Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
63
INDONESIA
NURUL HUDA
Abstract
The Jakarta Islamic Index (JIT) has been used in Jakarta Stock Exchange since 2000, although Indonesia Islamic Capital market launched officially on march, 14, 2003. The performance of Islamic capital market products in general show a good enough growth. From the legal aspect, Islamic capital market in Indonesia still need regulation. The mechanism of capital market have to completed to prevent the entrance of riba maysir, and ghorar practices
Keyword : Islamic capital market, performance, Mechanism
LATAR BELAKANG
Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrument keuangan jangka panjang yang bisa diperjual belikan, baik dalam bentuk utang (obligasi) maupun maupun modal sendiri (saham). Kegiatan pasar modal Indonesia diatur dalam UU No. 8 tahun 1995 (Undang-Undang Pasar Modal /UUPM)
UUPM tidak membedakan apakah kegiatan pasar modal tersebut dilakukan dengan prinsip-prinsip syariah atau tidak. Dengan demikian , berdasarkan UUPM, kegiatan pasar modal Indonesia dapat dilakukan dengan prinsip-prinsip syariah dan dapat pula dilakukan tidak sesuai
dengan prinsip syariah
(konvensional).
Prinsip pasar modal syariah tentunya berbeda dengan pasar
modal konvensional. Sejumlah
instrumen syariah di pasar modal
sudah diperkenalkan kepada
masyarakat, misalkan saham Syariah, obligasi syariah dan reksadana syariah. Pasar modal syariah pun sudah diluncurkan pada tanggal 14
Maret 2003. Banyak kalangan
meragukan manfaat diluncurkannya pasar modal syariah ini. Ada yang mencemaskan nantinya akan ada dikotomi dengan pasar modal yang ada. Akan tetapi Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menjamin tidak akan ada tumpang tindih kebijakan yang mengatur, justru dengan diluncurkannya pasar modal syariah ini, akan membuka ceruk baru di lantai bursa.
Menurut Karim dalam
Hamidi (2003, 268) peluncuran pasar modal syariah ini menjadi penting karena banyak ketentuan baru yang
akan dikeluarkan Bapepam.
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
64 syariah : (1) menyangkut kebijakan
umum, ketentuan ini akan membahas kedudukan Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Bapepam dalam kaitannya dengan pengembangan pasar modal
syariah. (2)Ketentuan kedua
mengenai proses emisi saham
syariah, regulasi ini akan menjadi rujukan emiten baru yang ingin dicatat dalam daftar saham syariah (3) Menyangkut indeks syariah yang akan menjadi pedoman penyusunan emiten-emiten yang layak masuk syariah (4) Menyangkut instrumen obligasi syariah (5) Menyangkut tentang reksadana syariah
Dalam Perkembangan
terakhir Badan Pengawas Pasar
Modal (Bapepam) menetapkan
pengembangan pasar modal syariah sebagai salah satu prioritas kerja lima tahun ke depan. Rencana tersebut dituangkan dalam Master Plan Pasar Modal Indonesia 2005-2009. Dengan program ini, pengembangan pasar modal syariah memiliki arah yang jelas dan makin membaik. ''Pasar modal syariah tumbuh sangat baik. Karena itu, dalam lima tahun ke depan, Bapepam memprioritaskan pengembangan pasar modal syariah sekaligus dengan produk pasar modal syariah (www.bapepam.go.id) ). Menurut ketua Bapepam , berkembangnya produk pasar modal berbasis syariah juga merupakan potensi dan sekaligus tantangan
pengembangan pasar modal di
Indonesia. Lebih lanjut dinyatakan ada dua strategi utama yang
dicanangkan Bapepam untuk
mecapai pengembangan pasar modal
syariah dan produk pasar modal syariah. Pertama, mengembangkan kerangka hukum untuk memfasilitasi pengembangan pasar modal berbasis syariah. Yang kedua, mendorong pengembangan produk pasar modal berbasis syariah. Selanjutnya, dua strategi utama tersebut dijabarkan Bapepam menjadi tujuh implementasi strategi :
mengatur penerapan prinsip syariah
menyusun standar akuntansi mengembangkan profesi pelaku
pasar.
sosialisasi prinsip syariah
mengembangkan produk
menciptakan produk baru. meningkatkan kerja sama dengan
Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI
Harus diakui, jika dilihat dari sudut regulasinya, perkembangan Pasar Modal Syariah masih jalan di tempat. Namun kalau kita melihatnya dari sisi instrumen dan pelakunya, rasanya kita boleh berbesar hati. Tulisan ini mencoba memberikan gambaran keberadaan Pasar Modal Syariah Indonesia dalam usianya yang sudah lebih dari dua tahun.
PERMASALAHAN
Berdasarkan latar belakang
maka permasalahan yang akan
dibahas dalam tulisan ini :
1. Bagaimana Kinerja Pasar Modal Syariah Indonesia ?
2. Bagaimana pengaturan Pasar Modal Syariah Indonesia ? 3. Bagaimana spekulasi dalam
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
65 PEMBAHASAN
Kinerja Pasar Modal Syariah Indonesia
Dalam melihat kinerja pasar modal syariah maka indikator yang dapat digunakan antara lain dengan melihat perkembangan instrumen-instrumen (produk-produk) yang ada pada pasar modal syariah, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Obligasi Syariah
Diawali dengan gebrakan Indosat pada akhir 2002 – bahkan sebelum Pasar Modal Syariah resmi
berdiri -- yang menerbitkan obligasi syariah mudharabah (skim bagi hasil) senilai Rp 175 miliar, instrumen ini mulai menarik perharian pelaku pasar modal. Maka pada 2003
mulailah sejumlah perusahaan
menerbitkan instrumen sejenis, yakni
PT Ciliandra Perkasa, PT
Pembangunan Perumahan, PT Berlian Laju Tanker, dan PT Sinar Baru Lampung. Tentu saja tak ketinggalan sejumlah Lembaga Keuangan Syariah seperti Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri dan Bukopin Syariah.
Tabel 1
Obligasi Yang diterbitkan dengan Skema Mudharabah dan Ijarah
Emiten Rating Nilai Emisi Tenor
Indikasi Return
Indosat AA+ Rp. 175 milyar 5 tahun 15.75%
Berlian Laju Tanker A- Rp. 60 milyar 5 tahun 14.75% Bank Bukopin BBB+ Rp. 45 milyar 5 tahun 13.75% Bank Syariah Mandiri BBB Rp. 200 milyar 5 tahun 13.00%
Ciliandra Perkasa BBB Rp. 60 milyar 5 tahun 17.70% Bank Muamalat (Sub) BBB- Rp. 200 milyar 7 tahun 17.00% Perkebunan Nusantara VII BBB+ Rp. 75 milyar 5 tahun 13.875%
Dan 7 (tujuh) Obligasi Syariah Ijarah yang telah diterbitkan, yaitu:
Emiten Rating Nilai Emisi Tenor
Indikasi Return Matahari Putra Prima A+ Rp. 150 milyar 5 tahun 13.80% Citra Sari Makmur BBB/ A- (Kasnic) Rp. 100 milyar 5 tahun 13.50 - 14.50%
Sona Topas A+ (Kasnic) Rp. 52 milyar 5 tahun 13.40 - 15.00% Indorent A (Kasnic) Rp 100 milyar 4 tahun 13.25%
Humpuss Intermoda A Rp 122 milyar 5 tahun 14.75%
Berlina A Rp 85 milyar 5 Tahun 13.75%
Apexindo Pratama A- Rp 240 milyar 5 tahun 12.25%
Indosat IV AA+ Rp 285 Milyar 12.00%
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
66 Tak kalah menariknya adalah
perkembangan yang terjadi di tahun 2004. Pada bulan Maret PT Matahari Putra Prima Tbk menerbitkan obligasi syariah ijarah (sewa menyewa/leasing bonds). Perusahaan yang bergerak dalam penjualan barang-barang ritel itu mengeluarkan obligasi senilai Rp 300 miliar, sebanyak Rp 100 miliar di antaranya adalah obligasi syariah dengan skema ijarah. Menyusul setelah itu, sejumlah perusahaan juga menerbitkan obligasi syariah baik dengan skema mudharabah (bagi hasil) maupun ijarah (sewa).
Dari tabel 2 terlihat indikasi return berada pada interval 12%-17%. Sejauh ini skim yang muncul baru dua jenis yaitu skim ijarah dan
mudharabah. Bila kita coba
bandingkan kedua skim tersebut, maka pada skim ijarah, investor akan memperoleh return tetap berupa pembayaran sewa dari emiten. Sedangkan pada skim mudharabah, return investor naik turun, sesuai dengan naik turunnya pendapatan dari proyek yang didanai dengan obligasi itu.
Namun yang menarik adalah, dari sejumlah emiten, terlihat keragaman jenis usahanya. Mulai dari
perusahan telekomunikasi,
perkebunan, retail, lembaga
keuangan, transportasi, jasa
penyewaan mobil bahkan juga
industri wisata. Itu menunjukkan, batasan syariah dalam menentukan jenis usaha, tetap mempunyai keragaman yang baik pada jenis usaha yang dibiayai.
Instrumen Sukuk
Pada prinsipnya sukuk atau obligasi syariah adalah surat berharga sebagai instrumen investasi yang diterbitkan berdasarkan suatu transaksi atau akad syariah yang melandasinya (underlying transaction). Sukuk dapat berupa ijarah (sewa), mudharabah (bagi-hasil), musyara-kah atau yang lain. Sukuk yang sekarang sudah banyak diterbitkan adalah berdasar akad sewa (sukuk al-ijarah), dimana hasil investasi berasal
dan dikaitkan dengan arus
pembayaran sewa aset tersebut. Meskipun demikian, sukuk dapat pula diterbitkan berdasar akad syariah yang lain.
Penerbitan instrumen
investasi ini dapat dipandang sebagai inovasi baru dalam keuangan syariah
Sukuk bukan instrumen utang
piutang dengan bunga (riba), seperti obligasi yang kita kenal dalam keuangan konvensional, tetapi sebagai instrumen investasi. Sukuk diterbitkan dengan suatu underlying asset dengan prinsip syariah yang jelas.
Pada bulan Maret 2004 Dewan Syariah Nasional Majelis
Ulama Indonesia (DSN MUI)
mengeluarkan fatwa baru tentang obligasi syariah. Lembaga tersebut
membolehkan Pemerintah RI
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
67
Pemerintah Indonesia,
disarankan beberapa lembaga
keuangan internasional, untuk menerbitkan sukuk atau obligasi syariah, dan dijual kepada para investor khususnya di Timur Tengah. Ini menarik karena sukuk dipandang dari sisi produk baru investasi syariah, mulai banyak diterbitkan di sejumlah negara dan diminati investor Timur Tengah.
Jika sampai saat ini
Pemerintah belum juga menerbitkan
sukuk lebih disebabkan ada
hambatan teknis untuk menerbitkan obligasi negara. Hambatan utama
adalah masih adanya kendala
perundang-undangan.
Mudah-mudahan di tahun 2005 ini
pemerintah dapat menerbitkan sukuk karena beberapa negara Asia seperti Malaysia, Philiphina dan pada Januari lalu Pakistan pun telah menerbitkan sukuk
Saham Syariah
Produk syariah lain di BEJ, yang juga muncul sebelum hadirnya pasar Modal Syariah adalah Jakarta Islamic Index (JII). JII merupakan pengelompokkan saham-saham 30 emiten yang dipandang paling mendekati kriteria syariah. Mulai diluncurkan pada tahun 2000, seleksi yang dilakukan terhadap saham-saham yang dimasukkan dalam kelompok JII meliputi seleksi yang bersifat normatif dan finansial.
Seleksi normatif meliputi
kegiatan usaha emiten yang
bertentangan dengan prinsip syariah, yang meliputi :
Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang
Usaha lembaga keuangan
konvensional (ribawi) termasuk
perbankan dan asuransi
konvensional
Usaha yang memproduksi,
mendisrtibusi serta
memperdagangkan makanan dan minuman yang tegolong haram
Usaha yang memproduksi,
mendistribusi serta menyediakan barang-barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat
Sedangkan seleksi finasial meliputi :
1. Memilih kumpulan saham
dengan jenis usaha utama yang tidak bertentangan dengan prinsip hukum islam dan sudah tercatat lebih dari 3 bulan (kecuali bila termasuk dalam saham-saham 10 berkapitalisasi besar)
2. Memilih saham berdasarkan
laporan tahunan atau tengah tahunan berakhir yang memiliki kewajiban terhadap aktiva maksimal sebesar 90 %
3. Memilih 60 saham dari susunan di atas berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar ( market capitalization)terbesar selama satu tahun terakhir
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
68 rata-rata nilai perdagangan
selama satu tahun terakhir
Dengan mengacu pada
proses seleksi yang dilakukan terhadap saham-saham yang tercatat pada JII, terlihat bahwa saham-saham
JII tidak hanya sesuai dengan kriteria syariah tetapi juga merupakan saham-saham pilihan dalam hal kapitalisasi pasar tertinggi serta volume perdagangan juga tertinggi. Pada negara Malaysia proses skrining dapat dilihat pada gambar 1 berikut :
Gambar 1
SCREENING PROCESS OF SAC, SECURITIES COMMISION (SC) MALAYSIA
Penelitian Rachmayanti
(2003), menarik untuk dicermati. Ia menemukan juga bahwa proses
skrining berdasarkan syariah
memberikan pengaruh positif
terhadap kinerja portofolio saham syariah. Dari penelitian yang mengambil rentang waktu tahun 2001 Company
Activity Operations based
on riba Operations
involving gambling
Manufacture and or sale of haram products
Operations containing element of gharar (uncertainty)Additional Criteria Haram elements
is small compared to core activities
Public image
good of the
company is good Core activities of
the company have
importance
and
maslahah to the muslimummah and Country
STAGE I STAGE II
DROP DROP
Ye
s
N
o
N
O
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
69 sampai tahun 2002, terlihat bahwa
pada tahun 2001 kinerja portofolio saham syariah bisa mengungguli kinerja portfolio saham konvensional untuk kriteria Sharpe Index dan Treynor Index. Portofolio saham konvensional hanya unggul pada pengukuran dengan Jensen’s Alpha. Dalam hal ini portofolio saham syariah unggul pada kriteria return dan risk (level total risiko dan risiko pasar).
Selain itu penelitian Huda (2003) yang membandingkan indeks LQ-45 dengan Jakarta Islamic Index (JII) memberikan hasil bahwa secara rata-rata return saham kelompok JII lebih besar dibandingkan dengan LQ-45 begitupula dengan tingkat risiko. Nilai beta saham-saham yang tercatat pada kelompok JII secara rata-rata untuk periode tahun 2002 dan tahun 2003 memiliki nilai beta saham kurang dari 1 (< 1) , hal ini berarti secara rata-rata risiko saham
kelompok JII rendah bila
dibandingkan dengan risiko saham
dalam kelompok LQ-45 yang
memiliki beta lebih besar dari satu ( > 1)
Perhitungan lain
memperlihatkan, selama akhir tahun 2004 hingga awal Januari 2005 diperoleh return kelompok JII pada bulan Desember sebesar 1,23 % menunjukkan keunggulan, namun ada baiknya penelitian semacam itu
terus dilakukan untuk melihat sejauh mana skrining berdasarkan kriteria syariah memberikan pengaruh pada kinerja portofolio saham.
Tabel 2
Perbandingan Return JII dan IHSG
Reksadana Syariah
Selain obligasi dan saham, maka produk pasar modal syariah yang lain yaitu reksadana syariah. Beberapa reksadana syariah yang diluncurkan pada tahun 2004 sebagai berikut : Pada Januari 2004 PT
Permodalan Nasional Madani
Investment Management (PNM-IM) melakukan kerja sama dengan Bank Internasional Indonesia (BII) Syariah Platinum Access untuk memasarkan reksadana syariah. BII Syariah Platinum Access, dalam hal ini, berperan sebagai agen penjual sekaligus bank penerima pembayaran
reksadana PNM Syariah yang
dikelola PNM-IM. Saat ini dana kelolaan reksadana syariah PNM-IM hanya sekitar Rp 48 miliar dari keseluruhan kelolaan reksadana sekitar Rp 78 miliar.
Agustus 2004 Manajer
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
70 Advisindo (AAA) Sekuritas bekerja
sama dengan unit usaha syariah Bank
Danamon meluncurkan produk
reksadana syariah. Produk reksadana yang diberi nama AAA Syariah Fund
tersebut dimaksudkan untuk
melayani nasabah yang
membutuhkan layanan pengelolaan investasi berprinsip syariah.
September 2004 PT
Permodalan Nasional Madani
Investment Management (PNM-IM) meluncurkan dua produk reksadana terbarunya, yaitu reksadana PNM Amanah Syariah dan reksadana PNM PUAS (Pasar Uang Andalan Saya). Kedua jenis reksadana ini melengkapi produk reksadana PNM-IM yang sudah lebih dulu dipasarkan.
November 2004, Bank
Syariah Mandiri meluncurkan
produk reksadana syariah. bekerja sama dengan Mandiri Sekuritas selaku manajer investasi dan Deutche Bank sebagai bank kustodian, produk reksadana syariah ini menawarkan pilihan investasi dengan return yang lebih menarik kepada nasabah BSM.
Desember 2004 Manajemen PT Bhakti Asset Management (BAM) mengeluarkan produk reksadana baru yang diberi nama BIG Dana Syariah. Reksadana ini merupakan reksa dana terbuka berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) dengan hasil investasi yang bersih dari unsur riba dan gharar.
Dari segi return reksadana syariah masih lebih kecil dari reksadana konvensional. Hal ini disebabkan portofolio reksadana
syariah masih sangat terbatas (misalnya tidak boleh investasi pada pasar valuta asing kecuali spot market, tidak boleh menginvestasikan dana pada sektor usaha yang tidak halal seperti perbankan konvensional,
rokok, atau perusahaan yang
memproduksi minuman keras) . Hasil penelitian Karim Business Consulting (KBC) rata-rata reksadana syariah untuk kategori pendapatan tetap (fix income) memberikan return 11,60. Sedangkan, reksadana konvensional memberikan return rata-rata 13,89. Untuk kategori campuran pun, reksadana syariah memberi return di bawah reksadana konvensional.
Rekdasana syariah memberikan
return rata-rata 23,62 dan reksadana campuran konvensional memberikan return 64,31. Dari hasil ini jelas reksadana dengan fix income masih kompetitif jika dibandingkan dengan reksadana konvensional.
Jika kita coba bandingkan return untuk masing-masing produk yang ada pada portofolio reksadana misalnya deposito maka return syariah lebih tinggi dibandingkan dengan return konvensional ataupun untuk produk obligasi (bonds). Jadi return konvensional besar karena portofolio reksadananya lebih banyak pada produk-produk yang bersifat spekulatif (valuta asing).
Namun reksadana syariah juga memiliki kelebihan. Salah satunya adalah adanya Peraturan Bank Indonesia tentang Kualitas
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
71 Syariah yang dikeluarkan pada 2003.
Antara lain, aturan itu menyebutkan,
“Reksadana berdasarkan prinsip
syariah dikategorikan sebagai Aktiva Produktif Lancar, dengan tiga syarat, yaitu: memiliki Nilai Aktiva Bersih /NAB lebih besar daripada nilai investasi awal.; memiliki likuiditas tinggi sehingga dapat dicairkan dalam waktu tujuh hari; dan memiliki
tingkat risiko yang rendah.
Sedangkan yang dimaksud tingkat risiko rendah, apabila reksadana syariah tersebut tidak masuk ke instrumen saham, ataupun jika masuk ke instrumen saham minimal
memegang 10 macam saham.”
Peraturan ini jelas sangat
membantu, karena aturan
sebelumnya menyebutkan perbankan syariah harus mencadangkan 100
persen atas penempatan investasi di reksadana syariah, terutama yang masuk ke instrumen saham.Dengan aturan baru itu bisa disimpulkan, bila
perbankan syariah melakukan
investasi di reksadana syariah, bank itu hanya memerlukan pencadangan Aktiva Produktif Lancar, yakni sebesar 1 persen, untuk memenuhi peraturan Bank Indonesia.
Regulasi lain yang tidak kalah menariknya adalah Peraturan Bank Indonesia tentang Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek Syariah (FPJPS) Bagi Bank Syariah. Dalam aturan itu, antara lain disebutkan,
“Reksadana Syariah merupakan salah
satu surat berharga yang bisa digunakan bank syariah sebagai agunan untuk mendapatkan FPJPS dari Bank Indonesia”.
BNI Dana Syariah Pend. Tetap BNI Securities 23-Apr-04 IDR 10.44 bio Dompet Dhuafa Batasa Sy. Pend. Tetap Batasa Capital 26-Jul-04 IDR 20.32 bio I Haji Syariah Fund Pend. Tetap Insight Investment 17-Jan-05 IDR 18.74 bio PNM Amanah Syariah Pend. Tetap PNM Investment 01-Sep-04 IDR 33.68 bio Lautandhana Syariah Fund Pend. Tetap Lautandhana 09-Sep-05 IDR 14.65 bio
AAA Syariah Fund Campuran AAA Sekuritas 28-Des-04 IDR 10.79 bio AAA Amanah Syariah Fund Campuran AAA Sekuritas 21-Jun-05 IDR 22.14 bio Batasa Syariah Campuran Batasa Capital 22-Jul-03 IDR 87.64 bio BNI Dana Plus Syariah Campuran BNI Securities 23-Apr-04 IDR 4.69 bio BSM Investa Syariah Campuran Mandiri MI 25-Jun-04 IDR 12.21 bio Danareksa Sy. Berimbang Campuran Danareksa 01-Des-00 IDR 11.70 bio PNM Syariah Campuran PNM Investment 25-Mei-00 IDR 44.07 bio IPB Syariah Campuran Kresna Graha Sek. 15-Des-05 IDR 9.11 bio Rifan Capital Syariah Flexi Campuran Recapital Asset Mgt 10-Aug-05 IDR 48.93 bio
Total NAB IDR 349.11 bio
Nama Reksa Dana Jenis Manajer Investasi Peluncuran NAB(28/12/05)
*) NAB Reksa Dana Syariah 1 Agustus 2005 (pra-redemption) = IDR 1,081.76 bio Tabel 3
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
72 Selain kinerja di atas Ketua
Bapepam juga memberikan penilaian terhadap pasar modal syariah yang dapat diringkas sebagai berikut :
Sampai dengan Juli 2005, kinerja produk pasar modal berbasis syariah cukup menggembirakan. Saham perusahaan yang tercatat pada Jakarta Islamic Index (JII) menunjukkan kinerja baik dan meningkat 20,9 persen dari 164 poin menjadi 198,2 poin pada akhir Juli lalu. Kapitalisasi pasarnya juga naik 47,9 persen dari Rp 263,8 triliun di 2004 menjadi Rp 390,2 triliun, Juli 2005.
Sementara dari pasar obligasi, Bapepam telah mengeluarkan pernyataan efektif untuk tiga
emiten yang menawarkan
obligasi berbasis syariah mereka ke pasar. Tiga emiten ini membukukan total nilai emisi sebesar Rp 585 miliar. Sehingga sampai dengan Juli 2005, telah tercatat secara kumulatif ada 16
emiten yang menawarkan
obligasi syariah mereka dengan total nilai emisi Rp 2 triliun. ''Obligasi syariah tumbuh 23
persen dan nilai emisinya
tumbuh 143 persen jika
dibanding akhir tahun lalu,. Sedangkan di sisi reksa dana, telah ada tiga reksa dana syariah yang diluncurkan sejak awal Januari sampai Juli 2005. Secara kumulatif telah terdaftar 12 reksa dana syariah, di mana telah terjadi peningkatan 20 persen dari tahun lalu.
Dana yang dikelola fund manager juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan. Pada akhir 2004 tercatat ada Rp 413,9 miliar dana kelola reksa dana syariah. Sedangkan, posisi akhir Juli mencatatkan pertumbuhan 166,6 persen dengan total dana kelola reksa dana syariah mencapai Rp 1,1 triliun.
Pengaturan Pasar Modal Syariah Indonesia
Dari gambaran kinerja pasar modal syariah di atas, maka bisa dinyatakan secara umum kinerja dan
perkembangannya cukup
mengembirakan, tentunya kita tidak boleh puas dengan kondisi tersebut. Karena dari sudut pengaturan pada pasar modal syariah belum terlihat adanya progres yang cukup berarti. Menurut metwally (1995, 177) fungsi dari keberadaan pasar modal syariah :
BIG Dana Syariah Pend. Tetap Bhakti Asset Mgt 14-Sep-05 Rifan Syariah Campuran Rifan Asset Mgt 30-Apr-04 Danareksa Syariah Campuran Danareksa Inv Mgt 12-Mei-03
Hingga saat ini terdapat 3 (tiga) reksa dana syariah yang ditutup, yaitu
:
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
73 1) Memungkinkan bagi masyarakat
berpartispasi dalam kegiatan
bisnis dengan memperoleh
bagian dari keuntungan dan risikonya.
2) Mmungkinkan para pemegang
saham menjual sahamnya guna mendapatkan likuiditas
3) Memungkinkan perusahaan
meningkatkan modal dari luar
untuk membangun dan
mengembangkan lini
produksinya
4) Memisahkan operasi kegiatan bisnis dari fluktuasi jangka pendek pada harga saham yang merupakan ciri umum pada pasar modal konvensional 5) Memungkinkan investasi pada
ekonomi itu ditentukan oleh
kinerja kegiatan bisnis
sebagaimana tercermin pada harga saham.
Sedangkan karakteristik yang
diperlukan dalam membentuk pasar modal syariah (Metwally, 1995, 178-179) adalah sebagai berikut :
1) Semua saham harus
diperjualbelikan pada bursa efek
2) Bursa perlu mempersiapkan
pasca perdagangan dimana
saham dapat diperjualbelikan melalui pialang
3) Semua perusahaan yang
mempunyai saham yang dapat diperjualbelikan di Bursa efek
diminta menyampaikan
informasi tentang perhitungan
(account) keuntungan dan
kerugian serta neraca keuntungan kepada komite manajemen bursa efek, dengan jarak tidak lebih dari 3 bulan
4) Komite manajemen menerapkan harga saham tertinggi (HST) tiap-tiap perusahaan dengan interval tidak lebih dari 3 bulan sekali 5) Saham tidak boleh diperjual
belikan dengan harga lebih tinggi dari HST
6) Saham dapat dijual dengan harga dibawah HST
7) HST ditetapkan dengan rumus sebagai berikut :
Komite manajemen harus
memastikan bahwa semua
perusahaan yang terlibat dalam bursa efek itu mengikuti standar akuntansi syariah
8) Perdagangan saham mestinya hanya berlangsung dalam satu
minggu periode perdagangan setelah menentukan HST
9) Perusahaan hanya dapat
menerbitkan saham baru dalam
periode perdagangan, dan
dengan harga HST
Spekulasi Di Pasar Modal HST = Jumlah Kekayaan bersih perusahaan
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
74 Kegiatan spekulasi tidak
berbeda dengan kegiatan mengambil risiko (risk taking action) yang biasa dilakukan oleh pelaku bisnis atau investor. Ada yang membedakan spekulan dengan pelaku bisnis (investor) dari derjat ketidak pastian yang dihadapinya. Spekulan berani menghadapi sesuatu yang derajat ketidakpastiannya tinggi tanpa perhitungan, sedangkan pelaku bisnis (investor) senantiasa menghitung-hitung risiko dengan return yang diterimanya. Spekulan adalah game of chance sedangkan bisnis game of skill. Seorang dianggap spekulatif apabila ia ditenggarai memiliki motif
memanfaatkan ketidak pastian
tersebut untuk keuntungan jangka
pendek. Dengan karakteristik
tersebut, maka investor yang terjun di pasar perdana dengan motivasi mendapatkan capital gain semata-mata ketika saham dilepas di pasar sekunder, bisa masuk ke dalam golongan spekulan (Sapta, 2002).
Dipasar sekunder pun kita bisa membedakan antara spekulan dan investor. Investor di pasar modal adalah mereka yang memanfaatkan pasar modal sebagai sarana untuk
berinvestasi di
perusahaan-perusahaan Tbk yang diyakininya baik dan menguntungkan. Mereka mendasari keputusan investasinya pada informasi yang terpercaya tentang faktor-faktor fundamental ekonomi dan perusahaan itu sendiri melalui kajian yang seksama. Kegiatan investor seperti ini disebut rational speculation. Para spekulan
rasional ini sesungguhnya
mendorong terciptanya akumulasi
kapital yang mendorong
perekonomian secara makro, karena investasi setiap orang didasari pada pencapaian performa perusahaa. Perusahaan Tbk dituntut efisien, profitable dan prosfektif jika ingin menarik hati investor di pasar modal.
Berlawanan dengan kelompok
investor di atas adalah mereka yang
dikenal dengan nama blind
speculation . Investor-investor buta tersebut menimbulkan gejala-gejala
negatif di pasar modal dan
perekonomian seperti perjudian, short selling, insider trading sampai dengan isu-isu yang dimaksudkan untuk
menggoreng harga saham
perusahaan di pasar.
Pertanyaannya sekarang
bagaimana pasar modal syariah bisa meredam spekulasi ? spekulasi dilarang bukan karena ketidakpastian yang ada dihadapannya, melainkan cara orang mempergunakan ketidak pastian tersebut. Manakala Ia meninggalkan sense of responsibility dan rule of law nya untuk memperoleh keuntungan semata dari adanya ketidakpastian, itulah yang dilarang dalam konsep gharar dan maysir dalam Islam . Al gharar dan maysir sendiri adalah konsep yang sangat berkaitan dengan mudharat, negative result, atau bahaya (hazard).
Di pasar modal, larangan
syariah di atas mesti
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
75 aturan main yang mencegah praktek
spekulasi, riba, gharar dan maysir.
Salah satunya adalah dengan
menetapkan minimum holding
period atau jangka waktu memegang saham minimum. Dengan aturan ini, saham tidak bisa diperjualkan setiap saat, sehingga meredam motivasi mencar untung dari pergerakan harga saham semata. Masalahnya, berapa lama minimum holding period yang masuk akal ? pembatasan itu memang meredam spekulasi, akan tetapi juga membuat investasi di pasar modal menjadi tidak likuid.
Padahal bukan tidak mungkin
seorang investor yang rasional
betul-betul membutuhkan likuiditas
mendadak sehingga harus
mencairkan saham yang dipeganya, sedangkan ia terhalang karena belum
lewat masa minimum holding
periodnya. Metwally, seorang pakar
ekonomi Islam dan modelling
economics mengusulkan minum holding period setidaknya satu pekan. Selain itu Ia juga memandang perlu adanya celling price berdasarkan nilai pasar perusahaan. Lebih lanjut Akram Khan melengkapi, untuk mencegah spekulasi di pasar modal maka jual beli saham harus diikuti dengan serah terima bukti kepemilikan fisik saham yang diperjual belikan.
Mengenai kekhawatiran
bahwa penjualan saham di tengah masa usaha, akan menimbulkan kemungkinan gharar, seperti halnya jual beli ikan di dalam laut dapat diatasi dengan praktek akuntasi
modern dan adanya kewajiban
disclosure laporan keuangan kepada pemilik saham.
Dengan berbagai model
penilaian modern saat ini, investor dan pasar secara luas akan dapat memiliki pengetahuan tentang nilai sebuah perusahaan, sehingga saham-saham dapat diperjual belikan secara wajar dengan harga pasar yang rasional. Dalam hal ini, market value tampaknya lebih mencerminkan nilai yang lebih wajar dibandingkan dengan book value. Dengan demikian dapat ditarik kjesimpulan bahwa sekuritas –sekuritas dapat diperjual
belikan dengan menggunakan
mekanisme pasar sebagai penentu harga, sehingga capital gain maupun profit sharing dari dividen dapat diperoleh.
Mekanisme pasar modal
masih perlu terus disempurnakan untuk mencegah terbukanya pintu praktek riba, maysir dan gharar. Sesuai dengan Wasiat Rasulullah Muhammad SAW dalam salah satu sabda beliau :
” Segala sesuatu yang halal dan haram telah jelas, tetapi diantara keduanya terdapat hal-hal-hal yang samar dan tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barng siapa berhati-hati terhadap hal-hal yang meragukan, berarti telah menjaga agama dan kehormatan dirinya... ” (HR : Bukhari-Muslim)
Kendala Dan Strategi
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
76 Berdasarkan Uraian pada
bagian sebelumnya, terlihat ada
beberapa kendala untuk
mengembangkan pasar modal
syariah, kendala-kendala tersebut (Sudarsono : 2003, 194-195) antara lain :
1. Belum ada ketentuan yang
menjadi legitimisi pasar modal syariah dari Bapepam atau pemerintah, misalnya
Undang-Undang. Perkembangan
keberadaan pasar modal syariah saat ini merupakan gambaran
bagaimana legalitas yang
diberikan Bapepam dan
pemerintah lebih tergantung dari permintaan pelaku pasar yang menginginkan keberadaan pasar modal syariah
2. Selama ini pasar modal syariah lebih populer sebagai sebuah wacana dimana banyak bicara tentang bagaimana pasar yang disyariahkan. Dimana selama ini praktek pasar modal tidak bisa dipisahkan dari riba, maysir dan
gharar, dan bagaimana
memisahkan ketiganya dari pasar modal
3. Sosialisasi instrumen syariah di pasar modal perlu dukungan dari berbagai pihak. Karena ternyata perkembangan pasar modal perlu
dukungan berbagai pihak.
Karena ternyata perkembangan Jakarta Islamic Index dan
reksadana syariah kurang
tersosialisasi dengan baik sehingga perlu dukungan dari berbagai pihak, khususnya
praktisi dan akademisi. Praktisi dapat menjelaskan keberadaan pasar modal secara pragmatis
sedangkan akademisi bisa
menjelaskan secara ilmiah
Beradasarkan pada kendala – kendala di atas maka strategi yang perlu dikembangkan :
1) Keluarnya Undang-Undang Pasar modal syariah diperlukan untuk mendukung keberadaan pasar modal syariah atau minimal menyempurnakan UUPM No 8 Tahun 1995, sehingga dengan hal
ini diharapkan semakin
mendorong perkembangan pasar modal syariah.
2) Perlu keaktifan dari pelaku bisnis
(pengusaha) muslim untuk
membentuk kehidupan ekonomi yang islami. Hal ini guna memotivasi meningkatkan image
pelaku pasar terhadap
keberadaan instrumen pasar modal yang sesuai dengan syariah
3) Diperlukan rencana jangka
pendek dan jangka panjang oleh Bapepam untuk mengakomodir
perkembangan
instrumen-instrumen syariah dalam pasar modal. Sekaligus merencanakan keberadaan pasar modal syariah di tanah air.
4) Perlu kajian-kajian ilmiah mengenai pasar modal syariah, oleh karena itu dukungan akadmisi sangat diperlukan guna
memahamkan perlunya
Volume 3 Nomor 2, Agustus 06 / Rajab 1427 H ISSN 1411 – 0776
77 KESIMPULAN
Berdasarkan pada uraian di atas maka beberapa kesimpulan dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. kinerja produk pasar modal
berbasis syariah cukup
menggembirakan. Saham
perusahaan yang tercatat pada Jakarta Islamic Index (JII) menunjukkan kinerja baik dan meningkat 20,9 persen dari 164 poin menjadi 198,2 poin pada akhir Juli lalu. Kapitalisasi pasarnya juga naik 47,9 persen dari Rp 263,8 triliun di 2004 menjadi Rp 390,2 triliun, Juli 2005 Sedangkan 'Obligasi syariah tumbuh 23 persen dan nilai emisinya tumbuh 143 persen jika dibanding akhir tahun lalu,. Sedangkan di sisi reksa dana, telah ada tiga reksa dana syariah yang diluncurkan sejak awal Januari sampai Juli 2005. Secara kumulatif telah terdaftar 12 reksa dana syariah, di mana telah terjadi peningkatan 20 persen dari tahun lalu.
2. pengaturan pada pasar modal syariah Indonesia belum terlihat adanya progres yang cukup berarti. Hukum positip khusus pasar modal syariah Indonesia belum ada, yang ada bar sebatas Fatwa dari DSN
3. Mekanisme pasar modal masih perlu terus disempurnakan untuk mencegah terbukanya pintu praktek riba, maysir dan gharar
DAFTAR PUSTAKA
Achsien , Iggi (2000), Investasi Syariah di Pasar Modal,
Menggagas Konsep dan
Praktek Manajemen Portfolio Syariah, Gramedia , Jakarta
Darmadji Tjipto, Hendry (2001), Pasar Modal di Indonesia, Salemba Empat, Jakarta
Gunawan, Mohammad Yasni, (2002) Pasar Modal Syariah, Modal No. I/I November, Jakarta
Hamidi, Luthfi,(2003), Jejak-Jejak Ekonomi Syariah, Senayan Abadi Publishing, Jakarta
Herwidyatmono, (2003), Prinsip-Prinsip Pengaturan Pasar Modal Syariah di Indonesia (makalah), Peluncuran Pasar Modal Syariah, Jakarta
Metwally (1995), Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Bangkita Daya Insani, Jakarta
Sudarsono, Heri (2003), Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, edisi 2 , Ekonisia, FE-UII, Yogyakarta
Vogel, Frank and Samue Hayes (1998), Islamic Law and Finance : Religion, Risk and
Return, Kluwer Law