• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sosial Dasar Bunuh Diri di Media Sosial

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sosial Dasar Bunuh Diri di Media Sosial"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Sosial Dasar :

Bunuh Diri di Media Sosial (Pro)

Apakah ada korelasi langsung antara Bunuh Diri dengan

Media Sosial ?

Berdasarkan Preventing Suicide : A global imperative (2014) yang dirilis oleh WHO, bunuh diri disebabkan oleh : Kelainan mental khususnya depresi, penggunaan alkohol dan narkoba, perasaan tidak ada harapan, kehilangan (hubungan, sosial, pekerjaan atau keuangan), penyakit terminal dan kronis, dan sebagainya. Terlepas dari banyaknya faktor yang mengakibatkan seseorang mencoba aksi bunuh diri, depresi merupakan leading factor atau faktor utama yang paling umum ditemukan dalam kasus bunuh diri.

Media sosial adalah media berdasar komputer yang memfasilitasikan pembuatan dan pembagian informasi, ide, hobi, dan bentuk ekspresi lainnya melalui komunitas virtual dan jaringan. Jika kita telaah secara dalam, media sosial hanyalah sebatas media. Media merupakan perantara akan sesuatu. Berdasarkan data oleh American Public Health Association, apakah sosial media akan berpengaruh pada aksi bunuh diri merupakan alasan individu masing-masing, dan harus diketahui alasan dasarnya. Individu yang rentan akan pemikiran pemikiran bunuh diri dilatarbelakangi oleh alasan kesehatan mental. Sosial media memang berpengaruh kepada peningkatan aksi bunuh diri, namun yang digarisbawahi di sini adalah bunuh diri yang disiarkan di media sosial, bukan cyberbullying dan hate speech. Sebenarnya, apa alasan seseorang menyiarkan aksi bunuh diri mereka di media sosial ? Menurut Dr. Katherine Ramsland, sang profesor psikologi forensik berasal dari Pennyslvania yang telah mempelajari kasus bunuh diri selama 13 tahun, terdapat banyak motif. Beliau mengatakan beberapa ada yang menginginkan untuk menghukum seseorang dari video siaran pelaku, karena media sosial dilihat oleh banyak orang, termasuk teman-teman sang pelaku yang mungkin merupakan pelaku cyberbullying atau orang yang selama ini disekitar pelaku bunuh diri. Sebagian juga ada yang ingin menghapus rasa kesepian dan berbagi pengalaman terhadap penonton, dan memberi pesan terhadap orang lain. Katelyn Nicole Davis, remaja berumur 12 tahun di Georgia yang menyiarkan aksi bunuh dirinya di Live.me, mengatakan bahwa beliau telah dilecehkan secara seksual dan mengalami beberapa kasus depresi sebelumnya. Jika kita elaborasi lebih dalam, kesamaan dari semua kasus pembunuhan di media sosial, adalah bukan karena mereka ingin membuat orang lain juga membunuh diri, maksudnya adalah, orang sehat seperti apa yang mau melakukan aksi bunuh diri disiarkan di media sosial ? Tidak ada. Tidak ada penyebab langsung antara penyiaran aksi bunuh diri di media sosial dan niat untuk bunuh diri jika tidak didasari oleh kelainan mental, depresi atau faktor faktor pemicu bunuh diri lainnya.

1. Lantas, apa yang dapat diambil dari aksi bunuh diri di media sosial ?

(2)

orang disekitar dan mencoba mencari pertolongan terakhir. Media sosial digunakan sebagai last defence untuk mencurahkan kata-kata terakhir pelaku bunuh diri. Bagaimana jika audiens/penonton tidak memberikan bantuan apapun, melainkan melakukan bullying dan mendukung aksi bunuh diri sang pelaku ? Media sosial seperti Facebook, Biggs, dan Instagram sudah menggunakan teknologi algoritma canggih yang memungkinkan penggunanya saat sedang live untuk mendeteksi segala aksi aksi bunuh diri dan percakapan yang berpotensi suicidal. Tidak hanya media sosial, aplikasi seperti Google Now, dan Siri juga telah mengeluarkan teknologi terbarunya yang memungkinkan pengguna untuk mencegah segala aksi bunuh diri dengan cara mendeteksi suara, aktivitas dan perlakuan sang pengguna.

2. Secara emosional, apakah aksi bunuh diri dapat dijustifikasi ?

Kembali ke topik awal, hak untuk mati tidak ditemukan di pasal manapun sebenarnya. Namun, seperti yang sudah dikutip, hak untuk hidup merupakan sebatas hak, bukan kewajiban. Saat itu bertentangan dengan hak orang lain, hal itulah yang menjadi masalah, namun kita sendiri yang paling tahu kondisi diri kita. Insting dasar manusia, yaitu melakukan sesuatu sebagai counter-action atau reaksi terhadap sesuatu yang buruk, yaitu melakukan hal yang tidak disadari atau mungkin disadari namun menurutnya, mengakhiri hidup merupakan hal terakhir yang paling mendasar yang dapat manusia lakukan. Kita jelas tidak menginginkan kondisi seseorang yang tidak stabil untuk melakukan kriminal dan kejahatan kepada orang disekitar, bukan ? Dalam skenario terburuk, seperti penyakit kronis yang semakin parah atau kesakitan yang luar biasa, dan beban ekonomi yang berat, mengapa aksi bunuh diri tidak dapat dibenarkan ? Kita selalu menganggap bahwa aksi bunuh diri sangatlah tidak bermoral, karena pada dasarnya manusia menyimpulkan bahwa mukjizat akan datang atau segala hal akan kunjung membaik atau mungkin Tuhan yang akan menjawab, namun secara realitas, ini bukan kasusnya. Kenyataannya, orang orang ini merasakan kesakitan yang luar biasa.

Berdasarkan mind.org.uk, jika kita melihat dari perspektif psikologi, terdapat keadaan yang jauh dari mata kita, dimana perasaan yang sebagian besar dari kita belum pernah merasakan dan mungkin tidak akan merasakannya. Perasaan yang belum pernah kita rasakan inilah yang membuat kita menganggap bahwa bunuh diri itu salah. Kita berpikir bahwa kemanusiaan harus menang diatas apapun. Namun kita sendiri belum merasakan keadaan dimana kita berada di posisi terbawah kita, yang manusia tidak dapat mengatur itu lagi. Sebagian orang memilih untuk menyakiti diri mereka sendiri sebagai bentuk mekanisme perlindungan, dimana mereka percaya bahwa mereka dapat mengatur kesakitan merea lagi atau melihat masalah itu menjadi masalah yang kecil atau untuk membuat mereka lupa atas kemarahan internal diri mereka sebagai luapan emosi. Kita harus dapat melihat dari perspektif lain, yaitu perspektif sang pelaku, bahwa terdapat sebagian dari kita, yang benar-benar memilih untuk mengakhiri hidupnya, dan memilih reaksi spontan yang sang pelaku tidak ada waktu tersisa untuk menyesali perbuatannya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui, mengidentifikasi, dan mendeskripsikan bentuk-bentuk

Ironisnya, dari hasil penyelidikan aparat Polres Sleman, pelaku pembunuhan dilakukan oleh tiga orang yang juga masih berstatus sebagai pelajar.Menanggapi kasus tersebut,

Kecemasan sosial adalah ketakutan yang menetap terhadap sebuah atau lebih situasi sosial yang terkait dengan performa, yang membuat individu harus berhadapan dengan

Spectator melihat performer bukan sebagai apa adanya performer, melainkan melihatnya melalui komoditas apa yang ia konsumsi atau pakai. Pada kasus penelitian ini, spectator

Stigma sosial dari masyarakat terhadap keluarga pelaku bunuh diri adalah angapan yang tidak be- nar, tidak baik atau tidak semesti- nya diberikan oleh masyarakat. Se- perti

Kekhasan solidaritas kristiani adalah bahwa kesetiakawanan itu kelihatan dalam sikap kita berhadapan dengan orang kecil yang miskin dan lemah, dan bukan dalam sikap

Hidup adalah sebuah perjalanan dan Kristus rindu untuk menjadi kawan kita sepanjang jalan, bukan hanya sekadar orang yang kita ajak bicara ketika sedang beristirahat

Pada masa sekarang banyak anak muda Jepang yang melakukan bunuh diri dengan tujuan untuk menyalahkan dan menghukum orang lain serta membuat masyarakat umum tahu bahwa orang