BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Profil Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia (disingkat BEI, atau Indonesia Stock Exchange
(IDX)) merupakan bursa hasil penggabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan Bursa Efek Surabaya (BES). Bursa hasil penggabungan ini mulai beroperasi pada 1 Desember 2007. BEI merupakan lembaga yang mengelola pasar modal di Indonesia. BEI menyediakan infrastruktur bagi terselenggaranya transaksi pasar modal. Pasar modal yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia meliputi:
1. Transaksi Saham
2. Transaksi Surat Hutang (obligasi swasta maupun obligasi pemerintah)
Gambar 1.1
Logo Bursa Efek Indonesia
Sumber: www.idx.co.id (21 Maret 2016)
Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC. Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan
seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagimana mestinya.
Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah. Secara singkat, tonggak perkembangan pasar modal di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut:
TABEL 1.1
PERKEMBANGAN PASAR MODAL DI INDONESIA Desember
1912
Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda
1914 – 1918 Bursa Efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I
1925 – 1942 Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan Bursa Efek di Semarang dan Surabaya
Awal tahun 1939
Karena isu politik (Perang Dunia II) Bursa Efek di Semarang dan Surabaya ditutup
1942 – 1952 Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali selama Perang Dunia II 1956 Program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa Efek semakin
tidak aktif
1956 – 1977 Perdagangan di Bursa Efek vakum 10 Agustus
1977
Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto. BEJ dijalankan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal). Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama
1977 – 1987 Perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten hingga 1987 baru mencapai 24. Masyarakat lebih memilih instrumen perbankan dibandingkan instrumen Pasar Modal
Tabel 1.1 (sambungan)
1987 Ditandai dengan hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 87) yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan Penawaran Umum dan investor asing menanamkan modal di Indonesia
1988 – 1990 Paket deregulasi dibidang Perbankan dan Pasar Modal diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas bursa terlihat meningkat
2 Juni 1988 Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer
Desember 1988
Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal
16 Juni 1989
Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya 13 Juli 1992 Swastanisasi BEJ. BAPEPAM berubah menjadi Badan Pengawas
Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ
22 Mei 1995 Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan sistem computer JATS (Jakarta Automated Trading Systems)
10
November 1995
Pemerintah mengeluarkan Undang –Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai diberlakukan mulai Januari 1996
1995 Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya 2000 Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) mulai
diaplikasikan di pasar modal Indonesia
2002 BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh
(remote trading)
Tabel 1.1 (sambungan)
2007 Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) 02 Maret
2009
Peluncuran Perdana Sistem Perdagangan Baru PT Bursa Efek Indonesia: JATS-NextG
Sumber: www.idx.co.id (21 Maret 2016) 1.1.2 Visi-Misi Bursa Efek Indonesia
A. Visi
Menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia. B. Misi
Menciptakan daya saing untuk menarik investor dan emiten, melalui pemberdayaan Anggota Bursa dan Partisipan, penciptaan nilai tambah, efisiensi biaya serta penerapan good governance.
1.2 Latar Belakang Penelitian
Indonesia tengah bersiap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Masyarakat Ekonomi ASEAN diartikan sebagai sebuah masyarakat yang saling terintegrasi satu sama lain dimana adanya perdagangan bebas diantara negara-negara anggota ASEAN yang telah disepaki bersama antara pemimpin-pemimpin negara-negara ASEAN untuk mengubah ASEAN menjadi kawasan yang lebih stabil, makmur dan kompetitif dalam pembangunan ekonomi. Dampak terciptanya MEA adalah pasar bebas di bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja (“Pahami Masyarakat Ekonomi ASEAN”, 2014).
Menurut Said (2008), Untuk dapat berkompetisi perusahaan-perusahaan saat ini berlomba untuk menemukan dan mengembangkan strategi untuk menyongsong berlakunya sistem perdagangan bebas. Perusahaan yang memiliki daya saing tinggilah yang akan unggul dalam pasar global. Untuk mempersiapkan menghadapi persaingan global diperlukan langkah-langkah strategis. Langkah-langkah strategis tersebut menyangkut semua aspek, yaitu mulai dari pengadaan bahan baku, teknologi, pengembangan SDM, pemasaran dan permodalan.
Dalam menghadapi MEA, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mempersiapkan diri demi meningkatkan daya saing di tingkat regional, meliputi seluruh aspek pasar modal, baik dari aspek infrastruktur, pasokan, permintaan dan lainnya menjelang MEA. Pengembangan lain yang dilakukan oleh BEI dari sisi perdagangan, yakni perubahan satuan perdagangan (lot size) dari 500 lembar per lot menjadi 100 lembar per lot dan fraksi harga untuk perdagangan efek bersifat ekuitas yang diberlakukan pada 6 Januari 2014 (Fahmar, 2014).
Dalam meningkatkan daya saing perusahaan, salah satunya dapat dilakukan dengan meningkatkan kebutuhan modal mereka. Kebutuhan modal dapat dipenuhi dari berbagai sumber, antara lain dengan menggunakan modal sendiri, mengeluarkan surat hutang (obligasi), hutang pada pihak ketiga, atau melalui emisi saham. Sumber yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam memperoleh dana dan melakukan investasi adalah melalui pasar modal. Menurut Tandelilin (2007:13), Pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas (saham). Pasar modal dapat juga berfungsi sebagai lembaga perantara
(intermediaries).
Transaksi saham Indonesia terus mengalami pertumbuhan, hal itu ditandai dengan peningkatan indeks harga saham komposit (IHSG) pada 2014 tercatat Rp 5,226.95, naik sebesar 22.29% dibandingkan dengan nilai transaksi pada 2013 sebesar Rp 4,274.18. Total kapitalisasi pasar pada 2014 tercatat Rp 5,228.04 triliun, naik signifikan sebesar 23.91% dibandingkan dengan nilai transaksi pada 2013 sebesar Rp 4,219.02 triliun. Jumlah perusahaan tercatat di BEI hingga tahun 2014 sebanyak 506 emiten. Pada tahun 2010, jumlah emiten sebanyak 420, pertumbuhan jumlah emitennya dari tahun ketahun mengalami rata-rata peningkatan sebesar 4.725%. (Darmawan, K. 2016, Januari). Dengan semakin stabilnya pergerakan IHSG diharapkan dapat terus meningkatkan minat masyarakat untuk berinvestasi di BEI dan minat perusahaan untuk mendaftarkan perusahaan kedalam pasar modal, sehingga porsi kepemilikan investor domestik dan jumlah perusahaan di pasar modal Indonesia dapat terus tumbuh.
Gambar 1.2
Transaksi Saham di Bursa Efek Indonesia 2009-2014
Sumber: Darmawan, K. (2016, Januari)
Melihat indikator bursa pada tahun 2014 (indeks komposit, volume transaksi, nilai transaksi, dan nilai kapitalisasi) mencerminkan potensi pertumbuhan penggalangan dana dan investasi penanaman modal di pasar modal. Namun, jumlah perusahaan yang melakukan IPO di pasar modal Indonesia tidak berkembang sebagaimana yang diharapkan. Perkembangan tersebut ternyata tidak/belum diikuti dengan minat perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk melakukan IPO. (Darmawan, K. 2016, Januari). 420 3,703.51 3,247.10 440 3,821.99 3,537.29 459 4,316.69 4,126.10 483 4,274.18 4,219.02 506 5,226.95 5,228.04 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 Jumlah Emiten IHSG Kapitalisasi Pasar (Triliun Rp)
Gambar 1.3
Perusahaan yang Go Public atau IPO (Initial Public Offering)
Sumber: Darmawan, K. (2016, Januari)
Melihat perkembangan transaksi saham tersebut, hal menarik untuk diteliti lebih lanjut adalah melihat bagaimana perkembangan saham perusahaan yang go public ditengah meningkatnya transaksi saham di Bursa Efek Indonesia, melalui perkembangan kinerja saham-saham perusahaan yang go public atau IPO pada periode 2014.
Dana yang didapatkan perusahaan melalui penjualan sekuritas merupakan hasil perdagangan saham perusahaan yang dilakukan di pasar modal. Menurut Hartono (2013:33) Surat berharga yang baru dikelurkan oleh perusahaan dijual di pasar primer (primary market). Surat berharga yang baru dijual dapat berupa penawaran perdana ke publik (initial public offering atau IPO) atau tambahan surat berharga baru jika perusahaan sudah going public (sekuritas tambahan ini sering disebut dengan seasoned new issues). Selanjutanya surat berharga yang sudah beredar diperdagangkan di pasar sekunder (secondary market). Dengan melakukan
go public ini berarti perusahaan tersebut akan berbagi kepemilikan perusahaan dengan para pembeli saham. Menurut Tambunan (2013) Sebuah perusahaan yang akan melakukan penawaran saham kepada publik (calon emiten) melalui IPO diwajibkan menerbitkan keterbukaan Prospektus awal umumya dibagikan kepada para calon investor saat acara paparan publik (public expose). Permasalahan yang
23 25 22 30 23 16 0 5 10 15 20 25 30 35 2010 2011 2012 2013 2014 2015
adalah penentuan besarnya harga penawaran saham perdana. Harga saham pada pasar perdana (IPO) ditentukan atas dasar kesepakatan antara emiten dengan perusahaan penjamin efek (underwriter) yang ditunjuk oleh emiten. Sebelum pelaksanaan penawaran perdana, saham perusahaan belum pernah diperdagangkan sehingga sulit untuk menilai dan menentukan harga yang wajar. Sedangkan harga saham pada pasar sekunder, ditentukan atas dasar mekanisme pasar (permintaan dan penawaran).
Harga saham yang terjadi di pasar perdana dan pasar sekunder biasanya berbeda. Perbedaan ini akan menimbulkan kondisi yang disebut underpricing dan
overpricing. Fenomena underpricing ataupun overpricing saham merupakan gambaran kinerja saham yang terjadi setelah IPO. Fenomena underpricing ataupun
overpricing saham merupakan gambaran initial return kinerja saham yang terjadi setelah IPO (Riantani dan Yuliani, 2014). Menurut Indarti (2004) dalam (Maria, 2011), Underpricing adalah penentuan harga saham dipasar perdana lebih rendah daripada harga dipasar sekunder (closing price) untuk saham yang sama. Sebaliknya, apabila penentuan harga saham perdana lebih besar daripada harga dipasar sekunder (closing price) untuk saham yang sama disebut overpricing.
Menurut Hartono (2013:37), initial return adalah return yang diperoleh dari aktiva di penawaran perdana mulai dari saat dibeli dipasar primer sampai pertama kali didaftarkan di pasar sekunder. Pada penelitian Riantani dan Yuliani (2014), pada tahun 2010 tercatat 21 perusahaan yang menerbitkan saham melalui mekanisme penawaran saham perdana pada Bursa Efek Indonesia, 21 perusahaan diantaranya mengalami underpricing tanpa adanya perusahaan yang mengalami overpricing.
Banyak model teoritis yang menyebutkan bahwa salah satu penyebab terjadinya underpricing adalah adanya asimetri informasi. Asimetri informasi dapat terjadi antara emiten dengan underwritter atau antara emiten dengan investor. Emiten merupakan pihak yang mempunyai informasi lebih tentang keadaan perususahaan, sedangkan underwritter sebagai penjamin efek merupakan pihak yang memiliki informasi tentang kondisi pasar. Underwriter akan memanfaatkan informasi yang dimilikinya untuk memperoleh kesepakatan yang optimal dengan
emiten, yaitu dengan memperkecil resiko keharusan membeli saham yang tidak laku jual dengan menetapkan harga murah, sehingga emiten harus menerima harga yang murah bagi penawaran saham perdananya. Pada saat itulah terjadi
underpricing. Fenomena underpricing ini menurut Ritter (1991), harga saham IPO yang underpriced adalah hasil dari ketidakpastian harga saham pada pasar sekunder. Pengungkapan informasi keuangan dan non keuangan di dalam prospektus dianggap sebagai salah satu mekanisme untuk mengurangi asimetri informasi. Pengungkapan ini sebagai salah satu cara mengurangi asimetri informasi yang sering terjadi karena ketidak tahuan investor terhadap kondisi perusahaan yang sebenarnya.
Untuk mengukur kinerja saham setelah penawaran perdana dapat dilakukan dengan melihat nilai abnormal return. Menurut Hartono (2013:609), abnormal return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal. Return normal merupakan return ekspektasian (return yang diharapkan oleh investor). Dengan demikian return tak nomal (abnormal return) adalah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasian. Brown dan Warner dalam Hartono (2013:610), mengestimasi return ekspektasian menggunakan model estimasi mean-adjusted model, market model dan market-adjusted model. Penentuan baik tidaknya kinerja saham, baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang dilihat dari besarnya abnormal retun yang di peroleh. Apabila abnormal return > 0, menunjukkan bahwa kinerja saham yang
outperformed (baik), sebaliknya apabila abnormal return < 0, menunjukkan bahwa kinerja saham yang underperformed (buruk) dan apabila abnormal return = 0 menunjukkan balance-performed (netral) (Riantani dan Yuliani, 2014).
Pada penelitian Fatiha (2012), perusahaan yang melakukan IPO pada periode 2006-2009 sebanyak 59 perusahaan. bahwa cumulative abnormal return
setelah 3 bulan mengalami outperformed dan cumulative abnormal return setelah 12 bulan mengalami outperformed. Pada penelitian Maria (2011), perusahaan yang melakukan IPO pada periode Januari 2000 sampai dengan Desember 2003, mendaptkan rata-rata Abnormal Return dari 68 perusahaan dalam jangka pendek (3
bulan) adalah positif 67,82 mengalami outperformed. Sedangkan jangka panjang (24 Bulan) adalah negative (16,96) mengalami underperformed. Pada penelitian Nita (2014), perusahaan yang melakukan IPO pada periode 2010 sebanyak 23 perusahaan. bahwa nilai rata-rata abnormal return setelah 3 bulan mengalami
outperformed dan nilai rata-rata abnormal return setelah 24 bulan mengalami
underperformed. Pada penelitian Riantani dan Yuliani (2014), perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2010 sebanyak 21 perusahaan sebagai sampel. Selama 3 bulan mendapatkan rata-rata abnormal return sebesar 1,470%, dan selama 24 bulan mendapatkan rata-rata abnormal return sebesar 1,105%. kinerja saham baik jangka pendek maupun jangka panjang mengalami outperformed (kinerja baik), yaitu dilihat dari perolehan rata-rata abnormal return yang bernilai positif (AAR > 0), meskipun dalam jangka panjang mengalami penurunan. Menurut BAPEPAM-LK, Pasar jangka pendek (short-term) merupakan pasar yang memperdagangkan surat berharga dengan jatuh temponya kurang dari 1 tahun sedangkan pasar jangka panjang (long-term) untuk instrumen yang jatuh temponya lebih sari 1 tahun. Menurut Ong (2008), Time horizon Jangka pendek, waktu yang digunakan dalam berinvestasi adalah maksimal tiga minggu. Untuk jangka menengah waktu yang digunakan adalah lebih dari tiga minggu sampai paling lama satu tahun. Sedangkan jangka panjang, waktu yang digunakan adalah lebih dari satu tahun.
Berdasarkan uraian latar belakang, Penelitian ini akan menganalisis kinerja saham setelah IPO melalui pengukuran initial return, abnormal return, kinerja saham jangka menengah (3 bulan) dan jangka panjang (12 bulan), serta menguji perbedaan kinerja saham jangka pendek dengan kinerja saham jangka panjang. Maka judul penelitian ini adalah: “Analisis Kinerja Saham Pada Perusahaan Go Public atau Initial Public Offering (IPO) yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Tahun 2014”.
1.3 Perumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut diatas, maka masalah yang akan didentifikasikan adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana keuntungan awal pada perusahaan yang melakukan initial public offering di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014?
2. Bagaimana kinerja saham setelah initial public offering dalam jangka menengah (3 bulan) pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014?
3. Bagaimana kinerja saham setelah initial public offering dalam jangka panjang (12 bulan) pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014?
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah untuk mendapat jawaban atas permasalahan yang telah diidentifikasikan diatas yaitu:
1. Untuk mengetahui bagaimana keuntungan awal pada perusahaan yang melakukan setelah initial public offering di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014.
2. Untuk mengetahui bagaimana kinerja saham setelah setelah initial public offering dalam jangka menengah (3 bulan) pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014.
3. Untuk mengetahui bagaimana kinerja saham setelah setelah initial public offering dalam jangka panjang (12 bulan) pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014.
1.5 Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan yang didapat dalam penyusunan skripsi ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai berikut:
1. Aspek Teoritis
Melalui hasil penelitian yang dilakukan dapat memberikan suatu pembuktian bahwa pengetahuan yang telah dikemukakan secara teori dapat dibuktikan secara nyata. Selain itu menambah pengetahuan dalam bidang pasar modal dan hal-hal yang terjadi di dalamnya serta ilmu statistik untuk keperluan analisis finansial.
2. Aspek Praktis a. Investor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang untuk mengetahui kinerja harga saham perusahaan setelah melakukan go public atau
Initial Public Offering (IPO). Harga saham pada saat listing di Bursa Efek Indonesia mengalami peningkatan atau bahkan mengalami penurunan, sehingga para investor dapat mengambil keputusan apakah akan tetap mempertahankan saham tersebut dalam jangka panjang atau menjual saham tersebut dalam jangka pendek.
b. Perusahaan yang akan IPO
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam mengambil keputusan untuk melakukan go pulic penjualan saham pada pasar perdana serta memberikan informasi bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan dibidang keungan dalam mencapai tujuan manajemen keuangan yaitu memaksimalkan nilai yang dimiliki perusahaan atau memberikan nilai tambah terhadap asset yang dimiliki oleh pemegang saham.
c. Perguruan Tinggi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang keuangan, khususnya mengenai perbedaan kinerja saham setelah melakukan go public atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia.
1.6 Sistematika Penulisan Tugas Akhir
Penulisan penelitian terdiri dari lima bab yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Berikut adalah sistematika penulisan dari penilitan ini:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini mejelaskan secara umum mengenai penelitian yang dilakukan. Berisi informasi umum diantaranya yaitu, gambaran umum objek penelitian, latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika penulisan laporan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN
Bab ini membahas teori-teori yang berhubungan dengan IPO, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, hipotesis penelitian dan ruang lingkup penelitian yang terdiri dari variable penelitian, lokasi serta objek penelitian, dan waktu periode penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini berisikan pendekatan, metode dan teknik yang digunakan dalam melakukan penelitian.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisikan hasil penelitian, hasil analisis data dan pembahasan BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Merupakan bab terakhir yang berisi simpulan dari hasil penelitian, dan saran.