OUTLINE
AID
THAT
WORKS
Pengertian Sosial Forestri
Sejarah Perhutanan Sosial Indonesia
Perkembangan Kebijakan Perhutanan Sosial
Praktek-praktek Perhutanan Sosial
Hutan Adat
Hutan Desa
Hutan Kemasyarakatan (HKm)
Kemitraan
Hutan Tanaman Rakyat (HTR)
Pelajaran yang dipetik
Rekomendasi
APAKAH “SOSIAL FORESTRI” ITU?
AID
THAT
WORKS
Sumber: Perkembangan Kehutanan Sosial dan Kehutanan Masyarakat di Indonesia, Sanafri Awang (2002); Foto: beritalaskar.com dan mongabay.co.id
Istilah Sosial Forestri pertama kali disampaikan oleh Jack Westoby, seorang ekonom kehutanan FAO pada tahun 1968, sebagai suatu pendekatan
pembangunan kehutanan yang mempunyai tujuan memproduksi manfaat hutan untuk perlindungan dan rekreasi masyarakat (Tiwari, 1983).
Jack Westoby (1974) memberikan
testimoni sebagai berikut ”Saya sadar
bahwa harapan memperoleh keuntungan dan
manfaat dari eksploitasi hutan sejak akhir 60-an dan awal 70-an tidak menghasilkan apa-apa. Makin
banyak uang terlibat dalam bisnis kehutanan. Sudah banyak laba diraup. Dan banyak hutan semakin
buruk kondisinya. Tetapi pembangunan kehutanan hanya menguntungkan segelintir orang. Efek
berganda ditiadakan. Kesejahteraaan rakyat tidak menyebar. Masyarakat pedesaan semakin miskin
dan jumlahnya membengkak”.
PENGERTIAN SOSIAL FORESTRI
Sumber: Perkembangan Kehutanan Sosial dan Kehutanan Masyarakat di Indonesia, Sanafri Awang (2002); Foto: mongabay.co.id
Sosial Forestri merupakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan profesionalisme rimbawan yang tujuan khususnya pada peningkatan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan
memengakomodir aspirasi mereka ke dalam pembangunan kehutanan (Wiersum, 1984).
Operasi skala kecil tentang penggunaan lahan yang menjangkau pengertian dari kehutanan
murni sampai agroforestri (wanatani), direncanakan dan dilaksanakan oleh individu petani atau
kelompok/komunitas, untuk menghasilkan barang dan jasa sehingga bermanfaat bagi kepentingan masyarakat (Vergara, 1989).
Community Forestri (CF) sebagai segala macam kegiatan yang melibatkan penduduk lokal dalam kegiatan pembangunan kehutanan (FAO, 1978).
AID
THAT
WORKS
Sumber: Avalapati and Gill (1995) dalam Awang (2005)
Batasan yang digunakan
Tujuan yang ditekankan
Pendekatan spesifik
Kelompok Sasaran
Westoby (Tiwari, 1983)
SOSIAL FORESTRI Perlindungan dan manfaat rekreasi - Komunitas masyarakat
FAO (1978) COMMUNITY FORESTRY Pemenuhan kebutuhan lokal Partisipasi masyarakat Individu masyarakat
NCA India (1976)
SOSIAL FORETSRI Pemenuhan kebutuhan kayu,fodder dan industri kecil - Komunitas Masyarakat
Tiwari (1983) SOSIAL FORESTRI
Menyediakan barang dan jasa yang
berkaitan dengan hutan Melibatkan masyarakat secara baik Penduduk desa
Bachkheti (1984) SOSIAL FORETSRI
Menyediakan kebutuhan dasar (kaitan dengan hutan) dan memperbaiki keseimbangan lingkungan
- Penduduk
Pelinck et. al. (1984)
COMMUNITY FORESTRY Menyediakan manfaat dari hutan
Mengembangkan kesadaran pengetahuan dan tanggung jawab terhadap hutan
Komunitas masyarakat
Wiersum (1984)
SOSIAL FORESTRI
Pemenuhan kebutuhan yang berkaitan
dengan hutan Partisipasi masyarakat Penduduk lokal desa
Cernea (1985)
SOSIAL FORESTRI Penanaman dan perlindungan pohon Kebudayaan dan tingkah laku masyarakat Penduduk
Noronha and Spears (1985)
SOSIAL FORESTRI Menyediakan kebutuhan kayu lokal - Partisipasi aktif dari penduduk
Vergara (1985)
SOSIAL FORESTRI Pemenuhan kebutuhan yang dikaitkan dengan hutan dan jasa Melalui self-help Penduduk
SEJARAH PERHUTANAN SOSIAL INDONESIA
AID
THAT
WORKS
Prosperity approach Perhutani: Ma-Lu (Mantri Lurah), Ma-Ma (Malang-Magetan) (1972)
World Forestry Congress di Jakarta Tahun 1978
Dukungan Ford Foundation untuk
Perhutanan Sosial di Perhutani serta Luar Jawa (Kalimantan,
Sulawesi, dan Papua) Tahun 1984.
HPH Bina Desa dengan SK Menhut
SEJARAH PERHUTANAN SOSIAL INDONESIA
AID
THAT
WORKS
Pengembangan konsep dan
program SHK (1993) serta
pembentukan organisasi KpSHK (1997).
SK Menhutbun tentang HKm No.
622/1995.
Deklarasi Pembentukan FKKM
(September 1997).
PERKEMBANGAN KEBIJAKAN
AID
THAT
WORKS
SK Menhut No. 251/1993 tentang Pemanfaatan Hasil Hutan oleh Masyarakat Adat
SK Menhut No. 622/1995 jo No. 677/1998 tentang HKm
SK Menhut No. 47/1998 tentang KDTI Repong Damar Krui
Hutan Desa Lubuk Beringin, Jambi
PERKEMBANGAN KEBIJAKAN
AID
THAT
WORKS
Sumber foto: Angga R/FFI.2012
SK Menhutbun No.865/1999 jo SK Menhut No. 31/2001 tentang HKm
Permenhut No. P.01/2004 tentang Sosial Forestry.
PP No. 6/2007 tentang Tata Hutan, Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, dan Pemanfaatan Hutan.
PERKEMBANGAN KEBIJAKAN
AID
THAT
WORKS
Permenhut No. P.23/2007 jo P.5/2008
jo P.55/2011 jo P.31/2013 tentang Tata cara permohonan IUPPHK-HTR.
Permenhut No.P.37/2007 jo
P.18/2009 jo P.13/2010 jo P.52/2011 jo P.88/2014 tentang Hutan
Kemasyarakatan.
Permenhut No. P.49/2008 jo P.53/2011 jo P.89/2014 tentang Hutan Desa
Pencanangan Penetapan Areal Kerja
dan Pemberian Izin Definitif HKm Tgl 15 Desember 2007 di Gunung Kidul Yogyakarta.
AID
THAT
WORKS
DIAGRAM SEJARAH PERHUTANAN SOSIAL
PERKEMBANGAN PELAKSANAAN
PERHUTANAN SOSIAL
AID
THAT
WORKS
Target (Ha)
Areal Kerja (Ha) Hak/Izin (Ha) Jumlah
penerima manfaat (Jiwa)
Hutan Desa 5.000.000 318.024 (6%) 67.737(1%) 412.410
HKm 2.000.000 328.452,36 (16%) 94.372 (4.7%) 513.690
HTR 5.400.000 736.479,73 (14%) 146.324 (2.7%) 31.297
Target dan Pencapaian Perhutanan Sosial sampai 2014*
PERKEMBANGAN PELAKASANAAN
PERHUTANAN SOSIAL
AID
THAT
WORKS
Sumber: Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, KLHK. 2016.
PERDA MASYARAKAT HUKUM ADAT
AID
THAT
WORKS
Perda tentang pengakuan
masyarakat adat perlu melampirkan peta wilayah
masyarakat adat (Pasal 6 Permen No.32/2015).
Contoh Perda dengan lampiran
peta
Perda Bulukumba No. 09/2015
tentang Pengukuhan,
Pengakuan Hak Masyarakat Hukum Adat Ammatoa Kajang.
Perda Lebak No.08/2015
tentang Pengakuan, Perlindungan dan
LAND USE HUTAN ADAT
AID
THAT
WORKS
Sumber peta: RMI
Hutan Adat mempunyai land use (tata guna lahan) yang unik dan khas.
Merupakan hasil dari norma, kesepakatan yang ditaati dalam jangka waktu yang lama.
Tata guna lahan hutan adat secara umum terdiri dari: zona konservasi, zona produksi dan konservasi dan zona produksi.
LAND USE HUTAN ADAT
AID
THAT
WORKS
Sumber Foto: Perkumpulan Q-Bar
Zona konservasi untuk tujuan
pelestarian dengan berbagai istilah dan argumentasi seperti hutan
keramat, bukit keramat dsb.
Zona produksi dan konservasi untuk tujuan pemanfaatan lestari seperti: kebun buah-buahan, kebun karet dsb.
Zona produksi untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan jangka pendek seperti: ladang, sawah dan palawija.
TATA GUNA LAHAN HUTAN ADAT
AID
THAT
WORKS
Sumber : Menyegerakan Penetapan Wilayah/Hutan Adat, Profil Masyarakat Hukum Adat untk implementasi Keputusan MK No.35/2014. HuMa dan jaringannya. 2014 dan Laporan Akhir Riset Hutan Adat Kesepuhahn Karang. RMI. 2014 Paser, Kaltim
MALALO, Tanah Datar, Sumbar
TAU TAA WANA POSANGKE, Morowali Utara, Sulteng
KESEPUHAN KARANG, Banten
MARENA, Sigi, Sulteng
AMMATOA KAJANG, Sulsel
(ladaang yang baru dibuka)
Umo (ladang)
Lati (bekas ladang)
Lato ono (bekasa lading lama)
Lati litiye (bekas lading yang hampir dilupakan)
Alas lati litiye
(hutan belukar)
Alas rusak ( hutan sekunder)
Alas royong
(hutan primer).
Hutan larangan
Hutan cadangan
Hutan paramuan
Pangale (hutan rimba, sumber mata air)
Pompalion (hutan untuk mencari damar, rotan, gaharu, madu)
Kapali (Hutan larangan)
Yopo masia (bekasa lading lebih 10 tahun)
Yopo mangura (bekas lading dibawah 10 tahun)
Navu (perladangan rotasi)
Lipu (pemukiman, pekarangan).
Aub lembur (mata air, makam, tempat keramat)
Leuweung kolot/paniisan
(tempat istirahat, mata air)
Leuweung cawisan
(cadangan untuk kebun, sawah atau pemukiman)
Gunung kayuan
(dipenuhi berbagai jenis kayu yng tdak boleh ditebang)
Lamping awian (curam ditanam dengan bambu)
Lebak sawahan
(dibawah gunung untuk sawah)
Datar imahan ( lahan datar untuk
perumahan),.
Wangkiki (pegunungan)
Wana (hutan yang dilindungi, sumber mata air)
Pangale (pernah diolah puluhan tahun, tempat memanfaatkan rotan, damar, kau bakar, pandan, obat-obatn dan wewangian
Pahawa pongko (hutan bekas pertanian ditinggal selama 25 tahun).
Taolo (hulu sungai)
Dumpulo (daerah yang dikeramatkan).
Dodoha (hutan kepemilikan pribadi/individu).
Borong (hutan adat): borong lompua (hutan
besar); paleko’na
borongan (hutan adat kecil, selimut hutan)
Gallarang/Tanah kampoang (tanah adat untuk pemangku adat.
Tanah Gillirang (tanah milik rumpun keturunan yng dikelola secara bergiliran dalam satu rumpun)
PETA PENGGUNAAN LAHAN KESEPUHAN KARANG
AID
THAT
WORKS
Sumber: Laporan Akhir Riset Hutan Adat Kesepuhan Karang. RMI. 2014
Hutan Adat (fungsi konservasi –
2,101 ha)
Hutan Adat (fungsi konservasi -
389,207ha)
Hutan Adat (fungsi Produksi:
KELEMBAGAAN MASYARAKAT ADAT
Tanah Datar, Sumbar
TAU TAA WANA POSANGKE, Morowali Utra, Sulteng
KESEPUHAN KARANG, Banten
SERAMPAS, Kerinci, Jambi
KETEMENGGUNGAN
SIYAI, Melawi, Kalbar
(keturunan dan demokratis)
Juru bahasa
Penghulu pucuk
Penghulu suku (satu pariuk/keturunan)
Ampek jiniah (empat komponen yang membantu roda pemerintahan adat: manti membantu administarsi , alim ulama membantu masalah keagamaan, dubalangmembantu masalah keamanan, pandit membantu masalah pengobatan)
Tungganai (orang yang dituakan dalam satu kaum atau mamak kepala waris)
Anak kemenakan , semua anggota dalam satu suku.
Tau Tua Adat, pemangku adat, memegang peran tertingi dalam penerapan hukum adat
Tau Tua Lipu, berperan menata pemukiman kelompok (Lipu) dan kehidupan sosial
Vorotana, berperan dalam tata cara pengaturan lahan (perladangan).
Tau Vali, berperan spiritual dalam peneyembuhan penyakit.
Abah, Kokolot Karang
Juru bahasa,wakil Kokolot
Panggiwa, urusan pemerintahan, ketertiban kampung
Ronda Kokolot, Menjaga Imah Gede pada malam hari.
Amil, urusan keagamaan
Bengkong, urusan khitanan
Paraji/Ma Beurang,urusan membantu proses melahirkan dan merawat pasca melahirkan
Palawari, mengatur, menyediakan makanan dan melayani tamu syukuran dan hajatan.
Depati Seribumi Pemumcak Alam Serampas
Depati Pulang Jawa
Depati Singo Negaro
Depati Karti Mudo Mengalo - Depati Seniudo - Depati Payung - Depati Singo Rajo - Depati Kartau - Depati Siba
Temenggung
Pateh, Wakil Temenggung
Dandai, untuk setiap kampung
HUTAN ADAT
TANTANGAN
Proses penyusunan Perda dan pemetaan yang memerlukan waktu panjang dan biaya yang mahal. Ketergantungan tinggi pada pihak lain dalam upaya mendapatkan pengakuan hak
Keberlanjutan pengelolaan hutan adat. Keseimbangan antara
kelestarian dan peningkatan kesejahtaraan.
Kesadaran dan partisipasi generasi muda (pemuda adat) dalam
pengelolaan hutan adat.
PELUANG
AMAN sebagai organisasi politik masyarakat hukum adat di tingkat nasional.
Adanya potensi dukungan dari LSM dan Lembaga Donor
Kelembagaan dan norma
masyarakat hukum adat yang telah disepakati, dihormati dan diatati dalam jangka waktu yang lama. Kearifan tradisional,
keanekaragaman hayati. potensi dan kekayaan budaya dan
HUTAN DESA
Sumber Foto: L-BT/FFI
Hutan desa adalah hutan negara
yang berada di dalam wilayah suatu desa, dimanfaatkan oleh desa,
untuk kesejahteraan masyarakat desa tersebut (penjelasan pasal 5 paragraf 3 UU No.41/1999 tentang Kehutanan).
Hutan desa adalah hutan negara
yang belum dibebani izin atau hak yang dikelola oleh desa dan untuk untuk kesejahteraan masyarakat desa (Pasal 1 angka 24 PP 6/2007 tentang Tata Hutan, Rencana
Pengelolaan Hutan dan Pemanfaatan Hutan).
GAMBARAN HUTAN DESA
AID
THAT
WORKS
Maksud dan tujuan Memberikan akses pengelolaan sumber daya
hutan kepada masyarakat setempat melalui lembaga desa
Areal kawasan Hutan lindung dan hutan produksi
Tenurial (kepastian hak atas lahan) Hak pengelolaan
Pemanfaatan hasil hutan Hak pengelolaan Hutan Desa (HPHD) dan Ijin
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) pada hutan desa yang berada pada kawasan hutan produksi.
Jangka waktu 35 tahun
Pemberi hak/izin o HPHD oleh gubernur setelah ada penetapan
areal oleh Menteri Kehutanan
o IUPHHK-HD oleh Menteri Kehutanan
Kekembagaan pengelola Lembaga desa yang diamanatkan oleh
peraturan desa (Perdes).
Skema pendanaan Mandiri dan kemitraan
LEMBAGA PENGELOLA HUTAN DESA
AID
THAT
WORKS
Sumber diagram: Hutan Desa dan Pembangunan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa di Kabupaten Bantaeng. Supratman & Muhammad Alif K.S. Januari 2013.
Lembaga pengelola hutan desa
adalah lembaga desa atau BUMDes yang diamanatkan dengan Peraturan Desa
(Perdes).
Pembentukan lembaga
pengelola hutan desa memperhatikan lembaga masyarakat yang sudah ada.
Struktur lembaga pengelola
desa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat desa.
Komisaris
Direktur Badan Pengawas
Sekretaris
Bendahara
Kepala Unit Hutan Desa
Kepala Unit Simpan Pinjam
Kepala Unit Usaha Air Bersih
Seksi Perencanaan, Evaluasi dan Pengembangan
Seksi Perlindungan dan Rehabilitasi
Seksi Produksi, Pemasaran & Pemberdayaan
PETANI DALAM KELOMPOK TANI HUTAN (KTH)
PENGELOLAAN HUTAN DESA
AID
THAT
WORKS
Pengelolaan Hutan
Desa adalah
mengelola kawasan hutan lindung dan hutan produksi yang masuk dalam wilayah desa.
Masyarakat desa
mempunyai kearifan dan aturan yang disepakati dalam pengelolaan,
pemanfaatan dan
pelestarian hutan desa.
Dalam beberapa kasus
hutan desa mempunyai
pengelolaan dan tata guna lahan yang sama dengan hutan adat.
HUTAN DESA
PELUANG TANTANGAN
Dukungan dan fasilitasi dan LSM lokal, nasional dan internasional.
Lamanya proses mendapatkan hak kelola (HPHD).
Kearifan lokal dan tradisi dalam mengelola hutan.
Kelembagaan pengelolan hutan desa dan bagi hasil pengelolaan dan pemanfaatan hutan desa. Membangun kesapakatan desa atau beberapa desa.
Potensi sumberdaya alam dan kekayaan desa.
Kelembagaan usaha,
pengembangan produk dan pemasaran.
Potensi dukungan Pemda dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertingal dan Transmigrasi (Dana Desa).
HUTAN KEMASYARAKATAN
Sumber Foto : Ditjen BPDASPS
Hutan kemasyarakatan adalah
hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk
memberdayakan masyarakat.
(penjelasan pasal 5 paragraf 4 UU No.41/1999 tentang Kehutanan dan Pasal 1 angka 23 PP 6/2007 tentang Tata Hutan, Rencana Pengelolaan Hutan dan Pemanfaatan Hutan ).
Hutan kemasyarakatan adalah
hutan negara baik hutan lindung maupun hutan produksi yang belum dibebani izin dan
pemanfaatan utamanya ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat.
GAMBARAN HUTAN KEMASYARAKATAN
AID
THAT
WORKS
Permenhut No.P.37/2007 jo P.18/2009 jo P.13/2010 jo P.52/2011 jo P.88/2014 Tentang Hutan Kemasyarakatan
Maksud dan tujuan Pengembangan kapasitas dan pemberian
akses kepada masyarakat setempat dalam mengelola hutan lestari
Areal kawasan Hutan lindung dan hutan produksi
Tenurial (kepastian hak atas lahan) Perizinan
Pemanfaatan hasil hutan Ijin Usaha Pemanfaatan HKM (IUPHKM) dan
Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) Hutan Kemasyarakatan
Jangka waktu 35 tahun
Pemberi izin o IUPHKM oleh Bupati setelah ada penetapan
areal oleh Menteri Kehutanan
o UPHHK oleh Menteri Kehutanan
Kekembagaan pengelola Kelompok dan Koperasi
Skema pendanaan Mandiri dan kemitraan
LEMBAGA PENGELOLA HKM
AID
THAT
WORKS
Lembaga pengelola HKm dapat
berbentuk kelompok, gabungan kelompok dan atau koperasi.
Beberapa kelompok tani dapat
membentuk gabungan kelompok tani. Gapoktan atau beberapa Gapoktan dapat membentuk koperasi.
Kelompok tani mempunyai
pertemuan reguler serta aturan dan kesepakatan dalam
pengelolaan lahan garapan.
Koperasi dikelola sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
PENGELOLAAN HUTAN KEMASYARAKATAN
AID
THAT
WORKS
Sumber peta dan foto: Direktorat Bina Perhutanan Sosial. Dirjen BPDAS PS. Kementerian Kehutanan
Pengelolaan HKm adalah mengelola lahan
garapan secara berkelompok, gabungan kelompok dan atau koperasi.
Lahan garapan ditanam dengan sistem
HUTAN KEMASYARAKATAN
PELUANG TANTANGAN
Dukungan dan fasilitasi dan LSM lokal, dan nasional.
Lamanya proses mendapatkan hak perizinan (IUPHKm).
Ketergantungan masyarakat terhadap lahan.
Pemanfaatan kayu memerlukan izin dari Menteri(IUPHHK-HKm). Kelembagaan kelompok dan
koperasi.
Peningkatan produktifitas lahan hutan, kelembagaan
usaha, pengembangan produk dan pemasaran.
Potensi dukungan Pemda dan Kementerian Koperasi dan UKM.
KEMITRAAN
AID
THAT
WORKS
Sumber Foto : : KPHL Rinjani Barat dan Kemitraan
Kemitraan merupakan kewajiban
pengelola hutan dan pemegang izin
pemanfaatan (Pasal 72 PP 6/2007 tentang Tata Hutan, Rencana Pengelolaan Hutan dan Pemanfaatan Hutan).
Kemitraan Kehutanan adalah kerjasama
antara masyarakat setempat dengan Pemegang Izin pemanfaatan hutan atau Pengelola Hutan, Pemegang Izin usaha industri primer hasil hutan, dan/atau Kesatuan Pengelolaan Hutan dalam
pengembangan kapasitas dan pemberian akses, dengan prinsip kesetaraan dan saling menguntungkan (Permen
No.P.39/2013 tentang Pemberdayaan Masyarakat Setempat melalui Kemitraan Kehutanan).
KEMITRAAN
AID
THAT
WORKS
Sumber Foto : Peta kerja Kelompok Tani Hutan. Kemitraan 2015.
Kemitraan Kehutanan merupakan
kerjasama pemanfaatan lahan kawasan hutan antara masyrakat dengan pengelola hutan (KPH) atau pemegang izin pemanfaatan hutan (HPH, HTI).
Kelembagaan masyarakat dalam
kemitraaan kehutanan adalah kelompok tani.
Komoditi yang ditanam, hak dan
kewajiban masing-masing pihak dan prosentasi bagi hasil
pemanfatan merupakan
kesepakatan antara masyarakat dengan pengelola atau pemegang izin pemanfatan.
Kesepakatan antara masyarakat
dengan pengelola atau pemegang izin dituangkan dalam Naskah
SKEMA KEMITRAAN
:Kemitraan PT Arangan Hutan Lestari dengan Masyarakat Kecamatan VII Koto, Tebo, Jambi
AID
THAT
WORKS
Sumber: Meretas Jalan Kemitraan. Hasantoha Adnan, Rendra Herthiadi, Gladi hardiyanto, dan Suwito. Kemitraan. 2015.
Pengaturan Skema Kemitraan yang diterapkan
Areal Kemitraan
• Hingga kajian ini dilakukan, areal yang sudah masuk dalam kesepakatan kemitraan telah mencakup 658,9 ha yang tersebar di tiga desa Teluk Kayu Putih, Kuamang dan Tanjung. Areal tersebut telah ditanami karet rakyat berusia 1-120 bulan.
• Saat ini tengah menyusul untuk bermitra areal seluas 486 ha tersebar di di tiga desa Teluk Kayu Putih, Tanjung, dan Koamang. Areal tersebut telah ditanami karet berusia 3-96 bulan.
Kelompok Tani • Saat ini telah terdapat 21 kelompok yang menandatangani surat perjanjian kerjasama (SPK) dengan jumlah anggota 221 orang/KK.
• Selain itu terdapat 6 kelompok yang bermitra dengan total anggota 50 orang/KK tengah difasilitasi untuk mencapai kesepakatan
Jangka Waktu Kontrak
• Jangka waktu kerjasama mencakup 35 tahun (1 daur sejak karet ditanam hingga siap untuk dipanen kayunya)
Insentif bagi mitra • Pemerintah Desa mendapatkan 3,5% dari hasil penjualan karet
• Bagi kelompok tani hutan ada wadah untuk pemasaran karet secara langsung ke pabrik dan memotong ketergantungan terhadap tengkulak.
• Ada bantuan pendidikan (beasiswa) dari group Sampoerna
Kesepakatan kemitraan
• Getah karet yang diperjualbelikan oleh perusahaan, persentasi bagi hasilnya 85:15. Di mana 85 untuk masyarakat dan 15 untuk perusahaan.
• Untuk kayu karet yang dipanen, masyarakat mendapat 15% dari harga kayu.
• Komponen input produksi dan biaya, meliputi:
a. Lahan: disediakan dan diverifikasi oleh perusahaan. b. Perizinan: disediakan oleh perusahaan
c. Bimbingan dan Penyuluhan: disediakan oleh perusahaan d. Tenaga kerja: disediakan oleh petani
e. Modal produksi: disediakan oleh petani (atau perusahaan)
f. Pengamanan areal: disediakan bersama antara petani dan PT AHL
g. Kewajiban PBB, PSDH (kepada propinsi dan kabupaten) dan pajak lainnya disediakan oleh perusahaan.
KEMITRAAN
TANTANGAN PELUANG
Luas lahan yang dibatasi 2 hektar untuk setiap kepala keluarga.
Kewajiban perusahaan
membangun kemitraan 20% dari luas konsesi.
Kesepakatan yang adil antar perusahaan dengan
masyarakat.
Proses kesepakatan antar masyarakat dan perusahaan tidak perlu mengurus ke Jakarta.
Pilihan komoditi dan bagi hasil antara masyarakat dengan perusahaan.
Solusi penyelesaian konflik antara perusahaan dan masyarakat.
Pengembangan usaha dan pemasaran produk.
HUTAN TANAMAN RAKYAT (HTR)
AID
THAT
WORKS
Hutan tanaman rakyat ( HTR) adalah hutan tanaman pada hutan produksi
yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka
menjamin kelestarian sumber daya hutan (Pasal 1 angka 19 PP 6/2007 tentang Tata Hutan, Rencana Pengelolaan Hutan dan Pemanfaatan Hutan).
Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Tanaman Rakyat yang
selanjutnya disingkat IUPHHK-HTR adalah izin usaha untuk memanfaatkan hasil hutan berupa kayu dan hasil hutan ikutannya pada hutan produksi yang diberikan kepada perorangan atau koperasi untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur yang sesuai untuk menjamin kelestarian sumber daya hutan (Pasal 1 angka 1 Permenhut
GAMBARAN HUTAN TANAMAN RAKYAT
AID
THAT
WORKS
Permenhut No.P.23/2007 jo P.5/2008 jo P.55/2011 jo P.31/2013 tentang Tata Cara Permohonan Izin Usaha Pemanfaatan hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Rakyat
dalam Hutan Tanaman
Maksud dan tujuan Peningkatan produksi dan kualitas hutan produksi
Areal kawasan Hutan produksi
Tenurial (kepastian hak atas lahan) Perizinan
Pemanfaatan hasil hutan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada
Hutan Tanaman Rakyat (IUPHHK-HTR)
Jangka waktu 60 tahun (dapat diperpanjang)
Pemberi izin Bupati
Kekembagaan pengelola Perorangan, Kelompok atau Koperasi
Skema pendanaan Bantuan pinjaman dari BLU (Badan Layanan
Umum) Pembangunan Kehutanan.
IMPLEMENTASI HTR
AID
THAT
WORKS
Kelembagaan HTR harus berbentuk koperasi untuk mendapatkan dana
pinjaman pembangunan HTR dari BLU Kehutanan.
Masyarakat lokal mempunyai kapasitas dan akses yang rendah untuk
menjangkau dana pinjaman BLU. Peranan aktor-aktor yang mempunyai akses dengan Kementerian Kehutanan menjadi dominan.
Koperasi yang dibentuk banyak fiktif (masyarakat setempat tidak dilibatkan
dan anggota koperasi banyak dari luar desa atau dari kota).
Koperasi dibentuk secara instan untuk mendapatkan dana pinjaman BLU.
Koperasi yang dibentuk belum mempunai track record baik dalam usaha
HUTAN TANAMAN RAKYAT
PELUANG TANTANGAN
Pinjaman dana dari BLU kehutanan.
Lamanya proses perizinan (IUPHHK-HTR).
Kayu sebagai tabungan dan investasi masyarakat.
Rendahnya minat masyarakat. Perlu dana cukup besar untuk tanam kayu. Akses masyarakt rendah terhadap BLU.
Pasar kayu lokal yang
berkembang. Kebutuhan kayu masyarakat terus meningkat.
Kelembagaan masyarakat.
Membangun koperasi yang sehat dan berfungsi.
Pengembangan tanaman wanatani (agroforestry).
ARAH PERBAIKAN KEBIJAKAN
AID
THAT
WORKS
Pemerintah akan menetapkan Peta Indikatif Areal Perhutanan Sosial (PIAPS).
Sehingga Penetapan Areal Kerja (PAK) untuk Hutan Desa dan Hutan
Kemasyaratan tidak diperlukan lagi. Usulan dari masyarakat yang masuk di dalam lokasi PIAPS akan diterbitkan hak/izin setelah diverifikasi dan
memenuhi persyaratan.
Pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK) pada Hutan Desa dan HKm tidak
perlu mengajukan izin baru lagi. Untuk memanfaatkan hasil hutan kayu, Lembaga Desa atau Kelompok masyarakat pemegang hak/izin menyusun RPHD dan RKU HKm yang disyahkan oleh Desa/KaKPH.
Permohonan Hutan Desa, Hutan Kemasayarakat dan Hutan Tanaman Rakyat
bisa diajukan secara on line.
Akan dan telah dibentuk Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial
PELAJARAN YANG DIPETIK
AID
THAT
WORKS
Masyarakat di lapangan berkompetisi dengan investor dalam
memperjuangkan ruang hidup serta pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan. Masyarakat sering kali kalah karena bergantung kepada keberpihakan Bupati dan Gubernur.
Masyarakat mempunyai akses yang rendah terhadap pengambil keputusan
dan informasi kebijakan. Sehingga sangat bergantung kepada bantuan pihak lain (LSM, Perguruan Tinggi, Lembaga Riset, Birokrat yang perduli dan
berpihak kepada masyarakat).
Jumlah dan penyebaran LSM masih terbatas baik secara kuantitas maupun
AID
THAT
WORKS
Keberhasilan fasilitasi dan pendampingan masyarakat menjadi maju dan
mandiri masih belum banyak. Pendampingan untuk pengembangan usaha masyarakat memerlukan waktu yang lama dan dukungan banyak pihak.
Pergantian kepala pemerintah dari tingkat nasional sampai daerah tidak
menjamin pengurusan hak-hak masyarakat menjadi lebih cepat dan lebih murah. Pemberian hak/izin perhutanan sosial kepada masyarakat seringkali bermuatan politik dan dihambat kepentingan politik dan ekonomi pejabat pemerintah.
Koordinasi antar kementerian/lembaga pemerintah di tingkat pusat dan
instansi pemerintah daerah serta kerjasama berbagai pihak dalam
mendukung kemajuan dan kemandirian masyarakat masih sangat terbatas dan sangat dibutuhkan masyarakat.
REKOMENDASI UNTUK PEMERINTAH
AID
THAT
WORKS
Menetapkan Hutan Adat yang sudah mempunyai persyaratan lenkap sesuai
UU No.41/99; Keputusan MK No.35/2012; dan Permen LHK No.32/2015.
Memastikan areal kawasan hutan sebagai ruang hidup masyarakat dan
alokasi kawasan hutan untuk pengelolaan dan pemanfaatan oleh masyarakat dengan menetapkan Peta Indikatif Areal Perhutanan Sosial (PIAPS).
Perbaikan regulasi dalam rangka menyederhanakan dan mempercepat
proses penerbitan hak/izin perhutanan sosial dengan menerbitkan Permen HD, HKm, dan HTR serta Permen Kemitraan.
Pemerintah perlu proaktiv dan menjemput bola dalam memberikan hak dan
REKOMENDASI UNTUK PEMERINTAH
AID
THAT
WORKS
Membentuk, menggerakkan dan mendinamisir Pokja PS Nasional dan Pokja
Percepatan PS Provinsi.
Memperbaiki pola dan skema penyaluran dana BLU kehutanan untuk
pembiayaan pengembangan perhutanan sosial mulai dari penguatan
kelembagaan masyarakat, penanaman, pemeliharaan, produksi, pengolahan hingga ke pemasaran.
Meningkatkan anggaran untuk PS, melakukan koordinasi dan sinergi
REKOMENDASI UNTUK PEMERINTAH
AID
THAT
WORKS
Fasilitasi dan investasi untuk pengembangan produk, pemasaran, dan bisnis
bisa dilakukan pemerintah bersama para pihak di lokasi yang sudah mendapat legalitas.
Koordinasi dan integrasi program lintas Kementerian/Lembaga untuk
pengembangan perhutanan sosial dan pembangunan desa hutan
(Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertingal dan Transmigrasi, Kementerian Perindustrian, Kementerian
Perdagangan).
Memastikan pengembangan perhutanan sosial menjadi program prioritas
nasional sehingga memungkinkan terjadi koordinasi dan integrasi
REKOMENDASI UNTUK PEMERINTAH
AID
THAT
WORKS
Menggalang dukungan para pihak untuk pengembangan perhutanan sosial
(LSM, Perguruan Tinggi, Lembaga Donor, Swasta).
Perlu peningkatan pengetahuan, keterampilan dan perubahan attitude/sikap
personel KPH, UPT dalam memfasilitasi masyarakat (magang, kolaborasi, studi banding, pelatihan). Perlu sinergi dengan dengan penyuluh (BP2SDM).
Personel-personel di KPH dan UPT perlu melakukan pendekatan, tatap muka,
ngobrol dan diskusi dan belajar bersama masyarakat dalam rangka penguatan kelembagaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
REKOMENDASI UNTUK LSM, PERGURUAN TINGGI, DAN LEMBAGA
DONOR
AID
THAT
WORKS
Perlunya konsolidasi CSO di tingkat pusat dan daerah dalam rangka
pengembangan perhutanan sosial.
Perlunya peningkatan kapasitas CSO
Pelatihan komunikasi, lobby dan advokasi.
Pelatihan pengembangan dan pengelolaan jaringan dan forum
multipihak.
Pelatihan penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat.
Pelatihan strategi pemasaran produk dan komoditi hasil perhutanan
sosial.
Pelatihan strategi komunikasi, dan pembuatan berbagai media
penyadaran.
Perlunya strategi dan pendekatan dalam rangka scaling up dan perluasan
dampak dalam fasilitasi dan pedampingan pengembangan perhutanan sosial.
AID
THAT
WORKS