IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TANDA DAFTAR USAH

11  31  Download (0)

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TANDA DAFTAR USAHA PARIWISATA (STUDI PADA USAHA HOTEL DI KOTA PADANG)

Nila Wahyuni

Magister Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang Jl. Prof. Hamka, Air Tawar Padang; E-mail: nila.wahyuni20@gmail.com

Afriva Khaidir

Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang Jl. Prof. Hamka, Air Tawar Padang; Email: af.khaidir@gmail.com

Aldri Frinaldi

Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang Jl. Prof. Hamka, Air Tawar Padang; Email: alfrinaldi@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berkembang pesatnya industri perhotelan di Kota Padang saat ini tapi belum didukung oleh perizinan dan penegakan hukum hotel itu sendiri. Keluhan dari kalangan pengusaha pariwisata adalah berkaitan dengan pengurusan izin usaha kepariwisataan khususnya izin usaha hotel, karena dianggap berbelit dan butuh biaya yang relatif besar. Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) berguna untuk menjamin kepastian hukum dalam menjalankan usaha pariwisata bagi pengusaha, serta menerapkan sanksi bagi usaha pariwisata yang tidak sesuai standar. Fokus dari penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi kebijakan TDUP studi pada usaha hotel di Kota Padang.

Penelitian ini menggunakan teori yang dikemukakan oleh Edwards III. Jenis penelitian kualitatif dengan teknik purposive sampling sebagai penentu informan penelitian. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan TDUP studi pada usaha hotel di Kota Padang belum berjalan dengan baik dan menghadapi banyak kendala dilihat dari empat variabel. Pertama, komunikasi yang diciptakan dan terjalin selama pelaksanaan belum maksimal, beberapa pegawai ada yang tidak mengetahui tentang kebijakan tersebut, sosialisasi tentang TDUP masih minim dilakukan. Kedua, kurangnya sumber daya baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Ketiga, disposisi/sikap implementor yang tidak tegas dalam menjalankan ketentuan, disiplin serta mental pegawai yang masih turun naik. Keempat, OPD teknis utama tidak memiliki SOP dalam dalam pelaksanaannya, pengawasan tidak rutin dilakukan terhadap usaha hotel, dan koordinasi antar OPD terkait yang sering terputus.

(2)

A. Pendahuluan

Berdasarkan data dari website kemenpar.go.id, pada tahun 2010-2014 pariwisata menempati urutan kelima dalam hal penerimaan devisa negara setelah minyak dan gas bumi, batu bara, minyak kelapa sawit, dan karet olahan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2014 mencatat provinsi Sumatera Barat termasuk kedalam sepuluh provinsi yang paling sering dikunjungi oleh turis di Indonesia. Sebagai ibukota, Kota Padang dinilai mempunyai letak strategis yang menjadi pusat industri, perdagangan, jasa serta pendidikan. Potensi yang dimiliki Kota Padang ditunjukkan dari sejumlah aspek-aspek yang dimiliki. Seiring peningkatan jumlah wisatawan tiap tahunnya, pengeluaran wisatawan juga mengalami peningkatan. Hal ini tentunya berkaitan secara tidak langsung dengan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Padang. Dapat dilihat pada tabel dibawah ini PAD kota Padang dilihat dari sektor pariwisata.

Tabel 1. Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dari Sektor Pariwisata Tahun 2011-2015

TAHUN PAD PENERIMAAN DARI SEKTOR PARIWISATA

PERSENTASE

2011 150.151.686.567 7.910.983.109 10.596.291.531 1.248.138.741 12,49 %

2012 189.450.840.075 14.462.683.262 13.167.100.651 1.028.070.266 15,13 %

2013 238.889.759.534 17.667.533.678 15.444.114.983 2.072.063.492 14,73 %

2014 316.079.336.434 21.353.910.003 17.806.821.805 2.481.545.616 13,17 %

2015 232.870.240.318 20.459.528.061 20.510.457.805 2.397.075.799 18,66 %

Sumber: Badan Pendapatan Daerah Kota Padang

Terlihat dari tabel diatas bahwa penerimaan dari usaha hotel menjadi kontributor pajak terbesar dari sektor pariwisata yang ada. Namun persentase sektor pariwisata terhadap PAD ini dinilai cenderung masih rendah. Seharusnya sektor pariwisata di Kota Padang menjadi sektor yang potensial untuk dikembangkan dengan adanya faktor-faktor pendukung yang telah diuraikan sebelumnya.

Sugiama menyebutkan bahwa terdapat empat komponen penting sektor pariwisata, yaitu: (1) daya tarik objek pariwisata; (2) aksesibilitas menuju objek wisata beserta seluruh sarana dan prasarana; (3) akomodasi seperti penginapan; dan (4) lembaga dan organisasi kepariwisataan yang aktif mendukung kegiatan pengelolaan objek pariwisata baik itu pemerintah ataupun swasta. Seluruh komponen ini harus terintegrasi dengan kebijakan pemerintah pusat dan daerah guna meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.

Salah satu komponen penting sektor pariwisata menurut Sugiama yaitu akomodasi dan dan diketahui berdasarkan data analisis sektor unggulan Kota Padang tahun 2000-2011 diketahui bahwa sektor pariwisata (perdagangan, hotel dan restoran) merupakan penyumbang PDRB (Product Domestic Regional Bruto) nomor lima terbesar. Perhotelan memiliki peran sebagai penggerak ekonomi daerah yang perlu dikembangkan dengan optimal.

Menurut data dari BPS, pada tahun 2014 Kota Padang memiliki 72 hotel yang terdiri dari hotel bintang dan non bintang. Pada tahun 2015 terjadi pertambahan menjadi 102 hotel dan pada tahun 2016 terdapat 88 hotel yang juga terdiri dari hotel bintang dan non bintang.

(3)

(TDUP). Setelah diberikannya kewenangan otonomi dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah maka dibuatlah Peraturan Daerah untuk memaksimalkan penerapan dan penegakkan hukum terkait TDUP tersebut yaitu Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 5 Tahun 2012 tentang Tanda Daftar Usaha Pariwisata.

Berkembang pesatnya industri perhotelan di Kota Padang saat ini belum didukung dengan kepemilikan izin usaha hotel itu sendiri. Hal ini bisa dilihat pada jumlah TDUP yang telah diterbitkan oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Padang dari tahun 2014 sampai 2016:

Tabel 2. Perbandingan Jumlah Total Usaha Hotel Dengan TDUP Yang Telah Diterbitkan (2014-2016)

Jenis Usaha 2104 2015 2016

Total TDUP Total TDUP Total TDUP

Hotel

Bintang 16 5 26 0 26 11

Non

bintang 56 2 76 0 62 5

(Sumber: DPMPTSP Kota Padang)

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah hotel dari tahun 2014 ke 2015 berjumlah 30 buah hotel namun peningkatan jumlah TDUP tidak ada. Dari tahun 2015 ke 2016 jumlah peningkatan TDUP hanya 11 buah untuk hotel berbintang dan 5 buah untuk hotel non bintang dan ini tidak sebanding dengan jumlah hotel yang ada. Jumlah ini jika dibandingkan dengan jumlah pertambahan usaha hotel yang ada di Kota Padang tentunya masih sedikit. Padahal izin TDUP diperlukan untuk menjamin dan membuktikan bahwa usaha hotel telah sesuai standar atau belum. Oleh sebab itu, penelitian ini mengajukan permasalahan yaitu: Bagaimanakah implementasi kebijakan Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) studi pada usaha hotel di Kota Padang?

B. Tinjuan pustaka Kebijakan Publik

Dye mengemukakan, “Public policy is whatever governments choose to do or not to do”

(Subarsono, 2009). Kebijakan publik adalah apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan dan tidak dilakukan, kebijakan publik adalah apa yang dibuat dan dilakukan oleh

pemerintah, bukan swasta. Kebijakan sebagai sebuah ”rationale” sebuah manifestasi dari

pilihan yang penuh pertimbangan. Sebuah kebijakan adalah usaha untuk mendefinisikan dan menyusun basis rasional untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan. Sedangkan Friedrich memberikan pengertian mengenai kebijakan publik yaitu serangkaian tindakan/kegiatan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat hambatan-hambatan (kesulitan-kesulitan) dan kemungkinan-kemungkinan (kesempatan-kesempatan) dimana kebijakan tersebut diusulkan agar berguna dalam mengatasinya untuk mencapai tujuan yang dimaksud (Agustino, 2008:7).

(4)

Perizinan

Menurut Juniarso, izin adalah suatu keputusan adminisrasi negara yang memperkenankan suatu perbuatan yang pada umumnya dilarang, tetapi diperkenankan dan bersifat konkrit (Sinamo, 2014). Izin disini dimaksudkan sebagai hal bisa memberikan kontribusi positif terhadap aktivitas ekonomi terutama dalam upaya menggali Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan mendorong laju investasi. Suatu izin yang diberikan pemerintah memiliki maksud untuk menciptakan kondisi yang aman dan tertib agar setiap kegiatan sesuai dengan peruntukannya. Menurut Syafrudin bahwa izin bertujuan dan berarti menghilangkan halangan dimana hal yang dilarang menjadi boleh (Sinamo, 2014). Penolakan atas permohonan izin memerlukan perumusan limitatif, sehingga tidak merugikan pemohon.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa izin adalah perangkat hukum administrasi yang digunakan pemerintah untuk mengendalikan warganya agar berjalan dengan teratur dan untuk tujuan ini diperlukan perangkat administrasi. Salah satu perangkat administrasi adalah organisasi dan agar organiasi ini berjalan dengan baik perlu dilakukan pembagian tugas. Sendi utama dalam pembagian tugas adalah koordinasi dan pengawasan. Izin diterapkan oleh pejabat negara, sehingga dilihat dari penempatannya maka izin adalah instrumen pengendalian dan alat pemerintah untuk mencapai apa yang menjadi sasarannya.

Implementasi Kebijakan Publik Model George C. Edwards III

Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. Menurut Edwards III (dalam Winarsih, 2008) implementasi kebijakan adalah tahap pembuatan kebijakan antara pembentukan kebijakan dan konsekuensi-konsekuensi kebijakan bagi masyarakat yang dipengaruhinya. Jika suatu kebijakan tidak tepat atau tidak tepat mengurangi masalah yang merupakan sasaran dari kebijakan, maka kebijakan itu mungkin akan mengalami kegagalan sekalipun kebijakan itu diimplementasikan dengan baik. Sementara itu, suatu kebijakan yang cemerlang mungkin juga akan mengalami kegagalan jika kebijakan tersebut kurang diimplementasikan dengan baik oleh para pelaksana kebijakan.

Salah satu model pendekatan top down yaitu implementasi kebijakan publik model Edwards III yang disebut Direct and Indirect Impact on Implementation. Dalam pandangan Edwards III (dalam Dwiyanto, 2009) menunjukan empat variabel yang berperan penting dalam pencapaian keberhasilan implementasi kebijakan. Empat variabel tersebut adalah sebagai berikut:

a) Komunikasi, yaitu menunjuk bahwa setiap kebijakan akan dilaksanakan dengan baik jika terjadi komunikasi efektif antara pelaksana program (kebijakan) dengan para kelompok sasaran (target group). Tujuan dan sasaran dari program atau kebijakan dapat disosialisasikan secara baik sehingga dapat menghindari adanya distorsi atas kebijakan dan program. Ini menjadi penting karena semakin tinggi pengetahuan kelompok sasaran atas program maka akan mengurangi tingkat penolakan dan kekeliruan dalam mengaplikasikan program dan kebijakan dalam ranah yang sesungguhnya.

(5)

modal investasi atas sebuah program atau kebijakan. Keduanya harus diperhatikan dalam implementasi program atau kebijakan pemerintah. Sebab tanpa kehandalan implementor, kebijakan menjadi kurang energik dan berjalan lambat dan seadanya. Sedangkan, sumber daya financial menjamin keberlangsungan program atau kebijakan. Tanpa ada dukungan financial yang memadai, program tak dapat berjalan efektif dan cepat dalam mencapai tujuan dan sasaran.

c) Disposisi/sikap, yaitu menunjuk karakteristik yang menempel erat kepada implementor kebijakan atau program. Karakter yang penting dimiliki oleh implementor adalah kejujuran, komitmen dan demokratis. Kejujuran mengarahkan implementor untuk tetap berada dalam arah program yang telah digariskan dalam

guideline program. Sikap yang demokratis yang akan meningkatkan kesan baik implementor dan kebijakan dihadapan anggota kelompok sasaran. Sikap ini akan menurunkan resistensi dari masyarakat dan menumbuhkan rasa percaya dan kepedulian kelompok sasaran terhadap implementor dan program atau kebijakan. d) Struktur birokrasi, menunjuk bahwa struktur birokrasi menjadi penting dalam

implementasi kebijakan. Aspek struktur birokrasi ini mencakup dua hal penting pertama adalah mekanisme dan struktur organisasi pelaksana sendiri. Mekanisme implementasi program biasanya sudah ditetapkan melalui standar operating procedur

(SOP) yang dicantumkan dalam guideline program atau kebijakan. SOP yang baik mencantumkan kerangka kerja yang jelas, sistematis, tidak berbelit dan mudah dipahami oleh siapapun karena akan menjadi acuan dalam bekerjanya implementor. Sedangkan struktur organisasi pelaksanaan pun sejauh mungkin menghindari hal yang berbelit, panjang dan kompleks. Struktur organisasi pelaksana harus dapat menjamin adanya pengambilan keputusan atas kejadian luar biasa dalam program secara cepat. Keempat variabel di atas dalam model yang dibangun oleh Edwards III memiliki keterkaitan satu dengan yang lain dalam mencapai tujuan dan sasaran program/kebijakan. Semuanya saling bersinergi dalam mencapai tujuan dan satu variabel akan sangat mempengaruhi variabel yang lain. Misalnya saja, implementor yang tidak jujur akan mudah sekali melakukan mark up atau sasaran ke atas dan korupsi atas dana program/kebijakan dan program tidak dapat optimal dalam mencapai tujuannya. Begitupun ketika watak dari implementor kurang demokratis dan sangat mempengaruhi proses komunikasi dengan kelompok sasaran.

Usaha Perhotelan

Pariwisata menjadi sebuah sektor yang potensial untuk dikembangkan dan berperan dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Sektor pariwisata mampu memberikan dampak positif terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat seperti dikemukakan oleh Muljadi (2012), yaitu memberikan sumbangan terhadap penerimaan devisa, penciptaan lapangan kerja, memperluas kesempatan berusaha di sektor formal dan informal, peningkatan pendapatan pemerintah pusat dan daerah melaluiberbagai pajak dan retribusi, peningkatan pendapatan masyarakat, dan pemerataan pembangunan.

Kartajaya dan Sapta (2013) dalam bukunya Tourism Marketing memaparkan bahwa pariwisata di Indonesia sedang dalam fase berkembang dan memiliki potensi pertumbuhan yang masih terbuka lebar, mengingat masih banyak sumber daya di Indonesia yang belum maksimal dimanfaatkan.

(6)

No. 53/2013). Usaha perhotelan merupakan bagian dari usaha pariwisata yang tidak dapat dipisahkan. Akomodasi merupakan salah satu sarana pokok kepariwisataan.

Pada saat ini kebutuhan jasa perhotelan sangat banyak peminatnya sehingga pihak pengusaha perhotelan memandang hotel bukan saja sebagai suatu tempat untuk menginap tetapi lebih dari itu. Hotel dapat digunakan sebagai tempat transaksi bisnis, tempat jamuan makan untuk tamu dan relasi-relasi bisnis, atau juga sebagai tempat diadakannya acara-acara khusus. Pada intinya hotel bertujuan menyediakan tempat untuk sementara waktu dengan memberikan pelayanan kepada konsumennya dengan harapan para tamu menjadi puas (Yoeti, 2004).

Untuk dapat memberikan informasi kepada para wisatawan/tamu yang akan menginap di hotel melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengeluarkan suatu peraturan tentang klasifikasi hotel yang didasarkan pada :

1. Produk 2. Pelayanan 3. Pengelolaan

Dengan peraturan tersebut maka terdapat klasifikasi hotel berbintang (hotel bintang satu sampai bintang lima) dan hotel nonbintang.

Tanda Daftar Usaha Pariwisata

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa perizinan adalah segala bentuk persetujuan yang dikeluarkan pemerintah yang memiliki kewenangan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Dan perizinan bidang kepariwisataan adalah Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP). Tanda Daftar Usaha Pariwisata tersebut bertujuan untuk menjamin kepastian hukum dalam menjalankan usaha pariwisata bagi pengusaha dan dalam upaya menyediakan sumber informasi bagi semua pihak yang berkepentingan.

Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2012 Tentang Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) di Kota Padang dalam pasal 1 ayat 56 dijelaskan bahwa TDUP adalah dokumen resmi yang membuktikan bahwa usaha pariwisata yang dilakukan pengusaha telah tercantum di dalam Daftar Usaha Pariwisata. Pada pasal 5 dijelaskan bahwa Tanda daftar Usaha Pariwisata menjadi dasar hukum penyelenggaraan usaha pariwisata.

Pasal 1 ayat 56 dijelaskan bahwa TDUP adalah dokumen resmi yang membuktikan bahwa usaha pariwisata yang dilakukan pengusaha telah tercantum di dalam Daftar Usaha Pariwisata. Pada pasal 5 dijelaskan bahwa Tanda daftar Usaha Pariwisata menjadi dasar hukum penyelenggaraan usaha pariwisata.

Pada pasal 20 dijelaskan mengenai persyaratan izin TDUP usaha penyediaan akomodasi: a. fotokopi akta pendirian badan usaha yang mencantumkan usaha penyediaan

akomodasi sebagai maksud dan tujuannya serta perubahannya jika ada, untuk pengusaha yang berbentuk badan usaha, atau fotokopi kartu tanda penduduk untuk pengusaha perseorangan;

b. fotokopi izin teknis dan dokumen lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

c. keterangan tertulis pengusaha tentang perkiraan kapasitas penyediaan akomodasi yang dinyatakan dalam jumlah kamar; dan

d. keterangan tertulis pengusaha tentang fasilitas yang tersedia.

(7)

1. AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan )

2. UKL dan UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup) dan (Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup)

3. SPPL (Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan)

Pasal 20 huruf (c) dan (d) dijelaskan keterangan tertulis pengusaha tentang perkiraan kapasitas penyediaan akomodasi yang dinyatakan dalam jumlah kamar; dan keterangan tertulis pengusaha tentang fasilitas yang tersedia sebagai salah satu persyaratan TDUP usaha hotel. Semua persyaratan diatas ditulis oleh pemohon izin dalam sebuah formulir yang telah disediakan oleh DPMPTSP Kota Padang.

Pada pasal 21 dijelaskan lagi yaitu;

1) Pengusaha jenis Usaha Penyediaan Akomodasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (1) huruf a dan ayat (3) huruf a berbentuk badan usaha Indonesia berbadan hukum.

C. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Fokus penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi kebijakan TDUP studi pada usaha hotel di Kota Padang. Dalam mengumpulkan data dilakukan observasi, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Terdapat sumber data primer dan sumber data sekunder yang digunakan. Teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah informan sebanyak 12 orang. Informan terdiri dari pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), pengusaha hotel dan pakar/ahli. Untuk menguji keakuratan data yang diperoleh, penulis menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode (Sugiyono, 2011). Setelah data terkumpul, penulis melakukan teknik analisis data dengan menelaah seluruh data, mereduksi data, penyusunan dan pemeriksaan keabsahan data, dan terakhir tahap penafsiran data (Moleong, 2007).

D. Hasil Penelitian

Implementasi Kebijakan TDUP di Kota Padang ditinjau dari empat variabel yang dikemukakan oleh Edwards III yaitu (1) komunikasi, (2) sumber daya, (3) disposisi, (4) struktur birokrasi. Berikut ini pembahasan dari masing-masing variabel tersebut:

Komunikasi

Yaitu menunjuk bahwa setiap kebijakan akan dilaksanakan dengan baik jika terjadi komunikasi efektif antara pelaksana program (kebijakan) dengan para kelompok sasaran

(8)

hotel juga belum benar-benar sadar hukum dengan pentingnya suatu legalitas izin usaha pariwisata.

Sosialiasi tentang TDUP Di Kota Padang telah dilaksanakan, tetapi hanya dilaksanakan sekali pada tahun 2015 oleh DPMTPSP di aula Rumah Sakit Siti Hawa Padang dan setelah itu pada tahun selanjutnya belum pernah diadakan lagi. Kemudian Disparbud juga melakukan sosialisasi sekali pada tahun 2016 dan untuk tahun 2017 tidak ada karena kegiatan tersebut tidak didukung anggaran yang cukup oleh pemerintah daerah. Lemahnya sosialiasi dari dinas terkait menyebabkan komunikasi yang tercipta antara pemerintah dengan pengusaha tidak berjalan dengan baik.

Pemahaman pegawai mengenai kebijakan TDUP tersebut juga masih kurang, karena masih ada beberapa petugas dari dinas terkait yang belum mengetahui SOP dan persyaratannya. Komunikasi dan koordinasi antara Disparbud, DPMPTSP, dan Satpol PP Kota Padang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan pada kebijakan. Terlebih antara Satpol PP dan Disparbud dalam segi komunikasi ini agak terputus. Masing-masing OPD bekerja sendiri, padahal koordinasi dibutuhkan untuk mempermudah dan mengefektifkan implementasi.

Komunikasi bisa berjalan baik jika antar implementor dan target dari kebijakan dapat berjalan efektif dan pemahaman pegawai mengenai TDUP harusnya juga baik untuk menghindari kekeliruan dalam pelaksanannya. Namun yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan yang diharapkan baik oleh ketentuan kebijakan maupun ditinjau dari variabel komunikasinya. Berdasarkan hal tersebut dapat dipahami bahwa pelaksanaan kebijakan TDUP di Kota Padang ditinjau dari variabel komunikasi belum terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana dan tujuan yang diharapkan sehingga masih banyak ditemukan hotel yang tidak memiliki TDUP dan melakukan pelanggaran.

Sumber daya

Yaitu menunjuk setiap kebijakan harus didukung oleh sumber daya yang memadai, baik sumber daya manusia maupun sumber daya financial. Sumber daya manusia adalah kecukupan baik kualitas maupun kuantitas implementor yang dapat melingkupi seluruh kelompok sasaran. Sumber daya financial adalah kecukupan modal investasi atas sebuah program atau kebijakan. Keduanya harus diperhatikan dalam implementasi program atau kebijakan pemerintah.

Disparbud hanya memiliki 3 orang pejabat struktural dan 2 orang staf dalam melaksanakan kebijakan tersebut. Jumlah ini tidak cukup untuk menjalankan kebijakan tersebut mengingat pertumbuhan hotel di Kota Padang yang terus meningkat. Begitupun sumber daya manusia pada DPMPTSP masih dalam level yang menengah. Karena masih sedikit pegawai yang memiliki sertifikasi di bidang perizinan. Seharusnya dalam perizinan harus dilayani oleh pegawai yang memiliki sertifikasi. Tidak adanya anggaran mengirim utusan untuk melakukan pelatihan menyebabkan sampai saat ini hanya 11 orang saja dari 62 orang pegawai DPMPTPSP yang baru memiliki sertifikasi bidang perizinan.

Satpol PP Kota juga tidak memiliki sumber daya manusia yang cukup dalam melaksanakan kebijakan tersebut. Hanya terdapat 457 orang pegawai Satpol PP untuk menegakkan peraturan daerah di Kota Padang yang memiliki jumlah penduduk 914.968 jiwa saat ini. Ini masih jauh dari jumlah personil yang sesuai dengan Permendagri 60 tahun 2012 tentang Pedoman Penetapan Jumlah Polisi Pamong Praja.

(9)

menyebabkan implementasi kebijakan TDUP tidak berjalan dengan baik. Hal ini menyebabkan sosialisasi, survey lapangan, dan kegiatan pengawasan tidak berjalan dengan baik. Sehingga masih ditemukan hotel yang beroperasi tanpa legalitas yang sah, dan beberapa melanggar peraturan tersebut.

Disposisi/sikap

Yaitu menunjuk karakteristik yang menempel erat kepada implementor kebijakan atau program. Karakter yang penting dimiliki oleh implementor adalah kejujuran, komitmen dan demokratis. Implementor yang memiliki komitmen tinggi dan jujur akan senantiasa bertahan diantara hambatan yang ditemui dalam program atau kebijakan.

Sikap implementor dalam melaksanakan kebijakan ini masih belum sesuai dengan yang diharapkan kebijakan. Dalam memeriksa kelengkapan persyaratan contohnya kadang-kadang ada syarat yang belum lengkap tapi masih diberikan kelonggaran. Petugas tidak tegas bersikap dalam menegakkan aturan tersebut. Disiplin dan mental mental dinilai masih kurang. Setelah apel pagi biasanya mereka langsung mengurusi urusan masing-masing yang lain. Teguran dari atasan dibiarkan saja tanpa memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan.

Petugas pelaksana di lapangan juga terkadang masih belum sesuai dengan yang diharapkan dalam kebijakan. Ini disebabkan karena kualitas pendidikan petugas yang belum mumpuni untuk melakukan tugas dan masih lemahnya pengetahuan petugas tentang kebijakan tersebut.

Disiplin pegawai seperti grafik yang turun naik, kadang bagus kadang turun. Padahal untuk menunjang disiplin dan kesejahteraan pegawai sudah ada TPP (Tunjangan Perbaikan Penghasilan), SPPD dan lain lain. Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kebijakan TDUP di Kota Padang dari variabel disposisi belum terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana dan tujuan yang diharapakan terutama pada sikap perilaku implementor dalam melaksanakan kebijakan TDUP sehingga masih banyak hotel yang belum terdaftar memiliki izin usaha dan melakukan pelanggaran.

Struktur birokrasi

Menunjuk bahwa struktur birokrasi menjadi penting dalam implementasi kebijakan. Aspek struktur birokrasi ini mencakup dua hal penting pertama adalah mekanisme dan struktur organisasi pelaksana sendiri. Mekanisme implementasi program biasanya sudah ditetapkan melalui standar operating procedure (SOP) yang dicantumkan dalam guideline program atau kebijakan. SOP yang baik mencantumkan kerangka kerja yang jelas, sistematis, tidak berbelit dan mudah dipahami oleh siapapun karena akan menjadi acuan dalam bekerjanya implementor. Sedangkan struktur organisasi pelaksanaan pun sejauh mungkin menghindari hal yang berbelit, panjang dan kompleks.

Struktur organisasi pelaksana harus dapat menjamin adanya pengambilan keputusan atas kejadian luar biasa dalam program secara cepat. Dapat disimpulkan bahwa mekanisme implementasi program biasanya sudah ditetapkan melalui standard operating procedure

(SOP) yang dicantumkan dalam guideline program atau kebijakan. Sinergitas antar

stakeholder pelaksana kebijakan sangat diperlukan dalam menjalankan dan mendukung suatu kebijakan pemerintah.

(10)

Dinas terkait lain juga mengalami keterbatasan jumlah personil dan pejabat struktural di instansi masing-masing. Tentunya kekurangan secara struktural tersebut menghambat pelakasanaan kebijakan secara optimal. Pengawasan sewaktu-waktu tidak rutin dilakukan oleh Disparbud dan tidak adanya tim pengawas pendaftaran usaha pariwisata sesuai dengan ketentuan di dalam kebijakan TDUP. Tidak ada koordinasi antara OPD teknis dengan Satpol PP sebagai penegak peraturan daerah di Kota Padang. Selama ini karena koordinasi terputus berdampak pada tidak terlaksananya kebijakan TDUP dengan baik. Sehingga sampai saat ini masih ada hotel yang belum memiliki izin, dan melanggar ketentuan yang terdapat pada izin tersebut namun tidak diberikan sanksi yang tegas.

E. Kesimpulan

Implementasi kebijakan TDUP studi pada usaha hotel di Kota Padang belum berjalan dengan baik dan menghadapi banyak kendala dilihat dari empat variabel yaitu pertama komunikasi, selama ini komunikasi yang diciptakan dan terjalin selama kebijakan TDUP dilaksanakan masih belum maksimal, ada beberapa pegawai yang tidak mengetahui tentang TDUP dan koordinasi antar OPD terkait yang sering terputus. Sosialisasi jarang sekali dilakukan terhitung hanya satu kali semenjak kebijakan dibuat. Sehingga pengusaha hotel banyak yang tidak mengetahui tentang TDUP. Kedua sumber daya, kurangnya sumber daya pada pelaksanaan kebijakan tersebut baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Disparbud hanya memiliki 3 orang pegawai struktural dalam melaksanakan kebijakan, dan dari 62 pegawai pada DPMPTSP hanya 11 orang saja yang sudah memiliki sertifikasi bidang perizinan, sementara Satpol PP juga mengalami kekurangan personil dalam menegakkan peraturan TDUP tersebut. Kekurangan anggaran juga menjadi faktor penghambat tercapainya implementasi dengan baik. Ketiga Disposisi, sikap implementor yang tidak tegas dalam menjalankan ketentuan dengan memberikan kelonggaran kepada pengusaha yang tidak melengkapi sebagian persyaratannya, dan sikap Satpol PP sebagai penegak peraturan daerah yang belum sepenuhnya memahami dikarenakan kualifikasi pendidikan yang belum mumpuni. Disiplin dan mental pegawai yang masih turun naik menjadi penyebab implementasi kebijakan TDUP di Kota Padang tidak berjalan dengan baik. Keempat struktur birokrasi, sebagai OPD teknis utama Disparbud tidak memiliki SOP dalam melaksanakan kebijakan TDUP. Pengawasan tidak rutin dilaksanakan dan tidak adanya Tim Pengawas Pendaftaran Usaha Pariwisata sesuai ketentuan. Koordinasi yang terputus-putus antar OPD terkait yaitu Disparbud, DPMPTSP dan Satpol PP.

F. Rekomendasi

Dinas terkait mampu memiliki sistem dan database keseluruhan usaha pariwisata hotel di kota Padang. Supaya kegiatan pengawasan dan pembinaan terhadap izin usaha hotel bisa berjalan efektif dan efisien dan juga perlunya secara rutin untuk meng-up date data/informasi tentang perizinan usaha hotel di Kota Padang yang disajikan baik dalam bentuk leaflet/brosur maupun website Dinas terkait. Hal tersebut dilakukan agar pengusaha hotel di Kota Padang memiliki pengetahuan tentang kebijakan TDUP tersebut dan semua usaha hotel sesuai dengan standar dan memiliki izin.

(11)

belakangan ini, tidak hanya usaha besar namun juga banyak usaha hotel nonbintang membutuhkan standar dan pedoman yang lebih terstruktur dan mampu menjawab permasalahan yang ada selama ini.

G. Rujukan

Agustino, Leo. 2008. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.

A. J, Muljadi. 2012. Kepariwisataan dan Perjalanan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. A Yoeti, Oka. 2004. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Penerbit Angkasa.

Edwards III, G. Charles. 1980. Implementing Public Policy. New York: Congressional Quarterly Press.

Indiahono, Dwiyanto. 2009. Kebijakan publik (Berbasis Dynamic Policy Analysis).

Yogyakarta: Gava Media.

Moleong, Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Roselakarya. Nomensen, Sinamo. 2009. Hukum Administrasi Negara. Jakarta: Jala Permata Aksarsa. Subarsono, A. G. 2009. Analisis Kebijakan Publik Konsep, Teori dan Aplikasi.Yogyakarta :

Pustaka Pelajar.

Sugiama. 2011. Ecotourism: Pengembangan Pariwisata Berbasis Konservasi Alam. Bandung: Guardaya Intimarta.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Winarsih, Atik Septi dan Ratminto. 2012. Manajemen Pelayanan. Yogyakarta : Pustaka

Figur

Tabel 1. Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dari Sektor Pariwisata Tahun 2011-2015 PERSENTASE

Tabel 1.

Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dari Sektor Pariwisata Tahun 2011-2015 PERSENTASE p.2

Referensi

Memperbarui...