• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN PARKIR TEPI JALAN UMUM DALAM DAERAH KOTA MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN PARKIR TEPI JALAN UMUM DALAM DAERAH KOTA MAKASSAR"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH

TENTANG PENGELOLAAN PARKIR TEPI JALAN UMUM DALAM DAERAH KOTA MAKASSAR

SKRIPSI

Disusun sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana pada jurusan Ilmu Administrasi Negara

Disusun Oleh:

LIA NATALIA SIDAPPA 4515021011

ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR

2020

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

Kota Makassar menjadi salah satu kota yang selalu dikunjungi untuk kepentingan wisata maupun Pendidikan. Dalam hal ini pula penduduk di Kota Makassar selalu bertambah setiap tahunnya dan semakin membuat Kota Makassar menjadi macet akibat dari ketersedian lahan yang berkurang. Permaslahan yang paling sering terjadi adalah pelanggaran aturan parkir.

Pelanggaran aturan ini diakibatkan karena banyaknya tempat-tempat yang telah dibangun tanpa melihat jangka panjang pembangunan tersebut. Dalam Peraturan Daerah Pemerintah Kota Makassar No 17 tahun 2006 tentang Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum Daerah Kota Makassar, pada bab 5 pasal 9 dijelaskan bahwa: “dilarang menempatkan kendaraan bermotor dan atau alat angkut lainnya di luar tempat parkir yang ditetapkan;.” Pada poin kedua dalam pasal tersebut juga dijelaskan sebagai berikut “dilarang Mengotori/merusak tempat parkir;.” Lalu dilanjutkan pada poinnya yang ketiga dikatakan bahwa “dilarang melakukan kegiatan lain selain kegiatan perparkiran pada tempat parkir kecuali mendapat izin Direksi.” Dilanjutkan pada pasal 10 tentang para pengguna tempat parkir dan juru parkir pada poinnya yang pertama diwajibkan untuk dapat menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan tempat parkir, lalu pada poinnya yang kedua pengguna parkir dan juru parkir dapat menempatkan kendaraan dengan teratur sehingga tidak menggangu lalu lintas orang, barang dan kendaraan. Dijelaskan pula pada poinnya yang ketiga bahwa mereka wajib mentaati ketentuan jasa dan tarif parkir yang berlaku.

Juru parkir wajib memberi karcis parkir kepada pengguna tempat parkir serta juru parkir wajib menggunakan seragam dan atau tanda pengenal yang ditetapkan oleh Direksi. Dalam aturan tersebut telah dijelaskan bagaimana seharusnya pengelolaan parkir di Kota Makassar namun pada implementasinya masih banyak saja pihak juru parkir yang melanggar aturan tersebut.

Kata kunci : Implementasi kebijakan pemerintah daerah tentang pengelolaan parkir tepi jalan umum di Kota Makassar

(6)

ABSTRACT

Makassar City is one of the cities that is always visited for tourism and education purposes.

In this case also the population in Makassar City always increases every year and makes Makassar City more congested due to the reduced availability of land. The most common problem is parking rules violations. The violation of this rule was caused by the number of places that had been built regardless of the long term development. In the Makassar City Government Regional Regulation No. 17 of 2006 concerning the Management of Public Roadside Parking in Makassar City, chapter 5 article 9 explains that: "it is prohibited to place motorized vehicles and or other means of transportation outside the designated parking spaces."

In the second point of the article it is also explained as follows "it is prohibited to contaminate / damage the parking lot;" Then proceed to the third point, it is said that "it is prohibited to carry out other activities besides parking activities in parking lots unless they get permission from the Directors." Continued in article 10 regarding parking space users and parking attendants, the first point is required to be able to maintain security, order, and cleanliness of parking lots, then at the second point parking users and parking attendants can place vehicles regularly so they don't interfere with people's traffic. , goods and vehicles. It is also explained in the third point that they are required to comply with the applicable parking fees and service provisions. Parking attendants are required to provide parking tickets to parking space users and parking attendants are required to wear a uniform and / or identification issued by the Board of Directors. This regulation has explained how parking management should be in Makassar City, but in its implementation there are still many parking attendants who violate these rules.

Key words: Implementation of local government policies on the management of public roadside parking in Makassar City

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat kasih dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan judul

“Implementasi Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum Dalam Daerah Kota Makassar”. Penulis menyusun skripsi ini sebagai karya ilmiah yang merupakan

salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada program Strata-1 Universitas Bosowa Makassar.

Selesainya skripsi ini tentu tidak terlepas dari doa dan dukungan dari orang-orang terkasih dan tercinta penulis yang membantu secara langsung maupun tidak langsung selama pembuatan skripsi ini. Terutama kedua orangtua yang penulis hormati dan cintai, Bapak Yulius Paratuan dan Ibu Nurhaeni, yang tanpa henti memberikan doa dan dukungan yang sangat bermanfaat dalam bentuk moriil maupun materiil kepa penulis sejak penulis memulai Pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tak terhingga. Begitu juga telah merawat dan membimbing penulis hingga saat ini. Oleh karenanya, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orangtua penulis dan semoga Tuhan senantiasa memberi kesehatan serta rezeki untuk keduanya. Tak lupa pula kepada adik-adik penulis Bripda Ivon Paratuan dan Ari Paratuan yang selama ini sudah mendukung serta mendoakan penulis.

Ucapan terima kasih ini juga penulis ucapkan kepada para pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis mengucapkan terima kasih serta penghargaan setinggi-tingginya untuk orang yang penulis hormati, Ibu Nining Haslinda Zainal,S.Sos,M.Si selaku pembimbing I dan Bapak Drs. Natsir Tompo, M.Si selaku pembimbing II atas kebaikannya selama ini yang telah memberikan waktu dan bimbingan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini. Selanjutnya terima kasih kepada Bapak Ade

(8)

Ferry Afrisal, S.H, M.Sc dan Bapak Dr. Uddin B.Sore, S.Ip, M.si selaku penguji atas saran dan kritiknya selama proses penyelesaian skripsi ini kepada penulis.

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari kekurangan, kendala dan hambatan. Skripsi ini dapat terselesaikan berkat bimbingan, saran, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis juga mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H.M. Saleh Pallu, M.Eng Selaku Rektor Universitas Bosowa beserta jajarannya.

2. Bapak Arief Wicaksono, S.IP, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bosowa beserta seluruh stafnya.

3. Ibu Nining Haslinda Zainal,S.Sos,M.Si selaku Ketua Jurusan Administrasi Negara beserta jajarannya.

4. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bosowa Makassar, dan Staff Tata Usaha Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bosowa dengan segala jerih payah dan ketulusan, membimbing, dan membantu dalam perkuliahan untuk mendapatkan ilmu, serta membantu penulis dalam penyelesaian admnisitrasi selama perkuliahan dan penyelesaian skripsi ini.

5. Keluarga Besar, Om, Tante penulis yang telah mendoakan serta memberikan dukungan moril dan materil kepada penulis selama menempuh Pendidikan S-1 di Universitas Bosowa.

6. Asrama Putri Tarakan selaku keluarga pengganti penulis selama berada di tanah perantauan. Terima kasih atas kebersamaan serta pelajaran hidup yang sangat bermakna selama ini.

7. Fika, Pio, Cabe. Gege, Gendu, Kak Wanti, Asri, Rahma, Kak Dijah, Rita selaku sahabat-sahabat penulis yang selama ini sudah memberikan dukungan, motivasi, dan

(9)

menemani penulis selama berkuliah serta menerima semua kekurangan penulis selama ini. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang selalu ada membantu penulis dalam setiap masalah yang dihadapi oleh penulis.

8. Keluarga Besar Unit Kegiatan Mahasiswa Persekutuan Mahasiswa Kristen Oikumene (UKM PMKO) yang selama ini sudah banyak membantu penulis selama kuliah di Universitas Bosowa serta menjadi sahabat dalam melayani Tuhan di Universitas Bosowa.

9. Sahabat seperjuangan sejak maba, teman-teman Administrasi Negara Angkatan 2015 Universitas Bosowa, terima kasih telah banyak membantu penulis selama berkuliah.

10. Keluarga Besar Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Tarakan-Tarakan Study Club (FKPMT-TSC) teman seperantauan dari Kota Tarakan yang sudah banyak membantu penulis selama di Kota Makassar serta menjadi keluarga yang sangat baik ketika penulis dalam kesusahan.

11. Keluarga Besar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Makassar terkhusus Badan Pengurus Cabang Masa Bakti 2017-2019 dan Komisariat Elim 45 Universitas Bosowa, terima kasih atas pengalaman organisasi serta ilmu yang telah diberikan.

12. Teman-teman dari Persekutuan Pemuda Gereja Toraja Jemaat Tello Batua terkhusus Pengurus PPGT JTB Periode 2016-2020 yang telah banyak menolong penulis dalam pelayanan dan selalu memberikan motivasi kepada penulis.

13. Seluruh Informan yang dilibatkan oleh penulis, terima kasih atas waktu dan bantuan serta dukungan yang diberikan dalam proses penelitian.

14. Serta seluruh teman-teman maupun pihak-pihak terkait yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian.

(10)

Penulis menyadari skripsi ini jauh dari kata sempurna dan masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan. Akan tetapi besar harapan penulis semoga skripsi ini banyak memberikan manfaat kepada pembaca. Teruntuk semua pihak yang telah membantu penulis, semoga Tuhan yang Maha Esa memberikan balasan yang berlipat ganda.

Akhir kata, penulis mengharapkan semoga tujuan dari pembuatan skripsi ini dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Makassar, 24 Februari 2021

LIA NATALIA SIDAPPA

(11)

DAFTAR ISI

LEMBAR SAMPUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PENERIMAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

BAB II LANDASAN TEORI ... 7

A. Konsep Implementasi ... 7

1. Pengertian Implementasi ... 7

2. Teori-teori Implementasi ... 8

B. Tinjauan Umum Parkir ... 18

1. Definisi Parkir... 18

2. Jenis Parkir ... 19

3. Cara Parkir Kendaraan ... 20

4. Kebijakan Parkir ... 22

C. Kerangka Konsep... 24

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 27

A. Pendekatan Penelitian ... 27

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 27

C. Jenis dan Sumber Data ... 27

D. Informan ... 28

E. Teknik Pengumpulan Data ... 28

F. Teknik Analisis Data... 29

(12)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 30

A. Gambaran Umum Perparkiran di Kota Makassar ... 30

1. Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya ... 30

2. Visi dan Misi Perusahaan Daerah Makassar Raya ... 33

B. Implementasi Peraturan Daerah No 17 tahun 2006 ... 33

1. Komunikasi ... 36

2. Sumber Daya... 38

3. Disposisi ... 40

4. Struktur Birokrasi ... 43

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 46

A. Kesimpulan ... 46

B. Saran ... 48

DAFTAR PUSTAKA ... 50

(13)

1 BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Dalam sistem pemerintahan di Indonesia terdapat pelimpahan wewenang pemerintah pusat kepada pemerintah di daerah. Dalam hal inilah daerah diberi tanggungjawab untuk mengatur daerahnya masing-masing, ini lah yang dimaksud desentralisasi. Pada dasarnya tujuan negara melakukan ini agar tercapainya pemerintahan yang bersih, adil, dan selalu memperhatikan hak-hak wrga negaranya baik dalam ekonomi, social, maupun budaya.

Kota Makassar menjadi salah satu kota yang selalu dikunjungi untuk kepentingan wisata maupun Pendidikan. Dalam hal ini pula penduduk di Kota Makassar selalu bertambah setiap tahunnya dan semakin membuat Kota Makassar menjadi macet akibat dari ketersedian lahan yang berkurang. Permaslahan yang paling sering terjadi adalah pelanggaran aturan parkir. Pelanggaran aturan ini diakibatkan karena banyaknya tempat-tempat yang telah dibangun tanpa melihat jangka panjang pembangunan tersebut.

Semakin padatnya jumlah penduduk menjadi salah satu faktor bertambahnya jumlah kendaraan yang ada di Kota Makassar. Meningkatnya jumlah kendaraan membuat Kota Makassar semakin hari terlihat semakin tidak teratur dalam transportasi. Hal tersebut dapat dirasakan dibeberapa titik jalan yang ada di Kota Makassar contohnya di Jl. Abdesir, Jl. Pettarani dan masih banyak lagi titik yang

(14)

2 sering mengalami kemacetan. Terutama pada jam tertentu saat jam kerja atau jam pulang kerja.

Selain itu salah satu faktor yang menimbulkan kemacetan di Kota Makassar dikarenakan banyaknya bahu jalan yang digunakan sebagai lahan parkir. Semakin bertambahnya tempat hiburan bagi masyarakat Kota Makassar, semakin banyak juga bahu jalan yang digunakan sebagai lahan parkir, seperti di Mall Panakukang. Hal tersebut membuat sering terjadi kemacetan didaerah tersebut dan dibeberapa tempat juga yang membuka toko namun tidak memiliki lahan parkir.

Pada dasarnya ketika bangunan untuk berusaha ingin didirikan mereka harusnya memikirkan konsep jangka panjang dari usaha mereka. Banyaknya pemilik usaha yang tidak bertanggungjawab karena tidak menyediakan lahan parkir yang memadai bahkan adapula yang tidak menyediakan lahan parkir membuat masyarakat memilih memarkirkan kendaraan mereka di bahu jalan. Kesempatan ini yang banyak dimanfaatkan oleh petugas parkir tidak resmi untuk meraub keuntungan. Banyaknya petugas parkir tidak resmi mencari keuntungan dengan membuat layanan parkir namun memanfaatkan bahu jalan sebagai lahan parkir mereka. Oknum juru parkir tidak resmi yang menggunakan tepi jalan dibeberapa tempat-tempat keramaian tanpa pernah memperhatikan aturan yang telah dibuat oleh pemerintah untuk daerah-daerah yang memang menjadi tempat umum. Padahal jelas dikatakan dalam Peraturan Daerah Pemerintah Kota Makassar No 17 tahun 2006 tentang Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum Daerah Kota Makassar, pada bab 4 pasal 8 berbunyi: “Juru parkir dan pengguna tempat parkir wajib memenuhi ketentuan Pasal 7;” serta poin kedua

(15)

3 dalam pasal tersebut berbunyi “direksi berhak mengambil alih tempat parkir bilamana juru parkir dan atau pengguna tempat parkir tidak memenuhi ketentuan Pasal 7.”

Pasal 7 yang dimaksud berbunyi “Ketentuan jenis pungutan, Tarif dan klasifikasi pemakaian tempat parkir dimaksud pasal 5, serta tata cara penagihannya ditetapkan oleh Direksi.”

Dalam peraturan daerah tersebut sudah jelas dikatakan apabila petugas parkir tidak menjalankan tugasnya dengan baik, pihak direksi dapat mengambil alih tempat parkir tersebut. Namun pada relita yang terjadi petugas parkir tidak resmi malahan semakin banyak menguasai tempat-tempat yang tidak memiliki tempat parkir dan memanfaatkan bahu jalan.

Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya merupakan instansi yang didirikan untuk melaksanakan tugas menangani perparkiran yang ada di Kota Makassar.

Perusahaan daerah parkir maksssar raya didirikan pada tahun 1999 hal ini berdasarkan pada Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 5 tahun 1999 tentang pendirian Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya Kotamadya Tingkat II Ujungpandang. Namun seiring berjalannya waktu terjadi perubahan menjadi Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 16 tahun 2006 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 5 tahun 1999 tentang pendirian Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya Kotamadya Tingkat II Ujungpandang. Perubahan ini mengacu pada Undang-undang Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukkan daerah Tingkat II di Sulawesi, Undang-Undang Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah, Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-

(16)

4 Undang nomor 10 tahun 2004, Peraturan Pemeintah nomor 51 tentang Perubahan Batas-batas Daerah Kotamadya Makassar dan Kabupaten Gowa, Maros dan Pangkajene, Peraturan Pemerintah nomor 86 tahun 1999 tentang perubahan nama Kota Ujung Pandang menjadi Kota Makassar dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, Peraturan Daerah Kota Makassar nomor 10 tahun 2000 tentang ketentuan- ketentuan pokok Badan Pengawas Direksi, dan kepegawaian Peruahaan Daerah Parkir Makassar Raya Kota Makassar.

Dalam Peraturan Daerah Pemerintah Kota Makassar No 17 tahun 2006 tentang Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum Daerah Kota Makassar, pada bab 5 pasal 9 dijelaskan bahwa: “dilarang menempatkan kendaraan bermotor dan atau alat angkut lainnya di luar tempat parkir yang ditetapkan;.” Pada poin kedua dalam pasal tersebut juga dijelaskan sebagai berikut “dilarang Mengotori/merusak tempat parkir;.” Lalu dilanjutkan pada poinnya yang ketiga dikatakan bahwa “dilarang melakukan kegiatan lain selain kegiatan perparkiran pada tempat parkir kecuali mendapat izin Direksi.”

Dilanjutkan pada pasal 10 tentang para pengguna tempat parkir dan juru parkir pada poinnya yang pertama diwajibkan untuk dapat menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan tempat parkir, lalu pada poinnya yang kedua pengguna parkir dan juru parkir dapat menempatkan kendaraan dengan teratur sehingga tidak menggangu lalu lintas orang, barang dan kendaraan. Di jelaskan pula pada poinnya yang ketiga bahwa mereka wajib mentaati ketentuan jasa dan tarif parkir yang berlaku. Juru parkir wajib memberi karcis parkir kepada pengguna tempat parkir serta juru parkir wajib

(17)

5 menggunakan seragam dan atau tanda pengenal yang ditetapkan oleh Direksi. Dalam aturan tersebut telah dijelaskan bagaimana seharusnya pengelolaan parkir di Kota Makassar. namun pada implementasinya masih banyak saja pihak juru parkir yang melanggar aturan tersebut.

Fakta yang terjadi dilapangan pun banyaknya masyarakat yang masih belum paham tentang aturan parkir tersebut hal ini juga menyebabkan terjadi maraknya parkir liar yang menimbulkan kemacetan dijalan. Direksi yang berwenang dalam hal ini pihak PD Parkir Makassar Raya belum sepenuhnya menjalakan tugas mereka dengan baik diakrenakan masih banyak masalah yang ditimbulkan akibat dari perparkiran di kota Makassar. Tata kelola kota yang semakin hari semakin tidak rapi lagi karna banyaknya pembangunan-pembangunan serta semakin banyak lagi dari parkir liar di Kota Makassar. Kurangnya kordinasi dari pihak-pihak yang terkait membuat masalah ini terus berlanjut, pihak yang dimaksudkan dari direksi yang berwenang kepada pihak toko/Mall ataupun pihak direksi kepada masyarakat sebagai pengguna tempat parkir.

Karena permasalahan yang terjadi inilah penulis berinisiatif untuk melakukan penelitian terkait kasus parkir di Kota Makassar serta sejauh mana pemerintah dalam melaksanakan Implementasi Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum Dalam Daerah Kota Makassar.

(18)

6 B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis sampaikan, maka permasalahan yang akan dibahas adalah Bagaimanakah implementasi Peraturan Daerah Tentang Pengelolan Parkir Tepi Jalan Umum Dalam Daerah Kota Makassar?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui implementasi Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum Dalam Daerah Kota Makassar.

Manfaat Penelitian adalah sebagai berikut:

1. Secara teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan bisa mengindentifikasi permasalahan perparkiran yang ada di Kota Makassar agar kedepannya perparkiran yang ada di Kota Makassar dapat berjalan sesuai prosedur demi terciptanya tata kota yang baik.

2. Secara praktis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk kemajuan sistem parkir yang ada di Kota Makassar. Selain itu agar kedepannya pemerintah bahkan masyarakat dapat memahami pentingnya untuk memarkirkan kendaraan dengan baik dan benar ditempat yang telah disediakan.

(19)

7 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Konsep Implementasi 1. Pengertian Implementasi

Sejarah perkembangan studi implementasi baru dimulai sekitar tahun 1970-an Ketika perkembangan dalam studi kebijakan, yakni: keputusan menjadi focus kepada tahap paksa keputusan.

Implementasi menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah pelaksanaan atau penerapan. Sedangkan pengertian umum adalah suatu tindakan atau pelaksana rencana yang telah disusun secara cermat dan rinci (matang).

Pengertian implementasi menurut Nurdin Usman (2002) adalah suatu hal yang bermuara pada aksi, aktivitas, tindakan serta adanya mekanisme dalam suatu sistem.

Implementasi tidak hanya aktivitas yang monoton namun suatu kegiatan yang terencana dengan baik untuk mencapai tujuan kegiatan tertentu.

Implementasi kebijakan publik juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang mengacu pada aturan-aturan yang telah dipersiapkan sehingga dari aktifitas yang telah dilakukan tersebut dapat meberikan suatu dampak bagi masyarakat serta dapat memberi kontribusi dalam menghadapi suatu permasalahan yang menjadi sasaran dan tujuan program. Berjalannya suatu impelementasi kebijakan publik dengan baik dapat menjadi tolak ukur keberhasilan suatu program itu sendiri.

(20)

8 Perkembangan studi implementasi yang terjadi saat ini sangat dipengaruhi oleh beberapa kondisi:

1. Studi implementasi merupakan bagian dari proses pembelajaran mengenai administrasi publik.

2. Munculnya demokrasi membuat masyarakat dalam mengambil keputusan dapat bertindak sebebas-bebasnya dengan tetap mematuhi peraturan yang ada.

3. Berkembangnya teknologi secara pesat memberikan dampak yang besar untuk kemajuan masyarakat.

2. Teori-Teori Implementasi

Terdapat banyak model implementasi yang dikemukakan oleh para ahli, namun dalam skripsi ini saya akan membahas model implementasi yang dibahas oleh teori George Edward III. Dalam teorinya Edward berpendapat bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi impementasi, dikarenakan banyaknya faktor yang dapat berkesinambungan satu antara yang lainnya. Karena saling berkesinambungan inilah penting bagi Edward untuk mengetahu faktor tersebut bagi implementasi. Edward berpendapat ada 4 faktor implementasi menurutnya, yaitu:

1. Komunikasi 2. Sumberdaya 3. Disposisi

4. Struktur birokrasi

(21)

9 2.1 Komunikasi

Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikan. Sementara itu, komunikasi kebijakan berarti merupakan proses penyampaian informasi kebijakan dari pembuat kebijakan (policy makers) kepada pelaksana kebijakan (policy implementors) (Widodo, 2011:97).

Sementara Berelson dan Stainer berpendapat bahwa komunikasi adalah proses untuk menyampaikan informasi yang diketahui, gagasan yang dipikirkan, serta emosi dan keahlian. Namun dapat dengan cara menggunakan symbol, angka, ataupun kata- kata (Dani, 2008:25).

Komunikasi yang baik sangat diperlukan dalam proses implementasi kebijakan, agar dapat berjalan dengan baik. Komunikasi sangat berpengaruh penting dalam proses ini agar dapat tercapainya efektivitas. Penyampaian informasi yang baik melalui komunikasi yang baik dapat menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan implementasi kebijakan tersebut. Dalam hal ini, media untuk berkomunikasi sangat diperlukan agar informasi dari kebijakan tersebut dapat tepat sasaran serta tujuan.

2.1.1 Jenis Komunikasi

Ada empat kategori utama atau gaya komunikasi termasuk verbal, nonverbal, tertulis dan visual:

(22)

10 a. Verbal

Pesan yang disampaikan secara langsung dari pemberi berita kepada penerima berita dalam artian (face to face). Komunikasi jenis ini merupakan komunikasi yang paling efisien karena lebih terpercaya penyampaiannya. Komunikasi jenis ini biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti berbicara pada orang, presentasi, dll.

b. Non Verbal

Komunikasi nonverbal adalah penggunaan bahasa tubuh, gerak tubuh dan ekspresi wajah untuk menyampaikan informasi kepada orang lain. Ini dapat digunakan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Misalnya, Anda mungkin tersenyum secara tidak sengaja saat mendengar ide atau informasi yang menyenangkan atau menyenangkan.

Jika mereka menunjukkan bahasa tubuh yang “tertutup”, seperti lengan disilangkan atau bahu membungkuk, mereka mungkin merasa cemas, marah atau gugup. Jika mereka menunjukkan bahasa tubuh “terbuka” dengan kedua kaki di lantai dan lengan di samping atau di atas meja, mereka cenderung merasa positif dan terbuka terhadap informasi.

c. Tertulis

Komunikasi tertulis adalah tindakan menulis, mengetik atau mencetak simbol seperti huruf dan angka untuk menyampaikan informasi. Hal ini membantu karena memberikan catatan informasi untuk referensi. Menulis biasanya

(23)

11 digunakan untuk berbagi informasi melalui buku, pamflet, blog, surat, memo dan lainnya.

d. Visual

Komunikasi visual adalah tindakan menggunakan foto, seni, gambar, sketsa, bagan, dan grafik untuk menyampaikan informasi. Visual sering digunakan sebagai bantuan selama presentasi untuk memberikan konteks yang membantu di samping komunikasi tertulis dan / atau verbal. Karena orang memiliki gaya belajar yang berbeda, komunikasi visual mungkin lebih membantu bagi beberapa orang untuk mengonsumsi ide dan informasi.

2.2 Sumberdaya

Menurut Edward sumber daya merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam menerapkan implementasi kebijakan. Hal ini dikarenakan sumber daya dapat bertanggungjawab dengan kebijakan yang ada. Jika suatu organisasi telah memiliki aturan yang jelas serta komunikasi yang sangat akurat dan baik namun jika sumber dayanya kurang ataupun tidak berjalan dengan baik tentunya mereka tidak dapat melakukan kebijakan dengan baik.

Sumber daya yang dimaksud merupakan dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan dari proses implementasi kebijakan tersebut. Sumber daya tersebut antara lain anggaran, sumber daya manusia, kewenangan, informasi serta fasilitas yang dijelaskan sebagai berikut :

(24)

12 a. Sumber Daya Manusia (Staff)

Sumber daya manusia yang dimaksud dalam hal ini mengenai bagaimana kualitas serta kuantitas sdm yang ada. Berbicara masalah kualitas, hal ini sangat diperlukan dalam era modern sekarang ini. Kualitas seseorang dapat berdampak dalam kinerjanya. Jika dia memiliki kualitas yang baik seperti profesionalitas, dedikasi, serta keterampilam besar kemungkinan implementasi dapat berjalan dengan cepat.

Namun tidak hanya kualitas, kuantitas pun diperlukan dalam mewujudkan implementasi kebijakan tersebut. Jumlah sdm yang cukup serta berkualitas dapat membantu proses implementasi berjalan dengan sangat cepat.

b. Anggaran (Budgetary)

Salah satu sumber daya yang diperlukan juga adalah anggaran. Tanpa adanya anggaran yang memadai proses implementasi suatu program tidak dapat berjalan dengan baik. Modal yang memadai dapat menjadi nilai tambahan untuk menjamin proses implementasi tersebut berjalan tepat sasaran serta tujuan. Maka dari itu kecukupan anggaran sangat diperlukan dalam hal ini.

c. Fasilitas (facility)

Fasilitas yang layak serta memadai menjadi salah satu keberhasilan dari proses implementasi. Pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan seperti gedung, peralatan kantor, dll dapat menunjang keefektifan suatu kebijakan dalam implementasi. Sarana dan prasarana sangat berpengaruh akan kemajuan proses implementasi agar dapat mencapai target dan sasaran dengan baik.

(25)

13 d. Informasi dan Kewenangan (Information and Authority)

Informasi menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam mengimplementasikan kebijakan, karena dengan adanya informasi yang akurat serta jelas dapat menjadi hal yang penting untuk mendukung kemajuan implementasi.

Wewenang pun berperan penting dalam proses implementasi kebijakan ini guna meyakinkan bahwa implementasi ini sudah dijalankan sesuai dengan tujuan dan target yang telah disepakati.

2.3 Disposisi

Disposisi merupakan perilaku atau karakteristik yang harus dimiliki oleh implementor. Jika para pelaksana ingin kebijakan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan keputusan yang telah disepakati bersama maka para pelaksana tidak hanya harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan tetapi mereka juga harus memiliki kemampuan dalam menjalankan program tersebut. Kemampuan yang dimiliki para pelaksana nantinya akan membantu mereka dalam menjalankan tuaga implementasi itu dengan baik. Para pelaksana mungkin memahami maksud dan sasaran program namun seringkali mengalami kegagalan dalam melaksanakan program secara tepat karena mereka menolak tujuan yang ada didalamnya sehingga secara sembunyi mengalihkan dan menghindari implementasi program.

Hal terpenting yang harus pada variabel disposisi ini adalah pengangkatan birokrat. Pemilihan serta pengangkatan para pelaksana dalam menangani kebijakan ini harus lah orang-orang yang memiliki profesionalitas untuk kepentingan orang

(26)

14 banyak. Karena pada umumnya banyak orang yang melaksanakan itu semua karna adanya insentif yang tinngi dan hanya mementingkan kepentingan pribadi. Tentunya hal ini nantinya akan berdampak kepada para pelaksana kebijakan. Dukungan serta kerjasama dari pembuat kebijakan serta pelaksana kebijakan sangat penting dalam hal ini, agar adanya keseimbangan dalam menjalankan tugas tersebut.

2.4 Struktur Birokrasi

Sturuktur birokrasi diperlukan dalam mengimplementsikan kebijakan yang telah disepakati. Dalam hal ini peranan struktur birokrasi sangat penting untuk menunjang kinerja para pelaksana. Sturktur birokrasi yang baik dan jelas serta dapat bekerjasama dapat membuat kinerja tersebut menjadi efektif dan efisien. Jika para pelaksana sudah melaksanakan kebijakan menurut SOP yang berlaku, dapat dipastikan keputusan tersebut dapat berjalan dengan baik.

Walaupun pelaksana implementasi memiliki sumber daya manusia yang berkualitas serta kuantitasnya cukup serta memiliki tim yang kuat dalam menjalankan implementasi tersebut dan mengetahui apa yang harus mereka lakukan agar implementasi tersebut dapat berjalan sesuai sasaran, namun jika struktur birokrasi tidak memiliki komitmen yang kuat dapat dipastikan implementasi kebijakan tersebut tidak dapat direalisasikan. Sturuktur birokrasi yang tidak berjalan dengan tepat dapat menjadi penghambat jalannya proses implementasi kebijakan tersebut. Maka dri itu dibutuhkan kerjasama tim yang baik dalam menjalankan tanggungjawab ini.

(27)

15 Birokrasi merupakan struktur tatanan organisasi, bagan, pembagian kerja dan hierarki yang terdapat pada sebuah lembaga yang penting untuk menjalankan tugas- tugas agar lebih teratur, seperti contohnya pada pemerintahan, rumah sakit, sekolah, militer dll. Birokrasi ini dimaksudkan sebagai suatu sistem otoritas yang ditetapkan secara rasional oleh berbagai macam peraturan untuk mengorganisir pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang. Dalam pelaksanaanya, birokrasi memiliki prosedur atau aturan yang bersifat tetap, dan rantai komando yang berupa hirarki kewenangannya mengalir dari “atas” ke “bawah”.

2.4.1 Fungsi dan Peran Birokrasi 2.4.1.1 Fungsi Birokrasi

a. Melaksanakan pelayanan publik.

b. Pelaksana pembangunan yang profesional.

c. Perencana, pelaksana, dan pengawas kebijakan.

d. Alat pemerintah untuk melayani kepentingan masyarakat dan bukan merupakan bagian dari kekuatan politik (netral).

2.4.1.2 Peran Birokrasi

a. Sejalan dengan tujuan pemerintahan.

b. Melaksanakan kegiatan dan program demi tercapainya visi dan misi pemerintah dan negara.

c. Melayani masyarakat dan melaksanakan pembangunan dengan netral dan profesional.

(28)

16 d. Menjalankan manajemen pemerintahan, mulai dari perencanaan, pengawasan, evaluasi, koordinasi, sinkronisasi, represif, prefentif, antisipatif, resolusi, dll.

e. Birokrasi sering sekali dipandang negatif karena kinerja mereka cenderung menyusahkan masyarakat. Tidak hanya itu, birokrasi juga dinilai masyarakat sebagai organisasi yang boros, tidak efisien, dan tidak efektif.

f. Masyarakat berpendapat bahwa birokrasi adalah alat penindas masyarakat miskin dan hanya membela kepentingan orang kaya. Namun demikian, birokrasi tetap dibutuhkan masyarakat sebagai penghubung antara negara dan masyarakat. Birokrasi mempunyai kewajiban melayani masyarakat dan menjadikan masyarakat sebagai prioritas utama.

2.4.2 Ciri - Ciri Birokrasi

Birokrasi menurut Max Weber memiliki ciri-ciri seperti di bawah ini:

Jabatan administratif yang terorganisir atau tersusun secara hirarki, setiap jabatan memiliki wilayah kompetensinya sendiri, pegawai negeri ditetapkan, dan tidak dipilih berdasarkan hasil kualifikasi teknik yang ditunjukan melalui ijazah atau ujian, pegawai negeri menerima gaji tetap sesuai dengan pangkat atau kedudukan yang dimiliki, pekerjaan adalah karir yang terbatas, atau pada intinya, yaitu pekerjaanya sebagai pegawai negeri.

(29)

17 2.4.3 Karakteristik Birokrasi

Menurut Max Weber, karakteristik birokrasi yang ideal adalah sebagai berikut:

a. Kerja yang ketat pada peraturan b. Tugas yang bersifat khusus c. Kaku dan sederhana

d. Diselenggarakan secara resmi

e. Pengaturannya bersifat hirarki, atau dari atas ke bawah.

f. Berorientasi terhadap logika g. Tersentralistis

h. Taat dan patuh i. Disiplin

j. Terstruktur atau sistematis k. Tidak pandang bulu

B. Tinjauan Umum Parkir 1. Definisi Parkir

Definisi parkir dapat kita temui dalam Pasal 1 angka 15 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan: Parkir adalah keadaan

(30)

18 Kendaraan berhenti atau tidak bergerak untuk beberapa saat dan ditinggalkan pengemudinya.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia definisi parkir ialah menghentikan atau menaruh (kendaraan bermotor) untuk beberapa saat ditempat yang sudah disediakan.

Dalam tulisannya mengenai parkir, Syaiful (2013), menjelaskan pengertian parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang bersifat sementara karena ditinggalkan oleh pengemudinya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa parkir adalah berhentinya suatu kendaraan dalam beberapa saat karena ditinggalkan oleh pengemudinya serta membutuhkan lokasi atau tempat untuk melakukan pemberhentian yang telah ditetapka oleh pemerintah maupun pihak yang bertanggungjawab untuk menyediakan tempat parkir. Pemerintah ataupun badan usaha milik perseorangan telah menyediakan parkir umum berupa gedung parkir yang bisa digunakan untu menyimpan sementara kendaraan. Penetapan lokasi serta pembangunan tempat parkir dilakukan dengan memperhatikan rencana umum oleh tata ruang daerah agar lalu lintas didaerah parkir tersebut tetap lancar, keamanan serta kemudahan bagi pengguna tempat parkir.

Menurut hukum yang berlaku pengendara dilarang memarkirkan kendaraannya ditengah jalan, namun memarkirkan kendaraan dibahu jalan umumnya diijinkan tetapi tetap mengikuti aturan yang ada. Biasanya untuk parkir di jalanan umum pemerintah memasang rambu-rambu agar masyarakat mengetahui temapt yang diijinkan atau tidak untuk memarkirkan kendaraan mereka.

(31)

19 2. Jenis Parkir

Jenis parkir menurut Wikipedia dibagi menjadi beberapa klasifikasi.

c. Parkir menurut penempatannya

 Parkir di tepi jalan umum merupakan jenis parkir yang bertempat disepanjang

bahu jalan. Jenis parkir seperti ini banyak ditemui ditempat-tempat yang ramai untuk dikunjungi oleh masyarakat. Hal ini dapat diakibatkan karena penyedia layanan tidak menyediakan lahan parkir yang cukup. Parkir seperti ini yang biasanya mengambil bahu jalan dan mengambil jalur lalu lintas dan bisa mengakibatkan kemacetan.

 Parkir diluar badan jalan merupakan parkir ditempat yang telah disediakan.

Tempat parkir seperti ini biasanya dapat ditemui di gdung, tempat wisata, ataupun pusat perbelanjaan lainnya.

b. Parkir menurut jenis kendaraan

Menurut jenis kendaraan, ada beberapa macam jenis parkir yang membedakan kendaraan guna untuk mempermudah dalam pembagian pelayanan:

1. Parkir untuk kendaraan roda dua namun tidak memiliki mesin seperti sepeda.

2. Parkir untuk becak, dongkar, dan andong.

3. Parkir untuk kendaraan roda dua yang memiliki mesin seperti sepeda motor.

4. Parkir untuk kendaraan roda tiga, empat atau lebih dan memiliki mesin seperti mobil, truk, dll.

c. Parkir menurut tujuannya

(32)

20 Parkir menurut tujuannya dibagi menjadi beberapa klasifikasi:

1. Parkir penumpang merupakan parkir untuk mengangkut atau menurunkan penumpang yang ingin naik kendaraan umum.

2. Parkir barnag merupakan parkir untuk bongkar muat suatu barang.

Merujuk pada keputusan Walikota Makassar No 64 Tahun 2001, ada 3 jenis titik parkir, yaitu:

a. Titik Parkir tepi jalan umum murni merupakan seluruh titik parkir yang dimana terdapat di tepi jalan umum berdasarkan surat keputusan Walikota.

b. Titik Parkir insidentil terbagi menjadi 2, antara lain:

1) Insidentil Rutin yaitu titik parkir yang letaknya di lokasi Badan Usaha.

Misalnya Rumah Makan, Toko, dll

2) Insidentil Dadakan merupakan parkir yang berlaku hanya sementara.

c. Titik parkir Komersial merupakan titik parkir yang terdapat pada perbatasan wilayah Kota Makassar.

3. Cara Parkir Kendaraan

Cara parkir kendaraan dibagi menjadi 3 susunan, yaitu:

a. Parkir Paralel

Parkir paralel biasa disebut juga dengan parkir sejajar yang diaman parkir diatur dalam sebuah barisan, dengan bumper depan menghadap ke salah satu bumber belakang yang berdekatan. Cara parkir tersebut merupakan cara parkir paling umum yang biasa kita dijumpai ditempat parkir. Namun cara parkir seperti

(33)

21 ini memiliki kesulitan yang akan memamkan waktu untuk keluar dari areal parkir.

Jenis parkir paralel merupaka salah satu jenis parkir yang sulit sehingga dijadikan salah satu penilaian yang akan diujikan untuk mendapatkan SIM. Cara ini biasanya banyak digunakan di toko, hotel, maupun usaha yang lainnya yang menggunakan tempat parkir.

b. Parkir tegak lurus

Cara parkir tegak lurus kendaraan satu berdampingan dengan kendaraan yang lainnya. Parkir seperti ini menghadap tegak lurus ke gang atau dindigng yang menjadi patokan. Biasanya ditempat parkir mobil ini kendaraan yang satunya dibuat menghadap ke kendaraan yang lainnya. Seringkali, ditempat parkir mobil menggunakan parkir tegk lurus, dua baris tempat parkir dapat diatur berhadapan de[an dengan depan, dengan atau tanpa gang diantara keduanya.

c. Parkir Serong

Parkir serong biasa juga kita temui di tempat parkir pada umunya atau dijalan umum. Cara parkir seperti ini biasa lebih memudahkan kendaraan melakukan keluar masuk dari tempat parkir. Cara parkir seperti ini biasanya dilakukan untuk mengoptimalkan lahan parkir yang akan digunakan karena dibutuhkan gang yang lebih sempi untuk menempatkan tempat parkir yang lebih banyak dalam lahan tertentu. Parkir seperti ini memang tidak umum, namun sebenarnya dapat lebih

(34)

22 banyak memarkirkan kendaraan, disisi lain cara parkir seperti ini juga lebih banyak mengurangi penggunaan lebar jalan.

4. Kebijakan Parkir

a. Kebijakan tarif parkir ini ditetapkan berdasarkan lokasi serta waktu, semakin dekat dengan pusat kota ataupun pusat hiburan maka tarif yang akan dikenakan semakin tinggi. Hal ini mendorong agar masyarakat lebih memanfaatkan angkutan umum untuk transportasi mereka.

b. Kebijakan pembatasan ruang parkir, kebijakan seperti ini seringkali dilakukan pada daerah pusat kota terutama di pinggir jalan. Jalan utama bertujuan untuk memperlancar arus lalu lintas namun, biasaknya msyrakat banyak yang tidak sadar akan hal itu dan terus memarkir kendaraannya dipinggir jalan yang menimbulkan kemacetan. Maka dari itu aturan ini diberlakukan.

c. Kebijakan menggunakan hukum yang tegas. Kebijakan ini biasa diberlakukan untuk para pengguna jasa parkir namun melanggar aturan parkir seperti ketentuan untuk dilarang parkir pada tempat yang telah ditentukan ataupun melakukan pemberhentian ditempat yang telah dilarang. Sesuai hukum yang berlaku para pelanggar biasanya diberi hukuman/denda sebagi berikut:

 Tilang

Tilang merupakan cara yang paling sering digunakan untuk memberi denda atau hukuman kepada para pengguna jalan yang melanggar lalu lintas. Polisi lalu

(35)

23 lintas dalam hal ini melakukan patroli dan jika mendapati pelanggar mereka memberi pelanggar surat tilang.

 Derek

Cara yang biasanya digunakan dengan cara menderek kendaraan tersebut dalam hal ini kendaraan yang melakukan parkir ditempat yang telah dilarang.

Petugas melakukan penderekan terhadap kendaraan selanjutnya pengemudi dapat mengambil kendaraanya di tempat pengumpulan mobil dan segera mendapat surat tilang untuk diproses.

 Gembok Roda

Cara seperti ini belum banyak digunakan di Indonesia, cara ini dijalankan dengn menggembok salah satu ban kendaraan sehingga kendaraan yang melanggar terkunci. Untuk membuka gembok ban kendaraan, pengemudi harus melaporkan ke pihak yang bertanggungjawab dalam hal ini dinas perhubungan untuk membuka kunci dan membayar denda atas pelanggaran yang telah dilakukan.

C. Kerangka Konsep

Ada beberapa hal pokok yang menjadi landasan berpikir dalam penelitian yang akan dilakukan nantinya. Untuk itu penelitian yang akan dilakukan ini, mengutip beberapa pendapat para ahli yang berhubungan langsung dengan permasalahan yang

(36)

24 nantinya akan dikaji secara mendalam. Dalam pelaksanaan otonomi, dituntut kemampuan daerah dalam memanfaatkan semua potensi yang ada di daerah dalam rangka melaksanakan pemerintahannya.

Dalam Peraturan Daerah Pemerintah Kota Makassar No 17 tahun 2006 tentang Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum Daerah Kota Makassar, pada bab 5 pasal 9 dijelaskan bahwa: “dilarang menempatkan kendaraan bermotor dan atau alat angkut lainnya di luar tempat parkir yang ditetapkan;.” Pada poin kedua dalam pasal tersebut juga dijelaskan sebagai berikut “dilarang Mengotori/merusak tempat parkir;.” Lalu dilanjutkan pada poinnya yang ketiga dikatakan bahwa “dilarang melakukan kegiatan lain selain kegiatan perparkiran pada tempat parkir kecuali mendapat izin Direksi.”

Dilanjutkan pada pasal 10 tentang para pengguna tempat parkir dan juru parkir pada poinnya yang pertama diwajibkan untuk dapat menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan tempat parkir, lalu pada poinnya yang kedua pengguna parkir dan juru parkir dapat menempatkan kendaraan dengan teratur sehingga tidak menggangu lalu lintas orang, barang dan kendaraan. Dijelaskan pula pada poinnya yang ketiga bahwa mereka wajib mentaati ketentuan jasa dan tarif parkir yang berlaku. Juru parkir wajib memberi karcis parkir kepada pengguna tempat parkir serta juru parkir wajib menggunakan seragam dan atau tanda pengenal yang ditetapkan oleh Direksi.

Dalam aturan tersebut telah dijelaskan bagaimana seharusnya pengelolaan parkir di Kota Makassar, namun pada implementasinya masih banyak saja pihak juru parkir yang melanggar aturan tersebut. Menurut George C, Edward salah satu keberhasilan

(37)

25 dalam melaksanakan implementasi adalah komunikasi. Menurutnya komunikasi sangat penting untuk mendukung keberhasilan proses implementasi itu sendiri. Tanpa adanya komunikasi serta kerjasama antar pelaksana sulit untuk menjalankan kebijakan tersebut. Mengapa dibutuhkan komunikasi? Karena pada dasarnya para pelaksana memerlukan itu guna mengetahui apa yang telah dikerjakan oleh rekannya.

Implementasi dapat berjalan dengan baik apabila para pelaksana mengetahui apa yang telah dan akan mereka kerjakan. Maka dari itu mereka memerlukan komunikasi agar tujuan mereka dapat mencapi target yang telah disepakati.

Variabel kedua yang mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan adalah sumber daya. Sumber daya merupakan hal penting lainnya dalam mengimplementasikan kebijakan, menurut Goerge C.Edward (dalam Agustino), Indikator sumber daya terdiri dari beberapa elemen, yaitu: staf, informasi, wewenang, dan fasilitas.

Variabel ketiga yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan adalah disposisi. Hal-hal penting yang perlu dicermati pada variabel disposisi, menurut Goerge C.Edward (dalam Agustino), adalah : Pengangkatan birokrat dan insentif.

Variabel keempat yang mempengaruhi keberhasilan implementasi adalah struktur birokrasi. Walaupun pelaksana implementasi memiliki sdm yang berkualitas serta kuantitasnya cukup serta memiliki tim yang kuat dalam menjalankan implementasi tersebut dan mengetahui apa yang harus mereka lakukan agar implementasi tersebut dapat berjalan sesuai sasaran, namun jika struktu birokrasi tidak memiliki komitmen yang kuat dapat dipastikan implementasi kebijakan tersebut tidak dapat

(38)

26 direalisasikan. Sturuktur birokrasi yang tidak berjalan dengan dapat menjadi penghambat jalannya proses implementasi kebijakan tersebut. Maka dri itu dibutuhkan kerjasama tim yang baik dalam menjalankan tanggungjawab ini.

Berikut merupakan skema kerangka konseptual yang akan peneliti gunakan dalam melakukan penelitian terkait kasus parkir yang terjadi di Kota Makassar.

Kerangka Konsep:

Komunikasi

1. Informasi 2. Sumber

Sumber Daya

1. Staff

2. Kemampuan 3. Fasilitas

Disposisi

1. Wewenang 2. Adminnistrasi

Struktur Birokrasi

1. SOP

2. Fragmentasi IMPLEMENTASI

PENGELOLAAN PARKIR TEPI JALAN UMUM DI KOTA MAKASSAR

(39)

27 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian tentang Implementasi Peraturan Daerah Kota Makassar No 17 tahun 2006 tentang Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum Dalam Daerah Kota Makassar penulis menggunakan pendekatan kualitatif di mana penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Untuk memperoleh informasi atau data yang akurat, yang berkaitan dan relevan dengan permasalahan pada skripsi ini, maka penulis akan melakukan penelitian di Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. Adapun fokus penelitian ditempatkan pada Kantor Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya.

Waktu penelitian yang diperlukan dalam menyelesaikan penelitian ini selama satu bulan sejak tanggal 02-31 Agustus 2019.

C. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Data primer adalah data atau informasi yang diperoleh secara langsung di lapangan dengan mengadakan observasi dan wawancara interview pada pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dibahas.

(40)

28 2. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh penulis peroleh dari studi kepustakaan dari sumber Peraturan perundang-undangan, buku-buku, serta sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian yang akan diteliti.

D. Informan

Untuk memperoleh data guna kepentingan penelitian ini, maka diperlukan informan. Dalam penelitian ini informan yang peneliti maksudkan adalah pihak Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya.

E. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang benar dan akurat dalam penelitian ini ditempuh prosedur sebagai berikut:

1. Studi Lapangan (Field Reasearce)

Studi lapangan adalah mengumpulkan data yang dilakukan dengan mengadakan penelitian langsung pada tempat atau objek penelitian melalui:

a. Observasi, pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap obyek- obyek yang akan diteliti secara sistematis yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti.

b. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (yang mengajukan pertanyaan) dan yang diwawancarai (yang memberikan jawaban atas pertanyaan).

(41)

29 c. Dokumentasi, metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

mengumpulkan dokumen yang ada hubungannya dengan penelitian.

2. Study Kepustakaan Studi kepustakaan adalah mengumpulkan data yang dilakukan dengan cara membaca, mengutip, mencatat dan memahami berbagai literatul yang relevan dengan permasalahan penulisan skripsi ini.

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah teknik analisis data kualitatif, data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian untuk menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang- orang yang diwawancarai. Teknik analisis data kualitatif digunakan untuk mendapatkan penjelasan mengenai bagaimana peran dari PD Parkir Makassar Raya dalam mengimplementasikan Perda No 17 tahun 2006. Data dari hasil wawancara yang di peroleh kemudian dicatat dan dikumpulkan sehingga menjadi sebuah catatan lapangan.

(42)

30 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Perparkiran di Kota Makassar

Kota Makassar merupakan kota yang mengalami perkembangan pembangunan begitu pesat. Fakta inilah yang menyebabkan kota Makassar menjadi salah satu kota yang padat. Maraknya pembangunan yang terjadi di Kota Makassar membuat Kota Makassar terlihat selalu ramai dipenuhi oleh penduduk, hal ini pun menyebabkan kemacetan dimana-mana. Pembangunan yang meningkat membuat lahan parkir yang semakin tidak ada dan pada akhirnya masyarakat banyak menggunakan bahu jalan untuk memarkirkan kendaraannya.

Keberadaan parkir di Kota Makassar, Sulawesi Selatan kerap disoroti karena menjadi salah satu pemicu kemacetan. Parkir liar mudah ditemui di jalanan Kota Makassar, terutama di sekitar pusat perbelanjaan hingga perkantoran. Hal ini menyebabkan Kota Makassar menjadi macet dikarenakan banyak kendaraan yang memarkirkan kendaraannya di bahu jalan. Menurut hasil penelitian peneliti banyak masyarakat lebih memilih untuk parkir di tempat parkir liar dikarenakan akses yang lebih mudah untuk ditempuh “hanya tinggal menyebrang”.

Keadaan seperti ini tak bisa diatasi dengan baik dan akhirnya terus terjadi tanpa adanya solusi. Belum lagi sejak munculnya ojek online tambah membuat macet terkhusus di daerah pusat perbelanjaan seperti Mall Panakukang. keinginan masyarakat untuk menggunakan jasa ojek online yang tinggi membuat banyak ojek

(43)

31 online tersebut lebih memilih untuk tinggal dibahu jalan menunggu orderan dan menjadi pemicu kemacetan. Bukan hanya motor bahkan mobil pun demikian, kendaraan tersebut pun ikut memarkirkan kendaraan mereka dibahu jalan untuk menunggu orderan. Sama halnya yang terjadi di jalan-jalan lain seperti di Pasar Senggol, Toko Buku Agung, Pasar Butung, dll.

1. Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya

Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya merupakan instansi yang didirikan untuk melaksanakan tugas menangani perparkiran yang ada di Kota Makassar.

Perusahaan daerah parkir maksssar raya didirikan pada tahun 1999 hal ini berdasarkan pada Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 5 tahun 1999 tentang pendirian Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya Kotamadya Tingkat II Ujungpandang. Namun seiring berjalannya waktu terjadi perubahan menjadi Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 16 tahun 2006 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 5 tahun 1999 tentang pendirian Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya Kotamadya Tingkat II Ujungpandang. Perubahan ini mengacu pada Undang-undang Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukkan daerah Tingkat II di Sulawesi, Undang-Undang Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah, Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang- Undang nomor 10 tahun 2004, Peraturan Pemeintah nomor 51 tentang Perubahan Batas-batas Daerah Kotamadya Makassar dan Kabupaten Gowa, Maros dan

(44)

32 Pangkajene, Peraturan Pemerintah nomor 86 tahun 1999 tentang perubahan nama Kota Ujung Pandang menjadi Kota Makassar dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, Peraturan Daerah Kota Makassar nomor 10 tahun 2000 tentang ketentuan- ketentuan pokok Badan Pengawas Direksi, dan kepegawaian Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya Kota Makassar.

PD Parkir Makassar Raya merupakan badan usaha yang dikelola oleh daerah yang bertujuan untuk menjalankan fugsi sarana pengelolaan parkir di Kota Makassar.

Tugas pokok terbentuknya PD Parkir Makassar Raya guna untuk mengelola system perparkiran di Kota Makassar serta dapat memelihara perparkiran di Kota Makassar untuk meningkatkanan pendapatan asli daerah (PAD).

2. Visi Dan Misi Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya

Visi merupakan cita-cita suatu perusahaan atau organisai dalam jangka panjang untuk mencapai tujuan masa depan. Visi sangat diperlukan dalam membangun suatu perusahaan ataupun organisasi agar kedepannya mereka mengetahui proses yang harus mereka lewati untuk mengembangkan usaha mereka. Begitun dengan PD Parkir Makassar Raya memiliki visi untuk menjadikan Perusahaan Daerah Parkir Kota Makassar sebagai perusahaan daerah terbaik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan terbesar dalam memberikan kontribusi terhadap pendapatan anggaran daerah Kota Makassar.

(45)

33 Adapun misi merupakan implementasi dari visi tersebut. Misi merupakan cara agar suatu instansi dapat mewujudkan visi yang telah mereka rancangkan. Adapun visi dari PD Parkir Makassar Raya sebagai berikut:

1. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (pegawai) di lingkungan PD. Parkir Kota Makassar pada semua tingkatan dan jabatan.

2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana perparkiran guna menunjang kinerja perusahan.

3. Menggali areal kawasan perparkiran baru yang potensial secara terus menerus, seiring dengan arah perkembangan Kota Makassar menuju Kota maritim dan Perdagangan dunia.

4. Meningkatkan kesejahteraan karyawan Perusahaan Daerah Parkir Kota Makassar sebagai stimulan dalam rangka meningkatkan motivasi, Loyalitas, kreativitas, dan responsibilitas karyawan terhadap perusahaan.

3. Implementasi Peraturan Daerah No 17 tahun 2006

Perkembangan Kota Makassar dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang sangta pesat baik dalam bidang ekonomi, pendidikan maupun kebudayaan.

Keinginan masyarakat untuk memiliki kendaraan membuat jumlah kendaraan di Kota Makassar semakin meningkat, hal ini pun tidak diimbangi oleh lahan parkir yang memadai.

Pembangunan yang semakin meningkat seperti toko, restoran, dan tempat umum yang tidak disertai dengan pembangunan jangka panjang untuk menyediakan lahan parkir membuat masyarakat memilih untuk parkir ditepi jalan umum. Hal inilah yang

(46)

34 membuat kemacetan yang terjadi di Kota Makassar. Seharusnya pihak manajemen tempat umum tersebut menyediakan lahan yang memadai agar masyarakat dapat menggunakan lahan parkir tersebut dengan baik.

Kemacetan yang dikarenakan oleh banyaknya kendaraan yang diparkir sembarangan pun sering terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk dapat memarkir kendaraannya ditempat yang telah disediakan, contohnya saja di Mall Panakukang. Pihak manajemen Mall telah menyediakan lahan parkir namun masih banyak saja masyarakat yang tidak mematuhi aturan dan memilih untuk memarkir kendaraannya di tepi jalan umum. Karena maraknya masyarakat yang memarkir kendaraannya dengan sembarangan, aksi kejahatan pun tak terhindari. Banyak masyarakat yang mengeluh motor bahkan barangnya rusak atupun hilang saat mereka memarkir dengan sembarangan.

Dalam hal ini instansi yang terkait pihak PD Parkir Makaassar Raya mereka mengatakan bahwa selama ini mereka sudah menjalankan tugas sesuai prosedur. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara langsung dengan Bapak Ir. Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:

“Pihak kami selama ini sudah sering memantau kinerja petugas parkir sesuai prosedur yang telah ada, sesuai dengan perda No 17 tahun 2006.”

Pihak PD Parkir Makassar Raya selama ini selalu memantau kinerja dari tiap petugas parkir. Direksi PD Parkir Makassar Raya Kota Makassar telah menetapkan beberapa kebijakan sesuai dengan yang tercantum di dalam Peraturan Daerah Nomor

(47)

35 17 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Perkir Tepi Jalan Umum Dalam Daerah Kota Makassar pasal 3 ayat 2 yang menyatakan bahwa Direksi berwenang menetapkan:

a. Titik / tempat-tempat parkir b. Pembagaian tempat parkir

c. Pengelompokan jenis kendaraan pengguna tempat dan jasa parkir d. Pengguna areal / pelataran parkir

e. Tanda / garis tempat parkir

f. Struktur tarif jasa penggunaan / pemanfaatan fasilitas parkir g. Perbaikan / rehabilitasi sarana dan prasarana parkir

h. Pemasangan dan pemanfaatan fasilitas parkir

Merujuk pada aturan diatas, dalam hal ini Perusahaan Daerah Makassar Raya pun mengakui telah melaksanakan tugas dan tanggungjawab dengan semestinya. Hal tersebut juga sesuai dengan hasil wawancara langsung dengan Bapak Ir. Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:

“Dalam menentukkan titik parkir kami selaku PD Parkir selalu melihat terlebih dahulu, apakah tempat parkir tersebut tidak melanggar peraturan walikota, karena dalam perwali ada 5 ruas jalan yang dilarang untuk ditempati parkir yaitu Jalan Ratulangi, Sultan Alaudin, Urip Sumoharjo, Pettarani dan Ahmad Yani. Namun diluar dari jalan ini kami juga melihat apakah tempat parkir tersebut nantinya tidak menggangu aktifitas jalan seperti di Lampu Merah”

Berdasarkan hasil wawancara diatas yang mana pihak Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya dalam menentukkan titik parkir selalu melihat dari Peraturan Walikota No 64 tahun 2011 tentang kawasan bebas parkir di lima ruas bahu jalan

(48)

36 Kota Makassar, pada pasal 1 ayat 1 yang mengatakan bahwa penetapan bahu jalan A.P Pettarani, Jl. Sultan Alauddin, Jl. Jenderal Urip Sumoharjo, Jl. DR. Sam Ratulangi dan Jl. Jenderal Ahmad yani sebagai kawasan bebas parkir kota Makassar.

Maka hal ini merupakan suatu strategi dari pihak PD Parkir dalam mengatur titik parkir tersebut. Namun dalam penerapannya masih banyak hal-hal yang telah dilanggar termasuk salah satunya Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Perkir Tepi Jalan Umum Dalam Daerah Kota Makassar pasal 3 ayat 2 poin a tentang Titik / tempat-tempat parkir.

1. Komunikasi

Sebagaimana yang diketahui bersama komunikasi adalah salah satu aspek yang penting dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab dalam pekerjaan. Tak bisa dipungkiri tidak adanya komunikasi yang baik dapat mengambat proses kinerja yang lainnya. Komunikasi sangat diperlukan terutama dalam proses Kerjasama antar sesama birokrasi.

Hal ini pun yang telah dilakukan oleh pihak Perusahaan Daerah Makassar Raya, komunikasi yang mereka jalankan dari petugas parkir ke kolektor begitupun kolektor ke direksi. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ir. Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:

“Komunikasi yang saya lakukan kepada staf-staf saya selama ini sudah berjalan dengan baik, kami dipihak PD Parkir sudah mejalankan tugas sesuai tupoksinya masing-masing, ketika ada hambatan kami dapat menyelesaikannya secara bersama-sama. Kami juga selama ini sudah memberikan informasi yang baik dan

(49)

37 benar kepada para petugas-petugas parkir bahwasannya mereka harus menjalankan tugas sebagaimana mestinya, namum memang dalam pelaksanaanya banyak kami dapatkan aduan dari masyarakat jika masih banyak saja tukang parkir liar yang berkeliaran ditempat parkir yang menjadi area PD Parkir Makassar Raya.”

Pihak PD Parkir dalam menjalankan komunikasi yang mereka lakukan sebenarnya sudah sesuai dengan prosedur yang ada selama ini, sesuai dengan tugas Direktur Operasional Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya pada poin kedua yang mengatakan bahwa mereka bertugas untuk merencanakan serta melaksanakan sistem pengelolaan parkir pada unit-unit parkir dan pelataran parkir yang dikelola oleh swasta dan pada poin yang ketiga mengatakan bahwa mereka mengatur proses pelayanan parkir bagi pengguna tempat parkir dan Menyusun kegiatan pembinaan untuk operasional perparkiran. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ir.

Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:

“Pihak Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya telah menjalankan tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku, namun tak bisa dihindari masih banyaknya petugas parkir yang melanggar aturan sampai terjadinya premanisme membuat hal ini sebagai salah satu hambatan yang harus kami lalui.”

Berdasarkan pernyataan diatas memperlihatkan bahwa selama ini pihak PD Parkir Makassar Raya tidak menjalankan tugasnya dengan efektif sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam Peraturan Daerah No 17 tahun 2006 Bab IV pasal 8 ayat 2 yang mengatakan bahwa: Direksi berhak mengambil alih tempat parkir bilamana juru parkir dan atau pengguna tempat parkir tidak memenuhi ketentuan

(50)

38 Pasal 7. Pasal 7 yang dimaksud adalah Ketentuan jenis pungutan, Tarif dan klasifikasi pemakaian tempat parkir dimaksud pasal 5, serta tata cara penagihannya ditetapkan oleh Direksi. Dalam hal menjalankan komunikasi kepada sesama pihak yang berwenang, PD Parkir Makassar Raya menganggap pihaknya telah menjalankan tugas dan tanggungjawab sesuai dengan prosedur. Namun karena adanya ketidaktegasan dari pihak PD Parkir Makassar Raya membuat lahan parkir dan petugas parkir menjadi liar. Kejadian seperti ini bisa kita lihat sehari-hari, yang mana petugas parkir banyak yang menujukkan sikap premanismenya ketika apa yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Misalnya tarif parkir yang tinggi dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, masyarakat terkadang hanyak membayar seadanya namun ketika hal itu tidak sesuai dengan keinginan petugas parkir mereka biasanya memakai tindak kekerasan.

2. Sumber Daya

Faktor selanjutnya yang mempengaruhi pelaksanaan kebijakan perparkiran di Kota Makassar adalah faktor sumber daya. Menurut Edward sumber daya merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam menerapkan implementasi kebijakan. Hal ini dikarenakan sumber daya dapat bertanggungjawab dengan kebijakan yang ada.

Jika suatu organisasi telah memiliki aturan yang jelas serta komunikasi yang sangat akurat dan baik namun jika sumber dayanya kurang ataupun tidak berjalan dengan baik tentunya mereka tidak dapat melakukan kebijakan dengan baik.

(51)

39 Sumber daya sangat penting dalam menentukan kebijakan. Hal ini menjadi salah satu aspek agar kebijakan berjalan dengan baik. Begitupun yang harusnya dilakukan oleh pihak Perusahaan Daerah Makassar Raya, jumlah staff serta fasilitas yang tersedia harus memadai. Sumber daya yang memadai akan mempengaruhi suatu kinerja dapat berjalan dengan baik.

Namun dalam implementasinya sumber daya yang ada tidak begitu maksimal, hal ini dibuktikan dengan adanya jumlah petugas kolektor yang bertugas melaksanakan pemungutan jasa retribusi parkir di kawasan perparkiran kota Makassar berjumlah 17 orang kolektor, ini menunjukkan ketidakseimbangan dengan juru parkir yang berjumlah 1000an lebih orang. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ir. Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:

“Kami saat ini memiliki sekitar 17 oramg kolektor yang bertugas untuk melakukan pemungutan jasa retribusi dari tiap petugas parkir serta kami telah mepekerjakan kira-kira 1000an lebih petugas parkir.”

Hal ini dapat membuktikan bahwa salah satu hal yang menghambat kurang efektifnya Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya untuk menjalankan tugasnya mengatasi parkir liar di Kota Makassar ini karna sumber daya manusia yang kurang.

Pernyataan diatas membuktikan bahwasannya ada banyak petugas parkir yang tersebar namun tidak sebanding dengan jumlah kolektor yang ada. Tak hanya itu banyaknya Sumber Daya yang belum terlatih juga membuat PD Parkir Makassar Raya harus benar-benar memperhatikan tingkat ketertiban parkir di tempat umum.

(52)

40 Banyaknya petugas parkir illegal, belum terlatih membuat banyak masyarakat yang takut untuk menggunakan jasa mereka. Kurangnya jumlah petugas yang turun ke lapangan mengontrol kinerja petugas parkir, membuat parkir yang seharusnya pada tempat yang telah sediakan tidak berjalan dengan baik efisien. Banyaknya petugas parkir illegal yang memanfaatkan bahu jalan bahkan jalan umum demi mendapatkan keuntungan membuat tidak kondusifnya perparkiran yang ada di Kota Makassar.

Kurangnya ketegasan dari pihak PD Parkir Makssar Raya dalam menegur dan memberi pembinaan kepada mereka yang menjadikan masalah ini terlus berlarut.

Seharusnya dalam hal menertibkan parkir liar yang ada di Kota Makassar pihak PD Parkir harusnya memberikan pembinaan secara meneyeluruh kepada petugas-petugas parkir yang akan dipekerjakan dan melihat banyaknya petugas parkir illegal pihak PD Parkir Makassar Raya harus tegas menegur dan mengamankan mereka. Agar kedepannya masyarakat pun merasa aman jika ingin memarkirkan kendaraanya.

3. Disposisi

Dalam sistem implementasi kebijakan perparkiran di tepi jalan umum di Kota Makassar, salah satu hal yang paling berpengaruh adalah faktor disposisi. Pihak yang membuat kebijakan harusnya memberikan perintah sesuai dengan situasi yang terjadi.

Ada banyak kebijakan yang dibuat namun tidak dijalankan dengan baik karna banyaknya perbedaan pendapat dan pandangan dalam melaksnakannya. Sikap pimpinan dalam hal ini diperlukan agar para jajaran dan semua yang terlibat dalam ketertiban perparkiran di Kota Makassr dapat menjalankan tugas dengan baik.

Disposisi merupakan perilaku atau karakteristik yang harus dimiliki oleh

Referensi

Dokumen terkait

Data lendutan digunakan untuk menentukan modulus resilien tanah dasar dan modulus perkerasan pada Metode AASHTO 1993 dengan hasil tebal overlay yang bervariasi tergantung nilai

 0uru menugasi semua sis'a untuk men$imak materi mengkon!ersi sudut 0uru menugasi semua sis'a untuk men$imak materi mengkon!ersi sudut tentang pengertian koordinat

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad dkk (2010) terhadap laki-laki yang diberikan 75 mg kapsul akar pasak bumi 2 kali sehari selama 7 hari

Jenis fitoplankton yang ditemukan selama penelitian di perairan Sungai Kandis Desa Karya Indah adalah 15 spesies dengan 3 kelas yang terdiri dari Bacillariophyceae 3

Mengakhiri perrkuliahan, dosen memberikan tugas individu kepada mahasiswa untuk mengamati proses pembelajaran di Taman Pendidikan Anak (TPA) sekaligus membuat hasil

Pada tahap selanjutnya dilaksanakan kegiatan wawancara mendalam melalui kegiatan Focus group Discussion dengan para Dosen Al-Islam dan Dosen PKn serta tim ahli untuk

dari penilaian rata-rata motivasi guru semula pada kondisi pra siklus menunjukkan rata-rata penilaian yang kurang baik meningkat menjadi cukup baik. Meskipun

Guru sudah berperan dalam memotivasi siswa tentang pentingnya kerjasama dalam kelompok yaitu sebesar 80% yang artinya keaktifan guru dalam dalam memotivasi siswa