3 - 1
Bab
3
3
Kondisi Fisik Dermaga A – I
Pelabuhan Palembang
Penanganan Kerusakan Dermaga Studi Kasus Dermaga A – I Pelabuhan Palembang
3.1
Pengolahan Data Pasang Surut
3.1.1 Metode Least Square
Metode ini menjelaskan bahwa kesalahan peramalan harus sekecil-kecilnya, yakni selisih kuadrat antara peramalan dengan pengamatan harus sekecil mungkin. Persamaan gerak harmonik :
(
)
1( )
k kcos
k k kt
t
So
A
ω
η
= − = +∑
Φ
... (3.1)η
(t) = Elevasi Muka Air.Ak
= Amplitudo.So
= Muka air rata-rata. ωk = kecepatan sudut.Φ
k = Fasa.Persamaan (2.2) dapat ditulis sebagai persamaan untuk 1 konstituen
( )
t
So A
lcos
t B
sin
t
η
=
+
ω
+
ω
... (3.2) dengan :arctan
B
A
⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠Φ =
... (3.3) Persamaan selisih kuadrat terkecil untuk persamaan (3.3) adalah sebagai berikut :2 ^ 2
( )
( )
0
tJ
=
ε
=
⎛
⎜
y i
−
y i
⎞
⎟
=
⎝
⎠
∑
∑
... (3.4) dimana : ^( )
lcos
sin
y i
=
So A
+
ω
t B
+
ω
t
... (3.5)3 - 2 untuk mendapatkan error terkecil maka syarat yang harus dipenuhi
0 ) ( = ∂ ∂ parameter J ... (3.6)
dalam hal ini parameternya yaitu :
So
,A
l, danB
, maka:{
}
∑
=−
−
−
=
m i l ti
So
A
t
i
B
t
i
y
J
1 2)
(
sin
)
(
cos
)
(
ω
ω
... (3.7) dan syarat yang harus dipenuhi:1.
∑
( )
{
}
=−
−
−
−
=
=
∂
∂
m i l ti
So
A
t
i
B
t
i
y
So
J
1)
(
sin
)
(
cos
)
(
2
0
ω
ω
... (3.8) 2.∑
(
)
{
}
=−
−
−
−
=
=
∂
∂
m i l t lt
i
y
i
So
A
t
i
B
t
i
A
J
1)
(
sin
)
(
cos
)
(
)
(
cos
2
0
ω
ω
ω
... (3.9) 3.∑
(
)
{
}
=−
−
−
−
=
=
∂
∂
m i l ti
So
A
t
i
B
t
i
y
i
t
B
J
1)
(
sin
)
(
cos
)
(
)
(
sin
2
0
ω
ω
ω
... (3.10)jika ketiga persamaan diatas dibuat dalam bentuk matriks maka :
⎪
⎪
⎪
⎭
⎪
⎪
⎪
⎬
⎫
⎪
⎪
⎪
⎩
⎪
⎪
⎪
⎨
⎧
=
⎪⎭
⎪
⎬
⎫
⎪⎩
⎪
⎨
⎧
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
= = = = = = = = = = = m i t m i t m i t l m i m i m i m i m i m i m i m ii
t
i
y
i
t
i
y
i
y
B
A
So
i
t
i
t
i
t
i
t
i
t
i
t
i
t
i
t
i
t
i
t
m
1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1)
(
sin
)
(
)
(
cos
)
(
)
(
)
(
sin
)
(
sin
)
(
cos
)
(
sin
)
(
cos
)
(
sin
)
(
cos
)
(
cos
)
(
sin
)
(
cos
ω
ω
ω
ω
ω
ω
ω
ω
ω
ω
ω
ω
(3.11) atau[ ]
l{ }
So
x A
y
B
⎧ ⎫
⎪ ⎪ =
⎨ ⎬
⎪ ⎪
⎩ ⎭
... (3.12)[ ]
1{ }
lSo
A
x
y
B
−⎧ ⎫
⎪ ⎪ =
⎨ ⎬
⎪ ⎪
⎩ ⎭
... (3.13)Sehingga harga
So
,A
l, danB
dapat ditemukan.3.1.2 Data Survei Pasang Surut
Data pasang surut diperoleh dari hasil pencatatan AWLR. Pada Gambar 3.1 disajikan data hasil pembacaan AWLR dari tanggal 1 September 2007 sampai dengan 30 September 2007.
3 - 3 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 9/1/2007 0:00 9/6/2007 0:00 9/11/2007 0:00 9/16/2007 0:00 9/21/2007 0:00 9/26/2007 0:00 10/1/2007 0:00 Ele va si Muk a Air (m ) Waktu
Elevasi Muka Air Hasil Pembacaan AWLR
Gambar 3.1 Data hasil pembacaan AWLR.
3.1.3 Perbandingan Pasang Surut antara Hasil Pengamatan dan
Buku Daftar Pasang Surut Jawatan Hidro-oseanografi TNI AL
Untuk lebih menyakinkan keakuratan data hasil pembacaan AWLR, perlu dilakukan perbandingan dengan data hasil peramalan Jawatan Hidro-oseanografi TNI-AL. Perbandingan antara pasang surut hasil pengamatan dengan pasang surut hasil peramalan Jawatan Hidro-oseanografi TNI-AL dapat dilihat pada Gambar 3.4.
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 39326 39331 39336 39341 39346 39351 39356 Eleva si Mu ka Air (m ) Waktu
Elevasi Muka Air
Jawatan Hidro‐oseanografi TNI‐AL
Hidro‐oseanografi TNI‐AL AWLR
Gambar 3.2 Perbandingan data pasang surut hasil AWLR dengan data Jawatan Hidro-oseanografi TNI-AL.
Rata-rata error data pasang surut hasil pengamatan dengan data Jawatan Hidro-oseanografi TNI-AL adalah 22,6 %. Untuk keperluan desain selanjutnya akan digunakan data pasang surut dari Jawatan Hidro-oseanografi TNI-AL, hal ini dikarenakan Jawatan Hidro-oseanografi memiliki metoda yang lebih mapan baik dalam melakukan pengukuran maupun meramal pasang surut.
3 - 4
3.1.4 Penguraian Konstituen Pasang Surut
Data pasang surut Jawatan Hidro-oseanografi TNI-AL selanjutnya digunakan sebagai input untuk menentukan konstituen-konstituen pasang surut yang berpengaruh di lokasi tersebut. Konstituen yang berpengaruh berikut amplitudo dan beda fasanya dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Konstituen-konstituen Pasang Surut di Pelabuhan Palembang
Konstituen Amplitudo (cm) Beda Fasa (o)
M2 26,97 80,18 S2 9,81 227,43 N2 4,35 122,66 K2 8,43 -74,94 K1 87,46 81,92 O1 68,27 56,53 P1 21,67 12,61 M4 0,49 77,85 MS4 2,90 166,78 SO 161,27
Dengan konstituen pasang surut di atas dapat dilakukan penentuan jenis pasang surut menurut ketentuan bilangan bentuk (Form Number) berikut :
1 1 2 2
K +O NF=
M +S ... (3.14)
Dimana jenis pasut untuk nilai NF : 0 ≤ NF ≤ 0,25 = Semi diurnal.
0,25 ≤ NF ≤ 1,5 = Mixed type (semi diurnal dominant). 1,5 ≤ NF ≤ 3 = Mixed type (diurnal dominant).
NF ≥ 3 = diurnal. 1 1 2 2 + = = + = K O 87,46+68,27 NF 4,23 M S 26,97+9,81
Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa pasang surut di Pelabuhan Palembang termasuk tipe Diurnal.
3.1.5 Elevasi Acuan Hasil Peramalan
Selanjutnya dengan menggunakan konstituen-konstituen pasang surut sebagai input dapat dilakukan peramalan besaran pasang surut untuk 18,6 tahun. Dari peramalan selama 18,6 tahun dapat diketahui elevasi-elevasi acuan di Pelabuhan Palembang berikut tunggang pasang. Elevasi-elevasi acuan di Pelabuhan Palembang dapat dilihat pada Tabel 3.2 dan Tabel 3.3. Tunggang pasang yang terjadi sebesar 379,74 cm.
3 - 5
Tabel 3.2 Elevasi-elevasi Acuan di Pelabuhan Palembang Terhadap Peilschaal
No Elevasi Acuan Pengukuran (cm)
1 Highest High Water Level (HHWL ) : 356,58 2 Mean High Water Spring (MHWS) : 330,56
3 Mean High Water Level (MHWL) : 253,68 4 Mean Sea Level (MSL ) : 161,27 5 Mean Low Water Level (MLWL) : 74,28 6 Mean Low Water Spring (MLWS) : 6,78
7 Lowest Low Water Level (LLWL ) : -23,16
Tabel 3.3 Elevasi-elevasi Acuan di Pelabuhan Palembang Terhadap LLWL
No Elevasi Acuan Pengukuran (cm)
1 Highest High Water Level (HHWL ) : 379,74 2 Mean High Water Spring (MHWS) : 353,72 3 Mean High Water Level (MHWL) : 276,84 4 Mean Sea Level (MSL ) : 184,43 5 Mean Low Water Level (MLWL) : 97,44 6 Mean Low Water Spring (MLWS) : 29,94 7 Lowest Low Water Level (LLWL ) : 0,00
3.1.6 Probabilitas Terlampaui
Probabilitas elevasi pasang surut terlampaui pada data pasang surut Pelabuhan Palembang dapat dilihat pada Gambar 3.5.
Grafik Probabilitas Pasang Surut di: Musi
Probabilitas HHWL MHWS MHWL MSL MLWL MLWS LLWL Probabilitas (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 E le v as i M u k a A ir t hd M S L ( m ) 2.00 1.75 1.50 1.25 1.00 0.75 0.50 0.25 0.00 -0.25 -0.50 -0.75 -1.00 -1.25 -1.50 -1.75 -2.00 -0.87 -1.54 -1.84 1.95 1.69 0.92 0
3 - 6
3.2
Pengikatan Elevasi Acuan Pasang Surut terhadap Chart
Datum Pelabuhan Palembang
Pada setiap gambar pemetaan kerusakan harus tercantum jelas elevasi acuan pasang surut, untuk itu perlu dilakukan pengikatan elevasi acuan pasang surut terhadap chart datum (CD) Pelabuhan Palembang.
Yang menjadi acuan pengukuran elevasi pada pekerjaan ini adalah lantai AWLR yang diketahui memiliki elevasi +4,420 m terhadap CD Pelabuhan Palembang. Semua pengukuran elevasi diikatkan terhadap acuan tersebut.
Untuk melakukan pengikatan dilakukan pengukuran beda tinggi lantai AWLR dengan muka air pada tanggal 27 September 2007 pukul 11:00. Diperoleh beda tinggi antara lantai dan elevasi muka air sebesar 3,350 m sehingga elevasi muka air pada saat itu +1,070 m terhadap CD Pelabuhan Palembang. Sebagai perbandingan dilihat data pasang surut (elevasi muka air) AWLR pada waktu yang sama. Didapati nilai sebesar +1,100 m. Terdapat selisih sebesar 0,030 m, selisih ini masih dalam batas error alat pengukuran. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peilschaal AWLR dan acuan yang digunakan (lantai AWLR) memiliki referensi yang sama. Untuk lebih jelas, perhatikan
Gambar 3.4.
Lantai AWLR
(Nilai Elevasi diinformasikan oleh Pelindo dan menjadi acuan (pengganti BM))
Peilschaal AWLR + 4,420 m Muka Air 27/9/07 11:00 Bacaan Peilschaal + 1,100 m
3,350 m Lantai dan Muka AirBeda Tinggi
+ 1,070 m
Hasil pembacaan data AWLR
Lantai AWLR
(Nilai Elevasi diinformasikan oleh Pelindo dan menjadi acuan (pengganti BM))
Peilschaal AWLR + 4,420 m Muka Air 27/9/07 11:00 Bacaan Peilschaal + 1,100 m
3,350 m Lantai dan Muka AirBeda Tinggi
+ 1,070 m
Hasil pembacaan data AWLR
Gambar 3.4 Sketsa pengikatan elevasi pasang surut terhadap chart datum Pelabuhan Palembang.
Hasil pencatatan AWLR telah sesuai dengan Chart Datum (CD) Pelabuhan Palembang, sehingga hasil pengolahan data pasang surut berupa elevasi acuan telah sesuai dengan CD Pelabuhan Palembang.
3.3
Hasil Survei Alinyemen Dermaga
3.3.1 Hasil Pengukuran Elevasi Dermaga
Hasil pengukuran survei penampang memanjang dermaga dapat dilihat pada Gambar 3.5. Grafik elevasi dermaga terhadap Chart Datum (CD) Pelabuhan Palembang dapat dilihat pada Gambar 3.6 sampai dengan Gambar 3.15.
3 - 7 Gam b ar 3. 5 Al in yeme n de rmaga ek si st in g.
3 - 8 Dari Gambar 3.5 dapat diketahui bahwa pengukuran elevasi alinyemen Dermaga A-H dan Dermaga I dilakukan pada tepi dermaga, sebagai pembanding pengukuran dilakukan pada tiga titik yang berdekatan :
1. Bidang 1 (tepi sungai).
2. Bidang 2 (as pengukuran penampang melintang dermaga). 3. Bidang 3 (tepi dermaga arah darat).
Berikut ini adalah grafik elevasi dari ketiga bidang tersebut untuk Dermaga A-H dan Dermaga I.
Elevasi Dermaga A s/d H
4,15 4,20 4,25 4,30 4,35 4,40 4,45 4,50 4,55 4,60 4,65 4,70 0 50 100 150 200 250 300 350 400 Posisi (m) El ev asi ( m )Bidang III Bidang II Bidang I Average
Gambar 3.6 Grafik elevasi dermaga A-H terhadap Chart Datum Pelabuhan Palembang (gabungan).
Elevasi Tepi Dermaga A s/d H
4,15 4,20 4,25 4,30 4,35 4,40 4,45 4,50 4,55 4,60 4,65 4,70 0 50 100 150 200 250 300 350 400 Posisi (m) El evasi ( m ) Tepi Sungai
Gambar 3.7 Grafik elevasi dermaga A-H terhadap Chart Datum Pelabuhan Palembang (tepi sungai).
3 - 9
Elevasi Tepi Dermaga A s/d H
4,15 4,20 4,25 4,30 4,35 4,40 4,45 4,50 4,55 4,60 4,65 0 50 100 150 200 250 300 350 400
Posisi (m)
E
levasi
(
m
)
TengahGambar 3.8 Grafik elevasi dermaga A-H terhadap Chart Datum Pelabuhan Palembang (tengah).
Elevasi Tepi Dermaga A s/d H
4,25 4,30 4,35 4,40 4,45 4,50 4,55 4,60 4,65 0 50 100 150 200 250 300 350 400
Posisi (m)
E
levasi
(
m
)
Tepi DaratGambar 3.9 Grafik elevasi dermaga A-H terhadap Chart Datum Pelabuhan Palembang (tepi darat).
3 - 10
Elevasi Tepi Dermaga A s/d H
4,25 4,30 4,35 4,40 4,45 4,50 4,55 4,60 4,65 0 50 100 150 200 250 300 350 400
Posisi (m)
E
levasi
(
m
)
Rata-rataGambar 3.10 Grafik elevasi dermaga A-H terhadap Chart Datum Pelabuhan Palembang (rata- rata).
Elevasi Dermaga I
4,30 4,40 4,50 4,60 4,70 4,80 4,90 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100Posisi (m)
E
levasi
(
m
)
Bidang III Bidang II
Bidang I Average
Gambar 3.11 Grafik elevasi dermaga I terhadap Chart Datum Pelabuhan Palembang (gabungan).
3 - 11
Elevasi Tepi Dermaga I
4,30 4,35 4,40 4,45 4,50 4,55 4,60 4,65 4,70 4,75 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Posisi (m)
E
levasi (m
)
Tepi SungaiGambar 3.12 Grafik elevasi dermaga I terhadap Chart Datum Pelabuhan Palembang (tepi sungai).
Elevasi Tepi Dermaga I
4,50 4,55 4,60 4,65 4,70 4,75 4,80 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Posisi (m)
E
levasi
(
m
)
TengahGambar 3.13 Grafik elevasi dermaga I terhadap Chart Datum Pelabuhan Palembang (tengah).
3 - 12
Elevasi Dermaga I
4,55 4,60 4,65 4,70 4,75 4,80 4,85 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100Posisi (m)
E
levasi
(
m
)
Tepi DaratGambar 3.14 Grafik elevasi dermaga I terhadap Chart Datum Pelabuhan Palembang (Tepi Darat).
Elevasi Tepi Dermaga I
4,45 4,50 4,55 4,60 4,65 4,70 4,75 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Posisi (m)
E
levasi
(m
)
Rata-rataGambar 3.15 Grafik elevasi dermaga I terhadap Chart Datum Pelabuhan Palembang (Rata-Rata).
3 - 13 Rata-rata elevasi untuk ketiga bagian yang diukur dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3.4 Rata-rata Elevasi Dermaga A-H terhadap Chart Datum Palembang
Lokasi Pengukuran Rata-rata Elevasi (m)
Bagian 1 4,354
Bagian 2 4,399
Bagian 3 4,420
Tabel 3.5 Rata-rata Elevasi Dermaga I terhadap Chart Datum Palembang
Lokasi Pengukuran Rata-rata Elevasi (m)
Bagian 1 4,560
Bagian 2 4,606
Bagian 3 4,616
3.3.2 Hasil Pemetaan Kerusakan Dermaga & Dokumentasi Visual
Hasil pemetaan kerusakan dermaga & dokumentasi visual berupa peta kerusakan dan foto kerusakan lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran.
A. Bagian Atas
Pada umumnya kerusakan yang terjadi berada pada tepi dermaga sisi sungai. Tipikal kerusakan yang terjadi pada tepi dermaga adalah kerusakan ringan (beton terkelupas, tulangan tidak terekspose), dibeberapa tempat terjadi juga kerusakan berat (beton terkelupas tulangan terekspose dan terkorosi). Selain itu, pada umumnya cansteen telah mengalami kerusakan.
Gambar 3.16 Kerusakan pada lantai atas dermaga.
B. Bagian Bawah
Kerusakan yang terjadi pada umumnya berada pada lantai dermaga bagian bawah berupa terkelupasnya selimut beton dan tulangan beton terkorosi. Kerusakan ini juga terjadi pada balok melintang, balok memanjang, dan pile cap pada beberapa bagian.
3 - 14 Hampir seluruh tiang pancang mengalami kerusakan ringan (terkelupas selimut beton) sehingga agregatnya tampak. Kerusakan ini terjadi pada bagian tiang pancang yang berada pada daerah pasang surut (± 4 m).
Gambar 3.17 Kerusakan pada balok melintang dan lantai bawah dermaga.
C. Tampak Depan
Kerusakan terjadi pada umumnya berada pada lisplank berupa beton terkelupas dan tulangan terkorosi dan terjadi pada beberapa bagian sepanjang dermaga.
Gambar 3.18 Kerusakan pada lisplank (contoh 1).
3 - 15
Gambar 3.20 Kerusakan pada Bagian Daprah.
D. Kondisi Rasuk Silang
Pada beberapa bagian dermaga kondisi rasuk silang sudah rusak, beberapa bagian telah patah dan sebagian besar kondisi rasuk silang telah terkorosi bahkan pada bagian dermaga sisi darat seluruh rusuk silang sudah patah.
3 - 16
Gambar 3.22 Rasuk silang yang patah (contoh 2).
E. Kondisi Fender
Pada Dermaga Konvensional A s/d H umumnya fender yang dipasang secara vertikal masih berada pada kondisi baik, namun fender yang dipasang horizontal banyak yang telah mengalami rusak berat.
Kondisi fender pada Dermaga Konvensional I pada umumnya tengah mengalami kerusakan ringan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
3 - 17
Gambar 3.24 Fender Horizontal yang mengalami kerusakan berat (dermaga A-H).
Gambar 3.25 Fender vertikal dan horizontal yang mengalami kerusakan ringan (dermaga A-H).
3.4
Hasil Survei Material & Struktur Dermaga Eksisting
Lokasi survei untuk Dermaga Konvensional A s/d I Pelabuhan Palembang dapat dilihat pada Gambar 3.26.
3 - 18 Gam b ar 3. 26 Lo ka si s u rv ei st ruk tu r d ermag a ek si st in g.
3 - 19
3.4.1 Hasil Cored drill
Proses pelaksanaan cored drill dapat dilihat pada Gambar 3.27 -Gambar 3.29.
Gambar 3.27 Instalasi alat cored drill.
Gambar 3.28 Proses pengeboran.
Gambar 3.29 Sampel hasil pengeboran. Hasil uji tekan dapat dilihat pada Tabel 3.6 – Tabel 3.10.
3 - 20 Tabel 3. 6 Hasil U ji T eka n Samp el Beto n pa da P elat Ukuran Bera t L ua s B I B eb a n No. K o m ponen D ia. L o L 1 d 1 d 2 h 1 h 2 (gr) (cm 2 ) (k g /cm 3 ) (k g) (mm) (m m) (mm ) (mm) (mm) (mm) (m m) 1 P elat Lantai A H - 45 102,40 100,40 105,20 1.840 82, 31 2,23 18.200 2 P elat Lantai A H - 135 102,40 100,50 106,40 1.836 82, 31 2,22 25.100 3 P elat Lantai A H - 225 102,40 124,00 129,50 2.309 82, 31 2,26 20.100 4 P elat Lantai A H - 330 102,40 119,40 126,50 2.182 82, 31 2,22 20.600 5 P elat Lantai I - 0 102,40 104,50 107,00 1.800 82, 31 2,09 23.200 6 P elat Lantai I - 100 102,40 111,30 116,40 2.146 82, 31 2,34 24.800 Kode Tula nga n Ja rak tula nga n Keterangan : Silinde r Ekival en Ø 15 c m dari Ø 10 c m dib agi 1. 03 Silinde r Ekival en Ø 15 c m dari Ø 5 c m dibagi 1. 08 Dia. : D iamet er be n d a uji Lo : Panja n g bend a uji sebelu m
diberi lapisan keping
L1 : Panjang benda
uji setelah diberi lapisan keping
d1,d2 : Dia m eter tulanga n h1,h2 : J ara
k terpendek antara sumbu
tul angan dgn ujung benda uji W : Berat benda uji BI : Bera t isi CO : F
aktorpengali arah penga
m
bilan benda uji
C1 : F
aktor pengali yang berhub
ungan dengan ra
tio
sesudah diberi lapisan
kaping denga
n
diameter
C2 : F
aktor pengali karena adanya kandungan b
esi
tulangan dalam benda
uji beton inti y
ang letaknya
te
gak
terhadap
su
mbu benda uji
Fak tor kor e ks i No. K omp o nen C o C 1 C 2 S ebelum Setela h S ilinder ko rek si k or eks i Ek iv al en Ø 1 5 1 Pe lat Lant ai AH - 45 1,00 0,958 1,000 221,11 211,82 205,65 2 Pe lat Lant ai AH - 135 1,00 0,892 1,000 304,93 272,00 264,08 3 Pe lat Lant ai AH - 225 1,00 0,941 1,000 244,19 229,78 223,09 4 Pe lat Lant ai AH - 330 1,00 0,894 1,000 250,26 223,74 217,22 5 Pe lat Lant ai I 0 1 ,00 0 ,950 1,000 281,85 267,76 259,96 6 Pe lat Lant ai I 100 1,00 0,953 1,000 301,29 287,13 278,76 Ko d e Kuat tek a n (kg/cm 2 )
3 - 21 Tabel 3. 7 Hasil U ji T eka n Samp el Beto n pa da Lisp lank Ukuran Bera t L ua s B I B eb a n No. K o m ponen D ia. L o L 1 d 1 d 2 h 1 h 2 (gr) (cm 2 ) (k g /cm 3 ) (k g) (mm) (m m) (mm ) (mm) (mm) (mm) (m m) 1 Lispl ang A H - 0 102,40 122,00 126,60 10,40 50, 40 2. 394 82, 31 2,38 28.100 2 Lispl ang A H - 135 102,40 128,80 132,20 2. 405 82, 31 2,27 20.900 3 Lispl ang A H - 378 102,40 119,20 123,60 10,40 0,00 44, 80 0,00 2. 303 82, 31 2,35 29.500 4 Lispl ang I - 0 102,40 121,40 125,80 2. 221 82, 31 2,22 27.200 5 Lispl ang I - 100 102,40 105,50 110,80 1. 918 82, 31 2,21 29.700 Kode Tula nga n Ja rak tula nga n Fak tor kor e ks i No. K omp o nen C o C 1 C 2 S ebelum Setela h S ilinder ko rek si k or eks i Ek iv al en Ø 1 5 1 Li sp lang A H - 0 1 ,00 0 ,958 1,063 341,38 347,62 337,50 2 Li sp lang A H - 135 1,00 0,958 1,000 253,91 243,24 236,16 3 Li sp lang A H - 378 1,00 0,958 1,057 358,39 362,99 352,42 4 Li sp lang I 0 1 ,00 0 ,958 1,000 330,45 316,57 307,35 5 Li sp lang I 100 1,00 0,958 1,000 360,82 345,66 335,59 Ko d e Kuat tek a n (kg/cm 2 ) Keterangan : Silinde r Ekival en Ø 15 c m dari Ø 10 c m dib agi 1. 03 Silinde r Ekival en Ø 15 c m dari Ø 5 c m dibagi 1. 08 Dia. : D iamet er be n d a uji Lo : Panja n g bend a uji sebelu m
diberi lapisan keping
L1 : Panjang benda
uji setelah diberi lapisan keping
d1,d2 : Dia m eter tulanga n h1,h2 : J ara
k terpendek antara sumbu
tul angan dgn ujung benda uji W : Berat benda uji BI : Bera t isi CO : F
aktorpengali arah penga
m
bilan benda uji
C1 : F
aktor pengali yang berhub
ungan dengan ra
tio
sesudah diberi lapisan
kaping denga
n
diameter
C2 : F
aktor pengali karena adanya kandungan b
esi
tulangan dalam benda
uji beton inti y
ang letaknya
te
gak
terhadap
su
3 - 22 Tabel 3. 8 Hasil U ji T eka n Samp el Beto n pa da Balo k Memanjan g Ukuran Bera t L ua s B I B eb a n No. K o m ponen D ia. L o L 1 d 1 d 2 h 1 h 2 (gr) (cm 2 ) (k g /cm 3 ) (k g) (mm) (m m) (mm ) (mm) (mm) (mm) (m m) 1 B al ok M emanjang A H - 0 102,40 129,40 132,40 2. 364 82, 31 2,22 20.500 2 B al ok M emanjang M 135 102,40 113,50 127,70 2. 090 82, 31 2,24 28.600 3 B al ok M emanjang M 270 102,40 116,20 121,40 10,40 45, 80 2. 221 82, 31 2,32 23.500 4 B al ok M emanjang A H - 378 102,40 138,10 143,00 2. 529 82, 31 2,22 16.500 5 B al ok M emanjang I - 50 102,40 116,40 124,20 2. 244 82, 31 2,34 29.500 Kode Tula nga n Ja rak tula nga n Fak tor kor e ks i No. K omp o nen C o C 1 C 2 S ebelum Setela h S ilinder ko rek si k or eks i Ek iv al en Ø 1 5 1 B alok Memanjang A H - 0 1 ,00 0 ,904 1,000 249,05 225,14 218,58 2 B alok Memanjang M - 135 1,00 0,901 1,000 347,45 313,06 303,94 3 B alok Memanjang M - 270 1,00 0,934 1,060 285,49 282,66 274,43 4 B alok Memanjang A H - 378 1,00 0,946 1,000 200,45 189,63 184,11 5 B alok Memanjang I 50 1,00 0,932 1,000 358,39 334,02 324,29 Ko d e Kuat tek a n (kg/cm 2 ) Keterangan : Silinde r Ekival en Ø 15 c m dari Ø 10 c m dib agi 1. 03 Silinde r Ekival en Ø 15 c m dari Ø 5 c m dibagi 1. 08 Dia. : D iamet er be n d a uji Lo : Panja n g bend a uji sebelu m
diberi lapisan keping
L1 : Panjang benda
uji setelah diberi lapisan keping
d1,d2 : Dia m eter tulanga n h1,h2 : J ara
k terpendek antara sumbu
tul angan dgn ujung benda uji W : Berat benda uji BI : Bera t isi CO : F
aktorpengali arah penga
m
bilan benda uji
C1 : F
aktor pengali yang berhub
ungan dengan ra
tio
sesudah diberi lapisan
kaping denga
n
diameter
C2 : F
aktor pengali karena adanya kandungan b
esi
tulangan dalam benda
uji beton inti y
ang letaknya
te
gak
terhadap
su
3 - 23 Tabel 3. 9 Hasil U ji T eka n Samp el Beto n pa da Balo k Melinta ng Ukuran Bera t L ua s B I B eb a n No. K o m ponen D ia. L o L 1 d 1 d 2 h 1 h 2 (gr) (cm 2 ) (k g /cm 3 ) (k g) (mm) (m m) (mm ) (mm) (mm) (mm) (m m) 1 B al ok M eli ntang A H - 0 102,40 128,00 133,70 2. 381 82, 31 2,26 19.900 2 B al ok M eli ntang M 135 102,40 127,80 133,60 2. 198 82, 31 2,09 18.500 3 B al ok M eli ntang M 270 102,40 132,00 134,50 10,40 50, 40 2. 604 82, 31 2,40 20.600 4 B al ok M eli ntang A H - 378 102,40 116,40 123,30 2. 083 82, 31 2,17 16.300 5 B al ok M eli ntang I - 50 102,40 122,00 127,00 2. 323 82, 31 2,31 17.440 Kode Tula nga n Ja rak tula nga n Fak tor kor e ks i No. K omp o nen C o C 1 C 2 S ebelum Setela h S ilinder ko rek si k or eks i Ek iv al en Ø 1 5 1 B alok M el intang A H - 0 1 ,00 0 ,908 1,000 241,76 219,52 213,12 2 B alok M el intang M - 135 1,00 0,950 1,000 224,75 213,51 207,29 3 B alok M el intang M - 270 1,00 0,928 1,058 250,26 245,75 238,60 4 B alok M el intang A H - 378 1,00 0,904 1,000 198,02 179,01 173,80 5 B alok M el intang I 50 1,00 0,938 1,000 211,87 198,74 192,95 Ko d e Kuat tek a n (kg/cm 2 ) Keterangan : Silinde r Ekival en Ø 15 c m dari Ø 10 c m dib agi 1. 03 Silinde r Ekival en Ø 15 c m dari Ø 5 c m dibagi 1. 08 Dia. : D iamet er be n d a uji Lo : Panja n g bend a uji sebelu m
diberi lapisan keping
L1 : Panjang benda
uji setelah diberi lapisan keping
d1,d2 : Dia m eter tulanga n h1,h2 : J ara
k terpendek antara sumbu
tul angan dgn ujung benda uji W : Berat benda uji BI : Bera t isi CO : F
aktorpengali arah penga
m
bilan benda uji
C1 : F
aktor pengali yang berhub
ungan dengan ra
tio
sesudah diberi lapisan
kaping denga
n
diameter
C2 : F
aktor pengali karena adanya kandungan b
esi
tulangan dalam benda
uji beton inti y
ang letaknya
te
gak
terhadap
su
3 - 24 Tabel 3. 10 Hasil U ji Tekan Sam p el Beto n p
ada Tiang Pancang
Ukuran Bera t L ua s B I B eb a n No. K o m ponen D ia. L o L 1 d 1 d 2 h 1 h 2 (gr) (cm 2 ) (k g /cm 3 ) (k g) (mm) (m m) (mm ) (mm) (mm) (mm) (m m) 1 T iang Pancan g A H - 0 75,40 96, 80 101,40 939 44, 63 2,17 18.500 2 T iang Pancan g A H - 135 102,40 115,50 121,40 10,40 28, 00 2. 211 82, 31 2,33 24.200 3 T iang Pancan g A H - 270 102,40 120,50 127,50 2. 245 82, 31 2,26 21.900 4 T iang Pancan g A H - 378 102,40 128,00 133,40 19,00 38, 00 2. 557 82, 31 2,43 24.000 5 T iang Pancan g I - 50 75,40 93, 40 97,20 942 44, 63 2,26 19.900 Kode Tula nga n Ja rak tula nga n Fak tor kor e ks i No. K omp o nen C o C 1 C 2 S ebelum Setela h S ilinder ko rek si k or eks i Ek iv al en Ø 1 5 1 T iang Pancang A H - 0 1 ,00 0 ,958 1,000 414,53 397,12 385,56 2 T iang Pancang A H - 135 1,00 0,958 1,037 294,00 292,05 283,55 3 T iang Pancang A H - 270 1,00 0,958 1,000 266,06 254,88 247,46 4 T iang Pancang A H - 378 1,00 0,958 1,083 291,57 302,40 293,59 5 T iang Pancang I 50 1,00 0,958 1,000 445,90 427,18 414,73 Ko d e Kuat tek a n (kg/cm 2 ) Keterangan : Silinde r Ekival en Ø 15 c m dari Ø 10 c m dib agi 1. 03 Silinde r Ekival en Ø 15 c m dari Ø 5 c m dibagi 1. 08 Dia. : D iamet er be n d a uji Lo : Panja n g bend a uji sebelu m
diberi lapisan keping
L1 : Panjang benda
uji setelah diberi lapisan keping
d1,d2 : Dia m eter tulanga n h1,h2 : J ara
k terpendek antara sumbu
tul angan dgn ujung benda uji W : Berat benda uji BI : Bera t isi CO : F
aktorpengali arah penga
m
bilan benda uji
C1 : F
aktor pengali yang berhub
ungan dengan ra
tio
sesudah diberi lapisan
kaping denga
n
diameter
C2 : F
aktor pengali karena adanya kandungan b
esi
tulangan dalam benda
uji beton inti y
ang letaknya
te
gak
terhadap
su
3 - 25 Dari perhitungan uji tekan diatas nilai rata-rata kuat tekan beton uji setelah dikalikan dengan faktor koreksi diperoleh sebagai berikut :
a. Kuat tekan pelat lantai 241,46 kg/cm2.
b. Kuat tekan Balok melintang 205,06 kg/cm2.
c. Kuat tekan Balok memanjang 261,07 kg/cm2.
d. Kuat tekan Lisplank 313,80 kg/cm2.
e. Kuat tekan Tiang Pancang 324,98 kg/cm2.
3.4.2 Hasil Uji Karbonasi
Hasil uji karbonasi dapat dilihat pada Tabel 3.11 – Tabel 3.15. Hasil uji karbonasi menunjukan bahwa sampel tidak terjadi karbonasi pada pile cap yang diuji.
Tabel 3.11 Hasil Uji Karbonasi pada Pelat
No Komponen Struktur Kode Contoh Kedalaman Penetrasi (cm) 1 Pelat Lantai AH - 0 0,0 2 Pelat Lantai AH - 135 0,0 3 Pelat Lantai AH - 270 0,0 4 Pelat Lantai AH - 30 0,0 5 Pelat Lantai I - 0 0,0 6 Pelat Lantai I - 100 0,0
Tabel 3.12 Hasil Uji Karbonasi pada Lisplank
No Komponen Struktur Contoh Kode Penetrasi (cm) Kedalaman
1 Lisplank AH - 10 0,0
2 Lisplank AH -135 0,0
3 Lisplank AH - 378 0,0
4 Lisplank I - 0 0,0
3 - 26
Tabel 3.13 Hasil Uji Karbonasi pada Balok Melintang
No Komponen Struktur Kode Contoh Kedalaman Penetrasi (cm) 1 Balok Melintang AH - 0 0,0 2 Balok Melintang AH - 135 0,0 3 Balok Melintang AH - 270 0,0 4 Balok Melintang AH - 378 0,0 5 Balok Melintang I - 50 0,0
Tabel 3.14 Hasil Uji Karbonasi pada Balok Memanjang
Komponen Kedalaman Penetrasi No Struktur Kode Contoh (cm) 1 Balok Memanjang AH - 0 0,0 2 Balok Memanjang AH - 135 0,0 3 Balok Memanjang AH - 270 0,0 4 Balok Memanjang AH - 378 0,0 5 Balok Memanjang I - 50 0,0
Tabel 3.15 Hasil Uji Karbonasi pada Tiang Pancang
Komponen Kedalaman Penetrasi No Struktur Kode Contoh (cm) 1 Tiang Pancang AH - 0 0,0 2 Tiang Pancang AH - 135 0,0 3 Tiang Pancang AH - 270 0,0 4 Tiang Pancang AH - 378 0,0 5 Tiang Pancang I - 50 0,0
Berdasarkan hasil uji karbonasi maka diperoleh hasil bahwa tidak terjadi karbonasi untuk seluruh beton uji, baik untuk pelat, balok melintang, balok memanjang, lisplank, dan tiang pancang.
3 - 27
3.4.3 Hasil Pengujian Tulangan Terpasang
A. Identifikasi Tulangan
Gambar 3.30 Balok Memanjang pada meter ke-10.
Gambar 3.31 Balok Memanjang pada meter ke-270.
Gambar 3.32 Balok Memanjang pada meter ke-400.
3 - 28
Gambar 3.34 Balok Melintang pada meter ke-10.
Gambar 3.35 Balok Melintang pada meter ke-270.
Gambar 3.36 Balok Melintang pada meter ke-400.
3 - 29
Gambar 3.38 Pelat pada meter ke-45.
3 - 30
Gambar 3.40 Pelat pada meter ke-225.
3 - 31
Gambar 3.42 Pelat pada meter ke-410.
3 - 32
3 - 33
Gambar 3.45 Tiang Pancang pada meter ke-270 dan meter ke-450.
B. Uji Korosi (Half-Cell Potential)
Foto kegiatan pengujian HCP dapat dilihat pada Gambar 3.46. Kriteria umum penilaian hasil HCP dapat dilihat pada Tabel 3.16 sementara hasil half cell potential test dapat dilihat pada Tabel 3.17 – Tabel 3.21.
3 - 34
Gambar 3.46 Kegiatan pengujian HCP.
Tabel 3.16 Kriteria Pengkajian Potensial Tulangan ASTM C876-91
Simbol Potensial Listrik (mV) Kemingkinan Terjadinya Korosi (%)
*) > -200 mV 5
**) -200 mV hingga -350 mV 50
***) < -350 mV 95
Tabel 3.17 Hasil Half Cell Potential Test pada Pelat Pembacaan Potensial meter (mV)
1 2 3 No. Struktur Lokasi
a b c d a b c d a b c d Tingkat Korosi 1 Pelat lantai AH - 0 170 158 156 160 173 179 192 195 183 169 170 181 *) 2 Pelat lantai AH - 135 226 199 189 187 165 191 214 221 219 208 216 201 **) 3 Pelat lantai AH - 270 226 218 209 168 186 214 213 223 212 232 229 212 **) 4 Pelat lantai AH - 330 229 223 211 136 183 211 209 221 209 241 233 210 **) 5 Pelat lantai I - 0 239 228 217 125 180 216 201 220 211 250 245 212 **) 6 Pelat lantai I - 50 372 410 406 430 456 447 378 332 324 316 311 234 ***)
3 - 35
Tabel 3.18 Hasil Half Cell Potential Test pada Lisplank Pembacaan Potensial meter (mV)
1 2 3 No. Struktur Lokasi
a b c d a b c d a b c d Tingkat Korosi 1 Lisplank AH - 0 285 277 279 256 244 239 241 277 197 219 220 205 **) 2 Lisplank AH – 135 183 189 169 124 164 192 176 208 121 125 125 191 *) 3 Lisplank AH - 330 200 186 221 230 241 190 179 243 229 221 211 211 **) 4 Lisplank I - 0 190 187 137 121 199 170 207 213 118 108 143 107 *) 5 Lisplank I - 100 127 125 101 97 181 182 164 190 190 188 193 197 *)
Tabel 3.19 Hasil Half Cell Potential Test pada Balok Memanjang Pembacaan Potensial meter (mV)
1 2 3
No. Struktur Lokasi
a b c d a b c d a b c d Tingkat Korosi 1 Blk Memanjang AH - 00 124 133 127 118 118 120 116 124 124 121 122 118 *) 2 Blk Memanjang AH - 135 176 194 193 241 265 241 237 230 215 225 230 223 **) 3 Blk Memanjang AH - 270 152 173 137 208 167 174 136 195 147 161 163 158 *) 4 Blk Memanjang I - 0 120 166 183 170 183 160 157 161 148 129 131 140 *) 5 Blk Memanjang I - 50 174 156 167 179 170 173 168 174 153 129 137 168 *)
Tabel 3.20 Hasil Half Cell Potential Test pada Balok Melintang Pembacaan Potensial meter (mV)
1 2 3 No. Struktur Lokasi
a b c d a b c d a b c d Tingkat Korosi 1 Blk Melintang AH - 0 96 116 92 119 72 86 81 99 97 94 90 102 *) 2 Blk Melintang AH – 135 216 114 194 169 201 182 177 174 183 171 163 180 *) 3 Blk Melintang AH - 270 198 171 162 134 137 176 174 160 164 152 162 145 *) 4 Blk Melintang I - 0 125 127 176 163 162 171 164 161 118 148 112 118 *) 5 Blk Melintang I - 50 227 221 176 120 104 114 179 167 131 128 123 167 *)
3 - 36
Tabel 3.21 Hasil Half Cell Potential Test pada Tiang Pancang Pembacaan Potensial meter (mV)
1 2 3 No. Struktur Lokasi
a b c d a b c d a b c d Tingkat Korosi 1 Tiang Pancang AH - 0 116 128 168 183 186 107 160 145 123 124 135 151 *) 2 Tiang Pancang AH - 135 114 115 158 170 186 194 197 176 160 163 175 183 *) 3 Tiang Pancang AH - 270 253 195 185 195 190 176 146 182 172 180 291 221 *) 4 Tiang Pancang I - 0 179 191 260 290 200 176 194 165 166 172 183 180 *) 5 Tiang Pancang I - 50 210 231 141 132 174 100 176 168 174 191 173 201 *)