• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS ATAS PENCABUTAN IZIN TAMBANG YA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS ATAS PENCABUTAN IZIN TAMBANG YA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS ATAS PENCABUTAN IZIN TAMBANG YANG

BERDAMPAK PADA KERUSAKAN HUTAN JAMBI

Marhara Hasibuan (8111416193) [email protected]

Abstrak

Sekitar 400.000 hektar dari total 1 juta hektar atau seperempat luas provinsi Jambi yang beralih menjadi areal tambang batubara setahun terakhir yang tidak dikelola oleh pemiliki izinnya. Ironisnya, penghentian usaha itu tanpa adanya pemulihan lingkungan sehingga areal bekas tambang yang telantar itu begitu luas. Pencabutan izin usaha terhadap lebih dari 150 perusahaan yang dilakukan karena perusahaan tidak membayar iuran tetap, tidak

menyampaikan laporan produksi, merusak lingkungan, dan beroperasi tak sesuai dengan analisis dampak lingkungan. Sejak berlakunya pencabutan IUP, pengusaha tambang benar-benar berhenti beroperasi. Beberapa tahun

terakhir, harga batubara terus merosot meskipun tahun ini ada kenaikan harga. Harga batubara anjlok ini disebut-sebut sebagai salah satu alasan perusahaan melalaikan kewajiban reklamasi lubang-lubang tambang mereka. Selain soal harga, dalih lahan masih mengandung batubara kerap menjadi alasan banyak perusahaan mengelak dari tanggung jawab reklamasi. Batubara dalam tanah tersusun miring berlapis. Keadaan ini, katanya, membuat

pembisnis batubara harus cermat menghitung biaya operasional. Pengusaha lari dari tanggungjawabnya terhadap lingkungan, akibatnya ekosistem bekas areal tambang dibiarkan dalam kondisi rusak dan tercemar, kegiatan

perusahaan juga terindikasi tumpang tindih dengan hutan konservasi, inilah yang menyebabkan permasalahan lingkungan di Jambi sudah

mengkhawatirkan. Kehilangan hutan bukan juga merugikan negara, melainkan masyarakat disekitar akan menghadapi konflik terhadap satwa-satwa liar yang masuk keperkampungan warga akibat tidak memiliki suatu wadah atau

habitat.

Kata Kunci : Kerusahan Hutan, Izin Usaha, Amdal, Konservasi.

PENDAHULUAN

Jambi adalah sebuah provinsi di kepulauan Indonesia yang terletak di pesisir timur di bagian tengah pulau Sumatera. Kota Jambi resmi menjadi ibukota provinsi Jambi pada tanggal 6 Januari 1957. Sebelumnya, Jambi berstatus pemerintah daerah otonom kota Madya berdasarkan ketetapan gubernur Sumatera tanggal 17 Mei 1946.

Provinsi Jambi berbatasan di sebelah Utara dengan Provinsi Riau, di sebelah Selatan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bengkulu, di sebelah Barat dengan Provinsi Sumatera Barat, di sebelah Timur dengan Selat Berhala. Provinsi Jambi berdasarkan Undang Undang Nomor 54 Tahun 1999 terdiri dari sembilan kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Kerinci, Kabupaten Merangin, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Batang Hari,

(2)

Ada banyak sekali peninggalan kebudayaan di Provinsi Jambi seperti kompleks Percandian Muaro Jambi, sentra batik Jambi, Museum Provinsi Jambi, Museum Negeri Jambi, dan Cagar Alam Geopark serta masih banyak lagi. Namun dibalik segala macam keindahan tersebut, Provinsi Jambi juga mengalami berbagai permasalahan lingkungan yang pelik. Salah satu permasalahannya adalah kondisi hutan di provinsi Jambi semakin

memprihatinkan. Kerusakan hutan yang cukup parah terjadi di areal PT.

Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) yang terletak di kabupaten Batanghari. Di kabupaten ini PT. REKI memiliki dan mengelola serta merehabilitasi lahan konsesi seluas 46.385 hektar. Namun dari total luas konsesi yang dimiliki oleh PT REKI tersebut 17.000 hektar kawasan sudah dirambah oleh masyarakat.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh Komunitas Konservasi Indonesia WARSI (KKI WARSI) telah terjadi penyusutan luasan hutan Jambi sebesar 1,1 juta hektar dalam 2 dekade terakhir. Saat ini luas hutan Jambi diperkirakan hanya tinggal 1,3 juta hektar. Perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI) memiliki andil besar dalam mengurangi luasan hutan Jambi. Saat ini total luas perkebunan sawit Jambi telah mencapai 819.237 hektar (Dinas

Perkebunan Jambi tahun 2010). Selain itu permasalahan yang juga terjadi adalah sama dengan yang terjadi di kota-kota lain seperti banjir, polusi, dan pencemaran lingkungan. Mengingat banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh Prov Jambi maka dibutuhkan solusi-solusi cerdas untuk mengatasinya.

Provinsi Jambi kehilangan tutupan hutan seluas 189.125 hektare selama kurun waktu 2012-2016. Hutan itu hilang akibat deforestasi dan degradasi hutan serta aktivitas tambang emas ilegal khususnya di wilayah Jambi bagian barat. Manager Komunikasi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Rudi Syaf mengatakan dari interpretasi yang dilakukan Warsi pada 2012 total hutan Jambi masih 1.159.559 hektare, namun pada 2016 luasnya menjadi 970.434 hektare. "Berdasarkan interpretasi Lansat 8 yang dilakukan Unit Geographic Information System KKI Warsi, dalam rentang tahun 2012 ke 2016 Jambi kehilangan tutupan hutan sebesar 189.125 hektare. Hal ini setara dengan delapan kali lapangan bola per jam," kata Rudi. Hilangnya tututan hutan ini telah menyebabkan bencana ekologis di wilayah Jambi khususnya wilayah barat, itu dilihat dengan tingginya intensitas banjir dan longsor yang terjadi.

Sejak berlakunya pencabutan ratusan IUP, pengusaha tambang benar-benar berhenti beroperasi. Namun, penghentian usaha itu bersamaan dengan anjloknya harga batubara dunia. Kesempatan yang diberikan pemerintah bagi pengusaha untuk memulihkan areal pertambangan agar mereka diizinkan untuk kembali beroperasi ternyata tidak dilaksanakan. Akibatnya ekosistem bekas areal tambang dibiarkan rusak dan tercemar. Maraknya penambangan emas dibagian hulu juga memperparah sedimentasi sejumlah sungai yang memicu timbulnya bencana banjir dan longsor. Perusahaan-perusahaan

tambang di Jambi memang sudah seharusnya mendapatkan sanksi pencabutan izin usaha. Salah satu pelanggaran terhadap lingkungan adalah tidak adanya memiliki AMDAL atau UKL – UPL dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat memperoleh izin usaha dan / atau

(3)

atau usaha. AMDAL adalah suatu studi yang mendalam tentang dampak negatif dari suatu kegiatan.1

Melihat potensi hutan Jambi ynag telah lama ini terbengkalai dan

terancam keberadaanya, dapat menimbulkan kkhawatiran terhadap kerusakan-kerusakan dimasa yang akan datang, untuk itu dalam penulisan ini adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah bagaimana tata kelola hutan Jambi, kajian mengenai perizinan tambang batubara terhadap kerusakan hutan Jambi, serta bagaimana solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

PEMBAHASAN

1. Tata kelola Hutan Jambi

Provinsi Jambi memiliki kawasan hutan seluas 2,18 Ha atau sekitar 42,73% dari keseluruhan luas daratan provinsi jambi (Kementrian

Kehutanan,2011). Luasan hutan primer dan sekunder yang tersisa secara berurutan kurang lebih sebesar 285 rb Ha & 1 jt ha dan sebagian besar kawasan hutan yang masih berupa tutupan hutan berada di kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam (Kementrian Kehutanan 2012).keberadaan hutan di Jambi punya makna konservasi yang strategis baik di level nasional maupun internasional. Hal tersebut disebabkan oleh keberadaan 4 kawasan taman nasional sepertihalnya: Taman nasional kerinci seblat (TNKS) yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan peradaban dunia, Taman Nasional Berbak yang merupakan lokasi lahan basah konvensi Ramsar dengan bentang alam hutan rawa gambut yg terluas di Asia Tenggara, Taman Nasional Bukit Dua Belas, dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Potensi yang dimiliki tersebut tidak lantas menjadikan pengelolaan hutan di jambi berlangsung mulus tanpa hambatan. Sama sepertihalnya kawasan hutan di provinsi lainnya. Hutan di jambi juga mengalami permasalahan "standar" yaitu tekanan terhadap lahan hutan. Data kementrian kehutanan (2011) menyebutkan bahwa laju degradasi hutan di jambi pada periode 2006-2009 mencapai 9,4 ribu Ha/tahun. Tekanan terhadap lahan hutan (terutama konversi lahan hutan menjadi perkebunan) di Jambi dapat dikatakan "wajar" terjadi secara masif di Jambi. Data dari RPJMD Jambi 2011-2015 menunjukkan bahwa sektor perkebunan mengalami

pertumbuhan yang cukup pesat mencapai 9,17 %/tahun dari 1,5 M di

thn 2004 sd 2,3 M di tahun 2009. Kondisi tersebut juga diikuti laju peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit (PKS) yang mencapai 16,74 % dari semula 422,89 ribu ha tahun 2006 menjadi 493,67 ribu ha d tahun 2009.

Pembahasan ini cenderung menekankan pada sudut pandang

kelembagaan dalam upaya penyelesaian masalah tata kelola kehutanan di Indonesia pada umumnya dan Jambi secara khusus. Bagaimana pengelolaan hutan dari aspek sosial? Pengelolaan hutan bersama masyarakat contohnya hutan desa di Sungai Beras. Hutan Desa Sungai Beras ini SK mentrinya keluar tahun 2014. Hutan ini berada di hutan lindung gambut Sungai Buluh.

Masyarakat desa Sungai Beras ini "memanfaatkan" kawasan lindung untuk perkebunan dengan komoditas utama kelapa sawit, pinang dan kelapa. Salah satu capaian keberhasilan dari adanya program hutan desa Sungai Beras adalah selama 2 tahun sejak ditetapkan SK mentri tidak terjadi upaya pembukaan lahan di kawasan hutan lindung. Bahkan pada tahun 2015 di

(4)

kawasan tersebut tidak terjadi kebakaran hutan. Berbeda dengan hutan desa Sinar Wajo (relatif bersebelahan dengan hutan desa Sungai Beras) dan waktu pemberian SK-nya sama (2014). Apabila merujuk pada P 49/2008 yang direvisi menjadi P 89/2014 tentang hutan desa, aktor utama yang menjadi ujung

tombak dari pengelolaan hutan desa adalah lembaga pengelola hutan desa. Kenapa kedua desa bersebelahan itu berbeda kondisinya? Hal ini terkait akses dan property right. Dua konsep ini berbeda (kontras) meskipun sama-sama berbicara tentang pengambilan manfaat dari sumber daya hutan. Akses lebih berbicara terkait kapasitas, dimana Ribot & Peluso menyatakam bahwa access is ability. Contohnya sebelum adanya SK hutan desa, masyarakat dengan mudahnya masuk ke hutan lindung dan membuka lahan, karena secara kapasitas memungkinkan (ability). Faktor lain adalah lokasi

dekat/berdampingan, kebutuhan mendesak, dan adanya tenaga. Akan tetapi ketika berbicara property maka kita akan berbicara hak (right). Dengan

pemberian/penegasan status kawasan hutan desa itu bagi masyarakat seperti halnya pisau bermata dua, kesempatan sekaligus pembatasan. Kesempatannya adalah dapat memanfaatkan hutan lindung secara legal. Apabila didasarkan pada UU 41/99 Pasal 4, maka hutan dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu merupakan public property yang pengambilan keputusan produksi dan pemanfaatannya seharusnya didasarkan pada keputusan

bersama/collective action. Disinilah kenapa lembaga itu memainkan peranan penting dalam pengelolaan hutan. Apabila pengelolaan hutan Jambi tidak dapat dimaksimalkan dengan baik, maka akan berdampak pada konsekuensi yang muncul adalah masalah penyediaan lahan bagi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.2

Setiap proses, jalinan, pertumbuhan dan hubungan yang berkaitan dengan makhluk hidup terutama manusia selalu memiliki fungsi, kedudukan dan peranan yang berkaitan dengan lingkungannya. Oleh karena itu dalam membahas masalah yang berhubungan tentang lingkungan, khusunya dalam hukum lingkungan, harus diperhatikan konsep yang dikenal dengan ekologi. Alam adalah fasilitas yang disediakan oleh Tuhan untuk mengenal penciptanya sekaligus pencipta manusia sebagai komponen alam di dalamnya.3 Untuk itu, sudah sepatutnya dilakukan suatu tindakan tata kelola yang bermutu dan berkelanjutan terhadap hutan Jambi yang dalam beberap tahun belakangan ini mengalami masalah dalam hal konservasinya karena maraknya bekas tambang yang tidak lagi diurus sehingga menyebabkan kerusahakan terhadap hutan-hutan di Jambi.

2. Perizinan Tambang Batubara terhadap kerusakan Hutan Jambi

Sekitar 1 juta hektare kawasan hutan lindung dan konservasi di Provinsi Jambi rusak akibat usaha pertambangan batu bara. Kabupaten Sarolangun dan Bungo mendominasi pemberian izin usaha pertambangan (IUP) bermasalah tersebut. pemberian rekomendasi sehingga turunnya izin minerba pada sepuluh tahun terakhir di kawasan hutan lindung dan hutan konservasi itu dilaksanakan secara masif, dikeluarkan setahun sebelum dan sesudah pelaksanaan pemilihan kepala daerah.

2 Ruchyat Deni Djakapermana,2012. Reklamasi Pantai Sebagai Alternatif Pengembangan Kawasan, hlm. 1.

(5)

Ini membuktikan adanya permainan antara bupati dan pengusaha. Berdasarkan hasil temuan kita, setiap satu IUP, bupati mengeluarkan

rekomendasi menerima upeti dari para pengusaha. Jumlah suap itu jauh lebih kecil bila dibandingkan data dari pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI. Menurut data KPK, diduga para kepala daerah menerima suap mencapai Rp 10-15 miliar setiap rekomendasi IUP dikeluarkan.

Total IUP di Provinsi Jambi mencapai 398 IUP, yang bermasalah 198 IUP, karena berada di kawasan hutan lindung dan tumpang tindih. IUP bermasalah itu didominasi Kabupaten Bungo--dari 70 IUP, sebanyak 51 IUP bermasalah; dan diikuti Kabupaten Sarolangun--dari 83 IUP, sebanyak 47 IUP bermasalah.

Menurut data KPK, lokasi IUP berada di kawasan hutan seluas 480.502,47 hektare. Dengan rincian hutan konservasi 6.300,22 hektare (sembilan unit), hutan lindung 63.662,22 hektare (lima unit), hutan produksi 410.540,03

hektare (124 unit), dan area penggunaan lain 597.830,07 hektare. Perusahaan yang memiliki IUP di kawasan hutan lindung di Provinsi jambi antara lain PT AT (TBK) seluas 5.664,13 hektare, PT DIP 281,48 hektare, PT JG 49.969,13 hektare, PT SB (Persero) 671,81 hektare, PT TPC 7.075,67 hektare, dengan total

mencapai 63.662,22 hektare.

Dari 398 IUP di wilayah Jambi, terdapat 38 pelaku usaha tanpa NPWP, bahkan ada beberapa di antaranya tidak mencantumkan alamat kantor. Kabupaten Sarolangun juga mendominasi masalah tata ruang serta kurang bayar PNBP Rp 3.201.446.072 dan US$ 9.373.817.

Bupati Sarolangun Cek Endra mengaku pusing dengan kondisi ini. "Saya dijadikan pusing akibat kondisi ini, bukan tidak mungkin saya akan mencabut IUP yang bermasalah dan tidak memperpanjang izinnya," katanya.

IUP itu muncul saat Bupati Sarolangun masih dijabat Hasan Basri Agus, saat ini menjabat Gubernur Jambi. Namun Cek Endra diisukan diam-diam juga memiliki IUP batu bara di kawasan Desa Panti, Kecamatan Bathin VIII,

Kabupaten Sarolangun, bekerja sama dengan seorang pengusaha di daerah itu. Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten

Sarolangun M. Haris tidak membantahnya. Namun dia mengatakan sesuai akta perusahaan atas nama Thamrin (pengusaha lokal) dan secara hukum tidak ada kaitan.

Perizinan usaha ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kondisi hutan Jambi. Pemberian izin usaha ini memang menjadi suatu hal yang lumrah diberbagai daerah di Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Hal ini dapat memicu permainan kewenangan jabatan dikalangan pemerintah daerah terkait. Sehingga para pejabat pemerintah terkait tidak lagi mempermasalahkan mengenai dampak lingkungan. Padahal secara jelas tertulis didalam UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengatur secara keseluruhan tentang lingkungan hidup. Dalam UU No.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan

Pengelolaan Lingkungan Hidup yang mengatur lingkungan hidup dalam lingkup daerah terdapat pada BAB IX tentang tugas dan wewenang pemerintah dan pemerintah daerah Pasal 63. Sedangkan pada pasal lainnya lebih mengacu pada lingkungan hidup secara keseluruhan tentang penanganan yang

dilakukan pemerintah pusat dalam menjalankan tugas dan kewajibannya dalam memelihara dan melindungi lingkungan hidup mulai dari daratan, lautan dan udara berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.

(6)

pola pengembangan hutan. Perusahaan dengan dicabutnya ijin tersebut menyebabkan mereka menolak untuk menata kembali hutan yang telah dijadikan tambang. Akibatnya, konservasi yang seharusnya dilakukan sesuai dengan analisis dampak lingkungan menjadi tidak terlaksana.

Telah dikatan dimuka bahwa hutan merupakan salah satu sumber kekayaan alam yang perlu dilindungi dan dilestarikan, karena hutan memiliki manfaat yang besar dalam menjaga keseimbangan hidup. Manfaat hutan itu diantaranya sebagai pengatur kadar tanah, penampung air, pencegah

terjadinya banjir dan erosi, melindungi margasatwa, penyedia oksigen sebagai nafas hidup bagi manusia, pendukung lingkungan yang sehat dan dapat

dijadikan sebagai sumber devisa negara dengan pemanfaatan yang maksimal, serta sebagai upaya kesejahteraan masyarakat.4 Pemanfaatan hutan secara terus-menerus tanpa adanya perbaikan tentunya akan merusak citra hutan yang memiliki banyak manfaat seperti yang telah disebutkan dimuka tadi. Permasalahan hutan ini memang menjadi suatu masalah yang sering terjadi di Indonesia sehingga melalui Undang-Undang No. 18 Tahun 2013 Tentang

Pencegahan Pembalakan Liar dan Penyerobotan Hutan, banyak masyarakat kecil yang justru dislahakan, sementara pemegang saham besar yang bermain dalam bisnis hutan ataupun perkebunan lolos ataupun dengan mudahnya lari dari tanggungjawabnya sebagai masyarakat hukum.

Masalah inilah yang sudah sepatutnya diselesaikan pemerintah khususnya pemerintah daerah Jambi untuk segera menindak lanjuti kasus kerusakan hutan di Jambi yang dalam kurun waktu 5 tahun hampir menyentuh 1 juta hektar lahan hiutan habis akibat aktivitas pertambangan. Sungguh ironis memang apabila Jambi yang dulunya memiliki kawasan hutan yang luas yang ditempati oleh satwa-satwa liar yang hidup didalmnya, sekarang telah

mengungsi kewilayah manusia yang menyebabkan adanya konflik antara hewan dan juga manusia. Tentunya hal tersebut meresahkan warga. Konflik tersebut dapat menyebabkan manusia membunuh hewan langka yang telah dilindungi pemerintah, begitu juga sebaliknya para hewan liar dapat melukai manusia karena merasa terganggu oleh kehadiran manusia. Apabila masalah hutan Jambi tidak segera dihijaukan kembali, danmpaknya terhadap kehidupan yang akan datang akan juga terasa, mengingat hutan berpengaruh terhadap kehidupan planet ini. Memang Tidak bisa dipungkiri bahwa kerusakan hutan terjadi setiap hari, informasi tersebut seringkali kita dapatkan dari berbagai macam media seperti televisi, internet, radio, dan media-media lainnya. Padahal kita tahu semua bahwa keberadaan hutan sangatlah penting bagi kehidupan didunia ini dianataranya sebagai paru-paru dunia, mengendalikan bencana alam, rumah bagi flora fauna, dan masih banyak lagi.5 Dan dibawah ini akan dijelaskan secara singkat dampak kerusakan hutan bagi kehidupan dimuka bumi ini. Ketahuilah bahwa dampak kerusakan hutan sangatlah merugikan bagi kehidupan. Oleh sebab itu kita harus bisa menjaga dan

melindungi hutan kita dari keruskan. Dan dibawah ini adalah beberapa dampak kerusakan hutan bagi kehidupan didunia:

 Semakin lama hutan semakin gundul dan ini tentunya merugikan.

4 Yudistira Rusydi, “Penegakan Hukum Pidana Terhadap pencurian kayu hutan di kabupaten Musi Banyu Asin

”, Pandecta, Vol.6 NO.1, UNNES: 2011. 41

(7)

 Hutan yang gundul bisa menjadi sebab terjadinya banjir pada musim hujan.

 Keruskan hutan dapat menjadikan peristiwa kekeringan dimusim

kemarau.

 Hilangnya potensi keuntungan negara dari pendapatan hasil hutan.

 Matinya berbagai jenis flora dan fauna yang habitatnya dihutan.

 Menjadi sebab terjadinya fenomena perubahan iklim dan pemanasan global.

 Membuat kerusakan ekosistem bagi yang ada didarat maupun dilaut.

 Secara tidak langsung hal ini menjadi sebab musabab kemiskinan.

Nah itulah pembahasan singkat mengenai penyebab kerusakan hutan serta dampaknya bagi kehidupan dimuka bumi ini. Setelah mengetahui dampaknya yang begitu merugikan semoga bisa membuat kita semakin bersemangat untuk menjaga, mencintai, dan melestarikan hutan yang ada disekitar kita agar terhindar dari kerusakan. Dan semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk kamu semua.

Ketahuilah bahwa fungsi hutan aatlah penting bagi kita manusia dan kehidupan lainnya yang ada dimuka bumi ini. Namun banyak orang yang kurang bahkan tidak sadar akan hal ini, terbukti dengan semkian maraknya illegal logging, deforestasi, pembakaran hutan, dan yang lainnya. Dan tulisan kali ini akan memperlihatkan betapa pentingnya fungsi hutan bagi kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Bilamana kita menyadari akan pentingnya fungsi hutan bagi kehidupan manusia dan yang lainnya dimuka bumi ini, tentu kita akan mati-matian menjaga dan melestarikan hutan yang ada dibumi ini. Oleh sebab itu saya akan cantumkan slide yang menjelaskan pentingnya fungsi atau manfaat hutan bagi kehidupan kita sebagai manusia dan makhluk lainnya, langsung saja disimak informasinya berikut. hutan memiliki fungsi yang begitu penting dimuka bumi ini, tidak hanya untuk manusia saja melainkan juga untuk

makhluk hidup yang lainnya. Dan inilah beberapa fungsi hutan yang bisa kita ambil informasinya dari slide diatas:

 Sebagai paru-paru dunia.

 Mengurangi polusi udara.

 Tempat penyimpanan air.

 Mencegah banjir dan erosi.

 Rumah bagi flora dan fauna.

 Tempat rekreasi.

 Sumber pendapatan negara.

Mungkin hanya sekilas tulisan mengenai betapa pentingnya fungsi hutan bagi kehidupan dimuka bumi ini. Hutan menjadi suatu hal yang vital bagi kehidupan manusia apabila dikelola dengan baik dan disempurnakan melalui mekanisme yang tepat terhadap perkembangan zaman yang semakin mengeksploitasi seluruh kekayaan alam.

KESIMPULAN DAN SARAN

(8)

Provinsi Jambi. Luas hutan dari 2,4 juta hektar pada 1990 berkurang menjadi 1,4 juta hektar pada 2000. Penurunan luas hutan itu sebesar 29,66 persen dari luas Jambi. Muncul konflik satwa dengan manusia disebabkan oleh habitat satwa semakin sempit akibat pembukaan hutan oleh perusahaan perkayuan, pembuatan kebun sawit skala besar dan pertambangan. Maraknya

penambangan emas di hulu juga mempengaruhi ekosistem perairan di sungai. Dalam kondisi kerusahakan hutan sebagai penopang kehidupan dibumi ini, solusi yang seharusnya dilakukan adalah untuk segera melakukan tata kelola hutan jambi dengan baik lagi melalui konservasi dan penghijauan kembali lahan-lahan bekas tambang yang telah dilepaskan oleh para pengusaha-pengusaha tambang batubara.

DAFTARA PUSTAKA

Husin, Sukanda. Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia. Cetakan kedua. Jakarta, Sinar Grafika, 2009.

Deni, Ruchyat. Reklamasi Pantai Sebagai Alternatif Pengembangan Kawasan. Jakarta, Djakapermana, 2010.

Soemartono, R.M. Mengenai Hukum Lingkungan Indonesia. Jakarta, Sinar

Grafika, 1991.

Rusydi, Yudistira. “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pencurian Kayu Hutan Dikabupaten Musi Banyu Asin”. Pandecta, no.1 (2011) : 41.

(9)

Referensi

Dokumen terkait

rumusan masalah yang akan dibahas pada penelitian ini secara umum, yaitu: “ Bagaimana Penerapan Pendekatan Saintifik dalam pembelajaran PPKn ”. Adapun secara khusus

Secara garis besar rumusan masalah yang akan dibahas adalah “Bagaimana Membangun Sistem Pakar untuk Mendeteksi Kerusakan Printer berbasis Web menggunakan

Adapun Rumusan masalah menyangkut penulisan hukum ini yakni mengenai Bagaimana penegakan hukum terhadap penggunaan dana penghargaan DPRD ditinjau dari Undang-Undang No. 20 Tahun

Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam penulisan tugas akhir ini adalah Bagaimana Prosedur Penaganan Klaim yang dilaksanakan pada BPJS Ketenagakerjaan Cabang Medan ?5. 1.3

Mengingat pentingnya rumusan masalah dalam sebuah penelitian agar terarah tentang masalah-masalah apa yang akan dibahas dan diteliti dalam penulisan proposal ini, maka yang

Mengingat pentingnya rumusan masalah dalam sebuah penelitian agar terarah tentang masalah-masalah apa yang akan dibahas dan diteliti dalam penulisan proposal ini, maka yang

Berdasarkan dalam rumusan masalah yang telah dibuat maka adapun batasan masalah yang akan dibahas pada tugas akhir ini adalah menghitung nilai-nilai setting yang

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, adapun perumusan masalah yang akan dibahas dalam laporan ini adalah “Bagaimana mendeteksi serangan dan penyalahgunaan