DAFTAR ISI
BAB I ……….. 2
PENDAHULUAN ……….. 2
1.2 Latar Belakang ……….. 2
1.3 Tujuan ……….. 5
1.4 Manfaat ……….. 5
BAB II ……….. 6
TINJAUAN PUSTAKA ……….. 6
2.1 Landasan Teori ……….. 6
Pekerja Sosial dan Pekerjaan Sosial ……….. 6
Fungsi Pekerja Sosial ……….. 7
Peranan Pekerja Sosial ……….. 7
Tujuan Pekerjaan Sosial ……….. 9
Masalah Sosial ……….. 10
ASEAN Free Trade Area ……….. 10
BAB III ……….. 14
PEMBAHASAN ……….. 14
3.1 Permasalahan ……….. 14
Pertumbuhan Penduduk ……….. 15
Pendidikan ……….. 16
Perekonomian ……….. 17
3.2 Solusi yang Dapat Dilakukan oleh Pekerja Sosial ……….. 18
3.3 Rencana program ……….. 24
BAB IV ……….. 25
PENUTUP ……….. 25
4.1 Kesimpulan ……….. 25
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini ada beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh masyarakat ASEAn secara umum dan Indonesia secara khusus. ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya. Istilah perdagangan bebas identik dengan adanya hubungan dagang antar negara anggota maupun negara non-anggota. Dalam implementasinya perdagangan bebas harus memperhatikan beberapa aspek yang mempengaruhi yaitu mulai dengan meneliti mekanisme perdagangan, prinsip sentral dari keuntungan komparatif (comparative advantage),serta pro dan kontra di bidang tarif dan kuota, serta melihat bagaimana berbagai jenis mata uang (atau valuta asing) diperdagangkan berdasarkan kurs tukar valuta asing.
Berdasarkan CIA World Factbook Tahun 2013, hampir setengah penduduk ASEAN adalah penduduk yang berasal dari Indonesia yaitu berkisar hingga lebih dari 250 juta jiwa. Jumlah tersebut memungkinkan dampak-dampak baik negative ataupun positif dari pemberlakuan AFTA tersebut sangatlah besar dirasakan bagi rakyat Indonesia. Indonesia yang merupakan Negara berkembang dengan kemajuan ekonomi mendekati angka 5% per lima tahunnya sangat bergantung pada kebijakan AFTA ini. Produksi rumahan dan produksi yang masih bersifat konvensional adalah rantai terbawah dalam sistem rangkaian ekonomi jual beli di Indonesia. Sehingga kemungkinan-kemungkinan adanya gulung tikar lebih cepat terjadi pada bagian dasar perekonomian rakyat menengah kebawah. Hasil produksi yang belum banyak dan modal yang masih kurang akan menghalangi persaingan produk-produk yang akan dipasarkan secara luas. Permasalahan kualitas produk dan ketenagakerjaan pun patut dipertanyakan dengan diberlakukannya kebijakan ini pada tahun 2015. Pekerjaan rumah pemerintah untuk menanggulangi pengangguran dan sempitnya lapangan kerja belum dapat nilai plus kemudian sudah muncul kebijakan baru yang bersifat global.
Permasalahan ini akan menimbulkan banyak sekali masalah-masalah secara berkelanjutan. Untuk menekan itu pemerintah harus mampu memutar otak lebih cepat sehingga dapat meminimalisir kerugian rakyat dan dampak-dampak negative yang ditimbulkan kelak. Beberapa diantaranya seperti memberikan pelatihan-pelatihan sesuai dengan minat dan bakat untuk memulai usaha dengan dibantu oleh pemerintah baik itu urusan modal dan pengasahan kemampuan. Hal ini sedikit demi sedikit sudah dilakukan oleh kementerian ketenagakerjaan dengan pemberian modal dan pelatihan-pelatihan. Kementerian ketengagakerjaan tidak bekerja secara sendirian, kementerian sosial pun sudah mulai memikirkan hal serupa, sehingga muncullah program-program bantuan untuk rakyat miskin yang gunanya untuk membantu memperbaiki ekonomi secara merata. Bantuan-bantuan yang sudah terlihat seperti PKH, BLSM, Bantuan pendidikan dan lainnya. Kementerian kesehatan pun tak tinggal diam, kementerian kesehatan berupaya penuh untuk menjamin kesehatan seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan amanat undang-undang. Program-program seperti BPJS pengganti ASKES merupakan program yang sangat dibutuhkan untuk memperbaiki tingkat kesehatan rakyat. Secara jangka panjang tujuannya jika rakyat sehat maka sumber daya manusianya mampu bersaing dan meminimalisir hambatan-hambatan yang terjadi.
membantu masyarakat untuk kembali berfungsi secara sosial. Pekerja sosial pada awalnya hanya bekerja dengan membantu masyarakat marjinal yang tersingkirkan akibat perkembangan zaman dan tidak mampu beradaptasi sehingga fungsi-fungsi sosialnya menjadi terhambat. Namun dengan adanya kebijakan AFTA ini kemungkinan besar seorang pekerja sosial akan menghadapi tantangan secara global lagi. Melihat dari sisi kerja yang akan menjadi tantangan maka AFTA ini akan menjadi suatu parameter penting dalam existensi pekerja sosial khususnya di Indonesia. Tantangan pekerja sosial akan menjadi lebih besar dengan adanya permasalahan yang lebih kompleks lagi dari sekadar ruang lingkup kemiskinan. Pekerja sosial akan berhadapan dengan tantangan ekonomi global, perindustrian modern, pendidikan, telebih lagi hubungan sosialnya. Setiap bidangnya memiliki tantangan tersendiri yang akan memberi pekerja sosial pengalaman lebih.
Selain itu juga pekerja sosial dibutuhkan untuk menjalan program pemerintah sesuai dengan fungsinya sebagai pekerja sosial. Program tidak dapat berjalan sesuai dengan rencana apabila pelaksana dan pengawas tidak selaras. Sehingga diperlukannya pekerja sosial yang berkualitas dan berdaya saing global. Pendidikan merupakan menjadi titik awal pekerja sosial menjadi seorang professional. Pendidikan itu berupa pendidikan formal dengan pemberian materi-materi dan teori-teori serta praktik langsung ke lapangan yang bertujuan untuk menambah bekal pengalaman pekerja sosial. Pekerja sosial sebagai pion utama dalam membantu masyarakat tentunya harus dibekali ilmu secara global dan ilmu praktik pekerjaan sosial secara khusus, dimaksudkan untuk tujuan dalam tantangan global terjawab. Seorang pekerja sosial yang akan menghadapi tantangan global seperti AFTA ini tidak cukup hanya dibekali ilmu dan praktik pekerjaan, namun harus dibekali dengan berbagai ilmu penunjang seperti ekonomi, sosial, dan hokum. Hal ini berguna dalam praktik pekerjaan sosial dalam bidang industri. Pekerjaan sosial dibidang industry akan menjadi bidak pertama yang terkena dampak dari AFTA ini, sehingga permasalahan pada perusahan besar dan kecil akan bermunculan. Disitulah seorang pekerja sosial harus mampu berperan sesuai dengan tugasnya.
saja namun transfer ilmu dan profit untuk pribadi masyarakat dan Negara. Kualitas pekerja juga harus diperhitungkan, jumlah yang akan keluar dan berapa yang masuk, dan yang paling penting adalah jaminan bagi pekerja yang bekerja diluar negeri khussunya ASEAN. Maka dari itu pekerja sosial dituntut untuk bekerja lebih giat dan lebih banyak belajar agar mampu bersaing dengan Negara lain, sehingga kemampuan yang dimiliki dapat dimaksimalkan untuk membantu masyarakat dalam menghadapi ASEAN Free Trade Area.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah,
1. Untuk memudahkan masyarakat luas dalam mengetahui informasi mengenai perdagangan bebas ASEAN (AFTA).
2. Untuk mengetahui masalah-masalah yang timbul akibat adanya perdagangan bebas ASEAN (AFTA).
3. Sebagai referensi dasar dalam membuat kebijakan untuk menghadapi tantangan perdagangan bebas ASEAN (AFTA).
4. Untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai perdagangan bebas ASEAN dan intervensi pekerja sosial dalam membantu masyarakat untuk menghadapi perdagangan bebas ASEAN.
5. Memperkenalkan eksistensi pekerja sosial ke masyarakat luas dalam era globalisasi.
1.3 Manfaat
Manfaat yang didapat dari penulisa karya tulis ilmiah ini adalah,
1. Teridsentifikasinya kebutuhan-kebutuhan yang perlu disiapkan untuk menghadapi perdagangan bebas ASEAN.
2. Menambah wawasan dalam memahami problematika perdangangan bebas ASEAN dalam perspektif pekerjaan sosial.
3. Memperkenalkan pekerja sosial dalam perannya membantu masyarakat untuk menghadapi tantangan perdagangan bebas ASEAN.
BAB II
2.1 Landasan Teori
Pekerja Sosial dan Pekerjaan Sosial
Pekerja sosial secara luas dapat diartikan seorang pekerja sosial yang menangani permasalahan-permasalahan sosial dengan dibekali ilmu tentang pekerjaan sosial melalui pendidikan formal. Pekerja sosial dapat dikatakan sebagai Seseorang yang mempunyai kompetensi profesional dalam pekerjaan sosial yang diperolehnya melalui pendidikan formal atau pengalaman praktek di bidang pekerjaan sosial/kesejahteraan sosial yang diakui secara resmi oleh pemerintah dan melaksanakan tugas profesional pekerjaan sosial. (Kepmensos No. 10/HUK/2007)
Sedangkan, Pengertian pekerjaan sosial yang dikemukakan oleh Charles Zastrow (1982), yang dikutip oleh Dwi Heru Sukoco (1995:7) sebagai berikut:
"Pekerjaan sosial merupakan kegiatan profesional untuk membantu individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat guna meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam berfungsi sosial serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan mereka mencapai tujuan".
Menurut bapak sosial Max Siporin:
“Pekerjaan Sosial adalah suatu metoda institusi sosial untuk membantu orang mencegah dan memecahkan masalah mereka serta untuk memperbaiki dan meningkatkan keberfungsian sosial.”
Sedangkan menurut Leonora Serafika de Guzman:
“Pekerjaan sosial merupakan profesi yang bidang utamanya berkecimpung dalam kegiatan pelayanan sosial yang terorganisasi, di mana kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan fasilitas dan memperkuat relasi, khususnya dalam penyesuaian diri secara timbal balik dan saling menguntungkan antara individu dengan lingkungan sosialnya melalui penggunaan metoda pekerjaan sosial.”
“Semua keterampilan teknis yang dijadikan wahana bagi pelaksanaan usaha kesejahteraan sosial.”
Fungsi Pekerja Sosial
Heru Sokoco (1995:22-27) menjelaskan fungsi dan peran pekerja sosial sebagai berikut, Fungsi-fungsi Pekerjaan Sosial :
a. Membantu orang meningkatkan dan menggunakan kemampuannya secara efektif untuk melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan memecahkan masalah-masalah sosial yang mereka alami.
b. Mengkaitkan orang dengan sistem-sistem sumber.
c. Memberikan fasilitas interaksi dengan sistem-sistem sumber. d. Mempengaruhi kebijakan sosial.
e. Memeratakan atau menyalurkan sumber-sumber material.
Peranan Pekerja Sosial
Peranan Pekerja Sosial :
a. Sebagai pemercepat perubahan (enabler)
Sebagai enabler, seorang pekerja sosial membantu individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat dalam mengakses Sistem sumber yang ada, mengidentifikasi masalah dan mengembangkan kapasitasnya agar dapat mengatasi masalah untuk pemenuhan kebutuhannya.
b. Peran sebagai perantara (broker)
Peran sebagai perantara yaitu menghubungkan individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat dengan lembaga pemberi pelayanan masyarakat dalam hal ini; Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, serta Pemerintah, agar dapat memberikan pelayanan kepada individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat yang membutuhkan bantuan atau layanan masyarakat.
c. Pendidik (educator)
d. Tenaga ahli (expert)
Dalam kaitannya sebagai tenaga ahli, pekerja sosial dapat memberikan masukan, saran, dan dukungan informasi dalam berbagai area (individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat).
e. Perencana sosial (social planner)
Seorang perencana sosial mengumpulkan data mengenai masalah sosial yang dihadapi individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat, menganalisa dan menyajikan alternative tindakan yang rasional dalam mengakses Sistem sumber yang ada untuk mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat.
f. Fasilitator
Pekerja sosial sebagai fasilitator, dalam peran ini berkaitan dengan menstimulasi atau mendukung pengembangan masyarakat. Peran ini dilakukan untuk mempermudah proses perubahan individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat, menjadi katalis untuk bertindak dan menolong sepanjang proses pengembangan dengan menyediakan waktu, pemikiran dan sarana-sarana yang dibutuhkan dalam proses tersebut.
Berbeda dengan Jim Ife yang membagi peranan pekerja sosial dalam empat bagian besar meliputi:
1. Peranan Fasilitatif
Peranan praktek yang dikelompokan ke dalam peranan fasilitatif merupakan peranan yang dicurahkan untuk membangkitkan semangat atau memberi dorongan kepada individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat untuk menggunakan potensi dan sumber yang dimiliki untuk meningkatkan produktivitas dan pengelolaan usaha secara efisien.
2. Peranan Educational
Pekerja sosial memainkan peranan dalam penentuan agenda, sehingga tidak hanya membantu pelaksanaan proses peningkatan peningkatan produktivitas akan tetapi lebih berperan aktif dalam memberikan masukan dalam rangka peningkatan pengetahuan, keterampilan serta pengalaman bagi individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat. Peran pendidikan ini dapat dilakukan dengan peningkatan kesadaran, memberikan informasi, mengkonfrontasikan, melakukan pelatihan bagi individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat.
Pekerja sosial melakukan interaksi dengan badan-badan di masyarakat yang bertujuan bagi kepentingan individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat. Peranan ini dilakukan, antara lain dengan : mendapatkan sumber-sumber dari luar tetapi dengan berbagai pertimbangan yang matang, seperti bantuan modal usaha, pelatihan pengembangan potensi dan produktivitas dari berbagai donator. Melakukan advokasi untuk membela kepentingan-kepentingan individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat seperti mendukung upaya implementasi program dan berupaya merealisasikan program tersebut.
4. Peranan Teknis
Di sini pekerja sosial melakukan pengumpulan dan analisis data, kemampuan menggunakan komputer, kemampuan melakukan presentasi secara verbal maupun tertulis, manajemen serta melakukan pengendalian finansial, dan melakukan need assessment terhadap pengembangan potensi individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat. Peran-peran ini dapat dilakukan pekerja sosial bersama individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat melakukan mendapatkan informasi dan data yang dapat digunakan baik untuk mengundang perhatian dari stakeholders untuk mengembangkan potensi tetapi juga membantu mempromosikan.
Tujuan Pekerjaan Sosial
Selain memiliki fungsi dan peranan, pekerjaan sosial juga memiliki tujuan secara umum. Tujuan pekerjaan sosial menurut Allen Pincus & Anne Minahan sebagai berikut :
a. Enhance the problem solving and coping capacities of people Meningkatkan kemampuan orang untuk melaksanakan tugas kehidupan dan kemampuandalam memecahkan masalah.
b. Link people with systems that provide them with resources, service and opportunities Mengkaitkan orang dengan sistem yang dapat menyediakan sumber, pelayanan dan kesempatan yang dibutuhkannya.
c. Promote the effective and human operation of these systems Meningkatkan kemampuan pelaksanaan sistem secara efektif dan berperikemanusiaan.
Masalah Sosial
1. Masalah atau problema adalah perbedaan antara das sollen (yang seharusnya, yang diinginkan, yang dicita-citakan, yang diharapkan) dengan das sein (yang nyata, yang terjadi). Dengan kata lain masalah adalah perbedaan antara yang ideal dan real, misalnya kita mencita – citakan masyarakat yang sejahtera, ternyata yang terjadi banyak masyarakat yang masih miskin.
2. Menurut Horton dan Leslie dalam Suharto (2000), masalah sosial adalah suatu kondisi yang dirasakan banyak orang yang tidak menyenangkan serta menuntut pemecahan aksi sosial secara kolektif.
3. Parillo yang di kutip Soetomo (1995:4) dalam Pengorganisasisan dan Pengembangan Masyarakat : empat komponen dalam memahami pengertian masalah sosial, yaitu : a. Masalah itu bertahan untuk suatu periode tertentu.
b. Dirasakan dapat menyebabkan berbagai kerugian fisik atau mental, baik pada individu maupun masyarakat.
c. Merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai atau standar sosial dari satu atau beberapa sendi kehidupan masyarakat.
d. Menimbulkan kebutuhan akan pemecahan. Masalah sosial merupakan persoalan yang timbul secara langsung atau bersumber langsung dari suatu kondisi maupun proses sosial.
ASEAN Free Trade Area
AFTA yang merupakan akronim dari ASEAN Free Trade Area sejatinya merupakan kesepakatan dari negara – negara di asean untuk membentuk sebuah kawasan bebas perdagangan. Tujuannya secara garis besar agar bisa meningkatkan daya saing ekonomi kawasan ASEAN di dunia. ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya.
negara-negara ASEAN sepakat untuk ikut serta berarti terdapat suatu keuntungan yang nantinya akan didapat oleh negara anggotanya.
Dalam setiap hubungan kerjasama pasti terdapat hambatan-hamatan yang dihadapi. Hambatan tersebut biasanya muncul saat pengaplikasian perjanjian. Dalam penerapan AFTA banyak hambatan yang dihadapi saat pertama kali diterapkan. ASEAN-6 merupakan negara anggota ASEAN yang pertama kali menerapkan usaha pengaplikasian AFTA. ASEAN-6 menjadi contoh bagi empat negara ASEAN lain. Dalam penerapan AFTA terutama penerapan penurunan tarif terhadap beberapa barang komoditas. Banyak negara anggota ASEAN melakukan proteksi terhadap barang yang dianggap penting bagi negaranya sehingga penerapan penurunan tarif terhadap komoditas yang diproteksi tersebut mengalami penundaan.
Negara-negara di ASEAN sebenarnya memiliki perbedaan tinggak perekonomian. Hal itu terlihat pada pendapatan perkapita masing-masing negara anggota ASEAN. Beberapa negara memiliki pendapatan perkapita lebih tinggi dari pada negara lainnya. Belum lagi ketidak stabilan politik dalam negeri yang juga mempengaruhi perekonomian di negara-negara anggota ASEAN. 6 contohnya, pendapatan perkapita negara-negara-negara-negara ASEAN-6 lebih tinggi dibandingkan empat negara lainnya yaitu, Lao PDR, Myanmar, Vietnam dan Kamboja. Sehingga sulit bagi keempat negara tersebut untuk menurunkan tarif bagi barang yang dianggap sensitif bagi kepentingan dalam negerinya. Belum lagi persaingan barang komoditas antara negara-negara anggota ASEAN, terkadang kualitas barang yang rendah dan tidak dapat bersaing membuat ambruknya industri kecil di beberapa negara tersebut. Bahkan bukan bagi keempat negara di ASEAN yang tergolong memiliki perekonomian rendah tetapi juga negara anggota ASEAN-6 harus menghadapi kenyataan bahwa industri kecil di negaranya harus mengalami guncangan karena tidak dapat bersaing dengan barang komoditas yang masuk ke negaranya.
kerugian yang besar. Persaingan produk dalam negeri dengan produk yang masuk kedalam negeri membuat para pengusaha harus bisa meningkatkan kualitas barang produksinya.
Bagi Indonesia sendiri, AFTA merupakan kerjasama yang menguntungkan. AFTA merupakan peluang bagi kegiatan eksport komoditas pertanian yang selama ini dihasilkan dan sekaligus menjadi suatu tantangan tersendiri untuk menghasilkan komoditas yang kompetitif si pasar regional AFTA sendiri. Peningkatan daya saing ini akan mendorong perekonomian Indonesia untuk semakin berkembang. AFTA juga merangsang para pelaku usaha di Indonesia untuk menghasilkan barang yang berkualitas sehingga dapat bersaing dengan barang-barang yang dihasilkan oleh negara-negara ASEAN lainnya.
Namun Indonesia juga tidak luput dari dampak negative yang diberikan oleh AFTA. Sehingga Indonesia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam menghadapi perdagangan bebas ASEAN yang akan mulai terhitung tahun 2015.
Dampak yang ditimbulkan dari AFTA ini beragam, beberapa dampak negative yang dapat terjadi diantaranya :
1. Serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran sektor-sektor ekonomi yang diserbu. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telah mengalami proses deindustrialisasi (penurunan industri).
2. Dalam hal sumber daya energi, Indonesia hanya memiliki industri perakitan (hulu) untuk produk elektronika dan produksi. Namun, berbeda dengan China, dalam membangun industri elektronika yang terintegrasi mulai dari pembangunan industri pendukung dengan mengolah bahan baku.
3. Dalam hal pendidikan, jika kita melihat realita yang ada, terdapat kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan implementasi dari pendidikan itu sendiri. Posisi Indonesia menduduki peringkat 10 dari 14 negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Sehingga akan menyulitkan masyarakat dalam bersaing dengan SDM luar negeri.
5. Budaya konsumtif dengan penduduk yang besar akan menjadi sasaran utama dalam penjualan produk. Jika itu terjadi kemungkinan besar perusahaan local akan tersingkir dan terjadinya impor besar-besaran.
6. Pertukaran budaya yang tidak dapat terkendali akan menimbulkan banyak masalah.
Berikut dampak positive yang dapat ditimbulkan oleh AFTA,
1. Membuat peluang kita untuk menarik investasi.
2. Dapat meningkatkan voume perdagangan. Hal ini di motivasi dengan adanya persaingan ketat antara produsen. Sehingga produsen maupun para importir dapat meningkatkan volume perdagangan yang tidak terlepas dari kualitas sumber yang diproduksi
3. Investasi pariwisata dengan memperkenalkan budaya untuk menarik wisatawan sehingga menguntungkan daerah wisata.
4. Memudahkan dalam bekerja diluar negeri khususnya kawasan ASEAN.
5. Pertukaran ilmu pengetahuan yang cepat sehingga memungkinkan para pelajar menimba ilmu dengan mudah.
6. Prospek kerja pekerja sosial makin luas dengan tantangan global.
7. Memperlihatkan eksistensi pekerja sosial dalam membantu masyarakat terutama di Indonesia.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Permasalahan
Perjanjian perdagangan bebas AFTA dicetuskan ketika terjadi pertemuan tingkat Kepala Negara ASEAN atau SEAN summit ke-4, yang dilakukan pada tahun 1992. Pada pertemuan itu kemudian para kepala negara mengumumkan akan membentuk sebuah kawasan perdagangan bebas di asean dalam jangka waktu 15 Tahun. Kalau dihitung seharusnya akan efektif berjalan secara penuh pada tahun 2007. Namun kenyataanya, AFTA ini akan aktif pada tahun 2015, 22 tahun kemudian.
Dengan adanya kebijakan perdagangan bebas AFTA ini, nantinya tidak akan akan ada hambatan tarif(bea masuk 0-5%) ataupun hambatan non tarif untuk negara – negara anggota ASEAN. Dengan begitu, tentunya keuntungan dan tantangan akan muncul untuk negara Indonesia juga. Apakah negara kita Indonesia sudah siap? Siap memanfaatkan kondisi ini untuk membuat negara lebih maju dan berkembang? Ataukah akan menjadi boomerang bagi Indonesia yang masih banyak permasalahan yang belum terselesaikan. Apalagi AFTA ini efektif tahun 2015, tidak begitu lama setelah Pemilu, dan pemilihan presiden Indonesia yang baru.
Tantangan kependudukan ini akan menjadi masalah tersendiri dan akan menjadikan masalah berakar seperti tingkat pengangguran yang akan meningkat, kriminalitas serta pendidikan yang tidak tersentuh. Berjuta-juta jiwa akan lahir dan akan menempuh pendidikan secara formal untuk memenuh kebutuhan hidupnya. Sedangkan kemiskinan di Indonesia belum dapat dikontrol. Hal ini akan menimbulkan rantai masalah yang bersifat circle atau tak berujung. Kemiskinan akan menghambat mendapatkan pendidikan, pendidikan yang kurang akan menciptakan pengangguran, pengangguran akan menciptakan angka kriminalitas meningkat dan perpecahan akan terjadi perlahan. Timbullah masalah-masalah sosial seperti perpecahan, ketidakyakinan, tidak toleransi, dan yang lainnya.
Untuk meminimalisir masalah-masalah sosial yang timbul, maka pekerja sosial harus siap dalam menhadapi tantangan ini. Seorang pekerja sosial haruslah memiliki kemampuan untuk membantu masyarakat dan memiliki tingkat keprofesionalisan yang tinggi. Pekerja sosial diharapkan mampu menjadi pioneer utama dalam membantu masyarakat bersama-sama menghadapi tantangan dan isu-isu maslaah sosial yang akan timbul.
Setidaknya ada tiga masalah utama yang harus disoroti untuk menghadapi tantangan perdagangan bebas ASEAN. Pertumbuhan penduduk, kualitas pendidikan, perekonomian. Ketiga substansi tersebut haruslah menjadi sorotan utama dalam menyelesaikan rantai masalah. Seorang pekerja sosial juga harus memahami ketiga permasalahan utama tersebut.
Pertumbuhan Penduduk
Menurut data statistik diatas, laju pertumbuhan penduduk Indonesia masih dikatakan tinggi. "Setiap tahun penduduk Indonesia bertambah empat juta jiwa, kondisi ini sangat memprihatinkan," kata Kepala BKKBN Fasli Jalal di Jakarta, Rabu (30/4). Hamper empat juta jiwa bertambah setiap tahunnya, sedangkan lapangan kerja semakin kecil. Menimbulkan berbagai macam masalah baru seperti tingkat produktivitas terhambat, apalagi adanya perdagangan bebas ASEAN. Masalah budaya konsumtif juga akan mempengaruhi tingkat daya beli seseorang.
yang semakin tinggi akan menjadi Indonesia menjadi sector utama tempat produk-produk luar dijual. Budaya konsumtif yang tinggi dan sumber daya manusia yang kurang akan menjadikan Indonesia sasaran empuk bagi mereka penggiat kerja. Pekerja luar akan ebbas masuk dan melahap lapangan kerja di Indonesia. Selain kualitas mereka memadai, perusahaan yang profit oriented tentu akan memilih tenaga kerja yang berkualitas dan murah.
Sebenarnya suatu Negara merasa beruntung memiliki penduduk yang banyak, hanya saja jika penduduknya memiliki tingkat SDM yang baik. SDM itu akan menghasilkan banyak keuntungan untuk Negara. Baik dalam produktivitas kerja, daya saing, kefektifan dan kefesiensian pekerja. Indonesia dikaruniai penduduk yang banyak, namun SDM yang belum memadai sehingga masalah kependudukan ini akan menjadi masalah besar dengan adanya AFTA. Sumber daya manusia Indonesia yang akan kalah dalam bersaing, lapangan kerja yang kecil, budaya konsumtif yang tinggi, barang produk yang masuk ke Negara Indonesia akan menghancurkan perusahaan-perusahaan skala kecil.
Pemecatan akibat kalah saing dengan perusahaan luar dan pekerja luar, belum lagi adanya modernisasi industry yang giat dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang menginginkan keuntungan yang banyak. Modernisai industry secara gambling merupakan pengalihan tenaga kerja manusia dengan ke mesin atau tekhnologi. Negara-negara maju sudah mulai melakukan modernisasi industry. Indonesia juga mulai melakukan modernisasi sedikit demi sedikit dan itu akan berdampak pada buruh yang merupakan penduduk Indonesia yang paling pertama terkena dampaknya. Permasalahan buruh juga berakibat dari permasalahan pertambahan penduduk. Para buruh di Indonesia rata-rata belum memiliki tingkat pendidikan yang memadai untuk bersaing dalam ketenagakerjaan.
Pendidikan
Masalah kualitas pendidikan di Indonesia, Posisi Indonesia menduduki peringkat 10 dari 14 negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Peringkat ini dilansir dari laporan monitoring global yang dikeluarkan lembaga PBB, Unesco. Penelitian terhadap kualitas pendidikan dasar ini dilakukan oleh Asian South Pacific Beurau of Adult Education (ASPBAE) dan Global Campaign for Education. Studi dilakukan di 14 negara pada bulan Maret-Juni 2005. Rangking pertama diduduki Thailand, kemudian disusul Malaysia, Sri Langka, Filipina, Cina, Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Nepal, Papua Nugini, Kep. Solomon, dan Pakistan. Indonesia mendapat nilai 42 dari 100 dan memiliki rata-rata E. Untuk aspek penyediaan pendidikan dasar lengkap, Indonesia mendapat nilai C dan menduduki peringkat ke 7. Pada aspek aksi negara, RI memperoleh huruf mutu F pada peringkat ke 11. Sedangkan aspek kualitas input/pengajar, RI diberi nilai E dan menduduki peringkat ke 14 (terakhir).
Data terakhir UNESCO pada tahun 2012 melaporkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 120 berdasarkan penilaian Education Development Index (EDI) atau Indeks Pembangunan Pendidikan. Total nilai EDI itu diperoleh dari rangkuman perolehan empat kategori penilaian, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan gender, angka bertahan siswa hingga kelas V Sekolah Dasar. Melihat data tersebut, kita masih kalah dengan Negara tetangga singapura dan Malaysia. Pendidikan yang masih rendah ini akan mempengaruhi tingkat daya saing masyarakat untuk bekerja. Begitu juga dengan peran masyarakat dalam perekonomian global.
Adanya perdagangan bebas ASEAN ini memaksa pemerintah untuk memperbaiki system pendidikan di Indonesia. Banyak sekali cara yang telah dilakukan salah satunya dengan menaikkan anggaran pendidikan sampai 20% lebih. Namun, itu belum cukup juga untuk memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Permasalahan pendidikan begitu kompleks, dari budaya, system, struktur wilayah hingga masalah mental koruptor. Tidak banyak yang ingin bersekolah namun terhalang ekonomi, sarana menuju ke sekolah ataupun kendala lainnya. Sehingga hal itu semua menghambat terciptanya SDM yang berkualitas dan berdaya saing untuk menjawab tantangan global terutama pada perdagangan bebas ASEAN.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama dan dua 2012 berhasil menembus 6,33%. Kemudian turun tipis ke level 6,29% dan 6,26% pada triwulan tiga dan empat. Lalu pada tahun 2013 kian melambat dari 6,03% pada periode pertama menuju 5,78% pada periode terakhir. Terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan pertama 2014 hanya bertumbuh 5,21% secara tahunan (year on year). Tergambarkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia terus merosot.
Melihat data tersebut, pemerintah harus memutar otak bagaimana caranya agar masyarakat ikut berkecimpung dalam perekonomian Negara semakin banyak. Perusahaan-perusahaan local harus mampu bersaing dengan Perusahaan-perusahaan luar begitu juga para pekerjanya. Dengan begitu kemungkinan budaya impor akan berkurang sedikit demi sedikit. Budaya mencintai produk sendiri juga harus mulai ditanamkan. Selain itu juga angka pengangguran di Indonesia cukup tinggi. Tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 5,7% atau 7,15 juta jiwa.
Pengangguran ini akan menghambat roda perekonomian di Indonesia, penyebab terjadinya pengangguran tidak lain dikarenakan lahan pekerjaan yang kecil, keterampilan yang rendah dan pendidikan yang tidak memadai. Ujung dari rantai masalah ini tidak lain tidak bukan adalah permasalahan sosial berupa kemiskinan, anak jalanan, kriminalitas, dan masih banyak lagi.
3.2 Solusi yang dapat dilakukan oleh pekerja sosial
Untuk itu, sebagai seorang pekerja sosial professional harus mampu menjawab tiga masalah yang menjadi poros utama dalam perdagangan bebas ASEAN. Seorang pekerja sosial harus mampu membantu masyarakat untuk keluar dari jeratan masalahnya. Menggunakan tekhnik dan metoda seorang pekerja sosial yang telah dibekali ilmu pengetahuan mengenai praktik pekerjaan sosial dapat bekerja bersama masyarakat untuk menghadapi tantangan global. Sesuai dengan peran-peran yang dijalankan oleh seorang pekerja sosial maka setidaknya pemerintah terbantu dengan adanya pekerja sosial.
1. Edukator. Pekerja sosial berperan tidak hanya sebagai penyembuh, namun berperan juga sebagai pendidik atau educator. Pendidik disini lebih ditekankan pada memberikan pemahaman atas adanya tantangan global dengan memberikan pendampingan dan pelatihan bersama profesi lain. Pendidikan diberikan bertujuan untuk mengasah kemampuan masyarakat agar memiliki keahlian khusus dibidang yang mereka minati. Dalam proses mendidik ini pekerja sosial tidak bekerja sendiri, namun bekerja sebagai suatu team work dengan profesi lain seperti guru, sosiolog, dan profesi yang menunjang pengasahan kemampuan masyarakat. Pendampingan dalam melakukan pendidikan diperlukan agar masyarakat disiplin dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang diberikan pemerintah, seorang pekerja sosial juga harus mampu memberikan support pada masyarakat. Sehingga masyarakat termotivasi untuk mengash keahliannya dan bekerja dengan baik.
2. Fasilitator. Salah satu peran yang sagat penting bagi pekerka sosial dalam membantu masyarakat. Memfasilitasi masyarakat dalam berkegiatan dengan membantu menemukan potensi dan sumber dengan teknik-teknik tertentu seperti maping sehingga masyarakat dapat mengetahui apa yang mereka punya dan apa yang harus dilakukan. Mendukung dan memberikan stimulant untuk mengembangkan masyarakat. Mengetahui potensi dan sumber merupakan hal yang sangat penting, didalam tantangan global seperti perdagangan bebas ASEAN banyak hal yang harus dilakukan untuk mengimbangi Negara-negara yang sudah mulai maju seperti Malaysia dan singapura. Sumber daya manusia Indonesia harus segera dibimbing dan dibina untuk mendapatkan kemampuan yang diminati dalam bekerja. Kualitas SDM merupakan tujuan utama dalam sector perokonomian. Selain memfasilitasi masyarakat pekerja sosial juga harus mampu menjalin relasi dengan birokrat-birokrat sehingga prosedural dalam berkegiatan berjalan lancer.
sosial akan menghubungkan dengan sumber pelayanan yang mudah dijangkau terutama masalah pendidikan dan kesehatan. Dua hal tersebut menjadi dasar pergerakan pengembangan masyarakat daerah.
4. Advokasi. Pembelaan dilakukan dalam hal-hal yang sangat penting seperti pembelaan terhadap hak-hak masyarakat yang diambil. Hal ini biasanya terjadi didalam perusahaan yang masih belum menerapkan undang-undang. Tidak hanya di perusahaan namun bias terjadi dimana saja dan kapan saja sehingga seorang pekerja sosial harus mengetahui dengan benar kasu-kasus yang terjadi, karena pada dasarnya pekerja sosial itu bersifat netral. Pembelaan didasarkan pada hasil temuan-temuan dilapangan siapa yang mengambil hak dan siapa yang terambil. Didalam perdagangan bebas ASEAN akan terjadi banyak penindasan mengenai hak baik didalam negeri dan diluar negeri. Didalam negeri seperti melakukan PHK besar-besaran dikarenakan adanya modernisasi industry, ada juga diskriminasi pekerja dan masih banyak lagi. Diluar negeri seperti penyiksaan, gaji yang belum dibayarkan, waktu kerja yang berlebihan dan masih banyak lagi. Seorang pekerja sosial harus mampu melihat itu semua dan segera melakukan advokasi terhadap hak-hak yang direnggut.
Terdapat tiga tantangan besar yang akan dihadapi masyarakat Indonesia dengan munculnya perdagangan bebas ASEAN. Ketiga tantangan itu tidak akan semuanya mampu diselesaikan dengan cepat dan hanya satu pihak. Namun diperlukan koordinasi-koordinasi dengan bidang lain. Pekerja sosial menjadi pioneer utama dikarenakan pekerja sosial bertemu langsung dengan masyarakat, berinteraksi langsung dan memahami betul dengan keadaan lapangan. Maka seorang pekerja sosial harus siap menjawab tantangan global tersebut dengan menggunakan setidaknya peran-peran seperti educator, fasilitator, broker dan advokasi.
begitu program pemerintah berjalan sesuai dengan tujuan awal dan pengendalian laju pertumbuhan penduduk dapat dikendalikan sedikit demi sedikit.
Edukasi diberikan harus bersifat berkelanjutan, gunanya untuk mengontrol kedisiplinan penduduk dalam merencanakan keluarganya. Pendampingan diperlukan dalam melakukan pengawasan. Selain bekerjasama dengan pihak BKKBN pekerja sosial juga harus bekerja sama dengan pihak kesehatan seperti puskesmas yang mampu menjangkau pedesaan. Pihak kesehatan akan menyuluhkan solusi dari program keluarga berencana tersebut. Sehingga pekerja sosial bekerja dengan team tidak sendirian.
Selagi program BKKBN disuluhkan, maka seorang pekerja sosial juga harus memikirkan masalah pendidikan. Dikarenakan ketiga masalah ini bukan masalah yang dipisahkan maka dalam pelaksanaan penyelesainnya juga tidak dapat dipisahkan. Pekerja sosial harus mulai aktif dalam memberikan fasilitatsi dan melakukan broker dalam menghubungkan masyarakat dengan sumber pelayanan. Hal ini dilakukan untuk mempercepat aliran yang sempat terhenti, dengan begitu masyarakat segera mengetahui sumber dan potensi yang mereka punya, sumber dan potensi yang dapat mereka jangkau dan permasalahan yang mereka hadapi. Memberikan pelatihan kepada masyarakat yang ingin bekerja adalah salah sau cara dengan tujuan jangka pendek agar mampu bersang dengan tenaga luar.
Masalah kependudukan dan pendidikan dilakukan secara berkelanjutan dan memotivasi masyarakat untuk berkecimpung langsung diroda perekonomian Indonesia. Perusahaan-perusahaan local harus didukung dengan SDM yang berkualitas yang bertujuan untuk menghasilkan produk yang berkualitas juga. SDM yang berkualitas didapatkan dari pendidikan dan pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh pemerintah dan didampingi oleh pekerja sosial. Selain itu juga pemberian modal terhadap masyarakat yang ingin membuka usaha baik secara individu ataupun kelompok dengan melihat kesempatan-kesempatan berkembang. Kualitas produk yang dihasilkan haruslah mampu bersaing dengan produk luar sehingga masyarakat secara luas masih melirik produk dalam negeri.
pertukaran pelajar, pertukaran budaya akan sangat mudah sekali terjadi. Negara Indonesia haruslah menjadi pion utama dalam melakukan pertukaran tersebut. Hal itu berguna dalam mencapai tujuan jangka panjang dan menjadikan Indonesia Negara ekspor dikawasan ASEAN. Namun hal itu semua harus dilakukan sesuai proseduranl dan dilakukan dengan pengontrolan dan pengawasan.
Melaksanakan peran-peran tersebut, seorang pekerja sosial haruslah memiliki kemampuan berdaya saing global. Muncullah pertanyaan, bagaiman seorang pekerja sosial memiliki kemampuan yang berdaya saing global? Sudah jelas dalam mendapatkan gelar profesi pekerja sosial, seorang mahasiswa atau yang ingin menjadi pekerja sosial harus menempuh pendidikan formal yang sudah terlegitimasi. Institusi yang mengeluarkan pekerja sosial professional di Indonesia hanyalah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. STKS Bandung merupakan sekolah formal yang mengeluarkan profesi pekerjaan sosial. STKS Bandung menghadirkan ilmu pengetahuan mengenai pekerjaan sosial, selain itu juga ada praktik yang langsung bersentuhan dengan masyarakat sehingga seorang pelajar tidak hanya diberi ilmu teori namun ada pengalaman praktik langsung di lapangan.
Output dari institusi tersebut adalah pekerja sosial professional yang masih bersifat umum, untuk memiliki kemampuan lebih spesifik lagi maka harus dilanjutkan di spesialis 1. Pengajaran yang bersifat keindonesiaan dengan memberikan pemahaman nilai-nilai dan norma, seorang pekerja sosial yang lahir masih bersifat keindonesiaan. Bagaimana seorang pekerja sosial yang bersifat keindonesiaan namun memiliki wawasan global? Untuk yang pertama jangan merasa kurang dengan sifat keindonesiaan kita, hal itu meruipakan seuatu karunia karena perilaku ketimuran adalah perilaku yang menjadi pusat dunia. Negara-negara barat pun mulai mengikuti perilaku ketimuran ini. Sekarang kita harus mengasah wawasan kita agar mampu bersaing dengan global.
Pengembangan pengetahuan dan kemampuan untuk bersaing dengan Negara-negara lain perlu dilakukan, dengan begitu pekerja sosial di Indonesia memiliki wawasan dan kemampuan global. Terkait dengan cara mengembangkan pengetahuan dan kemampuan, sebagai berikut :
1. Dilakukannya seminar-seminar yang menghadirkan pekerja sosial dari daerah lain untuk menambah wawasan. Seminar dilakukan secara berskala dengan tujuan memberikan informasi terkini dengan permasalahan global.
2. Dilakukannya pelatihan-pelatihan kepada pekerja sosial baru untuk menambah pengalaman dan kemampuan mereka dalam bersentuhan dengan permaslaahan sosial
3. Diadakannya program pertukaran pelajar atau pekerja guna memberikan pengalaman baru di daerah lain. Didalam melaksanakan ini pemerintah harus mendukung penuh agar pekerja sosial Indonesia mampu bersaing dengan Negara lain.
4. Menciptakan budaya membaca, sudah terlihat kita masih minim akan membaca sehingga pengetahuan-pengetahuan pun minim begitu juga dengan informasi luar. Maka perlu diadakannya budaya membaca bagi pekerja sosial.
5. Berlatih menggunakan bahasa asing. Kita ketahui akar peksos berada dalam budaya barat maka sudah seawajarnya pengetahuan pekerjaan sosial berada disana. Untuk memahami lebih lanjut biasanya pekerja sosial terhambat dengan penggunaan bahasa. Maka instansi terkait harus mulai memikirkan prospek kerja pekerja sosial.
Walaupun pekerja sosial bukan seorang diri melakukan itu semua melainkan dengan profesi dan bidang lain, namun pekerja sosial merupakan pioneer utama yang bersentuhan langsung dnegan masyarakat sehingga pekerja sosial merupakan the first agent changer bagi masyarakat. Maka dari itu seorang pekerja sosial harus mampu memiliki wawasan global, nilai-nilai luhur masyarakat dan kemampuan internasional.
3.3 Rencana Program
Menghadapi tantangan perdagangan bebas ASEAN dengan permasalahan yang dimiliki tentu tidak mudah. Program-program buatan pemerintah sudah berjalan dengan baik dan masih belum juga memperbaiki tatanan masyarakat secara ekonomi dan pendidikan. Jika kita melihat dari sudut pandang masyarakat marjinal maka sudah pasti mereka hidup untuk bekerja dan kita tidak dapat salahkan itu. Hanya saja bagaimana cara kita agar mereka bekerja tidak hanya bekerja asal-asalan dan tidak menhasilkan apa-apa. Maka dari itu perlu diadakannya program yang meliputi pendidikan, pelatihan, dan pekerjaan untuk menghasilkan keuntungan bagi mereka dan Negara. Salah satu program yang diusulkan yaitu, “TUKAR MANFAAT”.
Tukar Manfaat adalah salah satu program yang mewakili ketiga aspek yaitu pendidikan, pelatihan dan pekerjaan. Cara kerja dari tukar manfaat yaitu dari pengambilan anggaran penanggulangan bencana sebesar 10% ditambah dengan alokasi anggaran untuk melakukan program ini. Anggaran tersebut dibuat untuk membuat suatu balai pelatihan yang bertujuan untuk memperkerjakan masyarakat sekitar balai pelatihan. Pelatihan tersebut digunakan untuk memberikan pendidikan singkat dalam memahami secara singkat roda perekonomian usaha. Mereka dilatih untuk membuat cinderamata khas daerah mereka. Cinderamata ini berguna untuk menghasilkan laba dari bidang pariwisata. Sudah dipastikan dengan adanya AFTA maka sector pariwisata sangat diuntungkan apalagi Indonesia merupakan tujuan utama wisatawan. Memanfaatkan itu makan pekerja dilatih untuk membuat cinderamata, hasilnya akan balik lagi ke masyarakat sesuai dengan penghasilan.
cinderamata yang dihasilkan unik dan menarik. Pemanfaatan sampah juga bertujuan untuk meminimalisirkan sampah yang semakin semerawut. Jika dilakukan secara bersamaan disemua daerah maka akan terjadinya kelebihan produksi. Kelebihan produksi itu akan diekspor dan bersaing dengan produk luar di Negara luar. Sehingga pemerintah mendapatkan devisa yang banyak baik dari ekspor dan pemasukan dari wisatawan. Tidak hanya Negara, masyarakat pun mulai membaikd engan adanya pekerjaan dan penghasilan dari pekerjaan mereka. Untuk melakukan itu semua tidak lepas dari peran pekerja sosial.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Adanya pemberlakuan perdagangan bebas di kawasan ASEAN tentu menghadirkan berbagai dampak negative dan positif bagi rakyat Indonesia. Dampak-dampak tersebut jangan dijadikan sebagai penghambat kita untuk berkembang. Namun, jadikan sebagai pecutan untuk lebih berkembang kearah lebih baik agar mampu menghadapi tantangan dari perdagangan bebas ASEAN. Setidaknya ada tiga tantangan atau masalah besar yang dihadapi Indonesia yaitu permasalahan pertumbuhan penduduk, pendidikan dan perekonomian.
Walaupun ada tantangan besar, namun masyarakat harus siap untuk menjawab tantangan tersebut bersama-sama dengan pekerja sosial. Pekerja sosial akan membantu masyarakat untuk menghadapi ketiga tantangan tersebut. Pekerja sosial akan berperan sebagai educator, fasilitator, broker dan advokasi. Guna untuk menggerakkan masyarakat untuk menghadapi perdagangan bebas ASEAN.
Daftar Pustaka
Majalah jurnal BBC (diakses 20 september 2014 )
http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/11/121127_education_ranks.shtm
Pidarta, Made. 1997. Landasan Pendidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
PUSAT KEBIJAKAN PENDAPATAN NEGARA
http://www.tarif.depkeu.go.id/Others/?hi=AFTA
Sanjaya, Wina. 2009. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Bandung. Kencana.
http://www.antara.co.id/arc/2007/4/4/infrastruktur-dan-sdm-indonesia-belum-siap-hadapi-afta/(diakses pada tanggal 20 september 2014, Pk. 17.30 WIB)