26 Bangkalan 9.769 5.070 1.053 185 1.309 277 2.640 27 Sampang 16.464 11.515 837 3.252 748 197 929 28 Pamekasan 40.326 16.302 1.156 24.071 974 160 1.564 29 Sumenep 33.509 13.922 1.861 12.789 1.045 1.052 6.053 30 Kota Kediri 28 7 3 4 6 0 8 31 Kota Blitar 89 35 17 13 13 3 9 32 Kota Malang 78 30 14 2 22 1 11 33 Kota Probolinggo 299 163 23 0 50 49 20 34 Kota Pasuruan 63 6 13 1 18 23 3 35 Kota Mojokerto 42 21 6 1 7 5 4 36 Kota Madiun 27 8 4 0 5 2 8 37 Kota Surabaya 114 11 17 0 20 66 2 38 Kota Batu 95 35 26 14 23 1 7 Jawa Timur 398.105 173.158 20.937 133.610 20.432 4.870 74.573

(41)

41

Gambar 15

Peta Sebaran Rumah Tangga Usaha Pertanian yang Melakukan Pengolahan Hasil Pertanian, ST2013

(42)
(43)

43

U

saha Subsektor Tanaman Pangan meliputi usaha tanaman padi dan palawija. Berdasarkan hasil ST2013

diketahui bahwa rumah tangga tanaman pangan di Jawa Timur didominasi oleh rumah tangga yang mengelola tanaman padi. Dari keseluruhan rumah tangga yang mengelola tanaman pangan sebanyak 3,67 juta, 78,90 persen (2,90 juta) diantaranya mengelola tanaman padi, sedangkan rumah tangga yang mengelola tanaman palawija adalah sebanyak 68,86 persen (2,53 juta) dari seluruh rumah tangga tanaman pangan. Selain itu, terdapat 47,76 persen (1,75 juta) dari seluruh rumah tangga tanaman pangan di Indonesia yang mengelola komoditas padi dan palawija sekaligus.

43

Subsektor

Tanaman Pangan

Gambar 16

Jumlah Rumah Tangga Usaha Tanaman Pangan Menurut Jenis Tanaman, ST2013

0 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000 3.000.000 Pa di Pad i S aw ah Pa di L ada ng Pal aw ija Ja gung Ke dela i Kac an g Tan ah Kac an g Hi jau U bi K ay u U bi Jal ar Sor gu m Ga ndum Tal as Ga nyon g Ga ru t La inny a Padi Palawija Ru m ah T an gg a Jenis Tanaman

(44)

44

Jenis tanaman padi di Indonesia terdiri dari padi sawah dan padi ladang. Jenis padi sawah lebih banyak diusa-hakan oleh rumah tangga bila dibandingkan dengan padi ladang. Menurut data ST 2013 dari 2,90 juta rumah tangga tanaman padi di Indonesia, sekitar 91,59 persen (2,65 juta) mengelola tanaman padi sawah, sedang-kan padi ladang hanya dikelola oleh sekitar 10,68 persen (309,56 ribu) rumah tangga tanaman padi.

Selain jumlah rumah tangga usaha pertanian tanaman pangan, ST2013 juga memberikan informasi mengenai luas tanam dari masing-masing komoditas tanaman pangan. Luas tanam untuk tanaman padi secara keseluru-han berjumlah 1,63 juta hektar yang terdiri dari luas tanam tanaman padi sawah seluas 1,55 juta hektar dan padi ladang seluas 76,58 ribu hektar. Jika dilihat rata-rata luas tanaman padi per rumah tangga usaha dapat dilihat bahwa rata-rata luas tanam per rumah tangga tanaman padi sawah lebih besar dibandingkan tanaman padi ladang. Satu rumah tangga usaha tanaman padi sawah memiliki luas tanam sekitar 0,58 hektar, sedang-kan luas tanam yang dimiliki oleh rumah tangga tanaman padi ladang hanya sekitar 0,25 hektar.

Tanaman palawija meliputi kelompok biji-bijian, kacang-kacangan, dan umbi-umbian. Dari 11 komoditas uta-ma palawija, jagung merupakan komoditas yang paling banyak ditanam oleh ruuta-mah tangga palawija di Indo-nesia diikuti oleh komoditas ubi kayu dan kacang tanah. Jumlah rumah tangga pada tiga komoditas utama ini terhadap jumlah rumah tangga palawija masing-masing adalah 75,99 persen (1,92 juta), 18,71 persen (473,30 ribu), dan 16,77 persen (424,33 ribu). Sedangkan komoditas palawija yang paling sedikit ditanam adalah gandum, garut, dan ganyong yang masing-masing hanya dikelola oleh 88 rumah tangga, 517 rumah tangga, dan 783 rumah tangga.

Jika dilihat dari besaran luas tanam per komoditas, jagung merupakan komoditas tanaman palawija yang me-miliki luas tanam terbesar. Dari 1,01 juta hektar luas tanam palawija, sekitar 67,78 persen (0,68 juta hektar) merupakan luas tanam untuk komoditas jagung. Sementara itu, luas tanam terkecil adalah komoditas gan-dum yang hanya seluas 27,96 hektar.

Rata-rata luas tanam usaha tanaman palawija lebih kecil bila dibandingkan dengan tanaman padi, yaitu hanya sekitar 0,40 hektar. Menurut komoditasnya, tanaman palawija yang memiliki rata-rata luas tanam terbesar adalah jagung yaitu seluas 0,36 hektar per satu rumah tangga usaha tanaman jagung, sedangkan rata-rata luas tanam terkecil adalah garut yang rata-rata hanya ditanam seluas 0,06 hektar per rumah tangga tanaman garut.

(45)

45

Tabel 11

Jumlah Rumah Tangga, Luas Tanam, dan Rata-Rata Luas Tanam Usaha Tanaman Padi dan Palawija Menurut Jenis Tanaman, ST2013

Jenis Tanaman Rumah Tangga Luas Tanam (m2) Rata-Rata Luas Tanam (m2)

(1) (2) (3) (4) Tanaman Pangan* 3.673.364 26.361.354.939 7.176,35 Padi** 2.898.256 16.261.318.390 5.610,73 Padi Sawah 2.654.472 15.495.529.212 5.837,52 Padi Ladang 309.557 765.789.178 2.473,82 Palawija** 2.529.602 10.100.036.549 3.992,74 Jagung 1.922.318 6.845.639.523 3.561,14 Kedelai 296.154 843.115.781 2.846,88 Kacang Tanah 424.33 942.500.216 2.221,15 Kacang Hijau 205.845 445.596.684 2.164,72 Ubi Kayu 473.3 880.397.488 1.860,13 Ubi Jalar 49.533 94.779.781 1.913,47 Sorgum 1.291 4.516.697 3.498,60 Gandum 88 279.581 3.177,06 Talas 7.195 4.491.653 624,27 Ganyong 783 697.82 891,21 Garut 517 307.668 595,10 Lainnya 14.877 37.713.657 2.535,03

*) *) Satu rumah tangga usaha tanaman pangan dapat mengusahakan lebih dari 1 komoditas, sehingga jumlah rumah tangga usaha tanaman pangan bukan merupakan penjumlahan rumah tangga usaha padi dengan rumah tangga palawija.

**) Satu rumah tangga usaha padi atau palawija dapat mengusahakan lebih dari 1 komoditas padi atau palawija, sehingga jumlah rumah tangga usaha padi atau palawija bukan merupakan penjumlahan rumah tangga komoditasnya.

(46)

46

Tabel 12

Jumlah Rumah Tangga Usaha Tanaman Padi dan Palawija Menurut Jenis Tanaman dan Keterangan Penjualan Hasil Usaha, ST2013

Berbeda dengan subsektor lainnya, pada subsektor tanaman pangan, rumah tangga yang mengelola tanaman pangan dengan tujuan seluruh hasilnya digunakan untuk dikonsumsi sendiri (tidak dijual) juga tergolong sebagai rumah tangga usaha pertanian. Berdasarkan hasil ST2013, terlihat bahwa sebagian besar rumah tangga tanaman pangan melakukan usaha tanaman pangannya dengan tujuan hasil panennya sebagian untuk dikonsumsi sendiri dan sebagian lagi untuk dijual. Dari 2,65 juta rumah tangga usaha tanaman padi sawah, sekitar 63,89 persen rumah tangga bertujuan menjual sebagian hasil panennya. Sementara itu, rumah tangga yang menjual seluruh hasil panennya hanya sekitar 13,22 persen (350,89 ribu rumah tangga), sedangkan yang mengkonsumsi sendiri seluruh hasil panennya ada sekitar 22,89 persen (607,57 ribu rumah tangga). Berbeda dengan rumah tangga usaha tanaman padi sawah, dari 309,56 ribu rumah tangga usaha tanaman padi ladang, mayoritas sebanyak 54,03 persen (167,26 ribu rumah tangga) dikonsumsi sendiri, sedangkan rumah tangga yang bertujuan menjual sebagian hasil panennya sebanyak 126,84 ribu rumah tangga (40,97 persen), dan yang dijual seluruhnya sebanyak 4,99 persen (15,46 ribu rumah tangga).

Jenis Tanaman Dijual SeluruhnyaKeterangan Penjualan Hasil UsahaDijual Sebagian Tidak Dijual Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) Padi Padi Sawah 350.892 1.696.006 607.574 2.654.472 Padi Ladang 15.462 126.836 167.259 309.557 Palawija Jagung 962.549 690.419 269.35 1.922.318 Kedelai 237.534 52.162 6.458 296.154 Kacang Tanah 198.849 193.839 31.642 424.33 Kacang Hijau 100.592 93.978 11.275 205.845 Ubi Kayu 151.804 215.001 106.495 473.3 Ubi Jalar 28.44 14.728 6.365 49.533 Sorgum 716 531 44 1.291 Gandum 62 17 9 88 Talas 2.711 3.213 1.271 7.195 Ganyong 365 191 227 783 Garut 272 152 93 517

(47)

47

Berbeda dengan rumah tangga padi, sebagian besar rumah tangga palawija menjual seluruh hasil panennya. Rumah tangga tanaman jagung yang panennya dijual seluruhnya mencapai 50,07 persen (962,55 ribu rumah tangga), Kedelai 80,21 persen (237,53 ribu rumah tangga), Kacang Tanah 46,86 persen (198,85 ribu rumah tangga), Kacang Hijau 49,11 persen (100,59 ribu rumah tangga), Ubi Kayu 32,07 persen (151,80 ribu rumah tangga), Ubi Jalar 57,42 persen (28,44 ribu rumah tangga), Sorgum 55,46 persen (716 rumah tangga), Gandum 70,45 persen (62 rumah tangga), Talas 37,68 persen (2,71 ribu rumah tangga), Ganyong 46,62 persen (365 rumah tangga), dan Garut 52,61 persen (272 rumah tangga). Sedangkan rumah tangga palawija yang sebagian besar menjual sebagian hasil panennya terdapat di rumah tangga ubi kayu mencapai 45,42 persen (215 ribu rumah tangga), dan rumah tangga talas mencapai 44,66 persen (3,21 ribu rumah tangga).

Sistem pemanenan utama yang dipakai oleh sebagian besar rumah tangga usaha tanaman padi pada periode Mei 2012–April 2013 adalah dipanen sendiri. Untuk rumah tangga tanaman padi sawah yang memanen sendiri hasil panennya mencapai 91,62 persen. Meskipun tidak terlalu banyak, beberapa rumah tangga ada yang mengijonkan atau menebaskan padinya (7,78 persen). Untuk rumah tangga tanaman padi ladang yang memanen sendiri hasil panennya mencapai 98,73 persen, sedangkan beberapa rumah tangga ada yang mengijonkan atau menebaskan padinya tapi secara persentase kecil sekali.

Jumlah rumah tangga tanaman padi yang usahanya tidak/belum panen selama periode Mei 2012–April 2013, baik yang baru tanam maupun yang mengalami puso (hasil panen kurang dari 11 persen dari keadaan normal) juga ditampilkan pada tabel 13. Komoditas tanaman padi yang paling banyak tidak/belum panen adalah padi sawah.

Tabel 13

Jumlah Rumah Tangga Usaha Tanaman Padi Menurut Jenis Tanaman dan Sistem Pemanenan Utama, ST2013

Jenis Tanaman

Sistem Pemanenan Utama

Jumlah Dipanen Sendiri Ditebaskan Diijonkan Tidak/Belum Panen

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Padi

Padi Sawah 2.431.913 206.457 2.676 13.426 2.654.472

(48)

48

Seperti halnya padi, sistem pemanenan utama yang dipakai oleh sebagian besar rumah tangga usaha tanaman palawija pada periode yang sama adalah dipanen sendiri. Rumah tangga tanaman jagung yang panen sendiri mencapai 86,74 persen (1,67 juta rumah tangga), Kedelai 94,07 persen (278,61 ribu rumah tangga), Kacang Tanah 83,12 persen (352,69 ribu rumah tangga), Kacang Hijau 95,42 persen (196,42 ribu rumah tangga), Ubi Kayu 64,29 persen (304,30 ribu rumah tangga), Ubi Jalar 66,20 persen (32,79 ribu rumah tangga), Sorgum 98,22 persen (1,27 ribu rumah tangga), Gandum 85,23 persen (75 rumah tangga), Talas 86,03 persen (6,19 ribu rumah tangga), Ganyong 69,09 persen (541 rumah tangga), dan Garut 82,98 persen (429 rumah tangga). Rumah tangga tanaman palawija yang tidak/belum panen seperti halnya pada tanaman padi, termasuk yang baru tanam atau mengalami puso. Jenis tanaman palawija yang paling banyak tidak/belum panen adalah tanaman ubi kayu, sebanyak 23,50 persen (111,20 ribu rumah tangga).

Tabel 14

Jumlah Rumah Tangga Usaha Tanaman Palawija Menurut Jenis Tanaman dan Sistem Pemanenan Utama, ST2013

Jenis Tanaman

Sistem Pemanenan Utama

Jumlah Dipanen

Muda Bentuk LainDipanen Dipanen Sendiri Ditebaskan Diijonkan Tidak/Belum Panen

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Palawija Jagung 21.462 10.094 1.667.441 192.539 2.172 28.610 1.922.318 Kedelai 1.236 - 278.606 7.127 480 8.705 296.154 Kacang Tanah - 2.422 352.689 36.600 681 31.938 424.330 Kacang Hijau - - 196.424 2.285 262 6.874 205.845 Ubi Kayu - 1.944 304.296 55.360 496 111.204 473.300 Ubi Jalar - 376 32.791 12.082 106 4.178 49.533 Sorgum - 5 1.268 15 1 2 1.291 Gandum - - 75 7 - 6 88 Talas - 71 6.190 113 12 809 7.195 Ganyong - - 541 18 2 222 783 Garut - - 429 34 - 54 517

(49)

49

Lima kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang mempunyai rumah tangga tanaman padi paling banyak berada di Kabupaten Bojonegoro 205,08 ribu rumah tangga (7,08 persen), disusul Kabupaten Jember 183,85 ribu rumah tangga (6,34 persen), Kabupaten Lamongan 160,31 ribu rumah tangga (5,53 persen), Kabupaten Ngawi 121,28 ribu rumah tangga (4,18 persen), dan Kabupaten Ponorogo 118,25 ribu rumah tangga (4,08 persen) dari total rumah tangga tanaman padi Jawa Timur sebanyak 2,90 juta rumah tangga padi. Sentra tanaman jagung di Provinsi Jawa Timur ada di Kabupaten Sumenep sebanyak 178,83 ribu rumah tangga (9,30 persen), disusul Kabupaten Tuban 121,34 ribu rumah tangga (6,31 persen), Kabupaten Pamekasan 100,82 ribu rumah tangga (5,24 persen), Kabupaten Sampang 97,37 ribu rumah tangga (5,06 persen), dan nomor lima terakhir terbesar berada di Kabupaten Blitar 92,34 ribu rumah tangga (4,80 persen) dari total rumah tangga tana-man jagung Jawa Timur sebanyak 1,92 juta rumah tangga jagung. Untuk sentra tanatana-man kedelai, berada di Kabupaten Ngawi 31,02 ribu rumah tangga (10,48 persen), disusul Kabupaten Banyuwangi 25,84 ribu rumah tangga (8,72 persen), Kabupaten Ponorogo 23,10 ribu rumah tangga (7,80 persen), Kabupaten Nganjuk 22,91 ribu rumah tangga (7,74 persen), dan nomor lima terakhir terbesar berada di Kabupaten Trenggalek 20,08 ribu rumah tangga (6,78 persen) dari total rumah tangga tanaman kedelai Jawa Timur sebanyak 296,15 ribu rumah tangga kedelai.

Gambar

Gambar 18 Jumlah	Rumah	tangga	Usaha	Hortikultura	Menurut	Jenis	tanaman	Hortikultura,	St2013 020040060080010001200 Pisang Mangga Durian Rambutan Nangka Cabai Rawit Cabai Besar Bawang Merah Kunyit Jahe

Referensi

Dokumen terkait

http://blitarkab.bps.go.id.. Statistik Daerah Kecamatan Srengat 2014 1 K ecamatan Srengat merupakan bagian dariwilayah Kabupaten Blitar yang berada di Provinsi Jawa Timur,

perluasan dibanding Sensus Pertanian 1983, yaitu untuk konsep rumah tangga pertanian pengguna lahan ditambah dengan usaha budidaya kayu-kayuan kehutanan, dan setiap komoditas

Konsep rumah tangga pertanian mengalami perluasan dibanding Sensus Pertanian 1983, yaitu untuk konsep rumah tangga pertanian pengguna lahan ditambah dengan usaha

Dari hasil pembagian klaster data rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk non makanan berdasarkan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur dapat dilihat pada

Pemodelan Multi-Kriteria untuk Pengembangan Wilayah Berbasis Komoditas Unggulan di Kabupaten Lampung Timur [tesis].. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut

perluasan dibanding Sensus Pertanian 1983, yaitu untuk konsep rumah tangga pertanian pengguna lahan ditambah dengan usaha budidaya kayu-kayuan kehutanan, dan setiap komoditas

Jumlah masing-masing Kolom (6) s.d (8) di Rineian e halarnan terakhir harus lebih keeil atau sama dengan nomor urut rumah tangga terakhir di Kolorn (4) halaman terakhir.

1) Strategi lapangan secara umum, termasuk penelusuran wilayah kerja secara bersama-sama. 2) Pengecekan kelengkapan dokumen dan perlengkapan petugas. 3) Penyusunan