• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Sosial dan Interaksionisme Simbolik.do

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teori Sosial dan Interaksionisme Simbolik.do"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

TEORI SOSIAL KONTEMPORER: TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori-Teori Sosial

Yang Dibina oleh Bapak I Nyoman Ruja

Disusun Oleh : Kelompok 10

Amalia Laili Istiqomah B (130741607084) Celina Dwi.O.Umbung (130741607076) Firman Maulana (130741607072)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga makalah tentang “Teori Sosial Kontemporer:Teori Interaksionisme Simbolik ” ini dapat tersusun dan terselesaikan tepat pada waktunya.

Penulis menyadari bahwa tanpa adanya bantuan, dukungan, dan kerjasama yang baik dari semua pihak, makalah ini tidak akan terselesaikan dengan baik. Untuk itu, penulis mengucapakan terima kasih kepada :

1. Bapak I Nyoman Ruja selaku dosen pengajar mata kuliah Teori-Teori Sosial yang telah memberi bekal, bimbingan dan pengarahan selama penulisan makalah ini.

2. Orang tua yang selalu memberikan semangat serta dukungan baik secara materiil maupun spiritual.

3. Teman-teman yang telah membantu dalam memberikan dukungan serta bantuan selama penulisan makalah ini, dan

4. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.

Mengingat pengetahuan dan kemampuan penulis yang terbatas, makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karenanya, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga pengalaman membuat makalah ini dapat menjadi dorongan bagi kami penulis karya yang lebih sempurna. Akhirnya kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Malang, Agustus 2014

Penulis

(3)

Halaman Sampul………... i

Kata Pengantar………... ii

Daftar Isi………... iii

BAB I PENDAHULUAN………... 4

1.1 Latar Belakang………... 4

1.2 Rumusan Masalah………... 4

1.3Tujuan... BAB II PEMBAHASAN………... 5

2.1 Biografi penulis teori interaksionisme simbolik………... 5

2.1 Histori Interksionisme simbolik... 5

2.3 Prinsip dasar interaksionisme simbolik... ... 11

2.4 Intraksionisme simbolik karya Enning Goffman... 15

BAB III PENUTUP ………....………... 19

A. Kesimpulan………... 20

DAFTAR PUSTAKA………... 21

(4)

Salah satu persoalan yang sering kali muncul dalam teori sosial adalah tentangan hubungan antara individu dan masyarakat.Bagaimana masyarakat membentuk individu-individu atau sebaliknya bagaimana individu menciptakan,mmempertahankan,dan mengubah masyrakat? Pertanyaan seperti ini tidak bisa dijawab oleh teori macro seperti teori fungsionalisme atau teori konflik,hal ini menyebabkan munculnya minat baru untuk mempelajari proses yang terjadi antara individu dan antara individu dengan masyarakat.Dalam hal ini,perhatian baru di arahkan kepada pemahaman tentang proses interksi sosial dan akibat bagi individu dan masyarakat.Hal seperti inilah yang menjadi pokok perhatian dari perspektif interksionisme simbolik.Istilah interaksionisme simbolik di gunakan pertama kali oleh Herbert Blumer.Untuk lebih jelasnya kami akan membahas tentang”Teori Interaksionisme Simbolik”.

2.1.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas kami mengambil beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana biografi penulis teori interaksionisme simbolik? 2. Bagaimanahistori interaksionisme simbolik?

3. Apasajakah prinsip-prinsip interaksionisme simbolik? 3.1.Tujuan

Ada pun tujuan penulisan makalah ini yaitu:

1. Mengetahaui biografi teori interaksionisme simbolik 2. Mengetahui histori interaksionisme simbolik

3. Mengetahui prinsip-prinsip interaksionimse simbolik

BAB 11 PEMBAHASAN

2.1 BIOGRAFI PENULIS TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK

(5)

ia pindah ke Oberlin,Ohio,tempat seminari teologi Berlin dimana ayahnya Hiram Mead menjadi pengajar ditempat itu.Arus pemikiran Mead banyak dipengaruhi oleh filsafat pragmatis dari Jhon Dewey dan behaviorisme psikologis.Disamping itu mead juga banyak terpengaruh dari teori evolusi Darwin,namun Mead tidak menganjurkan pendekatan laisses faire dalam pertarungan antara yang kuat dan lemah,juga dia tidak melihat usaha-usaha perubahan sosial itu berjalan sesuai dengan hukum-hukum alamiah.Prinsip teori darwin yang diterima oleh Meadadalah organisme terus menerus terlibat dalam usaha menyusaikan diri dengan lingkungan melaluiproses ini bentuk dan karakteristik organisme mengalami perubahan terus menerus.Pandagan Mead tentang pikiran atau kesadaran manusia sejalan dengan kerangka teori Darwin.Mead menghabiskan sebagian waktu dengan mengajar di universitas chicago dan menerbitkan banyak buku.

2.2 Histori interksionisme simbolik

(6)

Ada beberapa pemikir yang telah berjasa dalam mengembangkan perspektif teori ini antara lain:

a. George simmel,yaitu ahli sosiologi Eropa yang pertama kali melakukan studi yang serius tentang interaksi.Dia menyebutnya dengan sosiobilitas.Menurut Simmel struktur dan proses macro yang dipelajari oleh teori konflik adalah cerminan dari interaksi khusus antara sesama manusia.Dalam bukunya dia menjelaska bahwa kepribadian manusia timbul dari dan dibentuk oleh kelompok atau budaya dimana seorang hidup.Keberadaan seseorang bagaimana dia berpikir dan bertingkah lau dipengaruhi oleh keanggotaanya dalam kelompok tertentu.

b. William James yaitu orang pertama yang mengembangkan secara jelas konsep tentang self(diri).Menurutnya manusia mempunyai kemampuan untuk melihat dirinya sebagai objek dan menurutnya sangat penting memiliki kemampuan ini dalam membentuk cara seorang menanggapai duniadisekitarnya.

c. Charles Horton Cooley:menjelaskan dua hal tentang self sebagai proses dimana individu bisa melihat diri mereka sendiri sebagai objek bersama dengan objek lainnya didalam lingkungan sosial mereka.Kedua diamengakui bahwa self muncul dari komunikasi dengan orang lain.Dalam berinteraksi dengan orang lain seorang individu menafsirkan gerak-gerik orang lain dan demikian dia dapat melihat dirinya berdasarkan sudut pandang orang lain.Mereka membayangkan bagaimana orang lain menilai mereka.Dengan demikian gambaran tentang diri sendiri.Cooley menamakan proses ini”Lookig glass self(diri berdasarkan penglihatan orang lain)dia juga mengakui self muncul dari interaksi berdasarkan konteks kelompok.Dialah yang mengembangkan konsep tentang kelompok primer yang cukup menentukan perkembangan kepribadiaan seseorang.

(7)

Sekalipun para pemikir ini menyajikan sejumlah konsep yang berhubungan dengan interaksionisme simbolik namun mereka tidak berhasil membuat satu sintese atau sistemalisasi mengenai perspektif itu.Interaksionisme simbolik berkembang menjadi suatu perspektif dalam sosiologi berkat usaha dua teoritikus terkenal yakni George Herbert Mead dan Herbert Blumer.George Herbert Mead adalah pencetus dari teori ini sedangkan Blummer yang tidak lain adalah murid dari Mead,mengembagkan ajarannya.Pada bagian berikut ini akan dijelaskan beberapa pokok pikian dari teori ini yaitu:

Interaksionisme simbolik George H.Mead

George Herbert Mead menghabiska sebagian besar waktunya dengan mengajar di universitas Chiago dan menulis buku yang berjudul Mind,Self,dan soiety baru diterbitkan sesudah ia meninggal.

 Mind(akal budi)

Mead memandang akalbudi (mind)bukan sebagai sauatu benda,melainkan sebagai suatu proses sosial.Menuutnya akal budi manusia secara kualitatif bereda dengan binatang.Manusia lebih bertindak dengan saksama yakni antara aksi dan reaksi artinya antara aksi dan reaksi terdapat suatu proses yang melibatkan pikiran atau kegiatan mental dan hal ini tidak dimiliki oleh hewan.Simbol mempunyai arti tersebut bisa berbentuk gerak-gerik fisik tetapi juga dalam bentuk bahasa.Kemampuan untuk enciptakan dan menggunakan bahasa merupakan hal yang membedakan manusia dengan binatang.

(8)

Simbol verbal dari bahasa yaitu sangat penting bagi Mead karena kita selalu dapat mendengarkan diri sendiri walaupun kita tidak mungkin selalu bisa melihat tanda gerak fisik kita.Apa yang kita katakan akan selalu mempengaruhi kita dan orang-orang lain yang mendengarkan perkataan itu.Jadi ketika kita sedang berbiara,dan sebelum lawan bicara kita memberikan reaksi ,kita dapat memutuskan apakah apakah hal yang kitabiarakan membangkitkan reaksi yang kita inginkan atau tidak.Seandainya kita memutuskan bahwa perkataan itu sama sekali tidak membangkitkan tanggapan yang kita inginkan,kita dapat dengan secepatnyamenjelaskan arti yang kita maksudkan itu.

Konsep tentang arti sangat penting bgi Mead.perbuatan bisa mempunyai arti kalau kita bisa menggunakan akal budi untuk menetapkan dirikita didalam diri orang lain,sehingga kita bisa menafsirkan pikiran-pikirannya dengan tepat.Namun disini Mead,mengatakan bahwa arti meaning itu slinya tidak berasal dari akal budi melainkan dari situasi sosial.Dengan kata lain,situasi sosial memberi arti kepada sesuatu.

Self (Diri)

Bagi Mead kemampuan untuk memberi jawaban kepada diri sendiri sebagaiman ia memberi jawaban terhadap orang lain,merupakan kondisi penting dalam rangka perkembangan akal budi itu sendiri.Dalam arti ini,self sebagaimana Mind bukanlah suatu objek melainkan suatu proses sadar yang mempunyai beberapa kemampuan seperti:

 Kemampuan untuk memberikan jawaban atau tanggapan kepada diri sendiri sebagaimana orang lain juga memberikan jawaban atau tanggapan.

 Kemampuan untuk memberikan jawaban sebagaimana generalized other atau aturan,norma,dan hukum memberikan jawaban kepadanya.

 Kemampuan untuk mengambil bagian daam percakapan sendiri dan orang lain.

 Kemampuan untuk menyadari apa yang sedang dikatakannya dan kemampuan untuk menggunakan kesadaran itu untuk menentukan apa yang harus dilakukan tahap berikutnya.

(9)

Tahap kedua dalam proses pembentukan konsep tentang diri adalah tahap pertandingan.Pada tahap ini seorang anak terlibat dalam situasi tingkat organisasi yang lebih tinggi,contohnya yaitu dalam pertandingan sepak bola dalam proses ermainan ini anak belajar sesuatu yang melibatkan orang lain dan sesuatu yang impersonal yaitu aturan dan norma-norma.

Tahap ketiga generalized other adalah harapan,kebiasaan,standar umum dalam masyarakat.dalam hal ini seorang anak mengarahkan tingkah laku berdasarkan standar umumatau harapan masyarakat atau norma yang berlaku dimasyarakat.

Jadi dalam tahap akhir ini anak menilai tindakan atau endasrkan tindakannya berdasrkan norma yang bersifat umum.salah satu bagian diskusi Mead yang pailng penting yaitu pembedaan antara I dan Me yakni antara diri sebagai subjek da diri sebagai objek.Diri oleh Mead ditunjukan dengan Me sedangkan diri sebagai subjek ditunjukan dengan I.Pada umumnya orang bertindakan berdasarkan “Me”nya yakni berdasrkan norma,generalized other,atau harapan orang lain

Demikian beberpa pokok pikiran Mead tentang self,dalam hubungan dengan self Charles Horton Cooley mengembagkan satu konsep baru yang disebut loking glass self,bermaksud mengatakan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat dirinya sebagai ia elihat objek yang berada di lingkugannya atau diluar dirinya.hal ini berarti pertama kita bisa membayangkan bagaimana kita tampil dihadapan orng lain,kedua kita bisa bayangkan bagaimana penilaian orang terhadap penampilan kita ketiga kita bisa membayangkan perasaan tertentu sebagai akibat dari bayangan kita terhadap penilaian orang lain itu.

Society (masyarakat)

Masyarakat (society) atau kehidupan kelompok, terdiri atas perilaku-perilaku kooperatif anggota-anggotanya. Kerja sama manusia mengharuskan kita untuk memahami maksud orang lain yang juga mengharuskan kita untuk mengetahui apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Jadi kerja sama terdiri dari membaca tindakan dan maksud orang lain serta menanggapinya dengan cara yang tepat.

(10)

Herber menyebut gerak tubuh sebagai simbol signifikan. Gerak tubuh mengacu pada setiap tindakan yang dapat memiliki makna. Biasanya gerak tubuh bersifat verbal atau berhubungan dengan bahasa. Tetapi bisa juga berupa gerak tubuh non verbal. Ketika ada makna yang dibagi, maka gerak tubuh menjadi nilai dari simbol-simbol yang signifikan.

Oleh karena itu, masyarakat terdiri atas sebuah jaringan interaksi sosial dimana anggota-anggotanya menempatkan makna bagi tindakan mereka dan tindakan orang lain dengan menggunakan simbol-simbol.

Contoh penerapan Interaksi Simbolik:

 Menciptakan realitas. Maksudnya adalah bahwa kita terlibat dalam negosiasi dengan yang lain untuk menyatakan identitas kita dan gambaran situasi.

 Penelitian bermakna. Mead menyaranan penelitian dengan cara observasi pasrtisipasi. Menurutnya, untuk memahami kuda, maka kita mencium seperti kuda makan dari tempatnya, dan tidur di kandang, seperti itulah yang dikatakan observasi partisipan.  Menyamakan dengan yang lain. Seperti cerita pendek yang isinya menceritakan

seorang anak kecil yang memiliki kekuarangan dalam dirinya. Kemudian kekuarangannya tersebut dijadikan bahan ejekan bagi orang banyak. Respon yang negatif ini berangsur-angsur mengurangu kepercayaan dirinya dalam pergaulan sehari-hari dan akhirnya anak kecil ini menganggap dirinya tidak memiliki nilai dan tidak ada artinya.

 Penamaan. Kita sering mendengar seseorang memiliki julukan atau dijuluki oleh orang lain seperti bodoh, jelek, negro, hitam, dan lain-lain. Penamaan atau istilah yang seolah mengecap diri seseorang memang benar-benar menyakitkan hati.

 Nubuat dengan dipenuhi diri sendiri. Ketika kita melihat diri kita dalam cermin, maka ketika itu pula kita mengumpulkan setiap sudut pandang orang lain yang melihat siapa diri kita. Atau yang biasa kita sebut dengan mengkoreksi diri. Maka kita akan melihat atau setidaknya mengetahui bagaimana orang lain mengecap atau menyebut diri kita sesuai dengan karakter yang kita miliki.

(11)

Kemampuan Untuk Berpikir

Pendukung teori Interaksionisme Simbolik menyatakan bahwa asumsi tentang kemampuan manusia untuk berpikir merupakan salah satu sumbangan terbesar dalam pencetus-pencetus awal teori ini sepeti James, Dewey, Thomas, Colley dan Mead. Menurut mereka individu-individu dalam masyarakat tidak dilihat sebagai makhluk-makhluk yang dimotivasi oleh faktor-faktor dari luar yang berada di luar kontrol mereka dalam bertindak. Mereka melihat manusia sebagai makhluk yang reflektif dan karena itu bisa bertingkah laku secara reflektif.

Kemampuan untuk berpikir berada di dalam akal budi tetapi interaksionisme simbolik memahami akal budi secara lain. Mereka membedakan akal budi dengan otak. Manusia harus memiliki otak supaya dapat mengembangkan akal budinya tetapi otak tidak otomatis menciptakan akal budi sebab binatang mempunyai otak namun tidak bisa berpikir. Interaksionisme simbolik juga tidak melihat akal budi sebagai benda (a thing) atau struktr fisis melainkan suatu proses yang berkesinambungan. Proses itu adalah bagian dsri proses yang lebih luas aksi dan reaksi. Akal budi berhubungan erat dengan konsep-konsep lain di dalam interaksionisme simbolik termasuk sosialitas, arti, simbol, interaksi dan masyarakat.

Berpikir dan Berinteraksi

Kemampuan manusia untuk berpikir sudah dibentuk dalam sosialisasi pada masa anak-anak dan berkembang selama sosialisasi ketika orang jadi dewasa. Pandangan Interkasionisme simbolik tentang sosialisasi sedikit berbeda dengan teori-teori lainnya. Teori lain melihat sosialisasi sebagai proses dimana individu mempelajari hal-hal yang ada di di dalam masyarakat supaya mereka bisa bertahan hidup di dalam masyarakat. Tetapi bagi interaksionisme simbolik, sosialisasi adalah proses yang bersifat dinamis, manusia tidak hanya menerima informasi melainkan dia menginterpretasikan dan menyesuaikan informasi itu sendiri dengan kebutuhannya.

(12)

sosial seperti mahasiswa atau ibu dan obyek abstrak seperti ide-ide atau prinsip-prinsip moral. Obyek-obyek tidak lebih dari benda-benda yang berada di luar sana tetapi mereka mempunyai arti penting ketika mereka di definisaikan oleh aktor. Setiap obyek mempunyai arti berbeda-beda untuk setiap aktor.

Pembelajaran Makna Simbol-simbol

Pendukung teori ini mengikuti Herbert Mead dalam menekankan pentingnya interaksi sosial. Menurut mereka arti tidak berasal dari proses kegiatan mental melainkan dari proses interaksi. Dalam interksi sosial, orang belajar simbol-simbol dan arti-arti. Kalau orang memberikan reaksi terhadap tanda-tanda tanpa berpikir panjang maka dalam memberikan reaksi kepada simbol-simbol, orang harus terlebih dahulu berpikir. Tanda mempunyai arti di dalam diri mereka sendiri. Misalanya, gerak-gerik dari anjing yang marah adalah tanda bahwa ia marah. Sedangkan simbol adalah obyek sosial untuk mewakili (take place of) apa saja yang disepakati untuk diwakili. Tidak semua obyek-obyek sosial mempuyai arti yang lain dari pada apa yang ada di dalam dirinya. Tetapi obyek yang merupakan simbol selalu mempunyai arti yang lain dari pada yang tampak di dalam obyek itu sendiri. Orang menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan tentang diri mereka.

Pendukung Interkasionisme simbolik menganggap bahasa sebagai sistem simbol yang besar. Kata-kata adalah simbol karena menunjuk pada sesuatu yang lain. Kata-kata memungkinkan terciptanya suatu simbol yang lain. Perbuatan, obyek-obyek, dan kata-kata yang lain bisa ada dan mempunyai arti hanya karena mereka telah atau bisa dilukiskan melalui penggunaan kata-kata.

Simbol-simbol pada umumnya dan pada khususnya mempunyai sejumlah fungsi, antara lain:

 Simbol-simbol memungkinkan manusia untuk berhubungan dengan dunia material dan sosial dengan membolehkan mereka memberi nama, membuat kategori dan mengingat obyek-obyek yang meraka temukan di mana saja.

 Simbol-simbol menyempurnakan kemampuan manusia untuk memahami lingkungannya.

(13)

 Simbol-simbol meningkatkan kemampuan manusia untuk memecahkan persoalan. Binatang mencoba memecahkan persoalan dengan trial and error sedangkan manusia dengan berpikir dengan menggunakan simbol-simbol sebelum mengguanakan pilihan-pilihn dalam menggunakan sesuatu.

 Penggunaan simbol-simbol memungkinkan manusia bertransedensi dari segi waktu, tempat, dan dan bahkan siri mereka sendiri. Dengan menggunakan simbol-simbol manusia bisa membayangkan bagaimana hidup di masa lampau atau akan datang. Mereka juga bisa membayangkan diri mereka sendiri berdasarkan pandangan orang lain (taking the role of the other)

 Simbol-simbol memungkinkan manusia bisa membayangkan kenyataan-kenyataan metafisis seperti surga atau neraka.

 Simbol-simbol memungkinkan manuasia tidak di perbudak oleh lingkungannya. Mereka bisa lebih aktif ketimbang pasif dalam mengarrahkan dirinya pada sesuatu yang yang mereka perbuat.

Aksi dan Interaksi

Perhatian utama dalam interksionisme simbolik adalah dampak dan arti-arti dan simbol-simbol dalam aksi dan interaksi manusia. Mead membuat pembedaan tentang covert behavior atau tingkah laku yang tersembunyi dan overt behavior atau tingkah laku yang terbuka atau terang-terangan. Covert behavior adalah proses berpikir yang melibatkan arti dan simbol-simbol. Sedangkan overt behavior adalah tingkah laku aktual yang dilakukan oleh seorang aktor. Ada beberapa overt behavior yang tidak selalu melibatkan covert behavior. Artinya ada tingkah laku yang tidak didahului oleh proses berpikir. Covert behavior menjadi pokok perhatian dari interksionisme simbolik sedangkan overt behavior menjadi pokok perhatian dari teori pertukaran.

Arti dari simbol-simbol memberikan aksi dan interaksi sosial suatu kekhasan. Tindakan sosial atau aksi pada dasarnya adalah sebuah tindakan di mana seseorang bertindak dengan selalu mempertimbangkan orang lain di dalam pikirannya. Dengan kata lain, dalam bertindak manusia selalu mengukur dampak untuk orang lain yang terlibat dalam tindakan itu.

(14)

dan mengarahkan tingkah laku mereka berdasarkan interperetasi mereka. Dengan kata lain, dalam interaksi sosial, aktor-aktor terlibat dalam proses saling mmpengaruhi.

Membuat Pilihan-pilihan

Oleh karena kemampuan untuk mengerti arti dan simbol-simbol maka manusia bisa melakukan pilihan terhadap tindakan-tindakan yang di ambil. Manusia tidak perlu menerima begitu saja arti-arti dan simbol-simbol yang dipaksakan kepada meraka. Sebaliknya, mereka bisa bertindak berdasarkan interpretasi yang mereka buat sendiri terhadap situasi itu. Dengan kata lain manusia mempunyai kemampuan untuk memberikan arti baru kepada situasi itu.

Kita juga bisa mengatakan bahwa bagi interksionisme simboli, aktor paling tidak memiliki otonomi. Dia tidak begitu saja dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan yang berasala dari luar dirinya. Mereka mampu melkukan pilihan-pilihan yang bebas dan unik. Lebih dari itu, mereka juga mampu mengembangkan suatu kehidupan yang mempunyai keunikan dan gayanya sendiri.

Diri atau Self

Self adalah konsep yang teramat penting bagi interksionisme simbolik. Guna memahami konsep ini lebih dari apa yang dimaksud oleh Med, kita harus terlebih dahulu memahami ide looking glass self yang di kembangkan oleh Charles Horton Colley. Apa yang dimaksud dengan looking glass self oleh Colley adalah bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat diri sendiri sebagai halnya kita melihat obyek sosial lain. Ide tentang looking glass self di bagi ke dalam tiga komponen, yakni: pertama, kita membayangkan bagaiman kita menampakkan diri kepada orang-orang lain; kedua, kita membayangkan penilaian kita terhadap penampilan kita; ketiga, bagaimana kita mengembangkan semacam perasaan tertentu sebagai akibat dari bayangan kita tentang penilaian orang lain.

(15)

Kelompok-kelompok dan Masyarakat

Interksionisme simbolik umumnya sangat kritis terhadap tendensi perspektif sosiologi lainnya yang memusatkan perhatiannya pada struktur yang bersifat makro. Herbert Blumer adalah orang yang berada paling depan dalam sikap kritis terhadap determinisme sosiologis dimana tindakan sosial manusia semata-mata dipengaruhi oleh struktur sosial. Dalam pandangan mereka aktor bukannya mendifinisikan situasi sebelum mereka bertindak melainkan dia hanya ikut saja kekuatan-kekuatan eksternal yang memaksanya untuk bertindak. Manuasia dalam pandangan perspektif-perspektif tradisional itu tidak lebih dari pada semacam robot.

Hal itu sangat berbeda dengan pandangan interksionisme simbolik sebagaimana dijelaskan oleh Blumer. Menurut Blumer, masyarakat tidak berbuat dari struktur-struktur yang bersifat makro. Esensi dari masyarakat harus di temukan dalam aktor-aktor dan tindakannya. Dia berkata: “Masyarakat manusia harus dilihat sebagai terdiri dari orang-orang yang sedang bertindak dan kehidupan masyarakat harus dilihat sebagai terdiri dari tindakan-tindakan mereka” (Blumer, 1976;85). Masyarakat manusia dalah tindakan-tindakan. Kehidupan kelompok adalah keseluruhan tindakan yang sedang berlangsung. Namun demikian masyarakat tidak dibuat dari tindakan yang terisolasi. Di sana ada tindakan yang bersifat kolektif yang melibatkan individu-individu yang menyesuaikan tindakan mereka terhadap satu sama lain. Dengan kata lain, mereka saling mempengaruhi dalam melakukan tindakan. Mead menyebut hal ini sebagai social art (perbuatan sosial) dan Blumer menyebut join action (tindakan bersama).

Blumer tetap mengakui eksistensi dari struktur-struktur sosial yang bersifat makro. Tetapi dalam pandangannya struktur-struktur seperti itu mempunyai pengaruh yang sangat terbatas di dalam interksionisme simbolik. Blumer sering berpendapat bahwa struktur-struktur yang bersifat makro itu tidak lebih dari pada semacam kerangka kerja di dalamnya aspek-aspek penting dari kehidupan sosial, aksi dan interaksi terjadi. Struktur-struktur makro memang menetapkan kondis-kondisi dan batasn-batasan terhadap tingkah laku manusia tetapi ia tidak menentukan tingkah laku itu.

2.4Interaksionisme Simbolik Dalam Karya Eening Goffman

(16)

Maka guna mempertahankan gambaran diri yang stabil, manusia cenderung melakonkan peranya di atas panggung pertunjukan. Karena itu golfman cenderung melihat kehidupan social sebagai suatu seri drama atau seri pertunjukan i mana para actor memainkan peran-peran tertentu, pendekatan ini disebutnya pendekatan dramaturgi

Hakekat Self dalam karya Golfman

Self bukan mili actor maupun pelaku melainkan hasil interaksi antara actor dan penonton. Artinya self mengarahkan tingkah lakunya sesuai dengan harapan penonton yang di peroleh actor ketika berinteraksi dengan penonton. Para actor berharap bahwa self atau diri yang mereka tampilkan dalam pertunjukan itu cukup kuat atau mengesankan sehingga para penonton bias memberikan definisi(deskripsi) tentang diri mereka (actor-aktor) itu sesuai dengan keinginan actor-aktor itu sendiri. Para actor juga beharap bahwa gambaran atau ideal diri yang diperoleh penonton tentang mereka akan membuat para penonton itu sendiri bias melakukan secara sukarela.

Bagian depan panggung

Bagian depan panggung itu berfungsi untuk mendefinisikan situasi. ada bagian yang di sebut setting, setting adalah bagian-bagian- yang secara fisik (alat-alat) yang harus berada di sana apabila si actor tampil. Ada bagian juga yang di sebut personal front, personal front terdiri dari barang-barang yang membantu memberi kesan pada penonton, sehingga penonton dapat dapat mengidentifikasi peran yamg di mainkan si actor atau posisi social yang diduduki oleh seseorang dalam kehidupan social.

Personal front

- Appearance :Melingkupi atribut-atribut yang bisa menunjukkan kepada orang lain status social yang mereka miliki

- Manner: menunjukkan model atau gaya peran yang akan dimainkan oleh si performer atau pelakon itu dalam situasi actual tersebut

(17)

1. Menyembunyikan hal-hal yang bersifat negative seperti minum mabuk atau kecanduan obat

2. Menyembunyikan kekeliruan yang terjadi selama latihan menjelamg pertunjukan 3. Actor perlu menunjukkan hanya hasil dari usahanya bukan menunjukkan usaha

yang dilakukan untuk mencapai hasil itu

4. Actor perlu menyembunyikan dari hadapan penonton bahwa ia menggunakan cara-cara kotor dalam melakuan usahanya sehingga mencapai tujuan yang diharapkan

5. Di dalam melakukan pertunjukan actor bisa saja mengesampingkan stadart-standart lain

6. Actor mungkin perlu untuk menyembunyikan perasaan sakit hati, direndahkan dan lain-lain sehingga pementasan bisa berjalan terus

Salah satu aspek dari dramatugi atau pertujukan panggung , khususnya dalam font stage ialah bahwa si actor seringkali untuk mencoba untuk memberikan kesan bahwa mereka lebih dekat dengan penonton dari pada kenyataan yang sebenarnya. Guna menimbulakn kesan ini maka harus dibuat sedmikian rupa sehingga ada pemisahan antara dia dan penonton agar jika ada kesalahan atau kekeliruan dalam pementasan, penonton tidak bakal mengetahuinya. Actor berusaha untuk meyakinkan semua yang terlibat dalam prtujukan (intraksi social, situasi social) itu patuh kpada aturan bersama. Salah satu tehnik yang digunakan oleh actor dalam melakukan pertunjukan ialah mystification. Si actor kadang-kadang memistikkan penampilan mereka dengan membatasi kontak mereka dengan membatasi kontak mereka dngan penonton. Karena itu Goffman menyimpulkan bahwa team itu adalah snacam suatu masyarakat rahasia atau scret society.

Bagian belakang panggung

(18)
(19)

Teori interaksi simbolik adalah hubungan antara simbol dan interaksi. Menurut Mead, orang bertindak berdasarkan makna simbolik yang muncul dalam sebuah situasi tertentu.Sedangkan simbol adalah representasi dari sebuah fenomena, dimana simbol sebelumnya sudah disepakati bersama dalam sebuah kelompok dan digunakan untuk mencapai sebuah kesamaan makna bersama.

Teori interaksionisme simbolik dikonstruksikan atas sejumlah ide-ide dasar. Ide dasar ini mengacu pada masalah-masalah kelompok manusia atau masyarakat, interaksi sosial, obyek, manusia sebagai pelaku, tindakan manusia dan interkoneksi dari saluran-saluran tindakan. Secara bersama-sama, ide-ide mendasar ini mepresentasikan cara dimana teori interaksonalisme simbolik ini memandang masyarakat mereka memberikan perangkat kerja pada ilmu sekaligus menganalisisnya. Secara singkat kerangka-kerangka itu diantaranya adalah sifat masyarakat, sifat interaksi social, ciri-ciri obyek,manusia sebagai makhluk bertindak, sifat aksi manusia dan pertalian aksi. Beberapa implikasi metodologis para ahli teori interaksionisme simbolis terhadap kehidupan kelompok dan aksi sosial dapat diketahui pada empat hal, yang pertama individu, kedua kolektifitas manusia, ketiga tindakan sosial secara sendiri-sendiri atau bersama, keempat tindakan-tindakan pertalian komplek. Yang selanjutnya mengenai Prinsip-prinsip dasar teori interaksi smbolik yang pertama: tak seperti binatang, manusia dibekali kemampuan untuk berpikir. Kedua: Kemampuan berpikir dibentuk oleh interaksi sosial. Ketiga Dalam interaksi sosial manusia mempelajari arti dan simbol yang memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berpikir mereka yang khusus itu. Keempat: Makna dan simbol memungkinkan manusia melanjutkan tindakan khusus dan berinteraksi. Kelima: Manusia mampu mengubah arti dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan penafsiran mereka terhadap situasi. Keenam: Manusia mampu membuat kebijakan modifikasi dan perubahan, sebagian karena kemampuan mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri, yang memungkinkan mereka menguji serangkaian peluang tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relative mereka, dan kemudian memilih satu di antara serangkaian peluang tindakan itu. Ketujuh: Pola tindakan dan interaksi yang saling berkaitan akan membentuk kelompok dan masyarakat.

(20)

sikap dan perbuatannya terhadap orang lain, dia melakukan sebagai pertimbangan dan menilainya, untuk kemudian memilih dari berbagai kemungkinan dalam bertindak. Dalam proses yang bersifat aktif ini, fikiran manusia tidak hanya berperan sebagai instrumen melainkan juga menjadi bagian dari sikap manusia. Cooley dilahirkan dikota Ann Arbor, di negara bagian Michigan, Amerika Serikat. Beliau lahir pada tahun 1864, Cooley lebih menekankan bahwasannya seseorang melihat dirinya melalui mata orang lain perbedaanya dengan Mead kalau bagi Mead, tertib masyarakat akan terjadi manakala ada komunikasi yang dipraktikkan melalui simbol-simbol. Mead terlahir di South Hadley, Massachusetts, pada 27 Februari 1863. Mead yang mendalami filsafat dan penerapannya pada psikologi sosial. Tokoh yang selanjutnya yakni Herbert Blumer yang banyak mengembangkan pemikiran-pemikiran George Herbert Mead. Bagi Blumer manusia bertindak bukan hanya faktor eksternal (fungsionalisme struktural) dan internal (reduksionis psikologis) saja, namun individu juga mampu melakukan self indication atau memberi arti, menilai, memutuskan untuk bertindak berdasarkan referensi yang mengelilinginya itu.

Pada dasarnya tindakan manusia itu terdiri dari pertimbangan atas berbagai hal. Metode empiris Blumer lewat pengamatan (inquiry), penjelajahan (exploration), dan pemeriksaan (inspection). Blumer menekankan pada aspek kemanusiaan (humanis) yang unik dan berbeda satu sama lain, memiliki cita, rasa, karsa, serta multi variat.

DAFTAR PUSTAKA

(21)

Soekanto,Soerjono.2013.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta:Grafindo

Scoot,Jhon.2012.Teori Sosial Masalah-Masalah Pokok Dalam Sosiologi.Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga dapat dengan jelas kita lihat, bawasannya bukan hanya nilai-nilai Islam saja yang menyerukan untuk perjuangan kepada kaum tertindas, melainkan secara kodrati

Dengan kata lain jika kita tidak memiliki jiwa maka kita bukan lagi mahluk hidup melainkan sudah menjadi benda sama seperti benda- benda lain yang tidak memiliki jiwa, dan

Sehingga dapat dengan jelas kita lihat, bawasannya bukan hanya nilai-nilai Islam saja yang menyerukan untuk perjuangan kepada kaum tertindas, melainkan secara kodrati

Teori Sterilisasi Jiwa dan Novel Legenda Trisula Cahaya : Hippocrates, Pierre Fauchard, dan Ferizal . Karya Ferizal Bapak Sastra Kesehatan Indonesia Implikasi dalam Kesehatan Masyarakat • Preventif : Sterilisasi jiwa mencegah berkembangnya “penyakit sosial” seperti intoleransi dan kekerasan terhadap tenaga Kesehatan yang sedang melayani masyarakat. • Promotif : Menyebarkan nilai cinta, kasih, dan solidaritas sebagai bagian dari SASTRA KESEHATAN INDONESIA • Kuratif : Membantu pemulihan trauma personal maupun kolektif akibat penyakit, pandemi, atau konflik sosial. • Rehabilitatif : Mengembalikan martabat manusia yang sempat hilang karena sakit, stigma, atau diskriminasi. Kesimpulan Teori Sterilisasi Jiwa memperluas cakrawala Sastra Kesehatan Indonesia: ia menjadikan sastra bukan hanya estetika, melainkan terapi, etika, dan paradigma kesehatan. Dengan cinta sebagai antiseptik utama, sastra mampu mensterilkan batin manusia dan masyarakat, sehingga kesehatan yang dicapai bersifat holistik. Kedudukan dalam Sastra Kesehatan Indonesia adalah Teori Sterilisasi Jiwa memperluas horizon Sastra Kesehatan Indonesia dengan memberi landasan filosofis–praktis tentang bagaimana sastra bisa berfungsi bukan hanya sebagai refleksi, tetapi juga intervensi kesehatan jiwa kolektif. Dengan demikian, Sastra Kesehatan Indonesia tidak sekadar estetika, melainkan juga terapi, etika, dan paradigma baru kesehatan. Lebih jauh, Teori Sterilisasi Jiwa menegaskan bahwa sastra dapat menjadi alat sterilisasi makna—membersihkan bahasa, simbol, dan narasi dari kontaminasi ide-ide yang merusak martabat manusia. Ia membuka ruang bagi sastra untuk hadir dalam wacana kesehatan publik, pendidikan kesehatan, hingga praktik klinis, sebagai media pemulihan jiwa dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, teori ini tidak hanya memperkaya khasanah sastra Indonesia, tetapi juga memperkuat fondasi kesehatan masyarakat melalui pendekatan humanistik dan cinta kasih. Ia juga menjadi jembatan antara ilmu kesehatan, humaniora, dan spiritualitas, sehingga Sastra Kesehatan Indonesia tampil sebagai disiplin interdisipliner yang unik dan relevan di era