• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI SISTEM MITIGASI PENANGANAN BENC

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EVALUASI SISTEM MITIGASI PENANGANAN BENC"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI SISTEM MITIGASI PENANGANAN BENCANA GEMPA BUMI DI ACEH PADA TAHUN 2013

MUHAMMAD KAUTSAR ( 150701065 )

JURUSAN ARSITEKTUR, FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI, UIN AR-RANIRY

ABSTRACT

Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah di Provinsi Aceh, pada hari Selasa tanggal 2 Juli 2013, pukul 14.37 WIB diguncang gempa berkekuatan 6.2 SR. BMKG melaporkan gempa berada dengan koordinat 4.70 LU, 96.61 BT, 35 Km barat daya Bener Meriah pada kedalaman 10 kilometer. Lokasi gempa diperkirakan di sekitar Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah berbatasan dengan Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Berdasarkan Laporan posko BNPB, gempa ini mengakibatkan korban jiwa di Kabupaten Aceh Tengah sebanyak 34 orang meninggal dunia, 92 orang luka berat dan 352 orang luka ringan dengan jumlah pengungsi sebanyak 48.563 jiwa. Di Kabupaten Bener Meriah mengakibatkan korban meninggal dunia sebanyak 8 orang, 52 orang luka berat, dan 62 orang luka ringan dengan jumlah pengungsi sebanyak 4.776 jiwa.

Kerusakan yang diakibatkan gempa bumi tersebut berdampak pada sektor permukiman, infrastruktur, sosial, ekonomi dan lintas sektor yang mengakibatkan terganggunya aktivitas dan layanan umum di wilayah terdampak bencana.

Berdasarkan hasil penilaian kerusakan dan kerugian yang dilaksanakan oleh BNPB dengan melibatkan Kementerian/ Lembaga sektor terdampak dan Satuan Kerja Pemerintah Kabupaten (SKPK) Aceh Tengah dan Bener Meriah, gempa bumi sudah mengakibatkan kerusakan dan kerugian sebesar Rp.1,419 Triliun. Kerusakan dan kerugian terbesar terjadi pada sektor permukiman sebesar Rp.679,33 milyar (47,87%), sektor sosial sebesar Rp.380,98 milyar (26,85%), sektor infrastruktur sebesar Rp.229,57 milyar (16,18%), lintas sektor sebesar Rp.75,79 milyar (5,34%) dan ekonomi produktif sebesar Rp.53,43 milyar (3,77%).

(2)

bagi pendanaan sektor permukiman sebesar Rp.530,951 miliar (52,51%), sektor sosial sebesar Rp.266,854 miliar (26,39%), sektor infrastruktur sebesar Rp.143,970 miliar (14,24%), lintas sektor sebesar Rp.36,787 miliar (3,74%) dan sektor ekonomi sebesar Rp.32,569 miliar (3,22%).

PENDAHULUAN

Gempa bumi berkekuatan 6,2 SR telah terjadi pada tanggal 2 Juli 2013 sekitar pukul 14.22 wib di dua Kabupaten Provinsi Aceh yaitu Aceh Tengah dan Bener Meriah. Dampak gempa tersebut telah mengakibatkan terjadinya kerusakan rumah, infrastruktur, longsor dan pengungsian dari kedua Kabupaten tersebut. Meskipun pusat gempa berada 53 Km barat daya Kabupaten Bener Meriah dengan kedalaman 10 km, namun tingkat kerusakan justru lebih banyak dan luas di Kabupaten Aceh Tengah dengan cakupan dampak mencapai 12 kecamatan 232 desa sedangkan di Kabupaten Bener Meriah gempa mengguncang sekitar 115 desa dari 4 Kecamatan yang ada.

Gempa juga telah meluluhlantakkan beberapa bangunan pemukiman dan merusak infrastruktur dan bangunan yang bernilai triliyunan rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa sistem mitigasi bencana belum efektif dilakukan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan tersebut. Untuk mencegah bencana gempabumi secara mutlak memang sangat mustahil untuk dilakukan. Namun manusia bisa berusaha mengambil tindakan-tindakan untuk mengurangi pengaruh dari suatu bahaya sebelum gempa bumi itu terjadi lagi. Untuk itu perlu dilakukan strategi mitigasi bencana sehingga korban jiwa dan kerugian materil akibat bencana alam gempabumi dapat diminimalisir.

MITIGASI (Reduksi)

(3)

Tabel petunjuk prinsip mitigasi bencana (ADB, 1990)

No Uraian Substansi

(Aspek)

1 Bencana memberikan kesempatan yang langka dan khusus untuk

memperkenalkan tindakan mitigasi.

2 Mitigasi dapat diperkenalkan dengan 3 macam konteks : rekonstruksi,

investasi baru dan kondisi lingkungan yang ada. Masing-masing

menunjukkan kesempatan yang berbeda untuk mengenalkan

tindakan-tindakan mitigasi.

Inisiasi

3 Tindakan mitigasi adalah kompleks dan interdependen, dan mencakup

tanggung jawab yang besar dan luas. Oleh karena itu kepemimpinan yang

efektif dan koordinasi adalah penting untuk menciptakan keberhasilan.

Pengelolaan 4 Mitigasi akan menjadi sangat efektif jika tindakan-tindakan mitigasi

bencana disebarluaskan melalui variasi-variasi kegiatan-kegiatan atau

aktifitas-aktifitas terpadu.

5 Tindakan mitigasi aktif yang mengandalkan pada insentif akan lebih

efektif daripada tindakan mitigasi pasif yang berdasarkan hukum dan

pengendalian yang ketat.

6 Mitigasi harus terintegrasi dan tidak terisolasi atau terabaikan dari elemen

perencanaan bencana terkait, seperti kesiap-siagaan, pertolongan dan

rekonstruksi. Artinya mitigasi merupakan bagian integral yang penting

dari proses pengelolaan bencana.

7 Dalam kondisi sumber daya yang terbatas, prioritas harus diberikan untuk

perlindungan kelompok sosial penting, pelayanan kritis dan sektor-sektor

ekonomi vital.

Penentuan

Prioritas

8 Tindakan mitigasi perlu dimonitor dan dievaluasi secara kontinyu untuk

merespon perubahan pola-pola bencana, kerentanan dan sumber daya.

Monitoring dan

evaluasi

9 Tindakan mitigasi harus berkelanjutan sehingga mencegah timbulnya rasa

apatis masyarakat selama waktu yang panjang antara bencana-bencana

besar. Institusionalisasi

10 Komitmen politis adalah penting untuk permulaan (inisiasi) dan

(4)

PENGANTAR KONSEP-KONSEP MITIGASI

Konsep mitigasi bencana dalam perencanaan pembangunan bisa melindungi prestasi pembangunan dan membantu masyarakat dalam melindungi diri sendiri. Konsep mitigasi meliputi (Coburn, Spence dan Pomonis, 1994) :

1. Tahap pertama yang penting dalam setiap strategi mitigasi adalah memahami sifat bahaya-bahaya yang mungkin akan dihadapi.

2. Daftar dan urutan bahaya-bahaya sesuai dengan kepentingan untuk setiap negara dan daerah, bahkan bahaya bencana bisa bervariasi dari desa ke desa. Kajian-kajian dan pemetaan bisa membantu mengidentifikasikan bahayabahaya yang paling signifikan di setiap area.

3. Memahami bahwa setiap bahaya memerlukan pemahaman tentang : a. Penyebab-penyebabnya.

b. Penyebaran geografisnya, ukuran atau keparahan, dan kemungkinan frekuensi kemunculannya.

c. Mekanisme kerusakan fisik.

d. Elemen-elemen dan aktivitas yang paling rentan terhadap kerusakan. e. Kemungkinan konsekuensi sosial dan ekonomi dari bencana.

4. Mitigasi tidak hanya menyelamatkan hidup dan yang terluka dan mengurangi kerugiankerugian harta benda, akan tetapi juga mengurangi konsekuensi-konsekuensi yang saling merugikan dari bahaya-bahaya alam terhadap aktivitas-aktivitas ekonomi dan sosial.

5. Jika sumber-sumber mitigasi terbatas, maka harus ditargetkan pada yang paling efktif untuk elemen-elemen yang paling rentan dan mendukung tingkat aktivitas-aktivitas masyarakat yang ada.

(5)

7. Untuk mengurangi kerentanan fisik elemenelemen yang lemah bisa dilindungi atau diperkuat. Untuk mengurangi kerentanan institusiinstitusi sosial dan kativitas-aktivitas ekonomi, infrastruktur perlu dimodifikasi atau diperkuat atau pengaturan-pengaturan institusi dimodifikasi.

8. Elemen-elemen yang paling beresiko

a. Kumpulan bangunan yang lemah dengan tingkat hunian yang tinggi. b. Tanah, pecahan batu, dan bangunan dari batu tanpa diperkuat kerangka. c. Bangunan-bangunan dengan atap yang berat.

d. Bangunan-bangunan tua.

e. Bangunan dengan kualitas rendah atau dengan konstruksi yang cacat.

f. Bangunan-bangunan tinggi yang jauh dari gempabumi, dan bangunan-bangunan yang dibangun diatas tanah lembek, bangunan-bangunan yang ditempatkan pada lereng-lereng yang lemah.

g. Infrastruktur diatas tanah atau tertanam didalam tanah-tanah yang mengalami perubahan bentuk.

h. Pabrik-pabrik industri dan kimia juga mendatangkan resiko sekunder.

9. Strategi-strategi mitigasi utama

a. Rekayasa bangunan-bangunan untuk menahan kekuatan getaran. b. Undang-undang bangunan gempa dan peraturan tata guna tanah.

c. Kepatuhan terhadap persyaratan-persyaratan undang-undang bangunan dan dorongan akan standar kualitas bangunan yang lebih tinggi.

d. Konstruksi dari bangunan-bangunan sektor umum yang penting menurut standar tinggi dari rancangan teknik sipil.

e. Memperkuat bangunan-bangunan penting, yang diketahui rentan.

f. Perencanaan lokasi untuk mengurangi kepadatan penduduk didaerah-daerah geologi yang diketahui dapat melipatgandakan getaran bumi.

g. Asuransi.

h. Penetapan zona gempa.

10.Partisipasi masyarakat

(6)

b. Kesadaran akan resiko gempabumi.

c. Aktivitas-aktivitas dan pengaturan isi bangunan dilakukan dengan selalu mempertimbangkan adanya kemungkinan getaran bumi.

d. Sumber-sumber kebakaran yang terbuka, peralatan yang berbahaya dan sebagainya dibuat stabil dan aman.

e. Pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan pada saat terjadi gempa.

f. Partisipasi dalam latihan-latihan gempabumi, praktek-praktek, program-program kesadaran umum.

g. Kelompok-kelompok aksi masyarakat terhadap perlindungan sipil. pelatihan pemadam kebakaran dan bantuan pertama.

h. Persiapan memadamkan kebakaran, alatalat penggalian, dan peralatan perlindungan sipil lainnya.

i. Rencana pelatihan anggota-anggota keluarga pada tingkat keluarga.

METODE PENELITIAN

Pendekatan bottom-up yaitu Sistem Informasi menerima tanggapan dari kebutuhan nyata yang diperlukan dalam pengambilan keputusan. Tujuan pendekatan metoda ini untuk menjamin agar sistem yang akan dikembangkan benar-benar mencerminkan kebutuhan pemakai.

LOKASI PENELITIAN

Lokasi penelitian terletak di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

KETERSEDIAAN DATA 1. Data Sekunder

(7)

LANGKAH PENELITIAN

Dalam penelitian ini, ada 4 (empat) tahapan yang dilakukan, adalah:

1. Tahap awal melakukan pemilihan lokasi, penentuan sample, penyiapan kuisioner, studi pustaka dan pembahasan metodologi yang akan dipakai.

2. Kegiatan pengumpulan data dan penentuan kriteria pengamatan, meliputi aspek teknis (kerusakan bangunan dan jumlah korban) dan aspek non teknis (sosial, ekonomi, upaya perbaikan dan sistem IMB pasca bencana). Data kerusakan bangunan dan jumlah korban jiwa didapat dari pengamatan langsung di lapangan dan dari instansi pemerintah terkait, sedangkan data non teknis diperoleh dengan melakukan wawancara dan penyebaran kuisioner pada responden.

3. Penyusunan perencanaan dan pelaksanaan strategi mitigasi adalah :

(8)

masyarakat. Aspek teknis dititikberatkan elemen-elemen yang paling beresiko terhadap bahaya gempabumi. Kriteria penilaian aspek ini lebih pada analisis dalam menilai kekuatan dan kelemahan sample bangunan.

b. Proses Evaluasi Data, dengan memanfaatkan semua data/informasi, yang kemudian data dievaluasi dengan cara dipadukan dan diberi penilaian berdasarkan studi pustaka/literatur, untuk memberikan dasar-dasar teoritis dan acuan dalam memberikan rekomendasi metode mitigasi dan penaganan bencana gempabumi kepelaksanaan yang lebih baik.

c. Tahap Perumusan, dari hasil analisa maka dibuat suatu peringkat sasaran strategi prioritas mitigasi yang kemungkinan dapat dikembangkan.

4. Tahap penyajian hasil, disajikan dalam bentuk rekomendasi urutan strategi prioritas mitigasi dan penaganan bencana gempabumi di daerah penelitian dan strategi memperkuat bangunan rumah tinggal sederhana agar tahan gempa yang konsepnya dijabarkan dalam bentuk alternatif pembangunan rumah sederhana tahan gempa.

HASIL PENELITIAN

Gempa Aceh 2 Juli 2013 terjadi di Kab. Bener Meriah dan Kab. Aceh Tengah berada di tengah-tengah pulau Sumatra yang termasuk zona sesar aktif yang dinamakan zona sesar Sumatra (Sumatra Fault Zone/SFZ). Sejak tahun 1892, di kawasan tersebut belum tercatat adanya gempa di atas magnitudo 6 sehingga kawasan tersebut masuk dalam kawasan seismic gap atau kawasan yang aktif secara tektonik namun sudah lama tidak terjadi gempa. 2 Juli 2013 kemaren, SFZ segmen Aceh ini melepaskan energi gempa. Gempa Aceh ini masuk dalam kategori gempa tektonik karena sumbernya di SFZ di darat atau masyarakat lebih mengenalnya dengan gempa darat.

Isu Gunung Api

(9)

(vulkanik) dengan gempa tektonik adalah dari skala gempa. Skala gempa vulkanik biasanya sangat kecil dan tidak merusak bangunan sedangkan gempa tektonik di SFZ bisa besar dan merusak.

Selain skala yang kecil, di Kab. Bener Meriah sudah ada Pos Pengamatan Gunung Api Burni Telong yang melakukan pengamatan selama 24 jam, sehingga tidak ada hal yang perlu dikhawatikan dengan gunung api tersebut. Kalaupun terjadi peningkatan aktifitas gunung api, peningkatan ini akan terjadi secara pelan-pelan dan bertahap. Setiap tahapannya akan teramati oleh petugas yang berada di pos pengamatan. Pengamatan apa saja yang dilakukan oleh petugas pos pengamatan? pembaca bisa baca tulisan tentang jenis-jenis Pengamatan Gunung Api. Kerusakan Bangunan

Gempa Aceh 2 Juli 2013 ini telah meninggalkan trauma lain bagi masyarakat yang tinggal di sekitar zona gempa. Robohnya rumah dan bangunan yang terjadi di beberapa tempat di Kab. Bener Meriah dan Kab. Aceh Tengah menyebabkan banyaknya korban jiwa. Banyaknya rumah dan bangunan yang rusak ini dikarenakan sumber gempa yang cukup dangkal atau sekitar 10 Km di bawah kaki mereka. Selain dekatnya sumber gempa dengan permukaan, efek amplifikasi dan pemantulan gelombang gempa yang terjebak juga makin menguatkan goncangan tanah yang merusak bangunan. Efek amplifikasi dikarenakan bangunan tersebut berdiri di atas lapisan endapan gunung api yang lunak yang muda (berumur plistosen).

Efek Amplifikasi dan pembantulan

gelombang gempa

(sumber:http://poetrafic.wordpress.com)

(10)

Harapannya di masa yang akan datang akan dibangun rumah-rumah tahan gempa di setiap kawasan-kawasan rawan gempa. Untuk memetakan kawasan-kawasan rawan gempa atau kawasan yang memiliki tingkat goncangan tanah tertinggi harus dilakukan survey geofisika terlebih dahulu seperti pernah penulis jelaskan pada tulisan Peran Geofisika (Fisika Bumi) Dalam Mitigasi dan Monitoring Bencana (II). Semoga gempa Aceh kali memberikan ilmu dan pengalaman berharga bagi kita.

Sinkhole atau Longsor Biasa?

Selain merusak bangunan, gempa 2 Juli 2013 juga menyebabkan tanah longsor di sepanjang jalan Bener Meriah – Takengon dan “subsidence?” di Blang Mancung Kec. Ketol Kab. Aceh Tengah. Tanah Longsor yang terjadi di sepanjang jalan Bener Meriah – Takengon, berkat kerja keras pihak terkait dapat dibersihkan dalam waktu beberapa jam dan tanggal 03 Juli malam ketika penulis menuju kota Takengon tanpa ada kendala yang berarti. Kejadian yang sama sebenarnya juga terjadi di Desa Blang Mancung. Mayoritas warga yang datang ke lokasi kejadian menyakini bahwa apa yang terjadi di Blang Mancung adalah tanah ambles (sinkhole) dalam waktu cepat namun setelah penulis mengamati kondisi geologi dan marfologi setempat, kejadian tanah yang turun sedalam ±50 meter tersebut lebih diakibatkan longsor tanah biasa dan bukan sinkhole. Kejadian ini sudah terjadi sejak tahun 2006 dan gempa beberapa hari yang lalu kembali memperluas area longsorannya.

(11)

Apabila kita melihat peta topografi seperti pada gambar di atas, dekat kawasan tanah longsor tersebut sudah lama terbentuk lembah dan bukan kawasan yang rata seperti berita yang beredar di masyarakat. Lereng-lereng labil yang terbentuk dari lapisan endapan vulkanik yang sangat tebal. Endapan vulkanik ini akan dengan mudah longsor ketika getaran gempa bumi menganggu kestabilan lereng tersebut. Karena ini merupakan longsoran biasa, masyarakat diharapkan tidak perlu panik dan sangat disarankan agar masyarakat tidak mendekati kawasan yang sudah longsor tersebut.

EVALUASI SISTEM MITIGASI

Evaluasi sistem mitigasi dan Evaluasi dampak bencana

a. Mengingat sifat serangan terjadinya gempabumi secara seketika dan pertimbangan besarnya jumlah korban tewas dan lukaluka serta besarnya tingkat kerusakan yang ditimbulkan, sehingga dinilai bahwa sistem peringatan dini berupa informasi terjadinya gempa tidak efektif .

b. Sosial masyarakat, kebanyakan warga terpaksa jadi pengungsi dan tinggal ditenda-tenda darurat (86%), Hasil kuisioner menunjukkan bahwa penanggulangan bencana dari segi penanganan sosial masyarakat belum efektif dalam melindungi dan meringankan penderitaan masyarakat.

c. Ekonomi masyarakat, dampak bencana gempabumi juga mengakibatkan aktifitas kehidupan disektor ekonomi terhenti (48%), kehilangan rumah usaha (14%) dan hancurnya sumber penghidupan sehingga daya beli warga sangat rendah. Berdasarkan hasil kuisioner menunjukkan bahwa penanganan ekonomi masyarakat belum efektif dalam melindungi perekonomian masyarakat agar dapat cepat pulih seperti sediakala. d. Inisiatif Masyarakat Dalam Pengelolaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bangunan

Rumah.

e. Sistem pengurusan perijinan mendirikan bangunan (IMB) pasca bencana.

(12)

g. Penyebab kegagalan bangunan ditinjau dari penggunaan bahan bangunan dan struktur. sebagian besar rumah masyarakat menggunakan mutu bahan bangunan dibawah standar, dan menggunakan metode konstruksi atau sistem perkuatan yang tidak memadai, atau belum menggunakan struktur rumah tahan gempa.

ALTERNATIF SYARAT MINIMUM RUMAH TAHAN GEMPA

Gambar 5. Syarat minimum bangunan rumah tinggal sederhana tahan gempa Syarat minimum rumah tahan gempa

Atap Struktur Rangka Dinding Pondasi - Penutup atap

(13)

harus diperkuat Ring Balk dan balok latei, sebagai

TINGKAT SASARAN STRATEGI PRIORITAS 1. Elemen Pembentuk Rumah Tahan Gempa

Tabel Tingkat sasaran strategi prioritas elemen bangunan tahan gempa

No Faktor Elemen Bangunan

Pengaruh elemen terhadap kekuatan bangunan dalam menahan gaya lateral dan gaya guncangan

Sistem pendetailan pengerjaan elemen

Pengaruhnya terhadap kekuatan struktur bangunan

Unsur pembentuk elemen menggunakan material/bahan bangunan yang berkualitas dan sesuai komposisi campurannya Pengaruh elemen dengan perkuatan elemen yang lain

Pengaruh kerusakan elemen dengan elemen pembentuk lain

Penilaian Faktor :

Penting (pengaruhnya besar) = 4 Cukup penting (pengaruhnya sedang) = 3 Kurang penting (pengaruhnya kecil) = 2

2. Sistem Mitigasi Bencana Gempabumi

(14)

No Faktor Stategi Bobot Nilai Jumlah Peringkat Tindakan-

Penyuluhan dan pelatihan mengenai program upaya penyelamatan dan kewaspadaan masyarakat terhadap gempabumi

Persiapan dan penyediaan peralatan untuk peringatan bahaya kegempaan dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya ditingkat desa/kelurahan (tenda,tikar, dll)

Peningkatan penanganan dan pelayanan pengungsi korban bencana gempabumi

Sistem Penilaian Faktor : Pengaruhnya Besar = 3 (> 30) Pengaruhnya Sedang = 2 (20>x≥30) Pengaruhnya Kecil = 1 (≤20)

KESIMPULAN

(15)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa ini berkekuatan 6 MMI (kuat), sedangkan menurut Badan Geologi Amerika Serikat, kekuatannya mencapai 7,4 MMI yang artinya sangat kuat. Dengan intensitas gempa 7,4 MMI, bangunan yang tidak dibangun dengan konstruksi tahan gempa berpotensi mengalami kerusakan.

Sumber gempa berasal dari sesar aktif di daratan pada segmen Aceh dari sesar Sumatera atau Sesar Semangko. Sesar Sumatera memiliki 19 segmen dengan panjang keseluruhan 1.900 km, sangat aktif dan berupa strike-slip atau sesar geser. Sebelumnya, di daerah sesar tersebut pernah terjadi gempa bumi 6,0 SR pada 22 Januari 2013 di Pidie, yang menyebabkan korban satu orang meninggal dunia dan tujuh orang luka-luka.

Gempa 6,2 SR yang terjadi kemarin tidak memberikan pengaruh pada aktivitas Gunungapi Bur Ni Telong di Kab. Bener Meriah. PVMBG melaporkan bahwa pada 2 Juli 2013 terdapat 85 gempa vulkanik dalam, 71 gempa vulkanik dangkal, 73 gempa tektonik. Sedangkan pada 3 Juli 2013 terjadi 13 gempa vulkanik dalam, 21 gempa vulkanik dangkal, dan 17 gempa tektonik. Dengan demikian, kondisi Gunungapi Bur Ni Telong tetap NORMAL.

Hingga Rabu (3/7) siang, terjadi gempa susulan sebanyak 16 kali, di mana gempa yang cukup besar terjadi dua kali. Gempa susulan pertama terjadi pada pukul 20:55:38 WIB dengan kekuatan 5,5 SR dan pusat gempa berada di Barat Daya Kab. Bener Meriah, Aceh. Gempa bumi susulan berikutnya terjadi pukul 22:36:44 WIB dengan kekuatan 5,3 SR dan pusat gempa berada di Barat Daya Kab. Bener Meriah, Aceh. Gempa susulan membuat panik masyarakat.

Data dampak yang berhasil dihimpun hingga Rabu (3/7) pukul 15.00 WIB sebagai berikut:

Dampak keseluruhan:

Total korban 24 orang meninggal dunia, dua orang hilang, dan 249 orang luka-luka. Korban luka-luka semuanya dirawat di RSUD dan puskesmas serta sebagian rawat jalan. Dampak di Kab. Bener Meriah:

• Jumlah korban meninggal dunia 14 orang

• Korban luka-luka di Muyan Kute 43 orang, di Puskesmas Pante Raya 50 orang, di Puskesmas Lampaha 16 orang.

(16)

• 75 bangunan dan rumah rusak (masih dalam pendataan); infrastruktur jalan rusak dan tertimbun tanah longsor.

Dampak di Aceh Tengah:

• 10 orang meninggal dunia

• Luka-luka 140 orang

• 300 bangunan dan rumah mengalami kerusakan (masih pendataan). Beberapa akses jalan tertutup tanah longsor. Di Takengon sudah didatangkan dua buldozer untuk penanganan jalan.

Penanganan darurat masih dilakukan. Beberapa upaya yang dilakukan pada tanggal 2 Juli 2013 adalah:

2. Posko BNPB terus berkoordinasi dengan BPBA Aceh, BPBA Bener Meriah, BPBA Aceh Tengah.

3. Kepala BNPB melaporkan kepada Presiden mengenai dampak dan penanganan gempa Aceh pada Selasa (2/7) pukul 18.00 WIB.

4. Presiden menginstruksikan kepada Kepala BNPB dan aparat terkait untuk melaksanakan penyelamatan terhadap korban dan mengerahkan potensi yang ada membantu penanganan gempa di Aceh.

5. BNPB, SRC PB, Kemenkes, Kemensos, dan Kemen PU berangkat ke Aceh pada Selasa, 19.00 WIB menggunakan pesawat charter Susi Air untuk melakukan koordinasi dan kaji cepat dengan pemda. BNPB memberikan pendampingan (memperkuat) pemda dalam penanganan bencana.

6. BPBA, TNI, Polri, SKPD dan PMI di daerah melakukan upaya pencarian, penyelamatan korban, dan distribusi bantuan.

Upaya pada Rabu (3 Juli 2013) adalah:

2. Tim BNPB, SRC PB, Kemensos, Kemenkes, dan Kemen Pu menuju Bener Meriah melakukan koordinasi dengan Bupati Bener Meriah.

(17)

4. BNPB mengirimkan:

1. Helicopter Collibri TNI AU yang berada di Pekanbaru ke Aceh untuk membantu penyelamatan dan pencarian korban, khususnya di daerah perbatasan antara Bener Meriah dan Aceh Tengah.

2. Pesawat CN 235 ke Aceh untuk melakukan foto udara dan kaji cepat dampak kerusakan akibat gempa.

5. Pasukan TNI/Polri sebanyak 1.524 personil siap digerakkan ke Aceh jika diperlukan. Pasukan tersebut masih berada di Riau untuk melakukan penanganan bencana asap di Riau.

6. Menkokesra, Mensos, Sestama BNPB, eselon satu Kemen PU dan eselon 1 Kemenkes berangkat ke Aceh pada pukul 10.00 WIB.

SARAN –SARAN

Untuk mengefektifkan sistem mitigasi dan penanganan bencana gempabumi berdasarkan keinginan masyarakat (Bottom-Up) dapat dilakukan dengan :

1. Tindakan Konstruksi

a. Peningkatan kualitas dan keamanan rumah, dengan mengetahui urutan prioritas elemen utamanya yaitu struktur rangka (sloof, kolom dan pondasi), atap dan pondasi, yang dibuat menjadi satu kesatuan yang kuat.

b. Sosialisasi mengenai standar minimum rumah tahan gempa. 2. Tindakan Sosial

a. Peningkatan koordinasi pihak terkait dalam pelaksanaan evakuasi/pengungsian bila terjadi bencana alam.

b. Peningkatan penanganan/pelayanan pengungsi, terutama penyaluran bantuan logistik, pelayanan kesehatan dan jaminan sosial lainnya.

c. Perlu ada persiapan dan penyediaan peralatan untuk peringatan bahaya kegempaan, penyediaan peralatan pemadam kebakaran, peralatan penggalian dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya (terpal, tenda dan lain-lain) di tingkat pedukuhan. 3. Tindakan Masyarakat (pendidikan dan pelatihan)

a. Sosialisasi pengenalan kondisi lingkungan geologi.

(18)

c. Membentuk Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana (KMPB) ditingkat desa/kelurahan, agar dapat menangani bencana secara cepat sebelum pihak bantuan datang.

d. Mempertahankan semangat tradisi gotong royong. 4. Tindakan ekonomi

a. Penyediaan anggaran pengelolaan bencana di tingkat desa/kelurahan.

b. Sosialisasi asuransi sebagai salah satu alat perlindungan ekonomi utama kepada masyarakat yang mempunyai usaha industri kecil.

5. Tindakan Institusi dan manajemen (sistem peringatan dini)

a. Perbanyak jaringan pengamatan, juga menambah dan memperbaiki fasilitasfasilitas pendukung dan semakin sering mengevaluasi hasil ramalannya dan membandingkannya dengan kejadian sebenarnya.

b. Mengembangkan rencana pendanaan masyarakat untuk program rekonstruksi jangka panjang.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

https://www.bnpb.go.id/dampak-gempa-aceh-tengah-mencapai-rp-1-38-trilyun, 9 Januari 2018, 14.10 wib

https://bnpb.go.id/rencana-aksi-gempa-bumi-kabupaten-aceh-tengah-dan-bener-meriah, 9 Januari 2018, 14.11 wib

https://bnpb.go.id/rilis-pers-dampak-dan-penanganan-bencana-gempa-bumi-6-2-sr-di-bener-meriah-dan-aceh-tengah, 9 Januari 2018, 14.11 wib

Gambar

Tabel petunjuk prinsip mitigasi bencana (ADB, 1990)
Gambar 5. Syarat minimum bangunan rumah tinggal sederhana tahan gempa
Tabel Tingkat sasaran strategi prioritas elemen bangunan tahan gempa

Referensi

Dokumen terkait

Pada sampel tidak dijemur dengan konsentrasi air 150

www.reliance-securities.com, www.relitrade.com | Please see important disclosure information on the final page of this document your reliable partner | 7. IDX CORNER

Rasio aktivitas ( activity ratio ) atau yang disebut rasio manajemen aset merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menggunakan aktiva

Abstraksi: Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa meurukon adalah salah satu jenis kesenian dan budaya yang sangat Islami dalam masyarakat Aceh, karena meurukon termasuk salah

Teknik mutasi dalam bidang pemuliaan tanaman dapat meningkatkan keragaman genetik tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toleransi tanaman kedelai regeneran M3

Ari matéri poko mangrupa poko bahasan jeung subpoko bahasan tina kompeténsi dasar (KD) anu kudu dipimilik ku murid. Éta sababna, matéri pokok basa Sunda patali jeung

Masalah yang terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisis, pasien merasakan cemas karena proses dialisis yang cukup panjang dan lama, sehingga pasien memerlukan

2) Alat perbaikan faktor daya beban rumah tangga dengan menggunakan switching kapasitor dan induktor yang dirancang dan dibuat pada penelitian ini, mampu