• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERIHAL PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN BUPATI JAYAPURA TAHUN 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERIHAL PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN BUPATI JAYAPURA TAHUN 2017"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 58/PHP.BUP-XV/2017

PERKARA NOMOR 59/PHP.BUP-XV/2017

PERKARA NOMOR 60/PHP.BUP-XV/2017

PERIHAL

PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN BUPATI

JAYAPURA TAHUN 2017

ACARA

MENDENGARKAN JAWABAN TERMOHON, KETERANGAN

PIHAK TERKAIT, BAWASLU RI, DAN BAWASLU PROVINSI

PAPUA

(II)

J A K A R T A

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 58/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 59/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 60/PHP.BUP-XV/2017 PERIHAL

Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati Jayapura Tahun 2017

PEMOHON

1. Jansen Monim dan Abdul Rahman Sulaiman (Perkara Nomor 58/PHP.BUP-XV/2017)

2. Godlief Ohee dan Frans Gina (Perkara Nomor 59/PHP.BUP-XV/2017)

3. Yanni dan Zadrak Afasedanya (Perkara Nomor 59/PHP.BUP-XV/2017)

TERMOHON

KPU Kabupaten Jayapura

ACARA

Mendengarkan Jawaban Termohon, Keterangan Pihak Terkait, Bawaslu RI, dan Bawaslu Provinsi Papua (II)

Rabu, 27 September 2017, Pukul 14.15 – 16.25 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Aswanto (Ketua)

2) Saldi Isra (Anggota)

3) Wahiduddin Adams (Anggota)

Ery Satria Pamungkas Panitera Pengganti

Yunita Rhamadani Panitera Pengganti

(3)

Pihak yang Hadir:

A. Pemohon Perkara Nomor 58/PHP.BUP-XV/2017:

1. Abdul Rahman Sulaiman

B. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 58/PHP.BUP-XV/2017:

1. Paskalis Letsoin

C. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 59/PHP.BUP-XV/2017:

1. Iwan Kurniawan Niode 2. Abdul Djabbar

3. Gatot Rusbal

D. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 60/PHP.BUP-XV/2017:

1. Arsi Divinubun 2. Budi Setyanto

E. Termohon:

1. Juned (KPU RI)

2. Resni Titi Sari (KPU RI) 3. Praise Juwinta Uis (KPU RI)

4. Izak R. Hikoyabi (KPU Provinsi Papua)

5. Tarwinto (KPU Provinsi Papua)

F. Kuasa Hukum Termohon:

1. Heru Widodo 2. Dhimas Pradana 3. Supriyadi

4. Aan Sukirman

G. Kuasa Hukum Pihak Terkait:

1. Taufik Basari 2. Atang Irawan 3. Regginaldo Sultan 4. Aperdi Situmorang

5. Yohanes Anthon Raharusun 6. Daniel Tonapa Masiku 7. Rahmat Taufit

(4)

9. Pither Singkali 10.Vitalis Jenarus 11.Yulius Satu Masiku 12.Semy Latunussa 13.Alloysius Renwarin

H. Bawaslu:

1. Fritz Edward Siregar 2. Rahmad Bagja 3. Anugrah Pata 4. Yacob Paisei

(5)

1. KETUA: ASWANTO

Sidang dalam Perkara Nomor 58/PHP.BUP-XV/2017, 59/PHP.BUP-XV/2017, 60/PHP.BUP-XV/2017 dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

Pertama-tama mohon maaf, agenda kita mestinya Pukul 14.00 WIB tapi tadi kami sidang agak panjang dalam pengujian undang-undang, tadi Pukul 14.00 WIB lewat sedikit baru kita selesai, sehingga kami butuh waktu untuk … apa … isoma. Sehingga sekali lagi mohon maaf atas keterlambatan ini.

Agenda kita pada hari ini adalah penyampaian keterangan dari pihak Termohon, Pihak Terkait, Bawaslu Provinsi, dan Bawaslu RI, tapi sebelumnya saya persilakan dulu para pihak untuk memperkenalkan diri siapa yang hadir pada kesempatan ini. Silakan, untuk Perkara Nomor 58/PHP.BUP-XV/2017.

2. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR

58/PHP.BUP-XV/2017: PASKALIS LETSOIN

Terima kasih, Yang Mulia. Kami yang hadir untuk Perkara 58/PHP.BUP-XV/2017, saya Kuasa Hukum, Paskalis Letsoin dan didampingi oleh Calon Wakil Bupati atas nama H. Rahman Sulaiman, demikian.

3. KETUA: ASWANTO

Terima kasih. Selanjutnya untuk Perkara Nomor 59/PHP.BUP-XV/2017.

4. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR

59/PHP.BUP-XV/2017: IWAN KURNIAWAN NIODE

Ya, terima kasih, Yang Mulia. Saya dari Perkara Nomor 58 … Nomor 559/PHP.BUP-XV/2017, nama saya Iwan Kurniawan Niode dan sebelah kanan saya ada Pak Abdul Djabbar dan Pak Gatot Rusbal, terima kasih.

SIDANG DIBUKA PUKUL 14.15WIB

(6)

5. KETUA: ASWANTO

Terima kasih. selanjutnya untuk Perkara Nomor 60/PHP.BUP-XV/2017.

6. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR

59/PHP.BUP-XV/2017: BUDI SETYANTO

Terima kasih, Yang Mulia. Dalam Perkara Nomor 60/PHP.BUP-XV/2017 hadir Kuasa Hukum Arsi Divinubun dan Budi Setyanto, terima kasih.

7. KETUA: ASWANTO

Baik. Untuk pihak Termohon, silakan.

8. KUASA HUKUM TERMOHON: HERU WIDODO

Terima kasih, Yang Mulia. Termohon hadir Komisioner KPU Provinsi, Bapak Tarwinto dan Bapak Izak R. Hikoyabi yang ada di sebelah kanan kami. Kemudian didampingi kami Kuasa Hukumnya, saya Heru Widodo, sebelah Dhimas Pradana, kemudian di belakang ada Supriyadi, dan Aan Sukirman.

Kemudian hadir pula, Yang Mulia dari KPU RI, dari Sekretariat Jendral mewakili komisioner tiga orang, yakni Saudara Juned, Saudara Resni Titi Sari, dan Praise Juwinta Uis. Demikian, Yang Mulia, terima kasih.

9. KETUA: ASWANTO

Baik, terima kasih. Sesuai dengan undangan kita pada hari ini juga kita mengundang Bawaslu Provinsi dan Bawaslu RI, siapa yang hadir dari Bawaslu?

10. BAWASLU: FRITZ EDWARD SIREGAR

Terima kasih, Yang Mulia. Saya Fritz Edward Siregar bersama Rahmat Bagja dari Bawaslu, datang bersama dengan Bawaslu Provinsi Pak Anugrah dan Pak Yacob. Baik, Yang Ketua, terima kasih.

11. KETUA: ASWANTO

Ini Bawaslu Provinsi juga sekalian, ya. sudah. Selanjutnya Pihak Terkait, siapa yang hadir?

(7)

12. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: TAUFIK BASARI

Terima kasih, Yang Mulia. Kami Pihak Terkait dari Perkara 58/PHP.BUP-XV/2017, 59/PHP.BUP-XV/2017, dan 60/PHP.BUP-XV/2017 hadir saya sendiri Taufik Basari, lalu Atang Irawan, Regginaldo Sultan, Aperdi Situmorang, Anton … Yohanes Anthon Raharusun, sebelah kiri saya ada Daniel Tonapa Masiku, lalu Rahmat Taufit, Aryo Fadlain, dan di belakang ada Pither Singkali, Vitalis Jenarus, Yulius Satu Masiku, dan Semy Latunussa serta Alloysius Renwarin. Demikian, Yang Mulia, terima kasih.

13. KETUA: ASWANTO

Terima kasih. Sebelum kita persilakan … sebelum kami persilakan Pemohon untuk menyampaikan keterangannya, pada akhir sidang kita yang lalu, ada permohonan dari Para Pemohon untuk mengundang juga panwas kabupaten, tetapi setelah kami melakukan Rapat Permusyawaratan … Rapat Permusyawaratan Hakim, diputuskan yang diundang hanya pan … Bawaslu provinsi dan Bawaslu Republik Indonesia karena panwas kabupaten sudah demisioner, ya. Baik. Itu penyampaian untuk merespons apa yang dimohonkan oleh Pemohon pada sidang yang lalu.

Baik. Untuk selanjutnya, dipersilakan Termohon untuk menyampaikan … apa … tanggapan terhadap permohonan 58/PHP.BUP-XV/2017, 59/PHP.BUP-58/PHP.BUP-XV/2017, dan 60/PHP.BUP-XV/2017 dalam waktu yang tidak terlalu lama, silakan.

14. KUASA HUKUM TERMOHON: HERU WIDODO

Baik. Terima kasih, Yang Mulia. Sebelumnya mohon diperkenankan oleh … karena eksepsi yang dibuat Termohon terhadap … untuk Perkara 28/PHP.BUP-XV/2017, 59/PHP.BUP-XV/2017, dan 60/PHP.BUP-XV/2017 itu sama. Kemudian juga pokok-pokok permohonan itu pada prinsipnya adalah sama.

Oleh karena itu, kami mohon izin untuk dijawab sekaligus dengan highlight untuk ketiga register perkara … perkara tersebut, Yang Mulia. Terima kasih, Yang Mulia atas berkenannya. Jadi, terhadap permohonan Perkara Nomor 58/PHP.BUP-XV/2017, 59/PHP.BUP-XV/2017, dan 60/PHP.BUP-XV/2017 kami ada tiga eksepsi, Yang Mulia.

Yang pertama, eksepsi tentang Pemohon tidak mempunyai kedudukan atau legal standing. Bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Jayapura dalam penyelenggaraan pemilihan serentak tahun 2017 adalah 238.744 jiwa sehingga presentasi ambang batas perbedaan suara dalam perkara ini adalah maksimal 2%.

(8)

Kemudian, sebagaimana kami uraikan dalam tabel di halaman 3, Permohonan Nomor 58/PHP.BUP-XV/2017 hasil rekapitulasi perolehan suara pasangan calon.

Yang pertama, Nomor Urut 1 dalam hal ini adalah Pemohon Nomor 60/PHP.BUP-XV/2017 memperoleh suara =9.255 atau ekuivalen 15,89%.

Nomor Urut 2, Pihak Terkait dengan perolehan suara=34.630 suara atau ekuivalen dengan 59,57%.

Nomor 3, Pasangan Nomor 3, atau Pemohon Nomor 59/PHP.BUP-XV/2017, memperoleh suara=2.078 atau ekuivalen 3,57%.

Nomor Urut 4 memperoleh suara=686 suara atau ekuivalen 1,18% dan Nomor Urut 5, dalam hal ini adalah Pemohon Nomor 58/PHP.BUP-XV/2017 memperoleh suara=11.582 atau ekuivalen dengan 19,89%.

Selisih atau perbedaan perolehan suara antara Para Pemohon dengan Pihak Terkait Pasangan Calon Nomor Urut 2 adalah sebagai berikut.

Pasangan Calon Nomor Urut 1, Pemohon Nomor 60/PHP.BUP-XV/2017 memperoleh suara selisihnya adalah 25.375 suara atau sebanyak 43,57%.

Kemudian, Pasangan Calon Nomor Urut 3, Pemohon Nomor 59 ... Perkara Nomor 59/PHP.BUP-XV/2017 selisihnya adalah 32.552 suara atau ekuivalen dengan 55,90%.

Sedangkan Pasangan Calon Nomor Urut 5, dalam hal ini adalah Pemohon Perkara Nomor 58/PHP.BUP-XV/2017 selisihnya adalah 23.048 suara atau ekuivalen dengan 39,58%.

Dengan memperhatikan syarat ambang batas maksimal pemohon untuk mengajukan permohonan ke Mahkamah 2%x suara sah 58.231 suara sehingga ketemu 1.165 suara, maka tidak ada satu pun perbedaan selisih suara antara ketiga Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak yang memenuhi ambang batas maksimal 2% sehingga para pemohon tidak mempunyai legal standing atau kedudukan hukum. Bahwa quod non seandainya jumlah suara Para Pemohon di Perkara 5/PHP.BUP-XV/20178, 59/PHP.BUP-XV/2017, 60/PUU-XV/2017 tersebut digabungkan padahal tidak, hasil penggabungan yang mencapai 22.915 suara dikurangi atau dikurangkan dengan 34.630 suara Pihak Terkait, masih terdapat selisih 11.715 suara sehingga selisih tersebut tetap masih di atas ambang batas perolehan suara maksimal 1.165 suara.

Atas dasar argumentasi tersebut, maka beralasan menurut hukum bagi Termohon untuk mengajukan eksepsi bahwa Pemohon tidak mempunyai legal standing atau kedudukan hukum sehingga karenanya pemeriksaan perkara a quo berasalan pula untuk dimohonkan diputus dalam putusan dismissal dengan amar permohonan tidak dapat diterima. Kemudian yang kedua, Yang Mulia. Eksepsi tentang permohonan Pemohon nebis in idem dengan argumentasi bahwa permohonan

(9)

Pemohon yang meminta agar ambang batas 2% sebagaimana diatur dalam Pasal 158 dikesampingkan terlebih dahulu karena dapat 87 TPS yang direkomendasikan panwaslih dan/atau Bawaslu RI untuk diulang. Tetapi, tidak di-PSU oleh Termohon. Maka, dengan ini Termohon sanggah bahwa dalil tersebut adalah tidak benar. Tidak benar oleh karena 87 TPS dimaksud adalah bagian yang telah dilaporkan kepada dan/atau menjadi temuan lembaga pengawas sebagai bagian dari keseluruhan TPS se-Kabupaten Jayapura yang totalnya berjumlah 348 TPS. Namun, setelah melalui proses pencermatan yang Termohon lakukan di hadapan saksi-saksi pasangan calon… mohon maaf ada kesalahan tulis … hanya terdapat 261 TPS yang memenuhi unsur pelanggaran untuk dilakukan PSU sebagaimana fakta hukum berikut.

Kemudian, Yang Mulia, untuk mempermudah kami langsung ke halaman 6, ada bagan yang sudah kami buat, Yang Mulia. Poin 11 halaman 6, dari 348 TPS di 19 distrik se-Kabupaten Jayapura, ketika itu panwaslih memverifikasi 308 TPS di 17 distrik sehingga ada 40 TPS dari 2 distrik yang tidak dilakukan verifikasi, namun sudah diplenokan. Berdasarkan rekomendasi nomor 94 tanggal 23 Februari, dari 308 TPS yang diverifikasi oleh panwaslih terdapat 236 TPS yang memenuhi unsur untuk di-PSU sedangkan 72 TPS tidak di-PSU. Ini adalah hasil percermatan, hasil rekomendasi dari panwaslih kabupaten.

Kemudian, Yang Mulia, dari 236 TPS yang direkomendasikan untuk PSU setelah dilakukan pencermatan sebagaimana petunjuk dari rekomendasi tersebut, Termohon mendapatkan 229 TPS yang memenuhi syarat untuk di-PSU dan 7 tidak di-PSU oleh karena apa? Terdapat pendobelan penyebutan nama TPS. Oleh karena itu, ada 7 TPS yang tidak di-PSU dan 72 TPS yang tidak di-PSU.

Kemudian, Yang Mulia, dalam perkembangannya setelah 229 itu ditemukan fix memenuhi syarat untuk di-PSU, KPU membuat Berita Acara dan menyampaikan atau melaporkan kepada Panwas tentang jumlah TPS yang akan di-PSU. Panwas menyetujui jumlahnya adalah 229.

Kemudian, Yang Mulia, seiring dengan berjalannya waktu ada muncul atau lahir rekomendasi dari Bawaslu RI yang tertanggal 2 Agustus 2017, isinya adalah memerintahkan KPU Kabupaten Jayapura untuk mencermati, melakukan pencermatan terhadap 40 TPS yang ada di dua distrik. Dari hasil pencermatan, Yang Mulia, ternyata 32 TPS memenuhi syarat untuk di-PSU dan 8 TPS tidak di-PSU. Pencermatan ini dihadiri dan disaksikan oleh saksi kelima pasangan calon bahkan juga dihadiri oleh Bawaslu provinsi.

Oleh karena itu, maka dari hasil pencermatan tersebut terdapat jumlah 32 TPS dan ... ditambah 229 TPS yang memenuhi syarat untuk di-PSU menjadi berjumlah 261 TPS. Sedangkan sisanya 8 TPS, kemudian ditambah 7 TPS yang pendobelan dan 72 TPS yang tidak di-PSU berjumlah 87, memang tidak memenuhi syarat atau tidak ada

(10)

pelanggaran yang mengakibatkan harus dilakukan pemungutan suara ulang.

Oleh karena itu, Yang Mulia, menurut hemat Termohon ketika Pemohon saat ini mendalilkan kembali bahwa ke 87 TPS itu memenuhi syarat ... harus dilakukan PSU, Termohon mendalilkan bahwa permohonan tersebut adalah nebis in idem oleh karena betul-betul sudah melalui pencermatan dan verifikasi dilembaga pengawas pemilihan.

Kemudian yang ketiga, Yang Mulia, eksepsi tentang permohonan atas pelanggaran TSM dan pelanggaran proses bukan kewenangan Mahkamah Konstitusi oleh karena setelah Termohon mencermati bahwa dalil-dalil permohonan Pemohon lebih mempersoalkan adanya pelanggaran proses, dan pelanggaran TSM, dan tidak ada dalil tentang kesalahan hasil perhitungan. Demikian pula dalam petitumnya para Pemohon tidak memohon untuk menetapkan perolehan suara yang benar.

Dengan demikan, Yang Mulia, maka eksepsi Termohon beralasan hukum dan oleh karenanya Termohon memohon kepada Yang Mulia Ketua Mahkamah Konstitusi, dalam hal ini Majelis Hakim memeriksa perkara ini untuk menjatuhkan putusan dismissal dengan menyatakan permohonan tidak dapat diterima.

Kemudian, Yang Mulia, menindaklanjuti saran dari Majelis pada persidangan yang lalu. Terdapat beberapa hal yang urgent untuk kami jawab. Diantaranya adalah delapan poin. Yang pertama berkaitan dengan pokok permohonan. Pertama, tentang 87 TPS yang tidak dilakukan pemungutan suara ulang ataupun rekomendasi tidak dijalankan oleh KPU. Hal ini sebenarnya sudah terjawab dalam eksepsi yang tadi sehingga kami mohon untuk tidak diulang lagi kembali sebagai jawaban dalam pokok permohonan.

Kemudian, Yang Mulia, yang kedua berkaitan dengan pembinaan dan penggantian ketua dan anggota KPPS. Kami ambil highlight dari jawaban Termohon di Perkara 58/PUU-XV/2017 halaman 11, poin 8, Yang Mulia, mengenai pemindahan dan pergantian ketua KPPS pada 9 TPS sehari sebelum pemungutan suara. Terhadap dalil tersebut sebenarnya tidak ada relevansinya dengan kepentingan kemenangan Pasangan Nomor Urut 2, memang benar ada pergantian 9 KPPS, namun pergantian tersebut adalah untuk menyesuaikan domisili KPPS dengan letak TPS dan berdasarkan klarifikasi kepada anggota PPS di 9 TPS tersebut pada pelaksanaan pemungutan suara ulang tidak ada keberatan dari saksi pasangan calon, dari panwas lapangan, dan pada saat pleno rekapitulasi di tingkat distrik tidak ada satu pun pasangan calon yang mengajukan keberatan.

Bahwa pembinaan ini ada Berita Acaranya sebagaimana lampiran dalam bukti T-78 dan T-79. Kemudian, Yang Mulia, dalil tentang perubahan ketua KPPS dan perubahan TPS ... lokasi TPS dan DPT adalah tidak benar. Oleh karena bahwa perlu Termohon tegaskan kembali,

(11)

untuk kelurahan Hinekombe hanya 9 KPPS yang berubah. Sedangkan untuk lokasi TPS, nomor TPS dan DPT di TPS tidak ada yang diganti. Dan pada saat pergantian KPPS sebagaimana Termohon kemukakan di awal, para KPPS yang tidak ... tidak keberatan dan tidak ada satu pun laporan pelanggaran yang masuk ataupun temuan dari panwas distrik mengenai hal tersebut.

Kemudian, Yang Mulia, selanjut mengenai undangan C6-KWK yang tidak sampai ke pasangan calon, kami ambil highlight dari halaman 13, jawaban perkara 58/PUU-XV/2017 di poin 10. Berkaitan dengan formulir model C6-KWK yang tidak sampai ke tangan pemilih, dengan ini Termohon bantah bahwa itu adalah tidak benar dan mengada-ada. Justru di dalam dalil-dalil permohonan terdapat dalil yang saling bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Pada dalil poin 16, Pemohon menyatakan bahwa KPPS TPS 25 hanya menerima SK pengangkatan, namun tidak menerima C-6. Namun, pada dalil poin 17 Pemohon menyatakan bahwa KPPS TPS 25 yang kemudian menjadi KPPS TPS 20 diminta menandatangani ulang C-6 TPS 20. Kedua dalil tersebut saling bertentangan satu sama lain. Di satu sisi menyatakan tidak pernah menerima 6, namun di sisi lain menyatakan menandatangani ulang C-6.

Kemudian selanjutnya, Yang Mulia, tentang tuduhan beberapa orang yang bukan KPPS menandatangani formulir C1-KWK dan lampiran Model C1-KWK, kami ambil highlight dari jawaban Termohon di angka 11 Perkara Nomor 58/PHP-BUP/XV/2017. Hal ini terjadi di Kelurahan Hinekombe sebagaimana ada tuduhan formulir Model C-1 ditandatangani oleh orang bukan petugas KPPS adalah tidak benar. Bahwa DPT di 11 TPS tersebut sejumlah 5.076 tidak signifikan antara selisih perolehan suara Pemohon dengan perolehan suara terbanyak.

Kemudian, Yang Mulia, yang juga penting perlu Termohon kemukakan, setelah Termohon klarifikasi ke PPS Hinekombe, PPS Hinekombe menyatakan bahwa di TPS 11 Tersebut terdapat beberapa nama anggota KPPS yang sesuai dengan SK KPPS tidak dapat hadir dalam pelaksanaan pemungutan suara ulang di TPS. Kemudian oleh ketua KPPS diusulkan untuk diganti dengan orang lain yang ada di TPS dan hal tersebut telah mendapat persetujuan dari saksi pasangan calon dan panwas lapangan.

Kemudian, pada saat sebelum pemungutan suara ulang dimulai, anggota KPPS yang ada dalam SK dan beberapa anggota KPPS pengganti sebelum melaksanakan tugas disumpah secara bersamaan. Alasan ketua KPPS mengganti anggota yang tidak hadir, supaya tidak kewalahan dalam melaksanakan proses pungut hitung suara dari tahapan pencoblosan sampai dengan rekapitulasi perhitungan suara karena dengan jumlah 5 pasangan calon, KPPS harus membuat 11 rangkap salinan formulir C1-KWK yang membutuhkan banyak personil

(12)

KPPS, dan apabila terdapat dua atau 3 anggota KPPS yang tidak hadir, maka jalannya proses rekapitulasi di tingkat TPS bisa tertunda.

Lagipula, Yang Mulia, Berdasarkan formulir C-1 yang ada pada 11 TPS dimaksud, sebagaimana kami lampirkan dalam bukti T-76, tidak ada keberatan dari saksi-saksi pasangan calon pada saat perhitungan suara di TPS. Demikian … dengan demikian, dalil Pemohon a quo tidak terbukti dan beralasan hukum untuk ditolak.

Selanjutnya, Yang Mulia. Berkaitan dengan soal TPS yang dibuka sampai pukul 17.00 WIT. Kami sampaikan highlight-nya dari jawaban poin 13, halaman 15, Perkara Nomor 58/PHP-BUP/XV/2017. Kejadian ini benar adanya, Yang Mulia, terjadi di TPS 01 Kampung Naira, Distrik Airu, yang selesai sampai dengan pukul 17.00 sore WIT. Terhadap kejadian ini, Termohon sampaikan kepada persidangan ini bahwa hal tersebut sudah Termohon klarifikasi pada saat pleno rekapitulasi tanggal 7 September 2017.

PPD, PPS, dan Panwas Distrik Airu menyatakan bahwa pelaksanaan pemungutan suara ulang sampai dengan pukul 17.00 WIT dikarenakan logistik pemilu memang baru … logistik pemilihan maksudnya, memang baru sampai ke TPS 01 Kampung Naira pada pukul 13.00 WIT. Meskipun telah … Termohon telah mengantisipasinya dengan memberangkatkan logistik 3 hari sebelum pemungutan suara karena terkendala medan yang mengharuskan jalan darat yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, untuk menuju TPS 01 Kampung Naira di Distrik Airu, harus melintasi Kota Jayapura dari Kabupaten melintasi Kota Jayapura menuju Kabupaten Kerong, kemudian naik sampan dari Kerong menuju Kampung Naira. Dari dermaga Kampung Naira menuju TPS 01 Kampung Naira, hanya ditempuh … hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki selama 3 jam.

Pada saat itu, Yang Mulia, KPPS sudah meminta persetujuan saksi pasangan calon calon yang hadir dan semua saksi dapat memakluminya, dan permasalahan tersebut sudah selesai pada saat pleno rekapitulasi di tingkat kabupaten. Namun sekarang, Pemohon kembali mempermasalahkan. Padahal kondisi tersebut pada saat itu juga sudah disetujui oleh Panwas Distrik Airu.

Selanjutnya, Yang Mulia, berkaitan dengan penandatanganan C-1 di 75 TPS oleh bukan KPPS, kami ambil highlight dari jawaban permohonan … jawaban Perkara Nomor 60 /PHP-BUP/XV/2017 di halaman 14, Yang Mulia.

Terhadap tuduhan dari Pemohon mengenai adanya penandatanganan C1-KWK di 75 TPS yang dilakukan oleh pihak yang bukan KPPS, menurut hemat Termohon, dalil tersebut adalah kabur. Kenapa? Oleh karena Pemohon tidak dapat menunjukkan ke-75 TPS yang dimaksud secara rinci dan siapa saja nama anggota KPPS yang berbeda.

(13)

Selain itu, Yang Mulia, perlu Termohon sampaikan bahwa terhadap permasalahan tersebut, Termohon telah mengklarifikasi dan menjawab kepada Bawaslu provinsi sebagaimana Surat Nomor 279 dan seterusnya, tertanggal 9 September 2017, perihal jawaban atas Surat Bawaslu tentang permintaan klarifikasi dugaan pelanggaran dokumen pada 75 TPS, sebagaimana bukti yang kami lampirkan dalam kode bukti T-72.

Yang berikutnya, Yang Mulia, berkaitan dengan pemalsuan C-1 pada hologram yang dituduh oleh Pemohon. Kami jawab dalam halaman 13 Perkara 6 ... Nomor 60/PHP-BUP/XV/2017, di mana Pemohon menyatakan bahwa ada pemalsuan dokumen C1-KWK pada hologram beserta lampirannya yang dilakukan oleh satu staf sekretariat KPU kabupaten. Hal ini Termohon bantah dan tolak dengan tegas tentang tuduhan tersebut.

Oleh karena faktanya, Yang Mulia, yang terjadi adalah Saudara Trida Asmuruf saat ini juga hadir di persidangan ini, Yang Mulia, ada di belakang. Sedang melakukan pengecekan pada setiap kotak untuk pengisian berita acara serah terima barang mengenai dokumen yang masuk ke Kantor KPU Kabupaten Jayapura yang disaksikan ... disaksikan oleh Ketua PPD dan pada saat mengecek logistik di Kampung Bangai terdapat satu formulir C1-KWK yang tidak berhologram. Dan setelah dicek ternyata terselip dalam kotak lainnya. Itu fakta yang terjadi, Yang Mulia. Kalaupun memang benar, quod non, pasti akan ada perbedaan antara C1-KWK yang dimiliki oleh Termohon dengan Pemohon karena adanya perbedaan perolehan suaranya dan tentunya Saksi Pemohon maupun saksi pasangan calon yang lain serta panwas lapangan akan mengajukan keberatan. Faktanya, Yang Mulia, sampai dengan Pleno Rekapitulasi Perhitungan Suara di tingkat kabupaten tidak terdapat keberatan dari saksi-saksi pasangan calon tentang permasalahan atas tuduhan perubahan hasil perolehan suara berdasarkan rekapitulasi formulir C1-KWK.

Kemudian yang terakhir, Yang Mulia, yang ke delapan, tentang pelanggaran penggantian kepala dinas perindagkop, sebagaimana kami ambil di-highlight jawaban dalam Perkara Nomor 59/PHP-BUP/XV/2017.

Di halaman 14, Yang Mulia, tentang pelanggaran dan kecurangan berupa pergantian kepala dinas perindagkop dengan SK Nomor 8212-9 tentang Pemberhentian dari Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama, tertanggal 23 Agustus 2017 dan Direktur Rumah Saksi Yowari yang melanggar Pasal 7 undang ... Pasal 71 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, dengan ini termohon sampaikan jawaban bahwa pertama, Termohon luruskan tentang waktu penerbitan SK bupati yang salah, bukan 23 Agustus, sebagaimana didalilkan Pemohon, akan tetapi SK tersebut per tanggal 29 Agustus 2017. Beberapa hari kemudian setelah penyelenggaraan pungut hitung dari hasil PSU selesai diselenggarakan tanggal 23 Agustus.

(14)

Dengan demikian, dalam konteks waktu kejadian terbitnya SK pemberhentian setelah penyelenggaraan pungut hitung dari hasil PSU selesai diselenggarakan, maka sesungguhnya tidak ada signifikansi atau pengaruhnya terhadap perolehan suara atau kemenangan pasangan calon tertentu. Terlebih Pemohon dalam dalil permohonannya tidak dapat menunjukkan kerugian yang dialami Pemohon dari peristiwa hukum dimaksud, sehingga sampai pada diperolehnya suara masing-masing pasangan calon dengan agregat, sebagaimana tabel di dalam halaman 15.

Selain itu, Yang Mulia, permasalahan dengan objek SK pemberhentian tersebut telah dilaporkan kepada Bawaslu Provinsi Papua dengan laporan Nomor 058 dan seterusnya. Dari hasil pemeriksaan terhadap pelapor dan terlapor, berdasarkan status laporan di Bawaslu Provinsi Papua tertanggal 11 September 2017, laporan tersebut dinyatakan tidak dapat ditindaklanjuti karena tidak memenuhi unsur Pasal 71 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016. Salah satu hasil pemeriksaan Bawaslu provinsi, menemukan fakta hukum bahwa peristiwa hukum yang dilaporkan tidak masuk kategori mutasi atau pergantian pejabat, tetapi hanya pemberhentian pejabat atas dasar adanya sanksi dari inspektorat.

Kemudian, Yang Mulia, berkaitan dengan terbitnya rekomendasi Bawaslu RI, bertanggal 20 September 2017, yang memerintahkan KPU RI agar KPU Provinsi Papua membatalkan bupati sebagai calon. Dengan ini Termohon sampaikan, pertama. Laporan atas objek yang sama, yang disampaikan kepada Bawaslu RI telah dilaporkan kepada Bawaslu provinsi sebagaimana uraian sebelumnya. Meskipun dengan pelapor yang berbeda, sehingga perkara di tingkat Bawaslu RI dimaksud seharusnya dinyatakan nebis in idem mengingat dalam sengketa administratif di lembaga pengawas tidak dengan ... tidak dikenal upaya banding administratif. Dengan putusan yang isinya berbeda dari lembaga yang sama, yakni pengawas pemilu telah menimbulkan ketidakpastian hukum, baik bagi peserta maupun penyelenggara pemilihan in casu Termohon. Sedangkan pelaporan dengan subjek pelapor yang berbeda hanyalah merupakan penyelundupan hukum agar laporan dimaksud memenuhi unsur tenggang waktu kedaluwarsa pelaporan tujuh hari sejak diketahui, padahal objek yang dilaporkan, nyata-nyata sama telah diadili oleh lembaga yang sama, yakni pengawas pemilihan.

Kedua, Yang Mulia, laporan yang disampaikan kepada Bawaslu RI bertanggal 15 September 2017 oleh Godlief Ohee, Calon Bupati Nomor Urut 3 ternyata pada empat hari sebelumnya, tepatnya 11 September 2017 oleh Saudara Godlief Ohee bersama pasangan wakil bupatinya atas nama Frans Gina selaku Pasangan Nomor Urut 3 telah terlebih dahulu didaftarkan sebagai perkara permohonan PHP ke Mahkamah Konstitusi yang kemudian diregister dalam Perkara Nomor 59/PHP-BUP/XV/2017.

(15)

Yang Mulia, dalam laporannya ke Bawaslu RI per tanggal 15 September 2017 tersebut terdapat fakta hukum yang dimanipulasi oleh pelapor atas nama Godlief Ohee yang mengaku di hadapan Bawaslu baru mengetahui peristiwa terbitnya SK pemberhentian pada tanggal 13 September, padahal dalam permohonan PHP yang didaftarkan ke Mahkamah tanggal 11 September, permasalahan pemberhentian pejabat telah dijadikan dalil dalam Legal Standing Pemohon angka 9 dan Pokok Permohonan angka 12. Dengan demikian, Yang Mulia, maka alasan-alasan pengaduan yang diajukan ke Bawaslu RI sebenarnya telah secara sadar diserahkan terlebih dahulu oleh pelapor sebagai perkara PHP Perselisihan Hasil Pemilihan kepada Mahkamah sehingga atas pilihan hukum Pemohon untuk memasukkan soal SK pemberhentian sebagai bagian dari materi keberatan di MK demi hukum tidak lagi menjadi wewenang Bawaslu RI untuk memeriksanya.

Kemudian yang ketiga, Yang Mulia, secara de facto hasil pemilihan serentak sudah ditetapkan dalam pleno terbuka oleh KPU Kabupatan Jayapura tanggal 7 September sehingga masyarakat Kabupaten Jayapura secara terbuka sudah mengetahui siapa bupati dan wakil bupati pilihan mereka. Bagi Termohon, dengan memperhatikan selisih perolehan suara yang di atas 50% setelah melalui koreksi dengan pemungutan suara ulang, maka pemilihan yang berjalan secara demokratis tersebut menjadi sangat ironis apabila harus dibatalkan hanya dengan bukti formil terjadinya pelanggaran administratif semata tanpa dapat dibuktikan lebih lanjut apakah dari pelanggaran tersebut ada signifikansi yang berdampak bagi kemenangan bupati incumbent dan juga berdampak bagi kekalahan Pemohon. Bahwa Termohon menghormati dan merespons rekomendasi Bawaslu RI yang telah disambungkan melalui KPU pada kemarin, 26 September 2017, dengan petunjuk agar terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan kajian terhadap objek permasalahan yang menjadi landasan terbitnya rekomendasi tersebut serta dengan mempertimbangkan fakta tentang penerbitan SK dimaksud sudah menjadi perkara di Mahkamah Konstitusi.

Oleh karena itu, Yang Mulia, dengan ini Termohon menyerahkan kepada Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa dan memutus dalil permohonan a quo tentunya dengan permohonan agar Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi mempertimbangkan faktor signifikansi atau pengaruh perolehan suara pasangan calon atas pemberhentian dua pejabat pasca selesainya pemilihan dan faktor sosio-yuridis dari pemilihan yang sudah selesai dan diketahui hasilnya oleh masyarakat Kabupaten Jayapura, di samping juga faktor kepastian hukum atas berkepanjangannya penyelenggaraan pemilihan serentak 2017 di Kabupaten Jayapura.

Atas dasar uraian dalil-dalil bantahan Termohon yang selengkapnya ada di jawaban masing-masing perkara, Yang Mulia. Terakhir dalam petitum, baik ... atas permohonan Nomor

(16)

58/PHP-BUP/XV/2017, 59/PHP-58/PHP-BUP/XV/2017, dan 60/PHP-58/PHP-BUP/XV/2017, petitumnya sama persis, Yang Mulia. Atas dasar dalil-dalil bantahan dan klarifikasi yang didukung alat bukti yang kuat dan tidak terbantahkan sebagaimana Termohon uraikan di atas, maka perkenankan Termohon memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk menjatuhkan putusan dengan amar sebagai berikut.

1. Melakukan putusan dismissal atas dasar permohonan yang tidak memenuhi legal standing atau kedudukan hukum, dalam eksepsi mengabulkan eksepsi Termohon.

2. Menyatakan permohonan tidak dapat diterima. Kemudian dalam pokok permohonan.

1. Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya.

2. Menyatakan benar dan tetap berlaku keputusan KPU Kabupaten Jayapura Nomor 71, dan seterusnya tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perhitungan Perolehan Pemungutan Suara Ulang dan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Jayapura tahun 2017, tanggal 7 September 2017, pukul 21.56 WIT.

3. Menetapkan perolehan suara hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Jayapura Tahun 2017 sebagai berikut.

a. Nomor Urut 1, nama pasangan calon dianggap dibacakan, perolehan suara=9.255.

b. Nomor Urut 2, perolehan suara=34.630. c. Nomor Urut 3, perolehan suara=2.078. d. Nomor Urut 4, perolehan suara=686. e. Nomor Urut 5, perolehan suara=11.582. Dengan jumlah suara sah=58.231.

Atau yang terakhir, Yang Mulia, apabila Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya. Demikian, Yang Mulia, highlight jawaban dari Termohon terhadap permohonan dalam Perkara Nomor 58, 59, dan 60/PHP-BUP/XV/2017.

15. KETUA: ASWANTO

Cukup?

16. KUASA HUKUM TERMOHON: HERU WIDODO

Cukup, Yang Mulia.

17. KETUA: ASWANTO

Baik, sebelum kami lakukan klarifikasi, ada beberapa hal nanti ya, yang mungkin kita perlu klarifikasi. Kita persilakan dulu Pihak Terkait untuk menyampaikan tanggapannya terhadap permohonan … tiga-tiganya ya? 1 Pihak Terkait saja, silakan.

(17)

18. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: TAUFIK BASARI

Terima kasih, Yang Mulia. Kami dari Pihak Terkait akan menyampaikan keterangan Pihak Terkait terhadap Perkara Nomor 58, 59, dan 60/PHP-BUP/XV/2017. Pertama-tama kami akan sampaikan untuk Perkara Nomor 58/PHP-BUP/XV/2017, poin-poinnya saja. Kami memulai dari halaman 4.

Bahwa di Kabupaten Jayapura jumlah penduduknya adalah 238.744 jiwa. Sehingga menurut ketentuan Pasal 158 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 termasuk dalam kategori ambang batas 2%. Jika kita melihat atau menghitung ambang batas 2% dari jumlah penduduk ini … maaf, dari suara sah, maka 2% dikali 58.231=1.164,62, dibulatkan menjadi 1.165. Oleh karena itulah maka ambang batas 2%-nya adalah 1.165.

Selanjutnya, Yang Mulia, kita masuk ke halaman 6. Selisih dari pasangan … maaf, selisih dari Pihak Terkait dengan Pemohon. Yaitu Pemohon Nomor Urut 5, maka dari 34.630 suara Pihak Terkait dikurangkan 1.582 suara dari Pemohon, maka terdapat angka 23.048. Persentasenya 23.048 dibagi 58.231 suara dikali 100%, angkanya adalah 39,58%. Dengan demikian, selisih antara Pemohon dengan Pihak Terkait, yaitu 2.348 suara atau 39,58% sangat jauh melebihi ambang batas syarat yang dimaksud oleh Pasal 158 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016. Karena itulah maka kami menyatakan bahwa Pemohon tidak memliki kedudukan hukum.

Untuk Eksepsi, kami juga mengajukan eksepsi terkait dengan obscuur libel atau permohonan Pemohon tidak jelas atau kabur karena dalam permohonan Pemohon tidak diuraikan kesalahan perhitungan sebagaimana yang diatur di dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi. Tidak ada juga kesalahan-kesalahan yang terkait dengan ... atau mempengaruhi secara signifikan perolehan suara. Karena kami melihat tidak adanya hal-hal yang terkait dengan perolehan suara, maka kami menganggap permohonan Pemohon tidak jelas, kabur, atau obscuur libel yang karenanya kami berharap Mahkamah menolak atau setidak-tidaknya tidak menerima permohonan Pemohon a quo.

Di samping itu, sebagaimana yang kita ketahui bahwa Mahkamah Konstitusi pun telah menegaskan posisi hukumnya bahwa Mahkamah hanya memeriksa dan mengadili terkait dengan perselisihan hasil pemilihan. Sementara hal-hal lain seperti pelanggaran kode etik, itu diserahkan kepada DKPP, pelanggaran adminsitratif diserahkan kepada Komisi Pemilihan Umum, sengketa antar peserta pemilihan diselesaikan melalui panitia pengawas pemilihan di setiap tingkatannya. Kemudian sengketa penetapan pasangan calon, mekanisme penyelesaiannya melalui peradilan tata usaha negara. Untuk tindak pidana pemilihan diselesaikan oleh lembaga penegak hukum melalui sentra Gakkumdu,

(18)

dan untuk perselisihan penetapan perolehan suara hasil penghitungan suara diperiksa dan diadili oleh Mahkamah Konstitusi. Untuk sementara sampai adanya badan peradilan khusus untuk itu. Demikian untuk eksepsinya, Yang Mulia. Sekarang kami masuk ke Pokok Permohonan.

Yang pertama-tama kami memulai dari halaman 11. Bahwa Pihak Terkait membantah dalil Pemohon yang menyatakan perintah PSU adalah akibat pelanggaran serius, namun di PSU terjadi lagi pelanggaran serius. Di dalam dalilnya, Pemohon mengkaitkan antara PSU dengan 2 kasus pidana yang telah diputus oleh pengadilan negeri. Kami memberikan bantahan sebagai berikut.

Bahwa keputusan PSU yang awalnya di 236 TPS, di 17 distrik, yang saat itu oleh Panwaslu Kabupaten Jayapura telah diberikan rekomendasinya, lalu setelah dilakukan beberapa pencermatan, akhirnya menjadi 361 TPS adalah karena satu faktor yaitu ada nama yang berbeda antara form model C1-KWK dengan SK KPU Kabupaten Jayapura tentang Pengangkatan KPPS. Selain dari faktor tersebut, tidak ada faktor lain yang menjadi alasan PSU.

Bahwa terjadinya tindak pidana atas nama Hano Satria Sahrianto, bukan terkait dengan politik uang seperti didalilkan Pemohon, melainkan terkait dikuasainya 129 lembar form C-6 yang diberikan oleh seseorang bernama Hilman pada hari pemungutan suara tanggal 15 Februari 2017. Jadi, pada pemungutan suara yang lalu, bukan pada saat PSU.

Kemudian, hendak dibagikan kepada orang-orang dan saat itu langsung ditangkap. Ini kami hadirkan bukti Putusan PN Jayapura Nomor 101/Pidsus, dan seterusnya.

Bahwa dalam pertimbangan hukum di putusan PN tersebut, tidak ada soal politik uang dan tidak ada sama sekali keterkaitan dengan Pasangan Calon Nomor Urut 2 (Pihak Terkait). Kasus tersebut murni merupakan tindakan pribadi dan tanggung jawab pribadi yang bersangkutan. Pihak Terkait menyesalkan kejadian tersebut dan mendukung proses penegakan hukum kepada yang bersangkutan. Dan kasus ini juga bukan merupakan alasan dilakukannya PSU, melainkan murni tindak pidana pemilu dan telah selesai dengan vonis pengadilan.

Kasus kedua, yang disampaikan oleh Pemohon adalah kasus yang terkait dengan kepala distrik dan ini pun juga bukan alasan keputusan untuk melakukan PSU. Kasus ini sendiri terjadi karena para kepala distrik tersebut membuat satu Surat Nomor 06, tertanggal 3 Maret 2017, perihal Pernyataan Sikap dalam bentuk rekomendasi asosiasi kepala distrik yang ditujukan kepada ketua DKPP di Jayapura, ditembuskan kepada beberapa pihak, seperti Menteri Dalam Negeri, Ketua KPU RI, Ketua Bawaslu RI, DKPP di Jakarta, dan seterusnya, termasuk juga kapolres dan kejaksaan.

Oleh PN Jayapura, tindakan membuat surat ini dianggap sebagai tindakan bersama yang dilakukan untuk kepentingan salah satu pasangan calon. Sikap yang mereka sampaikan saat itu, yakni menolak

(19)

keputusan PSU. Karena menurut pendapat mereka, selama pemungutan suara pada tanggal 15 Februari 2017 berjalan lancar, dan aman, serta tidak ada kejadian khusus yang dapat dijadikan alasan PSU. Namun atas perbuatan mereka membuat surat tersebut, pengadilan negeri memvonis para kepala distrik dengan hukuman percobaan enam bulan. Yang jika dalam masa percobaan melakukan tindak pidana akan menjalani pidana tiga bulan.

Yang Mulia, di dalam putusan PN Jayapura tersebut tidak ada fakta hukum yang menunjukkan keterkaitan dengan Pasangan Nomor Urut 2, tidak ada instruksi dari bupati, dan murni merupakan perbuatan pribadi masing-masing dengan tanggung jawabnya masing-masing. Kasus ini juga bukan menjadi alasan dilakukannya PSU karena terjadi setelah panwaslu mengeluarkan rekomendasi PSU.

Kemudian, Yang Mulia, kami juga membantah dalil Pemohon pada angka 3, halaman 9. Dimana Pemohon kembali menuduh Pihak Terkait melakukan pelanggaran dalam bentuk dan cara yang lain. Kami mencatat bahwa Pemohon tidak mengungkapkan secara jelas dan rinci mengenai berbagai pelanggaran apa saja yang dimaksud oleh Pemohon sebagai bentuk dan cara lain tersebut? Oleh karena itulah, maka kami mohon agar dalil tersebut pun juga harus dikesampingkan.

Kemudian, terkait dengan dalil Pemohon yang mempertanyakan, mengapa 87 TPS tidak dilakukan PSU? Perlu Pihak Terkait sampaikan fakta-fakta sebagai berikut.

Yang pertama, Yang Mulia, awalnya Panwaslu Kabupaten Jayapura melakukan rekomendasi tanggal 23 Februari 2017 untuk dilakukan pemungutan suara ulang sekurang-kurangnya sebanyak 236 TPS. Namun selanjutnya, terdapat informasi yang semua sudah kita ketahui. Seluruh pasangan calon mengetahui bagaimana proses ini terjadi, yakni dari 236 TPS yang direkomendasikan untuk dilakukan PSU tersebut, setelah dilakukan pencermatan kembali, ternyata terdapat tujuh TPS yang ditulis secara ganda sehingga 236 TPS yang awalnya direkomendasikan ditambah … dikurangkan tujuh yang memang tertulis ganda, hasilnya menjadi 229 TPS. Hal ini sudah disosialisasikan dan semua pasangan calon pun juga sama-sama tahu.

Setelah itu, Yang Mulia, dari 229 TPS ini perlu kita catat bahwa terjadi karena 308 TPS yang ada di 17 distrik dicermati oleh panwas kabupaten. Dari 19 distrik, ada 17 distrik yang dicermati dengan jumlah di 17 distrik itu adalah 308 TPS. Sementara di dua distrik, Distrik Kaureh dan Namblong, totalnya terdapat 40 TPS yang belum … saat itu belum diperiksa oleh panwas kabupaten sehingga 229 TPS itu ada di 17 distrik.

Setelah itu, ada rekomendasi untuk juga melakukan pencermatan terhadap TPS-TPS yang ada di dua distrik, yaitu Distrik Kaureh dan Distrik Namblong dengan jumlah 40 TPS. Setelah dilakukan pencermatan terhadap 40 TPS itu, dari 40 TPS ditemukan 32 persoalan yang sama,

(20)

yakni nama yang berbeda. Sementara, delapan yang lainnya itu klir dinyatakan tidak ada masalah sama sekali.

Oleh karena itulah, maka dari 229 ditambah dengan 32, maka ditemukanlah angka 261 sebagaimana yang kemudian sudah dilakukan PSU dan hasilnya sudah ditetapkan pada saat ini.

Terhadap pertanyaan, mengapa 87 TPS tidak dilakukan PSU? Karena dari 308 di 17 distrik, setelah dikurangkan 229, maka terdapat 7-10-9 [sic!] TPS di 17 distrik tidak ditemukan masalah.

Setelah 17 dis … 79 di 17 distrik ini tidak ditemukan masalah, kemudian dilakukan pencermatan terhadap 40 TPS di 2 distrik, ada sisa 8 TPS yang tidak dinya … yang dinyatakan tidak bermasalah. 79 ditambah 8 akhirnya ditemukanlah angka 87.

Yang Mulia, semua hal ini telah diberitahukan disan … dan diso … disosialisasikan kepada seluruh … seluruh pasangan calon sehingga semestinya kita semua mengetahui bahwa proses dari awalnya rekomendasi 236 sehingga akhirnya menjadi 261 itu melalui suatu proses yang panjang dan diketahui oleh seluruh pihak.

Selanjutnya, Yang Mulia, kami juga menerangkan bahwa Pihak Terkait juga melapor … awalnya sebenarnya melaporkan dugaan pelanggaran etik ke DKPP terhadap rekomendasi Panwaslu Kabupaten Jayapura yang mengeluarkan rekomendasi PSU untuk di 236 TPS. Kenapa kami ajukan atau laporkan ke DKPP? Karena setelah kami cross-check dengan semua data-data yang ada sebenarnya yang menjadi masalah yang menjadi alasan untuk dilakukan PSU menurut Pihak Terkait itu tidak signifikan. Kenapa? Karena hanya ada perbedaan namanya yang tertulis di C-1 dengan SK KPPS.

Setelah kami tanyakan kepada orang-orang di TPS yang memiliki perbedaan nama, perbedaan nama tersebut terjadi tidak berpola, ya, di antaranya … misalnya ada orang yang tidak hadir karena sakit atau ada juga yang tidak hadir pada saat itu sehingga digantikan pada saat itu. Ada juga yang karena sudah menjadi tim sukses dari pasangan calon manapun kemudian digantikan pada saat itu.

Kemudian ada juga yang hanya karena yang bersangkutan menulis nama panggilan bukan nama aslinya. Contohnya, Yang Mulia, seperti saya Taufik Basari, saya menjadi KPPS, saya tulis Tobas. Itu pun juga menjadi masalah, padahal saya sendiri yang hadir di situ sebagai KPPS.

Lalu, ada juga yang karena namanya disingkat, saya Taufik Basari ditulis T. Basari, itu pun juga dianggap bermasalah. Kemudian ada juga karena penulisan urutan yang berbeda dan sebagainya.

Ketika itu kami menganggap bahwa sebenarnya tidak perlu atau ti … tidak cukup alasan untuk dilakukan PSU. Kami ajukan ke DKPP, namun karena putusan DKPP akhirnya tetap meligitimasi PSU itu kami Pihak Terkait menghormatinya dan siap menghadapi PSU tersebut. Itu yang

(21)

ingin kami sampaikan sebagai catatan bahwa ketika kita sudah melewati suatu proses, kita harus menghormatinya.

Kemudian, Yang Mulia, terkait dengan bantahan atas dalil Pemohon tentang pemindahan dan pergantian Ketua KPPS pada 9 TPS sehari sebelum PSU, di Halaman 15, Keterangan Pihak Terkait ini.

Kami menyatakan bahwa jikapun itu terjadi sama sekali tidak ada kaitan dengan kepentingan kemenangan Pihak Terkait untuk menghancurkan perolehan suara basis-basis pemilih yang merupakan basis pemilih dari Pemohon.

Kami Pihak Terkait sama sekali tidak mengetahui kejadian yang dimaksud dalam dalil-dalil Pemohon tersebut. Dan itu menjadi kewenangan Termohon untuk menjawabnya. Tetapi, faktanya, Yang Mulia, di TPS-TPS yang disebutkan oleh Pemohon sama sekali tidak ada keberatan, tidak ada pula laporan Pemohon atau pasangan calon lain kepada Bawaslu Provinsi Papua terkait adanya dugaan pelanggaran sebagaimana dimaksud Pemohon. Tidak ada pula kejadian-kejadian khusus selama pemungutan suara di TPS-TPS tersebut, apalagi yang dapat mempengaruhi perolehan suara.

Kemudian kami memberikan bantahan atas dalil Pemohon mengenai partisipasi rakyat yang menurun, yang dikatakan oleh Pemohon akibat kerja-kerja penyelenggara yang tidak netral.

Bahwa kami ingin meluruskan atau mengoreksi hasil hitungan dari Pemohon dimana Pemohon menyebutkan partisipasi untuk PSU Pilkada Jayapura adalah 33%. Setelah kami hitung kembali dengan rumus, jumlah pengguna hak pilih, yaitu suara sah dan suara tidak sah dibagi dengan DPT PSU dikali 100%, yaitu 39.204 jumlah pengguna hak pilih dibagi 86.495 DPT PSU dikali 100%, maka angkanya adalah 45,11%, bukan 33%.

Jika kita lihat dan kita bandingkan dengan beberapa pilkada lainnya, ternyata 45,11% ini masih dalam batas yang normal. Ya, apalagi kalau kita lihat sebagai contoh di Pilkada Walikota Medan tahun 2015, misalnya partisa … pastisipasi hanya 27%. Dan kenyataannya pula tidak ada korelasi antara tingkat partisipasi pemilih dalam proses pemilihan suara ulang terhadap hasil perolehan suara sehingga tidak mempengaruhi pula keabsahan hasil PSU.

Selanjutnya, Yang Mulia, terkait bantahan Pihak Terkait atas dalil Pemohon tentang dua hari menjelang pelaksanaan PSU, calon bupati petahana melantik lima kelap … kepala kampung. Terhadap dalil tersebut, kami akan bantah tanggapi sebagai berikut.

Yang pertama kami nyatakan bahwa dalil pemohon keliru karena yang terjadi bukanlah pelantikan kepala kampung, melainkan pelantikan pejabat pelaksana pembentukan kampung persiapan, pemekaran kampung, Yang Mulia. Ada dasar hukumnya, ada 2, yaitu Peraturan Bupati Nomor 36 Tahun 2013 tentang Pembentukan Kampung Persiapan Kehiran, Mawake, Khehiyo, Huasesai, Velafao Distrik Sentani Kabupaten

(22)

Jayapura dan Peraturan Bupati Nomor 37 Tahun 2014 tentang Pembentukan Kampung Persiapan Wabhoukhombe. Proses Kampung Persiapan ini telah dipersiapkan secara administrastif sejak lama disertai kajian-kajian jauh sebelum pilkada. Yang dilantik adalah pejabat dari Distrik Sentani untuk menjalankan tugas-tugas pemekaran kampung dan mempersiapkan kampung baru pemekaran dari kampung induk.

Sebagai catatan juga, Yang Mulia, pelantikan 5 pejabat pelaksana kampung ini dilaksanakan di satu tempat, yakni kampung Induk Ifale yang akan dimekarkan dengan Kampung Persiapan yang bernama Kehiran. Kami juga membantah bahwa kegiatan ini tidak ada kaitannya dengan pelaksanaan PSU pilkada Kabupaten Jayapura dan dalam kegiatan tersebut tidak ada mengarahkan masyarakat pemilih menjelang pemungutan suara ulang pilkada Kabupaten Jayapura dan ketika kami cek C-1 di Kampung Ifale tempat pelantikan ini dilakukan ternyata pemenangnya untuk di TPS di Kampung Ifale itu Pemohon sendiri, Pihak Terkait mendapatkan 109 suara sedangkan Pemohon mendapatkan 137 suara. Oleh karena itu, kami membantah dalil Pemohon tersebut.

Yang selanjutnya, Yang Mulia. Kami membantah atas dalil pemohon tentang pelibatan pimpinan SKPD kepala distrik, kepala kampung dan ketua RT yang menurut pemohon merupakan pelanggaran serius dan harus didiskualifikasi.

Yang pertama-tama kami akan tanggapi terkait dengan dalil Pemohon mengenai pemberhentian Pieter Yom, Kepala Dinas Pendustrian dan Perdagangan yang menurut pemohon karena di dearah tempat tinggalnya Pieter Yom, Pihak Terkait kalah dan tindakan ini melanggar aturan. Kami jelaskan sebagai berikut, Yang Mulia.

Bahwa Saudara Pieter Yom pernah diberhentikan pada tanggal 29 September 2017 melalui SK Bupati Jayapura Nomor SK 821 dan seterusnya, sebagai bentuk hukuman disiplin berat karena melakukan pelanggaran disiplin Pegawai Negeri Sipil, yakni menyalahgunakan wewenang, menerima hadiah, atau suatu pemberian apa saja dari siapapun yang berhubungan dengan jabatan atau pekerjaannya yang juga berindikasi tindak pidana korupsi.

Kami lampirkan bukti bahwa yang bersangkutan memang tercatat melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, di antaranya meminta sejumlah uang kepada para pihak ketiga berkaitan dengan paket-paket pekerjaan di Dinas Perindag. Ada bukti juga dari berita pemecata ... acara pemeriksaan dan pengaduan oleh para pihak ketiga yang melaporkan. Kemudian, melakukan pemungutan liar pada pedagang terkait penempatan los-los pasar padahal ... kami tambahkan sedikit, Yang Mulia, pasar ini menjadi perhatian presiden dan selalu ditanyakan pada presiden perkembangan pengembangannya.

Kemudian tidak melaksanakan kewajibannya, yakni sebagai kepala SMA YPK 2 Sentani. Jadi yang bersangkutan juga menjabat sebagai kepala SMA yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Tapi, ketika

(23)

menjadi kepala SMA tersebut juga tidak menerbitkan ijazah pada para siswa dan dari bukti-bukti banyak siswa yang menuntut untuk segera diberikan ijazah. Serta tidak mempunyai atau tidak memenuhi syarat jabatan, tidak menunjukkan kinerja yang baik dalam pelaksanaan tugas. Termasuk juga pengelolaan pasar para yang tidak optimal serta 3 pasar lainnya yang dibangun dari APBN TA 2014-2015 yang tidak operasional hingga saat ini. Dan seterusnya yang kami sampaikan di dalam baik dalam keterangan Pihak Terkait maupun dalam bukti yang kami berikan tanda bukti PT-7.

Bahwa karena perbuatan-perbuatan Pieter Yom ini telah meresahkan masyarakat dan menurunkan wibawa pemerintah daerah serta terdapat desakan dari masyarakat agar segera diambil tindakan tegas, maka bupati melakukan kewajiban hukumnya.

Alasan pengenaan hukuman disiplin me, me ... berupa pemberhentian telah melalui proses mekanisme kepegawaian sebagaimana mestinya. Dan yang paling terpenting, Yang Mulia, tidak ada unsur politis bahkan proses pengaduan dan laporan-laporan terhadapnya telah ada sebelum pungutan suara dilakukan sehingga pengaduannya sudah sejak lama juga ada. Dan juga dalil pemohon yang menyatakan pemberhentian Pieter Yom adalah karena di daerah tempat tinggalnya Pihak Terkait kalah adalah dalil yang tidak benar dan tidak sesuai dengan fakta.

Yang Mulia, kami perlu jelaskan bahwa pada saat ini keputusan yang memberikan hukuman disiplin berat berupa pemberhentian kepada Pieter Yom setelah dikaji ulang dan dilakukan perbaikan terkait kategori hukuman dari hukuman disiplin berat menjadi hukuman disiplin sidak ... sedang, maka surat keputusan pemberhentian saudara Pieter Yom telah dicabut dan hukuman disiplin yang diberikan diperbaiki menjadi hukuman disiplin sedang berupa penundaan kenaikan gaji secara berkala 1 tahun. Kami lampirkan keputusan pencabutan tersebut dan pergantian atau perbaikan terhadap hukuman ketegori hukuman tersebut di dalam bukti PT-8.

Selanjutnya bahwa terhadap persoalan ini sebenarnya anggota tim sukses Pasangan Calon Nomor Urut 1 bernama Frangkle Ewahey pernah melaporkan kepada Bawaslu Provinsi Papua melalui laporan Nomor 62 Tahun 2017 dan telah diputuskan Bawaslu Provinsi Papua bahwa laporan tidak dapat ditindaklanjuti karena tidak cukup bukti dengan alasan-alasan yang juga termuat di dalam laporan perkembangan perkara tersebut.

Setelah itu, meskipun telah lewat waktu dan pernah diputus sebelumnya oleh Bawaslu Provinsi Papua, namun Bawaslu RI menerima kembali laporan Nomor 24 Tahun 2017 dengan pelapor atas nama Godlief Ohee, Calon Bupati Pasangan Calon Nomor Urut 3, pada tanggal 15 September 2015. Kemudian Bawalu RI memanggil calon bupati dari Pihak Terkait, Mathius Oitiow ... Awitauw untuk memberikan keterangan

(24)

pada tanggal 19 September 2017. Esoknya tanggal 20 September 2017 Bawaslu RI mengeluarkan rekomendasi pembatalan sebagai calon bupati atas nama Mathius Awitauw.

Pada tanggal 22 September 2017 sebagaimana kami sampaikan, Bupati Jayapura mengeluarkan SK pencabutan keputusan tentang pemberhentian jabatan tersebut. Alasannya, alasan dicabutnya SK pemberhentian tersebut karena meskipun dari segi proses dan mekanisme pemberian sanksi telah benar dan tidak terdapat kekeliriuan, namun setelah mengkaji kembali terhadap SK ... SK pemberhentian tersebut perlu diperbaiki dalam hal kategori level pemberian sanksi. Dari pemberian hukuman disiplin dengan kategori berat, untuk Pieter Yom diperbaiki menjadi hukuman disiplin sedang.

Selanjutnya, Yang Mulia, terhadap rekomendasi Bawaslu RI tersebut Pihak Terkait telah mengajukan keberatan dan mohon peninjauan kembali melalui surat Nomor 05 dan seterusnya tertanggal 25 September, perihal keberatan atas rekomendasi Bawaslu RI dan permohonan peninjauan kembali yang ... surat tersebut diterima Bawaslu RI pada hari Senin, tanggal 25 September 2017, kami lampirkan sebagai bukti PT-11 beserta tanda terima suratnya.

Kemudian, pada tanggal 26 September 2017, Pihak Terkait mengajukan surat keberatan terhadap rekomendasi Bawaslu RI tersebut dan mohon pencermatan mendalam kepada KPU RI. Surat ini juga telah diterima oleh KPU RI pada tanggal 26 September 2017 yang kami berikan bukti dengan nomor PT-12. Dalam surat kami ke KPU RI kami lampirkan, yaitu surat keputusan tentang pencabutan SK pemberhentian yang terdahulu. Kemudian, bukti-bukti pelanggaran disiplin pegawai atas nama Saudara Pieter Yom, Jimmy Ernes, dan Michael Demetouw yang dalam kesempatan diperiksa di Bawaslu RI. Bukti-bukti ini belum pernah disampaikan kepada Bawaslu RI. Yang Mulia, terhadap rekomendasi Bawaslu RI tersebut Pihak Terkait menganggap terdapat cacat prosedur dan cacat materil yang pada intinya sebagai berikut.

Pertama, cacat prosedural. Bahwa rekomendasi Bawaslu RI tersebut mencederai suara rakyat yang telah diberikan. Rekomendasi tersebut dikeluarkan pada tanggal 20 September 2017, yakni setelah KPU Provinsi Papua, selaku KPU Kabupaten Jayapura menetapkan hasil penghitungan suara pada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Jayapura yaitu pada tanggal 7 September 2017. Hasil pilkadanya menunjukkan keunggulan yang sangat jauh dibandingkan semua pasangan calon. Hal ini menunjukkan bahwa rakyat Kabupaten Jayapura memang menginginkan Mathius Awitauw untuk memimpin kembali Kabupaten Jayapura. Dan hasil perolehan suara ini pun diperoleh dengan cara demokratis. Bahwa suara yang telah diberikan rakyat harus dihormati dan tidak boleh dikhianati.

Oleh karena itulah, maka rekomendasi diskualifikasi oleh Bawaslu RI yang dikeluarkan setelah proses pemilihan selesai dan setelah

(25)

ditetapkan hasilnya dengan alasan pelanggaran administrasi yang dilakukan calon yang merupakan petahana merupakan rekomendasi yang tidak tepat dan cacat prosedur karena tidak mempertimbangkan seluruh aspek secara komprehensif termasuk dalam hal penghormatan terhadap suara yang telah diberikan rakyat.

Yang kedua, bahwa Bawaslu RI menerima dan memproses laporan yang telah lewat waktu. Bawaslu RI menerima laporan yang diajukan oleh pasangan calon Godlief Ohee pada tanggal 15 September 2017, yakni 17 hari setelah SK pemberhentian dikeluarkan, yaitu pada tanggal 29 Agustus atau 10 hari setelah masyarakat mengetahui bahwa SK pemberhentian dilaporkan ke Bawaslu provinsi, dilaporkan ke Bawaslu provinsi adalah pada tanggal 5 September 2017, atau juga kalau mau pakai perhitungan yang lain 10 hari setelah Bawaslu mengetahui adanya temuan dugaan pelanggaran yang ditandai dengan masuknya laporan ke Bawaslu Provinsi Papua karena Bawaslu provinsi dan Bawaslu RI adalah satu badan.

Tanggal 5 September masuk ke Bawaslu provinsi, berarti sebenarnya ditemukannya dugaan pelanggaran sudah diketahui atau ditemukan sejak tanggal 5 September. Namun 10 hari keumudian diterima lagi laporannya. Menurut Pasal 134 ayat (4) Undang-Undang Tahun 2016 laporan pelanggaran pemilihan disampaikan paling lama tujuh hari sejak diketahui dan/atau ditemukannya pelanggaran pemilihan.

Yang kemudian ... kemudian, Yang Mulia, Bawaslu ... yang ketiga, Bawaslu RI memeriksa laporan yang sama yang sebelumnya telah diajukan dan diputuskan pada tanggal 11 September 2017 oleh Bawaslu Provinsi Papua ... Provinsi Jayapura ... maaf, Provinsi Papua, kami renvoi halaman 23, Yang Mulia. Tertulis Jayapura, harusnya Provinsi Papua. Terkait laporan Nomor 62, tanggal 5 September 2017. Bahwa laporan Nomor 62 pada tanggal 5 September pada Bawaslu provinsi memiliki materi yang sama dengan laporan Nomor 24, tertanggal 15 September 2017 ke Bawaslu RI, yakni laporan atas dugaan pelanggaran 71 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 terkait keputusan pemberhentian pejabat oleh Bupati Jayapura. Jika cara penanganan seperti ini dibiarkan, maka akan menjadi preseden buruk dan timbul ketidakpastian hukum. Setiap laporan atau pengaduan ke panwaslu kabupaten/kota maupun ke Bawaslu provinsi dan telah dinyatakan tidak dapat ditindaklanjuti akan selalu terbuka untuk dilaporkan kembali ke Bawaslu RI.

Yang keempat. Bahwa Calon Bupati Pasangan Calon Nomor Urut 2 Mathius Awitauw, tidak memiliki kesempatan untuk membela diri yang cukup. Terlapor, yaitu Calon Bupati Mathius Awitauw dipanggil untuk dimintakan klarifikasi Bawaslu RI satu kali pada tanggal 19 September. Pemeriksaan dilakukan satu arah, tidak ada kesempatan untuk menguji bahan atau bukti lain yang dimiliki atau diperoleh Bawaslu RI sehingga jawaban terlapor, yakni Pihak Terkait sebatas hanya menjawab

(26)

pertanyaan yang diajukan oleh Bawaslu RI. Sementara sanksinya kita ketahui dari Pasal 71 ini adalah sanksi yang sangat berat berupa pembatalan sebagai calon. Tidak terdapat pendalaman berupa latar belakang peristiwa, penggalian, dan penelusuran atas bukti-bukti yang diberikan. Namun keesokan harinya tanggal 20 September, Bawaslu RI langsung mengeluarkan rekomendasinya. Padahal jika saja Bawaslu RI melakukan penelusuran atas fakta-fakta dan bukti yang ada, dan diberikan kesempatan untuk menambahkan bukti, kami meyakini Bawaslu RI tidak akan sampai pada rekomendasi seperti itu.

Berikutnya, kami juga mencatat adanya cacat materiil terhadap rekomendasi Bawaslu RI, dengan alasan sebagai berikut. Bahwa (...)

19. KETUA: ASWANTO

Untuk hal itu, saya kira kita sudah paham.

20. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: TAUFIK BASARI

Baik, terima kasih, Yang Mulia, kami akan persingkat.

21. KETUA: ASWANTO

Ya, dipersingkat, ya.

22. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: TAUFIK BASARI

Terima kasih, Yang Mulia. Jadi, selain cacat prosedur juga ada cacat materiil yang kami tidak sampaikan dan kami anggap dibacakan. Namun ada satu hal, Yang Mulia, sedikit saja terkait dengan cacat materiil. Bahwa menurut Pihak Terkait ... satu saja, Yang Mulia. Karena rekomendasi ini menggunakan Pasal 71 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 yang dijadikan alasan untuk mengeluarkan rekomendasi, maka menurut Pihak Terkait pasal tersebut tidak berdiri sendiri dan harus dibaca secara utuh keseluruhan pasal dan ayat serta makna dan norma yang terkandung dalam Pasal 71 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016.

Apabila keseluruhan materi pasal tersebut ... ada pada halaman 28, Yang Mulia, apabila keseluruhan materi pasal tersebut di atas dibaca secara utuh, maka dapat terlihat jelas bahwa maksud adanya norma pasal tersebut terdapat pada Pasal 71 ayat (1) nomor ... Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, yakni pejabat negara dilarang membuat keputusan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon. Kemudian Pasal 71 ayat (2) dan ayat (3) menguraikan seperti apa bentuk dari keputusan yang menguntungkan atau merugikan pasangan calon.

(27)

Oleh karena itu, dalam hal mempergunakan Pasal 71 ayat (2) untuk mempertimbangkan dan menyimpulkan suatu pelanggaran, maka unsur menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon juga harus dikaji. Hal ini penting agar tidak terdapat kekeliruan administrasi yang tidak didasarkan pada kehendak jahat terkait pelaksanaan pilkada yang dapat merusak demokrasi tidak serta-merta mendapatkan sanksi yang sangat berat hingga berupa diskualifikasi sebagai pasangan calon. Terkait dengan dalil yang lain, Yang Mulia. Kami anggap dibacakan, keterangan Pihak Terkait yang terakhir.

23. KETUA: ASWANTO

Ya, yang (...)

24. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: TAUFIK BASARI

Terakhir, Yang Mulia.

25. KETUA: ASWANTO

Ya.

26. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: TAUFIK BASARI

Bagian pada halaman yang terakhir. Bahwa terkait dengan petitum Pemohon. Sehubungan dengan adanya permintaan untuk melakukan diskualifikasi, menurut Pihak Terkait petitum tersebut bukanlah kewenangan Mahkamah Konstitusi karena selama ini Mahkamah Konstitusi setelah atau sejak dari pilkada 2015 telah menegaskan posisi hukumnya menjalankan kewenangan tidak lagi berdasarkan atau dikaitkan dengan kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Tahun 1945, melainkan kewenangan berdasarkan undang-undang dan itu sifatnya sementara sampai ada peradilan khusus.

Oleh karena itulah, di dalam beberapa putusan-putusan Mahkamah Konstitusi juga sudah dijelaskan, Mahkamah Konstitusi secara konsisten menyatakan tidak akan memperluas kewenangannya, jadi hanya menguji atau memeriksa terkait dengan perselisihan hasil pemilu.

Oleh karena itulah, maka sejauh ini kami tidak melihat adanya kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk mengikuti atau melakukan diskualifikasi sejak pilkada tidak lagi menjadi rezim pemilu.

Petitum. Dalam eksepsi. Menerima dan mengabulkan eksepsi Pihak Terkait. Menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima.

(28)

Dalam pokok permohonan. Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya. Atau apabila Mahkamah berpendapat lain, mohon putusan seadil-adilnya menurut hukum.

Untuk permohonan Nomor 59/PHP.BUP-XV/2017 dan

60/PHP.BUP-XV/2017 pada prinsipnya sama, Yang Mulia. Jadi, kami tidak akan uraikan secara mendalam, kami hanya highlight sedikit saja yang berbeda dengan permohonan antara satu permohonan dengan permohonan lainnya. Yang pertama permohonan untuk 59/PHP.BUP-XV/2017, highlight kami hanya sedikit, yakni terkait dengan untuk ... maaf, terkait dengan dalil Pemohon mengenai pernyataan bupati yang dikatakan tidak mau memberikan anggaran untuk PSU. Perlu kami luruskan dan kami jelaskan bahwa ketika itu bupati dalam hal menurunkan anggaran dana hibah untuk PSU juga harus melalui prosedur dan mekanisme dan melakukan koordinasi dan persetujuan dulu terhadap kepada DPRD Kabupaten Jayapura.

Oleh karena belum jelasnya jumlah TPS yang akan dilakukan oleh ... dilakukan pemungutan suara sedangkan proses yang berjalan waktu itu ada perubahan dari 236 ke 229 dan seterusnya, maka saat itu belum bisa diberikan anggarannya karena menunggu kejelasan dari jumlah TPS dan landasan hukum dilakukannya PSU setelah putusan DKPP tanggal 8 Juni 2017 dan sudah ada kepastian hukum dan kemudian dana tersebut juga sudah bisa dikeluarkan karena sudah ada kejelasan mengenai jumlah TPS-nya juga. Itu untuk 59/PHP.BUP-XV/2017, Yang Mulia.

Untuk yang 50, kami akan highlight satu saja di halaman 11 mengenai tuduhan atau dalil Pemohon bahwa pelaksanaan PSU di 261 TPS tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Yang pertama, kami ingin katakan terhadap masalah ini telah dilakukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura oleh Pemohon dan telah diputus hasilnya gugatan tidak dapat diterima.

Kemudian, Pemohon juga telah melaporkan hal ini ke Bawaslu Provinsi Papua dan telah ada putusan musyawarah Bawaslu berdasarkan putusan sengketa Nomor 01 Tahun 2017 dan dinyatakan ditolak, kami sampaikan dalam bukti PT-83 dan PT-84.

Kemudian juga terhadap dalil Pemohon yang mengatakan bahwa pelaksanaan PSU di 261 tidak sah karena melewati tenggang waktu berdasarkan undang-undang, kami ingin sampaikan sebagai berikut.

Bahwa meskipun dalil ini tidak menjadi ranahnya Pihak Terkait, tapi Pihak Terkait ingin menyampaikan bahwa justru alasan yang dijadikan dalil Pemohon inilah yang dahulu didalilkan oleh Pihak Terkait dalam laporan ke DKPP, padahal saat itu Pemohon berada dalam posisi mendukung dan mendesak agar dilakukan PSU meskipun telah lewat waktu. Sikap Pemohon tersebut Pemohon ambil karena Pemohon kalah dalam pemungutan suara tanggal 15 Februari 2017 dan menghendaki dilakukan PSU, sementara Pihak Terkait yang saat pemungutan suara

(29)

tanggal 15 Februari 2017 itu sudah menang dengan selisih yang terpaut jauh tentu keberatan jika harus dilakukan PSU.

Bahwa faktanya DKPP membenarkan dan melegitimasi keputusan untuk melakukan PSU, meskipun telah lewat waktu ini, meskipun tidak sesuai dengan harapan Pihak Terkait, namun Pihak Terkait tetap menghormati putusan DKPP dan bersiap untuk menghadapi PSU. Bahwa sayangnya sikap inkonsisten ditunjukkan oleh Pemohon ketika perolehan hasil suara menunjukkan kekalahan Pemohon, sikap Pemohon berbalik menjadi penantang PSU dengan menggunakan argumentasi yang dahulunya digunakan oleh Pihak Terkait di DKPP. Petitum untuk 59/PHP.BUP-XV/2017 dan 60/PHP.BUP-XV/2017 sama, Yang Mulia, seperti petitum di 58/PHP.BUP-XV/2017. Demikian, terima kasih, Yang Mulia.

27. KETUA: ASWANTO

Baik. Ya memang karena tiga, ya, jadi tiga permohonan jadi memang agak panjang. Untuk selanjutnya dipersilakan Bawaslu Provinsi atau Bawaslu ... Bawaslu provinsi dulu, ya. Ada keterangan dari Bawaslu provinsi? Provinsi? Dan tolong yang ini yang poin-poin penting saja, ini laporannya sangat tebal enggak perlu dibacakan semua. Mudah-mudahan sudah paham apa yang menjadi persoalan penting dalam perkara ini, dipersilakan untuk Bawaslu provinsi dan nanti kalau ada yang berbeda dengan Bawaslu RI, Bawaslu RI juga akan kita persilakan. Silakan, Bawaslu provinsi dulu!

28. BAWASLU PROVINSI: ANUGRAH PATA

Baik, terima kasih, Yang Mulia. Izin menyampaikan laporan hasil pengawasan kami pada pelaksanaan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Jayapura dan PSU Kabupaten Jayapura. Kami mulai dari permohonan Nomor 58/PHP.BUP-XV/2017 dimana pada intinya bahwa Bawaslu Provinsi Papua telah melakukan pengawasan pada setiap proses, pada setiap tahapan yang dilaksanakan oleh KPU mulai dari pemilihan tanggal 15 Februari yang dilakukan oleh Panwas Kabupaten Jayapura yang saat itu masih aktif dan juga Bawaslu provinsi telah melakukan pengawasan pelaksanaan PSU tanggal 23 Agustus yang dimulai dari tahapan cetakan surat suara hingga proses rekapitulasi di tingkat kabupaten.

Kami langsung saja pada pokok permohonan pada Perkara Nomor XV/2017 dimana dalam Perkara Nomor 58/PHP.BUP-XV/2017 halaman 25 yang menyebutkan bahwa telah ada beberapa pengaduan yang disampaikan kepada Bawaslu Provinsi Papua, namun penanganannya tidak serius. Bahkan ada beberapa laporan tidak ditindaklanjuti oleh Bawaslu Provinsi Papua.

(30)

Bawaslu Provinsi Papua menyampaikan bahwa sebelumnya Panwas Kabupaten Jayapura telah mengeluarkan rekomendasi, Panwas Kabupaten Jayapura Nomor 0964 Tertanggal 23 Februari 2017, yang isinya merekomendasikan pemungutan suara ulang (…)

29. KETUA: ASWANTO

Di halaman berapa itu?

30. BAWASLU PROVINSI: ANUGRAH PATA

Di halaman 97, Yang Mulia.

31. KETUA: ASWANTO

Baik. Silakan dilanjutkan.

32. BAWASLU PROVINSI: ANUGRAH PATA

Ya. 236 TPS yang tersebar di 17 distrik terkait adanya pergantian KPPS di TPS yang tidak sesuai prosedur dimana rekomendasi ini pada saat ini masih dikeluarkan oleh Panwas Kabupaten Jayapura.

Kemudian yang poin yang kedua. Bahwa Bawaslu Provinsi Papua menerima laporan dari Tim Pasangan Calon Nomor Urut 5 atas nama Dorce Demonim sebanyak 2 kali, yaitu laporan nomor 57 tertanggal 26 Agustus dan laporan nomor 60 tertanggal 29 Agustus 2017 dimana kami juga menerima pelimpahan laporan nomor 21 tertanggal 9 Agustus dari Bawaslu Republik Indonesia dengan pelapor Saudara Jansen Monim yang adalah Calon Bupati Nomor Urut 5 dimana laporan-laporan tersebut telah ditindaklanjuti oleh Bawaslu Provinsi Papua sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dimana bukti kajian kami telah telah lampirkan dalam bukti PK 9 sampai dengan 11, Yang Mulia.

Poin berikutnya. Bahwa laporan terkait 87 TPS yang telah dibuka kotaknya sebelum pleno, Bawaslu Provinsi Papua tidak pernah menerima laporan atau pelimpahan dari Bawaslu RI yang dilaporkan Pasangan Calon Nomor Urut 5 atau Tim Sukses Pasangan Calon Nomor 5. Sedangkan laporan tentang pemindahan lokasi TPS dan laporan tentang adanya orang yang bukan KPPS, tetap menandatangani formulir Model C-KWK dan lampiran Model C pada saat pelaksanaan PSU adalah benar telah dilaporkan oleh Pemohon dimana laporan tersebut telah ditindaklanjuti oleh Bawaslu Provinsi Papua sebagaimana telah disebutkan pada poin di atas.

Kemudian poin yang berikutnya. Bahwa Bawaslu Provinsi Papua telah bekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang

(31)

berlaku dan tidak memihak kepada pasangan calon manapun pada pelaksanaan PSU Kabupaten Jayapura.

Berikut. Kami menyampaikan terkait dengan uraian singkat jumlah dan jenis pelanggaran dimana pemaparan kami terkait dengan jumlah dan jenis pelanggaran ini juga kami sampaikan untuk semua pokok permohonan … apa … dengan Perkara 58/PHP.BUP-XV/2017 sampai 59/PHP.BUP-XV/2017, 60/PHP.BUP-XV/2017.

Pertama, pelanggaran administrasi pemilu. Bahwa terkait dengan pelanggaran administrasi pemilu, kami … Panwas Kabupaten Jayapura yang pada saat itu masih panwas, mengambil alih menerima laporan nomor 001 tertanggal 29 Desember 2016 dengan pelapor atas nama Ridwan yang melaporkan Paslon Nomor Urut 5 dimana laporan ini terkait pemasangan alat peraga kampanye yang tidak sesuai zona atau tempat yang telah ditetapkan. Bahwa atas pelanggaran ini, Panwas Kabupaten Jayapura telah melakukan penerbit … penertiban alat peraga yang dimaksud.

Kemudian, pelanggaran administrasi yang kedua adalah Panwas Kabupaten Jayapura menerima temuan nomor 04 tertanggal 15 Februari yang ditemukan oleh Panwas Distrik Ebungfau dimana temuan ini terkait adanya orang yang mencoblos lebih dari 1 kali di TPS Simporo, dan atas temuan ini telah ditindaklanjuti dengan pelaksanaan PSU pada tanggal … saya lupa tanggalnya, tidak tercatat.

Kemudian yang berikutnya, pelanggaran administrasi yang ketiga. Bahwa Panwas Kabupaten Jayapura menerima temuan nomor 05 tertanggal 22 Februari dengan penemu ketua dan Anggota Panwas Kabupaten Jayapura. Dimana temuan ini terkait adanya orang yang bukan petugas KPPS, tapi menandatangani formulir C-1. Terhadap pelanggaran ini, Panwas Kabupaten Jayapura telah merekomendasikan PSU pada 236 TPS di 17 distrik kepada KPU Kabupaten Jayapura pada tanggal 23 Februari 2017.

Yang keempat. Bahwa Bawaslu Provinsi Papua menerima temuan nomor 14 tertanggal 26 Agustus 2017 dengan temuan Ketua dan Anggota Panwas Distrik Kawaibu dimana temuan ini terkait penggunaan surat suara cadangan 2,5% oleh KPPS.

33. KETUA: ASWANTO

Ini yang dilaporkan setelah … sebelum PSU atau sesudah PSU?

34. BAWASLU PROVINSI: ANUGRAH PATA

(32)

35. KETUA: ASWANTO

Yang sesudah … anu … yang sebelum PSU ndak usah lagi. Yang sesudah PSU saja.

36. BAWASLU PROVINSI: ANUGRAH PATA

Baik, Yang Mulia.

37. KETUA: ASWANTO

Yang sebelum PSU sudah, kan hasilnya sudah ada, sudah PSU, gitu. Yang sesudah PSU saja.

38. BAWASLU PROVINSI: ANUGRAH PATA

Baik, Yang Mulia. Berarti kalau begitu kami mulai dari poin 4. Menemui temuan nomor 14 tertanggal 26 Agustus, dengan temuan Ketua dan Anggota Panwas Distrik Waibu terkait penggunaan surat suara cadangan oleh KPPS. Bahwa atas pelanggaran ini, Bawaslu Provinsi Papua telah merekomendasikan PSU terhadap 2 TPS Kampung Bambar, Distrik Waibu, dan KPU Provinsi Papua telah menindaklanjuti.

Kemudian Panwas Distrik Kaureh telah menemukan adanya penggunaan surat suara sisa oleh saksi atas persetujuan KPPS TPS 16 Kampung Lapua, Distrik Kaureh dimana para saksi paslon tersebut membagikan surat suara sisa tersebut secara merata untuk digunakan di TPS. Atas temuan tersebut, panwas distrik telah merekomendasikan PSU untuk TPS 16 Kampung Lapua tersebut dan telah ditindaklanjuti oleh PPD Kaureh.

Berikut, bahwa Bawaslu Provinsi Papua menerima laporan Nomor 61 tertanggal 5 September 2017 terkait adanya pergantian KPPS pada pelaksanaan PSU di 7 distrik. Bahwa atas pelanggaran ini, Bawaslu Provinsi Papua melaporkan temuan tersebut kepada Mahkamah Konstitusi karena laporan tersebut kami selesaikan setelah dilakukan rekapitulasi tingkat kabupaten. Artinya tidak sempat kami sampaikan pada saat pelaksanaan pleno karena proses penanganannya waktu itu belum selesai. Jadi, kami sampaikan dimana dalam laporan ini pelapor menyampaikan ada 75 TPS yang dilaporkan, yang KPPS-nya berbeda dengan SK. Tetapi setelah kami melakukan pencermatan, kami hanya menemukan 34 TPS. Dan untuk itu kami laporkan ke Mahkamah.

Kemudian terkait dengan pelanggaran pidana pemilu pada setelah PSU. Di sini kami Bawaslu Provinsi Papua … di halaman 99, Bawaslu Provinsi Papua menerima temuan nomor 13, dengan penemu Saudara Yacob Paisei terkait distribusi C-6 yang tidak sesuai prosedur sehingga dimiliki oleh orang yang bukan pemilih sebenarnya dimana C-6 yang

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini memiliki hubungan yang signifikan antara variabel bebas dan variabel terikat dan dalam analisis multivariat terdapat 2 variabel yang paling

Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat Desa Balisoan bahwa inti program yang tertuang dalam musyawarah tersebut tidak dijabarkan dalam suatu kegiatan yang

Presentase kerusakan produk digunakan untuk melihat presentase kerusakan produk pada tiap sub-group (tanggal).. Dari diagram diatas terdapat tiga titik yang berada diluar

Apabila pada bagian pernyataan umum terdapat kalimat definisi dan kalimat pengklasifikasian, dalam bagian deskripsi bagian kamu akan menemukan kalimat deskripsi. Perhatikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan sampai sejauh mana pengaruh Return On Investment (ROI), Earning Per Share (EPS), dan Dividend Per Share

Mengamati dengan cermat prinsip-prinsip interaksi positif antara pemerintah, pers dan masyarakat seperti tertuang dalam rumusan Pers Pancasila tersebut, dapat dikatakan bahwa

Teknik Tidak Langsung Literal Tindak Kesantunan Direktif Andik SD Berlatar Belakang Budaya Jawa Strategi dan teknik tidak langsung tidak literal yang digunakan oleh andik SD

Kajian ini memberi tumpuan untuk menilai tahap kepuasan pelajar terhadap perkhidmatan yang disediakan di Politeknik Banting, dengan itu adalah penting untuk