• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Ikan Bandeng sebagai Bahan Dasar dalam Pembuatan Bitterballen Ikan (The Use of Milkfish as Arrow Materials for Fish Bitterballen Product Processing)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pemanfaatan Ikan Bandeng sebagai Bahan Dasar dalam Pembuatan Bitterballen Ikan (The Use of Milkfish as Arrow Materials for Fish Bitterballen Product Processing)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Daftar Isi

Program Pengembangan Kewirausahaan bagi Mahasiswa dan Alumni

Unika Widya Mandala Madiun ...

Veronika Agustini S, Sri Rustiyaningsih, Vivi Ariyani, dan L. Anang SW

1

Program PKM bagi Eksistensi Usaha Jahit Perempuan di Kota Madiun ...

Vivi Ariyani, Dyah Kurniawati, dan Theresia Liris Widyaningrum

14

Aspek Legal Produk Pangan Olahan Guna Peningkatan Nilai Ekonomi

di SMKN 3 Malang ...

Celina Tri Swi Kristiyanti dan Handini

21

Pemanfaatan Ikan Bandeng sebagai Bahan Dasar dalam Pembuatan

Bitterballen

Ikan

(

The Use of Milkfish as Arrow Materials for Fish Bitterballen Product Processing

) ...

Ully Wulandari, Sutrisno Adi Prayitno, dan Maria Agustini

34

Pembentukan Ruang Terbuka bagi Masyarakat Kebangsren Gg.7

“Kampus Go To Kampung”

...

Y.A. Widriyakara S, Josephine Roosandriantini, Desrina Yusi. I, dan Anas Hidayat

40

Pemfilteran Air Layak Konsumsi Tenaga Listrik Hybrid bagi Masyarakat Kelurahan

Sumengko Kecamatan Wringin Anom, Gresik ...

Diana Lestariningsih, Rasional Sitepu, dan Adriana Anteng Anggorowati

(4)

PEMANFAATAN IKAN BANDENG SEBAGAI BAHAN DASAR

DALAM PEMBUATAN BITTERBALLEN IKAN

(The Use of Milkfish as Arrow Materials for Fish Bitterballen Product

Processing)

Ully Wulandari1), Sutrisno Adi Prayitno2), Maria Agustini3) 1

Fakultas Pertanian Universitas Dr Soetomo Surabaya email:[email protected]

2Fakultas Pertanian Universitas Dr. Soetomo Surabaya

email: [email protected]

3

Fakultas Pertanian Universitas Dr. Soetomo Surabaya email: [email protected]

Abstrak

Program Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan pada 6 November 2017 di Desa Sumorame Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo. Tujuan yang akan dicapai adalah untuk memotivasi masyarakat agar gemar makan ikan dengan memperkenalkan olahan berbahan baku ikan dalam bentuk Bitterballen. Metode yang digunakan adalah dengan metode pendekatan sosial mentalistik dan penyuluhan serta pelatihan yang bersifat masyarakat partisipatif. Program pelatihan yang dilakukan diawali dengan kegiatan mengedukasi pengetahuan dari manfaat ikan sebagai bahan pangan, kemudian dilanjutkan dengan mempraktekkan olahan Bitter Balen Ikan, sehingga masyarakat dapat meniru dan selanjutnya mengembangkan berbagai macam olahan ikan agar dapat meningkatkan minat konsumsi ikan masyarakat melalui usaha olahan ikan sebagai produk siap konsumsi. Capaian yang diperoleh setelah dilakukan pelatihan pengolahan ikan dalam bentuk bitterballen adalah seluruh peserta pelatihan memahami pentingnya mengkonsumsi ikan sehari-hari, dapat membuat olahan ikan dalam bentuk Bitterballen sehingga dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha dalam meningkatkan penghasilan rumah tangga.

Kata kunci: Bitterballen, daging ikan, gemar makan ikan, olahan ikan

Abstract

This Outreach program implemented on November 6, 2017 at the Sumorame village, sub-district of Candi-Sidoarjo Regency. This outreach aims to motivate people for interest in consuming fish by introduced Bitterballen product. The method that used by the social approach and guidance as well as mentalistic training participatory society. The training program begins with the activities of educating knowledge from the benefits of fish as food, then was continued with the Bitterballen fish processed practice as a product, so that the community can imitate and further develop a wide variety of fish processed in order to increase the community interest in fish consumption through the efforts as a product ready to be consumed. The final goal obtained after fish processing training was conducted in the form of Bitterballen were throughout of the trainee understands the importance of fish consumption in daily, can make the fish product in the form of Bitterballen so it can utilized as a business opportunity in increasing household income.

(5)

1. PENDAHULUAN

Kabupaten Sidoarjo merupakan daerah delta yang subur karena berada di antara dua sungai besar, pecahan Sungai Brantas yaitu Sungai Mas dan Sungai Porong. Dilihat bentang alam, secara makro, terdiri dari kawasan pantai dan pertambakan di sebelah timur dan daerah pemukiman dan pertanian di bagian tengah dan barat. Wilayah Pesisir dan pantai di Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu wilayah pesisir dan pantai dengan pemanfaatan yang cukup intensif. Kegiatan perikanan menjadi kegiatan dominan dan merupakan kegiatan subsektor pertanian terbesar yang mencapai lebih dari 40% (BPS Kabupaten Sidoarjo, 2016). Kegiatan perikanan di Kabupaten Sidoarjo yang terbesar adalah budidaya perikanan tambak dengan luas area budidaya mencapai 15.531,4 ha (BPS Kabupaten Sidoarjo, 2016). Budidaya perikanan tambak tersebut merupakan kegiatan potensial yang mampu mendukung perekonomian masyarakat pesisir Kabupaten Sidoarjo.

Subsektor perikanan tidak hanya sebagai daya dukung perekonomian di wilayah Sidoarjo, tetapi juga diharapkan mampu menjadi salah satu sumber ketahanan pangan di wilayah yang terkenal dengan hasil perikanannya, dalam kesempatan ini adalah Sidoarjo. Bila dilihat dari logo kabupaten menunjukkan bahwa Udang dan Bandeng merupakan komoditas perikanan yang utama di Sidoarjo, sehingga ketersediaan bahan baku untuk olahan Bitterballen ikan bandeng menjadi mudah untuk diperoleh. Bitterballen

adalah bentuk olahan yang berasal dari Belanda. Bitterballen juga dapat dibuat dari berbagai macam bahan baku utama, seperti ayam, udang, daging sapi dan lain-lain. Man (2015) berpendapat bahwa olahan

Bitterballen dapat diperluas dari berbagai

macam bahan baku, mengingat ketahanan pangan saat ini semakin bervariasi. Man (2015) juga menyebutkan, bahkan serangga saat ini juga berpotensi sebagai bahan baku

Bitterballen.

Pelatihan yang dilakukan dalam program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan penghasilan

rumah tangga dengan memberdayakan kemampuan ibu-ibu di Desa Sumorame Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo agar dapat membuat olahan ikan dalam bentuk

Bitterballen. Kemampuan yang diperoleh

dari pelatihan ini diharapkan akan dimanfaatkan secara real untuk program ekonomi kreatif dalam skala industri rumah tangga. Dengan tercapainya tujuan tersebut, diharapkan akan meningkatkan daya konsumsi ikan pada setiap lapisan masyarakat di wilayah Sidoarjo, khususnya di Desa Sumorame Kecamatan Candi.

Sasaran kegiatan pengabdian ini adalah masyarakat di Desa Sumorame Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Masyarakat yang diundang dalam kegiatan penyuluhan dan pelatihan adalah para ibu pengurus PKK di Desa Sumorame dan kegiatan dilaksanakan di Balai Desa Sumorame. Berdasarkan hasil pendekatan yang dilakukan, permasalahan yang perlu segera dicari solusi alternatifnya yaitu peningkatan kreativitas dan efisiensi usaha rumah tangga dalam meningkatkan penghasilan rumah tangga.

2. METODE PELAKSANAAN

Kegiatan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan di Desa Sumorame Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo dilakukan dengan proses pendekatan sosial mentalistik. Pendekatan sosial mentalistik merupakan suatu metode pendekatan yang menitikberatkan pada perubahan sikap mental sasaran, penerangan, penyuluhan, pelatihan dll. Program pelatihan pada kegiatan ini dilakukan untuk memancing kreativitas dan soft skill peserta pelatihan. Pelatihan merupakan bagian dari investasi

SDM (human investment) untuk

meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja (Payaman Simanjuntak, 2005).

(6)

mencapai tujuan kegiatan. Metode partisipatif ialah suatu metode yang memosisikan masyarakat sebagai subjek atas program yang diperuntukkan bagi kepentingan mereka sendiri (Sudjana, 2005). Pelibatan tersebut dilakukan dari tahap awal perencanaan-pelaksanaan hingga tahap akhir yaitu evaluasi. Penyelesaian dari permasalahan yang ada dilakukan seperti berikut:

a. Memberi contoh tentang pembuatan dan prasarana produksi Bitterballen

b. Meningkatkan efisiensi dalam produksi dengan memberikan pendampingan penggunaan peralatan yang lebih efisien sehingga mempermudah teknik pembuatan Bitterballen

Kegiatan ini dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu:

a. Persiapan

Persiapan dilakukan dengan melakukan koordinasi terhadap Ketua PKK di Desa Sumorame Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo. Koordinasi tersebut meliputi tanya jawab terkait permasalahan yang dihadapi oleh kelompok ibu-ibu PKK di Desa Sumorame Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, persiapan teknis juga dilakukan untuk kelangsungan pelatihan. Persiapan tersebut adalah penyediaan fasilitas atau media yang akan digunakan untuk pelatihan, berupa peralatan masak, bahan baku, dan infokus untuk pemaparan materi serta print out prosedur kerja dalam membuat olahan Bitterballen ikan bandeng.

b. Pelaksanaan

Pelatihan membuat olahan

Bitterballen ikan dilakukan dengan

metode ceramah, dan praktik secara langsung. Adapun prosedur kerja yang dilakukan untuk membuat olahan

Bitterballen ikan adalah seperti berikut:

1) Mempersiapkan bahan yang dibutuhkan, yaitu:

200 gr kentang 2 sdm margarin

100 gr daging ikan bandeng cincang

2) Cara membuat adonan pelapis: Campurkan 2 sdm terigu, 3 sdm tepung beras, 1 sdm tapioca, air dan garam secukupnya hingga menjadi adonan yang agak encer.

3) Cara membuat Bitterballen ikan bandeng:

a) Cairkan margarin diatas wajan dengan kompor, lalu campur dengan terigu sedikit demi sedikit hingga menggumpal, tambahkan susu cair dan aduk rata dan angkat dari kompor. b) Campur semua bahan bumbu

kemudian aduk rata

c) Bentuk adonan menjadi bulat-bulat, celupkan dalam adonan pelapis, balur dengan tepung panir

d) Simpan di dalam kulkas kurang lebih 15 menit, kemudian goreng hingga kecokelatan.

c. Evaluasi

Tahap evaluasi dilakukan dengan melihat hasil olahan Bitterballen bandeng peserta pelatihan satu persatu, kemudian melakukan diskusi sekaligus evaluasi.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

(7)

yang memiliki cita rasa tinggi. Bitterballen

ikan bandeng yang diajarkan oleh tim pelatih merupakan olahan ikan bandeng yang sehat untuk dikonsumsi seluruh lapisan masyarakat dari anak-anak hingga dewasa. Proses pembuatan Bitterballen yang cukup simple

dan ketersediaan bahan baku yang mudah diperoleh akan menjadi pertimbangan bagi para peserta pelatihan untuk meluaskan kreativitasnya dalam mengolah menyajikan

Bitterballen ikan bandeng sebagai jajanan

sehat yang memiliki nilai ekonomis.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa permasalahan yang dihadapi oleh ibi-ibi PKK di Desa Sumorame Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo adalah kesulitan dalam menciptakan krasi atau kreativitasnya dalam membuka peluang usaha rumah tangga. Pada pelatihan tersebut, solusi yang dapat diberikan oleh tim pelatih atau pelaksana Program Pengabdian Kepada Masyarakat yaitu Olahan Ikan Bandeng Dalam Bentuk Bitterballen Ikan adalah sebagai berikut:

a. Pada Proses Produksi

Solusi alternatif terhadap peningkatan efisiensi usaha diperlukan kecermatan dalam pengadaan prasarana dan sarana, di mana hal ini sangat berkaitan erat dengan efisien usaha. Pengembangan alat khususnya untuk proses produksi tidak lagi secara manual dan memakai alat yang lebih modern sehingga dapat meningkatkan hasil produksi. Hasibuan (1984) mengatakan bahwa efisiensi merupakan perbandingan yang terbaik antara sebuah input (masukan) dan output (hasil antara keuntungan dengan sumber-sumber yang dipergunakan), seperti halnya juga hasil optimal yang telah dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas.

Misalnya, untuk menghaluskan daging ikan atau mencincang daging ikan bandeng, tidak perlu dilakukan secara manual melainkan menggunakan blender dengan kemampuan menggiling kasar. Waktu yang telah dihemat untuk menggiling atau mencincang daging ikan tersebut dapat dimanfaatkan untuk proses produksi dengan jumlah yang lebih banyak tanpa

menghabiskan banyak waktu sehingga lebih efisien.

b. Pada Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Produksi

Kualitas makanan yang terbaik tentunya harus dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang terbaik. Sehingga dalam hal ini, pemilihan bahan yang cermat, khususnya daging ikan bandeng dan bahan-bahan (bumbu) yang dipakai dalam proses produksi. Untuk daging ikan bandeng, harus menggunakan daging segar agar rasa dan bau yang dihasilkan dari Bitterballen dapat menggugah selera konsumen. Penggunaan daging ikan yang tidak segar akan membuat aroma Bitterballen menjadi bau busuk dan tidak layak konsumsi.

Agar tidak salah dalam memilih ikan segar untuk diolah menjadi Bitterballen ikan bandeng, tim pelatih atau penyuluh memberikan beberapa tips uji organoleptic sederhana dalam memilih ikan segar. Adapun tips tersebut menurut Soewarlan (2004), yaitu:

1) Insang

Insang pada ikan segar memiliki warna yang merah segar dan tidak kusam serta terdapat lendir jernih yang menutupi insang.

2) Mata

Kondisi mata pada ikan segar cenderung datar atau bahkan cembung, kalau mata ikan sudah cenderung cekung artinya ikan sudah mengalami kemunduran mutu meski bukan berarti sudah busuk. Warna mata pada ikan segar juga terang dan jernih serta tidak kusam. Seperti hanya mata ikan yang sudah cekung, ikan bermata kusam dimungkinkan masih aman dan dapat untuk di konsumsi tetapi ikan tersebut sudah melewati kondisi fresh dimana saat itulah waktu terbaiknya untuk kita konsumsi.

3) Daging

(8)

teksturnya kenyal dan kokoh. Cara berikutnya adalah dengan menekan daging ikan dengan jari, jika daging tersebut cepat kembali ke kondisi semula setelah ditekan, serta daging itu terasa tidak terlalu keras atau lembek maka ikan tersebut masih segar.

4) Sisik dan Aroma

Indikator kesegaran ikan dengan melihat sisik dapat diketahui jika sisik berkilau, terang dan bersih serta warnanya tidak memudar. Ikan yang masih segar tidak akan mengeluarkan aroma busuk, aroma yang keluar hanya akan amis.

c. Pada Cara Pengemasan Produk Agar produk olahan Bitterballen ikan bandeng tidak mudah rusak atau mengalami kemunduran kualitas produksi, sebaiknya dikemas dengan cara yang tepat. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan mengemas Bitterballen

seperti halnya nugget. Kemasan Bitterballen

mentah atau yang belum digoreng sebaiknya dalam keadaan terbungkus plastic dan beku. Sedangkan untuk Bitterballen yang sudah digoreng, sebaiknya dikemas dengan menggunakan plastic mika berbentuk persegi Panjang atau persegi dan tertutup rapat agar tidak terkontaminasi debu.

d. Penjualan atau Promosi

Penjualan menurut Westwood (2013) mengemukakan bahwa penjualan adalah konsep lugas yang diantaranya berupa usaha membujuk pelanggan untuk membeli sebuah produk. Sedangkan menurut Abdullah dkk (2016) penjualan adalah bagian dari promosi dan promosi adalah salah satu bagian dari keseluruhan sistem pemasaran. Pada zaman yang sudah maju seperti saat ini, segala hal menjadi lebih praktis dengan bantuan teknologi. Beberapa solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi para peserta pelatihan terkait dengan promosi dan penjualan, yaitu:

1) Promosi dan penjualan dengan menggunakan jasa PT Gojek Indonesia, yaitu dengan memasukkan produk atau usaha kuliner yang dimiliki pada menu kalangan remaja yang menjadi pengguna aplikasi Instagram, bahkan orang tua dan anak-anak pun sekarang sudah menjadi pengguna dari aplikasi yang populer masa ini. Sudah banyak online shop yang berhasil merintis usahanya dari aplikasi Instagram. Tidak ada salahnya ibu-ibu PKK di Desa Sumorame Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo ikut mencoba keberuntungannya dengan memulai usaha jajanan sehat secara online.

Hal-hal tersebut merupakan alternative

pemecahan masalah yang dimiliki oleh ibu-ibu PKK di Desa Sumorame Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo. Dengan terlaksananya program pengabdian kepada masyarakat melalui pelatihan olahan

Bitterballen ikan bandeng, telah menambah

pengetahuan para peserta pelatihan tentang peran dan pentingnya menjadikan ikan sebagai bahan pangan sehari-hari. Selain itu, peserta pelatihan juga mendapat satu soft skill

untuk membuat olahan Bitterballen ikan bandeng sebagai makanan sehat dan bergizi serta memiliki nilai ekonomis untuk menambah penghasilan rumah tangga. 4. SIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari program pelatihan dan penyuluhan yang telah dilaksanakan di Desa Sumorame Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo adalah menambahnya pengetahuan dan minat konsumsi ikan di kalangan peserta pelatihan, serta kemampuan para peserta pelatihan dalam membuat olahan Bitterballen ikan bandeng sangat baik.

5. REFERENSI

(9)

Hasibuan Malayu, S. P. (1984). Manajemen Dasar dan Suatu Pengantar. Jakarta: Haji Masagung. Man, C. (2015). Books in Review: The

Third Plate: Field Notes on the Future of Food.

Simanjuntak, P. J. (2005). Manajemen dan evaluasi kinerja. Jakarta: FE UI. Soewarlan, L. C. (2004). Kajian Sistem

Pengendalian Mutu Ikan Dan Udang Segar Di Tempat Pelelangan Ikan, Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. (Disertasi) Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Sudjana S. 2005. Metode & Teknik Pembelajaran Partisipatif Pendidikan Non Formal. Bandung: Falah Production

(10)

Referensi

Dokumen terkait

Kemenpar bekerjasama dengan KBRI Tehran, Disbudpar Provinsi Aceh, Disbudpar Kota Sabang dan Dispar Kabupaten Buleleng melaksanakan kegiatan Famtrip bagi 7 orang peserta

Fenomena fashion involvement dan impulsive buying tersebut dapat mengancam kehidupan mereka jika tidak diiringi dengan penyeimbang yang berasal dari selain fisik dan materi

Larutan protein total tersebut kemudian dipisahkan dengan kolom CM-Sepharose CL-6B dengan eluen bufer natrium fosfat mM pH 6,5 selama 30 menit untuk memisahkan protein yang

Gambaran ini mengindikasikan bahwa pada siswa yang meiliki motivasi belajar rendah, ditemukan bahwa secara signifikan hasil belajar matematika yang diajar melalui

Dari hasil estimasi dengan berbagai model yang telah diperlihatkan pada Tabel 5, dapatlah secara umum disimpulkan bahwa nilai tambah modal intelektual (VAIC) di perbankan Indone-

- Menghukum Tergugat atau siapapun saja yang mendapatkan hak daripadanya untuk mengosongkan rumah terperkara a quo yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan (dahulu

Sehingga untuk dapat mencapai kehidupan sosial yang berbudaya diperlukan adanya peraturan hukum yang sesuai dengan sikap dan nilai-nilai yang hidup dalam individu-individu

pengetikan ulang laporan yang ada memerlukan waktu yang lama dalam penyampaian informasi. Pengolahan data Laporan peminjaman dan pengembalian barang tidak tepat waktu