• Tidak ada hasil yang ditemukan

RADIKALISME DAN TERORISME DI INDONESIA M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RADIKALISME DAN TERORISME DI INDONESIA M"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1

RADIKALISME DAN TERORISME DI INDONESIA: MEMBANGUN KESADARAN KRITIS MASYARAKAT

Oleh: Yusuf Kurniawan NIM T151608003

A. Latar Belakang

Dalam dua dekade terakhir dunia internasional disibukkan dengan upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan tumbuhnya radikalisme dan pemberantasan terorisme, terutama sejak peristiwa runtuhnya dua simbol Amerika, yakni menara kembar The World Trade Center (WTC) di kota New York Amerika Serikat dan gedung militer Pentagon pada tanggal 11 September 2001. Hampir di berbagai negara terjadi aksi terorisme yang menyebabkan korban jiwa dan korban luka serta menimbulkan trauma bagi masyarakat. Dalam satu tahun terakhir saja (sepanjang tahun 2016) telah terjadi lebih dari empat puluh kali aksi teror dan pengeboman yang terjadi di dunia (Rappler.com, 2017).

Kurang lebih sepekan setelah penyerangan WTC George W. Bush mencanangkan War on Terror (WoT) dalam pidatonya tanggal 20 September 2001. Istilah tersebut lalu lebih dikenal dengan Global War on Terrorism (GWoT), yang merupakan sebuah kampanye militer internasional untuk memerangi segala bentuk aksi teror di seluruh dunia, dibawah inisiasi dan komando Amerika Serikat (Wikipedia, 2001) & (Britannica, 2001). Tidak terkecuali di Indonesia pasca bom natal tahun 2001 dan bom Bali I tahun 2002, pemerintah Indonesia lewat Kapolri saat itu membentuk Detasemen Khusus 88 (Densus 88) yang persisnya dibentuk tanggal 20 Juni 2003 (Amirullah, 2013). Detasemen khusus bentukan Polri tersebut tidaklah “sia-sia” karena sejak peristiwa bom Bali 1 hingga tahun 2016 aksi pengeboman terus terjadi

(2)

2 B. Ancaman Terorisme dan Sikap Masyarakat

(3)

3

Maka terciptalah teror di dalam masyarakat; rasa takut yang berlebihan yang menyebabkan orang kehilangan hak azasinya untuk merasakan hidup bebas dari rasa takut dan tekanan.

Namun, ada sebagian masyarakat yang tidak merasa takut dengan adanya aksi-aksi teror yang terjadi di Indonesia selama ini. Menurut survei yang dilakukan oleh SMRC semakin rendah tingkat pendidikan masyarakat, maka semakin kecil rasa ketakutan mereka terhadap ancaman terorisme (Tashandra, 2016). Memang terbukti ada sebagian warga masyarakat yang berfoto selfie di TKP pengeboman dan bahkan seorang penjual sate tetap melayani pembeli padahal jarak tempatnya berjualan hanya radius kurang lebih 200m dari lokasi kejadian pengeboman di Sarinah (Samudra, 2016). Seorang pejabat PBB yang kebetulan sedang bertugas di Jakarta ketika bom Sarina terjadi juga menyatakan kekagumannya melihat warga Jakarta yang sama sekali tidak takut dengan insiden pengeboman tersebut. Bahkan dalam akun Twitter mereka menuliskan hashtag #KamiTidakTakut dan #Jakartaberani (Maulana, 2016). Sikap seperti ini mengakibatkan warga masyarakat menjadi kurang tanggap atau kurang kritis terhadap fenomena sosial atau budaya yang ada di sekitar mereka. Sikap masyarakat yang “kurang kritis” tersebut bukannya tidak beralasan karena penggerebekan dan penangkapan

yang dilakukan oleh Densus 88 selama ini banyak yang masih berdasarkan dugaan, sehingga orang-orang yang mereka tahanpun masih berstatus “terduga teroris.” Diantara serangkaian penangkapan yang terjadi selama ini ada yang menimbulkan kemarahan sebagian masyarakat terhadap Densus 88 karena salah tangkap dan penganiayaan yang berujung pada kematian “terduga teroris” bernama Siyono (Faiz, 2016) (BBC, 2016) (Artharini, 2016). Hasil forensik

menyatakan bahwa Siyono meninggal karena beberapa tulang iganya patah dan menusuk jantungnya, maka masyarakat justru mempertanyakan “kinerja” Densus 88 yang sebelumnya

(4)

4

pemberitaan tentang penyergapan dan penangkapan terduga teroris adalah pengalihan isu. Hal ini mengakibatkan masyarakat menjadi semakin acuh dengan berita-berita terorisme. Padahal sikap acuh masyarakat berkontribusi terhadap tumbuhnya terorisme (Hidayat & Kholisostussurur, 2016).

C. Terorisme dan Ketidakadilan Global (Global Injustice)

Masalah ketidakadian global sangat jarang dibahas oleh media ketika mereka ramai membicarakan isu terorisme, padahal ini merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya serangan terhadap Barat atau objek-objek yang dianggap simbol Barat. Invasi Barat terhadap negara-negara Islam serta dukungannya terhadap invasi Israel terhadap Palestina adalah salah satu contoh riel ketidakadilan global. Setelah terjadi insiden penembakan di Kantor Majalah Charlie Hebdo di Paris Perancis tanggal 7 Januari 2015 yang mengakibatkan dua belas orang tewas (Banan, 2015) banyak pihak yang mengecam insiden tersebut dan bahkan dunia internasional membuat hastag #prayforparis (Ratitia, 2015). Hal yang sama (kecaman) seharusnya juga dilakukan terhadap Amerika Serikat ketika negara tersebut menyerang Iraq dan mengakibatkan ratusan orang tewas. Dapat dipahami jika Amerika Serikat marah ketika lebih dari 3.000 orang warganya tewas dalam serangan WTC, tetapi juga harus dipahami jika umat Islam marah ketika tentara Amerika terus-terusan membunuh warga Afghanistan dan Pakistan (Fadly, 2009). Kita juga bisa menyaksikan bagaimana Israel terus menginvasi Palestina sepanjang sejarah dan tidak satu negara Barat pun yang berusaha menghentikannya atau mengecamnya. Bahkan Amerika Serikat dan Inggris serta sekutu-sekutunya malah mendukung Israel.

(5)

5

FPI kembali dari Mapolda Jawa Barat mengawal imam besar mereka, Habieb Rizieq Shihab setelah diperiksa di Mapolda Jabar, dihadang dan diserang oleh massa GMBI yang bersenjatakan balok hingga mengakibatkan sebuah mobil laskar FPI hancur dan banyak anggota FPI terluka dan patah tulang (Kaimuddin, 2017). Sebagai aksi balasan FPI melakukan aksi perusakan markas GMBI di Ciampea Bogor (Salim, 2017). Massa GMBI yang sudah merencanakan aksi kerusuhan tersebut dibiarkan saja oleh polisi, terbukti ketika mereka terlihat membawa batu dan balok kayu dibiarkan saja oleh polisi, karena Ketua Harian GMBI adalah Kapolda Jawa Barat. Bentuk ketidakadilan seperti ini bisa menumbuhkan benih-benih radikalisme.

Pada tahun 2005 sebuah laporan berjudul International Impact of Iraq yang ditulis oleh Joint Intelligence Committee (JIC) menyatakan bahwa “We think that the conflict occurring in

Iraq has worsened international terrorism menace and continuously given impacts in long

term. The conflict has made terrorists more enthusiastic to attack the West and motivated other

people to do similar actions.(ibid)”. Maksudnya adalah konflik yang terjadi di Iraq telah memperburuk ancaman teror internasional dan berdampak jangka panjang. Konflik tersebut justru membuat para teroris semakin ingin menyerang Barat dan justru akan memotivasi orang lain untuk melakukan aksi teror.

(6)

6 D. Radikalisme di Indonesia

Menurut Merriam Webster online Dictionary The opinions and behavior of people who favor extreme changes especially in government, or radical political ideas and behavior.”

(Merriam-Webster, 2016). Sedangkan menurut Cambridge Dictionary radikalisme adalah “believing or expressing the belief that there should be great or extreme social or political

change” (Cambridge, 2016). Jadi, radikalisme itu adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pemikiran, keyakinan dan perilaku yang ekstrem, yang berkaitan dengan persoalan sosial atau politik. Adapun dalam essay ini saya akan membicarakan tentang radikalisme dalam konteks agama.

(7)

7

disebabkan oleh aspek ekonomi dan sosial yang semakin luas di masyarakat (Jati, 2013). Sirozi menyatakan bahwa masalah mendasar yang menyumbang merebaknya radikalisme Islam di seluruh dunia adalah sempitnya pemahaman tentang konsep jihad (Sirozi, 2005). Dapat disimpulkan bahwa munculnya radikalisme itu lebih karena disebabkan oleh ketidakpuasan dan ketidaksetujuan sekelompok orang terhadap kebijakan pemerintah dan mereka tidak mempunyai akses untuk berdialog dengan penguasa atau mereka diperlakukan tidak adil oleh penguasa.

Dari deskripsi dan penjelasan di atas kita bisa melihat ada persoalan yang ada di masyarakat, yaitu pertama masyarakat yang “kurang kritis” terhadap isu terorisme secara tidak langsung bisa turut berkontribusi terhadap tumbuhnya radikalisme dan aksi terorisme di Indonesia. Jika ini dibiarkan para teroris akan lebih leluasa bergerak. Selama ini tempat tinggal mereka yang diduga teroris ini tinggal di tengah-tengah komplek perumahan atau kampong bersama warga masyarakat lainnya, hanya saja karena mereka pandai berkamuflase dan masyarakat sekitar “tidak kritis” maka keberadaan mereka tidak diketahui.

Ke dua, nilai-nilai budaya masyarakat yakni saling menghargai dan menghormati sudah tidak lagi dijunjung tinggi baik di tingkat individu, masyarakat maupun negara. Ke tiga, semakin hilangnya budaya tabayun atau kroscek antara pihak-pihak yang terlibat konflik. Masing-masing pihak saling berprasangka tidak baik. Ke empat, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin mempermudah keterbukaan informasi publik, apabila tidak dikelola dengan profesional akan dapat menimbulkan rasa saling curiga dan fitnah.

Oleh karena itu, rumusan masalah yang harus dipecahkan adalah bagaimana membangun “kesadaran kritis” warga masyarakat yang selama ini beranggapan bahwa terorisme itu bukan

(8)

8 E. Metodologi

Riset ini harus diawali dengan membuat road map atau peta jalan, terkait dengan apa yang telah dilakukan dan apa yang harus/akan dilakukan baik oleh para peneliti sebelumnya ataupun oleh pemerintah. Upaya untuk membangun kesadaran kritis masyarakat diperlukan metodologi yang tepat. Untuk membuat masyarakat sadar akan pentingnya kesadaran akan bahaya radikalisme dan terorisme tidak bisa dilakukan dengan cara paksa, tetapi dengan pendekatan halus atau Soft-power diplomacy; diplomasi antara pemerintah dan pihak-pihak yang berkonflik atau antara pemerintah dan warga yang berkonflik dengan pemerintah. Strategi Penelitian

Ini merupakan sebuah penelitian kualitatif berdasarkan studi kepustakaan (library research). Karena topik penelitian ini berkaitan dengan budaya maka penelitian ini termasuk penelitian etnografi (Grbich, 2007).

Lokasi

Penelitian ini akan dilaksanakan di kota Surakarta, karena kebetulan di Surakarta pernah terjadi beberapa kali aksi terorisme dan pengeboman, sehingga memenuhi syarat untuk dijadikan lokasi untuk penelitian ini.

Data dan Sumber Data

Data penelitian ini berupa hasil kuesioner dan wawancara dengan warga masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat Solo tentang persepsi dan pendapat mereka mengenai ancaman terorisme. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data diperoleh dari membagikan kuesioner dan melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan nara sumber.

(9)

9

Sebuah negara makmur yang mempunyai penduduk dengan tingkat keteraturan sosial yang tinggi, berpendidikan tinggi, memiliki kesadaran tinggi akan tanggung jawabnya dan kewajibannya sebagai warga negara dan warga masyarakat dan kritis terhadap dinamika sosial dan budaya serta memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi adalah sebuah mimpi yang mungkin sulit kita temukan sekarang ini. Namun gambaran di atas adalah sebuah mimpi seorang pemimpin atau kepala negara. Sebagai akademisi kita memiliki rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan negara kita yang berdasarkan Pancasila. Etika bernegara dan berwarga negara sudah diatur dalam UUD 1945. Maka tidaklah berlebihan jika kita menginginkan masyarakat bangsa kita seperti gambaran di atas. Jika riset ini dilakukan maka hasilnya akan memberikan manfaat dan kontribusi kepada masyarakat luas, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tingkat kesadaran, kepedulian dan sikap kritis masyarakat akan meningkat. Hal ini tentu akan berimplikasi pada meningkatnya persatuan dan kesatuan warga masyarakat serta jalinan kerjasama yang kooperatif antara masyarakat dan pemerintah selama pemerintah konsekuen dengan tugas dan kewajibannya.

G. Kesimpulan

(10)

10

Pendekatan diplomatis oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang bertikai atau antara pemerintah dengan pihak yang beroposisi dengan pemerintah perlu dilakukan agar dapat memecahkan persoalan. Disamping itu membangun kesadaran kritis warga masyarakat akan pentingnya ancaman terorisme juga harus dibangun agar warga masyarakat memiliki kemampuan untuk berpikir kritis dan proaktif dalam menghadapi perubahan sosial dan budaya, khususnya terhadap ancaman terorisme.

(11)

11

Bibliography

Aldeputro, R. (2015, October 31). Bom Alam Sutera dan Titik Balik Isu Terorisme di Indonesia. Retrieved December 25, 2016, from Kompasiana.com:

http://www.kompasiana.com/rama.aldeputro/bom-alam-sutera-dan-titik-balik-isu-terorisme-di-indonesia_5634b17e2ab0bd640950bfbc

Amirullah. (2013, March 8). Begini Detasemen Khusus 88 Antiteror Dibentuk. Retrieved January 13, 2017, from Tempo.co: https://m.tempo.co/read/news/2013/03/08/063465820/begini-detasemen-khusus-88-antiteror-dibentuk

Artharini, I. (2016, April 11). Penyebab kematian terduga teroris Siyono terungkap. Retrieved December 26, 2016, from BBC Indonesia:

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160411_indonesia_autopsi_siyo no

Banan. (2015, January 8). Charlie Hebdo kantor majalah penghina Nabi Muhammad di Paris diserang, 12 tewas - See more at: https://www.arrahmah.com/news/2015/01/08/charlie-

hebdo-kantor-majalah-penghina-nabi-muhammad-di-paris-diserang-12-tewas.html#sthash.GxxYFj2W.dpuf. Retrieved January 15, 2017, from Arrahmah.com: https://www.arrahmah.com/news/2015/01/08/charlie-hebdo-kantor-majalah-penghina-nabi-muhammad-di-paris-diserang-12-tewas.html

BBC. (2016, March 15). Warga Solo protes Densus 88 terkait kematian Siyono. Retrieved December 26, 2016, from BBC Indonesia:

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160314_indonesia_densus_prot es_solo.shtml

Britannica, E. (2001). War on Terrorism. Retrieved January 13, 2017, from Encyclopaedia Britannica: https://www.britannica.com/topic/war-on-terrorism

Bruinessen, M. v. (n.d.). Genealogies of Islamic radicalism in post-Suharto Indonesia. South Esat Asia Research, 10(2), 117-154. Retrieved January 14, 2017, from

http://journals.sagepub.com/doi/abs/10.5367/000000002101297035

Cambridge. (2016). Cambridge Dictionary. Retrieved December 27, 2016, from Online Cambridge Dictionary: http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/radical

Fadly. (2009, October 3). Isu Terorisme dan Serangan Terhadap Islam. Retrieved December 25, 2016, from Arrahmah.com: https://www.arrahmah.com/read/2009/10/03/5799-isu-terorisme-dan-serangan-terhadap-islam.html

Faiz, A. (2016, March 26). Apa Saja Kejanggalan dalam Kematian Siyono, Terduga Teroris? Retrieved December 26, 2016, from Tempo:

https://m.tempo.co/read/news/2016/03/26/063757075/apa-saja-kejanggalan-dalam-kematian-siyono-terduga-teroris

Grbich, C. (2007). Qualitative Data Analysis. Great Britain: Sage Publication.

Hidayat, M. A., & Kholisostussurur, L. (2016, January 15). NU: Sikap Cuek Masyarakat Menumbuhkan Terorisme. Retrieved January 14, 2017, from VIVA:

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/723711-nu-sikap-cuek-masyarakat-menumbuhkan-terorisme

Jati, W. R. (2013, December). Radicalism in the Perspective of Islamic Populism: Trajectory of Political Islam in Indonesia. Journal of Indonesian Islam, 7(2). Retrieved December 25, 2016, from https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8& ved=0ahUKEwjBuaubgI_RAhWKro8KHaJPBSgQFggeMAE&url=http%3A%2F%2Fjiis.uinsby.ac.i d%2Findex.php%2FJIIs%2Farticle%2FviewFile%2F129%2F128&usg=AFQjCNEHqRBxG8u74p5 FFrmJ-MgqZBWtig&sig

(12)

12

Maulana, V. (2016, January 15). Media Inggris: Masyarakat Indonesia Beri Pesan Kuat pada Teroris. Retrieved January 15, 2017, from SindoNews.Com:

http://international.sindonews.com/read/1077321/41/media-inggris-masyarakat-indonesia-beri-pesan-kuat-pada-teroris-1452843015

Merriam-Webster. (2016). Merriam-Webster. Retrieved from Merriam Webster Dictionary: https://www.merriam-webster.com/dictionary/radicalism

Rappler.com. (2017, January 1). Lini Masa: Serangan teror di penjuru dunia 2016. Retrieved January 15, 2017, from Rappler.com: http://www.rappler.com/indonesia/140923-kronologi-aksi-teror-2016

Ratitia, G. (2015, January 15). Kompasiana.com. Retrieved January 15, 2017, from Serangan Teror di Perancis, Harga Mahal Sebuah Kartun Charlie Hebdo:

http://www.kompasiana.com/gitanyali/serangan-teror-di-perancis-harga-mahal-sebuah-kartun-charlie-hebdo_54f379417455137c2b6c7832

Saifulloh, M. (2015, July 30). Tiga Faktor Pemicu Radikalisme. Retrieved December 25, 2016, from Kompasiana.com: http://news.okezone.com/read/2015/07/30/337/1187812/tiga-faktor-pemicu-radikalisme

Salim, H. J. (2017, January 13). Polri Benarkan Kapolda Jabar Pembina GMBI yang Bentrok dengan FPI. Retrieved January 15, 2017, from Liputan6.Com:

http://news.liputan6.com/read/2826030/polri-benarkan-kapolda-jabar-pembina-gmbi-yang-bentrok-dengan-fpi

Samudra, N. (2016, January 15). KITA BANGSA INDONESIA TIDAK TAKUT Terhadap TERORISME. Retrieved January 15, 2017, from Patriot Garuda:

http://patriotgaruda.com/2016/01/15/kita-bangsa-indonesia-tidak-takut-terhadap-terorisme/

Sihbudi, R. (2002, October 21). Bom Bali, Konspirasi Intelijen Amerika dan Israel. (Hidayatullah.com) Retrieved December 25, 2016, from Hidayatullah.com:

http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2002/10/21/213/bom-bali-konspirasi-intelijen-amerika-dan-israel.html

Sirozi, M. (2005, January). The Intellectual Roots of Islamic Radicalism in Indonesia: Ja'far Umar Thalib (Jihad Fighters) and His Educational Background. The Muslim World, 95, 81-120. Retrieved December 25, 2016, from

https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8& ved=0ahUKEwjBuaubgI_RAhWKro8KHaJPBSgQFgglMAI&url=http%3A%2F%2Fwww.umpalan

gkaraya.ac.id%2Fperpustakaan%2Fdigilib%2Ffiles%2Fdisk1%2F15%2F123-dfadf-muhammadsi-709-1-15840302.pdf

Syatibi, I. (2016, June 24). Fenomena Terorisme di Indonesia: Antara Gerakan Teologi-Politik dan Religious Extremist. Retrieved December 25, 2016, from Rumah Kitab.com:

http://rumahkitab.com/fenomena-terorisme-di-indonesia-antara-gerakan-teologi-politik-dan-religious-extremist/

Tashandra, N. (2016, January 22). Kompas.com. Retrieved January 15, 2017, from Survei: Masyarakat Berpendidikan Tinggi Lebih Takut pada Ancaman Teroris:

http://nasional.kompas.com/read/2016/01/22/13310831/Survei.Masyarakat.Berpendidikan .Tinggi.Lebih.Takut.pada.Ancaman.Teroris

Referensi

Dokumen terkait

Memperoleh gambaran tentang perubahan perilaku yang terjadi pada anak jalanan dalam melakukan aktivitas mendapatkan penghasilan, dan implikasinya terhadap kebijakan

Sebagai mahasiswa asing di Jepang, tentu mahasiswa muslim Indonesia juga dihadapkan pada banyak masalah, seperti metode kuliah, hubungan dengan dosen dan mahasiswa

peringkatan negeri, Sultan 成为 ketua negeri dan berkuasa melantik Menteri Besar sbg ketua pentadbir negeri。这个 perjanjian telah mengasaskan sistem pembahagian kuasa

Analisa stabilitas homogenisasi Salad dressing dari minyak jagung dan air jeruk nipis dengan penambahan emulsifier didapatkan kesimpulan bahwa semakin besar kecepatan

Berdasarkan hasil yang diperoleh hasil bahwa sistem pendukung keputusan penerimaan bantuan beras miskin dapat membantu pihak desa khususnya panitia dalam memilih penerima

Sehingga menurut Snouck, dalam bidang agama Pemerintah Hindia Belanda hendaknya memberikan kebebasan kepada umat Islam Indonesia untuk menjalankan Agamanya sepanjang

Yang lain ada yang mengartikan bahwa karunia adalah anugerah luar biasa yang diberikan oleh Roh Kudus dengan kuasa yang tidak selayaknya kepada orang-orang percaya sebagai perkakas

Eksperimen mengenai kekuatan pelet maupun briket bijih besi berbinder organik dan inorganik telah banyak dilakukan, namun pengaruh binder terhadap sifat metalurgis