BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 mengamanatkan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia yang mendasari pembangunan nasional. Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Salah satu bidang pembangunan nasional yang sangat penting dan menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara adalah pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkarakter.
Secara fisosofis, pembangunan SDM yang berkarakter merupakan sebuah kebutuhan mutlak suatu bangsa untuk meningkatkan eksistensi bangsa. Secara ideologis, pembangunan SDM berkarakter merupakan upaya negara untuk mengimplementasikan ideologi Pancasila. Secara normatif, pembangunan SDM berkarakter merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara, yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Secara sosiokultural, pembangunan SDM berkarakter merupakan wujud keharmonisan sosial dalam masyarakat multikultural.
Jika dilihat, salah satu faktor peningkatan jumlah gelandangan, pengemis, dan anak jalanan yaitu dampak dari perkembangan kota yang cenderung ke arah ekonomi kapitalis. Hal ini menimbulkan kesenjangan pembangunan antara desa dengan kota sehingga menyebabkan migrasi penduduk. Dengan anggapan bahwa di kota memiliki struktur sosial, ekonomi, dan administrasi yang lebih kompleks, sehingga para imigran tertarik datang ke kota untuk mencari uang. Namun proses migrasi ini tidak diiringi dengan keterampilan personal yang memadai. Sebagian besar imigran ternyata tidak dapat bertahan hidup di kota. Pada akhirnya, hidup menggelandang menjadi alternatif hidup yang paling ideal. Adapun faktor lain peningkatan jumlah gelandangan, pengemis dan anak jalanan dilatarbelakangi oleh pendidikan dan keterampilan yang dimiliki masih rendah, jumlah pendapatan rendah, kemiskinan yang semakin merajalela dan keterbatasan kesempatan kerja.
Kaum gelandangan merupakan kaum yang hidup dalam keadaan serba tidak memiliki. Pada umumnya, kaum gelandangan tidak memiliki tempat tinggal, pekerjaan tetap, pendapatan yang layak, dan lain-lain. Banyak gelandangan yang tidur di trotoar atau di depan toko-toko dengan hanya beralaskan tikar ataupun koran. Karena perilaku hidup menggelandang seperti ini, stigma atau label negatif melekat dalam diri mereka, meskipun stigma (labelling) tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Beberapa panti sosial sudah difungsikan untuk menanggulangi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) termasuk penyebaran gelandangan di Yogyakarta. Salah satu contoh panti sosial yang ada di Yogyakarta yaitu Panti Sosial Bina Karya (PSBK). Panti sosial ini berperan dalam melakukan pencegahan, rehabilitasi sosial, pembekalan keterampilan, dan pengembangan individu untuk meningkatkan taraf hidup.
Peran panti sosial termasuk salah satu yang paling strategis dalam usaha penanganan PMKS. Namun, pada kenyataannya terdapat penurunan kinerja panti yang disebabkan karena berbagai faktor seperti masalah pengelolaan, keterbatasan dana, SDM, sarana dan prasarana, serta program rehabilitasi yang minim. Permasalahan lain yang sangat mendasar yaitu karakter negatif warga binaan sosial dan pengembangan program yang berorientasi pada aspek ekonomi. Sasaran Panti Sosial Bina Karya juga hanya terfokus pada gelandangan, pengemis, pemulung dan eks penderita sakit jiwa, sedangkan anak jalanan belum termasuk dalam sasaran dari PSBK.
Kompleksitas permasalahan dalam panti sosial yang sudah ada, membuat penulis berencana mendirikan sebuah “Bilik Pintar”. Bilik Pintar berfungsi sebagai pusat pendidikan, pengembangan keterampilan dan karakter bagi gelandangan di Yogyakarta. Bilik Pintar memiliki rencana program kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi tetapi berusaha memberikan pendidikan non-formal yang layak, dan mengembangkan keterampilan remaja binaan sehingga memiliki produktivitas kerja tinggi dan tercipta karakter positif. Gelandangan hidup dalam lingkungan yang kurang terarah, teratur dan terkontrol. Lingkungan seperti ini dapat membentuk karakter yang rapuh dalam diri gelandangan.
individu agar memiliki daya saing yang tinggi dalam era modernisasi saat ini maupun masa depan.
Apabila karakter anak bangsa menjadi rapuh, maka prinsip-prinsip nilai, norma, moral, budaya bangsa dan perjuangan para pahlawan terdahulu akan hilang terdegradasi oleh arus negatif dampak modernisasi. Tidak sedikit pihak yang terlalu fokus pada penguasaan kemampuan akademis. Kecerdasan intelektual dianakemaskan sedangkan kecerdasan emosional dan spiritual dimarginalkan. Hasilnya, kecerdasan intelektual hancur karena kecerdasan emosional dan spritual yang lemah. Oleh karena itu, manusia sebagai mahluk Tuhan yang memiliki potensi sejak lahir harus diasah dan digali melalui pendidikan karakter secara terus menerus agar terjadi keharmonisan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.
Sasaran utama Bilik Pintar yaitu remaja. Remaja merupakan salah satu dari kelompok umur manusia yang memiliki potensi besar yang perlu dikembangkan. Namun karena ada sesuatu hal, potensi tersebut tidak dapat berkembang dan dimanfaatkan dengan baik. Padahal, remaja merupakan generasi penerus bangsa yang berperan sebagai media untuk mewujudkan pembangunan nasional. Oleh karena itu, dalam rangka berpartisipasi mewujudkan pembangunan nasional penulis sangat berkeinginan mendirikan Bilik Pintar, karena bagaimanapun partisipasi remaja sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan pembangunan.
Remaja mempunyai hak, kewajiban dan kesempatan yang sama dengan masyarakat lain untuk ikut serta dalam segala kegiatan pembangunan. Peran dan tanggung jawab remaja dalam pembangunan makin dimantapkan melalui peningkatan karakter yang kuat, kemampuan sosial, dan keterampilan di berbagai bidang sesuai dengan kebutuhan, kodrat, harkat, dan martabatnya.
binaan yang berkompeten, produktif, dan berkarakter. Ketika dianggap telah memiliki keterampilan tertentu, alumni Bilik Pintar dapat mengembangkan diri di dunia luar secara mandiri.
Pengguna Bilik Pintar adalah gelandangan usia remaja yang memiliki kemauan untuk mengembangkan potensi-potensi diri, ingin mencoba, dan ingin bereksplorasi. Sehingga bagi mereka yang hidup dalam ketiadaan tidak lagi terombang-ambing oleh tidak meratanya pembangunan pendidikan dan kesejahteraan rakyat.
Wujud dari Bilik Pintar adalah bilik sederhana yang dipusatkan di suatu daerah rawan gelandangan. Ruang-ruang pelatihan dipusatkan agar lebih mudah dipantau dan ditangani, namun terbagi atas sekat-sekat atau kelas-kelas untuk setiap jenis pendidikan dan pelatihan keterampilan. Dengan demikian Bilik Pintar merupakan salah satu wujud komitmen Pendidikan Luar Sekolah untuk mengangkat harkat dan martabat mereka sebagai manusia seutuhnya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana langkah-langkah penerimaan calon remaja di Bilik Pintar? 2. Bagaimana proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di Bilik Pintar? 3. Bagaimana rencana pelaksanaan program kerja di Bilik Pintar?
4. Bagaimana rencana pengembangan yang akan diusahakan oleh penulis?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk menjelaskan langkah-langkah apa aja saja yang dilakukan dalam proses penerimaan calon remaja binaan di Bilik Pintar.
2. Untuk menjelaskan bagaimana proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di Bilik Pintar.
3. Untuk menjelaskan bagaimana pelaksanaan program kerja yang direncanakan di Bilik Pintar?
D. Manfaat Penulisan
Karya tulis ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis maupun praktis antara lain:
1. Manfaat Secara Teoritis
Memberikan sumbangan pemikiran, konsep dan pengembangan proses pemberdayaan gelandangan remaja dan anak jalanan terutama melalui kegiatan pelayanan sosial.
2. Manfaat Secara Praktis
BAB II
TELAAH PUSTAKA
A. Hakikat dan Makna Pembangunan Nasional
Langkah pembangunan pada hakikatnya dimaksudkan agar terjadi perubahan ke arah perbaikan. Selama proses perubahan banyak tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia yaitu masalah yang timbul menjadi semakin kompleks. Membangun (develop) adalah “to take and become larger or fuller or mature or organized”. (Eugene Ehrlich dalam Rukiyati dkk, 2008: 128). Hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya dengan Pancasila sebagai dasar, tujuan, dan pedoman pembangunan nasional.
Menurut Ace Suryana, pembangunan nasional adalah dari, oleh, dan untuk rakyat yang dilaksanakan di semua aspek kehidupan bangsa. Pembangunan Nasional merupakan pencerminan kehendak untuk terus-menerus meningkatkan kesejahteran dan kemakmuran rakyat Indonesia secara adil dan merata. Pembangunan nasional dilaksanakan bersama oleh masyarakat dan pemerintah. Masyarakat merupakan pelaku utama pembangunan sedangkan pemerintah berkewajiban untuk mengarahkan, membimbing, dan menciptakan suasana yang menunjang.
Berdasarkan pokok pikiran di atas, maka penulis sebagai seorang pelaku utama pembangunan nasional mempunyai pemikiran untuk menyelenggarakan pelayanan sosial melalui pemberdayaan gelandangan usia remaja. Keberadaan gelandangan merupakan akibat dari kesenjangan-kesenjangan yang ada diberbagai aspek kehidupan. Hal ini menunjukan bahwa pembangunan masyarakat di Indonesia masih belum merata dan adil.
B. Definisi Pendidikan Karakter dan Pengembangan Keterampilan
melahirkan semangat juang yang tinggi, pantang menyerah, mengutamakan proses, berdaya juang tinggi, serta berani menerjang gelombong kehidupan. Karakter merupakan kebutuhan mutlak seorang individu agar memiliki daya saing yang tinggi dalam medan kompetisi saat ini maupun masa depan.
1. Pendidikan Karakter
Menurut M. Furqon Hidayatullah (Jamal Ma’mur Asmani, 2011: 26) menyebutkan bahwa istilah karakter berasal dari bahasa Latin yang berarti “dipahat”. Secara harfiah, menurut Hornby dan Parnwell (Jamal Ma’mur Asmani, 2011: 28) karakter artinya adalah kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama, atau reputasinya .
Menurut Hermawan Kertawijaya (Jamal Ma’mur Asmani, 2011: 28) menyebutkan bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, dan merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu.Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertangungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang telah dibuatnya.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Menurut Jamal Ma’mur Asmani (2011: 29), menerangkan bahwa amanah yang terkandung dalam UU SISDIKNAS tahun 2003 bertujuan agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, tetapi juga berkepribadian atau berkarakter. Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat juga pernah ditegaskan oleh Martin Luther King “Intellegence plus character, that is the goal of true education” artinya kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya.
dan akhak. Tujuannya adalah untuk membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia dan masyarakat yang baik.
2. Nilai-Nilai Karakter
Menurut Jamal Ma’mur Asmani (2011: 36) menyebutkan beberapa nilai-nilai karakter, antara lain:
a. Hubungan Nilai Karakter dengan Tuhan
Nilai ini bersifat religius. Dengan kata lain, pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan.
b. Hubungan Nilai Karakter dengan Diri Sendiri
Ada beberapa nilai karakter yang berhubungan dengan diri sendiri, antara lain: jujur, bertanggungjawab, bergaya hidup sehat, diiplin, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirausaha, berpikir logis dan kritis, mandiri, rasa ingin tahu, dan cinta ilmu.
c. Hubungan Nilai Karakter dengan Sesama
Beberapa contoh nilai karakter yang berhubungan dengan sesama, antara lain:
1) Sadar hak dan kewajiban diri serta orang lain 2) Patuh terhadap aturan-aturan sosial
3) Menghargai karya dan prestasi orang lain d. Hubungan Nilai Karakter dengan Lingkungan
Hal ini berkenaan dengan kepedulian terhadap sosial dan lingkungan. Nalai karakter tersebut berupa sikap dan tindakan yang berusaha mencegah kerusakan pada lingkungan alam.
e. Nilai Kebangsaan
3. Tujuan Pendidikan Karakter
Tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri individu dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Tujuan jangka panjang pendidikan karakter adalah mendasarkan diri pada tanggapan aktif kontekstual individu sehingga semakin tajam visi hidupnya (Jamal Ma’mur Asmani, 2011: 42). Internalisasi pendidikan karakter secara tidak langsung akan menjadi kekuatan untuk menyeleksi dan memfilter budaya dari luar, nilai-nilai masyarakat, dan pemikiran-pemikiran yang ada dihadapi individu.
4. Pilar Pendidikan Karakter
Menurut Suparlan (Jamal Ma’mur Asmani, 2011: 50) menyebutkan ada 9 pilar yang saling berkaitan dalam pendidikan karakter, antara lain: a. Responsibility (tanggung-jawab)
b. Respect (rasa hormat) c. Fairness (keadilan) d. Coerage (keberanian) e. Honesty (kejujuran)
f. Citizenship (kewarganegaraan) g. Self-discipline (disiplin diri) h. Caring (peduli)
i. Perseverance (ketekunan) 5. Pengembangan Keterampilan
Pengembangan berasal dari kata ”kembang” yang berarti tumbuh, menjadi besar, luas, banyak, menjadi bertambah sempurna dalam hal pikiran, pengetahuan, dll. Jadi, pengembangan berarti proses untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, baik dalam hal pikiran, maupun pengetahuan.
dengan teratur hingga akhirnya menjadi pandai atau ahli di bidang yang dipelajari tersebut.
C. Panti Sosial Bina Karya
Panti sosial adalah instansi negeri ataupun swasta yang bertugas untuk mengadakan program penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) mulai dari pencegahan, rehabilitasi sosial, pembekalan sosial, hingga pengembangan individu demi tercapainya taraf kehidupan yang lebih layak. Membicarakan upaya pembinaan yang dilakukan oleh panti sosial terhadap para gelandangan, jika dilihat dari jalur pendidikan maka kegiatan pembinaan tersebut termasuk kepada jalur Pendidikan Luar Sekolah.
1. Pengertian Panti Sosial Bina Karya (PSBK)
PSBK merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial DIY yang bertugas dalam pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang masalah sosial khususnya gelandangan, pengemis, pemulung maupun eks penderita sakit jiwa terlantar. Pelaksanaan kegiatan meliputi bimbingan fisik, mental, sosial dan keterampilan, resosialisasi dan pembinaan lanjut agar warga binan sosial yang telah dibina dapat berperan aktif kembali dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Tujuan PSBK
Tujuan dari Panti Sosial Bina Karya antara lain:
a. Pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi gelandangan, pengemis, pemulung maupun eks penderita sakit jiwa.
b. Memberikan bimbingan fisik, mental, sosial dan keterampilan sebagai bekal kemandirian gelandangan, pengemis, pemulung maupun eks penderita sakit jiwa.
c. Memandirikan gelandangan, pengemis, pemulung maupun eks penderita sakit jiwa.
1) Menyelenggarakan pelayanan dan rehabilitasi sosial terhadap gelandangan, pengemis, pemulung dab eks penderita sakit jiwa. 2) Menyelenggarakan koordinasi kegiatan panti.
3) Melaksanakan pengawasan, evaluasi dan melaporkan pelaksanaan kegiatan panti.
4) Melaksanakan ketatausahaan. b. Fungsi PSBK
1) Sebagai tempat penyebaran pelayanan kesejahteraan sosial. 2) Sebagai tempat pengembangan kerja.
3) Sebagai tempat latihan keterampilan.
4) Sebagai tempat informasi usaha kesejateraan sosial.
5) Sebagai tempat rujukan bagi pelayanan dan rehabilitasi sosial. 4. Sasaran Garap dan Jangkauan Pelayanan
Sasaran garap PSBK yaitu gelandangan, pengemis, pemulung dan eks penderita sakit jiwa terlantar. Sedangkan jangkauan pelayanan meliputi seluruh wilayah Provinsi Daerah istimewa Yogyakarta.
D. Definisi Gelandangan
Masalah sosial yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan di daerah perkotaan adalah masalah gelandangan. Permasalah gelandangan merupakan hasil dari berbagai macam permasalahan sosial seperti kemiskinan, pendidikan rendah, keterampilan rendah, lingkungan, terbatasnya lapangan pekerjaan, sosial budaya, dan sebagainya.
1. Pengertian Gelandangan
Gelandangan adalah orang yang tidak tentu tempat tinggalnya, pekerjaannya, dan arah tujuan kegiatannya. Kaum gelandangan ini merupakan kaum yang hidupnya berada dalam keadaan serba tidak memiliki. Seperti halnya tidak memiliki tempat tinggal, pekerjaan tetap, pendapatan yang layak, dan lain-lain.
pemulung, pencopet, pengemis, pengamen dan pengasong. Perjuangan hidupnya tidak hanya karena tekanan ekonomi melainkan ada tekanan sosial budaya, dan kerasnya kehidupan di jalanan membuat mereka terbiasa hidup kurang terarah.
2. Faktor-Fartor Penyebab Timbulnya Gelandangan dan Anak Jalanan Daya dorong dari desa bagi seseorang untuk menjadi gelandangan antara lain:
a. Desa tidak mampu memberikan pekerjaan dan penghidupan yang layak, sementara jumlah penduduk semakin meningkat.
b. Tingkat pendidikan dan keterampilan rata-rata masyarakat desa rendah. c. Faktor sosial budaya masyarakat yang dijumpai pada desa-desa tertentu
atau desa miskin tidak menunjang upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan pendidikan.
d. Secara individu terdapat warga desa yang rawan menjadi gelandangan mempunyai sifat pemalas, pasrah pada nasib tidak punya daya juang dan menolak perubahan.
Daya tarik kota bagi seseorang untuk menjadi gelandangan yaitu:
a. Masyarakat menganggap dikota-kota besar mudah mencari pekerjaan dan mewujudkan impian.
b. Di kota tersedia banyak cara untuk memperoleh uang dengan adanya ajakan atau bujukan dari teman.
3. Kriteria Gelandangan
a. Tinggal di sembarang tempat, hidup mengembara atau menggelandang di tempat-tempat umum.
b. Tidak memiliki tanda pengenal, berperilaku bebas atau liar, terlepas dari norma-norma kehidupan masyarakat.
c. Tidak memiliki pekerjaan tetap, meminta-minta atau mengambil sisa makanan atau barang bekas dan lain-lain.
b. Tempat tinggal yang tidak manusiawi, tidak sehat, tidak edukatif, dan merusak tatanan lingkungan hidup.
c. Kondisi fisik dan mental gelandangan yang khas.
d. Nilai keagamaan yang rendah, nilai kebebasan dan kesenangan hidup menggelandang yaitu ada kepuasaan tersendiri bagi sebagian besar gelandangan, mereka merasa tidak terikat oleh aturan atau norma yang membebani diri.
5. Persoalan Yang Dihadapi Gelandangan a. Tingkat kesehatan rendah
Rendahnya kualitas fisik bisa diakibatkan karena gizi makanan yang dikonsumsi sehari-hari kurang terpenuhi, kondisi lingkingan yang tidak sehat, penyakit menular dan sebagainya.
b. Tingkat penghasilan rendah dan tidak menentu
Karena tidak memiliki keterampilan personal yang memadai maka gelandangan tidak memiliki pekerjaan yang layak sehingga tingkat pendapatan menjadi rendah.
c. Mentalitas semakin buruk
Stigma atau label negatif yang melekat pada diri gelandangan membuat mentalitas mereka semakin buruk. Adanya sikap kecurigaan sosial, diskriminasi, ketidakpercayaan dan pandangan negatif lainnya memberikan potensi terjadinya dekadensi mental gelandangan tersebut. 6. Kebutuhan Umum Gelandangan
a. Dasar pendidikan yang layak serta keterampilan yang khas dan bermutu b. Tempat tinggal atau rumah yang layak dan tetap
c. Lapangan pekerjaan dengan penghasilan yang normatif d. Peningkatan kesehatan
e. Perubahan sikap, mental dari nilai-nilai keluarga
E. Remaja Dalam Kehidupan di Masyarakat 1. Pengertian Remaja
Masa remaja merupakan salah satu fase dalam rentang perkembangan manusia yang terentang sejak dalam kandungan sampai meninggal. Kata remaja diterjemahkan dari bahasa Inggris “adolescence” atau “adolecere” (bahasa Latin) yang berarti tumbuh atau tumbuh untuk masak menjadi dewasa. Masa remaja ditinjau dari rentang kehidupan manusia merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, awal remaja berlangsung kira-kira dari usia tiga belas tahun sampai enam belas atau tujuh belas tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun. (Rita Eka Izzati dkk, 2008: 123-124).
Menurut Hurlock Rita Eka Izzati dkk (2008: 124) menjelaskan ciri-ciri remaja antara lain sebagai berikut:
a. Masa remaja sebagai periode penting b. Masa remaja sebagai periode peralihan c. Masa remaja sebagai periode perubahan d. Masa remaja sebagai masa mencari identitas e. Usai bermasalah
f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan/kesulitan. 2. Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Sosial Remaja
Menurut Hurlock (Rita Eka Izzati, 2008: 142), faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan sosial remaja adalah:
a. Kesan pertama yang menyenangkan sebagai akibat dari penampilan yang menarik perhatian.
b. Memiliki reputasi sebagai orang yang menyenangkan.
c. Penampilan diri sesuai dengan penampilan teman-teman sebaya.
d. Perilaku sosial ditandai adanya kerjasama, tanggungjawab, kesenangan bersama orang lain, bijaksana serta berlaku sopan.
f. Status osial ekonomi yang sam atau sedikit diatas anggota lain dalam kelompoknya dan hubungan baik dengan anggota keluarga.
g. Tempat tinggal yang dekat dengan kelompok sehingga mempermudah hubungan dalam berbagai kegiatan.
3. Bahaya dan Masalah-Masalah pada Masa Remaja
Sering muncul perilaku antisosial atau tindakan pelanggaran/kejahatan yang dilakukan remaja dan secara umum menjurus pelanggaran hukum. Adapun sebab-sebab terjadi perilaku antisosial remaja antara lain:
a. Kepribadian remaja itu sendiri
Remaja memiliki kepribadian yang lemah karena lingkungan pembentuk psikis yang tidak tepat.
b. Latar belakang keluarga
Sikap antisosial bisa disebabkan oleh keluarga yang broken home, situasi memaksa, kurang perhatian dari orangtua, orangtua terlalu melindungi (over protective), status ekonomi orangtua rendah serta duplikat perilaku orangtua yang jelek.
c. Latar belakang masyarakat
Pengaruh peer group dan lingkungan sosial yang tidak menentu.
Dilihat dari penjelasan di atas, masa remaja merupakan masa yang rentan terkena masalah sosial. Lingkungan jalanan yang bebas dan liar dapat membentuk karakter yang kurang baik dalam diri gelandangan usia remaja. Stigma atau label negatif yang melekat pada diri gelandangan membuat mentalitas mereka semakin buruk. Adanya sikap kecurigaan sosial, diskriminasi, ketidakpercayaan dan pandangan negatif lainnya memberikan potensi terjadi kemunduran mental gelandangan tersebut.
F. Definisi Bilik Pintar
dari Bilik Pintar diharapkan dapat menghasilkan remaja binaan yang berkompeten, produktif, dan berkarakter.
Pengguna Bilik Pintar adalah gelandangan usia remaja yang memiliki kemauan untuk mengembangkan potensi-potensi diri, ingin mencoba, dan keinginan untuk bereksplorasi. Sehingga bagi mereka yang hidup dalam ketiadaan tidak lagi terombang-ambing oleh tidak meratanya pembangunan pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Wujud dari Bilik Pintar adalah bilik sederhana yang dipusatkan di suatu daerah rawan gelandangan. Ruang-ruang pelatihan dipusatkan agar lebih mudah dipantau dan ditangani, namun terbagi atas sekat-sekat atau kelas-kelas untuk setiap jenis pendidikan dan pelatihan keterampilan yang berbeda.
Penulis mempunyai visi untuk Bilik Pintar yaitu mewujudkan pendidikan yang layak dan meningkatkan kesejahteraan sosial bagi gelandangan sebagai sumber daya yang berkarakter dan produktif. Dan membantu proses mewujudkan program unggulan pemerintah menuju Indonesia Emas. Sedangkan misi yang akan diemban oleh Bilik Pintar yaitu:
1. Meningkatkan harkat, martabat dan kualitas hidup gelandangan.
2. Meningkatkan keterampilan dan kemampuan gelandangan agar menjadi generasi penerus bangsa yang berdaya saing.
3. Mengembangkan prakarsa dan peran aktif masyarakat dalam penanganan gelandangan sebagai upaya memperkecil kesenjangan sosial.
4. Mewujudkan remaja yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, dan beradab.
5. Mewujudkan pemerataan pembangunan yang berkeadilan. Sedangkan tujuan dari pengadaan Bilik Pintar antara lain: 1. Pelayanan sosial bagi gelandangan.
2. Memberikan bimbingan fisik, mental, sosial dan keterampilan sebagai bekal kemandirian gelandangan.
Sesuai dengan konsep awal yang telah dijelaskan, penulis mencoba menerapkan pendidikan karakter melalui beberapa prinsip program layanan antara lain:
a. Program Tutorial
Program Tutorial sebagai salah satu model pembelajaran dilaksanakan oleh seorang tutor dan asisten tutor. Tutor dan asisten tutor dalam melaksanakan proses pembelajaran berupaya menghadirkan rasa nyaman pada remaja binaan melalui kepedulian dan rasa cinta terhadap remaja binaan.
b. Sistem Sentra
Akan dikembangan beberapa bilik yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan atau keterampilan tertentu, yaitu: Gerakan Gemar Membaca, Layanan pendidikan jasmani dan rekreasi, bilik baca tulis dan hitung (calistu), TPA.
c. Pendekatan Joyfull Learning dan Meaningfull Learning
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan metode yang menyenangkan. Memungkinkan penerapan pendekatan terpadu dengan memanfaatkan bilik-bilik yang ada. Diharapkan dengan metode ini remaja binaan mampu berpikir kreatif dan kritis dalam kehidupan bermasyarakat kelak.
BAB III
METODE PENULISAN A. Metode Pengambilan Data
Metode pengumpulan data dalam penulisan karya tulis ini dilakukan dengan menggunakan:
1. Metode Wawancara (Interview)
Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua orang dengan maksud tertentu. Dalam penulisan karya tulis ini menggunakan teknik wawancara mendalam. Artinya apabila ada jawaban informan yang kurang memuaskan karena masih bersifat umum, maka ditanyakan lebih lanjut. Melalui metode inipenulis mendapatkan berbagai informasi terkait mengenai tempat-tempat rawan gelandangan dan anak jalanan.
2. Metode Pengamatan (Observasi)
Metode pengamatan atau observasi merupakan suatu metode menghimpun data dengan cara mengamati dan mencatat gejala-gejala yang diteliti. Dalam penulisan karya tulis ini menggunakan teknik pengamatan terbuka, dimana pengamatan diketahui oleh subyek dengan sukarela memberikan kesempatan kepada pengamat untuk mengamati peristiwa yang terjadi.
3. Telaah Pustaka
Metode ini dilakukan dengan menghimpun data melalui buku-buku, jurnal penelitian, dan koran yang dijadikan sumber referensi dalam penulisan karya tulis ini.
B. Analisi Data
Metode analisis data dalam penulisan karya tulis ini dilakukan dengan menggunakan:
1. Reduksi Data
penting, mencari pola dan temanya dan reduksi data selanjutnya dilakukan dengan membuat ringkasan.
2. Deskripsi Data
Deskripsi data yaitu menguraikan segala sesuatu yang terjadi di tempat sesungguhnya. Pendeskripsian ini dilakukan berdasarkan apa yang direncanakan oleh penulis.
3. Pengambilan Kesimpulan
BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS A. Analisis
Bilik Pintar merupakan layanan pendidikan non-formal yang berfungsi sebagai pendidikan dan pengembangan keterampilan bagi gelandangan. Bilik Pintar merupakan suatu wadah atau tempat dimana gelandangan yang berusia remaja akan dididik dan dibimbing agar potensi-potensi dimiliki dapat berkembang secara optimal dan bermanfaat untuk kehidupan di masa yang akan datang.
Bilik Pintar menurut pandangan pendidikan bukanlah tempat hukuman yang membuat para gelandangan menjadi menderita, tetapi merupakan pelayanan pendidikan dan pengembangan keterampilan yang membina remaja binaan dengan pendidikan karakter, pendidikan kerohanian dan pendidikan keterampilan. Pembinaaan ini bertujuan memperbaiki mentalitas remaja binaan agar menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan agamanya.
Pada hakikatnya semua manusia dapat dididik, tidak terkecuali gelandangan. Gelandangan dapat menjadi manusia yang lebih baik asalkan pendidikan atau pembinaan yang diberikan terhadap remaja binaan bersifat menyeluruh, terpadu dan tidak setengah-setengah.
diorganisasikan secara sistematis untuk mencapai tujuan tertentu; keempat, isi program pembelajaran lebih bersifat aplikatif dengan kebutuhan warga belajar. Bantuan yang diberikan tidak secara langsung dapat membantu mengurangi kemiskinan. Namun, bantuan ini paling tidak dapat memberikan bekal hidup dan mengembalikan nilai kemanusiaan yang lama tidak dirasakan oleh kelompok marjinal tersebut.
B. SINTESIS
1. Langkah-Langkah Penerimaan Calon Remaja Binaan Bilik Pintar Langkah-langkah penerimaan calon remaja binaan di Bilik Pintar dapat dilakukan menjadi tiga langkah, yaitu: pendekatan awal, rekruitmen, pengungkapan dan pemahaman masalah. Berikut bagan langkah-langkah penerimaan calon remaja binaan Bilik Pintar.
Gambar 1. Proses Penerimaan Calon Remaja Binaan Bilik Pintar
a. Pendekatan Awal
Pendekatan awal merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan relawan sosial peduli tunawisma untuk mendapatkan pengakuan/persetujuan/dukungan dari pihak-pihak yang berwenang dalam penertiban gelandangan, pihak yang peduli terhadap pelayanan dan rehabilitasi sosial, dan masyarakat sekitar untuk memotivasi calon
Penerimaan Calon Remaja Binaan
Pendekatan Awal
Rekruitmen
Hasil motivasi, kesadaran sendiri, bujukan orang lain.
Pengungkapan dan Pemahaman Masalah
remaja binaan untuk mengikuti program layanan Bilik Pintar. Setelah memperoleh persetujuan dari pihak yang berwenang, relawan akan terjun di lokasi rawan gelandagan dan anak jalanan untuk melakukan pendekatan dengan calon remaja binaan.
b. Rekruitmen
Proses ini dimulai ketika mencari calon remaja binaan hingga bersedia mengikuti program layanan Bilik Pintar. Hasilnya ada sekumpulan gelandangan yang siap mengikuti segala program layanan Bilik Pintar. Ada beberapa syarat yang dijadikan acuan dalam proses penerimaan remaja binaan, yaitu:
1) Sehat rohani dalam arti tidak berpenyakit jiwa dan sehat jasmani dalam arti tidak berpenyakit menular, infeksi dan cacat mental. 2) Tidak sedang berurusan dengan pihak kepolisian dan bersedia
menaati peraturan dan tata tertib Bilik Pintar. 3) Usia minimal 13 tahun dan maksimal 18 tahun.
Adapun cara rekruitmen gelandangan dilakukan melalui hasil motivasi relawan, atas kesadaran sendiri, dan rujukan dari orang lain.
c. Pengungkapan dan Pemahaman Masalah
Pengungkapan dan pemahaman masalah adalah upaya untuk menggali, mencari data penerima layanan, faktor-faktor penyebab masalah remaja binaan, serta kekuatan-kekuatan yang dimiliki dalam upaya membantu diri mereka sendiri. Hal ini dapat dikaji dan diolah untuk membantu upaya pelayanan menjadi tepat sasaran. Adapun aspek-aspek yang perlu dipahami dalam proses pemahaman masalah meliputi:
1) Fisik
Mencakup kesehatan fisik, riwayat sakit, pengobatan yang masih dijalani dan sebagainya.
2) Mental spritual/psikologis
Mencakup kepribadian, kecerdasan, kemampuan dan kematangan emosi remaja binaan termasuk bakat dan minat.
Mencakup kondisi keluarga, sekolah, lingkungan masa kecil, interaksi dan komunikasi dengan masyarakat.
4) Keterampilan
Mencakup pendidikan formal ataupun non-formal, keterampilan yang telah dikuasai termasuk pekerjaan yang ditekuni.
2. Pelaksanaan Peta Jalan (Road Map) Program Kerja Bilik Pintar Pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pengembangan keterampilan di Bilik Pintar dilakukan selama 12 bulan. Kegiatan belajar mengajar akan dilaksanakan selama 9 bulan, sedangkan selama 3 bulan terakhir remaja binaan akan disalurkan dan diujicobakan pada lapangan pekerjaan tertentu. Kegiatan belajar mengajar akan dibagi menjadi beberapa tahapan. Masing-masing tahap dilaksanakan selama tiga bulan. Berikut rincian dari Masing- masing-masing tahap yaitu:
a. Tahap pertama yaitu pembinaan dan pendidikan dasar (bulan ke 1-3). b. Tahap kedua yaitu persiapan vokasional (bulan ke 4-6).
c. Tahap ketiga yaitu konsolidasi keterampilan dan persiapan penerjunan di masyarakat (bulan ke 7-12).
Kegiatan belajar mengajar Bilik Pintar (KBM-BP) dilakukan tiga kali dalam seminggu, yaitu setiap hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu mulai pukul 14.30 sampai dengan 17.00 WIB. Semua kegiatan Bilik Pintar dimulai pada bulan Juli.
Tahap Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar Bilik Pintar (KBM-BP) Tahap 1
Tahap 2
Tahap 3
Gambar 2. Tahap Pelaksanaan KBM-BP
Persiapan Vokasional
(bulan ke 4-6)
Pembinaan dan Pendidikan Dasar (bulan
ke 1-3)
Konsolidasi Vokasional
Rencana pelaksanaan pada tahap pertama Bilik Pintar yaitu progam pembinaan dan pendidikan dasar. Adapun kegiatan yang akan dilakukan yaitu latihan membaca, menulis, berhitung, pembinaan mental dan spiritual melalui kegiatan tutorial, dan penanaman minat baca remaja binaan melalui Gerakan Gemar Membaca. Apabila remaja binaan tidak mengikuti tahap pertama dengan baik maka remaja binaan tersebut belum bisa mengikuti tahap dua. Setiap remaja binaan harus dinyatakan lulus dari proses evaluasi tahap pertama sebelum mengikuti pembelajaran pada tahap kedua.
Tahap kedua pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada Bilik Pintar merupakan tahap persiapan vokasional atau pengembangan keterampilan dasar. Tahap ini dilakukan selama tiga bulan. Adapun kegiatan yang dipersiapkan pada tahap ini yaitu pelatihan bahasa Indonesia, pelatihan keterampilan menganyam, keterampilan sesuai bakat dan minat, pendidikan kesehatan, pembinaan mental spiritual, dan peningkatan minat baca melalui Gerakan Gemar Membaca. Seperti pada tahap pertama, remaja binaan harus dinyatakan lulus dari tahap kedua sebelum naik ke tahap selanjutnya.
Keterampilan yang sudah didapatkan pada tahap pertama dan kedua akan dikembangkan melalui tahap ketiga. Selain itu, remaja binaan dibekali keterampilan mengajar dan menjadi asisten tutor, pengembangan bahasa Indonesia, pengetahuan umum, serta pembinaan mental/spiritual. Keluaran dari tahap ketiga atau alumni dari Bilik Pintar diharapkan menjadi staf pengajar atau tutor di Bilik Pintar serta akan disalurkan ke lapangan kerja tertentu. Penyaluran remaja binaan dilaksanakan setelah berakhirnya masa bimbingan.
generasi muda kelak mampu menjadi sosok agen of change. Berikut ini rencana kegiatan atau materi yang akan dilaksanakan dalam proses KBM.
Matrikulasi Kegiatan Belajar Mengajar Bilik Pintar (KBM-BP) Tahap 1 Mingg
II Jum'at TPA Pelatihan baca Al Quran,Hafalan bacaan sholat
Sabtu Bilik Calistu Membaca buku nonfisik, latihan calistu
Minggu Permainan edukatif
Sabtu Bilik Calistu Pengetahuan umum
kegiatan dalam satu bulan sehingga rencana kegiatan pembelajaran dapat dikembangkan untuk pembelajaran di bulan selanjutnya. Kegiatan tahap pertama lebih ditekankan pada pendidikan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung.
Matrikulasi Kegiatan Belajar Mengajar Bilik Pintar (KBM-BP) Tahap 2 Mingg
II Jum'at TPA Tutorial PAI, diskusi pengetahuan umum
Sabtu Bilik Calistu Menonton film edukatif, pelatihan keterampilan
Minggu
IV Jum'at Bilik Calistu Pendidikan kesehatan,Senam bersama
Sabtu Bilik Calistu Pelatihan pertolongan pertama (first aid)
Matrikulasi Kegiatan Belajar Mengajar Bilik Pintar (KBM-BP) Tahap 3
Minggu Hari/Tanggal Januari, Februari, Maret
Tempat Kegiatan Keterangan
I Jum'at Bilik Calistu Perkenalan, pengenalan Program
Sabtu Bilik Calistu
Minggu Pelatihan sesuai bakat dan minat
III Jum'at TPA Hafalan bacaan sholat dan surat pendek, kultum
Sabtu Bilik Calistu
V Jum'at Bilik Calistu Video Inspiratif, pelatihan keterampilan
Sabtu Bilik Calistu Konsultasi, bimbingan konseling
Minggu LIBUR
satu bulan sehingga rencana kegiatan pembelajaran dapat dikembangkan untuk pembelajaran di bulan selanjutnya.
Matriks ini digunakan sebagai batasaan-batasan untuk menentukan kegiatan pembelajaran. Staf pengajar atau tutor diperbolehkan menentukan materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan remaja binaan. Staf pengajar atau tutor diharuskan dapat mengembangkan tiga ranah pendidikan, yaitu afektif, kognitif, dan psikomotorik. Kegiatan rutin yang dapat dilaksanakan setiap saat yaitu tutorial PAI dan layanan bimbingan konseling baik secara individu atau kelompok. Sosialisasi dan penyuluhan mengenai berbagai macam tema akan dilakukan setiap bulan.
3. Rencana Pelaksanaan Program Kerja Bilik Pintar
Terdapat 10 kegiatan dari rencana program kerja yang akan dilaksanakan di Bilik Pintar. Berikut matriks program kerja yang direncanakan di Bilik Pintar selama proses pendidikan dan pengembangan keterampilan.
Matrikulasi Program Kerja Bilik Pintar (Proker-BP)
No Nama ProgramKegiatan
Bulan
7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 2 3 4 1 Sosialisasi Napza
2 Sosialisasi Seks Bebas
3 Sarasehan Remaja Binaan
4 Tutorial Agama Islam
5 Upgrading
6 Bimbingan Konseling
7 Pelatihan Kewirausahaan
10 Rekreasi
11 Sosialisasi Miras 12
Ada beberapa program kerja yang akan dilaksanakan berulang kali dalam satu bulan. Putusan mengenai program kerja yang akan dijalankan merupakan wewenang staf pengajar atau tutor. Jadi kegiatan-kegiatan di atas merupakan program kerja yang dapat dilaksanakan setiap bulan.
Akan tetapi, kegiatan tutorial PAI boleh dilaksanakan setelah kegiatan belajar mengajar baik secara individu atau kelompok. Layanan bimbingan konseling dan sosialisasi seperti yang tertera dalam matriks merupakan proker wajib yang harus dijalankan oleh staf pengajar atau tutor.
4. Rencana Pengembangan
Di masa depan Bilik Pintar perlu dikembangkan lebih jauh untuk menjadi wadah atau tempat yang mampu mencerdaskan kehidupan gelandangan. Tidak saja kecerdasan intelektual saja yang menonjol, tetapi juga softskill dari individu harus dilatihkan. Oleh karena itu pengembangan Bilik Pintar perlu dilakukan secara berkelanjutan dan ada sinergi dari pihak lain yang sadar untuk membangun bersama menjadikan negara tercinta menjadi bangsa yang makmur, sejahtera dan adil. Karena pada hakikatnya gelandangan juga merupakan bagian dari warga negara Indonesia yang dapat berpartisipasi dalam pembangunan nasional.
BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan pada karya tulis ini, maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan jumlah gelandangan di lingkungan perkotaan merupakan dampak dari berbagai kesenjangan dalam segala aspek kehidupan. Peningkatan jumlah gelandangan menyebabkan terjadi ketidakteraturan sosial, ketidaknyamanan, ketidaktertiban serta mengurangi keindahan kota. Miris ketika melihat kehidupan gelandangan sangat bertolak belakang dengan para pejabat pemerintah.
Sudah ada upaya pemerintah untuk menanggulangi penyebaran gelandangan melalui panti sosial yang disediakan oleh Dinas Sosial. Akan tetapi, keberadaan panti sosial belum difungsikan secara optimal karena dihadapkan pada berbagai masalah. Oleh karena itu, penulis berkeinginan mendirikan Bilik Pintar. Program pelayanan sosial di Bilik Pintar mengutamakan pemberdayaan kehidupan gelandangan.
Bilik Pintar berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan keterampilan bagi gelandangan, mereka akan dididik dan dibimbing sehingga bakat, minat, dan potensi yang terpendam dapat digali secara optimal. Bilik Pintar merupakan salah satu wujud komitmen Pendidikan Luar Sekolah untuk mengangkat harkat dan martabat gelandangan. Program dan kegiatan belajar mengajar yang diterapkan di Bilik Pintar berusaha menginternalisasikan pendidikan karakter sehingga alumni dari Bilik Pintar diharapkan mampu menjadi lulusan yang berkompeten dan berkarakter.
mengembalikan nilai kemanusiaan yang lama tidak dirasakan oleh kelompok marginal tersebut.
Program dan kegiatan belajar mengajar yang direncanakan perlu mendapatkan masukan, saran, dan dukungan oleh berbagai pihak sehingga visi, misi, dan tujuan dari Bilik Pintar dapat dicapai sesuai dengan harapan. Bilik Pintar sangat membutuhkan relawan-relawan sosial dan bantuan dana dari pihak pemerintah maupun swasta. Relawan sosial akan dijadikan sebagai staf pengajar, tutor, maupun asisten tutor untuk melaksanakan semua rencana kegiatan dari Bilik Pintar.
B. Rekomendasi
Pada dasarya konsep pembelajaran dalam Pendidikan Luar Sekolah lebih bersifat sebagai upaya "kemandirian" dan "kedewasaan". Upaya kemandirian dimaksudkan untuk menciptakan keadaan yang memungkinkan remaja binaan
sendiri dapat memperoleh pengalaman untuk memperkaya atau merubah kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan "pendewasaan" merupakan pembentukan peran kepribadian individu yang mempunyai potensi terhadap pembaharuan serta tanggap terhadap masalah-masalah kehidupan. Oleh karena itu kegiatan pembinaan yang dilakukan Bilik Pintar sebaiknya menuju ke arah tersebut.
Hal lain yang dapat dilakukan untuk mengembangkan proses pembinaan gelandangan yaitu pembinaan harus dilakukan secara lebih profesional, menyeluruh, dan terpadu. Untuk mewujudkan hal ini maka ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diberikan harus sesuai dengan minat dan kebutuhan sehingga remaja binaan tidak bosan selama proses pembinaan.
DAFTAR PUSTAKA
Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: DIVA Press.
Izzaty, Rita Eka dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.
Laksono, Agung. 2013. Menuju Indonesia Emas. Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.
Rukiyati, dkk. 2008. Pendidikan Pancasila.Yogyakarta: UNY Press.
Saputra, Andrean. 2009. Skripsi: Landasan Konseptual Perencanaan dan Perancangan Pusat Pendidikan dan Pengembangan Keterampilan Bagi Remaja Tuna Wisma di Yogyakarta. Diambil pada tanggal 8 Maret 2015 dari http://e-journal.uajy.ac.id/2998/2/1TA12211.pdf.
Siswoyo, Dwi dkk. 2011. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Suksmalana, Tobias Kea dan Diananta Pramitasari. 2013. Panti Sosial Bina Karya di Yogyakarta dan Psikologi Arsitektur sebagai Upaya Rehumanisasi. Diambil pada tanggal 8 Maret 2015 dari https://www.academia.edu/ 4480949/PANTI_SOSIAL_BINA_KARYA.
Suryadi, Ace. 2010. Pembangunan Nasional. Diambil pada tanggal 8 Maret 2015 dari http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/19 5207251978031-ACE_SURYADI/Risalah_16022006171006.pdf
Suryono, Yoyon. 2012. Rumah Pintar. Yogyakarta: UNY Press.