ARTIKEL TENTANG KEMISKINAN DI INDONESIA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendapatan per kapita penduduk Indonesia menembus angka US $ 18,000 atau sekitar Rp. 180.000.000,00 per tahun. Angka tersebut jauh di atas beberapa negara ASEAN lainnya seperti Malaysia yang hanya memiliki pendapatan per kapita penduduk US $ 6,220, atau Thailand dengan pendapatan per kapita penduduknya US $ 2,990. Rekor tersebut hampir menyamai Korea yang memiliki income per kapita penduduk US $ 20,000, meskipun masih jauh di bawah Jepang, Australia, dan Amerika yang memiliki pendapatan per kapita penduduk di atas US $ 30,000.
Itulah topik terhangat yang dicatat di halaman surat kabar nasional pada tahun 2030. Itu pun hanya prediksi beberapa ahli yang mengabaikan peningkatan pendapatan beberapa negara lain di atas yang memang memiliki pendapatan per kapita seperti apa yang tertulis saat ini. Dengan berat hati kita harus mengakui bahwa pendapatan per kapita penduduk Indonesia hanya US $ 1,946 pada tahun 2008, jauh di bawah Jepang US $ 34,189, Amerika US $ 43,444, Australia US $ 50,000, dan Singapura US $ 29,320. Apa masyarakat Indonesia harus menunggu sampai tahun 2030? Dan apa mungkin di tahun 2030 prediksi itu benar-benar akan tercapai? Atau itu hanyalah mimpi indah belaka bagi rakyat Indonesia? Sampai sekarang masalah kemiskinan masih menjadi “hantu” yang menakutkan bagi sebagian besar rakyat Indonesia.
Kemiskinan merupakan problematika kemanusiaan yang telah mendunia dan hingga kini masih menjadi isu sentral di belahan bumi manapun. Selain bersifat laten dan aktual, kemiskinan adalah penyakit sosial ekonomi yang tidak hanya dialami oleh Negara-negara berkembang melainkan negara maju sepeti inggris dan Amerika Serikat. Negara inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri di Eropa. Sedangkan Amerika Serikat bahkan mengalami depresi dan resesi ekonomi pada tahun 1930-an dan baru setelah tiga puluh tahun kemudian Amerika Serikat tercatat sebagai Negara Adidaya dan terkaya di dunia
B. Perumusan Masalah
Dalam tugas terstruktur individu ini, penyusun yang membahas mengenai masalah kemiskinan, didapatkan rumusan masalah yang akan dibahas dalam analisis permasalahan. Rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
BAB II
ANALISIS PERMASALAHAN
A. Pembahasan
Kemiskinan sebagai suatu penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti Inggris dan Amerika Serikat. Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era keb1700-angkit1700-an revolusi industri y1700-ang muncul di Eropa. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran. Berikut sedikit penjelasan mengenai kemiskinan yang sudah menjadi dilema mengglobal yang sangat sulit dicari cara pemecahan terbaiknya.
1. Definisi
Dalam kamus ilmiah populer, kata “Miskin” mengandung arti tidak berharta (harta yang ada tidak mencukupi kebutuhan) atau bokek. Adapun kata “fakir” diartikan sebagai orang yang sangat miskin. Secara Etimologi makna yang terkandung yaitu bahwa kemiskinan sarat dengan masalah konsumsi. Hal ini bermula sejak masa neo-klasik di mana kemiskinan hanya dilihat dari interaksi negatif (ketidakseimbangan) antara pekerja dan upah yang diperoleh.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka perkembangan arti definitif dari pada kemiskinan adalah sebuah keniscayaan. Berawal dari sekedar ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar dan memperbaiki keadaan hingga pengertian yang lebih luas yang memasukkan komponen-komponen sosial dan moral. Misal, pendapat yang diutarakan oleh Ali Khomsan bahwa kemiskinan timbul oleh karena minimnya penyediaan lapangan kerja di berbagai sektor, baik sektor industri maupun pembangunan. Senada dengan pendapat di atas adalah bahwasanya kemiskinan ditimbulkan oleh ketidakadilan faktor produksi, atau kemiskinan adalah ketidakberdayaan masyarakat terhadap sistem yang diterapkan oleh pemerintah sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi. Arti definitif ini lebih dikenal dengan kemiskinan struktural.
2. Penyebab Kemiskinan
Di bawah ini beberapa penyebab kemiskinan menurut pendapat Karimah Kuraiyyim. Yang antara lain adalah:
a. Merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita secara global. b. Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat.
c. Biaya kehidupan yang tinggi.
d. Pembagian subsidi in come pemerintah yang kurang merata. .
3. Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Indonesia
Bagaimana perkembangan tingkat kemiskinan di Indonesia? Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meluncurkan laporan tahunan Pembangunan manusia (Human Development Report) 2006 yang bertajuk Beyord scarcity; power, poverty dan the global water. Laporan ini menjadi rujukan perencanaan pembangunan dan menjadi salah satu Indikator kegagalan atau keberhasilan sebuah negara menyejahterakan rakyatnya. Selama satu dekade ini Indonesia berada pada Tier Medium Human Development peringkat ke 110, terburuk di Asia Tenggara setelah Kamboja.
Jumlah kemiskinan dan persentase penduduk miskin selalu berfluktuasi dari tahun ke tahun, meskipun ada kecenderungan menurun pada salah satu periode (2000-2005). Pada periode 1996-1999 penduduk miskin meningkat sebesar 13,96 juta, yaitu dari 34,01 juta(17,47%) menjadi 47,97 juta (23,43%) pada tahun 1999. Kembali cerah ketika periode 1999-2002, penduduk miskin menurun 9,57 juta yaitu dari 47,97 (23,43%) menurun menjadi 38,48 juta (18,20%). Keadaan ini terulang ketika periode berikutnya (2002-2005) yaitu penurunan penduduk miskin hingga 35,10 juta pada tahun 2005 dengan presentasi menurun dari 18,20% menjadi 15,97 %. Sedangkan pada tahun 2006 penduduk miskin bertambah dari 35,10 juta (15,97%) menjadi 39,05 juta (17,75%) berarti penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta (1,78%).
Adapun laporan terakhir, Badan Pusat Statistika ( BPS ) yang telah melaksanakan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) pada bulan Maret 2007 angka resmi jumlah masyarakat miskin adalah 39,1 juta orang dengan kisaran konsumsi kalori 2100 kilo kalori (kkal) atau garis kemiskinan ketika pendapatan kurang dari Rp 152.847 per-kapita per bulan.
4. Kebijakan dan Program Penuntasan Kemiskinan
Upaya penanggulangan kemiskinan Indonesia telah dilakukan dan menempatkan penanggulangan kemiskinan sebagai prioritas utama kebijakan pembangunan nasional. Kebijakan kemiskinan merupakan prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 dan dijabarkan lebih rinci dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) setiap tahun serta digunakan sebagai acuan bagi kementrian, lembaga dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan pembangunan tahunan.
Sebagai wujud gerakan bersama dalam mengatasi kemiskinan dan mencapai Tujuan pembangunan Milenium, Strategi Nasional Pembangunan Kemiskinan (SPNK) telah disusun melalui proses partisipatif dengan melibatkan seluruh stakeholders pembangunan di Indonesia. Selain itu, sekitar 60 % pemerintah kabupaten/ kota telah membentuk Komite penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) dan menyusun Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) sebagai dasar arus utama penanggulangan kemiskinan di daerah dan mendorong gerakan sosial dalam mengatasi kemiskinan.
B. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Masalah dasar pengentasan kemiskinan bermula dari sikap pemaknaan kita terhadap kemiskinan. Kemiskinan adalah suatu hal yang alami dalam kehidupan. Dalam artian bahwa semakin meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka kebutuhan pun akan semakin banyak. Pengentasan masalah kemiskinan ini bukan hanya kewajiban dari pemerintah, melainkan masyarakat pun harus menyadari bahwa penyakit sosial ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Ketika terjalin kerja sama yang romantis baik dari pemerintah, nonpemerintah dan semua lini masyarakat. Dengan digalakkannya hal ini, tidak perlu sampai 2030 kemiskinan akan mencapai hasil yang seminimal mungkin.
2. Saran
Dalam menghadapi kemiskinan di zaman global diperlukan usaha-usaha yang lebih kreatif, inovatif, dan eksploratif. Selain itu, globalisasi membuka peluang untuk meningkatkan partisipasi masyarakat Indonesia yang unggul untuk lebih eksploratif. Di dalam menghadapi zaman globalisasi ke depan mau tidak mau dengan meningkatkan kualitas SDM dalam pengetahuan, wawasan, skill, mentalitas, dan moralitas yang standarnya adalah standar global.
DAFTAR PUSTAKA
Nugroho, Gunarso Dwi.2006. Modul Globalisasi. Banyumas. CV. Cahaya Pustaka Santoso Slamet, dkk. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan. Unsoed : Purwokerto. Santoso, Djoko. 2007. Wawasan Kebangsaan. Yogyakarta. The Indonesian Army Press Riyadi, Slamet dkk. 2006. Kewarganegaraan Untuk SMA/ MA. Banyumas. CV. Cahaya
Pustaka.
KORUPSI
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah :
1.Bagaimana kewenangan Jaksa dalam Sistem Peradilan Pidana yang ada di Indonesia ? 2.Bagaimana Perbandingan Proses Pengembalian Kerugian Keuangan Negara
Dalam Tindak Pidana Korupsi Antara Instrumen Hukum Perdata Dan Instrumen Hukum Pidana ?
3.Bagaimana Kewenangan Jaksa Pengacara Negara (JPN) Dalam Melakukan Gugatan Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Akibat Tindak Pidana Yang Terdakwanya Meninggal Dunia ?
BAB II Pembahasan
Istilah korupsi dipergunakan sebagai suatu acuan singkat untuk serangkaian tindakan-tindakan atau melawan hukum yang luas.bwalaupun tidak ada definisi umum atau menyuluruh tentang apa yang dimaksud dengan perilaku korup, definisi yang paling menonjol memberikan penekanan yang sama pada penyalahgunaan kekuasaan atau jabatan public untuk keuntungan pribadi.The oxford unabridged dictionary ( Kamus Lengkap Oxford) mendefinisikan korupsi sebagai “penyimpangan atau perusakan intregitas dalam pelaksanaa tugas-tugas public dengan punyuapan atau balas jasa”.Webstter’s collegiate Dictionary ( kamus perguruaan tinggi Webster)
mendefinisikan sebagai “ bujukan untuk berbuat salah dengan cara-cara tidak pantas atau melawan hukum ( seperti penyuapan )”.Pengertian ringkas yang dipergunakan oleh Bank Dunia adalah “ penyalahgunaan jabatan pulik untuk keuntungan pribadi.
Jenis tindak pidana korupsi
a. Merintangi proses pemeriksaan perkara korupsi
b. Tidak memberikan keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar. c. Bank yang tidak memberikan keterangan rekening tersangka
d. Sanksi atau ahli yang tidak memberikan keterangan atau memberi keterngan palsu e. Orang yang memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan atau keterangan palsu
Bentuk Perilaku Korupsi
Bentuk perilaku terlarang yang dikategorikan sebagai korupsi, antara lain sebagai berikut. a. Perencanaan atau pemilihan proyek-proyek yang tidak ekonomis karena kesempatan untuk mendapatkan komisi dan dukungan pilitik.
b. Pemalsuan pengadaa, termasuk kolusi, pembiayaan berlebih, atau
pemilihan pemborong, pemasok dan konsultan dengan kriteria selain penawar responsive yang dinilai terenndah secara subdtansial
c. Pembayaran-pembayaran uang pelicin kepada pegawai-pegawai pemerintah untuk memudahkan penyerahan barang atau jasa secara tepat waktu yang merupakan hak penuh masyarakat, seperti izin dan perizinan
d. Pembayaran-pembayaran tidak sah kepada pegawai-pegawai pemerintah untuk memudahkan akses baranag-barang, jasa, dan / informasi yang bukan hak masyarakat, atau untuk menolak akses masyarakat ke barang dan jasa yang secara hukum merupakan hak masyarakat
e. Pembayaran-pembayaran terlarang untuk mencegah penerapan peraturan dan perundang-undangan secara adil dan konsisten, khususnya di bidang-bidang yang menyangkut keselamatan umum, penegakan hukum, atau penagihan pemasukan f. Pembayaran-pembayaran kepada pegawai-pegawai pemerintah untuk
mengembangkan atau mempertahankan akses yang bersifat monopili tau oligopoly ke pasar-pasar tanpa adanya suatu alas an ekonomi yang mendukung untuk pembatasan-pembatasan semacam itu
g. Penyalahgunaan informasi rahasia untuk keuntungan pribadi, seperti menggunakan pengetahuan tentang penjaluran transportasi umum atau menanamkan modal di
perumahan yang kemungkinan akan bertambah nilainya.
h. Penyikapan secara sengaja informasi palsu atau menyesatkan tentang status
keuangan perusahaan-perusahaan yang dapat mencegah para calon penanam modal untuk menilai harga perusahaan-perusahaan tersebut secara akurat, seperti kelalaian untuk mengungkapkan kewajiban-kewajiban membayar yang bersyarat atau menilai asset di bawah nilai yang sebenarnya di perusahaan-perusahaan yang didaftarkan untuk swastanisasi
i. Pencurian atau penggelapan harta atau uang miliknumum
j. Penjualan tempat, jabatan, atau kenaikan pengkat kepegawaian, nepotisme, atau tindakan-tindakan lain yang melemahkan penciptaan pelayanan masayarakat yang professional dan meritokkratik
k. Pemerasan dan penyalahgunaan jabatan public, seperti penggunaan ancama pajak atau sanksi hukum untuk memeras keuntungan pribadi
v Hukum dan perundangan
Adapun instrument hukum dan perundangan anti korupsi yang berlaku di Indonesia, antara lain sebgai berikut:
a. UU No. 28 Tahun 1999 Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas darri KKN b. UU No. 31 Tahun 1999 Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
c. UU No. 20 Tahun 2001 perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 d. UU No. 15 Tahun 2002 Tindak pidana pencucian uang
e. UU No. 30 Tahun 2002 komisi pemberantasan tindak pidana korupsi
f. UU No. 7 Tahun 2006 Pengesahan Konvensi perserikatan bangsa-bangsa anti korupsi
v Lembaga anti korupsi di Indonesia
Sejarah pembentukan tim pemberantasan korupsi sesungguhnya sudaj dimulai sejak tahun 1960 dengan munculnya Perpu tentang pengusutan, penuntunan, dan pemeriksaan tindak pidana korupsi. Perpu itu terlalu dikukuhkan menjadi UU No. 24/1960. Sementara militer tetap melancarkan “ Operasi Budhi” khususnya untuk mengusut karyawan-karyawan ABRI yang di nilai tidak cakap. Adapun lembaga atau badan yang telah dibentuk pemerintah Indonesia.
BAB III Kesimpulan Dan Saran
Kita harus menerapkan niai-nilai yang terkandung pada pancasila dalam
kehidupansehari-hari. Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia sangat cocok untuk dijadikan pedoman dalam melakukan setiap perbuatan yang sesuai dengan aturan yang berlaku didalam masyarakat.
C. DAFTAR PUSTAKA
http://syuekri.blogspot.com/2012/10/hubungan-pancasila-dengan-uud-1945.html http:/ /buhartini.wordpress.com/2012/10/16/nilai-nilai-dasar-pancasila/ http://rismaulida.blog spot.com/2012/11/pengamalan-pancasila-dalam-kehidupan.html Buku panduan mata kuliah pendidikan Pancasila
Pancasila
BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Sistem keadilan dan demokrasi yang berlaku di Indonesia selalu mengacu dan berbasiskepada Pancasila dan didukung oleh UUD 1945. Pancasila pun menjadi sebuah landasandalam penentuan prinsip dan pandangan hidup. Namun dewasa ini semakin banyak penyimpangan nilai-nilai pancasila berdasarkan butir-butir yang terkandung di dalamnya. Namun nilai tersebut serasa hilang jika dibandingkan dengan kehidupan Bangsa pada zamanini. Penyimpangan pun sudah dianggap hal yang biasa dilakukan, dianggap sebagai sesuatu yang „bisa dilanggar‟ menjadi „biasa dilanggar‟. Namun butir /nilai yang terkandung dalam sila tersebut semakin hilang dan tersamarkanartinya. Contoh kecil adalah semakin berkurangnya sistem demokrasi dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.Sebagai Negara Indonesia, kita menganut sistem Demokrasi Pancasila. DemokrasiPancasila merupakan demokrasi konstitusional dengan mekanisme kedaulatan rakyat
dalam penyelenggaraan negara dan penyelengaraan pemerintahan berdasarkan konstitu si yaituUndang-undang Dasar 1945. Sebagai demokrasi pancasila terikat dengan UUD 1945 dan pelaksanaannya harus sesuai denganUUD 1945.
BAB II PERMASALAHAN
B.RUMUSAN MASALAH
2. Bagaimana kajian filosofis terhadap Pancasila ?
BAB III PEMBAHASAN
A. Kajian Ilmiah PancasilaSebagai suatu kajian ilmiah harus memenuhi syarat ilmiah yaitu dengan metode analisis-abstraksi-sistesis. Adapun syarat ilmiah tersebut adalah sebagai berikut :
1. Berobyek
Syarat suatu pengetahuan ilmiah, bahwa ilmu pengetahuan itu herus memiliki obyek. Di dalamfilsafat ilmu pengetahuan dibedakan atas dua macam
obyek yaitu “obyek formal” dan “obyek materia”.
Obyek formal, Pancasila yang dalam arti formal yaitu Pancasila dalam rumusan yang sudahtertentu bunyinya dan berkedudukan hukum sebagai dasar filsafat Negara. Obyek material, Pancasila adalah suatu obyek yang merupakan sasaran pembahasandan pengkajian, baik bersifat empiris maupun non-empiris. Obyek material pembahasan, adalah pandangan hidup bangsa yang sudah lama diamalkan dalam segala aspek, adat dan kebudayaan, dalamkehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selain itu obyek materia pembahasan
Pancasila berupa: lembaran Negara, lembaran hukum maupunnaskah-naskah resmi kenegaraan yang mempunyai sifat imperatif yuridis. Adapun obyek yang bersifatnon-emperis meliputi: nilai moral, serta nilai-nilai religius yang tercermin dalam kepribadian, sifat,karakter dan pola-pola budaya dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
2. Bermetode
berkaitan dengan hasil-hasil budaya dan obyek sejarah, maka lazim digunakan metode “hermeneutika” yaitusuatu metodeuntuk menemukan makna dibalik obyek.Demikian juga metode “koherensi historis”, serta metode “pemahaman, penafsiran dan
interpretasi”,metode-metode tersebut senantiasa didasarkan atas hukum-hukum logika dalam suatu penarikankesimpulan terhadap: UUD 1945, TAP MPR, Perundang-undangan, serta fakta-fakta historis yangtelah diakui kebenarannya, diteliti dengan menggunakan metode dan teknik yang bersifat ilmiah agar dapat dipahami obyek secara lebih berhasil, sehingga diperoleh pengetahuan yang benar mengenaiobyek itu.
3. Bersistem
Pengetahuan ilmiah harus merupakan suatu kesatuan, artinya keseluruhan proses dan hasil berpikir disusun dalam satu kesatuan yang bulat. Saling berhubungan sehingga diperoleh kesatuanyang organis, harmonis, dan dinamis. Pembahasan Pancasila sebagaimana yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945 secara ilmiah, harus merupakan suatu kesatuan dan keutuhan.
4. Bersifat Universal
Kebenaran pengetahuan ilmiah harus bersifat universal, tidak terbatas oleh waktu, situasi,maupun jumlah tertentu. Kajian hakikat pada nilai-nilai Pancasila bersifat universal, dengan kata lain bahwa inti sari, essensi atau makna yang terdalam dari sila-sila Pancasila-sila adalah bersifat universalyang mendukung kebenaran atas kesimpulan dan pertanyaan.
B. Kajian Filosofis Pancasila
yang berketuhanan dan berkemanusiaan, hal ini berdasarkan kenyataan objektif bahwa manusia adalahmakhluk Tuhan yang Maha Esa. Syarat mutlak suatu negara adalah adanya persatuan yangterwujudkan sebagai rakyat (merupakan unsur pokok negara), sehingga secara filosofis
negara berpersatuan dan berkerakyatan konsekuensinya rakyat adalah merupakan dasar ontologismdemokrasi, karena rakyat merupakan asal mula kekuasaan negara atas dasar pengertian filosofistersebut maka dalam hidup bernegara nilai-nilai pancasila merupakan dasar filsafat negara.Konsekuensinya dalam setiap aspek penyelenggaraan negara harus bersumber pada nilai-nilaiPancasila termasuk system peraturan perundang-undangan di Indonesia. Oleh karena itu dalamrealisasi kenegaraan termasuk dalam proses reformasi dewasa ini merupakan suatu keharusan bahwa pancasila merupakan sumber nilai dalam pelaksanaan kenegaraan baik dalam pembangunan nasional,ekonomi, politik, hukum, social budaya, maupun pertahanan dan keamanan.
Ir. Soekarno ( 1 Juni 1945).“Pancasila adalah hasil perenungan jiwa yang mendalam. Pancasila itu adalah isi jiwa bangsa Indonesia. Kalau filsafat itu
BAB III PENUTUPAN
SARAN
Kita harus menerapkan niai-nilai yang terkandung pada pancasila dalam kehidupansehari-hari. Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia sangat cocok untuk dijadikan pedoman dalam melakukan setiap perbuatan yang sesuai dengan aturan yang berlaku didalam masyarakat.
C. DAFTAR PUSTAKA
Artikel tentang HAM
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang
dalampenerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkaitdengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga merupakan sesuatu yangharus diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahasterutama dalam era reformasi ini. HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam erareformasi dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan hak, kitahidup tidak sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Jangan sampai kitamelakukan pelanggaran HAM terhadap orang lain dalam usaha perolehan atau pemenuhanHAM pada diri kita sendiri. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk membuat makalah
tentang HAM. Maka dengan ini penulis mengambil judul “Hak Asasi Manusia”. 1.2 Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
Perkembangan pemikiran HAM dunia bermula dari:Magna Charta Pada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM di kawasan Eropa dimulai denganlahirnya magna Charta yang antara lain memuat
pandangan bahwa raja yang tadinya memilikikekuasaan absolute (raja yang menciptakan hukum, tetapi ia sendiri tidak terikat dengan hukum yangdibuatnya), menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat diminta pertanggung jawabannya dimukahukum(Mansyur Effendi,1994)The American declaration Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence yang lahir dari paham Rousseau dan Montesquuieu. Mulailah dipertegas bahwa manusia Pendidikan
Kewarganegaraan | Hak Asasi Manusia 6adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya, sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir ia harusdibelenggu.The French declaration Selanjutnya, pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration (Deklarasi Perancis), dimana ketentuantentang hak lebih dirinci lagi sebagaimana dimuat dalam The Rule of Law yang antara lain berbunyi tidakboleh ada penangkapan tanpa alasan yang sah. Dalam kaitan itu berlaku prinsip presumption of innocent, artinya orang-orang yang ditangkap, kemudian ditahan dan dituduh, berhak dinyatakan tidakbersalah, sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan iabersalah. The four freedom Ada empat hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, hak kebebasan memeluk agama danberibadah sesuai dengan ajaran agama yang diperlukannya, hak kebebasan dari kemiskinan dalamPengertian setiap bangsa berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagipenduduknya, hak kebebasan dari ketakutan, yang meliputi usaha, pengurangan persenjataan, sehinggatidak satupun bangsa berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap Negara lain( Mansyur Effendi,1994). 2.3 Macam-Macam Hak Asasi Manusia
1. Hak asasi pribadi / personal Right
atau perkumpulan- Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakinimasing-masing
2. Hak asasi politik / Political Right
- Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan- hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan- Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik lainnya- Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi
3. Hak azasi hukum / Legal Equality Right
- Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan- Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / pns- Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum 4. Hak azasi Ekonomi / Property Rigths
- Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli- Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak- Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll- Hak kebebasan untuk memiliki susuatu- Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak 5. Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights
- Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan- Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan penyelidikan di matahukum. 6. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right
- Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan- Hak mendapatkan pengajaran-Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat
2.4 Hak Asasi Manusia dalam UU No. 39 Tahun 1999
BAB III PENUTUP
Kesimpulan :
Hak Asasi Manusia(HAM) merupakan anugerah yang diberikan Tuhan YangMaha Esa kepadaseluruh manusia dan tak ada satupun orang pun yang dapatmengganggu gugat, tidak terkecualipemerintah. Jadi sudah sepatutnya pemerintahmemberikan apa yang seharusnya rakyat milikiyang diantaranya adalah hak untuk mendapatkan keadilan dan kebenaran.Hak Asasi Manusia(HAM) sendiri juga telah diatur didalam UU No. 39 Tahun1999 yang isinyamengenai hak-hak yang dimiliki rakyat di Indonesia yaitu Hak hidup, Hak berkeluarga danmelanjutkan keturunan, Hak mengembangkan diri, Hak memperoleh keadilan, Hak ataskebebasan pribadi, Hak atas rasa aman, Hak ataskesejahteraan, Hak turut serta dalampemerintah, Hak wanita dan Hak anak.Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang
termasuk aparatnegara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi,menghalangi, membatasi dan atau mencabut HAM seseorang atau kelompok orang yangdijamin oleh Undang-Undang ini, dan tidak didapatkan atau dikhawatirkan tidak akanmemperoleh penyelesaian hukum yang berlaku
www.disukai.comPendidikan Kewarganegaraan | Hak Asasi Manusia 13 Daftar Pustaka
Internet :
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2010/01/hak_asasi_manusia_dan_hubungan_internasional.pdf www.terpopuler.net/pengertian-hak-asasi-manusia-ham
kasuskorupsimakananobatham.blogspot.com/2011/01/kasus-kasus-pelanggaran-ham-di.html
www.scribd.com/doc/54785849/Makalah-Pelanggaran-HAM-KASUS-MUNI
KONSTITUSI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara garis besar konstitusi merupakan seperangkat aturan main dalam kehidupan bernegara yang mengatur hak dan kewajiban warga Negara dan Negara itu sendiri. Konstitusi suatu Negara biasa di sebut dengan Undang-Undang Dasar (UUD) . dalam pengembangan Negara dan warga Negara dan warga Negara yang demokratis, keberadaan konstitusi demokrasi lahir dan Negara yang demokrasi.
Namun demikian, tidak ada jaminan adanya konstitusi yang demokratis akan melahirkan sebuah Negara yang demokratis akan melahirkan sebuah Negara yang demokratis. Hal itu disebabkan oleh penyelewengan atas konstitusi oleh penguasa otoriter. Oleh karenanya akan diuraikan lebih menyeluruh unsure-unsur penting dalam konstitusi.
B. Rumusan Masalah
1) Apakah konsep dasar (Pengertian, Tujuan, dan Fungsi) konstitusi ? 2) Apa saja klasifikasi konstitusi ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Konstitusi a) Pengertian Konstitusi
1) Kontitusi itu berasal dari bahasa parancis yakni constituer yang berarti membentuk. 2) Dalam bahasa latin konstitusi berasal dari gabungan dua kata yaitu “Cume” berarti bersama dengan dan “Statuere” berarti membuat sesuatu agar berdiri atau mendirikan, menetapkan sesuatu, sehingga menjadi “constitution”.
3) Dalam istilah bahasa inggris (constution) konstitusi memiliki makna yang lebih luas dan undang-undang dasar. Yakni konstitusi adalah keseluruhan dari peraturn-peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat cara-cara bagaimana sesuatu pemerintahan diselenggarakan dalam suatu masyarakat. 4) Dalam terminilogi hokum islam (Fiqh Siyasah) konstitusi dikenal dengan sebutan DUSTUS yang berati kumpulan faedah yang mengatur dasar dan kerja sama antar sesame anggota masyarakat dalam sebuah Negara.
5) Menurut pendapat James Bryce, mendefinisikan konstitusi sebagai suatu kerangka masyarakat politik (Negara yang diorganisir dengan dan melalui hokum. Dengan kata lain konstitusi dikatakan sebagai kumpulan prinsip-prinsip yang mengatur kekuasaan
pemerintahan, hak-hak rakyat dan hubungan diantara keduanya. b) Tujuan Konstitusi
c) Fungsi Dan Ruang Lingkup Konstitusi
Dalam berbagai literature hokum tata Negara maupun ilmu politik ditegaskan bahwa fungsi konstitusi adalah sebagai dokumen nasional dan alat untuk membentuk system politik dan hokum Negara. Oleh karena itu ruang lingkup undang-undang dasar sebagai konstitusi tertulis sebagaimana dikemukakan oleh A.A.HY Struycken memuat tentang :
1) Hasil perjuangan politik bangsa diwaktu lampau.
2) Tingkat-tingkat tinggi pembangunan ketatanegaraan bangsa.
3) Pandangan tokoh bangsa yang hendak di wujudkan, baik sekarang maupun masa yang akan dating.
4) Suatu keinginan yang mana perkembangan kehidupan ketatanegaraan bangsa hendak dipimpin.
c). Fungsi Konstitusi
1. Konstitusi berfungsi sebagai dokumen nasional (national document) yang
mengandung perjanjian luhur, berisi kesepakatan-kesepakatan tentang politik, hukum, pendidikan, budaya, ekonomi, kesejahteraan dan aspek fundamental yangmenjadi tujuan Negara.
2. Konstitusi sebagai piagam kelahiran (a birth certificate of new state). 3.Konstitusi sebagai sumber hukum tertinggi.
4.Konstitusi sebagai identitas nasional dan lambing persatuan 5.Konstitusi sebagai alat membatasi kekuasaan
6. Konstitusi sebagai pelindung HAM dan kebebasan warga Negara
B. Klasifikasi Konstitusi
Konstitusi dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a) Konstitusi tertulis dan tidak tertulis
undang-undang biasa untuk mengembangkan konstitusi itu sendiri dalam aturan-aturang yang sudah disiapkan.
2) Konstitusi tidak tertulis dalam perumusannya tidak membutuhkan proses yang panjang misalnya dalam penentuan Qourum, Amandemen, Referendum dan konvensi. b) Konstitusi Fleksibel dan Konstitusi Kaku
1) Ciri-ciri konstitusi fleksibel yaitu a. Elastic
b. Diumumkan dan diubah dengan cara yang sama. 2) Cirri-ciri konstitusi yang kaku
a. Mempunyai kedudukan dan derajat yang lebih tinggi dan peraturan undang-undang yang lain.
b. Hanya dapat diubah dengan cara yang khusus, istimewa dan persyaratan yang berat. c) Konstitusi derajat tinggi dan komstitusi derajat tidak tinggi
1) Konstitusi derajat tinggi ialah konstitusi yang mempunyai derajat kedudukan yang paling tinggi dalam Negara dan berada diatas peraturan perundang-undang yang lain. 2) Konstitusi tidak derajat tinggi ialah konstitusi yang tidak mempunyai kedudukan serta derajat.
d) Konstitusi serikat dan konstitusi kesatuan
1) Jika bentuk Negara itu serikat maka akan didapatkan system pembagian kekuasaan antara pemerintah Negara serikat dengan pemerintah Negara bagian.
2) Dalam Negara kesatuan, pembagian kekuasaan tidak dijumpai karena seluruh kekuasaannya terpusat pada pemerintah pusat sebagaimana diatur dalam konstitusi. e) Konstitusi system pemerintahan presidensial dan konstitusi system pemerintahan parlementer.
Konstitusi yang mengatur beberapa ciri-ciri system pemerintrahan presidensial dapat diklasifikasikan kedalam konstitusi system pemerintah presidensial begitu pula sebaliknya.
Konstitusi sebagai satu kerangka kehidupan politik telah lama dikenal yaitu sejak zaman yunani yang memiliki beberapa kumpulan hokum (semacam kitab hokum pada 624 – 404 SM) sehingga, sebagai Negara hokum Indonesia memiliki konstitusi yang dikenal sebagai UUD 1945 yang telah dirancang sejak 29 Mei 1945 sampai 16 Juli 1945 oleh badan penyelidik usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKU) yang mana tugas pokok badan ini sebenarnya menyusun rancangan UUD. Namun dalam praktik persidangannya berjalan berkepanjangan khususnya pada saat membahas masalah dasar Negara.diakhir siding I BPUPKIberhasil membentuk panitia kecil yang disebut panitia sembilang, panitia ini pada tanggal 22 juni 1945 berhasil mencapai kompromi untuk menyetujui sebuah naskah mukhodimah UUD yang kemudian diterima dalam siding II BPUPKI tanggal 11 Julu 1945. Setelah itu Ir. Soekarno membentuk panitia kecil pada tanggal 16 juli 1945 yang diketuai oleh Soepomo dengan tugas menyusun rancangan UUD dan membentuk panitia persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang
beranggotakan 21 orang. Sehingga UUD atau konstitusi Negara republic Indonesia diatukan ditetapkan oleh PPKI pada hari sabtu tanggal 18 Agustus 1945. Dengan demikian sejak itu Indonesia telah menjadi suatu Negara modern karena telah memiliki suatu system ketatanegaraan yaitu dalam UUD 1945.
Dalam perjalanan sejarah, konstitusi Indonesia telah mengalami beberapa kali pergantian baik nama maupun subtansi materi yang dikandungnya, yaitu :
1) UUD 1945 yang masa berlakunya sejak 18 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949. 2) Konstitusi republic Indonesia serikat yang lazim dikenal dengan sebutan konstitusi RIS (17 Desember 1949 – 17 Agustus 1950).
3) UUD 1950 (17 Agustus 1950 – 05 Juli 1959).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
a) Konsep dasar konstitusi 1) Pengertian
Konstitusi adalah kumpulan prinsip-prinsip yang mengatur kekuasaan pemerintahan, hak-hak pihak yang diperintah (rakyat), dan hubungan diantaranya.
2) Tujuan
Tujuan konstitusi adalah membatasi tindakan sewenang-wenang pemerintah, menjamin hak rakyat yang diperintah, dan menetapkan pelaksanaan kekuasaan yang bertahap. 3) Fungsi
Fungsi konstitusi adalah sebagai dokumen nasional dan alat untuk membentuk system politik dan system hokum Negara.
b) Klasifikasi Konstitusi
Konstitusi dikalsifikasikan menjadi : 1) Konstitusi tertulis dan tidak tertulis. 2) Konstitusi fleksibel dan kaku.
3) Konstitusi derajat tinggi dan tidak derajat tinggi. 4) Konstitusi serikat dan kesatuan.
1) UUD 1945 (18 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949).
2) Konstitusi republic Indonesia serikat / RIS (17 Desember 1949 – 17 Agustus 1950). 3) UUD 1950 (17 Agustus 1950 – 05 Juli 1959).