• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan( Study Implementasi Penyelenggaraan Pengelolaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kebijakan( Study Implementasi Penyelenggaraan Pengelolaan"

Copied!
155
0
0

Teks penuh

(1)

Kebijakan

(StudyImplementasi Penyelenggaraa Peraturan Daerah Kota

Untuk Melengkapi

Memperoleh

FAKULTAS I

UNIVERSITAS

Kebijakan Tentang Pengelolaan Sampah

Implementasi Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah Berdasarkan

ran Daerah Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2010)

Oleh :

Putra Tri Hidayat

D0108093

SKRIPSI

Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Jurusan Ilmu Administrasi

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

erdasarkan

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sampah merupakan masalah serius yang dihadapi oleh kota-kota di

Indonesia. Di berbagai sudut kota, terutama di dekat pasar, sampah yang

menumpuk dan berbau merupakan pemandangan yang biasa ditemui setiap

hari. Permasalahan sampah dikawasan perkotaan disebabkan beberapa

parameter yang saling berkaitan, yaitu pertumbuhan penduduk, pertumbuhan

ekonomi, kesejahteraan, pola konsumsi masyarakat, pola keamanan dan

perilaku penduduk, aktivitas fungsi kota, kepadatan penduduk dan bangunan,

serta kompleksitas problem transportasi. Semua parameter yang disebutkan

tersebut saling berinteraksi, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan

hidup yang sangat signifikan. Maka dari itu sampah merupakan salah satu

masalah lingkungan yang perlu mendapat perhatian.

Permasalahan sampah tersebut semakin kompleks dalam kaitannya

dengan penyelenggaraan pengelolaannya, karena kuantitasnya semakin

meningkat, semakin bervariasi jenis komposisinya, keterbatasan sumber dana

bagi pelayanan umum, dampak perkembangan ekonomi dan juga semakin

tingginya aktivitas-aktivitas sumber potensial adanya sampah. Kehadiran

sampah merupakan hal yang tidak diinginkan dan dapat menimbulkan

pencemaran apabila daya asimilasi alam tidak mampu lagi mendukungnya.

(3)

sampah tersebut dapat hidup berbagai organisme penyebab penyakit baik

secara langsung maupun tidak langsung. Penyakit-penyakit terbut seperti

tyhpus abdominalis, diare, dengue haemorhagic fever. Selain dapat menyebabkan penyakit, dari segi estetika sampah akan menjadi hal terburuk

yang merusak pemandangan serta menimbulkan bau tidak sedap yang akan

menjadi tolak ukur identitas kota dalam segala aspek.

Permasalahan penyelenggaraan pengelolaan sampah juga terjadi di

Kota Surakarta. Kota ini merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang

cukup berkembang. Laju perkembangan kawasan perkotaan Surakarta telah

melampaui batas administrasi Kota Surakarta. Terlihat dari peningkatan

jumlah penduduk Kota Surakarta yang bermukim tiap tahunnya yaitu pada

tahun 2000 berjumlah 490.214 jiwa dan meningkat pada tahun 2010 menjadi

528.202 jiwa (BPS Surakarta Tahun 2010). Peningkatan jumlah penduduk

akan memicu meningkatnya kegiatan jasa, industri, bisnis dan sebagainya di

wilayah Surakarta sehingga akan memicu meningkatnya produksi limbah

buangan atau sampah. Sampah merupakan suatu masalah yang sangat

mendasar dalam kota besar khususnya di Kota Surakarta. Secara faktual,

peningkatan jumlah sampah di Kota Surakarta mengalami kenaikan yang

cukup signifikan, dimana pada tahun 2002 dengan jumlah sampah sebesar

72.396.290 ton/tahun dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 88.012.450

ton/tahun. (DKP Kota Surakarta tahun 2011).

Sampah yang dihasilkan di Kota Surakarta saat ini rata-rata sebanyak

(4)

ton/hari, pasar 25 ton/hari dan lain-lain 15 ton/hari (industri/kantor/jalan).

Sedangkan perkiraan timbulan sampah total di Kota Surakarta sebesar

1.802,54 m3. Namun Kota Surakarta baru dapat mengelola sebanyak 790 m3.

Sehingga banyaknya sampah yang belum terlayani adalah 1.012,54 m3 atau

56%. (Hasil Analisa DKP Kota Surakarta tahun 2010). Jumlah ini cukup

besar, masih banyak terjadi ilegal dumping atau dibakar sendiri oleh penduduk. Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surakarta perlu bekerja

keras untuk dapat melayani kebutuhan penduduk akan penanganan masalah

sampah.

Banyak permasalah sampah yang dihadapi Pemkot Surakarta antara

lain, masih adanya penolakan keberadaan TPS - TPS oleh masyarakat karena

dianggap mengganggu lingkungan. Ditengah-tengah penolakan TPS - TPS

oleh masyarakat, volume sampah terus meningkat sehingga tidak tertampung

di TPS - TPS. Belum lagi ditambah adanya perilaku masyarakat membuang

sampah tidak pada tempat yang benar masih banyak. Selain itu, petugas

pengangkut sampah dari rumah tangga tidak secara rutin bisa mengambil

sampah. Pengambilan sampah masih menggunakan gerobak tarik yang sangat

tergantung pada kondisi fisik penarik dan cuaca, selain itu tidak setiap hari

diambil karena pengambilan juga berpatokan pada hari libur.

Kota Surakarta memiliki daya tampung tempat pembuangan akhir

yang sudah mengkhawatirkan (dipakai mulai tahun 1985). Jika hal ini

dilanjutkan akan menimbulkan pencemaran udara dan pencemaran air tanah

(5)

Selain itu rendahnya dukungan dana operasional atau pemeliharaan

sarana-prasarana persampahan kota dan penyediaan sarana untuk areal publik seperti

tong sampah di jalan, TPS – TPS/ kontainer sudah tidak memadai lagi baik

dari sisi kualitas, kuantitas maupun desain atau modelnya menjadi

permasalahan yang juga belum dapat diselesaikan. Secara khusus Kota

Surakarta juga belum mempunyai Standar Pelayanan Minimum tentang

pengelolaan persampahan. Hal ini menyulitkan pihak penanggungjawab

pengelola sampah untuk dalam menjalankan tugasnya.

Begitu banyak sekali permasalahan dalam penyelenggaraan

pengelolaan sampah di Kota Surakarta, hal ini membuat Pemerintah Kota

Surakarta membuat sebuah kebijakan yang mengatur tentang permasalahan

pengelolan sampah. Kebijakan ini berupa peraturan daerah namanya adalah

Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 tahun 2010 tentang pengelolaan

sampah, yang mana telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kota Surakarta

sejak tanggal 25 Juni 2010. Adanya peraturan daerah ini diharapkan mampu

mengatasi banyaknya permasalahan sampah yang terjadi di Kota Surakarta.

Usaha pemerintah seharusnya tidak cukup sampai disini, namun juga

disertai dengan tindakan konkrit untuk melaksanakan ketetapan dari

kebijakan yang telah dibuat. Karena pada hakikatnya sebuah kebijakan

mempunyai pengertian mengenai apa yang seharusnya dilakukan

(pemerintah), ketimbang apa yang diusulkan dalam tindakan mengenai suatu

persoalan tertentu. Tanpa adanya tahap pelaksanaan kebijakan,

(6)

para pembuat kebijakan. Dalam tahap pelaksanaan kebijakan, pemerintah

juga dituntut bekerja secara efektif. Dikatakan efektif ketika apa yang

dilakukan oleh pemerintah telah berhasil sesuai dengan tujuan kebijakan yang

telah dibuat.

Berdasarkan uraian di atas mengenai permasalahan penyelenggaraan

pengelolaan sampah yang terjadi di Kota Surakarta, dan adanya upaya

pemerintah Kota Surakarta untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui

sebuah kebijakan (Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 tahun 2010

tentang pengelolaan sampah). Maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “Kebijakan tentang Pengelolaan Sampah (Study

Implementasi Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah berdasarkan Peraturan

Daerah Kota Surakarta Nomor 3 tahun 2010)”.

B. Rumusan Masalah

Perumusan masalah dimaksudkan untuk lebih menegaskan

masalah-masalah yang akan diteliti sehingga dapat ditentukan pemecahan masalah-masalah

yang tepat dan mencapai tujuan penelitian. Berdasarkan hal tersebut,

perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana implementasi penyelenggaraan pengelolaan sampah

berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 tahun 2010 ?

2. Bagaimana identifikasi masalah terhadap faktor-faktor pendukung maupun

(7)

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan agar penelitian tersebut dapat

memberikan manfaat sesuai yang dikehendaki. Adapun tujuan penelitian ini

adalah :

1. Untuk mengetahui proses implementasi penyelenggaraan pengelolaan

sampah berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 tahun

2010.

2. Mengidentifikasi faktor-faktor apa yang menjadi pendukung maupun

penghambat dalam implementasi penyelenggaraan pengelolaan sampah

berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 tahun 2010.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya adalah :

1. Bagi Penulis

Penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman penulis

terhadap pelaksanaan kebijakan pemerintah khususnya dalam bidang

lingkungan hidup yaitu pengelolaan sampah untuk meningkatkan

kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan dan menjadikan sampah

(8)

2. Bagi Pemerintah

Hasil penelitian ini bermanfaat untuk memberikan gambaran sekaligus

masukan bagi pihak pemerintah tentang pelaksanaan kebijakan

pengelolaan sampah di Kota Surakarta.

3. Bagi Pengembangan Ilmu

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah wacana

kepustakaan yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan pengelolaan

(9)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka merupakan bagian dari penelitian yang khusus

menjelaskan mengenai definisi-definisi konsep atau variabel yang dipakai peneliti

dalam mengkaji suatu penelitian. Serta juga menjelaskan mengenai bagaimana

konsep-konsep atau variabel-variabel berinteraksi. Tinjauan pustaka atau bisa juga

disebut tinjauan literatur disebut sebagai penjelasan rasional dan logis yang

diberikan oleh seorang peneliti terhadap pokok atau objek penelitiannya. Secara

berturut-turut, konsep penelitian yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah

implementasi kebijakan publik, pengertian sampah dan penyelenggaraan

pengelolaan sampah.

A. Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan menunjuk aktivitas menjalankan kebijakan

dalam ranah senyatanya, baik yang dilakukan oleh organ pemerintah maupun

para pihak yang telah ditentukan dalam kebijakan. Implementasi kebijakan

sendiri biasanya ada yang disebut sebagai pihak implementor, dan kelompok

sasaran. Implementor kebijakan adalah mereka yang secara resmi diakui

sebagai individu/ lembaga yang bertanggungjawab atas pelaksanaan program

di lapangan. Kelompok sasaran adalah menunjuk para pihak yang dijadikan

(10)

Definisi implementasi secara eksplisit mencakup tindakan oleh

individu atau kelompok privat (swasta) dan publik yang langsung pada

pencapaian serangkaian tujuan terus menerus dalam keputusan kebijakan

yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal ini meliputi usaha antar usaha

mentransformasi keputusan ke dalam tindakan operasional, berusaha

mencapai perubahan besar dan kecil sebagaimana yang dimandatkan oleh

keputusan kebijakan (Ekowati, 2009: 44).

Ripley dan Franklin dalam Winarno (2008: 145) berpendapat bahwa

implementasi adalah apa yang terjadi setelah undang - undang ditetapkan

yang memberikan otoritas program, kebijakan,keuntungan (benefit), atau

suatu jenis keluaran yang nyata (tangible output). Istilah implementasi

menunjuk pada sejumlah kegiatan yang mengikuti pernyataan maksud

tentang tujuan-tujuan program dan hasil-hasil yang diinginkan oleh para

pejabat pemerintah. Implementasi mencakup tindakan-tindakan (tanpa

tindakan-tindakan) oleh berbagai aktor, khususnya para birokrat, yang

dimaksudkan untuk membuat program berjalan.

Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier dalam Wahab (2010: 65)

menjelaskan makna implementasi adalah memahami apa yang senyatanya

terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan

merupakan fokus perhatian implementasi kebijaksanaan, yakni

kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disahkannya

(11)

mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata

pada masyarakat atau kejadian-kejadian.

Sementara itu, Grindle dalam Winarno (2008: 146) memberikan

pandangannya tentang implementasi dengan mengatakan :

“Secara umum, tugas implementasi adalah membentuk suatu kaitan (linkage) yang memudahkan tujuan-tujuan kebijakan bisa direalisasikan sebagai dampak dari suatu kegiatan pemerintah. Oleh karena itu, tugas implementasi mencakup terbentuknya “a policy dilivery system,” dimana sarana-sarana tertentu dirancang dan dijalankan dengan harapan sampai pada tujuan-tujuan yang diinginkan.”

Dalam Int. J. Health Policy Initiative 2009 Copyright “Policy Implementation Barriers Analysis: Conceptual Framework and Pilot Test in Three Countries”, Kai Spratt mengemukakan bahwa:

“Successful policy or program implementation requires that those involved have sufficient information. Information includes technical knowledge of the matter at hand and levels and patterns of communication between actors. For example, do those responsible for implementation actually know with whom they should be working and who the policy is supposed to benefit (target groups)? Do they know, for instance, which department is assigned to lead the implementation and how the program will be monitored? Do they know the culture and processes of other organizations in their network? Have guidelines and protocols been developed, and are they readilyavailable? How is information and communication between actors coordinated? Do beneficiaries have sufficient and appropriate information to benefit from the program?” (Kesuksesan kebijakan atau implementasi program memerlukan keterlibatan informasi yang cukup. Informasi meliputi pengetahuan teknis menyangkut perilaku dan tingkat komunikasi antar para aktor. Sebagai contoh, melakukan tanggung jawab untuk implementasi yang benar-benar mengetahui dengan siapa mereka harus bekerja dan kebijakansiapa yang kira-kira bermanfaat ( kelompok target)? Apakah mereka mengetahui, sebagai contoh, departemen mana yang ditugaskan untukmemimpin implementasi dan bagaimana program akan dimonitor? Apakah mereka mengetahui proses dan kultur dari organisasi lain dalam jaringan mereka? Sudahkah protokol dan petunjuk dikembangkan, dan apakah mereka bersedia? Bagaimana mengkoordinir komunikasi dan informasi antar para aktor? Apakah mereka mempunyai informasi sesuai dan cukup bermanfaat bagi program?).

(12)

Van Meter dan Van Horn dalam Winarno (2008: 146-147) membatasi

implementasi kebijakan sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh

individu-individu (atau kelompok-kelompok) pemerintahan maupun swasta

yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam

keputusan-keputusan kebijakan sebelumnya.Tindakan-tindakan ini mencakup

usaha-usaha untuk mengubah keputusan-keputusan menjadi

tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka

melanjutkan usaha-usaha untuk pencapaian perubahan-perubahan besar dan

kecil yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan.

Bhuyan, Jorgensen A., and Sharma S. dalam International Journal Health Policy Initiative 2010 Copyright “Taking the Pulse of Policy: The Policy Implementation Assessment Tool”mengemukakan :

“A supportive policy environment is the foundation on which to scale up effective, sustainable health programs. Policies help determine guidelines, systems, and relationships that govern service delivery. Yet, even the best policies can encounter implementation challenges. Moreover, operational barriers to programs can often be alleviated with appropriate policy solutions and reforms. Attention to policy issues should not end with the creation of the policy, which is, in fact, only the beginning of the policy-to-action continuum.” (Implementasi adalah proses pelaksanaan dan mencapai sebuah kebijakan. Ini terdengar cukup mudah, namun implementasi kebijakan bisa sangat kompleks. Lebih khusus, implementasi kebijakan adalah himpunan kegiatan dan pengerjaan yang dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan merupakan sebuah kebijakan resmi).

(http://www.healthpolicyinitiative.com/Publications/Documents/1155_1_PIA T_Paper_Taking_the_Pulse_of_Policy_acc.pdf)

Para ahli pada umumnya memandang implementasi kebijakan publik

sebagai suatu yang sulit dilakukan, walaupun banyak pihak menganggap

(13)

baik, namun tidak terimplementasi dengan hasil maksimal. Dengan mengutip

Edwards (dalam Winarno, 2008: 174) mengatakan bahwa :

“Studi implementasi kebijakan adalah krusial bagi public administrationdan public policy”.

Menurut Solichin Abdul Wahab (2010: 102-106) dalam bukunya

Analisis Kebijaksanaan dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara, menyatakan ada beberapa variable yang menjadi tahapan dalam proses imlementasi yaitu :

1. Output-output kebijaksanaan (keputusan-keputusan) dari badan-badan

pelaksana.

Tujuan-tujuan kebijakan harus diterjemahkan/dijabarkan ke dalam

peraturan-peraturan khusus, prosedur-prosedur pelaksanaan yang baku

untuk memproses kasus-kasus tertentu, keputusan-keputusan khusus yang

menyangkut penyelesaian sengketadan pelaksanaan mengenai

keputusan-keputusan mengenai penyelesaian sengketa itu. Proses ini biasanya

membutuhkan usaha-usaha tertentu pada pihak para pejabat di satu atau

lebih badan-badan pelaksana untuk mempersiapkan analisis teknis

mengenai cara bagaimana aturan-aturan umum dapat diterapkan secara

berhasil pada situasi yang lebih konkrit.

Kesejajaran keputusan-keputusan kebijaksanaan dengan

tujuan-tujuan progam juga tergantung padakemampuan kelompok-kelompok

masyarakat dan lembaga-lembaga legislatif serta eksekutif atasan yang

mendukung program untuk campur tangan secara aktif dalam proses

(14)

badan-badan pelaksana dan untuk menghadapi penolakan/ perlawanan dari

kelompok-kelompok sasaran.

2. Kepatuhan kelompok-kelompok sasaran terhadap keputusan tersebut.

Dalam prakteknya perilaku patuh berhubungan dengan penilaian individu

mengenai untung ruginya kalau mereka mengikuti ketentuan-ketentuan

kebijakan/ peraturan. Peluang bahwa adanya sanksi-sanksi tertentu akan

diikuti oleh timbulnya ketidakpatuhan/ pelanggaran dipengaruhi oleh

macam dan besarnya sanksi yang disediakan oleh kebijakan/ peraturan.

3. Dampak nyata keputusan-keputusan badan-badan pelaksana.

Suatu kebijakan/ peraturan akan berhasil mencapai dampak yang

diinginkan apabila :

a. Output-output kebijaksanaan badan-badan pelaksana sejalan dengan

tujuan-tujuan formal undang-undang;

b. Kelompok-kelompok sasaran benar-benar patuh terhadap

output-output kebijaksanaan tersebut;

c. Tidak ada penggrogotan terhadap output-output kebijaksanaan tersebut

atau terhadap dampak kebijaksanaan sebagai akibat adanya

peraturan-peraturan yang saling bertentangan;

d. Kebijakan/ peraturan tersebut memuat teori kasualitas yang andal

mengenai hubungan antara perubahan perilaku pada kelompok sasaran

(15)

Menurut Anderson (1979: 68) ada 4 aspek yang perlu dikaji dalam

implementasi kebijakan yaitu :

1. Siapa yang mengimplementasikan

2. Hakikat dari proses administrasi

3. Kepatuhan dan

4. Dampak dari pelaksanaan kebijakan.

Sementara itu menurut Ripley dan Franklin (1986: 54) ada dua hal

yang menjadi fokus perhatian dalam peneletian implementasi yaitu kepatuhan

dan what’s happening? (apa yang terjadi). Kepatuhan menunjuk pada apakah

para implementator jatuh terhadap prosedur atau standard aturan yang

ditetapkan. Sementara untuk what’s happening mempertanyakan bagaimana proses implementasi itu dilakukan, hambatan apa yang muncul, apa yang

berhasil dicapai, mengapa dan sebagainya.

Dari beberapa indikator yang telah disampaikan diatas, peneliti

mengambil indikator-indikator yang disampaikan oleh Anderson untuk

mendeskripsikan proses implementasi penyelenggaraan pengelolaan sampah

di Kota Surakarta. Hal ini dikarenakan keempat indikator yang disampaikan

Anderson (siapa yang mengimplementasikan, hakikat dari proses

administrasi, kepatuhan, dan dampak dari pelaksanaan kebijakan) dipandang

paling lengkap dan sesuai untuk menjawab permasalahan yang ada dalam

penelitian ini. Namun peneleti tidak menggunakan keempat indikator, peneliti

hanya mengambil indikator siapa yang mengimplementasikan, hakikat dari

(16)

pelaksanaan kebijakan tidak dipakai dalam penelitian ini dikarenakan

kebijakan pengelolaan sampah di Kota Surakarta ini terbilang baru. Adapun

indikator dampak melihat hasil nyata dari tujuan yang dimaksud dalam

peraturan daerah tersebut, untuk itu masih diperlukan proses dan waktu yang

lama untuk bisa mengetahui dampak dari kebijakan tersebut.

Disamping itu guna mengetahui faktor-faktor keberhasilan atau

kegagalan implementasi, beberapa ahli yang mendalami implementasi

kebijakan berupaya menjelaskan implementasi kebijakan dengan

mengemukakan beberapa model, sebagai berikut :

1. Model Van Meter dan Van Horn

Menurut Meter dan Horn dalam Indiahono (2009: 39-41) dalam bukunya

Kebijakan Publik Berbasis Dynamic Policy Analysis, menetapkan beberapa variabel yang diyakini dapat mempengaruhi implementasi dan

kinerja kebijakan. Beberapa variabel yang terdapat dalam Model Meter

dan Horn adalah sebagai berikut :

a. Standar dan sasaran kebijakan, standar dan sasaran kebijakan pada

dasarnya adalah apa yang hendak dicapai oleh program atau

kebijakan, baik yang berwujud maupun tidak, jangka pendek,

menengah atau panjang. Kejelasan dan sasaran kebijakan harus dapat

dilihat secara spesifik sehingga diakhir program dapat diketahui

keberhasilan atau kegagalan dari program yang dijalankan.

b. Kinerja kebijakan merupakan penilaian terhadap pencapaian standar

(17)

c. Sumber daya menunjuk kepada seberapa besar dukungan finansial dan

sumber daya manusia untuk melaksanakan program atau kebijakan.

Hal sulit yang terjadi adalah beberapa nilai sumber daya (baik

finansial maupun manusia) untuk menghasilkan implementasi

kebijakan dengan kinerja baik. Evaluasi program/ kebijakan seharsnya

dapat menjelaskan nilai yang efisien.

d. Komunikasi antar badan pelaksana, menunjuk kepada mekanisme

prosedur yang dicanangkan untuk mencapai sasaran dan tujuan

program. Komunikasi ini harus ditetapkan sebagai acuan.

e. Karakteristik badan pelaksana, menunjuk seberapa besar daya dukung

struktur organisasi, nilai-nilai yang berkembang, hubungan dan

komunikasi yang terjadi di internal birokrasi.

f. Lingkungan sosial, ekonomi dan politik menunjuk bahwa lingkungan

dalam ranah implementasi dapat mempengaruhi kesuksesan

implementasi kebijakan itu sendiri.

g. Sikap pelaksana, menunjuk bahwa sikap pelaksana menjadi variabel

penting dalam implementasi kebijakan. Seberapa demokratis, antusias

dan responsif terhadap kelompok sasaran dan lingkungan beberapa

(18)

Adapun model dari Van Metter dan Horn dapat dilihat sebagai berikut :

BaganII.1

Model Implementasi Van Metter dan Horn

2. Model Grindle

Menurut Grindle dalam Subarsono (2009: 93) dalam bukunya

Analisis Kebijakan Publik: Konsep, Teori dan Aplikasinya, menyatakan ada dua variabel besar yang berpengaruh terhadap keberhasilan

implementasi kebijakan yakni: Komunikasi Antar Organisasi dan Pelaksanaan

Kegiatan

Standar dan Sasaran

Karakteristik Badan Pelaksana

Sikap

Pelaksana

Kinerja

Kebijakan

Sumber

Daya

Lingkungan sosial, ekonomi

dan politik

(19)

a. Isi kebijakan (content of policy), mencakup :

1) Sejauh mana kepentingan kelompok sasaran atau target groups termuat dalam isi kebijakan.

2) Jenis manfaat yang diterima oleh target group, sebagai contoh, masyarakat di wilayah slum areaslebih suka menerima program air

bersih atau pelistikan daripada menerima program kredit sepeda

motor.

3) Sejauh mana perubahan yang diinginkan dari sebuah kebijakan.

Sebuah program yang bertujuan mengubah sikap dan perilaku

kelompok sasaran relatif lebih sulit diimplementasikan daripada

program yang sekedar memberikan bantuan kredit atau

memberikan bantuan beras kepada kelompok masyarakat miskin.

4) Apakah letak sebuah program sudah tepat.

5) Apakah sebuah kebijakan telah menyebutkan implementornya

dengan rinci.

6) Apakah sebuah program didukung oleh sumberdaya yang

memadai.

b. Sedangkan variabel lingkungan implementasi (contecxt of implementation), mencakup :

1) Seberapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang dimiliki

oleh para aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan.

2) Karakteristik institusi dan rejim yang sedang berkuasa.

(20)

BaganII.2

Model Implementasi Kebijakan Merilee S. Grindle

3. Model dari Mazmanian dan P. A. Sabatier

Menurut Mazmanian dan Sabatier dalam Winarno (2009: 94-99)

dalam bukunya Analisis Kebijakan Publik: Konsep, Teori dan Aplikasinya, menyatakan ada tiga kelompok variabel yang mempengaruhi

keberhasilan implementasi kebijakan, yakni :

a. Karakeristik masalah

1) Tingkat kesulitan teknis dari masalah yang bersangkutan. Di satu

pihak ada beberapa masalah sosial secara teknis mudah

dipecahkan, seperti kekurangan persediaan air minum bagi

penduduk atau harga beras yang tiba-tiba naik. Di pihak lain

terdapat masalah-masalah sosial yang relatif suli dipecahkan,

seperti kemiskinan, pengangguran, korupsi, dan sebagainya. Oleh

Tujuan yang

1. Kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor yang terlibat

(21)

karena itu, sifat masalah itu sendiri akan mempengaruhi mudah

tidaknya suatu program diimplementasikan.

2) Tingkat kemajemukan dari kelompok sasaran. Ini berarti bahwa

suatu program akan relatif mudah diimplementasikan apabila

kelompok sasarannya nadalah homogen. Sebaliknya, apabila

kelompok sasarannya heterogen, maka implementasi program akan

relatif lebih sulit, karena tingkat pemahaman setiap anggota

kelompok sasaran terhadap program relatif berbeda.

3) Proporsi kelompok sasaran terhadap total populasi. Sebuah

program akan relatif sulit diimplementasikan apabila sasarannya

mencakup semua populasi. Sebaliknya sebuah program relatif

mudah diimplementasikan apabila jumlah kelompok sasaranya

tidak terlalu besar.

4) Cakupan perubahan perilaku yang diharapkan. Sebuah program

yang bertujuan memberikan pengetahuan atau bersifat kognitif

akan relatif mudah diimplementasikan daripada program yang

bertujuan untuk mengubah sikap dan perilaku masyarakat.

b. Karakteristik kebijakan

1) Kejelasan isi kebijakan. Ini berarti semakin jelas dan rinci isi

sebuah kebijakan akan mudah diimplementasikan karena

implementor mudah memahami dan menterjemahkan dalam

tindakan nyata. Sebaliknya, ketidakjelasan isi kebijakan merupakan

(22)

2) Seberapa jauh kebijakan tersebut memiliki dukungan teoritis.

Kebijakan yang memiliki dasar teoritis memiliki sifat lebih mantap

karena sudah teruji, walaupun untuk beberapa lingkungan sosial

tertentu perlu ada modifikasi.

3) Besarnya alokasi sumberdaya finansial terhadap kebijakan tersebut.

Sumberdaya keuangan adalah faktor krusial untuk setiap program

sosial. Setiap program juga memerlukan dukungan staff untuk

melakukan pekerjaan-pekerjaan administrasi dan teknis, serta

memonitor program, yang semuanya itu perlu biaya.

4) Seberapa besar adanya keterpautan dan dukungan antar berbagai

institusi pelaksana. Kegagalan program sering disebabkan

kurangnya koordinasi vertikal dan horisontal antarinstasi yang

terlibat dalam implementasi program.

5) Kejelasan dan konsistensi aturan yang ada pada badan pelaksana.

6) Tingkat komitmen aparat terhadap tujuan kebijakan. Kasus korupsi

yang terjadi di negara-negara dunia ketiga, khususnya di Indonesia

salah satu sebabnya adalah rendahnya tingkat komitmen aparat

untuk melaksanakan tugas dan pekerjaan atau program-program.

7) Seberapa luas akses kelompok-kelompok luar untuk berpartisipasi

dalam implementasi kebijakan. Suatu program yang memberikan

peluang luas bagi masyarakat untuk terlibat akan relatif mendapat

(23)

Masyarakat akan merasa terasing atau teralienasi apabila hanya

menjadi penonton terhadap program yang ada di wilayahnya.

c. Lingkungan kebijakan

1) Kondisi sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kemajuan

teknologi. Masyarakat yang sudah terbuka dan terdidik akan relatif

mudah menerima program-program pembaruan dibanding dengan

masyarakat yang masih tertutup dan tradisional. Demikian juga,

kemajuan teknologi akan membantu dalam proses keberhasilan

implementasi program, karena program-program tersebut dapat

disosialisasikan dan diimplementasikan dengan bantuan teknologi

modern.

2) Dukungan publik terhadap sebuah kebijakan. Kebijakan yang

memberikan insetif biasanya mudah mendapatkan dukungan

publik.

3) Sikap dari kelompok pemilih (constituency groups). Kelompok

pemilah yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi

implementasi kebijakan melalui berbagai cara antara lain:

a) Kelompok pemilih dapat melakukan intervensi terhadap

keputusan yang dibuat badan-badan pelaksana melalui

berbagai komentar dengan maksud untuk mengubah

keputusan-keputusan.

b) Kelompok pemilih dapat memiliki kemampuan untuk

(24)

melalui kritik yang dipublikasikan terhadap kinerja

badan-badan pelaksana, dan membuat pernyataan yang ditujukan

kepada badan legislatif.

4) Tingkat komitmen dan ketrampilan dari aparat dan implementor.

Pada akhirnya, komitmen aparat pelaksana untuk merealisasikan

tujuan yang telah tertuang dalam kebijakan adalah variabel yang

paling krusial. Aparat badan pelaksana harus memiliki ketrampilan

dalam membuat prioritas tujuan dan selanjutnya merealisasikan

prioritas tujuan tersebut.

BaganII.3

Model Implementasi Kebijakan Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier

Mudah / tidaknya Masalah Dikendalikan

1. Kesulitan teknis

2. Keragaman perilaku kelompok sasaran

3. Prosentase kelompok sasaran dibanding jumlah populasi 4. Ruang lingkup perubahan

perilaku yang diinginkan

4. Keterpadan hierarki dalam dan diantara lembaga pelaksana

1. Kondisi sosio – ekonomi dan teknologi 2. Dukungan publik

3. Sikap dan sumber – sumber yang dimiliki kelompok pemilih

4. Dukungan dari pejabat atasan

5. Komitmen dan keterampilan kepemimpinan pejabat – pejabat pelaksana

Tahap – tahap Dalam Proses Implementasi ( Variabel Tergantung)

Keputusan Dampak output Perbaikan Output kebijakan kelompok sasaran Dampak nyata kebijakan mendasar Dari badan-badan terhadap output output sebagaimana dalam Pelaksana kebijakan kebijakan dipersepsi undang –

(25)

4. Model George C. Edward

Menurut Edwards dalam Winarno (2008:175-203) dalam bukunya

Kebijakan Publik: Teori dan Proses, menyatakan ada empat faktor penting yang berpengaruh terhadap implementasi kebijakan, sebagai berikut :

a. Komunikasi

Persyaratan bagi implementasi kebijakan yang efektif adalah

mereka yang melaksanakan keputusan harus mengetahui apa yang

harus mereka lakukan. Dalam komunikasi kebijakan perlu

memperhatikan tiga hal yaitu transmisi, kejelasan dan konsistensi.

Dalam transmisi sering ditemukan hambatan-hambatan yaitu

pertentangan antara para pelaksana dengan perintah yang dikeluarkan

oleh pembuat kebijakan dan informasi melalui hierarkhi birokrasi yang

berlapis-lapis sehingga pada akhirnya penangkapan

komunikasi-komunikasi dihambat oleh persepsi yang selektif dan ketidakmauan

para pelaksana untuk mengetahui persyaratan-persyaratan suatu

kebijakan. Kejelasan, jika kebijakan-kebijakan diimplementasikan

sebagaimana yang diinginkan, maka petunjuk-petunjuk pelaksanaan

tidak hanya harus diterima oleh para pelaksana kebijakan, tetapi juga

komunikasi kebijakan tersebut harus jelas. Ketidakjelasan pesan

komunikasi yang disampaikan berkenaan dengan implementasi

kebijakan akan mendorong terjadinya interprestasi yang salah bahkan

mungkin bertentangan dengan makna pesan awal. Konsistensi berkaitan

(26)

tidak berubah-ubah. Bila perintah-perintah pelaksanaan dalam

komunikasi kebijakan tidak konsisten, akan mendorong para pelaksana

mengambil tindakan yang sangat longgar dalam menafsirkan dan

mengimplementasikan kebijakan. Bila hal ini terjadi, maka akan

berakibat pada ketidak efektifan implementasi kebijakan karena

tindakan yang sangat longgar besar kemungkian tidak dapat digunakan

untuk melaksanakan tujuan-tujuan kebijakan.

b. Sumber-sumber

Sumber-sumbermerupakan faktor penting dalam implementasi

kebijakan meliputi staf yang memadai serta keahlian-keahlian yang

baik untuk melaksanakan tugas-tugas mereka, informasi, wewenang

dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk menterjemahkan usul-usul

di atas kertas guna melaksanakan pelayanan-pelayanan publik.

Staf. Staf dalam kaitannya dengan implementasi kebijakan

merupakan fator yang mempengaruhi efektivitas implementasi

kebijakan. Tidak saja jumlah staf harus memadai tetapi juga harus

dengan keterampilan yang memadai.

Informasi. Informasi merupakan keterangan yang disampaikam

secara lisan maupun tulisan, yang berguna untuk memperlancar suatu

aktivitas. Bentuk informasi dalam implementasi kebijakan dapat berupa

tata cara pelaksanaan kebijakan dan data mengenai kondisi staf.

Informasi yang disampaikan dengan jelas, sangat diperlukan dalam

(27)

Wewenang. Sumber lain yang penting dalam pelaksanaan

adalah wewenang. Wewenang ini akan berbeda-beda dari satu program

ke program yang lain serta mempunyai banyak bentuk yang berbeda.

Fasilitas-fasilitas. Fasilitas-fasilitas berkaitan dengan sarana

prasarana yang diperlukan atau perlengkapan pendukung dalam

implementasi kebijakan.

c. Kecenderungan-kecenderungan

Jika para pelaksana bersikap baik terhadap suatu kebijakan

tertentu, dan hal ini berarti adanya dukungan, kemungkinan besar

mereka melaksanakan kebijakan sebagaimana yang diinginkan oleh

para pembuat. Bila tingkah laku para pelaksana berbeda dengan

pembuat keputusan, maka proses pelaksanaan suatu kebijakan menjadi

semakin sulit.

d. Struktur organisasi

Birokrasi secara sadar atau tidak memilih bentuk-bentuk

organisasi untuk kesepakatan kolektif, dalam rangka memecahkan

masalah sosial dalam kehidupan modern. Mereka tidak hanya berada

dalam organisasi-organisasi swasta yang lain bahkan di

institusi-institusi pendidikan dan kadangkala suatu sistem birokrasi sengaja

diciptakan untuk menjalankan suatu kebijakan tertentu. Dalam

menjelaskan pengaruh struktur birokrasi terhadap efektivitas

implementasi kebijakan, Edwards memulai dari penjelasan karakter

(28)

birokrasi yaitu prosedur-prosedur kerja ukuran-ukuran dasar atau sering

disebut standard operating procedures (SOP) dan fragmentasi (dalam Winarno, 2008: 203). Dalam uraiannya lebih lanjut, ditegaskan bahwa

yang pertama (SOP) berkembang sebagai tanggapan internal terhadap

waktu yang terbatas dan sumber-sumber dari para pelaksana serta

keinginan untuk keseragaman dalam bekerjanya organisasi yang

kompleks dan tersebar luas, dan yang kedua berasal terutama dari

tekanan-tekanan di luar unit birokrasi seperti komite-komite legislatif,

kelompok-kelompok kepentingan pejabat-pejabat eksekutif, konstitusi

negara dan sifat kebijakan yang mempengaruhi organisasi birokrasi

pemerintah. Mengenai SOP, sangat baik apabila kebijakan merupakan

kebijakan-kebijakan rutin dan dikerjakan secara berulang. Namun

manakala kebijakan menyangkut hal yang baru dan bersifat kreatif,

maka SOP yang ada akan cenderung menghambat implementasi

kebijakan, bila tidak diiringi dengan SOP yang baru.

Fragmentasi sebagai karakter yang kedua birokrasi,

menggambarkan bahwa tanggungjawab kebijakan bidang tertentu,

tersebar dalam beberapa organisasi. Sering terjadi bahwa diantara

organisasi yang memegang tanggungjawab kebijakan tertentu, sulit

berkoordinasi, yang sesungguhnya sangat perlu. Kedua karakter utama

birokrasi tersebut akan mempengaruhi tingkat efektifitas implementasi

(29)

BaganII.4

Model Implementasi George C. Edward

Sumber : Winarno, Budi, 2008 : 208

Penetapan indikator dalam menjelaskan faktor-faktor yang

mempengaruhi variabel implementasi kebijakan harus berdasarkan pada

perkiraan yang realistis dengan memperhatikan tujuan dan sasaran yang

telah ditetapkan serta data pendukung yang telah diorganisasi. Jadi,

peneliti berpendapat bahwa indikator faktor-faktor yang mempengaruhi

implementasi kebijakan yang telah disampaikan Edwards dipandang

tepat untuk menjelaskan implementasi Peraturan Daerah Kota Surakarta

Nomor 3 Tahun 2010 tentang pengelolaan sampah di Kota Surakarta. Komunikasi

Sumber-sumber

Implementasi

Struktur Birokrasi

(30)

B. Pengertian Sampah dan Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah

B.1 Pengertian Sampah

1. Definisi Sampah

Menurut Kamus Istilah Lingkungan dalam Iskandar (2006: 1)

dalam bukunya Daur Ulang Sampah mendefinisikan sampah adalah suatu bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak beharga untuk

maksud biasa atau utama dalam pembuatan atau pemakaian barang rusak

atau bercacat dalam pembuatan manufaktur atau materi berkelebihan atau

ditolak atau buangan

Sampah adalah limbah atau buangan yang bersifat padat, setengah

padat yang merupakan hasil sampingan dari kegiatan perkotaan atau

siklus kehidupan manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Sumber

limbah padat (sampah) perkotaan berasal dari permukiman, pasar,

kawasan pertokoan dan perdagangan, kawasan perkantoran dan sarana

umum, kawasan industri, peternakan hewan dan fasilitas umum lainnya

(Kodoatie, 2005: 216)

Istilah Lingkungan untuk Manajemen (dalam Iskandar, 2006: 1)

juga mendefinisikan sampah sebagai suatu bahan yang terbuang atau

dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang

belum memiliki nilai ekonomis. Selain itu, baik UU No.18 Tahun 2008

maupun Perda Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2010 mengartikan sampah

sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/ atau proses alam yang

(31)

2. Sumber timbulan sampah

Sampah yang timbul setiap hari berasal dari berbagai tempat.

Sumber timbulan sampah antara lain (Soekidjo, 2003) :

a. Sampah Pemukiman (domestic waste)

Sampah ini terdiri dari bahan-bahan padat sebagai hasil kegiatan

rumah tangga yang sudah dipakai dan dibuang seperti sisa-sisa

makanan, baik yang sudah dimasak atau belum, bekas pembungkus,

baik kertas, plastik, daun-daunan dari kebun atau taman, pakaian

bekas, bahan-bahan bacaan, perabot rumah tangga, dan sebagainya.

b. Sampah tempat-tempat umum

Sampah ini berasal dari tempat umum seperti pasar,

tempat-tempat hiburan, terminal bus, stasiun kereta api, dan sebagainya.

Sampah ini berupa kertas plastik, botol, daun, dan sebagainya.

c. Sampah perkantoran

Sampah ini dari perkantoran, baik perkantoran pendidikan,

perdagangan, depatermen, perusahaan, dan sebagainya. Sampah ini

berupa kertas, plastik, karbon, klip, dan sebagainya. Umumnya

sampah ini bersifat kering dan mudah terbakar.

d. Sampah jalan raya

Sampah ini berasal dari pembersihan jalan yang umumnya terdiri dari

kertas-kertas, kardus-kardus, debu, batu-batuan, pasir, sobekan ban,

onderdil-onderdil kendaraan yang jatuh, daun-daunan, plastik, dan

(32)

e. Sampah kawasan industri

Sampah ini berasal dari kawasan industri, termasuk sampah yang

berasal dari pembangunan industri dan sampah yang berasal dari

proses produksi, misalnya sampah-sampah pengepakan barang,

logam, plastik, kayu, potongan tekstil, kaleng, dan sebagainya.

f. Sampah pertanian/ perkebunan

Sampah ini sebagai hasil dari pertanian atau perkebunan misalnya

jerami, sisa sayur-mayur, batang padi, batang jagung, ranting kayu

yang patah, dan sebagainya.

g. Sampah pertambangan

Sampah ini berasal dari pertambangan dan jenisnya tergantung dari

jenis usaha pertambangan itu sendiri misalnya batu-batuan, tanah/

cadas, pasir, sisa-sisa pembakaran (arang), dan sebagainya.

h. Sampah peternakan dan perikanan

Sampah yang berasal dari peternakan dan perikann ini berupa

kotoran-kotoran ternak, sisa-sisa makanan, bangkai binatang, dan sebagainya.

3. Pengelompokkan sampah

Menurut Murtadho (1987) sampah dalam jumlah yang sedikit

mudah diatasi dengan baik, tetapi jika jumlahnya banyak maka akan

menjadi masalah. Pengelompokkan sampah berdasarkan sifatnya antara

lain :

a. Sampah organik mudah busuk

(33)

b. Sampah organik tak mudah busuk

Contoh : kertas, plastik, kaca.

c. Sampah bangkai

Contoh : semua limbah yang berupa bangkai binatang.

d. Sampah anorganik

Contoh : besi bekas.

Berdasarkan karakteristiknya, sampah dapat dikelompokkan menjadi

(Soekidjo, 2003) :

a. Garbage yaitu jenis sampah hasil pengolahan atau pembuatan makanan yang umumnya mudah membusuk dan berasal dari rumah

tangga, restoran, hotel, dan sebagainya.

b. Rabishyaitu sampah yang berasal dari perkantoran, perdagangan, baik yang mudah terbakar seperti kertas, karton, plastik, dan sebagainya

maupun yang tidak mudah terbakar, seperti kaleng bekas, klip,

pecahan kaca, gelas dan sebagainya.

c. Ashes (abu) yaitu sisa pembakaran dari bahan-bahan yang mudah terbakar, termasuk abu rokok.

d. Sampah jalanan (street sweeping) yaitu sampah yang berasal dari

pembersihan jalan yang terdiri dari campuran bermacam-macam

sampah, daun-daunan, kertas, plastik, pecahan kaca, besi, debu, dan

sebagainya.

e. Sampah industri yaitu sampah yang berasal dari industri atau

(34)

f. Bangkai binatang yaitu bangkai binatang yang mati karena alam,

ditabrak kendaraan atau dibuang orang.

g. Bangkai kendaraan (abandoned vehicle) adalah bangkai mobil,

sepeda, sepeda motor dan sebgainya.

h. Sampah pembangunan (construction wate) yaitu sampah dari proses

pembangunan gedung, rumah, dan sebagainya, yang berupa

puing-puing, potongan-potongan kayu, besi, beton, bambu, dan sebagainya.

B.2 Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah

Sampah merupakan suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu

sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang memerlukan

beberapa cara dalam penanganan/pengolahannya (Murthodo, 1987), yaitu :

1. Penumpukan (dumping)

Cara pengolahan sampah ini sangat sederhana, sering digunakan di negara

berkembang.Biasanya dimanfaatkan untuk menutup lekukan tanah, rawa

atau jurang, sampah dibuang ketempat tersebut tanpa penutupan tanah.

Dengan cara pengolahan sampah seperti ini maka akan terjadi pencemaran

lingkungan yaitu pencemaran bau, berjangkitnya penyakit akibat

perkembangbiakan populasi lalat atau nyamuk, pencemaran air permukaan

(35)

2. Pengomposan (composting)

Pengomposan dilakukan untuk kepentingan mengolah limbah dan

sekaligus mendapat hasil dari kompos tersebut. Sampah harus dipilih yaitu

yang benar-benar bisa menjadi kompos yaitu sampah organic

daun-daunan, sisa makanan dan sampah lain yang dapat membusuk. Sampah

sebagai rabuk mempunyai keistimewaan antara lain :

a. Merubah keadaan tanah menjadi seperti humus.

b. Mengembalikan bahan-bahan organis yang terpungut.

c. Memperkaya zat N, P, K, Ca yang sangat penting untuk tanaman.

d. Proses penyuburan berlangsung perlahan-lahan dan tahan lama.

3. Pembakaran (incineration)

Pembakaran sampah harus dilakukan dengan sangat berhati-hati karena

pembakaran sampah dapat mengakibatkan pencemaran udara. Dengan cara

ini dihasilkan produk samping berupa logam bekas (skrap) dan uap yang

dapat dikonversikan menjadi energy listrik. Keuntungan lainnya dari

penggunaan alat ini antara lain :

a. Dapat mengurangi volume sampah antara 75%-80% dari sumber

sampah tanpa proses pemilahan. Cara pembakaran relative

memerlukan biaya yang tinggi sekitar tiga kali lipat, oleh karena itu

sampah yang dibakar adalah benar-benar sampah yang sudah tidak

dapat digunakan untuk kepentingan lain.

b. Abu atau terak dari sisa pembakaran cukup kering dan bebas dari

(36)

pada lahan kosong, rawa, ataupun daerah rendah sebagai bahan

pengurug.

c. Pada instalasi yang cukup besar dengan kapasitas sekitar 300 ton/hari

dapat dilengkapi dengan pembangkit listrik sehingga energi listrik

yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk menekan biaya proses.

Tipe-tipe incenetor antara lain :

a. Suhu tinggi (high temperature)

Jika sampah tidak dipisahkan antara sampah yang dapat dibakar

(combustible) dan sampah yang tidak dapat dibakar (non

combustible).Suhu antara 800oC-1000oC. b. Suhu sedang (semi high temperature)

Jika sampah tidak di[isahkan, tetapi lebih banyak sampah yang

dibakar.

c. Suhu rendah (low temperature)

Digunakan untuk sampah yang mudah dibakar (garbage,

combustible).Suhu antara 650oC-750oC. 4. Sanitasi dalam tanah (sanitary landfill)

Sanitary landfill merupakan cara pengolahan sampah yang cukup baik

dilakukan dengan menempatkan sampah di dalam tanah kemudian

menutup kembali sampah tersebut dengan tanah. Apabila semua sampah

diproses dengan metode ini maka akan memerlukan tanah yang sangat

luas. Oleh karena itu, sampah yang diproses adalah sampah yang

(37)

Metode ini banyak digunakan di Negara sedang berkembang. Prinsipnya

adalah :

a. Sampah dibuang ditempat yang berlegok

b. Sampah dipadatkan

c. Ditutup dengan tanah

Sesuai Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2010 tentang

pengelolaan sampah, ruang lingkup pengaturan meliputi :

1. Sampah rumah tangga

Sampah rumah tangga sebagaimana dimaksud berasal dari kegiatan

sehari-hari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik.

2. Sampah sejenis sampah rumah tangga (sampah yang memiliki sifat dan

karakteristik seperti sampah rumah tangga tetapi tidak berasal dari rumah

tangga). Sampah sejenis sampah rumah tangga sebagaimana dimaksud

berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus,

fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya.

3. Sampah spesifik (sampah yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau

volumenya memerlukan pengelolaan khusus), sampah spesifik

sebagaimana dimaksud meliputi:

a. Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun;

b. Sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun;

c. Sampah yang timbul akibat bencana;

d. Puing bongkaran bangunan;

(38)

f. Sampah yang timbul secara tidak periodik.

Setelah mengetahui pengertian sampah dan ruang lingkupnya, yang

tidak kalah pentingnya untuk dibahas adalah berkaitan dengan pengelolaan

sampah tersebut. Menurut Perda Kota Surakarta No.3 Tahun 2010

pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan

berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

Penyelenggaran pengelolaan sampah menurut peraturan daerah ini terdiri dari

pengelolaan sampah rumah tangga beserta sampah sejenis sampah rumah

tangga dan pengelolaan sampah spesifik. Kegiatan penyelenggaraan

pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga

terdiri atas pengurangan sampah dan penanganan sampah.

1. Pengurangan sampah

Pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan timbulan sampah,

pendauran ulang sampah, dan/atau pemanfaatan kembali sampah. Dalam

peraturan daerah ini kegiatan pengurangan sampah melibatkan stakeholder

terkait masalah tersebut, yang dapat dijelaskan berikut ini :

a. Pemerintah Daerah wajib melakukan kegiatan sebagai berikut:

1) Menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam

jangka waktu tertentu;

2) Memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan;

3) Memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan;

4) Memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur ulang; dan

(39)

b. Pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan menggunakan bahan

produksi yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin, dapat diguna

ulang, dapat didaur ulang, dan/atau mudah diurai oleh proses alam.

c. Masyarakat dalam melakukan kegiatan pengurangan sampah

menggunakan bahan yang dapat diguna ulang, didaur ulang, dan/atau

mudah diurai oleh proses alam.

2. Penanganan sampah

Kegiatan penanganan sampah meliputi:

a. Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai

dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;

b. Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari

sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat

pengolahan sampah terpadu;

c. Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau

dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat

pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir;

d. Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan

jumlah sampah; dan/atau

e. Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau

residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

Sedangkan untuk penyelenggaraan pengelolaan sampah spesifik dilakukan

(40)

Pengelolaan sampah kota merupakan masalah bersama, yang jasa

penyediaanya masih merupakan tanggungjawab Pemerintah Daerah. Secara

teknis operasional pengelolaan sampah kota, dilaksanakan dalam tahapan

pengumpulan, pengangkutan dan tahap pembuangan/ pemusnahan. Kodoatie

(2005: 218) mengatakan pada sisi teknis pengumpulan sampah merupakan

kegiatan awal dari urutan/ proses pengelolaan persampahan/ kebersihan

disamping kegiatan pewadahan yang merupakan tanggung jawab dari

penghasil/sumber sampah. Faktor-faktor penting dalam pengumpulan sampah

sampai ke tempat pembuangan, yang perlu diperhatikan adalah :

1. Sumber sampah

2. Waktu pengumpulan

3. Pemilihan peralatan

4. Petunjuk rute pengangkutan

5. Perkiraan jumlah sampah

6. Waktu pengangkutan

7. Kebutuhan tenaga kerja

8. Tempat pembuangan akhir (TPA)

Dalam bukunya Pengantar Manajemen InfrastrukturKodoatie (2005:

217) mengatakan bahwa sistem pengelolaan sampah perkotaan pada dasarnya

dilihat sebagai komponen-komponen subsistem yang saling mendukung, satu

dengan yang lain saling berinteraksi untuk mencapai tujuan, yaitu kota yang

bersih, sehat dan teratur. Komponen itu adalah :

(41)

2. Sub sistem teknik operasional (sub sistem teknik)

3. Sub sistem pembiayaan (sub sistem finansial)

4. Sub sistem hukum dan pengaturan (sub sistem hukum)

5. Sub sistem peran serta masyarakat

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

BaganII.5

Sistem Pengelolaan Limbah Padat Perkotaan (Sampah)

Di berbagai negara telah dikembangkan pengelolaan sampah terpadu

mulai dari tahap pengumpulan pra pengumpulan, tahap pengumpulan hingga

tahap akhir. Bagachi (2004: 10) menyebut pengelolaan sampah terpadu ini

sebagai Integrated Solid Waste Management (ISMW), di Indonesia pengelolaan sampah terpadu disebut tempat pengelolaan sampah terpadu atau

selanjutnya disingkat TPST. Dalam konsep ini dikenal adanya konsep tiga R

(3R), yaitu Reduce, Reuse, dan Recycling. Dengan reduce berarti pengurangan produksi sampah (pra pengumpulan). Hal ini dapat dilakukan

dengan konsep zero waste dalam arti anggota masyarakat beraktivitas tanpa memproduksi sampah misalnya “makanan tanpa sisa” atau belanja ke pasar

Institusi

Finansial Limbah

Peran Serta Teknik Operasional

Hukum dan Peraturan

(42)

dengan bungkusan secukupnya. Reuse berarti penggunaan kembali barang-barang yang masih bermanfaat, dipakai kembali oleh pihak lain. Recycling berarti “mendaur ulang” sampah organik diproses menjadi kompos, sampah

organik diproses untuk bahan baku produk lain.

Tujuan semua dari konsep di atas adalah untuk mengurangi volume

sampah dan sejauh mungkin dimaksudkan untuk membangun paradigma

masyarakat, bahwa sampah dapat dirubah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Namun, mengandalkanprogram 3R dalam penyelesaian masalah sampah,

merupakan suatu hal mustahil, paling tidak dengan dua alasan yaitu: pertama,

untuk mencapai keberhasilan maksimum dari 3R, membutuhkan proses

panjang untuk mengubah perilaku masyarakat. Kedua, proses pelaksanaan

melalui 3R itu tetap menghasilkan residu (sisa) yang harus diolah dengan

cara-cara yang ramah lingkungan.

C. Kerangka Pemikiran

Seperti dijelaskan di tinjauan pustaka di atas, bahwa implementasi

kebijakan publik sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh

individu-individu (atau kelompok-kelompok) pemerintahan maupun swasta yang

diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam

keputusan-keputusan kebijakan sebelumnya. Dalam penelitian ini untuk

mempermudah melihat proses implementasi Perda kota Surakarta No.3

Tahun 2010 dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah, peneliti

(43)

mengemukakan ada 3 aspek yang peneliti pergunakan untuk mengkaji

implementasi kebijakan yaitu :

1. Siapa yang mengimplementasikan

Pada hakekatnya pengelolaan sampah adalah merupakan kewajiban

seluruh komponen masyarakat dan pemerintah daerah. Penanganan

sampah tidak hanya menyangkut masalah teknis dan sistem

pengelolaannya saja, akan tetapi juga menyangkut perilaku kehidupan

masyarakat, sehingga dengan demikian masalah persampahan tidak akan

tuntas tanpa adanya peran serta/partisipasi masyarakat dalam

pengelolaannya.

Namun jika ditanyakan siapa aktor-aktor pemerintah daerah yang

mempunyai tanggungjawab untuk menjalankan atau melaksanakan

kebijkan tentang pengelolaan sampah di Kota Surakartahal ini telah

dijawab dalam Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2010

tentang pengelolaan sampah yang tertuang dalam Bab IV Bagian Ketiga

Pasal 8 mengenai tanggungjawab pemerintah daerah telah secara jelas

menyebutkanpemerintah daerah bertanggungjawab terhadap pengelolaan

sampah di daerah. Dinas bertanggungjawab melaksanakan

penyelenggaraan pengelolaan sampah di daerah. Camat bertanggungjawab

atas pembinaan masyarakat di bidang pengelolaan sampah di wilayah

kerjanya. Lurah bertanggungjawab atas pembinaan masyarakat di bidang

pengelolaan sampah di wilayah kerjanya.Dikarenakan fokus penelitian ini

(44)

bertanggungjawab untuk penyelenggarakan pengelolaan sampahini,

adapun yang dimaksud dinasdisini dalam ayat 6 pasal 1 Bab I ketentuan

umum adalah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surakarta.

2. Hakikat dari proses administrasi

Administrasi adalah keseluruhan proses kerjasama antara dua orang

manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk

mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (Siagian,

1997:3).Berdasarkan definisi proses administrasi diatas dapat disimpulkan

bahwa dalam pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3

Tahun 2010 tentang pengelolaan sampah adalah Pemerintah dalam hal ini

adalah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surakarta merupakan pihak

yang berwenang dan bertanggung jawab di bidang penyelenggaraan

pengelolaan sampah. Yang dimaksud dinas disini adalah kerjasama pejabat

beserta staf-stafnya.Secara operasional pengelolaannya dapat bermitra

dengan badan usaha. Selain itu organisasi persampahan, dan kelompok

masyarakat yang bergerak di bidang persampahan dapat juga diikut

sertakan dalam kegiatan pengelolaan sampah.

3. Kepatuhan

Kepatuhan menunjuk pada apakah para implementator jatuh

terhadap prosedur atau standard aturan yang ditetapkan. Dalam konteks

penelitian ini adalah kepatuhan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota

(45)

tentang pengelolaan sampah yaitu Peraturan Daerah Kota Surakarta

Nomor 3 Tahun 2010.

Selain itu dalam mengkaji berbagai permasalahan yang terkait

dengan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi implementasi kebijakan

(Perda Kota Surakarta No.3 Tahun 2010) dalam penyelenggaraan

pengelolaan sampah maka penelitian ini menggunakan model yang

dikemukakan oleh George C. Edwards, sebagaimana dikutip oleh Winarno

(2008: 174). Model yang dikemukakan Edwards bahwa implementasi

kebijakan publik dipengaruhi oleh empat faktor, baik secara langsung atau

tidak langsung. Keempat faktor tersebut adalah komunikasi,

sumber-sumber, disposisi atau perilaku dan struktur birokrasi. Model ini dipandang

lebih sesuai untuk mengkaji permasalahan penelitian mengenai

pelaksanaan Perda Kota Surakarta No.3 Tahun 2010 dalam

penyelenggaraan pengelolaan sampah. Bagaimana faktor-faktor tersebut

berinteraksi dengan implementasi kebijakan, dapat diuraikan sebagai

berikut:

1. Komunikasi

Seperti ditegaskan dalam tinjauan pustaka, komunikasi kebijakan

publik meliputi tiga hal penting yaitu transmisi, konsistensi dan kejelasan.

Komunikasi dalam hal ini adalah komunikasi antara pembuat kebijakan

Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2010khususnya dalam

penyelenggaraan pengelolaan sampah, yang dimaksud pembuat kebijakan

(46)

kebijakan sesuai dengan isi peraturan daerah tersebut adalah Dinas

Kebersihan dan Pertamanan Kota Surakarta yaitu pejabat instansi yang

berwenang dalam penyelenggaraan pengelolaan persampahan (Kepala

Dinas Kebersihan dan Pertamanan dan perangkatnya).

Berdasar apa yang telah dikemukakan oleh Edwards, komunikasi

kebijakan yang efektif ditandai dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan

(Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan dan perangkatnya), harus

memahami benar apa yang harus dilakukan dan dimengerti secara cermat,

serta petunjuk pelaksanaan yang dipahami harus jelas. Disamping itu

kebijakan juga harus konsisten. Secara jelas disebut oleh Edwards

(Winarno, 2008: 176): “keputusan-keputusan yang bertentangan akan

membingungkan dan menghalangi staf administratif dan menghambat

kemampuan mereka untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang

efektif”. Demikian pula halnya, pesan yang terkandung dalam kebijakan,

harus jelas bagi pelaksana kebijakan. “Ketidak jelasan komunikasi yang

disampaikan berkenaan dengan implementasi kebijakan akan mendorong

terjadinya interprestasi yang salah bahkan mungkin bertentangan dengan

makna pesan awal” (Edwards dalam Winarno, 2008: 177).

2. Sumber-sumber

Faktor kedua yang dikemukakan oleh Edwards adalah

sumber-sumber yang juga merupakan faktor yang mempengaruhi efektivitas

implementasi kebijakan. Sumber ini meliputi aspek: staf, informasi,

(47)

implementasi kebijakan tentang pengelolaan sampah di Kota Surakarta,

staf lebih terkait dengan jumlah dan kualifikasi personil pelaksana di

Dinas Kebersihan dan Pertamanan di Kota Surakarta, sedangkan

informasi lebih menekankan pada ketersediaan petunjuk pelaksanaan

kebijakan dan data personil yang mengatasi atas petunjuk pelaksanaan

dan menaatinya.

Wewenang lebih menunjuk pada independen pelaksana kebijakan

dari pengaruh pihak lain dalam melaksanakan kebijakan. Dalam hal

pelaksanaan kebijakan pengelolaan sampah di kota Surakarta, aspek

kewenangan dalam faktor sumber-sumber lebih melihat apakah dalam

pelaksanaan kebijakan tersebut, personil Dinas Kebersihan dan

Pertamanan benar-benar independen atau memperoleh tekanan-takanan/

intervensi dari pihak lain, seperti legislatif, atasan, atau bahkan pihak

pers, sehingga merasa takut untuk mengimplementasikan kebijakan. Hal

ini dapat mempengaruhi pelaksanaan/ implementasi kebijakan publik.

Demikian pula halnya, fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam

implementasi kebijakan, merupakan salah satu aspek yang juga

mempengaruhi efektivitas pelaksanaan kebijakan. Semakin lengkap

fasilitas yang diperlukan, akan semakin efektif pelaksanaan/ implementasi

kebijakan tersebut.

3. Disposisi

Faktor ketiga adalah disposi atau perilaku, yang lebih terkait

(48)

pelaksana atas kebijakan yang telah diambil oleh pembuat kebijakan,

maka terbuka kemungkinan besar pelaksana kebijakan melaksanakan

kebijakan sebagaimana yang diinginkan oleh para pembuat kebijakan.

Dalam konteks pelaksanaan kebijakan tentang pengelolaan sampah di

kota Surakarta, disposisi ini terkait dengan kuat tidaknya dukungan Dinas

Kebersihan dan Pertamanan Kota Surakarta terhadap kebijakan

penyelengaraan pengelolaan sampah tersebut. Dukungan itu sendiri,

termasuk dukungan perangkat dinas terhadap pimpinan Dinas Kebersihan

dan Pertamanan Kota Surakarta. Semakin kuat dukungan perangkat Dinas

Kebersihan dan Pertamanan Kota Surakarta teradap kebijakan, semakin

efektif pelaksanaan/ implementasi kebijakan (Perda Kota Surakarta No. 3

tahun 2010) tersebut.

4. Struktur Birokrasi

Faktor yang keempat yang dikemukakan Edwards sebagai faktor

yang mempengaruhi efektivitas pelaksanaan/ implementasi kebijakan

adalah struktur organisasi. Edwards mengatakan “Two prominent characteristics of beareaucracies are standard operarting procedure (SOP) and fragmentation”. Dalam konteks pelaksanaan kebijakan (Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2010) tentang

pengelolaan sampah di Kota surakarta, struktur birokrasi lebih menyoroti

aspek standar operasional prosedur (SOP) dan fragmentasi birokrasi.

Dapat dikemukakan bahwa semakin besar kebijakan pengelolaan sampah

(49)

Kebersihan dan Pertamanan Kota Surakarta, semakin besar pula

kemungkinan SOP menghambat implementasi kebijakan.

Fragmentasi terkait dengan jumlah unit yang terlibat dalam

implementasi kebijakan. Semakain banyak unit yang terlibat akan

semakin sulit koordinasi yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat

efektivitas pelaksanaan/ implementasi kebijakan.

BaganII.6

Model Penelitian Implementasi Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 3 Tahun 2010 dalam Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah di Kota Surakarta

Aspek yang perlu dikaji

Perda Kota Surakarta No. 3 tahun 2010 tentang Pengelolaan

(50)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis penelitian

Berdasarkan masalah yang diangkat dalam penelitian yang

menekankan pada proses dan makna, maka bentuk penelitian yang digunakan

adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan maksud

memberikan gambaran masalah secara sistematis, cermat, rinci dan

mendalam mengenai implementasi Perda Kota Surakarta No. 3 tahun 2010

dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah yang diterapkan di Kota

Surakarta. Untuk itu jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini

adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sebagai suatu penelitian deskriptif,

penelitian ini studi kasusnya mengarah pada pendiskripsian secara rinci dan

mendalam mengenai potret kondisi tentang apa yang sebenarnya terjadi

menurut apa adanya di lapangan studinya (H.B. Sutopo, 2002 : 111). Peneliti

memakai jenis penelitian deskriptif kualitatif karena peneliti hanya

menjelaskan tentang implementasi Perda Kota Surakarta No. 3 tahun 2010

dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah di Kota Surakarta dan tidak

mengkaitkan hubungan antar variabel serta tidak membuat prediksi.

Peneliti dalam penelitian ini menggunakan indikator-indikator untuk

mengetahui proses implementasi kebijakan tentang pengelolaan sampah di

Kota Surakarta dan faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan

Gambar

Gambar struktur organisasi dapat dilihat pada Gambar 4.1. Secara garis besar,
Tabel IV. 1
Tabel IV. 2
Tabel IV. 3
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pegawai negeri sipil sebagai aparat pemerintah dan abdi masyarakat diharapkan selalu siap sedia menjalankan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya dengan baik, akan

kebijakan dilaksanakan secara efektif kalau mendapat dukungan dari para pelaksana kebijakan yakni aparat Disamping hal tersebut diatas kebijakan dilaksanakan dengan

Pegawai negeri sipil sebagai aparat pemerintah dan abdi masyarakat diharapkan selalu siap sedia menjalankan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya dengan baik, akan

Pelaksanaan perda K3 tidak diimbangi dengan penataan aspek pendukung lain seperti kebijakan yang dapat menyelesaikan permasalahan K3, belum cukup aparat pelaksana dalam

Pegawai negeri sipil sebagai aparat pemerintah dan abdi masyarakat diharapkan selalu siap sedia menjalankan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya dengan baik, akan

2) Pengaturan Birokrasi. I ndikator birokrasi dalam variabel disposisi atau sikap pelaksana kebijakan yang perlu dievaluasi terhadap implementasi kebijakan P3BK di Kecamatan

Untuk mengukur kinerja implementasi kebijakan menegaskan standar dan sasaran.. tertentu yang harus dicapai oleh para pelaksana kebijakan, kinerja kebijakan pada dasarnya

Pelaksanaan perda K3 tidak diimbangi dengan penataan aspek pendukung lain seperti kebijakan yang dapat menyelesaikan permasalahan K3, belum cukup aparat pelaksana dalam