• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH INTERVENSI NORTH ATLANTIC TREAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH INTERVENSI NORTH ATLANTIC TREAT"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

1

Pengaruh Intervensi North Atlantic Treaty Organization (NATO) terhadap Transformasi Konflik Sipil Libya pada Tahun 2011

Nur Luthfi Hidayatullah (0911240076) Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional

Universitas Brawijaya, Malang, E-mail: [email protected]

ABSTRACT

The development of revolutionary demonstrations movement in the Arab world which started in December 2010 had also occurred in Libya. On 15th February 2011, protestors occupied the streets of Benghazi to demand democratization in Libya. Gaddafi’s governance responded by sending the Libyan National Army which violently attacked the protestors. Consequently, the Libyan society formed an opposition party, namely the National Transitional Council (NTC) to rebel against Gaddafi’s regime. The fight between Gaddafi’s regime and the opposition rebels created a civil conflict in Libya.

On 17th March 2011, United Nations Security Council (UNSC) issued the UNSC Resolution 1973 which justified the international society to conduct any necessary means to protect Libyan civilians from being violated by Gaddafi’s regime. This mandate authorized North Atlantic Treaty Organization (NATO) to militarily intervene in Libya by implementing arms embargo, no-fly zone and air strikes towards Gaddafi’s troops and military assets.

This research will analyze the impact of NATO’s intervention towards transformation of Libyan civil conflict in 2011 by comparing two periods in the Libyan civil conflict, which are the period of conflict before the intervention of NATO and the period after NATO’s intervention.

(2)

2 PENDAHULUAN

Sejak bulan Desember 2010, telah terjadi berbagai gerakan demonstrasi

revolusioner oleh masyarakat di negara-negara dunia Arab yang menentang

pemerintahan mereka. Revolusi serupa juga terjadi di Libya, berawal dari demonstrasi

di Benghazi pada tanggal 15 Februari 2011 untuk menentang pemerintahan Muammar

Gaddafi yang otoriter. Gaddafi merespon demonstrasi tersebut dengan mengerahkan

pasukan militer sehingga mengakibatkan terjadinya perang sipil antara masyarakat

pemberontak (oposisi) dengan pasukan pemerintahan Gaddafi. Demonstrasi semakin

berkembang di berbagai wilayah Libya lainnya, sehingga meningkatkan jumlah korban

sipil (“NATO and Libya”, 2011).

Pada tanggal 26 Februari 2011, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa

(DK PBB) merespon tindakan pemerintahan Gaddafi dengan mengeluarkan Resolusi

1970 DK PBB yang menerapkan embargo persenjataan ke Libya, serta pembekuan

aset-aset dan larangan bepergian ke luar negeri bagi Gaddafi dan sepuluh staf

pemerintahannya (“Resolution 1970”, 2011). Setelah diberlakukannya Resolusi 1970,

North Atlantic Treaty Organization (NATO) meluncurkan Airborne Warning and

Control System (AWACS) pada tanggal 8 Maret 2011 untuk mengawasi dan

melaporkan kondisi perang sipil Libya dari udara (“Last Air Mission”, 2011).

Seiring dengan meningkatnya tingkat kekerasan yang terjadi dalam perang sipil

Libya, DK PBB menilai bahwa pemerintahan Gaddafi tidak merespon isi Resolusi 1970

sebagaimana diharapkan oleh DK PBB (“Resolution 1973”, 2011). Karena itu pada

tanggal 17 Maret 2011 DK PBB mengeluarkan Resolusi 1973 yang mengutuk

kekerasan sistematik terhadap hak asasi manusia yang dilakukan oleh Gaddafi. Resolusi

(3)

3

menerapkan zona larangan penerbangan (no fly zone) diatas wilayah Libya dan semua

tindakan yang diperlukan (all necessary means) untuk melindungi masyarakat Libya (“Resolution 1973”, 2011).

Pada tanggal 19 Maret 2011, koalisi berbagai negara merespon Resolusi 1973

untuk menerapkan zona larangan penerbangan di Libya dipimpin oleh Perancis, Inggris

dan Amerika Serikat (Garland, 2012:43). Beberapa hari setelah intervensi pasukan

koalisi di Libya, NATO merespon Resolusi 1973 dengan mengambil alih penerapan

embargo senjata ke Libyamelalui Operation Unified Protector sejak tanggal 22 Maret

2011. Pada tanggal 24 Maret 2011 NATO bersedia mengambil alih zona larangan

penerbangan di Libya (Garland, 2011:43). Kemudian pada tanggal 31 Maret 2011,

NATO memegang kendali penuh terhadap semua aktivitas militer di Libya (“NATO

and Libya”, 2011).

Keterlibatan NATO melalui intervensi Operation Unified Protector

menimbulkan berbagai perubahan terhadap kondisi konflik sipil tersebut. Salah satu

perubahan signifikan yang terjadi adalah hancurnya persenjataan dan aset-aset militer

pihak Gaddafi setelah pengeboman oleh pasukan NATO melalui jalur udara

(International Center, 2011:27-28). Penelitian ini akan menjelaskan tentang bagaimana

pengaruh intervensi Operation Unified Protector oleh North Atlantic Treaty

Organization (NATO) terhadap transformasi konflik sipil di Libya pada tahun 2011.

TINJAUAN PUSTAKA Konsep Konflik

Menurut Bartos, konflik adalah situasi dimana aktor-aktor saling menggunakan

(4)

4

sejalan dan/atau untuk mengekspresikan perlawanan mereka. Tingkah laku konflik juga

meliputi perilaku kelompok-kelompok dalam konflik (Bartos, 2002:13). Konflik dapat

terjadi karena adanya tujuan-tujuan yang tidak sejalan (goal incompatibility) antara

pihak-pihak yang berkonflik. Kita dapat mengetahui apakah tujuan-tujuan tersebut

sejalan atau tidak dengan mengukur apakah tujuan-tujuan tersebut dapat dicapai secara

bersamaan (Bartos, 2002:14).

Selain itu, koflik juga dapat terjadi karena adanya perasaan perlawanan (feeling

of hostility) terhadap pihak lain dalam konflik dalam bentuk perasaan atau prinsip

antagonisme, oposisi atau resistansi terhadap pihak lain. Keberadaan perasaan

perlawanan sangat dipengaruhi oleh persepsi aktor-aktor tersebut terhadap tindakan

yang dianggap rasional maupun tidak rasional untuk dilakukan dalam konflik (Bartos,

2002:19).

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan istilah “konflik sipil Libya” untuk

menggantikan istilah “perang sipil Libya”. Perang sipil Libya dapat dikategorikan

sebagai konflik karena dua hal: terdapat tujuan-tujuan yang tidak sejalan antara kedua

belah pihak, yaitu pihak oposisi yang mendukung demokratisasi sedangkan pihak

Gaddafi yang menentang demokratisasi; serta terdapat tindakan mengekspresikan

perlawanan, yaitu pihak Gaddafi menyerang para demonstran dan pihak oposisi

mendirikan National Transitional Council (NTC).

Teori Transformasi Konflik

Francis berpendapat bahwa transformasi konflik adalah serangkaian proses dan

hasil pendekatan terhadap konflik untuk menangani konflik tanpa menggunakan

kekerasan (Francis, 2002:7). Berbagai tahap transformasi dalam konflik diperlukan

(5)

5

yang lebih damai (Francis, 2002:49). Menurut interpretasi penulis, Francis memandang

bahwa transformasi konflik adalah suatu langkah yang sengaja dimunculkan oleh pihak

inferior dalam konflik untuk dapat melakukan resolusi konflik yang diawali dengan

proses dialog dan negosiasi.

Di sisi lain, Miall memandang bahwa transformasi konflik adalah proses

pendekatan terhadap perubahan hubungan, perilaku, kepentingan, dialog dan konstitusi

dalam masyarakat yang mendukung keberlanjutan konflik kekerasan tersebut (Miall,

2004:4). Transformasi konflik adalah pendekatan komprehensif terhadap berbagai

dimensi yang bertujuan membangun kapabilitas dan mendukung perubahan struktural,

bukan untuk memfasilitasi hasil atau mencapai penyelesaian. Pendekatan terhadap

konflik dilakukan pada fase-fase sebelum dan sesudah terjadinya kekerasan, serta pada

penyebab dan konsekuensi konflik kekerasan yang biasanya berkembang melampaui

lokasi pertempuran (Miall, 2004:17).

Miall menjelaskan bahwa ada lima tipe transformasi konflik (Miall, 2004:9-10),

yaitu:

(1) Transformasi Konteks – Perubahan dalam lingkungan terjadinya konflik yang

secara radikal dapat mengubah persepsi masing-masing pihak terhadap situasi

konflik dan motif-motifnya;

(2) Transformasi Struktural – Struktur adalah pola hubungan antara aktor-aktor

dalam konflik dengan badan-badan dan institusi-institusi di sekitarnya yang

menentukan hubungan tersebut;

(3) Transformasi Aktor – Aktor adalah entitas yang tersusun oleh serangkaian

kepentingan, tujuan dan identitas bersama, dibentuk oleh lingkungan sekitarnya

(6)

6

(4) Transformasi Isu – Bagaimana pihak-pihak yang berkonflik mereformulasi

posisi mereka terhadap isu-isu yang menjadi inti dari konflik tersebut; dan

(5) Transformasi Personal / Elit – Perubahan perasaan atau pemikiran individual

para pemimpin dalam institusi-institusi pembuat kebijakan (decision makers)

pada saat yang kritis (crucial).

METODOLOGI PENELITIAN

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian eksplanatif untuk

menjelaskan objek penelitian, yaitu pengaruh intervensi North Atlantic Treaty

Organization (NATO) terhadap transformasi konflik sipil di Libya pada tahun 2011.

Ruang lingkup penelitian ini adalah pada tahun 2011, sejak terjadinya perang sipil di

Libya pada bulan Februari 2011 hingga berakhirnya Operation Unified Protector oleh

NATO di Libya pada bulan Oktober 2011. Penulis melakukan penelitian tersebut di

level analisa negara (state) dan kelompok (groups). Teknik pengumpulan data yang

digunakan adalah studi pustaka (library research) dan menggunakan teknik analisa

kualitatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini penulis menganalisis transformasi-transformasi yang terjadi

dari segi struktur, aktor dan isu dalam konflik sipil Libya antara periode sebelum

terjadinya intervensi NATO dibandingkan dengan periode setelah intervensi NATO

terjadi. Penulis tidak menganalisis transformasi-transformasi yang terjadi dari segi

(7)

7 Transformasi Struktural

Pengaruh intervensi NATO terhadap transformasi pola hubungan struktural

antara pihak Gaddafi dengan pihak oposisi dalam konflik sipil Libya dianalisis melalui

tiga variabel, yaitu:

(1) Perubahan struktur power. Struktur power terkait dengan perbandingan power

antara pihak Gaddafi dengan pihak oposisi dalam konflik sipil Libya yang

diukur dari segi kapabilitas militer serta struktur perintah dan pengendalian

(command and control).

Dalam konflik sipil Libya pihak Gaddafi memiliki Angkatan Perang

Libya yang terdiri atas 50.000 personel angkatan darat (4.000 personel

diantaranya pasukan terlatih), 8.000 personel angkatan laut (4.000 personel

terlibat dalam konflik sipil Libya) dan 18.000 personel angkatan udara (Vira,

2011:22-31). Angkatan Perang Libya memiliki 500 tank, 1.500 kendaraan

berlapis baja, penembak roket, 2.000 buah artileri, beberapa kapal tonase dan

mobil amfibi, serta 100 pesawat tempur dan puluhan helikopter (Vira,

2011:22-30). Selain itu, pihak Gaddafi memiliki personel polisi, paramiliter dan tentara

bayaran walaupun tidak diketahui secara pasti jumlahnya dan kontribusinya

tidak signifikan.

Selain kapabilitas militer, pihak Gaddafi memiliki struktur perintah dan

pengendalian yang dijabat oleh anggota keluarga Gaddafi. Sebagai contoh,

Khamis Gaddafi menjabat sebagai komandan pasukan militer terlatih 32nd

Brigade dan Mutassim Gaddafi menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional

(Resolution 1970, 2011:8-10). Anak-anak Gaddafi tersebut memiliki peran

(8)

8

pihak Gaddafi. Pihak Gaddafi juga memiliki berbagai staf yang bertugas dalam

konflik sipil Libya, seperti Mayor Jendral Abu Bakr Yunis Jabir yang menjabat

sebagai Menteri Pertahanan Libya (Resolution 1970, 2011:8-10).

Sedangkan pihak oposisi memiliki kapabilitas militer rendah serta tidak

memiliki struktur perintah dan pengendalian dibandingkan dengan pihak

Gaddafi. National Transitional Council merupakan organisasi politis sehingga

tidak terlibat secara langsung dalam pertempuran, sedangkan National

Liberation Army (NLA) merupakan angkatan perang pasukan pemberontak yang

terdiri atas tentara mantan anggota pasukan Gaddafi yang mendukung oposisi,

para pemuda dan kelompok jihadist. Walaupun para tentara memiliki kapabilitas

militer lebih baik daripada para pemuda dan jihadist, tetapi jumlah personel

tentara sangat sedikit. Para pemuda yang merupakan mayoritas personel NLA

tidak memiliki pengalaman bertempur sama sekali, sedangkan jumlah maupun

kontribusi para jihadist tidak bisa diukur secara signifikan (Vira, 2011:42).

Setelah intervensi NATO, terjadi perubahan struktur power pihak

Gaddafi dalam konflik sipil Libya, yang diukur dengan indikator perubahan

kapabilitas militer serta perubahan struktur perintah dan pengendalian pihak

Gaddafi.

Pertama, kapabilitas militer pihak Gaddafi menurun karena banyak

pasukan pihak Gaddafi yang terbunuh oleh serangan udara NATO dan

hancurnya berbagai fasilitas militer pihak Gaddafi. Pada minggu pertama

Operation Unified Protector, NATO telah menghancurkan 30% dari Angkatan

(9)

anti-9

penerbangan, kendaraan tempur & artileri berat (International Center, 2011:28).

Pada akhir bulan Mei 2011, pasukan Gaddafi hanya tersisa 20% dari kapabilitas

awalnya (Vira, 2011:17). Dan pada tanggal 6 Juni 2011, NATO telah

menghancurkan 1.800 target militer, meliputi 100 situs yang digunakan oleh

Gaddafi untuk memerintahkan pasukannya, lebih dari 700 gudang amunisi serta

500 tank dan kendaraan tempur (Vira, 2011:18).

Kedua, pihak Gaddafi menghadapi kekosongan struktur perintah dan

pengendalian karena serangan udara NATO telah membunuh beberapa anak

Gaddafi yang memiliki posisi strategis. Sebagai contoh, pada tanggal 29

Agustus 2011 NATO membunuh Khamis Gaddafi di Tripoli. Serangan tersebut

juga menyebabkan struktur perintah dan pengendalian pihak Gaddafi

tercerai-berai karena kemudian Saif al-Islam melarikan diri ke Bani Walid dan Mutassim

Gaddafi melarikan diri ke Sirte (HRW, 2012:20).

Di sisi lain, intervensi NATO tidak menimbulkan perubahan struktur

power bagi pihak oposisi. Intervensi NATO tidak secara langsung meningkatkan

kapabilitas militer pihak oposisi karena NATO tidak melatih personil NLA.

Selain itu, dalam Operation Unified Protector NATO tidak mengirimkan

angkatan darat untuk bertempur bersama pihak oposisi. Intervensi NATO juga

tidak membantu menciptakan struktur perintah dan pengendalian yang baik bagi

pihak oposisi.

(2) Perubahan dari hubungan asimetris menjadi simetris. Miall menjelaskan bahwa

hubungan tidak seimbang (asimetris) terjadi saat adanya dominasi pihak

mayoritas terhadap pihak minoritas dalam konflik (Miall, 2007:6). Sebelum

(10)

10

konflik sipil Libya tergolong tidak seimbang (asimetris) karena pihak Gaddafi

lebih dominan daripada pihak oposisi dari segi persediaan dan akses terhadap

aset-aset militer serta pergerakan pasukan.

Sebelum intervensi NATO, pihak Gaddafi memiliki persediaan serta

akses terhadap senjata dan aset-aset militer karena memiliki berbagai gudang

senjata seperti di Tobruk, Cyrenaica dan Sabha (Garland, 2011:172). Pihak

Gaddafi juga menguasai kota-kota penghasil minyak seperti Ra’s Lanuf, Mersa

Brega dan Zawiya yang sangat dibutuhkan sebagai cadangan bahan bakar

kendaraan tempur (Garland, 2011:162). Selain itu, pihak Gaddafi memiliki akses

untuk membeli persenjataan atau menyewa tentara bayaran (mercenaries) dari

luar negeri. Di sisi lain, pihak oposisi tidak memiliki persediaan senjata maupun

aset-aset militer.

Setelah intervensi NATO melalui serangan udara serta dengan

diterapkannya embargo persenjataan dan no-fly zone, hubungan antara pihak

Gaddafi dengan pihak oposisi menjadi seimbang karena pihak Gaddafi

kehilangan persediaan dan akses terhadap senjata dan aset-aset militer. Selain

itu, pergerakan pasukan pihak Gaddafi terhambat setelah diterapkannya no-fly

zone.

Pertama, serangan udara NATO telah memaksa pasukan Gaddafi

mundur ke Sirte dan Bin Jawad sehingga pada akhir bulan Maret 2011 pasukan

oposisi berhasil menguasai kota minyak Mersa Brega dan Ra’s Lanuf tanpa

harus bertempur dengan pasukan Gaddafi (Garland, 2011:27). Dengan demikian,

(11)

11

pasukannya. Selain itu, NATO juga telah menghancurkan gudang amunisi milik

pihak Gaddafi di Sabha (Garland, 2011:172).

Kedua, dalam melaksanakan embargo persenjataan NATO mengawasi

wilayah perairan Libya seluas 61.000 nautical mil persegi. Selama pelaksanaan

embargo persenjataan, NATO telah mengawasi lebih dari 3.100 kapal laut,

memperbolehkan 300 kapal untuk melewati perairan dan melarang 11 kapal

untuk memasuki wilayah perairan Libya karena kapal tersebut maupun

muatannya dianggap dapat membahayakan masyarakat Libya (Operation

Unified, 2011:1). Penulis berasumsi bahwa setelah diterapkannya embargo

persenjataan, pihak Gaddafi tidak memiliki akses untuk membeli persenjataan

ataupun menyewa tentara bayaran dari luar negeri.

Ketiga, dalam menerapkan no-fly zone NATO telah menghancurkan

pesawat-pesawat dan fasilitas penerbangan milik pihak Gaddafi karena dianggap

melanggar no-fly zone. NATO telah menyerang Angkatan Udara Libya dan

menghancurkan landasan udara Mitigia di Tripoli, Ghardabiya di Sirte, Al Jufra,

dan Sabah di tenggara Libya. Selain itu, NATO juga telah menhancurkan

berbagai helikopter milik pihak Gaddafi (Vira, 2011:30-31).

(3) Perubahan dalam pasar kekerasan. Elwert menjelaskan bahwa pasar kekerasan

merupakan tindakan untuk memonopoli kekerasan dalam konflik yang muncul

dari tingkah laku ekonomis untuk memaksimalkan keuntungan dengan

menggunakan kekerasan (Elwert, 1999:2). Dalam konflik sipil Libya, penulis

menganalisis bahwa tidak terdapat pasar kekerasan karena pihak Gaddafi

maupun oposisi tidak menggunakan kekerasan untuk mendapatkan keuntungan

(12)

12

politis. Tujuan politis pihak Gaddafi adalah mempertahankan kekuasaannya,

dibuktikan dengan pernyataan Gaddafi bahwa masyarakat yang tidak

mendukung pihaknya tidak berhak untuk hidup (Garland, 2011:10). Sedangkan

tujuan pihak oposisi adalah membangun pemerintahan yang lebih demokratis di

Libya (International Center, 2011:24). Setelah intervensi NATO, tidak terjadi

perkembangan pasar kekerasan karena tidak ada upaya dari pihak Gaddafi

maupun pihak oposisi untuk mendapatkan keuntungan ekonomis dengan

menggunakan kekerasan.

Transformasi Aktor

Pengaruh intervensi NATO terhadap perubahan keputusan, tujuan dan

pendekatan pihak Gaddafi maupun pihak oposisi terhadap konflik sipil Libya melalui

lima variabel, yaitu:

(1) Perubahan kepemimpinan.

Sebelum intervensi NATO, pihak Gaddafi dipimpin Kolonel Muammar

Gaddafi dan dibantu oleh berbagai stafnya yang menempati posisi-posisi

strategis. Setelah intervensi NATO, terjadi perubahan kepemimpinan dalam

pihak Gaddafi dengan bentuk kekosongan kepemimpinan di berbagai posisi

strategis yang disebabkan oleh dua faktor, yaitu karena terbunuhnya para pejabat

pihak Gaddafi serta karena para pejabat tersebut melarikan diri. Pada tanggal 25

hingga 30 April 2011 NATO membunuh seorang anak Gaddafi beserta tiga

orang cucu Gaddafi dalam penyerangan di Bab al-Azizia (Ulfstein, 2013:16).

Pada tanggal 29 Agustus 2011, NATO membunuh Khamis Gaddafi di Tripoli

(13)

13

dan Mutassim Gaddafi melarikan diri ke Sirte untuk menghindari serangan

NATO dan pasukan pemberontak (HRW, 2012:20).

Pada akhirnya, pada tanggal 20 Oktober 2011, Abu Bakr Yunis dan

Kolonel Muammar Gaddafi meninggal dunia dalam pertempuran di Sirte (HRW,

2012:7). Kemudian, Mutassim Gaddafi dibunuh oleh pasukan pemberontak di

Misrata (HRW, 2012:4). Kematian Muammar Gaddafi, Abu Bakr Yunis dan

Mutassim juga menandai kekosongan di pihak Gaddafi.

(2) Perubahan tujuan-tujuan.

Sebelum intervensi NATO, pihak oposisi tidak bertujuan untuk

membentuk pemerintahan sementara, tetapi hanya bertujuan menghimpun

gerakan pemberontakan di Libya sebagai gerakan politis (Garland, 2011:10).

Dalam upaya mencapai tujuan tersebut pihak oposisi tidak mau meminta

bantuan pihak asing, dibuktikan dengan pernyataan juru bicara NTC Abdul

Hafiz Ghoza pada tanggal 27 Februari 2011 bahwa NTC tidak menghubungi

pemerintah-pemerintah negara lain dan tidak menginginkan intervensi asing di

Libya (Garland, 2011:116). Di sisi lain, tujuan pihak Gaddafi adalah untuk

memberantas segala upaya pemberontakan di Libya, dibuktikan dengan

pernyataan Gaddafi pada bulan Februari 2011 bahwa pihaknya akan

menindaklanjuti siapapun yang mengganggu perdamaian dan menimbulkan

kekacauan di Libya (Garland, 2011:9).

Setelah terjadi intervensi NATO, tujuan oposisi tetap untuk mewujudkan

demokratisasi di Libya, tetapi cara pihak oposisi mencapai tujuan tersebut

berubah. Pada tanggal 23 Maret 2013 NTC justru membentuk pemerintah

(14)

14

lembaga legislatif dalam pemerintahan baru Libya (Garland, 2011:117). Selain

itu, pihak oposisi meminta pertolongan kepada pihak asing dibuktikan dengan

pernyataan Nouri Abdallah Abdel Ati, seorang anggota NTC di Misrata yang

meminta bantuan NATO untuk melindungi masyarakat sipil Libya pada tanggal

19 April 2011 (International Center, 2011:25).

Di sisi lain, setelah intervensi NATO tujuan pihak Gaddafi juga

mengalami perubahan. Jika sebelumnya pihak Gaddafi hanya bertujuan

memberantas gerakan-gerakan pemberontakan di Libya, setelah intervensi

NATO tujuan pihak Gaddafi juga meliputi mempertahankan wilayah Libya dari

serangan negara-negara anggota NATO. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan

Gaddafi bahwa pemberontakan terhadap pemerintahannya merupakan rencana

kolonialis dari berbagai negara asing, terutama Perancis, Amerika Serikat dan

Inggris untuk mengontrol minyak Libya dan memperbudak masyarakat Libya

(Garland, 2011:10).

(3) Perubahan internal pihak-pihak

Sebelum konflik sipil Libya terjadi, pihak Gaddafi didukung oleh

menteri-menteri dan staf pemerintahannya. Banyak menteri dan staf

pemerintahan Gaddafi yang melarikan diri karena menolak saat diperintahkan

Gaddafi untuk menyerang masyarakat sipil Libya. Setelah intervensi NATO,

banyak menteri maupun staf pemerintahan Gaddafi yang membelot untuk

bergabung dengan pihak oposisi. Berbagai pembelotan para menteri dan staf

pemerintahan Gaddafi kepada pihak oposisi tersebut merupakan perubahan

internal karena mengurangi keberadaan anggota pihak Gaddafi dan menambah

(15)

15

Sebelum intervensi NATO, Menteri Keadilan Libya Mustafa Abdul Jalil

mengundurkan diri pada tanggal 21 Februari 2011 dan Menteri Dalam Negeri

Libya Mayor Jendral Abdul Fatah Yunis membelot pada tanggal 22 Februari

2011 untuk mendukung pasukan pemberontak (Garland, 2011:33-34).

Pembelotan juga berlanjut pada periode setelah intervensi NATO terjadi. Pada

tanggal 30 Maret 2011 Pemerintah Inggris mengkonfirmasi bahwa menteri Luar

Negeri Libya, Musa Kusa telah membelot dan pergi ke Inggris. Selain itu, wakil

menteri luar negeri, kepala intelijen, menteri minyak, dan sekertaris General People’s Congress juga membelot dan melarikan diri dari Libya (Garland,

2011:174). Pada akhir bulan Mei 2011 hanya tersisa 10 orang jendral yang

mendukung pihak Gaddafi (Vira, 2011:17). Kemudian 8 orang jendral pihak

Gaddafi melarikan diri ke Italy (Vira, 2011:21).

(4) Perubahan dukungan terhadap pihak-pihak

Sebelum intervensi NATO terjadi terdapat masyarakat di beberapa kota

yang mendukung pihak Gaddafi maupun berada dalam kendali Gaddafi,

misalnya kota Sirte yang merupakan kampung halaman Gaddafi dan kota Tripoli

yang merupakan pusat pemerintahan Gaddafi (Garland, 2011:112). Selain itu,

pihak Gaddafi juga didukung oleh perusahaan maupun badan usaha negara

Libya berupa akses terhadap dana dan aset-aset yang digunakan pihak Gaddafi

untuk berbagai keperluan militer (Resolution 1973, 2011:7-8).

Setelah intervensi NATO, terjadi perubahan dukungan terhadap pihak

Gaddafi maupun oposisi. Pada bulan Juni 2011, dukungan terhadap pihak

oposisi mulai berkembang di kota-kota yang berada dibawah kekuasaan

(16)

16

pemberontak berhasil menduduki Tripoli dan Bani Walid (Ulfstein, 2013:168).

Selanjutnya, pada tanggal 20 Oktober 2011 pasukan pemberontak menduduki

Sirte (Taylor, 2011:25). Banyak pendukung pihak Gaddafi yang terbunuh dalam

pertempuran di kota Sirte karena diserang oleh pasukan pihak oposisi dan

serangan udara NATO (HRW, 2011:6).

Selain itu, pihak Gaddafi juga kehilangan dukungan dari perusahaan

maupun badan usaha negara milik pemerintahan Libya. Hilangnya dukungan

tersebut disebabkan oleh kaburnya pemimpin perusahaan-perusahaan tersebut

dan dibekukannya aset-aset perusahaan berdasarkan Resolusi 1973 DK PBB.

Akibatnya, pihak Gaddafi tidak bisa mendapatkan dana untuk keperluan militer

dalam konflik sipil Libya.

(5) Perubahan aktor-aktor. Dalam penelitian ini perubahan aktor-aktor dianalisis

melalui dua indikator, yaitu Angkatan Udara Libya tidak lagi berfungsi sebagai

angkatan perang dan terhentinya pergerakan tentara bayaran setelah blokade

perairan oleh NATO.

Pertama, Angkatan Udara Libya tidak lagi berfungsi sebagai angkatan

perang dalam konflik sipil Libya karena kehilangan kapabilitas militernya

setelah diserang oleh serangan udara NATO. Pada tanggal 25 Mei 2011, NATO

memberitakan bahwa Angkatan Udara Libya tidak lagi berfungsi sebagai

pasukan perang dalam konflik sipil Libya (Vira, 2011:49).

Kedua, pergerakan tentara bayaran (mercenaries) menuju Libya terhenti

setelah blokade perairan oleh NATO. Walaupun kontribusi tentara bayaran bagi

pihak Gaddafi tidak signifikan, sebelum intervensi NATO para tentara bayaran

(17)

17

Februari 2011 (2011:18). Saat NATO menerapkan embargo persenjataan di

Libya, NATO juga melakukan blokade perairan yang melarang pergerakan

tentara bayaran untuk memasuki Libya sebagaimana penerapan larangan

terhadap peredaran persenjataan ke Libya (Taylor, 2011:12).

Transformasi Isu

Penulis menganalisis bagaimana pihak Gaddafi maupun pihak oposisi

mereformulasi posisi mereka terhadap isu-isu yang menjadi inti dalam konflik sipil

Libya melalui empat variabel, yaitu:

(1) Isu-isu yang saling berseberangan. Isu-isu yang saling berseberangan adalah

adanya pernyataan yang dipertentangkan kebenarannya oleh masing-masing

pihak dalam konflik. Dalam konflik sipil Libya, pihak Gaddafi maupun oposisi

saling menentang pernyataan dari kedua belah pihak tersebut.

Dalam konflik sipil Libya, pihak oposisi menyatakan diri sebagai

satu-satunya perwakilan resmi negara Libya, dibuktikan dengan pernyataan Mustafa

Abdul Jalil pada tanggal 5 Maret 2011 (International Center, 2011:22).

Pernyataan tersebut membuktikan bahwa pihak oposisi tidak mengakui

pemerintahan Gaddafi sebagai pemerintah resmi Libya. Di sisi lain, pihak

Gaddafi menganggap bahwa pemerintahannya adalah pemerintahan resmi Libya

yang tidak berniat untuk melukai masyarakat sipil Libya dan para pemberontak

oposisi adalah teroris yang berusaha memecah belah Libya (Garland, 2011:109).

Penulis menganalisis bahwa tidak terjadi perubahan isu yang

dipertentangkan tersebut setelah intervensi NATO dalam konflik sipil Libya

karena pihak Gaddafi dan pihak oposisi tetap saling menyatakan sebagai

(18)

18

(2) Kompromi konstruktif. Kompromi konstruktif adalah upaya dialog maupun

negosiasi antara pihak-pihak yang berkonflik dengan tujuan mencapai resolusi

konflik secara damai, seperti gencatan senjata (ceasefire) maupun negosiasi.

Dalam konflik sipil Libya, terdapat upaya mediasi yang dilakukan oleh beberapa

negara untuk menginisiasi dialog antara pihak Gaddafi dengan pihak oposisi.

Tetapi, pihak oposisi selalu menolak upaya dialog tersebut sehingga tidak

menunjukkan progress signifikan dalam mencapai penyelesaian konflik secara

damai.

Beberapa upaya negosiasi diantaranya: pada tanggal 3 Maret 2011,

Presiden Venezuela Hugo Chavez menghubungi pihak oposisi dalam konflik

sipil Libya untuk mengadakan dialog damai dengan pihak Gaddafi Gaddafi

(Garland, 2011:157). Kemudian pada tanggal 11 April 2011, seorang delegasi

Afrika Selatan, menyarankan diadakannya gencatan senjata dan dialog antara

pihak oposisi dengan pihak Gaddafi. NTC menolak upaya perundingan damai

karena tidak mengharuskan Gaddafi untuk turun dari kekuasaannya saat proses

dialog berlangsung. Selain itu, pasukan pemberontak juga menolak upaya

perundingan damai tersebut karena tidak mengharuskan Gaddafi menarik

pasukannya dari medan perang serta tidak mewajibkan NATO menghentikan

serangan udara selama upaya perundingan berlangsung.

Pada tanggal 18 Maret 2011, Menteri Luar Negeri Libya Musa Kusa

yang mengumumkan gencatan senjata (ceasefire) untuk menghindari serangan

helikopterpihak oposisi (Garland, 2011:24). Tetapi beberapa jam kemudian,

(19)

19

menggunakan artileri (Garland, 2011:14). Sehingga, upaya menginisiasi

gencatan senjata antara pihak Gaddafi dengan pihak oposisi gagal.

Di sisi lain, tidak ada upaya dari NATO untuk menginisiasi perundingan

damai antara pihak Gaddafi dengan oposisi. Menurut Sekertaris Jendral NATO,

Anders Fogh Rasmussen, kondisi konflik sipil Libya masih terlalu awal untuk

melakukan gencatan senjata karena mekanisme pengawasan yang efektif

terhadap gencatan senjata tersebut belum terbentuk (Ulfstein, 2013:165).

(3) Perubahan isu-isu

Berkembangya isu demokratisasi dalam konflik sipil Libya dimunculkan

oleh pihak oposisi sejak awal upaya pemberontakan terhadap pihak Gaddafi.

(International Center, 2011:24). Upaya NTC membangun negara demokratis di

Libya dibuktikan dengan rencana NTC menyelenggarakan pemilihan umum

untuk memilih perwakilan legislatif maupun presiden dalam pemerintahan Libya

setelah Gaddafi jatuh dari kekuasaannya. Selain itu, NTC juga berencana

membentuk konstitusi nasional melalui referendum untuk membentuk

partai-partai politik (International Center, 2011:24).

Setelah intervensi NATO terjadi perkembangan isu dalam konflik sipil

Libya karena NATO mengangkat isu perubahan rezim di Libya. Hal ini

dibuktikan dengan pernyataan Sekertaris Jendral NATO Anders Fogh

Rasmussen yang menginginkan terjadinya pergantian rezim di Libya (Vira,

2011:47). Selain itu di awal pelaksanaan Operation Unified Protector, Presiden

Amerika Serikat Barrack Obama bersama perwakilan dari negara-negara Eropa

dan NATO menyatakan bahwa Kolonel Gaddafi harus turun dari kekuasaannya

(20)

20

pemerintahan Libya tersebut juga dibuktikan dengan serangan udara NATO di

Bab al-Azizia pada akhir bulan April 2011 yang membunuh seorang anak

Gaddafi beserta tiga orang cucu Gaddafi (Ulfstein, 2013:16).

(4) Memutus atau menghubungkan kembali isu-isu.

Pada awal konflik sipil Libya isu yang penting bagi pihak Gaddafi adalah

memberantas segala upaya pemberontakan dari masyarakat Libya, dibuktikan

dengan pernyataan pihak Gaddafi yang berjanji untuk membersihkan setiap

rumah di Libya hingga gerakan pemberontakan bisa dihentikan. Selain itu,

Gaddafi juga menyatakan bahwa masyarakat yang tidak mendukungnya tidak

berhak untuk hidup (Garland, 2011:10).

Dengan terjadinya intervensi NATO penulis berasumsi bahwa Gaddafi

juga harus menghadapi isu baru, yaitu melindungi wilayah Libya dan aset-aset

militer pihak Gaddafi dari serangan udara NATO. Serangan udara NATO telah

menghancurkan berbagai aset militer pihak Gaddafi seperti markas-markas

militer, gudang amunisi, dan kendaraan tempur (Vira, 2011:18). Selain itu,

intervensi NATO juga telah menghancurkan berbagai infrastruktur strategis bagi

pihak Gaddafi seperti landasan udara Mitigia di Tripoli, Ghardabiya di Sirte, Al

Jufra, dan Sabah di tenggara Libya (Vira, 2011:31).

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Penelitian yang dilakukan oleh penulis terkait dengan pengaruh intervensi

NATO terhadap transformasi konflik sipil Libya pada tahun 2011 tersebut telah

(21)

21

Operation Unified Protector telah menyebabkan terjadinya transformasi struktural,

aktor dan isu dalam konflik sipil Libya. Dari dua belas variabel transformasi struktural,

aktor dan isu, intervensi NATO menyebabkan terjadinya transformasi pada sembilan

variabel.

Pertama, transformasi struktural terjadi dalam dua variabel yang meliputi:

perubahan struktur power yang diukur dengan menurunnya kapabilitas militer pihak

Gaddafi dan terjadinya perubahan struktur perintah dan pengendalian pihak Gaddafi;

serta perubahan dari hubungan asimetris menjadi simetris karena hilangnya persediaan

dan akses pihak Gaddafi terhadap persenjataan dan karena terhambatnya pergerakan

pasukan Gaddafi setelah diterapkannya no-fly zone.

Kedua, transformasi aktor terjadi dalam lima variabel yang meliputi: perubahan

kepemimpinan karena terbunuhnya Kolonel Muammar Gaddafi dan berbagai stafnya;

perubahan tujuan-tujuan karena pihak oposisi berencana membangun pemerintahan baru

di Libya dan karena pihak Gaddafi menyatakan perlawanan terhadap NATO; perubahan

internal pihak-pihak kerena banyak menteri maupun staf pihak Gaddafi yang membelot

dan mendukung oposisi; perubahan dukungan terhadap pihak-pihak yang diukur dengan

berkurangnya dukungan masyarakat dan perusahaan milik Libya terhadap pemerintahan

Gaddafi; serta perubahan aktor-aktor yang diukur dengan tidak berfungsinya Angkatan

Udara Libya sebagai angkatan perang dan terhentinya pergerakan tentara bayaran

setelah diterapkannya embargo senjataoleh NATO.

Ketiga, transformasi isu terjadi dalam dua variabel yang meliputi: perubahan

isu-isu yang dibuktikan dengan pernyataan Sekertaris Jendral NATO yang

(22)

22

isu-isu yang dibuktikan dengan kebijakan Gaddafi menghubungkan isu intervensi

NATO sebagai rencana kolonialis.

Di sisi lain, dari dua belas variabel transformasi struktural, aktor dan isu,

intervensi NATO tidak menyebabkan terjadinya transformasi pada tiga variabel.

Pertama, tidak terjadi transformasi pada salah satu variabel dari transformasi struktural

yaitu perubahan dalam pasar kekerasan karena dalam konflik sipil Libya pihak Gaddafi

maupun pihak oposisi tidak menggunakan kekerasan untuk mendapatkan keuntungan

ekonomis. Kedua, tidak terjadi transformasi pada dua variabel dari transformasi isu,

yaitu: isu-isu yang saling berseberangan karena pihak Gaddafi maupun pihak oposisi

tetap mengklaim pihaknya sebagai perwakilan resmi Libya; serta tidak terjadi

perubahan dalam kompromi konstruktif karena intervensi NATO di Libya tidak

memfasilitasi upaya negosiasi maupun gencatan senjata untuk menyelesaikan konflik

secara damai.

Saran

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih memiliki banyak kekurangan

substansial maupun teknis yang dapat dikembangkan dalam penelitian-penelitian

selanjutnya. Penelitian ini hanya terbatas dari segi ruang lingkup penelitian, yaitu

pengaruh intervensi NATO terhadap transformasi konflik sipil Libya. Padahal,

intervensi NATO bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan terjadinya transformasi

pada konflik sipil di Libya.

Selain itu, penelitian ini hanya membahas tentang periode konflik sipil di Libya

sejak bulan Februari hingga Oktober 2011. Penulis menyarankan agar penelitian

selanjutnya menjelaskan lebih terinci tentang kondisi faktor-faktor yang menyebabkan

(23)

23

di Libya setelah bulan Oktober 2011. Penelitian ini juga dapat dikembangkan lebih

lanjut dengan menggunakan level of analysis individu dalam menganalisis aktor-aktor

yang terlibat dalam konflik sipil Libya.

Dalam penulisan penelitian ini penulis menghadapi beberapa kendala teknis.

Kendala utama dalam penulisan penelitian ini adalah keterbatasan sumber referensi

yang dapat diakses oleh penulis. Sehingga, penelitian ini tidak bisa menganalisis

pengaruh intervensi NATO terhadap transformasi konflik sipil Libya dengan data-data

yang lebih terinci. Pada penelitian selanjutnya yang serupa, penulis menyarankan untuk

mencari berbagai referensi tambahan yang relevan.

DAFTAR RUJUKAN

Bartos, O. dan Wehr, P. (2002) Using Conflict Theory. Cambridge: Cambridge University Press.

Elwert, G. (1999) Intervention in Markets of Violence [online] Tersedia di: http://www.oei.fu-berlin.de/en/projekte/cscca/downloads/ge_pub_

marketsofviolence.pdf [Diakses pada: 23 Maret 2013]

Francis, D. (2002) People, Peace and Power Conflict Transformation in Action. London: Pluto Press.

Garland, L. (2012) 2011 Libyan Civil War. Delhi: White Word Publications.

HRW (2012) Death of a Dictator Bloody Vengeance in Sirte [online] Human Rights Watch. Tersedia di: www.hrw.org/sites/default/files/reports/ libya1012webwcover_0.pdf [Diakses pada: 28 Mei 2013]

International Center for the Study and Research into Terrorism and assistance to the victims of Terrorism (2011) Libya: An Uncertain Future Report on a Fact Finding Mission to Assess Both Sides of the Libyan Conflict [online] CIRET-AVT. Tersedia di: www.iran-bulletin.org/.../ LibyaReport201105 .pdf [Diakses pada: 12 Januari 2013]

(24)

24

Miall, H. (2004) Conflict Transformation: A Multi-Dimensional Task [online] Berghof Research Center for Constructive Conflict Management. Tersedia di: http://www.berghof-handbook.net/documents/publications/miall_ handbook.pdf [Diakses pada: 1 Februari 2013]

Miall, H. (2007) Conflict Transformation Theory and European Practice [online] Sixth Pan-European Conference on International Relations, Turin 12-15 September 2007. Tersedia di: http://www.turin.sgir.eu/uploads/Miall-conflict_transformation_theory_and_european_practice.pdf [Dikses pada: 1 Februari 2013]

Nato and Libya. (2011) [online] North Atlantic Treaty Organization. Tersedia di: http://www.nato.int/cps/en/natolive/topics_71652.htm [Diakses pada 3 September 2012]

Operation Unified Protector Final Mission Stats. (2011) [online] North Atlantic Treaty Organization. Tersedia di: http://www.nato.int/.../pdf/pdf.../ 20111108_111107-factsheet_up_factsfigures [Diakses pada 28 Mei 2013] Tersedia di: http://www.parliament.uk/briefing-papers/SN05909 .pdf [Diakses pada: 28 Mei 2013]

Ulfstein, G. dan Christiansen, H. (2013) The Legality of The NATO Bombing in Libya [online] International and Comparative Law Quarterly. Tersedia di: http://journals.cambridge.org/abstract_S0020589312000565 [Diakses pada: 28 Mei 2013]

Referensi

Dokumen terkait