• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bimbingan dan Koseling Islam Dengan Terapi Realitas Dalam Mengatasi Anak Terisolir (Study Kasus Anak Hasil Adopsi)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Bimbingan dan Koseling Islam Dengan Terapi Realitas Dalam Mengatasi Anak Terisolir (Study Kasus Anak Hasil Adopsi)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam

Vol. 04, No. 02, 2014

---Hlm. 106-120

Bimbingan dan Koseling Islam Dengan Terapi Realitas Dalam

Mengatasi Anak Terisolir

(Study Kasus Anak Hasil Adopsi)

Oleh:

Siti Nur Asiyah dan Faizah Noer Laela

Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam

Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya

Abstract: The focus of this study include 1) what are the factors that lead to child isolated hamlet districts Wonoayu Duran Karang district of Sidoarjo. 2). How the implementation of Islamic counseling with reality therapy in a child cope with the hamlet Duran isolated in the village of Karang district Wonoayu subdistrict of Sidoarjo 3). How Islamic counseling results with reality therapy in a child cope with the hamlet Duran isolated in the village of Karang district Wonoayu subdistrict of Sidoarjo. In answer to these problems, this research uses descriptive qualitative method with a comparative approach. While the collection of data through observation, interviews, and documentation. After the data collected, analysis was conducted to determine the process and the results by comparing the Islamic Guidance and Counseling between theory and field and compare the client's condition before and after counseling in analyzing. While the implementation of Islamic counseling with reality therapy in a child cope with the hamlet Duran isolated in rural districts Karangpuri Wonoayu Sidoarjo district. performed by the counselor by applying the following steps: first identifying the problem, the second diagnosis, prognosis third, fourth and fifth therapy evaluation. Closely related between Islamic counseling outcomes using the therapy reality therapy in a child cope with the hamlet Duran isolated in rural districts Karangpuri Wonoayu Sidoarjo district. can be quite successful. This can be evidenced by the change in the client and to see the scale of assessment and interviews with the client, the client's mother, ustdzahnya cleric and one of his friends.

(2)

Pendahuluan

Perilaku sosial merupakan pola perilaku yang relatif menetap, yang diperhatikan individu dalam interaksinya dengan orang lain. Dengan demikian, perilaku sosial individu pada situasi tertentu memungkinkan berbeda dengan situasi sosial lainnya.1

Perilaku sosial dapat dilihat dari banyak dimensi sebagaimana banyaknya indikator sifat-sifat interaksi di antara personal yang terlibat. Dalam hal ini lindgren Furqon, mengemukakan bahwa perilaku anak tercermin didalam sikap dan perasaan yang dapat membawanya kepada tindakan interpersonal yang lebih lanjut. Karena itu, peristiwa interpersonal dapat dipelajari dari macam-macam tindakan yang dilakukan seseorang, yaitu penerimaan (aceptance), penolakan (rejetion), agresi, kasih sayang, dan pengindaran (avoidance).

Lebih jauh jonson Furqon, mengemukakan bahwa perbedaan perilaku sosial individu itu bisa terjadi karena faktor, seperti persepsi individu, lingkungan tempat terjadinya interaksi, dan pola kepemimpinan yang dipakai dalam interaksi kelompok itu.2

Di saat individu menyadari bahwa dirinya sebagian dari kelompok, maka saat itu pula ia menyadari aturan-aturan perilaku yang boleh, harus, atau dilarang dilaukan dirinya dalam kelompok itu. Karena pada masa ini anak mulai memperhitungkan situasi khusus mengenai pelanggaran moral yang benar dan salah.3 dan bila individu sudah dapat memahami dirinya sendiri dan

menyesuaika dirinya dengan situasi sosial dalam kehilangan pegangan dan tujuan ahidup, maka dia dapat puas dengan keidupannya dan tidak merasa akibat buruk dari masalah-masalah yang timbul dalam interaksinya dengan lingkungan sosial.4

Anak terisoler adalah anak yang tidak bisa melakukan hubungan sosial dikarenakan kurangnya minat, adanya suatu sikap yang tidak mencerminkan perilaku sosial di dalam suatu kelompok dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan yang ada serta mereka kurang dipilih oleh temannya dan seringkali mendapat penolakan dari kelompoknya. karena suatu sikap tertutup Bagi diri sebagai akibat dari konflik-konflik internal dari dalam

1 Furqon, Konsep dan Aplikasi Bimbingan Konseling disekolah Dasar (Bandung:Pustaka Bani

Quraisi, 2005), hal. 40.

2 Furqon, Konsep dan Aplikasi Bimbingan Konseling disekolah Dasar , hal. 41. 3 Ibid, hal. 39

(3)

dirinya dan ketidak mampuan individu menyesuaikan terhadap situasi dan kondisi di lingkungannya.

Dalam hal ini, masyarakat tersebut dalam kelompok resiko sakit, karena masyarakat berada dalam situasi atau lingkungan yang mengalami gangguannya yang relatif tinggi, kelompok masyarakat dalam rsiko ini dapat dikelompokkan atas lingkungan ekologis, status demografis atau faktor psikologis.5 Untuk

menetapkan suatu keadaan psikologis berada dalam keadaan sehat tidaklah mudah. Karena pribadi normal dengan mental yang sehat akan bertingkah laku adekuat (serasi, tepat) dan bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya. Sikap hidupnya sesuai dengan norma dan pola hidup kelompok masyarakat, sehingga ada relasi personal dan interpersonal yang memuaskan.6

Disini peneliti menemukan sebuah permasalahan yang terjadi di Pondok Pesantren Khusus Yatim Piatu dan Duafa’ Sabilul Ulum Al Hidayah pada anak adopsi yang bertempat di desa Karangpuri Wonoayu. Namanya adalah Rendra dia berusia 14 tahun. Dia sudah lama diadopsi oleh pihak panti. Karena alasan ekonomi keluarga, selain itu ayah tiri Rendra (Badri) sangat keras terhadap Rendra. Beda kalau dengan adiknya. karena Badri tidak suka dengan anak laki laki, yang di takutkan jika Rendra besar akan melawannya (ungkapnya). Ayah kandung Rendra sendiri meninggalkan keluarganya ketika Rendra masih kecil, hingga sampai sekarang Rendra tidak tahu wajahnya, bahkan nama ayahnya tidak tahu. Tiap kali Rendra mencoba untuk tahu, ibu Asrih selalu menutup nutupi dan mengalihkan pembicaraan. masalah orang tua kandung Rendra, tidak ada yang tahu terkecuali (ibu dan ayah kandungnya).

Setelah perpisahan itu, ibu Rendra menikah lagi dengan Badri seorang kuli batu. Rendra merasa tidak punya siapa siapa selain adiknya dan ibunya. Namun ibunya tidak bisa berbuat apa apa jika Rendra dihajar hingga babak belur oleh ayah tirinya. Oleh sebab itu, rendra di serahkan ibunya di Pondok “Khusus Anak Yatim Piatu dan Dzuafa”. Dari pada harus melihat anaknya dianiaya oleh ayah tirinya. Disana Rendra mulai hidup baru, yang asalnya merasa sendiri, menyendiri anak yang selalu diam dan tertutup. kini sedikit demi sedikit berubah keterpurukannya karena mempunyai banyak teman. Rendra mulai ceria disaat bergaul pada teman teman lainnya. Hari harinya penuh dengan aktifitas, mulai bangun dari tahajud, dzuha, dirosah, diniyah dan belajar pelajaran sekolah dan yang utama adalah berjama’ah. Waktunyapun dihabiskan untuk aktifitas di pondok.

(4)

Lama kemudian, perilaku Renda makin kurang baik. Dia mulai jail pada temannya yaitu sering kali uang temannya di ambil buat jajan tiap harinya. Padahal 1 minggu sekali Rendra mendapatkan uang dari pengasuhnya. Teman teman Rendra pun menyadari akan perilakunya, namun lama kelamaan temannya sudah kesal dan jengkel terhadapnya. Karena jika dibiarkan perilakunya makin ngelunjak. Akhirnya Rendra dilaporkan oleh teman temannya ke pengasuhnya. Sehingga, Rendra diberi hukuman selain tidak mendapatkan uang saku, Rendra juga diberi hukuman berdiri dilapangan dengan memakai atribut.

Pada saat kejadian itulah, Rendra makin menutup diri pada masa-masa yang pernah dialaminya. Sikap dan tingkah lakunya makin berubah. Dia sekarang jika bertemu teman atau orang yang dikenalnya dia menghindar karena malu. Dia juga, lebih suka menyendiri dari pada hidup di di keramaian. Dan karena pencurian tersebut, sebagian masyarakat pondok mengucilkan Rendra akibat pencurian yang dilakukannya.

Bimbingan Konseling Islam

Secara etimologis, bimbingan dan konseling terdiri atas dua kata yaitu “Bimbingan” (terjemah dari kata “guidane”) dan “Konseling” (berasal dari kata counseling”). Dalam praktik, bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan aktivitas yang tidak terpisahkan. Keduanya merupakan bagian yang integral.7

Bimbingan dan konseling juga di artikan sebagai Suatu aktifitas pemberian nasehat dengan atau berupa anjuran-anjuran dan saran-saran dalam bentuk pembicaraan yang komunikatif antara konselor dan klien.8

Bimbingan dan konseling islam adalah proses pemberian bantuan terarah, continu dan sisitematis kepada setiap individu agar dia dapat mengembangkan potensi atau fitrah beragam yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung didalam Al-Qur’an dan hadist Rasulallah Saw kedalam dirinya, sehingga dia dapat hidup selaras dan sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadist.9

Menurut Ainur Rahim Rofiq bimbingan konseling islam adalah proses pemberian bantuan kepada individu agar menyadari kembali eksistensinya

7 Tohirin, Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah dan Madrasah (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,

2007), Hal. 15.

8 Hamdan Bakran adz-Dzaky, Koneling dan Psokoterapi Islam. (Yokyakarta: Fajar Baru Pustaka,

2006). Hal. 180-181.

(5)

sebagai makhluk Allah yang seharusnya dalam kehidupan keagamaan senantiasa selaras dengan ketentuanketentuan dan petunjuk dari Allah sehingga dapat mencapai kebahagian hidup didunia dan ahirat.10

Menurut Rogers (dalam lesmana, 2005) mengartikan konseling sebagai hubungan membantu dimana salah satu pihak (konselor) bertujuan meningkatkan kemampuan dan fungsi mental pihak lain (klien), agar dapat menghadapi persoalan/konflik yang dihadapi lebih baik.11

a. Tujuan Bimbingan dan Konseling Islam

Tujuan bimbingan dan konseling adalah agar tercapai perkembangan yang optimal pada individu yang dibimbing. Tujuan bimbingan dan konseling disini ada dua yaitu: 1) Tujuan umum dari layanan bimbingan dan konseling adalah sesuai dengan tujuan pendidikan, sebagaimana yang dinyatakan dalam Undang-Undang sistem pendidikan Nasional (UUSPN) Tahun 1989 (UU No. 2/1989), yaitu terwujudnya manusia indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman, dan bertakwa kepada yang maha Esa dan berbudi pekerti luhur memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.12 2). Tujuan khusus Secara khusus layanan bimbingan dan

konseling bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapi tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi sosial, belajar dan karier.13

b. Fungsi Bimbingan dan Konseling Islam

Ditinjau dari segi sifatnya, layanan bimbingan, dan konseling dapat berfungsi: 1) Pencegahan (preventif) Merupakan usaha penyegahan timbulnya masalah. Dalam fungsi penyegahan layanan yang di berikan berupa bantuan bagi para siswa agar terhindar dari berbagai masalah yang terdapat menghambat perkembangannya. 2) Fungsi pemahaman yaitu Fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan keperluan pengembangan siswa. 3) Fungsi perbaikan itu walaupun fungsi pencegahan dan pemahaman telah dilakukan, namun mungkin saja siswa masih menghadapi masalah-masalah tertentu. Disinilah fungsi perbaikan itu berperan

10 Ainur Rahim Faqih, Bimbingan dan konseling Islam (yokyakarta:UII Press, 2004) .hal. 4. 11 Namora Lumongga Lubis, Memahami Dasar Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik, (Jakarta:

Kencana Prenada Media Group, 2011), Hal. 2.

12 Ibid 28.

13 Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah

(6)

Terisolir

Menurut Andi Mappiare anak terisolasi adalah anak yang jarang dipilih atau sering kali mendapat penolakan dari lingkungannya, salah satunya adalah kemampuan daya pikirnya yang rendah atau bodoh. Maksud dari anak terisolasi ini adalah anak akan menjadi terisolasi jika mereka tidak atau jarang dipilih oleh temannya dan mendapatkan penolakan dari kelompoknya dikarenakan mereka mempunyai kekurangan-kekurangan baik secara fisik maupun non- fisik.

Dapat disimpulkan bahwa anak terisolir adalah anak yang tidak bisa melakukan hubungan sosial dikarenakan kurangnya minat, adanya suatu sikap yang tidak mencerminkan perilaku sosial di dalam suatu kelompok dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan yang ada serta mereka kurang dipilih oleh temannya dan seringkali mendapat penolakan dari kelompoknya.14

a. Ciri-ciri perilaku terisolir

Ciri-cirinya adalah: 1) Mempunyai minat yang rendah untuk bersosial 2) Tidak bisa bersosialisasi dengan baik 3) Kurang bisa menyesuiakan diri dengan lingkungannya 4) Melakukan kegiatan sendiri dan tidak dapat menyerap norma-norma dari lingkungannya 5) Kemampuan daya pikirnya lemah atau rendah 6) Tidak rapi 7) Tidak aktif dalam urusan kelompok 8) Tidak berinisiatif 9) Tidak memikirkan kepentingan kelompok 10) Tidak sabar 11) Tidak jujur 12) Tidak suka menolong. Tidak suka bekerjasama dan membantu kelompok 13) Tidak bertanggung jawab. 14) Tidak pemura 15) Tidak kasih sayang. 15 Selain ciri-ciri di atas ada ciri-ciri lain anak terisolasi

menurut Elizabeth B.Hurlock yaitu: 1) Penampilan diri yang kurang menarik 2) Kurang sportif 3) Penampilan yang tidak sesuai dengan standar teman 4) Perilaku yang menonjolkan diri, mengganggu orang lain, suka memerintah, tidak bekerjasama dan kurang bijaksana 5)Mementingkan diri sendiri dan mudah marah. 6) Cenderung kepada menyendiri. 16

Terapi Realitas

Tokoh terapi realitas adalah William Glasser, memurut Glasser bahwa dari terapi realitas adalah membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya yang menakup kebutuhan-kebutuhan kebutuhan-kebutuhan untuk

(7)

menicintai dan dicintai serta kebutuhan untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.

a. Pengertian Terapi Realitas

Gerald Corey dalam bukunya teori dan praktek konseling psikoterapi menyatakan bahwa terapi realiatas adalah suatu sistem yang difokuskan pada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengonfortasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi yang dipersamakan dengan kesehatan mental.17

Sedangkan latipun dalam bukunya berjudul psikologi konseling mengatakan bahwa terapi realitas adalah pendekatan yang didasarkan pada anggapan tentang adanya satu kebutuhan psikologi pada seluruh kehidupannya. Adapun fokus terapi realitas ini adalah tingkah laku sekarang yang di tampilkan individu. Terapi ini merupakan bentuk modifikasi perilaku karena penerapan tekniknya digunakan tipe pengondisian operan yang tidak ketat. Hal-hal positif dari terapi realitas menurut latipun adalah, mudah dipahami, nonteknis, didasarkan atas pengetahuan masyarakat, dan efisien waktu.18

b. Teknik Terapi Realitas

Menurut corey pada hakikatnya terapi realitas sama sekali tidak menggunakan teknik khusus seperti pada pendekatan yang lain. Terapi realitas tidak menggunakan obat-obatan dan medikasi konservatif dengan alasan bahwa medikasi cenderung menyingkirkan tanggung jawab pribadi.

Adapun fokus utama teknik realitas adalah mengembangkan kekuatan potensi klien untuk mencapai keberhasilannya dalam hidup. Menurut corey teknik-teknik yang dapat dilakukan berupa: Terlibat dalam permainan peran dengan klien; Menggunakan humor; Mengonfortasikan klien dengan menolak alasan apapun dari kelin; Membantu klien merumuskan rencana tindakan secara spesifik; Bertindak sebagai guru/model; Memasang batas dan menyusun situasi terapi; Menggunakan terapi kejutan verbal atau sarkasme yang layak untuk mengkonfortasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realitas; Melibatkan diri dengan klien untuk mencari kehidupan yang lebih efektif.

(8)

c. Ciri-Ciri Terapi Realitas

Sekurang-kurangnya ada delapan ciri yang menentukan terapi realitas sebagai berikut:

1. Terapi realitas menolak konsep tentang penyakit mental. Ia berasumsi bahwa

bentuk-bentuk gangguan tingkah laku yang spesifik adalah akibat dari ketidak bertanggung jawaban.

2. Terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang alih-alih pada

perasaan-perasaan dan sikap-sikap. Meskipun tidak menganggap perasaan-perasaan-perasaan-perasaan dan sikap-sikap itu tidak penting, terapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang.

3. Terapi realitas berfokus pada saat sekarang, bukan kepada masa lampau.

Karena masa lampau sekarang itu telah tetap dan tidak bisa diubah, maka yang bisa diubah hanyalah saat sekarang dan masa yang akan datang.

4. Terapi realitas menekankan pertimbangan-perkembangan nilai. Terapi

realitas menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang dialaminya. Terapi ini beranggapan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktif.

5. Terapi realitas tidak menekan kan transferensi. Ia tidak memandang konsep

tradisional tentang transferensi sebagai hal yang penting. Ia memandang transferensi sebagai suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi. Glasser (1965) menyatakan bahwa para klien tidak mencari suatu pengulangan keterlibatan dimasa lampau yang tidak berhasil, tetapi menari suatu keterlibatan manusiawi yang memuaskan dengan orang lain dalam keberadaan mereka sekarang. Terapi bisa menjadi orang yang embantu para klien dalam memenuhi kebuthan-kebutuhan merek sekarang dengan membangun suatu hubungan yang personal dan tulus.

6. Terapi realitas menekankan aspek-aspek kesadaran, bukan aspek-aspek

ketaksadaran. Terapi psikoanalitik, yang berasumsi bahwa pemahaman dan kesadaran atas proses-proses ketaksadaran sebagai suatu prasyarat bagi perubahan kepribadian, menekankan pengungkapan konflik-konflik taksadar melalui teknik-teknik seperti analisis transferensi, analisis mimpi, asosiasi-asosiasi bebas, dan analisis resistensi.

7. Terapi realitas menghapus hukuman. Glasser mengingatkan bahwa pemberian

hukuman guna mengubah tingkah laku tidak efektif dan bahwa hukuman untuk kegagalan melaksanakan rencana-rencana mengakibatkan perkuatan

identitas kegagalan pada klein dan perusakan hubungan terapeutik.19

(9)

Metode Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk memahami fenomena tentang yang dialami subyek peneliti secara holistic dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk katakata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.20 Sehingga

peneliti memperoleh kesimpulan yang valid tentang fenomena anak Terisolir (Study Kasus Anak Hasil Adopsi).

Subyek peneliti adalah masyarakat Pondok Pesantren Khusus Yatim Piatu dan Duafa’ Sabilul Ulum Al Hidayah pada anak adopsi yang bertempat di desa Karangpuri Wonoayu. Namanya adalah Rendra dia berusia 14 tahun. Klien tersebut membutuhkan bimbingan karena klien tersebut tidak mampu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Untuk memudahkan proses penelitian, tahap-tahap meliti tiga tahapan, yaitu: 1) Tahap Pra lapangan yang di tempuh dengan Menyusun Rancangan Penelitian, Memilih lapangan penelitian, Mengurus perizinan, Menjajaki dan menilai keadaan Lapangan, Memilih dan menilai informan, Menyiapkan Perlengkapan Penelitian, Persoalan Penelitian Lapangan 2) Tahap pekerjaan lapangan. Memahami latar Penelitian, Memasuki Lapangan. 3) Teknik Analisis Data

Teknik analisa data ini, dilakukan serta proses pengumpulan diperoleh. Dan peneliti ini bersifat study kasus, maka analisa yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif komporatif yaitu setelah data terkumpul dan diolah maka selanjutnya adalah menganalisis data tersebut untuk membandingkan antara teori dengan data yang ada dilapangan. Tahap analisa ini bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil bimbingan konseling islam dalam mengatasai anak terisolir di desa karang puri.

Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi:

a. Observasi

Observasi merupakan teknik pengumpalan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui pengamatan dan penatatan terhadap gejala yang diselidiki. Observasi ini berfungsi untuk memperoleh pengetahuan

(10)

serta pemahaman mengetahui data konseli dan untuk menunjung serta melengkapi bahan-bahan yang diperoleh melalui interview.21

Dalam Observasi ini, peneliti mengamati perilaku konseli yang tampak sebelum dan sesudah proses konseli, dan penelitian tersebut dapat dilihat gejala-gejala yang nampak pada diri konseli seperti ketika konseli berbicara, bertindak, bersikap terhadap ustad ustadzanya serta kepada teman teman lingkungannya.

b. Wawancara

Wawancara juga merupakan pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara cara (pengumpulan data) kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam (tape recorder).22 Dalam wawancara ini, peneliti akan menggali data tentang

permasalah yang dihadapi serta menggali latar belakang klien sehingga dengan mengetahui latar belakang konseli maka peneliti dapat mengetahui penyebab dari masalah konseli dan menyelesaikan masalah dengan suatu solusi yang terbaik.

c. Dokumentasi

Dari awal katanya dokumen, yang artinya barang-barang di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan dan data yang diperoleh melalui metode ini atau sebagainya. Untuk gambaran tentang lokasi penelitian yang meliputi dokumentasi, tempat tinggal, konseli, tentang identitas konselor, konseli dan masalah. 23

Hasil dan pembahasan

Faktor penyebab anak terisolir berdasarkan pada penyajian data yang diperoleh dilapangan antara lain:

a. Faktor internal inisiatif diri sendiri karena klien ini tidak percaya diri menghadapi masyarakat akibat pencurian yang pernah dilakukan di Pondok Pesantren Sabilul Ulum Al-Hidayah.

21 Dewa Ketut sukardi, pengantar pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, hal

.153.

22 Irwan Soehartono, Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan

Sosial dan Ilmu Lainnya (Bandung: Rosdakarya, 1999), hal. 67.

23 Irwan Soehartono, Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan

(11)

b. Faktor eksternal: masyarakat sekitar mengucilkan dia karena dia pernah ketahuan mencuri di lingkungan pondok. Sehingga klien diperlakukan atau dikucilkan oleh teman sebayanya dan juga oleh lingkungan sekitarnya. Karena selain lingkungan pondok, masyarakat sekitar juga mengetahui kelakuan klien. Orang dalam (pondok) banyak yang mencemoh Rendra, apalagi orang luar. Jika bertemu Rendra yang biasanya ramah terhadapnya. Namun setelah kejadian itu, orang yang biasanya ramah kini jadi acuh dengan Rendra. Sehingga Rendra merasa bersalah dengan apa yang diperbuat. Rendra malu jika keluar pondok atau keluar area lingkungan blok kamarnya. Jadi dia menutupi malunya hanya dengan diam dan diam. Sering kali Rendra juga di kenakan sanksi oleh ustazd- ustdzahnya karena sering melanggar peraturan utama pondok yakni, jarang mengikuti kegiatan formal maupun non formal seperti sekolah, diniyah, dirosah kelas (formal). Non formalnya seperti, extra qiro’ah, banjari, khitobah, istighosah, dll. Sejak kejadian itulah klien semakin menutup diri dari masa lalu yang pernah dia alami.

Dalam proses pelaksanaan bimbingan dan konseling islam yang telah dilakukan oleh konselor dalam mengatasi anak terisolir dampak dari perilaku pencurian ini menggunakan langkah-langkah yaitu: identifikasi masalah, diagnosa, prognosa, langkah terapi dan evaluasi atau follow up. Analisa tersebut menggunakan analisa deskriftif komperatif sehingga peneliti membandingkan data teori dan data yang terjadi dilapangan.

Tabel 1.1

Analisa Deskriftif komperatif antara teori dan data lapangan tentang proses pelaksanaan bimbingan dan konseling islam

No Teori bimbingan dan Konseling Islam Data di Lapangan 1 Identifikasi masalah:

Langkah ini dimaksudkan untuk menyusun kasus dan gejala-gejala yang nampak. Dalam langkah ini konselor mengumpulkan data sebanyak mungkin, baik dari klien maupun dari informen yaitu melalui klien sendiri, teman keluarga dan ustad ustadzahnya. Guna mengadakan pendekatan dan melibatkan diri terhadap klien agar tercipta hubungan yang akrab dan terbuka untuk mengetahui kondisi dan perkembangan klien.

Identifikasi masalah:

konselor mengumpulkan data yang diperoleh dari sumber data mulai dari klien sendiri, oang tua ustad ustadzah, dan teman-temannya. Hasil yang diperoleh dari observasi menunjukkan bahwa klien mengalami perilaku tertutup ( akibat malu karena kepergok menuri)

2 Diagnosa:

Diagnosis merupakan penetapan permasalahan beserta latar belakangnya,

Diagnosa:

(12)

setelah diketahui tanda-tanda atau gejala-gejalanya.

dihadapi klien adalah perilaku tertutup karena malu, dan minder akibat penurian yang dialami Rendra. Dimana klien berulang kali melakukan pencurian sampai pada akhirnya dia ketahuan oleh alah satu temannya. akhirnya dia dilaporkan ke pengurusnya, dari pengurus dibawa ke pengasuhnya. Semenjak kejadian itu, Rendra merasa malu akan perbuatanya dan merasa bersalah serta takut tidak diterima di masyarakat pondok sehingga menimbulkan gejala-gejala

pada langkah ini, konselor memberikan bantuan atau terapi pada klien berupa bimbingan konseling islam karena bertumpu pada rohaniah atau mental spiritual dalam kehidupan klien, agar klien mampu untuk mengembalikan rasa percaya diri dan benar-benar bertaubat untuk tidak mengulangi lagi, serta lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. (taubatan Nasukha)

4 Treatment:

adalah pemberian solusi, arahan dan jalan keluar yang diberikan oleh konselor kepada klien setelah diketahui masalah yang dihadapinya. Dalam konseling kali ini, klien dibimbing dengan menggunakan konseling islam berupa saran dan nasehat.

Treatment:

Langkah terapi konseling yang diberikan kepada klien dengan:

a) Memberikan pengertian kepada klien bahwa Allah Swt maha pengampun, atas segala dosa-dosa hambanya. Jika ia benar-benar taubatan nasukha.

b) Tawakkal untk menerima dengan sabar terhadap kejadian yang sudah dialami. Dan memberikan pengertian bahwa semua masalah yang terjadi pada klien adalah ujian dari Allah Swt.

(13)

d) Memberikan motivasi dan menumbuhkan rasa percaya diri klien, karena sejak kejadian itu, klien menjadi anak tertutup, pendiam, rendah diri dan minder. Disini peran konselor adalah menumbuhkna rasa peraya diri klien, serta meyakinkan klien untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya kemabli. 5 Evaluasi atau follow up:

Langkah ini di maksudkan untuk menilai atau mengetahui sejauh mana keberhasilan terapi yang telah dilakukan dalam langkah ini. Untuk mengetahui perkembangan selanjutnya membutuhkan waktu yang lebih lama sehingga dapat dievaluasikan apakah efektif atau tidaknya penerapan bimbingan konseling islam

Evaluasi atau follow up:

langkah ini konselor melakukan pengamatan dan memperhatikan Selain itu, dia berusaha meyakinkan masyarakat pondok bahwa dia benar-benar menyesal dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Denga menjadi anak yang baik, taat pada orang tua sekaligus dengan ustad-ustadzahnya. Perilaku yang paling menonjol adalah dia sudah mulai aktif mengikuti kegiatan-kegiatan pondok. Seperti istiqomah baca yasin, bersholawat, banjari dan extra qiro,ah dll.

Untuk lebih jelas analisis data tentang akhir hasil proses pelaksanaan bimbingan dan konseling islam yang di lakukan dari awal konseling hingga tahap-tahap akhir proses konseling, apakah ada perubahan pada diri klien antara sebelum dan sesudah dilaksanakan bimbingan konseling islam dapat digambarkan pada tabel di bawah ini.

Tabel 1.2

Analisa keberhasilan proses Konseling Islam

No Sebelum Konseling Sesudah Konseling

(14)

5 Di bebani rasa bersalah

√ Di bebani rasa

bersalah

Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian, peneliti mendapatkan data-data yang di peroleh dari penelitian, dan peneliti aakan menyimpulkan data-data tersebut. Dalam pembahasan bimbingan dan konseling islam dalam mengatasi anak terisolir di dusun Duran desa Karangpuri kecamatan Wonoayu kota Sidoarjo RT. 04 RW. 01. Dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Faktor-faktor yang menyebabkan klien tertutup dapat diketahui oleh peneliti yaitu pencurian yang pernah di lakukannya.

b. Proses Pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dalam mengatasi anak terisolir di dusun Duran desa Karangpuri Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo. Melalui langkah-langkah yang ada dalam proses konseling. Langkah konselor yang pertama adalah identifikasi masalah, disini konselor menyimpulkan data dari orang tua klien sendiri yaitu ibunya, yang berfungsi mengenali dan mengali lebih dalam mengenai kasus dan gejala-gejala yang nampak pada diri klien, sedangkan langkah yang kedua yaitu diagnosa dengan menetapkan masalah klien yang mana klien disini menutup diri akibat perbuatan menyimpang yang pernah dilakukannya yakni mencuri. Dan akhirnya ketahuan oleh salah satu temannya sehingga dia merasa bersalah dan malu serta takut tidak diterima kembali oleh lingkungan pondok dan masyarakat sekitar. Selanjutnya langkah prognosa yang mana dengan menetapkan jenis bantuan yaitu dengan memberikan bantuan konseling berupa bimbingan konseling islam atau suatu nasehat agar klien kembali ke jalan yang diridhioi Allah yaitu jalan yang benar, bertaubat karena keinginannya sendiri, serta lebih mendekatkan diri pada Allah Swt. Juga memberikan motivasi agar bisa kembali merasa nyaman untuk kembali hidup dengan lingkungan pondok juga pada masyarakat sekitar. Terakhir yaitu Follow Up sekaligus mengevaluasi tindakan klien dengan melihat serta pengamati perubahan-perubahan yang ada pada klien.

(15)

takut tidak diterima kembali di lingkungan pondok juga di masyarakat sekitar. kini klien sudah mulai berubah dan berbaur lagi dengan masyarakat luar dan dalam (pondok).

Daftar Pustaka

Bakran adz-Dzaky, Hamdan, Konseling dan Psokoterapi Islam, Yokyakarta : Fajar Baru Pustaka, 2006

Barakat, Muhammad Khalifah, Macam-macam Emosi, Jakarta: Raja Grafindo persada, 2011

Corey, Gerald, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, Bandung : PT. Refika Aditama, 2009

Faqih, Ainur Rahim, Bimbingan dan konseling Islam, yokyakarta : UII Press, 2004 Furqon, Konsep Dan Aplikasi Bimbingan Konseling Disekolah Dasar, Bandung :

Pustaka Bani Quraisi, 2005

Gunarsa D, Singgih, Psikologi untuk Membimbing, Jakarta : PT BPK Gunung Mulia, 2002

http://yantipgsdips.blogspot.com./makalah-anak-terisolasi/.html, di akses 10 juli 2012

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2192414-pengertian-dan-ciri-ciri-anak/

Kartono, Kartini, Hygiene Mental, Bandung : Mandar Maju, 2000

Lumongga Lubis, Namora, Memahami Dasar Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2011

Moleong, Lexyj, metode penelitian kualitatif, Bandung: PT. Remaja Posdakarya, 2004

Ningsih, Yusria, Kesehatan Mental, Surabaya : IAIN Sunan Ampel Press., 2011 Samsul Munir, Bimbingan dan Konseling Islam, Jakarta : Amzah , 2010

Sukardi, Dewa Ketut, pengantar pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000

Soehartono, Irwan, Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial Dan Ilmu Lainnya, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1999

Gambar

Tabel 1.1
Tabel 1.2

Referensi

Dokumen terkait