• Tidak ada hasil yang ditemukan

Media dan Konstruksi Identitas Nasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Media dan Konstruksi Identitas Nasional"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Media dan Konstruksi Identitas Nasional :

Model Pembelajaran Nasionalisme, Patriotisme dan Multikulturalisme dalam Televisi dan Film Indonesia Kontemporer 1

Oleh :

Aulia Rahmawati & Ade Kusuma2

Abstraksi

Sejak era kebangkitan industri televisi swasta pada tahun 80-an dan kebangkitan film nasional pada akhir tahun 1990 film, puluhan film dan tayangan televisi yang memiliki tema

’identitas kebangsaan’ diproduksi yang biasanya diputer menjelang peringatan proklamasi

kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus. Identitas nasional ditafsirkan sebagai suatu cita-cita politik untuk mempersatukan unsur-unsur tradisi dan inovasi serta keragaman etnis, agama,

budaya, dan kelas sosial ke dalam suatu ’botol baru’ yang bernama negara-bangsa.

Dari berbagai film-film yang diproduksi selama tiga tahun terakhir, peneliti memutuskan akan menganalisis bagaimana identitas nasional direpresentasikan melalui film Merah Putih (2009), Tanah Air Beta (2010), Garuda di Dadaku (2009) dan Tanda Tanya (2011). Sedangkan dua acara televisi yang sekarang masing mengudara, yaitu Ethnic Runaway ( TransTV) dan Si Bolang (Trans7) .Pemilihan empat film berdasarkan pemikiran awal bahwa keempat film ini memiliki range atau segmen penonton yang berbeda-beda mulai remaja-dewasa, anak-anak-remaja, dan segmen anak-anak. Sejalan dengan segmen yang disasar untuk film, tayangan televisi yang digunakan dalam objek penelitian ini juga berdasarkan pemilihan segmen ana-anak – remaja dan remaja –dewasa. Unit analisis dalam penelitian ini adalah elemen-elemen naratif dari sebuah film dan televisi (plot, tokoh, ruang, waktu, struktur naratif).

Melalui hasil analisis dan interpretasi data, didapatkan bentuk-bentuk representasi identitas nasional diantara film – film dan tayangan televisi tersebut yang paling tidak memiliki beberapa persamaan. Persamaan pertama yaitu nilai-nilai nasionalisme, yaitu civil-political nationalism, yaitu suatu konsepsi yang memandang bangsa sebagai komunitas politik dari kehendak bersama (political community of will) yang dibangun atas keputusan rasional yang dibuat oleh warga negara yang sederajat dalam dasar kesamaan kehendak dan tumpah darah. Persamaan kedua, adanya penonjolan pandangan-pandangan yang multikultural.

Multikulturalisme merupakan pandangan politik tentang pentingnya membentuk sebuah (elite settlement) yaitu mencari titik-titik temu dari kebangsaan yang majemuk dan plural. Dan aspek yang tampak selanjutnya adalah pada patriotisme progresif, yang mewujud pada kemandirian bangsa yang berakar pada kemajuan bangsa dan kemaslahatan. Tokoh-tokoh dalam film ini digambarkan sebagai patriot, yaitu orang-orang yang berjuang demi kemajuan dan kemaslahatan bangsa baik kedalam (mengatasi segala sekat dan perbedaan , maupun keluar untuk mengatasi tantangan jaman dan globalisasi).

Keywords : Nasionalisme, patriotisme, multikulturalisme, identitas nasional, negara – bangsa (nation-state).

1 Penelitian ini telah dipresentasikan pada Seminar Nasional Pemanfaatan Hasil Riset Untuk Menunjang Pemberdayaan Ekonomi Lokal dan Industri” yang diselenggarakan oleh LPPM UPN “Veteran” Jawa Timur, Surabaya, pada tanggal 13 Desember 2012

(2)

Pendahuluan

Di Indonesia, penetrasi media yang tertinggi hingga saat ini merupakan televisi, dan masih digunakan sebagai media primer (primary medium) untuk menjangkau khalayak audiens bagi pengiklan. Rata-rata orang Indonesia mengkonsumsi televisi sekitar 20 jam per minggu dengan puncak menonton mulai jam 17.00 hingga jam 21.59. Yang menarik,

sebagian besar ‘pecandu berat’ televisi adalah kaum perempuan. (Media Guide, 2010 : 36). Namun dengan semakin banyaknya pilihan media yang lain (radio, film, internet) orang tidaklah terlalu tergantung pada televisi sebagai saluran informasi dan hiburan walaupun televisi masih tetap menempati media teratas dalam menjangkau khalayak.

Era liberalisasi media membuat segala arus informasi semakin mudah dan cepat untuk diakses. Sisi positifnya, peristiwa-persitiwa penting dan terbaru dapat diupdate secepat mungkin. Namun sisi negatifnya, content seputar pornografi, kriminalitas dan hal-hal sensasional lainnya juga mungkin untuk diakses segala lapisan umur. Media audio-visual, terutama televisi selama bertahun-tahun telah dituding sebagai agen penyemai kerusakan

moral dan ahlak terutama pada generasi muda. Film, disisi lain juga kerap dikritik sebagai bagian dari media yang menyebarkan hiburan tidak mendidik dan kurang bermutu karena berbagai film bertema drama percintaan, mistisisme dan seksualitas yang beredar tanpa memperhitungkan deretan umur penonton yang bisa menontonnya.

Teori kultivasi menyatakan bahwa apapun yang kita lihat melalui televisi, begitulah cara kita memandang dunia. Jika kita melihat tayangan berbau kekerasan, kriminal dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya, maka kita juga akan menganggap bahwa dunia juga penuh dengan kekerasan dan para kriminal. (Burton, 2007 ; 6) Masalah televisi telah sering

diperbincangkan dan disebut sebagai medium yang ‘melahirkan ‘ sebuah dunia yang baru,

suatu masyarakat baru, sebuah fase sejarah baru berkat teknologi.( Williams, 2009 : 5) Pada studi kajian televisi, secara umum terjadi dualisme pandangan yang

(3)

Pada kajian cultural studies, efek buruk televisi dianggap bukan dikarenakan ‘mutlak’ oleh televisi. Kajan ini beranggapan bahwa audience-lah sebenarnya yang mengkonstruksi makna – makna pesan dalam televisi. Kontruksi makna inilah yang kemudian berhubungan dengan pengalamannya sehari-hari. Ada tiga posisi ‘pembacaan’ pesan dalam audience. Stuart Hall, peneliti kunci dalam kajian cultural studies mengemukakan ada tiga posisi pembacaan terhadap televisi. Dominant-hegemonic reading, negotiated reading, oppositional

reading. .Dalam Hegemonic reading , audiens menerima pesan-pesan dominan dalam

medium. Dalam negotiated reading , audiens menegosiasikan pesan yang dilihatnya dengan

nilai-nilai yang dianut. Sedangkan dalam oppositional reading, audiens menolak nilai-nilai yang dilihatnya.

John Hartley (1992) seorang pakar studi kajian televisis, menambahkan bahwa berbagai metode dalam kajian televisi saling melengkapi satu sama lain. Menurutnya, memberikan kritik dalam berbagai aspek kajian televisi secara terpisah tidaklah membantu. Kita harus melihat bagian-bagian itu secara serentak sebagai suatu keseluruhan. Setiap metode dalam kajian televisi memiliki kelemahan dan kelebihannya bisa mengisi kelemahan yang satu dan yang lain. (Hartley dalam Burton, 2007 : 17)

Film di lain pihak, merupakan media audio-visual yang dalam tahun-tahun terakhir makin populer di Indonesia. Hiburan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Film dan bioskop adalah salah satu bentuk hiburan yang terpopuler dan relatif murah. Berdasarkan data Indonesian Media Guide, penetrasi bisokop di Indonesias relatif rendah dibandingkan

televisi (sekitar 20 %), namun mulai tahun 2006 mengalami kenaikan yang signifikan. Yang menarik, penonton usia muda (anak-anak) mengalami kenaikan dari 8 persen di tahun 2007 ke 12 persen di tahun 2010. Mulai tahun 2007, sebagian besar penonton bioskop (74 %) menonton film sedikitnya sekali dalam sebulan.

Film memiliki dualisme fungsi, antara lain sebagai media hiburan dan media pembelajaran (pendidikan). Sebagai media hiburan, film ditempatkan sebagai alat pelepas

kepenatan dan relaksasi serta untuk mengisi waktu senggang masyarakat. Sementara sebagai media pembelajaran dapat terlihat pada unsur-unsur ideologi dan propaganda yang

terselubung dan tersirat dalam banyak film hiburan umum, suatu fenomena yang tampaknya tidak tergantung pada ada atau tidaknya kebebasan masyarakat(McQuaill, 1987 : 78).

Menurut Victor C. Mambor, dalam tulisannya pada Satu Abad “Gambar Idoep” di Indonesia, mengungkapkan bahwa kurangnya minat penonton terhadap film-film lokal ini

(4)

dibuat hanya untuk mengejar keuntungan saja, tanpa mempertimbangkan mutu film tersebut. Bahkan bisa dikatakan asal-asalan. Baik dari segi cerita maupun dari segi sinematografinya.

Terkait dengan identitas nasional, media audio visual seharusnya bisa menjadi sebuah alat untuk menyebarluaskan ideologi tentang nasionalisme. Identitas nasional bisa dipahami sebagai perasaan komunal (sense of belonging) seseorang dalam menjadi bagian dari sebuah kelompok kewarganegaraan (nationality). Selama masa orde baru, pemerintah telah membuat televisi dan bahkan film menjadi alat ideologis untuk mengkonstruski jati diri bangsa.

Setelah tahun 2004, dimulailah babak baru media yang lebih ‘ramah’ masyarakat.

Tayangan-tayangan bertema nasionalisme diproduksi untuk menjawab kritik dan tantangan masyarakat tentang minimnya isi siaran yang mengajarkan nasionalisme. Salah satu kritik datang dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) sendiri. Didukung oleh penelitian KPI di tahun 2007, televisi menjadi salah satu penyebab keengganan masyarakat dalam berpartisipasi dalam kehidupan bermayarakat, salah satunya kerja bakti, aksi kepedulian sosial dan pemilu. Menonton televisi telah menjadi bagian gaya hidup yang merampok sebagian besar waktu masyarakat. (Budi Santoso, 2007) Beberapa tahun terakhir, hadir berbagai tayangan televisi

dan film yang bertema ’perjuangan bangsa’ dan mendapatkan sambutan baik di masyarakat.

Beberapa tayangan televisi yang memiliki muatan nasionalisme adalah : Si Bolang (Trans7), Ethnic Runway (TransTV), Jejak Petualang (TransTV), ProvocActive (MetroTV). Sedangkan dalam film , beberapa film tersebut adalah : Merah Putih (2009), Indonesia Tanah Air Beta (2010), Darah Garuda (2010) , Laskar Pemimpi (2011) dan Hati Merdeka (2011). Secara eksplisit, nilai-nilai yang paling tampak dari keempat tayangan televisi dan kelima film tersebut adalah nilai-nilai kebangsaan, patriotisme dan pluralisme. Melalui kajian teks media, sebuah model pembelajaran tentang nasionalisme bisa disusun untuk melestarikan kecintaan generasi muda untuk bangsa dan negara

Penelitian ini menggunakan metode analisis naratif (narrative analysis). Analisis naratif merupakan metode yang jamak digunakan dalam studi tentang jalan cerita televisi dan

film. Dalam analisis naratif, objek penelitian yaitu dalam hal ini adalah tayangan televisi dan film akan dianalisis sebagai satu kesatuan yang utuh. Secara umum, analisis naratif

memungkinkan peneliti untuk membedah struktur dari sebuah teks budaya. Karena hal inilah, analisis naratif sangat berguna untuk mengeksplorasi segala macam cerita baik melalui televisi, film, dongeng , lagu, berita televisi, cerita komik maupun teks budaya yang lain.

(5)

dinamakan metode analisis ideologi karena sebuah teks yang dianalisis dengan metode tertentu pastilah ada ideologinya. Melalui analisis naratif, peneliti selanjutnya akan

mengobservasi pesan ‘implisit’ yang mencerminkan ideologi yang melatarbelakanginya.

Civil-Political Nationalism dan Cultural Nationalism dalam Film Indonesia

Kontemporer

Ethno-nationalism atau cultural nationalism adalah suatu konsepsi kebangsaan yang

memandang bahwa kemanusiaan secara inheren diorganisasikan ke dalam komunitas historis, yang masing-masing diwarnai oleh kekuatan uniknya sendiri, yang diekspresikan melalui kekhasan budaya, berbasiskan pada persada alamiah dengan tata pemerintahan yang khas. Percobaan ini antara lain dilakukan oleh Budi Utomo yang mambatasi bayangan komunitas impiannya berdasarkan kesamaan etnis (Jawa) , dan Sarikat Islam , yang berlandaskan sentimen keagamaan.( Latif, 2011 : 359).

Selanjutnya menurut Latif, timbullah kesadaran baru untuk memperjuangkan suatu konsep nasionalisme sipil-politik (civic political nationalism) , yakni suatu konsepsi yang memandang bangsa sebagai komunitas politik dari kehendak bersama yang dibangun atas keputusan rasional yang dibuat oleh warga negara yang sederajat dalam dasar kesamaan kehendak dan tumpah darah (Hutchinson dalam Latif, 2011 : 359).

Dalam film Indonesia kontemporer terutama yang mengangkat tema-tema persoalan kebangsaan, masalah nasionalisme sangat kentara. Dalam film pertama yang diteliti, Merah Putih, pergeseran dari cultural nationalism menuju civil-political nationalism terlihat melalui representasi konflik tokoh-tokohnya. Dari yang awalnya tercerai berai , saling mencurigai, terkungkung dalam individualisme kesukuan dan kedaerahannya, tokoh-tokoh perjuangan ini melebur memiliki cita-cita bersama. Sesuai dengan yang tertuang melalui pemikiran Soekarno dalam identitas atau budaya nasional bahwa awalnya hasrat untuk bersatu didorong

oleh derita kolonialisme Belanda. Hasrat untuk melepaskan diri sebagai negara jajahan itulah yang mendorong tokoh-tokoh dalam film Merah Putih untuk bersatu. Ada sebuah dinamika

nasionalisme yang awalnya adalah semangat untuk menonjol sebagai entitas kesukuan menjadi hasrat untuk menjadi political civil nationalism yaitu menjadi negara-bangsa Indonesia.

(6)

Garuda (membela Indonesia) dan memajukan sepakbola Indonesia. Sebuah film bernafaskan olahraga yang menyentil kondisi industri olahraga di Indonesia yang penuh korupsi, kolusi dan mis-manajemen. Ada sebuah utopia atau impian yang hendak ditawarkan oleh film ini bahwa suatu hari Indonesia bisa memliki pemain berbakat kelas dunia dan bisa memiliki industri sepakbola seperti negara-negara Eropa dan Amerika Latin.

Dalam film Tanda Tanya (?) nasionalisme diwujudkan melalui tokoh-tokoh Banser muda NU yang memiliki ideologi untuk turut menjaga persatuan dan kesatuan di negeri ini. Tampak dalam naratif film bahwa Banser turut menjaga dan mengamankan keamanan

termasuk mengawasi keamanan rumah peribadatan termasuk gereja di malam Natal.

Film yang keempat, Tanah Air Beta , menyiratkan satu keluarga yang tercerai berai akibat berpisahanya Timor Timur dari wilayah kesatuan Republik Indonesia. Nasionalisme walau tidak secara tersirat apakah cultural maupun civic-political nationalisme, ditandai melalui karakter Tatiana yang diperankan oleh Alessandra Gottardo, yang memilih untuk berpisah dari anak lelalakinya untuk tetap berada di wilayah NKRI. Perpisahan, kondisi sosial ekonomi di perbatasan serta kegamangan masyarakat yang tinggal di tapal batas adalah salah satu fokus dari film besutan Ari Sihasale ini. Karena kecintaan terhadap tanah air, Tatiana harus berpisah dengan anak laki-lakinya yang memilih tinggal di Timor Timur bersama pamannya.

Sedangkan dalam naratif televisi, Si Bolang dan Ethnic Runaway untuk menjawab kritik masyarakat dan lembaga pengawas media yang menyayangkan muatan-muatan televisi yang dirasa semakin tidak mendidik. Si Bolang adalah acara televisi produksi Trans7 yang menampilkan Bocah Petualang (Bolang) berkelanan ke seluruh Indonesia. Dari sudut pandang anak-anak , Si Bolang dikisahkan berkelanan ke tempat-tempat terpencil yang indah dan unik di Indonesia dan bertemu dengan anak-anak lokal. Salah satu episode, Si Bolang in Nantu Forest, Bocah Petualang mengunjungi Nantu Reservation Forest, hutan suaka di Gorontalo. Nasionalisme direpresentasikan Si Bolang dengan keingintahuannya untuk

menjelajahi seantero nusantara. Melalui proses screening, Si Bolang sebagian besar mengunjungi daerah selain pulau Jawa, dan terutama hutan, gunung dan kekayaan alam

lainnya. Tayangan ini juga diselingi dengan pesan moral untuk selalu menjaga kebersihan hutan, tidak membuang sampah sembarangan hingga jangan bertengkar sesama teman bermain.

(7)

dari masyarakat yang menganggap bahwa judul acara tersebut menghina suku-suku terpencil di Indonesia, maka produser kemudian mengganti judulnya dengan Ethnic Runaway.

Semangat besar dari acara ini adalah nasionalisme dan multikulturalisme. Tayangan ini menampilkan selebritas yang hidup beberapa hari bersama suku-suku di daerah terpencil, mengamati dan turut serta dalam rutinitas adat sehari-hari. Secara sekilas memang seolah ingin memberi wawasan pada penonton tentang keunikan suku-suku pedalaman di Indonesia. Namun, gaya bertutur, jalan cerita, konflik yang dibuat-buat membuat program ini

‘mengekalkan’ ketertinggalan, kekunoan, keperawanan suku-suku tersebut.

Patriotisme Progresif dalam Film Indonesia Kontemporer

Representasi nasionalisme yang mengalir dari cultural menuju civic-political pada akhirnya membawa pada sebuah pergerakan atau semangat untuk mewujudkan kemajuan dan kemaslahatan bersama. Tokoh-tokoh dalam Merah Putih bertransformasi dari sekedar pahlawan daerah menjadi patriot nasional, orang-orang yang berjuang untuk memerdekakan Indonesia.

Patriotisme progresif berorientasi untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan pada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Patriotisme progresif bersandar pada apa yang bisa ditawarkan , apa yang bisa kita persembahkan, bukan patriotisme negatif, yang bersandar pada apa yang seharusnya dilawan. Patriotisme progresif adalah tentang memperbaiki keadaan negeri, bukan hanya mempertahankan negeri dari penjajahan. Setidaknya dalam film-film Indonesia kontemporer yang menjadi subjek dalam penelitian ini patriotisme mewujud dalam dua cara, yaitu patriotisme progresif dan patriotisme negatif. Karena bersetting perang melawan kolonialisme Belanda, film Merah Putih merepresentasikan patrotisme negatif, yang masih

berkisar seputar mempertahankan tanah air dari bangsa penjajah. Sedangkan dalam film Garuda di Dadaku, karena bersetting kehidupan pasca kemerdekaan, bahkan pasca reformasi,

maka wacana yang lebih ditonjolkan adalah seputar patriotisme progresif. Ditandai dengan keinginan Bayu untuk meraih impiannya, yaitu melekatkan simbol Garuda di dadanya melalui sepak bola, sebuah olahraga yang dicintainya mati-matian.

(8)

bisa mendapatkan beasiswa prestisius dari SSI (Soccer School of Indonesia) yang didanai oleh Arsenal Football Club. Patriotisme progresif juga ditandai dengan adanya kesadaran untuk mampu mengantisipasi tantangan yang dihadirkan oleh globalisasi. Olahraga bisa menjadi kekuatan ekonomi sebuah negara, seperti yang terjadi di Eropa. Di Inggris, sepakbola adalah olahraga yang paling popular dan menjadi identitas pemersatu rakyatnya sekaligus mesin ekonomi yang menggurita. Kondisi sosial politik dunia olahraga di Indonesia yang saling silang sengkarut yang salah satunya ditandai dengan amburadulnya manajemen PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) mencoba ditangkap dengan halus oleh film

Garuda Di Dadaku. Larangan kakek yang menyatakan bahwa pemain sepakbola tidak berduit, tidak bisa menjadi ladang mata pencaharian, dijawab oleh Bayu bahwa untuk menyematkan impiannya ia bisa memanfaatkan bantuan asing (Arsenal). Bayu menampik dengan uluran asing, toh pada akhirnya ia bisa tetap bermain untuk Indonesia. Tantangan untuk mengglobal inilah yang merupakan perwujudan patriotisme progresif dalam film Garuda di Dadaku.

Dalam film tanda tanya, patriotisme ditandai dengan perubahan cara pandangan dan perilaku yang dialami oleh salah satu tokohnya, Soleh yang diperankan oleh Reza Rahadian. Soleh yang awalnya sangat monolitik, gemar menghakimi orang termasuk istrinya (Menuk) yang bekerja di restoran China dan memilih menjadi Banser NU yang mengakibatkan pengroyokan ke restoran tersebut, bermetamorfosa menjadi seorang patriot ketika mengorbankan dirinya untuk melindungi pemeluk agama Kristen dan Katholik yang merayakan misa Natal. Soleh mendekap bom yang diletakkan di gereja oleh orang tak dikenal untuk memecah belah kesatuan bangsa.

Dalam film keempat, Tanah Air Beta, wujud patriotisme direpresentasikan oleh Tatiana dan Merry, yang rela berpisah dari keluarganya untuk tetap hidup dibawah wilayah NKRI, walaupun untuk itu mereka harus memendam kerinduan untuk melihat Mauro. Mauro adalah anak Tatiana dan saudara kandung Merry. Suasana di perbatasan yang sulit, akses

untuk saling bertemu yang sulit hingga Tatiana dan Mauro sempat saling mencurigai apakah rasa cinta terhadap tanah air melampaui rasa cinta terhadap keluarga, adalah inti konflik yang

dilukiskan.

Multikulturalisme dalam Film Indonesia Kontemporer

(9)

satu-satunya dasar negara dengan eksplisit menanamkan semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ , atau berbeda-beda tetapi satu jua. Masalah multikulturalisme dalam kebangsaan Indonesia secara eksplisit tertuang dalam sila ke 3, yaitu Persatuan Indonesia.

Konsepsi kebangsaan Indonesia merupakan merupakan suatu usaha untuk mencari persatuan dalam perbedaan. Persatuan diupayakan dengan menghadirkan loyalitas baru dan kebaruan dalam bayangan komunitas politik, kode-kode solidaritas dan institusi sosial-politik. hal ini terutama direpresentasikan oleh negara persatuan – dengan segala simbolnya – yang mengatasi paham golongan dan perseorangan , konstitusi dan perundang-undangan ,

ideologi negara (pancasila), kesamaan kewargaan di depan hukum , dan bahasa persatuan. perbedaan dimungkinkan terutama menghormati masa lalu, keberlanjutan etnisitas, warisan kerajaan, local genius, dan kearifan tradisional, budaya dan bahasa daerah, penghormatan hak-hak adat dan golongan minoritas, serta kebebasan untuk memeluk dan mengembangkan agama dan keyakinan masing-masing. Kebangsaan multikultural hanya bisa dipertahankan oleh suatu budaya politik jika kewargaan yang demokratis (democratic citizenship) bisa menjamin bukan saja hak-hak sipil dan politik setiap individu tapi juga hak-hak sosial-budaya kelompok masyarakat.(Latif, 2011 : 365)

Dalam kaitannya dengan hak-hak individu dan kelompok, Hollinger dalam Latif (2011 : 366) membedakan dua jenis multikulturalisme. Model pluralis memperlakukan kelompok sebagai sesuatu yang permanen dan sebagai subjek dari hak-hak kelompok. Sedangkan model kosmopolitan mengidealkan peleburan batas-batas kelompok, afiliasi ganda, dan identitas hibrida yang menekankan pada hak-hak individu. Lebih lanjut, model pluralis diejawantahkan pada kebijakan negara yang mengakui hak-hak aneka kelompok etnis untuk mengekspresikan identitas masing-masing di ruang publik. Sedangkan model kosmopolitan mendorong pelbagai kelompok etnis untuk saling berinteraksi dan berbagi warisan budaya, serta berpartisipasi bersama dalam insitusi-institusi pendidikan, ekonomi, politik dan hukum. dalam jangka panjang diharapkan terjadinya proses penyerbukan silang

budaya yang bisa mencairkan hambatan-hambatan prasangka antar kelompok, mendorong hibriditas budaya, yang pada akhirnya lebih memberi keleluasaan bagi individu untuk

memenuhi hak dan menentukan pilihannya sendiri.

(10)

Adegan penyerbuan sekelompok orang yang memekikkan ‘Allahuakbar’ terhadap warung yang dianggap menjual babi di bulan Ramadhan adalah sebuah kritikan tajam terhadap gagalnya pemerintah dalam menjaga dan menjamin hak-hak warga sipil untuk mengembangkan keyakinannya masing-masing. Film ini dengan segala kontroversinya merupakan sebuah gugatan terhadap keengganan pemerintah dalam mewujudkan bangsa yang multikultur. Jangankan mewujudkan multikulturalisme kosmopolitan dimana masing-masing entitas budaya melebur, untuk menjamin multikulturalisme pluralis dimana setiap individu dijamin haknya untuk bergama dan menunaikan haknya saja tidak.

Film ini selain menampilkan tokoh-tokoh ‘konservatif’ , yang dianggap ingin menyeragamkan cara berperilaku dan berkeyakinan masyarakat, yang menganggap bahwa dunia ini hitam putih , juga menampilkan sosok-sosok yang toleran dan multikultur. Tokoh yang diperankan oleh Henky Solaiman, Tan Kat Sun, misalnya. Ia mengelola restoran China namun memisahkan peralatan masak antara yang mengandung babi dan yang tidak. Ia juga selalu mengingatkan anak buahnya yang beragama Islam untuk sholat bahkan menutup restaurannya selama dua minggu selama lebaran. Salah satu pegawainya, Menuk, yang diperankan oleh Revalina S. Temat , adalah seorang berjilbab yang saleh. Hanya saja kebutuhan ekonomi membuatnya bekerja di restauran China. Relasi antara Menuk – Tan Kat Sun sangat multikulturalis. Masing-masing tokoh sangat toleran dan menganggap perbedaan agama sebagai sesuatu yang membuat Indonesia menjadi kaya. Seperti halnya hubungan Surya (Agus Kuncoro) , aktor muslim namun berperan sebagai Yesus dan Rika (Endhita) seorang ibu yang berpindah agama. Keduanya menjalin hubungan yang didasari rasa penghormatan terhadap pilihan hidup dan berkeyakinan masing-masing orang. Terlepas dari banyak kontroversi yang mengiringinya, termasuk tudingan pada Hanung sebagai orang yang menyebarluaskan paham pluralisme yang menganggap bahwa semua agama itu baik, film ini menyuarakan dengan berani tentang masalah perbedaan agama dan keyakinan serta kegelisahan pada beberapa ormas berbasis agama dan masyarakat yang suka menghakimi dan

memiliki keinginan untuk menyeragamkan cara berpikir masyarakat.

Film terakhir, Tanah Air Beta, merepresentasikan multikulturalisme yang mewujud

(11)

Si Bolang merepresentasikan multikulturalisme melalui pergaulan Bolang dengan anak-anak dari setiap daerah yang dikunjumginya. Dalam narasi televisi, Bolang selalu digambarkan gampang akrab, lalu sejenak kemudian bermain bersama anak-anak. Seperti

yang tergambar dalam episode ‘Nantu Forest’, si Bolang bermain petak umpet di hutan,

berenang di sungai hingga mendayung kano bersama anak-anak Nantu.

Sedangkan Ethnic Runaway, dengan segala kontroversinya yang dianggap makin merendahkan suku-suku terpencil, harus dilihat sebagai salah satu cara media hiburan untuk memperkenalkan nusantara. Dalam episode suku Sambori di Bima, kedua selebritis hidup

dalam satu rumah, makan, mengenakan pakaian adat, bahkan melakukan ritual-ritual adat suku tersebut. Jikalau multikulturalisme per definisi dipahami sebagai rasa menghormati beragam adat, etnis, agama dan kebudayaan di nusantara, Ethnic Runaway jelas tidak masuk dalam kategori itu. Memiliki semangat nasionalisme dalam memperkenalkan suku terpencil, namun masih timpang dalam membangun konsep multikulturalisme.

Kesimpulan

Nasionalisme lebih sering direpresentasikan melalui setting (tempat), tokoh maupun plot dan jalan cerita yang intinya tentang kecintaan terhadap bangsa dan negara Indonesia. Namun

belum terlihat upaya untuk menggambarkan ‘civic-state nastionalism’ karena sebagian besar masih berwujud pada cultural nationalism dimana selalu ada ‘musuh bersama’ yang dilawan. Disisi lain, patriotisme yang direpresentasikan oleh semua objek penelitian adalah patriotisme negatif, yaitu mewujudkan upaya untuk menanggulangi musuh bersama seperti diskriminasi, prasangka dan intoleransi. Hanya film Garuda Di Dadaku yang merepresentasikan adanya patriotisme progresif, yaitu sebuah daya upaya untuk membangun dan berjuang untuk kemaslahatan bangsa. Patriotisme progresif ditandai dengan adanya upaya untuk menawarkan solusi, mengupayakan kemajuan dan fokus pada usaha keluar untuk membawa bangsa

menuju era globalisasi.

Sedangkan multikulturalisme direpresentasikan di semua objek penelitian (kecuali Ethnic

Runaway), yaitu ditandai dengan adanya toleransi dan penerimaan antara tokoh-tokoh baik

yang berbeda agama, suku, etnis, maupun keyakinan. Namun jika mengacu pada multikulturalisme model pluralis dan kosmopolis, semua objek penelitian masih berkutat

(12)

Ucapan terima kasih kepada sponsor penelitian ini

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional, Republik Indonesia.

Daftar Pustaka

Buku

Burton, Graeme. Membincangkan Televisi : Sebuah Pengantar Pada Studi Televisi. Jalasutra. Jakarta. 2007

Cheng, Khoo Gaik and Thomas L. Barker. Mau Dibawa Kemana Sinema Kita ? Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia. Penerbit Salemba Humanika. Jakarta. 2011.

Gianetti, Louis. Understanding Movies. Sage Publishing. California – USA. 2008. Heider, Karl G. National Culture on Screen. Hawaiian Press. Honolulu. 1991.

Latif, Yudi. Negara paripurna : Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2011.

Pratista, Himawan. Memahami Film.Homerian Pustaka. Yogyakarta. 2008.

Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI). Indonesian Media Guide 2010. Dutakreasi Indonusa. Jakarta. 2010.

Prammagiamore, Mary. Film : A Critical Introduction. Blackwood Publishing. London. 2009.

Sen, Krishna. Kuasa Dalam Sinema : Negara, Masyarakat, dan Sinema Orde Baru. Penerbit Ombak. Yogyakarta. 2009.

Stokes, Jane. How To Do Media and Cultural Studies. Sage Publications. London. 2003. Thwaites, Tony, Llyod Davis, Warwick Mules. Tools for Cultural Studies. McMillan

Publisher. Australia 1994.

Turner, Graem. Film as Social Practice. New York. Routledge. 1999. Williams, Raymond. Televisi. Resist Book. Yogyakarta. 2009.

Jurnal

Rahmawati, Aulia. Persepsi Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Tarhadap Konsep-konsep Nasionalisme. Jurnal FISIP UPN Jatim. 2009.

(13)

Website (melalui www.questia.com) :

Hjort, Mette and Scott MacKenzie. Cinema and Nation. Routledge. New York. 2010

Vidal, Belen. Heritage Film : Nation, Genre and Representation. Columbia University Press. USA. 2011.

Referensi

Dokumen terkait

Penulis berharap dengan dibuatnya rancang bangun mekanisme penggerak pintu pagar lipat dengan menggunkan tali kawat baja (wire rope stell) dapat membantu atau

Apabila publik tidak dapat menerima tanggapan yang diberikan oleh pembuat kebijakan publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3), maka publik dapat

[r]

Sektor industri pengolahan terdiri dari 30 aktivitas produksi dimana 13 diantaranya memenuhi kriteria unggulan dilihat dari tingkat dampak keterkaitan ke depan yang tinggi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat signifikansi pengaruh dana pihak ketiga, modal sendiri, nisbah bagi hasil, LAR (Loan to Assets Ratio) dan CAR

Hasil : pemahaman konsep dan keterampilan inkuiri sains siswa yang dibelajarkan menggunakan guided-Inquiry laboratory activities lebih baik dari verification

e. Paket-paket pekerjaan untuk sewa hotel dengan nilai sampai dengan Rp50 juta rupiah cukup digabungkan dalam Kegiatan Swakelola. Sedangkan untuk paket sewa hotel dengan nilail

Kegiatan Tugas Akhir/Skripsi diakhiri dengan penulisan hasil kerja atau penelitian dalam bentuk Laporan Laporan Tugas Akhir untuk program D3, Skripsi