• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengidentifikasi Perbedaan jenis antara Penyer

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mengidentifikasi Perbedaan jenis antara Penyer"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS HUKUM PIDANA

Mengidentifikasi Perbedaan antara Penyertaan (Deelneiming)dan Pembantuan (Medeplichtigheid)

OLEH :

MUHAMMAD MUBARAK CHADYKA PUTRA B111 13 071

MATA KULIAH HUKUM PIDANA KELAS C FAKULTAS HUKUM

(2)

Permasalahan: Mengidentifikasi perbedaan antara Penyertaan (Deelneming) yang akan dibagi kedalam Plegen, Doen Plegen, Medeplegen dan Uitlokken dan Pembantuan (Medeplichtigheid).

A. Identifikasi Perbedaan

a. Plegen dan Medeplichtigheid

Plegen Medeplichtigheid

 Pidana pada orang yang turut serta adalah sama dengan pembuat (plegen);

 Pidana pada orang yang membantu tidak sama dengan pembuat atau orang yang ikut serta karena pidana terhadap pembantuan setinggi-tingginya maksimum pidana pokok dikurangi sepertiga.

 Turut serta dalam tindak

melakukan pelanggaran dapat dipidana.

 Pembantuan pada pelanggaran tidak dapat dipidana, hanya pada kejahatan.

 Pleger sebagai pihak yang melakukan dan menyelesaikan perbuatan pidana (formiil)dan perbuatannya menimbulkan akibat yang dilarang undang-undang (materiil) yang

pertanggungjawabannya ada pada dirinya sendiri.

 Pada pembantuan selalu harus ada sikap batin bahwa apa yang akan diperbuatnya itu adalah kepentingan orang lain bukan untuk kepentingan dirinya.

b. Doen Plegen dan Medeplichtigheid

(3)

 Kehendak ada pada orang yang menyuruh. Alat melakukan apa yang dikehendaki oleh yang menyuruh.

 Yang menyuruh dapat

dipertanggungjawabkan dan yang disuruh tidak

dipertanggungjawabkan. Sehingga yang diberikan

beban pertanggunjawaban ada pada orang yang menyuruh.

 Dalam bentuk medeplichtigheid memang pembuat pembantu dalam melakukan perbuatan adalah pada pembentukan kehendak orang yang dibantu, sehingga niat untuk berbuat jahat ada pada orang yang diberikan bantuan.

 Perbuatan ini dilakukan untuk sekedar mempermudah atau memperlancar bagi pembuat pelaksana dalam hal melaksanakan kejahatan. Sehingga yang

membantu dikurangi hukuman pokoknya.

 Diperbuat oleh 2 pihak, yakni actor intelektual (manus domina) dan aktor materil (manus

ministra). Dimana aktor intelektuallah yang diberikan keseluruhan

pertanggungjawaban pidana.

 Dalam pembantuan juga dikenal ada yang namanya pembantuan dengan nasihat atau petunjuk yang disebut pembantuan intelektual. Pembantuan intelektual juga dipidana tetapi yang namanya pembantuan pidananya dikurangi dari hukuman pokoknya.

c. Medeplegen dan Medeplichtigheid

(4)

 Dalam Medepleger kesengajaan pembuat pembantu dalam ikut serta melakukan tindak pidana diperbuat oleh pihak yang

secara sadar dan sengaja turut melibatkan diri dan dilakukan kerjasama/pelaksanaan tindak pidana dilakukan bersama.

 Dalam bentuk medeplichtigheid memang kesengajaan pembuat pembantu dalam menggunakan 3 cara tersebut tidak ditujukan pada pembentukan kehendak orang yang dibantu, sehingga tidak harus ada kerjasama yang disadari.

 Perbuatan ini dilakukan karena memang disadari oleh

pembuatnya dan perbuatan mereka ditujukan pada penyelesaian kejahatan.

 Perbuatan ini dilakukan untuk sekedar mempermudah atau memperlancar bagi pembuat pelaksana dalam hal

melaksanakan kejahatan.

 Semua pihak yang terlibat melakukan tindak pidana dijadikan sebagai pelaku dan dijerat dengan ketentuan pidana baik itu pelanggaran maupun kejarhatan sesuai dengan perbuatan pelaksananya.

 Pihak terlibat melakukan tindak pidana dijerat apabila terbukti melakukan perbuatan

kejahatan dan tidak dalam hal pelanggaran.

 Dalam Medepleger “turut melakukan”, ada kerja sama yang disadari walaupun tanpa kesepahakatan sebelumnya antara para pelaku dan mereka bersama-sama melaksanakan kehendak tersebut, para pelaku memiliki tujuan dalam

melakukan tindak pidana tersebut.

 Kesengajaan pembuat pembantu tidak sama dengan pembuat pelaksana dan pembuat peserta. Tidak ada sumbngan subjektif dari pembuat pembantu

terhadap yang orang dibantu untuk mewujudkan kejahatan.

Prinsip pidana pada medeplegen dianggap dipersamakan pada semua pihak yang ikut serta.

Prinsip pidana pada pembantuan lebih ringan darpada pidana pada pembuat peserta, yakni maksimum pidana pokok dikurangi sepertiga.

d. Uitlokken dan Medeplichtigheid

(5)

Niat yang timbul berasal dari orang yang memberi bantuan atau disebut pembujuk

(uitlokker).

Niat untuk melakukan kejahatan harus timbul dari orang yang diberi bantuan, kesempatan, daya upaya, atau keterangan.

 Di dalam uitlokken terdapat dua syarat, yakni subjektif dan

objektif. Syarat subjektif adalah dalam hal sengaja, sedangkan syarat objektif adalah perbuatan yang dilakukan. Pada uitlokken lebih condong pada syarat subjektif (ajaran subjektif) daripada syarat objektif.

 Di dalam medeplichtigheid juga terdapat dua syarat, yakni

subjektif dan objektif. Pada medeplichtigheid dua syarat tersebut sama pentingnya.

 Terdapat limitatif perbuatan dalam uitlokken, sama halnya dengan medeplichtigheid, yakni: dengan memberikan kesempatan, dengan

memberikan sarana, dan dengan memberikan keterangan. Dalam uitlokken fungsi/ sumbangan/ andil dari penggunaan tiga upaya adalah membentuk kehendak orang lain untuk melakukan tindak pidana. Karena dalam uitlokken, inisiatif tindak pidana selalu berasal dari uitlokker.

Referensi

Dokumen terkait

Mereka percaya pada kemutlakan kekuasaan Tuhan, berpendapat bahwa perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan, yang mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu

Kebijakan luar negeri merupakan strategi atau rencana tindakan yang dibuat oleh para pembuat keputusan negara dalam menghadapi negara lain atau unit politik internasional lainnya,

Sedangkan ibadah umrah, yakni hari-hari dalam setahun adalah merupakan waktu yang diperbolehkan untuk niat melaksanakan ibadah umrah, kecuali waktu-waktu haji bagi orang yang

portofolio sampai dengan periode penghitungan kinerja portofolio (1) Saham perusahaan yang masuk ke dalam kategori value stock pada periode. pembentukan portofolio yang

• perbuatan hukum terkait pemindahan hak atas tanah tidak dibuktikan dengan akta PPAT atau kutipan risalah lelang, kecuali dalam keadaan tertentu sebagaimana dimaksud

Antara Asy’ariyah dan Maturidiyah sendiri memiliki beberapa perbedaan, di antaranya ialah dalam hal-hal sebagai berikut: Tentang sifat Tuhan, tentang perbuatan manusia, tentang

Pelaksanaan kehendak (perbuatan) dalam suasana tenang. Pada unsur pertama, yang dimaksudkan memutuskan kehendak dalam suasana tenang yaitu pada saat melakukan

Henry Rani Sitepu, M.Si, Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, semua dosen pada Departemen Matematika FMIPA USU,