MASYARAKAT BALI DALAM KUMPULAN CERPEN SAGRA KARYA OKA RUSMINI : TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA
Oleh Ahmad Bahtiar, M. Hum.
Pendahuluan
Sastra tidak jatuh begitu saja dari langit. Ia diciptakan oleh sastrawan yang
merupakan anggota suatu kelompok masyarakat tertentu. Sastra diciptakan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan masyarakat. Karya sastra yang baik sanggup mencerminkan kondisi suatu masyarakat. Jadi, sastra dapat dijadikan cermin untuk melihat wajah
masyarakat dan kebudayaannya. Karena itu dengan membaca karya sastra meskinya kita pun dapat melihat dan memahami masyarakat.
Serangkaian pernyataan di atas jelas menyiratkan suatu asumsi bahwa karya sastra dapat dijadikan sebagai sumber tentang suatu kebudayaan masyarakat tertentu. Selain itu, sastra dapat diasumsikan sebagai sarana memahami kebudayaan atau masyarakat. Pada
karya sastra yang baik dapat kita dapati informasi yang bisa memperluas wawasan kita. Melalui berbagai peristiwa yang diciptakan tokoh, kita dapat merasakan dan meresapi
pikiran tokoh-tokoh tentang berbagai persoalan manusia.
Dari latar waktu, tempat, sosial, dan budaya yang tampil pada karya sastra kita mendapatkan sejumlah informasi dan barangkali juga sejumlah pertanyaan dan gambaran
Atas dasar itulah untuk memahami kondisi sosial masyarakat kita dapat memperoleh
sejumlah informasi dengan membaca karya sastra yang menggambarkan waktu dan tempat serta sosial budaya yang biasa disebut warna lokal.
Penggunaan warna lokal dalam cerita Indonesia telah dimulai sejak awal sejarah
sastra Indonesia. Kalau kita perhatikan karya-karya pengarang yang biasa dikenal istilah “Angkatan Balai Pustaka”, maka akan sangat tajamlah warna lokal Minangkabau pada
cerita-cerita pengarang yang berasal dari daerah tersebut.
Maka bukan gejala baru apabila warna lokal dari daerah lain muncul dalam khasanah sastra Indonesia. Sebutlah di antaranya Darmanto Jt (Sang Darmanto), Linus Suryadi AG
(Pengakuan Pariyem), Umar Kayam (Para Priyayi), Y. B. Mangun Wijaya (Burung-burung Manyar) Aspar Paturusi (Arus), dan Korrie Layun Rampan (Upacara).
Namun sangat sedikit pengarang yang mengangkat warna lokal Bali. Padahal sejak lama Bali telah menjadi pertemuan dan tempat tinggal pelbagai suku dan bangsa. Di antara yang sedikit tersebut ialah Oka Rusmini. Salah satu karya penulis yang masuk
nominasi Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2004 adalah kumpulan cerpen Sagra. Kumpulan cerpen yang terbit pertama kali tahun 2001 ini terdiri atas sembilan cerpen yaitu
“Esensi Nobelia”, “Kakus”, “Harga Sepotong Kaki”, “Pesta Tubuh”, “Api Sita”, “Sagra”, “Ketika Perkawinan Harus Dimulai”, “Pemahat Abad”, “Putu Menolong Tuhan”, dan “Cenana”.
Beberapa cerpen dalam kumpulan karya penulis perempuan asal Bali ini mendapatkan penghargaan seperti cerpen “Sagra” yang menjadi judul kumpulan cerpen
cerita bersambung terbaik versi majalah Femina tahun 1998. Selain cerpen “Sagra” cerpen
“Putu Menolong Tuhan” terpilih sebagai cerpen terbaik majalah Femina tahun 1994 dan juga cerpen “Pemahat Abad” terpilih sebagai cerpen terbaik 1990-2000 versi Majalah Sastra Horison.
Landasan Teori
Seorang sastrawan adalah anggota masyarakat. Oleh karena itu ia terikat oleh aturan
sosial tertentu. Itulah sebabnya sastra dapat dipandang sebagai institusi sosial tertentu yang menggunakan medium (sarana) bahasa. Bahasa itu merupakan produk sosial sebagai tanda yang bersifat arbitrer. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri
adalah kenyataan sosial (Damono, 1979: 1). Selain sebagai sebuah kenyataan sosial sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena individual tertutup melainkan lebih
merupakan proses yang hidup. Sastra tidak mencerminkan realitas seperti fotografi, melainkan lebih sebagai bentuk khusus yang mencerminkan realitas.
Hanya saja pencerminan realitas itu dapat secara jujur dan obyektif dan dapat juga
mencerminkan kesan realitas subyektif. Dalam hal ini, karya sastra akan memberikan realitas ideal dari tatanan hidup masyarakat dan bukan sesuatu yang sama sekali faktual.
Imajinasi penulis telah ditata rapi untuk menganggap realitas sebagai perwujudan cita-cita dan angan-angan.
Dalam kaitannya dengan pendekatan cermin, Sapardi (1979: 4-5) mengingatkan
bahwa cermin di sini sangat kabur, dan oleh karenanya banyak disalahtafsirkan dan disalahgunakan. Sastra mungkin dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu
tidak lagi berlaku pada waktu ia ditulis. Sastra yang berusaha untuk menampilkan keadaan
masyarakat secermat-cermat mungkin saja tidak bisa dipercaya sebagai cermin masyarakat. Demikian juga sebaliknya, karya sastra yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggambarkan masyarakat secara teliti barangkali masih dipergunakan untuk mengetahui
keadaan masyarakat. Pandangan sosial pengarang harus diperhitungkan apabila kita menilai karya sastra sebagai cermin masyarakat.
Keterlibatan sosial, sikap, dan ideologi pengarang berperan dalam proses penciptaan karya sastra. Hal tersebut dapat dipelajari tidak hanya melalui karya-karya mereka, tetapi juga dari dokumen biografi (Welek, 1995 : 113-114). Selanjutnya Rene Welek dan Austin
Warren dalam bukunya Teori Kesusastraan (1995: 119) menjelaskan bahwa biografi pengarang adalah sumber utama, tetapi kita dapat mengumpulkan informasi tentang latar
belakang pengarang, latar belakang ekonomi keluarga, dan peran ekonomi pengarang tidak hanya dari biografi pengarang. Sebagai warga masyarakat, pengarang mempunyai posisi sosial dalam masyarakat. Posisi pengarang tersebut dapat ditelusuri secara jelas dalam
sejarah. Dalam penciptaan karya sastra kehidupan sosial pengarang mempengaruhi baik aspek bentuk maupun isi karya sastra.
Pembahasan
Tulisan ini hendak menjelaskan kondisi sosial masyarakat Bali yang ditampilkan dalam kumpulan cerpen Sagra karya Oka Rusmini serta sikap dan pandangan pengarang
Untuk menjelaskan dua hal tersebut digunakan pendekatan sosiologi sastra dengan
menganalisis teks untuk mengetahui strukturnya kemudian dipergunakan untuk memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang ada di luar sastra (Damono, 2 : 1979).
Pembahasan pada kumpulan cerpen Sagra dipusatkan pada kondisi sosial
masyarakat Bali yang berhubungan dengan stratafikasi, perekonomian, pendidikan, dan kondisi perempuan.
Pada masyarakat Bali terdapat kelompok masyarakat yang berbeda. Pelapisan masyarakat berdasarkan status yang dimilikinya menurut Kamanto Sunarto (2000: 107) dinamakan stratafikasi sosial. Berdasarkan status yang diperoleh dengan sendirinya, kita
menjumpai adanya berbagai macam stratafikasi. Anggota masyarakat dibeda-bedakan pula berdasarkan status yang diraihnya, sehingga menghasilkan berbagai jenis stratafikasi.
Pitirim A. Sorokin yang dikuti Soejono Soekanto dalam Sosiologi Suatu Pengantar (1990: 227) menyatakan bahwa social stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas secara bertingkat (hierarkis) Perwujudannya adalah
kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas-kelas-kelas rendah. Lapisan masyarakat mulai ada sejak manusia mengenal kehidupan bersama di dalam suatu organisasi sosial. Lapisan masyarakat mula-mula
didasarkan pada perbedaan seks, perbedaan antara pemimpin dan yang dipimpin, pembagian kerja dan bahkan juga suatu perbedaan berdasarkan kekayaan. Semakin rumit dan semakin maju teknologi masyarakat, semakin kompleks pula sistem lapisaan
masyarakat. Di dalam masyarakat yang sudah kompleks, pembedahan kedudukan dan peran bersifat kompleks karena banyak orang dan aneka warna ukuran yang dapat diterapkan
ekonomis, politis, dan yang didasarkan pada jabatan-jabatan tertentu dalam masyarakat.
Umumnya, ketiga bentuk pokok tersebut mempunyai hubungan yang erat satu dengan lainnya, dan saling mempengaruhi.
Pembagian kelompok sosial pada masyarakat Bali di bagi atas sistem kasta :
Brahmana, Ksatria, Weisya, dan Sudra (Rusmini, 2001 : 201) Setiap kasta memiliki sebutan dan tradisi masing-masing. Kasta Brahmana adalah kasta paling tinggi. Mereka adalah para
bangsawan yang tinggal di griya. Apa makna kebangsawaan, Oka Rusmini (2001 : 7) menjelaskan, “Kebangsawaan itu dalam hati. Kata Nenek pula, siapapun bisa menjadi bangsawan. Bukankah orang-orang di luar griya juga banyak silsiah leluhurnya, lalu
tiba-tiba saja mengubah nama mereka dan mengaku bangsawan”.
Seorang yang berasal dari keluarga Brahmana sejak kecil dijaga kebangsawanannya.
Tokoh Sagra, wang jero, pembantu yang mengabdi di keluarga Brahmana dalam cerpen ”Sagra” begitu menjaga darah biru Ida Bagus Yogaputra anak dari Ida Ayu Cemeti yang juga cucu pertama keluarga Pidada, keluarga yang sempurna kebangsawanannya dan
pemilik hotel, restoran, dan hampir setengah pulau Bali.
”Jangan sembarang merawat cucuku, Sagra. Kelak, dialah penerus dinasti Pidada. Dia yang akan mewarisi kebangsawanan yang baik. Tugasmu hanya menjaganya dan memberinya pengertian bahwa dia adalah pewaris seluruh bentuk kejantanan laki-laki. Kasta? Kutahu kelak tak ada artinya lagi. Tapi cucuku mempunyai kesempurnaan laki-laki. Dia lahir sebagai bangsawan tertinggi di Bali, seorang Brahmana” (Rusmini, 2001 : 159).
Karena takut kadar kebangsawanannya berkurang, setiap anggota keluarga bangsawan menghindari perkawinan dengan keluarga kebanyakan (Sudra). Tokoh Dayu
Dia ingat kata-kata ibunya sebelum meninggal, ”Daripada Kau menikah dengan laki-laki yang tidak sederajat, lebih baik kau tidak kawin. Jadilah perempuan suci, perempuan yang tidak pernah menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki. ” Ibunya juga menambahkan, menjadi perempuan suci itu sangat baik, terlebih perempuan Brahmana. Karena hanya perempuan suci dan belum pernah menikah yang boleh menghaturkan sesaji ke tiap pelinggih, tempat suci. Perempuan itu bahkan bisa naik tinggi-tinggi dan berhadapan langsung dengan semesta (Rusmini, 2001: 219).
Larangan hubungan antara orang kasta Brahmana dan Sudra sangat dipatuhi benar tokoh Gubreg, parekan, pelayan setia Kopag dalam cerpen “Pemahat Abad”. Ia senantiasa
menahan cintanya yang dalam terhadap Dayu Centaga, perempuan junjunganya yang sering ia antar mandi di Sungai Badung. Akibatnya ia jadi impoten, tidak bisa lagi menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia.
Ada kesialan yang menimpa keluarga kebanyakan apabila mengambil perempuan bangsawan seperti yang terjadi pada tokoh Ida Ayu dalam cerpen ”Putu Menolong Tuhan”.
Ia senantiasa bermasalah dengan mertua dan ipar-iparnya. Dituduh pembawa sial keluarga dan memiliki kesaktian yang dapat mencelakai orang lain.
Selain akan membawa kesialan penerimaan yang diterima orang kebanyakan yang
masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana hanya setengah-setengah. Dalam cerpen “Sepotong Kaki” Ni Luh Rubag, perempuan yang berasal dari keluarga biasa masuk dalam
keluarga Brahmana setelah menikah dengan lelaki yang merupakan reinkarnasi dari Ida Bagus Oka Tugur dan Ida Ayu Manik, leluhur keluarga sebuah griya. Ni Luh Rubag berganti nama menjadi Jero Pudak dan dipanggil “Jero”. Orang-orang kasta yang lebih
rendah harus bertutur kata halus padanya. Walaupun sudah berganti nama, anaknya Ida Putu Centaga Nareswari, tidak dapat memakai gelar Ida Ayu di depannya seperti anak-anak
Penerimaan setengah-setengah itu juga dialami Cenana anak Luh Sapti dalam cerpen
“Cenana”. Luh Sapti ketika menikah dengan Ida Bagus Dawer sudah mengandung 5 bulan yang kelak anaknya diberi nama Cenana yang berarti Cendana, pohon yang memiliki keharuman. Cenana walaupun tinggal di griya tetapi haknya sebagai keluarga dicabut.
Selain tidak bergelar Ida Ayu, dia mendapat perlakuan khusus yang tidak bisa diterima perempuan kecil itu. Cenana harus berbicara dalam bahasa halus, anak-anak lain menjawab
dengan bahasa kasar. Dia juga tidak boleh menyerahkan makanan sisa pada anak-anak griya, sebaliknya anak-anak griya boleh memberikan makanan siswa untuknya. Kalau Cenana punya adik, adiknya berhak membawa gelar kebangsawaan, dan Cenana harus
berlaku hormat pada adiknya. Beruntung ia tidak mempunyai adik.
Adanya aturan yang rumit dan larangan tidak mengurangi keinginan orang
kebanyakan masuk menjadi keluarga bangsawan. Selain karena mendapat penghormatan yang tinggi dari masyarakat juga akan mendapat banyak kesenangan. Seorang bangsawan selama hidupnya akan dilayani oleh wang jero, pembantu, sejak urusan makan hingga tidur.
Hidupnya hanya untuk berkarier. Hal-hal kecil dilakukan wang jero, yang hidupnya untuk para keluarga bangsawan.
Daya tarik untuk masuk keluarga bangsawan adalah karena mereka memiliki kekayaan yang sangat berlimpah. Berbeda dengan orang kebanyakan di Bali yang hidupnya tidak jauh dari kemiskinan dan kesengsaraan. Mereka hanya hidup di ladang dan
menggarap tanah serta beberapa menjadi pelayan keluarga bangsawan.
Selain memiliki kekayaan para keluarga bangsawan mendapat pendidikan yang baik.
yang tidak tamat bahkan sama sekali tidak pernah mendapat pendidikan formal. Hal ini
tergambar pada tokoh Ida Ayu Pidada dalam cerpen “Sagra”.
Hidup di lingkungan kaum bangsawan, kaum dengan kekayaan yang tidak mungkin habis dimakan tujuh keturunan.
....
Sejak muda Pidada sudah terbiasa mengurusi segala macam bisnis yang dikelola ayahnya. Dia belajar bisnis yang dikelola ayahnya. Dia belajar bisnis di Jepang, Perancis, Jerman, dan Amerika. Hari-harinya disibukkan dengan urusan bisnis keluarga. Pidada tumbuh jadi perempuan yang terlalu mandiri. Tak seorang pun laki-laki Brahmana menyentuhnya (Rusmini, 2001: 172).
Tokoh Siwi dalam cerpen ”Cenana” juga merupakan tokoh kaum bangsawan yang beruntung. Ia memiliki berpuluh-puluh hotel di Kuta dan tanah kontrakan. Dia
menyumbang beratus-ratus juta untuk Pura dan Banjar.
Namun keberuntungan tokoh Ida Ayu Pidada dan Siwi hanya pada harta atau meteri.
Sedangkan batin mereka tetap menderita seperti hal wanita-wanita Bali yang lain.
Pidada menikah dengan dengan lelaki yang tidak punya harga diri. Laki-laki yang hanya menikmati kekayaan yang dimiliki oleh Pidada turun-temurun. Sedangkan tokoh
Tiwi karena tidak bisa mempunyai anak ia mengambil anak dari kebanyakan. Hal ini menyebabkan ia dimusuhi oleh keluarganya. Ia dianggap tidak menjaga kebesaran
kebangsawaannya dan tidak mengikuti aturan seorang bangsawan yang hanya menerima anak dari keluarga bangsawan juga.
Kekurangberuntungan wanita Bali disebabkan aturan masyarakat Bali yang
menguntungkan pihak laki-laki. Tokoh Siwi mencoba menggugat hal itu.
Begitu pun terjadi pada wanita-wanita lain. Setelah menikah mereka tidak dinafkahi
oleh suaminya. Para suami hanya sibuk bermain ayam jago. Seperti halnya Jero Sadat tokoh dalam cerpen “Cenana” dan Jero Pudak dalam cerpen ”Sepotong Kaki” yang disia-siakan suaminya. Suaminya sibuk berselingkuh dengan wanita lain dan selalu mengamuk
pada setiap upacara.
Terlebih pada zaman pendudukan Belanda dan Jepang banyak wanita Bali yang
hanya dijadikan gundik dan objek seksual tentara Jepang. Mereka dikenal dengan ”Jugun Ianfu” dalam cerpen ”Pesta Tubuh” dan ”Api Sita”.
Dalam cerpen “Pesta Tubuh” perempuan-perempuan Bali di bawah lima belas tahun
dihabisi di tempat tidur sebelum melayani 10 atau 15 lebih laki-laki.
Tubuh kecil kami digigit. Kami ditelanjangi, diikat. Laki-laki kuning langsat itu menyantap tubuh kami di sebuah piring besar, dengan rakusnya. Bahkans setiap tetes yang mengalir dari tubuh kami diteguknya. (Rusmini, 2001 : 105).
Mereka dijadikan objek pesta tubuh. Sedangkan dalam cerpen “Api Sita” banyak wanita Bali yang dijadikan Nyai oleh Belanda. Mereka tidak hanya mendapat perlakuan
tidak menyenangkan dari bangsa Jepang dan Belanda, juga mengalami kekecewaan karena dihianati oleh orang-orang sendiri. Tokoh Sita dalam “Api Sita” ia merasa dikorbankan oleh Sawer temannya yang ia cintai. Akhirnya Sawer tewas oleh samurai yang ditusukkan oleh
Sita.
Sistem kasta pada masyarakat Bali yang senantiasa menimbulkan permasalahan dan
penuh intrik serta penderitaan orang kebanyakan (biasa) terutama wanita membuat Oka Rusmini mempertanyakan fungsi kasta,
pertandanya? Apakah kesialan yang turun temurun mengaliri darah Luh Sagra telah menular ke orang-orang dekat (Rusmini, 2001: 154).
Aturan-aturan yang rumit yang terdapat dalam keluarga bangsawan juga turut dipertanyakan,
Aku curiga, jangan-jangan mereka pertahankan aturan itu untuk menjaga nilai-nilai kebangsawaan mereka. Dengan kebangsawanan yang masih melekat ditubuh mereka, mereka bisa bebas mempemainakan keberadaan Tuhan! Tidak aku tak mau mengikuti mereka (Rusmini, 2001: 134).
Pemberontak Oka Rusmini diwakilkan juga tokoh Tiwi dalam cerpen ”Cenana” yang menolak keluarga besar menghalangi mengambil anak dari kasta Sudra. Atau tokoh Ida Ayu
tetap mencintai suaminya yang berasal dari orang kebanyakan dalam cerpen ”Putu Menolong Tuhan”. Tokoh "aku" dalam cerpen tersebut menikah dengan lelaki bukan
berkasta bangsawan (Brahmana). Ia malah menemukan cintanya pada lelaki Jawa. Lelaki berkasta Brahmana sering digambarkan Oka dalam kumpulan cerpen ini hanya bisa bermabuk-mabukan, main judi sabung ayam atau meniduri segala macam jenis
perempuan. Dalam cerpen “Sagra”, misalnya, Ida Bagus
Astara ditemukan mati di hotel besar dalam pelukan pelacur atau Ida Bagus
Baskara yang hanya bisa berfoya-foya dan kemudian mati tenggelam di Kali Badung akibat menegak minuman keras. Penggambaran negatif lainnya tentang lelaki kasta Brahmana tampak dalam cerpen “Pemahat Abad” dan “Cenana”. Tokoh Ida Bagus Made Kopag yang
tidak bisa melihat alias buta, dinyatakan sebagai "akibat" dari ayahnya yang berkasta Brahmana yang berperilaku buruk yang suka mabuk-mabukan dan meniduri banyak
berkasta Brahmana dalam cerpen “Cenana’, semuanya digambarkan memiliki perilaku
buruk dan tidak jauh berbeda dengan cerpen-cerpen lainnya.
Hal itu berberda dengan laki-laki lain yang berasal bukan dari Brahmana. Dalam cerpen “Putu Menolong Tuhan” tersebut juga digambarkan Putu, gambaran anak menurut
pengarang yang istri penyair dan esais Arief Bagus Prasetyo ini, anak-anak masa kini yang kritis, tidak mau dipusingkan oleh sistem adat yang rumit, dan sering bertindak tanpa
berpikir. Anak yang dibesarkan dengan idealis yang seperti digambarkan dalam cerpen pembuka “Esensi Nobelia”. Cerpen tersebut tidak menonjolkan potret masyarakat Bali melainkan pergulatan hidup sepasang penyair kala membesarkan putri mereka.
Dua orang penyair bertemu, hati-hati! Kalian bisa berebut kata-kata di bawah bantal. Bahkan bisa jadi ranjang kalian justru tidak mempertemuakan tubuh kalian, tapi huruf-huruf, “kata seorang teman penyair sahabatku sambil terkekeh dan mengusap rambutnya yang dipenuhi uban (Rusmini, 2001: 13)
Simpulan
Berangkat dari teks kumpulan cerpen Sagra, kita dapat menyimpulkan bahwa
cerpen-cerpen dalam kumpulan ini padat dengan informasi masyarakat Bali berkenaan kondisi sosial yang meliputi stratatifikasi, perekonomian, pendidikan, dan kedudukan
perempuan.
Dalam kumpulan cerpen ini penulis yang pernah mewakili Indonesia dalam Writing Program Penulis ASEAN (1997), bercerita tentang seputar kehidupan masyarakat Bali, terutama perempuan-perempuan Bali dalam tatanan masyarakat yang menjunjung tinggi adat istiadat tetapi ditimpa realita hidup yang harus dihadapi sebagai seorang
Kehidupan masyarakat Bali terutama yang berasal dari kalangan keturunan
Brahmana menyangkut masalah asmara, perkawinan, perselingkuhan, kepura-puraan, kemunafikan, dan banyak hal lain yang tak terduga demi sebuah gengsi, tata krama, dan segala tetek-bengek dalam tatanan adat yang mengikat kehidupan lingkungan kalangan
kaum tersebut menjadi sorotan Oka dalam kumpulan cerpen ini.
Pengarang dalam kumpulan cerpen ini mengarahkan realitas masyarakat Bali seperti
dalam kehidupan yang sebenarnya. Permasalahan sosial masyarakat Bali diangkat. Namun, beberapa tokoh protagonis yang mewakili Oka dalam kumpulan cerpen ini melakukan pemberotakkan terhadap sistem kasta dan aturan yang rumit yang mengatur masayarakat
Bali.
Kumpulan cerpen ini memang nampak jelas menggambarkan "pemberontakan" dan
"penggugatan" perempuan Bali yang dilakukan atau diwakili oleh tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen ini. Mulai dari soal adat, kebangsawanan atau kasta, dominasi jender, hingga perjuangan atas peningkatan atau penempatan sosok perempuan ideal dalam
kehidupan masyarakat Bali. Selain itu sistem stratifikasi sosial yang berwujud dalam bentuk kebangsawanan dan kasta-kasta tersebut dikritisi sedemikian rupa melalui alur
cerita yang menarik.
Sikap kritisnya yang tajam membuat sisi kehidupan griya yang tersembunyi menjadi telanjang di hadapan pembaca yang selama ini terkenal dengan keindahan dan
kebangsawanan dan harga diri kemanusiaan masyarakat Bali dipertanyakan berkali-kali.
Kepustakaan
Damono, Sapardi Djoko. 1979. Sosiologi Sastra : Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta : Pusat Pembinaaan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Rusmini, Oka. 2001. Sagra. Magelang : Indonesia Tera.
Welek, Rene dan Austin Waren. 1995. Teori Kesusastraan, terjemahan Melani Budianta. Jakarta: Gramdedia.
Soekanto, Soerjono. 2005. Sosiologi : Suatu Pengatar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Sunarto, Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi. Jakarta : Lembaga Penerbitan Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia. Biografi Penulis