1
URGENSI PENTEPAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)
TENTANG ETIKA KAMPANYE DALAM PEMILIHAN UMUM1
Oleh: Labib Muttaqin, SH.
Mahasiswa Magister Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Pendahuluan
Sebagaimana sudah diketahui oleh khalayak umum, Indonesia adalah negara yang menganut prinsip-prinsip demokrasi. Dalam pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar NRI 1945 ditegaskan bahwa kedaulatan (negara Indonesia) berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Frasa “kedaulatan rakyat” dalam pasal tersebut memiliki makna bahwa kekuasaan tertinggi dipegang oleh rakyat, meskipun kekuasaan tersebut dibatasai oleh hukum yakni Undang-Undang Dasar, namun pembatasan tersebut semata-mata diorientasikan untuk mentertibkan kekuasaan rakyat tersebut. Sedangkan makna dari demokrasi itu sendiri adalah keadaan negara dimana dalam sistem pemerintahanya keadulatan berada ditangan rakyat, kekuasaan tertinggi dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat, mengingat secara etimologi demokrasi berasal dari kata “demos” yang
artinya rakyat dan “cratein” yang berarti pemerintahan atau kekuasaan.2 Dengan
demikian status Indonesia sebagai negara demokrasi sudah tidak perlu diragukan lagi.
Gaffar mengutip pendapat dari Robert Dahl dan Samuel Huntington, mengatakan bahwa salah satau parameter untuk mengamati kualitas demokrasi dalam suatu negara adalah dengan mengamati kualitas pemilihan umum (pemilu) yang sudah dilaksanakan dinegara tersebut. Dengan diberlakukanya pemilu maka setiap rekrutmen jabatan politik atau publik harus dilakukan dengan pemilihan umum (pemilu)3 dimana rakyat diberikan kebebasan untuk memilih sendiri berdasarkan hati nuraninya dan pemilu harus diselenggarakan secara teratur, dengan tenggang waktu yang jelas, kompetitif, jujur dan adil.4 Semakin tinggi kualitas dari pemilu maka semakin tinggi pula kualitas demokrasi dinegara tersebut.
Alasan pemilu menjadi salah satu kriteria yang sangat penting dalam menentukan proses demokratisasi karena pemilu dipandang relevan untuk mewujudkan partisipasi politik yang luas dan otonom. Pembatasan partisipasi adalah sebuah praktik antidemokrasi. Praktik politik demokrasi juga mensyaratkan adanya partisipasi poltik yang luas, dalam arti tidak ada pembatasan dan
1 Tulisan ini di sampaikan pada Islamic Connference On MUI Studies dan dimuat dalam buku
“Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam Pandangan Akademisi”
2 Azyumardi Azra, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Masyarakat Madani (Jakarta: ICCE UIN
Jakarta, 2000), h. 110.
3 Dalam pasal 22E ayat (2) UUD 1945 disebutkan bahwa pemilihan umum diselenggarakan untuk
memilih Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
4 Joko J. Prihatmoko, Pemilihan Kepala Daerah Langsung, Filosofi, Sistem Dan Problema
2 eksklusivitas dalam penentuan sumber-sumber rekrutmen politik dan tidak ada pula eksklusivitas dalam formulasi kebijakan-kebijakan politik.5
Namun , pemilu sebagai salah satu mekanisme dari demokrasi bisa sangat mengecewakan hasilnya jika elit politik khususnya kandidat (pasang calon dalam pemilu) hanya memikirkan diri dan kelompoknya, sehingga yang terjadi adalah manipulasi dan mobilisasi massa yang naïf. Lebih mengecewakan lagi, jika kemiskinan rakyat itu dimanipulasi melalui politik uang sehingga hak dan kedaulatan rakyat yang merupakan roh demokrasi telah dibajak, dirampas, dan dibunuh oleh para elit politisi dengan senjata uang.6
Dalam konteks Indonesia, penyelenggaraan pemilu yang selama ini sudah dilaksanakan belum menunjukan trend yang positif, salah satu penyebab utamanya adalah berbagai aktivitas kampanye yang dilakukan oleh elit politik jauh dari nilai-nilai etika dan moralitas. Money politic (politik uang) dan black campaign (kampanye hitam) seakan sudah menjadi kewajaran dalam setiap penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Selain menjamurnya money politic dan black campaign, nyaris dalam setiap kamapanye yang sebenarnya terjadi adalah pembodohan rakyat secara kolektif, dimana para kandidat (kontenstan dalam pemilu) mengumbar janji-janji tanpa menghadirkan argumentasi dan analisis yang jelas yang sebenarnya janji tersebut sulit untuk dipenuhi, janji hanya untuk untuk mendongkrak probabilitas supaya menang dalam pemilu.
Berbagai fenomena diatas tentu dapat mengundang sejumlah pertanyaan, apakah para kandidat tersebut benar-benar memahami etika berpolitik dalam berkampanye di pemilihan umum ? ataukah memang tujuan mereka berpolitik sebenarnya hanyalah untuk mecari keuntungan semata, terutama yang bersifat material, tanpa memperdulikan nilai-nilai etis dari politik ? lalu bagaimanakah bila para kandidat yang memiliki perilaku-perilaku diatas terpilih menjadi pejabat publik ?
Pertanyaan-pertanyaan diatas menunjukan bahwa, Etika dalam berpolitik dan kampanye benar-benar perlu diperhatikan, etika pada dasarnya berimplikasi luas, ia menyangkut prinsip dasar baik-buruk, benar-salah, dan pantas-tidaknya sesuatu untuk ditonjolkan. Pada tingkat yang lebih tegas etika adalah jiwanya hukum menurut Immanuel Kant.7 Hukum tidak perlu manakala tuntutan etika terpenuhi dan tidak dilanggar. Etika menjadi hukum, ketika kebenaran dilanggar.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tidak mengherankan jika para kandidat yang berkampanye dalam pemilu di Indonesia mayoritas beragama Islam. Oleh karenanya para kandidat dituntut untuk memahami praktek-praktek kampanye yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan etika Islam, karena pada prinsipnya hal terpenting yang harus dilakukan oleh seorang muslim adalah menjalankan ajaran agama Islam.
Disinilah keberadaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi sangat dibutuhkan, mengingat dalam khittah pengabdianya, MUI memiliki lima fungsi dan peran utama, yaitu; (1) sebagai pewaris tugas-tugas para Nabi; (2) sebagai pemberi
5 R. Eep Saefullah Fatah, Masalah dan Prospek Demokrasi di Indonesia, (Jakarta: Ghalia Indah,
1994), h. 12.
3 fatwa; (3) sebagai pembimbing dan pelayan umat; (4) sebagai perbaikan (islah) dan pembaharuan (tajdid); dan (5) sebagai penegak amar ma’ruf nahi munkar.8 Dari kelima fungsi dan peran diatas jelas bahwa MUI memiliki posisi yang sangat strategis untuk mengedukasi masyarakat tentang ajaran-ajaran agama Islam, termasuk peran MUI untuk memberikan pemahaman kepada para kandidat pemilu tentang etika berkampanye yang sesuai dengan ajaran Islam.
Mengingat MUI memiliki fungsi dan peran sebagai pemberi fatwa, cara yang dipandang efektif untuk memberikan pemahaman kepada para kandidat adalah dengan cara MUI mengeluarkan fatwa tentang etika kampanye dalam pemilihan umum. Lahirnya fatwa ini semakin dirasa urgen mengingat saat ini banyak ditemukanya praktek-praktek kampanye yang jauh dari nilai-nilai agama, moral dan etika. Dari berbagai uraian diatas, maka akan memuncul pertanyaan seperti; apakah praktek-praktek kampanye yang terjadi di Indonesia sudah ideal ? bagaimanakah konsep kampanye yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, moral dan etika ? apakah dengan dikeluarkanya fatwa MUI tentang etika kampanye dalam pemilihan umum bisa mengatasi praktek-praktek pemilu yang menyimpang sehingga lahirnya fatwa ini dianggap penting ?. Pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang akan berusaha dijawab dalam tulisan ini.
Kampanye Politik
Politik merupakan bermacam-macam kegiatan dalam sebuah sistem kekuasaan atau negara yang menyangkut proses penentuan tujuan dari sistem politik dan menjalankan tujuan-tujuan tersebut. Politik mengandung aspek pengambilan kebijakan (decision making) mengenai tujuan utama dari sistem politik tersebut dan penyusunan skala prioritas dan seleksi terhadap berbagai tujuan yang ada dalam sistem politik tersebut. Kebijakan umum (public policies) dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan politik, yang di dalamnya terkait dengan pengaturan dan pembagian atau alokasi dari berbagai sumber daya yang ada.9
Nilai dominan dari istilah politik adalah kepemilikan terhadap kekuasaan (power) dan kewenangan (authority) yang keduanya digunakan untuk membina kerja sama, menyelesaikan konflik dan melakukan tindakan lain yang akan timbul dan diperlukan pada perjalanan proses pencapaian tujuan politik. Pencapaian terhadap kepemilikan kekuasaan dan kewenangan dalam politik dilakukan melalui langkah persuasi (meyakinkan) atau koersi (paksaan) terhadap masyarakat. Politik merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan keberadaan masyarakat adalah hal utama dalam politik. Masyarakat merupakan objek sekaligus subjek politik. Tujuan dari politik merupakan manifesto dari tujuan hidup dan harapan masyarakat, sehingga inti dari adanya politik dan beragam elemen di dalamnya adalah mendapatkan kepercayaan dan dukungan masyarakat untuk mencapai kekuasaan dalam pemerintahan agar dapat mencapai cita-cita politik dan masyarakat. Rakyat
8 Muhammad Atho Mudzhar, Fatwa-Fatwa Majelis Ulama Indonesia; Sebuah Studi Tentang
PemikiranHukum Islam di Indonesia 1975-1988, (Jakarta: INIS, 1993). h, 63.
9Diyan Nur Rkhmah Wisudawati, “Isu Pendidikan Dalam Kapanye Politik”, Jurnal Pendidikan dan
4 mengharapkan para elit pemerintahan yang terbentuk dari jalannya sistem politik untuk dapat mengatur dan menyediakan seluruh kebutuhan rakyat.10
Kampanye merupakan salah satu budaya politik demokratis yang melibatkan partai politik, masyarakat, dan berbagai aktor politik. Kampanye merupakan sarana memobilisasi pemilih yang di dalamnya terdapat proses penyampaian visi, misi, dan program politik yang bertujuan untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat sebagai vote getter. Politik tanpa kampanye dipastikan tidak mungkin, karena kampanye juga merupakan sarana masyarakat mendapatkan gambaran terhadap fungsi sistem politik sekaligus menempatkan masyarakat sebagai evaluator sistem politik.11
Rogers dan Storey mendefinisikan kampanye sebagai serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu. Dan Nimmo dalam bukunya The Political Persuaders mendefinisikan kampanye
sebagai: “One form of persuasive communication designed to influence the action
of people.” Sedangkan menurut Roger kampanye adalah Serangkaian kegiatan komunikasi yang direncanakan sebelumnya yang dirancang untuk menjangkau dan memotivasi orang banyak dengan menggunakan suatu jenis pesan terentu. Kegiatan kampanye dilaksanakan untuk waktu yang singkat dengan sasaran-sasaran yang spesifik berkenaan dengan sikap dan perilaku dan hampir selalu menggunakan suatu pendekatan multimedia.12
Hal yang perlu diperhatikan adalah Politik Marketing Kampanye yang menyangkut mengenai bagaimana seorang kandidat mengkampanyekan dirinya. Dalam Politik Marketing maka yang hendak dipasarkan adalah kandidat yang bertarung dalam pemilu. Bagaimana pasar tahu dan mengenal seorang kandidat (calon) kepala daerahnya jika pasar sendiri tidak mengenalnya. Dalam Konsep marketing yang dikembangkan oleh Newmann dan Sheth yang dikenal juga dengan pengertian Pendekatan Domain Kognitif, ada tujuh hal harus diperhatikan dalam kampanye:13
1. Isu dan Kebijakan Politik (issues and politicies), merupakan presentasi dari kebijakan atau program yang akan dilaksanakan oleh para kandidat (calon) kepala daerah jika mereka memenangkan Pilkada. Sebagai platform dasar yang ditawarkan dari sini para pemilih dapat mengetahui apa yang akan dikerjakan kandidat tersebut.
2. Citra Sosial, menunjuk stereotip (citra) kandidat dalam menarik pemilih dengan menciptakan asosiasi-asosiasi tertentu. Disinilah muncul segmentasi (pengelompokan) dari kelompok pemilih tertentu dimana kandidat tersebut dapat diterima. Misalnya kandidat yang berasal dari kelompok enterpreneurship akan mudah diterima dalam kelompok usahawan.
10 Ibid., h. 582.
11 Ibid.,
12Betty Gama dan Nunun Tri Widarwati, “Hubungan Antara Kampanye Kandidat Kepala Daerah
dan Perilaku Pemilih Petisipasi Politik Wanita”, Jurnal Ilmiah Scriptura, Vol. 1, No. 1 (Januari 2008), h. 65-66.
5 3. Perasaan Emosional, yaitu berkaitan dengan platform yang ditawarkan oleh
kandidat kepada pemilihnya.
4. Citra Kandidat, konsistensi citra diri sangat diperlukan oleh seorang kandidat. Ketegasan, emosional yang, stabil, enerjik jujur dan sebagaimana akan menjadi acuan bagi pemilih.
5. Peristiwa Mutakhir, merupakan isu atau peristiwa yang berkembang menjelang dan selama kampanye.
6. Peristiwa, lebih mengacu kepada kehidupan pribadi seorang pribadi kandidat, missal skandal keuangan, skandal seksual dan sebagainya. 7. Faktor-Faktor Epistemik adalah isu-isu pemilihan yang spesifik serta
memicu keingintahuan para pemilih.
Selain unsur marketing, kredibilitas juga merupakan unsur penting dalam kampanye untuk memperoleh kepercayaan khalayak. Penelitian yang dilakukan Hovland, Janis dan Kelley menemukan tiga aspek yang mempengaruhi kredibilitas sumber yaitu; keterpercayaan (trustworthiness), keahlian (expertise), dan daya tarik (attractiveness). Menurut Antar Venus ketiga hal tersebut masih ditambah kedinamisan (dynamism). Faktor pendukung yang mempengaruhi kredibilitas sumber yaitu keterbukaan (extroversion), ketenangan (composure), kemampuan bersosialisasi (sociability) dan karisma. Extroversion, juga disebut dinamisme, merupakan pertimbangan khalayak di mana sumber dianggap sebagai seorang yang kuat, berani, aktif, berkuasa, sehat, energik, tegas, progresif dan mendukung terhadap perubahan. Sosiabilitas, mengacu pada anggapan khalayk bahwa sumber dipandang baik hati, ramah dan pandai bergaul. Ketenangan atau composure berhubungan dengan bagaimana khalayak menganggap sumbernya sebagai seseorang yang percaya diri, pandai mengungkapkan gagasan dengan tenang dan tepat, dan dapat mengontrol perkataannya sehingga tidak terbata-bata atau gagap saat menyampaikan pesan. Sedangkan karisma diartikan sebagai kualitas kepribadian seseorang atau pemimpin yang mampu memikat dan mengikat orang-orang disekiarnya.14
Kampanye sebagai media memperkenalkan program politik juga diharapkan dapat mengakomodir aspirasi masyarakat, sehingga dapat memaksimalkan perolehan suara seorang kandidat. Kandaidat dan partai politik menilai bahwa kampanye merupakan sarana pembentukan keyakinan politik dalam lingkungan masyarakat yang memiliki pilihan beragam (multioption society), sehingga kampanye tidak jarang didefinisikan sebagai perjuangan kekuasaan. Proses pembentukan keyakinan politik melalui kampanye membuat kandidat dan partai politik berlomba untuk memasukkan isu strategis ke dalam agenda politiknya agar menarik dukungan maksimal dari masyarakat sebagai pemilih. Isu-isu terkait kebutuhan dasar, pemenuhan hak-hak asasi manusia dan berbagai isu strategis lain menjadi masalah utama yang ditawarkan kandidat kepada masyarakat.
Kampanye, Pemilu Dan Demokrasi
Sampai pertengahan abad ke-20, menurut Amos J. Peslee, lebih dari 90% negara di dunia mengaku menganut paham demokrasi atau kedaulatan rakyat.
6 Artinya, wacana tentang demokrasi itu sudah demikian luas diterima di seluruh penjuru dunia, terlepas dari apa yang dipraktekkan di lapangan. Sebab nyatanya, spektrum praktik demokrasi yang diterapkan oleh semua negara yang mengaku demokrasi itu sangat beraneka-ragam mulai dari Amerika Serikat sampai ke Uni Soviet yang sekarang sudah tiada, Kuba, dan negara-negara komunis lainnya yang mempunyai penafsiran berbeda satu sama lain.15 Namun terlepas dari perbedaan penafsiran terhadap demokrasi sebagai suatu sistem kedaulatan, demokrasi sudah mendapatkan pengakuan yang luas sebagai suatu sistem yang mampu mensejahterakan rakyat.
Pemilu merupakan mekanisme terpenting untuk keberlangsungan demokrasi perwakilan karena rakyat bisa memilih wakilnya, selain itu pemilu juga menjadi indikator negara demokrasi. Pemilu merupakan arena kompetisi untuk mengisi jabatan-jabatan politik di pemerintahan yang didasarkan pada pilihan formal warga negara yang memenuhi syarat.16 Pemilu menjadi ajang untuk melakukan pesta demokrasi yang mewujudkan tatanan kehidupan negara dan masyarakat yang berkedaulatan rakyat, pemerintahan dari dan untuk rakyat. Richard R. Lau, Andersen dan David P. Redlawsk menjelaskan bahwa “Democracy works best when citizens are interested in politics, able to place current events in proper historical context, attentive to the actions of representatives in government, and engaged in the governing process to the extent they vote for the candidates they believe best represent their interests”.17 Demokrasi akan berjalan dengan baik apabila warga tertarik pada politik, serta memperhatikan tindakan perwakilan di pemerintahan, menyadari aturan kelembagaan sehingga dapat memahami tindakan yang diambil oleh pemerintah, dan dapat memilih calon yang mereka percaya paling mewakili kepentingan mereka.
Namun, mungkin banyak yang tidak percaya bahwa dua penumbuh filsafat barat yang sering dianggap sebagai konseptor demokrasi yakni Plato dan Aristoteles, justru menolak sistem politik demokrasi. Dua filosof besar yunani itu mengatakan bahwa demokrasi merupakan sistem politik yang berbahaya dan tidak praktis. Plato mengunggulkan sistem politik aristokrasi yang dimpin oleh seorang raja-filosof yang mempunyai berbagai kelebihan dan visioner. Sedangkan Aristoteles mengatakan bahwa demokrasi berbahaya karena pada kenyataanya (pengalaman Aristoteles di Athena) banyak demagog yang bergentayangan dalam sistem demokrasi. Demagog-demagog itu kerapkali membawa essense demokrasi ke sistem diktatorial, bahkan tirani, meskipun pada permukaan atau formal prosedurnya tetap, seolah-olah demokrasi.18
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) demagog adalah penggerak (pemimpin) rakyat yang pandai menghasut dan membangkitkan
15 Jimly Asshiddiqie, Gagasan Kedaulatan Lingkungan: Demokrasi Versus Ekokrasi.
http://www.jimly.com/ makalah/namafile /179/Jurnal_MIPI_ttg_Kedaultan.pdf
16 Sigit Pamungkas, Perihal Pemilu, (Yogyakarta: Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol
Universitas Gadjah Mada, 2009), h. 3
17Richard R. Lau, Andersen dan David P. Redlawsk. “An Exploration of Correct Voting in Recent
U.S. Presidential Elections”, American Journal of Political Science, Vol. 52, Issue 2 (2008), h. 395.
18 Moh. Mahfud MD, Konstitusi dan Hukum dalam Kontroversi Isu, (Jakarta: PT. Raja Grafinfo
7 semangat rakyat untuk memperoleh kekuasaan. Demagog adalah agitator-penipu yang seakan-akan meperjuangkan rakyat padahal semua itu dilakukan demi kekuasaan untuk dirinya. Demagog biasa menipu rakyat dengan janji-janji manis agar dipilih menjadi pejabat tapi setelah terpilih tak peduli lagi pada rakyat; bahkan dengan kedudukan politiknya sering mengatasnamakan rakyat untuk mengeruk keuntungan.19 Dalam pembacaan Moh. Mahfud MD, tampaknya apa yang dikhawatirkan Plato dan Aristoteles dikonfirmasi oleh demokrasi di Indonesia. Pada setiap penyelenggaraan pemilu yang berlangsung di Indonesia, banyak muncul para demagog yang tampil untuk bertarung sebagai calon lembaga anggota legislatif (caleg) bahkan dalam pencalonan presiden. Dalam setiap kampanye mereka mengumbar janji jika dirinya menang dalam pemilu maka negara akan maju, rakyat sejahtera, pendidikan gratis, rumah sakit gratis, harga kebutuhan pokok murah dll. Padahal ketika menduduki jabatan penting setelah terpilih ternyata tak memperbaiki apa pun.20
Kampanye dan pemilu sebagai manifestasi dari demokrasi ternyata telah melahirkan para demagog. Jika memang demikian adanya, apakah demokrasi adalah suatu sistem yang buruk ?. Dalam artikel berjudul “Demokrasi Pilihan
Terpaksa”, Moh. Mahfud MD manyatakan bahwa demokrasi bukanlah pilihan ideal
karena sering membiarkan rakyat dan negara di eksploitasi oleh para demagog. Lanjut Mahfud MD, meskipun demikian, dalam praktik politik, demokrasi itu dipilih sebagai sistem politik oleh lebih dari dua pertiga negara yang ada di dunia. Alasanya, demokrasi “terpaksa” dipilih karena ia merupakan yang paling sedikit jeleknya diantara sistem-sistem lain yang sama-sama jelek.21
Demokrasi merupakan “pilihan jelek yang terbaik” diantara pilihan-pilihan
lain yang juga tidak baik seperti monarki absolut, autokrasi, aristokrasi, ologarki, okhlokrasi, dan terutama tirani. Demokrasi dianggap yang terbaik dari sistem-sistem lain yang juga jelek karena demokrasi menghargai hak-hak dan pilihan-pilihan rakyat meskipun dengan segala kekuranganya.22
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu faktor yang menghambat proses demokratiasi adalah selalu munculnya para demagog dalam setiap kali penyelenggearaan kampanye dalam pemilihan pemilihan, kampanye dijadikan ajang obral janji, black campaign dan money politic, dengan kata lain buruknya kualitas pelaksanaan kampanye adalah penyebab buruknya kualitas demokrasi. Oleh karena itu, perbaikan pelaksanaan kampanye yang sesuai dengan nilai-nilai etika harus segera diagendakan.
Wacana Kampanye dalam Fikih Siyasah
Di dalam fikih siyasah sendiri memang belum ada pengertian kampanye secara baku. Namun ada beberapa unsur-unsur perilaku didalam Islam yang mengindikasikan apabila peerbuatan tersebut merupakan suatu tindakan yang memiliki makna yang sama dengan kampanye. Perilaku itu yakni menawarkan diri
19 Ibid., h. 378.
20 Ibid., h. 411
21 Moh. Mahfud MD, Demokrasi Pilihan Terpaksa, Artikel di harian Seputar Indonesia, 13 April
2009.
8 untuk menjadi pemimpin dan ajakan kepada masyarakat untuk memilih dirinya sebagai pemimpin.23
Pelaksanaan kampanye merupakan salah satu bagian dalam rangkaian pelaksanaan pemilihan umum. Di dalam fikih siyasah, istilah pemilihan umum dikenal dengan Intikhabah al-ammah. Intikhabah merupakan jama’ muannas salim yang berasal dari kata ittakhoba-yattakhibu yang artinya memilih.24 Adapun pihak-pihak yang melaksanakan kegiatan kampanye ini adalah sekelompok tim kampanye yang di bentuk dari partai politik atau gabungan partai politik tertentu. Di dalam fikih siyasah, partai politik di sebut dengan istilah al-Hizb al-Siyasi yang dipahami sebagai sebuah organisasi publik yang memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam konteks yang berbeda-beda melalui penguasaan struktur kelembagaan pemerintah baik pada level legislatif, maupun eksekutif yang diperoleh melalui keikutsertaan dalam pemilihan umum serta melakukan kampanye dengan menjual isu dan program-program yang tidak terlepas dari nilai-nilai ideologis Islam.25
Pada masa dimana Nabi Muhammad masih hidup tentu tidak ada pemilihan umum apalagi kampanye, karena pada saat itu Rasulullah merupakan pemimin umat muslim seumur hidup. Namun, apabila di qiyas kan dengan peristiwa setelah masa Rasulullah wafat, yakni masa Khulafaur Rasyidin dan para sahabat tentang pemilihan pemimpin, maka dapat ditemukan rujukan melalui ijtihadnya dalam mengeluarkan hukum-hukum shar’i yang memuat prinsip-prinsip sistem politik dan sistem pemerintahan.26 Mengingat, dalam sejarahnya, pada setiap masa peralihan kepemimpinan yang mengacu pada masa Khulafaur Rasyidin, memang belum ada ketentuan yang baku dan berbeda-beda pula prosedurnya dalam hal proses pemilihan pemimpin.
Di dalam sejarah Khulafaur Rasyidin, ada beberapa metode untuk mengangkat kepala negara. Salah satu diantaranya adalah sebuah metode yang mengajak umat untuk memilih dirinya menjadi pemimpin. Tindakan untuk mengajak umat untuk memilih dan menawarkan dirinya, merupakan hal yang sama esensinya dengan mengkampanyekan diri sendiri. Peristiwa ini terjadi seperti yang dilakukan Ali bin Abi Thalib setelah khalifah Utsman bin ‘Affan terbunuh.27
Seorang ulama bernama Ibnu Hazm (w. 465 H) mengatakan bahwa, apabila seorang khalifah wafat dan tidak menunjuk seseorang tertentu yang akan menggantikannya, demikian pula Ahlul Halli wal Aqdi belum memilih khalifah bagi kaum muslimin, dan pada saat itu ada seseorang yang terpenuhi padanya syarat-syarat untuk menjadi pemimpin, maka seseorang tersebut boleh maju mencalonkan dirinya.28 Dalam agama Islam, dasar hukum menawarkan diri untuk menjadi pemimpin atau berkampanye, telah dijelaskan dalam firman Allah tentang perkataan Nabi Yusuf as. Dalam Q.S. Yusuf ayat 55, yang memiliki arti: “berkata
23 Rapung Samuddin, Fiqih Demokrasi: Menguak Kekeliriuan Pandangan Haramnya Umat Terlibat
Pemilu dan Politik, (Jakarta: Gozian Press, 2013), h. 128.
24 Muhammad Ibnu Manzur, Lisan Al-Arab, Jilid I, (Beirut: Dar Shadir, t.t), h. 751.
25 Ridho al-Hamdi, Partai Politik Islam: Teori dan Praktik di Indonesia, (Yogyakarta: Graha Ilmu,
2013), h. 9.
26 Imam Al-Mawardi, Hukum-hukum Penyelenggaraan Negara dalam Syari’at Islam, Terj Fadli
Bahri dalam Al-Ahkam As-Shulthaniyah, (Jakarta: Darul Falah, 2006), h. 1.
9
yusuf”: jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah
orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.29
Dari ayat diatas, menurut tafsir Al-Alusi (w. 1270 H), ayat diatas merupakan dalil kebolehan seseorang untuk memuji dirinya sebanar-benarnya jika memang ia tidak dikenal. Demikian pula kebolehan untuk meminta kekuasaan (Jabatan).30 Kekuasaan (jabatan) dapat diminta apabila ada orang yang kafir dan zalim yang juga ingin menguasainya. Oleh karena itu, seseorang yang didalam dirinya telah terpenuhi syarat-syarat untuk menjadi pemimpin dan sanggup untuk bersikap adil serta menjalankan hukum-hukum syariat, maka calon pemimpin tersebut boleh saja untuk menawarkan diri untuk menjadi pemimpin dan meminta jabatan tersebut.31
Jika seseorang mengetahui bahwa dirinya sanggup menegakkan kebenaran dan keadilan, sedangkan ketika itu tidak ada yang dapat melaksanakannya, maka meminta jabatan menjadi wajib ‘ain atasnya. Wajib atasnya memintanya dengan cara mengabarkan tentang perihal diri dan sifat-sifatnya yang layak untuk jabatan tersebut, baik berupa ilmu, kemampuan, syarat-syarat kelayakan untuk menjadi pemimpin dan lain sebagainya sebagaimana yang dilakukan oleh Yusuf a.s.32
Kemudian, sifat-sifat seorang calon pemimpin tersebut juga mengandung Basthatan fi al-‘Ilm wa al-Jism (Keunggulan pada kekuatan ilmu dan fisik). Ibnu Khaldun memiliki gagasan penting mengenai kriteria yang harus dimiliki seorang pemimpin. Pertama, seorang pemimpin itu harus memiliki ilmu pengetahuan; kedua, pemimpin itu harus berlaku adil dalam setiap keputusannya; ketiga, sehat fisik dan jiwanya serta kemampuan lain yang memadai. Hal tersebut dibenarkan oleh Ibnu Qayyim bahwa dengan menyempurnakan ilmu, maka kepemimpinan dalam agama akan didapatkan. Kepemimpinan dalam agama adalah kekuasaan yang alatnya adalah ilmu.33
Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa menawarkan diri sebagai seorang pemimpin dalam hal ini adalah kampanye politik diperbolehlan dalam Islam, hanya saja ada hal-hal etis yang harus diperhatikan terlebih dahulu oleh kandidat sebelum Melakukan kampanye. Sebelum dinilai oleh orang lain, seorang kandidat terlebih dahulu harus mampu menilai kecakapan diri sebagai sorang pemimpin, apakah ketika menjadi pemimpin dirinya mampu menegekan kebenaran, keadilan dan menjalankan syariat Islam, apakah seorang kandidat tersebut merasa yakin memiliki pengetahuan baik untuk menjadi pemimpin, dan yang tidak kalah pentinya apakah kandidat sanggup untuk tidak melakukan money politic, black campaign dan kecurangan lainya saat melakukan proses kampanye politiknya. Jika sang kandidat merasa sanggup melaksankan itu semua maka ia boleh saja menawarkan diri menjadi seorang pemimpin. Namun jika ia tidak sanggup melaksanakanya namun tetap melakukan kampanye politik atau mencalonkan diri menjadi
29 Q.S. Yusuf: 55.
30 Fahmi Huwaydi, Demokrasi, Oposisi, dan Masyarakat Madani, Terj. M. Abdul Ghofar dalam
al-Islam wa al-Dimuqratiyah, (Bandaung: Mizan, 1996), h. 263.
31 Ibid., h. 130. 32 Ibid.,
10 pemimpin, maka proses kampanyenya telah bertentangan dengan nilai-nilai etis dalam Islam.
Fatwa MUI dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat.
Sebelum membahas tentang relasi antara fatwa MUI dan pengaruhnya terhadap masyarakat, terlebih dahulu akan dipaparkan sekilas tentang MUI. Majelis Ulama Indonesia atau disingkat MUI adalah wadah atau majelis yang menghimpun para ulama dan cendekiawan muslim Indonesia untuk menyatukan gerak dan langkah-langkah umat Islam Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bersama. Majelis Ulama Indonesia berdiri pada tanggal 7 Rajab 1395 H, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, di mana sebelumnya telah berdiri majelis ulama di Jawa Barat yang secara ex officio diketuai oleh Panglima Militer Daerah.34
Sejak terbentuknya, ia memiliki tugas utama: pertama, memberi fatwa dan nasihat mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada pemerintah dan
umat Islam umumnya, sebagai amar ma’ruf nahi munkar; Kedua, memperkuat
ukhuwah (kerukunan) Islamiah dan memelihara serta meningkatkan suasana kerukunan antar umat beragama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa; ketiga, mewakili umat Islam dalam konsultasi antar umat beragama; dan keempat, Menjadi penghubung antara ulama dan umara (pejabat pemerintah), serta menjadi penerjemah timbal balik antara pemerintah dan umat beragama guna menyukseskan pembangunan nasional. MUI memiliki satu komisi utama yang disebut dengan Komisi Fatwa yang bertugas memberikan fatwa dan nasehat baik kepada masyarakat maupun kepada pemerintah, apakah diminta atau tidak. Dalam kaitannya dengan tugas memberikan fatwa, MUI membagi fatwa-fatwa tersebut menurut bidangnya masing-masing, mulai dari soal ibadah hingga masalah IPTEK.35
Dalam konteks tradisi yang berlaku di Indonesia, sulit untuk menemukan seseorang yang diyakini oleh masyarakat memiliki kemampuan individu untuk menjadi mufti atau imam. Hal ini berbeda dengan tradisi yang terdapat di sebagian negara muslim lain seperti Mesir, Arab Saudi maupun Iran yang masyarakatnya masih memberikan pengakuan terhadap seorang mufti secara individual. Namun di negara seperti Indonesia pihak yang dianggap mempunyai kemampuan untuk menjadi mufti saat ini adalah berupa lembaga (organisasi) keagamaan, misalnya Persatuan Islam (Persis), Muhammadiyah dengan tradisi tarjih nya, Nahdhatul Ulama (NU) melalui tradisi Bahtsul Masail nya, maupun MUI (Majelis Ulama Indonesia) melalui komisi fatwanya.
Diantara lembaga-lembaga keagamaan di atas salah satu yang mempunyai pengaruh besar bagi masyarakat indonesia (khususnya masyarakat muslim) adalah MUI. Sebagai sebuah lembaga fatwa, sebagaimana yang diungkapkan oleh M. Atho Mudzhar, bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) merupakan salah satu lembaga keagamaan di Indonesia sebagai pemegang otoritas yang mengeluarkan dan menetapkan fatwa-fatwa keagamaan (mufti) sebagai tempat rujukan bagi
34 Bahrul Ulum, Golongan Putih: Analisis Fatwa Majelis Ulama Indonesia, dalam Fatwa Majelis
Ulama Indonesia (MUI) Dalam Perspektif Hukum dan Undang-Undang, (Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2012) h. 168.
11 masyarakat muslim Indonesia. Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Siti Musdah Mulia, yang menyatakan, bahwa fatwa-fatwa MUI memiliki makna penting dalam masyarakat muslim Indonesia. Kenyataan selama ini menunjukkan meskipun fatwa MUI tidak mengikat secara hukum, tetapi dalam prakteknya selalu dijadikan rujukan berperilaku oleh masyarakat dan pemerintah dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.36
Dari sini diperoleh fakta bahwa fatwa MUI memberikan pengaruh bagi tatanan sosial kemasyarakatan bangsa Indonesia yang secara keseluruhan menunjukkan dua hal penting: Pertama, fatwa-fatwa MUI memiliki makna penting dalam masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam. Kenyataan selama ini menunjukkan meskipun fatwa MUI tidak mengikat secara hukum, tetapi dalam prakteknya sering dijadikan rujukan berperilaku oleh masyarakat dan pemerintah dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua, karena mempunyai efek dan pengaruh ke masyarakat demikian kuat, meniscayakan MUI untuk responsif atas dinamika dan kecenderungan di masyarakat, sehingga fatwa yang dikeluarkan diharapkan sejalan dengan kemaslahatan mereka.37
Mungkin masih segar dalam ingatan, ketika pada tanggal 11 Oktober MUI mengeluarkan pendapat dan sikap keagamaan38 yang menyatakan bahwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok telah menghina Al-Qur’an dan menghina ulama. Pernyataan tersebut mendapat respon yang begitu besar dari masyarakat muslim yang akhirnya memunculkan rangkaian aksi unjuk rasa yang disebut aksi bela islam, aksi ini di komandoi oleh Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI). Aksi bela Islam dianggap sebagai aksi yang sukses karena diikuti oleh jutaan umat muslin, selain itu aksi ini juga berhasil mendasak Polri untuk mengusut kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok. Setelah kasus ini diproses dipengadilan, pada tanggal 9 Mei 2017 Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis 2 tahun penjara pada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purna alias Ahok.
Fatwa-fatwa MUI lainya yang memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat misalnya seperti Fatwa MUI tentang wakaf uang. Pada tanggal 11 Mei 2002, komisi fatwa MUI menetapkan fatwa tentang kebolehan berwakaf dengan uang tunai, Dalam ketetapan ini, yang dimaksud dengan wakaf uang adalah wakaf yang dilakukan seseorang, sekelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai yang didalamnya termasuk juga surat-surat berharga. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan
36 Qamarul Huda, Otoritas Fatwa dalam Konteks Masyarakat Demokratis (Sebuah Tinjauan
Terhadap Fatwa MUI Pasca Orde Baru, dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Perspektif Hukum dan Undang-Undang, (Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2012) h. 76-77.
37 Bahrul Ulum, Op.Cit., h. 167.
38 Meskipun dari kalangan MUI menyatakan bahwa pendapat dan sikap keagmaan itu bukanlah
12 untuk hal-hal yang dibolehkan secara shar’i dan nilai pokok wakaf ini harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, dan atau diwariskan.39
Fatwa MUI tentang wakaf uang memiliki kontribusi yang besar dalam perkembangan hukum dan sosial di Indonesia, terbukti fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini berlanjut pada prakarsa dan pembahasan Rancangan Undang Undang Wakaf hingga dua tahun kemudian berhasil disahkan Undang-Undang nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf disusul peraturan-peraturan pelaksana dan teknis lainnya.40 Suatu produk hukum pasti memiliki pengaruh yang besar kepada masyarakat sebagaimana yang utarakan oleh Roscou Pound “law is a tool of social enginering” atau hukum adalah alat untuk melakukan rekayasa sosial, termasuk didalamnya Undang-undang No. 41 Tahun 2004 yang lahir karena terinspirasi oleh Fatwa MUI tentang wakaf uang. Dengan lahirnya Undang-undang ini msayarakt yang ingin melakukan wakaf uang sudah memiliki landasan teologis yang jelas karena sudah adanya fatwa MUI dan juga memiliki landasan yuridis yang jelas juga karena adanya UU No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf.
Paling tidak dari kedua fatwa tersebut dapat memberikan gambaran bahwa fatwa MUI memiliki pengaruh yang besar terhadap masyarakat, meskipun harus diakui juga tidak semua fatwa MUI diindahkan oleh seluruh masyarakat Indonesia, seperti ketika MUI mengeluarkan fatwa tentang haramnya golput (golongan putih)
pada Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III tahun 2009 di padangpanjang.41
Ternyata fatwa tersebut tidak memberikan dampat yang positif di masyarakat, karana angka golput pada pemilu tahun 2009 mencapai angka 39,1 persen, angka ini lebih tinggi dari pada angka golput dalam pemilu tahun 2004 yang hanya 23,34 persen.42 Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa fatwa MUI memiliki potensi yang besar dalam mempengaruhi presepsi masyarakat tentang baik-buruk, hal ini bisa dilihat dari pendapat dan sikap keagamaan tentang ahok dan wakaf uang.
Fatwa MUI Tentang Kampanye: Menuju Masyarakat Demokratis dan Religius
Sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa dinegara demokratis seperti di Indonesia, diselenggarakanya pemilihan umum untuk menentukan pemimpin negara (dalam konteks indonesia, pemilihan umum diselenggerakan untuk memilih presiden dan wakil presiden, anggota DPR, anggota DPD, dan anggota DPRD) adalah suatu keniscayaan, karena pemilu merupakan manifestasi dari kedaulatan, dimana rakyatlah yang menentukan pemimpinya. Dalam proses pemilu, para kandidat (pihak yang dipilih dalam pemilu) berkontestasi untuk untuk mendapatkan simpati rakyat dengan tujuan mendapatkan
39 Miftahul Huda, MUI dan Agen of Change (Sumbangsih Fatwa MUI Tentang Wakaf Uang
Terhadap Sisi Kebijakan dan Kualitas Produk Undang-undangan No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Perspektif Hukum dan Undang-Undang, (Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2012) h. 110.
40 Ibid., h. 111.
13 sebanyak mungkin suara rakyat guna menang dalam pemilu. Proses kontestasi tersebut diwadahi dalam suatu mekanisme yang disebut kampanye politik.
Namun, mengutip Mahfud MD, proses kampanye yang selama ini terjadi di Indonesia berdampak buruk pada pembangunan demokrasi di negeri ini, pasalnya dalam setiap penyelenggaraan kampanye yang terjadi adalah pembodohan publik secara masal, dimana seharusnya para kandidat memberikan pendidikan politik kepada rakyat melalui kampanye, sebaliknya, yang terjadi justru banyak kandidat menjelma menjadi demagog. Demagog adalah agitator-penipu yang seakan-akan meperjuangkan rakyat padahal semua itu dilakukan demi kekuasaan untuk dirinya. Demagog biasa menipu rakyat dengan janji-janji manis agar dipilih menjadi pejabat tapi setelah terpilih tak peduli lagi pada rakyat; bahkan dengan kedudukan politiknya sering mengatasnamakan rakyat untuk mengeruk keuntungan.43
Menjadi sangat ironis, jika melihat bahwa kebnyakan dari para demagog tersebut beragama Islam. Sebagai suatu ajaran agama yang sarat akan nilai-nilai etis dan moralitas, Agama Islam dengan tegas melarang umatnya untuk menjadi seorang penipu. Dalam salah satu disiplin ilmu Islam yakni fikih sisayah, sudah dijelaskan bahwa kampanye politik atau menawarkan diri menjadi seorang pemimpin diperbolehkan dalam Islam namun ada syaratnya yakni, Pertama, dalam proses kampanye para kandidat harus menjalankan syariat Islam, jika demikian kandidat tersebut tidak boleh melakukan money politic, black campaign¸ dan membohongi rakyat. Kedua, sebelum ikut dalam kontestasi kampanye, para kandidat terlebih dahulu harus memiliki keyakinan bahwa ketika nantinya ia terpilih menjadi pemimpin, ia memiliki kemampuan intelektual, mental, dan fisik yang memadai untuk menjalankan amanahnya sebagai pemimpin. Ketiga, kadidat harus berlaku adil dalam menetapkan setiap keputusan yang ditetapkanya. Dengan mencermati ajaran Islam tentang etika kampanye, tidak seharusnya di Indonesia banyak muncul para demagog, mengingat kebnyakan para kandidat dalam kampanye mayoritas beragama Islam
Namun sayangnya, antara ajaran (Islam) dan praktek (muslim) tidak berjalan selaras. Tentu hal ini sangat menyedihkan mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar didunia. Nampaknya pernyataan Muhammad Abduh bahwa “Al-Islamu Mahjubun Bil Muslimin” atau orang-orang Islam lah (muslim) yang menutup keindahan Islam itu benar-benar terjadi di Indonesia, khususnya dalam ranah politik.
Pada titik inilah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dituntut hadir untuk memberikan pemehaman dan pencerahan kepada umat Islam yang akan mengikuti kotestasi kampanye politik dalam pemilu untuk memperhatikan etika kampanye yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dalam usaha mensosialisasikan dan memahamkan tentang etika kampanye tersebut MUI dapat mengeluarkan “fatwa tentang etika kampanye dalam pemilihan umum”. Hadirnya fatwa ini dirasa relevan, mengingat MUI memiliki legitimasi sosial yang cukup kuat di kalangan masyarakat muslim Indonesia, mengingat sudah ada fatwa-fatwa dari MUI yang memiliki pengaruh yang besar dalam menentukah arah gerak mayarakat muslim.
14 Menurut hemat penulis, substansi diktum dari fatwa tentang etika kampanye dalam pemilu bisa berisi empat hal:
a. Bagi setiap umat muslim Indonesia yang akan melakukan kampanye politik, dalam pelaksanaanya harus betul-betul memperhatikan pinsip-prinsip ajaran Islam. Hal ini sangat penting, mengingat umat muslim harus memiliki pemahaman bahwa orientasi melakukan kampanye adalah untuk mendapatkan ridha Allah dan bukan kekuasaan semata. b. Susunan materi kampanye harus bersifat rasional, dalam artian susunan
materi kampanye harus berisi hal-hal yang bisa diwujudkan ketika kandidat terpilih menjadi pejabat nantinya. Hal ini sangat penting, mengingat selama ini banyak kandidat menjajikan hal-hal yang di luar nalar seperti sembako gratis, pendidikan gratis, rumah sakit gratis, membuka ribuan lapangan kerja, menghilangkan kemiskinan dll. Akibatnya janji-janji tersebut tidak bisa ditepati, sehingga rakyatpun marah karena merasa dibohongi.
c. Para kandidat dilarang keras melakukan black campaign. Black campaign adalah suatu model atau perilaku atau cara berkampanye yang dilakukan dengan menghina, memfitnah, mengadu domba, menghasut atau menyebarkan berita bohong yang dilakukan oleh seorang calon atau sekelompok orang atau partai politik terhadap lawan atau calon lainya.44
d. Para kandidat dilarang keras melakukan money politic. Money politic adalah upaya untuk mempengaruhi perilaku orang dengan menggunakan imbalan tertentu. Ada yang mengartikan money politic sebagai tindakan jual beli suara pada sebuah proses politik dan kekuasaan.45
Meskipun ada beberapa poin dari diktum diatas yang sudah ada instrumen hukumnya, misalnya pasal 86 UU No. 8 Tahun 2012 Tentang Pemilu yang melarang tentang black campaign dan pasal 73 UU No. 10 Tahun 2016 Tentang Pilkada yang melarang tentang money politic, namun pada kenyataanya praktek-praktek black campaign dan money politic masih saja terjadi. Dengan hadirnya fatwa MUI tentang etika kampanye dalam pemilu ini, harapanya dapat memberikan kesadaran kepada seluruh umat muslim Indonesia tentang pentingnya etika kampanye dalam pemilu. Seorang kandidat tidak melakukan hal-hal yang buruk dalam kampanye bukan hanya karena takut akan sanksi yang ada dalam hukum positif saja, namun juga adanya kesadaran bahwa perbuatan tersebut tidak di ridhai oleh Allah, sehingga para kandidat tidak melakukanya.
Dengan demikian, urgensi dari fatwa ini bukan hanya untuk mewujudkan demokrasi substansial saja, namum fatwa ini juga memiliki urgensi untuk mewujudkan masyarakat yang lebih religius, karena politik tidak hanya dimaknai sebagai perebutan kekuasaan semata, namun politik juga dimaknai sebagai jalan untuk meraih ridha Allah.
44 Agung Nugroho, Black Campaign= Hukum Kekalahan Momentum, http://www.kompasiana.com
/agungno/black-campaign-hukum-kekekalan-momentum_55108339813311d538bc676f. Diakses Pada Tanggal 4 Juli 2017, Pukul 06:24.
45 Indra Ismawan, Money Politics Pengaruh Uang Dalam Pemilu, (Yogyakarta: Media Presindo,
15
Penutup
Disatu sisi kampanye politik adalah suatu keniscayaan dari demokrasi, namun disisi lain ada kecenderungan kampanye politik membawa dampak buruk bagi proses demokratisasi, khusunya di Indonesia. Kampanye yang harusnya dijadikan momentum untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat justru di seringkali dijadikan ajang pembodohan rakyat secara kolektif, dimana para kandidat dan partai politiknya mengumbar janji-janji untuk mendongkrak probabilitas diri atau partainya agar terpilih menjadi wakil rakyat. Tanpa menghadirkan argumentasi dan analisis yang jelas. Tak pelak lagi, kampanye sekadar menjadi ajang obral janji yang me“ninabobo”kan rakyat luas, membual ditengah krisis. Politik hitam (black campaign) dan politik uang pun (money politic) seakan sudah menjadi tradisi yang terpisahkan dari proses kampanye politik di Indonesia.
Ironisnye, mayoritas dari para kadidat tersebut beragama Islam. Jika sudah demikian, keindahan ajaran Islam sulit tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Sebagai organisasi yang memiliki peran sebagai pewaris pra Nabi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki tanggung jawab besar untuk menyadarkan umat tentang etika politik yang sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai organisasi yang memiliki peran sebagai pemberi fatwa, maka MUI memiliki relevansi untuk mengeluarkan fatwa tentang etika kampanye dalam pemilihan umum.
Mengingat MUI memiliki pengaruh yang besar dikalangan umat Islam, lahirnya fatwa kampanye ini dapat menjadi harapan untuk mewujudkan demokrastisasi yang lebih subtansial dan mewujudkan masyarakat yang lebih religius, karena masyarakat sudah memiliki pemahaman bahwa politik bukan hanya bermakna kekuasaan namun juga memiliki makna sebagai usaha untuk meraih ridha Allah SWT.
16
DAFTAR PUSTAKA
al-Hamdi, Ridho. Partai Politik Islam: Teori dan Praktik di Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013.
Al-Jauziyah, Ibnu Qayyim. Buah Ilmu. Jakarta: Pustaka Azzam, 1993.
Al-Mawardi, Imam. Hukum-hukum Penyelenggaraan Negara dalam Syari’at
Islam, Terj Fadli Bahri dalam Al-Ahkam As-Shulthaniyah. Jakarta: Darul Falah, 2006.
Asshiddiqie, Jimly. Gagasan Kedaulatan Lingkungan: Demokrasi Versus Ekokrasi.http://www.jimly.com/makalah/namafile/179/Jurnal_MIPI_ttg _Kedaultan.pdf
Azra, Azyumardi. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Masyarakat Madani. Jakarta: ICCE UIN Jakarta, 2000.
Fatah, R. Eep Saefullah. Masalah dan Prospek Demokrasi di Indonesia. Jakarta: Ghalia Indah, 1994.
Hidayat, Komarudin. Politik Panjat Pinang. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2006.
Huda, Miftahul. MUI dan Agen of Change (Sumbangsih Fatwa MUI Tentang Wakaf
Uang Terhadap Sisi Kebijakan dan Kualitas Produk Undang-undangan No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Perspektif Hukum dan Undang-Undang. Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2012.
Huda, Qamarul, Otoritas Fatwa dalam Konteks Masyarakat Demokratis (Sebuah
Tinjauan Terhadap Fatwa MUI Pasca Orde Baru, dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Perspektif Hukum dan Undang-Undang.
Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2012.
17 Ismawan, Indra. Money Politics Pengaruh Uang Dalam Pemilu, (Yogyakarta:
Media Presindo, 1999), h. 4.
Lau, Richard R. Andersen dan David P. Redlawsk. “An Exploration of Correct
Voting in Recent U.S. Presidential Elections”, American Journal of
Political Science, Vol. 52, Issue 2. 2008.
Manzur, Muhammad Ibnu. Lisan Al-Arab, Jilid I. Beirut: Dar Shadir, t.t.
MD, Moh. Mahfud. Konstitusi dan Hukum dalam Kontroversi Isu. Jakarta: PT. Raja Grafinfo Persada, 2010.
__________, Demokrasi Pilihan Terpaksa, Artikel di harian Seputar Indonesia, 13 April 2009.
Mudzhar, Muhammad Atho. Fatwa-Fatwa Majelis Ulama Indonesia; Sebuah Studi Tentang PemikiranHukum Islam di Indonesia 1975-1988. Jakarta: INIS, 1993.
Nugroho, Agung. Black Campaign= Hukum Kekalahan Momentum, http://www. kompasiana.com/agungno/black-campaign-hukumkekekalan momentu m_55108339813311d538bc676f. Diakses Pada Tanggal 4 Juli 2017, Pukul 06:24.
Pamungkas, Sigit. Perihal Pemilu. Yogyakarta: Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Gadjah Mada, 2009.
Prihatmoko, Joko J. Pemilihan Kepala Daerah Langsung, Filosofi, Sistem Dan Problema Penerapan Di Indonesia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005. Samuddin, Rapung. Fiqih Demokrasi: Menguak Kekeliriuan Pandangan
Haramnya Umat Terlibat Pemilu dan Politik. Jakarta: Gozian Press, 2013.
Ulum, Bahrul. Golongan Putih: Analisis Fatwa Majelis Ulama Indonesia, dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dalam Perspektif Hukum dan
Undang-Undang. Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2012.
Widarwati, Betty Gama dan Nunun Tri. “Hubungan Antara Kampanye Kandidat
Kepala Daerah dan Perilaku Pemilih Petisipasi Politik Wanita”, Jurnal
18
Wisudawati, Diyan Nur Rkhmah. “Isu Pendidikan Dalam Kapanye Politik”, Jurnal