• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Model dan Kepemimpinan Gereja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Model Model dan Kepemimpinan Gereja"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN GEREJA DALAM SEJARAH

Pendahuluan

1. Sistem kepemimpinan dan pemerintahan gereja adalah suatu yang sangat menarik untuk dikaji apalagi system kepemimpinan gereja merupakan produk dari sebuah konteks tertentu yang kemudian diwariskan ke konteks lain menurut jaman yang berbeda. Jika berbicara tentang model kepemimpinan (termasuk gereja), paling tidak sangat banyak hal harus diperhatikan misalnya menyangkut: “budaya (kultur), pemahaman, falsapah hidup, system, distoritas tekstual/konteks dan lain sebagainya”. Berhubung dengan pernyataan ini, mengingat pergumulan panjang HKBP sebagai sebuah gereja yang terus menerus masih mencari model dan bentuk kepemimpinannya yang ideal, jika diperhadapkan dengan konteks jaman yang menantang HKBP sekarang, penelitian ini menjadi sangat menarik diteruskan. Tentu dengan satu kesadaran bahwa sangat banyak konsep serta defenisi mengenai kepemimpinan dan pemimpin dikemukakan oleh para ahli dan semuanya mengantar kepada penegasan bahwa kepemimpinan merupakan sesuatu yang sangat didasarkan pada wibawa, charisma, pengakuan, kuasa dan otoritas dan lain sebagainya. Hanya, bahwa dalam hubungannya dengan kepemimpinan gereja agaknya tidaklah demikian, sebab bila menyerupakan apalagi mengadopsi serta menerapkan system, model, bentuk kepemimpinan secara umum kepada gereja maka kepemimpinan gereja tidak dibedakan dengan bentuk system kepemimpinan pada umumnya.1

2. Berhubung dengan hikmat poin satu di atas, ketika Aturan Peraturan HKBP 2002 diterbitkan serta disyahkan untuk mengganti AP yang lama, upaya itu dilakukan sangat berkaitan dengan latarbelakang HKBP mengantisipasi dampak dan pengaruh globalisasi yang di antaranya mencakup era informatika, perkembangan dan kemajuan teknologi. Sebelum AP 2002 dirumuskan, sangat lama HKBP mempergumulkan bentuk kepemimpinan yang seperti apa yang ideal dan dapat dituangkan di dalam AP (2002). Dalam menentukan bentuk dan sifat kepemimpinan inilah dipikirkan dan dirumuskan: “bentuk struktur, hierarki, pemerintahan (kepemimpinan), mekanisme pengambilan keputusan serta pelaksanaan pelayanan yang relevan dan actual di HKBP ?”. Sebelumnya, ada beberapa wacana di setiap perbicangan dan diskusi HKBP (berbagai seminar dan pertemuan-pertemuan lainnya) muncul. Beberapa wacana yang muncul yakni: Pertama, ada yang mengusulkan supaya bentuk kepemimpinan di HKBP (AP 2002) sebaiknya dipakai system flat (mendatar) jangan dalam bentuk

hierarki monolitik (mono: “satu” sedang litos: “batu”. Monolitik artinya: satu batu menjulang tinggi). Bentuk hierarki monolitik adalah bentuk kepemimpinan tunggal pada posisi yang sangat tinggi untuk memimpin dari atas ke bawah. Dengan system kepemimpinan flat, pengambilan keputusan diharapkan dapat dilakukan secara sinergis (sun: “bersama-sama”, ergo: “bekerja, bekerja bersama-sama”).

(2)

Apabila pengambilan keputusan secara sinergis dilakukan, maka itu berarti setiap keputusan harus merupakan perwujudan dari rasa dan pemikiran kebersamaan. Dalam setiap pengambilan keputusan, pandangan dan pemahaman orang lain harus dapat dipertimbangkan, dimasukkan dan turut diperhitungkan. Kedua, berhubung dengan kesiapan HKBP menghadapi era globallisasi yang esensinya melahirkan kemajemukan dalam bidang kehidupan, ada tuntutan bahwa HKBP dalam menjalankan tugas pelayanannya corak dan model kepemimpinannya harus bersikap inklusif, terbuka dan dialogis. Artinya HKBP harus mau terbuka dan menerima keberadaan orang lain serta mengedepankan pencapaian mutual understanding (pemahaman bersama yang dapat disepakati bersama). Dua wacana inilah yang merupakan pergumulan serius HKBP merumuskan model kepemimpinannya sebagaimana telah tertuang dalam rumusan AP 2002.2

3. Sebagaimana gereja berkembang hingga abad 21, maka demikian bentuk kepemimpinan dan pemerintahan gereja turut pula berkembang.3 Hanya dapat

dikatakan bahwa seturut pertambahan waktu dan perkembangan gereja, bentuk/ model kepemimpinan gereja yang masih tetap efisien (walau klasik) adalah bentuk: “episcopal, Presbyterian, congregational dan sebuah bentuk tanpa kepemimpinan (pemerintahan)”. Ketika system kepemimpinan episkopal dan Presbyterian, keduanya berlangsung di dalam strukturnya maka kuasa jabatan keduanya berbeda menurut para pelaku jabatan itu. Lain halnya pada system congregational, pada system ini kuasa (otoritas) jemaat adalah sebagai otoritas tertinggi dalam kepemimpinan gereja. Pada system “non government” (tanpa kepemimpinan), mereka mengklaim bahwa kuasa Roh Kudus sebagai wibawa tertinggi dalam kepemimpinan gereja. Banyak gereja di beberapa negara mencoba menerapkan supaya system demokrasi sebagai system kepemimpinan dalam gereja, namun model: “kepemimpinan episkopal, presbyterian dan

congregational agaknya masih merupakan yang paling efisien sebagai system kepemimpinan/pemerintahan gereja sepanjang jaman”.4 Fokus pertanyaan

paling prinsip pada abad 20 ini terhadap kepemimpinan gereja adalah: “sesungguhnya sejauh apa kuasa kesepakatan penting di dalam ibadah dan pelayanan ? Ketika pelayanan pemberitaan firman dan sakramen berlangsung, apakah kuasa kesepakatan pelayan jabatan tahbisan sebagai hal paling pokok dan terpenting di dalam jemaat ?”. Millard J. Erikson,5 mencoba menjawab

berbagai pertanyaan ini dengan menegaskan bahwa yang terpenting dianalisis pada soal kepemimpinan jemaat yakni: “di posisi mana kekuasaan penting ditempatkan di dalam jemaat ?”. Menurut Millard selanjutnya6, banyak orang

mencoba memberi penjelasan kepada pergumulan ini dengan mengatakan:

2 Darwin Lumbantobing, “Kepemimpinan Pelayanan Tahbisan Menurut Aturan Peraturan HKBP,

2002” dalam: Darwin Lumbantobing (ed): Percikan Teologi Jubah Hitam (Pematangsiantar: L-SAPA, 2008) hl. 279-281.

3 Oscar Culmann, The Early Church (London: SCM Press, 1956) hl. 105 ff

4 Dalam salah satu system/model kepemimpinan ini ada yang menekankan unsur demokrasi dalam penyelenggaraan, pengelolaan dan pengawasan jemaat, yakni: model Congregasionalis.

(3)

kuasa firman Allah yang mestinya mutlak berkuasa di dalam gereja”. Pergumulan lain yang muncul berhubungan dengan hal ini adalah; “kepada siapa dan bagaimana Tuhan mengekspresikan (memberikan) kuasa kepemimpinan ini di dalam jemaat ?” Pergumulan inilah yang menarik perhatian penulis seturut dengan perkembangan bentuk kepemimpinan gereja hingga abad 21 ini dan dicoba dituangkan pada paper ini.

Model dan Bentuk Kepemimpinan (Pemerintahan) Gereja Dalam Sejarah

Menurut Millard J. Erikson,7 sepanjang perjalanan sejarahnya gereja telah

dipengaruhi oleh banyak system, model dan bentuk kepemimpinan/ pemerintahannya. Namun di antara banyaknya system dan model kepemimpinan itu, yang paling efektif dan efisien bagi corak kepemimpinan gereja sepanjang jaman adalah bentuk kepemimpinan: “Episcopal, Presbyterial, Congregational dan Non-Pemerintahan/Kepemimpinan”. Empat model inilah yang dicoba dijelaskan penulis pada paper ini, walau pada uraian berikut ada system yang muncul serta diterapkan gereja dalam kepemimpinannya mulai abad mula-mula hingga abad 21 ini, yakni bentuk: “sinodal dan papalisme/kepausan (gereja Barat) dan Metropolish (gereja Timur)”.

A. Episcopal

(Pengawas, Pengamat, Bishop, dan Penilik)

4. Sistem pemerintahan/kepemimpinan gereja dengan episkopal dapat diartikan sebagai: “kuasa keputusan dan kepemimpinan tertinggi berada di tangan seorang episkopos (επίσκοπος: seorang penilik/Bishop) yang diangkat untuk jabatan tersebut”. Dalam realisasinya, sebenarnya ada banyak variasi system kepemimpinan episkopal berlangsung di mana keadaan ini biasanya sangat dipengaruhi bahkan ditentukan oleh ragam dan variasi tingkatan jabatan bishop dalam jemaat.8 Berbicara mengenai model kepemimpinan gereja sebagai “episkopal”, ini harus dimulai dari penelusuran terhadap makna kata: “episkopos” (penilik) sesuai tradisi PB, sebab kata episkopos jelas merupakan produk dunia jemaat mula-mula. Munculnya, jabatan “episkopos” dalam tradisi jemaat mula-mula sangat didorong oleh kebutuhan akan kepemimpinan untuk menghadapi segala rupa pengaruh kekafiran yang memang hidup di tengah-tengah jemaat, sehingga mereka sangat membutuhkan pemimpin rohani yang kuat di dalam jemaat-jemaat untuk menjaga kekudusan, kesaksian yang kuat terhadap keesaan jemaat dan dan juga kepada tradisi rasuli yang dipercaya sebagai

7 Lih. Millard J. Erikson, Ibid., hal. 1079

(4)

jaminan keselamatan.9 Bila diperhatikan kesaksian PB, suatu hal yang sangat

menarik bahwa di dalam PB selalu berhubungan antara istilah episcopes dan

episkopos. Di mana epikopes (επισκοπης) melakukan kunjungan-kunjungan (visitation) kepada jemaat-jemaat dan posisinya sebagai pengawas (position of suvervisor) dan fungsi mengawasi (lih. Kis. 1:20 ; I Tim. 3:1 ; I Pet. 2:12 ; Episkopos-επισκοπος: pengawas, pengamat, bishop, dan penilik, Kis. 20:28 ; Filp. 1:1 ; I Tim. 3:2 ; Tit. 1:7 ; I Pet. 2:25).10 Menurut Raymond E. Brown,11

fungsi ini perlu diperdebatkan ulang mengingat bahwa di dalam Filp. 1:1 sudah terungkap makna episkopos sesuai dengan konteksnya. Dalam konsep ini “gereja sebagai tubuh Kristus” dapat dimaknai sebagai pertobatan (Rom 7:4) dan baptisan (Rom 6:10).12 Paham lain yang berhubungan dengan ekklesiologi

Paulus dengan episkpos ada pada “eskatologi”-nya. Teologi Paulus secara hakiki sangatlah bersifat eskatologis karena bersifat kristologis yang bertitik tolak dari peristiwa kebangkitan Kristus. Gereja ada pada proses lanjutan, artinya gereja adalah dasar dari periode dimulainya kebangkitan hingga parousia. Bagi Paulus parousia bukan sesuatu yang semata-mata akan datang pada akhir jaman melainkan pengaruhnya sudah dimulai dari sekarang.13 Kerangka

eklesiologi inilah yang menuntun penelitian terhadap konsep episkopos (penilik atau bishop) di dalam surat-suratnya. Jelasnya, Rasul Paulus di dalam perkembangan jemaat dan melalui surat-suratnya ia memakai istilah “pelayan Allah” (2 Kor. 6:4-5) yang menahan diri dengan penuh kesabaran terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya. Dan di dalam proses selanjutnya, disebutkannya bahwa bishop berfungsi sebagai pelayan penggembalaan

9 Lih. J.L. Ch. Abineno, Garis-garis Besar Hukum Gereja (Jakarta: BPK-GM, 1997) hl. 50. Jabatan episkopos dan jabatan presbuteros mula-mula merupakan suatu mejelis jabatan dari penilik jemaat dan penatua (lih. Kis. 20:17-28 ; Tit. 1:5,7). Tetapi kemudian jabatan episkopos

makin lama makin menjadi satu-satunya pemimpin jemaat.

10 Lih. J. L Ch.abineno, Ibid.Di dalam PB, kata episkopos sering digunakan untuk menunjuk pada jabatan pemimpin khususnya di dalam surat-surat pastoral. Di dalam surat-surat pastoral, diungkapkan jabatan episkopos sebagai ex professo (karena jabatan) yang serius menekankan struktur gereja.

11 Raymond E. Brown, A Brief Survey of The New Testament Evidence on Episkope and Episkopos, dalam: Faith and Order paper, Episkope and Episkopate in Ecumenical Persfective (Geneva: WCC, 1980) hl. 15 Perkembangan episkopos menjadi menarik ketika terjadi pergeseran pemahaman terhadap jabatan episkopos yakni dari status jabatan yang lebih bersifat kolektif ke jabatan yang tersentralistik (Filp. 1:1 ; I Tim. 3:2 ; Tit. 1:7). Perkembangan gagasan mengenai jabatan episkopos (dalam PB) dapat dilihat melalui penjelasan Rasul Paulus di dalam surat-suratnya. Adalah jelas bahwa gagasan Rasul Paulus mengenai epikopos sangat erat hubungannya dengan pikirannya sendiri mengenai eklesiologinya (paham mengenai gereja). Tentang gagasan

eklesiologi Paulus dapat dikatakan bahwa ia mengatakan bahwa gereja adalah sebagai Israel sejati (Gal. 3:29), juga dikatakan bahwa gereja berkaitan dengan cabang zaitun yaitu Israel (Rom. 11:24). Kesimpulan dari argument ini dapat dikatakan bahwa menurut Paulus, ada kesinambungan antara gereja dengan Israel. Namun yang menjadi kekhususan paham eklesiologi Paulus bahwa: “kesatuan antara gereja dengan Kristus” di mana melalui gagasan ini ia sering menggunakan istilah “gereja sebagai tubuh Kristus”.

12 Tom Jacobs, Gereja Menurut Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1988) hl. 334

(5)

(itinerant ministers) yang melakukan pelayanan kesaksian keliling.14 Di dalam I

Tes. 5:12 dan Rom 12:8 ia berbicara tentang kepemimpinan jemaat. Paulus langsung mengatakan: “orang-orang yang memimpinmu”. Dan di dalam I Kor. 12:28 disinggung tentang pengelolaan atau pelaksanaan kerja pemimpin. Di dalam Filp. 1:1 disebutkan “bishop dan diaken” yang mengacu pada latarbelakang jemaat hellenistik-Jahudi bahwa diakonoi memiliki jabatan subordinasi episkopoi. Berdasarkan jenjang karir, diakonoi identik dengan pelayanan, sedang episkopoi lebih memfokuskan diri pada fungsi mengawasi. Semua jabatan ini hakekatnya bertanggungjawab untuk melakukan tugas social, manajemen, memimpin ibadah pada aras local dan bertanggungjawab secara kolektif kepada jemaat local.15 Hal ini memperlihatkan bahwa konteks pelayanan episkopos, presbyter, dan diakonos lebih berorientasi pada kolektifitas kerja sebagai team kerja (team work). Walau ada subordinasi bukan berarti diakonos

bertanggungjawab kepada episkopos, karena pertanggungjawaban keduanya adalah pada persekutuan yang sudah terbentuk.

5. Pada jemaat mula-mula ada perkembangan pemahaman terhadap jabatan

episkopos secara sistematis. Perkembangan sistematis ini jelas terlihat melalui konsep bahwa Kristus dimunculkan serta diperkenalkan sebagai “kepala”. Tubuh Kristus tidak semata-mata dipandang sebagai metafora saja, tetapi sudah diformulasikan menjadi historis maksudnya gereja diposisikan dalam rangka misteri keselamatan. Intinya gereja tidak dilihat dari sudut pandang organisasi dan strukturnya tetapi dari persfektip rencana dan sejarah keselamatan. Melalui inilah Paulus meletakkan dasar pewartaannya kepada Kristus sebagai satu-satunya dasar (I Kor. 3:11). Terhadap jabatan bishop, Kummel16

menghubungkan surat I Tim. 2:8-15 tentang laki-laki dan perempuan di dalam ibadah dengan 3:1-7. Pada hubungan dua teks ini, diberi tekanan pada karakter

elder (penatua) dan bishop di mana pemberian karakter ini bertujuan untuk memperlengkapi mereka dalam menghadapi guru-guru sesat yang muncul di dalam jemaat. Menurut Kummel,17 bahwa pelaksanaan peraturan gereja harus

dikongkritkan pada setiap level di dalam jemaat dan berkaitan dengan anugerah Allah yang dinyatakan melalui Kristus sebagai pembawa keselamatan. Untuk inilah perlu ditetapkan jabatan gereja yang tidak semata-mata bagi sifat yang

prestisius tetapi pada tugas dan tanggungjawab etis memimpin dan kewajiban. Jabatan inilah yang kemudian dikenakan kepada presbiter dan bishop (I Tim. 3:1 ; 5:17 ; Tit. 1:5). Presbyter dan bishop memimpin jemaat, dan konsekwensinya pembentukan jabatan itu menjadi suatu yang wajar di dalam konteks surat pastoral. Penting ditekankan bahwa di samping jabatan bishop menjadi jabatan yang wajar untuk memimpin dan melindungi jemaat dari gangguan para penyesat, namun tekanan paling kuat bagi realisasi jabatan episkopos ada pada

14 J. Hugh Michael, The epistle of Paul to the Philippians (London: Hodder and Stroughton, 1964) hl. 5-6.

15 Bengt Holmberg, Paul and Power; The structure of authority in The Primitive Church as

Reflekted in The Pauline Epistle (Philadelphia: Fortress Press, 1980) hl. 99-100

16 Feine, Behm Kummel, Intoduction to the New Testakment (Nashville: Abingdon Press, 1966) hl. 259-270.

(6)

tugas dan tanggungjawab etis sebagai dasar kepemimpinannya di dalam jemaat. Kualifikasi berdasarkan kwalitas dari para bishop merupakan tuntutan dasar dengan mengacu pada bentuk organisasi (lih. Tit. 1:7-9 ; I Tim. 3:5). Para

episkopos adalah pengajar resmi di dalam jemaat yang bertugas menjaga ajaran sehat yang diwariskan oleh rasul Paulus kepada Timoteus dan Titus ( I Tim. 4:1-11 ; 5:17 ; Tit. 1:9-2:1). Konsekwensinya, jabatan episkopos harus menjadi panutan bagi jemaat dengan alat ukur kepemimpinan di dalam keluarga. Sesuatu yang sangat menarik adalah bahwa dalam konteks kepemimpinan jemaat adalah sosialisasi wacana keluarga sebagai sebuah bangunan yang dikaitkan dengan penggambaran kamunitas Kristen sebagai tubuh atau bangunan dengan Kristus menjadi titik sentralnya (Kol. 2:7 ; Efs. 4:15-16 ; 2:20-22) dan sekaligus Kristus sebagai kepala, dasar, dan batu penjuru. Menurut G. Kittel18 bahwa ketika

pertama sekali istilah episkopos dipakai masuk ke dalam konteks jemaat mula-mula, pemikiran awal yang muncul adalah bahwa jabatan ini sangat berhubungan dengan aktifitas manusia yang bersifat melindungi atau mengawas terhadap seseorang yang dianggap masih muda. Di pihak lain, episkopos sering dipahami sebagai tanda jabatan. Ada juga pemahaman bahwa episkopos

merupakan jabatan local atau pejabat di dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Jabatan ini sangat berkaitan dengan system budaya dan keagamaan hellenistis, antara lain berfungsi sebagai pembantu penjaga di bait suci Yerusalem. Akhirnya, di dalam tradisi Yahudi maupun Hellenis, episkopos

selalu dimaknai sebagai bentuk kepemilikan kekuasaan atas kelompok atau komunitas tertentu.

(7)

kaisar Romawi, yang mempunyai kepentingan politis akan kesatuan gereja di lingkungan kekaisarannya telah berfungsi sebagai pelindung gereja.

Presbyterial

7. Secara kongkrit model kepemimpinan ini dapat diartikan bahwa: “keputusan kebijakan tertinggi jemaat (kepemimpinan) ada pada keputusan majelis penatua (presbyter)”. Kunci jabatan pada struktur Presbyterian ada pada penatua, sebuah posisi yang latarbelakangnya ada pada synagoge Jahudi.19 Dalam semua cerita

tradisi PL, jabatan presbyter asilnya telah memiliki sejarah panjang di mana presbyter telah sejak lama bergabung dengan tradisi dua belas suku Israel yakni pada system hukum patriarchal dua belas suku Israel yang paling tua. Setelah bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian pun, telah ada dewan penatua (presbyter) yang berpengaruh di setiap wilayah local secara berbeda. Para presbyter melakukan tugas masing-masing secara berkuasa baik pada tingkat local dan akhirnya mereka menjadi dikenal dalam bentuk kepemimpinan aristokrasi tradisi Israel. Di dalam tradisi PB, presbyter adalah anggota dewan para penatua (istilah Yunani: presbyteroi) jemaat setempat. Di kalangan Yahudi yang berbahasa Yunani, anggota dewan ini disebut presbiter. Para presbyter juga sebagai pemuka jemaat yang ditempatkan sebagai wakil dari seorang rasul di tiap-tiap jemaat (Kis. 14:23). Pada posisi tugas ini kadang-kadang mereka disebut sebagai pengawas (Kis. 20:17). Para presbyter juga menjabat sebagai penilik (yang sama tugasnya dengan episkopos), artinya uskup sangat menonjol di antara para presbyter. Di jemaat Jerusalem, jabatan presbyter merupakan posisi tertinggi dalam jemaat dan mereka sangat berpengaruh sebagai majelis dewan yang berdaulat (συνηδρίΟν: lih. Luk 22:66 ; Kis 22:5). Pada system kelompok persekutuan Yahudi yang lebih muda, mereka harus menerima ide dari para pesbyter (penatua) di mana para presbyter lebih bertanggungjawab kepada persekutuan itu.20

8. Dari semua kitab PB, Kisah Para Rasullah yang paling banyak dan lengkap menjelaskan jabatan presbyter dalam jemaat (Kis. 6: “tujuh penatua”). Para presbyter bertugas untuk mengumpulkan persembahan untuk diberikan ke bait suci di Jerusalem (11:30) dan kepada dewan para rasul (15:2, 4, 6, 22 ; bnd. 16:4). Konsep presbyter paling tua dalam jemaat mula-mula sebagimana dijelaskan Kisah Rasul ada pada jemaat di Jerusalem (para penatua di Synagoge: Kis. 11:30). Mereka berkumpul di sekitar synagoge dan kadang-kadang bersama dengan para rasul (Jak. 21:18) mereka memiliki kuasa hukum

19 S. L. Greenslade, The Ministry in the Early Church (London: Canterbury, 1947) hl. 55-61. Pada konteks awalnya presbyter merupakan sebutan yang ditujukan kepada jabatan yang memimpin persekutuan Yahudi yang di dalam tradisi Yahudi, presbyter merupakan suatu jabatan yang sudah sangat tua. Pernyataan ini berarti bahwa jabatan presbyter bukan merupakan pengembangan komposisi dari dewan penatua dalam jemaat mula-mula namun sudah terbentuk jauh sebelum jemaat mula-mula ada.

(8)

untuk seluruh jemaat (seperti Sanhedrin: Kis. 15:4). Para penatua local di Jerusalem memiliki kesiapan untuk mengembangkan otoritas kuasa mereka di dalam tradisi Yahudi Kristen. Pada generasi pertama jemaat, presbyter tidak dikenal oleh jemaat dalam latarbelakang Hellenistik seperti persekutuan jemaat Hellenistik di Yunani dan Makedonia. Selanjutnya Ingnatious dari Anthiokia (thn 110 M) kemudian membedakan secara jelas tiga jenjang jabatan dalam gereja yakni: “uskup, imam (presbyter: ketua) dan diakon”. 21 Perkembangannya hingga

abad pertengahan, istilah presbyter menjadi priest (Inggris) atau Priestes

(Jerman) yang jabatan ini semakin dipandang dari segi peranan utamanya, yaitu sebagai penanggungjawab terhadap setiap kegiatan perayaan Sakramen. Pada jaman reformasi, istilah presbtyter kembali ditekankan di dalam gereja khususnya dari corak Calvinis yang dikenakan kepada dewan penatua (presbiterium) baik untuk anggota yang diordinasikan untuk pemberitaan firman dan Sakramen maupun untuk penatua awam yang menjaga tata tertib dan kemurnian ajaran.22

9. Menurut pencermatan penulis, bila model kepemimpinan prebyterial sebagai sebuah bentuk kepemimpinan gereja ditelusuri lebih lanjut dan mempertimbangkan focus model kepemimpinan episkopal, nampaknya sulit membedakan bentuk ciri dan model kepemimpinan keduanya. Sebab sangat kuat indikasi menjelaskan bahwa kekuasaan kolektif dari presbyterial (penatua) pada akhirnya membentuk/mengkristal corak kepemimpinan episkopal.23 Artinya,

di dalam pengalaman jemaat mula-mula jabatan bishop (episkopal) muncul dari antara kalangan presbyter dan episkopal menjadi pemimpin yang juga merupakan bagian dari presbyter yang dipilih melalui klasifikasi dan kualifikasi kwalitas moral keluarga dan hubungan dengan publik yang dijamin baik. Dengan demikian, tidak ada perbedaan status antara presbyter dengan bishop

(episkopal). Perbedaannya hanya ada pada fungsi, sehingga jabatan ini bukan jabatan prestisius tetapi sebagai jabatan yang dapat menjamin bahwa tradisi yang diwariskan dapat dijaga. Pernyataan ini sangat kuat mengacu pada tradisi yang mewarnai dan melingkupi konteks sejarah gereja yang nyata di dalam organisasi gereja mula-mula. Artinya, wacana yang berkembang dalam memaknai episkopos sangat tidak dapat dilepaskan dari pemaknaan presbyteros

(penatua: Yunani) yang menunjuk pada tugas dan fungsi dalam penentuan kebijakan di dalam sinagoge Yahudi. Dalam konteks ini, presbyter sangat berperan sebagai penilik pastoral yang mengatasi penatua Yahudi. Beberapa hal yang dapat dilihat sebagai uraian tugas presbyter dalam jemaat mula-mula yakni: “menerima sumbangan-sumbangan yang dikirim dari Anthiokia (KIs. 11:30), menanggulangi berbagai persoalan yang menyangkut jemaat bersama dengan rasul, presbyter juga turut dan berusaha melepaskan jemaat dari ketentuan sunat, seperti yang disarankan oleh jemaat Anthiokia (Kis. 15:2)”. Dalam Kis. 21:18 dapat diketahui bahwa di Yerusalem telah terbentuk kelompok penatua, dan nats inilah sebagai indikasi yang merujuk kepada kepemimpinan

21 Hans Kung. Ibid

(9)

presbyteros di dalam jemaat mula-mula yang bertindak atas nama jemaat dengan presbyterium Yakobus sebagai yang dominan (Jak. 5:14). Dalam nats ini sangat jelas ditekankan tugas-tugas presbyter untuk mengunjungi orang-orang sakit, berdoa bersama-sama mereka dan mengoles mereka dengan minyak. Brown24 berpendapat bahwa konsep presbyteros, aslinya konsep ini dipinjam

dari konteks budaya Yahudi, sedang konsep episkopos berasal dari tata cara dunia kafir dan merupakan penyederhanaan yang berlebihan dan mengabaikan bukti-bukti dalam naskah-naskah Laut Mati. Pernyataan Brown ini didukung oleh Andar Lumbantobing25 mengatakan: “di dalam surat-surat Rasul Paulus, tidak

ditemukan sebutan presbyter. Walau demikian tidak berarti bahwa di dalam jemaat-jemaat yang menerima surat-suratnya tidak terdapat kelompok presbyter. Dalam Kis. 20:28 para presbyter disebut penilik”. Hanya segera sesudah jemaat pertama berdiri di Yerusalem, segera dibentuk sebuah kelompok penatua yang ditugaskan khusus untuk merawat orang-orang sakit dan miskin.

Congregational

10.Tipe yang ketiga dari system pemerintahan gereja adalah system congregasional dimana peran setiap anggota jemaat dominan pada kuasa pengelolaan sebuah jemaat local. Pada system ini, dua konsep paling prinsip adalah otonomi dan demokrasi. Pertama, pada sisi otonomi: “setiap jemaat local memiliki kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa ada pengaruh dan intervensi (kekuatan kuasa) luar dalam pengawasan jemaat”. Kedua, pada sisi demokrasi bahwa: “setiap anggota jemaat local memiliki kuasa berbicara untuk menentukan pengelolaan dan masa depan jemaat”. Melalui hikmat ini, menurut system congregational tidak dimungkinkan adanya otoritas berpusat dan berlangsung melalui kuasa perorangan dalam kepemimpinan jemaat (seperti yang diterapkan pada structur episkopal atau otoritas kelompok kecil sebagaimana diterapkan pada struktur Presbyterial). Hal yang paling prinsip sebagaimana dianut oleh system demokrasi pada system congregational adalah ditekankannya keputusan bersama semua jemaat sebagai basis pengawasan dan pengelolaan jemaat.26

Pada system congragasional, system otonomi diyakini direfleksikan oleh PB dalam kepemimpinan gereja. Dalam kitab Kisah Para Rasul, focus pemilihan pejabat ada pada jemaat local dan tidak merujuk kuasa lembaga di atasnya yang menganyominya dan tidak perlu mendapat komando dari kesatuan lembaga jemaat yang di atasnya (Gal. 1:11-24).27 Prinsip otonomy dalam sysem

congregational, ini berarti bahwa setiap jemaat local harus memerintah diri

24 Brown, Ibid, hl. 34

25 Andar Lumabntobing, Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak (Jakarta, BPK-GM, 1996) hl. 273

26 Edward T. Hiscox, The New Directory for Baptist Churches (Philadelphia: Judson, 1994) hl. 153. Di antara denominasi gereja yang menerapkan bentuk congregational sebagai system pemerintahannya adalah: “gereja Baptis, Congregasionalist, dan secara umum denominasi pada rumpun Lutheran”.

(10)

sendiri. Setiap jemaat memanggil pendetanya dan menentukan sendiri dinamika dan mekanisme pelayanan termasuk anggaran pelayanan jemaat local dan jemaat dapat secara bebas mengatur dan mengelola jemaat.

Tentang keanggotaan dalam jemaat menurut system congregational bahwa setiap orang dapat masuk ke dalam jemaat, yang secara umum melalui beberapa alasan yakni: pertama, mereka harus menampakkan bentuk kesatuan jemaat secara universal. Kedua, menekankan persekutuan jemaat sebagai basis yang lebih dalam secara perorangan. Ketiga, memperbolehkan pelayan melakukan gaya pelayanan yang lebih efektif di dalam jemaat local. Ke empat, mendirikan jemaat baru di antara wilayah jemaat yang lebih besar. Serta ke lima, struktur jemaat, rapat-rapat atau konferensi dibentuk oleh jemaat local dengan pertimbangan bahwa mereka sendiri harus menekankan prinsip dasar demokrasi. Jemaat tidak boleh diawasi melalui dominasi perorangan. Setiap penatua jemaat harus melayani sesuai keinginan setiap anggota jemaat yang secara khusus ditetapkan dalam batas periode waktu pelayanan. Pada fungsi ini mereka berlaku seperti sekretaris eksekutif jemaat namun bukan sebagai bishop dalam jemaat. Satu hal yang paling prinsip dalam otonomy jemaat kongregasional adalah bahwa jemaat local harus memiliki kwalitas kesangupan tertentu. Ketika sebuah jemaat menerima bantuan keuangan dari persekutuan jemaat yang lebih besar, lembaga rapat jemaat akan menginformasikan sumbangan ini kepada seluruh jemaat dan mengelolanya secara bersama.28

Prinsip demokrasi sebagaimana ditekankan congregasional bahwa kuasa jemaat local harus berhenti pada skop perorangan. Ada banyak unsur demokrasi dalam bentuk pemerintahan gereja secara congregational. Tentu setiap orang dipilih secara bebas oleh setiap anggota jemaat dalam pelayanan khusus. Mereka juga tidak secara bebas merealisasikan otoritas jabatannya yang melawan keinginan jemaat. Jika mereka melakukannya, mereka diberhentikan dari jabatannya oleh rapat jemaat. Misalnya keputusan terhadap pembelian keperluan jemaat, seorang pendeta tidak boleh berdiri sendiri dalam kebijakan keputusanya tetapi harus melalui kesepakatan jemaat secara keseluruhan yang diputuskan melalui suara terbanyak. Beberapa argumen yang berkembang dalam system congregasional adalah bentuk normatif pemerintahan jemaat di mana bentuk ini dirujuk dari kitab Kisah Rasul.

Beberapa keberatan (kritik) terhadap bentuk kepemimp[inan congregasional adalah pertama, skema pemerintahan congregasional dianggap otoritasnya kurang mendapat dasarnya dalam kitab suci. Misalnya, ketika Rasul Paulus mengangkat para Rasul (Kis. 14:23) dan memerintahkan Titus (Tit. 1:5). Dalam banyak kesempatan Rasul Paulus berbicara dan menulis kepada jemaat-jemaat

(11)

namun ia tidak menasehatkan para majelis jemaat secara khusus namun ia memerintah mereka. Kedua, adalah jelas bahwa ada perbedaan bishop, penatua, dan diakon dalam jemaat mula-mula. Menurut pengalaman jemaat mula-mula bahwa otoritas bishop mendapat persetujuan dan pengakuan jemaat. Bila ini ditekankan maka ada kecenderungan bahwa jemaat tidak kuat dasarnya sebagai tubuh Kristus dalam PB atau kita memperkuat asumsi bahwa jemaat memang sama sekali tidak berdasar pada PB. Ketiga, ketika surat-surat rasul Paulus dialamatkan kepada seluruh jemaat dan para pemimpinnya, maka surat-suratnya jelas adalah bertujuan untuk untuk mengatur kepemimpinan jemaat.

Model Tanpa Kepemimpinan

11. Ada jemaat Kristen mengatakan bahwa bentuk yang terbaik bagi model kepemimpinan gereja adalah model: “tanpa pemerintahan (non-government)”. Yang paling kuat dan tegas menekankan ini adalah kelompok jemaat dalam aliran Plymouth Brethern.29 Plymouth Brethern menolak pentingnya struktur

ada dalam kepemimpinan (pemerintahan) gereja. Menurut mereka bahwa kepemimpinan jemaat cukuplah sebagai buah refleksi batin manusia dari karunia Roh Kudus. Yang menganut system ini secara langsung memanfaatkan anggapan ini sebagai model khusus lembaga dan organisasi jemaat. Plymouth Brethren menekankan bahwa “terang batin” jemaat secara pribadi dan makna keanggotaan jemaat secara kolektif sedapat mungkin diminimalisasi, yang ditonjolkan adalah keanggotaan jemaat secara individu (keselamatan pribadi) yang melaluinya pengaturan jemaat secara eksplisit ditolak. Di pihak lain, pada jemaat-jemaat local ada pengawas yang menyelenggarakan pertemuan jemaat, dan pertemuan-pertemuan jemaat ini hanya berlangsung untuk menentukan aksi pelayanan walau tanpa melalui kesepakatan sesama jemaat. Mereka menganggap bahwa kesepakatan dalam jemaat hanya boleh terjadi kalau melalui hasil dari tuntunan Roh Kudus. Kelompok jemaat Plymouth Brethren sebagai penganut system ini, mereka menolak konsep gereja yang kelihatan (visible church), menurut mereka bahwa gereja eksis di dunia ini terutama hanya dalam bentuk gereja yang tidak kelihatan (invisible church) yang dibentuk oleh komunitas semua orang percaya. Bagi kelompok ini tidak ada kebutuhan akan suatu bentuk organisasi termasuk pejabat khusus dalam gereja. Roh Kuduslah yang mengatur semua unsur dalam jemaat.30 Setiap kelompok jemaat sedapat mungkin nyata selalu

berusaha untuk menolak structur organisasi dan mereka berpendirian bahwa kuasa pekerjaan Roh-lah sebagai model langsung yang memimpin keinginan mereka pada kebutuhan kepemimpinan jemaat. Kelompok ini menganggap bahwa sensivitas Roh Kudus merupakan unsur idealistis di dalam jemaat. Menurut mereka issue utama dalam hal ini adalah bagaimana menghargai Alkitab sebagai alat komunikasi dengan Roh kudus yang menuntun kepada kehidupan.

29 Millard J. Erikson, Op.Cit., hl. 1093

(12)

B. Sinodal

12. Secara sederhana, sinode diartikan sebagai: “berjalan bersama-sama” (Sinode: ist Yunani, sun artinya bersama-sama, hodos artinya: “jalan”). Sisi sinodal dalam jemaat ini berwujud kolektif antara jemaat secara umum mulai dari jemaat local, wilayah, konferensi wilayah hingga ke tingkat nasional sampai ke tingkat universal. Dalam gereja Katolik misalnya, persekutuan/persaudaraan sinodal berarti berjalan bersama-sama sebagai saudara-saudara seiman, sebagai umat Allah menuntut hubungan erat dan wajar di antara anggota-anggota hierarki atau klerus dan umat beriman pada tingkat keuskupan. Atas dasar ini uksup dapat menghadirkan dan mewakili gereja Partikular yang dipercayakan kepadanya demikian pada tingkat keuskupan. Segi horizontal (sinodal, kolegial, konsiliar) tidak boleh dimatikan oleh segi vertical (sentralisme Penguasa), dua hal ini harus saling melengkapi. Di gereja Protestan sinode diadakan sebanyak mungkin untuk secara bersama menentukan arah perkembangan jemaat yang bersangkutan. Kerjasama antara jemaat dengan gereja yang berlangsung dalam suatu sinode (konsili) pada tingkat yang berbeda disebut konsiliarisme.31 Masa abad mula-mula, sidang-sidang para

uskup untuk mengambil sikap dan keputusan tentang masalah-masalah ajaran/ doktrin, tata tertib dan tindakan pastoral serta administrasi ini dilakukan pada satu sinode yang disebut juga sebagai Konsili. Dasar teologis konsili (sinode) adalah sifat gereja sebagai persekutuan (communio), yang oleh karenanya anggota-anggota yang mengemban tugas dan tanggungjawab sebagai pelayan berkumpul untuk secara bersama mempergumulkan dan mencari jalan bagaimana memelihara hubungan antara jemaat dengan Kristus sebagai kepala gereja (dan menjauhkan segala seuatu apa yang menjauhkan jemaat dari Kristus misalnya konflik, ajaran sesat, skisma/bidat dan lain-lain). Inilah dasar dan alasan yang paling kuat mengapa sinode (konsili) menjadi unsur konstitusional dalam gereja artinya keputusan-keputusannya dapat diterima oleh seluruh gereja (bnd. Sinode pertama para rasul, Kis. 15 ; lih juga Gal 2:1-10).

Ke-Paus-an (Papalisme)

13. Paus (ke-Paus-an: Papal) adalah: “system pemerintahan atau kepemimpinan gereja Roma Katolik (RK) mulai dari abad mula-mula hingga sekarang”. Dalam system ini gereja RK dipimpin oleh Paus yang disebut sebagai papal”.32 Paus

(Bishop Roma) adalah pemimpin spiritual paling prinsip dan kuasa pastoral

31 A. Heuken, Ensyklopedia; IV Ph - To, Op.Cit., hl. 243

(13)

yang paling tinggi di dalam gereja Roma Katolik. Sebutan paling klasik bagi Paus berasal dari bahasa Belanda (dari kata Italia) yakni: “papa” yang diartikan sebagai “Bapa”. Awalnya sebutan Paus muncul dalam gereja Timur yakni di

Patriarch Alexandria, yang dari abad ke-6 sebutan papa ini baru dikenakan kepada Bishop Roma dan kemudian abad ke-8 dipergunakan untuk gereja Barat. Menurut kebiasaan komunitas jemaat Koptik di Mesir masa abad mula-mula, untuk menyapa bapa keluarga, pemimpin biara dan batrik dari Alexandria biasa dipakai sebutan: “appa”. Misalnya, Atanasius sebagai Batrik (keuskupan untuk gereja Barat) Alexandria yang dengan gigih menyerang bidat Arianisme kemudian membawa sapaan ini ke Roma, waktu terpaksa mengungsi masa abad ke-4 ke kota Roma. Hingga masa abad 20 ini, sapaan “Paus” juga masih sebagai gelar resmi bagi Batrik gereja Koptik Alexandria.33 Selanjutnya, karena

Paus dianggap sebagai bapa rohani seluruh jemaat dalam gereja RK, maka ia disapa sebagai “Santo Padre” (Bapa Suci) yang dikaitkan dengan gelar: “wakil Kristus di bumi”. Gelar lain disebut juga sebagai: Servus Servorum Dei (abdi para abdi Allah) juga disebut sebagai: Pontifex Maximus (Imam Agung) di mana dalam gereja RK semua gelar ini harus merujuk pada Mat. 23:8-12. Bagi gereja Katolik gelar Paus menunjukkan keunikan kekuasaan dan tanggungjawab dari jataban ini. Sesuai tradisi (dalam sejarah) RK, sebutan-sebutan yang kemudian dikenakan kepada jabatan Paus, ia disebut sebagai: “Bishop Roma, wakil Yesus Kristus, pewaris jabatan Rasul, Paus (Pastor tertinggi) bagi gereja yang universal, Patriarkh Barat, Uskup tertinggi Italia, uskup besar atau metropolitan wilayah Roma, kedaulatan tertinggi Negara kota Vatikan, hamba dari hamba Tuhan”.34 Kepausan adalah: “lembaga terbesar

dari semua tradisi Barat yang tidak hanya bagi gereja tetapi juga bagi Negara”. Ia juga uskup agung untuk wilayah gereja Roma yang sejak tahun 1054, Paus dipilih oleh para imam bersama umat. Menurut RK, Kristuslah yang telah menetapkan Rasul Petrus dan para penggantinya yang bertanggungjawab agar seluruh gereja RK bersatu di dalam iman dan cinta kasih. Paus adalah anggota sekaligus sebagai kepala dewan para uskup seperti Rasul Petrus diangkat Kristus menjadi anggota sekaligus sebagai kepala dewan para rasul. Oleh karena itu, dipandang dari berbagai segi menurut RK, para uskup dan Paus adalah merupakan penerus tugas para rasul dan Petrus. Paus bukan pengganti Kristus, melainkan pengganti Rasul Petrus. Jabatan kepausan bukan fungsi dewan uskup sedunia dan para uskup bukan alat atau wakil Paus. Sebagai kepala dewan uskup, uskup Roma mempunyai kuasa jabatan tertinggi, lengkap, langsung dan mengenai seluruh gereja. Uskup Roma tidak memiliki kuasa duniawi atas umat (kecuali dalam batas-batas Kota Vatikan). Keuskupan Roma digembalakan sehari-hari oleh seorang wakil yang atas nama Paus yang katedralnya adalah Basilika Lateran.

Sebagai sebuah system kepemimpinan di dalam gereja (khususnya di Barat), system kepausan dimulai masa abad kelima ketika uskup yang berkedudukan

33 Lih. A. Heuken, Ensiklopedi Gereja: III Kons – Pe (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1993) hl. 290.

(14)

di Roma dianggap sebagai Paus yang pertama. Uskup Roma yang pertama menunjukkan diri sebagai “Paus” (bapa seluruh uskup dan gereja) ialah uskup Leo I (Agung) yang memegang jabatan uskup dari tahun 440-461. Pada waktu itu kota Roma dan daerah-daerah lain dari wilayah kekaisaran Romawi Barat telah dikuasai oleh orang-orang “Barbar” terutama suku-suku Jerman dari Eropa Utara. Jatuhnya kota Roma ke tangan suku Barbar ini dirasakan oleh penguasa Romawi dan juga masyarakat Kristen waktu itu sebagai suatu musibah. Dengan peristiwa itu banyak orang Kristen mengatakan bahwa “akhir dari dunia telah tiba”. Yerome, seorang ahli Alkitab terkenal pada masanya dan telah menjadi seorang rahib Kristen di Betlehem mengatakan bahwa peristiwa itu adalah merupakan hukuman yang diberikan oleh Allah atas dosa masyarakat Kristen Romawi yang dinilai telah jatuh kepada sifat keduniawian. Paus sebagai gembala seluruh umat Katolik, ia bukan uskup dari segala keuskupan, karena uskup diosesan memperoleh jabatannya langsung dari Kristus. Sebutan Paus sebagai uskup bagi seluruh gereja, ini dimaksudkan untuk membina persatuan semua gereja dalam iman yang sama, untuk memajukan kesejahteraan rohani gereja seluruhnya dan setiap gereja Partikular atau keuskupan bersama-sama. Dari segi isinya kuasa kepausan merupakan pelayanan untuk mengkuduskan (misalnya dengan mangatur pokok-pokok ibadah), untuk mengajar dan menggembalakan umat dengan menggunakan kuasa legislative (mendukung kitab-kitab hukum Kanonik berbagai ritus Katolik), yudikatif (yang dijalankan oleh peradilan kepausan) dan adsministratif (misalnya melalui kunjungan). Tidak semua kuasa kepausan berdasarkan hukum ilahi, sebagian besar fungsinya tumbuh dan berkembang di dalam sejarah misalnya hak pengangkatan uskup. Ketegangan antara papalisme dan episkopalisme selalu terjadi dan harus diatasi dalam semangat persekutuan seluruh jemaat dan tidak secara yuridis adsministratif semata. Sebagian besar tugas-tugas kepausan dilaksanakan melalui lembaga-lembaga Kuria Roma. Keputusan Paus adalah keputusan tertinggi yang menurut hukum gereja tidak boleh digugat (naik banding) dan Paus tidak boleh diadili oleh kuasa apa pun di dunia, tetapi harus mempertanggungjawabkan segala tindakannya kepada Kristus sebagai kepala gereja satu-satunya.35

Sejak tahun 1179, sisytem pemilihan Paus telah diselenggarakan oleh para anggota dewan Kardinal yang usia seorang Paus dapat dicalonkan harus di bawah delapan puluh tahun. Selama pemilihan, para cardinal dikurung dalam suatu ruangan khusus (konklaf) untuk menjaga karahasiaan pemilihan dan untuk mencegah sedapat mungkin pengaruh dari luar. System pemilihan Paus diatur oleh sebuah konstitusi gereja yang disebut “Romano Pontifici Eligendo” (Pemilihan Paus Gereja Roma). Proses pemilihan dilakukan dengan pemungutan suara, dua kali setiap pagi dan sore, sampai salah seorang memperoleh lebih dari dua per tiga suara cardinal yang hadir. Dalam pemilihan yang alot dapat digunakan cara lain atas persetujuan semua cardinal, yakni: a). Dengan menunjuk beberapa cardinal (9-15 orang) untuk mewakili semua yang lain; b). Dengan mengubah aturan mayoritas suara (lebih dari dua per tiga

(15)

suara menjadi lebih dari mayoritas mutlak; c). Jika prosedur yang ditempuh berlarut-larut, dipilih salah seorang dari dua calon yang memperoleh suara terbanyak dalam pemungutan suara sebelumnya. Cara lain yang tidak bisa ditempuh ialah dengan aklamasi, yakni semua cardinal memberikan suara bulat secara spontan tanpa pemungutan suara. Setiap tahap pemilihan, segera dibakar kertas-kertas suara, yang asapnya tampak keluar dari cerobong ruang pemilihan di Capel Sikstina di Vatikan. Selama jumlah suara yang dibutuhkan belum tercapai, dari cerobong itu keluar asap hitam (karena kertas suara dicampur jerami lembab), kalau sudah tercapai, keluar asap putih. Jioka calon terpilih menerima pilihan itu, maka mulai sejak saat itu, ia resmi menjadi uskup Roma dan karenanya Paus, jika ia sudah ditahbiskan uskup, kalau belum ia harus ditahbiskan uskup lebih dahulu. Orang yang menjadi Paus dengan pemilihan Kanonik, penerimaan hasil pemilihan dengan bebas dan tahbisan uskup. Paus baru kemudian mengenakan pakaian kepausan serta cincin nelayan, lalu para Karinal menyatakan janji kesetiaan kepadanya. Selanjutnya, cardinal senior memaklumkan terpilihnya Paus baru dari balkon gereja Santo Petrus Roma dan selanjutnya ia memberikan berkat “Urbi et Orbi” (Latin: untuk kota Roma dan seluruh dunia). Paus dipilih untuk seumur hidup, dan jika seorang Paus mengundurkan diri, maka Paus baru harus dipilih menurut aturan-aturan yang lajim.36

Sampai masa kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II, sudah terdapat 262 Paus mulai dari Rausl Petrus. Sejak tahun 1009, setiap Paus terpilih berhak memilih nama resmi yang baru yang dihubungkan dengan perubahan-perubahan nama di dalam Alkitab (misalnya: Abram-Abraham, Simon-Petrus, Saulus-Paulus). Paus adalah kepala Negara Vatikan, tujuannya supaya dengan bebas dan leluasa Paus dapat menjalin hubungan diplomasi dengan semua pemimpin Negara dan keuskupan gereja (semua umat Katolik) di semua Negara di dunia. Hingga masa sekarang ada dua unsur terpenting yang oleh para ahli teologia diintergrasikan kepada lembaga kepausan, yakni: pertama, kepausan adalah unsur pertama dan terutama dalam bingkai struktur organisasi gereja. Gereja Roma Katolik yakin bahwa kepausan adalah sebuah unsur yang sangat esensial di dalam gereja tetapi tidak sebagai pusat utama komitmen dan kesaksian gereja. Allah, Kristus, Roh dan kerajaan Allah adalah focus utama kesaksian kekristenan. Kepausan berada pada posisi hubungan yang paling mendasar dari kebenaran orang Kristen dengan ketetapan keunikan missi. Kedua, pada unsur keilahiannya ini merupakan dimensi sejarah. Paus adalah jabatan yang mempengaruhi wilayah kebudayaan, social dan politik. Sebagai jabatan dalam gereja mula-mula, Paus tidak sama dengan Paus masa sekarang. Perkembangan gagasan tentang kepausan terjadi secara lambat laun bersamaan dengan pertambahan abad demi abad.37

(16)

Patriarkh

14. Sebagai sebuah system pemerintahan gereja, awalnya istilah Patriark dipergunakan untuk para Bapa leluhur dalam PL seperti: “Abraham, Ishak dan Yakub serta untuk keduabelas anak Yakub”. Namun dalam gereja Timur istilah ini merupakan gelar untuk lima pusat utama kekeristenan pertama yakni: Roma (Barat), Aleksandria, Anthiokia, Jerusalem dan Konstantinopel (empat terakhir setelah abad ke III berada di Timur). Di dalam gereja Timur, kuasa Patriark ini hingga abad ke VI (sebelum muncul dan berkembangnya Islam) sangat tinggi sebab Patriarkh berhak mengangkat seorang Batrik dimana Batrik yang diangkat ini mempunyai wewenang atas gereja dan sipil di wilayah propinsi pelayanannya, seorang Batrik dapat disebut sebagai Metropolitan.38 Terhadap

focus tekanan penelitian ini, penting diingat bahwa sejak awalnya gereja merupakan satu kesatuan yang kokoh yang sangat berusaha berjuang mengikuti pola iman dan ajaran Yesus Kristus yang kemudian diwariskan kepada para rasul. Pemisahan gereja sebagai Barat dan Timur39 (mulai abad

ke-III melalui motif perbedaan budaya dan bahasa) sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Romawi yang berbahasa Latin dan di Timur sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hellenis yang berbahasa Yunani. Hingga abad ke IV pemisahan ini semakin dipertajam melalui pertikaian ketritunggalan (konsili Nicea, 325). Walau keduanya sempat rujuk sebab didamaikan oleh hasil keputusan Konsili Konstantinopel (381) dan Konsili Chalsedon (451). Selanjutnya masa abad ke V, dengan runtuhnya kekaisaran Romawi Barat oleh Persia (Ottoman), kesatuan politik Romawi Barat dengan kekaisaran Romawi Timur sangat mempengaruhi gereja di Timur artinya hubungan keduanya semakin sangat menjauhi satu sama lain. Di Barat, kelembagaan dan pemerintahan gereja kemudian sangat menguat dengan bentuk kepausan yang cirinya sangat yakin kepada tororitas gereja. Di Timur menguat bentuk Patriarkh dengan wilayah pelayanan gereja yang disebut sebagai Batrik yang cirinya sangat kuat menganggap diri sebagai ortodoks (maksudnya gereja yang resmi dan sesuai dengan ajaran dan tradisi Kristen yang diwariskan secara langsung dari para rasul pengikut Yesus Kristus). Selanjutnya, mulai tahun 1054 hingga akhir abad pertengahan (abad XV) tanda-tanda menuju rujuknya Barat dan Timur menjadi sesuatu yang tidak mungkin tercapai sebab gereja Barat (RK) sangat mempertahankan bentuk pemerintahannya dengan system kepausan di mana hal ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin berlangsung di Timur sebab secara resmi gereja Timur memakai istilah Patriarkh sebagai pemegang jabatan pimpinan tertinggi setelah konsili Nicea berlangsung.

15. Beberapa bentuk type kepemimpinan gereja Timur dapat disebutkan yakni:40

a. Sejak awal pemisahannya dengan gereja Barat, gereja Timur tetap mempertahankan pola dan suasana gereja dalam hal tata jemaat sebagai

38 F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja (Jakarta: BPK-GM, 2006) hl. 328

39 Wiayah pelayanan gereja Barat (RK) meliputi di mana di Barat wilayahnya meliputi kekisaran Romawi Barat: Italia, Francis, seluruh benua Eropa terutama bagian Utara dan Barat. Wilayah pelayanan gereja Timur meliputi kekaisaran Romawi Timur: Konstantinopel, Mediterania Timur, tengah keseluruhan, Jerusalem, Anthiokia, Aleksandria.

(17)

mana berlangsung pada jaman para rasul hingga akhir abad ketiga dimana gereja masih tetap memegang system pemerintahan yang episkopal artinya para Batrik tetap berkuasa secara berama di dalam jemaat. Persoalan jemaat tetap diselesaikan melalui rapat para Batrik yang dipimpin oleh pimpinan tertinggi gereja yaitu Patriark yang berkedudukan di Konstantinopel walau keputusan akhir mutlak ada di tangan Patriarkh. b. Soal kehidupan para imam (Batrik) gereja Timur menganut paham

klerogami (perkawinan imam) di mana sikap ini merupakan salah satu keputusan yang disyahkan oleh konsili Nicea 325 yang tidak diterima oleh gereja Barat dan tetap mempertahankan kehidupan selibat (kemurnian Tarak imam).

c. Sangat terikat kesatuannya pada kekuasaan sipil (kekuasaan pemerintahan Negara). Hal ini disebabkan pada umumnya gereja Timur masih merupakan jemaat yang langsung didirikan oleh para rasul, sehingga tidak mungkin dikuasai oleh para Batrikh. Wilayah Batrik yang paling terutama di gereja Timur adalah konstantinopel, Aleksandria, Anthiokia dan Jerusalem. Masing-masing keuskupan ini dipimpin oleh Patriarkh gereja Timur yang gaya pemerintahan kaisar-kaisar sangat bersifat absolut di dalam gereja. Gaya ini masih merupakan warisan dari keputusan-keputusan konsili oikumenis (abad ke II-VII). Ini berarti kekuasaan tertinggi bagi gereja Timur (Ortodoks) terletak pada konsili-konsili umum (tujuh konsili yakni: Nicea, 325 ; Konstantinopel, 381 ; Epesus, 431 ; Khalsedon, 451 ; Konstantinopel, 553 ; Konstantinopel, 680/1 ; Nicea, 787) yang konsili-konsili itu hanya dapat dipanggil oleh kaisar.

d. Sangat kuat dalam praktek askese dan bentuk liturgy Bizantium yang menekankan ikonostasi (sembahyang). Kyrie Eleison dalam makna ucapan dan pujian syukur di dalam ibadah, ini pertama sekali muncul dan dikembangkan oleh gereja Timur (bukan Barat/Khatolik), demikian dengan ragam permohonan pada Jumat Suci seperti: Hagios atau Theos, Sanctus Deus, Hagios Ischyros, Sanctus Fortis, Hagios Athanatos, Eleison Himas, Sanctus Immortalis, Miserere Nobis.

(18)

undang-undang gereja namun harus di bawah pengawasan (control) Patriarkh. Patriarklah yang kemudian bertanggungjawab kepada para khalifat Islam secara keseluruhan atas perilaku orang Kristen dan gereja yang dipimpinnya. Pada status dhimmi ini, yang sebelumnya komunitas Kristen tergabung dalam jemaat Nestorian, Yakobit, Koptik, Ortodoks di Bizantium/Romawi Timur sementara dapat menikmati kebebasannya namun di sisi lain mereka mengalami pembatasan-pembatasan tertentu misalnya pada soal-soal identitas sebagai orang Kristen ini diganggu bahkan dirusak sebab corak hidup secara Islam dipaksakan untuk dikenakan oleh orang-orang Kristen. Pembatasan ini terutama berlaku pada larangan melakukan misi lintas agama khusus kepada pemeluk Islam. Ini berarti identitas universal Kristen jelas ditiadakan.

(Refleksi Tema Ini) Membangun Sebuah System Kepemimpinan Gereja Masa Kini

16. Agaknya, bila mencoba membangun sebuah struktur kepemimpinan dan pemerintahan gereja sekarang, maka yang menjadi pertimbangan penting adalah sulitnya bahan yang menjadi referensi dari kitab suci. Setidaknya, unsur ini nampak pada dua hal, yakni:

a. Kurangnya materi pengajaran (sumber rujukan) kitab suci tentang pergumulan ini. Adalah nyata bahwa kitab suci tidak menjelaskan secara detail konsep pemerintahan gereja sebagai sumber rujukan yang volumenya sebanding dengan pengajaran teologi Rasul Paulus tentang: “doktrin manusia berdosa” dan “pembenaran iman”. Di sisi lain bahwa di dalam kitab suci, sama sekali tidak diinstruksikan untuk mengadopsi bentuk kepemimpinan duniawi secara umum sebagai bentuk kepemimpinan gereja. Hanya pengajaran kitab suci tentang pemerintahan gereja, ini dapat dirujuk hanya melalui sebutan-sebutan Rasul Paulus sendiri dan sebutan-sebutan ini pun hanya sebagai kualifikasi bagi jabatan-jabatan dalam jemaat (I. Tim 3:1-13 : Tiot. 1:5-9). Melalui hikmat ini, jemaat Kristen (gereja sebagai institusi) sekarang dapat memiliki pilihan untuk mengembangkan tentang gagasan pengajaran mengenai kepemimpinan jemaat.

(19)

gambaran bahwa perkembangan kepemimpinan jemaat sangat mirip dengan perkembangan kepemimpinan pada umumnya. Keadaan ini sangat mempengaruhi terhadap perkembangan pemerintahan gereja masa kini. Misalnya keadaan ini mempengruhi perkembangan system pemerintahan jemaat local menjadi lebih kuat merajut pada kelompok-kelompok kecil. Di mana setiap jemaat sangat dipengaruhi untuk mengadopsi bentuk pemerintahannya dari situasi kepemimpinan di tengah konteks jamannya. Pada posisi ini gereja memang harus mengadaptasikan dirinya ke dalam konteksnya sebagaimana awalnya ia dipengaruhi oleh konteksnya Jahudi.

Pada umumnya jemaat sangat dipengaruhi oleh bentuk dan konsep kepemimpinannya menurut pola kerja para misionaris yang menghasilkan jemaat local. Hal ini sebagai bagian yang kuat dari pelayanan misi. Idealnya, kebutuhan ini harus menyatu dengan keimamamatan am orang percaya dan hubungannya dengan kuasa jabatan dalam jemaat. Contohnya, bentuk penatua sebagaimana kepemimpinan synagogue Jahudi, bentuk ini seharusnya tidak menjadi universal dalam jemaat. Dalam konteks Yunani, jabatan bishop cenderung berkuasa, ini merupakan tambahan atau beberapa modfikasi yang menghasilkan bentuk kepemimpinan jemaat menjadi lebih demokratis. Jika bentuk ini menjadi organisasi yang ekslusif dalam PB, setidaknya demokrasi juga tidak menjadi suatu yang normativ bagi gereja masa kini. Dengan sedikitnya variasi yang di gambarkan PB mengenai bentuk kepemimpinan jemaat, maka masa sekarang kita memiliki kesulitan untuk menentukan corak kepemimpinan jemaat yang ideal dalam konteks kita sekarang. Walau demikian kita harus kembali ke prinsip di mana ditemukan dalam PB bentuk kepemimpinan gereja dan mempertimbangkan sebagai sebuah system yang memang ditekankan oleh PB.

Harus dipergumulkan pula, ada dua pertanyaan jika hendak membangun model kepemimpinan jemaat masa kini, yakni:41

a. Menurut tekanan apa pemerintahan gereja digambarkan secara hidup ? Adakah petunjuk yang kuat dapat dirujuk ? Tinjauan tema ini sudah melihat bahwa di dalam PB perkembangan kepemimpinan sangat dekat dengan pergumulan para wanita dan perbudakan. Apakah dalam situasi itu ada perkembangan kepemimpinan gereja ? Dengan mempertimbangkan pergumulan ini, dapat diasumsikan bahwa perkembangan yang diharapkan dapat terjadi walau mungkin ada tantangan. Hanya sejauh mana perkembangan mengenai kepemipinan jemaat memperoleh kemajuan ? Hikmat yang sudah ditemukan bahwa model kepemimpinan gereja jelas mengadopsi bentuk kepemimpinan Jahudi di Synagoge yakni: “kelompok para penatua yang melayani dan mengurus synagogue”. Dari keadaan ini muncul pemahaman bahwa ketika jemaat kecil tumbuh dan berkembang sesuai pendekatan rasul Paulus, tidak ada indikasi bahwa gereja bergerak ke suatu bentuk khusus dalam corak kepemimpinannya.

(20)

b. Pertanyaan kedua adalah: “apa alasan bagi jemaat perlu membentuk pola kepemimpinannya ?” Isu apa yang ditekankan sebagai argumen untuk membentuk system kepemimpinan jemaat ? Menurut kitab suci, kita harus mampu mengadaptasikan konteks tantangan jemaat masa kini sesuai dengan pesan kitab suci. Satu prinsip yang jelas dalam PB (umumnya pemberitaan I Korintus) bahwa setiap jemaat mengambil alih tanggungjawab untuk pelayanan khusus (14:40), melalui pengalaman ini gereja masa kini diingatkan untuk mempertimbangkan pola pemerintahan gereja dengan memperhatikan pelayanan kepada para janda dan orang yang tidak beruntung nasibnya.

Dapat disimpulkan bahwa bila system episkopal sebagai sebuah system struktur gereja, system episkopal menyerupai garis monarkial dan imperial. Di pihak lain bentuk Presbyterian menghadirkan demokrasi serta congregasional menekankan semangat demokrasi. Agaknya gejala-gejala ini tidaklah mengherankan di mana system episkopal tumbuh dan berkembang di tengah lingkungan system kerajaan (monarkial). System kerajaan adalah system pemerintahan yang oleh tradisi umat mungkin lebih cocok bagi episkopal. Namun oleh perkembangan pendidikan dan politik, setiap orang lebih berfungsi secara bersama bersama di dalam system Presbyterian atau congregational. Kesimpulannya, dari banyaknya Negara masa kini menghadirkan system demokrasi sebagai sebuah struktur pemerintahan maka system Presbyterian merupakan yang paling cocok sebagai bentuk pemerintahan gereja di tengah iklim demokrasi bangsa. Namun kelemahannya, pada tingkat jemaat local ini kurang cocok sebagai pentuk pemerintahan gereja apabila diperhadapkan dengan iklim politik nasional. Namun pada tingkat pemerintahan local yang menyelenggarakan secara terbuka dengar pendapat dan pertemuan kota, system ini ideal diterapkan.

Kesimpulan

16. Kesimpulan yang dapat dirangkum melalui penelitian ini, yakni: ada empat bentuk system kepemimpinan/pemerintahan gereja yang tumbuh dan berkembang sesuai tradisi jemaat mula-mula sebagai mana ditekankan oleh kitab PB di mana keempat system itu adalah system: “Episcopal, Presbyterial, Congregational dan Non-Pemerintahan/ Kepemimpinan. Sementara bentuk: “sinodal, papalisme/kepausan (gereja Barat: Roma Katolik), metropolish (gereja Timur: Ortodoks)” ketiga bentuk ini merupakan system yang muncul kemudian pasca tradisi jaman para rasul.

(21)

rupa pengaruh kekafiran yang memang hidup di tengah-tengah jemaat Satu hal yang sangat menarik dari tradisi PB adalah bahwa perkembangan

episkopos terjadi ketika pergeseran pemahaman terhadap episkopos

berubah dari status jabatan yang lebih bersifat kolektif ke jabatan yang sentralistik (Filp. 1:1 ; I Tim. 3:2 ; Tit. 1:7, hikmat ini dapat dilihat melalui penjelasan Rasul Paulus di dalam surat-suratnya). Pada proses selanjutnya, di tegaskan bahwa bishop mutlak berfungsi sebagai pelayan penggembalaan (itinerant ministers) dalam jemaat yang melakukan tugas pelayanan kesaksian secara keliling.

b. Bila system presbiterial akarnya kuat pada tradisi synoagoge Jahudi, sebagai jabatan dalam kepemimpinan, presbyter asilnya memiliki sejarah panjang di mana sejak lama telah bergabung dalam tradisi dua belas suku Israel (pada system hukum patriarchal dua belas suku Israel yang paling tua). Di dalam tradisi PB, presbyter adalah anggota dewan para penatua jemaat setempat. Ada kesulitan membedakan bentuk ciri dan model kepemimpinan episkopal dengan presbyterial. Sebab kekuasaan kolektif dari presbyterial (penatua) pada akhirnya membentuk/mengkristal corak kepemimpinan episkopal. Artinya, di dalam jemaat mula-mula jabatan bishop (episkopal) muncul dari antara kalangan presbyter. Pada posisi ini

episkopal menjadi pemimpin yang juga merupakan bagian dari presbyter

yang dipilih melalui kualifikasi kwalitas moral keluarga dan hubungan dengan publik yang dijamin baik. Baik jabatan presbyter maupun episkopal dua jabatan ini bukan sebagai jabatan prestisius tetapi sebagai jabatan yang dapat menjamin bahwa tradisi jemaat yang baik dapat diwarisi dan dijaga.

c. Dalam system congregasional konsep paling prinsip ditekankan adalah otonomi dan demokrasi. Pada sisi otonomi: “setiap jemaat local memiliki kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa ada pengaruh dan intervensi (kekuatan kuasa) luar pada pengawasan jemaat”. Pada sisi demokrasi: “setiap anggota jemaat local memiliki kuasa berbicara untuk menentukan pengelolaan dan masa depan jemaat”. Melalui hikmat ini, menurut system congregational tidak dimungkinkan ada otoritas berpusat dan berlangsung melalui kuasa perorangan dalam kepemimpinan Hal yang paling utama dianut oleh system demokrasi pada system congregational adalah ditekankannya keputusan bersama semua jemaat sebagai basis pengawasan dan pengelolaan jemaat.

(22)

e. Pada system sinodal jemaat berwujud kolegialitas antara jemaat particular mulai dari jemaat local, wilayah, konferensi wilayah hingga ke tingkat nasional sampai ke tingkat universal. Persekutuan dan persaudaraan jemaat diusahakan berjalan bersama-sama sebagai saudara-saudara seiman (umat Allah) yang menuntut hubungan erat dan wajar di antara anggota-anggota hierarki atau klerus dan umat.

f. Dalam system ke-Paus-an: “system pemerintahan/kepemimpinan gereja Paus (Bishop Roma) merupakan pemimpin spiritual paling prinsip dan kuasa pastoral tertinggi di dalam gereja Roma Katolik. Bagi gereja Katolik gelar Paus menunjukkan keunikan kekuasaan dan tanggungjawab dari jataban ini. Sebagai kepala dewan uskup, Paus mempunyai kuasa jabatan paling tinggi, paling lengkap dan mengenai seluruh gereja. Sebagai sebuah system kepemimpinan di dalam gereja Paus dipilih untuk seumur hidup dan jika seorang Paus mengundurkan diri, maka Paus baru harus dipilih menurut aturan-aturan yang lajim.

h. Bila mencoba membangun system pemerintahan jemaat masa kini, unsur paling mendasar diperhatikan adalah: pertama, akarnya harus kuat pada dasar biblisnya walau ada kesulitan menelusuri uraian bentuk dan system kepemimpinan jemaat. Artinya, system struktur kepemimpinan harus sebagai suatu yang menyatu dengan konteks kehidupan dan pergumulan jemaat. Melalui pertimbangan inilah dilihat dinamika pertumbuhan dan perkembangan jemaaat. Kedua, apa alasan paling kuat bagi perlunya membentuk pola kepemimpinan jemaat. Artinya model dan bentuk kepemimpinan itu harus sebagai sesuatu yang menyatu dengan konteks tantangan jemaat masa kini. Melalui usaha ini pengalaman gereja sekarang diingatkan dapat mempertimbangkan pola pemerintahan gereja dengan memperhatikan pelayanan kepada para janda dan orang yang tidak beruntung nasibnya.

K e p u s t a k a a n

Abineno, J.L. Ch.

(23)

1980 : A Brief Survey of The New Testament Evidence on Episkope and Episkopos, dalam: Faith and Order paper, Episkope and Episkopate in Ecumenical Persfective (Geneva: WCC)

_____________

1998 : Gereja yang Apostolik (Yogyakarta: Kanisius) Bulman, James M.

ttp : “Church, Nature and Government of Autonomy Views” in: Encyclopedia Christianity, Vol. 2

Conzelmann, Hans

1969 : An Outline of The Theology of the New testament

(London: SCM Press) Culmann, Oscar.

1956 : The Early Church (London: SCM Press) Eastwood, Cyrll

1962 : The Priesthood of All Believers (Minneapolish: Augsburg)

Erickson, Millard J.

2001 : Christian Theology (Michigan: Bakers Book) Greenslade, S. L.

1947 : The Ministry in the Early Church (London: Canterbury)

Heuken, A.

1994 : Ensiklopedia Gereja IV Ph – To (Jakarta: Yayasan Cipta Loka, 1994)

___________

1993 : Ensiklopedi Gereja: III Kons – Pe (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka)

___________

1986 : Ensiklopedia Gereja I A-G (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka)

Hiscox, Edward T.

1953 : The New Directory for Baptist Churches

(Philadelphia: Judson) Holmberg, Bengt

1980 : Paul and Power; The structure of authority in The Primitive Church as Reflekted in The Pauline Epistle (Philadelphia: Fortress Press)

Jacobs, Tom

1988 : Gereja Menurut Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius)

Jones, Rufus M.

1928 : The Faith and Practice of the Quakers (London: Methuen)

(24)

1964 : Theological Dictionary of the New testament, Vol. 2

(London: WmB Eerdmenas Pub. Co) Komonchak, Joseph A, dkk (ed)

1989 : The New Dictionary of Theology (Wilmington: Delewre)

Kummel, F. B

1966 : Intoduction to the New Testakment (Nashville: Abingdon Press)

Kung, Hans

1976 : The Churh (New York: Image Books: A Division of Doubleday & Company)

Lumbantobing, Andar.

1996 : Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak

(Jakarta: BPK-GM) Lumbantobing, Darwin., (ed)

2008 : Percikan Teologi Jubah Hitam (Pematangsiantar: L-SAPA)

Michael, J. Hugh

1964 : The epistle of Paul to the Philippians (London: Hodder and Stroughton)

Pieper, Franz

1953 : Christian Dogmatic’s: vol. 3 (St. Louis: Concordia) Wellem, F.D

Referensi

Dokumen terkait

Pendeta adalah salah satu pemimpin agama Kristen atau gereja yang memiliki pengaruh dalam kehidupan komunitas gereja dan masyarakat, yang sering dikenal sebagai pemimpin

7. Paham Gereja sebagai Persekutuan Umat. Keanggotaan dalam Gereja sebagai Persekutuan Umat. Pandangan Gereja sebagai Persekutuan Umat dalam terang Kitab Suci. Gereja

Maksudnya adalah material yang digunakan harus dapat bertahan lama dan memancarkan keagungan dari sebuah gereja Konsep bentuk yang diaplikasikan di dalam gereja St. Monika adalah

Keberadaan dan kehadiran gereja di tengah- tengah masyarakat, sewajarnya memberikan dampak yang positif. Gereja di dalam masyarakat dapat diar- tikan sebagai suatu organisasi

Pembagian zona pada gereja Palasari menggunakan konsep bangunan adat bali (pura). Halaman depan disebut jabaan, pada bangunan pura berfungsi sebagai tempat

Hari raya ini penting untuk menegaskan makna kehadiran Gereja sebagai kehidupan bersama religius yang percaya pada Kristus yang mengaku sebagai Gereja yang kudus dan am,

Laporan tugas akhir ini akan membahas perencanaan dan perancangan gereja Kristen yang bertempat di Jalan Mulyosari Surabaya Timur.. Kata Kunci : Rohani, Tempat Ibadah, Gereja

Dokumen resmi Sinode Gereja Pentakosta di Papua terkait keputusan, pendaftaran dan aktivitas organisasi keagamaan di