JURNAL
PENDEKATAN MANAJEMEN BISNIS ICT DALAM PENGEMBANGAN
SISTEM INFORMASI ELEKTRONIK TAPAL PERBATASAN INDONESIA
MABES TNI
Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat
Dalam mencapai gelar Sarjana Strata Dua (S2)
Disusun Oleh :
Nama
: Galang Persada N. H.
NIM
: 55415110010
Program Studi
: Magister Teknik Elektro
PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
2015
PENDEKATAN MANAJEMEN BISNIS ICT DALAM PENGEMBANGAN
SISTEM INFORMASI ELEKTRONIK TAPAL PERBATASAN INDONESIA
MABES TNI
Galang Persada N. H.
Teknik Elektro, Fakultas Teknik
Universitas Mercubuana
Jl.Meruya Selatan Kembangan, Jakarta 11650, Indonesia
Email :
[email protected]
Abstract
Indonesia sebagai Negara kepulauan memiliki banyak sekali masalah perbatasan di laut. Namun bukan berarti yang permasalahan perbatasan di darat tidak ada, namun hal tersebut merupakan salah satu yang menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Mabes TNI sebagai salah-satu perangkat pemerintahan telah memberi perhatian yang sangat besar di antar perbatasan negara. Pada tahun 2015 Mabes TNI meluncurkan program untuk melakukan elektronisasi patok perbatasan yang berguna untuk melakukan surveillance dan automatic detection apabila ada patok perbatasan yang bergeser dari tempatnya.
Keywords : SatKomLek Mabes TNI, Patok Perbatasan Elektronik.
I. PENDAHULUAN
Telekomunikasi sebagai salah satu teknologi canggih yang terus berkembang pada masa kini. Disebabkan oleh kemampuannya untuk mengirimkan informasi jarak jauh telekomunikasi menjadi salah satu teknologi yang popular pada abad ini. Penggunaan teknologi telekomunikasi ini sangat gencar di terapkan di berbagai bidang salah satunya adalah militer.
Pada tahun 2015 ini Militer Indonesia telah melancarkan kampanye untuk memperkuat penjaga perbatasan dengan cara menerapkan sistem elektronik yang disebut SatKomLek (Satuan Komunikasi Elektronik) Mabes TNI.
SatKomLek ini memiliki tujuan untuk memudahkan para aparat keamanan untuk segera
mendeteksi kemungkinan-kemungkinan adanya permasalahan lintas Negara yang timbul, seperti Illegal Logging, Penyelundupan BBM Bersubsidi, Human Trafficking, Penyelundupan Obat Bius, dan lain-lain. Diharapkan dengan adanya SatKomLek ini aparat keamanan dapat segera dengan mudah untuk menangkap para pelaku-pelaku kejahatan tersebut dan meminimalisir timbulnya gesekan antar Negara yang berbeda akibat adanya tapal batas Negara yang berubah-ubah.
II. TINJAUAN TEKNOLOGI
contohnya WiFi, X-Bee, Bluetooth, NRF24+, dan lain-lain.
Ada 2 buah sistem yang akan diterapkan ke dalam sistem ini yaitu Adhoc Network dan
Infrastructure Network. Adhoc network digunakan sebagai media transmisi antar titik patok perbatasan. Sehingga apabila ada patok yang bergeser maka dengan mudah ditemukan dan dikembalikan oleh para tentara penjaga perbatasan. Perencanaan awal patok-patok ini diletakan di sepanjang perbatasan sejauh 200 Meter antar patok, dengan menggunakan teknologi WiFi. Dan komunikasi data dilakukan secara berantai sampai pada patok yang paling dekat dengan infrastructure network.
Gambar 1.1 Patok Perbatasan Elektronik
Patok-patok perbatasan tersebut memiliki data yang harus dikirim yaitu berupa titik kordinat (ukuran dalam Bytes), berupa gambar (ukuran dalam KiloBytes), dan dalam video (ukuran dalam MegaBytes).
Gambar 1.2 Ilustrasi pemasangan Patok
Infrastructure network digunakan sebagai media transmisi dari titik patok perbatasan sampai pada sistem VSAT di kecamatan yang paling dekat dengan perbatasan. Diharapkan sehingga data-data kordinat, gambar, dan suara tersebut dapat dikirim dan diterima oleh Mabes TNI di cilangkap, Jakarta.
Gambar 1.3 Plan Infrastruktur Transmisi
Gambar 1.4 Topologi Satkomlek Mabes TNI
III. TINJAUAN REGULASI
Pada perancangan awal komunikasi data dilakukan dengan menggunakan peralatan 2.4 GHz yang sangat popular pada masa kini. Salah satu penyebab dari populernya teknologi ini adalah dikarenakan lisesnsi frekuensinya masuk kedalam ISM (industrial, scientific and medical) Radio Band
sehingga frekuensi tersebut ditetapkan gratis dari pemerintah [1]. Dikarenakan sifat lisensinya yang gratis sehingga frekuensi 2.4GHz ini banyak digunakan oleh khalayak ramai,
Dalam peraturan yang telah di tentukan perangkat yang berkerja dalam rentang frekuensi 2.4 GHz digunakan sebagai peralatan untuk akses data. Kemudian penggunaan bersama antar frekuensi tidak saling boleh saling mengganggu antar pengguna dan tidak menghasilkan interferensi yang saling merugikan. Pada peraturan kominfo ini juga peralatan yang menggunakan rentang frekuensi 2.4 GHz juga memiliki pembatasan daya EIRP sebesar 36.02 dbm.
Dalam hal ini perancangan awal SatkkomLek Mabes TNI menggunakan peralatan transmisi data nRF24L01+ dan Microcontroller WiDo yang berkerja pada rentang frekuensi 2.4 GHz. Serta maksimum EIRP 24 dbm. Sehingga dapat dipastikan sistem komunikasi data yang digunakan tidak berlawanan dengan regulasi yang diterapkan di Indonesia.
IV. TINJAUAN BISNIS
Perancangan awal sistem Satkomlek ini menggunakan peralatan komunikasi data 2.4GHz yang masuk ke dalam ISM band. Meskipun begitu militer memiliki rentang frekuensi layanan sendiri Pada tinjauan bisnis ini peralatan yang digunakan adalah menggunakan frekuensi ISM band 2.4 GHz, kemudian analisa SWOT di gunakan untuk melihat kelemahan dan kekuatan terhadap peralatan-peralatan yang berkerja pada frekuensi tersebut.
Dari hasil table di atas terlihat bahwa peralatan yang digunakan dalam proyek ini memiliki kekuatan internal dan eksternal yaitu peralatan-peralatan tersebut mengikuti mengikuti regulasi yang diterapkan pemerintah dan militer, namun kelemahan terbesar dari peralatan-peralatan ini adalah rendahnya data enkripsi dan teknologi yang mudah untuk di
Tinjauan teknologi menyebutkan frekuensi kerja
peralatan tapal batas tersebut berada pada 2,4 GHz.
Tinjauan regulasi menyebutkan frekuensi kerja
yang digunakan oleh sistem dapat digunakan sehingga memudahkan untuk integrasi dengan sistem komunikasi data 2.4 GHz lainnya, namun dari sisi regulasi juga perlu di tekankan bahwa militer telah memiliki frekuensi layanan kerja tersendiri.
Tinajuan bisnis menyebutkan apabila sistem
Satkomlek ini menggunakan frekuensi khusus militer maka akan sangat tidak menguntungkan dari sisi bisnis. Namun apabila menggunakan frekuensi ISM Band 2.4 GHz akan menjadi sangat murah,karena disebabkan ketersediaan vendor peralatan telekomunikasi yang ada, cukup banyak, serta cukup murah.. Maka apabila direncanakan untuk memilih frekuensi militer menyebabkan penerapan sistem ini menjadi propagation loss in land mobile radio services. IEEE Transactions on Vehicular Technology, vol. VT-29, pp. 317–325.
3. David B. Green and M. S. Obaidat. An Accurate Line of Sight Propagation Performance Model for Ad-Hoc 802.11 Wireless LAN (WLAN) Devices. Monmouth University. USA. 2002. 4. Michael W. Thelander. LTE Drive Test
Stockholm. White Paper Signals Ahead Volume 6, No. 3 March 12, 2010.
5. S. Selim Seker, Satı Yelen and Fulya Callialp Kunter. Comparison of Propagation Loss Prediction Models of UMTS for an Urban Areas. 18th Telecommunications forum TELFOR 2010 Serbia, Belgrade, November 23-25. 2010. 6. Mardeni.R and T. Siva Priya. Optimised
COST-231 Hata Models for WiMAX Path Loss Prediction in Suburban and Open Urban Environments. Canadian Center of Science and Education Modern Applied Science Vol. 4, No. 9; September 2010.
7. LAN/MAN Standards Committee of the IEEE Computer Society. IEEE Std 802.11™-2012, IEEE Standard for Information technology— Telecommunications and information exchange between systems—Local and metropolitan area networks—Specific requirements—Part 11: WLAN MAC and PHY specifications. 2012. 8. Kagum M. Subakhtiar. Perancangan Sistem
Monitoring dan Pengendalian Suhu via Wireless Webserver berbasis Microcontroller Wido. Universitas Mercubuana. Jakarta-Indonesia. 2015.
10. Muhammad Javid. LTE RF Optimization Guide V1.0. LTE RNPS. Huawei Technologies Co., Ltd. China. 2015.
11. Site Survey Guidelines for WLAN Deployment. Cisco. 2013.
12. Brennen Ball. Tutorial 0: Everything You Need to Know about the nRF24L01+ and MiRF-v2. diyembedded.com. 2007.
13. Nrf24l01+ Single Chip 2.4 GHz Transceiver Preliminary Product Specification V1.0. Nordic Semiconductor. 2008.
14. Datasheet AVR Microcontroller ATMega32U4. Atmel Corporation. November 2010.
15. Datasheet Arduino Leonardo. Arduino Team. www.Arduino.cc. Ivrea – Italia. 15 September 2008.
16.
WiDo - Open Source IoT Node (Arduino Compatible) Schematic. DFRobot.com. Shanghai-China. 2015.17. Cambium Networks PTP 100 SERIES DATASHEET. Cambium Networks, Ltd. America. 2012.